Buku 98

DALAM PADA ITU, Gandu Demung pun telah bersiap pula menghadapi cambuk Swandaru. Seolah-olah ia ingin melihat setiap wajah yang berada di sekitar arena itu.

“Bagus,” berkata Gaudu Demung kepada orang-orang yang berkerumun itu, “aku sadar bahwa aku akan mati. Tetapi sebelumnya kalian akan menyaksikan bagaimana aku mencincang pengantin baru ini sebelum kalian beramai-ramai menguliti tubuhku.”

“Persetan,” geram Swandaru, “jangan mengigau. Bersiaplah.”

Gandu Demung pun segera bersiap. Ia sadar sepenuhnya bahwa lawannya adalah seorang anak muda yang sedang dibakar oleh kemarahan. Sehingga karena itulah maka ia harus berhati-hati dan tidak kehilangan akal pula.

Kiai Gringsing yang juga berdiri di lingkaran itu hanya dapat mengikuti perkembangan keadaan dengan tegang. Agaknya Swandaru sudah tidak dapat dicegah lagi.

Karena itu, maka yang dapat dilakukan oleh Kiai Gringsing kemudian adalah berdoa, agar Swandaru dapat menyelesaikan perang tanding itu dengan selamat.

Sejenak kemudian kedua orang itu sudah siap untuk bertempur. Sekilas, di sela-sela orang-orang yang berdiri melingkarinya, Gandu Demung masih sempat melihat beberapa orang anggauta gerombolannya yang menyerah dan dijaga oleh beberapa orang pengawal.

“Pengecut,” ia menggeram. Dan Gandu Demung benar-benar tidak ingin menyerah.

Sejenak kemudian, terdengar suara cambuk yang meledak. Swandaru nampaknya sudah tidak sabar lagi. Terdengar suaranya yang bergetar, “Cepatlah, supaya kau cepat pula dimasukkan ke dalam kubur.”

Wajah Gandu Demung pun telah membara. Ia bukan orang yang sabar menghadapi celaan. Karena itulah maka ia pun segera bersiap menghadapi setiap kemungkinan.

Dengan tegang Swandaru bergeser selangkah ke samping. Tangannya sudah siap mengayunkan cambuknya yang berjuntai panjang dengan karah besi baja di beberapa tempat.

Namun Swandaru terkejut karena dengan tidak diduga-duga, saat kakinya sedang melangkah untuk kedua kalinya, tiba-tiba saja Gandu Demung meloncat dengan cepatnya sambil menjulurkan senjatanya.

Swandaru tidak bersiaga menghadapi serangan itu, sehingga dengan demikian, maka yang dapat dilakukannya adalah meloncat menghindar selangkah surut.

Tetapi Gandu Demung mempergunakan setiap saat sebaik-baiknya. Ia tidak menarik serangannya, tetapi mengayunkan senjatanya mendatar mengarah ke lambung Swandaru.

Kaki Swandaru masih terbuka. Karena itu, ia tidak sempat mengelak lagi dengan langkah surut karena berat tubuhnya. Tetapi ia pun tidak sempat menangkis serangan itu dengan cambuknya, sehingga karena itu ia harus cepat menentukan sikap untuk menghindarkan diri dari senjata lawannya yang akan dapat menyobek lambungnya.

Dalam kesulitan itu, Swandaru tidak mempunyai pilihan lain. Jika ia tidak mau tersayat oleh senjata lawannya, maka ia pun harus melakukannya.

Dengan cepat pula Swandaru menjatuhkan diri. Kemudian berguling melingkar mundur.

Namun lawannya benar-benar ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Jika ia tidak berhasil mempergunakan saat yang baik itu, maka ia akan menjumpai kesulitan di dalam berikutnya. Sehingga dengan demikian, maka Gandu Demung pun segera meloncat memburu. Dengan perhitungan yang cermat ia mengayunkan senjatanya menebas tepat saat Swandaru melenting berdiri.

Semua orang yang berada di seputar arena itu berdiri mematung. Mereka telah dicengkam kecemasan melihat perkelahian itu. Mereka melihat Swandaru berada dalam kedudukan yang lemah, apalagi di dalam saat Gandu Demung mengayunkan senjatanya menebas Swandaru yang menurut perhitungannya akan melenting berdiri.

Pandan Wangi yang berdiri tegak menjadi pucat. Sepasang senjatanya telah bergetar. Namun ia tidak berani meloncat memasuki arena karena ia sadar, bahwa dengan demikian ia akan melukai hati Swandaru. Demikian pula agaknya Sekar Mirah dan orang-orang lain yang melihat keadaan itu.

Tetapi ternyata bahwa Swandaru yang gemuk dan sedang dibakar oleh kemarahan itu pun sempat membuat perhitungan yang cermat. Sesaat ia siap untuk melenting berdiri ia sempat melihat kaki lawannya yang bergerak setengah langkah maju, dengan mencondongkan tubuhnya ke depan.

Karena itulah, maka sekilas ia meocoba melihat gerak tangan lawannya. Dengan ketajaman tanggapan, Swandaru segera dapat mengerti apa yang sedang dilakukan oleh lawannya. Sehingga karena itulah maka ia mengurungkan niatnya untuk melenting, tetapi sekali lagi ia berguling ke samping dan berkisar dengan poros lambungnya.

Ternyata bahwa Swandaru berhasil. Pada saat Gandu Demung mengayunkan senjatanya untuk menebas tubuh Swandaru yang diperhitungkan akan melenting berdiri, Swandaru telah membuat gerakan yang lain sekali sehingga Gandu Demung terkejut karenanya. Dengan serta-merta ia pun telah merubah serangannya, dengan menahan ayunan senjatanya yang mendatar. Ia harus mengangkat senjatanya itu, dan dengan ujungnya ia menukikkan senjata itu langsung ke dada Swandaru yang sedang berkisar.

Hampir saja Pandan Wangi dan Sekar Mirah terpekik berbareng. Untunglah keduanya masih dapat menahan diri betapa dadanya telah terguncang, dan rasa-rasanya jantungnya akan pecah. Ujung senjata Gandu Demung itu bagaikan petir yang menyambar dari langit langsung mengarah ke pusat jantung

Tetapi Swandaru tidak membiarkan ujung senjata itu membunuhnya. Ia pun melakukan gerakan itu dengan perhitungan. Karena itulah, maka tepat ketika ujung senjata itu mematuknya, dengan sekuat tenaganya ia mengayunkan kedua kakinya bersilang.

Gerak kaki Swandaru bagaikan kekuatan yang melemparkan Gandu Demung dengan lontaran yang tidak tertahan. Kedua kakinya yang memotong dengan arah yang berlawanan, telah merampas keseimbangan Gandu Demung. Dengan serta-merta ia pun terlempar jatuh dan berguling beberapa kali di atas tanah yang keras.

Tetapi Gandu Demung benar-benar lincah. Sesaat kemudian, maka ia pun segera meloncat berdiri, mendahului semua kemungkinan yang dapat dipergunakan oleh Swandaru.

Namun Gandu Demung menggeram. Ketika ia tegak berdiri dengan kaki renggang, ia pun melihat bahwa Swandaru pun telah berdiri tegak pula dengan cambuknya di dalam genggaman. Wajahnya yang kotor oleh keringat dan debu, membuat wajahnya tampak menjadi semakin menyeramkan.

Gandu Demung tidak berkata sepatah pun. Ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi ujung cambuk Swandaru yang tentu akan dapat menyayat kulitnya, jika tidak sempat menghindar.

Dengan hati-hati, Swandaru melangkah maju. Ia tidak mau mengulangi kesalahannya. Karena itulah, maka setiap saat tangannya akan dengan cepat terayun ke tubuh lawannya.

Untuk beberapa saat keduanya mencoba untuk mengetahui apakah yang sebaiknya dilakukan menghadapi lawan yang tangguh itu. Bahkan mereka seakan-akan saling menyegani dan menunggu.

Namun sejenak kemudian, terdengar sebuah ledakan yang memekakkan telinga. Cambuk Swandaru telah terayun menyambar tubuh lawannya.

Tetapi Gandu Demung yang melihat arah ayunan itu sempat mengelak dengan loncatan panjang. Ia pun harus segera membungkuk dalam-dalam ketika cambuk itu kemudian melayang menyambar lehernya.

Gandu Demung dengan tepat dapat memperhitungkan, bahwa sekali lagi Swandaru akan mengayunkan cambuk itu sendal pancing, sehingga ia masih sempat meloncat ke samping. Bukan saja sekedar meloncat, tetapi Gandu Demung langsung menggerakkan senjatanya. Dengan tangan terjulur lurus senjatanya telah mematuk lawannya. Tetapi Swandaru pun sempat mengelak, bahkan menyerang dengan cambuknya pula.

Dengan lincahnya Gandu Demung berusaha untuk bertempur pada jarak yang pendek. Dengan kecepatan geraknya, ia berhasil masuk ke dalam jarak yang sulit disentuh oleh ujung cambuk Swandaru justru karena terlampau dekat.

Sekali lagi Ganjdu Demang merasa, bahwa ia telah menemukan kelemahan lawannya. Dengan sekuat tenaganya ia mempergunakan kesempatan itu dengan mengayunkan senjatanya mendatar, dan kemudian menusuk lurus kearah dada.

Swandaru menggeram dengan marahnya. Ia sadar, bahwa lawannya yang cerdik telah memotong jarak sehingga ujung cambuknya sulit dipergunakannya. Setiap kali ia berusaha meloncat menjauh, maka Gandu Demung selalu mengejarnya untuk mempertahankan jarak yang pendek yang telah dapat dicapainya.

Orang-orang yang berada di dalam lingkaran yang memutari pertempuran itu menjadi berdebar-debar. Tidak seorang pun dari mereka yang tidak menjadi cemas melihat cara yang ditempuh oleh Gandu Demung yang cerdik. Kecepatannya bergerak dan kecerdikannya, telah membuat Swandaru merasa terdesak.

Tetapi ternyata Swandaru bukan seorang anak muda yang cepat kehilangan pegangan. Ia pun memiliki pengalaman yang luas menghadapi berbagai macam ilmu. Itulah sebabnya, maka ia pun masih sempat mempergunakan akalnya di antara kemarahan yang rasa-rasanya akan meledakkan dadanya.

Sambil menghindari setiap serangan lawannya, Swandaru berusaha menemukan cara untuk mengatasi jarak yang dipertahankan mati-matian oleh Gandu Demung. Setiap kali cambuknya meledak, maka lawannya selalu sempat berlindung justru pada tangkainya, bahkan sekaligus telah menyerang pula.

Karena itulah, maka kemudian Gandu Demung merasa, bahwa betapapun lambatnya, namun ia akan berhasil menguasai lawannya dan bahkan sedikit kesalahan yang dilakukan oleh Swandaru, akan mengantarnya ke daerah maut.

Dalam kesulitan itulah Swandaru mengerahkan segenap kemampuannya. Beberapa kali ia mencoba meledakkan cambuknya sendal pancing, meskipun hasilnya kurang meyakinkan. Kemudian dengan putaran-putaran yang kuat mendatar. Namun nampaknya ujung cambuknya justru akan membelit lawannya tidak pada tempat yang dikehendaki, dan memberi kesempatan lawannya menahan ujung cambuknya sambil menyerang dengan senjatanya.

Sementara itu, Gandu Demung menyerang terus. Semakin lama semakin cepat, sehingga Swandaru pun menjadi semakin terdesak karenanya.

Dalam pada itu, di arena itu tiba-tiba telah meledak suara tertawa Gandu Demung sehingga setiap orang terkejut karenanya. Apa lagi ketika mereka melihat warna merah yang meleleh di pundak Swandaru.

“Luka,” desis Sekar Mirah dengan tangan gemetar. Tongkat bajanya tiba-tiba saja telah digenggamnya erat-erat, seolah-olah telah siap untuk diayunkannya. Sementara Pandan Wangi bergeser selangkah dengan sepasang pedang di tangannya.

Swandaru menggeram disengat oleh perasaan pedih di lukanya itu. Apalagi nampaknya Gandu Demung mempergunakan setiap kesempatan untuk memenangkan pertempuran itu. Luka di pundak Swandaru merupakan pertanda baginya, bahwa ia akan dapat memenangkan pertempuran itu.

Dengan cermat Gandu Demung mendesak lawannya. Setiap kali ia berhasil meloncati ujung-ujung cambuk Swandaru yang berusaha membelit kakinya, sehingga ia tidak terjerat karenanya.

Dalam kekalutan itu, Gandu Demung berhasil mendesak Swandaru yang nampaknya kehilangan semua kesempatan untuk mempergunakan senjatanya. Sebuah ayunan yang keras menyambar kening. Meskipun Gandu Demung yakin bahwa Swandaru masih akan sempat membungkukkan badannya untuk menghindar, tetapi serangan berikutnya tentu akan mengakhiri perkelahian. Saat itu Swandaru tidak akan dapat menghindari serangan justru tidak dengan senjatanya, tetapi dengan kakinya. Kaki Gandu Demung akan menghantam wajah Swandaru yang membungkuk itu. Ketika ia mengangkat wajah itu, maka berakhirlah semuanya. Senjatanya akan memecahkan dada anak muda yang gemuk itu.

Tetapi Swandaru mempunyai perhitungannya sendiri. Ia memang tidak dapat berbuat lain, ketika senjata lawannya menyambar kening. Namun dalam pada itu, Swandaru tidak sekedar membungkukkan kepalanya dan membiarkan kaki lawannya terangkat di wajahnya. Ia sadar bahwa dalam keadaan yang demikian ia tidak akan menyerang dengan ujung cambuknya. Dan ternyata nalarnya masih tetap bening. Pada saat ia membungkukkan wajahnya, ia melihat kaki Gandu Demung mulai bergerak. Namun pada saat itulah ia menyerang lawannya, tetapi tidak dengan ujung cambuknya.

Ternyata Swandaru telah mempergunakan senjatanya tidak seperti kebiasaannya. Jarak yang pendek tidak menguntungkannya untuk mempergunakan ujung cambuknya. Karena itulah, maka ketika sebelah kaki Gandu Demung mulai bergerak, Swandaru telah mengayunkan cambuknya, memukul kaki lawannya yang tegak di atas tanah, tidak dengan ujungnya, tetapi justru dengan tangkainya. Swandaru telah memegang cambuknya terbalik, meskipun tidak sepanjang juntainya. Ia menggenggam cambuknya pada pangkal juntainya yang dengan sekuat tenaganya diayunkantnya mengenai lutut lawannya.

Serangan itu sama sekali tidak diduga oleh lawannya, seperti saat kaki Swandaru memotong dengan gerakan silang dan melemparkannya jatuh berguling di tanah. Ternyata serangan yang tiba-tiba itu telah terulang lagi. Dan sekali lagi Gandu Demung terguncang dan jatuh.

Gandu Demung melihat bagaimana Swandaru berguling menjauhinya dan meloncat berdiri secepat Gandu Demung sendiri melenting meskipun lututnya masih terasa sakit dan kaki itu masih gemetar. Bukan saja karena hantaman tangkai cambuk yang rasa-rasanya telah meretakkan tulangnya, tetapi juga karena kejutan yang telah mengguncangkan isi dadanya, sehingga seolah-olah retak karenanya, karena pada saat satu kakinya mulai terangkat, maka kaki yang lain telah mengalami serangan yang tidak diperhitungkan sebelumnya.

Tetapi ternyata bahwa Swandaru-lah yang kemudian mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya didorong oleh kemarahan yang menghentak-hentak di dadanya. Dengan serta-merta maka ia pun segera meloncat menyerang sesaat setelah Gandu Demung mulai tegak di atas kakinya yang masih pedih.

Sebuah ledakan cambuk telah menggelepar dengan dahsyatnya. Swandaru Ternyata telah memegang tangkai cambuknya kembali dan mengayunkannya sekuat-kuat tenaganya mengenai tubuh Gandu Demung.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Ujung cambuk itu tidak membelit tubuh Gandu Demung, tetapi hentakan yang kuat seolah-olah telah membelah kulit seperti sentuhan sembilu.

Agaknya, luka di pundak Swandaru telah membuat anak muda yang gemuk itu kehilangan pengekangan diri. Selagi Gandu Demung masih berusaha menemukan keseimbangannya dan menahan perasaan pedih, tiba-tiba terdengar sekali lagi cambuk Swandaru meledak.

Gandu Demung terkejut melihat gerakan yang begitu cepat. Ia melihat ujung cambuk itu terayun ke lehernya, sehingga karena itu, maka ia pun segera membungkukkan kepalanya.

Tetapi Swandaru telah mempersiapkan serangan berikutnya. Ia memutar cambuk itu sekali di udara, kemudian sambil merendahkan diri ia bergeser maju. Cambuknya dengan cepat terayun mendatar setinggi lutut lawannya.

Gandu Demung benar-benar tidak sempat mengelak, Meskipun ia berusaha untuk meloncat, namun ujung cambuk itu ternyata masih sempat membelit pergelangan kakinya.

Dengan serta-merta Swandaru menarik cambuknya. Dan hentakan yang kuat itu telah melemparkan Gandu Demung dan membantingnya jatuh di atas tanah sekali lagi.

Kesalahan itu ternyata tidak terampuni lagi. Kemarahan Swandaru benar-benar sudah sampai ke puncaknya. Ketika kemudian Gandu Demung berusaha untuk bangkit, maka ujung cambuk Swandaru telah menyambarnya. Demikian dahsyatnya, sehingga yang terdengar di antara ledakan cambuk itu adalah teriakan Gandu Demung yang kesakitan. Ia tidak sempat tegak berdiri karena ia pun kemudian terdorong sekali lagi dan jatuh terjerembab.

Pada saat yang sama Swandaru telah meloncat maju. Tangannya bergerak dengan kekuatan penuh. Dan ketika cambuknya terayun sekali lagi mengenai tubuh Gandu Demung, maka orang itu hanya sempat menggeliat sambil mengeluh.

Tetapi nampaknya Swandaru telah benar-benar dicengkam oleh kemarahan yang tidak terkendali. Tanpa ragu-ragu maka sekali lagi cambuknya terangkat dan hentakan yang keras telah membuat jalur luka melintang di punggung lawannya. Sekali, dua kali, dan berulang kali.

Gandu Demung sama sekali sudah tidak bergerak lagi. Tetapi Swandaru nampaknya tidak puas dengan ledakan cambuknya yang susul-menyusul itu. Sebagai orang yang kehilangan akal, maka ia pun berusaha untuk menghancurkan tubuh lawannya yang sudah tidak berdaya lagi.

Orang yang berdiri di sekeliling arena itu terkejut melihat tingkah laku Swandaru. Mereka mengerti, bahwa luka di pundak Swandaru telah membuatnya kehilangan pengamatan diri. Tetapi mereka sama sekali tidak menduga bahwa Swandaru benar-benar dapat melakukan seperti yang mereka saksikan itu betapapun kemarahan menghentak-hentak di dadanya.

Dalam pada itu, selagi orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu membeku di tempatnya, terdengar suara Kiai Gringsing memecah di antara ledakan-ledakan cambuk Swandaru, “Cukup, cukup! Berhentilah!”

Tetapi Swandaru tidak berhenti. Bahkan ia menjawab, “Kawan-kawanku telah jatuh menjadi korban. Ia harus dicincang sampai lumat.”

“Itu sudah cakup,” terdengar suara Ki Sumangkar dan Ki Demang hampir berbareng.

Tetapi Swandaru tidak menghiraukannya. Ia hanya berhenti sejenak dan berpaling dengan tatapan mata yang membara. Bahkan perintahnya, “Bunuh semua tawanan.”

“Anakmas Swandaru,” desis Ki Waskita.

Tetapi sekali lagi Swandaru berteriak, “Bunuh semua tawanan. Setiap kematian harus ditebus dengan sepuluh orang lawan.”

“Swandaru,” Ki Demang hampir berteriak.

Tetapi Swandaru tidak menghiraukannya. Bahkan kemudian sekali lagi ditatapnya tubuh Gandu Demung yang sudah menjadi merah oleh darah. Agaknya ia masih belum puas melihat korbannya yang sudah tidak mampu berbuat apa pun juga itu.

Tetapi yang terjadi telah menghentikan denyut setiap jantung. Pada saat Swandaru mengangkat tangannya, tiba-tiba saja Pandan Wangi melepaskan pedangnya. Dengan gerak naluriah karena penguasaan ilmu kanuragan, maka Pandan Wangi berhasil menyusup di antara tangan Swandaru. Sambil berlari, maka ia pun kemudian memeluk Swandaru yang sedang dibakar oleh kemarahan itu,

“Kakang,” terdengar suaranya tersendat, “cukup. Yang Kakang lakukan telah lebih dari cukup.”

Tangan Pandan Wangi yang melingkari tubuhnya dan kemudian titik-titik hangat air matanya, ternyata masih mampu melunakkan hatinya. Sejenak ia berdiri membeku sambil menggenggam tangkai cambuknya. Sementara titik-titik air mata Pandan Wangi semakin deras membasahi tubuhnya yang memang sudah basah oleh keringat.

“Sudahlah, Kakang. Jangan kau biarkan perasaanmu berbicara di luar penguasaan nalar,” desis Pandan Wangi.

Unjtuk beberapa saat Swandaru terdiam. Namun terasa tangannya masih bergetar. Jantungnya masih berdegup keras, seolah-olah akan memecahkan dinding dadanya.

Pandan Wangi masih memeluk Swandaru. Meskipun ia masih saja menggenggam pedang yang basah oleh darah, tetapi kelembutannya sebagai seorang perempuan telah berhasil menyabarkan suaminya.

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang gemetar ia berkata, “Seharusnya kau tidak menahan aku. Semua orang yang dapat kita tangkap harus dibunuh, karena korban di antara kita pun sudah terlampau banyak.”

“Mereka sudah menyerah, Kakang,” desis Pandan Wangi.

Swandaru menggeretakkan giginya. Katanya, “Penyerahan mereka tidak akan dapat membangkitkan lagi kawan-kawan kita yang sudah menjadi korban atau dengan serta-merta menyembuhkan luka-luka mereka.”

“Tetapi mereka tidak akan berbuat apa-apa lagi. Mereka sudah menyerah. Adalah suatu adat di dalam peperangan, bahwa siapa yang sudah menyerah, tidak seharusnya dibinasakan.”

Alahgkah terkejut Pandan Wangi ketika ia mendengar Sekar Mirah berdesah, “Kita bukan malaikat yang turun dari langit. Bagiku, setiap kematian harus ditebus dengan kematian.”

“Sekar Mirah,” desis Ki Sumangkar, “apakah aku pernah mengajarkan demikian?”

Sekar Mirah berpaling. Ditatapnya wajah gurunya. Namun karena wajah itu menjadi tegang, maka ia pun segera menundukkan kepalanya.

Ki Sumangkar pun mendekatinya sambil berbisik, “Ingatlah. Tongkat itu adalah pertanda bahwa tidak setiap kematian harus ditebus dengan kematian. Jika demikian halnya, maka aku pun telah menjadi bangkai saat sisa-sisa pasukan Jipang menyerah. Ternyata bahwa Angger Untara tidak berusaha menghitung berapakah korban yang jatuh dari orang-orang Pajang dan menuntut jumlah yang sama apalagi berlipat.”

Sekar Mirah tidak menyahut. Kepalanya yang tunduk menjadi semakin tunduk.

Dalam pada itu, Pandan Wangi pun telah melepaskan suaminya yang menjadi semakin tenang. Dipungutnya sepasang pedangnya yang basah oleh darah dan disarungkannya ke dalam wrangkanya.

Swandaru masih berdiri termangu-mangu. Dipandanginya mayat yang terbujur di tanah dengan warna darah. Ketika Pandan Wangi melihat wajah suaminya, di luar sadarnya ia pun mengikuti arah pandangan matanya. Namun tiba-tiba saja ia berpaling sambil memejamkan matanya.

Yang dilihatnya sangat mengerikan baginya. Tubuh yang seolah-olah bagaikan dikuliti oleh luka cambuk Swandaru.

Dalam ketegangan itu, Kiai Gringsing pun kemudian mendekatinya sambil berkata, “Sudahlah, Swandaru. Marilah. Perjalanan kita belum selesai. Saat ini kau adalah seorang mempelai yang sedang diiringi oleh anak-anak muda dan orang-orang tua dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya, dilihatnya ayahnya, gurunya, Ki Waskita, Ki Sumangkar, orang-orang tua dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, serta para pengiring lainnya sedang berdiri termangu-mangu. Bahkan mereka yang sedang menjaga tawanan yang duduk di tanah, memandanginya dengan tanpa berkedip.

“Semua orang memperhatikan aku,” katanya di dalam hati.

“Marilah, Swandaru,” berkata gurunya, “kita akan meneruskan perjalanan kita. Ada beberapa ekor kuda yang dapat dipakai. Yang lain akan berjalan kaki. Sedang sebagian lagi akan mencari pedati untuk membawa kawan-kawan kita yang terluka parah.”

“Bukan saja terluka parah, Guru,” sahut Swandaru, “tetapi tentu ada satu dua yang menjadi korban.”

“Itu memang mungkin sekali. Karena itu, teruskan perjalananmu. Aku akan tinggal di sini, mungkin ada satu dua orang yang memerlukan pertolonganku sebagai seorang dukun.”

Swandaru memandang ayahnya sejenak. Lalu katanya sambil menengadahkan wajahnya, “Ayah. Aku tidak mau menerima penghinaan saat aku berada di pintu gerbang pemerintahan atas Kademangan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Sebelum pada saatnya aku menggantikan kedudukan para pemimpin yang sekarang, aku harus membuktikan, bahwa tidak seorang penjahat pun yang boleh menjamah kedua daerah ini dan keluar hidup-hidup. Seorang penjahat yang memasuki Sangkal Putung atau Tanah Perdikan Menoreh, akan meninggalkan daerah-daerah itu hanya tinggal namanya saja.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Jika sekarang aku membiarkan para tawanan itu hidup, maka itu adalah karena kemurahan hati orang-orang tua yang ada di sini sekarang. Tetapi hal itu tidak akan terulang lagi.”

Agung Sedayu yang berdiri beberapa langkah dari Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia mengurut juntai cambuknya.

“Mereka berdiri pada dua ujung yang bertentangan,” katanya di dalam hati, “Swandaru di ujung ini dan Rudita di ujung yang lain. Sementara itu aku berdiri di tengah-tengah dengan penuh keragu-raguan.”

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun membimbing Swandaru mendekati Pandan Wangi dan Sekar Mirah sambil berkata, “Silahkan,” lalu kepada Ki Demang, “sebaiknya perjalanan ini segera dilanjutkan. Jaraknya tidak terlalu jauh lagi.”

Ki Demang pun kemudian mendekati anak-anaknya dan menantunya sambil mengajak mereka, “Sebaiknya memang kita melanjutkan perjalanan. Kita berterima kasih, bahwa Kiai Gringsing bersedia tinggal untuk merawat mereka yang terluka.”

Swandaru memandang arena itu sekali lagi. Kemudian gumamnya, “Ternyata kekuatan Untara pun tidak mampu mencegah kejahatan yang terjadi di sini. Bukankah daerah ini seharusnya mendapat perlindungan dari Pajang yang di daerah ini kuasa keprajuritannya ada di tangan Untara dan senopati-senopati bawahannya.”

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Kemudian desisnya, “Daerahnya terlampau luas untuk dapat diamatinya setiap saat.”

Swandaru memandang gurunya dengan tegang. Nampaknya ia masih berusaha untuk menahan kata-katanya. Namun desakan perasaannya telah mendesaknya untuk berkata, “Guru. Jika demikian, apakah tidak sebaiknya daerah pengawasan prajurit-prajurit Pajang itu dipersempit saja?”

Kiai Gringsing termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “Persoalannya bukanlah begitu sederhana, Swandaru. Sekarang, biarlah kita tidak membicarakan persoalan-persoalan yang rumit. Jarak yang pendek ini masih harus kita selesaikan sebelum matahari terbenam.”

Swandaru memandang orang-orang yang berdiri di sekitarnya. Gurunya, ayahnya, Ki Sumangkar, Ki Waskita, Pandan Wangi, Sekar Mirah dan kemudian matanya tersangkut pada juntai cambuk di tangan saudara seperguruannya yang berdiri tegak dengan kaki renggang, Agung Sedayu.

Sejenak Swandaru masih termenung. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Aku akan meneruskan perjalanan ini.”

Para pengawal yang datang berkuda, segera menyerahkan kuda mereka untuk dipergunakan oleh Swandaru dan beberapa orang yang akan mengiringinya sampai ke kademangan.

“Pergilah, Ki Waskita,” berkata Kiai Gringsing, “mungkin di perjalanan yang pendek itu masih diperlukan orang-orang tua macam kita.”

Ki Waskita mengangguk. Ketika dipandanginya Ki Sumangkar, Kiai Gringsing pun berdesis, “Biarlah Ki Sumangkar ikut serta pula. Aku akan tinggal dengan beberapa orang anak-anak muda yang akan menyelesaikan para pengiring yang terluka dan yang telah menjadi korban.”

Swandaru tidak membantah lagi. Ia pun kemudian menerima sepasang kuda yang akan dipergunakan dengan Pandan Wangi. Yang lain pun segera mendapatkan kuda pula, terutama orang-orang tua. Sedangkan orang-orang yang mengiringi pengantin itu dari tanah Perdikan masih sempat mempergunakan kuda mereka masing-masing yang terikat pada batang-batang perdu.

Laman: 1 2 3 4 5 6 7

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:27  Comments (89)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-98/trackback/

RSS feed for comments on this post.

89 KomentarTinggalkan komentar

  1. Setelah jalan-jalan setengah hari, saya ingat bahwa hari-2 inilah alm. SHM berada di rumah sakit. Ki Arya Salaka telah mendorong saya untuk sekedar mengenang riwayat singkat Suhu SHM.
    Thanks Ki Gede untuk bingkisannya – walaupun sempat telmi tapi tidak telat nyantap bungkusan ABDM098.

    hehehhe ……

  2. Wah memang ki Gede hebat dan selalu baru dalam menurunkan kitab-kitabnya. Terimakasih ki Gede, kitab 98 sdh saya terima dan siap dipelajari jurus-jurusnya.

  3. trimakasih Ki GD
    untuk semalam sudah topo mbisu..jadi cepat dapat diunduh

  4. Walah..walaaaaah.. bener bener berat dan mumpuni Ilmu Ki Waskita yang ngedap-edapi ini..

    Lah, saya sebenarnya tahu Ki SH Mintardja dirawat di mana, tetapi karena masih belum menekuni ilmunya Ki Waskita, saya browsing ke mana mana termasuk ke rumah sakitnya, lah ternyata kitabnya masih di gedung ini juga…

    Memang harus mengendap dulu ya Ki Gede….
    Para kadang..Sugeng Warso Enggal, mudah mudahan para cantrik tidak menjadi sebingung saya sebelum berhasil membungkus kitab 98 ini..(padahal saya belum selesai membaca kitab 94, tetapi karena penasaran dengan ilmu Ki Waskita, setiap ada unggahan kitab anyar, yang penting diunduh dan dibungkus dulu, baru nanti dibuka sebagai bekal kalau sedang jalan jalan…

  5. mohon ancer2nya… masih belum jelas…..tolongggg…
    udah diliat disourcenya tapi ga keliatan ….

  6. sudah ketemu, baru ngeh … heheee..

  7. duh, adi glagah.putih … tulung dibantu dunk … ini sudah hampir satu hari penuh mesu diri, eh, belum berhasil juga …

  8. @Pak Herman

    Ki Gede mengatakan nama sang Maestro dan dirawat dimana sebelum wafat.

    Harap dicari nama beliau di halaman ini…Jika sudah ketemu nama beliau di halaman ini selanjutnya silahkan mesu diri kembali…

    Mudah mudahan berhasil…

  9. Duh ki Gede lan para kadang….sirahku wis ora kuat. Disimpen nang ndi to kitab 98? Nyuwun tulung…ki Wakita?

  10. @Jo Gelo
    Di setiap halaman Padepokan ini KI GD dan kawan-kawan telah mencantumkan nama Pengarang kitab sakti adbm ini.
    Untuk mendapat kitab sakti yang memuat jurus ke 98, pentang busur mouse Anda kuat-kuat, lantas bidikkan ke nama Pengarang ADBM yang ada di bagian atas kanan.
    Bidikan yang tepat akan membuka halaman baru yang menceritakan riwayat hidup Ki SH Mintardja.
    Silakan langsung menuju bagian di mana sang Maestro Berpulang.
    Pentang sekali lagi kuat-kuat busur mouse Anda dan bidikkan ke tanggal di mana beliau di rawat di RS Bethesda.
    Seperti Agung Sedayu yang berhasil membidik bola yang dilempar oleh Swandaru, maka bidikan terakhir akan membuat Anda mampu mengunduh kitab sakti 98.
    Mudah2 an Ki GD berkenan isyarat beliau telah saya uraikan dengan begitu gamblang.

    GD: Oow, tidak sama sekali. Pada akhirnya isyarat2 itu memang harus diterjemahkan dalam bahasa wantah.

  11. Duh, sokurlah, alhamdulillah, puji tuhan … berkat bantuan kisanak sedoyo, khususnya adi j3b3ng dan adi arya salaka … akhirnya jurus 98 ini dapat jg serba sedikit cantrik pelajari … matur sembah nuwun …

    memang jurus yang sangat ngedap-ngedapi …:)

  12. […] des’08 pesona pw dan as […]

  13. Masih belum sakti nih saya nya

  14. Wah maturnuwun, weees ketemu rontal nomer 98

  15. Matur nuwun Ki Gede

  16. Kisanak, menopo jilid 95 dumugi 100 dereng enten ingkang ngunggah wonten wordpress? suwun…

  17. mas kalau mau beli bukunya dari no 97 s/d 145 berpa harganya dan dimana belinya

  18. KI GD Mohon informasi buku 98 apa sudah di realese, kalau sudah kiranya berkenan saya ikut ngantri, terima kasih sebelumnya

  19. @subiharto,
    sekedar tips dari saya.
    coba perhatikan petunjuk Ki GD di halaman ke 2
    kemudian anda jalan2 ke biografi S.H. Mintardja
    disana kitab menanti

  20. MAtur Nuwun Ki Sunda Sawit, kitab sampun kulo unduh

  21. Pakde, mohon petunjuk mengunduh kitab ini ….maklum cantrik muda yang baru belajar

  22. assalamu alaikum semuanya……

    para sesepuh ADBM…..

    sebelumnya saya minta mf pada ki GD dan pra sesepuh sekalian…

    karena saya telah menyerap ilmu dari ki DG dan para sesepuh secara diam2…

    mulai dari kitab 1- 94 yang saya dapatkan…

    dan mulai kitap 95 saya tambah mesu diri…dalam memahaminya….

    dengan petunjuk yang ki DG n para sesepuh berikan pada cantrik2 yg lain…

    n baru sekarang saya memperkenalkan diri saya…

    sebelumnya sy minta maaf….

    dan terimakasih….^_^

    “butho caqiel”

    • sami-sami

      buto terong


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: