Buku 98

Penghormatan yang besar di dalam ia menjalani masa perkawinannya, membuatnya seolah-olah terlepas dari alas perjuangan yang ditempuh selama ini. Agaknya Swandaru merasa bahwa ia sudah mulai menginjakkan kakinya pada tangga kekuasaan yang akan diterimanya nanti dari ayahnya Ki Demang Sangkal Putung dan Ki Gede Menoreh dari Tanah Perdikan di Menoreh.

Ki Demang yang menanggapi pula persoalan itu, tiba-tiba saja telah berusaha mengalihkan pembicaraan itu. Dengan serta-merta maka ia pun berkata lantang, “Nah, sudahlah. Kita akan berbicara kelak. Sekarang aku mempersilahkan semuanya untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.”

Sejenak kemudian suasana di pendapa itu mulai berubah. Meskipun kadang-kadang masih terselip penyesalan atas jatuhnya beberapa orang korban, namun mereka mulai menggeser pembicaraan mereka pada upacara perkawinan di Tanah Perdikan Menoreh.

Di ruang dalam, beberapa orang perempuan mendengarkan ceritera Sekar Mirah dengan hati yang berdebar. Seperti Swandaru, maka Sekar Mirah pun merasa, betapa lunaknya sikap Sangkal Putung terhadap kejahatan. Seperti Swandaru pula, maka Sekar Mirah pun mengharapkan bahwa pada suatu saat, Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh akan bertindak lebih meyakinkan lagi untuk memberantas kejahatan.

Perempuan-perempuan yang mendengarkan ceritera Sekar Mirah tidak dapat membayangkan apa yang sebenarnya dikehendakinya. Tetapi mereka sedikit mendapatkan gambaran apa yang sudah terjadi di ujung hutan kecil itu. Dan mereka pun mengetahui pula bahwa beberapa orang korban telah jatuh. Luka dan bahkan ada yang tidak lagi dapat diselamatkan jiwanya.

Pandan Wangi sendiri tidak banyak menyambung ceritera Sekar Mirah. Ia pun terhitung seorang perempuan yang lain dengan kebanyakan perempuan. Namun ia tidak mempunyai sikap dan pendirian yang sama dengan Sekar Mirah yang garang. Selama ia mengikuti cara ayahnya memerintah Tanah Perdikan Menoreh, maka nampaknya Tanah Perdikan Menoreh berangsur menjadi semakin baik tanpa tindakan-tindakan kekerasan yang berat seperti yang dikatakan oleh Sekar Mirah itu. Meskipun itu bukan berarti bahwa ayahnya tidak pernah menjatuhkan hukuman terhadap kesalahan dan apalagi kejahatan. Tetapi hukuman pada dasarnya bukannya dendam yang dilindungi oleh ketentuan yang berlaku, tetapi hukuman adalah satu ujud kasih sayang untuk merubah kelakuan seseorang agar ia tidak lagi melakukan kesalahan yang dapat menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam kesulitan lahir dan batin, dan terlebih-lebih lagi dapat menimbulkan kesulitan pada orang lain.

Tetapi Pandan Wangi masih menyimpannya saja di dalam hati. Karena ia tidak mendengarkan pembicaraan di pendapa, maka ia masih berharap bahwa sikap Sekar Mirah itu sekedar luapan kemarahannya karena hambatan yang parah di perjalanan. Dan ia masih berharap bahwa sikap itu akan berbeda dengan sikap Swandaru apabila ia dapat mempertimbangkan segala persoalan dengan tenang di dalam lain.

Sementara itu, selagi di pendapa dan di ruang dalam sedang berlangsung pembicaraan yang ramai, tetapi kadang-kadang masih juga diselingi dengan gemeretak gigi, maka di bagian belakang kademangan itu perempuan-perempuan sibuk menyiapkan hidangan selanjutnya. Dapur kademangan itu menjadi ribut. Meskipun dapur itu sudah diperluas dengan teratak, karena di dalam saat keramaian berlangsung, dapur yang ada tentu jauh dari mencukupi, namun nampaknya masih juga terlampau sempit.

Kesibukan orang-orang di dapur itu bukan saja diperuntukkan bagi mereka yang ada di kademangan. Tetapi mereka yang ada di banjar pun harus mendapat perhatian. Mereka yang terluka dan mereka yang sedang merawatnya. Juga harus diperhatikan tawanan-tawanan yang dikawal oleh beberapa orang anak muda, karena mereka pun memerlukan makan pula.

Namun dalam pada itu, Ki Jagabaya yang mengurus mereka yang terluka dan para tawanan, ternyata sudah mengambil kebijaksanaan, bahwa di hari berikutnya, harus dibuat dapur tersendiri, agar tidak mengganggu setiap upacara yang akan dilangsungkan di kademangan.

Demikianlah, Kademangan Sangkal Putung seolah-olah telah menjadi semakin sibuk, karena yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Bukan saja kesibukan di kademangan yang mempersiapkan hidangan dan keramaian di hari-hari berikutnya, tetapi Ki Jagabaya pun sibuk mempersiapkan para pengawal, karena masih akan dapat terjadi kemungkinan yang lain yang dapat ditimbulkan oleh para penjahat yang berhasil melarikan diri itu.

Dalam pada itu, selagi Sangkal Putung membetengi diri dengan kesiagaan para pengawal, maka para penjahat yang melarikan diri tercerai-berai itu pun sedang berusaha untuk berkumpul kembali dalam kelompok-kelompok masing-masing. Para pemimpin mereka benar-benar telah dibakar oleh kemarahan dendam dan penyesalan.

“Kita telah dijerumuskan ke dalam kesulitan yang paling parah,” geram Ki Bajang Garing.

Seorang anak buahnya memotong dengan nada geram, “Gandu Demung pantas dicincang sekarang.”

Tetapi ternyata bahwa salah seorang saudara Gandu Demung mendengarnya, sehingga dengan wajah yang merah membara ia berkata lantang, “Siapakah yang paling bersalah dalam hal ini? Gandu Demung hanyalah mengemukakan suatu persoalan. Bukankah kita bersama-sama telah melakukan persiapan, penyelidikan dan kemudian bersama-sama memutuskan? Jika terjadi kegagalan yang sempurna sekarang ini, maka kesalahannya tentu terletak pada kita semuanya.”

Ki Bajang Garing menggeram. Tetapi ia tidak mau berselisih saat ia sedang berusaha mengumpulkan anak buahnya. Sehingga karena itulah maka ia pun berdesis, “Persetan dengan Gandu Demung. Tetapi pada suatu saat aku ingin bertemu lagi dengan orang itu.”

Saudara Gandu Demung pun menganggap bahwa perselisihan dalam keadaan yang demikian tidak menguntungkan. Meskipun ia sadar, bahwa permusuhan di antara mereka akan semakin membara.

Tetapi mereka tidak sempat lagi untuk memikirkan persoalan yang masih akan datang itu. Yang mereka hadapi adalah kesulitan mereka saat itu. Mereka berada di ujung hutan perdu di bagian lain dari hutan kecil yang telah menjerat mereka ke dalam kesulitan.

“Kita beristirahat sebentar,” berkata salah seorang saudara Gandu Demung kepada anak buahnya yang masih dapat dijumpainya, “orang-orang Sangkal Putung tidak akan mengejar kita sampai ke tempat ini. Kita harus meyakinkan diri, apakah yang telah terjadi dengan Gandu Demung.”

“Bagaimana kita akan dapat mengetahui nasibnya?” bertanya salah seorang anak buahnya.

“Salah seorang dari kita akan mencarinya sampai ke bekas arena perkelahian.”

“Berbahaya sekali.”

“Malam cukup gelap.”

Namun nampaknya keragu-raguan pada orang ini. Meskipun malam gelap, tetapi nampaknya tidak mudah untuk mencari keterangan tentang Gandu Demung.

Meskipun demikian, saudara Gandu Demung tidak akan sampai hati pergi begitu saja tanpa mengetahui nasib saudaranya itu. Karena itu, maka salah seorang saudaranya pun berkata, “Tunggulah di sini. Aku akan segera kembali.”

“Marilah kita pergi berdua,” sahut yang lain.

Keduanya pun kemudian meninggalkan beberapa orang anak buahnya yang berkumpul di ujung hutan yang lain itu. Mereka tidak memintas lewat pusat hutan yang meskipun tidak terlalu lebat, tetapi untuk menjelajahinya di malam hari, rasa-rasanya akan memerlukan waktu yang terlalu lama.

Namun ternyata bahwa keduanya tidak menemukan apa-apa lagi di bekas arena perkelahian itu. Semua korban telah diangkut dengan pedati ke padukuhan terdekat. Bahkan yang lain ke padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

“Kita tidak akan segera mengetahuinya,” bisik salah seorang dari kedua saudara Gandu Demung itu.

“Besok kita baru akan mendengarnya. Kita harus menyamar sebagai orang kebanyakan yang berjalan melewati Kademangan Sangkal Putung, dan mendengar berita tentang perkelahian itu.”

“Bagaimanakah jika kita bertemu dengan pengawal yang kebetulan mengenal kita di arena perkelahian itu?”

Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sulit. Tetapi kita harus mencari jalan untuk mengetahui, apakah Gandu Demung masih hidup atau sudah mati.”

“Jika demikian maka kita akan tinggal di sekitar daerah ini untuk beberapa lama.”

“Salah seorang dari kita. Yang lain akan membawa beberapa orang yang tersisa itu kembali kepada ayah.”

“Dan menerima umpatan dan cela cerca yang tidak berkeputusan.”

“Mungkin ayah akan melakukan sesuatu. Ayah masih tetap seorang pendendam.”

“Aku pun mendendam.”

“Tetapi ingat, bahwa mungkin pihak-pihak lain dari orang di sekitar Gunung Tidar akan tetap menganggap Gandu Demung bersalah dan mengambil tindakan langsung terhadap kelompok kita. Sampaikan kepada ayah, bahwa meskipun keadaan kita parah, tetapi ayah harus mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan itu. Biarlah aku tinggal sampai aku mendapat keterangan tentang Gandu Demung.”

Demikianlah maka keduanya pun kemudian berpisah. Ternyata mereka masih sempat menemukan kuda mereka yang mereka sembunyikan di dalam hutan yang tidak terlalu lebat itu. Bahkan karena jumlah yang sudah jauh berkurang, maka kuda-kuda itu pun menjadi terlalu banyak.

“Aku mencemaskan nasib Gandu Demung,” berkata saudaranya yang akan mencarinya, “kudanya masih ada di sini. Jika ia selamat, tentu akan datang mengambil kudanya seperti orang-orang lain yang selamat.”

Karena itulah, maka salah seorang saudaranya itu akan tetap tinggal di sekitar Sangkal Putung bersama seorang pengawalnya. Sementara yang tersisa harus segera kembali ke sebelah Gunung Tidar untuk memberikan laporan.

“Jangan timbulkan perselisihan jika kalian sejalan dengan orang-orang Bajang Garing dan orang-orang dari Alas Pengarang. Kecuali jika mereka menyerang. Tetapi agaknya karena kita sama-sama parah, mereka pun tidak akan berbuat apa-apa.”

Demikianlah, maka saudara Gandu Demung itu pun segera membawa sisa orangnya menuju ke Gunung Tidar untuk memberikan laporan tentang kegagalan yang dialaminya di daerah Sangkal Putung, meskipun sebenarnya perhitungan Gandu Demung cukup cermat. Namun agaknya masih ada yang dilupakan. Justru karena tempat itu berada di ujung kademangan, maka kuda-kuda yang terlepas merupakan isyarat yang sangat baik bagi orang-orang Sangkal Putung itu.

Bahkan di sepanjang perjalanan kembali itu, salah seorang dari anak buah saudara Gandu Demung itu bertanya, “Kenapa hal ini kita lakukan di depan hidung Kademangan Sangkal Putung?”

“Perhitungan itu sebenarnya tepat,” jawab saudara Gandu Demung.

“Apakah salahnya jika kita lakukan di Alas Tambak Baya atau tempat lain yang masih jauh dari Sangkal Putung.”

“Kelengahan mereka merupakan keuntungan yang besar bagi kita.”

“Tetapi itu pun tidak terjadi? Iring-iringan itu berhenti sebelum mereka memasuki batas jebakan kita.”

“Ya. Hampir secara kebetulan mereka melihat pohon yang sudah dikerat itu.”

“Tidak secara kebetulan. Itu adalah karena kemampuan yang tinggi dari salah seorang yang berada di dalam iring-iringan itu. He, apakah kau tidak melihat, bagaimana orang-orang bercambuk itu melawan beberapa orang di antara kita? Kau lihat seorang yang bersenjata trisula? Itu adalah kelebihan yang harus diakui. Meskipun jumlah kita berlipat, tetapi kita tidak dapat berbuat apa-apa. Jika kemudian datang pengawal-pengawal kademangan itu adalah seolah-olah hanya mempercepat penyelesaian saja, karena kita agaknya memang tidak akan dapat mengalahkan iring-iringan itu seperti yang kita harapkan.”

“Hanya soal waktu.”

“Waktu sangat menentukan akhir dari pertempuran seperti itu.”

Keduanya pun kemudian terdiam. Mereka berpacu terus melintasi bulak panjang. Mereka mencoba tidak berkuda bersama-sama agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Namun dalam pada itu, yang tidak terduga pun telah terjadi. Ketika mereka melintasi sebuah bulak, setelah mereka meninggalkan Kademangan Sangkal Putung, maka mereka seakan-akan merasa telah dibayangi oleh sebuah kekuatan yang lain. Benar-benar sekedar firasat petualangan mereka. Bahkan salah seorang saudara Gandu Demung yang ada di dalam iring-iringan itu berkata, “Aku merasakan sesuatu akan terjadi.”

“Ya. Aku melihat seekor kuda melintas di depan jalan kita.”

“Itulah sebabnya aku merasakan sesuatu.”

“Dan kita tidak akan dapat mengejarnya karena beberapa pertimbangan.”

Saudara Gandu Demang itu pun kemudian memerintahkan agar iring-iringan itu memperlambat perjalanan. Sejenak ia mencoba untuk melihat, apakah yang sebenarnya mereka hadapi. Namun seekor kuda yang rasa-rasanya mereka lihat itu sama sekali tidak nampak lagi. Suara derap kakinya pun tenggelam dalam derap kaki kuda mereka sendiri.

Yang nampak adalah tabir malam yang hitam kelam.

“Apakah dalam iring-iringan ini tidak ada orang lain?” bertanya saudara Gandu Demung itu.

“Tidak. Ki Bajang Garing membawa orang-orangnya melalui jalan lain. Demikian pula kelompok dari Alas Pengarang,” jawab salah seorang anak buahnya.

“Apakah mungkin yang kita lihat salah seorang dari kedua kelompok itu?”

“Memang mungkin.”

“Apakah mereka akan mencegat kita?”

“Jika demikian, apa boleh buat.”

Mereka pun tidak bercakap-cakap lagi. Tetapi saudara Gandu Demang yang memimpin sisa kelompoknya yang parah itu pun kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Mereka menyadari bahwa tersimpan dendam pada orang-orang yang merasa terjebak di Sangkal Putung meskipun sebelumnya mereka telah ikut serta menentukan.

“Mereka menumpukan kegagalan ini pada kesalahan Gandu Demung,” desis saudara Gandu Demung itu.

Anak buahnya yang berkuda di sebelahnya mengangguk-angguk. Desisnya kemudian, “Itu tidak adil.”

“Karena itu jika mereka memaksa kita mengakui kesalahan maka kita akan bertempur sampai orang yang terakhir. Dan aku yakin, bahwa kita masih akan tetap dapat mempertahankan diri.”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi tegang.

Dalam pada itu yang terjadi di bagian lain dari lereng Gunung Merapi di sisi Selatan itu, hampir serupa pula. Ki Bajang Garing yang membawa anak buahnya berpacu meninggalkan Sangkal Putung sambil mengumpat-umpat telah merasakan sesuatu yang mendebarkan jantung.

“Aku melihat beberapa orang di gardu perondan itu,” desisnya.

“Mereka sama sekali tidak menghentikan kita,” jawab kawannya.

“Tentu tidak berani. Mereka mengetahui, bahwa yang lewat bukan hanya satu atau dua orang berkuda.”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun mereka terkejut ketika tiba-tiba saja mereka melihat sebatang panah api meloncat ke udara.

“Gila. Apakah artinya itu,” geram Bajang Garing.

“Kecurigaan,” desis salah seorang anak buahnya.

“Tentu peronda-peronda itu memberikan isyarat kepada padukuhan di hadapan kita.”

“Kita dapat berbelok di tengah-tengah bulak itu. Kita akan melalui jalan lain.”

“Ya. Kita akan berbelok di simpang jalan yang pertama kita temui.”

“Jika tidak ada jalan simpang?”

Ki Bajang Garing termangu-mangu. Ia tidak begitu mengenal daerah itu. Yang diketahuinya adalah bahwa ia berada di lereng Selatan Gunung Merapi, karena meskipun di malam hari, puncak Gunung Merapi nampak menjulang di langit yang bersih.

“Kita akan berbelok ke kiri. Pada suatu saat kita tentu akan sampai ke jalan yang menuju ke Mataram. Meskipun kita juga tidak akan melintasi Mataram, namun di bagian lain dari Alas Mentaok kita akan dapat mengenali jalan yang menuju ke Gunung Tidar.”

“Kenapa kita harus melingkar dan melalui jalar menuju ke Mataram.”

“Memang lebih jauh. Tetapi kita tidak akan tersesat. Sebelum fajar, kita tentu sudah menemukan jalan yang kita kenal dengan baik di sekitar Mataram. Kita akan menerobos bagian yang masih berujud Hutan Mentaok dan akan muncul di sebelah Utara. Kita masih harus memperhitungkan waktu berikutnya untuk mencapai Gunung Tidar.”

Kawannya tidak menjawab. Mereka berpacu semakin cepat di gelapnya malam. Namun mereka tidak segera menemukan jalan simpang yang mereka cari.

“Tentu di mulut lorong di padukuhan sebelah, para peronda sudah siap menghentikan kita,” berkata Kiai Bajang Garing kemudian.

“Kita tidak akan berhenti. Aku akan menyibukkan mereka dengan ujung senjata,” sahut salah seorang anak buahnya.

Ki Bajang Garing tidak menjawab. Namun yang terdengar adalah gemeretak giginya.

Tetapi dalam kegelisahan itu, tiba-tiba saja ia memberikan isyarat kepada anak buahnya yang tersisa. Ternyata bahwa di hadapan mereka terdapat sebuah jalan simpang yang berbelok justru ke kiri seperti yang mereka harapkan.

Dengan serta-merta iring-iringan itu pun berhenti. Beberapa ekor kuda yang terkejut, bahkan melonjak dan berdiri dengan kedua kaki belakang. Tetapi mereka pun segera menarik nafas ketika mereka menyadari, bahwa mereka akan dapat menempuh jalan simpang yang membelah bulak panjang itu ke arah Selatan.

Tetapi sekali lagi yang tidak terduga itu pun terjadi. Tiba-tiba saja dari balik gerumbul batang jarak di tepi jalan, muncul seseorang yang hanya nampak kehitam-hitaman di dalam bayangan kegelapan.

Ki Bajang Garing yang jantungnya masih membara karena kegagalan yang dialaminya segera membentak, “He, siapakah kau?”

“Sabarlah, Ki Sanak,” jawab bayangan hitam itu.

“Cepat menepi atau kau akan terkapar di pinggir jalan ini dengan luka di dadamu?”

Tetapi orang itu sama sekali tidak menepi. Ia masih tetap berdiri di tempatnya. Bahkan ia justru bergeser setapak ke tengah sambil berkata, “Jangan terlampau garang. Sabarlah, dan kita akan berbicara serba sedikit.”

“Aku tidak mempunyai waktu. Jika kau berbicara, berbicaralah. Dan sebutlah, siapakah kau.”

Orang yang berdiri di tengah jalan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Turunlah. Kita akan berbicara.”

“Tidak!” teriak Ki Bajang Garing. “Cepat minggir, atau aku benar-benar akan membunuhmu.”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan menyebut siapakah aku.”

“Aku tidak peduli,” Bajang Garing semakin marah.

“Dengarlah. Aku adalah seorang prajurit dari Pajang.”

“Prajurit?” suara Ki Bajang Garing justru meninggi.

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun memberikan isyarat dengan tepuk tangan tiga kali.

Beberapa orang segera muncul dari balik gerumbul dan berloncatan ke jalan, justru di segala arah, sehingga Ki Bajang Garing benar-benar telah terkepung oleh bebarapa orang yang tidak begitu jelas di dalam gelapnya malam. Namun dalam keremangan itu, Ki Bajang Garing dan anak buahnya mencoba mengenalinya, bahwa pakaian yang mereka pakai benar-benar pakaian prajurit Pajang.

Tetapi Kiai Bajang Garing tidak segera mempercayainya. Dengan nada yang geram ia berkata, “Kau jangan menakut-nakuti kami seperti menakut-nakuti anak-anak. Cepat pergi dari tempat ini, atau kalian terpaksa mengalami tindakan kekerasan sehingga kalian akan menyesal.”

“Dengarlah,” berkata orang itu, “kami benar-benar prajurit Pajang yang mendapat perintah dari Senapati Agung di daerah ini, Untara yang berkedudukan di Jati Anom. Kami harus menangkap setiap orang yang kami curigai untuk mendapat keterangan daripadanya. Kami mendapat wewenang untuk melepaskan atau menahan orang-orang yang kami curigai itu sesuai dengan keadaan mereka. Demikian juga berlaku bagi kalian.”

“Persetan! Tidak ada orang yang dapat menahan kami,” Kiai Bajang Garing berteriak semakin keras. Kemarahan yang membakar jantungnya bagaikan disiram dengan minyak, “Menepilah. Cepat!”

Namun orang itu tiba-tiba saja telah menggenggam pedang yang tergantung di lambungnya sambil berkata, “Aku sedang menjalankan tugas. Semua perintahku adalah perintah atas wewenang yang melimpah dari Sultan Pajang mengalir sampai ke pundakku. Setiap orang harus mentaatinya. Jika kalian memang tidak bersalah, maka kalian akan segera kami lepaskan.”

“Aku tidak peduli,” teriak Kiai Bajang Garing

“Jika demikian, maka kami pun akan mempergunakan kekerasan. Karena kami mendapat wewenang pula untuk melakukannya terhadap setiap orang yang tidak mau mengikuti perintah kami.”

Yang terdengar adalah gemeretak gigi Kiai Bajang Garing. Dengan nada yang marah, maka ia pun berkata, “Singkirkan orang-orang ini.”

Anak buahnya pun segera mempersiapkan diri. Tetapi ternyata bahwa prajurit-prajurit Pajang itu pun bertindak cepat. Merekalah yang justru menyerang lebih dahulu, sehingga orang-orang berkuda itu terkejut. Beberapa orang tidak dapat berbuat lain kecuali meloncat turun dari kuda-kuda mereka.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:27  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-98/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. Setelah jalan-jalan setengah hari, saya ingat bahwa hari-2 inilah alm. SHM berada di rumah sakit. Ki Arya Salaka telah mendorong saya untuk sekedar mengenang riwayat singkat Suhu SHM.
    Thanks Ki Gede untuk bingkisannya – walaupun sempat telmi tapi tidak telat nyantap bungkusan ABDM098.

    hehehhe ……

  2. Wah memang ki Gede hebat dan selalu baru dalam menurunkan kitab-kitabnya. Terimakasih ki Gede, kitab 98 sdh saya terima dan siap dipelajari jurus-jurusnya.

  3. trimakasih Ki GD
    untuk semalam sudah topo mbisu..jadi cepat dapat diunduh

  4. Walah..walaaaaah.. bener bener berat dan mumpuni Ilmu Ki Waskita yang ngedap-edapi ini..

    Lah, saya sebenarnya tahu Ki SH Mintardja dirawat di mana, tetapi karena masih belum menekuni ilmunya Ki Waskita, saya browsing ke mana mana termasuk ke rumah sakitnya, lah ternyata kitabnya masih di gedung ini juga…

    Memang harus mengendap dulu ya Ki Gede….
    Para kadang..Sugeng Warso Enggal, mudah mudahan para cantrik tidak menjadi sebingung saya sebelum berhasil membungkus kitab 98 ini..(padahal saya belum selesai membaca kitab 94, tetapi karena penasaran dengan ilmu Ki Waskita, setiap ada unggahan kitab anyar, yang penting diunduh dan dibungkus dulu, baru nanti dibuka sebagai bekal kalau sedang jalan jalan…

  5. mohon ancer2nya… masih belum jelas…..tolongggg…
    udah diliat disourcenya tapi ga keliatan ….

  6. sudah ketemu, baru ngeh … heheee..

  7. duh, adi glagah.putih … tulung dibantu dunk … ini sudah hampir satu hari penuh mesu diri, eh, belum berhasil juga …

  8. @Pak Herman

    Ki Gede mengatakan nama sang Maestro dan dirawat dimana sebelum wafat.

    Harap dicari nama beliau di halaman ini…Jika sudah ketemu nama beliau di halaman ini selanjutnya silahkan mesu diri kembali…

    Mudah mudahan berhasil…

  9. Duh ki Gede lan para kadang….sirahku wis ora kuat. Disimpen nang ndi to kitab 98? Nyuwun tulung…ki Wakita?

  10. @Jo Gelo
    Di setiap halaman Padepokan ini KI GD dan kawan-kawan telah mencantumkan nama Pengarang kitab sakti adbm ini.
    Untuk mendapat kitab sakti yang memuat jurus ke 98, pentang busur mouse Anda kuat-kuat, lantas bidikkan ke nama Pengarang ADBM yang ada di bagian atas kanan.
    Bidikan yang tepat akan membuka halaman baru yang menceritakan riwayat hidup Ki SH Mintardja.
    Silakan langsung menuju bagian di mana sang Maestro Berpulang.
    Pentang sekali lagi kuat-kuat busur mouse Anda dan bidikkan ke tanggal di mana beliau di rawat di RS Bethesda.
    Seperti Agung Sedayu yang berhasil membidik bola yang dilempar oleh Swandaru, maka bidikan terakhir akan membuat Anda mampu mengunduh kitab sakti 98.
    Mudah2 an Ki GD berkenan isyarat beliau telah saya uraikan dengan begitu gamblang.

    GD: Oow, tidak sama sekali. Pada akhirnya isyarat2 itu memang harus diterjemahkan dalam bahasa wantah.

  11. Duh, sokurlah, alhamdulillah, puji tuhan … berkat bantuan kisanak sedoyo, khususnya adi j3b3ng dan adi arya salaka … akhirnya jurus 98 ini dapat jg serba sedikit cantrik pelajari … matur sembah nuwun …

    memang jurus yang sangat ngedap-ngedapi …:)

  12. […] des’08 pesona pw dan as […]

  13. Masih belum sakti nih saya nya

  14. Wah maturnuwun, weees ketemu rontal nomer 98

  15. Matur nuwun Ki Gede

  16. Kisanak, menopo jilid 95 dumugi 100 dereng enten ingkang ngunggah wonten wordpress? suwun…

  17. mas kalau mau beli bukunya dari no 97 s/d 145 berpa harganya dan dimana belinya

  18. KI GD Mohon informasi buku 98 apa sudah di realese, kalau sudah kiranya berkenan saya ikut ngantri, terima kasih sebelumnya

  19. @subiharto,
    sekedar tips dari saya.
    coba perhatikan petunjuk Ki GD di halaman ke 2
    kemudian anda jalan2 ke biografi S.H. Mintardja
    disana kitab menanti

  20. MAtur Nuwun Ki Sunda Sawit, kitab sampun kulo unduh

  21. Pakde, mohon petunjuk mengunduh kitab ini ….maklum cantrik muda yang baru belajar

  22. assalamu alaikum semuanya……

    para sesepuh ADBM…..

    sebelumnya saya minta mf pada ki GD dan pra sesepuh sekalian…

    karena saya telah menyerap ilmu dari ki DG dan para sesepuh secara diam2…

    mulai dari kitab 1- 94 yang saya dapatkan…

    dan mulai kitap 95 saya tambah mesu diri…dalam memahaminya….

    dengan petunjuk yang ki DG n para sesepuh berikan pada cantrik2 yg lain…

    n baru sekarang saya memperkenalkan diri saya…

    sebelumnya sy minta maaf….

    dan terimakasih….^_^

    “butho caqiel”

    • sami-sami

      buto terong


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: