Buku II-1

“Kakang,“ berkata Agung Sedayu setelah ia bertemu dengan Untara, “perkenankanlah aku pergi yang menurut guru diberi batasan waktu satu bulan. Aku ingin menemukan yang selama ini rasa-rasanya selalu mengganggu dalam tata gerak ilmuku. Rasa-rasanya ada yang belum tersalur dalam arus tata gerak didalam setiap saat aku berlatih atau justru dalam penggunaan ilmu yang sebenarnya.”

Untara tidak segera menjawab. Dipandanginya wajah adiknya dengan tegang sehingga Agung Sedayupun menjadi berdebar-debar. Sesaat Agung Sedayu memandang wajah kakaknya, namun kemudian wajahnya sendirilah yang menunduk dalam-dalam.

“Agung Sedayu,“ berkata Untara dengan nada datar, “apakah kau sudah memikirkannya?”

“Sudah kakang.”

“Bukankah itu berarti bahwa akan meninggalkan padepokanmu? Padepokan yang baru saja selesai dibangun dan memerlukan pemeliharaan yang tekun, tiba-tiba saja akan kau tinggalkan untuk waktu vang lama.”

“Guru. Ki Waskita dan Glagah Putih ada disana. Mereka akan memelihara padepokan itu sebaik-baiknya.”

“Apakah gurumu mengijinkan kau melakukan pengenalan tentang ilmumu sendiri dan kemudian menyempurnakan? Bukankah itu maksud kepergianmu?”

“Ya kakang. Guru mengijinkan.”

“Dan kau sudah merasa dirinya cukup matang untuk melakukannya?”

Agung Sedayu termangu-mangu. Namun kemudian ia menjawab, “Aku mohon guruku untuk memberikan penilaiannya karena aku sendiri tidak akan mampu melakukannya.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Dalam hal ini gurumulah yang lebih banyak menentukan. Jika gurumu mengijinkan, terserah kepadamu.”

Agung Sedayu menarik nafas. Ternyata kakaknya tidak melarangnya, meskipun sikapnya masih tetap dingin.

“Baiklah kakang. Aku mohon diri. Mudah-mudahan aku berhasil melakukannya dan menemukan sesuatu yang berharga, meskipun nilainya yang berharga itu kecil sekali.”

Untara mengangguk. Jawabnya, “Pergilah. Tetapi tepati batasan waktu yang diberikan oleh gurumu. Jika gurumu memberimu waktu sebulan itu tentu bukannya tidak beralasan.“

Agung Sedayu termenung sejenak. Ia mencoba menangkap, bagaimanakah sebenarnya tanggapan Untara atas rencananya itu. Tetapi Agung Sedayu tidak menemukan selain sikap yang dingin.

“Berhati-hatilah,“ berkata Untara kemudian, “kau masih terlalu kanak-anak. Bukan saja umurmu, tetapi juga sikap dan pandangan hidupmu, karena selama ini kau selalu dibawah asuhan gurumu dan mengikutinya kemana ia pergi. Dengan demikian maka kau sudah terbiasa menyerahkan segala kesulitan kepada gurumu.”

Agung Sedayu mengangguk lemah. Jawabnya, “Aku akan berhati-hati kakang.”

“Mudah-mudahan kau selalu mendapat perlindungan.“

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia-pun minta diri untuk kembali kepadepokannya dan seterusnya untuk sebulan ia akan melakukan rencananya. Sendiri, tanpa gurunya dan tanpa saudara seperguruannya.

“Kakang Untara bersikap dingin,“ berkata Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing.

“Tetapi bukankah ia tidak melarang?“ bertanya Kiai Gringsing.

“Ya. Kakang tidak melarang.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Dalam pada itu. Agung Sedayupun segera mengadakan persiapan lahir dan batin. Selain ia berusaha untuk mematangkan ilmunya dibagian-bagian terpenting sebagai bekal perjalanannya, maka iapun telah mempersiapkan tekadnya, apapun yang akan dijumpainya.

Menjelang purnama naik, maka Agung Sedayupun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia membawa beberapa pakaian sebagai bekal dan beberapa genggam beras, selain senjatanya yang melilit dipinggangnya.

“Ingat,“ berkata gurunya ketika Agung Sedayu minta diri untuk berangkat, “beras itu tidak akan cukup satu bulan jika kau mempergunakannya sebagaimana sewajarnya. Karena itu kau harus mampu mengatasi kesulitan dengan caramu sendiri. Bankan bukan hanya sekedar mengenai beras, tetapi mungkin ada kesulitan-kesulitan lain yang perlu kau atasi dengan bijaksana. Bukan asal kau dapat memperlakukannya dengan kekerasan dan ilmu kanuragan.”

Agung Sedayu menyimpan semua pesan. Baik dari gurunya, maupun dari Ki Waskita.

“Jangan lebih dari satu bulan,“ berkata Ki Waskita, “karena pada saatnya aku harus kembali.”

“Ya Kiai. Aku akan memperhitungkan waktu. Mudah-mudahan langit bersih sehingga aku dapat melihat bulan yang berkembang dilangit sampai saatnya purnama yang akan datang.”

“Kau tidak usah menghiraukan apakah bulan itu nampak dilangit atau tidak. Kau dapat menghitung hari-hari yang berjumlah sekitar tigapuluh.”

Agung Sedayu mengangguk. Sekali lagi ia minta diri kepada Glagah Putih untuk pergi beberapa saat.

“Kakang aneh. Aku sudah meninggalkan kakek dan tinggal disini, tetapi kakang malahan pergi untuk waktu yang lama.”

“Kau akan berada dalam asuhan ayahmu dan kedua orang-orang tua itu Glagah Putih. Dan aku hanya pergi sebentar untuk suatu keperluan. Tidak lebih dari satu bulan. Aku harap tanaman dihalaman depan akan menjadi bertambah subur, dan pohon-pohon itu akan mulai berbuah.”

“Tetapi jangan lebih dari satu bulan. Jika kakang tidak segera kembali, aku akan asing disini. Karena kawanku hanyalah orang-orang tua saja meskipun ada ayah vang selalu datang kemari.”

Demikianlah maka Agung Sedayupun meninggalkan padepokan kecilnya dengan tekad yang bulat. Ia ingin mengetahui, apakah sebenarnya yang telah terjadi pada dirinya saat-saat ia mengosongkan diri dan melihat bayangan-angan yang dikehendaki. Ia ingin melihat ilmunya sendiri dari mula sampai akhir. Dan ia ingin melihat kedirinya sendiri, apakah sebenarnya yang pernah dilakukan dan apakah yang sebaiknya dilakukan.

Ketika Agung Sedayu meninggalkan padepokannya, ia sama sekali tidak usah memikirkan, kemana ia harus pergi. Sebenarnyalah ia sudah mempunyai rencana didalam hatinya. Hanya jika renacananya itu tidak memenuhi keinginannya, maka ia akan menentukan cara lain.

Dengan langkah yang tetap Agung Sedayu menyusuri jalan sempit menuju kesebuah hutan kecil. Dibalik hutan itu terdapat sebuah sungai yang curam. Ditebing sungai itu terdapat sebuah goa yang dalam.

Letak goa itu memang tidak terlalu jauh dari Jati Anom. Pada masa kanak-anak ia pernah bermain-main kegoa itu bersama kakaknya. Hampir saja ia hilang ditelan tikungan yang bersimpang siur didalam goa itu, sehingga ia menangis tersengal-sengal.

“Sekarang aku akan melihat apakah jalan-jalan yang bersimpang siur didalam goa itu masih membingungkan,“ berkata Agung Sedayu.

Perjalanan Agung Sedayu memang bukan perjalanan yang amat jauh. Karena itu, maka perjalanan itupun tidak memerlukan waktu yang sangat lama.

Hutan kecil itupun tidak terlampau lebat, meskipun masih banyak terdapat berbagai macam binatang.

Bahkan binatang buas. Apalagi hutan itu menjorok sampai ketepi sebuah sungai, yang merupakan syarat bagi hadirnya berbagai macam binatang, karena binatang-binatang itu dapat mendapatkan air dengan mudah.

Hutan itu masih sama seperti saat Agung Sedajyu sering bermain-main disekitarnya, apabila ia mengikuti kakaknya. Meskipun kadang-kadang ia merengek minta pulang, tetapi sekali dua kali ia pernah sampai ke seberang hutan itu.

Masih teringat olehnya, kakaknya selalu marah-marah kepadanya, sehingga akhirnya ia tidak mendapat kesempatan lagi untuk ikut bersama jika kakaknya bermain-main dihutan itu atau kegoa seberang.

Dalam pada itu, sepeninggal Agung Sedayu, ternyata Untara telah menemui Kiai Gringsing. Semula Kiai Gringsing menjadi cemas, bahwa Untara menganggap tindakannya itu salah. Tetapi ternyata Untara berkata, “Kiai, aku senang melihat perkembangan jiwa Agung Sedayu. Kini ia mencoba untuk mencari dengan kemampuannya sendiri. Bukankah dengan demikian berarti bahwa kepribadiannya menjadi semakin mantap, bukan sekedar menghambakan diri di Sangkal Putung?”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata Untara bukannya sekedar acuh tidak acuh saja terhadap niat adiknya. Adalah sifat Untara bahwa ia sama sekali tidak ingin memuji seseorang dihadapan orang itu sendiri. Meskipun ia sebenarnya merasa bangga akan keputusan Agung Sedayu untuk membentuk dirinya sendiri, tetapi dihadapan Agung Sedayu, Untara tetap bersikap acuh tidak acuh seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu.

“Anakmas,” kata Kiai Gringsing, “aku sebenarnya merasa cemas, apakah anakmas dapat menyetujui keinginan Agung Sedayu untuk pergi mencari sesuatu yang belum dapat ditentukannya sendiri.”

“Aku tentu setuju. Itu lebih baik dari pada ia menunggu. Dengan kepergiannya itu, maka ia telah melakukan sesuatu usaha bagi dirinya, bukan sekedar menerima pemberian. Apakah itu petunjuk apakah itu kesempatan yang manapun juga.”

“Sokurlah. Seperti angger, akupun melihat, bahwa Agung Sedayu sebenarnya memiliki pandangan yang hidup terhadap dirinya sendiri dan terhadap ilmunya. Itulah sebabnya maka ia akan mencari sesuatu yang dianggapnya belum lengkap pada dirinya. Aku sengaja membiarkannya mencari sendiri, agar seperti yang anakmas katakan, ia tidak akan sekedar menerima. Selebihnya, aku adalah seorang guru yang mempunyai lebih dari seorang murid. Aku harus adil terhadap keduanya.”

Untara mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Apakah yang Kiai maksud dengan adil ?”

Pertanyaan itu agak aneh bagi Kiai Gringsing. Sejenak ia merenung. Namun ia kemudian menjawab, “Anakmas. Ilmu seseorang adalah sangat terbatas. Apa yang aku punyaipun sangat terbatas. Yang terbatas itu dasar-dasarnya telah aku berikan kepada Agung Sedayu dan Swandaru. Lengkap dan sama karena memang hanya itulah yang aku punya. Jika kemudian ada sesuatu yang lebih dari yang lengkap dan sama itu, maka aku harus memberikan kepada kedua-duanya pula.”

“Kiai,“ bertanya Untara, “apakah ada yang lebih dari yang sudah lengkap itu?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Angger adalah seorang Senapati yang memiliki ilmu yang mumpuni. Aku kira angger dapat mengerti apa yang lebih dari yang lengkap bagi sebuah ilmu itu. Ilmu kanuragan bukannya sekedar mengenal tata gerak dasar dari yang pertama sampai yang terakhir. Yang lengkap adalah pengenalan semua unsur tata gerak dan hubungannya yang satu dengan yang lain. Penguasaan semua kekuatan yang ada pada diri seseorang dan pengenalan kepada kekuatan-kekuatan cadangan. Baik yang ada didalam dirinya, maupun yang tersedia didalam alam disekitarnya. Bukankah begitu? Dan aku sudah memberikannya semuanya itu kepada Agung Sedayu dan kepada Swandaru.”

Untara mengangguk-angguk. Sebelum ia bertanya. Kiai Gringsing melanjutkannya. “Tetapi apakah angger Untara puas dengan ilmu yang lengkap itu? Setelah ilmu itu lengkap, masih ada yang perlu diketahui. Masih banyak sekali. Pengenalan atas hubungan ilmu satu dengan yang lain dalam pancaran penggunaannya. Angger seorang prajurit. Tentu angger tidak sekedar memiliki ilmu yang angger terima secara utuh itu. Tentu ada yang lebih dari ilmu yang pernah angger terima, karena didalam ilmu angger telah terjadi hubungan yang luluh dan mantap antara ilmu yang angger terima dari Ki Sadewa dan ilmu yang harus dikuasai setiap prajurit.”

Untara mengangguk-angguk pula. Katanya, “Aku mengerti yang Kiai maksud. Kiai bermaksud agar Agung Sedayu menyampurnakan ilmunya dalam bentuk apapun diluar petunjuk Kiai. karena Kiai merasa bahwa dengan demikian Kiai sudah tidak bertindak adil terhadap kedua murid Kiai.“ ia berhenti sejenak, lalu. “Kiai, apakah yang disebut adil bagi seorang ibu terhadap kedua anaknya kakak beradik. Seorang kakak yang berumur sepuluh tahun, apakah harus menerima bagian makan yang sama dengan anaknya yang baru berumur tiga tahun? Jika Kiai berpegangan kepada pendapat bahwa yang adil itu adalah yang sama, maka malanglah anak yang tua, karena ia harus makan segenggam nasi seperti adiknya yang masih bayi.”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia senang mendengar Untara yang menyatakan pendapatnya tanpa disebunyikan. Hatinya sebagai seorang Senapati cukup terbuka dan mantap sesuai dengan sikap dan pendapatnya.

“Angger benar,“ berkata Kiai Gringsing, “sedangkan saat ini, aku masih merasa mempunyai dua orang anak kembar. Itulah sebabnya aku memperlakukan keduanya sama. Memang mungkin pada suatu saat aku harus melihat, bahwa pertumbuhan keduanya mengalami perbedaan. Mungkin aku harus memberi garam kepada yang seorang dan memberikan gula kepada yang lain. Nah, dalam keadaan yang demikian, yang adil memang bukannya yang sama. Yang adil bagi kedua anak-anakku itu adalah memberikan apa yang dibutuhkan oleh masing-masing sesuai dengan garis ajaranku lahiriah dan rohaniah.”

Untara memandang Kiai Gringsing sejenak. Dengan kerut merut didahi ia bertanya, “Jadi menurut Kiai, Agung Sedayu dan Swandaru itu kali ini masih berada dalam tataran yang sama.”

“Aku berpendapat demikian. Tetapi yang sama itupun memiliki tingkatannya yang dipengaruhi oleh kepribadian masing-masing, kemampuan berpikir dan menanggapi sesuatu peristiwa dan keadaan.”

“Baiklah Kiai,“ berkata Untara, “Kiai ingin bertindak bijaksana, Sayang, bahwa Agung Sedayu mempunyai hubungan yang dekat dengan aku, karena aku kakaknya. Jika aku menyatakan pendapatku dengan jujur sesuai dengan kata hatiku, maka Kiai akan menganggap bahwa aku ingin berbuat sesuatu yang menguntungkan adikku.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Tetapi iapun tersenyum. Untara memang mengatakan apa saja yang tersirat. Dan iapun tepah mengatakan bahwa ia menyembunyikan sesuatu. Dan itu sangat menarik bagi Kiai Gringsing.

“Angger tidak ingin disebut seorang kakak kandung yang ingin mendesakkan pendapatnya bagi keuntungan adiknya. Karena itu angger tidak mau mengatakan, bahwa sebenarnya Agung Sedayu memiliki kematangan ilmu yang lebih tinggi dari Swandaru berdasarkan bahan yang mereka terima dari aku. Begitu? Sehingga ia pantas menerima bukan hanya segenggam seperti adiknya, tetapi semangkuk.”

Untara termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Aku berpendapat demikian. Tetapi pendapat yang menentukan adalah pendapat Kiai sebagai gurunya, karena Kiai mempunyai hubungan yang lebih rapat dengan keduanya.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Segala sesuatunya akan berjalan sewajarnya. Mudah-mudahan aku selalu mendapat petunjuk dari Yang Maha Kasih, agar aku dapat berada diantara murid-muridku dengan bijaksana.”

Untara mengangguk-angguk. Iapun mengerti, bahwa Kiai Gringsing akan selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan kedua muridnya yang pasti akan mempunyai beberapa perbedaan.

Setelah memberikan beberapa pesan pula kepada Glagah Putih yang ada dipadepokan kecil itu pula.

“Kiai,“ berkata Glagah Putih sepeninggal Untara, “kakang Untara dan kakang Agung Sedayu adalah saudara sepupuku. Tetapi keduanya berbeda bagiku. Aku lebih berani menyatakan pendapat dan sikapku kepada kakang Agung Sedayu. Sebenarnya bahwa aku agak segan terhadap kakang Untara yang nampaknya selalu bersungguh-sungguh.”

Kiai Gringsing tertawa. Jawabnya, “Pembawaan keduanya memang lain. Tetapi sebenarnya kau tidak usah segan terhadap kakakmu Untara. Ia orang baik. Tetapi ia lebih berterus terang dari adiknya, Agung Sedayu. Untara akan mengatakan tidak senang bagi yang tidak disenangi dan mengatakan baik bagi yang menurut pendapatnya. Tetapi kakakmu Agung Sedayu mungkin akan mempergunakan istilah-istilah lain yang lebih rumit, yang kadang-kadang justru tidak dimengerti oleh orang lain.”

Glagah Putih mengerutkan keningnya. Namun apun kemudian mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, Glagah Putih yang berada dipadepokan itu justru karena ajakan Agung Sedayu, merasa sepi juga. Tetapi ternyata bahwa Kiai Gringsing dan Ki Waskita banyak mengisi waktu Glagah Putih itu dengan kerja disawah atau memberikan kesempatan kepadanya untuk berlatih diri. Selebihnya, waktunya dipergunakan oleh Widura untuk memperlengkap tata gerak dasar anak muda itu sekaligus dalam usaha mereka untuk menelusuri kembali ilmu yang sudah mulai kabur itu.

Sementara itu. Agung Sedayu sendiri telah berada dimulut sebuah goa ditebing sungai yang curam diseberang hutan kecil yang membujur sepanjang tepian. Jarang sekali seseorang memerlukan pergi ketempat itu, selain mereka yang sengaja ingin melihat sesuatu yang belum pernah dilihatnya atau anak-anak nakal yang tersesat atau sengaja ingin mengetahui sesuatu yang pernah didengarnya sebagai ceritera dari orang lain.

Sejenak Agung Sedayu termangu-mangu. Goa itu adalah goa yang mempunyai dongengnya tersendiri. Beberapa orang pernah mengatakan bahwa goa itu adalah goa yang terpanjang. Jika seseorang menelusuri goa itu dan menemukan jalan yang menurut jalur yang benar, maka ia akan sampai kedasar samodra.

Tetapi belum ada seorangpun yang dapat mengatakan, bahwa ceritera itu memang benar. Belum ada seorangpun yang memasuki goa itu dan menyelusuri jalan sampai kedasar samodra.

Untuk beberapa lamanya Agung Sedayu termangu-mangu Bahkan pada hari yang pertama ia tidak langsung memasuki jantung goa itu. Ia masih berada dimulut goa sekedar berteduh dari panas terik yang membakar jika matahari ada dipuncak langit.

Ketika malam kemudian tiba, maka goa itupun menjadi sangat gelap. Dari tempatnya yang tidak terlalu dalam.

Agung Sedayu dapat melihat, bahwa kegelapan malam diluar goa itu masih jauh lebih terang dari hitam kelamnya warna setiap sudut didalam goa itu.

Mula-mula kulit Agung Sedayu memang meremang. Tetapi lambat laun, karena ia memang sudah dengan sengaja memasuki goa itu, hatinyapun menjadi tenang.

“Apapun yang akan aku hadapi, aku tidak akan ingkar,” katanya didalam hati.

Namun Agung Sedayu tidak memasuki goa itu lebih dalam lagi dimalam hari. Selain udara yang lembab dan seolah-olah pepat karena kegelapan, maka Agung Sedayupun belum mempunyai gambaran sama sekali tentang jalur-jalur jalan didalam goa itu.

Ketika matahari terbit ditimur, dipagi hari berikutnya. Agung Sedayu melangkah keluar mulut goa. Sejenak ia memandang langit yang cerah. Namun kemudian iapun memasuki goa itu kembali dan mulailah ia mengenali dinding goa itu semakin lama semakin dalam.

Agung Sedayu memang sedang memerlukan suatu tempat yang terasing, ia ingin lebih banyak melihat kedalam dirinya sendiri. Jika ia minta diri kepada gurunya, memang sejak semula sama sekali tidak terlintas didalam pikirannya untuk mengadakan sebuah perjalanan, atau sebuah petualangan yang khusus. Hal itu ternyata diketahui oleh gurunya pula, meskipun tidak dikatakannya. Dan gurunya memberinya waktu sebulan.

Selangkah demi selangkah Agung Sedayu memasuki goa itu semakin dalam. Ia memperhitungkan, bahwa didalam goa itu tentu ada ruangan-angan yang cukup luas yang belum diketahuinya dimasa kanak-anak untuk melakukan sesuatu. Tidak perlu terlalu dalam. Karena menurut perhitungannya, tidak akan ada orang yang sampai ketempat itu tanpa maksud seperti dirinya sendiri. Dan agaknya menilik tempat disekitar mulut goa itu, maka daerah itu sudah menjadi semakin terasing tidak tidak terjemah

Langkah Agung Sedayu terhenti ketika ia melihat didalam keremangan sebuah lubang dilangit-langit goa itu. Sejenak ia ragu-ragu. Namun kemudian ia mencoba mengamati lubang itu dengan saksama. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika terasa olehnya hembusan angin yang bertiup dari dalam lubang itu.

“Lubang itu tentu mempunyai hubungan langsung dengan udara diluar goa,“ berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Sejenak Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian iapun mencoba meraba lubang dilangit-langit goa itu.

Keinginannya tiba-tiba sangat mendesaknya untuk mengetahui isi dari lubang itu, dan hubungan yang langsung dengan udara diluar goa. Mungkin lubang itu akan muncul dipermukaan ditempat yang tidak diduganya.

Setelah menimbang-nimbang sejenak, maka Agung Sedayupun kemudian menetapkan hati untuk memasuki lubang itu. Ia tidak dapat menduga, apakah yang akan dijumpainya didalam goa yang agaknya lebih sempit dari jalur goa yang dimasukinya.

Sejenak kemudian, maka iapun segera meloncat, meraih bibir lubang itu dan kemudian dengan agak sulit ia mengangkat dirinya memasuki lubang kecil itu.

Ketika ia sudah berada didalam, maka ia melihat sebuah batu yang cukup besar, tergolek disamping lubang itu.

“Batu ini seolah-olah dipersiapkan untuk menutup lubang kecil itu,“ katanya didalam hati.

Tetapi Agung Sedayu tidak berani mencobanya. Jika ia mencoba mengguncang batu itu dan kemudian berguling menyumbat lubang kecil itu, maka ia tidak tahu. apakah ada lubang lain yang dapat dipergunakannya untuk keluar, dan apakah ia kemudian mampu menyingkirkan batu itu.

Karena itu. Agung Sedayu sama sekali tidak menyentuh batu itu. Iapun kemudian merangkak menyusur lubang yang sempit dengan sangat hati-hati. Tetapi pengenalannya atas keadaan disekitarnya telah memberikan kepadanya harapan, karena nalurinya seolah-olah mengenal sesuatu yang diarapkan diujung lubang kecil itu.

Untuk beberapa lamanya ia merangkak. Namun terasa bahwa lubang itu menjadi semakin lama semakin lebar.

Agung Sedayu menjadi berdebar-debar ketika terasa angin yang silir menghembus dari arah yang berlawanan, sehingga dengan demikian ia menduga, bahwa memang ada lubang tembus diujung jalur yang sedang dilaluinya itu.

Beberapa lama ia merangkak dalam kegelapan. Meskipun demikian, dalam keremangan itu, ia berhasil memperhatikan bentuk dinding goa itu. Dibeberapa tempat ia menjadi curiga. Bahkan ia terhenti di sebuah tikungan, karena ia melihat beberapa bagian dari dinding itu seolah-olah telah disentuh oleh tangan.

“Agaknya tikungan ini semula terlalu sempit,“ berkata Agung Sedayu didalam hati, “sehingga dengan demikian, seseorang telah memperlebar lubangnya sesuai dengan lubang yang semakin lebar ini.”

Agung Sedayu justru menjadi yakin, bahwa tikungan itu memang sudah mendapat perubahan dari bentuk aslinya.

Ketika ia melalui tikungan itu, hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Diujung jalur kecil itu ia melihat bayangan yang semakin terang. Seolah-olah diujung itu terdapat cahaya yang lebih banyak.

“Apakah ujung jalur ini benar-benar berhubungan dengan udara diluar? “ ia bertanya kepada diri sendiri.

Agung Sedayu tidak merasakan pedih dilututnya oleh sentuhan batu-batu karang. Perlahan-lahan ia maju terus, sehingga dengan dada yang berdebar-debar akhirnya ia sampai kemulut lubang itu.

Tetapi yang dilihatnya ternyata bukannya udara yang terang diluar goa. Lubang itu masih belum langsung berhubungan dengan alam yang terbuka. Yang dilihatnya adalah sebuah ruang yang cukup luas dan tidak terlalu gelap.

Perlahan-lahan Agung Sedayu memasuki lubang yang merupakan pintu masuk kedalam ruang itu. Dengan hati-hati iapun kemudian berdiri tegak dan memandang kesegenap sudut. Ruang itu ternyata cukup luas. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya dua buah lubang yang sempit. Namun Agung Sedayupun menjadi yakin, bahwa kedua lubang yang sempit itu tentu menghubungkan ruang itu dengan udara terbuka, sehingga ruang itu terasa tidak terlalu pengab dan cahaya matahari dapat menerobos masuk meskipun tidak terlalu banyak.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia baru merasa lututnya menjadi pedih. Ketika ia mengamat-amatinya, maka lututnya itu menjadi luka dan berdarah.

Ternyata Agung Sedayu cukup lama merangkak didalam lubang sempit yang berbelok-belok dengan tikungan-tikungan tajam, sehingga akhirnya ia sampai kesebuah ruang yang cukup luas.

Agung Sedayu itupun kemudian duduk untuk beristirahat sejenak diatas sebuah batu padas. Sementara itu tatapan matanya yang tajam merambat disekeliling dinding ruangan itu. Dinding yang kotor dan penuh dengan jaring-jaring labah-labah yang kehitam-hitaman.

Sesekali Agung Sedayu mengusap lukanya. Semakin lama terasa luka itu menjadi semakin pedih. Sehingga Agung Sedayupun kemudian menganggap perlu untuk menaburkan sedikit obat luka agar lukanya tidak menjadi semakin besar karena kotoran yang melekat dan bahkan mungkin ada sejenis racun di sepanjang lubang goa yang panjang itu.

“Tempat ini cukup memadai,“ desis Agung Sedayu, “aku ingin mendapat tempat yang terasing seperti ini. agar aku sempat berbuat lebih banyak lagi bagi diriku sendiri, sebelum aku berbuat sesuatu bagi padepokan kecil itu, agar apa yang aku lakukan bukannya sekedar mainan kanak-kanak yang tidak berarti.”

Sejenak Agung Sedayu membayangkan tentang dirinya sendiri. Dengan serta merta, atas perintah gurunya ia telah berhasil mengosongkan dirinya sendiri dari segala unsur yang ada. Karena itulah, maka ia berharap, bahwa ia akan dapat mengembangkannya dengan cara yang lebih baik. teratur dan terlatih, sehingga saat-saat yang diperlukan untuk melakukannya menjadi lebih cepat dan berhasil. Kemudian dengan demikian ia akan dapat menempatkan semua pengenalannya kembali dalam gambaran yang jelas dan bersih.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diam-diam ia berdoa agar Tuhan memberikan bimbingan atas usahanya itu. Jika Tuhan berkenan, maka ia akan mempunyai ingatan yang sangat tajam terhadap seggala sesuatu yang pernah dialaminya. Bahkan ia akan dapat mengenangnya seperti ia melihatnya lagi.

Tetapi yang dicari Agung Sedayu bukannya sekedar ketajaman ingatan. Ia ingin membentuk dirinya. Agaknya hidup di padepokan bagi Agung Sedayu adalah hidup yang akan dipenuhi dengan arus hubungan timbal balik. Memberi dan menerima. Meskipun bukan dalam hubungan pemerintahan dan hubungan resmi lainnya, namun padepokan akan tetap menjadi kiblat hidup jasmaniah dan rokhaniah bagi orang-orang disekitarnya. Sehingga dengan demikian, maka diperlukan bekal yang cukup memadai.

Demikianlah maka Agung Sedayu merasa bahwa ia telah menemukan tempat yang dicarinya. Ia tidak perlu mengembara ketempat yang jauh dan tidak dikenal. Menyusuri lembah dan ngarai, mengitari bukit dan menembus hutan-hutan yang lebat. Ternyata tidak terlalu jauh dari padepokannya ia telah menemukan tempat yang memadai untuk melakukan rencananya. Mesu diri dalam batas yang memungkinkan sesuatu dengan kodrat hidup manusia, jasmani dan rohani.

Tetapi Agung Sedayu tidak akan mulai saat itu juga. Ia harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Bagaimanapun juga, ia tetap seorang manusia yang memerlukan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari bagi ujud wadagnya. Ia harus makan, minum dan pemenuhan kebutuhan yang lain, meskipun dalam saat-saat tertentu dapat bergerak menurut ketentuan yang harus dibuatnya sendiri, dilakukannya sendiri dengan tertib dan penuh ketaatan. Karena ketaatan kepada diri sendiri adalah kewajiban yang paling sulit bagi seseorang.

Demikianlah Agung Sedayu tidak dapat melepaskan diri dari kodrat manusiawinya. Itulah sebabnya, maka ia-pun kemudian memperhitungkan segala kerja yang harus dilakukan.

Setiap hari ia harus merangkak keluar dari ruang itu, menyusuri lubang menuju kejalur goa yang lebih lebar. Ia harus menyiapkan makan dan minum, meskipun jauh dikurangi dari kebiasaannya makan dan minum. Kemudian setelah ia selesai dengan menyediakan makan dan minum bagi dirinya sendiri, ia harus merangkak kembali kedalam biliknya dan mulai dengan latihan-latihan yang berat.

Pada saat ia sedang mulai, terasa betapa menjemukannya merangkak keluar dan masuk lubang kecil itu. Ada niatnya untuk membawa mangkuk yang dibawanya dari padepokan, dengan beberapa potong kayu yang dicarinya disekitar mulut goa itu kedalam biliknya. Tetapi niat itupun kemudian dibatalkannya. Merangkak jarak yang cukup panjang setiap hari menyusuri lubang sempit kekedua arah itu ternyata merupakan latihan tersendiri.

Dengan merangkak ia menemukan keseimbangan yang khusus bagi tubuhnya, sehingga ia akan dapat memanfaatkan bukan saja kekuatan kaki dan tangannya, tetapi juga otot-otot perutnya yang akan berpengaruh langsung kepada ketahanan gerak kedua kakinya.

Itulah sebabnya, maka Agung Sedayu justru memaksa diri untuk tetap hilir mudik setiap pagi keluar lubang kecil itu.

Dari hari kehari, terasa kemajuan sedikit demi sedikit dapat dicapai oleh Agung Sedayu yang berlatih tanpa petunjuk langsung dari gurunya. Dengan unsur-unsur gerak yang telah dikuasainya, maka iapun mencoba untuk menguasai dengan pasti, penguasaan diri dan segala unsurnya. Dari hari ke hari, Agung Sedayu mendapat kemajuan yang pesat dalam latihan-latihan pengosongan diri. Bahkan beberapa saat yang terhitung pendek, Agung Sedayu sudah dapat melakukannya dengan batas waktu yang jauh lebih pendek, kemudian membangkitkan bayangan pengenalannya untuk satu pengenalan dimasa lampaunya.

Tetapi Agung Sedayu tidak hanya berlatih dalam ketajaman ingatan dan pengenalan masa lampaunya. Dengan sungguh-sungguh ia berusaha menyempurnakan semua unsur penguasaan diri dari dalam dirinya. Bukan latihan-latihan jasmaniah untuk meningkatkan kecepatan bergerak, atau untuk memperkuat ayunan tangan dan kaki semata-mata. Tetapi juga pengenalan yang lebih dalam terhadap tenaga cadangan yang ada didalam dirinya dan hubungannya dengan tenaga yang ada didalam sekitarnya.

Setiap hari Agung Sedayu mencoba untuk melihat kembali semua tataran yang pernah dilaluinya. Setelah mengosongkan diri dari segala, unsur yang dimilikinya sebagai kebulatan kecil dalam tata alam yang besar, maka ia mencoba untuk menilai semua tataran dan tingkat yang pernah dijalani.

Dengan demikian maka Agung Sedayu menjadi semakin memahami dirinya, ilmunya dalam hubungannya dengan perkembangan wadagnya dan halusnya, sesuai dengan pengaruh lingkungan berdasarkan kepada landasan masa-masa sebelumnya.

Agung Sedayu dapat merasakan tepat seperti yang pernah dirasakannya. Betapa ketakutan mencengkam dirinya. Takut kepada setiap persoalan yang dihadapinya, apakah itu wadag, wajar, maupun halus dan yang tidak terungkapkan oleh akal.

Ia dapat mengenal, betapa ketakutan mencengkam dirinya saat-saat ia melalui jalan yang gelap dimalam hari. tepat dibawah sebatang randu alas dan disarang Hantu bermata Satu. Tetapi iapun dapat merasakan kembali betapa hatinya bagaikan mekar, saat-saat ia berhadapan dengan Sindanti justru setelah ia menitikkan darah dari lukanya.

Dengan mengulangi setiap unsur yang pernah dipelajarinya, maka rasa-rasanya pintu baginya semakin terbuka lebar. Seolah-olah ia mendapat petunjuk yang pasti, bahwa ia sudah berjalan menuju kesempurnaan ilmu yang sudah dikuasainya.

Bahkan Agung Sedayu dapat mengenal unsur-unsur gerak ilmu orang-orang yang pernah dijumpainya, terlibat dalam perkelahian dengannya atau pernah dilihat dalam pengemukaan ilmu dimanapun juga. Agung Sedayu dapat mengingat tata gerak dari ilmu yang samar-samar sampai ilmu yang mantap dari beberapa orang yang tidak dikenalnya secara pribadi.

Dengan demikian, maka Agung Sedayu telah memperkembangkan ilmunya dari luar dan dari dalam dirinya. Latihan-latihan jasmaniah dan penguasaan unsur rohaniah. Pemusatan diri dalam penggunaan tenaga cadangan merupakan unsur yang bukan saja bersifat jasmaniah, tetapi lebih condong pada kekuatan pemusatan ilmu itu sendiri dalam getaran kehendak dan penguasaannya.

Namun sementara ia mesu diri, ia sama sekali tidak melepaskan hubungannya dengan sumber segala kekuatan, segala ilmu dan segala yang ada dimuka bumi. Yang kasat mata maupun yang tidak. Bahkan sumber dari hubungan alam yang besar dan alam yang kecil, kebulatan tata surya dan kebulatan dalam dirinya sendiri.

Demikianlah, Agung Sedayu telah menenggelamkan diri kedalam pendalaman ilmunya berlandaskan pengetahuan yang pernah dimilikinya dengan penuh kesadaran, bahwa ia merupakan satu dari butiran debu yang tidak terhitung dalam lingkungannya, sehingga ia adalah bagian yang sangat kecil dari seluruh ciptaan Tuhan.

Dalam pada itu, sementara Agung Sedayu tenggelam didalam biliknya, di Sangkal Putung. Swandarupun merasa perlu untuk memperkuat diri.

Dalam keadaannya, yang terpisah dari gurunya, Swandaru telah didorong oleh suatu keinginan untuk membuat Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh menjadi daerah yang memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri.

Tetapi untuk sementara, karena ia berada di Sangkal Putung, maka Kademangan itulah yang akan ditempanya, sebelum pada suatu saat Tanah Perdikan Menorehpun akan digarapnya pula berdasarkan pola yang akan dicobanya bagi Sangkal Putung.

Namun demikian, sebelum ia mulai dengan segala-galanya, maka ia sendiri, harus mampu meningkatkan ilmu yang telah dimilikinya.

“Semuanya telah aku mengerti,“ berkata Swandaru kepada diri sendiri, “menurut guru, dasar-dasar ilmunya telah aku kuasai seluruhnya. Yang harus aku lakukan adalah mengembangkannya sebaik-baiknya. Di Karang kakang Agung Sedayu dapat selalu berhubungan dengan guru dalam peningkatan ilmunya. Tetapi aku harus melakukannya sendiri.”

Karena itulah, maka Swandarupun kemudian berusaha untuk melakukannya. Dibangunkannya sebuah sanggar dibagian belakang kebunnya. Didalam sanggar itulah ia melatih diri. Dimintanya isterinya untuk berlatih bersamanya, atau memberikan beberapa penilaian, karena Swandarupun sadar, bahwa Pandan Wangi memiliki kemampuan yang tinggi pula.

Tetapi nampaknya Pandan Wangi tidak begitu memiliki gairah untuk berjuang meningkatkan ilmunya. Sekali-kali nampak wajahnya bagaikan kosong sama sekali. Namun demikian Pandan Wangi sendiri berusaha agar suaminya tidak menjadi kecewa, sehingga bagaimanapun juga, ia selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya itu.

Selain Pandan Wangi, maka Sekar Mirahpun tidak mau ketinggalan. Ia sadar, bahwa pada suatu saat kakaknya akan memerlukannya pula. Tetapi berbeda dengan Swandaru, Sekar Mirah masih selalu mendapat bimbingan dari gurunya, karena sebenarnyalah bahwa Sekar Mirah masih memerlukannya.

Dalam saat-saat latihan yang dilakukannya dengan tekun itulah Ki Sumangkar selalu berusaha memberikan beberapa petunjuk kepada Sekar Mirah agar ia memiliki keseimbangan antara keinginan, cita-cita dan tempatnya berpijak.

Namun sementara itu, Swandarulah yang ternyata memiliki gairah yang paling besar untuk meningkatkan ilmunya. Setiap hari ia berada didalam sanggarnya bersama-sama dengan beberapa orang pengawal yang diajaknya menjadi imbangan berlatih, selain kadang-kadang Pandan Wangi sendiri. Latihan yang berat yang dilakukan oleh Swandaru itu dititik beratkan kepada kemampuan jasmaninya. Sebagaimana pandangan hidup Swandaru yang lebih banyak diarahkan kepada pertumbuhan lingkungannya dari segi wadagnya, maka demikian pulalah cara yang ditempuhnya untuk meningkatkan ilmunya. Cita-citanya untuk menjadikan Sangkal Putung Kademangan yang kuat, yang unggul dalam ujud lahiriahnya dengan segala kelengkapannya, membuat Swandaru lebih terikat kepada pembinaan lahir.

Demikianlah Swandaru melatih diri dengan berbagai macam alat. Setiap hari ia berusaha memperkuat kedua belah tangannya dengan mengangkat dua buah batu dikedua tangannya diatas kepalanya turun naik sampai puluhan kali. Demikian pula dengan usahanya untuk memperkuat kakinya dan bagian-bagian tubuhnya yang lain. Swandaru berlatih dengan sepenuh hati untuk meningkatkan kecepatannya bergerak. Ia merasa bahwa tubuhnya yang gemuk itu merupakan sedikit hambatan bagi tata gerak dan kecekatannya. sehingga karena itulah maka ia memerlukan mengadakan latihan khusus untuk mempercepat tata geraknya.

Pandan Wangi yang semula sekedar mengimbangi usaha suaminya, itupun ternyata mau tidak mau harus ikut serta dalam arus memperdalam ilmunya pula agar ia tidak ketinggalan jika ia harus memberikan imbangan sebagai kawan berlatih. Tetapi seperti Swandaru maka Pandan Wangipun lebih banyak dipengaruhi oleh tata gerak lahiriah. Ia pada dasarnya memang memiliki ketangkasan dan kecepatan mempermainkan senjata rangkapnya. Kakinya lincah seperti burung sikatan, dan nafasnyapun benar-benar telah terlatih hampir sempurna.

Meskipun kedua suami isteri itu pada dasarnya bersumber pada ilmu yang berbeda, tetapi dengan sungguh-sungguh keduanya berusaha saling mengisi dan saling meningkatkan ilmu masing-masing. Keduanya bahkan lambat laun menemukan persesuaikan untuk menjadikan kedua ilmu dari dua sumber itu menjadi dua aliran ilmu yang dapat saling berpasangan.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 29 Desember 2008 at 02:23  Comments (234)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

234 Komentar

  1. Raden Ronggo Ngudar sabdo :

    Sing sopo tanggap ing sasmito, ing kono panggone lontar 101 kang di arep-arep poro cantrik.

    Salam hormat untuk mas Rizal.
    Hati-hati dengan ilmu semu ki GD. Ngedap-edap-i.
    Yang belum dapat selamat mengurai ilmu semu ki GD.
    Sebagai petunjuk……:
    – silahkan mesu diri 7 hari 7 malam mutih.
    – hari pertama minum susu, nasi putih dan putih
    telor goreng, sekenyangnya. juga untuk hari-hari
    selanjutnya. kemudian lihat blok ini cermati huruf
    demi huruf (dari tampilan s/d coment), hingga ilmu semu akan terurai dengan sendirinya, maka tampaklah lontar 101 bersama wajah mas Rizal si pelopor ADBM.

    SELAMT MESU DIRI…………. DUOOOOOORRRR!!!

  2. Yaaahh memang Maz Rizal tuuuh lagi ngumpetttt
    Suwun Ki GD

  3. Salam kenal Ki GD

    Saya agak bingung , apa bener udah ada ADBM yg 101 ??
    saya baca cuma sampai 88.
    Kalo nggga keberatan bagaimana cara downloud nya
    89 sampai 101 ???

    terima kasih

  4. Wah matur nuwun sanget Ki GD … rontal 101 sampun diunduh …

  5. weleh weleh…
    dari tadi nyari Mas Rizal yg ngepit kitab 101
    eh…, beliau lagi enak2 duduk di teras depan
    padepokan ini….
    duh kenapa ga ngetok pintu Mas…,
    jadi ga tau ada tamu di depan pintu…..
    trims kitabnya mas…..

  6. terima kasih Ki GD, saya sudah ngambil dan mempelajari rontal II-1 yg dititip ke mas Rizal, di gerbang depan pedepokan ADBMcadangan ini..,

    btw, sekarang kalo mo gelar lapak buat ikut ngantri pengambilan jatah rontal II-2 dimana ya ???

  7. Matur nuwun Ki GD.

    Akhirnya ketemu juga kitab 101nya……..

    Trima kasih juga Mas Rizal atas jasanya memulai padepokan ADBM ini dan kesediaannya memegang kitab 101……. Smoga Anda selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan-Nya

  8. rasa rasanya para cantrik tdk akan kesulitan lagi buat ambil kitab 101.., dan silakan mempelajari isi kitab…….mudah2an dapat mendekati ilmu Agung sedayu di dalam goa…, yg dengan tatapan matanya – tersalur dengan kekuatan mata batin ….blllaaarrr dapat memecahkan sebongkah batu padas…!!!!, jadi mirip mata suparman… eh superman bikinan amrik ya…!!.mungkin namanya Aji Mata Malaikat dari Goa Hantu….!
    kisanak jangan berpikir dapat ilmu itu…, bahaya.. ntar para ATM jadi jebol….hehehehe.
    nah bisa dibayangkan kalo yg ditatap itu perut swandaru yg mulai banyak tingkah…., ambrol…!!!

  9. Pepatah jawa mengatakan : Malu bertanya sesat di jalan. tetapi kalau yang di tanya tidak mau memberitahu jalan….ya berabe…dech…hehehe……terima kasih Ki GeDe, terima kasih para cantrik yang sekedar memberi bahasa isyarat dan juga terima kasih untuk Mas Rizal semoga sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.
    Akhirnya dapat juga kitab jilid 101nya walau dengan jalan muter2, bingung, gregetan dan tanya sana sini.
    Teng yu….teng yu….

  10. Matur nuwun para kadang…isyarat kitab 101 sampun jelas. Matur nuwn sanget Ki Wasid, Ki GD, Mas Rizal.

    Cantrik mBeling

  11. Utk kitab II ini memang Ki GD sangat berhati2 dlm membagikan dasar2 jurusnya ke poro cantrik, kawatir nanti tidak adil…sehingga tiap jurus akan dibukak setelah Ki GD memastikan seluruh cantrik menguasai jurus sebelumnya….

    Tapi kayaknya akan semakin melambat perkembangan jurus2nya, dan akan ketinggalan dari cantrik2 Sangkal Putung yg tiap hari giat memperdalam jurus2

  12. Wuahahahaahahahahaha! Tak kira ada di mana…gitu. Ternyata~ternyata.

  13. Ananda Arya Selaka, ” mohon bantuan ” kisi-kisi buku nomor 101, karena berkat bimbingan ananda, saya telah menyelesaikan jilid 100

    saya teringat jaman togel, rekan-rekan pada membalik-balikkan koran untuk mencari penampakan.

  14. adi arya selaka, tolong dibantu kisi-kisi nya

  15. hampir saja saya kenak gendam sampai terbawa terlalu jauh.untung teman2 menyadarkan saya he he he. Terima kasih Ki Gede…

  16. Tuntas sudah kitab 101, harap-harap cemas nunggu perkembangan hasil dari pembajaan Agung Sedayu di kitab 102. Bagaimana pula halnya dengan Swandaru ?

  17. aku wis nemu lan ngunduh kitab 101- lagi donlot, matur nuwun mas

  18. @Ki Ronggolawe
    Mas Rizal dapat ditemui di Halaman Depan Padepokan ini.
    Gampangnya gini Ki, di halaman ini, di bagian paling atas, ada tulisan nama kitab kesayangan para cantrik yang apabila di klik akan membawa kita ke halaman depan Padepokan di mana Mas Rizal yang penampilannya cukup menonjol karena ‘baju’ nya lain dari pada yang lain, tengah bercengkerama di sana.
    Monggo dipun sekecakaken Kakang Ronggo….

  19. dari tlatah Mangir, sudah saya donlot Ki Gede, kasihan mas Rizal cuma dititipi dan jaga regol Padepokan, nggak pernah mau kalau disuruh masuk…

  20. masih belum bisa buka buku II-1 ? gimana caranya

  21. nuwun sewu ki GD,
    kulo absen lan matur nuwun kitab’ipun, sampun kulo unduh saking “nggriyanipun” mas rizal.

  22. saya kok nggak bisa buka mulai jilid 89 la yok nopo to caranipun nyuwun prikso

  23. Matur nuwun Ki GD

    Kami sekeluarga turut berduka cita

  24. link donlodnya dimana pakdhe?

  25. Sudah beberapa hari sempat mengucapkan selamat pagi .. karena lagi nggak enak badan …. baru sekarang punya kesempatan ….

    Ki Gede …. silahkan rontalnya diturunkan …. secara wadag saya sudah siap …. demikian keadaan batin saya.

    Terima kasih …….

  26. Syukurlah meski di penghujung senja januari awal 2009, sampai juga di kitab seri 2 buku 1, alhamdulillah syukur bisa segera menikmati jurus 101 yang barusan diambil, bakalan wayangan nih….

  27. Uedan tenan, ngantos meh copot netra kawula anjingglengi padepokanipun Kiai Gringsing. Ooo .. lha kok ndelikipun wela-wela. Maturnuwun Ki Gede, tuwin ngaturaken sugeng tepangan dumateng sedoyo cantrik warga padepokan.

  28. tolong dong yahh kasih tahu jilib 101 mana nihh..pusingcari sana sini..nggak ketemu

  29. Sama mas, saya juga bingung ga nemu2…
    Tolong juga dibantu, maklum ilmunya belum nyampe…

  30. Unik-unik-unik, ternyata ditaruh disini to, unduh dulu 101.ppt nya.

  31. Ngunduhnya dimana yamas… maklum gaptek…

  32. gimana nihh…..kok dirahasia2 kan sihh jilid 101 keatas…mempermudah adalah sebagian amalan.

    thx

  33. Nyuwun sewu Ki GD dan Nyi Seno, tidak tega pada rekan-rekan sesama cantrik yang masih kesulitan dapat kitab 101, terpaksa buka rahasia.

    1. Pada halaman ini paling atas ada tulisan “API DI BUKIT MENOREH”. Silakan di klik.
    2. Muncul halaman utama, cari kata-kata “Mas Rizal”, disitulah letak kitab 101.
    2. Bagi yang kesulitan baca buku yang telah diunduh, caranya sangat mudah dengan rename file yang telah diunduh menjadi file dengan extension djvu.
    3. Untuk membaca file djvu harus menggunakan software yang bisa diunduh di “Halaman Lain” di bagian “Halaman Unduh”

    Semoga bermanfaat.

  34. pengelola situs ini serius ngak sih . . .kok pake dipersulit aksesnya, yang pake djvu pake apa segala.. . mbok kaya seri 001 sampe 97 yg mudah dibaca . . kalo ngak niat bikin dan share mbok gak usah pamer.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: