Buku 98

Karena itulah, maka ketika iring-iringan itu memasuki regol, Nyai Demang segera berlari-lari menyambut dengan mata yang basah.

Sekar Mirah, meskipun ia telah menjadi seorang gadis dewasa dan sanggup memutar tongkat baja berkepala tengkorak yang berwarna kekuning-kunfingan, namun ketika dilihatnya ibunya yang gelisah, ia pun segera berlari mendapatkannya.

Sambil memeluk anak gadisnya, Nyai Demang tidak berhasil menahan air matanya yang menitik di pundak Sekar Mirah.

Kemudian setelah Sekar Mirah melepaskan pelukannya, Nyai Demang pun segera diperkenalkan dengan menantunya oleh Sekar Mirah. Dengan senyum yang masih dibasahi oleh air mata, maka ia pun kemudian membimbing menantunya naik ke pendapa dan langsung melalui pringgitan masuk ke ruang dalam, sementara Swandaru pun mengikutinya pula, setelah mereka mencuci kaki di depan tangga.

Meskipun upacara yang sebenarnya belum dilakukan, namun ternyata kademangan itu telah penuh dengan orang-orang tua dan sanak kadang. Di ruang dalam ternyata telah penuh pula dengan perempuan yang menunggu kedatangan pengantin itu dengan berdebar-debar. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa telah terjadi sesuatu di ujung hutan.

Ki Demang yang kemudian duduk di pendapa bersama Swandaru dan para pengiring segera dihujani dengan berbagai macam pertanyaan, sehingga akhirnya Ki Demang justru mengadakan sesorah singkat tentang pengalaman perjalanannya.

“Nah, silahkan kalian mendengarkan,” berkata Ki Demang, “aku menceriterakan apa yang terjadi, karena dengan demikian aku tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berulang kali yang harus aku jawab dengan jawaban yang sama. Yang barang kali dialami pula oleh orang-orang lain dalam iring-iringan ini.”

Yang lain mengangguk-angguk. Ki Sumangkar dan Ki Waskita sempat tersenyum.

Demikianlah Ki Demang menceritakan dengan singkat apa yang telah terjadi di ujung hutan kecil itu. Beberapa orang korban telah jatuh. Karena itulah maka ia mengharap agar rakyat Sangkal Putung justru menjadi lebih berhati-hati menanggapi perkembangan keadaan.

“Di mana Ki Jagabaya,” tiba-tiba saja Ki Demang bertanya.

Seorang pengawal yang ada di pendapa itu segera menyahut, “Ki Jagabaya pergi ke ujung hutan itu Ki Demang.”

“Tetapi kami tidak bertemu di perjalanan.”

“Mungkin Ki Jagabaya mengambil jalan memintas. Agaknya kami di sini menerima berita itu terlampau lambat sehingga kami tidak segera dapat mengambil bagian dalam pertempuran itu.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kiai Gringsing dan Agung Sedayu masih berada di tempat itu, jika Ki Jagabaya datang, tentu ia akan bertemu dengan beberapa orang yang masih sibuk sekarang ini.”

Orang-orang yang berada di pendapa itu pun kemudian saling bergeramang di antara mereka. Yang mereka bicarakan sudah barang tentu peristiwa yang baru saja terjadi.

Namun ada juga di antara anak-anak muda yang berdesis, “Kenapa Agung Sedayu tinggal?”

Tetapi anak-anak muda itu sebagian sudah dapat menebak jawabnya. Justru karena gurunya tinggal, maka Agung Sedayu pun tinggal pula mengawani gurunya itu.

“Ya, tetapi kenapa Kiai Gringsing tidak datang bersama dengan Ki Demang dan orang-orang lain dalam iring-iringan ini? Bukankah Ki Demang dapat menyerahkan penyelesaian para korban itu kepada para pengawal?” bertanya seorang lain.

“Ia bukan saja seorang guru dalam olah kanuragan. Tetapi ia juga seorang yang memiliki kemampuan dalam bidang pengobatan. Tentu ia merasa berkewajiban untuk mengurus orang-orang yang terutama masih memungkinkan untuk ditolong. Bukankah hampir di dalam setiap benturan kekerasan ia berbuat demikian?”

Kawannya mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, setelah Ki Demang selesai dengan ceriteranya tentang perjalanan, maka mulailah orang-orang tua dan keluarga Ki Demang berbincang tentang akibat yang timbul dari benturan itu.

“Tetapi Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan para pengawal sudah mengurusnya,” potong Swandaru kemudian.

Kata-kata Swandaru itu ternyata telah menarik perhatian setiap orang yang hadir di pendapa itu. Mereka merasakan sesuatu yang berbeda pada tekanan suaranya. Namun mereka tidak segera menemukan perbedaan itu.

Tetapi bagi Ki Sumangkar dan Ki Waskita, kata-kata itu seolah-olah telah memberikan isyarat, bahwa memang suatu perubahan telah terjadi pada Swandaru. Namun demikian, agaknya mereka masih belum yakin, bahwa tangkapan mereka itu benar.

Meskipun demikian, Ki Waskita tidak dapat menghindarkan diri dari kegelisahannya. Ia mulai menghubungkan semuanya yang telah terjadi dengan isyarat yang nampak di dalam jangkauan penglihatan batinnya tentang masa yang akan dilalui oleh Swandaru.

“Bayangan itu nampaknya semakin buram,” desis Ki Waskita di dalam hatinya.

Semula ia ingin memaksa dirinya untuk menganggap bahwa yang dilihat di dalam isyarat itu sudah terjadi. Peristiwa yang terjadi di ujung hutan kecil itu merupakan noda-noda yang buram di dalam kehidupan Swandaru pada saat-saat ia melampaui hari-hari perkawinannya.

Namun ternyata ia tidak dapat ingkar bahwa sebenarnya ia mengetahui. Peristiwa di hutan kecil itu adalah peristiwa lahiriah yang tidak banyak berarti bagi masa depan anak muda yang gemuk itu. Tetapi peristiwa yang sebenarnya masih akan terjadi, langsung menyangkut bukan saja kehidupan jasmaniahnya, tetapi juga kehidupan-kehidupan batinnya.

“Alangkah bodohnya aku,” desis Ki Waskita di dalam hatinya, “yang aku lihat hanyalah saat-saat buram yang bakal datang. Tetapi kenapa aku tidak dapat mengetahui apakah yang sebenarnya akan terjadi.”

Tetapi Ki Waskita tidak dapat memaksa dirinya untuk menjadi lebih banyak mengetahui. Setiap kali ia selalu terkenang kepada kasih yang telah melimpah kepadanya. Anugerah yang telah dimilikinya itu merupakan kemurahan yang tidak diterima oleh setiap orang.

“Alangkah tamaknya aku ini,” desisnya, “yang aku terima sudah terlampau banyak. Dan aku masih saja merasa diriku terlampau bodoh dan ingin mendapat lebih banyak lagi.”

Meskipun demikian, sesuatu selalu membayanginya bahwa warna-warna yang buram itu pada suatu saat akan nampak dalam kehidupan Swandaru.

Sejenak pembicaraah di pendapa itu berkisar kepada usaha Kiai Gringsing dan Agung Sedayu yang masih tinggal di ujung hutan itu, dan yang kemudian disusul oleh Ki Jagabaya dengan beberapa orang pengawalnya.

“Mereka akan segera datang,” berkata Ki Demang kemudian. “Sudah barang tentu Kiai Gringsing tidak akan menungguinya sampai semuanya diselesaikan. Jika ia menganggap cukup merawat orang-orang yang terluka, tentu ia akan segera kembali.”

Orang-orang yang semula mempersoalkannya itu pun mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan Ki Demang, bahwa sebentar lagi Kiai Gringsing dan Agung Sedayu pun tentu akan datang. Sehingga karena itulah maka mereka pun tidak membicarakannya.

Pembicaraan mereka mulai berkisar ke Tanah Perdikan Menoreh. Beberapa orang yang ikut hadir pada upacara perkawinan di Tanah Perdikan Menoreh mulai berceritera tentang kemeriahan saat-saat perkawinan itu.

Hanya Ki Waskita dan Ki Sumangkar sajalah yang ternyata berbicara tentang soal yang lain sama sekali. Adalah di luar sadar, jika mereka pun mulai berbicara tentang upacara perkawinan yang akan diselenggarakan di Kademangaa Sangkal Putung. Apalagi ketika pembicaraan mereka kemudian telah menyentuh Swandaru dan Agung Sedayu.

“Kiai Gringsing sudah berusaha,” berkata Ki Sumangkar, “tetapi kedua anak-anak muda itu telah membawa peta hidup mereka masing-masing yang sudah terbentuk di masa-masa mereka masih kanak-kanak. Untuk beberapa saat nampaknya Kiai Gringsing berhasil mendekatkan tabiat dan sifat keduanya. Namun dalam keadaan tertentu watak masmig-masing itu akan melonjak dan mengatasi kekang sifat mereka yang dipasang oleh Kiai Gringsing.”

Ki Waskita mengangguk-angguk.

Agaknya saat-saat perkawinan Swandaru ini benar-benar merupakan saat yang penting sekali di dalam perjalanan hidupnya. Saat-saat perkawinannya telah merupakan saat yang memutar arah hidup yang telah diusahakan oleh Kiai Gringsing yang semula nampaknya akan berhasil. Tetapi ternyata bahwa hal itu masih diragukan.

“Perkawinan ini seharusnya dilangsungkan di saat lain, apabila Kiai Gringsing sudah benar-benar berhasil menekan watak Swandaru sampai ke dasarnya, sehingga pada suatu saat tidak akan dapat tumbuh lagi dalam bentuk yang seperti ini.”

“Tetapi sudah terlanjur. Yang akan terjadi itu sudah terjadi,” desis Ki Waskita.

Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Ia sadar, bahwa Ki Waskita telah melihat sesuatu di masa mendatang yang tidak sesuai dengan keinginannya, keingihan Kiai Gringsing, dan keinginan Ki Demang Sangkal Putung. Meskipun tidak terperinci, namun Ki Waskita pernah mengatakan bahwa ia cemas akan penglihatannya pada isyarat tentang masa depan Swandaru itu.

“Tetapi tidak ada tangan yang dapat mencegahnya,” desis Ki Sumangkar di dalam hatinya, “karena apa yang dilihatnya adalah apa yang akan terjadi. Kecuali jika datang keajaiban. Dan itu hanya dapat terjadi jika penglihatan Ki Waskita itu salah.”

Kecemasan yang serupa telah mengusik Ki Waskita pula. Ia melihat goncangan perasaan pada Swandaru. Bukan saja karena pertempuran di ujung hutan itu. Tetapi sejak anak muda itu berada di Menoreh, sudah nampak tanda-tanda bahwa kebanggaan Swandaru atas dirinya sendiri telah mengangkat wataknya yang sebenarnya, yang selama di dalam asuhan Kiai Gringsing agaknya telah berhasil didesak jauh di sudut hatinya yang paling dalam.

Dalam keadaan yang demikiap maka perbedaan watak antara Swandaru dan Agung Sedayu menjadi semakin jelas, meskipun keduanya pernah berguru kepada orang yang sama.

Dalam pada itu, Agung Sedayu sedang sibuk mengangkat orang-orang yang terluka ke atas pedati bersama dengan beberapa orang, ketika Ki Jagabaya yang marah langsung memintas dan sampai di ujung hutan. Namun pertempuran yang sebenarnya sudah selesai. Yang dijumpai tinggallah Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan beberapa orang pengawal mengumpulkan para korban dan menyiapkan untuk membawanya dengan pedati.

“Yang terutama harus mendapat perhatian adalah mereka yang masih hidup. Mereka harus dibawa ke banjar di padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung,” berkata Ki Jagabaya.

Ketika para pengawal sedang sibuk mengangkat para korban dengan hati-hati, maka Ki Jagabaya masih sempat bertanya, apakah yang sebenarnya telah terjadi.

“Agaknya sekelompok perampok yang besar telah menunggu kami,” sahut Kiai Gringsing.

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Bekas yang dijumpainya memang mengatakan demikian.

Dengan singkat Kiai Gringsing menceriterakan, apakah yang sudah terjadi di ujung hutan itu, sehingga beberapa orang korban telah jatuh.

“Gila,” geram Ki Jagabaya. Namun ia tidak dapat mengatakan sesuatu tentang perampokan itu. Jika perampok itu secara kebetulan saja menjumpai iring-iringan pengantin dari Sangkal Putung itu, maka jumlah mereka tentu tidak akan sebesar itu.

Maka kesimpulan yang untuk sementara disepakati antara Ki Jagabaya dan Kiai Gringsing adalah, bahwa orang-orang yang merampok itu tentu mempunyai hubungan dengan orang-orang yang pernah menetap untuk beberapa hari di Padepokan Tambak Wedi.

“Itulah yang membingungkan kami,” berkata Ki Jagabaya kemudian, “jika pada suatu saat mereka turun lagi dengan kekuatan yang lebih besar dan melakukan kejahatan yang tanpa pertimbangan.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Besok Angger Untara akan datang. Bukankah Ki Jagabaya telah mengundangnya?”

“Ya. Angger Untara sudah menyatakan kesanggupannya untuk datang saat pahargyan sepasaran pengantin Swandaru dan Pandan Wangi.”

“Nah, kita mempergunakan waktu sedikit untuk berbincang tentang peristiwa yang baru saja terjadi itu. Mungkin Untara perlu menentukan sikap. Meskipun nampaknya Tambak Wedi sudah kosong, tetapi ternyata bahwa pada suatu saat mereka berada di tempat itu dengan kekuatan yang cukup besar.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Lalu katanya kemudian, “Kiai, nampaknya untuk sementara tugas Kiai di sini sudah selesai. Sebaiknya Kiai dan Agung Sedayu segera pergi ke kademangan. Mungkin ada pembicaraan yang penting atau sikap yang dapat diambil.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Sejenak dipandanginya beberapa buah pedati yang sudah siap. Sebagian telah terisi oleh orang-orang yang terluka dan akan dibawa ke banjar padukuhan induk. Sedang yang lain berisi korban yang sudah tidak tertolong lagi, yang akan dibawa ke banjar padukuhan terdekat.

“Tetapi korban di antara kita justru harus dibawa ke kademangan,” berkata Ki Jagabaya.

Kiai Gringsing menarik nafas. Katanya, “Ki Jagabaya benar. Tetapi dalam keadaan biasa. Bukan dalam keadaan seperti ini.”

“Kenapa?”

“Di kademangan akan berlangsung kegembiraan karena perkawinan Swandaru dan Pandan Wangi. Jika para korban, meskipun hanya para pengiring dari Sangkal Putung itu juga dibawa ke pendapa kademangan, apakah tidak akan mempengaruhi kegembiraan yang akan berlangsung?”

Ki Jagabaya menarik nafas. Namun ia berdesis, “Tetapi para korban ini berhak mendapatkan kehormatan tertinggi dari Sangkal Putung. Mereka bukan terbunuh dalam arena tayub di dalam perelatan gila-gilaan. Mereka tidak berkelahi karena mereka mabuk tuak dan kehilangan akal. Tetapi mereka bertempur melawan kejahatan yang akan menerkam iring-iringan pengantin. Seandainya bukan pengantin pun para pengawal memang berkewajiban untuk melakukannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya, “Tetapi semuanya itu terserah kepada Ki Jagabaya yang barangkali perlu berbicara dengan Ki Demang. Tetapi bagiku, banjar di padukuhan induk itu pun merupakan tempat yang paling terhormat untuk menempatkan beberapa orang korban yang sudah tidak dapat tertolong lagi, selain mereka yang masih memerlukan perawatan.”

Ki Jagabaya merenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Biarlah pedati itu pergi ke tempat yang untuk sementara sudah ditentukan bagi masing-masing. Kita masih mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Ki Demang dan orang tua-tua.”

Ki Jagabaya pun kemudian mempersilahkan Kiai Gringsing dan Agung Sedayu untuk pergi ke kademangan. Agaknya Ki Jagabaya merasa bahwa tugas selanjutnya adalah tugasnya.

“Baiklah, Ki Jagabaya. Aku akan pergi ke kademangan. Selanjutnya terserah kepada Ki Jagabaya,” berkata Kiai Gringsing.

“Ya. Aku akan menyelesaikannya. Pedati-pedati itu sudah siap untuk berangkat.”

Kiai Gringsing dan Agung Sedayu pun kemudian mendahului meninggalkan tempat itu. Baru sejenak kemudian pedati yang memuat para korban, itu pun segera menuju ke tempat yang sudah ditentukan, dikawal oleh beberapa orang anak muda bersenjata, yang diatur oleh Ki Jagabaya dan pembantu-pembantunya.

Dalam pada itu, ketika pedati-pedati itu sampai di banjar padukuhan induk, maka padukuhan itu pun menjadi ramai. Ramai oleh geram, gemeretak gigi, tetapi juga tangis para keluarga korban. Yang masih sempat menemui salah seorang keluarganya tetap hidup meskipun terluka, hatinya masih juga terhibur betapa pun cemasnya. Tetapi mereka yang menjumpai sanak keluarganya telah korban maka yang terdengar adalah tangis yang mengharukan. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa akhir perjalanan itu akan demikian pahitnya, karena ketika ia berangkat, yang nampak adalah senyum gembira dari anak-anak muda yang mengantarkan seorang calon pengantin.

Untunglah, bahwa Ki Jagabaya yang datang kemudian berhasil menahan dendam yang melonjak di antara mereka, sehingga merekat tidak mengambil tindakan sendiri-sendiri terhadap beberapa orang yang dapat ditawan, dan lawan yang dirawat karena luka-lukanya di padukuhan terdekat dari arena pertempuran.

Ketika Kiai Gringsing dan Agung Sedayu sampai di kademangan, mereka masih melihat beberapa orang yang berkumpul di pendapa untuk mendengarkan keterangan Ki Demang lebih lanjut tentang perjalanan mereka.

Dengan demikian, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian karena pakaiannya telah dikotori oleh darah dan reramuan obat-obatan saat mereka merawat orang-orang yang terluka, maka mereka pun kemudian naik pula ke pendapa. Sementara itu, orang-orang lain yang baru datang dari Tanah Perdikan Menoreh, justru belum berganti pakaian meskipun mereka telah mencuci kaki dan tangan, karena mereka segera terlibat dalam pembicaraan yang ramai.

Kiai Gringsing pun kemudian duduk di sebelah Ki Sumangkar dan Ki Waskita. Untuk beberapa saat Kiai Gringsing harus menjawab beberapa pertanyaan tentang para korban. Memang nampak betapa kemarahan dan dendam membakar setiap hati. Namun Kiai Gringsing masih sempat berusaha menenangkan hati orang-orang Sangkal Putung itu.

“Guru memang seorang pemaaf,” berkata Swandaru tiba-tiba memotong keterangan Kiai Gringsing, “tetapi kitalah yang kehilangan sanak kadang dan kawan bermain.”

Sekali lagi Swandaru telah mengejutkan Ki Sumangkar dan Ki Waskita, selain Kiai Gringsing sendiri. Bahkan Ki Demang pun terpaksa memotong kata-kata, “Tetapi kita pun bukan pendendam. Kita akan dapat menahannya diri, mengikuti unggah-ungguh yang berlaku di setiap medan. Kita pernah menghadapi keadaan yang lebih parah dari keadaan sekarang ini di saat Macan Kepatihan masih berkeliaran. Tetapi kita pun dapat menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang menjunjung tinggi peradaban yang berlaku.”

Swandaru mengangkat wajahnya. Dipandanginya ayahnya sejenak. Namun kemudian ia pun berdesah, “Pada suatu saat akan datang waktunya kita tidak memanjakan lagi kejahatan yang terjadi di daerah Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, karena pada suatu saat akan datang kekuasaan yang memegang teguh keadilan.”

Kata-kata Swandaru itu disambut dengan geraman dan bahkan seolah-olah janji dari anak-anak muda Sangkal Putung dan bahkan nampak juga jelas di wajah Prastawa dan anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh, bahwa mereka sependapat dan pancaran kesediaan untuk mendukungnya.

Orang-orang tua yang mendengarnya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Mereka tidak berusaha untuk membantah lagi, karena setiap kata yang dianggap mengecilkan arti janji itu, akan dianggap sebagai hambatan yang harus disingkirkan.

Namun dalam pada itu, terasa di hati Ki Waskita sepercik petunjuk, bahwa warna-warna buram yang selalu dilihatnya di dalam isyarat kini sudah mulai nampak di dalam kenyataan hidup Swandaru. Namun demikian rasa-rasanya perasaan Ki Waskita masih juga melonjak untuk mengingkarinya.

“Mudah-mudahan ada usaha untuk memberikan jalan kepadanya,” desisnya di dalam hati. Bahkan kemudian seolah-olah ia telah melawan penglihatannya sendiri, “Tidak. Itu hanyalah sekedar kejutan perasaan setelah ia mengalami gangguan di perjalanan. Tetapi besok atau lusa, anak itu tentu sudah melupakannya.”

Karena itulah, maka Ki Waskita masih mencoba memerangi penglihatannya dengan harapan-harapan yang dibuatnya sendiri sesuai dengan keinginannya. Seolah-olah ia melupakan bahwa keinginan seseorang tidak lebih dari suatu keinginan yang dapat meningkat menjadi harapan dan permohonan. Sedangkan ketentuan terakhir adalah tetap di tangan Yang Maha Kuasa pula adanya.

Bagi Kiai Gringsing, Swandaru akan merupakan persoalan yang sangat rumit. Di samping muridnya, maka ia adalah orang yang telah dicadangkan untuk menerima kekuasaan pada kedua daerah yang terpisah. Tanah Perdikan Menoreh dan Kademangan Sangkal Putung yang kedua-duanya memiliki naluri pengawalan yang kuat atas daerah masing-masing. Kedua daerah itu memiliki pasukan pengawal yang terlatih, terdiri dari anak-anak muda yang dengan sadar menyerahkan dirinya bagi ketenangan kampung halaman. Bahkan untuk menjadi seorang pengawal, di kedua daerah itu mempunyai kebiasaan yang mirip pula, yaitu melalui pendadaran yang cukup berat.

Lebih daripada itu, mereka adalah anak-anak muda yang masih mudah disentuh oleh panasnya api yang dapat membakar jantung mereka.

Agak berbeda dengan mereka adalah Agung Sedayu. Ia pun masih muda seperti Swandaru dan para pengawal dari kedua daerah itu. Namun ia memiliki sifat yang agak berbeda, yang dibawanya sejak kanak-kanak. Perubahan sifat yang terjadi menjelang dewasa, telah memecahkan kungkungan ketakutan yang luar biasa yang selalu membayanginya setiap saat. Namun demikian, masih ada sifat-sifatnya yang nampak sampai saat terakhir.

Sikap Swandaru telah membuatnya menjadi prihatin. Sebagai saudara seperguruan, ia memang merasakan ada sesuatu yang kurang sesuai padanya. Tetapi ia tidak pernah dapat menyebutnya.

Sekilas terbayang saat-saat ia menginjakkan kakinya di Kademangan Sangkal Putung. Bagaimana Swandaru telah membuatnya hampir beku ketakutan ketika anak muda yang gemuk itu berlari-lari memberitahukan kepada Sidanti bahwa Agung Sedayu-lah yang berhak disebut pembidik terbaik.

“Sejak saat itulah aku harus bermusuhan dengan Sidanti,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya.

Namun sejak saat itu pula terjadi perubahan di dalam dirinya. Ia bukan lagi seorang anak muda yang ditelikung oleh perasaan takut. Lukanya saat ia berperang tanding dengan Sidanti bersenjata panah, telah memecahkan sifat-sifatnya itu.

Meskipun demikian, Agung Sedayu masih tetap dibayangi oleh pertimbangan-pertimangan yang lebih dewasa, meskipun nampaknya juga keragu-raguan dan ketidak-pastian yang terasa sangat lamban bagi anak-anak muda sebayanya.

Agung Sedayu menarik nafas. Ia menyadari sifat-sifatnya. Dan ia pun menyadari bahwa sifat-sifatnya itu sama sekali tidak menguntungkannya. Ia berada di antara dua alas yang berbeda, tetapi tidak mempunyai keberanian untuk memilihnya. Satu kakinya berada di lingkungan kerasnya permainan senjata, sedang satu kakinya berdiri pada alas yang sama sekali berbeda karena dibayangi oleh perasaan kasih sayang yang dalam. Sehingga yang nampak pada anak muda itu justru keragu-raguan dan kadang-kadang salah pilih di antara kedua alas kakinya yang seakan-akan berlawan itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai membayangkan dua orang anak muda yang justru telah berhasil memilih dunianya masing-masing Swandaru dan Rudita. Meskipun tempat mereka berdiri adalah hampir di kedua ujung sifat-sifat manusiawi, namun nampaknya mereka tidak lagi dibayangi oleh keragu-raguan atas pilihannya.

Meskipun demikian, kesadaran itu tidak dapat mendorong Agung Sedayu untuk memilih tempat. Untuk waktu yang lama ia masih akan tetap terombang-ambing tidak menentu.

“Aku tidak tahu, apakah dengan segala keragu-raguan itu aku dapat dianggap justru lebih baik dari sifat-sifat Swandaru,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya sambil berdesah, “tetapi yang pasti, aku tidak dapat menerima sikapnya yang nampak mulai tumbuh di dalam hatinya.”

Namun tiba-tiba saja Agung Sedayu itu tersentak. Selagi ia masih menimbang dirinya sendiri, terdengar Swandaru ternyata masih melanjutkan kata-katanya, “Ternyata bahwa kita tidak dapat menggantungkan diri kepada siapa pun juga. Sangkal Putung harus mempunyai kekuatan yang cukup untuk melindungi kepentingan Sangkal Putung sendiri. Demikian juga dengan Tanah Perdikan Menoreh. Hal itu ternyata seperti apa yang telah terjadi. Kita semua berhasil melepaskan diri dari tangan para penjahat, bukan karena perlindungan siapa pun juga.”

“Swandaru,” potong Ki Demang, “sudahlah. Kita sedang menerima beberapa orang yang mengucapkan selamat datang kepadamu dan kepada isterimu. Sebaiknya kau membatasi diri dengan keadaan sekarang ini. Bukan waktunya untuk membicarakan masalah yang luas dan apalagi menyangkut hubungan Sangkal Putung dengan kekuasaan yang ada di sekitarnya.”

“Tentu tidak dapat dipisahkan, Ayah,” berkata Swandaru kemudian. “Mumpung kita menghadapi contoh yang jelas dan baru saja terjadi. Sebenarnya aku hanya ingin bertanya, apakah Pajang masih tetap merasa dirinya berkuasa sekarang ini, dan mempunyai kewajiban untuk melindungi rakyatnya? Apakah Ayah melihat, bahwa Pajang telah melindungi kita semuanya? Jika kita tidak mampu melepaskan diri kita sendiri dari tangan para penjahat itu, maka kita tidak akan dapat bertemu di sini. Sedangkan pasukan Pajang baru akan datang besok atau lusa. Tidak untuk melepaskan kita dari kesulitan, tetapi sekedar ikut berduka cita atas jatuhnya beberapa orang korban.”

“Swandaru,” suara ayahnya menjadi semakin keras, “aku adalah seorang Demang yang mengakui kekuasaan yang lebih tinggi sampai kepada kekuasaan yang tertinggi. Sebaiknya kau mempertimbangkan sikapmu sebaik-baiknya. Kau bukan kanak-kanak lagi. Apalagi sejak beberapa hari yang lalu, kau sudah berada di dalam hidup kekeluargaan. Dan itu merupakan salah satu pertanda lahiriah yang akan diikuti oleh perubahan rohaniah tentang sikap dan pandanganmu terhadap hidup dan kehidupan.”

“Ayah,” Swandaru masih menjawab, “justru sikapku yang aku nyatakan itu adalah hasil kematangan jiwa yang tumbuh dari perubahan badani dan jiwani yang aku alami. Aku harus berani menentukan sikap seperti seorang yang memang meningkat dewasa.”

Ki Demang masih akan menjawab. Tetapi Kiai Gringsing mendahuluinya dengan suara sareh, “Agaknya kau benar, Swandaru. Suatu perubahan memang telah terjadi. Bahkan begitu cepatnya. Beberapa hari yang lalu kau sudah mulai meningkat dalam jenjang kehidupan yang baru. Dan dalam beberapa hari itu kau sudah mulai menunjukkan sikapmu sebagai orang dewasa sepenuhnya. Namun ada sesuatu yang masih perlu kau sempurnakan, Swandaru. Kesadaran tentang perubahan yang terjadi itu sendiri. Jika kau menyadari bahwa sedang terjadi perubahan bukan saja badani tetapi juga jiwani padamu dan isterimu, maka kau harus menilai setiap perubahan itu apakah perubahan itu sudah seimbang antara yang lahiriah dan yang rohaniah. Dengan demikian, maka kau akan tetap dapat mengendalikan di dalam sikap dan perbuatan.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi perasaan segan terhadap gurunya telah memaksanya untuk merenung.

Ki Sumangkar dan Ki Waskita melihat perkembangan itu dengan jantung yang berdebar.

Sejenak pendapa itu dicekam oleh kesenyapan yang mendebarkan. Beberapa orang anak-anak muda menjadi termangu-mangu karena mereka kurang memahami pembicaraan antara guru dan murid itu.

Bahkan Prastawa pun masih harus meraba-raba, apakah sebenarnya Kiai Gringsing itu sedang berusaha mendorong atau bahkan menghalang-halangi sikap muridnya.

Yang memahami persoalan yang sedang diperbincangkan itu, selain orang-orang tua adalah Agung Sedayu. Ia mengerti benar maksud gurunya yang mulai cemas melihat perkembangan jiwa Swandaru.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:27  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-98/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. Setelah jalan-jalan setengah hari, saya ingat bahwa hari-2 inilah alm. SHM berada di rumah sakit. Ki Arya Salaka telah mendorong saya untuk sekedar mengenang riwayat singkat Suhu SHM.
    Thanks Ki Gede untuk bingkisannya – walaupun sempat telmi tapi tidak telat nyantap bungkusan ABDM098.

    hehehhe ……

  2. Wah memang ki Gede hebat dan selalu baru dalam menurunkan kitab-kitabnya. Terimakasih ki Gede, kitab 98 sdh saya terima dan siap dipelajari jurus-jurusnya.

  3. trimakasih Ki GD
    untuk semalam sudah topo mbisu..jadi cepat dapat diunduh

  4. Walah..walaaaaah.. bener bener berat dan mumpuni Ilmu Ki Waskita yang ngedap-edapi ini..

    Lah, saya sebenarnya tahu Ki SH Mintardja dirawat di mana, tetapi karena masih belum menekuni ilmunya Ki Waskita, saya browsing ke mana mana termasuk ke rumah sakitnya, lah ternyata kitabnya masih di gedung ini juga…

    Memang harus mengendap dulu ya Ki Gede….
    Para kadang..Sugeng Warso Enggal, mudah mudahan para cantrik tidak menjadi sebingung saya sebelum berhasil membungkus kitab 98 ini..(padahal saya belum selesai membaca kitab 94, tetapi karena penasaran dengan ilmu Ki Waskita, setiap ada unggahan kitab anyar, yang penting diunduh dan dibungkus dulu, baru nanti dibuka sebagai bekal kalau sedang jalan jalan…

  5. mohon ancer2nya… masih belum jelas…..tolongggg…
    udah diliat disourcenya tapi ga keliatan ….

  6. sudah ketemu, baru ngeh … heheee..

  7. duh, adi glagah.putih … tulung dibantu dunk … ini sudah hampir satu hari penuh mesu diri, eh, belum berhasil juga …

  8. @Pak Herman

    Ki Gede mengatakan nama sang Maestro dan dirawat dimana sebelum wafat.

    Harap dicari nama beliau di halaman ini…Jika sudah ketemu nama beliau di halaman ini selanjutnya silahkan mesu diri kembali…

    Mudah mudahan berhasil…

  9. Duh ki Gede lan para kadang….sirahku wis ora kuat. Disimpen nang ndi to kitab 98? Nyuwun tulung…ki Wakita?

  10. @Jo Gelo
    Di setiap halaman Padepokan ini KI GD dan kawan-kawan telah mencantumkan nama Pengarang kitab sakti adbm ini.
    Untuk mendapat kitab sakti yang memuat jurus ke 98, pentang busur mouse Anda kuat-kuat, lantas bidikkan ke nama Pengarang ADBM yang ada di bagian atas kanan.
    Bidikan yang tepat akan membuka halaman baru yang menceritakan riwayat hidup Ki SH Mintardja.
    Silakan langsung menuju bagian di mana sang Maestro Berpulang.
    Pentang sekali lagi kuat-kuat busur mouse Anda dan bidikkan ke tanggal di mana beliau di rawat di RS Bethesda.
    Seperti Agung Sedayu yang berhasil membidik bola yang dilempar oleh Swandaru, maka bidikan terakhir akan membuat Anda mampu mengunduh kitab sakti 98.
    Mudah2 an Ki GD berkenan isyarat beliau telah saya uraikan dengan begitu gamblang.

    GD: Oow, tidak sama sekali. Pada akhirnya isyarat2 itu memang harus diterjemahkan dalam bahasa wantah.

  11. Duh, sokurlah, alhamdulillah, puji tuhan … berkat bantuan kisanak sedoyo, khususnya adi j3b3ng dan adi arya salaka … akhirnya jurus 98 ini dapat jg serba sedikit cantrik pelajari … matur sembah nuwun …

    memang jurus yang sangat ngedap-ngedapi …:)

  12. […] des’08 pesona pw dan as […]

  13. Masih belum sakti nih saya nya

  14. Wah maturnuwun, weees ketemu rontal nomer 98

  15. Matur nuwun Ki Gede

  16. Kisanak, menopo jilid 95 dumugi 100 dereng enten ingkang ngunggah wonten wordpress? suwun…

  17. mas kalau mau beli bukunya dari no 97 s/d 145 berpa harganya dan dimana belinya

  18. KI GD Mohon informasi buku 98 apa sudah di realese, kalau sudah kiranya berkenan saya ikut ngantri, terima kasih sebelumnya

  19. @subiharto,
    sekedar tips dari saya.
    coba perhatikan petunjuk Ki GD di halaman ke 2
    kemudian anda jalan2 ke biografi S.H. Mintardja
    disana kitab menanti

  20. MAtur Nuwun Ki Sunda Sawit, kitab sampun kulo unduh

  21. Pakde, mohon petunjuk mengunduh kitab ini ….maklum cantrik muda yang baru belajar

  22. assalamu alaikum semuanya……

    para sesepuh ADBM…..

    sebelumnya saya minta mf pada ki GD dan pra sesepuh sekalian…

    karena saya telah menyerap ilmu dari ki DG dan para sesepuh secara diam2…

    mulai dari kitab 1- 94 yang saya dapatkan…

    dan mulai kitap 95 saya tambah mesu diri…dalam memahaminya….

    dengan petunjuk yang ki DG n para sesepuh berikan pada cantrik2 yg lain…

    n baru sekarang saya memperkenalkan diri saya…

    sebelumnya sy minta maaf….

    dan terimakasih….^_^

    “butho caqiel”

    • sami-sami

      buto terong


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: