Buku II-1

SEBUAH padepokan kecil akan lahir disebelah Kademangan Jati Anom. Diatas sebuah pategalan yang sudah ditumbuhi dengan berbagai macam pohon buah-buan, akan dibangun kelengkapan dari sebuah padepokan betapapun kecilnya. Sebuah rumah induk dengan pendapa dan bagian-bagian yang lain, sebuah tempat ibadah, klolam dan sebuah kandang kuda. Dibagian belakang akan terdapat beberapa buah rumah kecil yang akan dihuni oleh beberapa orang yang bersedia tinggal dipadepokan kecil itu untuk bersama-sama bekerja keras. Sebuah lumbung, dan halaman untuk menjemur padi dan hasil sawah yang lain akan dipersiapkan pula dilongkangan.

Dihari-hari pertama, Untara dan Widura sudah mulai menentukan letak dan urutan bangunan yang akan dibuat. Meskipun kecil dan sederhana namun agaknya padepokan itu akan sangat menyenangkan.

Sebuah gubug kecil telah dahulu dibangun untuk menyimpan bahan-bahan yang diperlukan bagi bangunan yang akan dibuat itu. Kayu yang sudah siap digarap. Bambu dan atap ijuk segera dipersiapkan pula.

Ketika dua buah sumur sudah siap digali sesuai dengan tempat yang sudah direncanakan dalam keseluruhan halaman padepokan itu, maka mulailah kerja yang sebenarnya. Setiap hari beberapa buah pedati hilir mudik mengangkut batu dan keperluan-keperluan yang lain. Sementara itu beberapa orangpun mulai bekerja dengan keras untuk menyelesaikan pekerjaan yang cukup besar itu.

Agung Sedayu dan Kiai Gringsing tidak ketinggalan pula. Mereka ikut bekerja keras diantara para pekerja yang lain. Bahkan Ki Waskita pun tidak mau tinggal berpangku tangan.

Demikianlah hari-hari berikutnya. pategalan Karang itu telah sibuk dengan kerja. Mulai saat matahari naik, sampai saat matahari turun dibalik gunung, orang-orang yang bekerja dipadepokan itu lelah melakukan tugas mereka sebaik-baiknya. Bahkan diantara derit roda pedati, derak bambu dibelah dan bebatuan yang gemelutuk. kadang-kadang masih juga terdengar suara dendang dari seseorang yang sedang duduk dibawah sebatang pohon memintal tali ijuk.

Dalam pada itu, sekali-sekali Untara sendiri datang untuk melihat-lihat kemajuan kerja orang orangnya yang membuat dinding batu mengelilingi pategalan itu. Semakin lama menjadi semakin tinggi. Diempat penjuru terdapat empat buah regol meskipun tidak sama. Regol induk dibuat lebih besar dari ketiga regol butulan. Meskipun demikian, Untara telah mempersiapkan papan-papan kayu yang tebal, sehingga keempat pintu gerbang itu akan menjadi pintu gerbang yang kuat.

Kiai Gringsing yang melihat papan-papan yang dipersiapkan untuk membuat pintu gerbang itu tersenyum didalam hati. Rencana itu dibuat oleh seorang prajurit, sehingga segi pengamanan dari padepokan itu benar benar dapat dibanggakan. Pintu gerbang itu akan menjadi pintu gerbang yang sangat sulit untuk dipecahkan meskipun dengan mempergunakan alat apapun juga.

Dari hari kehari dengan berdebar-debar Agung Sedayu melihat perkembangan dari padepokannya. Dinding halaman yang menjadi semakin tinggi dan beberapa bagian rumah yang sudah berdiri.

Kesibukan kerja itu ternyata telah berpengaruh pula pada kepribadian Agung Sedayu. Dalam kerja itu ia merasa telah berbuat sesuatu bagi dirinya sendiri, diatas tanahnya sendiri. Meskipun kerja itu masih diangkat oleh kakak dan pamannya, namun seolah-olah iapun ikut serta menentukan, bahwa padepokan itu benar benar akan berdiri.

Ternyata bahwa Widura cukup bijaksana menanggapi perkembangan jiwa Agung Sedayu. Meskipun bentuk setiap bangunan dan letaknya sudah direncanakan, tetapi Widura memberi banyak kesempatan kepada Agung Sedayu untuk mengutarakan pendapatnya. Bahkan Widura sama sekali tidak berkeberatan, jika pada suatu saat Agung Sedayu sama sekali merubah bentuk dan letak sebuah bangunan.

“Terserah kepadamu dan kepada gurumu. Agung Sedayu,“ berkata Widura, “kaulah yang akan menjadi penghuni dari padepokan ini. Kaulah yang harus menentukannya. Jika aku menyerahkan beberapa bagian dari bahan dan tenaga yang dapat aku kerahkan dari Banyu Asri dan Jati Anom, itu adalah sekedar pelaksanaannya saja. Sedang dari ujud keseluruhannya terletak kepadamu dan kepada gurumu.”

Agung Sedayu kadang-kadang merasa bangga jika ia dapat menentukan sesuatu yang penting, yang kurang pada perencanaan sebelumnya. Ia benar-benar merasa telah berbuat sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri. Sehingga dengan demikian, Agung Sedayu mulai merasa, bahwa ia sedang bekerja keras bagi masa depannya dan kematangan kepribadiannya.

Berbeda dengan Widura, agaknya Untara berpegang teguh pada rencananya. Tetapi agaknya Agung Sedayu memang tidak banyak mempunyai persoalan dengan dinding itu yang dibuat kakaknya melingkari padepokan itu. Meskipun demikian, kadang-kadang Untarapun ikut pula menentukan beberapa bagian dari isi padepokan itu.

“Berilah kesempatan Agung Sedayu melakukan sesuatu,” berkata Widura kepada Untara.

“Ia masih terlalu muda. Seleranya adalah selera yang cengeng,“ jawab Untara.

“Biar sajalah. Nanti jika ia sudah masak akan melihat kekurangan itu dan akan merubahnya. Gurunyapun agaknya tidak banyak berbuat sesuatu karena, sebagian besar persoalannya diserahkan kepada Agung Sedayu.”

Untara tidak menjawab. Tetapi baginya. Agung Sedayu masih terlalu kanak-kanak dan kurang pengalaman. Meskipun demikian kadang-kadang Untarapun mendengarkan nasehat nasehat pamannya dan membiarkan Agung Sedayu menentukan sesuai dengan keinginannya meskipun terbatas pada persoalan yang tidak terlampau besar dari keseluruhan rencana.

Dari hari kenari, padepokan itu menjadi semakin jelas. Bangunan-bangunannya mulai berdiri, sedang dindingnyapun telah cukup tinggi, sehingga pategalan itu benar-benar telah berubah menjadi sebuah padepokan kecil yang cantik.

Tetapi setiap kali Untara masih berdesis, “Selera Agung Sedayu adalah selera yang cengeng.”

Namun Untarapun akhirnya menuruti nasehat pamannya meskipun hatinya masih terasa belum puas. Tetapi bahwa padepokan itu semakin lama menjadi semakin berbentuk, iapun mulai agak lega pula. Dengan demikian ia telah berhasil merenggut adiknya dari Sangkal Putung.

Karena dengan hadirnya Agung Sedayu di Sangkal Putung, rasa-rasanya Untara ikut direndahkan pula martabatnya sebagai seorang laki-laki.

Pada saatnya, maka padepokan itupun telah dapat disiapkan. Dinding batu yang cukup tinggi telah siap mengelilingi padepokan yang ditumbuhi dengan beberapa batang pohon buah-buahan. Beberapa buah bangunan telah siap pula. Kandang kudapun telah terisi oleh dua ekor kuda yang tegar.

Dihari yang telah dipilih oleh Kiai Gringsing, saat padepokan itupun resmi akan dipergunakan, beberapa orang telah diundang untuk ikut menyaksikan. Diantara mereka hadir beberapa orang dari Sangkal Putung.

Ki Demang dan Swandaru dan isterinya bersama beberapa orang telah hadir pada upacara peresmian itu. Tetapi yang terasa mengganggu perasaan Agung Sedayu, bahwa justru Sekar Mirah tidak bersedia datang, meskipun Ki Demang mengemukakan beberapa alasan yang masuk akal.

“Badannya tidak sehat,“ berkata Ki Demang.

Tetapi Agung Sedayu tidak mempercayainya. Meskipun demikian ia hanya dapat menganggukkan kepala sambil menjawab, “Mudah-mudahan ia menjadi lekas sembuh.”

Sementara itu, Swandarupun yang sudah melihat-lihat berkeliling berkata kepada Agung Sedayu, “Padepokan yang sederhana. Mudah-mudahan kau kerasan tinggal disini kakang.”

“Aku akan mencobanya.“

Swandaru mengangguk-angguk. Tetapi beberapa kali ia menunjukkan kekecewaannya atas padepokan yang dilihatnya itu.

“Kau masih harus banyak bekerja untuk melengkapi padepokanmu ini kakang,“ berkata Swandaru kemudian.

“Aku menyadari,“ jawab Agung Sedayu.

Dan selanjutnya duniamu akan terbatas oleh dinding batu itu sampai hari tuamu. Kau akan menjadi orang yang alim. yang kerjanya setiap hari menghitung amal dan dosa yang pernah kau lakukan. Mengajari para cantrik untuk bercocok tanam dan memelihara ternak. Mengumpulkan telur ayam dan itik.”

“Mungkin aku harus harus berbuat demikian.”

“Lalu kau akan kehilangan semua kesempatan dihari-hari yang masih terlampau pagi. Masa-masa mudamu akan hilang dibalik dinding batu yang mengurungmu disini.”

“Mungkin ada usaha lain yang berguna bagi orang orang disekeliliku,” jawab Agung Sedayu.

“Kakang,“ berkata Swandaru kemudian, “aku tidak menolak untuk mempelajari ilmu kejiwan, kesusasteraan dan pendekatan diri kepada Yang Maha Pencipta. Tetapi diumur yang masih muda ini tentu masih banyak yang dapat dikerjakan dari pada bertapa didalam halaman padepokan kecil yang menurut pendapatku justru setengah-setengah ini.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam dalam.

“Tetapi semuanya terserah kepadamu kakang. Kaulah yang akan menjalaninya. Meskipun demikian, jika pada suatu saat kau jemu tinggal dipadepokan ini, maka ayah tentu akan bersedia menerimamu kembali tinggal di Sangkal Putung.”

“Terima kasih,“ jawab Agung Sedayu, “aku akan memikirkannya kelak.”

Demikianlah hari yang pertama itu telah hadir beberapa orang yang mengucapkan selamat atas lahirnya sebuah padepokan kecil itu. Adalah peristiwa yang jarang sekali dapat disaksikan, bahwa sebuah padepokan telah lahir diatas tanah pategalan seperti padepokan yang akan dihuni oleh Kiai Gringsing dan Agung Sedayu.

Tetapi ternyata disamping mereka, orang pertama yang bersedia tinggal dipadepokan itu adalah Glagah Putih. Atas ijin orang tua serta kakek dan neneknya, maka ia telah menyatakan keinginannya untuk tinggal dipadepokan itu bersama Agung Sedayu.

“Tetapi kita harus bekerja keras,“ berkata Agung Sedayu.

“Itu menarik sekali kakang,“ jawab Glagah Putih.

“Bagus. Jika kau sudah menyadari, maka kau dapat tinggal dengan senang justru karena kerja.”

Sepeninggal orang-orang yang menghadiri saat-saat padepokan itu mulai dihuni, adalah pertanda bahwa kerja keras harus dimulai. Pategalan disekitar padepokan itu harus digarap. Dan sebidang tanah yang sudah disediakan adalah sawah yang akan menghasilkan persediaan makan bagi mereka.

“Diujung pategalan itu adalah sebuah lapangan perdu. Diseberang lapangan perdu terdapat sebuah hutan kecil,“ berkata Untara kepada Agung Sedayu, “kau tahu bahwa hutan itu adalah hutan terbuka meskipun terletak didalam tlatah Kademangan Jati Anom. Jika kau memerlukan maka kau dapat menghubungi Ki Demang. Mintalah izin untuk membuka tanah sesuai dengan perkembangan kebutuhanmu dan kebutuhan padepokanmu. Hutan itu tidak terlalu jauh dari pategalan yang kau buat mengjadi padepokan itu, sehingga hasil dari kerja membuka hutan itu akan dapat langsung kau rasakan.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Ia tahu, bahwa sawah peninggalan ayahnya tidak terlampau luas. Agaknya Untara masih belum ingin membicarakan pembagian warisan yang diterima dari ayahnya.

“Bukan begitu,“ berkata Kiai Gringsing ketika Agung Sedayu menyampaikannya persoalan itu kepadanya, “bukan karena Untara merasa segan membagi warisan, tetapi ia tentu mempunyai maksud lain yang jauh lebih baik dari sekedar pamrih.”

Agung Sedayu tidak menjawab.

“Ia ingin melihat kau bekerja sebagai seorang laki-laki. Itulah sebabnya ia menunjukkan hutan yang masih harus dibuka itu. Kau dapat memahaminya?”

Agung Sedayu mengangguk lemah.

“Nah, bukankah dengan demikian, kerja berat benar benar harus kita lakukan meskipun belum sekuku ireng dibanding dengan kerja membuka Alas Mentaok?”

Agung Sedayu mengangguk angguk, iapun dapat mengerti keterangan gurunya. Agaknya kakaknya benar-benar ingin melihat ia bekerja seperti orang-orang lain bagi kepentingan dirinya dikemudiau hari.

Dalam kerja itu. Agung Sedayu justru dapat memahami. Apakah jadinya kelak jika ia masih saja berada di Sangkal Patung.

“Aku tidak tahu apakah dengan demikian aku masih akan dapat mempertahankan martabat orang tuaku,“ berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri.

Tetapi dengan kerja keras, ia masih dapat, berharap bahwa namanya akan dianggap sebagai keturunan Ki Sadewa.

“Pangkat dan kedudukan bukanlah ukuran martabat seseorang,” berkata pamannya pada suatu saat. Sehingga Agung Sedayu menjadi semakin yakin, bahwa dengan kerja ia akan menemukan dirinya sebagai anak Ki Sadewa.

Demikianlah dari hari ke hari, padepokan kecil itu mulai nampak hidup dan berkembang. Halaman depan rumah induknya selalu nampak bersih dan terpelihara. Beberapa batang pohon bunga yang ditanam oleh Agung Sedayu mulai tumbuh dan berdaun hijau. Setiap pagi dan sore Glagah Putih tidak lupa menyiramnya, sehingga pepohonan itu menjadi tumbuh dengan subur.

Bahkan Glagah Putih telah dengan susah payah membendung parit dan atas ijin para petani di Kademangan, ia mengalirkan sebagian kecil air parit itu untuk mengisi sebuah belumbang, yang kemudian dipergunakannya untuk memelihara ikan.

Dipagi hari, jika matahari mulai memancar, cahayanya yang kuning memantul dari air belumbang yang bening membayang didedaunan yang hijau. Beberapa ekor angsa yang dibeli oleh Widura berenang dengan segarnya kian kemari tanpa lelah.

Ternyata bahwa Glagah Putih adalah seorang yang rajin bekerja.

Ketika Agung Sedayu dan Kiai Gringsing memutuskan untuk mulai membuka hutan bagi tanah persawahan, maka Glagah Putihpun tidak mau ketinggalan, membawa sebuah kapak pembelah kayu.

“Kau merebus air saja dipinggir hutan,“ berkata Agung Sedayu, “jika air mendidih, kau mulai menanak nasi. Kita tidak usah pulang kepadepokan. Kita makan disini.”

“Ah, itu kerja perempuan,” jawab Glagah Putih.

“Tidak. Dipeperangan yang berlangsung lama. maka laki-lakilah yang merebus air dan menanak nasi. Juga diperjalanan yang panjang menghampiri daerah lawan.”

Glagah Pulih mulai berpikir. Tetapi katanya kemudian, “Aku mau merebus air dan menanak nasi, tetapi sesudah itu, aku boleh ikut bekerja.”

Agung Sedayu tertawa. Katanya, “Baiklah. Tetapi tugas utamamu, menyediakan makan kami. Tanpa makan, maka semua kerja akan terbengkelai. Karena itu, jangan kau anggap kerja itu kerja yang tidak berarti.”

Glagah Putih tidak membantah. Dihari berikutnya ia membawa alat-alat untuk merebus air dan menanak nasi.

Dengan sungguh-sungguh Agung Sedayu dan Kiai Gringsing, dibantu oleh Glagah Putih dan Ki Waskita, telah bekerja untuk membuka hutan. Ternyata bahwa kerja mereka tidak sia-sia. Pada saatnya, maka telah terbentang tanah yang sudah siap untuk ditanami, meskipun tidak begitu luas.

Atas persetujuan Ki Demang Jati Anom, maka tanah itupun kemudian menjadi milik penghuni padepokan kecil itu. Bahkan jika mereka kelak memerlukan, Ki Demang rnasih akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk membuka hutan lebih luas lagi.

“Untuk sementara sudah cukup,“ berkata Agung Sedayu.

“Tetapi bagaimana dengan kalian sebelum tanah itu menghasilkan?“ bertanya Ki Demang.

“Kami masih menjadi tanggungan kakang Untara dan paman Widura,“ jawab Agung sedayu.

Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi iapun kagum melihat kesungguhan kerja Agung Sedayu dan penghuni padepokan itu yang lain.

Namun dalam pada itu, ketika sawah mereka sudah mulai mendapat air dan dapat ditanami untuk pertama kali, mulailah mereka sempat memikirkan kerja yang lain. Agung Sedayu mulai memperhatikan Glagah Putih yang dalam saat-saat yang memungkinkan selalu melatih diri dengan bekal yang baru sedikit terbatas pada tata gerak dasar dari ilmu keturunan kakeknya yang disadap dari sumber yang sama dengan ilmu ayahnya

“Kiai,“ berkata Agung Sedayu kepada Kiai Gringsing dan Ki Waskita ketika mereka sudah mulai sempat beristirahat, “ilmu Glagah putih itulah yang aku katakan. Akupun sebenarnya merasa sayang, bahwa ilmu itu akan menjadi semakin susut dan bahkan kemudian hilang sama sekali.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam dalam Katanya, “Agung Sedayu. Aku termasuk salah seorang yang mengenal ayahmu dengan baik. Meskipun waktu itu aku adalah Ki Tanu Metir dari Dukuh Pakuwon. Tetapi ayahmu mengenal aku sebenarnya meskipun Untara dan kau belum mengenalku pada waktu itu. Karena itulah, akupun sebenarnya merasa sayang, jika ilmu Ki Sadewa yang disegani itu akan lenyap. Meskipun dalam beberapa hal, ilmu Ki Sadewa memiliki kelemahan karena bentuknya yang kurang tegas bersandar pada ciri-cirinya. Tetapi itu adalah karena Ki Sadewa bukan seseorang yang terbiasa menyombongkan diri dan ingin memperlihatkan kelebihannya kepada orang lain. Ia lebih senang menenggelamkan ilmu pada ciri-ciri yang umum dan banyak terdapat pada ilmu-ilmu yang lain. Tetapi disela-sela bentuknya yang kurang dapat dilihat ciri-ciri khususnya itu, sebenarnya tersembunyi unsur-unsur yang sangat dahsyat.”

Agung Sedayu hanya mengangguk anggukkan kepalanya saja.

“Diantaranya Agung Sedayu,” berkata Kiai Gringsing kemudian, “kau mewarisi, sadar atau tidak sadar, kemampuan bidik yang luar biasa, yang bahkan kurang mendapat perhatian dari Untara. Tetapi pada tingkat tertentu, muka kemampuan itu akan menjadi bekal ilmu yang sangat tinggi tingkatnya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia akan berhadapan dengan usaha yang cukup besar.

Ternyata bahwa kemudian gurunya dan bahkan Ki Waskita telah menyatakan kesediaannya untuk mencoba melihat-lihat unsur unsur gerak dasar dari ilmu yang menjadi semakin lemah itu. Mungkin dengan demikian mereka akan dapat membantu, mengangkat kembali ilmu itu ketingkat yang sewajarnya.

“Apakah aku harus mengatakannya kepadakakang Untara ?“ bertanya Agung Sedayu.

“Jangan dahulu,“ jawab Kiai Gringsing, “Bukannya aku hendak mengkesampingkan Untara. Tetapi harus kau akui Agung Sedayu, bahwa bagi Untara apa yang kau lakukan, tentu akan mendapat penilaian yang khusus, karena agaknya kau belum masuk kedalam batas rencana yang dianggapnya baik bagimu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Tetapi itu bukan berarti bahwa kita harus meninggalkannya untuk seterusnya. Jika pada suatu saat, keadaan sudah berkembang semakin baik, maka kita akan mengatakannya kepadanya.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu. “Tetapi sementara ini biarlah pamanmu Widura sajalah yang jika perlu menyampaikan persoalannya.”

Agung Sedayu mengangguk. Katanya, “Aku sangat berterima kasih kepada paman Widura. Agaknya paman Widura berusaha untuk menengahi pendirian kami yang sampai saat ini masih belum sesuai.”

“Ya. Pamanmu merasa bahwa ia adalah orang tuamu sekarang ini. Persoalan antara kau dan Untara adalah persoalannya.”

Dengan demikian, maka Agung Sedayu dan gurunya pun mulai mempersiapkan diri, disamping memperkembangkan padepokannya, juga berusaha untuk melihat kembali ilmu yang ditinggalkan oleh cabang perguruan yang telah mulai susut itu.

Namun dalam pada itu, di Sangkal Putung. Sekar Mirah mulai menjadi gelisah. Betapapun juga ia mencoba untuk mempertahankan harga dirinya, tetapi ada dorongan dihatinya untuk pada suatu kali pergi kepadepokan kecil itu. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan Agung Sedayu yang meskipun menurut penilaiannya anak muda itu mempunyai banyak kelemahan sikap dan pandangan hidup, namun Sekar Mirah tidak dapat ingkar, bahwa ada ikatan yang tidak dapat diurai yang membelit dihati.

Karena itulah, maka ketika ia tidak dapat menahan gejolak hatinya, ia menyatakan keinginannya itu pertama-tama justru kepada gurunya. Tidak kepada ayahnya.

Ki Sumangkar menarik nafas dalam dalam. Katanya, “Sekar Mirah. Sebenarnya aku sudah menunggu, kapan kau menyatakan keinginanmu untuk pergi ke padepokan itu. Tetapi kau tidak mau mendahului keinginan yang akan kau nyatakan, karena aku mengenal tabiat dan sifat-sifatmu. Tetapi apakah salahnya jika pada suatu saat kita berbicara dengan hati nurani. Tidak dengan sikap yang sudah diwarnai oleh nafsu yang betapapun bentuknya.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam dalam. Tetapi ia-pun menganggukan kepadanya meskipun ada beberapa bagian yang tidak segera dapat diserap untuk disesuaikan dengan sifat-sifatnya yang tinggi hati.

“Sekar Mirah,“ berkata Ki Sumangkar kemudian, “sebaiknya kau segera menentukan, kapan kita akan pergi, dan sebaiknya kau minta ijin dahulu kepada ayah dan barangkali juga sebaiknya memberitahukan kepada kakakmu Swandaru, yang barangkali akan memberikan beberapa pesan bagi Agung Sedayu.”

Ternyata Sekar Mirah sudah benar-benar didesak oleh keinginannya untuk pergi, sehingga iapun segera menemui ayahnya dan menyampaikan keinginannya itu.

“Bukan saja karena aku ingin bertemu dengan kakang Agung Sedayu,“ berkata Sekar Mirah, “tetapi aku juga ingin melihat, apakah padepokan yang dibangunnya itu melampaui padepokan-padepokan yang pernah aku lihat sebelumnya.”

Sumangkar yang ada pula pada saat itu hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Ternyata Ki Demangpun tidak berkeberatan. Hanya Swandaru sajalah yang agaknya mempunyai penilaian lain. Katanya, “Kau harus menjaga dirimu Mirah. Kau adalah seorang gadis. Dan kau bukan anak orang kebanyakan yang dapat diperlakukan sekehendak hati. Jika kau ingin juga melihat padepokan itu, kau harus bersikap sewajarnya bagi seorang gadis yang berkedudukkan.”

“Tentu kakang.” Jawab Sekar Mirah, “aku tidak akan pergi ngunggah-unggahi. Tetapi aku ingin melihat, apakah padepokan itu ada nilainya bagi kami.”

“Ah,“ Ki Sumangkar berdesis, “nilai sesuatu ujud memang mempunyai ukuran yang dapat dihayati secara umum oleh kebanyakan orang. Tetapi kita menilainya dengan bekal dan keinginan yang lain, maka nilai itupun akan dapat berubah-ubah menurut dasar penilaian masing-masing. Mungkin padepokan itu sangat berarti bagi Agung Sedayu, tetapi sama sekali tidak bernilai bagi orang lain. Itulah sebabnya, maka kewajaran sikap yang sesuai dengan pesan angger Swandaru adalah meragukan sekali, karena yang wajar itupun kadang-kadang sama sekali tidak wajar.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kiai, apakah Sekar Mirah tidak berhak ikut berbicara tentang masa depannya sendiri? Jika kita mengakui hubungan apakah yang ada antara Agung Sedayu dan Sekar Mirah, maka adalah wajar menurut penilaian yang wajar pula, bahwa Sekar Mirah ingin ikut menentukan apakah jalan akan dilaluinya bersama Agung Sedayu sudah menemukan arah yang tepat? Kitapun tidak dapat mengingkari, bahwa Sekar Mirah tentu ingin melihat kedudukan Agung Sedayu seimbang dengan kedudukan kelak. Aku adalah Demang di Sangkal Putung dan Kepala Tanah Perdikan di Menoreh atas nama isteriku. Sudah barang tentu aku tidak akan sampai hati melihat adikku satu-satunya hidup terpencil dipadepokan kecil yang tidak mempunyai arti sama sekali dalam perkembangan keseluruhan bagi Pajang atau Mataram.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan. Jawabnya, “Itulah yang aku maksud. Yang wajar itupun kadang kadang menjadi tidak wajar. Juga tingkat dan taraf kehidupan seseorang. Bagiku, tingkat kehidupan yang layak terletak kepada diri kita sendiri. Jika hati kita menemukan persesuaian, maka akan tenanglah hidup kita selanjutnya.”

Swandaru memandang Ki Sumangkar dengan tajamnya. Sejenak iapun termangu-mangu. Namun kemudian ia tidak dapat menahan gejolak dihatinya dan berkata, “Kiai sudah membelakangi hidup kedumawian, karena barangkali umur Kiai yang menjadi semakin tua. Mungkin Kiai merasa sudah waktunya untuk menemukan ketenangan hidup. Baik yang bersifat lahir apalagi batin. Tetapi bagi kami yang muda, maka ketenangan hidup masih harus dinilai dengan sikap kemudian kami. Justru kamilah yang seharusnya memberikan bentuk dan warna kepada keadaan disekitarnya. Bukan sekedar menyesuaikan diri menurut apa adanya. Dengan demikian maka semua usaha akan terhenti, dan kita akan tetap dalam keadaan kita seperti sekarang tanpa kemajuan apapun juga.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam dalam, Katanya, “Sikap dan pendirian itu benar. Tetapi tidak berlebih-lebihan. Jika kita ingin berbuat sesuatu, maka kita tidak dapat mengingkari kenyataan yang ada sebagai landasan. Justru sikap itulah yang akan banyak merubah keadaan. Tetapi jika kita tidak mau melihat yang ada, maka kita akan melakukan beberapa kesalahan berturut turut, karena kita tidak beralaskan kepada kenyataan itu.“ Ki Sumangkar berhenti sejenak. Lalu. “misalnya tentang Agung Sedayu. Ia harus berjuang sekuat-kuatnya. Tetapi ia harus berlandaskan kenyataannya sekarang. Ia harus mulai dari sebuah padepokan kecil, karena memang hanya itulah yang dapat dijangkaunya. Di atas alas yang ada itulah maka ia harus berjuang untuk mencapai perubahan demi perubahan sehingga sampai pada suatu tataran yang lebih baik. Dengan menerima kenyataan yang ada, maka semuanya akan berlangsung tanpa banyak mengeluh dan menyesali keadaan.”

Swandaru menegang sesaat. Tetapi meskipun demikian ia dapat melihat sepercik kebenaran pada kata-kata Ki Sumangkar. Namun, bagaimanapun juga ia menganggap bahwa sikap itu adalah sikap yang terlampau lemah dan ketua-tuaan, seolah-olah seseorang harus berbuat sesuatu menurut keadaan yang mungkin saja dilakukan seadanya agar hidupnya menjadi tenang dan tenteram.

“Itu bukan perjuangan,“ berkata Swandaru didalam hatinya. Tetapi ia masih menghormati Ki Sumangkar sehingga ia tidak membantahnya lagi.

Demikianlah, maka Sekar Mirahpun segera berkemas untuk pergi. Sebenarnya keinginan yang sama telah mendesak jantung Pandan Wangi. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Ia merasa tidak pantas sama sekali untuk menyatakan keinginannya itu kepada suaminya atau kepada siapapun juga.

Karena itu, maka iapun menahan keinginannya itu didalam hatinya, betapapun beratnya. Apalagi jika ia sadar, bahwa keinginannya untuk pergi kepadepokan kecil itu bukannya sekedar ingin menilai kelemahan Agung Sedayu dan kekerdilan usaha yang sedang dilakukan itu. Tetapi justru dengan kekaguman akan kebesaran jiwa anak muda itu.

“Kakaknya adalah seorang Senopati besar yang disegani lawan dan dihormati kawan. Tetapi ia tidak segan-segan bekerja keras untuk membuka sebuah padepokan kecil yang tidak berarti. Tetapi yang dengan kemauan yang keras dibangun dengan harapan-harapan bagi masa depannya,“ berkata Pandan Wangi didalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya kepada siapapun juga.Kkarena ia sadar, bahwa dengan demikian akan dapat menimbulkan salah paham.

Ketika Pandan Wangi kemudian harus melepas Sekar Mirah pergi bersama gurunya dan dua orang pengawal, terasa sesuatu bergejolak didalam hatinya. Namun iapun segera sadar, bahwa ia telah diganggu oleh perasaan iri. Dan iapun sadar, bahwa nalarnya harus bekerja keras untuk menekan perasaan itu dalam-dalam.

Sejenak kemudian maka Sekar Mirah diiringi oleh guru dan dua orang pengawal telah berpacu disepanjang bulak yang panjang. Merekapun kemudian menyusuri jalan ditepi hutan. Meskipun menurut pertimbangan mereka keadaan sudah berangsur baik, tetapi mereka tidak kehilangan kewaspadaan, karena meskipun hutan itu tidak terlampau lebat, tetapi didalamnya masih mungkin tersimpan bahaya yang dapat menerkam mereka setiap saat.

Tetapi ternyata bahwa mereka sama sekali tidak mendapat gangguan apapun disepanjang jalan. Karena itulah maka merekapun tidak terhenti diperjalanan dan sampai kepadepokan kecil itu seperti yang direncanakan.

Beberapa puluh langkah dari regol padepokan, Sekar Mirah berhenti. Dengan wajah yang tegang dipandanginya padepokan kecil itu dari jarak yang tidak begitu jauh.

“Marilah Mirah,“ ajak gurunya, “kenapa kau berhenti ?”

SekarMirah memandang gurunya sejenak. Tetapi gurunya yang sudah berusia agak lanjut itu segera dapat menangkap perasaannya. Kecewa.

Tetapi Sekar Mirah melanjutkan juga perjalanannya menuju keregol padepokan yang terbuka itu.

Agaknya Glagah Putih yang berada dihalaman depan, melihat iring-iringan yang mendekat itu. Karena itulah maka iapun segera berlari-lari memberitahukan kehadiran beberapa orang tamu kepada kakak sepupunya yang kebetulan ada dipadepokan.

Agung Sedayu bersama Kiai Gringsing dan Ki Waskita pun kemudian dengan tergesa-gesa menyongsong tamunya yang datang dari Sangkal Putung itu.

“Marilah Kiai,“ Agung Sedayu mempersilahkan, “marilah Mirah. Aku percaya bahwa pada suatu saat, kau akan melihat padepokanku.”

Sekar Mirah mencoba untuk tersenyum betapapun kecutnya. Dimuka regol merekapun meloncat turun dan menuntun kudanya memasuki halaman. Dibelakang regol Kiai Gringsing menyambut mereka sambil tertawa, “Selamat datang dipadepokan kecil ini.”

Merekapun kemudian menyerahkan kuda mereka kepada para pengawalnya yang kemudian mengikatnya pada pohon-pohon perdu dihalaman.

“Ternyata dihalaman itu perlu beberapa patok untuk mengikat kendali kuda,“ berkata Glagah Putih didalam hatinya. Dan iapun sudah merencanakan untuk menyiapkan beberapa potong bambu untuk membuat patok penambat kendali kuda.

Sejenak kemudian merekapun telah duduk di pendapa. Sejenak mereka saling mengucapkan selamat sebelum mereka kemudian mulai membicarakan tentang padepokan yang baru itu.

Dalam pada itu dibelakang, Glagah Putih telah sibuk merebus air untuk menyediakan hidangan bagi tamu-tamunya.

Dipendapa, pembicaraan Sekar Mirah mulai merambat pada padepokan kecil yang baru selesai dibangun itu. Beberapa kali ia mengeluh, bahwa kerja semacam ini tidak akan banyak mempunyai arti, selain membuang-buang waktu saja.

“Betapa kecilnya padepokan ini, tetapi untuk membangun rumah dan dinding batu itu tentu diperlukan beaya,“ berkata Sekar Mirah.

“Ya, tentu.” jawab Agung Sedayu, “paman Widura dan kakang Untara telah menyediakan bagiku.”

Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bukankah itu juga berati bahwa kau tidak berdiri atas hasil kerjamu sendiri? Bukankah dengan demikian berarti bahwa kau juga memerlukan pertolongan orang lain ?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Tetapi sebelum ia menjawab. Ki Sumangkar telah mendahului, “Tetapi itu adalah haknya Sekar Mirah. Ki Widura adalah pamannya, sedang Untara adalah kakaknya Agung Sedayu berhak menerima apapun dari mereka. Agak berbeda dengan pemberian orang lain, meskipun dengan ikhlas. Apalagi tanah ini memang tanah Agung Sedayu sendiri.”

Sekar Mirah memandang gurunya sekilas. Jika saja bukan Ki Sumangkar, maka ia masih akan membantah. Tetapi terhadap gurunya, Sekar Mirah merasa segan untuk berbantah.

Sejenak kemudian, setelah mereka minum minuman panas yang dihidangkan oleh Glagah Putih, merekapun memerlukan mengitari padepokan kecil itu untuk melihat-lihat apakah yang sudah dapat dibangun dalam waktu yang terhitung singkat itu.

Tetapi tidak ada satupun yang memberikan kepuasan bagi Sekar Mirah. Semuanya serba kurang dan mengecewakan.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 29 Desember 2008 at 02:23  Comments (234)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

234 Komentar

  1. Raden Ronggo Ngudar sabdo :

    Sing sopo tanggap ing sasmito, ing kono panggone lontar 101 kang di arep-arep poro cantrik.

    Salam hormat untuk mas Rizal.
    Hati-hati dengan ilmu semu ki GD. Ngedap-edap-i.
    Yang belum dapat selamat mengurai ilmu semu ki GD.
    Sebagai petunjuk……:
    – silahkan mesu diri 7 hari 7 malam mutih.
    – hari pertama minum susu, nasi putih dan putih
    telor goreng, sekenyangnya. juga untuk hari-hari
    selanjutnya. kemudian lihat blok ini cermati huruf
    demi huruf (dari tampilan s/d coment), hingga ilmu semu akan terurai dengan sendirinya, maka tampaklah lontar 101 bersama wajah mas Rizal si pelopor ADBM.

    SELAMT MESU DIRI…………. DUOOOOOORRRR!!!

  2. Yaaahh memang Maz Rizal tuuuh lagi ngumpetttt
    Suwun Ki GD

  3. Salam kenal Ki GD

    Saya agak bingung , apa bener udah ada ADBM yg 101 ??
    saya baca cuma sampai 88.
    Kalo nggga keberatan bagaimana cara downloud nya
    89 sampai 101 ???

    terima kasih

  4. Wah matur nuwun sanget Ki GD … rontal 101 sampun diunduh …

  5. weleh weleh…
    dari tadi nyari Mas Rizal yg ngepit kitab 101
    eh…, beliau lagi enak2 duduk di teras depan
    padepokan ini….
    duh kenapa ga ngetok pintu Mas…,
    jadi ga tau ada tamu di depan pintu…..
    trims kitabnya mas…..

  6. terima kasih Ki GD, saya sudah ngambil dan mempelajari rontal II-1 yg dititip ke mas Rizal, di gerbang depan pedepokan ADBMcadangan ini..,

    btw, sekarang kalo mo gelar lapak buat ikut ngantri pengambilan jatah rontal II-2 dimana ya ???

  7. Matur nuwun Ki GD.

    Akhirnya ketemu juga kitab 101nya……..

    Trima kasih juga Mas Rizal atas jasanya memulai padepokan ADBM ini dan kesediaannya memegang kitab 101……. Smoga Anda selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungan-Nya

  8. rasa rasanya para cantrik tdk akan kesulitan lagi buat ambil kitab 101.., dan silakan mempelajari isi kitab…….mudah2an dapat mendekati ilmu Agung sedayu di dalam goa…, yg dengan tatapan matanya – tersalur dengan kekuatan mata batin ….blllaaarrr dapat memecahkan sebongkah batu padas…!!!!, jadi mirip mata suparman… eh superman bikinan amrik ya…!!.mungkin namanya Aji Mata Malaikat dari Goa Hantu….!
    kisanak jangan berpikir dapat ilmu itu…, bahaya.. ntar para ATM jadi jebol….hehehehe.
    nah bisa dibayangkan kalo yg ditatap itu perut swandaru yg mulai banyak tingkah…., ambrol…!!!

  9. Pepatah jawa mengatakan : Malu bertanya sesat di jalan. tetapi kalau yang di tanya tidak mau memberitahu jalan….ya berabe…dech…hehehe……terima kasih Ki GeDe, terima kasih para cantrik yang sekedar memberi bahasa isyarat dan juga terima kasih untuk Mas Rizal semoga sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.
    Akhirnya dapat juga kitab jilid 101nya walau dengan jalan muter2, bingung, gregetan dan tanya sana sini.
    Teng yu….teng yu….

  10. Matur nuwun para kadang…isyarat kitab 101 sampun jelas. Matur nuwn sanget Ki Wasid, Ki GD, Mas Rizal.

    Cantrik mBeling

  11. Utk kitab II ini memang Ki GD sangat berhati2 dlm membagikan dasar2 jurusnya ke poro cantrik, kawatir nanti tidak adil…sehingga tiap jurus akan dibukak setelah Ki GD memastikan seluruh cantrik menguasai jurus sebelumnya….

    Tapi kayaknya akan semakin melambat perkembangan jurus2nya, dan akan ketinggalan dari cantrik2 Sangkal Putung yg tiap hari giat memperdalam jurus2

  12. Wuahahahaahahahahaha! Tak kira ada di mana…gitu. Ternyata~ternyata.

  13. Ananda Arya Selaka, ” mohon bantuan ” kisi-kisi buku nomor 101, karena berkat bimbingan ananda, saya telah menyelesaikan jilid 100

    saya teringat jaman togel, rekan-rekan pada membalik-balikkan koran untuk mencari penampakan.

  14. adi arya selaka, tolong dibantu kisi-kisi nya

  15. hampir saja saya kenak gendam sampai terbawa terlalu jauh.untung teman2 menyadarkan saya he he he. Terima kasih Ki Gede…

  16. Tuntas sudah kitab 101, harap-harap cemas nunggu perkembangan hasil dari pembajaan Agung Sedayu di kitab 102. Bagaimana pula halnya dengan Swandaru ?

  17. aku wis nemu lan ngunduh kitab 101- lagi donlot, matur nuwun mas

  18. @Ki Ronggolawe
    Mas Rizal dapat ditemui di Halaman Depan Padepokan ini.
    Gampangnya gini Ki, di halaman ini, di bagian paling atas, ada tulisan nama kitab kesayangan para cantrik yang apabila di klik akan membawa kita ke halaman depan Padepokan di mana Mas Rizal yang penampilannya cukup menonjol karena ‘baju’ nya lain dari pada yang lain, tengah bercengkerama di sana.
    Monggo dipun sekecakaken Kakang Ronggo….

  19. dari tlatah Mangir, sudah saya donlot Ki Gede, kasihan mas Rizal cuma dititipi dan jaga regol Padepokan, nggak pernah mau kalau disuruh masuk…

  20. masih belum bisa buka buku II-1 ? gimana caranya

  21. nuwun sewu ki GD,
    kulo absen lan matur nuwun kitab’ipun, sampun kulo unduh saking “nggriyanipun” mas rizal.

  22. saya kok nggak bisa buka mulai jilid 89 la yok nopo to caranipun nyuwun prikso

  23. Matur nuwun Ki GD

    Kami sekeluarga turut berduka cita

  24. link donlodnya dimana pakdhe?

  25. Sudah beberapa hari sempat mengucapkan selamat pagi .. karena lagi nggak enak badan …. baru sekarang punya kesempatan ….

    Ki Gede …. silahkan rontalnya diturunkan …. secara wadag saya sudah siap …. demikian keadaan batin saya.

    Terima kasih …….

  26. Syukurlah meski di penghujung senja januari awal 2009, sampai juga di kitab seri 2 buku 1, alhamdulillah syukur bisa segera menikmati jurus 101 yang barusan diambil, bakalan wayangan nih….

  27. Uedan tenan, ngantos meh copot netra kawula anjingglengi padepokanipun Kiai Gringsing. Ooo .. lha kok ndelikipun wela-wela. Maturnuwun Ki Gede, tuwin ngaturaken sugeng tepangan dumateng sedoyo cantrik warga padepokan.

  28. tolong dong yahh kasih tahu jilib 101 mana nihh..pusingcari sana sini..nggak ketemu

  29. Sama mas, saya juga bingung ga nemu2…
    Tolong juga dibantu, maklum ilmunya belum nyampe…

  30. Unik-unik-unik, ternyata ditaruh disini to, unduh dulu 101.ppt nya.

  31. Ngunduhnya dimana yamas… maklum gaptek…

  32. gimana nihh…..kok dirahasia2 kan sihh jilid 101 keatas…mempermudah adalah sebagian amalan.

    thx

  33. Nyuwun sewu Ki GD dan Nyi Seno, tidak tega pada rekan-rekan sesama cantrik yang masih kesulitan dapat kitab 101, terpaksa buka rahasia.

    1. Pada halaman ini paling atas ada tulisan “API DI BUKIT MENOREH”. Silakan di klik.
    2. Muncul halaman utama, cari kata-kata “Mas Rizal”, disitulah letak kitab 101.
    2. Bagi yang kesulitan baca buku yang telah diunduh, caranya sangat mudah dengan rename file yang telah diunduh menjadi file dengan extension djvu.
    3. Untuk membaca file djvu harus menggunakan software yang bisa diunduh di “Halaman Lain” di bagian “Halaman Unduh”

    Semoga bermanfaat.

  34. pengelola situs ini serius ngak sih . . .kok pake dipersulit aksesnya, yang pake djvu pake apa segala.. . mbok kaya seri 001 sampe 97 yg mudah dibaca . . kalo ngak niat bikin dan share mbok gak usah pamer.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: