Buku 96

“Kau harus dapat mengendalikan dirimu. Perkawinan adalah suatu peristiwa yang agung dan suci.”

Pandan Wangi hanya dapat menundukkan kepalanya. Dengan sekuat tenaga ia bertahan, agar air matanya tidak meleleh dipipinya.

“Aku mohon doa restu, Ayah,” berkata Pandan Wangi kemudian.

“Tentu, Wangi. Tetapi kau pun harus tetap sadar, bahwa meskipun sebelumnya kau memiliki kemampuan untuk menjaga diri dengan olah kanuragan, tetapi ilmu itu sama sekali jangan sampai menyusup ke dalam hubungan keluargamu. Bagaimana pun juga kau tetap seorang perempuan yang sudah mempunyai kedudukan tersendiri di dalam hubungan keluargamu dengan suamimu seperti kedudukan perempuan-perempuan yang lain.”

Pandan Wangi mengangguk kecil. Dan ia pun berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan tetap menjadi seorang perempuan, meskipun ia memiliki kemampuan dalam olah kanuragan.

Dalam pada itu, maka di rumah yang telah disediakan bagi para pengiring dari Sangkal Putung, Ki Demang sibuk mengemasi barang-barangnya. Demikian juga para pengiring, telah menyiapkan beberapa lembar pakaian yang mereka bawa. Besok mereka tidak perlu lagi sibuk dengan barang-barangnya. Apabila saat mereka berangkat, semuanya sudah siap dan tidak akan ada yang ketinggalan lagi.

Tetapi Agung Sedayu masih sempat berbicara dengan Rudita beberapa saat. Namun yang mereka bicarakan sama sekali tidak ada hubungannya dengan keberangkatan pengantin besok ke Sangkal Putung.

Pembicaraan mereka terganggu ketika tiba-tiba Prastawa datang pula dengan tergesa-gesa, seolah-olah ada sesuatu yang ingin dikatakannya.

“Duduklah,” Agung Sedayu mempersilahkan.

Tetapi Prastawa tidak duduk. Bahkan ia pun mulai berbicara, “Agung Sedayu. Aku sudah minta kepada Paman Argapati, bahwa aku akan berada di antara kelima orang pengiring yang akan pergi ke Sangkal Putung.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Lalu, “Tetapi rasa-rasanya Ki Gede sama sekali tidak menyebut namamu.”

“Aku sudah menghadap. Seorang dari mereka bersedia mengundurkan diri. Dan aku diperkenankan ikut serta.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Katanya, “Bagus. Kau akan ikut serta dalam tamasya yang menyenangkan ini.” Agung Sedayu pun kemudian berpaling kepada Rudita, “Apakah kau juga ingin ikut serta?”

Rudita tertawa. Jawabnya, “Seperti yang sudah aku katakan. Aku mengawani ibu pulang, karena ayah sudah pergi ke Sangkal Putung. Agaknya tugas-tugas semacam ini lebih sesuai dilakukan oleh ayah daripada aku.”

“Maksudmu?” bertanya Prastawa.

“Adalah kegemaran ayah bermain-main dengan senjata dan sudah menjadi kebiasaannya melihat kematian. Tetapi aku tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk melakukannya. Bahkan aku sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk membayangkan, bahwa aku akan melakukannya.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Katanya, “Kau memang seorang yang asing bagi olah kanuragan sejak kanak-kanak.”

Rudita hanya tersenyum mendengar kata-kata Prastawa itu.

“Jadi,” berkata Prastawa kemudian, “aku besok akan pergi bersama kalian ke Sangkal Putung. Aku sudah menyiapkan senjata yang paling baik, jika di perjalanan iring-iringan kita akan mendapat gangguan.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sekilas ia memandang wajah Rudita. Yang nampak bukannya suatu kebanggaan, tetapi wajah itu terbersit perasaan yang pedih.

“Rudita tersinggung sekali jika ada seseorang membicarakan senjata,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi Rudita sendiri tidak mengatakan apa pun juga. Ia sadar, bahwa ia tidak seharusnya mengatakan begitu saja kepada setiap orang jika yang terjadi tidak sesuai dengan kata hatinya. Ia harus mencari kesempatan yang sebaik-baiknya agar peringatan yang diberikan dapat menyentuh perasaan orang lain. Bukan sebaliknya yang akan dapat menimbulkan perasaan yang bertentangan.

Karena itu, Rudita hanya dapat memandang Prastawa dengan cemas, bahwa anak yang masih muda itu akan terseret pula ke dalam arus kerasnya benturan olah kanuragan.

Tetapi ternyata bahwa Prastawa sendiri merasa bangga akan kesempatan yang didapatnya itu. Seolah-olah ia telah benar-benar dianggap sebagai seorang anak muda yang matang. Ia ternyata diperkenankan oleh pamannya untuk ikut di dalam kelompok pasukan pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

“Jadi besok kita akan pergi bersama-sama,” berkata Prastawa kemudian.

Agung Sedayu mengangguk, “Baiklah. Besok kita akan pergi bersama.

Prastawa yang gembira itu pun kemudian meninggalkan Agung Sedayu dan Rudita. Sejenak keduanya masih termangu-mangu. Namun Rudita pun kemudian minta diri untuk kembali ke rumah Ki Gede Menoreh, karena bersama keluarganya ia bermalam di rumah itu.

Demikianlah, maka pada malam itu, kesibukan di rumah Ki Argapati telah berubah. Bukan lagi kesibukan perempuan menyediakan hidangan atau para penari yang sibuk menghias diri, tetapi kesibukan telah beralih pada bilik Pandan Wangi dan suaminya, Swandaru. Beberapa orang telah membantunya mengatur barang-barang yang akan dibawanya besok ke Sangkal Putung.

Namun sejenak kemudian rumah itu pun telah menjadi sepi. Semua orang telah mulai beristirahat. Mereka melepaskan lelah di ruang belakang, di gandok, dan di dapur. Bahkan seorang perempuan separo baya telah tertidur kelelahan di serambi bersandar tiang. Tangannya masih menggenggam pisau karena ia baru saja sibuk membungkus beberapa potong jadah dan jenang alot yang akan dibawa sebagai bekal di perjalanan bagi para pengawal yang akan pergi ke Sangkal Putung besok.

Seorang perempuan yang melihatnya, dengan hati-hati membangunkannya dengan menyentuh pundaknya.

“Jangan tidur di situ,” berkata perempuan yang membangunkannya, “kau nanti masuk angin.”

Perempuan yang tertidur itu pun terbangun. Sambil mengusap matanya ia bertanya, “Apakah aku tertidur?”

“Ya. Marilah. Semuanya sudah pergi beristirahat. Besok kita akan bangun menjelang dini hari menyiapkan makan pagi bagi mereka yang akan berangkat ke Sangkal Putung.”

“Apakah pendapa sudah sepi?”

“Tamu-tamu sudah pulang. Dan mereka yang akan pergi besok pun sudah beristirahat. Kita pun mendapat kesempatan beristirahat meskipun hanya sebentar. Dua tiga orang masih tetap berada di dapur merebus air.”

“Untuk apa lagi?”

“Para peronda di gardu depan, dan mungkin beberapa orang yang masih tetap berjaga-jaga di pringgitan.”

Perempuan yang masih menggenggam pisau itu pun kemudian bangkit berdiri dan pergi tertatih-tatih ke dapur. Rasa-rasanya matanya tidak mau dibuka lagi. Sehingga karena itu, maka ketika ia sampai di dapur, ia pun langsung menjatuhkan dirinya di amben.

“Pisau itu,” minta seorang kawannya.

Tetapi perempuan itu sudah tidak menjawab. Ia tidak mengetahui lagi ketika seseorang memungut pisau itu dari tangannya, karena ia sudah tenggelam lagi ke dalam mimpinya yang kabur.

Ternyata bukan saja perempuan itu yang tidak sempat lagi membuka matanya setelah mereka bekerja beberapa hari, hampir siang dan malam tanpa berhenti. Satu dua di antara mereka hanya sempat tidur sesaat-saat dengan cara yang serupa dengan perempuan yang tertidur itu.

Meskipun demikian, masih ada satu dua orang di dapur yang harus menahan diri untuk mempersiapkan minum dan makan mereka yang bertugas meronda dan berjaga-jaga di gardu di depan regol halaman.

Tetapi ternyata yang berjaga-jaga bukan saja para peronda di regol halaman rumah Ki Gede. Hampir di setiap padukuan yang tersebar beberapa orang pengawal dan anak-anak muda tidak meninggalkan kesiagaan. Mereka berada di dalam gardu-gardu yang terpencar. Namun di antara mereka ada juga yang meronda berkeliling di sekitar padukuhan.

Ternyata bahwa malam itu rasa-rasanya tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Jalan-jalan yang sepi, dan padukuhan yang lengang, tidak menunjukkan gejala yang berbahaya bagi ketenangan Tanah Perdikan Menoreh.

Demikianlah, malam itu terasa menjadi sepi setelah malam-malam yang ramai karena perkawinan Pandan Wangi dengan Swandaru. Beberapa orang yang meskipun berada di rumah masing-masing nampak lelah dan tertidur dengan nyenyaknya, karena mereka pun berturut-turut untuk beberapa malam telah menyaksikan berbagai macam pertunjukan yang meriah.

Menjelang dini hari, rumah Ki Gede telah menjadi sibuk lagi. Beberapa orang perempuan yang sempat tidur untuk beberapa saat telah terbangun dan mulai menanak nasi. Sebelum pengantin berangkat ke Sangkal Putung lewat Mataram, mereka tentu akan dijamu untuk yang terakhir kalinya selama mereka berada di Tanah Perdikan Menoreh.

Rumah Ki Gede itu menjadi semakin ramai ketika beberapa orang mulai terbangun pula. Pandan Wangi telah pula mandi, dan kemudian Swandaru dan mereka yang berada di gandok. Ki Waskita pun telah bersiap pula, sementara orang-orang tua yang akan pergi ke Sangkal Putung bersamanya dan Kerti, telah berada di pendapa pula ketika matahari mulai melontarkan cahaya yang kemerah-merahan.

Tetapi iring-iringan itu tidak akan berangkat pagi-pagi benar. Mereka masih akan makan pagi, minta diri kepada orang-orang tua dan baru kemudian mereka akan dilepas dari rumah Ki Gede Menoreh itu.

Suasana di Tanah Perdikan Menoreh seakan-akan telah berubah dengan tiba-tiba. Sebelum Pandan Wangi meninggalkan rumahnya, rasa-rasanya rumah itu sudah menjadi semakin sepi. Apalagi bagi Ki Gede. Ia sadar, sepeninggal Pandan Wangi rumahnya akan kehilangan kesegaran. Orang-orang yang sibuk di dapur itu pun akan segera pulang, dan sanak kadangnya satu demi satu akan meninggalkan rumah itu, sehingga akhirnya ia akan menjadi sendiri.

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat sekedar mementingkan dirinya sendiri. Adalah menjadi hak Pandan Wangi untuk kawin dan meninggalkannya mengikuti suaminya.

“Tetapi ia akan kembali,” berkata Ki Gede Menoreh di dalam hatinya, “ia akan memerintah Tanah Perdikan ini sebaik-baiknya. Aku akan menjadi semakin tua, dan aku akan meninggalkan jabatanku. Aku sudah terlampau lelah. Sejak aku masih terlalu muda, aku sudah dilibat oleh ketegangan yang seolah-olah tidak ada henti-hentinya. Aku telah diguncang oleh persoalan pribadiku, persoalan Tanah Perdikan Menoreh, adikku yang kehilangan keseimbangan, dan ikut membakar Tanah Perdikan Menoreh, dan bermacam-macam peristiwa yang membuat dada ini menjadi pepat. Jika semuanya telah mapan kelak, mudah-mudahan aku mendapat kesempatan untuk menyepi dan beristirahat sebaik-baiknya. Bahkan mendekatkan diri dengan yang Maha Kuasa di sebuah padepokan kecil yang terpencil, tanpa diganggu oleh siapa pun juga.”

Perasaan Ki Gede menjadi bertambah sepi ketika ia melihat semua persiapan telah selesai. Beberapa orang sedang berbincang di pendapa, sedang beberapa orang yang lain tengah berjalan hilir-mudik di halaman.

“Ki Gede,” berkata Ki Waskita kepada Ki Gede Menoreh kemudian, “agaknya waktunya telah dekat, bahwa sepasang pengantin akan berangkat ke Kademangan Sangkal Putung.”

Ki Gede menganggukkan kepalanya. Dipandanginya beberapa orang yang duduk di pendapa. Kemudian dipandanginya dengan mata yang buram sepasang pengantin yang duduk di antara orang-orang tua.

Namun ketika terpandang olehnya Pandan Wangi tersenyum, hatinya menjadi agak terhibur pula. Katanya di dalam hati, “Mudah-mudahan ia senang berada di Sangkal Putung sampai saatnya mereka akan kembali ke Tanah Perdikan ini untuk memimpin dan membina. Agaknya memang sudah waktunya anak-anak muda itu bangkit untuk memegang pimpinan. Di tangannya Tanah Perdikan ini tentu akan bertambah maju oleh gejolak perjuangan yang dihangati oleh darah mudanya.”

Sejenak kemudian, maka para tamu yang berada di pendapa, orang-orang tua dan para pengiring, telah menghadapi hidangan makan pagi. Sejenak mereka menyempatkan diri untuk makan dan minum, dan sekedar membicarakan tugas yang akan dipikul oleh mereka yang akan mengantarkan sepasang pengantin ke Sangkal Putung.

“Meskipun Ki Demang ada di sini,” berkata seorang tua yang tidak akan pergi ke Sangkal Putung, “tetapi pada suatu upacara yang tentu akan diadakan, wakil Ki Gede akan menyerahkan dengan resmi kepada keluarga Ki Demang di Sangkal Putung, bahwa Pandan Wangi untuk seterusnya akan menjadi momongan Ki Demang sebagai menantu.”

Ki Demang tersenyum. Katanya, “Seseorang akan mewakili aku untuk menerimanya.”

Ki Gede pun tersenyum pula betapapun kesepian sudah menjamah perasaannya.

Demikianlah pada saatnya, maka iring-iringan yang akan mengantar sepasang pengantin ke Sangkal Putung itu pun telah bersiap. Baik para pengawal dari Sangkal Putung, maupun para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh, sementara orang-orang tua mulai mohon diri dan menerima pesan-pesan terakhir.

Swandaru dan Pandan Wangi pun kemudian minta diri pula kepada Ki Gede Menoreh. Meskipun gadis itu mencoba tersenyum, namun nampak bahwa pelapuknya menjadi basah.

Ki Gede masih memberikan pesan-pesan terakhir. Demikian juga orang-orang tua laki-laki dan perempuan yang tidak ikut bersama mereka yang akan berangkat ke Sangkal Putung.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun telah siap. Ada dua orang perempuan di dalam iring-iringan itu. Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Karena perjalanan yang berat, maka Pandan Wangi sama sekali tidak nampak sebagai seorang pengantin perempuan yang sedang diiringi oleh sekelompok orang-orang tua dan para pengawal. Tetapi ia telah mengenakan pakaian seorang pemburu, karena setiap saat, pakaiannya akan dapat mengganggunya apabila terjadi sesuatu di perjalanan. Demikian pula dengan Sekar Mirah. Pakaiannya pun disesuaikan pula dengan perjalanan berkuda yang akan makan waktu yang cukup lama.

Ketika semuanya telah selesai, maka iring-iringan itu mulai bergerak. Titik air di mata Pandan Wangi tidak dapat dibendung lagi. Ketika pipinya nampak menjadi basah, ia pun menundukkan kepalanya dalam dalam.

Ki Gede mencoba tersenyum. Katanya, “Pergilah. Sangkal Putung bukan jarak yang jauh. Aku akan segera menyusul.”

Perlahan-lahan iring-iringan itu pun mulai bergerak. Yang di ujung adalah sekelompok pengawal dari Sangkal Putung yang dipimpin langsung oleh Agung Sedayu. Di belakangnya sekelompok pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh. Anak-anak muda yang dipimpin oleh Prastawa, putera Ki Argajaya. Tidak seperti ayahnya yang merasa kehilangan kesempatan untuk tampil ke depan, maka anak muda ini masih tetap nampak lincah dan gembira.

Baru di belakangnya, sepasang pengantin yang dikawani oleh Sekar Mirah dan beberapa orang tua. Kerti, pemomong yang setia sejak Pandan Wangi masih terlampau muda, berada di dalam kelompok itu pula. Demikian pula Ki Demang yang meskipun menyadari bahwa kemampuannya tidak melampai Swandaru, namun rasa-rasanya kehadirannya di dalam kelompok itu akan dapat memberikan ketenangan pada anaknya.

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar kini berada di kelompok berikutnya bersama Ki Waskita. Nampaknya mereka merasa perlu untuk berada tidak jauh dari sepasang pengantin itu.

Karena itulah maka kelompok orang-orang tua itu seolah-olah tidak terpisah dari kelompok sepasang pengantin serta orang-orang tua yang mengiringinya dari Tanah Perdikan Menoreh beserta Ki Demang Sangkal Putung

Baru di belakang mereka adalah orang-orang tua yang lain dan para pengiring yang masih tetap terpisah dalam kelompok-kelompok kecil, agar mereka tidak terjebak jika orang-orang yang berniat jahat benar-benar ingin merampok iring-iringan itu.

Dengan demikian, maka iring-iringan itu benar-benar menjadi sebuah iring-iringan yang panjang. Selagi mereka masih ada di jalan-jalan di tlatah Tanah Perdikan Menoreh, maka kelompok-kelompok itu tidak terpisah jauh. Bahkan seolah-olah iring-iringan itu adalah iring-iringan yang utuh, karena mereka merasa bahwa pengawasan di sepanjang jalan cukup ketat oleh petugas-petugas sandi yang berada di sawah-sawah dan di gardu-gardu.

Ternyata bahwa perjalanan mereka di sepanjang jalan di Tanah Perdikan Menoreh tidak mengalami gangguan apa pun juga. Jalan nampaknya lapang dan tenang. Apalagi ketika mereka melihat orang-orang yang berada di sawah dan di gubug-gubug. Rasa-rasanya mereka berjalan di dalam daerah yang diberi pagar dinding yang tinggi.

Ketika iring-iringan itu mendekati Kali Praga, maka kesiagaan pun mulai ditingkatkan. Dengan hati-hati, iring-iringan itu memilih beberapa perahu getek yang akan mereka pergunakan untuk menyeberang.

Mula-mula para tukang satanglah yang justru menjadi curiga bahwa sebuah iring-iringan berkuda ingin menyeberangi Kali Praga. Namun ketika mereka melihat seorang tua yang menyerahkan sebutir telur kepada Pandan Wangi dan melemparkannya ke dalam sungai, maka tukang-tukang satang itu pun mengetahui, bahwa yang lewat adalah sepasang pengantin dengan para pengiringnya.

“Tentu sepasang pengantin yang kaya,” desis salah seorang tukang satang.

“Dari mana kau tahu. Aku tidak melihat pakaian yang bagus dan perhiasan yang mahal mereka pakai.”

“Tentu perhiasan yang mahal itu disembunyikan di dalam kampil,” sahut kawannya. “Tentu mereka tidak akan mau mengalami kesulitan di perjalanan jika mereka dengan sengaja memamerkan perhiasan mereka. Betapa pun jalan sudah tenang, namun kadang-kadang perhiasan yang gemerlapan akan dapat merangsang para penjahat yang semula telah ingin meletakkan senjata mereka.”

Kawannya mengangguk-angguk, dan tukang satang itu pun melanjutkan, “Jika ia bukannya sepasang pengantin yang kaya, tentu seorang pemimpin, karena ternyata pengiringnya seolah-olah sepasukan prajurit segelar sepapan.”

“Mereka tentu kawan-kawan pengantin itu. Lihatlah, mereka adalah anak-anak muda yang kira-kira sebaya dengan sepasang pengantin itu.”

“Yang manakah menurut dugaamnu sepasang pengantinnya?”

“Tentu yang melemparkan telur itu.”

Pembicaraan itu terputus ketika seorang mendekatinya sambil berkata, “Apakah kalian tidak mendengar kabar, bahwa Tanah Perdikan Menoreh baru saja mengadakan perelatan perkawinan?”

“O,” tukang satang itu bagaikan teringat sesuatu, “ya. Tentu sepasang pengantin dari Tanah Perdikan itu.”

Demikianlah maka iring-iringan itu pun akhirnya telah naik ke atas perahu-perahu getek. Beberapa getek terpaksa menyeberang dua kali karena jumlahnya yang tidak mencukupi untuk menyeberangkan tiga puluh lima orang beserta kudanya dalam kesibukan lalu lintas, sehingga beberapa orang lain yang harus menyeberang terpaksa menunggu beberapa saat.

Di sebelah sungai mereka pun segera mengatur diri pula dan meneruskan perjalanan ke Mataram.

Ternyata Mataram pun telah siap menerima mereka. Mereka sudah tahu pasti, kapan iring-iringan itu akan datang dari Tanah Perdikan Menoreh. Meskipun Mataram tidak sedang mengadakan perelatan, namun karena pengantin itu singgah untuk satu malam, maka rasa-rasanya di Mataram itu pun sedang berlangsung suatu perelatan pula

Namun dalam pada itu, di luar kota Mataram yang sedang tumbuh, dua orang berkuda yang dengan tidak menimbulkan kecurigaan mengikuti iring-iringan itu dari Tanah Perdikan Menoreh, sedang berhenti di pinggir sebuah pategalan yang sepi. Sambil menggerutu salah seorang berkata, “Kita menjadi makanan nyamuk di sini. Gila! Iring-iringan itu mendapat kehormatan di Mataram, sementara kita kedinginan di sini. Saat ini, mereka tentu sedang dijamu makan dan minum.”

“Aku juga lapar,” berkata yang seorang, “marilah, kita tinggalkan kuda kita di sini, kita mencari tempat yang baik untuk membeli makan dan minum.”

“Berbahaya,” sahut kawannya, “jika kuda kami hilang, maka kita akan gagal. Kau tahu akibatnya jika kita benar-benar gagal. Apalagi jika Gandu Demung benar-benar tertangkap, dan kita kehilangan jejak, maka kita tentu akan digantung oleh Empu Pinang Aring atau pemimpin-pemimpin yang lain.”

“Jadi kita akan tetap menahan lapar?”

“Bukankah di pelana kudamu masih tersimpan beberapa potong jadah yang kau beli di Tanah Perdikan Menoreh?”

Kawannya menelan ludahnya. Katanya, “Kau ternyata telah membuat aku menderita karena kau membayangkan bahwa orang-orang yang berada di Mataram itu kini sedang menikmati hidangan yang nikmat.”

Kawannya tidak menyahut. Namun ia pun kemudian justru membaringkan dirinya di atas rerumputan kering.

Dalam pada itu di Mataram, Agung Sedayu tetap berada di antara anak-anak muda pengiring pengantin. Rasa-rasanya memang ada sesuatu yang kurang wajar pada Swandaru. Di sepanjang jalan yang menyusuri Tanah Perdikan Menoreh, ia melihat sikap saudara seperguruannya itu seolah-olah ia sudah menjadi Kepala Tanah Perdikan.

“Gila,” tiba-tiba Agung Sedayu menggeram di dalam hati, “tentu tidak. Pikiran ini adalah pikiran iblis yang menggelitikku karena akulah sebenarnya yang dengki dan iri hati.”

Namun dalam pada itu, di dalam bilik-bilik yang khusus disediakan oleh para pemimpin Mataram bagi sepasang pengantin itu, Swandaru duduk di bibir pembaringan di sisi Pandan Wangi. Nampak sesuatu sedang menarik perhatian Swandaru untuk dibicarakannya dengan Pandan Wangi.

“Ayah belum pernah membicarakannya, Kakang,” desis Pandan Wangi perlahan-lahan.

Swandaru mengangguk-angguk. Lalu, “Tetapi Ki Gede tidak akan dapat tinggal diam. Mataram tentu akan berkembang. Aku adalah salah seorang pendukung yang nyata dari berdirinya Mataram sejak Raden Sutawijaya mulai menebangi hutan sehingga kini sudah nampak menjadi sangat padat. Penebangan berjalan terus sampai saat ini untuk perluasan kota dan daerah Mataram, meskipun Raden Sutawijaya tidak ada di tempat. Dengan demikian maka harus ada batas yang jelas antara Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.”

“Mungkin batas yang jelas itu memang perlu Kakang. Tetapi sampai saat ini ayah masih menunggu. Di sekitar Mataram masih ada beberapa kademangan dan tanah perdikan yang langsung berhadapan. Mangir di sebelah Selatan, Cupu Watu di sebelah Timur dan mungkin juga daerah sebelah Utara dan yang lain-lain. Perkembangan Mataram sampai saat ini masih belum jelas. Hubungannya dengan Pajang pun belum jelas pula. Bahkan seolah-olah terputus, meskipun Kanjeng Sultan Pajang telah mengangkat Raden Sutawijaya menjadi Senapati Ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram yang dibukanya. Namun Mataram belum menemukan bentuk tata pemerintahan yang jelas. Berbeda dengan Pati yang diserahkan kepada Ki Penjawi.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia ber-tanya, “Dari mana kau mengetahuinya?”

“Ayah sering mengatakannya kepadaku.”

Swandaru mengangguk-angguk. Lalu, “Itu adalah pertanda bahwa Ki Gede sudah mulai membicarakannya. Kau tahu bahwa aku akan berada di kedua sisi dari Tanah Mataram ini. Meskipun di bagian Timur akan tidak langsung beradu batas, tetapi jalan antara Pajang dan Mataram melintas di daerah Sangkal Putung. Sikap dan tingkah laku Untara pun harus mendapat banyak perhatianku. Karena anak muda itu sering merasa dirinya lebih berkuasa dari Kanjeng Sultan di Pajang.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Sebelumnya ia belum pernah mendapat kesempatan berbicara cukup banyak dengan Swandaru justru karena kesibukan perelatan. Di Mataram mereka tidak mempunyai kewajiban yang mengikat, sehingga mereka sempat berbicara berkepanjangan. Namun Pandan Wangi sendiri kurang dapat melihat dengan jelas arah pembicaraan itu. Karena itu, maka Pandan Wangi pun tidak terlalu banyak menanggapinya, selain sekedar mendengarkan dan mengangguk-angguk. Namun ia merasa bahwa ternyata Swandaru bukannya seorang yang acuh tidak acuh terhadap keadaan sekitarnya. Bahkan ia adalah seorang anak muda yang berpikir dengan sungguh-sungguh mengenai keadaan lingkungan dan masa depannya.

Pandan Wangi masih mengangguk-angguk ketika Swandaru membicarakan hubungan yang harus jelas antara daerah di sekitar Mataram dan di sepanjang jalan antara Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh tanpa prasangka apa pun juga.

Di rumah yang lain, Prastawa dengan gembira bercakap-cakap dengan kawan-kawannya. Ia memang merasa bahwa ia mendapat kepercayaan penuh dari Ki Gede Menoreh untuk mengawasi para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh agar mereka dapat menyesuaikan dirinya dengan para pengawal dari Sangkal Putung.

“Udara ternyata panas sekali di sini,” desis Prastawa tiba-tiba, “aku akan berjalan-jalan sebentar di halaman. Jangan tinggalkan bilik ini. Aku akan berada di pintu gerbang. Aku tahu, selain para pengawal dari Mataram, para pengawal dari Sangkal Putung pun ada di antaranya.”

Prastawa pun kemudian meninggalkan kawan-kawannya. Dengan ragu-ragu ia berjalan ke regol halaman. Masih ada beberapa orang anak muda dari Sangkal Putung yang sedang berbincang dengan para pengawal dari Mataram.

Ternyata bahwa semalam di Mataram itu rasa-rasanya terlalu lama bagi mereka yang sedang mengiringi pengantin itu. Terutama sepasang pengantin itu sendiri. Langit yang gelap dan bintang yang berhamburan, terasa seolah-olah telah menghentikan waktu sama sekali. Diam.

Namun dalam pada itu, di longkangan di depan gandok rumah Raden Sutawijaya, di depan bilik yang disediakan buat Ki Demang dan orang-orang tua, serta satu lagi buat Sekar Mirah, Prastawa duduk dengan gelisah. Ketika ia melihat Sekar Mirah menjengukkan kepalanya, ia pun dengan serta-merta mendekatinya sambil tertawa, “Kau belum tidur, Mirah.”

“Aku mendengar derit seseorang duduk di amben itu,” berkata Sekar Mirah.

“Bilikku terasa panas sekali, sehingga aku tidak dapat segera tidur.”

“Tetapi kenapa kau sampai ke longkangan ini? Apakah kau akan bertemu dengan ayah di bilik sebelah?”

“O, tidak. Tidak, Sekar Mirah. Aku sendiri tidak tahu, kenapa aku sampai ke tempat ini.”

Sekar Mirah tertawa. Tetapi ia masih tetap berdiri di pintu.

“Apakah kau tidak merasa bahwa udara terlampau panas di dalam bilikmu?”

“Tidak. Udara di sini terasa sejuk sekali.” Sekar Mirah berhenti sejenak lalu, “Jika kau ingin bertemu dengan ayah atau mungkin orang-orang tua yang lain, ketuklah pintunya. Mereka tentu belum juga tidur.”

“Tidak. Aku tidak memerlukan mereka. Tetapi….” kata-katanya terputus oleh keragu-raguan.

Sekar Mirah tertawa. Namun katanya, “Tidurlah, Prastawa. Hari sudah menjadi semakin malam. Besok kita akan menempuh perjalanan meskipun tidak terlalu jauh.”

Prastawa masih termangu-mangu. Namun ia terkejut ketika ternyata pintu di sebelahnya pun telah terbuka pula.

Ketika Prastawa berpaling, dilihatnya Ki Demang Sangkal Putung telah berdiri di ambang pintu. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, “Apakah ada yang penting, Anakmas?”

“O,” Pratawa tergagap, “tidak. Tidak, Ki Demang.”

“Jadi?”

“Tidak apa-apa, Ki Demang. Aku hanya sekedar melepaskan diri dari udara yang panas di dalam bilikku.”

“Tetapi bukankah Anakmas berada di rumah sebelah? Maksudku tidak di rumah ini dan disertai para pengawal?”

“Ya, ya, Ki Demang,” Prastawa kebingungan. “Baiklah aku kembali saja kepada mereka.”

Ki Demang tidak bertanya lagi. Namun Sekar Mirah yang melihat kegelisahan anak yang masih sangat muda itu tertawa sambil berkata, “Tidurlah, Anak Muda, besok kita akan bangun pagi-pagi benar.”

Prastawa pun meninggalkan serambi gandok itu. Ketika ia berada di halaman, ia berpapasan dengan dua orang pengawal. Tetapi kedua pengawal itu telah mengenalnya sebagai salah seorang pengawal pengantin. Karena itu keduanya justru menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Prastawa sempat melihat senyum itu di bawah cahaya obor di pendapa. Betapapun hambarnya, Prastawa itu pun tersenyum pula sambil mengangguk.

Dengan gelisah Prastawa kembali kepada kawan-kawannya. Seorang pengawal mendekatinya sambil mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu pengawal itu bertanya, “Kau lama sekali pergi, Prastawa?”

“Aku hanya di luar.”

“Tidak. Aku melihat kau keluar halaman ini.”

“Dari mana kau tahu? Kau tentu tidak mematuhi pesanku.”

“Aku patuh. Tetapi aku hanya keluar sejenak untuk melihatmu yang nampak gelisah. Ternyata kau pergi ke luar halaman dan hilang dari pandangan mataku.”

“Aku berjalan-jalan.”

“Sampai larut?”

“Sekarang masih sore. Lihat, masih banyak orang berada di pendapa.”

“Mereka sudah kembali ke pondokan masing-masing.”

Prastawa menjadi ragu-ragu. Rasa-rasanya ia hanya sebentar berada di serambi gandok.

“Tetapi agaknya aku berjalan lambat sekali di sepanjang halaman di depan regol itu. Atau barangkali aku telah berhenti di bawah pohon nyamplung itu? Atau aku tidak ingat lagi apa yang sudah aku lakukan?” Prastawa menjadi termangu-mangu.

“Kau nampak bingung,” desis kawannya.

“Tidak. Aku sama sekali tidak bingung. Tetapi aku merasa panas sekali. Entahlah. Jika kau tidak merasakan panasnya udara, mungkin aku memang sedang kurang sehat.”

Kawannya memandang Prastawa yang gelisah. Lalu katanya, “Mungkin kau memang tidak sehat. Keringatmu mengalir terlampau banyak, dan bibirmu nampak gemetar.”

“Apakah memang begitu?” bertanya Prastawa yang menjadi semakin gelisah.

“Beristirahatlah. Mungkin kau terlalu lelah setelah menempuh perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh sampai ke Mataram.”

“O, jarak yang terlalu pendek,” jawab Prastawa.

Kawannya tidak menyahut lagi. Ketika ia bergeser maka Prastawa pun segera melangkah ke bilik yang disediakan baginya dan kawan-kawannya. Tanpa mengatakan apa pun juga, Prastawa pun segera membaringkan dirinya di atas sehelai tikar yang dibentangkan di atas sebuah amben yang besar.

Kawan-kawannya melihatnya dengan heran. Juga kawannya yang bertemu di luar bilik itu. Tetapi mereka tidak bertanya apa pun juga.

Prastawa mencoba untuk menyembunyikan kegelisahannya. Tetapi setiap kali terdengar ia mengeluh. Dan bahkan kegelisahannya telah menganggu kawan-kawannya pula yang sebenarnya telah mulai diganggu oleh perasaan kantuk.

Namun lambat laun kawan-kawannya dapat melepaskan perhatiannya terhadap Prastawa yang mencoba berdiam diri di pembaringannya. Ia pun sadar, bahwa tidak sepantasnya ia mengganggu kawan-kawannya yang mungkin merasa lelah dan kantuk.

Malam itu, seperti saat mereka berangkat, para pengawal benar-benar sempat beristirahat. Justru setelah beberapa malaam mereka kurang tidur dan kurang beristirahat karena perelatan yang meriah.

Namun demikian, di pondokan yang disediakan bagi Kiai Gringsing bersama-sama dengan Ki Sumangkar dan Ki Waskita, orang-orang tua itu masih juga duduk sambil berbincang meskipun perlahan-lahan, karena yang lain pun nampaknya telah tidur dengan nyenyaknya. Yang masih tetap berjaga-jaga adalah para pengawal dari Mataram dan satu dua orang di setiap pondok yang dipergunakan oleh para pengawal dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh.

Seperti saat mereka berangkat, maka di perjalanan pulang itu pun tidak terdapat gangguan apa pun semalaman. Mereka bangun dini hari dengan kesegaran baru.

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita pun masih sempat pula tidur barang sekejap. Namun seperti yang lain, mereka pun bangun menjelang dini hari dan segera pergi ke pakiwan untuk sesuci diri.

Ketika matahari mulai memanjat langit, maka iring-iringan itu pun telah siap pula untuk berangkat meninggalkan Mataram. Namun atas permintaan Ki Lurah Branjangan, mereka pun masih sempat singgah di pendapa untuk makan bersama. Tetapi karena jumlah para pengawal itu terlalu banyak, maka hanya orang-orang tua sajalah yang sempat naik ke pendapa, sedangkan orang lain dipersilahkan duduk di gandok sebelah-menyebelah.

“Kami telah membuat Ki Lurah dan sanak-sanak di Mataram menjadi sibuk,” berkata Ki Demang.

“Ah, kami senang sekali menerima kehadiran kalian. Tempat yang disinggahi sepasang pengantin biasanya akan menjadi baik.”

Ki Demang tertawa. Mereka yang mendengarnya pun tertawa pula. Sambil berkelakar Swandaru pun menyahut, “Memang agaknya kami membawa pengaruh baik, Ki Lurah.”

Ki Lurah Branjangan tertawa berkepanjangan. Ia sudah mengenal Swandaru sebelumnya. Dan anak ini memang sedang bergurau. Bahkan saat-saat ia sedang menjadi pusat segenap perhatian, ia pun sempat pula berkelakar.

“Ki Demang,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kami sudah berhasil menghubungi Raden Sutawijaya. Sayang, bahwa Raden Sutawijaya masih belum dapat menampakkan diri di antara kita semuanya. Karena itu, maka aku akan menyampaikan permohonan maafnya, bahwa Raden Sutawijaya yang sedang melakukan perjalanan mesu rasa, tidak dapat hadir di Sangkal Putung. Demikian pula dengan Ki Juru Martani.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Jawabnya, “Apa yang dilakukan oleh Raden Sutawijaya sekarang tentu lebih penting dari sekedar hadir di Sangkal Putulag. Jauh lebih penting, Ki Lurah. Kami pun dapai mengerti, sehingga karena itu, maka kami pun tidak merasa kecewa karena Raden Sutawijaya tidak dapat hadir. Tetapi aku percaya bahwa doa dan restunya telah diberikannya kepada anak kami berdua.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk pula. Katanya, “Besok akulah yang akan menyusul. Bukankah upacara ngunduh pengantin akan diadakan besok malam?”

“Ya, ya, Ki Lurah,” jawab Ki Demang. “Sebelumnya kami mengucapkan diperbanyak terima kasih. Mudah-mudahan Angger Untara yang kami undang itu pun dapat hadir pula meskipun kami tidak mengundang pemimpin-pemimpin atau Senapati Pajang yang lain.”

“O, bagus sekali,” Ki Lurah mengangguk-angguk, “aku juga sudah rindu dengan senapati muda itu.”

“Kami mengharap sekali kedatangan para tamu dari Mataram dan restunya.”

Ki Lurah memandang Swandaru sejenak. Namun ia melihat ada perubahan di wajah anak muda itu. Tertawa dan senyumnya tidak nampak lagi di wajahnya.

“Anak itu kecewa bahwa Raden Sutawijaya tidak dapat hadir,” berkata Ki Lurah di dalam hatinya.

Dalam pada itu, setelah para pengiring dari Sangkal Putung dan Mataram itu selesai makan, maka mereka pun segera berkemas. Mereka masih berbicara serba sedikit untuk mengisi sekedar waktu setelah makan kenyang-kenyang. Apalagi mereka memang tidak terlampau jauh.

Selebihnya, setelah mereka melintas dari Sangkal Putung sampai ke Tanah Perdikan Menoreh dan kembali sampai ke Tanah Mataram tanpa kesulitan apa pun, maka mereka telah diganggu oleh perasaan, bahwa memang tidak akan ada gangguan apa pun juga di perjalanan. Apalagi mereka telah menjadi semakin dekat dengan kampung halaman.

Yang masih harus mereka perhatikan adalah jalan yang melintasi Alas Mentaok di ujung yang masih belum ditebang, dan kemudian Alas Tambak Baya. Bagian-bagian dari hutan itu masih lebat dan pepat. Namun jalur jalan yang melintas, nampaknya sudah menjadi semakin ramai dilalui orang. Orang-orang yang mencari kayu pun tidak lagi takut memasuki daerah di pinggir jalan yang dengan sengaja memang dibuka untuk mengurangi kepepatan bagian dari hutan itu.

“Jika kedua bagian dari hutan itu sudah lampau,” berkata salah seorang pengiring dari Sangkal Putung, “maka kami menjadi pasti, bahwa perjalanan kami tidak akan terganggu sama sekali. Swandaru dan isterinya akan pulang dengan selamat sampai ke pangkuan ibunya yang tentu menunggu dengan gelisah.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Ia pun sama sekali tidak mempunyai pertimbangan bahwa bencana dapat terjadi di mana-mana. Bahkan di ujung Kademangan Sangkal Putung sendiri.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Demang, sepasang pengantin, dan para pengiringnya telah bersiap-siap. Mereka pun segera minta diri dan turun ke halaman.

“Pada suatu saat, aku akan kembali,” bisik Kiai Gringsing. “Aku ingin mendengar ceritera tentang Senapati Ing Ngalaga yang sedang lelana di daerah Selatan. Tetapi sebaiknya Ki Lurah memberikan gambaran tentang pusaka-pusaka itu. Agaknya arahnya sudah dapat kami ikuti jejaknya meskipun belum pasti. Lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu akan menjadi daerah yang penting bagi mereka yang telah menyimpan kedua pusaka itu.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku akan datang besok ke Sangkal Putung.”

Tetapi Kiai Gringsing menggeleng, “Tentu tidak ada kesempatan untuk membicarakannya. Setelah perkawinan selesai, dan semuanya sudah baik, aku akan datang.”

Ki Lurah mengangguk-angguk. Ketika ia menebarkan pandangannya di halaman, beberapa orang sedang menuntun kuda dari kandang dan menyerahkan kepada pemiliknya masing-masing. Bukan saja dari kandang di belakang rumah Raden Sutawijaya itu, tetapi sebagian terpaksa dititipkan pada tetangga-tetangga terdekat.

Namun dalam pada itu, rumah Raden Sutawijaya itu memang sudah berkembang. Sebuah lapangan yang luas sudah mulai dipelihara rapi di depan gerbang halaman rumah itu. Dinding batu yang agak tinggi dan bertambah luas mengelilingi halaman dan kebun belakang.

Sambil menunggu kudanya Swandaru sempat menilai keadaan di sekelilingnya. Dalam penglihatannya, Mataram memang sedang tumbuh dengan pesatnya meskipun Raden Sutawijaya sedang tidak berada di tempatnya.

“Sebentar lagi, rumah ini akan disebut Istana Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram,” desis Swandaru di dalam hatinya. “Dan Senapati Ing Ngalaga akan dengan pilihannya sendiri menentukan daerah yang manakah yang langsung menjadi wilayah kekuasaan Mataram. Mungkin dengan persetujuan Pajang, tetapi mungkin tidak sama sekali. Bahkan mungkin pada suatu saat Pajang pun akan dimasukkan ke dalam daerah kekuasaannya.”

Angan-angan Swandaru terputus ketika beberapa orang pengiringnya mulai menerima kuda masing-masing. Beberapa orang masih harus memilih, karena mereka yang mengambil kuda-kuda itu dari rumah sebelah-menyebelah, kadang-kadang tidak dapat mengenal kuda-kuda itu.

Sejenak kemudian mereka pun telah siap dengan kuda masing-masing. Yang menarik perhatian adalah Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Seperti saat mereka datang ke Mataram, mereka sama sekali tidak segera dapat dikenal di antara para penunggang kuda. Apalagi Pandan Wangi sebagai pengantin perempuan.

Keduanya terpaksa menyesuaikan diri dengan perjalanan yang mereka lakukan. Pandan Wangi pun mengenakan pakaian yang pantas untuk melakukan perjalanan dengan berkuda.

“Sepantasnya pengantin perempuan naik tandu,” desis seseorang yang belum mengenal Pandan Wangi.

“Perjalanan dengan tandu akan memerlukan waktu yang panjang sekali,” sahut yang lain.

“Tetapi lihat. Apakah sepantasnya bahwa seorang perempuan, dalam perjalanan pengantin lagi, mengenakan pakaian seperti itu?”

“Tidak apa-apa. Pakaian yang nampak tidak banyak mempengaruhi keadaan.”

Kawannya tertawa. Tetapi ia tetap menganggap aneh, bahwa pengantin perempuan sama sekali tidak nampak sebagai seorang pengantin, kecuali jika dipandang dengan saksama pada bagian atas dahinya yang masih nampak bekas-bekas rias pengantin di Tanah Perdikan Menoreh, karena beberapa helai rambut di atas dahi itu telah dipotong.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun telah siap. Sepasang pengantin, Sekar Mirah, Ki Demang, dan orang-orang tua dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh serta para pengiring telah bersiap dengan kuda masing-masing. Mereka telah menyangkutkan bekal yang mereka bawa di pelana kudanya, dan siap untuk meloncat naik.

Sekali lagi Ki Demang minta diri dan mengucapkan terima kasih. Dan sekali lagi ia mengulangi undangannya kepada para pemimpin Mataram, agar besok datang ke Sangkal Putung dalam upacara ngunduh pengantin.

“Kami mohon maaf, bahwa pengantin perempuan kali ini sama sekali dalam pakaian yang kurang pantas,” berkata Ki Demang, “tetapi hal itu sekedar bermaksud untuk pengamanannya di perjalanan.”

Ki Lurah Branjangan tertawa. Jawabnya, “Jika aku belum mengenal Angger Pandan Wangi, tentu aku akan berpikir demikian. Juga Angger Sekar Mirah. Tetapi karena aku sudah mengenal sebelumnya, maka aku sama sekali tidak heran melihat keduanya dalam pakaian yang agak lain dari pakaian seorang pengantin perempuan dan pengiringnya. Bahkan lebih mirip dengan pakaian seorang pemburu. Itu pun masih jarang sekali terdapat pemburu-pemburu seperti Angger Patadan Wangi dan Sekar Mirah.”

Ki Demang tersenyum. Pandan Wangi dan Sekar Mirah yang mendengar pembicaraan itu pun tersenyum pula sambil menunduk dalam-dalam.

Sementara itu, semuanya pun kemudian telah bersiap untuk berangkat. Beberapa orang yang masih sempat mendekati Ki Lurah Branjangan dan beberapa orang pemimpin yang lain mengangguk sambil minta diri, sedangkan mereka yang berjajar di pinggir jalan mencoba pula untuk mengangguk meskipun mereka ragu-ragu, apakah Ki Lurah Branjangan dan para pemimpin di Mataram itu sedang memandanginya.

Sejenak kemudian iring-iringan itu pun mulai bergerak. Seperti ketika mereka mendekati Mataram, maka di paling depan adalah para pengawal dari Sangkal Putung, kemudian para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh. Baru di belakang mereka adalah sepasang pengantin dengan orang-orang tua. Sekar Mirah dan Ki Demang Sangkal Putung berkuda di belakang Swandaru dan Pandan Wangi. Sementara Kerti yang tua itu berada di depannya.

Di paling depan dari para pengawal Sangkal Putung adalah Agung Sedayu. Meskipun ia berkuda sambil menatap jalur jalan di hadapannya, tetapi rasa-rasanya ia tidak melihat sesuatu di hadapan kaki kudanya. Tatapan angan-angannya menerawang ke tempat yang sangat jauh, yang bahkan Agung Sedayu sendiri merasa ragu-ragu untuk dapat menjangkaunya.

Tetapi, pada suata saat Agung Sedayu rasa-rasanya seperti tersadar dari mimpi. Ketika jalan menjadi semakin sepi, dan padukuhan-padukuhan kecil menjadi semakin jarang, maka ia pun mencoba memusatkan perhatiannya kepada perjalanan yang sedang ditempuhnya.

“Sebentar lagi, iring-iringan ini akan memasuki bagian Alas Mentaok yang masih belum terbuka seperti daerah Mataram lainnya yang sudah menjadi ramai. Apalagi kami akan memasuki daerah Tambak Baya yang masih merupakan hutan yahg pepat, meskipun biasanya jalan itu sudah tidak lagi banyak mendapat gangguan. Tetapi iring-iringan ini adalah iring-iringan yang khusus,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Bahkan kemudian, “Tidaklah sekelompak penjahat pun yang akan mampu mengumpulkan sejumlah orang sebanyak iring-iringan ini. Karena itu, seandainya ada juga sekelompok perampok yang melihat iring-iringan ini, mereka tentu akan mengurungkan niatnya, seandainya mereka sudah merencanakan.”

Karena itulah, maka hampir di luar sadarnya, angan-angannya mulai menerawang lagi. Hanya sekali-sekali ia, mengibaskan kepalanya, seakan-akan mencoba mengusir angan-angannya yang menyusup jauh ke dunia yang lain.

Tetapi para pengawal di dalam kelompok terdepan yang dipimpin langsung oleh Agung Sedayu itu bersikap lain. Mereka tidak setenang Agung Sedayu menghadapi ujung Alas Mentaok dan Alas Tambak Baya. Karena itu justru mereka tetap berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi.

Ketika mereka sudah berada di antara pepohonan yang besar, tetapi yang sudah disusupi oleh jalur jalan yang baik dan rata yang menghubungkan Mataram dengan kademangan-kademangan di sebelah Alas Tambak Baya, dan yang bahkan telah menjadi semakin ramai.

Beberapa orang yang bertemu dengan iring-iringan itu nampak menjadi cemas. Tetapi karena orang-orang yang berada di dalam kelompok-kelompok yang sedang beriring-iringan itu sama sekali tidak menunjukkan kesan yang mencurigakan, maka mereka pun menjadi bertanya-tanya tentang iring-iringan itu.

(***)

Kutipan dan penyiaran lesan/tertulis harus seijin penulis.

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Kiai Gaza
Proof: Ki Gede Menoreh
Date: 02-05-2009

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:23  Comments (63)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-96/trackback/

RSS feed for comments on this post.

63 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur Nuwun Ki GD, jenang penganten sampun dicaplok – empuk tenan – kulo bade tanduk.

  2. terima kasih ke GD suguhanipun kagem sarapan ..

  3. Matur nuwun ki GD

  4. nuwun sewu ki GD
    opo sing versi text wis gak metu yo
    tak enten enteni kok yo gak njebul….
    karuan nek ancene wis gak metu
    yo wis aku gak ngenteni maneh

  5. kok sejek buku no 95 isi tidak lengkap,kenapa ya

  6. Nuwun sewu poro kadhang cantrik, khushushon Mas Semprul, kulo badhe nyuwun wejangan wonten pundhi panggenanipun ngubdhuh kitab 96 lan sak lajengipun. Matur suwun.

  7. ki gede kapan kitab 97 bakal diturunkan, wis ngebet kepengin mangerteni kepriye ketemune rombongan pengantin klawan begal di jalanan alas mentaok.

    salut banget kepada ki gede SH Mintarjo bisa mengharu biru pembaca dengan mengetengahkan perubahan sifat swandaru yang menjadi tokoh utama bersama agung sedayu, mungkinkah swandaru ditinggal dalam cerita berikutnya atau mulainya permasalahan dari perugahan sifat swandaru

  8. aku baru mau ikut gambung niki…

    saya baru baca buku dapet halaman 62 rasanya pengen baca trus sampai habis…

    mohon koleksi lanjutanya para sedulur kabeh

    S Monggo Ki Samber Nyowo..

  9. MAtur nuwun……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: