Buku 98

“Guru akan tinggal di sini?” bertanya Swandaru.

“Ya. Tetapi aku akan segera menyusul jika tugasku di sini sudah selesai.”

Swandaru pun kemudian meloncat ke punggung kuda diikuti oleh Pandan Wangi, Sekar Mirah, dan orang-orang lain yang akan mengiringinya ke Sangkal Putung. Tetapi terbatas pada jumlah kuda yang ada, sedangkan yang lain harus mengikutinya sambil berjalan kaki meskipun dari jarak yang semakin jauh, sedangkan yang lain lagi akan tinggal membantu Kiai Gringsing dan menyelenggarakan para korban yang terbunuh di peperangan, sedang sebagian dari mereka akan mengurus para tawanan.

Sejenak kemudian maka beberapa ekor kuda pun segera meninggalkan tempat itu. Satu-satu sambil melepaskan debu yang putih dalam bayangan warna yang sudah menjadi semakin merah di langit.

Ternyata bahwa perkelahian di pinggir hutan itu sudah berlangsung cukup lama, sehingga matahari sebentar lagi akan turun dan tenggelam dibawa cakrawala.

Ketika kuda yang terakhir telah meninggalkan tempat itu. Kiai Gringsing mengerutkan keningnya sambil memandang muridnya yang seorang, yang masih berdiri tegak sambil memegang tangkai cambuknya.

“Kau tidak pergi bersama Swandaru, Agung Sedayu?” bertanya gurunya.

“Aku tinggal di sini, Kiai. Mungkin aku dapat membantu.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Sejak semula ia memang melihat perbedaan sifat dan watak pada kedua muridnya ini. Tetapi untuk beberapa lama ia berhasil memperkecil perbedaan itu. Namun tiba-tiba saja ia melihat sifat dan watak masing-masing itu menjadi jelas dalam keadaan yang sulit dikendalikannya.

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing, “kau dapat membantu aku di sini.”

Agung Sedayu pun kemudian membelitkan cambuknya di lambungnya dan menyingsingkan lengan bajunya membantu pekerjaan Kiai Gringsing yang cukup berat.

Namun ketika terpandang olehnya mayat Gandu Demung, terasa tengkuknya meremang.

“Mengerikan,” katanya di dalam hati. Sejalan dengan itu, keheranannya mengenai Swandaru pun menjadi semakin mekar. Meskipun demikian ia masih menyimpannya saja di dalam hati.

Dalam pada itu, di kejauhan dua orang memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Sejak kedatangan beberapa ekor kuda yang susul-menyusul mereka sudah menduga bahwa keadaan akan segera berubah.

Seperti yang kemudian terjadi, maka pasukan Gandu Demung pun telah pecah dan berlarian masuk hutan,

“Bagaimana dengan Gandu Demung sendiri,” desis salah seorang dari mereka.

“Aku tidak mempunyai harapan lagi,” sahut yang lain, “agaknya Gandu Demung tidak dapat keluar dari kesulitan.”

“Apakah ia tidak ikut lari ke hutan?”

“Bukankah kita masih melihat ia bertempur dengan anak muda yang gemuk itu.”

“Tetapi kemudian pandangan kita terhalang oleh lingkaran orang-orang yang mengelilingi pertempuran itu.”

“Gandu Demung tidak keluar dari arena. Ia tentu sudah terbunuh dalam perkelalahian yang kemudian telah menjadi perang tanding.”

“Agaknya memang demikian. Tetapi kita memerlukan waktu untuk memastikannya. Jika benar-benar Gandu Demung mati, itu akan lebih baik daripada jika ia tertangkap atau menyerah.”

“Agaknya memang bukan wataknya. Jika ia harus menyerah, maka aku kira ia akan memilih mati. Kecuali jika nampak ada kesempatan untuk melarikan diri.”

“Mudah-mudahan ia mati terbunuh di arena, atau lari sama sekali.”

Keduanya terdiam. Tetapi keduanya masih belum berani mendekati arena, karena mereka masih melihat beberapa orang berkeliaran.

Mereka adalah Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan beberapa orang anak muda yang lain, sementara Swandaru bersama beberapa orang pengiringnya telah mendekati padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Iring-iringan pengantin itu tiba-tiba saja telah berubah menjadi iring-iringan duka seperti mengantar mayat ke kubur. Swandaru kini berada di paling depan. Ia seolah-olah tidak teringat lagi bahwa ia sedang diarak sebagai seorang pengantin laki-laki di samping pengantin perempuan. Sikapnya benar-benar seperti seorang panglima di medan perang yang terasa terlampau berat.

Di belakangnya Pandan Wangi mengikutinya di samping Ki Waskita, Kerti, dan Ki Demang Sangkal Putung yang pucat. Sementara di belakang mereka adalah Sekar Mirah yang berkuda di sebelah Prastawa.

Baru di belakang mereka para pengiring yang berwajah tegang. Orang-orang tua dan anak-anak muda dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.

Di sepanjang jalan iring-iringan itu masih bertemu dengan dua tiga orang berkuda yang ingin menyusul ke medan setelah mereka mendengar tentang pertempuran yang terjadi di ujung hutan.

“Teruslah,” berkata Swandaru, “mungkin kawan-kawan kita yang tertinggal memerlukan kawan untuk menyelesaikan tugas mereka.”

Para pengawal itu pun berpacu terus ke pinggir hutan bekas arena perkelahian yang basah oleh darah.

Dalam pada itu, mereka yang berada di dalam iring-iringan itu seolah-olah telah dicengkam oleh ketegangan jiwa sehingga hampir tidak ada di antara mereka yang bercakap-cakap. Setiap orang di dalam iring-iringan itu menundukkan kepalanya sambil memandangi tanah berdebu di bawah kaki kuda-kuda mereka.

Baru ketika mereka sudah memasuki padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung, Prastawa berdesis, “Sekar Mirah, kenapa Kakang Agung Sedayu tidak turut kembali ke kademangan?”

Sekar Mirah menarik nafas. Katanya, “Ia lebih senang tinggal bersama gurunya merawat orang-orang yang terluka.”

“Ia memang memiliki perasaan belas kasihan kepada sesama,” sahut Prastawa.

“Ya. Karena itulah maka ia tidak berani berbuat apa-apa selain menunggu. Jika sesuatu mulai menyentuhnya, barulah ia berbuat sesuatu.”

Prastawa memandang Sekar Mirah sekilas, yang wajahnya menjadi semakin tegang oleh kekecewaan karena sikap beberapa orang di dalam iring-iringan itu.

“Aku sependapat dengan Kakang Swandaru,” berkata Sekar Mirah kemudian, “setiap jiwa harus ditebus dengan jiwa. Karena kematian yang terjadi itu sama sekali bukan karena kesalahan kami, maka tuntutan kami pun seharusnya berlipat ganda seperti yang dikatakan oleh Kakang Swandaru.”

“Apakah itu menjadi kebiasaan kalian?”

Pertanyaan itu memang mengejutkan. Tetapi kemudian Sekar Mirah menjawab, “Aku tidak pernah mempertimbangkan kebiasaan. Yang aku katakan adalah yang tersirat di dalam perasaanku sekarang.”

Prastawa mengangguk-angguk. Ia menjadi semakin kenal watak dan tabiat Sekar Mirah yang keras. Namun sejalan dengan itu kekagumannya terhadap gadis itu pun bertambah-tambah pula. Di dalam pertempuran itu ia telah menyaksikan, bahwa Sekar Mirah jauh lebih tangkas dari laki-laki kebanyakan meskipun ia seorang perempuan.

Hampir di luar sadarnya, tiba-tiba saja Prastawa berguman seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Kau benar, Mirah.”

Sekar Mirah berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Apakah yang benar?”

“Sikapmu, bahwa kau sependapat dengan Kakang Swandaru.”

Sekar Mirah memandang Prastawa sejenak. Namun kemudian tatapan matanya pun mengarah lurus ke depan. Suaranya menjadi dalam, “Kakang Agung Sedayu adalah seorang laki-laki yang lemah. Bukan jasmaniahnya. Ia memiliki ilmu yang tinggi. Ia sudah menguasai gerak-gerak dasar dari perguruannya dan memahaminya. Bahkan ia sudah mengenal penggunaan tenaga cadangan dan ungkapan kekuatan dalam hubungannya dengan kekuatan alam di sekitarnya, dan bahkan mampu menyerapnya dalam jalur ilmunya dan luluh dengan kekuatan di dalam dirinya. Tetapi ia adalah orang yang lemah jiwanya. Ia tidak berani mengambil sikap, seolah-olah ia dikejar oleh pertanggungan jawab yang tiada dapat disentuh oleh indera.”

“Ia memang selalu ragu-ragu,” sahut Prastawa. “Mungkin pada suatu saat ia akan berubah.”

“Jika ia dapat berubah, maka perubanan itu tentu sudah nampak sejak sekarang. Tetapi agaknya perkembangannya mengarah kepada sikap yang semakin lemah.”

Prastawa tidak menjawab. Tetapi kepalanya sajalah yang terangguk kecil. Terbayang di angan-angannya Agung Sedayu yang berwajah tenang dan dingin. Sedangkah wajah Sekar Mirah bagaikan memancarkan panasnya bara api yang menyala di dalam dadanya.

Tiba-tiba saja Prastawa menarik nafas dalam-dalam. Di luar pengetahuan Sekar Mirah yang memandang lurus ke depan, Prastawa setiap kali memandang wajah gadis itu. Rasa-rasanya Sekar Mirah yang kotor oleh keringat yang dilekati debu itu menjadi bertambah cantik.

Namun kemudian sekilas terbayang wajah Agung Sedayu. Wajah yang tenang dan bersungguh-sungguh, tetapi diwarnai oleh keragu-raguan dan ketidakpastian.

Sementara itu, Agung Sedayu memang sedang dicengkam oleh kegelisahan. Setiap kali melonjak di dalam hatinya, kecemasan atas masa depannya sendiri. Jika perkawinan harus ditebus sedemikian mahal, maka ia menghadapi gambaran yang semakin buram tentang dirinya sendiri.

Namun ia tidak sempat berangan-angan terlalu lama. Ia pun kemudian tenggelam dalam kesibukan menolong gurunya yang merawat beberapa orang yang terluka, sementara beberapa orang yang lain telah mengumpulkan korban yang sudah tidak tertolong lagi jiwanya. Di antara mereka terdapat lawan, tetapi juga kawan.

Memang sepercik dendam melonjak di hati Agung Sedayu seperti juga orang-orang lain. Namun setiap kali ia masih mempertimbangkannya baik-baik.

Karena inilah, maka Agung Sedayu tidak melakukan sesuatu yang dapat mempengaruhi tugas gurunya. Ia tidak terbakar oleh dendam dan kemudian dengan cambuknya membunuh setiap orang yang terluka meskipun mereka itu adalah lawan.

Namun para pengawal yang lain tidak mempunyai pertimbangan seperti Agung Sedayu, sehingga setiap kali Kiai Grirtgsing harus memberikan peringatan agar mereka tidak melakukan hal-hal yang dapat melanggar ketentuan yang berlaku.

“Kita adalah orang-orang yang selama ini memegang teguh sopan santun dan unggah-ungguh. Juga di dalam peperangan seperti sekarang ini,” berkata Kiai Gringsing kepada para pengawal yang membantunya.

Para pengawal itu tidak menyahut. Tetapi sebenarnya di dalam hati mereka, masih tetap menyala dendam yang setiap saat dapat meledak.

Dalam pada itu, ketika tugas mereka sudah hampir selesai, maka langit pun mulai tampak kemerah-merahan. Beberapa orang yang lewat sejenak tertegun. Namun Agung Sedayu selalu mendekati mereka sambil berkata, “Silahkanlah lewat, Ki Sanak.”

“Apakah yang terjadi?”

“Sekedar salah paham.”

“Dan salah paham yang terjadi antara dua kelompok yang cukup besar. Dan inilah akibatnya. Kedua belah pihak tidak mau mempergunakan nalarnya. Sehingga akhirnya mereka bertempur.”

“Dan Ki Sanak? Apakah Ki Sanak bukan orang dari salah satu pihak?”

“Bukan. Kami adalah orang-orang Sangkal Putung yang melerai perkelahian ini.”

Orang-orang itu pun kemudian melanjutkan perjalanannya. Tetapi mereka tetap berteka-teki tentang peristiwa di ujung hutan itu.

“Apakah telah terjadi kejahatan lagi di daerah ini?” desis salah seorang dari mereka.

“Tentu tidak,” jawab yang lain, “jika terjadi kejahatan tentu tidak di daerah ini, tetapi di ujung Alas Tambak Baya atau di sisa Alas Mentaok yang masih belum ditebang.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dan mereka pun ternyata sepakat, bahwa yang terjadi hanyalah salah paham saja.

Namun di antara orang-orang yang lewat itu ternyata terdapat dua orang yang agak lain dari orang-orang yang lewat sebelumnya. Kedua orang itu menaruh perhatian yang lebih besar, sehingga ketika mereka lewat, maka mereka pun telah berhenti dan turun dari kuda mereka.

Seperti yang sudah terjadi, maka Agung Sedayu pun segera mendekati mereka. Seperti kepada yang lain pula, maka ia pun bertanya, “Apakah ada yang menarik perhatian Ki Sanak?”

“Ya, ya, Anak Muda,” jawab salah seorang dari keduanya, “aku melihat bahwa sesuatu telah terjadi di sini.”

“Ya, salah paham.”

“Salah paham?” yang lain bertanya.

Dan Agung Sedayu memberikan keterangan seperti yang pernah diberikannya kepada orang-orang lain.

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian salah seorang dari mereka bertanya, “Salah paham ini dapat menumbuhkan korban sekian banyaknya. Apakah Ki Sanak mengetahui apakah yang telah menyebabkan terjadi salah paham itu?”

“Anak-anak muda,” jawab Agung Sedayu, “mereka saling merasa dirinya mempunyai kelebihan. Di antaranya adalah anak-anak muda yang baru turun dari perguruan. Mereka merasa dirinya tidak terkalahkan, sehingga mereka memang memerlukan lawan untuk mencoba ilmunya tanpa memikirkan akibatnya.”

“Ah,” kedua orang itu menjadi heran.

“Apakah Ki Sanak tidak percaya?” bertanya Agung Sedayu.

“Percaya. Aku percaya sepenuhnya. Tetapi berapa orang yang telah terlibat dalam salah paham ini? Apakah ada sekelompok besar anak-anak muda yang bertemu dengan kelompok yang lain dalam jumlah yang sama besar.”

“Tidak. Persoalan yang menumbuhkan salah paham itu telah terjadi dua tiga hari lampau. Bahkan mereka yang langsung menjadi sebab telah menyatakan untuk tidak meneruskan persoalan mereka di hadapan Ki Demang. Tetapi ternyata mereka telah berjanji untuk bertemu di tempat ini dalam jumlah yang sama-sama besar.”

“O, mereka telah berjanji di hadapan Ki Demang?”

“Ki Demang dari kademangan yang mana.”

“Sangkal Putung. Tentu Sangkal Putung.”

Tetapi salah seorang dari kedua orang itu telah bertanya, “Tetapi bukankah Ki Demang Sangkal Putung tidak ada di tempat dalam dua atau tiga hari ini?”

Agung Sedayu terkejut mendengar pertanyaan itu. Apalagi ketika orang itu meneruskan, “Menurut pendengaranku, Ki Demang Sangkal Putung berada di Tanah Perdikan Menoreh lebih dari sepasar. Dan menurut pendengaranku hari ini Ki Demang baru kembali. Dan apakah iring-iringan pengantin itu sudah lewat? Jika belum, alangkah baiknya jika daerah ini segera dibersihkan, agar pengantin itu tidak melihat beberapa sosok mayat yang terbaring di sini.”

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Aku keliru, Ki Sanak. Maksudku mereka sudah berdamai tidak di hadapan Ki Demang, tetapi di hadapan Ki Jagabaya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi selebihnya iring-iringan itu sudah lewat beberapa saat.”

“Dan Ki Sanak sendiri?”

“Aku datang melerai perkelahian yang telah menumbuhkan sebelum peristiwa ini terjadi.”

“Beberapa orang korban.”

Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Lalu salah seorang bertanya, “Apakah aku boleh mengenali setiap korban?”

“Apakah gunanya?”

Orang itu menarik nafas. Nampak sepercik ketegangan di wajahnya. Namun kemudian katanya, “Anakku adalah anak yang nakal sekali. Ia sering berkelahi di mana pun juga.”

“Dari manakah Ki Sanak datang, dan di manakah Ki Sanak tinggal?”

“Aku orang dari Prambanan. Aku sekedar lewat, karena aku akan pergi menengok keluargaku yang tinggal di Karang Elo.”

“Ah, tentu bukan anak-anak muda dari Prambanan. Aku tahu pasti,” jawab Agung Sedayu.

“Ah, siapa tahu. Sudah tiga hari anakku tidak pulang. Dan menurut pendengaranku, anakku sering pergi dari satu kademangan ke kademangan yang lain. Berkelahi berkelompok dan bahkan kadang-kadang sering menumbuhkan kematian seperti sekarang ini.”

Agung Sedayu menjadi bingung. Karena itulah maka ia pun menjawab, “Aku akan bertanya dahulu kepada orang tuaku.”

“Silahkan, Anak Muda. Aku menunggu.”

Agung Sedayu pun kemudian mendapatkan Kiai Gringsing yang sedang sibuk. Sejenak ia menjelaskan apa yang sudah dilakukan dan permintaan kedua orang berkuda itu.

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Biarlah. Ia tidak akan mengenali orang-orang yang telah mati terbunuh itu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Lalu ia pun mendapatkan kedua orang itu pula sambil mengatakan pesan Kiai Gringsing, bahwa orang tua itu tidak keberatan jika kedua orang itu ingin melihat beberapa orang korban yang luka dan terbunuh.

Sejenak kedua orang itu termangu-mangu. Namun mereka pun kemudian mulai mengamati beberapa orang yang terbaring di tanah. Yang sudah memejamkan matanya sama sekali, dan mereka yang masih mampu berkedip.

Mereka saling berbisik di antara mereka, seolah-olah mereka sedang mencoba mengenal setiap orang.

Selangkah demi selangkah mereka maju. Orang-orang yang terluka telah diusung dan dibaringkan di tempat yang dialasi dengan rumput-rumput kering. Sedangkan mereka yang terbunuh telah diletakkan berjajar di tempat yang lain.

Langkah kedua orang itu tertegun ketika mereka melihat sesosok mayat yang hampir tidak dapat dikenalinya lagi. Namun demikian, mayat itu ternyata telah menarik perhatiannya. Sejenak mereka berdiri termangu-mangu. Namun kemudian yang seorang berdesis, “Aku tidak salah lagi. Tentu orang inilah Gandu Demung itu.”

“Ternyata ia telah terperosok dalam lingkaran perkelahian melawan orang bercambuk itu, sehingga ia mengalami luka-luka yang mengerikan sebelum kematiannya.”

Agung Sedayu tidak mendengar percakapan itu. Namun kemudian ia pun mendekati keduanya sambil berkata, “Menurut perhitungan kami, orang itu termasuk salah seorang pemimpinnya.”

“Pemimpin siapa, Ki Sanak?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.

Agung Sedayu termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Pemimpin salah satu dari kelompok-kelompok yang berbenturan itu.”

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dan Agung Sedayu pun kemudian bertanya, “Apakah kau dapat menemukan orang yang kau cari?”

Keduanya menggeleng. Salah seorang dari keduanya menyahut, “Tidak, Ki Sanak. Tetapi kematian salah seorang dari mereka yang menjadi korban itu nampaknya mengerikan sekali.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam.

“Bekas-bekas lukanya bukannya bekas luka senjata tajam. Bukan pula bekas luka bindi atau tongkat besi sekalipun.”

“Menurut dugaanmu, luka itu bekas sentuhan senjata jenis yang mana?” bertanya Agung Sedayu.

“Cambuk. Aku menduga bahwa orang itu telah mengalami nasib yang malang, karena ia telah bertengkar dengan orang bercambuk atau salah seorang muridnya.”

Dada Agung Sedayu berdesir. Ia tidak mempunyai alasan untuk mengelakkan dugaan itu. Karena itu, ia pun justru mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Anak muda itu terkejut ketika salah seorang dari kedua orang itu pun berkata, “Sudahlah, Ki Sanak. Aku minta diri. Aku akan melanjutkan perjalananku. Mudah-mudahan aku dapat menemukan anakku dengan selamat.”

“Mudah-mudahan.”

“Aku minta diri. Katakan kepada orang tua itu, bahwa aku akan melanjutkan perjalanan.”

Demikianlah keduanya pun segera meninggalkan tempat itu. Langit yang merah menjadi semakin merah dan cahaya matahari yang turun ke Barat menjadi semakin pudar.

Dalam pada itu, kedua orang itu pun segera memacu kudanya. Di sepanjang jalan mereka dicengkam olah pembicaraan tentang nasib Gandu Demung yang malang.

“Aku yakin, bahwa Gundu Demung tidak dapat meloloskan diri.”

“Jika saja ia tidak bertemu dengan orang bercambuk.”

“Yang manakah menurut dugaanmu orang bercambuk itu?”

“Aku tidak tahu. Mungkin orang itu sudah pergi bersama pengantin itu. Mungkin orang tua yang sedang sibuk menyelenggarakan para korban itu.”

“Tentu sudah pergi bersama pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh. Ia tentu merupakan orang terhormat. Orang yang mendapat tempat di sisi sepasang pengantin itu.”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun mereka sudah mendapat bahan yang lengkap untuk menyampaikan laporan tentang usaha Gandu Demung. Usaha yang ternyata telah gagal sama sekali.

“Bagaimanakah jika empu tidak percaya?” desis salah seorang dari mereka.

“Mudah-mudahan ia mempercayai kita. Dan jika ia tidak percaya dan mengirimkan orang lain untuk menyelidiki kebenaran laporan kita, maka kita tidak akan cemas, bahwa laporan kita dianggap salah. Bukankah kita sudah melihat bahwa Gandu Demung benar-benar telah mati?”

Kawannya mengangguk-angguk. Ia pun sependapat bahwa Gandu Demung memang sudah mati. Jika ada orang lain yang harus menilai kebenaran laporannya, maka mereka berdua tidak usah menjadi cemas, karena sebenarnya bahwa hal itu memang sudah terjadi.

Dalam pada itu Agung Sedayu yang masih sibuk membantu Kiai Gringsing sama sekali tidak menduga, bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang memang mendapat tugas untuk melihat apakah Gandu Demung berhasil atau justru jatuh ke tangan orang-orang Sangkal Putung.

Tetapi yang terjadi adalah Gandu Demung telah mati.

“Kita kehilangan,” desis salah seorang dari kedua orang berkuda itu. “Jarang orang yang memiliki kemampuan seperti Gandu Demung.”

“Masih ada beberapa orang yang dapat mendampingi pemimpin kita itu.”

“Ya. Tetapi itu bukan berarti bahwa hilangnya Gandu Demung bukannya tidak berpengaruh sama sekali.”

“Pengaruhnya tidak akan begitu besar.”

“Tetapi ada.”

Kawannya tidak menjawab. Bahkan kemudian ia pun memacu kudanya semakin cepat sambil berkata, “Malam mulai pekat. Kita akan bermalam di mana?”

“Pertanyaanmu aneh. Di manakah kita bermalam selama ini?”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata, “Kita akan mencari jalan melingkar. Mungkin kita akan melalui jalan-jalan kecil agar kita tidak menjadi semakin jauh dari Gunung Tidar.”

“Aku belum mengenal daerah ini sebaik-baiknya.”

“Aku sudah pernah melalui daerah ini meskipun sudah agak lama. Kita akan berbelok sebelum kita sampai ke Sangkal Putung. Melingkar sedikit dan kemudian kita akan turun ke jalan ini pula, dan kembali melalui jalan yang kita lewati saat kita mengikuti iring-iringan pengantin itu.”

Kawannya tidak menjawab. Mereka pun berpacu semakin cepat. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang dari mereka, maka keduanya pun kemudian berbelok melalui jalan yang lebih kecil. Mereka harus melingkari hutan kecil yang menjadi arena pertempuran yang sengit itu, untuk selanjutnya berpacu ke Gunung Tidar.

Dalam pada itu, di bekas arena pertempuran itu pun telah dipasang beberapa buah obor. Beberapa buah pedati telah siap pula untuk mengusung mereka yang telah menjadi korban dan dibawa ke banjar padukuhan terdekat. Hanya mereka yang masih hidup meskipun terluka parah, akan dibawa ke banjar padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung.

Ketika Kiai Gringsing, Agung Sedayu, dan beberapa orang pengawal sedang sibuk merawat para korban, maka iring-iringan pengantin yang sudah berubah bentuknya itu pun memasuki halaman kademangan. Ternyata berita tentang perkelahian itu telah mendahului iring-iringan sampai ke telinga penghuni padukuhan induk Kademangan Sangkal Putung meskipun belum jelas.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:27  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-98/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. Setelah jalan-jalan setengah hari, saya ingat bahwa hari-2 inilah alm. SHM berada di rumah sakit. Ki Arya Salaka telah mendorong saya untuk sekedar mengenang riwayat singkat Suhu SHM.
    Thanks Ki Gede untuk bingkisannya – walaupun sempat telmi tapi tidak telat nyantap bungkusan ABDM098.

    hehehhe ……

  2. Wah memang ki Gede hebat dan selalu baru dalam menurunkan kitab-kitabnya. Terimakasih ki Gede, kitab 98 sdh saya terima dan siap dipelajari jurus-jurusnya.

  3. trimakasih Ki GD
    untuk semalam sudah topo mbisu..jadi cepat dapat diunduh

  4. Walah..walaaaaah.. bener bener berat dan mumpuni Ilmu Ki Waskita yang ngedap-edapi ini..

    Lah, saya sebenarnya tahu Ki SH Mintardja dirawat di mana, tetapi karena masih belum menekuni ilmunya Ki Waskita, saya browsing ke mana mana termasuk ke rumah sakitnya, lah ternyata kitabnya masih di gedung ini juga…

    Memang harus mengendap dulu ya Ki Gede….
    Para kadang..Sugeng Warso Enggal, mudah mudahan para cantrik tidak menjadi sebingung saya sebelum berhasil membungkus kitab 98 ini..(padahal saya belum selesai membaca kitab 94, tetapi karena penasaran dengan ilmu Ki Waskita, setiap ada unggahan kitab anyar, yang penting diunduh dan dibungkus dulu, baru nanti dibuka sebagai bekal kalau sedang jalan jalan…

  5. mohon ancer2nya… masih belum jelas…..tolongggg…
    udah diliat disourcenya tapi ga keliatan ….

  6. sudah ketemu, baru ngeh … heheee..

  7. duh, adi glagah.putih … tulung dibantu dunk … ini sudah hampir satu hari penuh mesu diri, eh, belum berhasil juga …

  8. @Pak Herman

    Ki Gede mengatakan nama sang Maestro dan dirawat dimana sebelum wafat.

    Harap dicari nama beliau di halaman ini…Jika sudah ketemu nama beliau di halaman ini selanjutnya silahkan mesu diri kembali…

    Mudah mudahan berhasil…

  9. Duh ki Gede lan para kadang….sirahku wis ora kuat. Disimpen nang ndi to kitab 98? Nyuwun tulung…ki Wakita?

  10. @Jo Gelo
    Di setiap halaman Padepokan ini KI GD dan kawan-kawan telah mencantumkan nama Pengarang kitab sakti adbm ini.
    Untuk mendapat kitab sakti yang memuat jurus ke 98, pentang busur mouse Anda kuat-kuat, lantas bidikkan ke nama Pengarang ADBM yang ada di bagian atas kanan.
    Bidikan yang tepat akan membuka halaman baru yang menceritakan riwayat hidup Ki SH Mintardja.
    Silakan langsung menuju bagian di mana sang Maestro Berpulang.
    Pentang sekali lagi kuat-kuat busur mouse Anda dan bidikkan ke tanggal di mana beliau di rawat di RS Bethesda.
    Seperti Agung Sedayu yang berhasil membidik bola yang dilempar oleh Swandaru, maka bidikan terakhir akan membuat Anda mampu mengunduh kitab sakti 98.
    Mudah2 an Ki GD berkenan isyarat beliau telah saya uraikan dengan begitu gamblang.

    GD: Oow, tidak sama sekali. Pada akhirnya isyarat2 itu memang harus diterjemahkan dalam bahasa wantah.

  11. Duh, sokurlah, alhamdulillah, puji tuhan … berkat bantuan kisanak sedoyo, khususnya adi j3b3ng dan adi arya salaka … akhirnya jurus 98 ini dapat jg serba sedikit cantrik pelajari … matur sembah nuwun …

    memang jurus yang sangat ngedap-ngedapi …:)

  12. […] des’08 pesona pw dan as […]

  13. Masih belum sakti nih saya nya

  14. Wah maturnuwun, weees ketemu rontal nomer 98

  15. Matur nuwun Ki Gede

  16. Kisanak, menopo jilid 95 dumugi 100 dereng enten ingkang ngunggah wonten wordpress? suwun…

  17. mas kalau mau beli bukunya dari no 97 s/d 145 berpa harganya dan dimana belinya

  18. KI GD Mohon informasi buku 98 apa sudah di realese, kalau sudah kiranya berkenan saya ikut ngantri, terima kasih sebelumnya

  19. @subiharto,
    sekedar tips dari saya.
    coba perhatikan petunjuk Ki GD di halaman ke 2
    kemudian anda jalan2 ke biografi S.H. Mintardja
    disana kitab menanti

  20. MAtur Nuwun Ki Sunda Sawit, kitab sampun kulo unduh

  21. Pakde, mohon petunjuk mengunduh kitab ini ….maklum cantrik muda yang baru belajar

  22. assalamu alaikum semuanya……

    para sesepuh ADBM…..

    sebelumnya saya minta mf pada ki GD dan pra sesepuh sekalian…

    karena saya telah menyerap ilmu dari ki DG dan para sesepuh secara diam2…

    mulai dari kitab 1- 94 yang saya dapatkan…

    dan mulai kitap 95 saya tambah mesu diri…dalam memahaminya….

    dengan petunjuk yang ki DG n para sesepuh berikan pada cantrik2 yg lain…

    n baru sekarang saya memperkenalkan diri saya…

    sebelumnya sy minta maaf….

    dan terimakasih….^_^

    “butho caqiel”

    • sami-sami

      buto terong


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: