Buku II-10

DI BAGIAN lain dari sayap itu. Ki Waskita telah berhasil mengatasi kusulitan yang paling gawat. Iapun telah berhasil menekan lawannya yang mulai lelah. Lawannya yang bertubuh dan berkekuatan raksasa itu, ternyata sulit untuk mengimbangi Ki Waskita. Bukan saja ketangkasan dan kecepatan bergerak, tetapi ternyata Ki Waskita memiliki kelebihan daya tahan seperti halnya Kiai Gringsing.

Dengan demikian, maka bindi Kiai Jagaraga yang besar dan bergerigi itu tidak lagi banyak mempunyai arti. Ayunan yang semakin lamban tidak akan dapat menyentuh tubuh lawannya yang masih tetap tangkas dan trampil.

“Kau akan kehilangan segenap kekuatanmu,“ berkata K i Waskita kepada raksasa bersenjata bindi itu.

Tetapi lawannya yang lelah itu menggeram. Bagaimanapun juga ia harus menyelesaikan pertempuran itu. Meskipun ia sadar bahwa tenaganya mulai lelah, tetapi ia masih mengharap bahwa tenaga raksasanya masih tetap melampaui kekuatan lawannya.

Namun Ki Waskita benar-benar memiliki kelebihan. Ia masih dapat bergerak cepat, sehingga setiap kali lawannya menjadi bingung dan kehilangan arah.

Sekali-sekali senjata Ki Waskita berhasil menyentuh lawannya, sehingga lawannya menjadi semakin bingung oleh kelelahan dan sakit. Namun demikian, ia masih tetap seorang raksasa yang berbahaya.

Demikianlah maka pertempuran yang lama itu dalam keseluruhan menjadi lamban. Tetapi nafsu membunuh masih tetap membayang di wajah-wajah mereka yang menggenggam senjata di medan itu, apalagi jika mereka melihat kawan-kawan mereka yang telah terbunuh maupun terluka parah. Maka kemarahan dan kebencian telah medorong mereka untuk membunuh semakin banyak meskipun kadang-kadang yang terjadi justru sebaliknya.

Sementara itu. orang-orang yang berada dibela-kang medan, sedang berusaha untuk mempercepat agar masakan mereka Jekas masak dan dapat dikirimkan kemedan perang. Beberapa orang petugas sudah dengan tidak sabar memperingatkan, bahwa para prajurit dan pengawal dimedan sudah hampir kelaparan.

“Mereka tidak akan mempu bertempur,“ berkata seorang petugas yang mengurus makan mereka yang bertempur.

“Kami sudah bekerja keras,“ jawab juru masak, “kami tidak dapat berbuat lebih cepat.”

“Tetapi kelambatanmu akibatnya dapat menghancurkan seluruh pasukan.”

“He. kenapa? “ juru masak yang didesak-desak itu agak jengkel juga.

“Lapar dan haus menyebabkan mereka kehilangan keseimbangan. Mereka akan dengan mudah dapat dikalahkan. Bukan hanya satu dua orang, tetapi beberapa puluh dan bahkan beberapa ratus orang, sehingga keseimbangan pertempuran segera menentukan akhir dari perjuangan yang akan menjadi sia-sia.”

“Aku sudah tahu. Tetapi aku tidak dapat berbuat lebih cepat. Nasi harus ditanak. Kecuali jika aku harus mengirimkan beras saja kemedan.”

Petugas yang mengurus makanan itupun marah. Dengan garang ia berkata, “Jangan banyak mulut. Lakukan perintahku. Aku dapat memenggal kepalamu.”

Pemimpin juru masak yang merasa sudah bekerja sekuat tenaga itupun marah pula. Jawabnya, “Jangan keras kepala. Meskipun disini aku juru masak, tetapi aku juga prajurit. Kau kira aku tidak dapat mempertahankan-diri.”

Beberapa orang yang melihat perbantahan itupun segera melerai. Seorang yang berambut putih berkata, “Apakah kalian sangka dengan pertengkaran itu tugas-tugas kalian dapat kalian selesaikan?”

Kedua orang yang bertengkar itupun masih saling berpandangan dengan tegang. Namun pemimpin juru masak itupun kemudian beringsut pergi kembali ketugasnya meskipun wajahnya masih nampak tegang.

“Ayo cepat,“ iapun berteriak membentak-bentak pembantu-pembantunya.

Namun akhirnya nasipun masak. Tetapi untuk mempermudah cara para prajurit dan pengawal makan, maka juru masak dari Mataram dan Kademangan Sangkal Putung telah menggilas nasi itu dengan penumbuk padi dalam bakul, dicampur dengan kelapa dan garam, sehingga kemudian nasi itu dapat dipotong dan digemgam dengan sebelah tangan.

Ternyata para pengikut orang-orang yang berkumpul dilembah itupun telah menyelesaikan masakan mereka, sehingga beberapa orang dari mereka telah mengirimkan makanan kemedan dengan cara yang hampir sama, seperti kebiasaan setiap kelompok yang bertempur melalui jarak waktu sewajarnya.

Meskipun pertempuran masih berlangsung, tetapi diluar pembicaraan antara kedua belah pihak, seakan-akan keduanya memberi kesempatan kepada petugas-petugas masing-masing untuk menyampaikan makan dan minum kepada mereka yang sedang bertempur. Berganti-ganti mereka minum dari gendi dan menerima sepotong nasi yang sudah digilas dan kemudian dipotong-potong.

Namun dengan demikian berarti bahwa pertempuran masih akan berlangsung panjang. Mereka yang bertempur itu tidak lagi memikirkan apakah mereka akan menunda pertempuran untuk waktu waktu yang pendek.

Para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh yang berada disebelah Baratpun ternyata telah mendapatkan bagian mereka, sehingga rasa-rasanya tubuh mereka menjadi segar oleh air gendi dan segumpal makanan.

Namun ada juga para pengawal yang teringat kepada Ki Gede dan beberapa orang pengawalnya. Karena itu, maka dibawanya para petugas untuk menyampaikan makan dan minum itu juga kepada mereka.

Dalam pada itu. Agung Sedayu yang bertempur melawan Kiai Kelasa Sawit ternyata semakin menjadi bertambah seru. Kiai Kelasa Sawit yang marah telah kehilangan semua perhitungan dan pertimbangan selain nafsu untuk membunuh anak muda bercambuk itu.

Tetapi betapapun ia berusaha. Agung Sedayupun telah berusaha pula menghindarkan dirinya dari terkaman maut. Bahkan sekali-kali jika cambuknya meledak, maka lawannya bagaikan dihentak oleh kekuatan yang tidak terlawan.

Diinduk pasukanpun keseimbangan perlahan-lahan menjadi semakin jelas. Swandaru benar-benar merupakan kekuatan yang menggetarkan. Cambuknya yang meledak-ledak bagaikan mengguncang seluruh medan. Sementara diseberang Raden Sutawijaya tiduk lagi dapat dibendung. Senjatanya merupakan penyebar maut yang sangat menggetarkan, sehingga lawan-lawannya menjadi semakin ngeri menghadapinya.

Yang terjadi disayap yang lainpun tidak banyak berbeda. Ternyata bahwa orang yang berada dilembah itu salah hitung atas kemampuan para pengawal. Mereka menganggap bahwa para pengawal dari Mataram, Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, meskipun memiliki kemampuan bertempur yang cukup, tetapi mereka tidak terlatih untuk bertempur dalam waktu yang panjang. Namun ternyata bahwa mereka masih tetap mampu mengimbanginya.

Disayap yang telah kehilangan seorang pemimpinnya, yang dilumpuhkan oleh Agung Sedayu, maka kekuatan lawan benar-benar sudah teratasi. Ketika Kiai Samparsada dibawa menyingkir, maka pengawal pengawalnya menjadi semakin gelisah. Apalagi mereka sudah mendengar bahwa Agung Sedayu jugalah yang telah membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Kemudian Kiai Samparsada dilumpuhkannya pula. Kini yang dihadapinya adalah Kiai Kelasa Sawit, sehingga para pengikutnya telah mencemaskan keselamatannya.

Namun mereka tidak dapat berbuat banyak. Para pengawal Tanah Perdikan Menorehpun memiliki ketajaman perhitungan, sehingga hampir tidak ada kesempatan untuk membantu Kiai Kelasa Sawit yang garang itu.

Sebenarnyalah bahwa Kiai Kelasa Sawit telah mengerahkan segenap kemampuan. Ilmunya yang melampaui orang-orang kebanyakan ternyata mempunyai pengaruh yang kuat. Senjatanya bagaikan memiliki dorongan kekuatan yang berlipat, sementara kakinya bagaikan kaki kijang yang kuat dan cepat.

Namun Agung Sedayupun telah menguasai ilmunya dengan masak. Dengan demikian, maka ia merupakan benteng yang tidak tertembus oleh lawan.

Bahkan semakin lama serangan Agung Sedayu menjadi semakin banyak menyentuh tubuh lawannya. Kecepatan bergerak Kiai Kelasa Sawit ternyata masih belum melampaui kecepatan bergerak ujung cambuk Agung Sedayu yang digetarkan oleh ilmu yang hampir sempurna.

Setiap sentuhan ditubuh Kiai Kelasa Sawit telah menimbulkan noda merah kebiru-biruan. Namun jika kekuatan Agung Sedayu tersalur sepenuhnya pada hentakan kekuatannya, maka tubuh Kiai Kelasa Sawit yang mengeras bagaikan tembaga itu masih juga berhasil dilukai, sehingga darah menitik dari kulit yang sobek ditubuhnya.

Meskipun Kiai Kelasa Sawit setiap kali menyeringai menahan pedih, serta kekuatannya yang semakin susut, tetapi luka-luka itu nampaknya tidak terlalu banyak berpengaruh. Ia masih tetap bertempur dengan garangnya, seakan-akan senjata lawannya sama sekali tidak berarti lagi baginya.

Agung Sedayu menjadi heran bahwa lawannya seakan akan tidak merasakan akibat dari sentuhan ujung cambuknya. Bahkan Kiai Kelasa Sawit yang marah itu menyerang semakin sengit.

Karena itulah maka Agung Sedayu terdorong kepada keharusan untuk mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Kekuatan daya tahan Kiai Kelasa Sawit benar-benar telah menumbuhkan kengerian pada dirinya. Apalagi karena Agung Sedayupun telah merasa dijalari oleh kelelahan yang semakin menghisap tenaganya.

“Aku tidak boleh kehilangan tenagaku lebih dahulu dari orang ini,” berkata Agung Sedayu..

Karena itulah maka Agung Sedayupun kemudian telah membuat perhitungan yang cermat. Apakah lebih baik baginya untuk bertahan mengimbangi kemampuan lawannya dengan sekali-sekali saja menyerang atau mengerahkan segenap kemampuannya dan segera melumpuhkan lawannya.

Agung Sedayu tidak dapat mencari pilihan. Kiai Kelasa Sawitlah yang kemudian melibatnya dalam pertempuran bagaikan dalam badai yang dahsyat. Agaknya orang itu memilih dengan cepat menyelesaikan pertempuran, menang atau kalah.

Hentakan-hentakan senjata semakin dahsyat telah saling berbenturan dan saling melukai. Bukan saja Kiai Kelasa Sawit, tetapi sentuhan senjatanya telah melukai Agung Sedayu pula.

Oleh luka dan kelelahan, maka Agung Sedayupun menjadi semakin garang. Bagaikan mengamuk ia menyerang lawannya, langsung pada tempat tempat yang paling berbahaya.

Akhirnya Kiai Kelasa Sawit tidak dapat mengingkari keadaannya. Ia masih tetap sadar, bahwa kekuatannya memang menjadi jauh susut, apalagi badannya bagaikan dipenuhi oleh luka-luka karena sentuhan ujung cambuk Agung Sedayu.

Tetapi Kiai Kelasa Sawit tidak membiarkan dirinya terbunuh oleh anak muda itu seperti Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Dan iapun tidak mau dilumpuhkan seperti Kiai Samparsada yang belum diketahui nasibnya, apakah ia benar benar mati atau terluka parah.

Karena itulah. Maka Kiai Kelasa Sawit yang sudah terluka silang melintang itu mulai memikirkan jalan keluar dari kesulitannya. Tubuhnya yang menjadi semakin lemah oleh kelelahan dan darah, hampir tidak sempat lagi melakukan perlawanan.

Karena itulah, maka tiba-tiba saja terdengar suitan nyaring dari mulutnya. Kiai Kelasa Sawit telah memberikan isyarat bagi keselamatannya.

Agung Sedayu sadar, bahwa lawannya telah memberikan suatu isyarat. Tetapi ia tidak mengetahui, apakah yang akan terjadi kemudian. Yang dapat dilakukannya hanyalah mempersiapkan dirinya menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan beberapa orang pengawal yang mendengar isyarat itupun telah bersiap-siap pula. Mungkin akan terjadi perubahan yang tiba-tiba diarena pertempuran itu.

Agung Setlayu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat geseran yang serentak pada pasukan lawan. Beberapa orang telah menyibak dan dengan cepat mereka telah berkerumun seolah-olah membuat sebuah lingkaran kecil yang bersusun.

Barulah Agung Sedayu kemudian sadar. Kiai Kelasa Sawit yang sudah tidak berdaya lagi itu berusaha untuk melindungi dirinya. Ia tentu akan menyingkir dari arena untuk mempersiapkan diri atau justru untuk tidak menampakkan dirinya lagi.

Sejenak Agung Sedayu diguncang oleh keragu-raguan. Jika ia melihat luka-luka ditubuh lawannya. maka dua hal yang saling bertentangan telah berdesakan didalam hati.

Dengan mudah Agung Sedayu akan dapat membinasakan lawannya yang sudah kehilangan kemampuannya untuk melawan itu. Ia dapat memerintah pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk memecahkan lingkaran perlindungan itu dan ia sendiri memasuki sampai kepusarnya dan membunuh Kiai Kelasa Sawit.

Namun, terasa sesuatu telah menahannya. Orang itu sudah tidak berdaya lagi seperti Kiai Samparsada. Apakah sudah wajar jika ia masih saja memburynya dan membunuhnya sama sekali?

Keragu-raguannya itulah agaknya yang memberikan kesempatan kepada lawannya untuk menyembunyikan Kiai Kelasa Sawit ditengah-tengah medan. Sementara Agung Sedayu diam mematung, maka para pengawal Tanah Perdikan Menoreh memandanginya dengan tegang. Mereka menunggu apakah yang akan dilakukan oleh Agung Sedayu. Tepai agaknya Agung Sedayu itu bagaikan membeku ditempatnya.

Para pengawal itu menyadari keadaan mereka, dan tanpa menunggu lagi menghantam lingkaran itu. Namun ternyata bahwa Kiai Kelasa Sawit sudah dilarikan oleh pengawal-pengawalnya yang setia.

“Ia melarikan diri,” geram seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Agung Sedayu terlalu lamban,” desis yang lain, “sebenarnya ia mempunyai kesempatan untuk melakukannya jika ia mau.”

“Ia mulai kambuh. Keragu-raguannya sudah mencengkam jantungnya lagi,“ desis yang lain.

“Sikapnya tidak menguntungkan sama sekali. He. bagaimana hal itu dapat terjadi atasnya?“ bertanya yang lain, “bukankah ia sudah membunuh Ki Gede Telengan. Ki Tumenggung Wanakerti dan Kiai Samparsada?”

Medan dipertempuran itu menjadi gempar. Hilangnya Kiai Kelasa Sawit membuat para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal Mataram yang sudah melingkari medan dari arah Timur ke arah Barat menjadi ribut. Berbagai tanggapan telah mereka lontarkan terhadap Agung Sedayu. Namuun adalah sudah menjadi suatu kenyataan bahwa Kiai Kelasa Sawit sudah melarikan diri.

Tiba-tiba saja salah seorang pengawal yang tidak dapat menahan diri telah berteriak, “Kelasa Sawit melarikan diri.”

Teriakan itu diluar dugaan lelah disambut oleh yang lain. “Kelasa Sawit melarikan diri.”

Ternyata bahwa para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal dari Mataram yang lainpun telah berteriak pula sambung bersambung, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri dari sayap.”

Dalam pada itu. Kiai Kelasa Sawit memang telah melarikan diri dari sayap. Dalam perlindungan anak buahnya ia berusaha untuk lepas dari medan. Namun tidak disayap, karena para pengawal semuanya seakan-akan telah memperhatikannya.

Dalam waktu yang singkat. Kiai Kelasa Sawit dibimbing oleh pengawalnya yang setia telah meninggalkan sayap pasukan lembah itu dan memasuki induk pasukan. Selanjutnya ia berusaha untuk menemukan lubang yang dapat dilaluinya untuk meninggalkan arena pertempuran karena luka-lukanya yang parah.

Tetapi teriakan para pengawal itu menjalar terlampau cepat. Bahkan beberapa orang pengawal di induk pasukannya telah mendengarnya dan mereka yang berada dibatas sayap dan induk pasukanpun ikut berteriak, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri.”

Kiai Kelasa Sawit menjadi berdebar-debar. Tetapi ia merasa dirinya telah terlepas dari Agung Sedayu. Agaknya Agung Sedayu tidak akan mengejarnya sampai keinduk pasukan.

“Kita harus segera meloloskan diri,“ desis Kiai Kelasa Sawit, “aku memerlukan beberapa saat beristirahat sebelum aku kembali menghadapi anak itu.”

“Malam ini Kiai?” bertanya seorang pengawalnya.

“Kau dungu. Tentu aku harus beristirahat tidak hanya malam ini. Agaknya keadaanku belum menjadi baik.”

“Sehari semalam?”

“Bodoh. Aku akan beristirahat sebulan lamanya.“

“Sebulan? “ pengawalnyalah yang kemudian menjadi heran.

Tetapi Kiai Kelasa Sawit tidak menjawab. Ia merasa dadanya menjadi sesak dan luka-lukanya bertambah pedih. Darah semakin banyak mengalir dari tubuhnya meskipun daya tahannya telah berhasil memperkecil kemungkinan cambuk lawannya merobek kulitnya.

Namun dalam pada itu, teriakan-teriakan para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan para pengawal dari Mataram menjadi semakin keras, dan yang bahkan disambut pula oleh para pengawal dari Sangkal Putung, “Kiai Kelasa Sawit melarikan diri.”

Dengan tergesa-gesa Kiai Kelasa Sawitpun mencari jalan keluar. Pengawalnya tidak dapat mencegahnya lagi meskipun ia sadar, bahwa pasukan di sayap itu akan segera bercerai berai tanpa pimpinannya. Namun iapun sadar, bahkan jika Kiai Kelasa Sawit tidak meninggalkan medan, maka ia akan dibunuh oleh Agung Sedayu.

Sementara itu. Agung Sedayu yang berada di sayap itupun termangu-mangu. Para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan Mataram dibagian Barat, serta para pengawal Mataram dan Sangkal Putung dibagian Timur ternyata telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Hilangnya Kiai Kelasa Sawit, benar-benar telah melumpuhkan kekuatan lawan. Terutama karena goncangan perasaan. Sebenarnya jika mereka tidak mudah disentuh oleh keputus-asaan. maka mereka masih akan dapat bertahan dan mencari jalan keluar. Tetapi hilangnya dua orang pemimpin di sayap itu membuat hati para pengikutnya menjadi kecut.

Meskipun ternyata kemudian Agung Sedayu tidak berbuat seperti yang mereka duga, namun agaknya meraka menyangka bahwa yang demikian itu. hanyalah menunggu saat yang akan segera datang.

Sebenarnyalah Agung Sedayu mulai lagi dicengkam oleh keragu-raguan. Selelah ia membunuh Ki Gede Telengan. Ki Tumenggung Wanakerti dan melukai Kiai Samparsada sehingga parah, kemudian Kiai Kelasa Sawit, maka rasa-rasanya goncangan-goncangan didalam dirinya tidak terelakkan lagi. Apalagi waktu mereka melihat didalam cahaya obor. tubuh yang silang melintang dipertempuran. Orang kesakitan dan bahkan kadang-kadang terdengar tangis tertahan.

Rasa-rasanya getar hati anak muda itu tidak tertahankan lagi. Bukan kemenangan yang terasa memberi kebanggaan dihati, tetapi justru penyesalan dan kengerian.

Itulah sebabnya untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tegak ditempatnya. Para pengawal Tanah Perdikan dan para pengawal dari Mataram menjadi heran melihat sikapnya. Mereka menduga bahwa Agung Sedayu akan segera mengamuk dan menghalau setiap lawan yang ada disayap itu, bahkan membunuhnya. Tetapi yang terjadi adalah diluar dugaan itu. Agung Sedayu berdiri termangu-mangu tanpa berbuat apa-apa.

Meskipun demikian, maka para pengawal itu tidak ikut termangu-mangu. Sebagian dari mereka mengerti, bahwa penyakit Agung Sedayu telah kambuh lagi. Keragu-raguan dan kebimbangan.

Karena itulah, maka para pengawal Tanah Perdikan Menorehlah yang kemudian bersama-sama dengan para pengawal dari Mataram seakan akan telah mengamuk mengusai medan. Orang-orang yang bertahan di lembah itu semakin lama menjadi semakin terdesak dan tidak berdaya.

Pertempuran itu masih berlangsung beberapa lama, sementara Agung Sedayu bagaikan orang bingung berdiri di tempatnya Namun agaknya goncangan-goncangan didalam hatinya tidak tertahankan lagi. Diluar dugaan para pengawal. Agung Sedayu justru meninggalkan medan dengan langkah yang gontai.

“Kemana,“ terdengar seseorang bertanya kepada kawannya.

“Agaknya ia akan kembali kepada Ki Gede yang menjaga pusaka itu,” jawab yang lain.

Mereka menjadi semakin heran. Namun kemudian mereka tidak menghiraukannya lagi dan bertempur semakin sengit.

Agung Sedayu berjalan didalam gelapnya malam. Seakan-akan ia menuruti kemana kakinya melangkah. Adalah karena nalurinya saja iapun berjalan menuju ketempat Ki Gede Menoreh menunggu dengan hati yang berdebar-debar.

Kedatangan Agung Sedayu mengejutkan para pengawas. Ketika seorang pengawas melihat sesosok bayangan yang berjalan mendekat, maka sambil mengacukan tombaknya ia berdesis, “Siapa?”

Agung Sedayu berhenti. Tetapi ia tidak menjawab. Namun demikian pengawas itu segera mengenalnya. Bahkan ia menjadi cemas melihat keadaan Agung Sedayu yang seakan-akan kehilangan sesuatu.

“He. kenapa kau?“ bertanya pengawas itu. Agung Sedayu memandang pengawas itu sejenak.

Namun kemudian Jawabnya, “Aku tidak apa-apa.”

Pengawas itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi suaramu gemetar. Apakah yang sudah terjadi?”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia berjalan terus.

“Ki Gede ada dibalik batu padas,“ desis pengawas itu.

Agung Sedayu barjalan terus menuju kebatu padas yang nampak hitam pekat dimalam hari. Cahaya obor kecil yang sengaja ditempatkan agak jauh, memberikan sedikit ancar-ancar tempat Ki Gede Menoreh beristirahat.

Ki Gede berpaling ketika ia mendengar desir perlahan. Sebuah bayang nampak mendekatinya dengan ragu-ragu.

“Agung Sedayu,“ desis Ki Gede.

Agung Sedayu menjadi semakin dekat. Kemudian dengan lemahnya ia menjatuhkan diri dan duduk beberapa langkah dihadapan Ki Gede Menoreh.

Ki Gede Menoreh terkejut melihat keadaan anak muda itu. Dengan tergesa-gesa ia mendekatinya sambil bertanya, “Kau kenapa?”

Agung Sedayu mencoba menenangkan hatinya. Perlahan-lahan ia menarik nafas panjang sekali, seakan-akan udara malam diseluruh hutan itu akan dihisapnya.

“Kau terluka? “ bertanya Ki Gede.

“Tidak seberapa Ki Gede,“ jawab Agung Sedayu, “hanya goresan-goresan kecil.”

“Tetapi kau nampak letih sekali.”

“Aku memang letih sekali.”

Ki Gedepun kemudian duduk disamping Agung Sedayu. Terasa tubuh anak muda itu gemetar. Nafasnya kadang-kadang memburu, namun kadang-kadang bagaikan terhenti.

“Aneh,“ berkata Ki Gede didalam hatinya, “pernafasannya hampir sempurna. Tetapi terasa kini seakan-akan ia tidak memiliki kemampuan untuk menguasai diri dan mengatur pernafasannya sendiri.”

“Agung Sedayu,“ desis Ki Gede, “agaknya kau memang terlalu letih. Tetapi seharusnya kau dapat mengatasi kesulitan pernafasanmu, sehingga tubuhmu akan menjadi agak segar. Apalagi sejuknya embun malam akan dapat membantu menyegarkan kelelahanmu.”

Agung Sedayu mengangguk. Tetapi keadaannya tidak bertambah baik.

Agung Sedayu masih saja gelisah, sementara nafasnya sama sekali masih belum teratur.

Ki Gede Menoreh yang sudah semakin tua itupun ternyata memiliki penglihatan batin yang tajam. Meskipun yang nampak pada wadag Agung Sedayu tidak membahayakannya, namun ternyata kelelahan batinnya membuatnya seolah-olah kehilangan nalar dan pertimbangan.

Ki Gede kemudian semakin menyadari ketika meraba tubuh Agung Sedayu yang gemetar.

“Apa yang sudah terjadi Agung Sedayu?” bertanya Ki Gede Menoreh.

Agung Sedayu memandang Ki Gede dengan tatapan mata yang suram.

“Apakah kau menjumpai peristiwa yang tidak kau kehendaki? “ desak Ki Gede.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian desisnya gemetar, “Bukan maksudku Ki Gede. Benar-benar bukan maksudku.”

“Memang bukan maksudmu Agung Sedayu. Tetapi apakah yang sudah terjadi?”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja seakan-akan nampak dihadapannya Kiai Samparsada yang terbaring dengan luka-lukanya, sementara Kiai Kalasa Sawit yang terhuyung-huyung karena ujung cambuknya. Dengan susah payah orang itu bersuit memanggil pengawalnya untuk membuat lingkaran pelindung diseputarnya. Apalagi kemudian seolah-olah berdiri dikegelapan sambil memandanginya dengan mata merah menyala Ki Gede Telengan yang bersilang tangan dan Ki Tumenggung Wanakerti yang seakan-akan tidak dapat disentuh oleh senjata. Namun keduanya telah berhasil dibunuhnya.

“O,“ Agung Sedayu tiba-tiba saja mengeluh, dipandanginya kedua telapak tangannya dan tangkai cambuknya. Tiba-tiba saja tangannya menjadi semakin gemetar.

Ki Gede Menoreh mengerti, apa yang tersirat dihati anak muda itu. Anak muda yang selalu diganggu oleh sifat-sifatnya yang berdasar lubuk hati sejak ia masih kanak-kanak. Keragu-raguan, kebimbangan dan tidak berketentuan.

Betapapun Agung Sedayu berhasil menguasai berbagai ilmu yang menggetarkan, yang dapat mengatasi dan bahkan melampaui ilmu Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti, namun ia tidak dapat mengatasi gemuruhnya jantung didalam dadanya sendiri.

Karena itu, maka Ki Gedepun kemudian menyuruh seorang pengawalnya mengambil gendi yang diberikan kepada kelompok itu dan memberikannya kepada Agung Sedayu, “Minumlah Agung Sedayu. Kau benar-benar harus beristirahat.”

Agung Sedayu tidak menolak. Iapun kemudian menghirup air dari dalam gendi itu. Seteguk demi seteguk.

Segarnya air gendi dan segarnya malam dapat sedikit memberi ketenangan kepada Agung Sedayu. Beberapa kali ia menarik nafas, seolah-olah ia sedang mengingat apa yang telah dilakukannya dimedan perang yang mengerikan itu.

Ki Gede Menoreh masih menunggui dengan sabar. Sekali-kali Agung Sedayu berdesah. Kemudian tatapan matanya kembaki terlempar kedalam gelapnya malam.

Namun kemudian dengan nafas yang tersendat-sendat. Agung Sedayu menceriterakan bahwa ia telah melukai Kiai Samparsada dan Kiai Kelasa Sawit.

“Keduanya terluka parah,“ desis Agung Sedayu, “bukan maksudku untuk menjadi pembunuh yang tidak berjantung meskipun dipeperangan. Aku sudah membunuh Ki Gede Telengan dan Ki Tumenggung Wanakerti. Apakah aku harus membunuh dan membunuh apapun alasannya?”

Ki Gede Menoreh sudah menduga. Ternyata bahwa ilmu dan kemampuan Agung Sedayu yang melampaui tataran itu justru telah membuat hatinya kadang-kadang terluka.

“Agung Sedayu,“ berkata Ki Gede Menoreh, “setiap kali kau hadir dipeperangan, maka kau selalu dicengkam oleh kegelisahan semacam itu. Tetapi itupun bukan salahmu. Semua yang terjadi adalah urutan peristiwa yang tidak terpisahkan. Suatu rangkaian peristiwa yang saling berkait. Juga tentang dirimu sendiri.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Sebenarnya kau tidak dapat menyesali perbuatanmu dipeperangan. Membunuh memang pekerjaan yang terkutuk. Tetapi peperangan merupakan usaha terakhir untuk mempertahankan sikap seseorang dan sekelompok orang yang mempunyai keyakinan dan landasan yang sejalan.”

Agung Sedayu masih tetap menundukkan kepalanya.

“Kau dapat mengerti Agung Sedayu? “ bertanya Ki Gede.

“Pengertian yang dapat ditangkap oleh nalarku tidak sejalan dengan perasaanku Ki Gede,“ desis Agung Sedayu.

“Kau sadari itu? “ bertanya Ki Gede.

“Tanpa kesadaran ini barangkali aku sudah menjadi gila. Aku berusaha untuk menemukan keseimbangan antara nalar dan perasaan. Tetapi kadang-kadang pertanyaan didalam hatiku terlampau banyak yang tidak dapat aku jawab,“ berkata Agung Sedayu seolah-olah ditujukan kepada diri sendiri, “diantaranya, apakah aku memang harus menjadi pembunuh yang tidak berperikemanusiaan? Aku sadar Ki Gede. apakah artinya perikemanusiaan didalam peperangan. Tanpa melenyapkan kebatilan maka akupun telah berkhianat terhadap perikemanusiaan itu sendiri, karena akibat dari kelestarian kebatilan adalah perkosaan terhadap perikemanusiaan. Tetapi kenapa aku harus melakukannya dengan cara yang tidak dapat aku pilih sesuai dengan cara yang paling baik menurut pendapatku?”

“Agung Sedayu. Jika cara itu harus kau lakukan, karena kau tidak mendapat kesempatan untuk memilih justru kau berada didalam keadaan tanpa pilihan, maka kau harus menerima kenyataan itu. Bukan kau yang telah memaksakannya terjadi. Tetapi kau hanyalah menerima keadaan tanpa pilihan itu. sehingga kau telah berdiri pada satu kesempatan, membunuh. Karena jika kau ingkari kesempatan itu, maka kau telah melakukan kesalahan yang sama nilainya, memberi kesempatan orang lain membunuhmu, padahal kau mempunyai kemampuan untuk menyelematkan dirimu meskipun yang terjadi harus sebaliknya.

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. Dipandanginya langit yang hitam ditaburi oleh bintang-bintang yang berkeredipan. Malam telah semakin dalam, sementara di lembah itu pertempuran masih berlangsung meskipun telah menjadi semakin kendor.

“Sudahlah Agung Sedayu,“ berkata Ki Gede, “beristirahatlah. Kau adalah seorang anak muda yang memiliki sesuatu yang merupakan kurnia dari Yang Maha Kuasa. Tergantung kepadamu, apakah kau dapat mengamalkannya, atau sekedar akan kau rendam dalam pelukan perasaanmu yang gelisah. Bukan saja saat ini, tetapi saat-saat mendatangpun persoalan semacam ini akan selalu kau jumpai didalam hidupmu. Karena persoalan baik dan buruk itu merupakan persoalan yang lahir bersama kelahiran manusia itu sendiri.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun terasa sesuatu bergetar didalam dirinya, meskipun masih samar-samar.

Semantara itu, Ki Gede Menorehpun kemudian meninggalkannya kembali ketempatnya. Ia tidak boleh lengah. Kedua pusaka itu seolah-olah didalam tanggung jawabnya.

Ketika seorang pengawal mendekatinya, maka iapun berkata, “Awasi Agung Sedayu yang kecewa terhadap dirinya sendiri. Dalam keadaan yang demikian, ia seakan-akan telah berubah. Karena itu. jika ada orang yang bermaksud jahat, maka ia tidak akan mempedulikannya.”

Pengawal itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Ki Gede, apakah artinya aku bagi Agung Sedayu.”

“Kau bukan seorang yang ragu-ragu seperti Agung Sedayu. Itulah kelebihanmu. Karena itu, awasilah anak muda yang sedang diamuk oleh kebimbangan itu.”

Pengawal itu tidak membantah. Iapun kemudian mendekati Agung Sedayu yang bersandar pada sebatang pohon. Sambil duduk disampingnya pengawal itu bertanya, “Kau lelah?”

“Ya. aku lelah.”

Pengawal itu tidak bertanya lagi. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Ki Gede, Agung Sedayu itupun kemudian duduk bersandar sebatang pohon sambil meletakkan kepalanya pada kedua telapak tangannya yang diangkatnya dibelakang. Ia seakan-akan telah tenggelam kedalam suatu dunia yang lain dari dunia wadagnya, sehingga seperti yang dikatakan orang, namun ia sama sekali tidak memperhatikannya lagi.

“Anak muda yang aneh,“ desis pengawal itu. Tetapi ia tetap berdiam diri sambil mengawasi kegelapan yang terhampar disekitarnya.

“Aku tidak boleh lengah seperti Agung Sedayu,“ berkata pengawal itu kepada diri sendiri, sehingga karena itulah, maka ia menggenggam tombaknya erat-erat meskipun iapun kemudian bersandar pula pada sebatang pohon disebelah Agung Sedayu. sementara para pengawal yang lainpun tetap bersiaga sepenuhnya karena mereka menyadari, bahwa kedua pusaka yang tidak ternilai harganya itu ada diantara mereka yang berada ditempat terpisah dari peperangan itu.

Sementara itu, pertempuran dilembah memang sudah menjadi semakin lamban. Kedua belah pihak sudah kehilangan puncak kemampuan mereka karena kelelahan.

Orang-orang yang merasa dirinya keturunan Kerajaan Agung Majapahit semakin lama semakin merasa, betapa tekanan para pengawal Mataram. Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh tidak lagi dapat dilawan.

Disayap yang telah ditinggalkan Agung Sedayu, para pengikut orang-orang yang menyatakan dirinya pewaris kerajaan Majapahit itu menjadi semakin gelisah. Pemimpin-pemimpin mereka telah tidak ada lagi diantara mereka. Kiai Kelasa Sawit seakan-akan telah hilang didalam gulungan pengawalnya.

Karena itulah, maka mereka seakan-akan sudah kehilangan segala kesempatan. Tekanan yang semakin dahsyat dari para pengawal Tanah Perdikan Menoreh serta para pengawal dari Mataram yang menghimpit mereka pada kekuatan pengawal dari Kademangan Sangkal Putung dan sebagian yang lain dari para pengawal dari Mataram, membuat mereka kehilangan semua harapan untuk dapat melepaskan diri dari bencana.

Dalam pada itu. Raden Sutawijaya yang berada diinduk pasukan, dengan cerdik telah memotong sayap yang kehilangan pimpinannya itu dengan pasukannya. sehingga sayap itu seakan-akan telah terpisah dari induk pasukannya.

Tidak ada yang dapat dilakukan lagi oleh mereka yang berada disayap pasukan yang terkepung itu. Ketika seorang pemimpin pengawal dari Mataram meneriakkan ancaman-ancaman yang mengerikan, maka mereka menjadi semakin ragu-ragu untuk meneruskan pertempuran.

Namun akhirnya pemimpin pengawal dari Mataram itu berkata, “Tetapi kami masih mempunyai perhitungan. Jika kalian menyerah sebelum saat-saat yang mengerikan itu tiba, maka nasib kalian akan menjadi bertambah baik. Kemarahan dan dendam dihati kami akan berkurang, karena penyerahan kalian berarti mengurangi jumlah korban dipihak kami.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 10 Januari 2009 at 19:01  Comments (77)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

77 KomentarTinggalkan komentar

  1. weleh.. weleh…
    rontal 110 konon kabarnya hanyut melu kebanjiran… sapuniko masih dicari-cari sama Ki Gede setelah banjir surut…
    Kalau sudah ketemu dan dicantolke neng Diajeng PH meneh, kabar-kabari yo Ki…

    Iki wis ngombeh bir pletok 5 botol…rontale durung metu-metu je..

  2. Ki Sutawijia…. sampeyan ojo ngombe2, opo maneh bir pletog..

    Aku ngerti yen urip ki mung mampir ngombe…ning ojo ngombe dewe,..aku yo selak ngelak kie…ning pendopo kie rodo sek2an ro cantrik2 liyane….

    Ki Catur,..atine ditoto…ojo kemrungsung, sedelo lagi sebentar maneh Ki GD arep medarake kitab ii-10, mung durung titi-wancine…golek wektu sing pas

  3. absen sore ki GD dan kisanak semuanya.kian hari kian rame aja ya padepokan ini.
    saya berharap bisa bersabar sesuai pesan ki GD untuk bisa mengunduh kitab 110.

  4. Ngantri ya Ki…
    Smoga segera diturunkan kitab 110 nya.
    Kalo malam ini tentu masih bisa sabar…
    Thx Ki.

  5. SABAR, SABER, SHOBUR…. WADUH..

  6. cuma bisa sabar……..taberia sabar sareh mawas diri….kuwajiban kudu rampung,yen wis klakon,guyon maton…..

  7. Turut berduka cita… bagi yg udeh nggak kukuh, he.. he..

  8. kapan ya upacara pembuakaan kitap, nunggu waktu yang baik pa ya

  9. Kapan?

    Sabar sik !

  10. Ada harapan…
    Kata anakmas Sukro…rontal 110 baru mau diunggah…cuman belum jelas nyangkut ke mana…

    asyiiiiiik…

  11. Ki GD, kulo aasih disamping regol menanti rontal 110, sambil melawan hawa dingin kudungan kain panjang, ndak kebagian wedang sere nya tadi…

  12. Setelah ki GD mendirikan padepokan baru di Karang, nampaknya beliau dengan beberapa cantrik terpilih sedang sibuk mengairi sawah yang sedikit terbengkelai.. Sedangankan beberapa cantrik yang lain dengan sabar mempelajari kitab rontal lama yang semakin kucel karena dibolak-balik… Nampaknya ki GD terlalu asyik dengan sawah dan tanamannya sehingga sedikit lupa untuk segera menurunkan rontal110 yang beberapa hari ini telah disiapkannya…

    Nuwun sewu, ndherek ngantri..

  13. ikut lek-lek an ya
    ni udah buat kopi sambil nunggu II-10
    salam buat ki Gede

  14. Wah manur nuwun KI ,Kitabe wis tak jumput

  15. Eh lha kok malah udah dapat
    Thanks Ki Gede

  16. Thx Ki….yummi…

  17. Matur Nuwun Ki GD, rontal 110 sampun dipun jlenterhaken, matur nuwun sanget.

    Hanya di ADBM inilah terjadi perburuan unduh mengunduh yang aneh ….

  18. Matur nuwun Ki GD……..

  19. Wah ki GD memang waskita… Matur nuwun..

  20. Suwun Ki GD,…wis ora kemrungsung

  21. Thanks ya Ki Gede yg guanteng,…
    hihihihihi

  22. Matur suwun Ki GD…, mpun kulo petik “buahnya”…alhamdulilah….

  23. Matur thank you Ki GD buah saMpun dipun unduh…

  24. Ki Gede matur nuwun buahnya. Sudah dipetik, meskipun untuk itu masih akan di peram buah itu, karena buah 108 saja masih belum dimakan sampai habis…

    Ngomong ngomong tentang Speedy. Istri di rumah memang langganan Speedy, yach.. masih termasuk agak mahal.

    Sempat ada fasilitas gratis antara jam 8 malam sampai dinihari, kemudian dihapus, kemudian katanya tarif diturunkan lagi..kalau nggak salah berapa ya tarif untuk download tidak terbatas?

    Karena terbiasa broadband dengan jalur cepat dan murah tidak tahu nih..kalau kembali berspeddy ria..mudah mudahan speedy memang “speedy” tidak “lambaty”..

  25. Membaca lontar 110 halaman 9, membuat cantrik tersenyum

    Apakah memang demikian adanya pada saat peperangan jaman dahulu, apalagi perang beradu dada dan perang brubuh, apakah para serdadu sempat makan nasi yang sudah dihaluskan dan minum dari tempat airnya..ataukah mereka lari dulu sebentar dari ajang peperangan (seperti pemain bola atau pemain tenis) mengambil jatah makanan dan minum kemudian kembali ke medan laga dan berperang kembali?

  26. Saya murid baru di padepokan kyai gringsing. Mau baca kitab peninggalannya kok susah buanget jeh. Mungkin para kakang seperguruan mampu memberi pencerahan. Matur nuwun

    # silakan jalan-jalan ke halaman yang lain. dan dengerin obrolan para cantrik. pasti bisa.

  27. Nek sabar ki ono buahe…

    Matur nuwun Ki GD


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: