Buku II-1

Namun agaknya Agung Sedayu sudah mengenal sifat dan watak Sekar Mirah, sehingga iapun dapat mengerti apakah sebenarnya yang terkandung didalam hatinya.

Karena itulah maka Agung Sedayu dan apalagi Kiai Gringsing, sama sekali tidak menangkis celaan-celaan itu. Bahkan Agung Sedayu mencoba untuk mengangguk-angguk sambil menjawab, “Semuanya masih mungkin diperbaiki Sekar Mirah. Padepokan mi memang belum mapan.”

Sekar Mirah memandang Agung Sedayu sejenak. Katanya kemudian, “Memang masih mungkin diperbaiki. Tetapi ada sesuatu yang memang sudah tidak mungkin ditingkatkan. Yang sudah sampai pada tataran puncaknya. Itulah yang harus mendapat perhatian. Tanah yang kering, tandus dan berbatu-batu. Tidak akan dapat menjadi subur dalam waktu yang singkat. Keterasingan dan tersisih seperti padepokan inipun memerlukan waktu yang lama sekali untuk mendapatkan arti bagi kehidupan luas. Kecuali sekedar bagi satu dua orang yang langsung berkepentingan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ketika ia akan memberikan keterangan yang lebih panjang, Kiai Gringsing menggamitnya, sehingga Agung Sedayupun terdiam karenanya.

Baru kemudian Kiai Gringsing berbisik, “Tidak ada gunanya. Kau hanya akan berbantah.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Dan ia memang tidak ingin berbantah dengan Sekar Mirah. Karena itulah maka iapun hanya sekedar mendengarkan, dan sekali-sekali mengiakannya.

Ki Sumangkar menjadi gelisah justru karena sikap Agung Sedayu. Tetapi ia sadar, bahwa memang Agung Sedayu bukannya seseorang yang senang membantah, meskipun Sumangkar tahu, bahwa ada sesuatu yang terasa bergejolak didalam hati anak muda itu.

“Seperti endapan yang semakin lama semakin tebal didasar hati Agung Sedayu,“ berkata Ki Sumangkar didalam hatinya, “mungkin endapan itu akan tetap tertimbun baik-baik, tetapi apabila timbunan itu menjadi banyak, maka akan mungkin sekali menjadi penuh dan meluap seperti air yang tertahan dibendungan.”

Tetapi Ki Sumangkarpun tidak mengatakan sesuatu. Ia justru ingin mencoba mengubah sikap dan tingkah laku Sekar Mirah apabila masih mungkin, khusus menghadapi Agung Sedayu, karena agaknya keduanya memang telah berniat menuju kedalam satu ikatan hidup meskipun perbedaan sifat dan watak semakin lama justru menjadi semakin jelas.

Meskipun demikian, rasanya masih ada yang mengikat keduanya untuk tetap berdiri ditempat masing-masing dalam hubungan antara seorang anak muda dan seorang gadis.

Demikianlah ternyata Sekar Mirah tidak betah terlalu lama tinggal dipadepokan itu. Ia benar-benar tidak menemukan apapun juga yang dapat memberinya kepuasan, apalagi kebanggaan.

Meskipun demikian Sekar Mirah masih dapat menahan hati untuk menunggu sampai Glagah Putih menghidangkan makan dan lauk pauk sejauh dapat dilakukan.

“Ia adalah putera paman Widura,” berkata Agung Sedayu kepada tamu-tamunya.

“Paman Widura ? “ Sekar Mirah menjadi heran.

“Ya, kenapa ?”

Sekar Mirah tidak menyahut. Tetapi ia benar-benar tidak mengerti, cara hidup yang ditempuh oleh keluarga Agung Sedayu. Widura adalah seorang perwira yang termasuk berpengaruh di Pajang meskipun ia sudah meletakkan jabatan keprajuritannya. Ia mampu membantu Agung Sedayu membuat padepokan itu. Tetapi kemudian anaknya dibiarkannya berada dipadepokan itu sebagai seorang cantrik kecil yang paling rendah tingkatnya. Ia harus merebus air, menanak nasi dan menghidangkan jamuan untuk tamu padepokan itu.

“Cara yang paling aneh,“ gumamnya, “agaknya keluarga Agung Sedayu memang mempunyai kebiasaan hidup dalam kesulitan.”

Berbeda dengan Sekar Mirah. Ki Sumangkar justru menjadi kagum melihat kesediaan Glagah Putih untuk semakin melakukan pekerjaan itu. Bahkan didalam hati Ki Sumangkar berkata, “Dengan cara itu, mereka akan menjadi orang-orang besar yang tidak akan terpisah dari rakyatnya, karena mereka mengalami kehidupan yang pahit dimasa mudanya. Tetapi mereka dengan tekun mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pemimpin yang baik.”

Selelah beristirahat sejenak, maka Sekar Mirahpun kemudian minta diri kepada Agung Sedayu dengan kesan yang buram atas pedepokan yang kecil itu.

Agung Sedayu tidak dapat menahan Sekar Mirah untuk lebih lama lagi di padepokan itu. Ia dapat mengerti, perasaan apakah yang sedang bergejolak didalam hatinya.

Karena itu, maka Agung Sedayupun hanya dapat mengucapkan selamat jalan dan berpesan untuk Sekar Mirah berhati-hati di perjalanan.

“Aku bersama guru,“ berkata Sekar Mirah, “tidak ada yang dapat menahan kami di perjalanan.”

Ki Sumangkar hanya dapat menarik napas dalam dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun tentang perjalanan itu. Bahkan iapun kemudian segera minta diri pula.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya ketika ia melihat gurunya berbicara perlahan-lahan dengan Kiai Gringsing dan Ki Waskita yang lebih banyak melihat perkembangan keadaan daripada ikut mencampuri persoalan mereka. Bahkan Ki Waskita sejenak seolah-olah menjadi orang asing yang tidak banyak bekepentingan dengan kehadiran Sekar Mirah dan gurunya.

Sejenak kemudian maka Sekar Mirah, gurunya dan pengawalnya meninggalkan padepokan kecil yang lengang itu. Sekali Sekar Mirah masih berpaling untuk mencoba melihat padepokan itu dari kejauhan. Benar-benar sebuah padepokan kecil yang tidak berarti apa-apa.

Di padepokan itu, Agung Sedayu melangkah menuju ke pendapa sambil menundukkan kepalanya. Ia merasa bahwa Sekar Mirah sama sekali tidak sependapat, bahwa ia akan tetap tinggal dipadepokan itu, karena sifat dan wataknya Sekar Mirah lebih senang tinggal di Kademangan yang besar dan dikelilingi oleh pelayan dan kawan-kawan yang menghormatinya. Setiap keinginannya seakan-akan dapat dipenuhi tanpa melakukan kerja yang berat. Jika sekali-kali bekerja didapur atau di halamanan, bahkan juga disawah, itu adalah karena ia ingin. Bukan karena terpaksa melakukannya.

“Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian kepada muridnya, “kau tentu sedang menghadapi salah satu ujian didalam penempaan kepribadianmu. Kita semua tahu, bahwa Sekar Mirah tidak tertarik sama sekali dengan padepokanmu. Tetapi hal ini tentu sudah kau mengerti, bahwa lebih banyak berbuat, sehingga pada suatu saat orang lain, termasuk Sekar Mirah mengakui, bahwa kau telah melakukan sesuatu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Diluar sadarnya ia memandang Ki Waskita yang lebih banyak diam. Namun ia tidak menemukan kesan apapun juga didalam wajah orang itu.

Tetapi dalam pada itu, tatapan Agung Sedayu yang sekilas itu melontarkan isyarat kepada Ki Waskita. Isyarat seperti yang dilihatnya pada Swandaru. Agaknya setelah masa perkawinannya dengan Sekar Mirah, Agung Sedayu pun masih harus menempuh jalan yang sulit dan berbatu-batu tajam.

“Kenapa harus terjadi seperti itu, justru yang tidak dikehendaki oleh semua pihak? “ pertanyaan itu selalu membelit dihati Ki Waskita. Namun ia masih berusaha untuk menyembunyikan perasaannya itu. Agar tidak menambah bahan perasaan Agung Sedayu. Gurunya dan mungkin juga Widura dan Untara. Meskipun agaknya Untara tentu mempunyai tanggapan yang berbeda. Bagi Untara, kerja keras, tekad dan ketekunan adalah unsur-unsur yang ikut serta menentukan masa depan seseorang. Bagi Untara, maka jika Sekar Mirah dapat menjadi penghambat, maka ia tentu akan menganjurkan untuk melepaskannya.

Ki Waskita hanya dapat manarik nafas. Ia melihat perbedaan sikap yang jauh antara kedua kakak beradik itu.

Glagah Putih yang tidak tahu persoalan tentang hubungan antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah, sama sekali tidak melihat gejolak perasaan yang bagaikan mengguncang dada Agung Sedayu. Itulah sebabnya, maka ketika ia menjumpai Agung Sedayu disamping pendapa ia bertanya. “Apakah hidanganku cukup pantas?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menepuk bau Glagah Putih sambil tersenyum. Katanya, “cukup. Terlalu cukup.”

Kakang tentu sekedar memuji.
“Kakang tentu sekedar memuji.“

“Tidak. Kau memang pandai memasak.”

Glagah Putih tidak bertanya lagi. Iapun kemudian mengambil sisa hidangan dan membawanya kebelakang.

Kunjungan Sekar Mirah, rasa-rasanya telah melecut Agung Sedayu untuk bekerja keras. Bukan saja ditanah pekerangannya yang baru, selelah ia membuka hutan, tetapi juga dalam bidang yang lain.

Dimalam-malam yang sepi, ia mulai melihat-lihat tata gerak yang dikuasai oleh Glagah Putih bersama guru-nya dan Ki Waskita. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Gringsing, Ki Sadewa memang tidak berusaha untuk menunjukkan kekhususan yang menarik perhatian, seolah-olah dengan sombong mengatakan, “Inilah Ilmuku yang tidak ada duanya.”

Tata gerak yang dilihat pada gerak-gerak dasar ilmu itu cukup sederhana. Namun sekali dan kadang-kadang kurang menyakinkan.

“Sulit untuk menangkap ciri-cirinya. Hampir tidak dapat disebut bahwa ilmu ini adalah ilmu khusus dari perguruan Ki Sadewa,“ berkata Agung Sedayu didalam hatinya.

Tetapi belum mengatakannya. Yang dilihatnya adalah tata gerak dasar yang sangat dangkal yang dikuasai oleh Glagah Putih.

“Mungkin kita memerlukan pertolongan Ki Widura,” berkata Kiai Gringsing.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Mungkin memang demikianlah ajaran ilmu itu. Pada tingkat pertama, yang diajarkannya adalah ilmu yang sangat umum seperti yang dikuasai oleh Glagah Putih. Tetapi mungkin pada tingkat berikutnya ada ciri-ciri khusus yang dapat disadap.

“Tentu ada ciri-ciri khusus itu. Aku melihat ciri-ciri itu pada Ki Widura dan anakmas Untara,“ berkata Kiai Gringsing, “tetapi terlalu samar dan mungkin justru sengaja disamarkan.”

Keduanya mengangguk-angguk. Dan merekapun bersepakat untuk melakukan penelitian berikutnya bersama Ki Widura untuk menemukan kembali ilmu yang sudah menjadi sangat menurun kemampuannya itu.

Dalam pada itu, ternyata usaha Agung Sedayu membuka hutan telah menumbuhkan rangsangan pada orang lain. Ternyata beberadpa orang telah mengajukan permohonan untuk diperkenankan ikut serta membuka hutan itu.

Tetapi persoalan yang dihadapi oleh orang-orang Jati Anom agak berbeda dengan orang-orang yang sedang membuka hutan di Mataram. Alas Mentaok yang lebat dan garang itu dapat dibuka oleh setiap orang yang ingin menggabungkan diri kedalam lingkungan kehidupan Mataram. Mereka dapat membuka hutan dibagian manapun yang mereka pilih. Baru kemudian mereka menyatakan diri dan menyusun lingkungan masyarakat dalam hubungan yang utuh bersama lingkungan-lingkungan kecil yang lain.

Sedangkan di Jati Anom, hutan yang tersisa merupakan hutan yang seolah-olah tetap dipelihara karena berbagai macam kepentingan. Meskipun kadang-kadang hutan itu mendatangkan bahaya karena binatang buas yang tersembunyi didalamnya. Namun hutan itu juga memberikan banyak kegunaan. Kadang-kadang Kademangan Jati Anom memerlukan kayu yang cukup banyak untuk membangun beberapa buah rumah, atau memerlukan hasil hutan yang lain. Tetapi hutan dilereng Gunung Merapi itu agaknya memang masih akan diperlukan untuk waktu yang lama. Bahkan Kademangan yang terletak lebih tinggi lagi dari Jati Anom masih melindungi hutan yang lebat dan pepat seperti alas Mentaok dalam hubungannya dengan penyimpanan air dan menahan runtuhnya tanah dan banjir.

Karena itulah, maka pembukaan hutan di Jati Anom hanya dapat dilakukan dengan terbatas sekali.

Meskipun demikian, Ki Demang di Jati Anom masih memberikan kesempatan bagi beberapa orang yang dengan sunguh-sungguh ingin membuka hutan dan bekerja bersama dengan Agung Sedayu.

“Tetapi kalian harus bersungguh-sunguh,“ berkata Ki Demang, “kalian tidak boleh sekedar ingin setelah melihat tanah persawahan yang telah berhasil dibuka oleh Agung Sedayu meskipun tidak begitu luas.”

“Kami bersungguh sungguh Ki Demang.”

“Tetapi kalian harus bekerja dibawah bimbingan Agung Sedayu, karena membuka tanah baru bukannya sekedar menebang pohon-pohon liar dan membuat pematang diseputarnya. Membuka tanah baru harus diperhitungkan apakah kemungkinan mendapatkan air selain air hujan. Kemungkinan-kemungkinan yang mungkin masih harus dipertimbangkan.”

“Kami akan berada dibawah petunjuk-petunjuknya.”

“Hubungilah Agung Sedayu. Kau boleh menyampaikan kepadanya, bahwa aku telah mengijinkan. Tetapi terbatas sekali. Hanya kalian yang menyatakan keinginannya sampai hari ini. Beritahukan kapada orang- orang lain yang ingin ikut serta, bahwa aku tidak akan mengijinkan orang-orang baru untuk ikut pula. Tanah persawahan di Jati Anom aku anggap sudah cukup sampai sekarang. Sedang hutan itu masih sangat kita perlukan.”

Tetapi yang sedikit itu telah menggembirakan hati Agung Sedayu. Rasa-rasanya ia mendapatkan kawan yang mulai memperjuangkan hari depan mereka meskipun hanya dalam lingkungan kecil. Apalagi ketika pada beberapa anak muda diantara mereka yang ikut membuka hutan itu menyatakan keinginan mereka untuk tinggal dipadepokan kecil yang masih sunyi itu.

“Belum sekarang,“ jawab Agung Sedayu, “pada saatnya, jika padepokan itu telah siap benar, kalian dapat tinggal bersama kami. Sekarang, kami sedang bekerja keras untuk mempersiapkannya.”

“Kami akan membantu,“ berkata salah seorang dari mereka.

Agung Sedayu selalu saja tersenyum sambil menjawab, “Terima kasih. Pada saatnya saja nanti aku akan memanggilmu.”

Namu dalam saat itu. Agung Sedayu sedang mempersiapkan sebuah rencana yang cukup rumit bersama gurunya dan Ki Waskita untuk mengetahui dasar-dasar ilmu yang mulai kabur. Satu satunya orang yang akan dapat memberikan banyak bahan adalah Widura sendiri, karena Untara yang sibuk dengan tugasnya tentu tidak akan sempat melakukannya meskipun ilmu itu terdapat lebih lengkap padanya daripada pada Widura.

Untuk kepentingan itu. Agung Sedayu telah menyiapkan sebuah ruang khusus yang akan menjadi sanggar dalam penelaahan ilmu kanuragan. Terutama dalam hubungan dengan ilmu yang masih sangat tipis pada Glagah Putih.

“Kita akan mempergunakan sebagian dari waktu kita untuk berada di dalam sanggar,” berkata Agung Sedayu kepada Glagah Putih.

“Apa salahnya? Aku sudah terbiasa berlatih dalam waktu yang tidak terbatas. Hampir setiap saat kakek memberi kesempatan kepadaku untuk meningkatkan ilmu,” berkata Glagah Putih.

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun dengan demikian ia mengerti, bahwa tuntutan yang diberikan kepada Glagah Putihpun kurang memenuhi syarat dan urutan yang tersusun. Seakan-akan dasar ilmu itu diberikan kapan saja dan bagaimana saja yang sedang teringat oleh kakeknya.

Setelah semua persiapan selesai, maka Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita benar-benar mulai dengan penyelidikannya. Mereka dengan bersungguh-sungguh telah mempersiapkan semuanya yang mungkin diperlukan. Rontal dengan penggoresnya siap pula untuk menangkap tata gerak yang menarik perhatian mereka.

Widura yang pada saat-saat tertentu datang kepadepokan itu dan menyetujui semua rencana itupun telah dipersiapkan diri pula. Bahkan ketika rencana itu siap untuk dimulai, Widura menyerahkan beberapa helai rontal kepada Kiai Gringsing.

“Apakah isinya?“ bertanya Kiai Gringsing. “Cobalah lihat Kiai. Mungkin akan berguna untuk melihat tata gerak dasar dari ilmu yang sedang menyusut ini.”

Kiai Gringsing mulai membuka rontal itu. Ia melihat susunan tata gerak dari limu yang sedang mereka tekuni. Meskipun kurang tersusun, namun nampaknya gambar-gambar yang tergores pada rontal itu menunjukkan usaha untuk meningkatkan ilmu yang ada pada orang yang melukiskannya diatas rontal yang masih tersimpan baik itu.

“Rontal ini masih terhitung baru,“ berkata Kiai Gringsing, ”aku kira tentu bukan peninggalan Ki Sadewa.”

Ki Widura menggelengkan kepalanya. Katanya, “Perlihatkan kepada Agung Sedayu, apakah ia dapat mengenalnya?”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Namun rontal itupun kemudian diserahkannya kepada Agung Sedayu.

Wajah Agung Sedayu menegang sejanak. Ia mencoba mengingat-ingat, dimanakah ia mengenal rontal itu. Rontal yang dilukisi oleh tata gerak yang mungkin dan bahkan yang sangat sulit dilakukan meskipun pada dasarnya ilmu itu adalah ilmu yang termurun sampai kepada Ki Widura dan Untara.

Dalam ketegangan itu, Agung Sedayu melihat Ki Widura tersenyum. Bahkan kemudian katanya, “Kau tentu ingat. Darimanakah aku mendapatkannya.”

Tiba-tiba saja wajah Agung Sedayu menjadi merah sesaat. Iapun kemudian teringat, bahwa ketika ia berada di Sangkal Putung, dalam cengkaman tata hidupnya yang lama, ia telah mencoba untuk memahami ilmu kanuragan. Tetapi ia tidak dapat melakukannya sesuai dengan keinginannya karena keadaan yang membatasinya saat itu. Karena itulah ia telah mempergunakan cara tersendiri. Ia mulai menghayalkan tata gerak yang dituangkannya dalam goresan-goresan diatas rontal.

Sambil mengangguk-angguk kecil Agung Sedayu berkata, “Aku ingat paman.”

Widura tertawa. Katanya, “Kau tentu ingat, karena kaulah yang membuatnya. Kau yang waktu itu masih dikungkung oleh perasaan takut dan tanpa kepercayaan kepada diri sendiri, telah menuangkan khayal tata gerak dari perkembangan ilmumu pada rontal itu. Karena kemungkinan untuk berlatih waktu itu memang sangat sempit, maka kau pergunakan sebagian waktumu untuk berlatih didalam angan-angan. Dan agaknya kau telah berhasil. Ilmumu berkembang seperti yang kau khayalkan meskipun tidak tepat benar, karena ada unsur-unsur gerak yang tidak mungkin dilakukan dalam kenyataan gerak, tetapi dapat kau bayangkan didalam angan-angan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia ingin memberikan beberapa penjelasan, tetapi Ki Widura sudah mendahuluinya, “Tetapi pada suatu saat kau menjadi murid Kiai Gringsing yang memiliki ilmu dasar yang berbeda, meskipun agaknya beberapa bagian dapat kau trapkan setelah kau menguasai gerak dasar dari ilmumu yang sekarang.”

Kiai Gringsing tersenyum sambil memandang rontal ditangan Agung Sedayu itu. Katanya, “Kau memang cerdas. Memang lapangan untuk berlatih bukannya selalu halaman yang sunyi, atau sanggar yang luas. Tetapi angan-anganmu jauh lebih luas dari tlatah Pajang. Perhitungan dan pertimbanganmu dalam latihan khusus ini pasti jauh lebih masak daripada kau langsung dihadapkan pada tata gerak.”

“Karena itu, maka latihan-latihan seperti yang kau lakukan disamping latihan-latihan yang sebenarnya adalah sangat berguna.”

Agung Sedayu kemudian tesenyum pula. Katanya, “Darimana paman mendapatkannya?”

“Aku mendapatkannya di Sangkal Putung. Selagi kau menjadi gemetar setiap kali Sidanti menantangmu, maka kau dengan rajin membuat lukisan-lukisan seperti ini.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

Kiai Gringsing dan Ki Waskitapun kemudian tertawa. Terbayang didalam angan-angan mereka, seorang anak muda yang selalu ketakutan menghadapi kedaan disekitarnya yang saat itu justru sedang dibakar oleh api perselisihan antara sanak kadang di Pajang dan Jipang.

“Tetapi semuanya itu kini tiggal kenangan,“ berkata Ki Waskita, “meskipun aku tidak melihat bagaimana pucatnya wajah anakmas Agung Sedayu, namun aku dapat membanyangkan, bahwa semuanya itu menjadi gambaran perkembangan jasmani dan jiwanya angger Agung Sedayu.”

“Ya,“ sahut Widura, “tetapi bekas-bekasnya tentu tidak akan lenyap sama sekali.”

Agung Sedayu sama sekali tidak menyahut. Dibiarkannya orang-orang itu menilai tentang dirinya. Dan iapun tidak ingkat, bahwa sifat-sifat yang dimilikinya dimasa kanak-kanak itu masih tetap membekas dihatinya, meskipun didalam pertumbuhannya mengalami perubahan-perubahan yang penting.

“Nah,“ berkata Ki Widura kemudian, “maksudku dengan rontal itu adalah merupakan salah satu bahan dari usaha kita untuk mencari bentuk dan ciri-ciri dari ilmu yang sudah semakin susut itu. Aku dan Untara adalah prajurit. Dalam pada itu, tentu banyak unsur-unsur gerak yang langsung atau tidak langsung telah terbiasa dalam ilmu yang kini aku miliki, karena tempaan yang aku alami setelah aku menjadi prajurit. Didalam lingkungan keprajuritan, telah tersusun ilmu-ilmu pokok yang harus dikuasai oleh setiap prajurit, meskipun masing-masing telah memiliki bekalnya sendiri.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ternyata bahwa lukisan-lukisan didalam rontal itu akan sangat berarti meskipun lukisan-lukisannya bukanya lukisan yang baik.

Pada hari-hari berikutnya maka padepokan kecil itu mulai dengan kerja yang memerlukan ketekunan. Selain memelihara padepokan itu sendiri, menggarap sawah dan pategalan bagi persediaan makan mereka, maka merekapun mulai memasuki sanggar dengan sungguh-sungguh.

Yang akan menjadi bahan pengamatan mereka adalah Glagah Putih dan Ki Widura sendiri disamping rontal yang berisi goresan-goresan tangan Agung Sedayu.

Pada hari-hari pertama, beberapa kali Glagah Putih harus mengulangi latihan-latihan yang pernah didapatkannya dari kakeknya. Unsur-unsur gerak yang sederhana yang justru merupakan dasar dari ilmunya. Kemudian beberapa unsur yang lain sudah merupakan perkembangan meskipun sama sekali masih kosong.

Agung Sedayu, Kiai Gringsing dan Ki Waskita memperhatikannya dengan saksama. Setiap kali mereka menghentikan latihan itu, dan minta agar Glagah Pitih mengulanginya.

“Kau tidak perlu mengerahkan tenaga,” berkata Kiai Gringsing, “lakukanlah unsur geraknya saja. Aku hanya ingin melihat bentuk dan sikap. Bukan kekuatannya.”

Glagah Putih mengangguk-angguk. Sebenarnyalah ia sudah mulai lelah. Jika ia harus mengulangi beberapa kali dengan segenap tenaganya, maka ia akan kelelahan.

Tetapi Glagah Putihpun kemudian tidak perlu mengulang lebih banyak lagi. Agung Sedayu kemudian berdiri dan melakukan tata gerak seperti yang dilakukan oleh Glagah Putih.

“Kau masih dapat melakukannya Agung Sedayu,“ berkata Ki Widura, “tetapi tata gerak yang kau perlihatkan sudah mempunyai isi yang berbeda, karena nafas ilmu yang kau dapatkan dari Kiai Gringsing masih tetap menjiwainya,“ berkata Ki Widura.

“Kosongkanlah dirimu,“ berkata Kiai Gringsing, “Ki Widura benar. Sehingga sulit untuk mengurai batasnya karena kau memang memiliki keduanya. Jika kau mengosongkan diri, maka yang kau lakukan hanyalah menirukan. Jika yang kau lakukan bergetar pula didalam dirimu, lakukanlah terus.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya gurunya dan Ki Widura berganti-ganti. Kemudian Katanya, “Baiklah guru. Aku akan mencoba mengosongkan diri meskipun aku sadar, bahwa pekerjaan itu bukannya pekerjaan yang mudah.”

Kiai Gringsing mengangguk. Lalu, “Mulailah. Seperti Glagah Putih. Yang ingin kami ketahui adalah tata gerak dan bentuknya, bukan kekuatannya. Karena itu, kau tidak perlu melepaskan tenaga sedikitpun juga, selain bagi gerak itu sendiri.”

Agung Sedayu mengangguk. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian iapun memusatkan nalar dan perasaannya pada dirinya, pada ujud wadagnya, sehingga yang ada padanya kemudian hanyalah tulang dan daging yang kosong terlepas dari penguasaan gerak naluriah, dan sepenuhnya diserahkan kepada bayangan yang tersisa dalam dirinya pada pengamatannya atas tata gerak yang dilakukan oleh Glagah Putih.

Sebelumnya Agung Sedayu belum pernah melakukannya. Itulah sebabnya ia mengalami beberapa kesulitan. Setiap kali bayangan itu menjadi jelas setelah mengalami pemisahan dari bagian-bagian yang tidak dikehendaki. Namun setiap kali, unsur gerak naluriahnya seolah-olah telah mengaburkannya kembali. Sangat sulit baginya untuk mengendapkan ilmu yang telah dikuasainya sampai pada batas penguasaan urat dan syarafnya sehingga terlepas dari unsur-unsur yang menyentuh simpul-simpul penggerak, sehingga seakan-akan hilang dari perbendaharaan batinnya.

Namun dengan tekun Agung Sedayu berusaha. Jika ia berhasil, maka itu justru merupakan suatu hal yang baru baginya, yang akan merupakan suatu kemajuan atas kekuasaannya terhadap dirinya sendiri, yang wadag maupun yang halus.

Kiai Gringsing, Ki Waskita dan Ki Widura justru menjadi tegang.

Mereka melihat betapa wajah Agung Sedayu menjadi pucat dan berkeringat. Namun Kiai Gringsing telah membiarkannya. Justru kesempatan itu merupakan kesempatan yang sangat berarti bagi Agung Sedayu. Ilmu yang ada pada Glagah Putih sekedar merupakan pendorong dan peraga dalam usaha pengosongan diri dan menyatukan daya pikirnya pada bayangan yang dikehendakinya, yang tersisa dalam dirinya.

Glagah Putih yang ada didalam sanggar itu pula menjadi heran. Ia sama sekali tidak mengerti, apakah yang sedang dikerjakan oleh Agung Sedayu. Bahkan ia menjadi heran, bahwa Agung Sedayu mengalami kesulitan untuk menirukan tata geraknya yang menurut ayahnya, barulah tata gerak dasar yang sederhana.

Dalam puncak pencapaiannya, wajah Agung Sedayu benar-benar menjadi pucat. Ternyata ia berhasil menyingkirkan semua simpanan didalam dirinya kesudut sampai pada batas penguasaan urat dan syarafnya, yang dikuasai oleh kehendak, sehingga seolah-olah ia tidak pernah memilikinya dan sama sekali tidak mempengaruhinya lagi.

Mulai saat itulah, yang nampak pada penglihatannya mata hati Agung Sedayu adalah bayangan tata gerak yang dilakukan oleh Glagah Putih. Seolah-olah sekali lagi Glagah Putih melakukan dasar tata gerak ilmunya yang masih sangat sederhana itu.

Dari unsur gerak yang sama Agung Sedayu mengikuti penglihatan mata hatinya, dan melakukan tata gerak berikutnya, tepat seperti yang pernah dilihatnya.

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar dan Widura menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat keberhasilan Agung Sedayu. Bahkan kemudian Ki Waskita berkata, “Ia akan memiliki ingatan yang tajam sekali dengan keberhasilannya itu. Jika ia selanjutnya melatih diri dan menyempurnakannya, maka itu akan sangat berguna baginya. Ia akan mengenal segala ilmu yang pernah dilihatnya dan mempelajarinya, sehingga akhirnya ilmu Agung Sedayu akan menjadi ilmu yang paling lengkap.”

“Tentu belum sejauh itu,“ jawab Kiai Gringsing, “tetapi bahwa yang dicapainya itu akan sangat berguna, agaknya memang demikian.”

“Tetapi, tentu Agung Sedayu tidak akan dapat melakukannya, sebelum ia mendapatkan inti dari kemampuannya itu,“ berkata Ki Waskita. Lalu, “Apakah Kiai juga pernah memberikan inti dasar dari ilmu itu kepada Swandaru?”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sambil memperhatikan tata gerak Agung Sedayu yang sederhana dan merupakan unsur-unsur gerak dasar itu, ia menjawab, “Jika Swandaru memiliki ketajaman batin seperti Agung Sedayu, maka iapun tentu dapat melakukannya. Tetapi aku tidak tahu, apakah ia berhasil mengurai semua bahan yang ada padanya, untuk menemukan hubungannya sehingga terbentuklah suatu ujud.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Kiai sangat bijaksana.”

Kiai Gringsing tidak menjawab. Diperhatikannya tata gerak Agung Sedayu yang melakukan tata gerak dasar itu berulang kali tanpa dipengaruhi oleh ilmu yang telah dimilikinya. Sama sekali bersih.

Perlahan-lahan tetapi meyakinkan, maka orang-orang yang memperhatikan tata gerak Agung Sedayu itu melihat kebiasaan yang nampak pada tata gerak dasar. Baru kebiasaan. Dan kebiasaan itu mungkin memang terdapat pada tata gerak itu sendiri, atau lahir setelah ilmu itu menurun. Baik pada kakek Glagah Putih atau pada Glagah Putih sendiri, sehingga kebiasaan itu belum dapat dijadikan ciri bagi ilmu itu.

“Setelah aku melihat, bagaimanakah tata gerak dasar Ki Widura, maka barulah akan mendapat perbandingan dibantu oleh gambar yang telah dibuat oleh Agung Sedayu tentang tata gerak yang sudah disempurnakan baru didalam angan-angan,“ berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.

Sebenarnya, bahwa dengan mengulang-ulang tata gerak dasar itu. banyak yang dapat dicapai oleh Agung Sedayu bagi dirinya sendiri dan bagi ilmu itu. Ia sudah dapat memberikan gambaran yang berulangkali dengan gerak yang tepat sama dan unsur-unsur dasar. Sepuluh kali ia mengulang, maka sepuluh kali pula setiap bagian dari gerak itu diulang.

Ketika Kiai Gringsing menganggap sudah cukup, maka iapun kemudian berkata, “Sudahlah Agung Sedayu. Untuk kali ini kita sudah cukup.”

Agung Sedayu mendengar suara itu bergetar didalam hatinya. Karena itu maka iapun kemudian perlahan-lahan berusaha untuk menyalurkan kehendaknya pada wadagnya, sehingga akhirnya, iapun berhenti.

Namun demikian ia berhenti, dan melepaskan diri dari ketegangan saat-saat ia mengosongkan diri, terasa tubuhnya bagaikan menjadi gemetar karena getar pada urat dan syarafnya, seolah-olah menjalar sampai kepusat syarafnya, sehingga akhirnya seolah-olah yang kosong itupun telah terisi kembali.

Maka sejenak kemudian. Agung Sedayu itupun serasa telah pulih kembali menjadi Agung Sedayu sewajarnya. Karena itulah, maka jika ia masih ingin meneruskan usahanya mengulangi tata gerak Glagah Putih, maka ia tidak akan dapat melakukannya tanpa pengaruh ilmunya sendiri.

Di hari itu, Kiai Gringsing rasa-rasanya telah menemukan sesuatu yang baru? Bukan saja pengenalan atas dasar-dasar pokok ilmu yang sedang mereka pelajari, tetapi ia menyaksikan, bagaimana Agung Sedayu berusaha mengosongkan dirinya, dan membuat wadagnya bagaikan terlepas dari segala ilmu yang dimilikinya.

Demikianlah, setelah mereka selesai dengan ungkapan tata gerak itu, mulailah mereka duduk pada sebuah lingkaran dan sekedar berbincang. Widura yang paling banyak mengenal ilmunya dari orang-orang lain yang ada mencoba untuk menjelaskan, apa yang telah mereka saksikan bersama

“Memang belum ada ciri-ciri pokok yang nampak. Tetapi ada sesuatu yang dapat diingat. Gerak kaki itu terulang sampai beberapa kali pada unsur-unsur dasar yang berbeda. Langkah yang melintang siku dari garis lurus pandangan mata dan susunan telapak tangan yang tegak dimuka dada, dapat merupakan pengenalan,“ berkata Widura.

Tetapi Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya. Katanya, “Baru merupakan bentuk-bentuk pada tata gerak. Tetapi belum langsung menyangkut watak. Karena ciri sebenarnyalah dapat dikenali sebagian terbesar pada watak ilmu itu.”

“Satu hal yang dapat Kiai ingat, meskipun tidak dilakukan oleh Glagah Putih. Ketajaman bidik itu bukan sekedar bentuk. Tetapi sudah mengandung watak dari suatu ilmu.“ sahut Widura.

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ya Ketajaman bidik memang merupakan ciri dari ilmu itu. Tetapi sudah barang tentu tidak hanya ciri yang satu itulah yang kita lihat. Menilik sikap dan tata gerak dasarnya, maka akan ada kemampuan-kemampuan yang akan nampak dalam tata gerak itu.”

“Aku kira ada watak yang sudah terungkap meskipun hanya permukaannya saja,” berkata Ki Waskita.

“Pertahanan yang kuat dan rapat. Hampir tidak tertembus oleh ujung jarum.“ potong Kiai Gringsing.

“Ya. Dan itu tentu dapat dihubungkan dengan watak.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Ki Waskita benar. Tetapi watak yang kita lihat adalah watak yang samar-samar. Ilmu yang banyak dijiwai oleh unsur-unsur gerak pertahanan yang kuat dan rapat, menunjukkan bahwa ilmu itu lebih mementingkan keselamatan sendiri daripada mencelakai orang lain. Aku kira sesuai benar dengan Ki Sadewa. Tetapi yang akan kita cari adalah watak dalan keutuhannya. Kekasarannya, kekerasannya, bentuk dan jenis pukulan yang mematikan, yang sekedar melukai dan sebagai sarana untuk melepaskan diri dari kesulitan.”

“Kita memerlukan waktu,“ berkata Widura, “namun aku sudah mulai membayangkan, jika kita dapat menemukan sebagian yang hilang, maka dengan bekal yang ada itu akan tersusunlah kembali ilmu yang dahsyat yang pernah dimiliki oleh Ki Sadewa. Lebih dahsyat dari ilmu yang pernah kita kenal pada orang-orang yang sekarang masih mempergunakannya, karena tidak ada seorangpun yang berhasil mempelajarinya sampai tuntas setelah Ki Sadewa.”

“Mudah-mudahan kita berhasil. Jika tidak seluruhnya, maka jika kita mencapai sebagian besar, maka nama Ki Sadewa akan tidak terlupakan,“ berkata Kiai Gringsing.

Ki Widura mengangguk-angguk. Jawabnya, “Ya. Mudah-mudahan demikian.”

Demikianlah, penyelidikan dengan tekun dan bersungguh-sungguh atas ilmu Ki Sadewa itu sudah dimulai. Tetapi mereka semuanya tidak tergesa-gesa. Mereka tidak membatasi waktu penyelidikannya dengan dua atau tiga pekan. Tidak pula dua atau tiga bulan. Bahkan mereka tidak akan memaksa untuk segera menyelesaikannya setelah dua atau tiga tahun.

Karena itulah, maka penyelidikan itu berjalan terus meskipun lambat. Namun demikian, mareka menyediakan waktu betapapun sempitnya setiap hari untuk menelaah, membicarakan atau mencari unsur-unsur gerak yang masih harus diketemukan.

Dengan demikian maka kerja mereka yang lain sama sekali tidak terbengkelai. Sawah mereka yang mulai menghijau, pategalan dan kebun padepokan mendapat pemeliharaan yang teliti.

Namun disamping mengenali ilmu yang sudah hampir dilupakan itu, ternyata bahwa Agung Sedayu juga tidak melupakan dirinya sendiri. Setelah ia berhasil mencoba mengosongkan dirinya, justru seolah-olah demikian saja harus dilakukan, meskipun sebenarnya bekalnya memang sudah dipersiapkan oleh gurunya didalam dirinya, maka iapun menjadi semakin tertarik kepada ilmunya sendiri. Bahkan kadang-kadang ia pergi menyendiri didalam sanggar dan menylaraknya dari dalam. Sekali-sekali ia mencoba untuk melakukannya seperti yang pernah dilakukan. Mengosongkan diri untuk memberikan kesempatan kepada wadagnya melakukan sesuatu yang dikehendaki. Bahkan pengenalannya yang sedikit terhadap keadaan disekitarnya akan dapat terungkapkan kembali dalam gerak.

“Tetapi apakah gunanya ? “ tiba-tiba saja ia bertanya kepada diri sendiri, “aku hanya dapat menirukan. Sedang aku sendiri tidak melihat apa yang aku lakukan. Dengan demikian aku akan selalu memerlukan orang lain untuk membantuku, jika aku ingin menguasai ilmu ataupun tata gerak yang pernah aku lihat dari siapapun juga.”

Namun demikian, Agung Sedayu tidak mengatakan kepada gurunya. Mungkin pada suatu saat gurunya akan memberikan beberapa petunjuk lain. Jika ia memaksa bertanya sekarang, maka seolah-olah ia telah mencoba untuk mendahului rencana yang mungkin telah disusun oleh gurunya.

Meskipun demikian. Agung Sedayu tidak berhenti berlatih. Kadang-kadang sendiri, kadang-kadang dengan gurunya. Tetapi untuk kepentingan itu, Glagah Putih selain dipisahkannya dengan alasan apapun juga, agar ia tidak terganggu karenanya. Jika anak yang masih terlalu muda itu melihat, dan ingin mencobanya, maka akibatnya akan kurang baik bagi anak muda itu sendiri. Apalagi mereka yang masih belum cukup mempunyai bekal dalam kedewasaan ilmunya.

Dengan demikian, maka sebenarnyalah padepokan kecil itu sudah menjadi sibuk dalam kerjanya sendiri, meskipun tidak nampak oleh siapapun karena Agung Sedayu dan penghuni lainnya selalu nampak sibuk pula disawah.

Namun demikian, tiba-tiba saja, Agung Sedayu menjadi sangat gelisah. Ia merasa sesuatu yang mendesaknya, justru karena ia menginginkan sesuatu pencapaian.

Gurunya dan Ki Waskita adalah orang yang bijaksana. Karena itu merekapun melihat kegelisahan itu. Meskipun mereka tidak mengetahuinya dengan tepat, namun mereka dapat menduga, apa yang diinginkan oleh anak muda itu.

Meskipun demikian Kiai Gringsing tidak bertanya. Ia membiarkan Agung Sedayu sampai pada suatu saat mengatakannya kepadanya. Dan yang ditunggunya itupun kemudian ternyata pula.

“Guru,“ berkata Agung Sedayu, “keinginanku itu tidak dapat aku tahankan lagi!”

Kiai Gringsing tersenyum. Ia memang menghendaki Agung Sedayu mengatakannya kepadanya. Jawabnya, “Agung Sedayu. Muridku bukannya kau seorang diri. Aku sudah menganggap bahwa kau dan Swandaru adalah anak-anakku. sehingga dengan demikian aku tidak dapat membedakan kalian berdua sama sekali. Juga dalam hal penyerahan ilmu. Karena itu anakku, kalian berdua yang telah dewasa, dan telah menerima bahan-bahan yang cukup sebagai bekal, aku persilahkan untuk mencarinya sendiri. Jika kemudian kalian mengalami perbedaan pertumbuhan, itu bukannya aku yang tidak adil. Tetapi kalianlah yang menentukan. Apakah kalian berhasil mengembangkan yang telah kalian capai, atau tidak.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya.

“Karena itulah, maka aku tidak akan dapat mencegah keinginanmu untuk mencari kesempurnaan dengan bekal yang ada. Pergilah. Tetapi aku memberikan batasan waktu. Padepokan kecil ini tidak boleh terbengkelai. Karena itu, yang kau tuntut sebagai suatu cita-cita dan kenyataan hidupmu sehari-hari harus seimbang. Jika kau akan pergi menyendiri, pergilah. Tetapi tidak lebih dari satu bulan. Dari saat purnama naik, sampai kepurnama berikutnya. Biarlah selama itu, aku, Ki Waskita dan Glagah Putih menunggui padepokan ini. Sementara itu, Glagah Putih juga akan meningkatkan ilmunya, sesuai dengan dasar-dasar tata gerak yang dikuasainya. Karena aku kira Ki Widura untuk sementara dapat melakukannya.”

Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “Terima kasih guru. Aku mohon maaf bahwa akhirnya aku mementingkan diriku sendiri. Tetapi aku tidak akan melupakan Glagah Putih dan usaha paman Widura untuk mengenal ilmunya lebih dalam.”

“Lakukanlah yang ingin kau lakukan. Tentang ilmu yang sedang kita kenali itu. kita tidak akan terikat dan terbatas waktu.”

“Tetapi kasihan dengan Glagah Putih. Sebelum ilmu itu dapat dikenal seluruhnya, maka yang dapat dicapai adalah sekedar pangkalnya saja. Kecuali jika Glagah Putih bersedia menerima ilmu yang lain. Namun agaknya paman Widura ingin agar Glagah Putih menguasai ilmu yang sedang kita cari bentuknya itu secara utuh, dalam tingkatnya yang tinggi.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya kau benar. Tetapi ia masih sangat muda. Waktu masih cukup panjang baginya, sehingga menurut gelar lahiriah, ia masih mempunyai kesempatan meskipun masa persiapannya agak panjang.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk.

“Agung Sedayu, pergilah. Tetapi sebaiknya kau minta ijin juga kepada kakakmu Untara. Dalam hal seperti ini kakakmu tentu akan mengijinkanmu.”

“Baik guru. Aku akan menemui kakang Untara segera.”

Keinginan yang mendesak itu telah mengantarkan Agung Sedayu menemui kakaknya. Seolah-olah ia tengah dikejar oleh waktu yang tidak dapat ditunda lagi.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 29 Desember 2008 at 02:23  Comments (234)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

234 Komentar

  1. Raden Ronggo Ngudar sabdo :

    Sing sopo tanggap ing sasmito, ing kono panggone lontar 101 kang di arep-arep poro cantrik.

    Salam hormat untuk mas Rizal.
    Hati-hati dengan ilmu semu ki GD. Ngedap-edap-i.
    Yang belum dapat selamat mengurai ilmu semu ki GD.
    Sebagai petunjuk……:
    – silahkan mesu diri 7 hari 7 malam mutih.
    – hari pertama minum susu, nasi putih dan putih
    telor goreng, sekenyangnya. juga untuk hari-hari
    selanjutnya. kemudian lihat blok ini cermati huruf
    demi huruf (dari tampilan s/d coment), hingga ilmu semu akan terurai dengan sendirinya, maka tampaklah lontar 101 bersama wajah mas Rizal si pelopor ADBM.

    SELAMT MESU DIRI…………. DUOOOOOORRRR!!!

  2. Yaaahh memang Maz Rizal tuuuh lagi ngumpetttt
    Suwun Ki GD

  3. Salam kenal Ki GD

    Saya agak bingung , apa bener udah ada ADBM yg 101 ??
    saya baca cuma sampai 88.
    Kalo nggga keberatan bagaimana cara downloud nya
    89 sampai 101 ???

    terima kasih

  4. Wah matur nuwun sanget Ki GD … rontal 101 sampun diunduh …

  5. weleh weleh…
    dari tadi nyari Mas Rizal yg ngepit kitab 101
    eh…, beliau lagi enak2 duduk di teras depan
    padepokan ini….
    duh kenapa ga ngetok pintu Mas…,
    jadi ga tau ada tamu di depan pintu…..
    trims kitabnya mas…..

  6. terima kasih Ki GD, saya sudah ngambil dan mempelajari rontal II-1 yg dititip ke mas Rizal, di gerbang depan pedepokan ADBMcadangan ini..,

    btw, sekarang kalo mo gelar lapak buat ikut ngantri pengambilan jatah rontal II-2 dimana ya ???

  7. Matur nuwun Ki GD.

    Akhirnya ketemu juga kitab 101nya……..

    Trima kasih juga Mas Rizal atas jasanya memulai padepokan ADBM ini dan kesediaannya memegang kitab 101……. Smoga Anda selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan-Nya

  8. rasa rasanya para cantrik tdk akan kesulitan lagi buat ambil kitab 101.., dan silakan mempelajari isi kitab…….mudah2an dapat mendekati ilmu Agung sedayu di dalam goa…, yg dengan tatapan matanya – tersalur dengan kekuatan mata batin ….blllaaarrr dapat memecahkan sebongkah batu padas…!!!!, jadi mirip mata suparman… eh superman bikinan amrik ya…!!.mungkin namanya Aji Mata Malaikat dari Goa Hantu….!
    kisanak jangan berpikir dapat ilmu itu…, bahaya.. ntar para ATM jadi jebol….hehehehe.
    nah bisa dibayangkan kalo yg ditatap itu perut swandaru yg mulai banyak tingkah…., ambrol…!!!

  9. Pepatah jawa mengatakan : Malu bertanya sesat di jalan. tetapi kalau yang di tanya tidak mau memberitahu jalan….ya berabe…dech…hehehe……terima kasih Ki GeDe, terima kasih para cantrik yang sekedar memberi bahasa isyarat dan juga terima kasih untuk Mas Rizal semoga sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.
    Akhirnya dapat juga kitab jilid 101nya walau dengan jalan muter2, bingung, gregetan dan tanya sana sini.
    Teng yu….teng yu….

  10. Matur nuwun para kadang…isyarat kitab 101 sampun jelas. Matur nuwn sanget Ki Wasid, Ki GD, Mas Rizal.

    Cantrik mBeling

  11. Utk kitab II ini memang Ki GD sangat berhati2 dlm membagikan dasar2 jurusnya ke poro cantrik, kawatir nanti tidak adil…sehingga tiap jurus akan dibukak setelah Ki GD memastikan seluruh cantrik menguasai jurus sebelumnya….

    Tapi kayaknya akan semakin melambat perkembangan jurus2nya, dan akan ketinggalan dari cantrik2 Sangkal Putung yg tiap hari giat memperdalam jurus2

  12. Wuahahahaahahahahaha! Tak kira ada di mana…gitu. Ternyata~ternyata.

  13. Ananda Arya Selaka, ” mohon bantuan ” kisi-kisi buku nomor 101, karena berkat bimbingan ananda, saya telah menyelesaikan jilid 100

    saya teringat jaman togel, rekan-rekan pada membalik-balikkan koran untuk mencari penampakan.

  14. adi arya selaka, tolong dibantu kisi-kisi nya

  15. hampir saja saya kenak gendam sampai terbawa terlalu jauh.untung teman2 menyadarkan saya he he he. Terima kasih Ki Gede…

  16. Tuntas sudah kitab 101, harap-harap cemas nunggu perkembangan hasil dari pembajaan Agung Sedayu di kitab 102. Bagaimana pula halnya dengan Swandaru ?

  17. aku wis nemu lan ngunduh kitab 101- lagi donlot, matur nuwun mas

  18. @Ki Ronggolawe
    Mas Rizal dapat ditemui di Halaman Depan Padepokan ini.
    Gampangnya gini Ki, di halaman ini, di bagian paling atas, ada tulisan nama kitab kesayangan para cantrik yang apabila di klik akan membawa kita ke halaman depan Padepokan di mana Mas Rizal yang penampilannya cukup menonjol karena ‘baju’ nya lain dari pada yang lain, tengah bercengkerama di sana.
    Monggo dipun sekecakaken Kakang Ronggo….

  19. dari tlatah Mangir, sudah saya donlot Ki Gede, kasihan mas Rizal cuma dititipi dan jaga regol Padepokan, nggak pernah mau kalau disuruh masuk…

  20. masih belum bisa buka buku II-1 ? gimana caranya

  21. nuwun sewu ki GD,
    kulo absen lan matur nuwun kitab’ipun, sampun kulo unduh saking “nggriyanipun” mas rizal.

  22. saya kok nggak bisa buka mulai jilid 89 la yok nopo to caranipun nyuwun prikso

  23. Matur nuwun Ki GD

    Kami sekeluarga turut berduka cita

  24. link donlodnya dimana pakdhe?

  25. Sudah beberapa hari sempat mengucapkan selamat pagi .. karena lagi nggak enak badan …. baru sekarang punya kesempatan ….

    Ki Gede …. silahkan rontalnya diturunkan …. secara wadag saya sudah siap …. demikian keadaan batin saya.

    Terima kasih …….

  26. Syukurlah meski di penghujung senja januari awal 2009, sampai juga di kitab seri 2 buku 1, alhamdulillah syukur bisa segera menikmati jurus 101 yang barusan diambil, bakalan wayangan nih….

  27. Uedan tenan, ngantos meh copot netra kawula anjingglengi padepokanipun Kiai Gringsing. Ooo .. lha kok ndelikipun wela-wela. Maturnuwun Ki Gede, tuwin ngaturaken sugeng tepangan dumateng sedoyo cantrik warga padepokan.

  28. tolong dong yahh kasih tahu jilib 101 mana nihh..pusingcari sana sini..nggak ketemu

  29. Sama mas, saya juga bingung ga nemu2…
    Tolong juga dibantu, maklum ilmunya belum nyampe…

  30. Unik-unik-unik, ternyata ditaruh disini to, unduh dulu 101.ppt nya.

  31. Ngunduhnya dimana yamas… maklum gaptek…

  32. gimana nihh…..kok dirahasia2 kan sihh jilid 101 keatas…mempermudah adalah sebagian amalan.

    thx

  33. Nyuwun sewu Ki GD dan Nyi Seno, tidak tega pada rekan-rekan sesama cantrik yang masih kesulitan dapat kitab 101, terpaksa buka rahasia.

    1. Pada halaman ini paling atas ada tulisan “API DI BUKIT MENOREH”. Silakan di klik.
    2. Muncul halaman utama, cari kata-kata “Mas Rizal”, disitulah letak kitab 101.
    2. Bagi yang kesulitan baca buku yang telah diunduh, caranya sangat mudah dengan rename file yang telah diunduh menjadi file dengan extension djvu.
    3. Untuk membaca file djvu harus menggunakan software yang bisa diunduh di “Halaman Lain” di bagian “Halaman Unduh”

    Semoga bermanfaat.

  34. pengelola situs ini serius ngak sih . . .kok pake dipersulit aksesnya, yang pake djvu pake apa segala.. . mbok kaya seri 001 sampe 97 yg mudah dibaca . . kalo ngak niat bikin dan share mbok gak usah pamer.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: