Buku II-1

Sementara itu. Sekar Mirahpun mempergunakan sanggar itu untuk menempa diri bergantian waktunya dengan kakaknya suami isteri. Dibawah bimbingan dan pengawasan gurunya, Sekar Mirah ingin mengikuti jalan pikiran Swandaru, membuat Sangkal Putung menjadi Kademangan terkuat dan mampu menjaga diri sendiri.

Gejolak hati Swandaru itu ternyata berpengaruh pula pada anak-anak muda di Sangkal Putung. Sebelum Swandaru terjun kedalam lingkungan para pengawal untuk membentuk mereka, maka anak-anak muda sudah mulai dengan latihan atas kehendak mereka sendiri dengan cara yang pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang berada dipadepokan kecilnya, pada suatu saat merasa didesak oleh kerinduannya kepada muridnya yang seorang. Itulah sebabnya maka pada suatu saat, ia minta diri kepada Ki Waskita dan Glagah Putih untuk pergi ke Sangkal Putung.

“Kiai akan pergi seorang diri?“ bertanya Ki Waskita.

“Demikianlah Ki Waskita. Aku justru ingin menitipkan padepokan kecil dan Glagah Putih kepada Ki Waskita. Aku hanya pergi untuk sehari. Meskipun malam hari, aku tentu akan kembali karena aku tidak akan bermalam di Sangkal Putung.”

Kedatangan Kiai Gringsing di Sangkal Putung, terasa memberikan kegembiraan dan gairah yang lebih mantap bagi Swandaru. Bagaimanapun juga kehadiran gurunya menunjukkan kepadanya, bahwa gurunya tidak melupakannya.

“Usahamu memberikan kebanggaan padaku Swandaru,“ berkata Kiai Gringsing, “Karena dengan demikian ternyata bahwa kau tidak terhenti pada suatu tempat. Kau akan tetap maju dengan caramu. Seperti juga aku memberikan kesempatan bagi Agung Sedayu yang kini sedang berusaha untuk menemukan dirinya sendiri dalam ungkapan ilmunya, karena sebenarnyalah yang aku berikan hanyalah dasarnya semata-mata, yang masih harus dibentuk sesuai dengan kepribadianmu masing-masing.“

Swandaru merasa bangga atas pujian itu. Dengan demikian maka gurunya tentu merestui semua rencananya.

“Guru,“ berkata Swandaru kemudian, “Anak-anak muda di Sangkal Putung ternyata bertekad untuk membuat Kademangan ini menjadi Kademangan yang kuat, yang dapat melindungi dirinya sendiri. Itulah sebabnya maka aku merasa perlu untuk menempa diri lebih dahulu, sebelum aku kemudian memberikan tuntunan sekedarnya kepada para pengawal.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Itu namanya ilmumu adalah ilmu yang hidup. Mudah-mudahan kau berhasil.”

“Aku berharap guru merestuinya.”

“Tentu Swandaru. Aku berharap bahwa kau akan mendapatkan kemantangan ilmu yang dijiwai oleh kepribadianmu. Yang akan memancar kemudian dari ilmumu itu justru kepribadianmu. Jika kau orang yang rendah hati, maka akan nampak jelas, bahwa setiap unsur gerak dari ilmumu akan kau lambari dengan dasar kepribadianmu itu. Kau akan berhati-hati dan tidak mempergunakan kapan saja kau ingin. Kau akan menghindari perbuatan yang dilandasi oleh kekerasan. Kau akan menganggap dirimu kurang penting untuk menunjukkan ilmumu disetiap saat. Dan kau tidak akan sakit hati jika orang lain menganggap ilmumu adalah ilmu yang rendah sepanjang orang itu tidak merugikanmu.“ Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “tetapi jika ilmu yang semakin masak itu dilambari dengan sifat tinggi hati, maka akan nampak jelas pula padamu. Setiap saat kau akan menunjukkan kelebihanmu dari orang lain. Kau akan mempunyai perasaan harga diri yang berlebih-lebihan, dan menganggap orang lain kurang berharga. Kau akan memaksakan kehendakmu dengan kekerasan, dan kau akan mempelihatkan betapa tinggi ilmu yang kau miliki.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu bergetar didalam dadanya. Sekilas ia memang mencoba mengamati dirinya sendiri. Tetapi karena ia masih belum berkesempatan, maka Swandaru itupun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanpa menjawab.

Dalam kesempatan itu. Kiai Gringsing masih memberikan banyak pesan. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka tanggung jawabnyapun menjadi semakin berat pula. Juga perjuangan untuk mengekang diripun menjadi semakin rumit, karena kecenderungan sifat manusia untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain.

Swandaru mencoba mendengarkan dan mengerti arti dari segala pesan gurunya. Meskipun demikian ia masih belum sempat meneliti kedalam dirinya, apakah yang dikatakan gurunya itu sekedar pesan atau sudah merupakan suatu peringatan, karena gejala-gejala seperti yang dikatakan gurunya itu sudah mulai nampak.

Waktu yang sehari itu ternyata dipergunakan oleh Kiai Gringsing dengan sebaik-baiknya. Ia sempat melihat muridnya berlatih. Ia mempergunakan sedikit waktunya untuk berbincang dengan Ki Sumangkar, untuk berbicara tentang banyak hal dengan Pandan Wangi dan Sekar Mirah, dan untuk membicarakan perkembangan Swandaru dengan Ki Demang Sangkal Putung.

“Ada yang aneh dalam pengamatan Kiai,“ berkata Ki Demang, “nampaknya Swandaru selalu dikejar oleh ketidak puasan terhadap suasana disekelilingnya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Itu adalah gejala yang wajar dari anak-anak muda Ki Demang. Yang penting, kita yang tua-tua, wajib memberikan arah yang sepatutnya.”

“Itulah yang sulit Kiai. Anak-anak muda sekarang merasa dirinya lebih pandai dari yang tua-tua. Dan memang didalam kenyataannya, Swandaru memiliki kelebihan daripadaku. Tetapi kelebihan dalam olah kanuragan dan mungkin juga kecerdasan berpikir, bukannya merupakan kepastian ujud dari kelebihan pengabdian yang wajar dan benar.”

“Kiai,“ Ki Demang melanjutkan, “aku merasa, bahwa anak-anak muda cenderung untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh orang-orang tua. Mereka juga mencoba melonggarkan ikatan-ikatan yang ada. Aku tidak berkeberatan Kiai. Tetapi hendaknya anak-anak muda jangan menyimpang dari dasar tatanan hidup yang pokok. Dan dalam setiap perbedaan pandangan, maka anak-anak muda tentu menganggap orang-orang tua bersalah tanpa meneliti sebab dan akibatnya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Mudah-mudahan pada suatu saat jarak antara yang tua dan yang muda itu dapat dipersempit. Jika masing-masing pihak bersedia untuk melihat kepada diri sendiri, maka akan diketemukan pendekatan-pendekatan yang mantap bagi masa depan.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Mereka masih berbicara beberapa lama lagi, sehingga kemudian datang saatnya Kiai Gringsing minta diri.

“Guru tidak bermalam disini?“ bertanya Swandaru ketika Kiai Gringsing minta diri kepadanya didalam sanggarnya.

“Aku akan datang setiap kali. Padepokan Karang di Jati Anom itu sama sekali tidak jauh. Aku akan datang kapan saja aku ingin. Apalagi nampaknya sekarang keadaan menjadi semakin tenang.”

Kekecewaan nampak membayang diwajah Swandaru. Bagaimanapun juga ada perasaan yang kurang mantap terhadap sikap gurunya. Bahkan kemudian terdengar ia berdesis, “Kakang Agung Sedayu mempunyai kesempatan yang lebih baik daripadaku.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Tidak Swandaru. Agung Sedayu mempunyai kesempatan yang sama. Ia membawa bekal yang sama denganmu. Dan berdasarkan bekal itu ia telah mencari sendiri ujud dari ilmunya berdasarkan kepribadiannya. Kepribadian inilah yang mungkin akan memberikan ciri yang berbeda antara kau dan Agung Sedayu dalam perkembangan selanjutnya. Tetapi ciri-ciri tata gerak dasar kalian berdua akan tetap sama dan sejalan.”

Swandaru tidak menyahut lagi. Namun justru karena itu, telah tumbuh dorongan didalam hatinya, bahwa meskipun ia tidak ditunggui oleh gurunya, namun perkembangan ilmunya tidak boleh katah dengan ilmu yang akan dicapai oleh Agung Sedayu.

Itulah sebabnya, sepeninggal gurunya, Swandaru justru menjadi semakin tekun berlatih. Pandan Wangi tidak dapat ingkar lagi, bahwa iapun harus ikut serta dalam arus penyempurnaan ilmunya. Meskipun mula-mula ia hanya sekedar mengimbangi dan memancing pengerahan tenaga Swandaru, namun ternyata kemudian, bahwa Pandan Wangipun telah melakukannya peningkatan pula dengan caranya. Dalam waktu-waktu senggang, justru saat-saat sanggar itu belum dipergunakan, Pandan Wangi kadang-kadang telah mendahului. Dengan langkah-langkah yang sederhana ia mencoba mencari kesempurnaan pada ilmunya.

Berbeda dengan mereka yang berlatih dengan bekal yang ada pada dirinya. Sekar Mirah masih tetap berada dalam bimbingan gurunya. Karena itulah maka ia tidak mengalami kesulitan apapun juga. Namun agaknya bahwa tingkat ilmunya memang masih belum sejajar dengan kakaknya Swandarudan kakak iparnya Pandan Wangi.

Dengan demikian, maka Sangkal Putungpun kemudian telah diliputi oleh suasana peningkatan ilmu. Sesuai dengan perhatian Swandaru yang lebih banyak tertuju pada yang lahir, maka tekanan peningkatan ilmunyapun lebih banyak nampak pada yang lahiriah. Kecepatan bergerak kekuatan tangan dan kaki, serta ketahanan, tubuh. Namun karena ketekunannya, maka ternyata Swandaru yang pada dasarnya mempunyai kekuatan yang besar, telah berkembang menjadi seorang raksasa yang mengagumkan.

Namun justru karena itulah, ternyata Pandan Wangi mengalami kesulitan. Menurut kodrat lahiriahnya, ia tidak akan dapat mengimbangi kekuatan jasmani Swandaru. Karena itulah, maka ia harus mencari imbangan kekuatan dari dalam dirinya. Dari kekuatan cadangan yang tersedia. Sehingga dengan demikian, ia memerlukan latihan-latihan khusus yang terpisah.

Tetapi untuk menghindari salah paham, agar Swandaru tidak menyangkanya menyembunyikan suatu rahasia pada ilmunya, maka ia membiarkan Swandaru menungguinya jika ia kehendaki.

“Kau hanya membuang-buang waktu saja Pandan Wangi,“ kadang-kadang Swandaru memperingatkan.

“Aku tidak dapat berlatih seperti kau kakang. Tenagaku tidak sekuat tenagamu, sehingga aku memerlukan kekuatan yang lain dari kekuatan wadag.”

Swandaru hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia melihat sesuatu yang lain pada Pandan Wangi. Kekuatannya yang bagaikan berlipat meskipun hanya pada saat-saat tertentu.

Tetapi Swandaru agaknya kurang tertarik. Ia menganggap bahwa dengan demikian, ia mulai kehilangan kepercayaannya kepada kekuatan wadagnya, meskipun ia sadar, bahwa dengan demikian, maka ia yang pada dasarnya memiliki kekuatan raksasa itu, akan menjadi semakin mengerikan.

Meskipun demikian, bukannya berarti bahwa Swandaru mengabaikan kekuatan yang memang ada pada dirinya itu. Tetapi ia menganggap bahwa apabila ia mempunyai banyak waktu dan tidak dalam keadaan yang men desak, maka ia baru akan mulai mempelajarinya dengan sungguh-sungguh.

Sementara itu didalam sebuah goa diseberang hutan tidak terlalu jauh dari Jati Anom, Agung Sedayupun sedang menekuni ilmunya dengan segenap hati. Perbedaan pribadi antara Swandaru dan Agung Sedayu memang melahirkan banyak perbedaan pada ungkapan ilmunya meskipun bersumber dari orang yang sama.

Setiap pagi Agung Sedayu masih saja merangkak melalui lubang kecil yang melingkar-melingkar berbelok-belok turun kejalur goa. Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Agung Sedayu melakukan pekerjaan sewajarnya. Mencuci beras kemudian menjerangnya sampai masak. Merebus air untuk minum dan kebutuhan-kebutuhan yang lain sebagaimana kebutuhannya sehari-hari dipadepokan.

Namun lutut Agung Sedayu tidak terluka lagi jika ia merangkak sepanjang lubang yang berbelok-belok itu. Bahkan dengan demikian seolah-olah ia mendapatkan kekuatan baru pada urat-urat kaki dan tangannya.

Tetapi semakin tekun ia berlatih didalam bilik yang dialiri udara dari dua buah lubang sempit dibagian atasnya itu, tanpa dikehendakinya sendiri, maka iapun menjadi semakin jarang merangkak sepanjang lubang itu. Jika mula-mula ia setiap pagi sudah turun dari biliknya, maka dihari hari berikutnya Agung Sedayu sudah tidak tentu lagi waktunya keluar dari dalam ruangannya. Kadang-kadang siang, dan kadang-kadang sore. Dan bahkan kemudian, seolah-olah ia mengatur jarak yang semakin panjang. Sehari, dua hari dan akhirnya tiga hari.

Dari segi kepentingan wadagnya, maka Agung Sedayu mengalami kekurangan makan dan minum, sehingga ia menjadi semakin kurus karenanya. Tetapi dari segi lain, Agung Sedayu banyak menemukan rahasia yang sebelumnya belum pernah dikenalnya. Rahasia tentang kekuatan didalam dirinya sendiri. Bukan sekedar kekuatan yang nampak dalam ungkapan wadag meskipun dari saluran kekuatan cadangan didalam dirinya, tetapi juga kekuatan yang tersalur lewat inderanya yang lain.

Dihari-hari berikutnya, Agung Sedayu melatih ketajaman penglihatannya dan kekuatan yang tersirat dari sorot matanya. Ketajaman pandangan matanya seakan-akan dapat melontarkan kekuatan tersendiri yang tidak dapat diukur dengan kewadagan.

Disamping penglihatannya, Agung Sedayu melatih pendengarannya. Bermalam-malam ia duduk sambil memejamkan matanya, setelah disiang hari ia menekuni latihan-latihan yang lain. Ia berusaha untuk dapat mempergunakan segenap indera yang lain jika matanya tertutup atau jika ia berada di dalam gelap yang peka.

Pendengaran Agung Sedayupun menjadi semakin tajam. Disepinya malam telinganya sempat berlatih untuk membedakan setiap suara. Desir angin yang lembut dan sentuhan kaki bilalang dibatu karang diatas biliknya, atau seekor cengkering yang terperosok masuk.

Bahkan sambil memejamkan matanya ia mempertajam syaraf peraba di jari-jarinya. Ia dapat membedakan benda apakah yang telah disentuhnya dengan jari-jarinya. Halusnya batu karang yang diasah oleh titik air dan halusnya batu hitam yang tergolek didalam bilik itu.

Ketajaman penciumannyapun menjadi berlipat ganda. Seolah-olah ia memiliki naluri pada indera penciumannya untuk membedakan setiap benda meskipun ia tidak melihatnya.

Demikianlah Agung Sedayu berlatih terus. Mengosongkan diri sudah bukan persoalan yang sulit baginya. Dan dalam beberapa hari didalam biliknya ia sudah mampu menyadap semua tata gerak yang pernah dikenalnya dan dikaji buruk baiknya bagi kemantapan ilmunya.

Agung Sedayu sama sekali tidak merasa menyalahi perguruannya, karena Kiai Gringsing selalu memberikan kesempatan kepadanya untuk memperkaya ilmunya. Namun, meskipun demikian, Kiai Gringsing juga memberikan batasan, bahwa Agung Sedayu harus menyisihkan ilmu yang bersumber pada kekuatan hitam. Dan Kiai Gringsingpun telah memberikan ciri-cirinya kepadanya.

Sehingga dengan demikian Agung Sedayu dapat menyingkirkan semua tata gerak yang sama sekali tidak menguntungkan bagi ilmunya dan bagi dirinya sendiri.

Meskipun kedua saudara seperguruan murid Kiai Gringsing itu tidak bersepakat terlebih dahulu, namun keduanya telah bersama-sama tenggelam dalam peningkatan diri sesuai dengan kepribadian masing-masing. Di Sangkal Putung, Swandaru dengan tekad yang bergelora tengah menempa diri Kekuatan jasmaniahnya kian hari menjadi kian mapan dan bagaikan bertambah-tambah. Kadang-kadang ia tidak lagi mempergunakan senjata pedangnya untuk meyakinkan kekuatannya. Tetapi Swandarupun telah membuat sebuah bindi yang berat.

Dengan senjata bindi, maka perisai sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi lawan-lawannya. Dengan kekuatannya yang sangat besar, maka perisai dari besipun dapat dirusakkannya dengan bindinya. Apalagi perisai yang dibuat dari kayu.

Sesuai dengan cara masing-masing meningkatkan ilmunya, maka sarananyapun menjadi berbeda pula. Bahkan untuk memelihara agar tenaganya tetap utuh, Swandaru justru makan berlipat dari biasanya. Di malam hari setelah ia berlatih-latih mati-matian, maka iapun selalu mencari nasi dan lauk pauknya, sehingga Pandan Wangi yang kemudian menjadi terbiasa, tidak saja sekedar melayaninya berlatih, tetapi juga harus menyiapkan makan dan minumnya secukupnya.

Didalam goa. Agung Sedayu mengalami keadaan yang agak berbeda. Ia justru telah terlibat dalam pemusatan pikiran dan indera, sehingga kadang-kadang ia lupa untuk keluar dari biliknya dan menanak nasi. Itulah sebabnya, maka makan dan minumpun justru menjadi terlantar.

Tetapi Agung Sedayu tidak begitu memerlukannya. Ia tidak terlalu banyak mempergunakan tenaga wadagnya seperti Swandaru. Ia mempelajari langsung inti dari tata gerak yang akan berarti dalam pelontaran tenaga cadangannya. Dengan gerak yang sedikit, ia akan mampu melepaskan tenaga yang cukup besar.

Bahkan kadang-kadang Agung Sedayu lebih banyak duduk bersila diatas sebuah batu dengan tangan bersilang. Sambil memejamkan matanya, ia mulai membayangkan dalam angan-angannya, latihan yang penuh dengan pelontaran tenaga. Semakin dalam ia tenggelam dalam pemusatan pikiran dan indera, maka latihan yang demikian menjadi semakin hidup didalam dirinya. Meskipun wadagnya tidak bergerak sama sekali, tetapi rasa-rasanya Agung Sedayu telah mematangkan setiap tata gerak dalam hubungan yang serasi dan meyakinkan.

Namun demikian, meskipun Agung Sedayu hanya duduk diatas sebuah batu, namun dalam keadaan yang demikian, keringatnya mengalir diseluruh tubuhnya bagaikan sedang mandi.

Dalam kesempatan yang lain. Agung Sedayu dengan sungguh-sungguh melatih ketajaman penglihatannya. Bahkan Agung Sedayu telah disentuh oleh perasaan yang lain dengan tatapan matanya. Itulah sebabnya, maka ia-pun telah mempergunakan waktu yang khusus bagi latihan matanya.

Kadang-kadang ia duduk untuk waktu yang sangat lama sambil memandang sesuatu yang telah ditentukannya sendiri pada dinding bilik itu. Dalam remang-remang cahaya matahari yang masuk lewat lubang dilangit-langit bilik dalam goa itu, ia dapat melihat benda apapun juga. Bahkan dimalam hari matanya sudah mulai dapat menembus gelap pekat meskipun untuk jarak tertentu.

Namun agaknya sesuatu telah terasa dalam getar sorot mata Agung Sedayu. Ia tidak saja melihat benda yang dipandanginya tanpa berkedip. Tetapi ia merasa seakan-akan ada sentuhan antara tatapan matanya dengan benda itu secara wadag.

Dengan tekun Agung Sedayu memperhatikan gejala itu. Kemudian dengan tekun pula, berdasarkan ilmu yang ada padanya, ia mencari perkembangan dari gejala yang diketemukan.

Sentuhan yang bersifat wadag dari tatapan matanya itu semakin lama semakin terasa meskipun dalam hubungan yang tidak bersifat wadag. Itulah yang senantiasa dicari Agung Sedayu dalam latihan-latihannya yang semakin lama menjadi semakin berat.

Namun ketika terasa sesuatu telah meyakinkannya, maka iapun kemudian meletakkan sebuah batu kecil diatas sebuah batu padas. Iapun kemudian duduk bersila sambil menyilangkan tangannya didadanya. Dengan tajam ia memandangi batu kecil itu. Semakin lama semakin tajam dan seolah-olah kemudian didunia tidak ada benda lain kecuali batu kecil itu.

Agung Sedayu memusatkan segala pikiran dan inderanya kepada penglihatannya. Sentuhan yang bersifat wadag dari kekuatan yang tidak bersifat wadag itu semakin lama menjadi semakin terasa. Agung Sedayu dengan sepenuh hati mempelajari watak dari peristiwa yang dialaminya itu. Perlahan-lahan tetap yakin ia mencoba mempergunakan sentuhan yang bersifat wadag itu meskipun dengan sangat hati-hati.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Ternyata batu kecil itu mulai beringsut.

Agung Sedayu menghentikan pengenalannya pada gejala baru dari ilmunya itu. Tetapi dengan demikian ia merasa, bahwa ia telah berhasil meningkatkan dasar-dasar yang pernah diterimanya dari gurunya dengan perkembangan yang agak jauh, meskipun mungkin gurunya sudah mengenalnya lebih dahulu, namun dengan sengaja tidak menunjukkanya kepadanya, agat ia mampu mencarinya sendiri.

Demikianlah latihan-latihan itupun diulang-ulanginya. Batu yang digerakkannyapun semakin lama menjadi semakin besar. Bahkan kemudian Agung Sedayu menemukan gejala yang agak berbeda dalam perkembangannya. Dengan kekuatan matanya ia mampu memecahkan sebutir batu padas yang mula-mula kecil saja. Tetapi semakin lama semakin besar.

Karena itulah, maka Agung Sedayupun kemudian membagi waktunya sebaik-baiknya. Ia tidak melupakan latihan ketrampilan wadagnya. tetapi juga kekuatan-kekuatan yang ada didalam dirinya. Bahkan kekuatan matanya yang tidak bersifat hubungan wadag tetapi mempunyai sentuhan langsung yang bersifat wadag.

Hari-hari menjadi terlalu pendek bagi Agung Sedayu. Namun sekali-sekali ia masih juga merangkak turun dan menyalakan api. Menjerang nasi dan air untuk sekedar memelihara tenaga jasmaniahnya agar tidak kehilangan keseimbangan, karena ia dalam ujudnya tidak akan dapat ingkar dari kodratnya. Bahwa untuk keutuhan jasmaninya ia harus makan dan minum.

Jika didalam mengembangkan ilmunya, Agung Sedayu memilih tempat yang sepi dan tersendiri, agar pemusatan pikiran dan inderanya tidak terganggu, maka Swandaru berbuat sebaliknya. Semakin lama sanggarnya menjadi semakin ramai. Beberapa orang yang harus membantunya menjadi bertambah-tambah sejalan dengan perkembangan tenaga Swandaru yang semakin besar.

Namun dalam saat-saat tertentu, Swandaru juga memerlukan keterasingan. Kadang-kadang Swandaru tidak mau diganggu oleh orang lain didalam Sanggarnya kecuali kehadiran Pandan Wangi, dan kadang-kadang Sekar Mirah bersama gurunya.

Dengan demikian, maka perkembangan ilmu Swandarupun telah maju dengan pesat pula, sejajar dengan kemajuan ilmu Pandan Wangi sendiri, yang seolah-olah sekedar terdorong kuwajibannya.

Tetapi dalam pada itu, Sekar Mirahpun telah berubah menjadi seorang yang semakin perkasa. Tongkatnya yang mengerikan itu, benar-benar akan mengumandangkan lagu maut ditangannya, jika ia berhadapan dengan lawan.

Ternyata bahwa Ki Sumangkarpun telah menuntun satu-satunya muridnya dengan sungguh-sungguh. Ia tidak ingin cabang perguruannya menjadi pudar dan apalagi punah. Karena itu, maka muridnya, serendah-rendahnya harus memiliki kematangan ilmu seperti dirinya sendiri dalam perkembangannya nanti, sehingga bekal yang diberikannyapun haruslah mencukupi.

Namun disamping tuntutan olah kanuragan, Ki Sumangkarpun selalu berusaha untuk memberikan warna yang lain pada watak dan sifat Sekar Mirah. Sedikit demi sedikit, ia berusaha untuk memberikan kesadaran kepada muridnya, bahwa yang penting didalam hidup ini, bukannya sekedar warna-warna meriah pada segi lahiriahnya saja. Itulah sebabnya seseorang kadang-kadang lebih condong mementingkan kehidupan rohaniahnya saja.

“Kau tidak usah berbuat demikian,“ berkata Ki Sumangkar, “kau tidak usah mengasingkan diri untuk memusatkan segala perhatian kepada yang rohaniah. Bagimu, jika yang rohaniah dan jasmaniah itu mempunyai keseimbangan, maka agaknya sudah cukup memadai. Kau tetap hidup seperti yang kau hayati sekarang didalam ujud lahiriahnya, tetapi kau juga memelihara pendekatan diri kepada Yang Maha Kuasa, sehingga apa yang sudah kau miliki itu, kau sadari sepenuhnya, adalah kurnianya. Dengan demikian kau akan selalu mengucapkan terima kaisah dan tidak perlu didesak oleh keinginan yang tamak untuk memiliki yang bersifat lahiriah semata-mata.”

Jika guru memberikan petunjuk kepadanya, Sekar Mirah selalu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sehari dua hari nasehat-nasehat itu selalu diingatnya. Tetapi dihari berikutnya, semuanya itu mulai kabur. Meskipun pada kesempatan lain, jika gurunya menasehatinya lagi, yang kabur itu menjadi jelas kembali.

Namun ternyata bahwa watak dan sifat Sekar Mirah telah mencengkam jiwanya dengan kuat. Semua nasehat dan petunjuk, merupakan penghambat yang lemah. Meskipun ada juga pengaruhnya serba sedikit.

Tetapi Sumangkar tidak jemu-jemunya. Betapa tipisnya pengaruh kata-katanya, namun jika yang tipis itu setiap kali dipulaskannya, maka warna itu semakin lama akan menjadi semakin tebal juga.

Dalam kesibukan itu, waktu terasa berjalan sangat cepat. Didalam ruang yang tertutup, didalam gelapnya malam, Agung Sedayu melihat bayangan bulan yang menyusup lewat lubang dilangit-langit. Dengan berdebar-debar Agung Sedayu mencoba melihat bulan itu, yang ternyata bahwa bulan hampir menjadi bulat.

“Waktu itu terlalu cepat mendesakku,“ desisnya, “aku masih memerlukan lebih banyak lagi. Tetapi guru berpesan, agar aku kembali kepadepokan kecil itu saat purnama naik.”

Bagaimanapun juga. Agung Sedayu tidak akan melanggar pesan gurunya. Meskipun jika perlu, ia akan mengulangi lagi memasuki mulut goa di tebing sungai yang curam itu.

Namun, yang dilakukannya kemudian adalah memanfaatkan waktu yang sempit itu sebaik-baiknya. Dengan ketekunan yang semakin tinggi, ia berlatih terus. Kakinya menjadi semakin cepat, dan tanganyapun mampu bergerak sehingga seolah olah Agung Sedayu mempunyai sepuluh pasang tangan yang bergerak bersama-sama. Jika sepasang tangannya memegang senjata, maka yang sepasang itupun seolah-olah telah berubah menjadi sepuluh pasang senjata.

Pada saat-saat terakhir. Agung Sedayu mulai dengan mempergunakan senjata ciri perguruannya. Setelah ia mampu mempergunakan apa saja yang ada sebagai senjatanya, maka latihan-latihan yang terakhir dan terberat adalah mempergunakan cambuknya.

Agung Sedayu mengenal senjatanya seperti ia mengenal anggauta badannya sendiri. Ia tahu pasti, berapakah jumlah karah-karah besi baja yang melingkar pada juntai cambuknya, sehingga seolah-olah dapat menghitung, berapakah karah besi bajanya yang menyentuh tubuh lawan jika ujung cambuknya mengenai sasarannya.

Dengan latihan yang hampir sempurna. Agung Sedayu mulai mencoba mempergunakan tenaga cadangannya yang tersalur lewat anggauta badannya dan bahkan lewat senjatanya, sehingga tenaga yang terlontar menjadi berlipat ganda. Bahkan dengan menyalurkan tenaga cadangannya senjatanyapun seolah-olah telah berubah pula menjadi senjata yang luar biasa kuatnya. Cambuknya yang terbuat dari janget tinatelon rangkat dengan karah-karah besi baja itu seolah-olah dapat berubah menjadi serat baja yang dianyam kuat sekali, sehingga dengan sepenuh tenaga yang tersalur, mampu membelah batu hitam.

Dengan demikian, maka cambuk Agung Sedayu itupun telah mempunyai arti tersendiri. Cambuk itu bagaikan mempunyai kekuatan yang tidak dapat dijajagi.

Namun dengan penuh kesabaran Agung Sedayu mengerti, bahwa bukannya cambuknya itulah yang telah berubah dan memiliki kekuatan-kekuatan tertentu yang dapat membantunya, namun kekuatan yang ada didalam cambuknya itu justru datang daripadanya. Tanpa kekuatan didalam dirinya, cambuknya adalah sekedar janget dengan karah-karah besi baja. Seperti cambuk yang sejak lama dimilikinya. Tidak ada bedanya sama sekali.

Ketika waktu semakin mendesaknya lagi. maka Agung Sedayu merasa bahwa latihan jasmaniahnya telah cukup. Yang akan dilakukannya kemudian adalah memperkuat kekuatan didalam dirinya. Juga kekuatan matanya yang mempunyai sentuhan bersifat wadag dengan kekuatan yang tidak bersifat wadag.

Sejalan dengan usaha terakhir pada waktu yang sempit bagi Agung Sedayu itu. maka Swandaru yang meskipun tidak merasa dibatasi oleh waktu dan ruang, telah meningkatkan pula latihan-latihannya. Kekuatannyapun bagaikan telah berlipat.

Seperti Agung Sedayu. maka setelah Swandaru mengalami mempergunakan berbagai macam senjata disaat-saat latihan, iapun akhirnya kembali kepada senjatanya sendiri. Cambuk bercincin besi baja pada juntainya.

Dengan tenaga raksasa Swandaru merupakan orang yang sangat berbahaya dengan senjatanya. Rasa-rasanya ujung cambuknya akan merupakan buaian maut yang sulit dihindari.

Namun agak berbeda dari Agung Sedayu, bahwa sentuhan ujung cambuk Swandaru adalah ayunan kekuatan tangan yang berpangkal pada tangkai cambuknya. Semakin kuat ayunan tangan Swandaru, maka semakin dahsyatlah ledakan ujung cambuk itu.

Tetapi ternyata bahwa Swandaru tidak puas dengan karah-karah besi baja yang melingkar pada juntai cambuknya. Ia menganggap bahwa jarak cincin itu masih terlalu jarang. Karena itulah, maka ia telah memesan kepada seorang pandai besi yang terbaik untuk membuat karah-karah besi baja yang terbaik pula.

“Sulit sekali,“ pandai besi itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “memasang gelang-gelang kecil pada juntai cambuk itu harus bersama-sama saat membuatnya.”

“Kau tentu mempunyai akal.”

“Aku dapat memasang lempeng-lempeng baja yang kemudian ditempat melingkar pada juntai cambukmu,“ berkata pandai besi itu, “tetapi tentu tidak akan sekuat karah-karah baja yang merupakan cincin yang bulat.”

“Terserahlah. Mungkin memang tidak sekuat karah-karah yang sudah ada.”

Tetapi dengan lempeng-lempeng baja yang kau 1ingkarkan pada juntai cambuk itu diantara karah-karah yang terlalu jarang, maka ujung cambukku akan menjadi semakin berbahaya. Sentuhnya akan membelah kulit dan meremukkan tulang. Hanya orang-orang tertentu sajalah yang akan dapat melawan aku.”

Pandai besi itu mengangguk-angguk. Dan iapun melakukannya seperti yang dikatakannya. Dibuatnya kepingan baja selebar jari. Kemudian kepingan baja itupun dilingkarkan seperti sebentuk cincin pada juntai cambuk Swandaru meskipun tidak dapat melingkar seperti cincin karena ujung dan pangkalnya hanya sekedar berpaut dan tidak menyatu seperti karah-karah yang sudah ada yang memang berbentuk cincin. Tetapi seperti yang dikatakan oleh pandai besi itu, bahwa memasang karah-karah baja seperti itu, memang harus dilakukan pada saat cambuk itu dibuat.

Demikianlah maka cambuk Swandaru menjadi lebih dahsyat lagi dengan kepingan-kepingan baja yang melingkari juntainya dibeberapa bagian diantara cincin-cincinnya. Ketika kepingan-kepingan itu telah terpasang, maka dengan serta merta Swandaru telah mencobanya.

Ketika sebuah ledakan yang tidak terlalu keras terdengar dibelakang halaman pandai besi itu, maka robohlah tiga batang pisang sekaligus.

Swandaru tersenyum. Katanya, “Aku hanya mengayunkan dengan sebagian kecil tanganku. Tetapi kepingan-kepingan baja itu telah membuat cambukku seakan-akan menjadi semakin tajam.

Pandai besi itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia tersenyum ketika Swandaru melemparkan beberapa keping uang kepadanya.

Disanggarnya Swandaru ingin mencoba mempergunakan cambuknya. Ia tidak dapat mempergunakan seorang lawan untuk meyakinkan kekuatan senjatanya, karena hal itu akan dapat membahayakan jiwanya. Karena itulah ia ingin mencoba betapa dahsyat ledakan cambuknya pada seekor binatang.

“Tangkaplah seekor harimau,“ perintah Swandaru kepada para pengawal. “Bukanlah kalian dapat melakukannya dengan pasangan seperti yang sering kalian lakukan?”

Para pengawalpun melakukan seperti yang diperintahkan oleh Swandaru. Dengan umpan seekor kambing, mereka menggali sebuah lubang didalam hutan.

Di malam hari, mereka mendengar aum kemarahan yang menggapai-gapai dari dalam lubang yang dalam itu, sehingga merekapun yakin, bahwa mereka telah berhasil menangkap seekor harimau.

“Biarlah ia tetap didalam lubang itu,” berkata Swandaru, “kita akan mengepungnya dan membiarkan ia meloncat naik.”

“Maksudmu?”

“Aku akan mencoba juntai cambukmu pada kulitnya yang liat itu.”

Dipagi harinya, sekelompok pengawal dari Sangkal Putung telah berada didalam hutan. Atas perintah Swandaru mereka mengepung lubang perangkap itu dalam lingkaran yang agak besar. Ditangan mereka telah tergenggam senjata telanjang.

Diantara para pengawal itu terdapat Pandan Wangi, Sekar Mirah dan Sumangkar.

“Taruhlah sebatang kayu, agar harimau itu sempat naik,“ perintah Swandaru.

Beberapa orang pengawalpun kemudian memasukkan sebatang kayu yang sengaja dapat dipergunakan oleh harimau itu untuk memanjat naik.

Seperti yang diharapkan, harimau itupun perlahan-lahan memanjat kayu yang tersandar pada lubang yang lelah mengurungnya semalam suntuk. Namun demikian kepalanya tersembul, maka terdengarlah aum kemarahannya karena ia melihat beberapa orang yang berdiri dalam sebuah lingkaran dengan senjata telanjang.

Swandaru tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia-pun maju selangkah mendekati lubang itu. Dengan ujung cambuknya ia mengganggu harimau itu agar segera meloncat keluar dan menyerangnya.

Sejenak harimau itu masih termangu-mangu. Namun gangguan juntai cambuk Swandaru membuatnya benar-benar semakin marah. Karena itulah, maka harimau itupun kemudian meloncat dengan liarnya sambil mengaum semakin keras.

Swandaru meloncat surut. Iapun kemudian menyiapkan dirinya untuk melawan harimau itu dengan sungguh-sungguh. Ia ingin melihat, apakah juntai cambuknya akan mampu membelah kulit harimau itu.

Harimau itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ketika kemarahannya telah memuncak, maka iapun segera meloncat sambil menjulurkan kedua kaki depannya menerkam Swandaru yang berada dipaling dekat dihadapannya.

Pada saat yang diperhitungkan itulah Swandaru meloncat kesamping. Kemudian dengan segenap kekuatannya ia mengayunkan cambuknya kearah punggung harimau yang menerkamnya itu.

Terdengarlah sebuah ledakan yang dahsyat, disusul oleh aum harimau yang bagaikan membelah hutan itu.

Catatan :
Belum di proofing oleh Ki GD.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 29 Desember 2008 at 02:23  Comments (234)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

234 Komentar

  1. Raden Ronggo Ngudar sabdo :

    Sing sopo tanggap ing sasmito, ing kono panggone lontar 101 kang di arep-arep poro cantrik.

    Salam hormat untuk mas Rizal.
    Hati-hati dengan ilmu semu ki GD. Ngedap-edap-i.
    Yang belum dapat selamat mengurai ilmu semu ki GD.
    Sebagai petunjuk……:
    – silahkan mesu diri 7 hari 7 malam mutih.
    – hari pertama minum susu, nasi putih dan putih
    telor goreng, sekenyangnya. juga untuk hari-hari
    selanjutnya. kemudian lihat blok ini cermati huruf
    demi huruf (dari tampilan s/d coment), hingga ilmu semu akan terurai dengan sendirinya, maka tampaklah lontar 101 bersama wajah mas Rizal si pelopor ADBM.

    SELAMT MESU DIRI…………. DUOOOOOORRRR!!!

  2. Yaaahh memang Maz Rizal tuuuh lagi ngumpetttt
    Suwun Ki GD

  3. Salam kenal Ki GD

    Saya agak bingung , apa bener udah ada ADBM yg 101 ??
    saya baca cuma sampai 88.
    Kalo nggga keberatan bagaimana cara downloud nya
    89 sampai 101 ???

    terima kasih

  4. Wah matur nuwun sanget Ki GD … rontal 101 sampun diunduh …

  5. weleh weleh…
    dari tadi nyari Mas Rizal yg ngepit kitab 101
    eh…, beliau lagi enak2 duduk di teras depan
    padepokan ini….
    duh kenapa ga ngetok pintu Mas…,
    jadi ga tau ada tamu di depan pintu…..
    trims kitabnya mas…..

  6. terima kasih Ki GD, saya sudah ngambil dan mempelajari rontal II-1 yg dititip ke mas Rizal, di gerbang depan pedepokan ADBMcadangan ini..,

    btw, sekarang kalo mo gelar lapak buat ikut ngantri pengambilan jatah rontal II-2 dimana ya ???

  7. Matur nuwun Ki GD.

    Akhirnya ketemu juga kitab 101nya……..

    Trima kasih juga Mas Rizal atas jasanya memulai padepokan ADBM ini dan kesediaannya memegang kitab 101……. Smoga Anda selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan-Nya

  8. rasa rasanya para cantrik tdk akan kesulitan lagi buat ambil kitab 101.., dan silakan mempelajari isi kitab…….mudah2an dapat mendekati ilmu Agung sedayu di dalam goa…, yg dengan tatapan matanya – tersalur dengan kekuatan mata batin ….blllaaarrr dapat memecahkan sebongkah batu padas…!!!!, jadi mirip mata suparman… eh superman bikinan amrik ya…!!.mungkin namanya Aji Mata Malaikat dari Goa Hantu….!
    kisanak jangan berpikir dapat ilmu itu…, bahaya.. ntar para ATM jadi jebol….hehehehe.
    nah bisa dibayangkan kalo yg ditatap itu perut swandaru yg mulai banyak tingkah…., ambrol…!!!

  9. Pepatah jawa mengatakan : Malu bertanya sesat di jalan. tetapi kalau yang di tanya tidak mau memberitahu jalan….ya berabe…dech…hehehe……terima kasih Ki GeDe, terima kasih para cantrik yang sekedar memberi bahasa isyarat dan juga terima kasih untuk Mas Rizal semoga sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.
    Akhirnya dapat juga kitab jilid 101nya walau dengan jalan muter2, bingung, gregetan dan tanya sana sini.
    Teng yu….teng yu….

  10. Matur nuwun para kadang…isyarat kitab 101 sampun jelas. Matur nuwn sanget Ki Wasid, Ki GD, Mas Rizal.

    Cantrik mBeling

  11. Utk kitab II ini memang Ki GD sangat berhati2 dlm membagikan dasar2 jurusnya ke poro cantrik, kawatir nanti tidak adil…sehingga tiap jurus akan dibukak setelah Ki GD memastikan seluruh cantrik menguasai jurus sebelumnya….

    Tapi kayaknya akan semakin melambat perkembangan jurus2nya, dan akan ketinggalan dari cantrik2 Sangkal Putung yg tiap hari giat memperdalam jurus2

  12. Wuahahahaahahahahaha! Tak kira ada di mana…gitu. Ternyata~ternyata.

  13. Ananda Arya Selaka, ” mohon bantuan ” kisi-kisi buku nomor 101, karena berkat bimbingan ananda, saya telah menyelesaikan jilid 100

    saya teringat jaman togel, rekan-rekan pada membalik-balikkan koran untuk mencari penampakan.

  14. adi arya selaka, tolong dibantu kisi-kisi nya

  15. hampir saja saya kenak gendam sampai terbawa terlalu jauh.untung teman2 menyadarkan saya he he he. Terima kasih Ki Gede…

  16. Tuntas sudah kitab 101, harap-harap cemas nunggu perkembangan hasil dari pembajaan Agung Sedayu di kitab 102. Bagaimana pula halnya dengan Swandaru ?

  17. aku wis nemu lan ngunduh kitab 101- lagi donlot, matur nuwun mas

  18. @Ki Ronggolawe
    Mas Rizal dapat ditemui di Halaman Depan Padepokan ini.
    Gampangnya gini Ki, di halaman ini, di bagian paling atas, ada tulisan nama kitab kesayangan para cantrik yang apabila di klik akan membawa kita ke halaman depan Padepokan di mana Mas Rizal yang penampilannya cukup menonjol karena ‘baju’ nya lain dari pada yang lain, tengah bercengkerama di sana.
    Monggo dipun sekecakaken Kakang Ronggo….

  19. dari tlatah Mangir, sudah saya donlot Ki Gede, kasihan mas Rizal cuma dititipi dan jaga regol Padepokan, nggak pernah mau kalau disuruh masuk…

  20. masih belum bisa buka buku II-1 ? gimana caranya

  21. nuwun sewu ki GD,
    kulo absen lan matur nuwun kitab’ipun, sampun kulo unduh saking “nggriyanipun” mas rizal.

  22. saya kok nggak bisa buka mulai jilid 89 la yok nopo to caranipun nyuwun prikso

  23. Matur nuwun Ki GD

    Kami sekeluarga turut berduka cita

  24. link donlodnya dimana pakdhe?

  25. Sudah beberapa hari sempat mengucapkan selamat pagi .. karena lagi nggak enak badan …. baru sekarang punya kesempatan ….

    Ki Gede …. silahkan rontalnya diturunkan …. secara wadag saya sudah siap …. demikian keadaan batin saya.

    Terima kasih …….

  26. Syukurlah meski di penghujung senja januari awal 2009, sampai juga di kitab seri 2 buku 1, alhamdulillah syukur bisa segera menikmati jurus 101 yang barusan diambil, bakalan wayangan nih….

  27. Uedan tenan, ngantos meh copot netra kawula anjingglengi padepokanipun Kiai Gringsing. Ooo .. lha kok ndelikipun wela-wela. Maturnuwun Ki Gede, tuwin ngaturaken sugeng tepangan dumateng sedoyo cantrik warga padepokan.

  28. tolong dong yahh kasih tahu jilib 101 mana nihh..pusingcari sana sini..nggak ketemu

  29. Sama mas, saya juga bingung ga nemu2…
    Tolong juga dibantu, maklum ilmunya belum nyampe…

  30. Unik-unik-unik, ternyata ditaruh disini to, unduh dulu 101.ppt nya.

  31. Ngunduhnya dimana yamas… maklum gaptek…

  32. gimana nihh…..kok dirahasia2 kan sihh jilid 101 keatas…mempermudah adalah sebagian amalan.

    thx

  33. Nyuwun sewu Ki GD dan Nyi Seno, tidak tega pada rekan-rekan sesama cantrik yang masih kesulitan dapat kitab 101, terpaksa buka rahasia.

    1. Pada halaman ini paling atas ada tulisan “API DI BUKIT MENOREH”. Silakan di klik.
    2. Muncul halaman utama, cari kata-kata “Mas Rizal”, disitulah letak kitab 101.
    2. Bagi yang kesulitan baca buku yang telah diunduh, caranya sangat mudah dengan rename file yang telah diunduh menjadi file dengan extension djvu.
    3. Untuk membaca file djvu harus menggunakan software yang bisa diunduh di “Halaman Lain” di bagian “Halaman Unduh”

    Semoga bermanfaat.

  34. pengelola situs ini serius ngak sih . . .kok pake dipersulit aksesnya, yang pake djvu pake apa segala.. . mbok kaya seri 001 sampe 97 yg mudah dibaca . . kalo ngak niat bikin dan share mbok gak usah pamer.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: