Buku II-10

Tawaran itu benar-benar mempengaruhi perasaan para pengikut orang-orang yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit. Dalam keadaan putus asa, maka kesempatan untuk menyerah itu adalah satu-satunya kesempatan terbaik yang akan menghindarkan mereka dari kematian, meskipun mungkin mereka akan jatuh kedalam suatu keadaan yang tidak kalah buruknya daripada mati.

“Kami masih memberi kesempatan,“ berkata pemimpin dari Mataram itu, “jika kalian ingin menyerah, maka lepaskanlah senjata kalian dari tangan.”

Tetapi orang-orang yang putus asa itu masih ragu-ragu. Jika mereka melepaskan senjata mereka, sementara lawan mereka masih belum menemukan keseimbangan, sehingga dendamnya masih menyala, maka nasib mereka justru akan menjadi bertambah buruk.

Namun pemimpin pengawal dari Mataram itupun kemudian meneriakkan aba-aba kepada para pengawal agar mereka memberi kesempatan lawan untuk menyerah.

Para pemimpin pengawal dari Kademangan Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menoreh yang berseberanganpun mendengar perintah itu. Sementara mereka masih tetap mengakui, bahwa mereka berada di bawah perintah dari pimpinan pasukan dari Mataram, sehingga perintah yang mengalir dari pimpinan pasukan Mataram, merupakan perintah bagi seluruh pasukan.

“Nah,“ teriak pemimpin pengawal dari Mataram, ”ulangi perintahku, beri kesempatan kepada mereka untuk menyerah.”

Para pemimpin kelompok, baik dari Mataram, dari Sangkal Putung maupun dari Tanah Perdikan Menorehpun kemudian mengulangi perintah itu sambung bersambung sampai keujung sayap.

Tidak ada kesempatan lain. Kelelahan, putus asa dan hilangnya harapan telah menyudutkan para pengikut mereka yang merasa dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu untuk menerima tawaran itu, betapapun buruknya.

“Seorang pemimpin kelompok yang sudah kehilangan ikatan induknya itupun tiba-tiba saja sudah meneriakkan perintah bagi kelompoknya, “Pisahkan diri dari lawan. Kalian mendapat kesempatan untuk menyerah. Tetapi tidak untuk membunuh diri.”

Ternyata bahwa perintah itu mendapat sambutan dari beberapa orang pemimpin kelompok yang lain meskipun hal itu bukannya merupakan jalur perintah. Mereka merasa bahwa setiap kelompok harus menentukan sikap mereka sendiri, setelah Kiai Samparsada dan Kiai Kelasa Sawit hilang dari sayap itu.

Para pengikut yang berada dilembah itupun tidak mempunyai kesempatan lain. Itulah sebabnya, mereka-pun kemudian seolah-olah berusaha untuk menjauhi lawan masing-masing sambil mengangkat senjata mereka meskipun senjata itu masih belum dilontarkan.

Para pengawal dari Mataram, dari Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menorehpun termangu-mangu sejenak. Pernah untuk memberi kesempatan lawan mereka menyerah tidak dapat mereka abaikan, sehingga karena itu. maka merekapun membiarkan lawan mereka melangkah surut dan seakan-akan berkumpul didalam sebuah lingkaran yang besar.

“Letakkan senjata kalian,“ perintah itu terdengar lagi.

Betapapun juga, keragu-raguan masih nampak diwajah mereka. Sejenak mereka masih berdiri termangu-mangu. Namun pertempuran memang telah terhenti, meskipun keadaan masih tetap tegang.

Dalam keragu-raguan itu, tiba-tiba pertempuran itu telah digetarkan pula oleh teriakan-teriakan kemenangan dari induk pasukan. Raden Sutawijaya disebelah Barat dan Swandaru disebelah Timur bersama Pandan Wangi dan Sekar Mirah telah berhasil memaksa lawan mereka untuk menyerah pula.

“Mereka sudah menyerah,“ teriakan-teriakan itu terdengar sampai kesayap.

Para pengikut orang-orang yang menganggap dirinya pewaris kerajaan Majapahit itupun kemudian seorang demi seorang telah melemparkan senjata mereka. Betapapun beratnya, tetapi senjata yang merupakan lambang kehadiran mereka dipeperangan itu, harus diletakkan.

Dengan demikian, maka hampir berbareng kedua bagian dari pasukan lawan itu sudah menyerah. Diinduk pasukan. Raden Sutawijaya masih merenungi tubuh seorang bekas Senapati Pajang yang mendapat tanda kepercayaan untuk menjadi Panglima dilembah itu yang terbujur tidak bernyawa lagi.

Tetapi ternyata bahwa sayap yang lainpun telah digoncangkan oleh peristiwa yang menggetarkan. Ki Waskita yang menjadi semakin lelah, justru menjadi semakin garang, sehingga akhirnya lawannya tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Raksasa yang memiliki kekuatan berlipat dari kekuatan kebanyakan itu, akhirnya tidak lagi mampu menyelamatkan hidupnya dalam hiruk pikuknya pertempuran.

Kiai Gringsing yang melihat kematian Kiai Jagaraga itu mengerutkan keningnya. Kemudian dengan nada datar ia berkata, “Apakah kau masih akan tetap bertahan? Kawanmu sudah terbunuh.”

Empu Pinang Aring yang bertempur melawan Kiai Gringsing itu meloncat surut, seolah olah ia ingin mendapat kesempatan untuk menyaksikan kebenaran kata-kata Kiai Gringsing, bahwa kawannya telah terbunuh oleh seorang pengawal yang datang dari arah pasukan Tanah Perdikan Menoreh.

Kiai Gringsing sengaja memberinya kesempatan, sehingga Empu Pinang Aringpuri melihat betapa kawannya itu tergolek dibawah cahaya obor yang sengaja dipasang untuk menerangi mayat itu oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau benar Kiai. Raksasa itu telah mati.”

“Dan kau? “ bertanya Kiai Gringsing.

Empu Pinang Aring termangu-mangu. Sejenak ia mengedarkan tatapan matanya keseluruh medan, seolah-olah ia ingin melihat pertempuran yang panjang itu dari ujung sampai keujung.

Namun dari induk pasukan, iapun telah mendengar bahwa pasukan yang sedang berhimpun dilembah itu ternyata tidak mampu melawan kekuatan yang berhasil dihimpun oleh Mataram. Kekuatan dari Timur dan dari Barat.

“Mataram memang luar biasa,“ desis Empu Pinang Aring tiba-tiba.

“Kau tidak mempunyai kesempatan lagi,“ berkata Kiai Gringsing.

Empu Pinang Aring memandang Kiai Gringsing dengan tajamnya. Sekali lagi ia menebarkan tatapan matanya. Kemudian desisnya, “Tidak ada yang dapat menghalangi tekad keturunan kerajaan Agung Majapahit untuk membangun kembali kejayaannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan bermimpi. Kita bukan orang-orang yang takut melihat kenyataan.”

“Apa yang kau tahu tentang kami?”

Kiai Gringsing memandang Empu Pinang Aring sejenak, lalu. “Apa pula yang kau tahu tentang warisan atau keturunan Kerajaan Agung Majapahit?”

“Aku adalah keturunan langsung dari Majapahit yang berhak mewarisi kerajaan.”

“Ada beratus-ratus orang yang dapat mengatakan demikian. Keturunan Majapahit telah tersebar kemana-mana. Sampai keujung Timur dari tanah ini. Bahkan sampai keseberang selat Bali. Tetapi apakah artinya keturunan itu jika Sultan Pajang juga dapat menyelusuri keturunannya yang bersumber dari Majapahit? Jika setiap orang berhak mewarisi kerajaan. apakah itu berarti akan ada beratus-ratus kerajaan Majapahit yang akan lahir?”

“Jangan berbicara seperti kepada kanak-kanak Kiai,“ sahut Empu Pinang Aring, “sudah tentu kita akan berbicara tentang hal itu diantara kita.”

“Bukan maksudku memperbodoh kau Ki Sanak. Tetapi bayangkan. Semua orang yang merasa dirinya memiliki hak untuk mewarisi kerajaan itu, pada suatu saat akan berkumpul dan berbicara tentang diri mereka masing-masing. Nah, apakah Ki Sanak dapat membayangkan, siapakah diantara mereka yang akan menjadi raja, menjadi Mahapatih, menjadi Mahamenteri dan jabatan-jabatan yang lebih rendah? Siapakah yang akan menentukan dan mengesahkan?” bertanya Kiai Gringsing.

“Kau sudah tahu jawabnya. Kita mempunyai otak, mempunyai mulut dan kesetiakawanan.”

“Semuanya akan lenyap dihembus oleh nafsu dan ketamakan. Jika kalian sempat mempergunakan otak kalian, kenapa kalian sanggup berkumpul dilembah ini kemudian bersama-sama memusuhi Pajang dan Mataram? Kenapa kalian tidak dapat mempergunakan otak, mulut dan kesetiakawanan kalian, apalagi kalian sudah jelas mengetahui bahwa Sultan Hadiwijaya masih resmi menjadi raja di Pajang dalam jalur langsung atau tidak langsung dari keturunan Majapahit?”

“Omong kosong.”

“Ingat Ki Sanak. Setiap orang akan dapat mengucapkannya. Omong kosong. Akupun dapat mengatakan, apa yang kau ucapkan adalah omong kosong. Juga semua sikap dan pendirian tentang pewaris-pewaris kerajaan Agung Majapahit itu.”

Terdenger Empu Pinang Aring menggeram. Tetapi kata-kata Kiai Gringsing berhasil menyentuh perasaannya. Sejak semula iapun telah meragukan pembagian kedudukan diantara mereka yang memperebutkan warisan Majapahit itu. Seandainya mereka bersepakat untuk menunjuk seorang Raja, bagaimana dengan kedudukan-kedudukan tinggi yang lain. Apalagi jika mereka ingin mengembalikan tata pemerintahan seperti pada masa Majapahit, karena didalam pertumbuhannya melalui Demak dan Pajang, susunan pemerintahan sudah banyak berubah.

“Baiklah,“ berkata Kiai Gringsing, “jika kau masih tetap pada sikap dan pendirianmu, namun sebagai seorang yang mumpuni, kau tentu mempunyai perhitungan yang matang. Lihatlah, apakah kau masih mempunyai nafsu untuk bertempur terus?”

Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam.

“Renungkan Empu. Mungkin kau memang sudah merenunginya tidak hanya sehari dua hari. tetapi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tetapi ulangilah sekali lagi merenung dalam kenyataan yang kau hadapi sekarang ini.”

Empu Pinang Aring benar-benar tidak dapat mengingkari kenyataan. Pasukannya sudah tidak mampu lagi mempertahankan diri. Tanpa perintah banyak diantara mereka telah melepaskan senjatanya dan berkumpul dilingkari oleh pengawal Mataram. Sangkal Putung atau Tanah Perdikan Menoreh yang mengacungkan senjata mereka.

Tetapi sudah tentu bahwa Empu Pinang Aring mempunyai perhitungan dan pertimbangan tersendiri. Ia tidak begitu saja hanyut pada arus kesulitan yang dialami oleh para pengikutnya.

Namun demikian. Empu Pinang Aring tetap seorang yang memiliki pengamatan yang matang terhadap keadaan disekitarnya.

“Kiai,“ berkata Empu Pinang Aring kemudian, “kau bagiku adalah seorang yang aneh. Aku sudah lama mendengar tentang orang-orang bercambuk. Tidak hanya seorang, tetapi beberapa. Namun demikian, agaknya kaulah induk dari segala macam orang bercambuk itu.”

Kiai Gringsing mengerutkan dahinya.

“Kiai,“ Empu Pinang Aring meneruskan, “aku. Empu Pinang Aring, sudah bertahun-tahun hidup dalam dunianya yang penuh dengan tantangan maut. Karena itu, aku tidak pernah gentar melihat betapa buruknya peperangan. Aku sudah banyak mengalami kesulitan-kesulitan, tetapi juga kemenangan-kemenangan disegala macam medan. Tetapi aku tidak pernah melangkah mundur, biar kematian menjadi taruhannya.”

“Dan sekarang kau juga akan mempertaruhkan kematian? “ bertanya Kiai Gringsing, lalu. “kematianmu memang tidak berarti. Baik bagimu sendiri, maupun bagi keseluruhan perimbangan dari peperangan ini. Bagi kami, akhir dari peperangan ini sudah jelas. Kami akan menguasai keadaan sepenuhnya. Sehingga karena itu maka kematianmu benar-benar sia-sia. Tidak berarti sama sekali, karena kematianmu tidak akan menentukan apapun juga.”

Jawaban Empu Pinang Aring benar-benar diluar dugaan, “Kau benar Kiai. Kematianku tidak akan berarti apa-apa.”

Kiai Gringsing terkejut mendengar jawaban itu. Karena itu justru ia terdiam sejenak memandang wajah Empu Pinang Armg yang tidak lagi nampak garang.

“Aku yang merasa diriku seorang yang penting didalam pergolakan masa sekarang ini. ternyata harus menghadapi maut tanpa arti.“ Empu Pinang Aring berdesis, lalu. “Kiai, seandainya aku mampu melakukan, mengamuk dimedan ini sehingga memberi kesempatan kepada pengikut-pengikutku untuk melarikan diri, aku akan melakukannya. Jika aku harus mati, maka kematianku akan berarti, setidak-tidaknya bagi beberapa jiwa pengikutku. Tetapi rasa-rasanya sekarang tidak mungkin lagi aku lakukan.”

“Ya,“ sahut Kiai Gringsing, “ternyata hatimu masih bening.”

“Jika keputusanku menguntungkanmu. kau tentu memujiku. Tetapi biarlah. Harga diriku selama ini akan lenyap oleh suatu kesadaran ketiadaan arti bagi semua tingkah lakuku,“ Empu Pinang Aring berhenti sejenak, lalu. “Kiai, aku menyerah.”

Kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Kiai Gringsing tidak mengira bahwa tiba-tiba saja orang seperti Empu Pinang Aring begitu cepat menyerah.

Tetapi orang itu berkata selanjutnya, “Itu bukan berarti bahwa aku ingin mendapat pengampunan sehingga leherku tidak akan dipenggal. Aku tidak berkeberatan jika aku dibunuh dengan cara apapun juga. Aku akan menghadapinya dengan tabah. Jika aku menyerah, dan bersedia untuk melakukan hukuman apa saja. itu aku maksudkan agar hidupku disaat terakhir masih mempunyai arti betapapun kecilnya. Karena penyerahan ini, dan kemudian hukuman mati yang akan aku lakukan, aku dapat memberikan sedikit kepuasan sepada orang-orang Mataram. Dengan demikian, masih mungkin diharapkan pengampunan atau keringanan hukuman bagi orang-orangku yang kau tangkap sekarang ini.”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun Empu Pinang Aring benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Sambil mengulurkan senajatanya ia berkata, “Kiai. bukankah Kiai pernah mengatakan, bahwa Kiai ingin melihat barang sejenak senjataku ini.”

Kiai Gringsing masih ragu-ragu. Namun ia melihat kerungguhan diwajah Empu Pinang Aring, sehingga iapun kemudian menerima senjata itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih bersiap dengan cambuknya menghadapi segala kemungkinan.

Namun ternyata Empu Pinang Aring benar-benar telah menyerahkan senjatanya. Iapun kemudian berjalan perlahan-lahan diiringi oleh Kiai Gringsing, bergabung dengan pengikut-pengikutnya yang sudah menyerah.

Dengan tatapan mata keheranan pengikut-pengikutnya memandang Empu Pinang Aring yang mereka anggap sebagai orang yang tidak ada duanya. Namun adalah suatu kenyataan bahwa akhirnya Empu Pinang Aring itupun telah menyerah.

Empu Pinang Aring memandang pengikut-pengikutya sejenak. Kemudian Katanya, “Aku memang ingin menyerah bersama kalian. Sebenarnya aku mempunyai banyak peluang untuk melarikan diri. Tetapi jika aku berhasil, maka aku telah mengkhianati kalian yang tidak mempunyai kesempatan itu. Karena itu aku menyerah. Aku mohon bahwa semua hukuman akan dapat aku jalani dengan memperingan hukuman kalian. Mungkin aku akan dihukum gantung. Tetapi itu bukan soal kalian. Bahkan mungkin aku harus menjalani hukuman picis, dan kalian seorang demi seorang harus mengerat tubuhku dan membubuhkan air asam. Tetapi lakukanlah dengan tabah, karena dengan demikian aku tidak sekedar mengorbankan kalian untuk kepentinganku.”

Beberapa orang pengikutnya tiba-tiba saja menundukkan kepalanya. Namun beberapa orang yang lain telah menggeretakkan giginya. Bahkan salah seorang dari mereka berteriak, “Kita bertempur sampai mati.”

Empu Pinang Aring tertawa. Katanya, “Kau sudah meletakkan senjatamu. Jangan membunuh diri dengan cara yang paling bodoh. Aku tidak ingin mengusik perasaan kalian, agar kita bersama-sama masuk ke lubang kubur. Biarlah aku berbangga dengan sikapku sekarang ini. Jangan memperkecil arti kepahlawanku meskipun kebanggaan itu hanyalah sekedar bagi diriku sendiri.”

Pengikutnya tidak ada yang menyahut. Mereka memandang pemimpinnya dengan dada yang berdebar-debar.

Sementara itu, pengikut-pengikut Empu Pinang Aringpun telah menyerah pula kepada para pengawal dari Mataram, Sangkal Putung atau Tanah Perdikan Menoreh.

Seperti para pengikutnya. Empu Pinang Aringpun melakukan semua yang harus dilakukan oleh para tawanan, seolah-olah ia benar-benar merasa satu dengan para pengikutnya dalam segala keadaan. Juga dalam keadaan yang paling parah itu.

Dengan demikian, maka pertempuran dilembah itu. akhirnya telah terhenti juga. Para pengikut mereka yang menamakan diri pewaris kerajaan Majapahit itu telah kehilangan kesempatan sama sekali untuk mempertahankan diri. Meskipun pada mulanya, nampak mereka memiliki kelebihan, terutama dalam jumlah, tetapi sikap Ki Gede Telengan agaknya telah merubah segala-galanya.

Saat-saat pertempuran yang panjang itu berakhir, maka Raden Sutawijayapun segera memanggil semua pemimpin untuk berkumpul. Baik dari Mataram sendiri, dari Sangkal Putung dan dari Tanah Perdikan Menoreh.

Namun sementara itu, Raden Sutawijaya telah dikejutkan oleh kebanggaan Swandaru yang dengan lantang berkata, “Aku telah berhasil membunuhnya.”

“Siapa?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ternyata ia adalah Kiai Kalasa Sawit,“ jawab Swandaru sambil menengadahkan dadanya.

“O,” Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Beberapa pengawal Kiai Kelasa Sawit yang tertawan, memandang mayat yang terbujur itu dengan mata yang buram. Kiai Kelasa Sawti telah berhasil melarikan diri dari cengkaman maut ketika ia bertempur menghadapi Agung Sedayu. Tetapi karena ia justru berada di induk pasukan, maka diluar sadarnya, ia telah bertemu dengan Swandaru.

Tanpa ampun lagi. maka Kiai Kelasa Sawit telah dibinasakannya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia mendekati mayat itu. Dibelakangnya Prastawa mengikutinya dengan hati yang berdebar-debar.

“Ternyata kakang Swandaru berhasil membunuh Kiai Kelasa Sawit,“ desis Prastawa dengan kagum.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Dalam cahaya obor nampak jalur-jalur cambuk Swandaru yang menyobek kulit.

“Luar biasa,“ desis Raden Sutawijaya, “kau memang seorang anak muda yang perkasa. Kau ternyata sudah berada pada tataran Kiai Kelasa Sawit yang mendebarkan itu.”

Swandaru memandang Raden Sutawijaya sejanak

Ia pernah menjajagi ilmu anak muda itu. Namun kini ia dengan bangga dapat membuktikan kepada Sutawijaya. bahwa ia bukan seorang anak muda yang terlalu lemah. Bahkan dari bibir Raden Sutawijaya telah terlontar pengakuan bahwa ia memiliki tataran setingkat dengan Kiai Kelasa Sawit yang telah berhasil dibunuhnya.

Namun dalam pada itu, setiap pengawal Kiai Kelasa Sawit menyadari, bahwa saat-saat yang mengerikan itu terjadi justru saat Kiai Kelasa Sawit sudah tidak berdaya. Ia hanya dapat mempergunakan sisa-sisa tenaganya yang sudah sangat lemah karena luka-lukanya.

Tetapi mereka tidak dapat mengucapkannya, karena mereka merasa tidak berhak untuk mencampuri pembicaraan Raden Sutawijaya dan Swandaru yang gemuk itu.

Sementara itu, maka para pemimpinpun sudah mulai berkumpul. Mereka mengambil tempat diluar medan, sementara para pengawal masih sibuk menyelesaikan persoalan-persoalan kecil yang masih timbul. Satu dua orang lawan benar-benar tidak mau menyerah, sehingga mereka telah memilih mati. Yang lain berusaha melarikan diri. Namun diantara mereka memang berhasil menyusup di dalam rimbunnya pepohonan dan hilang dihutan yang lebat.

Pada saat satu dua orang masih harus bertempur, yang lain telah mengumpulkan para tawanan yang telah meletakkan senjata. Sedangkan sebagian yang lain. harus mengumpulkan orang-orang yang terutama masih diketahui hidup dan terbaring diantara mayat-mayat yang silang melintang.

Kiai Gringsing yang berjalan melintasi medan bersama Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dilembah itu telah terjadi pembunuhan antara manusia yang tidak dapat dicegah lagi.

Pada saat-saat para pemimpin itu sudah berkumpul, maka yang pertama-tama dilakukan oleh Kiai Gringsing adalah mengobati Sumangkar yang parah. Luka-lukanya merambah diseluruh tubuhnya. Namun Kiai Gringsing masih berpengharapan, bahwa luka-luka itu akan dapat disembuhkan.

“Kita tidak melihat Agung Sedayu,“ desis Ki Sumangkar.

“Ia berada dilereng bersama Ki Gede Menoreh,“ jawab seorang pemimpin kelompok.

“Ia bersamaku dan telah menyelamatkan aku,“ desis Ki Sumangkar yang lemah.

“Ya. Tetapi ia telah kehilangan keseimbangannya sebagai seorang laki-laki jantan meskipun ia berhasil mengalahkan lawan-lawannya.”

“Jangan berkata begitu,” potong Raden Sutawijaya, “kau harus menghargai sifat-sifatnya.”

Namun Swandarulah yang sudah menyahut, “Aku sudah menduga. Kakang Agung Sedayu tidak akan tahan berada dimedan yang besar. Apalagi jika terjadi benturan antara dua kekuatan yang benar-benar besar seperti Pajang.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Ia tidak boleh memaksa diri. Tetapi ia sudah berbuat banyak didalam pertempuran ini.”

“Ya.” Jawab Raden Sutawijaya, “aku sudah mendengar semua laporan tentang Agung Sedayu.”

Swandaru memalingkan wajahnya. Ketika terpandang olehnya Prastawa yang berada beberapa langkah disebelahnya, Agung Sedayu tersenyum. Dan Prastawa-pun tersenyum pula.

“Sekarang,” berkata Raden Sutawijaya, “panggillah Ki Gede Menoleh dan Agung Sedayu bersama para pengawal dan pusaka-pusaka yang telah diketemukan itu.”

Dua orang penghubungpun kemudian pergi menemui Ki Gede Menoreh untuk menyampaikan pesan Raden Sutawijaya, agar bersama para pengawal Ki Gede turun kemedan.

Agung Sedayu masih tetap ragu-ragu. Berbagai bayangan telah bermain di angan-angannya. Kematian demi kematian telah terjadi. Dan iapun telah membunuh justru orang-orang penting dari lingkungan lawannya.

Ki Gede Menoreh dapat mengerti sepenuhnya perasaan anak muda itu karena Ki Gede telah mengenal sifat-sifatnya pula. Karena itu, maka dengan hati-hati ia berkata, “Marilah Agung Sedayu. Kita akan bertemu dengan saudara-saudara kita yang berhasil menyelamatkan diri dari benturan kekuatan ini. Apapun yang telah terjadi, jangan kau sesali lagi, karena yang terjadi itu memang sudah terjadi.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang sering mendengar orang-orang tua memberi nasehat jika seseorang sedang menyesali sesuatu. Tetapi untuk mengusir penyesalan yang menyesak, adalah suatu pekerjaan yang sulit.

Namun Agung Sedayupun kemudian mengikuti Ki Gede Menoreh menuju kemedan yang bagi Agung Sedayu merupakan lingkaran yang sangat menggelisahkan.

Kehadiran Ki Gede Menoreh dan Agung Sedayu telah disambut oleh Raden Sutawijaya dengan penuh gairah, sementara Pandan Wangi langsung berjongkok dihadapan ayahnya sambil mengusap matanya yang basah.

“He,“ desis Ki Gede Menoreh, “kau sedang mengenakan pedang rangkap.”

Pandan Wangi menengadahkan wajahnya. Kemudian ia mencoba tersenyum.

“Duduklah ditempatmu,“ berkata Ki Gede kepada puterinya.

Pandan Wangipun kemudian duduk kembali disamping Sekar Mirah yang tersenyum melihat sikapnya. Bagaimanapun juga. Pandan Wangi adalah seorang perempuan. Sudah cukup lama ia tidak berjumpa dengan ayahnya. Sedangkan perjumpaan yang terjadi dimedan yang menegangkan itu rasa-rasanya telah menggetarkan hatinya.

Sejenak kemudian, setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing setelah mereka menghadapi tantangan maut dimedan yang resah itu, maka merekapun segera membicarakan masalah-masalah yang harus segera mereka lakukan. Terutama dengan pusaka-pusaka itu.

“Pusaka-pusaka itu harus segera kembali ke Mataram,“ berkata Kiai Gringsing sambil memandang Ki Juru Martani yang nampak tidak begitu gembira meski pun kedua pusaka telah kembali ketangan Raden Sutawijaya.

Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Kelengahan beberapa pengawal pusaka itu di Mataram, termasuk Raden Sutawijaya sendiri, telah menumbuhkan korban yang tidak terhitung jumlahnya sekarang ini.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Namun iapun kemudian menundukkan kepalanya ketika Ki Juru meneruskan, “Dan kesalahan itupun telah menyangkut aku pula.”

Tanpa mengangkat wajahnya Raden Sutawijaya berkata, “Mataram dalam keseluruhan telah berbuat kesalahan paman. Ternyata bahwa korban yang jatuh telah meliputi bukan saja laki-laki terbaik di Mataram, tetapi juga dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.”

Kiai Gringsing memandang wajah Agung Sedayu yang buram, sementara Ki Waskita duduk termangu-mangu.

Namun dalam pada itu Swandaru berkata sambil mengangkat wajahnya, “Aku tidak tahu, apa yang sedang kita bicarakan sekarang.”

Semua orang yang mendengarnya berpaling kearahnya. Sejenak Swandaru masih berdiam diri seolah-olah sedang mengumpulkan berbagai masalah yang berceceran didalam angan-angannya.

Namun kemudian ia berkata, “Kita sudah menunjukkan kejantanan. Kita menuntut yang menjadi hak kita. Maksudku, Mataram. Jika jatuh korban, maka mereka adalah pahlawan yang memperjuangkan hak. Mereka tidak mati sia-sia.”

Kiai Gringsing Menarik nafas panjang, sementara Swandaru meneruskan, “Jangan disesali perjuangan yang sudah terjadi ini. Jika demikian, perjuangan ini sendiri telah diperkecil artinya. Kita justru akan berbelas kasihan kepada mereka yang telah gugur. Sedangkan seharusnya kita harus berterima kasih dan berbangga akan pengorbanan jantan yang telah mereka berikan.”

“Ya Swandaru,“ berkata Kiai Gringsing, “perjuangan ini telah menuntut pengorbanan. Mereka adalah pahlawan yang gugur karena mereka memperjuangkan hak kita. Kita jangan memperkecil arti dari perjuangan mereka.“ ia berhenti sejanak, lalu. “Tetapi yang kita bicarakan bukanlah mereka yang telah gugur. Mereka yang terluka parah dan mereka semuanya yang sudah bertempur. Yang kita sesali adalah kelengahan Mataram sehingga semuanya ini harus terjadi. Pertempuran kematian dan korban-korban lainnya, tanpa memperkecil arti pengorbanan mereka.”

Swandaru termangu-mangu sejenak. Masih ada keseganan dihatinya untuk berbantah dengan gurunya. Namun seakan-akan kepada diri sendiri ia berkata, “Kita sudah mulai kejangkitan penyakit cengeng pula. Penyakit yang agaknya dapat menular dari sumbernya.”

Diluar sadarnya Agung Sedayu berpaling. Tetapi hanya sekilas, karena kembali kepalanya tertunduk dalam-dalam.

“Baiklah,“ berkata Raden Sutawijaya, “apapun yang sudah terjadi, perjuangan kita sekarang sudah berhasil. Korban telah jatuh. Dan kita akan selalu mengenangnya.”

Swandaru tidak menyahut lagi. Namun sekali lagi ia memandang Prastawa dengan tatapan mata yang aneh.

Sementara itu, maka Sutawijayapun mulai mempersiapkan diri untuk membawa pusaka yang telah diketemukan itu.

“Besok kita harus menyelesaikan semua persoalan disini,” berkata Raden Sutawijaya, “kita akan segera kembali ke Mataram dengan pusaka-pusaka itu.”

Beberapa orang pemimpin pengawal Mataram mengangguk-angguk. Sementara itu Ki Juru berkata, “Besok kita akan kembali ke Mataram menjelang senja.”

“Sore hari paman? “ bertanya Raden Sutawijaya.

“Disiang hari kedua pusaka itu akan dapat menumbuhkan berita yang beraneka macam,” sahut Ki Juru.

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Jawabnya, “Benar paman. Kita besok akan berangkat menjelang senja. Mudah-mudahan semuanya sudah dapat kita selesaikan.”

Dengan demikian, maka semua persiapanpun telah disesuaikan dengan keputusan Raden Sutawijaya untuk kembali ke Mataram menjelang senja, agar perjalanan pasukannya tidak banyak menimbulkan ceritcra yang akan dapat menjalar sampai ke Pajang. Sampai ketelinga Senopati Pajang didaerah Selatan.

Dalam pada itu, meskipun pertempuran sudah selesai, namun bukan berarti bahwa pasukan Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh telah selesai. Mereka dengan badan yang letih telah mengumpulkan kawan-kawannya yang terluka. Beberapa orang mencoba mengobati yang dapat mereka obati, sementara yang terluka parah, para petugas khusus telah berusaha menolong mereka.

Kiai Gringsing telah ikut sibuk pula mengobati mereka yang terluka. Diantaranya adalah Ki Sumangkar.

Menjelang pagi hari, maka perasaan letih agaknya tidak tertanggungkan lagi Hampir semua orang, tanpa berjanji telah membaringkan dirinya dimanapun juga. Sekejap kemudian, mereka telah mendengkur dengan nyenyaknya dibawah batang-batang pohon, di batu-batu besar atgu diatas rerumputan kering.

Hanya beberapa orang sajalah yang telah berjuang untuk tetap terjaga. Mereka adalah petugas-petugas yang bergiliran mengawasi keadaan. Meskipun pertempuran telah selesai, tetapi kesiagaan masih harus tetap dipertahankan. Apalagi mengawasi para tawanan.

Tetapi para tawananpun agaknya telah mengalami kelelahan yang sangat, setelah mereka diharuskan ikut menyingkirkan mayat-mayat dan menguburkannya dilembah itu. Sebagian terbesar dari merekapun telah tertidur pula. betapapun mereka dalam kegelisahan.

Para pemimpinpun tidak luput pula dari cengkeraman kelelahan jasmaniah dan rohaniah. Beberapa dari mereka telah mencoba tidur sambil bersandar batang-batang pepohonan.

Swandaru yang bersandar sebuah batu besar segera tertidur dengan nyenyaknya. Disebelahnya Prastawapun telah mendengkur pula. Sementara Pandan Wangi dan Sekar Mirah terbaring di balik sebuah batu besar itu.

Orang-orang tua diantara merekapun harus beristirahat pula meskipun tidak semuanya bersama-sama. Kiai Gringsing masih duduk menunggui Ki Sumangkar yang terluka parah. Sementara Ki Juru dan Ki Waskita mencoba untuk dapat beristirahat barang sejenak.

Dalam pada itu, betapapun letihnya, namun Agung Sedayu sama sekali tidak berhasil memejamkan matanya. Kegelisahannya terasa semakin tajam menghunjam dijantungnya.

Adalah diluar sadarnya ketika Agung Sedayu yang duduk bersandar sebatang pohon itu telah berdiri dan melangkah perlahan-lahan meninggalkan kawan-kawannya yang sedang beristirahat itu.

Seorang petugas yang terkantuk-kantuk melihatnya berjalan menelusuri jalan setapak. Tetapi petugas itu tidak menyapanya.

Selangkah demi selangkah Agung Sedayu berjalan menjauhi kawan-kawannya dan justru turun kelembah tempat pertempuran yang dahsyat telah terjadi. Meski pun sebagian dari mayat telah dikuburkan, namun yang lain masih tercecer-cecer berserakan. Para pengawal dari Mataram tidak dapat memaksa para tawanan yang sudah menjadi sangat letih untuk bekerja terus, sehingga merekapun telah memberikan kesempatan untuk beristirahat. Mereka baru akan dibangunkan dan meneruskan kerja mereka bersama-sama para pengawal setelah matahari terbit di Timur.

Agung Sedayu yang gelisah itu berjalan terus diantara pepohonan. Hatinya bagaikan tersayat ketika ia melangkah diantara mayat-mayat yang belum terkuburkan. Apalagi ketika ia sampai pada gundukan tanah yang memanjang, tempat mayat lawan dikuburkan dalam lubang yang memanjang.

Agung Sedayu berhenti termangu-mangu disebelah kuburan yang panjang itu. Ia membayangkan, bahwa didalam gundukan tanah yang panjang itu terbaring beberapa sosok mayat yang terbujur beku dalam timbunan.yang menghimpit.

Namun itu adalah akibat yang pasti terjadi didalam setiap peperangan. Kematian adalah kelengkapan dari peristiwa perang. Dan kematian hampir tidak dapat dihindarkan lagi disamping kebanggaan dan keresahan hati.

Hati Agung Sedayu yang sudah gelisah itu menjadi semakin gelisah. Diluar sadarnya ia telah mengamat-amati kedua telapak tangannya. Terbayang kembali Ki Gede Telengan yang menggeliat disaat terakhir, Ki Tumenggung Wanakerti yang disayat oleh ujung cambuknya. Kia Samparsada yang hilang dipeperangan dan Kiai Kelasa Sawit yang ternyata jatuh ketangan Swandaru dan terbunuh olehnya selelah ia gagal melarikan diri.

Terasa tubuh Agung Sedayu meremang. Mereka adalah orang-orang penting diantara lawan yang telah dikenal ilmunya meskipun akibatnya berbeda-beda.

Sementara itu, maka yang lain yang terbaring dalam kebekuan itu telah mengalami nasib yang serupa. Merekapun telah terbunuh oleh tusukan senjata.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ketika kakinya bergerak, maka tubuhnyapun telah terbawa berjalan diseputar medan yang sudah menjadi sepi.

Dada Agung Sedayu tergetar ketika ia mendengar lolong anjing liar di tengah-tengah lebatnya hutan. Anjing liar adalah jenis binatang yang ditakuti disamping binatang buas yang lain, karena kadang-kadang mereka datang berkawan. Tetapi agaknya anjing-anjing liar itu tidak akan lebih menakutkan dari sepasukan pengawal yang nampaknya tenang dan damai didalam tidurnya.

Namun dalam pada itu. Agung Sedayu terkejut ketika matanya yang tajam menangkap bayangan sesosok tubuh didalam gelap. Hampir diluar sadarnya, nalurinya telah membawanya mengikuti bayangan itu. Bahkan kemudian semakin dekat.

Namun bayangan itu kemudian terhenti dan berdiri termangu-mangu melihat kuburan yang memanjang dan mayat-mayat yang belum sompat dikuburkan. Dalam kegelapan Agung Sedayu melihat sesosok tubuh itu berdiri tegak. Kemudian dengan kaki yang terseret-seret melangkah lagi beberapa langkah.

Agung Sedayu menegang sejenak. Namun kemudian ia melangkah diluar sadarnya mendekat, ia terhenti ketika ia melihat bayangan itu kemudian duduk diatas sebuah batu yang besar.

Tetapi Agung Sedayu terkejut ketika ia mendengar langkah yang lain. Ketika ia berusaha melihat dari sela-sela pepohonan, ia melihat dua orang bersenjata langsung menyergap bayangan yang duduk diatas batu besar itu.

Dengan gerak naluriah Agung Sedayupun meloncat mendekat. Ia ingin mengetahui apakah yang akan terjadi.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:01  Comments (77)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

77 KomentarTinggalkan komentar

  1. weleh.. weleh…
    rontal 110 konon kabarnya hanyut melu kebanjiran… sapuniko masih dicari-cari sama Ki Gede setelah banjir surut…
    Kalau sudah ketemu dan dicantolke neng Diajeng PH meneh, kabar-kabari yo Ki…

    Iki wis ngombeh bir pletok 5 botol…rontale durung metu-metu je..

  2. Ki Sutawijia…. sampeyan ojo ngombe2, opo maneh bir pletog..

    Aku ngerti yen urip ki mung mampir ngombe…ning ojo ngombe dewe,..aku yo selak ngelak kie…ning pendopo kie rodo sek2an ro cantrik2 liyane….

    Ki Catur,..atine ditoto…ojo kemrungsung, sedelo lagi sebentar maneh Ki GD arep medarake kitab ii-10, mung durung titi-wancine…golek wektu sing pas

  3. absen sore ki GD dan kisanak semuanya.kian hari kian rame aja ya padepokan ini.
    saya berharap bisa bersabar sesuai pesan ki GD untuk bisa mengunduh kitab 110.

  4. Ngantri ya Ki…
    Smoga segera diturunkan kitab 110 nya.
    Kalo malam ini tentu masih bisa sabar…
    Thx Ki.

  5. SABAR, SABER, SHOBUR…. WADUH..

  6. cuma bisa sabar……..taberia sabar sareh mawas diri….kuwajiban kudu rampung,yen wis klakon,guyon maton…..

  7. Turut berduka cita… bagi yg udeh nggak kukuh, he.. he..

  8. kapan ya upacara pembuakaan kitap, nunggu waktu yang baik pa ya

  9. Kapan?

    Sabar sik !

  10. Ada harapan…
    Kata anakmas Sukro…rontal 110 baru mau diunggah…cuman belum jelas nyangkut ke mana…

    asyiiiiiik…

  11. Ki GD, kulo aasih disamping regol menanti rontal 110, sambil melawan hawa dingin kudungan kain panjang, ndak kebagian wedang sere nya tadi…

  12. Setelah ki GD mendirikan padepokan baru di Karang, nampaknya beliau dengan beberapa cantrik terpilih sedang sibuk mengairi sawah yang sedikit terbengkelai.. Sedangankan beberapa cantrik yang lain dengan sabar mempelajari kitab rontal lama yang semakin kucel karena dibolak-balik… Nampaknya ki GD terlalu asyik dengan sawah dan tanamannya sehingga sedikit lupa untuk segera menurunkan rontal110 yang beberapa hari ini telah disiapkannya…

    Nuwun sewu, ndherek ngantri..

  13. ikut lek-lek an ya
    ni udah buat kopi sambil nunggu II-10
    salam buat ki Gede

  14. Wah manur nuwun KI ,Kitabe wis tak jumput

  15. Eh lha kok malah udah dapat
    Thanks Ki Gede

  16. Thx Ki….yummi…

  17. Matur Nuwun Ki GD, rontal 110 sampun dipun jlenterhaken, matur nuwun sanget.

    Hanya di ADBM inilah terjadi perburuan unduh mengunduh yang aneh ….

  18. Matur nuwun Ki GD……..

  19. Wah ki GD memang waskita… Matur nuwun..

  20. Suwun Ki GD,…wis ora kemrungsung

  21. Thanks ya Ki Gede yg guanteng,…
    hihihihihi

  22. Matur suwun Ki GD…, mpun kulo petik “buahnya”…alhamdulilah….

  23. Matur thank you Ki GD buah saMpun dipun unduh…

  24. Ki Gede matur nuwun buahnya. Sudah dipetik, meskipun untuk itu masih akan di peram buah itu, karena buah 108 saja masih belum dimakan sampai habis…

    Ngomong ngomong tentang Speedy. Istri di rumah memang langganan Speedy, yach.. masih termasuk agak mahal.

    Sempat ada fasilitas gratis antara jam 8 malam sampai dinihari, kemudian dihapus, kemudian katanya tarif diturunkan lagi..kalau nggak salah berapa ya tarif untuk download tidak terbatas?

    Karena terbiasa broadband dengan jalur cepat dan murah tidak tahu nih..kalau kembali berspeddy ria..mudah mudahan speedy memang “speedy” tidak “lambaty”..

  25. Membaca lontar 110 halaman 9, membuat cantrik tersenyum

    Apakah memang demikian adanya pada saat peperangan jaman dahulu, apalagi perang beradu dada dan perang brubuh, apakah para serdadu sempat makan nasi yang sudah dihaluskan dan minum dari tempat airnya..ataukah mereka lari dulu sebentar dari ajang peperangan (seperti pemain bola atau pemain tenis) mengambil jatah makanan dan minum kemudian kembali ke medan laga dan berperang kembali?

  26. Saya murid baru di padepokan kyai gringsing. Mau baca kitab peninggalannya kok susah buanget jeh. Mungkin para kakang seperguruan mampu memberi pencerahan. Matur nuwun

    # silakan jalan-jalan ke halaman yang lain. dan dengerin obrolan para cantrik. pasti bisa.

  27. Nek sabar ki ono buahe…

    Matur nuwun Ki GD


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: