Buku II-74

174-00

Halaman: 1 2

Telah Terbit on 11 Maret 2009 at 15:04  Comments (372)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-ii-74/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

372 KomentarMeninggalkan komentar

  1. terima kasih

  2. tengkiyu kitabnya Nyai,
    bisa untuk tambahan menu makan pagi.

  3. Pengin Nggak Sakaw?
    Download aja kitabnya, tapi jangan dibaca,
    Baca aja commentnya….

  4. Terima kasih ya……

    salam,

  5. wheeeeladhalah…

    baru pulang nganglang, sudah diwenehi sarapan.

    trims nyai…

  6. _
    /’\_/`\ ( )_
    | | _ _ | ,_) _ _ _ __
    | (_) | /’_` )| | ( ) ( )( ‘__)
    | | | |( (_| || |_ | (_) || |
    (_) (_)`\__,_)`\__)`\___/'(_)

    ___
    ( _`\
    | (_(_) _ _ _ _ _ _ _ ___
    `\__ \ ( ) ( )( ) ( ) ( )( ) ( )/’ _ `\
    ( )_) || (_) || \_/ \_/ || (_) || ( ) |
    `\____)`\___/’`\___x___/’`\___/'(_) (_)

  7. Babaaaaaat…… matur tx Nyimas, Ki GD…

  8. terimaksih,maturnuwun,tengkyu….

  9. terima kasih bu seno
    mohon maaf sementara ini cuma bisa ngunduh dan komen, belum bisa bantu-bantu retype

  10. nuwun nyimas Seno

  11. maturnuwun bulek Seno ..
    ..pada akhirnya, setelah banyak yang sak-kuau. tapi tembang tengah malamnya ki Manahan, ki A. Raharjo, ki Semprul dkk. betul-betul bikin mrinding …

    salam untuk ki GD DD ..

  12. Matur nuwun Kang mbokayu Ati…..

  13. matur nuwun

  14. matur nuwun sanget.

  15. Bertanya-tanya dalam hati, dari ribuan cantrik saat ini hanya Ki Ajar Gurawa yg aktif meretype rontal. Apakah memang sedang dalam jatah Ki Ajar, atau hanya Ki Ajar yang peduli dengan ke-sakaw-an kami yg tidak punya gaman compie ?

    * Nyi Seno/Ki Gedhe/bebahu padepokan, pripun niki ? Nyuwun kawigatosan….

  16. Halo…halo….

  17. Monggo, satu lagi

    JILID 174

    bagian 1

    TETAPI lawannya adalah orang-orang yang berpengalaman. Karena itu, maka pada saat-saat tertentu, mereka pun berhasil mengambil sikap. Bahkan tiba-tiba ketika pisau-pisau meluncur ke arah tiga ujud yang dilontarkan oleh kedua bajak laut itu, terdengar desis perlahan. Sebuah pisau berhasil menyusup ilmu kebal Agung Sedayu dan mengenai sekaligus mengoyak lengannya.
    Ketegangan pun menjadi semakin memuncak. Agung Sedayu telah mempergunakan cambuknya dan berusaha memperpendek jarak. Namun ternyata bahwa melawan dua orang bajak laut dengan ilmu mereka yang tinggi itu, Agung Sedayu benar-benar mengalami kesulitan. Bahkan kemudian Agung Sedayu yang sudah terluka itu, seakan-akan tidak mendapat banyak kesempatan untuk menyerang. Sekali-kali bajak laut itu meluncurkan kabut-kabut panasnya yang ternyata mempengaruhi ketahanan perlawanan Agung Sedayu pula. Namun, tiba-tiba Agung Sedayu harus bertahan atas serangan rangkap dengan ilmu Gelap Ngampar. Ternyata serangan rangkap itu mulai mempengaruhi isi dadanya, sedangkan pada saat-saat lain, pisau-pisau yang mampu menembus ilmu kebalnya itu pun berterbangan.
    Sedangkan di bagian lain, Ki Waskita pun segera mengalami tekanan yang berat pula. Sekali-sekali lawannya mulai melontarkan pisau mautnya. Bara yang menyilaukan itu benar-benar telah mendebarkan jantung Ki Waskita. Ketika ia terpaksa menangkis pisau-pisau itu dengan ikat kepalanya yang membalut pergelangan tangannya, rasa-rasanya tangannya hampir retak karenanya, meskipun ia sudah berusaha untuk tidak membentur langsung serangan itu.
    Namun ia menarik nafas panjang, ketika ternyata ikat kepalanya tidak terkoyak karenanya, meskipun pisau lawannya yang membara itu terasa panasnya bukan main. Bukan saja pada pergelangan tangannya yang hampir retak, tetapi juga seakan-akan telah memanasi udara yang menerpa tubuhnya pada desing sambaran senjata lawannya itu

    Tetapi beberapa saat kemudian, serangan-serangan bajak laut itu dengan kabut panasnya dan pisau-pisaunya yang membara, membuat Ki Waskita menjadi semakin terdesak.
    Demikian juga, telah terjadi pada Agung Sedayu. Kedua orang bajak laut yang kadang-kadang berhasil dibingungkan oleh ketiga ujud Agung Sedayu yang membaur, yang menyerang bergantian dan saling bertukar tempat itu, kadang-kadang dapat juga menguasai keadaan dan menyerang dengan dahsyatnya, sehingga menyentuh tubuh Agung Sedayu.
    Di pinggir Arena Ki Gede Menoreh, Ki Lurah Branjangan dan Sekar Mirah menjadi semakin gelisah. Rasa-rasanya mereka tidak lagi pantas untuk tetap berdiam diri di pinggir arena, justru pada saat Agung Sedayu dan Ki Waskita mengalami kesulitan.
    Dalam pada itu, Kiai Gringsing, Swandaru dan Sekar Mirah masih berada di perjalanan mengikuti Glagah Putih yang tergesa-gesa. Tetapi perjalanan mereka masih cukup jauh, sehingga sebagaimana dikatakan oleh Pandan Wangi, menjelang pagi atau bahkan pada saat. matahari terbit, mereka baru akan sampai. Swandaru sama sekali tidak menunjukkan sikap ketergesa-gesaannya, karena ia mengira bahwa segala sesuatunya tidak akan segera terjadi, sebagaimana dikatakan pula oleh Glagah Putih sendiri.
    Karena itu, maka hanya karena Glagah Putih yang berpacu secepatnya sajalah, maka yang lain pun mempercepat perjalanan mereka. Dalam gelapnya malam, maka mereka pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Kali Praga.
    Sebagaimana diperhitungkan oleh Kiai Gringsing, maka perjalanan mereka tidak dihambat oleh peronda-peronda dari Mataram, sehingga mereka tidak terpaksa harus berada di barak-barak penjagaan untuk waktu yang lama.
    Namun sementara itu, keadaan medan sudah menjadi semakin parah. Ki Waskita masih berusaha untuk bertahan. Ia berharap bahwa ia akan dapat bertahan sampai saatnya Agung Sedayu mengurangi tekanan lawannya.
    Tetapi yang terjadi atas Agung Sedayu tidak berbeda dari yang terjadi pada Ki Waskita.
    Dalam keadaan yang demikian, Sekar Mirah sudah tidak telaten lagi. Dengan suara bergetar ia berkata kepada Ki Gede “Aku tidak dapat membiarkan suamiku mengalami kesulitan yang gawat di hadapanku tanpa berbuat apa-apa. Jika dalam arena ini, kami berdua harus mati, biarlah kami mati bersama-sama.”
    “Tunggu” Ki Gede menahannya “aku adalah orang yang paling pantas untuk turun ke arena setelah Ki Waskita”
    “Aku adalah isterinya, Ki Gede. Apalagi Ki Gede mempunyai satu kelemahan, justru pada kaki Ki Gede” jawab Sekar Mirah.
    “Aku sudah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan keadaan kakiku yang kadang-kadang memang sering mengganggu” jawab Ki Gede.
    Namun dalam pada itu, ketika Sekar Mirah kemudian memaksa untuk memasuki arena, terdengar suara perlahan di sebelah mereka “Jangan tergesa-gesa. Bukankah Ki Waskita sudah berpesan kepada kalian?-
    Orang-orang itu berpaling. Mereka menjadi berdebar-debar ketika mereka melihat seseorang berdiri dalam kegelapan dengan tangan bersilang di dada. Sementara itu sebuah caping bambu yang lebar menutupi kepalanya.
    “Siapa kau” desis Sekar Mirah.
    Orang itu tidak menjawab. Namun ia pun kemudian melepaskan capingnya yang besar sambil melangkah maju. Katanya, “Kalian bukan lawan bajak laut itu. Jika kalian tampil, apalagi Sekar Mirah, maka tugas Agung Sedayu akan menjadi semakin berat, karena ia dibebani pula oleh kegelisahan.”
    “Kegelisahan apa?” bertanya Sekar Mirah.
    “Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atasmu” jawab orang itu.
    “Kau menghina aku. Siapa kau? Apakah kau kawan dari bajak Iaut itu pula?” bertanya Sekar Mirah.
    “Tidak” orang itu masih bergeser setapak demi setapak maju mendekati arena. Lalu katanya “Tenanglah. Aku akan mencoba mempengaruhi medan itu. Mudah-mudahan aku berhasil menarik perhatian bajak laut yang melawan Agung Sedayu berdua.”
    “Apakah kau merasa memiliki kemampuan melampaui aku dan bahkan Ki Gede Menoreh?” desak Sekar Mirah.
    Orang itu tidak menjawab. Tetapi ia justru berkata “Mereka bukan lawan kalian. Yakinilah. Aku tidak ingin menghina kalian. Tetapi dalam keadaan seperti ini sebaiknya aku berkata berterus terang agar kalian tidak terjerumus kedalam kesulitan”
    Sekar Mirah menggeretakkan giginya.Tetapi ia tidak berhasil mengetahui dengan pasti, siapakah orang yang datang itu.
    Namun dalam pada itu, Ki Gede lah yang menjadi ragu-ragu. Ia tidak menahan orang itu dan tidak membantahnya. Rasa-rasanya ia sudah dapat mengenali orang itu. Namun karena keragu-raguannya, Ki Gede tidak menyebutnya.
    Tetapi ia berkata kepada Sekar Mirah “Kita menunggu apa yang bakal terjadi.”
    “Jika orang itu curang dan bahkan salah seorang dari bajak-laut yang licik itu, maka keadaan kakang Agung Sedayu akan menjadi semakin parah.” jawab Sekar Mirah.
    Namun ternyata Ki Lurah pun merasa bahwa ia sudah mengenal orang itu pula, meskipun seperti juga Ki Gede, ia merasa ragu-ragu. Dan karena itu, maka ia pun merasa lebih baik untuk tidak menyebutnya.
    Dalam pada itu, orang yang dalam pakaian kelam di kegelapan itu semakin lama semakin mendekati mereka yang sedang bertempur. Ia pun kemudian memasuki arena yang terasa menjadi semakin panas oleh ilmu bajak laut yang garang itu. Tetapi orang itu tidak berhenti.
    Dalam pada itu, keadaan Agung Sedayu telah menjadi semakin sulit. la memang berhasil mengenai tubuh bajak laut yang sudah terluka dengan cambuknya. Tetapi tubuhnya telah terkoyak pula oleh pisau-pisau yang berterbangan, menyambar ketiga ujud Agung Sedayu yang berloncatan dengan cepatnya.
    Orang yang memasuki arena itu menarik nafas dalam-dalam. Di dalam hatinya ia berkata “Beruntunglah, bahwa Agung Sedayu sudah berhasil menguasai ilmu yang pelik itu. Lebih tajam dari sekedar ujud semu yang dapat ditrapkan oleh Ki Waskita, yang tentu tidak akan banyak pengaruhnya apabila ujud-ujud semu itu ditrapkan untuk melawan bajak laut yang berilmu tinggi itu, karena ia dengan mudah akan segera dapat mengenali ujud yang sebenarnya dari ujud-ujud semu itu.”
    Dalam pada itu, maka orang itu pun tidak ingin membiarkan keadaan menjadi semakin parah. Dengan terbatuk-batuk kecil itu melangkah semakin dekat.
    Suaranya telah menarik perhatian orang-orang yang sedang bertempur itu. Baik Agung Sedayu, mau pun kedua bajak laut yang bertempur melawannya telah berpaling sekilas. Demikian pula Ki Waskita dan lawannya.
    Dalam kegelapan mereka melihat seseorang berjalan dengan tenangnya mendekati arena pertempuran yang panas dibakar oleh ilmu yang sedang berbenturan itu. Namun orang itu tidak menghiraukannya. Bahkan semakin lama ia pun semakin mendekati Agung Sedayu.
    Kedatangannya memang sangat menarik perhatian. Pertempuran antara Agung Sedayu melawan kedua orang bajak laut itu menjadi mengendor untuk sesaat, sementara orang itu menjadi semakin dekat.
    “Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur,” berkata orang itu, “tetapi sebagai seorang laki-laki aku merasa tersinggung melihat sikap bajak laut yang garang, yang menurut pengakuannya saudara seperguruan Ki Tumenggung Prabadaru dan bahkan memiliki ilmu yang lebih baik daripadanya.”
    Kedua bajak laut yang bertempur melawan Agung Sedayu itu justru telah berhenti bertempur sesaat. Seorang di antara mereka bertanya “Siapakah kau he? Dan apa maksudmu memasuki arena?”
    “Aku ingin memperingatkan, bahwa yang semula terjadi adalah perang tanding. Biarlah perang tanding itu selesai. Baru kemudian kau atau salah seorang dari kalian berdua boleh ikut.” jawab orang yang memasuki arena itu.
    “Apa pedulimu. Kami ingin membantainya dan membawa kepalanya untuk kami awetkan dan kami alumkan sehingga sebesar kepalan tanganku ini. Kepala orang yang berilmu tinggi akan dapat memberikan pengaruh baik bagi bajak laut yang setiap hari mengarungi samodra dan berjuang melawan deru gelombang.” ja¬wab bajak laut itu.
    “Aku tidak berkeberatan kalian melakukannya. Tetapi setelah salah seorang di antara kalian memenangkan perang tanding.” berkata orang yang datang itu pula, “tetapi kalian telah mencemarkan nama kalian sendiri. Bukan selayaknya seorang yang memiliki pengalaman di samodra dan benua itu berbuat licik.”
    “Persetan,” geram salah seorang bajak laut itu, “jika kau ingin mati, marilah. Masih ada kesempatan untuk membunuh diri. Sekaligus kami akan membawa kepalamu pula bersama kepala orang tua yang ikut-ikutan bertempur itu pula.”
    Orang itu menebarkan pandangannya. Diamatinya Ki Waskita yang bertempur melawan salah seorang dari ketiga bajak laut itu. Namun kemudian katanya, “Marilah. Aku akan ikut serta. Aku akan melawan salah seorang dari bajak laut yang bertempur melawan Agung Sedayu. Karena Agung Sedayu juga sudah terluka, bahkan nampaknya luka itu agak parah, maka aku memilih lawan yang masih belum terluka. Biarlah bajak laut yang terlu¬ka itu melawan dan diselesaikan oleh Agung Sedayu. Sementara yang seorang akan aku selesaikan.”
    “Gila” bajak laut itu menjadi semakin marah. Dengan lantang tiba-tiba ia pun bertanya, “He, siapakah kau sebenarnya? Apakah kau memang sudah jemu hidup? Agung Sedayu yang katanya dapat membunuh kakang Tumenggung Prabadaru itu pun telah terluka cukup parah. Apalagi kau.”
    “Agung Sedayu terluka parah karena kecurangan kalian. Tetapi seandainya ia tetap dalam keadaan perang tanding, maka ia tentu sudah dapat menguasai lawannya, meskipun ia pun terluka. Aku menyaksikan pertempuran ini sejak semula” jawab orang itu.
    “Tetapi kau belum menjawab, siapa kau he?”
    Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Aku adalah putera Pajang yang bergelar Pangeran Benawa.”
    “Pangeran Benawa?” bajak laut itu mengulang. Namun Pangeran itu pernah didengarnya sejak ia masih berada di Pajang. Nama itu memang menggetarkan.
    Bukan saja bajak laut itu yang terkejut. Tetapi Sekar Mirah yang berada di luar arena pun terkejut pula. Di luar sadarnya ia bergeser mendekati Ki Gede sambil berdesis, “Apakah benar orang itu Pangeran Benawa?”
    Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang Ki Lurah Branjangan, Ki Lurah itu pun memandanginya pula sambil berdesis, “Aku memang sudah mengira. Tetapi dalam kegelapan dan pada jarak yang tidak terlalu dekat, aku merasa ragu-ragu untuk menyebutnya.”
    “Ya. Orang itu adalah Pangeran Benawa.” desis Ki Gede.
    Dalam pada itu Pangeran Benawa pun berkata, “Ki Sanak. Kedatangan kalian ke Pajang memang sangat menarik perhatian. Ketika kau masih berada di Pajang, aku berusaha untuk memperhatikan kalian dengan sungguh-sungguh. Aku menaruh hormat pada sikap kalian, karena kalian tidak membuat onar dan tidak melakukan satu tindakan yang dapat mengganggu tata kehidupan. Meskipun kedatangan kalian menarik perhatian beberapa kalangan, di antaranya aku sendiri. Tetapi ternyata ketika kau berada di sini, dalam perang tanding sikap kalian berubah.”
    “Berubah apa?” bertanya salah seorang bajak laut itu.
    “Kalian ternyata bukan seorang yang benar-benar jantan, yang menghargai dirinya sendiri sebagaimana nyawanya.” jawab Pangeran Benawa. Lalu, agaknya kecurigaanku memang terjadi. Meskipun aku menaruh hormat kepada kalian, namun ada juga sedikit kecurigaan, bahwa pada satu saat, kau akan melakukan satu kecurangan. Karena itu aku memerlukan datang ke Tanah Perdikan ini, mengamatimu dan kebetulan malam ini aku sempat melihat perang tanding yang tidak serasi ini.”
    “Persetan,” geram bajak laut itu “ternyata kecurangan Agung Sedayu kini terbukti. Kepergian anak muda itu agaknya telah menyusulmu.”
    “Anak muda siapa?” bertanya Pangeran Benawa.
    “Tanpa mendapat pemberitahuan, kau tidak akan mengetahui apa yang terjadi. Kau seorang Pangeran yang lebih banyak tinggal di istana dengan isteri-isterimu daripada berada di medan seperti ini” geram bajak laut itu.
    Pangeran Benawa termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sekali lagi ia bertanya, “siapa yang kau maksud dengan anak muda yang memberitahukan persoalan ini kepadaku?”
    “Bertanyalah kepada Agung Sedayu. Aku tidak tahu siapakah nama anak muda itu” jawab bajak laut itu.
    Agung Sedayu menyadari, bahwa yang dimaksud oleh bajak laut itu tentu Glagah Putih yang telah dilihat oleh bajak laut itu meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi sama sekali tidak memberitahukan persoalan itu kepada Pangeran Benawa.
    Karena itu, maka Agung Sedayu pun menyahut “Kau salah Ki Sanak. Glagah Putih tidak pergi ke Pajang dan memberitahukan kehadiran kalian kepada Pangeran Benawa. Agaknya Pangeran Benawa telah mengamati kalian sejak kalian berada di Pajang.”
    “Ya,” jawab Pangeran Benawa, “aku mengamati kalian sejak kalian masih berada di Pajang. Sekali-sekali kalian menunjukkan kelebihan kalian. Namun tingkah laku kalian masih belum sampai pada satu batas untuk diambil satu tindakan. Apalagi saat itu, kami di Pajang sedang disibukkan oleh pembicaraan-pembicaraan tentang pengganti Ayahanda Sultan yang akan memerintah Pajang. Apakah ia akan berkedudukan di Pajang atau bukan, itu bukan persoalan.” Pangeran Benawa berhenti sejenak. Seolah-olah ia terhisap oleh satu kenangan tentang Ayahandanya. Tetapi hanya sesaat. Karena ia pun segera melanjutkan, “Dalam keadaan yang demikian itu aku telah memerintahkan beberapa orang petugas sandi untuk mengamatimu. Tetapi ketika kalian meninggalkan Pajang, maka aku sendiri telah pergi mengamati kalian beserta dua orang kepercayaanku, yang sekarang ada juga disini. Tetapi mereka tidak perlu hadir, karena mereka tidak aku perlukan dalam arena ini. Ternyata kalian bertiga telah kami hadapi bertiga pula. Agung Sedayu sendiri, Ki Waskita dan kemudian aku.”
    “Persetan dengan sesorahmu,” geram salah seorang bajak laut itu, “jadi, kau pun telah ikut melibatkan diri? Jangan kau kira bahwa meskipun kau bernama Pangeran Benawa, putera Sultan Hadiwijaya yang terkenal itu akan dapat menggetarkan jantungku.”
    “Siapa bilang bahwa aku ingin menakut-nakutimu?” bertanya Pangeran Benawa, “bukankah aku hanya sekedar ingin menjadi orang ketiga yang akan menghadapi kalian bertiga? Tidak lebih dan tidak kurang. Apakah aku nanti akan menang atau kalah itu bukan persoalan? Bukankah kita tidak lagi terikat kepada paugeran perang tanding? Mungkin kita masing-masing bertiga akan bertempur berpasangan. Mungkin dua di antara kami. Mungkin seorang menghadapi seorang.”
    Bajak laut itu pun menjadi semakin marah. Tiba-tiba saja, tanpa memberikan isyarat apa pun, bajak laut itu telah menyerangnya dengan garangnya. Selembar kabut yang panas telah menyambar Pangeran Benawa yang berdiri di lingkaran pertempuran itu.
    Tetapi Pangeran Benawa yang memasuki arena itu sudah bersiaga sepenuhnya. Seperti Agung Sedayu, maka Pangeran Benawa pun dapat melihat kabut yang panasnya melampaui bara api itu.
    Karena itu, maka dengan tangkasnva Pangeran Bena¬wa itu pun telah meloncat ke samping menghindarkan diri dari sambaran kabut itu. Namun, yang terjadi kemudian adalah sangat mengejutkan. Ternyata Pangeran Benawa tidak ingin berada di bawah bayangan kemampuan lawannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja Pangeran Benawa pun telah menyerangnya. Dengan gerakan tangan yang pendek, maka seakan-akan lidah api telah menyambar lawannya dengan dahsyatnya. Hampir seperti pisau-pisau yang dilontarkan oleh bajak laut itu. Tetapi yang melun¬cur hanyalah cahaya yang menyala bagaikan bara api.
    Bajak laut itu terkejut. Dengan tergesa-gesa ia telah meloncat menghindar pula sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Benawa. Namun sekali lagi bajak laut itu terkejut. Ketika lidah api yang menyambar itu tidak menyen¬tuh tubuh bajak laut yang garang itu dan kemudian mematuk tanah, maka seolah-olah telah terjadi ledakan api yang menggetarkan bumi Watu Lawang.
    Bukan saja bajak laut itu yang terkejut. Tetapi semua orang yang menyaksikan itu telah tergetar pula hatinya. Bahkan Agung Sedayu pun tergetar pula hatinya. Ia pernah melihat ilmu yang mirip seperti yang dapat dilakukan oleh Pangeran Benawa itu. Ilmu yang dilontarkan oleh seseorang yang namanya membayangi Pajang untuk beberapa saat lamanya. Kakang Panji.
    Dalam pada itu, ternyata orang-orang itu tidak sempat lagi untuk berbicara. Mereka telah mendapatkan lawannya masing-masing. Ki Waskita, Pangeran Benawa dan Agung Sedayu masing-masing melawan seorang di antara bajak laut-bajak laut itu.
    Sejenak kemudian, maka pertempuran pun menjadi semakin dahsyat. Namun dalam pada itu, kesempatan mulai terbuka bagi Agung Sedayu. Meskipun tubuhnya telah terluka parah, namun lawannya pun telah terluka pula.
    Sementara itu, Pangeran Benawa agaknya telah memilih cara yang sesuai untuk menghadapi lawannya. Cara yang jarang dipergunakannya. Namun melawan bajak laut yang memiliki ilmu yang tinggi itu ternyata Pangeran Benawa telah bertempur dengan keras, sebagaimana dilakukan oleh lawannya.
    Dengan demikian, maka Pangeran Benawa telah berhasil mendesak lawannya, memisahkan diri, sehingga kemudian telah terjadi tiga arena pertempuran yang dahsyat pula. Masing-masing memiliki kelebihan yang dapat menggetarkan jantung.
    Dalam suasana yang demikian, maka Ki Waskita seolah-olah telah mendapat dorongan jiwani untuk menghadapi lawannya. Meskipun lawannya pun bertempur semakin garang, tetapi Ki Waskita seakan-akan merasa tubuhnya menjadi semakin ringan.
    Karena itu, maka sejenak kemudian, ikat pinggangnya pun telah berputaran seperti baling-baling. Suaranya berdesing-desing seperti puluhan ribu kumbang yang berterbangan. Bahkan sekali-sekali ujung ikat pinggangnya itu telah menyambar lawannya dengan dahsyatnya. Meskipun ujung ikat pinggang itu tidak menyentuh kulit lawannya yang menghindar, namun terasa tamparan angin pada kulit bajak laut itu membuatnya berdebar-debar.
    “Gila, apakah orang ini sudah kerasukan iblis Watu Lawang?-
    Namun sebenarnyalah bahwa Ki Waskita telah bertempur semakin mantap. Ia tidak lagi diganggu oleh kegelisahan tentang Agung Sedayu yang semula masih harus menghadapi dua orang bajak laut. Kini Agung Sedayu tinggal menghadapi seorang di antara bajak laut-bajak laut yang garang itu. Meskipun Agung Sedayu sendiri telah terluka, maka lawannya pun telah terluka pula. Keduanya sama-sama parah, sehingga masih ada kesempatan bagi Agung Sedayu untuk memenangkan pertempuran itu. Sementara di lingkaran pertempuran yang lain, Pangeran Benawa segera dapat mengimbangi kemampuan lawannya. Dengan keras ia membalas setiap serangan dengan serangan berjarak sebagaimana dilakukan oleh lawannya.
    Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa keadaan Agung Sedayu sudah menjadi semakin sulit. Luka-lukanya terlalu banyak mengeluarkan darah, sementara ia tidak sempat mengobatinya. Tetapi luka-luka lawannya pun mengeluarkan darah terlalu banyak pula.
    Di luar arena, Sekar Mirah masih dicengkam oleh ketegangan. Nafasnya menjadi agak lega ketika ia melihat Pangeran Benawa memasuki arena. Agung Sedayu yang semula harus menghadapi dua orang, lawannya telah berkurang karena yang seorang harus menghadapi Pangeran Benawa.
    Namun menilik sikapnya, nampak perubahan yang mencemaskan dalam, sikap dan langkah Agung Sedayu yang menjadi semakin lemah itu.
    “Keadaannya nampaknya sangat gawat Ki Gede” desis Sekar Mirah.
    Sebenarnyalah bahwa Ki Gede juga mencemaskan¬nya. Tetapi ia masih sempat berkata, “Kita menunggu apa yang akan terjadi Sekar Mirah. Bersyukurlah, bahwa Pangeran Benawa telah mengurangi seorang lawannya. Dengan demikian, maka kita dapat berharap bahwa Agung Sedayu akan dapat mengalahkan lawannya.”
    Dalam pada itu, pertempuran antara Pangeran Benawa melawan bajak laut yang seorang itu pun menjadi semakin garang. Bajak laut itu telah melontarkan tiga macam serangan berjaraknya. Kabut-kabut putih yang panasnya melampaui bara api. Aji Gelap Ngampar yang dapat merontokkan isi dada, dan pisau-pisau yang seakan-akan bercahaya kemerah-merahan yang melun¬cur dengan dorongan kekuatan yang luar biasa. Yang mampu menembus perisai ilmu kebal Agung Sedayu.
    Tetapi Pangeran Benawa pun telah melawannya dengan cara yang keras pula. Serangannya yang terlontar dari telapak tangannya menyambar-nyambar tidak henti-hentinya. Memang agak berbeda dengan serangan pisau lawannya. Jumlah pisau itu terbatas meskipun cukup banyak. Namun serangan yang meluncur dari tangan Pangeran Benawa itu dapat dilakukan dalam jumlah yang tidak terhitung.
    Meskipun demikian, sambaran-sambaran kabut putih itu tidak kalah dahsyatnya. Namun agaknya seperti Agung Sedayu, Pangeran Benawa memiliki perisai yang dapat menangkis serangan kabut panas itu, meskipun panasnya mempunyai pengaruh pula serba sedikit. Namun warisan ilmu Tameng Waja itu cukup dapat dipercaya menghadapi serangan-serangan yang demikian.
    Juga serangan ilmu Gelap Ngampar tidak banyak berpengaruh atas Pangeran Benawa. Meskipun isi dada Pangeran Benawa merasa juga terguncang, tetapi keadaan itu tidak berbahaya sama sekali baginya, sehingga justru karena itu, maka serangan-serangan Pangeran Benawa itu menjadi semakin lama semakin dahsyat.
    Pada saat orang-orang di Watu Lawang itu berjuang dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka, maka yang berada di perjalanan semakin lama menjadi semakin mendekati Kali Praga. Dengan keterangan-keterangan yang membuat hatinya agak tenang, maka Glagah Putih justru menjadi tidak lagi terlalu tergesa-gesa. Ia tidak lagi berpacu dengan kecepatan penuh. Meskipun kudanya masih saja berlari kencang, tetapi tidak berpacu seperti di arena balapan kuda.
    Bahkan ketika langit menjadi merah, Glagah Putih sempat berhenti sejenak sambil memandang udara yang mulai meremang.
    “Sebentar lagi fajar akan menyingsing” desis Glagah Putih.
    “Ya. Sebentar lagi kita akan menyeberang Kali Praga. Kita akan sampai ke Tanah Perdikan Menoreh.” sahut Pandan Wangi.
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Namun Pandan Wangi pun tiba-tiba saja telah berkuda semakin cepat. Bukan karena Agung Sedayu. Tetapi kerinduannya kepada Tanah itu dengan tidak sadar telah menyusup di hatinya. Rasa-rasanya Pandan Wangi ingin segera menyeberang. Jika matahari kemudian akan menyingsing, maka ia akan menyambut cahaya pagi itu di atas Tanah kelahirannya.
    Ketika mereka sampai ke tepi Kali Praga, ternyata sudah ada satu dua rakit yang siap untuk membawa orang-orang yang akan menyeberang. Beberapa tukang satang dengan berkerudung kain panjang, duduk di atas rakit yang bergoyang-goyang.
    “Airnya tidak begitu besar” gumam Glagah Putih. “Ya. Tetapi kita tetap memerlukan rakit” jawab Pandan Wangi.
    Glagah Putih tidak menyahut. Tetapi iring-iringan kecil itu pun kemudian turun ke tepian berpasir.
    Beberapa orang tukang satang telah berdiri. Ketika orang-orang berkuda itu mendekatinya, maka tukang-tukang satang itu telah mempersilahkan mereka naik ke atas rakit.
    Meskipun demikian, seorang di antara tukang satang itu sempat juga bertanya “Masih terlalu pagi untuk bepergian Ki Sanak.”
    “Ya” jawab Kiai Gringsing, “tetapi kami memang agak tergesa-gesa.”
    “Kenapa?” bertanya tukang satang itu.
    “Ada seseorang sanak kami yang sakit.” jawab Kiai Gringsing tanpa maksud apa pun juga.
    Namun jawaban itu membuat jantung Glagah Putih berdebar semakin cepat. Seolah-olah ia telah diperingatkan kembali tentang Agung Sedayu. Seolah-olah Kiai Gringsing memang tergesa-gesa karena Agung Sedayu sedang sakit.
    Sebenarnyalah pada waktu itu, Agung Sedayu sudah menjadi semakin lemah karena darah yang mengucur dari lukanya.

    Namun dengan demikian, maka Agung Sedayu pun telah bertekad untuk dengan segera menyelesaikan pertempuran itu selagi ia masih dapat melakukannya.
    Karena itulah, maka dengan sisa tenaga yang ada padanya, maka Agung Sedayu pun telah membuat dirinya dalam ujud rangkapnya. Tiga ujud Agung Sedayu telah mengepung bajak laut yang telah terluka itu pula.
    Agaknya bajak laut itu menyadari apa yang akan terjadi pada dirinya. Lawannya tentu akan mempergunakan ilmu puncaknya untuk menyelesaikan pertempuran itu. Karena itu, maka bajak laut itu pun tidak ingin membiarkan dirinya dihancurkan oleh Agung Sedayu tanpa berbuat apa-apa.
    Karena itu, ketika ia melihat Agung Sedayu dalam ketiga ujudnya itu bersilang tangan di dada, maka ia pun telah mempergunakan kesempatan yang sangat sempit itu untuk melontarkan pisau-pisaunya.
    Agung Sedayu sebenarnya masih juga berdebar-debar ketika ia melihat bajak laut itu mengangkat tangannya. Tetapi ketika sasaran yang pertama yang dipilihnya bukanlah ujud Agung Sedayu yang sebenarnya, maka kesempatan itu pun telah dipergunakan sebaik-baiknya.
    Demikian pisau yang pertama meluncur, maka terasa betapa kekuatan yang dahsyat telah menyusup ke dalam dada bajak laut itu. Jantungnya serasa telah diremas oleh kekuatan yang tidak terlawan. Namun, bajak laut itu tidak menyerah. Sambil menekan dadanya, maka sekali lagi tangannya terayun. Satu lontaran pisau yang bercahaya itu benar-benar telah mengarah kepada Agung Sedayu meskipun bajak laut itu tidak dapat memilih.
    Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Pisau itu meluncur demikian cepat dan derasnya. Namun pada saat yang bersamaan Agung Sedayu pun telah menghentakkan segenap kemampuannya untuk mencengkam dan meremas isi dada bajak laut itu.
    Tetapi pisau itu memerlukan perhatian Agung Sedayu, karena pisau itu memang mengarah ke dadanya. De¬ngan sadar Agung Sedayu mengerti akibat dari tusukan pisau itu. Namun Agung Sedayu tidak ingin melepaskan saat-saat yang menentukan itu atas lawannya yang sudah sampai pada batas kemampuannya untuk bertahan.
    Karena itulah, maka Agung Sedayu tidak berubah dari sikapnya. Dengan sorot matanya ia ingin benar-benar mengakhiri pertempuran itu. Namun demikian, hampir di luar sadarnya ia telah mengangkat tangannya yang masih tetap bersilang itu sedikit.
    Yang terjadi kemudian adalah satu hentakan ilmu yang luar biasa atas tubuh Agung Sedayu. Lontaran pisau dengan sisa tenaga bajak laut itu telah mengenai tangan Agung Sedayu yang bersilang. Namun ternyata daya dorong yang dihentakkan oleh pisau itu benar-benar luar biasa. Selain pisau itu menancap pada tangan Agung Sedayu, maka seolah-olah Agung Sedayu itu telah didorong oleh kekuatan yang sangat besar, sehingga tubuh Agung Sedayu itu pun telah terguncang.
    Hampir saja Agung Sedayu kehilangan keseimbangannya dan jatuh menelentang.
    Namun untunglah meskipun dengan terhuyung-huyung Agung Sedayu masih dapat bertahan.
    Tetapi dengan demikian, maka untuk sesaat Agung Sedayu harus melepaskan serangannya. Karena itu, maka dengan cepat Agung Sedayu memperbaiki keadaannya. Jika keadaannya itu membuat lawannya dapat mengenalinya sehingga sasaran serangannya akan mengarah kepada dirinya yang sebenarnya, maka ia harus berusaha untuk membaurkan dirinya lagi. Mengulangi kedudukannya dan membuat lawannya kehilangan sasaran.
    Namun untuk melakukan hal itu diperlukan waktu dan tenaga. Sementara itu, tenaganya menjadi semakin susut dan bahkan seolah-olah benar-benar telah terkuras habis.
    “Tetapi aku tidak boleh mati dalam keadaan seperti ini. Aku harus berusaha dengan sisa tenaga yang ada padaku.” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.
    Karena itu, maka ia pun segera bersiap untuk menunggu perkembangan berikutnya. Ia sudah menyilangkan tangannya lagi di dadanya. Ia sudah bersiap untuk melontarkan serangan ilmu puncaknya dengan sisa tenaga yang ada padanya. Namun ia benar-benar harus memperhitungkan kemungkinan pisau-pisau bajak laut itu.
    Tetapi, untuk sesaat ia melihat bajak laut itu berdiri tegak. Ia memang melihat tangan bajak laut itu bergerak. Namun tidak secepat yang dapat dilakukan sebelumnya. Bahkan ternyata Agung Sedayu telah sempat mendahuluinya. Meskipun tenaga Agung Sedayu sudah jauh sekali susut, namun ia masih mampu melontarkan serangan dengan sorot matanya, meskipun sudah menjadi terlalu lemah.
    Meskipun demikian, cengkaman kekuatan yang sudah lemah itu, ternyata menentukan akhir dari pertempuran antara Agung Sedayu dan bajak laut itu. Betapa pun lemahnya serangan Agung Sedayu, namun ketahanan tubuh bajak laut itu pun sudah menjadi sangat lemah pula sehingga bajak laut itu tidak berhasil bertahan mengatasi cengkaman kekuatan ilmu Agung Sedayu.
    Yang terdengar kemudian adalah umpatan yang sangat kasar. Namun kemudian bajak laut itu bagaikan melolong panjang. Tetapi, sesaat kemudian suaranya itu pun lenyap dan yang terdengar kemudian adalah suara tubuhnya yang jatuh terjerembab di tanah.
    Sejenak keadaan Watu Lawang itu pun menjadi hening. Orang-orang yang sedang bertempur itu pun telah tertarik untuk berpaling sesaat. Mereka masih sempat menyaksikan tubuh bajak laut itu jatuh menelungkup.
    Namun sesaat kemudian, Agung Sedayu pun tidak lagi mampu bertahan untuk tetap tegak berdiri pada kedua kakinya. Pandangan matanya menjadi berkunang-kunang. Tenaganya yang tersisa itu pun rasa-rasanya susut dalam sekejap. Sehingga akhirnya tubuh Agung Sedayu itu pun perlahan-lahan telah terjatuh pula dan kemudian terbaring di tanah.
    Yang terdengar kemudian adalah pekik Sekar Mirah. Tanpa menghiraukan apa pun juga, maka ia pun telah berlari ke arah Agung Sedayu.
    Ki Gede tidak sempat mencegahnya. Namun justru ia pun kemudian ikut berlari pula mendekati Agung Sedayu yang terbaring diam itu.
    Tetapi langkah yang tergesa-gesa itu telah menarik perhatian bajak laut yang sedang bertempur melawan Pangeran Benawa. Justru karena Pangeran Benawa sedang memperhatikan Agung Sedayu yang terbaring itu, maka bajak laut itu pun mendapat satu kesempatan untuk melakukan satu perbuatan yang keji.
    Ketika bajak laut itu melihat Sekar Mirah berlari mendekati Agung Sedayu, maka dengan ganasnya bajak laut itu telah menarik sebuah pisau belatinya dan langsung dilontarkan kepada Sekar Mirah yang sama sekali tidak menyangkanya.
    Pisau yang bercahaya kemerahan itu telah meluncur dengan derasnya. Pisau yang didorong dengan kekuatan yang sangat besar sehingga pisau itu bagaikan menyala dan mampu menembus ilmu kebal Agung Sedayu.
    Pisau bercahaya yang meluncur ke arah Sekar Mirah itu telah mengejutkan orang-orang yang melihatnya. Sekar Mirah sendiri tentu tidak akan sempat mengelak. Apalagi perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada Agung Sedayu. Jika pisau itu sempat menyentuh perempuan itu, maka tentu tidak akan ada harapan lagi bagi Sekar Mirah untuk dapat keluar dari daerah Watu Lawang.
    Pangeran Benawa yang memperhatikan cahaya yang meluncur itu pun menjadi berdebar-debar. Tetapi ia merasa berkewajiban untuk berbuat sesuatu. Namun ia tidak sempat meloncat mendorong Sekar Mirah yang berdiri agak jauh dari padanya.
    Karena itu, maka yang dilakukan oleh Pangeran Benawa telah mengejutkan pula. Bahkan bajak laut yang melontarkan pisau itu pun terkejut pula.
    Dengan gerak tangan yang pendek Pangeran Benawa telah melepaskan kekuatan ilmunya menyambar pisau yang bercahaya memuat kekuatan ilmu dari bajak laut itu. Dengan kecepatan yang mengimbangi kecepatan pisau yang meluncur itu, maka serangan Pangeran Benawa telah menyambar pisau yang meluncur ke arah Sekar Mirah itu.
    Dalam sekejap kemudian telah terjadi benturan yang dahsyat dari kekuatan dua jenis ilmu. Pisau yang bercahaya itu seakan-akan telah meledak. Cahaya yang merah membara terpercik di udara, menerangi daerah Watu Lawang.
    Ledakan itu sekali lagi mengejutkan orang-orang yang berada di sekitar arena pertempuran itu. Ketika mereka berpaling, sesaat mereka masih melihat bunga api yang berhamburan. Namun pisau kecil yang dilontarkan oleh bajak laut itu ternyata telah berubah arah.
    Sekar Mirah yang kemudian menyadari keadaannya, menarik nafas dalam-dalam. Pisau itu agaknya memang di arahkan kepadanya.
    Dari jarak yang cukup panjang, Sekar Mirah masih sempat berteriak “Terima kasih Pangeran.”
    Pangeran Benawa tidak sempat menyahut. Ketika Sekar Mirah kemudian meneruskan langkahnya mendekati Agung Sedayu, maka kemarahan bajak laut yang gagal membunuh Sekar Mirah yang dikenalnya sebagai isteri Agung Sedayu itu ditumpahkannya kepada Pangeran Benawa.
    Pada saat-saat perhatian Pangeran Benawa masih tertuju kepada pisau kecil yang berubah arah itu, maka bajak laut itu pun telah melemparkan pisaunya pula. Langsung mengarah ke dada Pangeran Benawa.
    Pisau itu meluncur dengan derasnya. Sementara itu Pangeran Benawa tidak sempat berbuat banyak untuk menghindar. Namun Pangeran Benawa masih berusaha untuk mempertebal ilmu Tameng Wajanya.
    Namun ternyata kekuatan ilmu yang mendorong pisau itu demikian tingginya. Selain pisau itu mampu memancarkan cahaya yang kemerah-merahan, ternyata bahwa pisau itu pun mampu menembus perisai ilmu Pangeran Benawa yang ngedab-edabi itu.
    Pangeran Benawa terkejut ketika ia merasakan sentuhan pisau itu pada tubuhnya. Meskipun kekuatan lontar pisau itu telah menjadi jauh susut setelah menerobos ilmu Tameng Waja, namun pisau itu masih mampu melukainya.
    “Gila” geram Pangeran Benawa. Pisau itu tidak menancap di tubuhnya. Tetapi pisau itu menggores kulitnya dan melukainya. Sehingga dari luka itu telah mengalir darah merahnya.
    Kemarahan yang sangat telah menghentak jantung Pangeran Benawa. Pangeran yang lebih banyak hidup di luar istana dan menyusuri jalan-jalan sepi itu.
    Namun justru karena itu, maka Pangeran Benawa pun kemudian tidak lagi membuat terlalu banyak pertimbangan-pertimbangan. Ia sadar bahwa lawannya benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Jika kabut panasnya hanya mampu mempengaruhinya tanpa menimbulkan akibat yang gawat bagi tubuhnya, maka pisau-pisau itu benar-benar telah melukainya.
    Sebelumnya, meskipun Pangeran Benawa telah bertempur dengan garangnya, namun rasa-rasanya ia masih juga mempunyai beberapa pertimbangan. Bahkan ada keinginannya untuk menjajagi jenis-jenis ilmu yang ada pada bajak laut itu. Tetapi ternyata bahwa bajak laut itu bukannya sekedar sasaran untuk dijajagi ilmunya, tetapi benar-benar lawan yang sangat tangguh.
    Demikianlah, pertempuran antara bajak laut itu dengan Pangeran Benawa menjadi semakin seru. Masing-masing telah mengerahkan kemampuan mereka, sehingga benturan-benturan ilmu yang tinggi membuat orang-orang yang ada di sekitar arena pertempuran itu menjadi berdebar-debar.
    Dalam pada itu, Sekar Mirah dan Ki Gede telah berjongkok di sisi Agung Sedayu, sementara Ki Lurah Branjangan masih tetap mengamati pertempuran itu dengan saksama. Ia masih curiga bahwa bajak laut itu masih akan dapat membuat kecurangan-kecurangan yang lain yang dapat membahayakan Pangeran Benawa atau orang-orang lain di lingkungan arena itu.
    Sementara itu, kegelisahan Sekar Mirah telah memuncak. Namun ternyata bahwa ia masih berpengharapan atas Agung Sedayu.
    Dalam keremangan sisa ujung malam, Sekar Mirah menyaksikan Agung Sedayu itu berdesah sambil menggeliat. Perasaan sakit benar-benar telah menyengat seluruh tubuhnya. Bukan saja di tempat-tempat tubuh itu terluka. Tetapi rasa-rasanya perasaan sakit itu menjalar dari bulu-bulunya yang satu ke bulu-bulunya yang lain.
    Tetapi ketika Agung Sedayu melihat bayangan Sekar Mirah yang kabur, beserta Ki Gede berjongkok di sisinya, maka Agung Sedayu itu mencoba mengatasi perasaan sakitnya. Betapa pun sulitnya, maka Agung Sedayu itu mencoba tersenyum.
    “Kakang” desis Sekar Mirah yang melihat bahwa ternyata Agung Sedayu tidak pingsan.
    Nafas Agung Sedayu menjadi terengah-engah. Namun terdengar suaranya perlahan, “Bagaimana dengan bajak laut itu?-
    Sekar Mirah berpaling ke arah bajak laut yang terbujur diam. Sementara itu Ki Gede menjawab, “Ia terbaring diam. Aku belum dapat meyakini, apakah ia masih hidup atau tidak”
    Agung Sedayu mencoba menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia menyeringai menahan sakit. Rasa-rasanya isi dadanya telah menjadi retak-retak.
    “Tenanglah Ngger,” berkata Ki Gede, “jika Angger sependapat, biarlah Aku mencoba untuk mengobati luka-luka Angger untuk sementara. Agaknya besok aku harus menyuruh orang menyusul Kiai Gringsing.”
    Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dengan suara bergetar ia bertanya “Apakah Glagah Putih belum datang?”
    Sekar Mirah menggeleng. Jawabnya, “Belum kakang.”
    Tiba-tiba saja Agung Sedayu menggeram. Katanya “Apakah iblis-iblis itu telah mengganggunya.?”
    Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi ia pun menjadi berdebar-debar, karena hal itu pun mungkin dilakukan menilik kelicikan sikap bajak laut yang garang itu.
    Dalam pada itu, sekali lagi Ki Gede bertanya, “Apakah kau tidak berkeberatan Ngger, agaknya obatku akan dapat membantu untuk sementara.”
    Agung Sedayu mengangguk kecil. Katanya, “Silahkan Ki Gede. Luka-luka itu pedihnya bukan main. Bahkan seluruh tubuhku terasa betapa sakitnya.”
    Ki Gede mengangguk-angguk. Namun Sekar Mirah pun di luar sadarnya bertanya, “Bagaimana dengan ujudmu yang lain? Tiba-tiba saja keduanya telah lenyap.”
    Agung Sedayu berdesis menahan pedih yang menggigit. Sementara Ki Gede lah yang menjawab, “Ujud itu akan hilang dengan sendirinya, jika sumbernya tidak lagi mampu mempertahankan kehadirannya. Itulah sebabnya kita langsung dapat mengerti, bahwa kita telah berhadapan dengan Angger Agung Sedayu yang sebenarnya tanpa kita sadari.”
    Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Di samping perasaan cemasnya, ia benar-benar bangga terhadap suaminya. Ternyata usahanya yang dilakukan di dalam sanggar beberapa saat terakhir telah melengkapi sederet jenis ilmu yang dimiliki oleh Agung. Sedayu. Namun kea¬daan yang dihadapinya itu benar-benar membuatnya cemas.
    Dalam pada itu, untuk mengatasi keadaan Agung Sedayu yang parah itu, Ki Gede berusaha dengan pengetahuan yang ada padanya, sekedar mengurangi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan yang dapat terjadi atas Agung Sedayu. Dengan obat yang ada padanya, Ki Gede akan dapat mengurangi arus darah dari luka-luka Agung Sedayu yang menganga di beberapa tempat di tubuhnya, sebelum membawa Agung Sedayu itu meninggalkan Watu Lawang.
    Yang dilakukan oleh Ki Gede mula-mula adalah mencabut pisau-pisau yang masih tertancap di tubuh Agung Sedayu. Ternyata untuk melakukannya diperlukan ketabahan. Bukan saja ketabahan pada Agung Sedayu yang kesakitan, tetapi juga pada Ki Gede yang harus mencabut pisau-pisau itu dari tubuh Agung Sedayu.
    Ternyata pisau-pisau yang kemudian dicabut dari tubuh Agung Sedayu itu tidak lagi bercahaya kemerah-merahan seperti saat-saat pisau itu terlepas dari tangan pemiliknya. Sehingga dengan demikian, maka Ki Gede pun dapat menjajagi, betapa tinggi ilmu bajak laut yang telah bertempur melawan Agung Sedayu itu. Dan yang dua orang di antara mereka kini tengah bertempur melawan Pangeran Benawa dan Ki Waskita.
    Dalam pada itu, Agung Sedayu benar-benar telah berusaha menahan kesakitan yang dideritanya. Ia tidak ingin membuat hati Sekar Mirah semakin gelisah. Namun meskipun demikian, masih juga terdengar Agung Sedayu mengeluh tertahan.
    Namun obat-obat yang kemudian ditaburkan oleh Ki Gede pada luka-luka Agung Sedayu, telah membantu mengurangi arus darah yang mengalir dari luka-luka itu, meskipun perasaan sakit masih saja menghentak-hentak di seluruh tubuhnya.
    Sementara itu, baik Ki Gede mau pun Sekar Mirah bersepakat bahwa bajak laut yang menelungkup itu benar-benar telah tidak akan mampu bertahan. Bajak laut itu sama sekali sudah tidak bergerak. Meskipun Sekar Mirah dan Ki Gede Menoreh masih membatasi diri untuk tidak mendekati orang itu.
    Dalam pada itu, selagi Sekar Mirah dan Ki Gede sibuk dengan Agung Sedayu, Pangeran Benawa yang marah dan telah terluka itu tidak lagi mengekang dirinya. Ia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengakhiri pertempuran yang dahsyat itu. Namun demikian, lawannya adalah benar-benar seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Sebagaimana lawan Agung Sedayu, ternyata bahwa bajak laut yang bertempur melawan Pangeran Benawa itu mampu melukai lawannya.
    Segores demi segores luka telah mewarnai tubuh Pangeran Benawa, meskipun luka-luka itu tidak terlalu dalam. Agaknya bajak laut yang melawannya itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya yang dikatakannya melampaui kemampuan Ki Tumenggung Prabadaru.
    Namun dalam pada itu, Pangeran Benawa benar-benar memiliki ilmu yang luar biasa. Di saat-saat menjelang fajar, maka serangan-serangan Pangeran Benawa pun menjadi semakin dahsyat, sehingga bajak laut yang berilmu tinggi itu pun menjadi semakin terdesak karenanya.
    Meskipun demikian, bajak laut itu pun memiliki ilmu yang memang mampu menggetarkan kulit Pangeran Benawa, bahkan menumbuhkan luka-luka oleh sentuhan pisau-pisaunya.
    Namun kemarahan Pangeran Benawa telah mempercepat penyelesaian dari pertempuran itu. Dengan mengerahkan segenap kemampuan Pangeran Benawa yang jarang ada bandingnya, maka serangan-serangannya telah mendesak bajak laut itu sehingga akhirnya ia tidak mampu lagi untuk bertahan lebih lama menghadapi kekuatan ilmu Pangeran Benawa itu.
    Perlahan-lahan tetapi pasti, maka bajak laut itu menjadi semakin lemah. Pukulan-pukulan Pangeran Benawa yang terlontar dari tangannya sebagaimana pisau-pisau yang dilemparkan oleh bajak laut itu semakin sering menyentuh tubuh bajak laut itu betapa ia mencoba menghindar. Meskipun Pangeran Benawa juga telah terluka, tetapi kekuatan ilmunya seakan-akan sama sekali masih belum susut.
    Dengan demikian, maka pada akhirnya, bajak laut itu harus melihat satu kenyataan tentang dirinya. Ketika ia terlambat menghindar, dan pukulan berjarak yang dilon¬tarkan oleh Pangeran Benawa itu sepenuhnya menggempur dadanya, maka nafasnya menjadi sesak. Ia masih sempat bergeser sambil mempersiapkan pisaunya. Ia masih sempat membuat satu perhitungan yang mapan.
    Agaknya perhitungannya itu pun mendekati kebenaran. Pangeran Benawa sekali lagi melontarkan pukulannya yang dahsyat ke arah bajak laut itu. Namun bajak laut itu tidak lagi berusaha menghindarkan diri. Tetapi ia pun telah melontarkan dua pisaunya beruntun oleh kedua tangannya mengarah ke tubuh Pangeran Benawa.
    Sejenak kemudian, terdengar bajak laut itu mengaduh. Namun kedua pisaunya ternyata berhasil menyusup serangan Pangeran Benawa dan tidak saling berbenturan. Tetapi hanya sebuah saja dari kedua pisaunya itu yang berhasil mengenai pundak Pangeran Benawa, menembus kekuatan ilmu Tameng Waja dan langsung mengoyak kulit dan dagingnya.
    “Gila” geram Pangeran Benawa yang terdorong surut. Pisau itu telah dihentakkan dengan seluruh kekua¬tan dan kemampuan yang ada pada bajak laut itu, sehingga akibatnya pun terasa oleh Pangeran Benawa. Tidak seperti pisau-pisau sebelumnya yang hanya menyentuh, menimbulkan luka kemudian terjatuh di tanah. Tetapi pisau yang sebuah itu telah menancap di pundaknya yang terkoyak.
    Namun dalam pada itu, pukulan Pangeran Benawa itu pun telah menumbuhkan akibat yang menentukan pada lawannya yang memang tidak menghindarkan diri. Dadanya yang sudah sesak itu seakan-akan telah ditindih oleh seonggok bukit, langsung menghentikan pernafasannya yang memang sudah tersumbat.
    Sejenak kemudian maka bajak laut itu pun telah terhuyung-huyung. Namun sejenak kemudian ia telah kehilangan keseimbangannya dan betapa pun ia berusaha, namun akhirnya bajak laut itu pun telah terguling jatuh. Ia masih sempat mengumpat oleh nafasnya yang tersumbat. Namun kemudian ia menggeliat sambil berdesah. Seterusnya tubuh itu pun telah terdiam.
    Pangeran Benawa menggeram. Perasaan sakit telah menjalari seluruh tubuhnya pula. Namun ketika ia menyadari bahwa sebilah pisau bajak laut itu berhasil menembus kulit dan melukainya, maka kemarahannya pun bagaikan membakar jantungnya.
    Dengan serta merta maka ia pun telah menghentakkan pisau itu dan mencabutnya. Terasa betapa sakitnya. Tetapi Pangeran Benawa tidak menghiraukannya, meskipun ia harus mengatupkan giginya rapat-rapat.
    Karena lawannya telah terbujur diam, maka ia pun kemudian berpaling ke arah bajak laut yang masih bertempur melawan Ki Waskita. Ternyata Ki Waskita berhasil menempatkan dirinya pada tataran yang sebenarnya, sehingga ia tidak lagi terjepit dan mengalami terlalu banyak kesulitan. Sebagaimana seseorang yang memiliki pengalaman yang dahsyat dan pernah mengalahkan orang-orang sakti dan beberapa orang berilmu lainnya, maka ia pun telah berhasil menempatkan dirinya.
    Tetapi seperti Agung Sedayu dan Pangeran Benawa, maka Ki Waskita pun tidak terhindar dari sentuhan senjata lawannya. Ketika pergelangan tangannya sudah menjadi bagaikan patah, maka yang dilakukan adalah lebih banyak menghindari serangan lawannya. Kemudian berusaha bertempur dalam jarak yang dekat dan mempergunakan ikat pinggangnya untuk menyerang.
    Namun demikian, ada kekurangan dari Ki Waskita dibandingkan dengan Pangeran Benawa dan Agung Sedayu. Ki Waskita tidak memiliki ilmu kebal atau ilmu lain¬nya yang dapat melindungi dirinya. Karena itu, maka ketika pertempuran antara Ki Waskita dan bajak laut itu menjadi semakin seru, maka saat-saat yang mendebarkan itu telah terjadi. Pisau yang dilontarkan oleh bajak laut yang terlepas dari tangkisan tangan Ki Waskita dan tidak mampu dihindarinya, benar-benar merupakan serangan yang sangat gawat.
    Karena itulah, maka ketidak-mampuan tangannya yang dibalut dengan ikat kepalanya itu menjadi semakin susut oleh hentakan-hentakan yang sangat kuat dilambari dengan ilmu yang tinggi, maka keadaannya menjadi bertambah gawat.
    Namun dengan ikat pinggangnya dan usaha untuk bertempur pada jarak pendek telah memberikan beberapa peluang padanya.
    Meskipun demikian, ternyata bahwa akhirnya bajak laut itu menyadari, bahwa bertempur pada jarak yang pendek seperti dikehendaki oleh lawannya tidak menguntungkannya Karena itu, maka ia pun berusaha untuk tidak terpancing oleh lawannya dan dengan loncatan-loncatan panjang, bajak laut itu mempunyai kesempatan lebih baik dari lawannya.
    Tetapi pada saat yang demikian, Pangeran Benawa yang marah telah melangkah mendekati arena itu. Dengan jantung yang berdentangan ia menempatkan dirinya di dalam lingkaran pertempuran.
    “Aku akan menyelesaikannya” geram Pangeran Benawa.
    Bajak taut itu tertegun. Ia sadar, bahwa dua kawannya telah tidak ada lagi. Meskipun ia tidak tahu pasti, apakah keduanya mati atau tidak, tetapi ia tinggal seorang diri bertempur melawan orang yang menjadi semakin lemah itu.
    Sementara itu Ki Waskita menjadi termangu-mangu juga. Meskipun ia pun telah terluka pula, tetapi ia masih mempunyai kesempatan untuk bertahan dan sekali-sekali menyerang.
    Tetapi Pangeran Benawa yang marah itu melangkah semakin dekat sambil berkata, “Bajak taut yang seorang ini dapat memilih. Menyerah atau mati seperti kedua lawannya.”
    “Pengecut,” geram bajak taut itu, “aku kira Pangeran dari Pajang ini adalah seorang laki-laki. Tetapi jika kalian akan bertempur berpasangan, aku tidak akan berkeberatan. Bahkan orang-orang yang lain itu pun ikut serta bertempur. Aku akan membunuh kalian seorang demi seorang.”
    “Jangan mengigau,” bentak Pangeran Benawa, “kau tahu, kedua orang kawanmu telah mati. Apa yang dapat kau lakukan? Apalagi kau dan aku tidak terikat dalam perjanjian perang tanding. Aku tidak terikat untuk bertempur seorang melawan seorang. Juga Ki Waskita. Tidak ada salahnya jika kami, semua orang yang ada di sini beramai-ramai mengepungmu dan mencincangmu tanpa am pun. Sedangkan kawanmu yang bertempur melawan Agung Sedayu dalam perang tanding itu pun dapat berbuat curang. Kalian bertiga telah bertempur bersama sehingga kalian telah melukai Agung Sedayu. Bahkan menjadi parah, meskipun ia masih sempat dapat membunuh lawannya.”
    “Persetan,” geram bajak taut itu, “marilah. Aku sudah siap”
    “Baik,” jawab Pangeran Benawa di luar dugaan, “kami memang akan bertempur berpasangan. Bahkan orang-orang yang sedang menunggui Agung Sedayu itu pun akan ikut pula.” Tetapi Pangeran Benawa benar-benar telah berteriak “He, Ki Gede, Sekar Mirah dan Ki Lurah Branjangan. Mumpung matahari belum terbit, marilah kita selesaikan bajak laut yang seorang ini. Ia harus mengalami perlakuan yang lebih buruk dari saudara-saudara seperguruannya.”
    “Gila,” bajak laut itu berteriak, “kalian benar-benar licik, pengecut dan tidak tahu diri.”
    “Jangan mengumpat-umpat. Seandainya kami benar-benar licik, pengecut atau tidak tahu diri, maka tidak akan ada orang yang akan dapat menjadi saksi dan tidak akan ada orang yang dapat mengatakannya kepada orang lain, karena kau satu-satunya orang yang melihat dan menganggap demikian, akan segera kami selesaikan di sini dengan tanpa am pun.” jawab Pangeran Benawa.
    Ki Waskita termangu-mangu. Bahkan Sekar Mirah dan Ki Gede pun telah berpaling pula. Sementara Ki Lurah Branjangan menjadi ragu-ragu.
    Sikap Pangeran Benawa yang nampaknya tidak ragu-ragu itu membuat bajak laut itu menjadi gelisah. Ia harus mengakui, bahwa jika Pangeran Benawa benar-benar akan turun ke medan bersama Ki Waskita, maka tanpa orang lain, bajak laut itu tidak akan dapat mengimbangi mereka. Seorang saudara seperguruannya telah terbunuh oleh Pangeran Benawa. Apalagi Pangeran Benawa bertempur berpasangan dengan Ki Waskita.
    Dalam pada itu, Ki Waskita sendiri menjadi bingung. Apakah ia harus membiarkan Pangeran Benawa mencampuri pertempuran itu. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa, bahwa tidak pernah ada perjanji¬an perang tanding, selain Agung Sedayu dengan salah seorang dari bajak laut itu. Dan itu pun telah dilanggar dan tidak lagi di lakukan dengan jujur oleh bajak laut-bajak laut itu.
    Ketika bajak laut itu sedang termangu-mangu sebagaimana juga Ki Waskita, Pangeran Benawa ternyata tidak membuang waktu. Tiba-tiba saja Pangeran Benawa itu menggeram, “Bersiaplah. Aku akan benar-benar membunuh.”
    Bajak laut itu terkejut. Namun sebenarnyalah Pangeran Benawa telah menyerang bajak laut itu dengan hentakkan tangannya yang melontarkan pukulan berjarak.
    Bajak laut itu terkejut. Pangeran Benawa benar-henar telah menyerangnya.
    Dengan tergesa-gesa bajak laut itu harus meloncat menghindar. Jika ia terlambat, maka serangan itu akan benar-benar dapat melukainya. Jika bukan kulitnya, maka bagian dalam dadanyalah yang akan rontok karenanya.
    Tetapi serangan Pangeran Benawa tidak berhenti. Ketika bajak laut itu berhasil menghindari serangan itu, maka serangan berikutnya telah menyusulnya.
    Terdengar bajak laut itu mengumpat kasar. Namun sementara itu terdengar Pangeran Benawa menyahut, “Karena itu menyerahlah. Masih ada kesempatan. Jika tidak, aku benar-benar akan memanggil semua orang yang ada di tempat ini. Dan tubuhmu akan terkapar seperti kedua orang saudara seperguruanmu itu dalam keadaan yang jauh lebih buruk.”
    Bajak laut itu benar-benar menjadi bingung. Sementara itu, Ki Waskita agaknya telah berhasil mengikuti jalan pikiran Pangeran Benawa. Pangeran itu hanya ingin memaksa bajak laut itu menyerah. Serangan-serangan Pangeran Benawa pun agaknya hanya sekedar untuk menekankan ancamannya, karena agaknya Pangeran Benawa tidak benar-benar berhasrat membunuh bajak laut itu.
    Karena itu, maka Ki Waskita yang juga telah terluka itu pun melangkah mendekat sambil berkata, “Baiklah Pangeran. Aku akan bertempur bersama Pangeran. Aku akan melibatnya dalam jarak pendek. Jika bajak laut itu berusaha menjauhkan diri, adalah menjadi tugas Pangeran untuk melumatkan tubuhnya dengan serangan-sera¬ngan Pangeran itu.”
    “Bagus,” jawab Pangeran Benawa, “lakukan. Aku akan memanggil Ki Gede. Seorang yang memiliki kemampuan bermain tombak tanpa tanding. Juga Sekar Mirah yang memiliki tongkat baja putih sebagai pertanda murid terpercaya dari Ki Sumangkar. Dan satu lagi, Ki Lurah Branjangan yang memiliki ilmu prahara.”
    Yang terdengar adalah umpatan kasar. Tetapi bajak laut itu benar-benar mencemaskan dirinya.
    Selagi bajak laut itu dicengkam oleh perasaan cemas, gelisah dan kebingungan, Pangeran Benawa membentaknya, “Cepat, ambil keputusan. Menyerah, atau mati.”
    Namun ternyata bajak laut itu pun bukan orang yang mudah menyerah. Bentakan Pangeran Benawa itu justru telah membuatnya bagaikan gila. Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Tetapi tiba-tiba saja pisaunyalah yang telah menyambar dengan cepatnya ke arah Ki Waskita.
    Ki Waskita terkejut. Pisau itu meluncur demikian cepatnya sehingga ia tidak sempat untuk mengelak. Karena itu, maka yang dilakukannya kemudian adalah menangkis serangan itu dengan tangannya yang dibalut oleh ikat kepalanya.
    Namun pisau itu meluncur terlalu cepat. Sementara itu Ki Waskita memang agak terlambat. Namun demikian tangannya sempat juga menyentuh pisau itu.
    Terasa panas pisau itu bagaikan membakar tangannya yang memang terasa hampir patah. Sementara itu pisau yang meluncur itu tidak sempat untuk dicegah sepenuhnya. Karena itu, maka pisau yang hanya berkisar sedikit arahnya itu pun masih juga mengenai tubuh Ki Waskita.
    Pisau itu ternyata telah memperbanyak luka di tubuh Ki Waskita. Tetapi pisau terakhir ini menghunjam agak dalam di pundaknya, sehingga tubuh Ki Waskita itu bagaikan terdorong dengan kerasnya. Untunglah bahwa Ki Waskita masih sempat menjaga dirinya, sehingga ia tidak jatuh terbanting di tanah, meskipun akhirnya ia pun terhuyung-huyung dan terduduk bertelekan tangannya.
    Pangeran Benawa yang menyaksikan serangan itu, menjadi semakin marah. Hampir di luar sadar, maka tiba-tiba saja ia pun telah menyerang bajak laut itu. Bukan sekedar menekan agar bajak laut itu menyerah. Tetapi serangan itu benar-benar diarahkan ke dada bajak laut itu.
    Yang terdengar adalah keluhan dan umpatan kasar. Serangan Pangeran Benawa itu bagaikan meledak di dadanya. Demikian dahsyatnya, sehingga dada bajak laut itu rasa-rasanya bagaikan akan pecah.
    Sesaat bajak laut itu masih tegak berdiri. Namun kemudian ia telah kehilangan kesadarannya, sehingga tubuh itu pun kemudian jatuh terguling di tanah.
    Sejenak arena itu menjadi hening. Namun sejenak kemudian, maka Ki Lurah Branjangan lah yang berlari-lari mendapatkan Ki Waskita yang sudah berbaring di tanah.
    “Pangeran” desis Ki Lurah Branjangan.
    Pangeran Benawa yang sedang marah itu bagaikan terbangun dari sebuah mimpi yang sangat buruk. Ketika ia berpaling, dilihatnya Ki Lurah berjongkok di sebelah Ki Waskita.
    Dengan tergesa-gesa Pangeran Benawa pun mendekatinya. Agaknya Ki Waskita telah terluka cukup parah pula sebagaimana Agung Sedayu.
    “Ki Gede,” berkata Ki Lurah kemudian, “bukankah Ki Gede membawa obat yang dapat untuk sementara memampatkan darah?-
    “Ya” jawab Ki Gede dari tempatnya.
    “Ki Waskita juga terluka parah” sambung Ki Lurah.
    Ki Gede pun kemudian berdesis, “Tunggulah untuk sementara. Aku akan menengoknya Mirah.”
    Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menjawab “Silahkan Ki Gede.”
    Ki Gede pun kemudian bangkit dan meninggalkan Agung Sedayu yang masih terbaring. Tetapi ternyata Agung Sedayu itu betapa pun lemahnya sempat bertanya “Siapa yang terluka lagi Mirah.”
    Sekar Mirah bergeser mendekat. Jawabnya, “Ki Waskita kakang-
    “O” Agung Sedayu berdesah. Tetapi ia tidak mengatakan apa pun lagi. Namun untunglah bahwa obat yang dibawa oleh Ki Gede itu mampu menahan arus darahnya yang mengalir dari luka-lukanya.
    Demikian Ki Gede berjongkok di sisi Ki Waskita, maka ia pun segera melihat bahwa Ki Waskita pun telah terluka parah pula.
    Ki Waskita yang kemudian juga terbaring itu, menahan perasaan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Luka-lukanya terasa pedih dan panas, seolah-olah masih dilekati oleh bara api.
    Ketika Ki Gede kemudian mencabut pisau yang menghunjam di tubuhnya, maka terdengar Ki Waskita itu berdesah. Apalagi ketika obat yang masih ada tersisa pada Ki Gede itu ditaburkan di atas luka-lukanya. Maka rasa-rasanya luka-luka itu bagaikan dibakar dengan bara api baja.
    Tetapi Ki Waskita mengerti, bahwa perasaan sakit itu hanya melonjak untuk sementara. Sebentar lagi arus darahnya akan segera berkurang, sehingga ia tidak akan kehabisan darah karenanya.
    Dalam pada itu, sejenak kemudian, maka atas permintaan Pangeran Benawa, maka tubuh Ki Waskita dan Agung Sedayu itu pun telah diangkat dan dibaringkan di tempat yang terbuka di sebelah Watu Lawang. Sementara itu, langit pun menjadi semakin cerah oleh cahaya pagi yang sebentar lagi akan merekah.
    “Kita harus segera membawa keduanya ke tempat yang lebih baik. Kita akan membawa mereka ke rumah Ki Gede” berkata Pangeran Benawa.
    “Ya. Aku akan mengambil pedati. Sebaiknya Pangeran tinggal di sini.” sahut Ki Gede.
    Pangeran Benawa mengangguk, Namun kemudian Katanya, “Bukankah lebih baik jika Ki Lurah menyertai Ki Gede?-
    “Ya Pangeran,” jawab Ki Lurah, “memang sudah terpikir olehku. Sementara itu Pangeran berada di sini bersama Sekar Mirah.”
    Demikianlah, sejenak kemudian maka Ki Gede dan Ki Lurah Branjangan itu pun dengan tergesa-gesa telah pergi ke padukuhan terdekat untuk mencari sebuah pedati yang akan dapat membawa Agung Sedayu dan Ki Waskita ke rumah Ki Gede Menoreh untuk mendapat perawatan yang lebih baik.
    Kedatangan Ki Gede telah mengejutkan orang-orang di padukuhan itu. Namun mereka tidak banyak mendapat kesempatan, karena Ki Gede dengan tergesa-gesa minta disediakan sebuah pedati.
    “Tolong, agak cepatlah sedikit” minta Ki Gede.
    “Apa yang sebenarnya telah terjadi?” bertanya orang-orang di padukuhan itu.
    “Nanti aku akan berceritera. Tetapi waktuku sekarang sangat sempit” jawab Ki Gede.
    Orang-orang di padukuhan itu pun menyadari, bahwa Ki Gede tentu mempunyai persoalan yang cukup gawat. Karena itu, maka mereka tidak terlalu banyak bertanya lagi. Dengan tergesa-gesa mereka telah menyiapkan sebuah pedati seperti yang dikehendaki oleh Ki Gede.
    Sementara itu, maka Ki Gede pun telah bertanya kepada seseorang di padukuhan itu “Apakah ada di antara kalian yang dapat pergi berkuda?”
    “Ada Ki Gede” jawab orang itu.
    “Panggil orang itu.” minta Ki Gede.
    Sejenak kemudian seorang anak muda telah datang menghadap Ki Gede dengan wajah kusut. Katanya, “Maaf Ki Gede aku belum mandi.”
    “Tidak apa-apa. Tolong, pergilah ke rumahku. Katakan kepada mereka yang bertugas. Siapkan tempat untuk merawat seseorang yang terluka” berkata Ki Gede kepada anak muda itu.

  18. bagian 2

    “Siapa yang terluka Ki Gede?” bertanya anak mu¬da itu.
    “Nanti kau akan tahu” jawab Ki Gede. Lalu, “Kirimkan beberapa orang ke Watu Lawang. Aku ada di sana.”
    Anak muda itu pun tidak banyak bertanya. Dengan tergesa-gesa ia pun segera mempersiapkan diri dan kudanya.
    Ketika sebuah pedati berjalan dengan lamban ke Watu Lawang, maka anak muda itu pun telah berpacu ke padukuhan induk.
    Dalam pada itu, Pangeran Benawa yang juga terluka, tetapi seolah-olah tidak terasa setelah diobatinya sendiri dan Sekar Mirah dengan tegang menunggui Agung Sedayu dan Ki Waskita yang terbaring. Namun agaknya kedua¬nya masih tetap menyadari apa yang terjadi. Bahkan Pangeran Benawa masih sempat berkata kepada Ki Waskita, “Ki Waskita terlalu percaya kepada bajak laut itu.”
    “Aku tidak menyangka bahwa hal itu terjadi Pangeran” jawab Ki Waskita.
    “Mereka memang orang-orang licik yang dapat berbuat apa saja tanpa menghiraukan segala macam ikatan dan paugeran” berkata Pangeran Benawa.
    “Aku memang tidak menyangka bahwa pada saat terakhir itu bajak laut itu akan menyerangku dengan tiba-tiba,” desis Ki Waskita, “Aku menyangka bahwa ia justru akan menyerang Pangeran.”
    “Ya. Semula aku pun menyangka begitu. Karena itu, aku bersiap sepenuhnya menghadapi keadaan yang demikian. Namun ternyata bahwa orang itu justru menyerang Ki Waskita. Agaknya Ki Waskita kurang bersiap menghadapi hal itu.” berkata Pangeran Benawa.
    “Aku memang kurang berhati-hati,” desis Ki Waskita, “justru karena aku tidak menyangka sama sekali. Aku berharap orang itu benar-benar akan menye¬rah.”
    Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Nampaknya kelengahan itu berakibat parah bagi Ki Waskita.
    Sementara itu, Sekar Mirah pun masih saja dicengkam ketegangan melihat keadaan Agung Sedayu. Meskipun Agung Sedayu tidak menjadi pingsan karena luka-lukanya. Namun ia nampak terlalu lemah.
    Dalam pada itu, sejenak kemudian, maka sebuah pedati telah terdengar datang mendekat. Suara roda-rodanya gemeretak di jalan berbatu-batu menuju ke Watu Lawang.
    “Pedati itu sudah datang” berkata Pangeran Benawa.
    “Ya” sahut Sekar Mirah. Lalu katanya kepada Agung Sedayu, “sebentar lagi kita meninggalkan tempat ini kakang.”
    Agung Sedayu mengangguk kecil sambil berdesis, “Keadaanku sudah berangsur baik Mirah.”
    Sekar Mirah menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tahu bahwa luka-luka Agung Sedayu adalah luka yang pa¬rah.
    Sejenak kemudian, maka sebuah pedati telah datang menghampiri mereka yang berada di Watu Lawang itu. Ki Gede yang ada di dalam pedati itu pun segera meloncat diikuti oleh Ki Lurah Branjangan.
    Namun dalam pada itu, telah terdengar pula derap kaki-kaki kuda mendatang. Beberapa orang pengawal dengan tergesa-gesa telah menuju ke Watu Lawang, sebagaimana dikatakan oleh anak muda yang mendapat perintah oleh Ki Gede untuk memberitahukan kepada para pengawal di rumah Ki Gede.
    Ki Gede yang melihat sekelompok pengawal mendatanginya, segera menyambut mereka. Anak-anak muda Pengawal Tanah Perdikan Menoreh itu pun segera berloncatan turun dari kuda mereka.
    “Apa yang terjadi Ki Gede” bertanya pengawal yang tertua di antara mereka.
    Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Telah terjadi sesuatu disini. Kau lihat, Agung Sedayu dan Ki Waskita terluka. Kita akan membawa mereka ke padukuhan induk dengan pedati itu. Sementara tugas kalian adalah menyelenggarakan penguburan tiga sosok mayat yang ada di sekitar tempat itu.”
    “Mayat?” bertanya anak muda itu.
    Ki Gede termangu-mangu. Ia demikian tergesa-gesa mencari sebuah pedati sehingga ia tidak sempat meyakinkan apakah ketiga bajak laut itu sudah terbunuh.
    Namun Pangeran Benawa yang mendengarkan pembicaraan itu telah menjawab “Ya. Tiga sosok mayat.”
    Sejenak kemudian anak-anak muda itu telah berloncatan pula. Atas petunjuk Ki Gede, maka mereka pun segera mengamati tiga sosok tubuh yang terbaring diam. Ternya¬ta seperti yang dikatakan oleh Pangeran Benawa, bahwa ketiganya telah menjadi mayat.
    “Nah,” berkata Ki Gede, “lakukan sebagaimana seharusnya. Aku akan membawa Ki Waskita dan Agung Sedayu, agar mereka segera mendapat perawatan yang sebaik-baiknya.”
    Demikianlah, maka Ki Gede dibantu oleh Ki Lurah dan Pangeran Benawa sendiri telah mengangkat dan meletakkan Agung Sedayu dan Ki Waskita ke dalam pedati, sementara anak-anak muda Pengawal Tanah Perdikan itu mengumpulkan tiga sosok mayat bajak laut yang telah terbunuh.
    Dengan dada yang berdebar-debar mereka menyaksikan tempat yang telah menjadi arena pertempuran di Watu Lawang. Meskipun mereka tidak menyaksikan langsung pertempuran itu, tetapi mereka dapat membayangkan, betapa dahsyatnya.
    Anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh pernah melihat sebatang randu alas yang menjadi kering setelah terjadi perang tanding yang dahsyat di bawah pohon itu. Dan kini mereka menyaksikan Watu Lawang yang seakan-akan merupakan bekas padang perdu yang terbakar. Daun-daun menjadi kuning dan dahan-dahan berpatahan. Tanah bagaikan habis dibajak dan batu-batu padas pecah berserakan.
    Selagi anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh sibuk dengan ketiga sosok mayat sambil mengagumi ilmu mereka yang telah bertempur di Watu Lawang itu, maka Ki Gede telah siap untuk meninggalkan tempat itu dengan sebuah pedati. Kepada anak-anak muda yang ada di Watu Lawang, maka sekali lagi Ki Gede berpesan, agar mereka menyelenggarakan mayat-mayat itu sebagaimana seharusnya.
    Namun demikian, tiga orang di antara anak-anak muda itu telah mendapat perintah dari Ki Gede untuk mengikutinya membawa Ki Waskita dan Agung Sedayu yang terluka.
    “Marilah Pangeran,” Ki Gede mempersilahkan, “aku mohon Pangeran singgah barang sebentar di rumah.”
    Ternyata Pangeran Benawa tidak menolak. Betapa pun juga, ia merasa tubuhnya menjadi sangat letih. Apalagi ia pun sebenarnya telah terluka pula, meskipun tidak parah.
    Dengan demikian, maka sejenak kemudian, sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan Watu Lawang. Karena di antaranya terdapat sebuah pedati, maka perja¬lanan itu pun menjadi sangat lambat.
    Namun untunglah, bahwa keadaan Agung Sedayu tidak terlalu mencemaskan. Meskipun ia terluka parah, tetapi ia tetap menyadari keadaannya sebagaimana Ki Waskita.
    “Keadaan ini telah terulang beberapa kali,” berkata Ki Gede di dalam hatinya, “setiap kali Agung Sedayu mendapat lawan yang luar biasa, sehingga ia sendiri harus mengalami kesulitan jasmaniah. Untunglah, setiap kali anak muda itu berhasil mengatasinya.”
    Sementara itu, Sekar Mirah yang ada di dalam pedati pula menunggui suaminya dengan jantung yang berdebaran. Bagaimanapun tabahnya hati murid Ki Sumangkar itu, tetapi menghadapi keadaan Agung Sedayu itu ternyata matanya menjadi panas pula. Hanya dengan usaha yang keras sajalah Sekar Mirah dapat bertahan untuk tidak menangisi suaminya sebagaimana dilakukan oleh seorang perempuan.
    Dalam pada itu, sebuah iring-iringan yang lain telah memasuki tlatah Tanah Perdikan pula. Pandan Wangi yang berada di sebelah Glagah Putih berkata, “Kita sudah dekat. Seperti yang kita perhitungkan, kita memasuki Tanah Perdikan Menoreh setelah langit menjadi cerah.”
    Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Bahkan katanya kemudian “Tanah Perdikan ini telah terbangun.”
    “Lihat Glagah Putih,” berkata Pandan Wangi kemudian, “bukankah kehidupan berlangsung sebagaimana biasa? Jika terjadi sesuatu, kita akan dapat melihat Tanah Perdikan ini menjadi gelisah.”
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Jika perang tanding itu terjadi tanpa diketahui oleh orang-orang lain di Tanah Perdikan ini, maka mereka sama sekali tidak merasa gelisah.”
    “Memang mungkin,” berkata Pandan Wangi, “tetapi perang tanding itu akan membangunkan orang-orang Tanah Perdikan ini. Jika seorang saja di antara orang Tanah Perdikan ini yang mengetahui apalagi melihatnya, maka seluruh Tanah Perdikan akan segera membicarakannya. Kecuali jika perang tanding itu ter¬jadi di satu tempat yang benar-benar tersembunyi.”
    Glagah Putih tidak menjawab lagi. Tetapi semakin dekat mereka dengan padukuhan induk, rasa-rasanya hatinya menjadi semakin gelisah.
    Tetapi, Pandan Wangi dan Swandaru justru sebaliknya. Tanah Perdikan itu memang nampak tenang saja seperti hari-hari yang lain. Seakan-akan memang tidak terjadi sesuatu yang mengguncangkannya pada saat-saat fajar menyingsing.
    Bahkan ketika seorang petani melihat kehadiran Pandan Wangi bersama suaminya dan Kiai Gringsing, telah menyapanya dengan wajah berseri seperti cerahnya pagi, “Pagi-pagi benar kalian sudah datang di Tanah ini. Selamat datang atas kehadiran kalian.”
    Pandan Wangi tersenyum. Jawabnya, “Tanah ini bagaikan memanggilku kemari. Karena itu, aku telah berangkat malam tadi. Aku memang ingin melihat fajar yang naik dari Tanah Kelahiran ini.”
    Petani itu tertawa. Katanya, “Silahkan. Tetapi keda¬tangan kalian pagi-pagi sekali akan dapat mengejutkan Ki Gede.”
    “Apakah ayah sedang disibukkan oleh sesuatu?” bertanya Pandan Wangi.
    “Tidak. Kemarin Ki Gede melihat-lihat daerah ini seperti yang biasa dilakukannya” jawab petani itu.
    “Terima kasih” sahut Pandan Wangi sambil meneruskan perjalanannya.
    Beberapa langkah kemudian Pandan Wangi pun berkata, “Kau lihat Glagah Putih. Bukankah keadaan tetap tenang di Tanah Perdikan ini. Karena itu, kau tidak perlu gelisah.”
    Glagah Putih mengangguk-angguk. Sementara itu mereka pun menjadi semakin dekat pula dengan padukuhan induk.
    Memang tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa telah jadi sesuatu yang menggetarkan di atas Tanah Perdikan itu. Semuanya berjalan seperti biasanya. Di jalan-jalan yang menghubungkan pedukuhan yang satu dengan padukuhan yang lain, menjadi semakin ramai oleh orang-orang yang pergi ke pasar dan pergi ke sawah ladang mereka. Satu dua pedati nampak berjalan perahan-lahan ditarik oleh dua ekor lembu.
    Dalam kesibukan yang semakin meningkat itu, maka Pandan Wangi bersama suaminya, Glagah Putih dan Kiai Gringsing telah memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh tanpa menghiraukan sebuah pedati yang merayap pula mendekati gerbang padukuhan induk itu.
    Sebenarnyalah, bahwa pedati yang diiringi oleh beberapa orang berkuda itu adalah pedati yang membawa Agung Sedayu dan Ki Waskita.
    Dalam pada itu, memang tidak nampak tanda-tanda kegelisahan di padukuhan induk. Karena itu, maka iring-iringan yang datang dari Sangkal Putung itu pun sama sekali tidak menyangka, bahwa sesuatu memang sebenarnya telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh.
    Dengan wajah yang cerah Pandan Wangi memasuki gerbang halaman rumah ayahnya. Beberapa orang anak muda yang masih ada di halaman itu terkejut melihat kehadirannya. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa sepagi itu Pandan Wangi yang berada di Sangkal Putung, suatu Kademangan yang jauh, telah berada di pintu gerbang rumah itu.
    Pandan Wangi tersenyum melihat sikap anak-anak muda yang termangu-mangu. Karena itu, maka ia pun segera meloncat turun dari kudanya sambil berkata “Selamat pagi. Kalian memang tidak bermimpi. Aku benar-benar telah datang di pagi-pagi seperti ini.”¬
    “0,” seorang peronda mengangguk-angguk, “marilah. Naiklah. “
    Pandan Wangi memandang anak-anak muda yang masih ada di rumah ayahnya itu. Kemudian sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Apakah menjadi kebiasaan kalian, bahwa kalian meronda sampai pagi seperti ini?-
    “Tidak Pandan Wangi,” jawab peronda yang tertua, “biasanya kami meninggalkan gardu di depan sebelum matahari terbit. Tetapi pagi ini ada sesuatu yang menahan kami disini.”
    “O,” Pandan Wangi mengangguk-angguk, “apakah yang telah menahan kalian? Apakah ada sesuatu yang penting telah terjadi?-
    Peronda itu termangu-mangu sejenak. Ada keragu-raguan untuk mengatakan tentang peristiwa yang didengarnya di Watu Lawang, karena ia sendiri masih be¬lum terlalu jelas akan peristiwa itu.
    Karena itu, maka peronda itu telah mempersilahkan Pandan Wangi untuk naik ke pendapa, “Silahkan. Duduk sajalah dahulu.”
    Pandan Wangi mulai merasa sesuatu yang mendebarkan. Hampir di luar. sadarnya Pandan Wangi bertanya “Apakah Ayah ada di rumah? “
    Peronda itu masih saja termangu-mangu. Sehingga Glagah Putih lah yang mendesak, “Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah Ki Gede tidak ada di rumah?-
    “Ki Gede nganglang sejak ujung malam.” jawab peronda itu, “agaknya Ki Gede telah mengelilingi seluruh Tanah Perdikan.”
    “Jadi sejak Ki Gede pergi di permulaan malam kemarin, sampai saat ini masih belum kembali?” desak Glagah Putih.
    Peronda itu mengangguk. Tetapi Katanya, “Ki Gede memang sering pergi mengelilingi Tanah Perdikan ini. Mungkin Ki Gede telah singgah di barak pasukan khusus.”
    Jantung Glagah Putih mulai berdentangan. Dengan nada tinggi ia bertanya “Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan berteka-teki.”
    Peronda itu menjadi semakin ragu. Namun tidak seorang pun di antara kawan-kawannya yang dapat mengatakan sesuatu. Kawan-kawannya pun hanya dapat berdiam diri dengan dada yang berdebaran. Seperti peronda yang tertua itu mereka ragu-ragu. Apakah sebaiknya mereka mengatakan serba sedikit tentang persoalan di Watu Lawang sebagaimana yang mereka dengar atau tidak. Karena yang mereka tahu hanyalah, beberapa orang kawannya telah dipanggil dengan tergesa-gesa.
    Sementara keragu-raguan mencengkam halaman rumah Ki Gede, sebuah pedati merambat memasuki ger¬bang padukuhan induk. Namun tidak seorang pun yang menyangka bahwa di dalam pedati itu terdapat dua orang yang terluka.
    Meskipun demikian, bahwa beberapa orang mengiringi pedati yang berjalan lambat itu memang sudah menarik perhatian. Tetapi setiap kali orang bertanya tentang pedati itu, maka tidak seorang pun yang mengatakan yang sebenarnya. Karena itu, maka tidak seorang pun yang kemudian mempersoalkannya lagi.
    Dengan demikian, maka iring-iringan itu pun telah mendekati gerbang rumah Ki Gede tanpa hambatan. Namun demikian mereka memasuki halaman, maka para pengiringpun telah dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang yang sedang termangu-mangu di halaman itu.
    “Pandan Wangi” Ki Gede hampir berteriak menyapa ketika ia melihat Pandan Wangi.
    Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Dilihatnya ayahnya mendekatinya dengan tergesa-gesa, sementara pedati itu pun telah memasuki halaman pula.
    “Kapan kau datang?” bertanya Ki Gede.
    “Baru saja ayah,” jawab Pandan Wangi. “Bersama kakang Swandaru dan Kiai Gringsing.”
    Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya menantunya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditatapnya wajah Kiai Gringsing sejenak.
    “Selamat datang” desisnya.
    Swandaru mengangguk hormat sementara Kiai Gringsing pun menarik nafas dalam-dalam. Nalurinya telah menangkap bahwa sesuatu telah terjadi. Karena itu, maka jawabnya, “Kami selamat di perjalanan Ki Gede. Tetapi rasa-rasanya kami telah datang pada saat yang ku¬rang baik.”
    Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya, “Marilah. Silahkan naik ke pendapa.”
    Ki Gede memandang wajah Pandan Wangi yang gelisah. Sementara Swandaru pun bertanya, “Apakah sesuatu telah terjadi?-
    Ki Gede tidak segera menjawab. Sementara Ki Lurah Branjangan pun telah mendekati mereka pula.
    Namun dalam pada itu, Glagah Putih lah yang tidak dapat menunggu. Tiba-tiba saja ia telah berlari menyongsong pedati yang kemudian melintasi halaman dan langsung menuju ke serambi gandok.
    Tetapi pada saat yang bersamaan, Sekar Mirah pun te¬lah meloncat turun dari pedati itu. Ketika dilihatnya Pan¬dan Wangi, maka ia pun berlari ke arahnya. Dengan serta merta ia pun telah memeluk Pandan Wangi. Dan pada saat yang demikian, maka Sekar Mirah tidak dapat lagi mena¬han gejolak perasaannya, sebagai seorang perempuan. Yang telah ditahankannya dengan sekuat-kuatnya, tiba-tiba saja telah meledak. Maka Sekar Mirah pun telah menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Pandan Wangi.
    Maka semakin jelaslah bahwa memang telah terjadi sesuatu. Tangis Sekar Mirah benar-benar telah menggetarkan jantung orang-orang yang menyaksikan¬nya.
    “Ada apa dengan Agung Sedayu?” bertanya Kiai Gringsing yang gelisah.
    Sekar Mirah tidak sempat menjawab. Tangisnya bagaikan menghentak-hentak.
    Karena itu, maka Kiai Gringsing pun kemudian memandangi pedati yang berhenti di depan serambi gandok. Namun tiba-tiba ia berdesis “Pangeran.”
    Swandaru pun kemudian melihat Pangeran Benawa berdiri di sebelah pedati yang telah berhenti. Sementara Glagah Putih yang berdiri mendekati pedati itu justru tidak melihatnya, karena ia langsung menjengukkan kepalanya ke dalam pedati.
    “Kakang Agung Sedayu” Glagah Putih hampir berteriak.
    Dilihatnya Agung Sedayu terbaring diam di dalam pedati itu di sebelah Ki Waskita yang terbaring pula.
    Namun Glagah Putih itu pun mendengar jawaban perlahan-lahan “Aku tidak apa-apa Glagah Putih.”
    “O” Glagah Putih menarik nafas dalam-dalam. Pada saat ia melihat Agung Sedayu terbujur diam, maka hatinya seakan-akan telah terhenyak ke dalam satu anggapan yang paling pahit. Bahkan rasa-rasanya darahnya bagaikan berhenti mengalir. Namun ternyata bahwa Agung Sedayu itu masih tetap hidup.
    Ki Gede dan Ki Lurah Branjangan pun kemudian nembawa Kiai Gringsing dan Swandaru mendekati Pangeran Benawa. Sementara itu, Ki Gede itu pun berkata, “Agung Sedayu dan Ki Waskita. Tetapi mereka masih tetap menyadari keadaannya.”
    Ketika Kiai Gringsing mendekati Pangeran Benawa, maka ia pun mengangguk hormat sambil bertanya, “Apa yang sudah terjadi Pangeran?-
    Pangeran Benawa memandang kearah pedati yang berhenti di depan serambi gandok itu sambil berdesis, “Untuk seterusnya adalah tugas Kiai. Keduanya memerlukan pengobatan yang sebaik-baiknya. Untunglah bahwa Kiai datang pagi ini, pada saat yang sangat diperlukan.”
    “Akulah yang terlambat,” tiba-tiba saja Glagah Putih menyahut, “aku ternyata tidak dapat melakukan tugasku sebaik-baiknya. Aku telah gagal membawa Kiai Gringsing sebelum peristiwa ini terjadi.”
    “Sudahlah,” berkata Ki Gede kemudian, “kita harus segera berbuat sesuatu atas angger Agung Sedayu dan Ki Waskita. Karena Kiai Gringsing telah berada di¬ sini, maka aku tidak akan memanggil dukun yang ada di Tanah Perdikan ini. Aku yakin bahwa dukun yang paling baik sekali pun tidak akan dapat menyamai kemampuan Kiai Gringsing.”
    “Aku hanya dapat berusaha,” jawab Kiai Gringsing, “sambil memohon kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.”
    Demikianlah, maka kedua tubuh yang terluka itu telah diangkat dan dibawa ke gandok. Pangeran Benawa telah mengiringi keduanya diikuti oleh Kiai Gringsing dan orang-orang lain yang ada di serambi itu pula.
    Sementara itu, Pandan Wangi telah membawa Sekar Mirah untuk naik ke pendapa dan mencoba menenangkannya. Meskipun Pandan Wangi sendiri belum sempat meli¬hat, apa yang telah terjadi.
    Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun kemudian telah melihat keadaan Agung Sedayu dan Ki Waskita dengan teliti. Meskipun Kiai Gringsing tidak melihat pertempuran itu sendiri, namun melihat luka-luka di tubuh Agung Sedayu, maka ia pun dapat mengambil satu kesimpulan tentang lawan anak muda itu. Pisau yang mampu menembus ilmu kebal Agung Sedayu tentu dilontarkan oleh tangan orang berilmu tinggi. Apalagi ketika ternyata bahwa Pangeran Benawa pun telah terluka pula. Tentu lawan-lawan mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan menembus ilmu kebal atau ilmu lain semacamnya.
    Namun, setelah memperhatikan luka-luka itu dengan saksama, maka Kiai Gringsing pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Marilah kita berdoa di dalam diri kita masing-masing. Mudah-mudahan luka-luka itu akan dapat disembuhkan.”
    Orang-orang yang ada di gandok itu pun mengangguk-angguk. Namun dengan demikian, maka kegelisahan di hati mereka telah menjadi berkurang. Agaknya Kiai Gringsing melihat sesuatu yang mungkin dilakukan untuk menyembuhkan luka-luka itu. Apalagi ketika Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Menurut ujud lahiriahnya, luka-luka mereka tidak sangat membahayakan.”
    “Syukurlah,” jawab Ki Gede, “mudah-mudahan keduanya cepat mendapatkan kesembuhan.”
    “Kita wajib berusaha,” jawab Kiai Gringsing, “mudah-mudahan usaha kita mendapat bimbingan Yang Maha Agung. Sehingga dengan demikian, maka usaha ki¬ta itu akan berhasil.”
    Ki Gede hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu, Kiai Gringsing pun segera melakukan tugasnya, mengobati luka-luka Agung Sedayu dan Ki Waskita sebe¬lum terlambat.
    “Aku sudah menaburkan obat untuk sementara” berkata Ki Gede.
    “Ternyata obat Ki Gede telah banyak menolong” jawab Kiai Gringsing “dengan obat Ki Gede, maka darah Agung Sedayu dan Ki Waskita tidak terlalu banyak mengalir dari luka-lukanya.”
    Ki Gede pun mengangguk-angguk pula. Namun kemudian Kiai Gringsing pun berkata, “Ki Gede, sebaiknya biarlah para tamu duduk di pendapa. Aku akan mengobati keduanya. Dengan demikian para tamu itu tidak selalu dicengkam oleh ketegangan, sementara itu udara di ruang ini pun akan menjadi agak lapang. “
    “O,” Ki Gede mengangguk-angguk, “baiklah. Aku akan mempersilahkan tamu-tamuku untuk duduk di pendapa. “
    Dengan demikian, maka Ki Gede pun telah mempersilahkan Pangeran Benawa, Ki Lurah Branjangan dan Swandaru untuk pergi ke pendapa. Namun agaknya Glagah Putih lebih senang untuk menunggui Kiai Gringsing yang sedang mengobati Agung Sedayu dan Ki Waskita, Kiai Gringsing telah mendengarkan dari keduanya apa yang telah terjadi di Watu Lawang.
    “Itu adalah salahku” gumam Glagah Putih.
    Kiai Gringsing berpaling kearah Glagah Putih yang duduk tepekur sambil menyesali dirinya. Namun dalam pada itu terdengar Agung Sedayu berkata, “Kenapa kau datang terlambat?-
    Jantung Glagah Putih menjadi semakin berdentangan. Namun ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika ia mencari alasan untuk membela diri terhadap kelambatannya, maka ia akan merasa semakin bersalah.
    Karena itu, maka dengan jantung yang berdebaran, Glagah Putih pun menceriterakan apa yang telah terjadi di sepanjang perjalanannya menuju ke Sangkal Putung.
    Agung Sedayu yang mendengar keterangan itu dengan saksama, kemudian berkata, “Jika demikian, kau tidak bersalah. Kau tidak akan dapat mengatasi ham¬batan yang telah menghentikan perjalananmu. Jika kau memaksa diri, maka persoalannya akan menjadi bertambah rumit. Bahkan saat ini pun kau belum akan sampai ke Tanah Perdikan ini kembali.”
    Glagah Putih mengerutkan keningnya. Hampir saja tidak percaya kepada pendengarannya. Namun Kiai Gringsing yang menarik nafas dalam-dalam kemudian berdesis, “Ya. Memang bukan salah Angger Glagah Putih. Meskipun sebenarnya kami dapat datang lebih cepat, tetapi kami tidak menyangka hal ini terjadi begitu cepat.” “Tiba-tiba saja bajak laut itu menentukan waktu yang tidak dapat ditunda lagi. Dan aku memang tidak ingin menolaknya.”
    “Untunglah bahwa semuanya dapat teratasi” desis Kiai Gringsing.
    “Aku telah memohon kepada Tuhan. Ternyata permohonanku itu dikabulkan” jawab Agung Sedayu.
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Kemudian Katanya, “Sudahlah. Sekarang kau dan Ki Waskita harus beristirahat sebaik-baiknya. Biarlah Glagah Putih menunggui kalian berdua. Aku akan beristirahat di pendapa.”
    “Silahkan guru.” sahut Agung Sedayu. Sementara Ki Waskita pun menjawab pula, “Silahkan Kiai.”
    “Jika mungkin sebaiknya Ki Waskita mencoba untuk tidur barang sejenak” pesan Kiai Gringsing.
    “Aku akan mencoba” jawab Ki Waskita.
    Dengan demikian, maka Kiai Gringsing pun telah meninggalkan gandok setelah luka-luka Ki Waskita dan Agung Sedayu diobatinya. Sementara itu Glagah Putih tetap berada di gandok untuk memerlukan sesuatu yang perlu mendapat pertolongan orang lain.
    Dalam pada itu di pendapa, Sekar Mirah menjadi semakin tenang, ketika Kiai Gringsing kemudian memberitahukan, bahwa keadaan Agung Sedayu tidak berbahaya, meskipun parah. Demikian pula Ki Waskita.
    “Jika Tuhan berkenan, maka keduanya akan dapat disembuhkan. Tetapi tentu memerlukan waktu” berkata Kiai Gringsing.
    Sementara itu, Ki Gede pun telah memotong, “Kiai, Pangeran Benawa juga telah terluka, meskipun tidak parah.”
    “Aku sudah mengobatinya,” sahut Pangeran Benawa, “luka itu tidak banyak berpengaruh.”
    Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia percaya bahwa luka Pangeran Benawa tentu tidak memerlukan banyak perhatian. Pangeran Benawa adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga bajak laut yang menurut pendengarannya adalah saudara seperguruan Ki Tumenggung Prabadaru.
    Namun dalam pada itu Swandaru telah berdesis, “Sayang. Kita datang terlambat. Kami di Sangkal Putung memang tidak menyangka, bahwa perang tanding itu terjadi pada malam ini.”
    “Ya. Dan Glagah Putih telah menceriterakan alasan kelambatan kita kepada Agung Sedayu dan Ki Waskita,” berkata Kiai Gringsing, “kelambatan yang tidak dapat ditembus. Dan Agung Sedayu pun telah memakluminya.”
    “Ya,” Swandaru mengangguk-angguk, “untunglah bahwa Pangeran Benawa hadir di tempat ini. Jika tidak, maka keadaan kakang Agung Sedayu dan Ki Waskita akan menjadi sangat gawat.”
    “Kita memang seharusnya mengucapkan terima kasih kepada Pangeran Benawa-berkata Ki Gede.
    “Ah,” Pangeran Benawa berdesis, “aku bukan apa-apa. Agung Sedayu ternyata seorang yang perkasa.”
    “Tetapi setiap kali kakang Agung Sedayu selalu mengalami cidera. Ia baru saja sembuh dari luka-luka di dalam tubuhnya ketika ia bertempur melawan Ki Tumenggung. Kini ia telah mengalami luka parah lagi melawan saudara seperguruan Ki Tumenggung itu.” Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Lalu, gumamnya seakan-akan kepada diri sendiri, “Jika saja aku tidak terlambat. Aku ingin melihat, apa yang, dapat dilakukan oleh bajak laut itu.”
    Sekar Mirah memandang kakaknya dengan wajah yang tegang. Hampir saja ia mengatakan, bahwa kemampuan bajak laut itu agaknya berada di atas kemampuan Swandaru. Tetapi untunglah bahwa Sekar Mirah dapat menahannya.
    Namun dalam pada itu Ki Gede lah yang menjawab, “Agung Sedayu telah berhasil membunuh lawannya, meskipun ia harus mengalami luka-luka parah.”
    “Karena Pangeran Benawa ada disini” sahut Swandaru, “satu kebetulan yang tidak dapat diharapkan setiap kali terjadi. Jika kakang Agung Sedayu belum sempat mempelajari kedalaman ilmu dari kitab guru, itu karena keadaan tubuhnya yang terluka dalam menghadapi Ki Tumenggung Prabadaru, sehingga aku yang muda telah mendapat kesempatan lebih dahulu. Dalam pada itu, sebenarnya aku pun berharap bahwa aku akan mendapat kesempatan untuk menjajagi ilmu ketiga orang bajak laut itu. Meskipun waktu yang diberikan guru belum habis, tetapi aku telah mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menekuni isi kitab ini.”
    “Ah” tiba-tiba saja Kiai Gringsing telah berdesah.
    Di luar sadar, maka beberapa orang yang berada di pendapa itu telah berpaling kepada Kiai Gringsing. Sementara itu Kiai Gringsing pun kemudian berkata, “Swandaru, kau tidak usah menyebut tentang kitab itu. Satu hal yang sangat wajar dan bukan satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus.”
    Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Maaf guru. Bukan maksudku. Tetapi aku ha¬nya ingin mengatakan, bahwa aku merasa sangat menyesal bahwa aku datang terlambat, sehingga aku tidak dapat bertemu dengan bajak laut itu. Mungkin aku pun tidak akan lebih baik dari kakang Agung Sedayu. Namun dengan demikian, aku akan dapat membantunya.”
    “Aku mengerti,” jawab Kiai Gringsing, “tetapi semuanya sudah terjadi. Dan kita memang sudah seharusnya mengucapkan terima kasih kepada Pangeran Benawa seperti yang dikatakan oleh Ki Gede.”
    “Sebenarnya aku tidak berbuat banyak,” sahut Pangeran Benawa, “jika bajak laut itu tidak berbuat licik, Agung Sedayu tentu sudah dapat mengatasi persoalannya sendiri. Tetapi pada saat-saat yang gawat bagi bajak laut itu, maka dua orang yang lain telah membantunya. Pada saat-saat Agung Sedayu harus melawan tiga orang itulah, maka tubuh Agung Sedayu telah terluka.”
    Swandaru mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu percaya kepada keterangan Pangeran Benawa. Sementara itu, Ki Gede dan Ki Lurah Branjangan pun merasa ragu-ragu, karena mereka melihat Agung Sedayu telah terluka sebelum kedua bajak laut yang lain turun pula ke arena.
    Tetapi keduanya tidak membantah. Mereka mengerti maksud Pangeran Benawa yang ingin meyakinkan kepada Swandaru, bahwa Agung Sedayu memang akan dapat mengatasi persoalannya, apabila bajak laut itu bertempur dalam perang tanding yang jujur.
    Namun mereka pun mengerti, bahwa agaknya Swandaru tidak dapat mempercayai keterangan Pangeran Benawa itu. Meskipun demikian mereka tidak dapat memberikan penjelasan apa pun juga.
    Dalam pada itu, hidangan pun telah mulai disuguhkan. Di gandok Glagah Putih berusaha untuk memberikan minuman hangat kepada Agung Sedayu dan Ki Waskita.
    Demikianlah, baru setelah matahari merambat semakin tinggi, Tanah Perdikan Menoreh digemparkan oleh berita tentang perang tanding yang terjadi di Watu Lawang. Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh baru men¬dengar, bahwa Agung Sedayu dan Ki Waskita telah terluka cukup parah. Bahkan seorang yang lain, yang ternyata adalah Pangeran Benawa telah terluka pula, meskipun tidak seberapa menurut ukuran Pangeran Benawa.
    Di samping itu, ternyata bahwa di Watu Lawang terdapat pula tiga sosok mayat dari tiga orang bajak laut yang datang ke Tanah Perdikan Menoreh untuk membalas dendam kematian Ki Tumenggung Prabadaru, sebagaimana dikatakan oleh ketiga bajak laut itu, meskipun semula mereka justru ingin memusuhi Ki Tumenggung Prabadaru. Dalam pada itu, maka di rumah Ki Gede Menoreh, para tamunya pun telah dipersilahkannya untuk beristirahat. Pangeran Benawa menolak untuk mendapat tempat yang tersendiri. Ia lebih senang berada di antara para tamu Ki Gede yang lain.
    Sementara itu, Swandaru dan Pandan Wangi sempat untuk berbincang dengan Sekar Mirah tentang peristiwa yang terjadi di Watu Lawang itu. Sekar Mirah men¬ceriterakan peristiwa itu dari semula sampai saat-saat terakhir, ketika ia berlari kearah Agung Sedayu. Ketika senjata bajak laut itu memburunya, namun dapat digagalkan oleh Pangeran Benawa.
    Pandan Wangi mendengarkan ceritera itu dengan jantung yang berdebaran. Ia mencoba untuk membayangkan apa yang telah terjadi di Watu Lawang. Perang tanding, yang kemudian berubah menjadi pertempuran antara tiga orang melawan tiga orang itu tentu satu benturan ilmu yang dahsyat sekali.
    Namun Swandaru ternyata telah berdesis, “Kakang Agung Sedayu telah menyia-nyiakan waktunya untuk mempelajari soal-soal yang tidak berarti. Jika benar keterangan Sekar Mirah, bahwa Agung Sedayu seakan-akan dapat membuat dirinya menjadi tiga, ternyata hal itu tidak banyak bermanfaat menghadapi orang-orang berilmu. Bajak laut itu berhasil melukainya dan bahkan dengan parah. Apalagi orang-orang yang. benar-benar berilmu mapan.”
    “Bajak laut itu mempunyai ilmu yang nggegirisi” sahut Sekar Mirah.
    “Ya, menurut penilaianmu,” jawab Swandaru, “tetapi sebaiknya kakang Agung Sedayu menekuni ilmu yang wajar tetapi berarti. Ilmu kanuragan dan ketrampilan. Jika dilakukan dengan tekun, maka aku kira kakang Agung Sedayu akan mendapat kemajuan yang pesat, sehingga ia tidak terlalu sering mengalami kesulitan.
    Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Jika perang tanding itu dilakukan dengan jujur, maka kakang Agung Sedayu akan dapat menyelesaikan tugasnya dalam keadaan yang lebih baik.
    “Atau Sebaliknya,” sahut Swandaru, “tanpa campur tangan Pangeran Benawa, mungkin keadaan kakang Agung Sedayu menjadi lebih parah.”
    “Pangeran Benawa turun ke medan setelah kedua bajak laut yang lain ikut ambil bagian. Yang mula-mula turun adalah Ki Waskita, baru kemudian Pangeran Benawa.” jawab Sekar Mirah.
    Swandaru tidak menjawab. Tetapi terasa oleh Sekar Mirah, bahwa kakaknya itu hanya sekedar tidak mau membuat hatinya yang sedang gelisah itu menjadi bertambah sakit. Namun agaknya Swandaru menganggap bahwa Agung Sedayu telah melakukan satu kesalahan, sehingga ilmunya tidak dapat mengimbangi ilmu orang-orang yang telah datang dan membuat perhitungan dengannya.
    Namun Sekar Mirah pun tidak ingin berbantah dengan kakaknya. Karena itu, maka ia pun kemudian telah berdiam diri pula.
    Sementara itu, Kiai Gringsing telah berada pula di gandok menunggui Agung Sedayu dan Ki Waskita bersa¬ma Glagah Putih.
    Ketika kemudian Sekar Mirah dan Pandan Wangi memasuki ruangan itu, ternyata Agung Sedayu dan Ki Waskita sudah menjadi agak segar setelah mereka meneguk beberapa titik air hangat. Sehingga dengan demikian maka hati Sekar Mirah pun menjadi semakin tenang.
    Untuk beberapa saat Pandan Wangi telah berbicara dengan Ki Waskita dan Agung Sedayu. Tetapi karena keduanya masih memerlukan lebih banyak beristirahat, maka keduanya pun kemudian telah meninggalkan ruangan itu pula.
    Demikianlah, di hari itu Pangeran Benawa telah beristirahat di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi seperti biasanya, Pangeran itu tidak dapat terlalu lama tinggal di satu tempat. Ketika malam turun, maka Pangeran Benawa yang masih duduk di pendapa bersama dengan ta¬mu-tamu Ki Gede yang lain itu, tiba-tiba saja menyatakan untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu.
    “Begitu tergesa-gesa,” Ki Gede menjadi agak terkejut karenanya, “sebaiknya Pangeran bermalam di sini untuk malam ini.”
    Tetapi Pangeran Benawa menjawab, “Terima kasih. Tugasku sudah selesai. Aku harus kembali. Selama ini aku hanya tertarik kepada ketiga bajak laut itu. Aku mengamatinya sejak mereka berada di Pajang.”
    Bagaimanapun juga Ki Gede dan tamu-tamunya yang lain menahan, namun Pangeran Benawa berkeras untuk meninggalkan Tanah Perdikan itu malam itu juga.
    Karena itu, maka Pangeran Benawa itu pun kemudian minta diri pula kepada Agung Sedayu dan Ki Waskita.
    “Lekaslah sembuh,” berkata Pangeran Benawa, “di tangan Kiai Gringsing maka luka-luka itu tidak akan terlalu lama mengganggu.”
    “Terima kasih Pangeran” jawab Ki Waskita “tanpa hadirnya Pangeran saat itu, keadaan kami akan lebih parah lagi “
    “Sudahlah” potong Pangeran Benawa, “jika kalian sudah sembuh pergilah ke Pajang untuk menengok aku. Tetapi mungkin aku sudah tidak berada lagi di Pajang. Mungkin pula aku tidak akan mendapat banyak kesempatan lagi untuk mengembara, karena aku akan segera menetap di Jipang. Sebentar lagi Kakangmas Senapati Ing Ngalaga akan diwisuda. Dan aku pun akan terikat di Kadipaten Jipang. Satu jabatan yang sebenarnya kurang sesuai bagiku. Aku lebih senang mengembara dan menyusuri lereng-lereng pegunungan dan lengkeh perbukitan.”
    Dengan demikian, maka Pangeran Benawa malam itu juga benar-benar telah meninggalkan rumah Ki Gede. Sejenak Pangeran Benawa singgah di tempatnya bersembunyi selama berada di Tanah Perdikan Menoreh menje¬lang perang tanding di Watu Lawang. Para pembantu kepercayaannya ternyata masih menunggunya dengan setia, sehingga agak berbeda dengan kebiasaannya, malam itu Pangeran Benawa tidak berjalan seorang diri.
    Agaknya Pangeran Benawa telah membawa beberapa orang kepercayaannya ke Tanah Perdikan Menoreh untuk mengawasi para bajak laut itu, karena Pangeran Benawa tidak tahu, berapa lama ia harus menunggu dan menurut perhitungannya, ia akan berada di daerah pengawasan yang luas.
    Ki Lurah Branjangan yang masih berada di rumah Ki Gede Menoreh baru di keesokan harinya minta diri untuk kembali ke barak pasukan khususnya. Ketika ia menengok Ki Waskita dan Agung Sedayu, keduanya nampak menjadi semakin baik. Keduanya telah berbicara dengan lancar. Bahkan keduanya telah dapat menelan makanan yang cukup bagi ketahanan tubuh mereka.
    Namun dalam pada itu, Kiai Gringsing dan Swandaru bersama isterinya masih tetap berada di Tanah Perdikan Menoreh. Kiai Gringsing masih ingin menunggui murid¬nya yang terluka, sementara itu Pandan Wangi masih juga ingin melepaskan rindunya kepada Tanah Kelahirannya.
    Sekali-sekali Pandan Wangi mencoba untuk berbincang juga dengan Prastawa. Tetapi nampaknya anak muda itu menjadi lebih senang untuk menyendiri dan berada di antara satu dua orang kawan terdekatnya, meskipun tugas-tugas yang diserahkan kepadanya tidak diabaikannya.
    Demikianlah dari hari ke hari, keadaan Ki Waskita dan Agung Sedayu menjadi bertambah baik. Kiai Gringsing telah merawat keduanya dengan tekun-dan bersungguh-sungguh. Sementara Swandaru dan Pandan Wa¬ngi masih juga tetap berada di Tanah Perdikan Menoreh.
    Dalam pada itu, selagi Kiai Gringsing berusaha untuk menyembuhkan Agung Sedayu, maka di tempat yang jauh terpencil, di antara lebatnya batang-batang perdu di pinggir hutan pepat yang jarang disentuh kaki orang, seorang yang bertubuh kecil agak terbongkok-bongkok berjalan menyusuri jalur setapak menuju ke sebuah padepokan kecil yang tidak banyak dikenal. Padepokan yang diam dan tidak mempunyai pengaruh apa pun terhadap lingkungan di sekitarnya.
    Tetapi ternyata kediaman dari padepokan itu telah terganggu oleh kehadiran orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu.
    Ketika orang itu memasuki regol padepokan yang sudah tua dan kotor, dilihatnya seorang yang bertubuh tinggi kekar, namun yang sudah menginjak hari-hari tuanya, sedang sibuk membelah kayu bakar di halaman padepokan kecilnya.
    “Kiai” orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu menjadi semakin terbongkok-bongkok. Bahkan kemudian ia pun duduk di sebelah orang bertubuh tinggi kekar yang sedang membelah kayu bakar itu.
    “Kiai” orang bertubuh kecil itu mengulangi sekali lagi.
    “He,” jawab orang yang sedang membelah kayu, “kau pergi ke mana sepagi ini?-
    “Membeli garam Kiai,” jawab orang itu, “aku telah membawa beberapa bongkah gula kelapa yang aku buat pagi ini untuk aku tukarkan dengan garam¬.”
    “O” orang yang sedang membelah kayu itu mengangguk-angguk. Lalu, “Kau masak apa hari ini? Empal kelinci lagi?”
    Orang yang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Katanya, “Hari ini aku menangkap tiga ekor ikan kakap yang besar.”
    Orang yang bertubuh kekar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Tetapi jangan terlalu pedas jika kau akan membumbuinya untuk urip-urip.”
    “Ya Kiai” jawab orang bertubuh kecil itu. Lalu, “Tetapi ada hal lain yang ingin aku sampaikan kepada Kiai.”
    “Apa? Kayu bakar yang masih basah? Aku sudah mengeringkannya dan membelahnya menjadi kecil-kecil seperti ini” jawab orang bertubuh kekar itu.
    “Bukan Kiai. Bukan soal kayu yang masih basah. Tetapi persoalannya menyangkut nama perguruan ini” jawab orang bertubuh kecil itu.
    “Ah, kau masih saja menyebut perguruan ini. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku sudah puas dengan kayu bakar, ikan kakap, berburu rusa dan sekali-sekali menyumpit burung kecruk yang mirip dan sebesar itik itu.” jawab orang bertubuh kekar itu.
    Orang bertubuh keel yang terbongkok-bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Baiklah Kiai. Jika Kiai tidak mau lagi berbicara tentang perguruan ini. Tetapi aku ingin menyampaikan satu kabar yang pahit buat Kiai.”
    “Jangan ganggu aku dengan ceritera-ceritera cengeng lagi,” orang yang membelai, kayu itu hampir membentak, “aku sudah jemu dengan semuanya itu. Usahaku bertahun-tahun telah sia-sia dan tidak berarti sama sekali. Harapanku sekarang tinggal satu. Ketenangan. Karena itu jangan kau ganggu aku dengan ceritera-ceritera yang dapat menggelisahkan aku”
    Orang yang terbongkok-bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya, “Baiklah Kiai. Jika Kiai tidak mau mendengarkan aku, biarlah aku saja yang menyelesaikan persoalannya. Meskipun aku tidak memiliki bekal yang memadai, tetapi rasa-rasanya aku tidak da¬pat membiarkan penghinaan itu terjadi.”
    “Jangan mengigau. Apa yang sebenarnya kau katakan itu?” orang yang sedang membelah kayu itu benar-benar membentak.
    “Kiai,” tetapi orang bertubuh kecil dan bongkok itu berkata terus, “Bukankah murid Kiai yang menjadi Tumenggung itu telah terbunuh oleh Agung Sedayu.”
    “Biar saja. Aku tidak mempunyai persoalan lagi dengan murid-muridku. Mereka membuat hatiku menjadi sakit karena mereka telah bermusuhan yang satu dengan yang lain. Yang menjadi Tumenggung itu menjadi sombong, sedang yang lain menjadi dengki.” jawab orang bertubuh kekar itu.
    “Mungkin Tumenggung itu tidak menarik bagi Kiai karena sikapnya yang sombong yang bahkan seolah-olah tidak mau mengenal lagi sumber ilmu yang telah membuatnya menjadi besar. Tetapi tiga orang murid Kiai yang lain nampaknya masih selalu mengenal diri dan sumbernya. Bukankah mereka pada waktu-waktu tertentu datang mengunjungi Kiai dan membawa barang-barang berharga yang dapat kita pergunakan untuk menyambung hidup kita?” berkata orang yang bongkok itu.
    Orang yang bertubuh kekar dan sedang membelah kayu itu terdiam. Tangannya masih saja sibuk membelah kayu bakar yang sedang dijemurnya.
    Namun tiba-tiba ia berkata, “Kenapa dengan bajak laut itu?-
    Orang bertubuh kecil itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Telah terjadi malapetaka atas mereka?-
    “Apakah mereka gagal merompak dan mati ditelan lautan?” bertanya orang bertubuh kekar itu tanpa meletakkan parang pembelah kayunya.
    “Tidak Kiai” jawab orang bertubuh kecil itu, “mereka terbunuh sebagaimana Ki Tumenggung Prabada¬ru.”
    “Aku tidak mengerti. Dan aku sama sekali tidak peduli atas kematian Prabadaru itu.” jawab orang bertubuh kekar itu.
    “Baik Kiai,” jawab orang yang terbongkok-bongkok itu, “Kiai dapat tidak peduli atas kematian Prabadaru, tetapi tentu tidak atas kematian ketiga bajak laut itu.”
    Orang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Hampir di luar sadarnya ia berkata, “Siapa yang telah mengatakan hal itu kepadamu he?-
    “Semua orang mengatakannya. Orang-orang Tanah Perdikan Menoreh. Orang-orang Mataram dan orang-orang Pa¬jang. Bajak laut itu telah singgah di Pajang sebelum mereka ke Mataram dan ke Tanah Perdikan Menoreh, karena semula yang mereka cari adalah Tumenggung Parabadaru.” jawab orang bertubuh kecil itu.
    Sejenak orang bertubuh kekar itu merenung. Namun parang pembelah kayu itu masih di tangannya.
    “Kiai,” berkata orang bertubuh kecil dan terbongkok-bongkok itu, “yang paling menyakitkan hati adalah, bahwa pembunuh Prabadaru itu jugalah yang telah membunuh salah seorang dari ketiga murid Kiai yang telah menjadi bajak laut itu.”
    Wajah orang bertubuh kekar itu menjadi merah. Na¬mun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Agung Sedayu.”
    “Ya. Agung Sedayu. Ia telah membunuh salah seorang dari ketiga murid Kiai itu. Kemudian yang lain telah terbunuh oleh Ki Waskita dan Pangeran Benawa.” jawab orang bertubuh kecil itu.
    “Pangeran Benawa. Kenapa ia ikut campur dalam persoalan ini?” bertanya orang bertubuh kekar itu.
    Orang bertubuh kecil itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Katanya, “Menurut pendengaranku, ketiga murid Kiai itulah yang mula-mula melanggar paugeran perang tanding.”
    “Begitu?” bertanya orang bertubuh kekar itu.
    “Ya.” jawab orang bertubuh kecil itu, yang kemudian menceriterakan apa yang telah, didengarnya tentang peristiwa di Watu Lawang itu yang ternyata telah tersebar sampai kemana-mana.
    Orang bertubuh kekar yang sedang membelah kayu bakar itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata, “Kau menggelitik perasaanku. Sebe¬narnya aku telah berusaha memisahkan diri dari persoalan-persoalan duniawi. Aku mencoba untuk hidup terpisah dari hubungan antara manusia. Tetapi karena masih ada kau yang menghubungkan aku dengan pergaulan manusia, maka aku sekarang mendengar ceritera yang membuat hatiku panas.”
    “Aku minta maaf, Kiai,” jawab orang bertubuh kecil dan terbongkok-bongkok itu, “sebenarnya aku pun ingin hidup dalam suasana yang tersendiri. Tetapi kema¬tian empat orang saudara seperguruan rasa-rasanya memang sangat menyakitkan hati. Mungkin Kiai yang sudah kenyang mengecap pahit getirnya kehidupan, dapat menahan diri dan tidak mau lagi mencampuri persoalan yang terjadi pada murid-murid Kiai. Tetapi rasa-rasanya aku tidak dapat tidur nyenyak. Kecuali empat orang murid perguruan ini telah terbunuh, maka nama perguruan ini pun akan tercemar karena kedunguan murid-muridnya.”
    “Tanganku telah penuh dengan noda-noda darah,” berkata orang yang berdada bidang itu, “sebenarnya aku ingin melupakannya. Sejak murid-muridku saling mengancam untuk saling berbunuhan, aku memang menjadi sangat kecewa. Aku kehilangan Tumenggung Prabadaru ketika ia menjadi sombong dan menganggap saudara-saudara seperguruan menjadi buruan yang harus ditangkap, dan bahkan untuk dibunuh. Sementara yang dilakukan di antara para prajurit Pajang telah gagal. Kemudian kini aku benar-benar telah kehilangan ketiga orang muridku yang lain.”
    “Kiai,” berkata orang bertubuh kecil dan selalu berjalan terbongkok-bongkok itu, “jika Kiai tidak ingin berbuat sesuatu, maka aku akan mohon diri. Aku akan pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.”
    “Kau juga akan membunuh diri?” bertanya orang yang sedang membelah kayu itu.
    “Kiai,” jawab orang bertubuh bongkok itu, “aku tahu, bahwa di Tanah Perdikan Menoreh kini terdapat. beberapa orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi sudah tentu bahwa Pangeran Benawa tidak akan berada di Tanah Perdikan itu untuk seterusnya. Aku akan singgah di Pajang untuk mendengar pembicaraan orang, apakah Pangeran Benawa sudah kembali atau belum.
    Jika Pangeran Benawa sudah kembali, maka tidak ada orang di Tanah Perdikan Menoreh yang akan dapat melawan aku. “
    “Kau mengigau,” geram orang bertubuh kekar itu, “Agung Sedayu telah membunuh dua orang di antara murid-muridku.”
    “Ia terluka parah, Ki Waskita yang juga mampu mengimbangi kemampuan salah seorang murid perguruan ini itu pun telah terluka parah seperti Agung Sedayu. Karena itu, tugasku tidak akan terlalu berat.”
    “Kau akan membunuh Agung Sedayu dalam ke¬adaan terluka parah?” bertanya orang yang bertubuh kekar itu.
    “Ya. Aku memang bukan seorang kesatria. Aku adalah seorang yang licik dan tidak terikat, pada segala macam paugeran dan apalagi sifat-sifat kejantanan. Kiai, bukankah murid-murid Kiai yang kinasih itu¬ pun tidak berpegang pada sifat-sifat kesatria. Merekalah yang pertama-tama turun bertiga melawan Agung Se¬dayu. Dan bukankah Kiai memang tidak pernah mengajari kami dengan sifat-sifat semacam itu? Kiai selalu mengajari kami untuk berbuat apa saja untuk mencapai tujuan akhir.”
    Orang bertubuh kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Katanya, “Dengarlah. Aku tidak akan menghalangimu dengan cara apa pun yang akan kau ambil. Tetapi kau adalah muridku yang paling muda, meskipun mungkin umurmu tidak lebih muda dari bajak laut-bajak laut itu. Kemampuanmu masih terpaut banyak dan barangkali kau memerlukan waktu tiga empat tahun lagi untuk mendapatkan kemampuan sebagaimana saudara-saudaramu itu. Apalagi ketiga bajak laut itu, sebagaimana mereka katakan, telah mendapat sisipan ilmu dari guru-gurunya yang lain, dengan ijinku. Karena itu, seharusnya kau tahu diri.”
    “Sudah aku katakan Kiai,” jawab orang yang terbongkok-bongkok itu, “mereka sudah terluka parah. Aku akan masuk ke dalam bilik mereka seperti laku seorang pencuri. Aku yakin akan dapat melakukannya. Aku mempunyai kemampuan untuk melepaskan sirep.”
    “Sirepmu tidak akan berarti apa-apa bagi orang seperti Agung Sedayu.” berkata orang yang sedang membelah kayu itu.
    “Aku ulangi Kiai, ia sudah terluka parah. Seandainya ia tidak sedang tertidur karena atau bukan karena sirepku, ia tidak akan mampu berbuat apa-apa. Aku akan menghunjamkan sebilah pisau ke dadanya. Alangkah mudahnya. Sambil berbaring dan berkedip-kedip minta belas kasihan, Agung Sedayu tidak akan dapat mencegah aku melakukannya. Demikian juga orang yang bernama Ki Waskita itu.” jawab orang yang bertubuh kecil dan bongkok itu.
    Yang sedang membelah kayu itu pun kemudian meletakkan parangnya. Dipandanginya orang bertubuh kecil dan terbongkok-bongkok itu. Katanya, “Aku tidak menyangka bahwa kau mempunyai kesetiaan terhadap saudara-saudara seperguruanmu demikian tebalnya. Tetapi aku ingin memperingatkan kau sekali lagi. Ilmumu masih jauh terpaut dari mereka yang telah terbunuh. Karena itu, sebaiknya kau menunggu satu dua tahun lagi. Jika kau melipatkan waktu-waktumu di sanggar, maka kau akan mampu menguasai ilmu yang seharusnya kau pelajari dalam waktu tiga empat tahun.”
    “Itu terlalu lama Kiai. Sementara itu Agung Sedayu tentu sudah sembuh dan aku harus membunuhnya melalui satu pertempuran yang sengit yang mungkin akan ber¬akibat sebaliknya seperti yang terjadi atas kedua orang murid Kiai itu. Ki Tumenggung dan seorang dari ketiga bajak laut itu.”
    Orang bertubuh tinggi kekar itu mengangguk-angguk. Katanya, “Jika sudah menjadi tekadmu dan atas dasar perhitunganmu yang demikian, aku tidak dapat mencegahmu. Tetapi kau harus tetap sadar bahwa dasar ke¬kuatan udara, air dan api itu masih baru tingkat permulaan aku berikan kepadamu.”
    Orang bertubuh kecil dan terbongkok-bongkok itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian Katanya, “Terima kasih Kiai. Aku akan melakukannya dengan penuh tanggung jawab. Aku akan kembali kepada Kiai dengan hasil yang paling baik yang dapat aku kerjakan selama aku berada di padepokan terpencil ini.”
    “Jangan terlalu sombong. Kau masih belum apa-apa. Jika kau merasa berhasil sebelum berbuat apa-apa, maka kau akan menjadi kurang berhati-hati.” berkata orang bertubuh tinggi kekar itu.
    “Aku akan selalu berhati-hati. Aku akan tetap mempergunakan otakku. Aku tidak akan hanyut pada arus perasaanku yang memang sering bergejolak. Tetapi kali ini aku menyadari, siapa yang akan aku hadapi sehingga aku harus menjaga diri sebaik-baiknya.” berkata orang bongkok itu.
    Demikianlah, maka orang bertubuh kecil itu tidak dapat dicegah lagi. Kematian empat orang saudara seperguruannya membuat jantungnya menggelegak. Rasa-rasanya ia ingin membunuh bukan saja Agung Sedayu. Tetapi Ki Waskita dan juga Pangeran Benawa.
    “Tetapi yang berdosa paling besar adalah Agung Sedayu. Ia membunuh dua orang murid perguruan ini.” geramnya di dalam hati.
    Setelah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, maka orang itu pun meninggalkan padepokannya di hari berikut¬nya, setelah ia menyediakan kebutuhan gurunya untuk beberapa hari.
    “Aku sudah menyimpan garam dan gula secukupnya Kiai. Dalam sepekan aku akan kembali. Kiai tidak perlu mencari garam dan membuat gula sendiri. Jika aku datang, maka aku akan membawa garam pula bagi kita.” berkata orang bertubuh kecil itu.
    “Jangan pikirkan aku. Kau kira aku tidak dapat menderes sendiri? Kau lebih baik memperhatikan dirimu sendiri. Dalam lima hari aku kira kau masih belum dapat menyelesaikan tugasmu. Bukankah kau masih akan singgah di Pajang?-
    Orang itu mengangguk-angguk. Lalu Katanya, “Mungkin selama tujuh hari, Kiai-
    Tetapi orang bertubuh kekar itu menggeleng “Belum.”
    “Sepuluh hari” sambung orang bertubuh kecil itu.
    Orang bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab. Tetapi tatapan matanya menjadi buram oleh kegelisahan yang membebani hatinya. Hampir diluar sadarnya ia berkata “Aku masih mencoba untuk memperingatkanmu sesali lagi. Ilmumu masih terpaut jauh dari orang-orang yang terbunuh itu.”
    “Aku mempunyai kelebihan dari mereka. Aku mempunyai ilmu sirep. Aku mampu memasuki rumah seseorang dengan cara seorang pencuri. Dan aku merasa diriku tidak terikat oleh harga diri dan sifat-sifat seorang kesatria. Aku akan mempergunakan segala cara seperti yang Kiai ajarkan. Jika aku tidak dapat menikam dadanya, maka aku akan menikam punggungnya.” jawab orang bertubuh kecil itu.
    Orang yang bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab lagi. Ia hanya dapat memandangi muridnya yang seorang itu meninggalkannya. Orang bertubuh kecil itu berjalan terbongkok-bongkok menyusup pepohonan perdu dan hilang di balik gerumbul yang rimbun.
    Orang bertubuh tinggi kekar itu menarik nafas da¬lam-dalam. Namun ia pun kemudian kembali memasuki regol halaman padepokannya dengan kepala tunduk.
    Dalam pada itu, maka orang bertubuh kecil itu pun berjalan dengan tergesa-gesa menjauhi padepokannya. Seolah-olah waktu yang tersedia baginya terlalu sempit, sehingga ia harus mempergunakan sebaik-baiknya.
    Seperti yang direncanakannya, maka ia pun langsung pergi ke Pajang untuk mendengarkan berita, apakah Pangeran Benawa telah berada di Pajang kembali.
    Ternyata ketika ia berada di Pajang, tidak seorang pun yang dapat mengatakan bahwa Pangeran Benawa te¬lah meninggalkan Kota Raja. Bahkan orang-orang Pajang melihat Pangeran Benawa itu berada di alun-alun untuk ikut dalam latihan sodoran pagi itu juga.
    Orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu kemudian mengambil kesimpulan, bahwa Pangeran Benawa memang telah kembali dari Tanah Perdikan Menoreh.
    Karena itu, maka dengan tergesa-gesa pula ia telah pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.
    Setelah bermalam semalam di perjalanan di dekat daerah Prambanan, maka ia pun meneruskan perjalanannya. Di Prambanan ia memerlukan melihat daerah seberang-menyeberang Kali Opak. Ia mencoba membayangkan apa yang telah terjadi di tempat itu. Satu pertempuran besar yang telah merenggut banyak korban jiwa. Diantaranya adalah Ki Tumenggung Prabadaru.
    “Guru tidak begitu senang terhadap Ki Tumenggung karena kesombongannya,” berkata orang bertubuh kecil itu di dalam hatinya, “tetapi aku merasa bangga bahwa salah seorang yang terlepas dari padepokan kami dapat menjadi seorang Tumenggung yang mendapat kepercayaan yang cukup besar dan terhormat. Sayang Ki Tumenggung kemudian agak melupakan asal-usulnya dan bahkan memusuhi ketiga orang adik seperguruannya.”
    Di hari berikutnya, maka orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu telah berada di tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Namun ia tidak langsung melakukan rencananya.
    “Aku tidak boleh tenggelam dalam arus perasaanku,” berkata orang itu kepada diri sendiri, “aku harus tetap mempergunakan nalarku. Aku harus mempunyai perhitungan yang mapan agar aku dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya.”
    Karena itulah, maka ia telah mempergunakan waktu¬nya satu dua hari untuk mengetahui serba sedikit tentang Tanah Perdikan Menoreh. Ia berusaha untuk mengetahui dimana Agung Sedayu berada. Ia pun berusaha untuk melihat-lihat kesiagaan anak-anak muda Tanah Perdikan itu di malam hari, serta daerah pengawasan para peronda dari pasukan khusus Mataram yang berada di Tanah Perdikan Menoreh.
    “Tanpa bahan yang cukup, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa” berkata orang itu kepada diri sendiri.
    Tetapi orang bertubuh kecil itu kemudian sambil ter¬senyum berkata kepada diri sendiri, “Waktu yang sepuluh hari itu ternyata terlalu panjang bagiku. Aku akan dapat menyelesaikan tugas ini dalam satu hari saja. Dalam satu malam. Ditambah dengan perjalanan yang tidak lebih dari empat hari empat malam.”
    Demikianlah caranya, maka orang bertubuh kecil itu di malam hari telah mendekati rumah Ki Gede dengan sangat berhati-hati. Ia melihat bagian-bagian yang lemah dari penjagaan di rumah Ki Gede Menoreh.
    Malam itu juga orang bertubuh kecil itu memastikan untuk dapat melakukan tugasnya, membunuh Agung Sedayu dan Ki Waskita.
    “Mereka berada di gandok sebelah kanan. Aku akan dapat masuk melalui bagian belakang dengan memecah lantai dan menerobos masuk lewat di bawah dinding. Alangkah mudahnya. Dengan kekuatan ilmu sirep aku akan membuat semua orang tertidur. Mungkin Ki Gede mampu melawan sirep itu. Mungkin beberapa orang lain. Namun tidak dalam keadaan tidur. Tetapi mereka tidak akan menyangka bahwa nyawa Agung Sedayu telah terancam. Agung Sedayu dan Ki Waskita sendiri tidak akan memiliki sisa daya tahan untuk melawan sirepku” berkata orang itu di dalam hatinya.
    Namun di pagi harinya, orang bertubuh kecil dan berjalan terbongkok-bongkok itu mendengar bahwa di Tanah Perdikan Menoreh telah hadir Kiai Gringsing. Orang bercambuk yang menurut kata orang adalah guru Agung Sedayu.
    “Persetan dengan orang itu,” geram orang bertubuh kecil itu, “meskipun guru Agung Sedayu yang memiliki ilmu seperti iblis sekali pun, aku tidak akan gentar. Aku akan memasuki gandok itu seperti seorang pencuri. Dan pengalamanku yang berpuluh tahun akan sangat membantuku.”

  19. Terima kasih lagi… :))

  20. matur nuwun Ki, kula sampun saged ngunduh kitab adbm lan maca ngangge ilmu djvu…

  21. matur suwun ki..kulo sampun dikeparengaken ngunduh seri 174


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 138 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: