Buku 96

Karena itulah, maka Ki Waskita tidak terlepas dari kesiagaan. Meskipun Tanah Perdikan nampaknya tenang dan damai, namun setiap saat dapat terjadi ledakan.

“Ledakan apa?” pertanyaan itu tiba-tiba melonjak di dalam hati Ki Waskita. “Ledakan wadag atau ledakan batin. Jika yang terjadi adalah kesulitan wadag, maka persoalannya tidak akan begitu sulit untuk diatasi meskipun bekasnya tentu akan nampak pada Swandaru karena warna-warna buram pada isyarat itu. Tetapi jika ledakan jiwani, persoalannya akan menjadi terlalu sulit.”

Namun Ki Waskita tidak ingin merusak ketenangan dan kemeriahan perelatan itu. Jika ia muncul di antara orang-orang tua yang ada di pendapa, maka wajahnya pun nampak cerah dan gembira. Bahkan kepada isteri dan anak laki-lakinya, Ki Waskita tidak mengatakannya.

Tetapi Ki Waskita terkejut, ketika upacara di malam midadareni itu lampau, Rudita mendekatinya sambil berbisik, “Ayah. Apakah aku masih dipengaruhi oleh perasaan kanak-kanakku itu terhadap Pandan Wangi?”

Ki Waskita menahan nafasnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa kau bertanya begitu, Rudita?”

Rudita menarik nafas. Tetapi sikapnya kini benar-benar telah menunjukkan sikap seorang anak muda yang dewasa.

“Ayah,” berkata Rudita, “aku pernah merasakan sesuatu yang asing di dalam diriku terhadap gadis itu. Agaknya itulah yang disebut sentuhan perasaan cinta. Tetapi aku merasa bahwa aku telah berhasil melepaskan diri dengan dasar pertimbangan nalar. Dan inilah yang meragukan. Apakah perasaanku itu dapat aku sembunyikan di balik pertimbangan nalar, ataukah hanya sekedar tersamar oleh sikap pura-pura.”

Ki Waskita memandang wajah anaknya sejenak. Tetapi pada wajah itu sama sekali tidak nampak kedalaman perasaan. Seolah-olah Rudita benar-benar berbicara atas pertimbangan nalar.

“Ayah,” berkata Rudita, “tetapi masih ada kemungkinan lain. Jika aku benar-benar telah berhasil membebaskan diri dari perasaan cinta itu, meskipun dengan pertimbangan nalar, aku tentu kini dicengkam oleh perasaan cemas. Bahkan ketakutan.”

“Kenapa, Rudita? Apakah sebenarnya yang kau rasakan?”

“Aku tidak tahu pasti, Ayah. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu yang kurang cerah di hari-hari mendatang.”

Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah anaknya itu dengan tajamnya. Hampir saja terucapkan lewat mulutnya, bahwa yang ditangkap oleh perasaannya itu benar. Untunglah, Ki Waskita berhasil menahan diri, sehingga yang terucapkan hanyalah di dalam hatinya, “Agaknya Rudita pun mendapatkan kurnia tentang penglihatan itu. Jika kurnia ini benar-benat menurun kepada anakku, aku mengucapkan syukur kepada kasih-Nya yang tiada taranya. Namun hendaknya anakku dapat mempergunakannya sebaik-sebaiknya tanpa menimbulkan akibat yang buruk.”

Namun yang kemudian dikatakannya kepada anaknya itu ada-lah, “Rudita, mungkin kau masih dipengaruhi oleh perasaanmu itu. Tetapi sebaiknya kau pun dapat mempergunakan nalarmu dengan terang, agar kau dapat menguasai perasaanmu dan tidak menimbulkan akibat apa pun juga pada dirimu sendiri dan pada kegembiraan ini.”

Rudita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan mencoba, Ayah. Dan aku tentu akan berusaha untuk ikut bergembira. Mungkin aku memang masih dipengaruhi oleh perasaan itu. Tetapi mudah-mudahan aku benar-benar akan dapat menghapuskannya.”

Ki Waskita menepuk bahu anaknya. Katanya kemudian, “Bergembiralah bersama orang orang dari Tanah Perdikan Menoreh. Di pintu gerbang halaman anak-anak muda bukan saja berjaga-jaga, tetapi juga berkelakar. Di banjar ada beberapa kelompok anak-anak muda yang sedang berlatih untuk memeriahkan perkawinan Swandaru besok. Sedang di rumah sebelah, Swandaru tentu sudah mengenakan pakaian khusus untuk malam ini dan dikerumuni oleh orang-orang tua yang berjaga-jaga semalam suntuk. Sedang di ruang dalam rumah ini agaknya sesaji telah dibagikan. Apakah kau tidak mencari ibumu untuk mendapatkan bagian itu.”

Rudita tertawa. Katanya, “Agaknya aku sudah tidak mendapat bagian lagi. Dalam sekejap sesaji itu sudah habis. Gadis-gadis ingin mendapatkan meskipun hanya sepincuk kecil, agar kebahagiaan ini segera menular kepada mereka.”

“Kalau begitu kau dapat mencari kegembiraan di tempat lain.”

“Latihan di banjar tentu sudah selesai.”

“Lalu, kau akan pergi ke mana?”

“Aku akan pergi ke pondok Swandaru. Di sana tentu banyak anak-anak muda.”

“Pergilah. Nanti menjelang pagi aku juga akan pergi ke sana.”

Rudita pun kemudian meninggalkan ayahnya. Di halaman masih nampak beberapa orang yang hilir-mudik meskipun dedaunan telah basah oleh embun lewat tengah malam. Tetapi rasa-rasanya Tanah Perdikan semalam suntuk tidak akan tidur.

Seorang diri Rudita pergi ke rumah yang diperuntukkan bagi Swandaru. Dari luar regol halaman, sudah nampak cahaya lampu yang terang benderang.

Ketika ia memasuki halaman, mata terdengar suara gelak tertawa yang meledak-ledak. Agaknya mereka sedang bergurau dengan riuhnya. Barangkali beberapa orang sedang mengganggu Swandaru.

Rudita sudah mulai tersenyum-senyum. Rasa-rasanya ia pun hampir tertawa pula. Tetapi ia sadar bahwa ia seorang diri, sehingga ia pun menahan senyumnya yang hampir menghiasi bibirnya.

Ketika ia naik ke pendapa, semua orang berpaling kepadanya sehingga Rudita menjadi segan karenanya. Namun ia masih memerlukan menyapa Swandaru, “Kau nampak tampan sekali, Swandaru.”

Swandaru berpaling kepadanya. Hanya sekilas. Dianggukkan kepalanya sambil menjawab pendek, “Terima kasih.”

Selebihnya Swandaru mulai berbicara lagi dengan beberapa pemimpin Tanah Perdikan Menoreh yang sedang mengganggunya.

Rudita mengerutkan keningnya. Sikap itu agak terasa janggal baginya. Swandaru adalah anak muda yang ramah dan gembira. Tetapi rasanya ia sama sekali tidak menghiraukan kehadirannya.

Rudita masih ingin meyakinkannya sehingga ia pun bertanya, “Swandaru, berapa hari kau menghias diri untuk malam ini dan besok.”

Swandaru berpaling sekali lagi. Sambil mengangguk kecil ia menjawab pendek, “Sehari. Ya, sehari.”

Dan sekali lagi Swandaru melepaskan perhatiannya dari Rudita. Ia agaknya lebih senang menanggapi gurau orang-orang Tanah Perdikan itu selain Pandan Wangi. Dan itu berarti bahwa Swandaru-lah yang kelak akan memegang kendali pemerintahan itu.

Karena itulah, di dalam kelakar itu, Swandaru merasa bahwa dirinya mulai melangkah ke tingkat yang lebih tinggi di Tanah Perdikan Menoreh. Bahwa pada suatu saat ia akan berdiri di atas semua orang yang sekarang sedang mengerumuninya.

Itulah sebabnya, maka ia tidak begitu tertarik melihat kehadiran Rudita. Rudita bukanlah orangTanah Perdikan Menoreh yang akan menundukkan kepalanya kelak jika saatnya tiba.

Rudita yang termangu-mangu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak menjadi sakit hati. Bahkan ia pun ikut tertawa ketika orang-orang di pendapa itu kemudian tertawa oleh kelakar yang segar.

Rudita adalah orang yang dalam ujudnya yang mapan tidak mencari kesalahan pada orang lain. Karena itu, maka ia pun tidak menganggap bahwa sikap Swandaru itu kurang pada tempatnya. Ia menganggap bahwa Swandaru sedang diselubungi oleh suatu keadaan yang lain dari keadaannya sehari-hari, sehingga karena itulah maka sikapnya pun terpengaruh oleh keadaan itu.

Meskipun demikian, tetapi ia memang merasakan suatu perbedaan sikap itu. Namun perubahan sikap itu bukannya sesuatu yang perlu disesali, karena hal itu kemudian dianggapnya sebagai hal yang sangat wajar.

Tetapi dalam pada itu, justru orang-orang lainlah yang terkejut melihat sikap Swandaru itu. Agung Sedayu mengerutkan keningnya, seolah-olah perasaannya sedang digelitik oleh sesuatu yang tidak seharusnya terjadi menurut anggapannya. Bahkan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar pun merasakan sesuatu tergetar di hatinya, meskipun orang-orang tua itu berusaha untuk mencari alasan, kenapa sikap Swandaru menjadi agak berubah terhadap Rudita.

“Swandaru mengetahui, bahwa Rudita pernah merasa tergetar hatinya melihat kecantikan Pandan Wangi. Agaknya itulah sebabnya, kenapa sikapnya terhadap Rudita agak lain dengan sikapnya kepada orang lain,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya.

Namun dalam pada itu, selagi Rudita termangu-mangu, ia merasa seseorang menggamit lengannya. Ketika ia berpaling, dilihatnya Agung Sedayu berdiri di belakangnya sambil tersenyum.

“O,” Rudita pun tertawa pula.

“Marilah. Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar ada di sudut itu.”

“O,” Rudita mengangguk-angguk, “baiklah. Aku ikut ke tempat mereka.”

Rudita pun kemudian mengikuti Agung Sedayu berjalan di halaman ke tempat Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar duduk. Sambil mengangguk dalam-dalam anak muda itu pun kemudian ikut duduk bersama mereka.

Tetapi baik Agung Sedayu maupun Rudita, sama sekali tidak berniat untuk menyinggung sikap Swandaru yang agak lain dengan sikapnya sehari-hari.

Demikianlah, maka baik di rumah Ki Gede Menoreh, maupun di rumah yang disediakan bagi Swandaru, beberapa orang telah berjaga-jaga sambil berkelakar semalam suntuk. Menjelang pagi, Pandan Wangi dan Swandaru telah dipersilahkan meninggalkan pertemuan itu untuk tidur, agar mereka tidak menjadi terlalu lelah. Sementara orang-orang di pendapa masih tetap duduk berjaga-jaga sampai matahari terbit di Timur.

“Ayah akan datang kemari,” berkata Rudita menjelang pagi, “tetapi sampai pagi ayah belum juga datang.”

“O, tentu kami akan menunggu. Mungkin masih terlalu sibuk.”

“Ayah tidak berbuat apa-apa di sana, selain duduk berbincang-bincang dengan Paman Argapati.”

“Justru berbincang-bincang dalam keadaan seperti sekarang ini akan menjadi penting karena mereka tentu membicarakan sesuatu menjelang hari perkawinan itu.”

Rudita mengangguk-angguk. Tetapi belum lagi ia menjawab, maka dilihatnya Ki Waskita benar-benar memasuki halaman. Sambil tersenyum, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar menyambutnya.

“O, maaf, Kiai,” desis Ki Waskita, “baru sekarang aku sempat datang. Justru setelah matahari hampir terbit.”

“O, tidak apa, Ki Waskita. Tentu Ki Waskita sibuk sekali.”

“Tidak. Sebenarnya aku tidak berbuat apa-apa. Tetapi sebenarnyalah bahwa rasa-rasanya ada sesuatu yang membawaku berjalan-jalan mengelilingi padukuhan induk ini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Desisnya, “Tentu bukan tidak beralasan jika Ki Waskita mengelilingi padukuhan induk.”

“Kali ini benar-benar tidak beralasan. Meskipun jika dicari memang ada pula alasannya. Aku ingin melihat sambutan rakyat Tanah Perdikan Menoreh terhadap perkawinan Pandan Wangi ini.”

“Bukan karena aku mendapat firasat buruk,” sambung Ki Waskita, “dan aku pun telah melihat, bahwa hampir tidak ada orang yang tidur malam ini kecuali anak-anak.”

“Apa lagi malam nanti.”

“Ya. Malam nanti tentu lebih meriah lagi.”

Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Mereka pun kemudian naik dan duduk di pendapa yang sudah mulai sepi. Satu-satu orang-orang yang semula mengerumuni Swandaru telah meninggalkan pendapa itu untuk beristirahat, karena malam nanti mereka pun harus berjaga semalam suntuk pula.

Di siang hari yang kemudian seolah-olah tumbuh di Tanah Perdikan Menoreh, kesibukan justru meningkat. Persiapan-persiapan untuk perelatan malam nanti harus diselesaikan pada waktunya. Sementara itu, orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya datang berurut. Satu dua orang, tetapi mengalir tanpa henti-hentinya untuk menyampaikan tanda ikut bergembira kepada Ki Gede Menoreh.

Kedatangan mereka membuat hati Pandan Wangi justru menjadi semakin pedih. Dalam perelatan yang lazim, setiap orang yang datang untuk menyampaikan tanda ikut bergembira dengan sekedar menyerahkan sumbangan berupa apa pun juga, diterima oleh ibu dari pengantinnya. Tetapi kedatangan mereka di rumah itu, tidak lagi menjumpai ibunya yang sudah lama tidak ada lagi. Yang menerima mereka adalah perempuan tua yang diminta oleh Ki Argapati untuk melakukannya atas namanya.

Karena itulah, maka Pandan Wangi merasa hari-hari menjelang saat perkawinanya itu menjadi semakin sepi dan ngelangut. Noda yang tumbuh di hatinya meskipun tidak ada orang lain yang mengetahuinya, peristiwa yang mungkin masih akan terjadi.

“Tetapi aku harus berdiri di atas kenyataan ini,” berkata Pandan Wangi kepada diri sendiri, “aku harus melangkah terus. Dan sekarang aku berada di sini dalam keadaan ini. Aku tidak boleh tenggelam ke dalam masa lalu, karena aku menghadapi masa depanku yang panjang.”

Dengan demikian di saat-saat terakhir, Pandan Wangi berhasil menguasai perasaannya. Ia mulai mengendapkan semua persoalan yang bergejolak di dalam hatinya, sehingga kemudian dari bibirnya mulai nampak senyumnya yang jernih.

Orang-orang perempuan yang dengan diam-diam memperhatikan keadaan Pandan Wangi menjadi tersenyum pula. Agaknya kegelisahan gadis itu sudah dapat diatasinya. Apalagi ketika Pandan Wangi sudah mulai mengajukan beberapa permintaan. Agaknya ia mulai merasa haus dan lapar.

Ketika matahari mulai memanjat langit semakin tinggi, di rumah yang diperuntukkan bagi para tamu dari Sangkal Putung, beberapa orang perempuan mulai sibuk pula. Mereka diminta oleh Ki Demang untuk mempersiapkan upacara iringan bagi pengantin laki-laki. Selain bahan pakaian, juga mereka harus membawa makanan beberapa jodang sebagai kelengkapan upacara.

Demikianlah kesibukan di Tanah Perdikan Menoreh semakin meningkat. Lewat tengah hari ketika matahari mulai turun, di dalam biliknya Pandan Wangi sudah mulai dipersiapkan pula. Beberapa perempuan tua telah berkumpul di dalam bilik itu. Namun beberapa orang gadis, berusaha untuk ikut mengintip dari luar pintu.

Sekar Mirah, yang datang bersama iring-iringan bakal pengantin dari Sangkal Patung, ikut pula berada di dalam bilik itu. Ia seolah-olah sedang mempelajari, apakah yang seharusnya dilakukan oleh seorang calon pengantin perempuan.

Hari itu Pandan Wangi mengalami rias yang lebih berat dari sehari sebelumnya menjelang malam midadareni, karena saat itu Pandan Wangi benar-benar menghadapi saa-saat perkawinannya.

Sementara itu, semakin banyak tamu-tamu yang mengalir kerumah Ki Gede Menoreh yang menjadi ramai. Hiasan telah terpasang di mana-mana. Pendapa rumah Ki Gede nampaknya menjadi berwarna cerah oleh janur yang seolah-olah tersangkut di segala bagian.

Akhirnya, saat yang ditentukan itu pun tiba. Di pringgitan telah terbentang tikar pandan yang putih besih. Sementara pendapa rumah itu telah disiapkan seperangkat gamelan. Setelah saa-saat perkawinan selesai, maka di pendapa itu akan dipertunjukkan berbagai macam tari yang dilakukan oleh anak-anak muda Tanah Perdikan Menoreh. Sedangkan di banjar, juga akan diselenggarakan keramaian bagi para pengawal yang bertugas. Bergantian mereka berkumpul di Banjar, setelah bergantian mereka meronda berkeliling Tanah Perdikan, karena justru pada malam perkawinan itu, para pengawal harus bersiaga semakin waspada.

Swandaru yang sudah lengkap dengan pakaian pengantinnya menjadi berdebar-debar, ketika orang-orang tua mempersilahkannya bersiap, karena sebentar lagi pengantin laki-laki itu akan dipersilahkan pergi ke rumah pengantin perempuan untuk dipertemukan dengan upacara lengkap. Di bawah tangga pendapa rumah Ki Gede telah disediakan jambangan air dan sebuah pasangan lembu serta perlengkapan-perlengkapan upacara yang lain.

“Kita menunggu seseorang dari rumah pengantin perempuan,” berkata salah seorang dari orang-orang tua yang ikut dari Sangkal Putung. “Salah seorang akan memberitahukan, kapan kita akan berangkat.”

Swandaru tersenyum sambil mengangguk-angguk. Setiap kali ia memperhatikan pakaiannya yang serba gemerlap. Perhiasan yang dibawanya dari Sangkal Putung kini telah dipakainya semuanya. Pendok emas dengan teretes permata. Timang yang juga terbuat dari emas bertabur berlian. Cincin bermata jamrut yang kehijau-hijauan. Dan kelengkapan perhiasan yang lain.

Apalagi Swandaru telah dilengkapi pula dengan suatu kesadaran bahwa pada saatnya, ia akan menjadi orang yang memerintah Tanah Perdikan Menoreh itu, karena calon isterinya adalah satu-satunya anak Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Dan itulah agaknya yang membuat Swandaru seolah-olah menengadahkan kepalanya di saat-saat ia menunggu.

“Kenapa Ayah tidak pergi?” bertanya Swandaru kepada ayahnya.

“Tidak. Tentu tidak. Tidak seharusnya ayah pengantin laki-laki ikut hadir pada upacara perkawinan itu. Aku akan pergi menyusul jika upacara yang sebenarnya sudah selesai.”

Swandaru mengangguk-angguk. Namun hatinya rasa-rasanya menjadi semakin gelisah. Setiap kejap, terasa seolah-olah hampir sehari penuh.

Kegelisahan Swandaru memuncak ketika ia melihat beberapa orang datang dari rumah Ki Gede membawa pesan, bahwa pengantin laki-laki diharap segera datang. Upacara sudah dapat dimulai, karena saatnya memang sudah tiba.

Ki Demang mengangguk-angguk. Dengan gagap ia menyahut, “Kami akan segera datang, Ki Sanak. E maksudku, pengantin laki-laki.”

“Kami menunggu di regol, Ki Demang.”

“Terima kasih. Tetapi bukankah ada satu atau dua orang yang akan pergi bersama kami.”

“Ya,” jawab salah seorang dari mereka, “biarlah dua orang dari kami menunggu di sini.”

Ketika yang lain meninggalkan tempat itu, maka Swandaru pun segera disiapkan. Diiringi oleh orang-orang tua dari Sangkal Putung, Swandaru turun ke halaman. Beberapa orang anak muda yang mengiringinya dari Sangkal Putung, langsung menjadi pengiringnya pula. Sedang yang lain akan menyusul bersama Ki Demang jika upacara telah selesai.

“Apakah kau akan pergi sekarang juga?” bertanya Swandaru kepada Agung Sedayu.

Agung Sedayu memandang Ki Demang sejenak, kemudian Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti, seolah-olah ingin bertanya, apakah ia akan pergi atau menunggu bersama-sama Ki Demang di Sangkal Putung,

Kiai Gringsing yang pergi mendahului bersama Ki Sumangkar mengiringi pangantin laki-laki itu pun berkata, “Baiklah kau pergi sekarang juga, Agung Sedayu.”

Agung Sedayu mengangguk. Jawabnya, “Baiklah, Guru.” Namun ia masih juga berpaling kepada Ki Demang yang mengangguk pula.

Ki Demang pun mengangguk sambil berkata, “Ya, pergilah sekarang.”

Agung Sedayu masih termangu-mangu sejenak. Namun ketika iring-iringan itu mulai bergerak, maka ia pun mengikutinya pula. Dengan kepala tunduk ia berjalan di sebelah gurunya dan Ki Sumangkar. Sekali-sekali Agung Sedayu mencoba memandang Swandaru dalam pakaian pengantinnya dengan perhiasan yang mahal. Perhiasan itu bukannya perhiasan yang dipinjamnya dari orang lain. Tetapi perhiasan yang dikenakannya adalah perhiasannya sendiri yaag dibeli oleh Ki Demang Sangkal Putung dan diberikan kepadanya sebagai hadiah perkawinannya.

Agung Sedayu setiap kali hanya menarik nafas. Bayangan-bayangan yang suram semakin nampak membayang di wajahnya. Bayangan tentang dirinya sendiri.

“Aku sama sekali tidak menginginkan semua itu,” desisnya di dalam hati, “tetapi jika kelak aku kawin, maka aku tidak akan kawin seorang diri. Dan aku cemas mengenai Sekar Mirah. Apakah ia tidak menginginkan seorang suami yang memiliki perhiasan, kehormatan, dan wibawa seperti kakaknya itu.”

Agaknya Kiai Gringsing yang sudah mengenal watak dan tabiatnya dapat meraba perasaannya serba sedikit. Karena itu, maka untuk mengalihkan angan-angan Agung Sedayu, Kiai Gringsing pun kemudian mengajaknya berbicara tentang apa saja. Namun demikian setiap Agung Sedayu melihat gemerlapnya pakaian Swandaru atau mendengar suara tertawanya, ia menjadi berdebar-debar.

Sementara itu, iring-iringan itu perlahan-lahan berjalan menuju ke halaman rumah Ki Argapati. Seperti lazimnya, maka di sepanjang jalan anak-anak kecil yang sudah lama menunggu, berteriak-teriak sepuas-puasnya. Mereka mengelu-elukan kehadiran pengantin itu. Rasa-rasanya mereka sudah terlalu lama berdiri di pinggir jalan yang pendek antara rumah yang dipergunakan untuk tinggal pengantin laki-laki menjelang hari perkawinannya, sampai ke halaman rumah Ki Gede Menoreh.

Ketika iring-iringan itu memasuki halaman, maka debar jantung Swandaru rasa-rasanya menjadi semakin keras bergetar di dalam dadanya. Sekali-sekali ia memandang orang-orang yang mengiringinya. Kemudian dicarinya Kiai Gringsing yang berjalan bersama Agung Sedayu dan Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing tersenyum melihat kegelisahan Swandaru. Sambil menepuk bahu Agung Sedayu, ia berdesis, “Aku akan mengawasinya.”

“Silahkan Guru,” jawab Agung Sedayu tersendat.

Kiai Gringsing memandang wajah Agung Sedayu yang nampak suram, betapa pun anak muda itu mencoba tersenyum. Lalu sambil melangkah ia berpesan kepada Ki Sumangkar di telinganya, “Kawani Agung Sedayu.”

Ki Sumangkar mengerutkan keningnya. Namun sebagai orang tua ia pun segera mengerti. Ketika ia berpaling memandang wajah Agung Sedayu, dilihatnya anak muda itu tersipu-sipu. Agaknya ia juga mendengar pesan gurunya kepada Ki Sumangkar, sehingga dengan demikian ia menduga, bahwa gurunya dapat mengetahui, apakah yang sebenarnya menggelepar di dalam hatinya.

Kiai Gringsing pun kemudian mempercepat langkahnya, dan kemudian berjalan bersama-sama orang-orang tua di sisi Swandaru. Sementara Ki Sumangkar masih berada di belakangnya bersama Agung Sedayu.

Saat yang paling mendebarkan itu pun akhirnya tiba. Pandan Wangi yang kemudian digandeng oleh orang-orang tua melintasi pendapa, turun di tangga depan menyongsong kehadiran Swandaru. Sejenak ia menunggu. Di hadapannya terletak beberapa macam benda upacara yang sebentar lagi akan dipergunakan. Seorang perempuan tua berdiri dengan segenggam sadak di tangan.

Beberapa orang yang membawa jodang berisi bahan pakaian dan buah-buahan sebagai kelengkapan upacara telah dibawa naik ke pendapa. Kemudian menyusul Swandaru yang melangkah mendekati Pandan Wangi yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Orang-orang yang menonton upacara itu berdesak-desakkan maju. Anak-anak yang akan berebut kembar mayang sudah bersiap-siap. Demikian pengantin nanti melangkah meninggalkan tempatnya, mereka akan berdesak-desakan memperebutkan kembar mayang dan buah-buahan beserta rangkaiannya yang tersangkut di kaki tarub janur kuning.

Satu-satu upacara berjalan dengan rancak. Setelah kedua pengantin itu saling melempar sadak kinang, maka pengantin laki-laki pun digandeng mendekati pengatin perempuan yang berjongkok untuk mencuci kaki pengatin laki-laki. Kemudian keduanya berdiri berjajar di atas pasangan sebagai perlambang bahwa keduanya akan bekerja sama seperti dua ekor lembu dalam pasangan. Yang satu terikat oleh yang lain tanpa dapat berbuat menurut kesukaan sendiri. Keduanya harus berjalan searah dan seimbang. Seorang perempuan tua menyentuh dahi kedua pengantin itu dengan telur, dan kemudian membantingnya sampai pecah.

Sepasang pengantin itu pun kemudian perlahan-lahan dibawa melangkah naik pendapa.

Seperti kebiasaan yang berlaku, maka anak-anak pun segera berloncatan memperebutkan sepasang kembar mayang yang terdiri dari sepasang kelapa muda dengan beberapa macam buah-buahan dan hiasan janur kuning. Sementara yang lain telah memperebutkan pisang dua tandan di sebelah-menyebalah, dengan rangkaiannya, batang jagung, untaian pada tebu wulung, dan lain-lainnya.

Orang-orang tua pun agaknya senang melihat anak berebutan. Hanya kadang-kadang satu dua di antara mereka berteriak mencegah jika anak-anak itu mulai bertengkar karena mereka berebut buah yang sama dan saling mempertahankannya.

Dalam kesibukan itu, dua orang yang asing memandang upacara itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka tersenyum sambil berkata, “Upacara yang meriah.”

Yang lain mengangguk-angguk. Suara gamelan terdengar agung mengiringi langkah sapasang pengantin yang diapit oleh sepasang patah dan didahului olah gadis-gadis kecil. Di paling depan seorang yang sudah agak lanjut berjalan setengah menari membawa pengantin itu menuju ke tengah-tengah pringgitan.

“Ki Gede akan menerima keduanya,” desis salah seorang dari kedua orang itu.

“Ya. Keduanya akan dipangkunya.”

“Di pangkuan? Apakah tidak terlalu berat?”

Yang lain tertawa, “Kau memang dungu.”

Kawannya termangu-mangu. Dipandanginya pengantin yang berjalan perlahan-lahan melintasi pendapa itu sejenak. Kemudian berpaling lagi kepada kawannya.

“Kenapa kau tertawa?” ia bertanya.

Kawannya masih tertawa, meskipun ia mencoba menahannya agar tidak menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.

“Jika Ki Argapati harus membiarkan anak yang gemuk itu duduk di pangkuannya, aku kira untuk beberapa kejap saja ia sudah menjadi pingsan.”

“Jadi bagaimana?”

“Lihat, mereka sudah mendekati tempat duduk Ki Argapati.”

Keduanya terdiam. Mereka mengikuti langkah yang lamban. Beberapa langkah dari Ki Gede, mereka berhenti. Kemudian mereka berjalan sambil berjongkok mendekat dan langsung mencium lutut Ki Argapati yang duduk bersila. Berganti-ganti mereka sungkem sambil menyembah sebagai pertanda bakti seorang anak kepada orang tuanya.

Namun sekali lagi, perasaan Pandan Wangi bagaikan disengat oleh kepedihan. Seharusnya ia mencium bukan saja lutut ayahnya dan menyembahnya, tetapi juga ibunya yang duduk di samping ayahnya itu.

Dengan sekuat-kuat hati, Pandan Wangi bertahan. Ia berhasil menyelesaikan acara itu menjelang upacara berikutnya.

Setelah sungkem, keduanya pun kemudian duduk di sebelah-menyebelah Ki Argapati. Lutut-lutut mereka sajalah yang diletakkan pada lutut ayahnya. Sambil tersenyum Ki Argapati berkata, “Sudah timbang.”

Orang tua mengangguk-angguk. Ki Argapati-lah yang kemudian diminta untuk bergeser. Kedua pengantin itu masih meneruskan upacara-upacara berikutnya. Keduanya masih makan bersama dan saling menyuap. Pengantin perempuan akan menerima pemberian nafkah dari suaminya dan upacara-upacara yang lain.

Ki Argapati tersenyum-senyum melihat upacara yang berlangsung dengan lancar itu. Bahkan sekali-kali ia, tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia melihat sekali-sekali kepedihan berkilat di mata anak perempuannya.

Sebenarnyalah, bahwa dada Ki Argapati sendiri bagaikan rontok ketika ia melihat mata Pandan Wangi yang basah meskipun air mata itu tidak menitik. Ia sadar, ada kekurangan yang pokok pada saat upacara itu berlangsung. Namun sekaligus semuanya itu mengingatkan saat-saat Ki Argapati sendiri duduk bersanding dengan isterinya. Ibu Pandan Wangi. Ia sadar sepenuhnya, bahwa, yang terjadi itu adalah suatu mimpi yang paling pahit. Saat itu, ternyata bahwa isterinya yang duduk di sampingnya di saat perelatan perkawinan berlangsung, bukannya seorang gadis lagi. Di dalam dirinya telah terkandung seorang anak yang bukan anaknya, yang ketika kemudian lahir seorang laki-laki, akhirnya telah menyalakan api yang membakar Tanah Perdikan Menoreh ini.

Tetapi Ki Argapati berhasil menindas perasaan yang sesaat-sesaat melonjak di hatinya itu, karena ia sadar, bahwa kesan yang setitik pada wajahnya bahwa ada gejolak perasaan di hatinya, itu akan berarti pecahnya bendungan terakhir di pelupuk mata anak gadisnya, yang nampaknya bertumpu kepadanya. Satu-satunya orang tua yang masih ada.

Karena Ki Argapati nampaknya menjadi gembira oleh perkawinan itu, maka Pandan Wangi pun terpengaruh pula olehnya. Ia mencoba untuk mengusir segala kepahitan yang pernah dialaminya dan yang pernah terjadi atas keluarganya.

Karena itulah, maka lambat laun Pandan Wangi mulai mengangkat wajahnya sedikit demi sedikit. Ia sudah berani memandang meskipun sekilas, gadis-gadis kecil yang masih merubunginya bersama dua orang patah yang duduk di sebelah-menyebelah.

Dengan demikian upacara itu pun berlangsung semakin meriah. Sekali-kali nampak senyum yang betapa pun juga hambarnya di bibir Pandan Wangi.

Ketika upacara pokok dari perkawinan itu sudah selesai, maka kedua pengantin itu pun kemudian duduk bersanding di depan pintu pringgitan. Di sebelahnya duduk Ki Argapati yang masih saja tersenyum-senyum pula.

Dalam pada itu, Pandan Wangi mulai mencoba melihat, siapa sajakah yang hadir pada upacara itu. Ia melihat orang-orang tua yang sudah dikenalnya dangan baik, termasuk pemomongnya di masa kanak-kanak. Yang selama masa remajanya selalu mengawani dan mengawasinya. Kemudian dilihatnya orang-orang tua dari Sangkal Putung yang belum dikenalnya selain Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

Tetapi denyut jantung Pandan Wangi serasa melonjak ketika ia melihat seorang anak muda yang duduk di sebelah Kiai Gringsing. Anak muda yang luruh dan rendah hati. Saudara seperguruan Swandaru.

Pandan Wangi segera memalingkan wajahnya ketika tatapan mata mereka bertemu. Dengan gelisah, Pandan Wangi segera melepaskan kesan itu dari wajahnya. Namun yang nampak adalah justru kegelisahannya yang lain karena orang-orang di sekitarnya sama sekali tidak melihat warna hatinya yang sebenarnya.

“Alangkah kotornya warna hatiku,” desis Pandan Wangi di dalam hatinya yang mulai dirayapi kembali oleh kepedihan karena ia memulai membayangkan lagi kaadaan ibunya di saat perkawinan berlangsung. Ibunya yang tentu pada mulanya disentuh oleh perasaan seperti yang kini dirasakannya.

“Tidak,” tiba-tiba ia memhentakkan perasaannya sehingga ia bergeser setapak, “aku tidak mau mengalami peristiwa terkutuk semacam itu.”

Swandaru merasakan sesuatu yang lain. Tetapi ketika ia berpaling, dilihatnya Pandan Wangi duduk tepekur. Kepalanya tertunduk kembali memandangi helai-helai pandan pada tikar yang terbentang di pendapa itu.

Agung Sedayu yang duduk di sebelah gurunya, bagaikan mematung. Sebenarnyalah bahwa ia pun dilanda oleh perasaan yang gelisah. Satu-satu ia memandang perempuan yang berada di deretan di belakang pengatin. Sekilas ia melihat Sekar Mirah. Tanpa disadarinya ia mulai membandingkan kedua parempuan yang dikenalnya dengan baik itu. Pandan Wangi dan Sekar Mirah. Keduanya adalah perempuan yang memiliki kemampuan bermain pedang. Bahkan karena salah paham keduanya pernah bertempur justru saat Tanah Perdikan Menoreh masih membara oleh api yang membakar Tanah Perdikan ini.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat wajah Pandan Wangi yang tunduk. Dan ia memperhatikan pula Sekar Mirah yang menengadahkan dadanya dan mengangkat dagunya, seperti kebiasaannya menghadapi setiap peristiwa yang langsung atau tidak langsung akan menyangkut dirinya.

Demikianlah upacara pokok dari parkawinan Swandaru dan Pandan Wangi sebenarnya sudah selesai. Yang akan berlangsung kemudian semata-mata adalah kelengkapanya saja. Pertunjukan, makan bersama, dan segala macam kegembiraan yang lain.

Karena itulah, maka ketegangan yang rasa-rasanya tertahan bebeberapa lamanya, bagaikan terlepas dari rongga dada.

Ketika saatnya tiba, dan makanan bagaikan mengalir dari ruang dalam, maka para tamu pun dengan riuhnya saling berbicara dengan orang-orang Ki Sumangkar yang duduk di sebelah Agung Sedayu.

“Di manakah Rudita?” bertanya Agung Sedayu.

Ki Waskita mengedarkan tatapan matanya sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Tadi ia berada di halaman. Tetapi entahlah. Mungkin ia bersama Prastawa di longkangan. Mereka sibuk membantu anak-anak muda yang menghidangkan minuman dan makanan.”

Dengan demikian maka pendapa itu pun menjadi semakin cerah. Apalagi ketika kemudian, beberapa orang telah menyiapkan tempat bagi sebuah pertunjukan di pendapa untuk meramaikan perkawinan itu. Para tamu pun kemudian dipersilahkan bergeser, sementara para pradangga telah bersiap di tempatnya.

“Beberapa orang dalang akan mengadakan pertunjukan tari topeng,” desis seorang tua dari Tanah Perdikan Menoreh kepada seorang tua yang datang bersama Swandaru dari Sangkal Putung.

“O, menarik sekali,” desis orang tua dari Sangkal Putung itu, “tentu bagus sekali.”

“Semalam suntuk dengan ceritera Panji.”

“O,” tamunya mengangguk-angguk.

Dengan demikian, maka para tamu pun kemudian duduk sambil minum dan makan makanan yang dihidangkan sambil menikmati sebuah pertunjukan yang menarik.

Dalam pada itu, Swandaru dan Pandan Wangi masih duduk di tempatnya, meskipun sudah tidak lagi terikat oleh upacara. Tetapi mereka masih belum dipersilahkan berganti pakaian, sebelum pertunjukan itu berlangsung beberapa lama.

Namun agaknya upacara itu ternyata telah menumbuhkan benih baru di dalam hatinya yang memang merupakan ladang yang subur. Tanpa disiram pun benih itu akam segera tumbuh dan berdaun rimbun.

Meskipun Ki Argapati, kepala Tanah Perdikan Menoreh masih duduk di sampingnya, rasa-rasanya Swandaru telah mendapatkan limpahan kekuasaan atas Tanah Perdikan itu. Ketika terpandang orang-orang tua, para pembantu Ki Gede Menoreh, sanak kadang, rasa-rasanya mereka itu semuanya telah menundukkan kepalanya menghormatinya. Bukan saja sebagai pengantin yang sedang dipertemukan, tetapi juga karena mereka mengerti, bahwa kekuasaan Tanah Perdikan Menoreh itu pada suatu saat akan berada di bawah perintah Swandaru, suami anak perempuan satu-satunya dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang sekarang sedang memegang kekuasaan.

Karena itu, maka sikap Swandaru pun dipengaruhi pula oleh perasaan yang berkembang di hatinya itu. Wajahnya yang bulat menjadi semakin tengadah.

Sekilas Agung Sedayu sempat melihat sikap Swandaru. Tetapi ia tidak segera dapat menangkap apa yang sebenarnya tergerak di hatinya. Karena itu ia tidak dapat segera menyebutnya, selain menghubungkannya dengan sikap saudara seperguruannya itu, ketika ia berada di pondok menanggapi kehadiran Rudita.

Sementara itu, di halaman orang-orang Tanah Perdikan Menoreh telah berjejal-jejal. Mereka ingin melihat sepasang pengantin yang sangat menarik perhatian itu. Namun mereka juga ingin melihat pertunjukan yang akan dipertunjukkan di pendapa. Malam ini mereka akan melihat tari topeng yang akan ditarikan oleh beberapa orang dalang yang sebagian adalah orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh sendiri. Besok malam mereka akan melihat anak-anak muda Menoreh yang sudah belajar menari berbulan-bulan sebelumnya. Sedang di malam ketiga mereka akan menonton pergelaran wayang kulit semalam suntuk.

Ketika pertunjukan di pendapa itu dimulai, dua orang yang berada di halaman bergeser surut. Keduanya kemudian berdiri di bagian belakang sambil bersandar pepohonan. Di sebelah-menyebelah mereka, terdapat beberapa orang yang berjualan bermacam-macam makanan.

“Perkawinan yang meriah,” desis salah seorang dari keduanya.

“Sayang, mereka tidak akan sempat merayakannya di Sangkal Putung.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun mengangguk.

“Di ujung kademangan mereka sendiri, di jalan yang melalui pinggir hutan kecil itu, mereka akan disergap oleh Gandu Demung yang lengkap dengan pasukan yang besar.”

“Tetapi nampaknya pasukan yang besar itu tidak akan menyesal. Nampaknya perhiasan yang akan mereka dapatkan cukup banyak. Lihatlah, bagaimana sepasang pengantin itu bagaikan mengenakan berpuluh-puluh bintang di tubuhnya. Pengantin perempuan mengenakan gelang, kalung, subang cincin, tusuk konde, dam perlengkapan yang lain. Tentu dari permata yang sebenarnaya intan dan berlian. Bukan sekedar barang-barang tiruan. Sedangkan pengantin laki-laki memakai timang emas dengan tretes berlian, pendok emas dan keris dengan ukiran bermata berlian pula. Cincin di jarinya dan berbagai perhiasan di bajunya. Sementara itu tentu pengiringnya juga memakai perhiasan yang mereka punyai untuk menunjukkan kelebihan masing-masing agar mereka sempat menarik perhatian gadis-gadis di Tanah Perdikan Menoreh.”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Gandu Demung berhasil, sehingga barangkali aku akan mendapatkan meskipun hanya sebutir berlian.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:23  Comments (63)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-96/trackback/

RSS feed for comments on this post.

63 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur Nuwun Ki GD, jenang penganten sampun dicaplok – empuk tenan – kulo bade tanduk.

  2. terima kasih ke GD suguhanipun kagem sarapan ..

  3. Matur nuwun ki GD

  4. nuwun sewu ki GD
    opo sing versi text wis gak metu yo
    tak enten enteni kok yo gak njebul….
    karuan nek ancene wis gak metu
    yo wis aku gak ngenteni maneh

  5. kok sejek buku no 95 isi tidak lengkap,kenapa ya

  6. Nuwun sewu poro kadhang cantrik, khushushon Mas Semprul, kulo badhe nyuwun wejangan wonten pundhi panggenanipun ngubdhuh kitab 96 lan sak lajengipun. Matur suwun.

  7. ki gede kapan kitab 97 bakal diturunkan, wis ngebet kepengin mangerteni kepriye ketemune rombongan pengantin klawan begal di jalanan alas mentaok.

    salut banget kepada ki gede SH Mintarjo bisa mengharu biru pembaca dengan mengetengahkan perubahan sifat swandaru yang menjadi tokoh utama bersama agung sedayu, mungkinkah swandaru ditinggal dalam cerita berikutnya atau mulainya permasalahan dari perugahan sifat swandaru

  8. aku baru mau ikut gambung niki…

    saya baru baca buku dapet halaman 62 rasanya pengen baca trus sampai habis…

    mohon koleksi lanjutanya para sedulur kabeh

    S Monggo Ki Samber Nyowo..

  9. MAtur nuwun……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: