Buku 96

“Tetapi jika ia gagal dan tertangkap?”

“Tentu tidak. Ia membawa enam puluh orang. Aku ulangi, enam puluh orang. Kau sadari, berapa besarnya pasukannya kali ini?”

“Gandu Demung memang tidak bekerja separo jalan. Agaknya ia akan berhasil.”

“Dan kita, di hari berikutnya akan mencari satu dua butir permata yang rontok ketika perkelahian terjadi.”

Kawannya tertawa. Jawabnya, “Itu sudah cukup.”

Yang lain pun tertawa pula. Mereka membayangkan, bagaimana diri mereka masing-masing terbungkuk-bungkuk di antara titik-titik darah yang membeku mencari perhiasan yang terjatuh ketika perkelahian yang dahsyat terjadi di ujung Kademangan Sangkal Putung.

Namun yang seorang tiba-tiba saja berkata, “Tetapi tugas kita akan menjadi berat dan menegangkan jika kita kemudian mengetahui bahwa ternyata pasukan yang terdiri dari enam puluh orang itu gagal, dan Gandu Demung dapat ditangkap oleh orang-orang Sangkal Putung.”

Wajah kawannya pun tiba-tiba berkerut. Katanya, “Tidak. Hanya jika ada keajaiban yang terjadi, maka orang-orang Sangkal Putung itu akan selamat.”

Kawannya berpaling. Dengan wajah yang bersungguh-sungguh ia berkata, “Aku belum mengenal seorang demi seorang, siapa sajakah yang menjadi pengiring pengantin dari Sangkal Putung itu. Namun nampaknya cukup meyakinkan.”

Yang lain mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi enam puluh orang adalah jumlah yang terlalu besar. Sedang dari orang-orang Tanah Perdikan Menoreh yang melihat iring-iringan itu datang, kita mendengar jumlahnya benar-benar tidak lebih dari dua puluh lima orang.”

“Ya. Betapa pun juga kuatnya yang dua puluh lima orang itu,” desis kawannya.

Demikianlah di pendapa acara yang sudah ditentukan berlangsung terus dengan lancar. Sama sekali tidak ada gangguan yang berarti.

Seorang demi seorang peran dari lakon yang berlangsung di pendapa naik dan kemudian turun disusul oleh perari-penari yang lain. Bahkan kadang-kadang beberapa orang berdiri bersama-sama di pendapa dalam adegan-adegan yang mengalir dari awal menjelang akhir.

Para penonton kadang-kadang hanyut dalam arus ceritera yang menawan. Meskipun ceritera itu sudah beberapa kali mereka lihat, namun kadang-kadang mereka masih juga disentuh rasa haru di saat-saat Candrakirana terusir dari istana dan mengembara di hutan-hutan. Dan kebencian pun tidak dapat lagi disembunyikan, sehingga beberapa orang menggeram ketika mereka mendengar Sarah menfitnah puteri yang jelita itu.

Seorang yang tidak tahan lagi hatinya, mencoba menghibur dirinya dengan berceritera kepada diri sendiri, “Tetapi nanti semuanya akan menemukan kebahagiaannya. Puteri yang seolah-olah terbuang itu, akan menemukan suaminya dan mereka akan hidup berbahagia. Tentu ceritera itu akan berakhir seperti itu, karena aku pernah melihat tontonan semacam ini sebelumnya.”

Ketika ceritera itu sudah berlangsung beberapa lama, barulah Swandaru dan Pandan Wangi dipersilahkan meninggalkan tempatnya untuk melepaskan lelah dan berganti pakaian.

Acara pada malam perkawinan itu ternyata berlangsung sebagaimana direncanakan. Tidak ada persoalan yang dapat mengganggu. Semuanya berjalan lancar. Menjelang pagi, maka pertunjukan itu baru selesai.

Seperti bendungan yang dibuka, maka orang-orang yang memenuhi halaman itu pun kemudian larut lewat gerbang. Mereka meninggalkan halaman dengan hati yang puas. Bukan saja karena pertunjukan yang menarik, tetapi juga karena sepasang pengantin itu nampaknya akan dapat mempengaruhi keadaan seterusnya. Tanah Perdikan Menoreh telah mempunyai seorang yang mantap untuk pada saatnya menerima kekuasaan dari Ki Gede Menoreh.

Ternyata bahwa bukan hanya pada hari yang pertama sajalah acara-acara hari perkawinan itu dapat berlangsung seperti yang direncanakan. Di hari-hari berikutnya pun acara-acaranya dapat berlangsung berurutan tanpa ada yang terlampau.

Dengan demikian maka seolah-olah kegembiraan di Tanah Perdikan Menoreh itu pun dapat berlangsung sempurna. Setiap anak muda rasa-rasanya menemukan suguhan menurut selera masing-masing. Baik mengenai jenis-jenis makanan yang bermacam-macam, maupun jenis pertunjukan yang berlangsung beberapa malam di pendapa rumah Ki Gede Menoreh dan bahkan juga di tempat-tempat lain.

Namun dalam pada itu, rasa-rasanya Agung Sedayu menjadi semakin gelisah. Di hari-hari terakhir, ia benar-benar dipengaruhi oleh sikap dan sifat Swandaru. Namun Agung Sedayu masih mencoba mencari sebab dari perubahan itu. Bahkan di dalam hatinya ia berkata, “Mungkin setelah hari-hari perkawinan ini lewat, ia akan menemukan dirinya kembali.”

Karena kemudian Swandaru berada di ruang dalam di rumah Ki Gede Menoreh, dan hampir-hampir tidak pernah turun ke halaman, maka Agung Sedayu pun kemudian mengisi waktunya dengan Rudita. Meskipun pada keduanya terdapat perbedaan sikap dan pandangan hidup, namun ada beberapa sentuhan yang dapat membuat mereka banyak berbicara tentang diri mereka masing-masing, tentang orang-orang di sekitarnya dan tentang kehidupan yang luas.

Tetapi nampaknya masing-masing telah menjaga diri untuk tidak mempercakapkan Swandaru yang sedang berada di hari-hari yang paling menarik di sepanjang hidupnya.

Yang kemudian juga kehilangan kawan adalah Sekar Mirah. Pandan Wangi nampaknya terkurung juga di ruang dalam bersama suaminya dan orang-orang tua, sehingga tidak sempat lagi berbincang, bermain dan kadang-kadang berjalan-jalan di halaman di belakang.

Apalagi jika Agung Sedayu dan para pengiring dari Sangkal Putung tidak sedang berada di pendapa, karena mereka berada di rumah yang disediakan bagi mereka, maka Sekar Mirah benar-benar merasa kesepian. Meskipun satu dua orang-orang perempuan Tanah Perdikan Menoreh termasuk gadis-gadisnya sudah dikenalnya, tetapi ternyata mereka terlampau sibuk dengan kerja masing-masing.

Ketika Sekar Mirah sedang digelisahkan oleh kejemuannya, dan berada seorang diri di halaman belakang, di antara batang suruh di dekat pakiwan, seorang anak muda datang dan mendekatinya dengan ragu-ragu.

Sekar Mirah mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum pula sambil menyapanya, “Prastawa. Apakah kau akan mengambil air di sumur?”

Prastawa yang ragu-ragu itu termangu-mangu. Ia pun tersenyum pula sambil menjawab, “Tidak, Sekar Mirah. Aku hanya ingin bertanya, kenapa kau berada di sini.”

Sekar Mirah tertawa. Katanya, “Maksudmu, kenapa aku berada di Tanah Perdikan Menoreh?”

“Bukan. Aku tahu, bahwa yang sedang dirayakan perkawinannya itu adalah kakakmu. Tetapi kenapa kau sendiri berada di halaman belakang ini?”

“Kenapa?”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Hampir di luar sadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah sejenak. Rasa-rasanya tidak jemu-jemunya ia memandanginya, jika saja ia tidak merasa malu ketika ia menyadari bahwa Sekar Mirah pun memandanginya pula sambil tersenyum.

Prastawa yang masih sangat muda itu menundukkan kepalanya. Ketika Sekar Mirah kemudian mendekatinya, rasa-rasanya ia menjadi berdebar-debar.

“Prastawa,” bertanya Sekar Mirah, “apakah salahnya jika aku berada di sini? Aku senang sekali melihat batang sirih yang tumbuh subur merambat pada batang-batang kelor ini.”

Prastawa tergagap. Namun katanya kemudian, “Tetapi, tetapi sebaiknya kau tidak berada di sini.”

“Ya, kenapa?”

Prastawa berpaling memandang rumpun bambu di sudut halaman belakang itu. Katanya, “Di sudut, di bawah rumpun bambu, pernah terjadi pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak dikenal. Mereka melemparkan paser beracun.”

“O,” Sekar Mirah mengerutkan keningnya, “kenapa mereka membunuh?”

“Aku tidak tahu. Pandan Wangi mengetahui serba sedikit. Tetapi persoalan seluruhnya memang tidak begitu jelas baginya. Bahkan Pandan Wangi pun telah dilempar pula dengan paser beracun. Untunglah ia sempat menghindar.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Sebagai seorang gadis yang memiliki kemampuan untuk membela diri ia tidak menjadi takut. Tetapi ia menjadi heran, bahwa hal itu telah terjadi di halaman. Ia pernah juga mendengar bahwa hal itu telah terjadi peristiwa yang mengejutkan di Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi hal itu sudah hampir dilupakannya. Dan kini ia telah mengenangkannya kembali.

“Masuklah ke longkangan,” desak Prastawa kemudian.

Sekar Mirah memandang Prastawa sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum, “Baiklah. Tetapi aku akan mengambil beberapa lembar daun sirih yang masih muda. Nampaknya segar sekali.”

Prastawa termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Baiklah, aku akan mengambil beberapa lembar buatmu.”

Sekar Mirah termangu-mangu. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih. Kau sangat baik.”

Dada Prastawa menjadi kian berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian melangkah ke tengah-tengah tanaman sirih yang tumbuh subur di dekat sumur di halaman belakang.

Sejenak kemudian, Prastawa pun sibuk mengambil daun-daun sirih muda yang menjulur rendah, sehingga ia tidak perlu memanjat. Hanya kadang-kadang ia berdiri beralaskan batu-batu yang agak besar di pinggir sumur itu.

Sekar Mirah memandang anak yang masih sangat muda itu. Anak muda yang lincah dan cekatan. Namun bagi Sekar Mirah, Prastawa akan dapat menjadi seorang adik yang baik, apalagi ia tahu, bahwa ia memang adik sepupu Pandan Wangi.

“Tidak usah terlalu banyak,” berkata Sekar Mirah kemu-dian, “terima kasih. Itu bagiku sudah terlampau banyak. Aku tidak banyak makan sirih.”

“Tetapi mungkin perempuan-perempuan tua di ruang dalam,” jawab Prastawa.

Sekar Mirah mengangguk. Jawabnya, “Baiklah. Aku akan membawanya kepada mereka. Tetapi itu sudah terlalu banyak.”

Prastawa pun kemudian berhenti memetik daun sirih. Rasa-rasanya ia berbangga hati dapat menyerahkan daun sirih itu kepada Sekar Mirah.

“Jangan terlalu lama di sini,” berkata Prastawa kemudian, “masuklah. Meskipun sudah lama tidak terjadi sesuatu lagi di Tanah ini, tetapi siapa tahu, bahwa mereka sebenarnya hanya sekedar menunggu saat-saat kita lengah.”

“Baiklah,” jawab Sekar Mirah.

Sambil membawa daun sirih itu, Sekar Mirah pun kemudian masuk ke longkangan, langsung menuju ke ruang dalam. Tetapi ia tidak lagi masuk ke dalam bilik Pandan Wangi, karena bilik itu kemudian menjadi bilik pengantin.

Namun, ketika Sekar Mirah melintas di ruang dalam, ia berpaling oleh sebuah suara yang memanggil namanya. Dilihatnya Pandan Wangi berdiri termangu-mangu di sudut ruangan.

“O,” dengan serta-merta Sekar Mirah mendekatinya sambil tertawa, “kau nampak pucat.”

“Ah, kau,” desis Pandan Wangi sambil menjulurkan tangannya.

Sekar Mirah bergeser surut. Sambil tertawa ia berkata, “Jangan. Jangan kau cubit aku. Jika kulitku terkelupas, maka kecantikanku akan berkurang.”

Pandan Wangi pun kemudian tertawa pula.

“Apakah kau tidak sempat tidur?” bertanya Sekar Mirah. “Seharusnya kau tidak usah ikut sibuk lagi. Biarlah orang-orang lain menemui tamu dan mengatur ruangan.”

“Tetapi tamu-tamu itu adalah kawan-kawanku bermain. Mereka datang tidak bersama-sama, tetapi berurutan. Sebaiknya kau ikut memenemuinya. Kemana saja kau sehari ini, seolah-olah hilang di rumah ini.”

“Aku tidak mau mengganggumu. Aku kadang-kadang berada di dapur. Tetapi kadang-kadang mencari daun sirih seperti sekarang ini.”

Pandan Wangi memandang daun sirih itu sambil termangu-mangu. Lalu, “Jangan terlalu sering pergi ke kebun itu.”

“Ya. Aku sudah mendengar. Ketika aku memetik daun sirih, Prastawa menyusulku dan mengatakannya bahwa sebaiknya aku masuk ke longkangan.”

“Ia benar. Dan kau pun harus mengikuti petunjuknya.” Pandan Wangi berhenti sejenak lalu, “Marilah. Kawani aku.”

“Ah. Tidak mau. Bukankah kau sudah mempunyai kawan?”

“Tidak. Aku sendiri jika aku tidak sedang menemui kawan-kawanku yang kadang-kadang langsung saja masuk ke ruang dalam. Marilah, kau pun seharusnya di ruang dalam bagian depan. Di belakang pintu pringgitan terbentang tikar bagi kawan-kawanku yang kadang-kadang sangat nakal.”

“Aku juga sering melihat pula dan mendengar mereka bergurau mengganggumu. Tetapi tidak pantas aku berada di antara mereka bersamamu, karena yang mereka kunjungi adalah kau dan suamimu itu.”

“Ah. Kau memang nakal sekali. Aku memang ingin mencubit kulitmu sampai terkelupas. Tetapi marilah. Kawani aku. Aku terlalu sering sendiri karena Kakang Swandaru kadang-kadang berbincang saja dengan ayah dan orang-orang tua di pringgitan.”

“Ah, kau pura-pura saja. Aku tentu lebih senang berada di dapur.”

Pandan Wangi memandang Sekar Mirah dengan tajamnya. Apalagi ketika ia melihat Sekar Mirah tersenyum-senyum sambil surut selangkah.

“Kawani aku. Meskipun barangkali tidak terus-menerus. Sekarang aku pun sendiri. Kakang Swandaru sedang duduk di pringgitan.”

“Baiklah. Nanti aku akan mengawanimu menerima kawan-kawanmu. Tetapi sekarang, kau mau apa?” bertanya Sekah Mirah.

“Mandi. Aku akan mandi.”

“Mandilah. Aku akan membawa daun sirih ini.”

Pandan Wangi pun kemudian melangkah ke pintu butulan dan langsung ke pakiwan, sedang Sekar Mirah pergi ke tempat orang-orang tua sedang sibuk di ruang dalam bagian belakang.

Dan hari-hari yang gembira di atas Tanah Perdikan Menoreh itu, bagi Ki Gede terasa berlalu terlampau cepat. Di malam terakhir upacara pengantin pada hari kelima, terasa bahwa kesepian telah mulai mencengkam.

Malam itu adalah malam sepasaran. Besok pagi-pagi sepasang pengantin akan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh ke Sangkal Putung.

Sekar Mirah yang di hari-hari terakhir juga merasa kesepian di Tanah Perdikan Menoreh, mengharap hari berjalan lebih cepat, agar ia segera dapat ikut bersama iring-iringan pengantin itu kembali ke Sangkal Putung. Bahkan, rasa-rasanya ia sudah terlalu lama terpisah dari ibunya, sehingga perasaan rindunya telah mulai mengganggunya.

Malam itu, Ki Gede Menoreh telah mempersiapkan segala-galanya. Di pendapa, orang-orang tua sibuk membicarakan segala sesuatu tentang keberangkatan pengantin besok.

“Maaf, Ki Demang,” berkata Ki Argapati, “aku tidak dapat ikut mengantarkan anakku. Baru beberapa hari kemudian aku akan menyusul.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa memang tidak biasa, bahwa orang tua pengantin perempuan pergi bersama iring-iringan pengantin ke rumah keluarga pengantin laki-laki.

“Tetapi aku sudah datang,” berkata Ki Demang, “apa salahnya jika Ki Gede juga datang di Sangkal Putung, tetapi tidak langsung menuju ke kademangan.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Aku mohon maaf, Ki Demang. Mungkin lebih baik jika aku menyusul kemudian. Mungkin aku masih harus mengemasi Tanah Perdikan ini untuk satu dua hari.”

Ki Demang pun tersenyum pula. Jawabnya, “Aku mengerti. Dan aku menunggu kedatangan Ki Gede. Mungkin kedatangan Ki Gede akan berpengaruh bagi ketenangan Pandan Wangi.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Terasa sesuatu berdesir di hatinya. Rasa-rasanya ia segan melepaskan anaknya pergi meninggalkan rumahnya, karena dengan demikian rumahnya akan menjadi semakin sepi dan kering. Namun, bahwa hal itu harus terjadi, ternyata tidak akan dapat diingkarinya. Pada suatu saat, anaknya tentu akan meninggalkannya dan mengikuti suaminya, meskipun ia masih dapat mengharapkan bahwa suami anaknya itu akan tetap berada di Tanah Perdikan Menoreh, karena menantunya itulah yang kelak diharapkan akan menjadi penggantinya, melanjutkan pelayanan terhadap rakyat Tanah Perdikan Menoreh.

Namun dalam pada itu, Ki Gede tidak melepaskan anaknya begitu saja pergi ke Sangkal Putung. Ia telah menunjuk beberapa orang tua yang akan mengikuti Pandan Wangi sampai ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Ki Waskita kami minta untuk pergi bersama Ki Demang, mewakili aku,” berkata Ki Gede.

Ki Demang memang sudah menduga bahwa Ki Waskita akan ikut serta bersama dengan iring-iringan pengantin itu. Bukan saja karena Ki Waskita mempunyai hubungan yang khusus, tetapi ia pun akan dapat ikut serta menjaga keselamatan Pandan Wangi di perjalanan.

Selain Ki Waskita akan ikut pula Kerti, seorang yang meskipun sudah tua, tetapi ia mempunyai hubungan tersendiri pula dengan Pandan Wangi. Ia adalah pemomong yang seolah-olah tidak terpisahkan pada saat Pandan Wangi masih kanak-kanak sampai saat ia dewasa. Bahkan saat-saat Pandan Wangi sering berburu di hutan-hutan perburuan, Kerti masih ikut bersamanya. Ketika Tanah Perdikan Menoreh dibakar oleh pertentangan antara keluarga, Kerti pun selalu berada di dekat Pandan Wangi.

Hanya di saat-saat terakhir, ketika terasa tenaganya semakin lemah, dan anak-anaknya sendiri telah meninggalkan ibunya karena mereka sudah berumah tangga sendiri, Kerti terpaksa tinggal di rumahnya sendiri meskipun setiap kali ia masih mengunjungi Pandan Wangi dan sebaliknya. Selain hubungannya yang khusus, maka di masa mudanya Kerti adalah seorang yang memiliki kemampuan yang cukup dalam olah kanuragan. Meskipun ia sudah termasuk seorang yang tua, tetapi ia masih akan sanggup menunggang kuda sampai ke Sangkal Putung. Bahkan seandainya ada sesuatu yang terjadi, ia masih sanggup mempergunakan senjata.

Selain Ki Waskita dan Kerti, masih ada dua orang tua lagi yang akan pergi bersamanya mengantarkan Pandan Wangi. Sehingga jumlah mereka yang ikut serta dalam iring-iringan itu dari Tanah Perdikan Menoreh berjumlah lima orang termasuk Pandan Wangi, ditambah dengan lima orang anak-anak muda pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang kelak akan mengawani orang-orang tua yang kembali dari Sangkal Putung.

“Kita akan berjumlah sepuluh orang,” berkata Ki Waskita.

“Dengan demikian jumlah iring-iringan ini akan menjadi semakin besar,” desis Ki Sumangkar.

“Tiga puluh lima orang. Suatu iring-iringan yang lengkap sepasukan kecil yang menuju ke medan perang,” desis Swandaru sambil tertawa.

Yang lain pun tertawa pula. Bahkan Agung Sedayu masih sempat bertanya kepada Rudita, “Apakah kau akan ikut?”

Rudita berpaling. Jawabnya sambil tersenyum pula, “Tidak Agung Sedayu. Aku tidak akan pergi. Aku akan cepat menjadi pening berada di antara sekelompok orang-orang bersenjata.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab. Ia mengerti kenapa Rudita lebih senang tinggal di Tanah Perdikan Menoreh daripada ikut dalam iring-iringan yang semuanya telah menyiapkan senjata yang setiap saat dapat dipergunakan.

Apalagi karena Ki Waskita telah ikut pula dalam iring-iringan yang panjang itu, sehingga Rudita itu pun kemudian berkata pula, “Sebaiknya aku mengawani ibu pulang.”

Agung Sedayu tersenyum. Bahkan ia pun kemudian berdesis, “Bukankah kau akan tinggal di sini sampai Ki Waskita dan orang-orang tua kembali dari Sangkal Putung?”

Rudita mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Terserah kepada ibu.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Ia pun kemudian mencoba mendengarkan pembicaraan orang-orang tua di pendapa itu.

Ketika terpandang olehnya seorang tua yang duduk membeku di belakang Ki Gede Menoreh, dada Agung Sedayu berdesir. Ia adalah orang kedua di Tanah Perdikan Menoreh setelah Ki Argapati. Tetapi karena ia pernah melakukan kesalahan, maka ia seolah-olah merasa dirinya tidak berharga lagi meskipun kakaknya, Ki Argapati telah berusaha melupakannya. Di dalam pertemuan-pertemuan orang-orang tua ia jarang sekali hadir. Ia lebih suka bekerja di belakang, menyiapkan keperluan-keperluan yang mendesak dan memimpin pelayanan terhadap para tamu di longkangan yang terlindung daripada berada di antara para tamu.

Namun malam ini ia ikut duduk di pendapa. Ikut bersama-sama dengan orang-orang tua yang lain berbincang-bincang tentang pengantin yang pada pagi harinya akan berangkat ke Sangkal Putung.

Tetapi Ki Argajaya masih tetap seperti patung. Ia duduk saja tanpa menyatakan pendapatnya sama sekali. Hanya kadang-kadang saja ia tersenyum dan bahkan tertawa. Tetapi ia sendiri tidak mengucapkan kata-kata apa pun juga di dalam setiap persoalan.

“Perasaan bersalah itu telah melemparkannya ke dalam keasingan di kampung halamannya sendiri,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya. Namun dalam pada itu, sekilas ia melihat anak Ki Argajaya itu pada suatu saat asyik berbicara dengan Sekar Mirah,

Tetapi Agung Sedayu tidak menghiraukannya. Ia pun kemudian dicengkam oleh pembicaraan yang menarik dari orang-orang tua di pendapa itu tentang keberangkatan Swandaru dan Pandan Wangi ke Sangkal Putung.

“Kita tidak boleh lengah,” berkata Ki Gede. “Memang selama ini tidak lagi terjadi sesuatu setelah hal yang mengejutkan di halaman belakang itu menggoncangkan ketenangan kami. Namun yang sebenarnya terjadi di padukuhan di dekat perbatasan, jauh lebih penting, karena ternyata Tanah Perdikan ini telah dijamah oleh segerombolan orang-orang yang tentu mempunyai jalur yang jauh, karena mereka menyatakan sesuatu yang sama dengan yang pernah dialami oleh orang-orang tua di Sangkal Putung. Ketika Kiai Gringsing menempuh perjalanan dari Jati Anom ke Sangkal Putung, maka di perjalanan dijumpainya orang-orang yang mempergunakan istilah yang sama dengan mereka yang terbunuh oleh Ki Waskita.”

“Ki Waskita mengetahuinya pula,” berkata Kiai Gringsing.

“Ya. Karena itulah, maka dapat diperhitungkan, bahwa jaringan itu meluas dari Jati Anom, Sangkal Putung, sampai ke tlatah Tanah Perdikan ini.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Dipandanginya wajah Ki Demang yang menjadi tegang. Tetapi Ki Demang itu pun segera berhasil menguasai dirinya. Bahkan kemudian katanya, “Itulah sebabnya, kita berada dalam iring-iringan yang barangkali terlalu panjang bagi sepasang pengantin dalam keadaan yang lain dari keadaan sekarang ini.”

“Segelar sepapan,” desis Swandaru sambil tersenyum.

Sekali lagi mereka yang mendengarnya tertawa. Namun Agung Sedayu melihat sekilas sorot yang lain memancar dari mata Swandaru. Rasa-rasanya iring-iringan itu telah memberikan suatu kebanggaan padanya, seolah-olah bahwa perkawinannya adalah suatu peristiwa yang sangat penting sehingga memerlukan pengawalan yang sangat kuat, dan bahkan meskipun Agung Sedayu tidak tahu tepat, rasa-rasanya Swandaru merasa berbangga juga karena para pemimpin di Mataram telah menaruh perhatian yang khusus atas perkawinannya meskipun mereka baru akan datang nanti dalam perelatan di Sangkal Putung, sedangkan di Tanah Perdikan Menoreh mereka hanya mengirimkan dua orang utusan sebagai tamu Ki Gede.

Demikianlah maka ternyata Ki Gede Menoreh pun memberikan pesan seperti yang pernah diberikan oleh Ki Demang di Sangkal Putung. Para pengiring dan sepasang pengantin itu sama sekali tidak dibenarkan untuk memakai barang-barang perhiasan di sepanjang jalan. Mereka harus menyimpannya dan berusaha menghindari setiap kemungkinan yang dapat menarik perhatian.

“Aku sependapat dengan cara yang ditempuh oleh iring-iringan ini pada saat kalian datang. Dan agaknya cara itu pula yang akan kalian pergunakan di saat kalian kembali.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Tetapi ia memandang Ki Demang Sangkal Putung, seolah-olah mempersilahkannya untuk menjawab, karena Ki Demang adalah orang yang paling berkepentingan.

Ki Demang mengangguk kecil. Ia pun rasa-rasanya mengerti arti pandangan mata Kiai Gringsing. Maka jawabnya, “Ya, Ki Gede. Kami akan mempergunakan cara itu. Meskipun kami mengharap bahwa tidak akan terjadi sesuatu di perjalanan.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Katanya, “Tidak ada salahnya kita berhati-hati.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi bukankah iring-iringan ini masih akan singgah di Mataram seperti saat kalian datang kemari dari Sangkal Putung.”

“Ya. Dengan demikian perjalanan kami tidak didesak oleh waktu. Kami besok tidak perlu berangkat terlampau pagi, karena agaknya masih diperlukan persiapan, minta diri kepada orang-orang tua dan keperluan-keperluan yang lain sebelum berangkat. Juga di hari berikutnya kami tidak pula dikejar oleh matahari yang segera akan terbenam.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Katanya, “Pada saatnya aku pun akan menghadap di Mataram untuk menyampaikan terima kasih atas kemurahan ini.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya ketika ia melihat Swandaru mengangkat wajahnya dan berkata, “Mataram tidak dapat berbuat lain.”

“Kenapa?” bertanya Ki Gede.

“Mataram ingin tetap bersahabat dengan dua daerah di sebelah-menyebelah. Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh. Apalagi dalam pertumbuhannya sekarang ini.”

Ki Gede mengangguk-anggukan kepala. Ia tidak memikirkan latar belakang yang lebih dalam dari ucapan Swandaru itu, karena Ki Gede menyangka bahwa kata-kata itu terlontar begitu saja sebelum dipikirkan masak-masak.

Tetapi Kiai Gringsing dan Agung Sedayu menangkap kata-kata itu agak lain. Rasa-rasanya memang terbersit suatu pendapat di hati Swandaru yang bukannya sekedar suatu kebetulan, bahwa Mataram memang memerlukan Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh, sehingga Mataram harus berbuat sebaik-baiknya bukan atas dasar kebaikan hati, tetapi justru karena Mataram memerlukan.

Namun Kiai Gringsing dan Agung Sedayu tidak menunjukkan perasaannya meskipun barangkali nampak terbersit pula sesaat.

Ketika Kiai Gringsing memandang wajah Ki Sumangkar, wajah itu pun berkerut sesaat. Ki Sumangkar adalah seseorang yang telah cukup masak mengikuti cara berpikir orang-orang yang berada di tangan pemerintahan ketika ia berada di Jipang. Agaknya ia pun dapat menangkap sepercik kelainan pada kata-kata Swandaru.

Yang nampak lebih berkesan adalah justru Ki Waskita. Tetapi ia pun kemudian berpaling, seolah-olah ia tidak mendengar kata-kata Swandaru itu.

Demikianlah pembicaraan malam itu pun masih berkelanjutan. Namun kemudian Ki Demang pun minta diri untuk mempersiapkan keberangkatannya besok bersama dengan sepasang pengantin yang akan diterima dengan upacara yang meriah pula di Sangkal Putung.

“Silahkan, Ki Demang,” berkata Ki Gede kemudian, “kedua pengantin itu pun harus beristirahat pula.”

Dengan demikian pertemuan itu pun segera diakhiri. Semua persoalan agaknya telah selesai dan matang dibicarakan. Bahkan sampai persoalan yang sekecil-kecilnya telah ikut dibicarakan pula.

Tetapi sepeninggal orang-orang tua di pendapa, maka Ki Gede tidak segera pergi ke biliknya. Ia masih berkesempatan memanggil Pandan Wangi seorang diri. Sebagai orang tua, maka ia pun memberikan beberapa pesan yang penting bagi bekal hidupnya.

Pandan Wangi mendengarkan pesan ayahnya sebaik baiknya. Apalagi ayahnya berbicara kepadanya dengan sikap dan cara yang dewasa. Dengan hati-hati Ki Gede mengatakan betapa hidupnya sendiri pernah mengalami kepahitan saat-saat ia mulai menginjakkan kakinya di jenjang perkawinan karena persoalan yang menyangkut orang ketiga. Namun lambat-laun, meskipun hambar, ia dapat berusaha memperbaiki keadaannya. Tetapi itu pun tidak berlangsung lama, ketika ibu Pandan Wangi kemudian meninggal.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:23  Comments (63)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-96/trackback/

RSS feed for comments on this post.

63 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur Nuwun Ki GD, jenang penganten sampun dicaplok – empuk tenan – kulo bade tanduk.

  2. terima kasih ke GD suguhanipun kagem sarapan ..

  3. Matur nuwun ki GD

  4. nuwun sewu ki GD
    opo sing versi text wis gak metu yo
    tak enten enteni kok yo gak njebul….
    karuan nek ancene wis gak metu
    yo wis aku gak ngenteni maneh

  5. kok sejek buku no 95 isi tidak lengkap,kenapa ya

  6. Nuwun sewu poro kadhang cantrik, khushushon Mas Semprul, kulo badhe nyuwun wejangan wonten pundhi panggenanipun ngubdhuh kitab 96 lan sak lajengipun. Matur suwun.

  7. ki gede kapan kitab 97 bakal diturunkan, wis ngebet kepengin mangerteni kepriye ketemune rombongan pengantin klawan begal di jalanan alas mentaok.

    salut banget kepada ki gede SH Mintarjo bisa mengharu biru pembaca dengan mengetengahkan perubahan sifat swandaru yang menjadi tokoh utama bersama agung sedayu, mungkinkah swandaru ditinggal dalam cerita berikutnya atau mulainya permasalahan dari perugahan sifat swandaru

  8. aku baru mau ikut gambung niki…

    saya baru baca buku dapet halaman 62 rasanya pengen baca trus sampai habis…

    mohon koleksi lanjutanya para sedulur kabeh

    S Monggo Ki Samber Nyowo..

  9. MAtur nuwun……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: