Buku II-10

Ketika dua orang yang menyergap itu mengacukan senjatanya, maka orang yang duduk diatas batu itu seolah-olah tidak menghiraukannya. Ia berpaling sejenak kepada keduanya. Namun kemudian terdengar orang itu bertanya, ”Kenapa kalian gugup melihat kedatanganku.”

Agung Sedayu terkejut mendengar suaranya. Ia langsung dapat mengenalnya, siapakah orang yang duduk diatas batu tanpa gelisah sedikitpun juga meskipun ujung-ujung senjata mengarah kedadanya.

“Siapa kau ?” bertanya kedua orang bersenjata itu. “Aku Rudita,” jawab orang duduk diatas batu itu. Kedua orang yang ternyata adalah para pengawal itu masih belum mengenal Rudita. Karena itu, maka yang seorang segera menekankan senjatanya sambil menggeram, ”Sebut, siapakah kau sebenarnya.”

“Rudita. Namaku Rudita.”

“Ya. Tetapi kau dari mana ? Apakah kau pengikut Ki Tumenggung Wanakerti, atau pengikut Ki Gede Telengan atau siapa ?”

“Aku tidak kenal mereka.”

Para pengawal itu menjadi semakin curiga. Sikap Rudita membuat keduanya bertambah berhati-hati. sehingga senjata mereka telah benar-benar melekat ditubuh Rudita. Setiap gerakan yang kecil sekalipun, sudah cukup untuk menghunjamkan senjata itu didadanya.

Rudita masih tetap berdiam diri. Sikapnya memang dapat menumbuhkan salah paham. Keterangannya seolah-olah menunjukkan keyakinannya pada kemampuan diri sebagai seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.

“Ki Sanak,” berkata Rudita kemudian, ”kenapa kalian begitu curiga kepadaku ? Kenapa kalian tidak menyarungkan senjatamu, kemudian kita berbicara sebaik-baiknya.”

“Persetan. Katakan, darimanakah kau datang, atau aku akan menyobek dadamu dengan ujung pedang.”

Rudita menarik nafas dalam dalam. Katanya, ”Sudah begini parahkan kecurigaan seseorang kepada sesama ? Aku tidak bersenjata dan aku sama sekali tidak akan dapat berbuat apa-apa atas kalian.”

“Kaku sedang mengelabuhi kami. Kau tentu seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, yang akan dapat mempermainkan kami berdua jika kami tidak bersiap menghadapimu.”

Rudita memandang keduanya berganti-ganti. Tetapi sama sekali tidak membayangkan kecemasan di wajahnya meski ujung senjata lawannya telah terasa dikulitnya.

Tetapi justru sikapnya itulah yang membuat kedua pengawal itu menjadi semakin curiga.

Agung Sedayu yang menyaksikannya menjadi cemas. Jika salah paham itu menjadi berkepanjangan, maka mungkin akan dapat menimbulkan kesulitan bagi Rudita, meskipun ia pasti bahwa Rudita tidak akan melawan, apapun yang akan dilakukan atasnya.

Karena itu. maka Agung Sedayupun kemudian melangkah dari lindungan pepohonan mendekati ketiga orang itu.

Para pengawal yang mendengar langkahnya terkejut. Salah seorang dari mereka segera meloncat surut dan bersiap menghadapi segala kemungkinan, sedangkan yang lain masih tetap mengacukan senjatanya kepada Rudita.

Tetapi para pengawal itu menarik nafas panjang ketika mereka mendengar Agung Sedayu menyabut dirinya, ”Jangan terkejut. Aku Agung Sedayu.”

“Agung Sedayu,” Rudita mengulangi. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya karena ujung senjata pengawal itu masih melekat ditubuhnya.

“Lepaskan ia,” berkata Agung Sedayu, “ia adalah putera Ki Waskita.”

“O,” para pengawal itu terkejut. Namun merekapun kemudian melangkah surut sambil menyarungkan senjatanya. Dengan suara bertahan salah seorang dari mereka berkata, ”Pantas. Ia memiliki ketenangan seperti ayahnya.”

Rudita tersenyum. Jawabnya, ”Aku sama sekali tidak memiliki sesuatu seperti yang dimiliki oleh ayah. Aku bukan seorang yang mengagumkan seperti Agung Sedayu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam. Tetapi ia tidak menanggapi kata-kata Rudita itu. Sambil melangkah mendekat bahkan ia bertanya, ” Kau tahu bahwa kami berada di lembah ini ?”

Rudita mengangguk. Jawabnya, ”Ayah singgah kerumah sebentar ketika ia berada di Tanah Perdikan Menoreh. Bukankah ia datang bersamamu.”

Agung Sedayu heran mendengar pertanyaan itu. Justru karena itu sejenak ia termangu-mangu.

Namun kemudian ia bertanya, “Jadi. kenapa kau datang kemari jika kau tidak ingin menjumpai Ki Waskita?”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang kedua pengawal yang masih berdiri dengan penuh kebimbangan.

“Aku datang untuk melihat, betapa manusia merupakan mahluk yang paling berbahaya bagi sesamanya. Disini aku dapat melihat tabiat dari mahluk yang tertinggi diantara segala titah itu.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Ia sudah menduga bahwa Rudita akan mengatakannya. Meskipun demikian hatinya masih juga berdesir mendengarnya.

Dalam pada itu kedua pengawal yang mendengar kata-kata itupun terkejut pula. Tetapi mereka masih belum menangkap makna kata-kata Rudita itu.

Dalam keragu-raguan itu, maka Agung Sedayupun kemudian berkata kepada kedua penjaga itu, “Kembalilah ketempat peristirahatan orang-orang tua itu. Katakan kepada Ki Waskita, bahwa puteranya berada disini. Sebentar lagi ia akan datang menghadap.”

“Apakah ada gunanya? “ justru Ruditalah yang bertanya.

Agung Sedayu seolah-olah tidak mendengar pertanyaan itu. Ia berkata selanjutnya kepada para pengawal, “Pergilah sekarang.”

Kedua pengawal itu tidak mengerti persoalan apakah yang sebenarnya yang dihadapinya dengan kedua anak-anak muda itu. Tetapi mereka tidak membantah.

Sepeninggal kedua orang itu Agung Sedayu berkata, “Jalan pikiranmu yang agak berbeda dengan cara berpikir mereka, akan dapat menimbulkan ketegangan jiwa.”

“Tidak hanya dengan mereka. Jalan pikirankupun berbeda dengan jalan pikiranmu,“ sahut Rudita.

“Tetapi aku dapat mengerti alasan-alasan dari tingkah lakumu. Bahkan sikapmu telah membuat aku menjadi semakin bimbang menghadapi kenyataan-kenyataan disekitarku. Terhadap diri sendiri dan terhadap segala keputusan yang aku ambil, aku adalah seorang yang selalu ragu-ragu, cemas dan takut. Aku sadar sepenuhnya akan hal itu. Sementara itu kehadiran sikapmu membuat aku semakin bimbang.”

Rudita termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Bukan maksudku Agung Sedayu,”

“Kita berdiri pada alas yang hampir sama dimasa kanak-kanak. Manja, penakut, dan tidak tahu bagaimana berbuat bagi diri sendiri. Tetapi perkembangan yang terjadi kemudianlah yang berbeda. Kau telah menemukan dirimu yang sebenarnya dengan sepenuh keyakinan. Tetapi aku tidak.”

“Kau adalah seorang pahlawan menurut ukuran orang-orang yang mendambakan olah kanuragan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tidak seorangpun yang akan menyebut aku sebagai pahlawan. Aku telah berdiri diantara dua sikap yang berlawanan. Satu kakiku ada disebuah biduk, sedang yang satu lagi ada didalam biduk yang lain. Dengan demikian aku tidak akan pernali melakukan sesuatu dengan baik apalagi sempurna menurut penilaian pihak yang manapun juga.”

Rudita tersenyum. Ia melangkah beberapa langkah. Kemudian duduk disebelah gundukan tanah yang masih basah.

“Disini beberapa orang telah dikuburkan. Mereka telah mati terbunuh dimedan ini. Mungkin tidak seorangpun yang akan mengharap kedatangannya. sehingga kematiannya tidak menumbuhkan kepedihan bagi orang lain. Tetapi ada diantaranya yang telah menyiksa seseorang disepanjang hidupnya. Mungkin seorang ibu sedang menunggu anak laki-lakinya yang sedang tumbuh dewasa. Mungkin kekasihnya. Tetapi anak muda itu mati disini. Mungkin pula seorang isteri yang mendukung bayinya menangis meratapi kepergian suaminya. Tetapi suaminya tidak akan pernah kembali.”

“Cukup,“ tiba-tiba Agung Sedayu memotong. Hatinya benar-benar bagaikan tergores tajamnya pedang.

Sesaat Rudita memandanginya. Lalu Katanya, “Tetapi itu merupakan tugas seorang prajurit, atau seseorang yang bertugas seperti seorang prajurit.”

“Mereka tidak sekedar bertugas untuk membunuh Rudita,“ bantah Agung Sedayu, “tetapi ada sesuatu yang melatar belakangi sikap itu. Barangkah sudah pernah aku katakan bahwa dengan membunuh seseorang akan dapat berarti menyelamatkan sepuluh orang.”

“Ya. Kau pernah mengatakannya. Tetapi aku masih tetap bersikap sama Agung Sedayu. Kau benar-benar sudah dicengkam oleh prasangka dan curiga.”

“Tidak. Bukan prasangka dan curiga. Tetapi aku mendasarkan sikap itu pada pengalaman hidupku yang penuh kemunafikan ini. Aku tidak dapat ingkar bahwa dalam sikap yang tanpa berprasangka justru kitalah yang akan terjebak dalam kesulitan.”

Tetapi ternyata Rudita justru tersenyum. Katanya, “Kuasa kegelapanlah yang telah mengaburkan penglihatanmu. Agung Sedayu, kau tidak akan pernah mempunyai pengalaman yang cukup untuk menilai jiwa seseorang. Setiap orang mempunyai sudut pandangan dan sikap yang berbeda. Bahkan pada yang seorang itupun sikap jiwanya mungkin akan berkembang. Seorang yang kau anggap akan membahayakan jiwa sepuluh orang, pada suatu saat mungkin justru akan menyelamatkan jiwamu sendiri.”

“Tidak. Tidak,“ potong Agung Sedayu, “kau tidak pernah melihat segi-segi kehidupan yang penuh dengan persoalan ini. Kau mencoba melihat dunia hanya dari satu segi.”

Rudita menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Kasih adalah rangkuman segenap segi kehidupan. Tetapi aku tidak mengatakan, bahwa akulah yang sudah atau pernah mendasarkan hidupku seutuhnya pada kasih. Tidak. Aku juga tidak seperti kau dan orang-orang lain yang saling berbunuhan. Tetapi aku sedang berusaha dengan keyakinan yang bulat, bahwa aku akan mencobanya. Tetapi dilangkah pertama akupun sudah menjadi munafik. Aku dengan penuh curiga mempelajari bagian dari ilmu yang tertulis di kitab ayah itu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah merasa tersiksa jika ia mengenang apa yang telah dilakukannya dipeperangan itu. Dan kini Rudita justru datang membawa cermin dari sikap dan hidupnya yang penuh dengan cacat dan noda.

Betapa pedihnya melihat segala macam cacat dan noda yang melekat didalam hidupnya.

Tetapi Agung Sedayu tidak dapat ingkar lagi. Betapapun pahitnya ia harus melihat didalam cermin yang dihadapkan Rudita kepadanya.

Beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Rudita seakan-akan masih saja merenungi kuburan yang memanjang dan mayat-mayat yang masih belum dikuburkan. Seperti yang dikatakannya, ia ingin melihat dengan tuntas tabiat manusia yang merupakan makhluk tertinggi dari segala titah. Tetapi juga makhluk yang paling berbahaya bagi sesamanya.

Betapa sakitnya hati anak muda itu. Bukan karena menyesali dirinya seperti Agung Sedayu. Tetapi ia melihat, bahwa betapa masih jauhnya, bahkan hampir-hampir merupakan mimpi yang tidak dapat dijamah setelah terbangun dari tidur yang pulas, untuk dapat mencapai kedamaian yang sejati diantara sesama.

Sementara itu Agung Sedayupun masih tenggelam dalam penyesalan. Tetapi ia masih tetap seorang yang tidak berani mengambil sikap untuk menghadapi arus didalam kehidupan didunia ini.

Ternyata keduanya telah tenggelam dalam arus angan-angannya masing-masing, sehingga mereka tidak menyadari, berapa lamanya mereka merenung sambil berdiam diri.

Keduanya tersadar ketika mereka mendengar langkah mendekat. Ketika mereka berpaling. maka mereka melihat Ki Waskita sudah berada beberapa langkah dibelakang mereka.

“Rudita,” sapa ayahnya.

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya dengan nada datar. “Aku sudah melihat ayah.”

“Aku mengerti, apakah yang kau maksud. Tetapi ini adalah kenyataan hidup yang harus aku hadapi. Aku tidak dapat lari dan menghindar. Karena aku masih ingin mempertahankan peradaban yang sudah berpuluh dan bahkan beratus tahun dibina oleh menusia.”

“Tetapi didalam pengenalanku, sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mengaku peradabannya semakin tinggi, maka peperangan justru menjadi semakin dahsyat. Korban semakin banyak jatuh dan nyawapun menjadi semakin tidak berharga.“ Gumam Rudita.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Rudita. Tetapi aku tidak tahu bahwa ada cara lain yang dapat aku tempuh untuk mencegah kejahatan yang semakin berkembang.”

“Pendekatan yang akrab dan saling mengerti. Itu adalah ujud dari sikap yang sebenarnya akan membawa penyelesaian.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi Katanya, “Kau benar. Tetapi akupun tidak tahu, apa yang sebaiknya aku lakukan, jika aku datang dengan satu keinginan untuk mengadakan pendekatan hati dan meneoba untuk saling mengerti, tetapi tiba-tiba saja dileherku sudah dikalungkan jerat untuk mencekikku.”

Rudita berdesah, “Ah, seperti Agung Sedayu, ayah selalu dihinggapi kecurigaan. Apakah ayah pernah mencobanya?”

“Apa yang harus aku coba Rudita? Orang-orang yang berkumpul dilembah ini adalah mereka yang telah mencuri pusaka-pusaka dari Mataram. Mereka disini sedang mengadakan pembicaraan untuk melakukan pembunuhan besar-besaran di Pajang dan di Mataram.”

“Ayah belum pernah mencoba datang kepada mereka dengan sikap damai yang sebenarnya. Ketika pusaka-pusaka itu hilang dari Mataram, orang-orang Mataram telah melakukan pengejaran seperti orang berburu babi liar di hutan. Sudah tentu mereka akan menjadi semakin jauh dan bahkan memberikan perlawanan.”

“Jadi, apa yang harus dilakukan?”

“Menjelaskan kepada mereka. Sebaiknya Raden Sutawijaya datang dengan sikap damai, tanpa senjata dan tanpa prasangka. Memberitahu kepada mereka, bahwa pusaka-pusaka itu masih diperlukan di Mataram. Tetapi yang terpenting bukan pusaka-pusaka itu. Adalah karena suatu maksud yang lebih dalam maka pusaka-pusaka itu telah diambil dari Mataram. Nah, Raden Sutawijaya harus membicarakan bukan saja pusaka-pusaka itu sendiri, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat diberikan kepada orang-orang yang telah mengambilnya.”

“Mereka akan menolak. Dan mungkin Raden Sutawijaya akan mereka tangkap dan mereka bunuh, karena Raden Sutawijaya adalah seseorang yang dianggap merintangi berdirinya kembali Kerajaan Majapahit.”

“Sebelumnya Raden Sutawijaya harus membuktikan bahwa ia tidak ingin melakukan kekerasan. Tentu ia tidak akan dibunuh. Prasangkalah yang telah menjauhkan manusia yang satu dengan yang lain.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat mengatasi jalan pikiran anaknya. Tapi iapun tidak akan dapat menerimanya sebagai sautu sikap hidup.

Meskipun demikian Ki Waskita berkata, “Baiklah Rudita. Aku akan memikirkannya. Marilah, kita pergi ketempat sanak kita beristirahat setelah kelelahan.”

Tetapi Rudita menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak ayah. Aku sadar, bahwa aku tentu akan mengganggu mereka. Biarlah mereka menikmati kemenangan mereka dengan kebanggaan seorang pahlawan. Aku sudah puas jika Agung Sedayu dan ayah mendengar sikapku. Aku berterima kasih jika Agung Sedayu dan ayah dapat menyampaikannya kepada siapapun juga yang mau mendengarnya setelah mereka puas mengagumi diri sendiri sebagai pehlawan-pahlawan perang.”

“Jadi apakah maksudmu sebenarnya datang kemari?“ bertanya Ki Waskita, “jika kau tidak ingin berada diantara kami, maka sebenarnya lebih baik bagimu untuk mengawani ibumu dirumah. Kepergianmu tentu akan menggelisahkannya.”

“Aku sudah minta ijin kepada ibu. Dan ibu telah mengijinkannya asal aku segera kembali. Dan akupun akan segera kembali setelah aku melihat apa yang aku cemaskan itu telah terjadi.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah tidak akan dapat merubah sikap jiwani dari anak laki-lakinya yang hanya seorang itu, meskipun didalam relung hatinya yang tersembunyi, Ki Waskitapun melihat kebenaran, meskipun tidak utuh.

“Betapa sulitnya orang berpijak pada keyakinan,“ berkata Ki Waskita kepada dirinya sendiri.

“Ayah,” berkata Rudita kemudian, “silahkan ayah dan Agung Sedayu untuk beristirahat. Biarlah aku berada ditempat yang aku pilih. Aku memang ingin tinggal untuk beberapa saat lagi disini. Tetapi tidak diantara kalian.”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun justru Ki Waskitalah yang mengajak Agung Sedayu, “Marilah. Kita kembali. Biarlah pengawal itu kembali kepada tugasnya?”

“Pengawal yang mana? “ bertanya Agung Sedayu.

“Aku mengetahui kehadiran Rudita dari seorang pengawal.”

“O,“ Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu meninggalkan Rudita.

“Tinggalkan aku seorang diri Agung Sedayu,“ berkata Rudita kemudian.

“Kau akan merenungi mayat-mayat itu?,“ berkata Agung Sedayu, “dan kau akan berusaha memeras segala bibit belas kasihan didalam hatimu untuk mendapatkan keterharuan yang paling dalam?”

Rudita menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Apakah itu perlu dilakukan? Agung Sedayu, yang paling mengharukan bukannya mayat-mayat yang berserakan atau anak isterinya yang menunggu dirumah. Tetapi yang harus diratapi adalah sikap manusia yang meningkatkan peradabannya dengan tingkah lakunya yang sulit dimengerti ini.”

Terasa sesuatu bergetar didalam dada Agung Sedayu. Tetapi ia tidak menjawab. Bahkan kepalanya telah tertunduk dalam-dalam, seolah-olah ia sedang merenungi dirinya sendiri.

Tetapi Agung Sedayu itu terhenyak ketika Ki Waskita menggamitnya sambil berkata, “Marilah Agung Sedayu.”

Agung Sedayu masih termangu-mangu.

“Rudita,“ berkata ayahnya, “sebenarnya aku ingin kau singgah ditempat peristirahatan kami sebentar. Kau akan bertemu dengan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar yang terluka sangat parah, pamanmu Ki Argapati, Ki Juru Martani dan anak-anak muda seperti Raden Sutawijaya, Swandaru dan Prastawa.”

“Terima kasih ayah. Biarlah aku berada disini. Jika aku menganggap perlu aku akan singgah. Jika tidak, aku akan segera kembali agar ibu tidak terlalu gelisah.”

Ki Waskita hanya dapat menggeleng-geleng keeil. Namun katanya kemudian, “Baiklah. Aku akan meneruskan istirahatku.”

Rudita hanya memandang saja ketika ayahnya dan Agung Sedayu meninggalkannya dengan ragu-ragu. Ia berdiri tegak diatas kuburan yang memanjang sampai kedua orang itu hilang didalam bayangan kegelapan.

Sepeninggal Ki Waskita dan Agung Sedayu, Rudita untuk beberapa saat masih merenungi keadaan. Di tempat itu ia ingin melihat, betapa manusia dicengkam oleh kedengkian, ketamakan dan harga diri. Rudita tidak ingkar, bahwa keinginan untuk mempertahankan diri adalah juga sifat manusiawi. Tidak ada kehidupan yang tanpa berusaha mengelakkan diri dari kematian.

Namun yang dilakukan manusia kemudian bukannya sekedar mempertahankan hidupnya. Tetapi manusia dengan tamak ingin memanjakan hidup dan kecenderungan untuk menguasai lingkungannya.

Dalam pada itu. Ki Waskita dan Agung Sedayupun telah sampai ditempat peristirahatan mereka. Dengan heran Kiai Gringsing bertanya, “Dimana Rudita?”

Ki Waskita menggeleng. Jawabnya, “Ia tidak bersedia singgah ditempat ini. Ia sekedar lewat dan merenungi peristiwa yang terjadi dilembah ini menurut sudut pandangannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Tetapi Swandaru berguman, “Hidupnya mengambang dialam mimpi. Ia sama sekali tidak berani melihat kenyataan bahwa dunia ini berisi segala macam warna. Tidak semuanya putih dan tidak semuanya kuning.“ ia berhenti sejenak, lalu. “sebaiknya kakang Agung Sedayu tidak banyak berbincang dengan Rudita.”

“Kenapa? “ bertanya Kiai Gringsing.

“Pada kakang Agung Sedayu terdapat sifat-sifat yang hampir sama. Hanya kadarnya sajalah yang berbeda. Karena itu jika ia terlalu sering bertemu dan berbincang dengan anak itu, maka iapun akan segera menjadi kehilangan gairah hidupnya dan kehilangan kenyataan hidup yang memang sudah kabur.”

“Ah,“ desah Kiai Gringsing, “kau terlalu berprasangka.”

“Tidak guru. Aku berkata sebenarnya atas penglihatanku pada kakang Agung Sedayu.”

Kiai Gringsing masih akan menjawab. Tetapi Agung Sedayu telah mendahului, “Swandaru benar guru. Aku tidak perlu ingkar akan sifat-sifatku yang bimbang dan ragu-ragu. Mungkin benar, bahwa pada dasarnya aku mempunyai sifat-sifat yang sama dengan Rudita. Tetapi Rudita jauh lebih berani untuk mengambil sikap dari aku yang pengecut.”

“Sudahlah,“ berkata Kiai Gringsing, “bukan saatnya untuk membicarakan pandangan hidup dan sikap jiwani didalam keadaan seperti sekarang ini. Duduklah Agung Sedayu. beristirahatlah secukupnya. Sebentar lagi langit akan menjadi merah. Dan kita semua akan segera terlibat lagi dalam kerja, menyelesaikan mayat yang terbujur lintang dan masih belum sempat dimakamkan. Sementara kita masih harus memelihara agar yang terluka agak menjadi berkurang penderitaannya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Iapun kemudian duduk disebelah Ki Juru Martani yang nampaknya sedang merenungi keadaan.

Raden Sutawijaya tidak berbicara sepatah katapun. Agaknya ia sedang memikirkan sikap kedua murid Kiai Gringsing yang berbeda itu. Namun iapun sedang melihat kepada dirinya sendiri. Apakah ia condong kepada sikap Agung Sedayu atau sikap Swandaru.

Tetapi akhirnya Raden Sutawijaya menggeleng lemah sambil berkata didalam hati, “Bukan saatnya untuk memikirkan pandangan hidup dan sikap jiwani didalam keadaan seperti ini.”

Namun dalam pada itu, ternyata Sekar Mirahpun telah menangkap percakapan itu. Ia merasa semakin kecewa atas sikap Agung Sedayu. Jika semula ia merasa bangga mendengar, bahwa Agung Sedayulah yang telah berhasil membunuh Ki Gede Telengan, Ki Tumenggung Wanakerti, dan melukai orang-orang penting lainnya, namun pada saat ia mendengar pembicaraan itu. maka kebanggaannya itu mulai mengabur.

Meskipun demikian. Sekar Mirah masih tetap ingin melihat Agung Sedayu mempunyai kelebihan dari anak-anak muda yang lain. Tidak merajuk dan penuh kebimbangan.

Namun percakapan itupun telah terhenti. Agung Sedayu kemudian bersandar sebatang pohon sambil memandang langit yang menjadi kemerah-merahan disela-sela dedaunan.

Dalam pada itu, lembah itu rasa-rasanya telah menjadi senyap. Sebagian terbesar dari para pengawal masih tertidur nyenyak. Hanya mereka yang bertugas sajalah yang masih berjaga-jaga dengan senjata tetap ditangan.

Untuk mengatasi kantuknya, mereka berjalan hilir mudik disela-sela pepohonan. Atau saling berbincang tentang pertempuran yang baru saja terjadi.

Salah seorang dari mereka berkata, “Agung Sedayu adalah orang yang aneh.”

Kawannya mengangguk. Jawabnya, “Sifatnya tidak dapat dimengerti. Sebenarnya ia adalah orang yang luar biasa. Ia telah berhasil membunuh beberapa orang terpenting.”

“Ya. Dan saudara seperguruannya membunuh pula seorang.”

“Itupun karena ia sudah tidak berdaya.“ Kawannya tidak menjawab. Tetapi sebagian terbesar dari para pengawal memang mengetahui, bahwa Kiai Kelasa Sawit sudah tidak berdaya pada saat ia bertemu dengan Swandaru. Adalah karena nasib yang buruk telah membawa Kiai Kelasa Sawit kepada anak muda dari Sangkal Putung itu, setelah Agung Sedayu tidak berhasil mengatasi kesulitan batin untuk membunuhnya.

Namun dalam pada itu, para pengawal Sangkal Putung mempunyai sikap yang berbeda. Mereka merasa bangga bahwa Swandarulah yang telah membunuh Kiai Kelasa Sawit.

“Ternyata Swandaru telah mencapai tataran yang sangat tinggi didalam olah kanuragan. Ia telah berhasil membunuh Kiai Kelasa Sawit. Padahal Ki Sumangkar hampir saja dibinasakan olehnya jika tidak ditolong oleh Agung Sedayu.”

“Tetapi Ki Sumangkar masih diganggu oleh luka-lukanya yang terdahulu,” sahut yang lain.

“Ya. Meskipun demikian dapat dipakai sebagai bahan imbangan. Betapa tingginya ilmu Kiai Kelasa Sawit.”

Kawannya tidak membantah. Kebanggaan itu memang hinggap disetiap hati para pengawal di Sangkal Putung dan dihati Swandaru sendiri.

Karena itulah, maka ketika Prastawa kemudian bergeser disamping Swandaru, mereka berdua itupun mulai saling berbisik tentang kematian Kiai Kelasa Sawit.

Kiai Gringsinglah yang menjadi gelisah mehhat sikap Swandaru. Ia seolah-olah tidak mau mengerti apa yang telah terjadi. Swandaru telah memperkecil arti keberhasilan Agung Sedayu. Agaknya ia menganggap bahwa Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti adalah orang-orang yang tidak banyak berarti.

“Tidak seorangpun yang pernah menjajagi ilmunya,“ berkata Swandaru, “mungkin ia tidak lebih dari seorang pemimpin kelompok dari Sangkal Putung.”

“Ki Gede Menoreh tidak dapat mengalahkan Ki Tumenggung,“ sahut Prastawa.

“Tetapi kaki Ki Gede sudah cacat. Itulah sebabnya,“ jawab Swandaru.

Prastawa mengangguk angguk.

Kiai Gringsing meskipun tidak mendengar pembicaraan itu dengan jelas, namun ketajaman perasaannya, seolah-olah telahj berhasil menangkap kata demi kata.

Sebenarnya ia tidak berkeberatan seandainya Swandaru sekedar menganggap bahwa Agung Sedayu tidak memiliki kelebihan apapun dari padanya. Tetapi yang mencemaskan adalah, bahwa pada suatu saat telah terjadi ledakan keinginan untuk menjajagi seperti yang pernah terjadi atas Raden Sutawijaya.

“Mudah-mudahan tidak akan pernah terjadi,“ berkata Kiai Gringsing, “jika aku ada. aku akan mencegahnya dengan pengaruhku sebagai seorang guru. Tetapi jika pada saat mereka terpisah dari aku?”

Terasa kegelisahan itu bagaikan meronta didadanya.

Dalam pada itu, Rudita yang tidak mau singgah ditempat peristirahatan para pemimpin dari Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh itupun telah berjalan menyusuri lembah. Ia sadar, bahwa kematian yang mengerikan telah membuat udara lembah itu menjadi pengab. Dengan hati yang pedih, ia melangkah menjauhi tempat itu meskipun ia tidak segera kembali. Dengan kepedihannya itu iapun kemudian memanjat tebing semakin tinggi dan kemudian duduk diatas sebuah batu padas merenungi lembah yang berbau kematian itu.

Dalam penglihatan batinnya ia melihat ayahnya. Agung Sedayu, Kiai Gringsing, Ki Juru dan para pemimpin yangi lain telah mengamuk membunuh sesama tanpa pertimbangan apapun juga. seperti mereka sedang menebas batang ilalang liar yang tumbuh dihalaman rumahnya.

Sementara itu, ternyata Ki Juru Martani telah mendapat beban perasaannya sendiri. Seperti Kiai Gringsing, iapun digelisahkan oleh sifat-sifat Swandaru dan Agung Sedayu. Namun ia telah menghubungkannya dengan lingkungan yang lebih luas. Sikap kedua saudara seperguruan itu dapat tumbuh dimanapun juga. Seperti yang pernah terjadi, bahkan beberapa kali. Perantau-perantau yang berdiri dijalan simpang, kadang-kadang telah saling bertengkar untuk memilih jalan.

Dan yang masih nampak dipelupuk matanya adalah peristiwa yang baru saja terjadi. Pajang telah merobek-robek dirinya sendiri. Prajurit dan para Senapatinya telah memilih jalan yang terpisah-pisah. Namun yang kemudian telah membenturkan mereka sebagai lawan yang harus saling membunuh yang satu dengan yang lain.

Bahkan yang kemudian nampak telah menjalar kesaat-saat yang mendatang. Mungkin Pajang akan mengalami masa-masa yang lebih parah. Jika sebagian dari para pemimpin perajurit Pajang masih saja dicengkam oleh ketamakan dan pamrih pribadi, maka Pajang tentu akan terjerumus kedalam keadaan yang tidak akan tertolong lagi.

“Sultan Hadiwijaya harus berbuat sesuatu,“ berkata Ki Juru kepada diri sendiri. Dan sekali lagi penyesalannya atas sikap Raden Sutawijaya melonjak didalam hati.

Tetapi agaknya Raden Sutawijaya sudah benar-benar berkeras hati untuk tidak mau datang ke Pajang. Sumpahnya telah membuatnya bagaikan membeku. Mataram harus menjadi sebuah negeri yang ramai. Baru ia akan datang ke Pajang dan berkata lantang kepada beberapa orang Senopati. “Aku mampu membuat hutan belantara itu menjadi sebuah negeri seperti yang aku katakan.”

Namun, Ki Juru ingin membawa beban itu sendiri betapapun beratnya. Ia tidak mau menambah persoalan dihati Raden Sutawijaya yang masih muda itu.

Ketika kemudian matahari terbit, maka para pengawal segera bangkit meskipun terasa tubuh mereka masih sangat lelah. Berebutan mereka mencuci muka di belik yang terdapat dilembah itu. Kemudian merekapun mulai dengan kerja mereka yang masih belum selesai, sementara yang lain mulai menyalakan api untuk merebus air dan menanak nasi.

Dalam pada itu, maka para tawananpun dikerahkan pula untuk membantu para pengawal menyelesaikan penguburan mayat yang masih tersisa.

Namun pekerjaan itu tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Para pengawal masih harus memilih dan memisahkan para pengikut orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit dan para pengawal dan Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.

Raden Sutawijaya yang menunggui penguburan itu setiap kali menarik nafas dalam-dalam Ternyata pengorbanan yang diberikan oleh Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh terlampau besar. Beberapa orang pengawal telah terbunuh dipeperangan itu, sementara yang lain terluka parah. Meskipun korban terbesar adalah pihak Mataram sendiri, namun korban yang diberikan oleh Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh seakan-akan merupakan hutang yang sulit untuk dapat dikembalikan.

Ternyata para pemimpin dari Mataram. Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh itupun telah menyaksikan akhir dari peperangan dilembah itu dengan sikapnya masing-masing. Diantara mereka yang menyesali peristiwa itu, kecewa dan kecemasan menjelang masa depan Pajang dan Mataram, ada juga yang merasa dadanya penuh dengan gelora kebanggaan.

Swandaru yang berdiri diatas gundukan tanah yang merah bersama Prastawa memandang kesibukan para pengawal dan para tawanan dengan gejolak perasaan masing-masing. Bagaimanapun juga ada perasaan getir dihati Swandaru. Beberapa orang pengawal Kademangannya telah menjadi banten. Mereka bersama-sama dengan para pengawal yang lain berangkat dari Sangkal Putung dengan dada tengadah. Mereka berpacu diatas punggung kuda bersama kawan-kawannya. Namun mereka tidak akan kembali bersama-sama seperti saat berangkat. Apalagi mereka tidak akan pernah bertemu lagi dengan keluarga dan sanak kadang.

Agaknya berbeda dengan gelora perasaan Prastawa yang masih terlalu muda. Ia merasa bangga atas kehadirannya dipeperangan mengemban tugas yang dibebankan oleh Ki Gede Menoreh kepadanya. Ia merasa berdiri di permulaan dari hari-hari yang akan dapat mengangkat namanya diantara para pengawal di Tanah Perdikan Menoreh.

“Jika pada kesempatan berikutnya aku dapat melakukan tugasku lebih baik, maka aku akan menjadi seorang kepercayaan paman Argapati,” berkata Prastawa didalam hatinya, “mudah-mudahan para pengawal yang menyaksikan sikap dan kemenangan-kemenanganku dipeperangan akan menceriterakan kepada kawan-kawan yang lain. Apalagi aku mempunyai kelebihan dari para pemimpin pengawal yang lain, karena aku adalah kemanakan Ki Gede Menoreh dan kemampuan ilmu yang lebih tinggi.”

Tetapi berbeda dengan gejolak perasaan Prastawa, Ki Gede menoreh merasa menyesal bahwa ia tidak berpesan kepada Prastawa untuk tidak mempergunakan gelar-gelar yang berbahaya. Pada dasarnya gelar Glatik Neba atau Pacar Wutah tidak sesuai dengan dasar kemampuan sebagian dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, sehingga sebenarnya dapat dipilih cara lain untuk dapat mengurangi korban.

Namun semuanya sudah terjadi. Dan Ki Gede tidak dapat membebankan kesalahan seluruhnya kepada Prastawa yang masih muda itu.

Sementara itu, selagi para pengawal dan para tawanan sibuk menyelesaikan tugasnya, Rudita dengan hati yang luka melangkah meninggalkan lembah itu. Namun ia telah melihat betapa kelamnya dunia manusia yang sebenarnya.

Pengalaman itu agaknya telah mengukuhkan sikap Rudita pada keyakinannya. Manusia harus mendapatkan pegangan hidup yang lebih baik daripada berjuang untuk mendapatkan kepuasan dan pemenuhan kebutuhan duniawi semata-mata, sehingga rela mengorbankan sesamanya, dengan penuh kesadaran bahwa ia harus berbiduk menempuh arus banjir bandang yang deras sekali.

Dalam pada itu, maka pekerjaan para pengawal dan para tawannanpun berangsur menipis, sementara beberapa orang mulai mempersiapkan segala sesuatu yang harus mereka bawa kembali. Para pengawal Mataram dan Sangkal Putung akan menempuh perjalanan kembali ke Mataram, sementara para pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan kembali ke Tanah Perdikan.

Dengan pedih, para pengawal telah memberikan tanda-tanda khusus bagi kawan-kawannya yang terpaksa mereka kuburkan dilembah itu. Mungkin pada suatu saat merska mendapat kesempatan untuk datang kembali bersama keluarga para korban. Karena betapapun juga, maka keluarga para korban tentu ingin sekali-sekali melihat, bujur lintang dari sanak kadangnya yang gugur dipeperangan.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:01  Comments (77)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

77 KomentarTinggalkan komentar

  1. weleh.. weleh…
    rontal 110 konon kabarnya hanyut melu kebanjiran… sapuniko masih dicari-cari sama Ki Gede setelah banjir surut…
    Kalau sudah ketemu dan dicantolke neng Diajeng PH meneh, kabar-kabari yo Ki…

    Iki wis ngombeh bir pletok 5 botol…rontale durung metu-metu je..

  2. Ki Sutawijia…. sampeyan ojo ngombe2, opo maneh bir pletog..

    Aku ngerti yen urip ki mung mampir ngombe…ning ojo ngombe dewe,..aku yo selak ngelak kie…ning pendopo kie rodo sek2an ro cantrik2 liyane….

    Ki Catur,..atine ditoto…ojo kemrungsung, sedelo lagi sebentar maneh Ki GD arep medarake kitab ii-10, mung durung titi-wancine…golek wektu sing pas

  3. absen sore ki GD dan kisanak semuanya.kian hari kian rame aja ya padepokan ini.
    saya berharap bisa bersabar sesuai pesan ki GD untuk bisa mengunduh kitab 110.

  4. Ngantri ya Ki…
    Smoga segera diturunkan kitab 110 nya.
    Kalo malam ini tentu masih bisa sabar…
    Thx Ki.

  5. SABAR, SABER, SHOBUR…. WADUH..

  6. cuma bisa sabar……..taberia sabar sareh mawas diri….kuwajiban kudu rampung,yen wis klakon,guyon maton…..

  7. Turut berduka cita… bagi yg udeh nggak kukuh, he.. he..

  8. kapan ya upacara pembuakaan kitap, nunggu waktu yang baik pa ya

  9. Kapan?

    Sabar sik !

  10. Ada harapan…
    Kata anakmas Sukro…rontal 110 baru mau diunggah…cuman belum jelas nyangkut ke mana…

    asyiiiiiik…

  11. Ki GD, kulo aasih disamping regol menanti rontal 110, sambil melawan hawa dingin kudungan kain panjang, ndak kebagian wedang sere nya tadi…

  12. Setelah ki GD mendirikan padepokan baru di Karang, nampaknya beliau dengan beberapa cantrik terpilih sedang sibuk mengairi sawah yang sedikit terbengkelai.. Sedangankan beberapa cantrik yang lain dengan sabar mempelajari kitab rontal lama yang semakin kucel karena dibolak-balik… Nampaknya ki GD terlalu asyik dengan sawah dan tanamannya sehingga sedikit lupa untuk segera menurunkan rontal110 yang beberapa hari ini telah disiapkannya…

    Nuwun sewu, ndherek ngantri..

  13. ikut lek-lek an ya
    ni udah buat kopi sambil nunggu II-10
    salam buat ki Gede

  14. Wah manur nuwun KI ,Kitabe wis tak jumput

  15. Eh lha kok malah udah dapat
    Thanks Ki Gede

  16. Thx Ki….yummi…

  17. Matur Nuwun Ki GD, rontal 110 sampun dipun jlenterhaken, matur nuwun sanget.

    Hanya di ADBM inilah terjadi perburuan unduh mengunduh yang aneh ….

  18. Matur nuwun Ki GD……..

  19. Wah ki GD memang waskita… Matur nuwun..

  20. Suwun Ki GD,…wis ora kemrungsung

  21. Thanks ya Ki Gede yg guanteng,…
    hihihihihi

  22. Matur suwun Ki GD…, mpun kulo petik “buahnya”…alhamdulilah….

  23. Matur thank you Ki GD buah saMpun dipun unduh…

  24. Ki Gede matur nuwun buahnya. Sudah dipetik, meskipun untuk itu masih akan di peram buah itu, karena buah 108 saja masih belum dimakan sampai habis…

    Ngomong ngomong tentang Speedy. Istri di rumah memang langganan Speedy, yach.. masih termasuk agak mahal.

    Sempat ada fasilitas gratis antara jam 8 malam sampai dinihari, kemudian dihapus, kemudian katanya tarif diturunkan lagi..kalau nggak salah berapa ya tarif untuk download tidak terbatas?

    Karena terbiasa broadband dengan jalur cepat dan murah tidak tahu nih..kalau kembali berspeddy ria..mudah mudahan speedy memang “speedy” tidak “lambaty”..

  25. Membaca lontar 110 halaman 9, membuat cantrik tersenyum

    Apakah memang demikian adanya pada saat peperangan jaman dahulu, apalagi perang beradu dada dan perang brubuh, apakah para serdadu sempat makan nasi yang sudah dihaluskan dan minum dari tempat airnya..ataukah mereka lari dulu sebentar dari ajang peperangan (seperti pemain bola atau pemain tenis) mengambil jatah makanan dan minum kemudian kembali ke medan laga dan berperang kembali?

  26. Saya murid baru di padepokan kyai gringsing. Mau baca kitab peninggalannya kok susah buanget jeh. Mungkin para kakang seperguruan mampu memberi pencerahan. Matur nuwun

    # silakan jalan-jalan ke halaman yang lain. dan dengerin obrolan para cantrik. pasti bisa.

  27. Nek sabar ki ono buahe…

    Matur nuwun Ki GD


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: