Buku II-10

Beberapa orang dari mereka mencoba mengenali satu demi satu dengan isyarat tertentu.

Akhirnya pekerjaan para pengawal dilembah itupun dapat diselesaikan. Para pengawal dan para tawanan kemudian duduk beristirahat sambil menunggu saatnya mereka meninggalkan lembah itu.

Dalam pada itu, Ki Waskita dan Agung Sedayu telah membicarakan apakah mereka akan kembah ke Tanah Perdikan Menoreh, atau langsung bergabung dengan pasukan Mataram dan Sangkal Putung.

“Kita berangkat dari Tanah Perdikan Menoreh ngger,“ berkata Ki Waskita, “karena itu kita akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Agung Sedayu memandang Ki Waskita sejenak. Namun Ki Waskitapun tertawa sambil meneruskan kata-Katanya, “Tetapi itu hanya akan menguntungkan bagiku. Aku memang akan minta diri untuk pulang kembali ke kampung halaman. Aku sudah terlalu lama pergi. Adapun angger Agung Sedayu. terserahlah. Jika angger Agung Sedayu ingin langsung bergabung dengan Kiai Gringsing dan kembali kepadepokan kecil itu. aku kira tidak ada salahnya.”

Sejenak Agung Sedayu berpikir. Namun tiba-tiba. Katanya, “Agaknya akupun ingin mengantar para pengawal Tanah Perdikan Menoreh. Kita berangkat bersama-sama. Dan sekarang aku akan bersama mereka kembali, meskipun kemudian aku akan minta diri.”

“Bagus ngger. Tetapi dengan demikian kau akan kembali seorang diri ke Sangkal Putung. Karena aku akan kembali ke padukuhanku dan melihat apakah Rudita sudah berada dirumah.”

“Silahkan Ki Waskita. Ki Waskita sudah terlalu lama meninggalkan keluarga yang tentu memerlukan kehadiran Ki Waskita pula.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Baiklah. Aku akan minta diri kepada semuanya. Dan jika angger Agung Sedayu akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, maka sebaiknya angger juga minta ijin lebih dahulu dari Kiai Gringsing.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Mudah-mudahan guru tidak melarang.”

Keduanyapun kemudian menyampaikan maksudnya kepada para pemimpin dari Mataram dan Sangkal Putung, bahwa mereka akan berada dipasukan Tanah Perdikan Menoreh dan mengantarkan mereka kembali.

“Terima kasih,“ Ki Gede Menoreh menjadi gembira.

Tetapi Prastawa tiba-tiba saja menjadi gelisah, ia merasa tidak senang akan keputusan Agung Sedayu untuk pergi bersama pasukan Tanah Perdikan Menoreh, meskipun ia tahu bahwa Agung Sedayu tidak akan terlalu lama berada di Tanah Perdikan itu.

“Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh akan lebih banyak memperhatikannya daripada memperhatikan aku, meskipun yang dilakukan sebenarnya tidak terlalu penting. Tetapi berita kematian Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung Wanakerti dan luka parah yang ditimbulkannya atas beberapa orang akan membuatnya menjadi sangat berbangga, seolah-olah ia telah melakukan pekerjaan besar yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Tidak seorangpun yang dapat menjajagi ilmu yang sebenarnya dari Ki Gede Telengan. Mungkin ia hanya sekedar mampu bermain kelewang. Hanya karena ia mempunyai beberapa pengikut, maka seolah-olah ia adalah seorang pemimpin yang mempunyai ilmu yang tinggi.

Tetapi Prastawa tidak berani mengatakan sesuatu kepada pamannya. Apalagi karena Ki Gede nampaknya gembira menyambut keinginan Agung Sedayu untuk datang ke Tanah Perdikan Menoreh.

Kiai Gringsinglah yang kemudian menjadi ragu-ragu. Sejenak dipandanginya Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, seolah-olah ingin mendapatkan pertimbangan dari mereka.

Tetapi nampaknya keduanya menyerahkan persoalannya kepada Kiai Gringsing sendiri.

Sementara Kiai Gringsing masih tetap ragu-ragu. maka Ki Waskitapun melengkapi keterangannya dengan niatnya untuk biikan saja singgah di Tanah Perdikan Menoreh, tetapi ia minta diri untuk kembah ke kampung halaman.

“Aku tidak akan mengasingkan diri. Jika tenaga yang tidak berarti ini diperlukan, aku akan dengan senang hati dalang memenuhinya.” berkata Ki Waskita kemudian.

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Teringat olehnya tanggapan Ki Waskita atas sikap Raden Sutawijaya. Agaknya Ki Waskita kurang sesuai dengan beberapa segi persoalan yang dihadapi Mataram meskipun tidak disebutkannya dengan jelas.

Namun sebagai seseorang yang memiliki penglihatan bagi masa datang. Ki Waskita melihat cahaya termg diatas bumi Mataram dan awan yang gelap diatas Pajang. Tetapi itu bukan berarti bahwa Raden Sutawijaya tidak dapat menempuh jalan yang baik sesuai dengan kedudukannya dihadapan Sultan Pajang, ia adalah seorang anak, seorang murid dan seorang prajurit. Seperti yang dikatakan oleh Ki Juru Martani. bahwa sikap Raden Sutawijaya untuk tidak mau datang ke Pajang, telah membuatnya berbuat tiga kesalahan sekaligus. Menentang orang tua, melawan gurunya dan tidak taat menjalankan perintah Panglima tertingginya.

Tetapi Ki Waskita tidak berhak untuk memaksa Raden Sutawijaya melakukannya. Bahkan nasehat Ki Juru Martanipun tidak mempengaruhi sikapnya hanya karena harga dirinya. Sebenarnyalah bahwa Raden Sutawijaya tidak ingin mengutus Panglimanya. Tetapi ia akan membuktikan, bahwa ia tidak hanya sekedar mebual tentang Alas Mentaok. Jika ayahnya sendiri. Ki Gede Pemanahan sanggup meninggalkan istana dan membuka hutan yang lebat dan liar itu, maka Alas Mentaok memang harus menjadi sebuah negeri yang besar, sebesar Kota Raja Pajang.

Sejenak para pemimpin yarig berkumpul dilembah itu merenungi saat-saat perpisahan itu. Namun akhirnya mereka tidak dapat mencegah keinginan Ki Waskita untuk singgah ke Tanah Perdikan Menoreh dan kemudian pulang kembali ke kampung halamannya, karena itu adalah haknya.

Sedangkan merekapun tidak dapat melarang Agung Sedayu yang ingin mengantar kembali para pengawal ke Tanah Perdikan Menoreh, karena iapun telah berangkat, bersama mereka menuju kelembah itu.

“Kita akan berpisah,“ berkata Kiai Gringsing, “tetapi kau tidak akan terlalu lama meninggalkan Glagah Putih seorang diri di padepokan kecil itu.”

Kata-kata Kiai Gringsing dapat menyentuh hati Agung Sedayu. Terbayang wajah Glagah Putih yang bersih, yang gelisah menunggu kedatangannya. Meskipun di padepokan itu ada Widura, ayah Glagah Pulih sendiri, tetapi agaknya Widura tidak akan dapat bermain dengan Glagah Putih seperti Agung Sedayu. Sementara anak-anak muda yang berada dipadepokan itupun tentu agak kurang gairah bekerja disawah tanpa Agung Sedayu dan Kiai Gringsing.

“Tetapi kedatanganku di padepokan itu tanpa Ki Waskita,“ berkata Agung Sedayu didalam hatinya. Namun kemudian, “Meskipun demikian itu akan lebih baik bagi Glagah Putih daripada tidak ada kawannya sama sekali.”

Ketika matahari turun semakin rendah, maka mereka yang berada di lembah itupun segera bersiap-siap meninggalkan bekas arena pertempuran yang mengerikan. Rasa-rasanya mereka tidak ingin untuk kembali keneraka itu. Beberapa orang kawan harus mereka tinggalkan didalam hutan yang tentu akan segera kembali menjadi hutan yang sepi senyap melampaui kuburan biasa ditepi-tepi padukuhan.

Tetapi mereka tidak akan dapat dengan cengeng menunggui kuburan yang sepi di hutan itu. karena kewajiban lain yang lebih besar sedang menunggu.

Demikianlah, ketika bayangan senja sudah mulai nampak dilangit, maka pasukan yang ada dilembah itupun telah meninggalkan tempatnya kembai ke arah yang berlawanan. Pasukan Mataram dan Sangkal Putung menuju ke Timur, sedangkan pasukan Tanah Perdikan Menoreh menuju ke Barat.

Betapa berat hati Pandan Wangi. Rasa-rasanya ia masih ingin menangis melihat ayahnya berjalan kearah yang lain. Tetapi ia bukan anak-anak lagi. Ia sekarang sudah menjadi sorang isteri yang berada didekat suaminya, sehingga ia tidak pantas lagi untuk menangis meronta kerana ingin ikut ayah bepergian.

Sejenak kemudian, maka kedua pasukan itupun berjalan kearah yang berlawanan. Pasukan Sangkal Putung dibawah pimpinan Swandaru berada dibelakang pasukan Mataram yang dipimpin langsung oleh Raden Sutawijaya.

Dalam perjalanan, Swandaru tidak dapat melepaskan diri dari pertanyaan yang terasa menggelitik perasaannya tentang Agung Sedayu. Apakah secara kebetulan ia mendapat lawan yang hanya besar namanya saja seperti Ki Gede Telengan dan Tumenggung Wanakerti. atau memang Agung Sedayu benar-benar memiliki ilmu yang sangat tinggi.

“Mereka bukan orang-orang yang pantas dikagumi,“ berkata Swandaru didalam hatinya, “Ki Gede Telengan bukan orang berilmu tinggi, sedang Ki Tumenggung Wanakerti sudah kehabisan tenaga melawan Ki Gede Menoreh ketika ia harus bertempur melawan Agung Sedayu. Demikian orang-orang lain yang dapat dikalahkan. Semuanya sudah harus bertempur lebih dahulu, sehingga sisa tenaga mereka tidak lagi mampu untuk melawan ilmu Agung Sedayu.”

“Ternyata kakang Agung Sedayu tidak mampu membunuh Kiai Kelasa Sawit yang masih mempunyai sedikit tenaga untuk menghindar,“ berkata Swandaru didalam hatinya.

Kebanggaan Swandaru karena ia telah berhasil membunuh Kiai Kelasa Sawit agaknya melampaui kekagumannya kepada Agung Sedayu yang sudah berhasil membunuh beberapa orang terpenting diantara lawan. Bahkan meskipun Swandaru sendiri tidak mengakui, ada semacam perasaan iri bahwa Agung Sedayu telah mendapat kesempatan-kesempatan yang dapat mengangkat namanya diantara beberapa orang yang dianggapnya tidak mengerti persoalan yang sesungguhnya.

“Mereka mengira bahwa ilmu kakang Agung Sedayu sudah mencapai langit lapis tujuh,“ berkata Swandaru didalam hatinya, “padahal semuanya itu terjadi karena kebetulan. Jika benar ia dapat membunuh Ki Tumenggung Wanakerti dalam keadaan wajar, maka ilmunya sudah menyamai Raden Sutawijaya dan juga Ki Gede Menoreh sendiri. Sementara semuanya itu terjadi karena kesalahan Ki Tumenggung Wanakerti. Ia sudah lelah saat ia harus bertempur melawan Raden Sutawijaya. kemudian kehilangan seluruh tenaganya dirampas oleh pertempurannya melawan Ki Gede Menoreh. Di saat ia kehabisan tenaga itulah, ia berhadapan dengan kakang Agung Sedayu.”

Tetapi Swandaru tidak mengatakannya kepada Kiai Gringsing. Ia merasa bahwa gurunya tidak akan senang mendengar pertimbangan itu, karena Agung Sedayu adalah murid yang sangat dekat dengan gurunya itu.

Diperjalanan ke Tanah Perdikan Menoreh. Prastawa mempunyai dugaan serupa. Meskipun kadang-kadang ia ragu-ragu, bahwa Agung Sedayu mungkin memang mempunyai kelebihan dari dirinya sendiri dan saudara seperguruannya, Swandaru, namun ia condong untuk menganggap bahwa yang terjadi dipeperangan adalah kebetulan.

“Nasibnya memang baik. Terjadi beberapa kali kebetulan, bahwa lawan-lawan Agung Sedayu adalah orang-orang yang memang sudah akan mati. Ia tinggal mendorong saja kedalam lubang kuburnya masing-masing,“ berkata Prastawa didalam hatinya.

Berbeda dengan kedua anak-anak muda itu, diam-diam Sekar Mirah mengagumi apa yang telah dilakukan oleh Agung Sedayu. Ia menganggap bahwa Agung Sedayu memang seorang laki-laki yang memiliki kelebihan dari anak-anak muda sebayanya. Namun Sekar Mirahpun masih juga kecewa, bahwa Agung Sedayu mempunyai penyakit cengeng. Setiap kali ia selalu dicengkam oleh keragu-raguannya untuk bertindak lebih jauh. Dimedan perang itu ia telah kehilangan kesempatan untuk membunuh dua orang adalah orang terpenting dimedan perang yang sebenarnya bukan merupakan kepentingannya mutlak, ia hanya sekedar membantu saja. Tetapi jika benar ia telah membunuh pemimpin-pemimpin itu, maka ia telah berhasil berbuat jauh lebih baik dari Raden Sutawijaya sendiri.

Tanggapan yang berbeda-beda telah bergejolak didada mereka yang telah mengenalnya. Ada yang mengaguminya. tetapi banyak pula yang menjadi kecewa. Justru disaat-saat yang menentukan Agung Sedayu bagaikan telah kehilangan pegangan.

Sementara itu, kedua pasukan yang berpisah itu berjalan seipakin jauh. Matahari menjadi semakin rendah. Dan senjapun menjadi semakin suram.

Pasukan Mataram dan Sangkal Putung betapapun letihnya, namun mereka merasa bangga dengan pusaka-pusaka yang telah mereka dapatkan kembali. Dengan demikian, maka mereka tidak sia-sia setelah berjuang dan memberikan pengorbanan yang cukup besar.

Namun Raden Sutawijaya tidak dapat melupakan jasa pasukan pengawal dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Bantuan yangbesar yang diberikan bukannya yang pertama kali. Beberapa kali Ki Argapati telah memberikan bantuan untuk perjuangan yang cukup besar.

Dengan kembalinya pusaka-pusaka terpenting itu, maka Raden Sutawijaya tidak lagi selalu dicengkam oleh kecemasan, jika setiap saat ayahandanya Sultan Pajang bertanya tentang pusaka-pusaka itu. Dengan demikian, maka tidak banyak orang yang mengetahui, bahwa kedua pusaka itu pernah hilang dari Mataram.

Mungkin ada beberapa orang perwira prajurit Pajang yang oleh jalur sikapnya berpihak kepada orang-orang yang berada dilembah antara Gunimg Merapi dan Gunung Merbabu, yang mengetahui bahwa pusaka-pusaka itu telah hilang dari Mataram. Tetapi mereka tidak akan berani mengatakannya karena mereka tidak mendapat keterangan resmi mengenai hal tersebut.

Namun demikian, nampaknya usaha orang-orang yang memusuhi Mataram tidak terhenti karena kegagalannya. Beberapa orang yang berhasil lolos dari pertempuran maut dilembah itu, dengan cepat berusaha untuk memberikan laporan kepada pemimpin mereka yang tersembunyi diantara prajurit-prajurit Pajang.

Ternyata bahwa merekapun telah bekerja dengan cepat. Mereka telah mengambil suatu cara baru untuk melakukan perjuangan lebih jauh tanpa orang-orang lain yang ternyata telah dihancurkan oleh Mataram di lembah yang tersembunyi itu.

Orang yang disebut kakang Panji itupun merasa kehilangan banyak kawan dalam perjuangannya. Tetapi ia sama sekali tidak mau melangkah surut.

Tanpa menunggu saat-saat pasowanan, maka merekapun telah menyampaikan berita yang sangat mengganggu perasaan Sultan Hadiwijaya, justru saat kesehatan Sultan Hadiwijaya sangat mundur.

Kehadiran seorang perwira kedalam biliknya pada saat yang khusus itu telah mengejutkan. Apalagi ketika perwira yang menjadi alat kakang Panji itu menyampaikan berita yang menggoncangkan hati.

“Apakah kau sudah mendapat keterangan yang pasti?”

“Hamba tuanku. Meskipun masih perlu dicari kebenarannya. Tetapi jika tuanku berkenan mengirimkan satu dua petugas sandi pada saat-saat sekarang ini, maka tuanku akan mengetahui, bahwa Mataram benar-benar telah menyiapkan sepasukan prajurit yang kuat.”

Sultan Hadiwijaya sebenarnya tetap tidak percaya bahwa Mataram benar-benar ingin menyusun kekuatan untuk melawannya. Karena itu maka Jawabnya, “Baiklah Senapati. Besok atau lusa aku akan memberikan perintah itu.”

“Ampun tuanku. Jangan besok atau lusa. Sebaiknya tuanku dapat memberikan perintah sekarang. Malam ini lebih baik. Selambat-lambatnya besok pagi, petugas itu harus sudah berada di Mataram.”

Sultan Hadiwijaya menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa sangat sedih mendengar laporan itu. Bukan saja jika laporan itu benar. Tetapi bahwa seorang Senapati telah dengan bernafsu melaporkan kepadanya pada saat yang khusus itu, tentu bukannya tanpa maksud. Apalagi Sultan sebenarnya telah mempunyai dugaan bahwa ada beberapa orang yang tidak senang melihat perkembangan Mataram.

Namun dalam pada itu, Sultanpun ragu-ragu, bahwa memang mungkin sekali Mataram mempersiapkan diri dengan pasukan yang kuat. Tentu bukan maksudnya untuk melawan dirinya. Tetapi sejak Ki Gede Pemanahan meninggalkan istana, telah membayang didalam batinnya, tekad Ki Gede yang diteruskan oleh puteranya Danang Sutawijaya untuk membangun sebuah negeri yang ramai. Negeri yang dipersiapkan bagi masa depan setelah pemerintahan Pajang ditinggalkannya.

Sultan Hadiwijayapun seolah-oleh telah melihat masa-masa yang tidak terlalu panjang lagi baginya. Ia sudah mulai sakit-sakitan dan kesehatannya justru semakin menurun. Usaha yang bermacam-macam sudah dilakukan. Namun seakan-akan garis batas itupun sudah banyak membayang dihadapan perjalanan hidupnya.

Dan sekarang, malam itu datang seorang Senapati yang melaporkan bahwa Mataram telah siap dengan pasukan yang kuat.

Sultan tidak akan mengecewakan perwiranya. Dalam ketidak pastian. Sultan juga mempertimbangkan, bahwa mungkin maksud perwira itu justru baik.

Karena itu, kepada pengawal yang bertugas. Sultan memerintahkan memanggil beberapa orang Senapati menghadap didalam bilik pembaringannya, karena kesehatannya benar-benar terganggu.

Beberapa orang pemimpin pemerintahan dan Senapatipun segera menghadap, termasuk perwira yang memberikan laporan tentang kegiatan yang meningkat di Mataram.

“Aku akan mengirimkan petugas sandi untuk membuktikan keadaan ini,“ berkata Sultan kepada para pemimpin yang menghadap.

Sebenarnya perwira yang memberikan laporan itu menjadi kecewa, bahwa Sultan telah memberikan perintah terbuka. Namun itu akan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Pada malam itu juga Sultan telah menentukan dua orang yang besok pagi-pagi harus pergi ke Mataram, dengan perintah, hari itu juga mereka harus sudah berada di Mataram dan melihat perkembangan keadaan.

“Besok pagi-pagi aku akan memberikan pesan. Karena itu, sebelum mereka berangkat, mereka, berdua harus langsung datang menghadap aku.” perintah Sultan kemudian.

Para Senapati dan pemimpin pemerintahanpun kemudian mohon diri dengan kegelisahan di dalam hati.

Namun sebenarnyalah bahwa tindakan Sultan itu bukannya tanpa maksud. Ia sadar, bahwa Mataram tentu benar-benar telah mengadakan suatu kegiatan keprajuritan, meskipun ia tetap tidak merasa cemas sama sekali bahwa kegiatan itu ditujukan kepada Pajang.

Meskipun demikian, kesan yang akan timbul tentu kurang menyenangkan bagi para pemimpin Pajang.

Sepeninggal para Senapati dan para pemimpin pemerintahan dari biliknya. Sultan Hadiwijaya yang sakit itupun kemudian memanggil seorang abdi yang paling dekat. Ia bukan seorang prajurit, bukan pula seorang yang mengerti tentang seluk beluk pemerintahan. Tetapi ia adalah seorang yang setia, yang mengerti perasaan momongannya.

Orang tua itupun menghadap dengan ragu-ragu. Beberapa kali ia mengusap matanya yang masih mengantuk, karena demikian ia terbangun, dengan tergesa-gesa ia menghadap ke dalam bilik Sultan Hadiwijaya.

“Mendekatlah paman,“ desis Sultan Hadiwijaya yang duduk dibibir pembaringannya.

Abdi yang sudah tua itupun bergeser mendekat sambil menyembah. “Hamba tuanku,“ sahutnya, “hamba terkejut mendapat perintah untuk menghadap dimalam begini. Apakah ada sesuatu yang penting tuanku.”

“Kendil Wesi,” desis Sultan Hadiwijaya, “mendekatlah. Mendekatlah. Aku ingin berbicara perlahan-lahan sekali, sehingga tidak seorangpun akan dapat mendengar.”

Kendil Wesi yang tua itu menjadi semakin berdebar-debar. Selangkah ia bergeser maju, sehingga tangannya sudah menyentuh kain panjang Sultan Hadiwijaya.

“Dengarlah baik-baik Kendil Wesi. Apakah kau ingat Danang Sutawijaya?”

“O, ampun tuanku. Hamba tidak akan melupakan momongan hamba itu. Meskipun Raden Sutawijaya pergi tanpa memberikan pesan apapun juga kepada hamba, meskipun Raden Sutawijaya seolah-olah telah melupakan hamba pula, tetapi hamba adalah pemomongnya pada masa kecilnya.”

Sultan Hadiwijaya mengangguk-angguk. Kemudian. Katanya, “Baiklah Kendil Wesi. Jika kau masih setia kepada momonganmu, apakah kau mau melakukan suatu tugas yang mungkin sangat berbahaya bagimu.”

“O, maksud tuanku.”

“Kau tentu mengerti, dimanakah letak Mataram.”

“Mengerti tuanku. Hamba mengerti, meskipun hamba belum pernah pergi ke Mataram. Tetapi dimasa muda hamba, hamba pernah bertualang di Alas Mentaok. Dari beberapa orang hamba pernah mendengar cerita tentang Mataram dan arahnya.”

“Kau akan aku perintahkan pergi ke Mataram.”

“O,“ orang tua itu mengerutkan keningnya.

“Kau akan berangkat malam ini.”

“Malam ini tuanku.”

“Ya. Kau harus bertemu dengan momonganmu.“ Orang tua itu masih termangu-mangu.

“Kendil Wesi,“ berkata Sultan kemudian, “ada segolongan orang-orang Pajang yang tidak senang melihat perkembangan Mataram. Mereka berusaha menemukan kelemahan-kelemahan Sutawijaya yang dapat dipergunakan sebagai alasan untuk menyebut bahwa Sutawijaya akan memberontak.”

“O,” wajah Kendil Wesi menjadi tegang, “tetapi apakah memang demikian tuanku.”

Sultan Hadiwijaya mengerutkan keningnya. Kemudian sambil menepuk bahu Kendil Wesi ia berkata, “Tentu tidak Kendil Wesi. Itulah sebabnya aku ingin memerintahkan kau pergi malam ini juga. Besok pagi-pagi aku akan memerintahkan dua orang petugas sandi untuk pergi ke Mataram. Mereka harus melihat, apakah di Mataram benar-benar telah disiapkan pasukan yang kuat, meskipun seandainya benar ada sepasukan yang kuat di Mataram, aku yakin, tentu tidak akan diarahkan kepadaku. Meskipun demikian, jika petugas sandi itu benar-benar melihat kegiatan pasukan yang kuat, maka laporannya dihadapan para Senapati dan terlebih-lebih lagi dalam pasowanan, yang dihadiri para Adipati, akan dapat memberikan kesan yang semakin buruk tentang Mataram. Dalam keadaan yang demikian, aku akan mengalami kesulitan untuk mencegah para pemimpin keprajuritan Pajang dan para Adipati untuk mengambil sikap yang keras.”

Kendil Wesi mengerutkan keningnya. Dengan tatapan mata yang aneh ia memandang wajah Sultan Hadiwijaya. Namun ketika Sultanpun memandanginya pula, cepat-cepat Kendil Wesi menundukkan kepalanya.

Namun Sultan Hadiwijaya seolah-olah telah menangkap makna yang tersirat pada pandangan mata Kendil Wesi. Karena itu. sekali lagi ia menepuk bahu orang tua itu sambil berkata, “Kau benar Kendil Wesi. Bukankah kau ingin mengatakan, bahwa aku sekarang tidak lagi mempunyai kemampuan untuk menentukan sikap? Kau tentu akan mengatakan bahwa aku memang sudah berubah. Dan aku memang sudah berubah. Aku sekarang bukan lagi Karebet yang bertualang dengan wajah gembira, melintasi lembah dan mendaki gunung. Berkelahi melawan bahaya yang menghambat perjalanan, dan berjuang melawan alam dalam masa penempaan diri. Bukan pula Adipati Pajang yang bergelora mempersatukan bekas wilayah Demak, dan bahkan yang bercita-cita untuk mewujudkan kebesaran Majapahit. Bukan Kendil Wesi. Aku adalah orang yang lemah seperti yang kau bayangkan didalam angan-anganmu.”

“Ampun tuanku,“ Kendil Wesi membungkuk dalam-dalam seolah olah ingin mencium kaki Sultan Hadiwijaya, “bukan maksud hamba mengatakan demikian.”

Sultan Hadiwijaya menarik pundak Kendil Wesi sambil tersenyum. “Kau benar Kendil Wesi. Aku tidak mempunyai wibawa lagi sekarang.”

“Ampun tuanku. Sebenarnya tuankulah yang telah melepaskan kewibawaan itu atas kehendak tuanku sendiri.”

“Aku mengerti. Tetapi apakah yang dapat aku perbuat sekarang ini. Puteraku laki-laki satu-satunya, Benawa. tidak mencerminkan sikap seorang kesatria yang pantas memegang kekuasaan di Pajang. Meskipun ia seorang anak muda yang luar biasa dalam penguasaan ilmu kanuragan. tetapi ia sama sekali tidak tertarik untuk mengikuti dan mempelajari ilmu pemerintahan.”

Sekali lagi tatapan mata Kendil Wesi yang aneh menyambar wajah Sultan Hadiwijaya. Dan sekali lagi Sultan berkata, “Aku merasa, bahwa aku telah membuatnya kecewa. Aku kurang menghargai ibu nya, karena aku telah terlibat dalam pemanjaan nafsu, sehingga disamping ibu Benawa aku mempunyai hubungan dengan banyak sekali perempuan lain. Dan aku tentu tidak akan dapat ingkar, bahwa itu adalah salahku.”

Kendil Wesi tidak menyahut. Kembali kepalanya menunduk memandang ujung kaki Sultan Hadiwijaya yang duduk dibibir pembaringannya.

“Kendil Wesi,“ berkata Sultan Hadiwijaya kemudian, “sebenarnyalah bahwa aku masih mempunyai harapan. Jika Benawa memang tidak tertarik sama sekali kepada pemerintahan, dan seperti yang beberapa kali dikatakan meskipun tidak berterus terang, namun rasa-rasanya ia lebih senang menyerahkan pimpinan pemerintahan kepada kakak angkatnya. Senapati Ing Ngalaga di Mataram.”

Kendil Wesi menarik nafas panjang. Ia bergeser maju setapak sambil meraba kaki Sultan Pajang. Katanya, “Ampun tuanku. Apakah kata orang tentang tuanku, jika tuanku menyerahkan kekuasaan kepada putera angkat tuanku, sedangkan tuanku masih mempunyai seorang putera laki-laki.”

Sultan menepuk pundak orang tua itu lagi sambil berkata, “Tentu aku akan menawarkannya kepada Benawa. Dan aku akan minta jika ia menolak, biarlah ia menolak dipaseban, sehingga para pemimpin pemerintahan, para Panglima dan Senapati, para Adipati dan setiap orang mengetahui, bahwa Benawa memang sudah menolak atas kehendak sendiri.”

Kendil Wesi tidak menjawab. Ia dapat mengerti jalan pikiran Sultan Hadiwijaya. Tetapi jika benar demikian, maka akan banyak persoalan yang masih harus dibenahi. Sultan Hadiwijaya adalah menantu Sultan Demak terakhir. Sementara itu, masih ada menantu-menantu yang lain yang mungkin akan mempersoalkannya, jika tahta itu jatuh ketangan anak Pemanahan.

Tetapi Kendil Wesi tidak mengucapkannya. Ia adalah abdi yang setia. Dan ia adalah pemomong Danang Sutawijaya. Meskipun nalarnya agak cemas jika Sutawijaya itu menerima uluran tangan ayahanda angkatnya, namun perasaannya ikut bergembira. Jika ia harus dan wenang memilih, ia memang memilih Sutawijaya dari Benawa yang seakan-akan sama sekali tidak mempedulikan pemerintahan. Justru karena ia kecewa atas sikap ayahandanya.

“Karena itu Kendil Wesi,” berkata Sultan kemudian, “sekarang aku minta kepadamu. Pergilah ke Mataram.”

Kendil Wesi mengangguk lemah. Tetapi kesetiaannya telah mendorongnya untuk menjawab, “Ampu tuanku. Hamba akan menjalankan segala perintah tuanku.”

“Terima kasih. Pergilah dan katakan kepada Senapati Ing Ngalaga, bahwa ia harus menghapuskan kesan kegiatan keprajuritan yang berlebih-lebihan itu. Agaknya orang-orang Pajang selalu mencari kelemahan-kelemahan yang ada padanya, sehingga ada juga yang telah mendengar apa yang telah dilakukannya. Katakan kepada Sutawijaya bahwa besok petugas sandi itu sudah akan berada di Mataram.”

“Hamba tuanku. Hamba akan pergi malam ini.“

“Hati-hatilah Kendil Wesi. Kau sudah tua. Jangan terlalu kencang berpacu. Angin malam kadang-kadang dapat membuat seseorang terganggu pernafasannya.”

“Hampa akan berhati-hati tuanku.”

“Hanya kau yang mengetahui perintahku kepadamu ini.”

Kendil Wesi membungkuk dalam-dalam sambil menyembah. Katanya, “Rahasia ini akan hamba bawa sampai batas hidup hamba. Hamba akan pergi seorang diri ke Mataram.”

Kendil Wesipun kemudian mohon diri. Sambil mencium kaki Sultan Pajang ia berkata, “Hamba akan berusaha bertemu dengan putera tuanku di Mataram apapun yang harus hamba lakukan.”

“Peigilah tetapi ketahuilah, bahwa jalan yang akan kau tempuh adalah jalan yang panjang dan berbahaya. Apalagi jika para prajurit dipintu-pintu gerbang mengetahui, atau mencurigai kepergianmu.”

“Hamba akan mencari akal melepaskan diri dari para petugas dipintu gerbang. Hanya dipintu gerbang utama sajalah para prajurit berjaga-jaga sepenuhnya. Sedangkan dipintu butulan, hanya sekali-kali saja satu dua orang peronda melaluinya.”

Sejenak kemudian maka Kendil Wesi itupun telah meninggalkan bilik pembaringan Sultan Hadiwijaya. Ketika prajurit yang bertugas berjaga-jaga dilongkangan bertanya kepadanya, apa saja yang dilakukan didalam bilik Sultan sehingga sedemikian lamanya, maka sambil tersenyum Kendil Wesi yang tua itu berkata, “Sultan marah-marah. Aku tidak dapat lagi memijit kakinya seperti saat aku masih kuat beberapa tahun yang lampau.”

“Kau memijit kakinya? “ bertanya prajurit yang lain.

“Ya. Tetapi nampaknya tidak banyak berarti lagi.”

Prajurit itu tidak bertanya lagi. Mereka mengetahui bahwa Kendil Wesi termasuk abdi yang terdekat. Adalah wajar sekali bahwa Sultan memerintahkan orang tua itu untuk memijit kakinya.

***

Oleh Ki Sugito
Belum proofing oleh Ki GD

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:01  Comments (77)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

77 KomentarTinggalkan komentar

  1. weleh.. weleh…
    rontal 110 konon kabarnya hanyut melu kebanjiran… sapuniko masih dicari-cari sama Ki Gede setelah banjir surut…
    Kalau sudah ketemu dan dicantolke neng Diajeng PH meneh, kabar-kabari yo Ki…

    Iki wis ngombeh bir pletok 5 botol…rontale durung metu-metu je..

  2. Ki Sutawijia…. sampeyan ojo ngombe2, opo maneh bir pletog..

    Aku ngerti yen urip ki mung mampir ngombe…ning ojo ngombe dewe,..aku yo selak ngelak kie…ning pendopo kie rodo sek2an ro cantrik2 liyane….

    Ki Catur,..atine ditoto…ojo kemrungsung, sedelo lagi sebentar maneh Ki GD arep medarake kitab ii-10, mung durung titi-wancine…golek wektu sing pas

  3. absen sore ki GD dan kisanak semuanya.kian hari kian rame aja ya padepokan ini.
    saya berharap bisa bersabar sesuai pesan ki GD untuk bisa mengunduh kitab 110.

  4. Ngantri ya Ki…
    Smoga segera diturunkan kitab 110 nya.
    Kalo malam ini tentu masih bisa sabar…
    Thx Ki.

  5. SABAR, SABER, SHOBUR…. WADUH..

  6. cuma bisa sabar……..taberia sabar sareh mawas diri….kuwajiban kudu rampung,yen wis klakon,guyon maton…..

  7. Turut berduka cita… bagi yg udeh nggak kukuh, he.. he..

  8. kapan ya upacara pembuakaan kitap, nunggu waktu yang baik pa ya

  9. Kapan?

    Sabar sik !

  10. Ada harapan…
    Kata anakmas Sukro…rontal 110 baru mau diunggah…cuman belum jelas nyangkut ke mana…

    asyiiiiiik…

  11. Ki GD, kulo aasih disamping regol menanti rontal 110, sambil melawan hawa dingin kudungan kain panjang, ndak kebagian wedang sere nya tadi…

  12. Setelah ki GD mendirikan padepokan baru di Karang, nampaknya beliau dengan beberapa cantrik terpilih sedang sibuk mengairi sawah yang sedikit terbengkelai.. Sedangankan beberapa cantrik yang lain dengan sabar mempelajari kitab rontal lama yang semakin kucel karena dibolak-balik… Nampaknya ki GD terlalu asyik dengan sawah dan tanamannya sehingga sedikit lupa untuk segera menurunkan rontal110 yang beberapa hari ini telah disiapkannya…

    Nuwun sewu, ndherek ngantri..

  13. ikut lek-lek an ya
    ni udah buat kopi sambil nunggu II-10
    salam buat ki Gede

  14. Wah manur nuwun KI ,Kitabe wis tak jumput

  15. Eh lha kok malah udah dapat
    Thanks Ki Gede

  16. Thx Ki….yummi…

  17. Matur Nuwun Ki GD, rontal 110 sampun dipun jlenterhaken, matur nuwun sanget.

    Hanya di ADBM inilah terjadi perburuan unduh mengunduh yang aneh ….

  18. Matur nuwun Ki GD……..

  19. Wah ki GD memang waskita… Matur nuwun..

  20. Suwun Ki GD,…wis ora kemrungsung

  21. Thanks ya Ki Gede yg guanteng,…
    hihihihihi

  22. Matur suwun Ki GD…, mpun kulo petik “buahnya”…alhamdulilah….

  23. Matur thank you Ki GD buah saMpun dipun unduh…

  24. Ki Gede matur nuwun buahnya. Sudah dipetik, meskipun untuk itu masih akan di peram buah itu, karena buah 108 saja masih belum dimakan sampai habis…

    Ngomong ngomong tentang Speedy. Istri di rumah memang langganan Speedy, yach.. masih termasuk agak mahal.

    Sempat ada fasilitas gratis antara jam 8 malam sampai dinihari, kemudian dihapus, kemudian katanya tarif diturunkan lagi..kalau nggak salah berapa ya tarif untuk download tidak terbatas?

    Karena terbiasa broadband dengan jalur cepat dan murah tidak tahu nih..kalau kembali berspeddy ria..mudah mudahan speedy memang “speedy” tidak “lambaty”..

  25. Membaca lontar 110 halaman 9, membuat cantrik tersenyum

    Apakah memang demikian adanya pada saat peperangan jaman dahulu, apalagi perang beradu dada dan perang brubuh, apakah para serdadu sempat makan nasi yang sudah dihaluskan dan minum dari tempat airnya..ataukah mereka lari dulu sebentar dari ajang peperangan (seperti pemain bola atau pemain tenis) mengambil jatah makanan dan minum kemudian kembali ke medan laga dan berperang kembali?

  26. Saya murid baru di padepokan kyai gringsing. Mau baca kitab peninggalannya kok susah buanget jeh. Mungkin para kakang seperguruan mampu memberi pencerahan. Matur nuwun

    # silakan jalan-jalan ke halaman yang lain. dan dengerin obrolan para cantrik. pasti bisa.

  27. Nek sabar ki ono buahe…

    Matur nuwun Ki GD


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: