Buku 96

KETIKA PADA suatu saat perempuan yang menungguinya keluar juga sesaat, terasa kesepian telah mencengkam hatinya di dalam keributan persiapan perelatan perkawinannya besok di luar biliknya.

Bahkan dalam kilasan angan-angannya, terbayang wajah ibunya yang cantik, tetapi muram. Sepercik noda telah melekat pada wajah itu, dengan hadirnya dua orang laki laki di dalam hatinya. Laki-laki yang menurunkan seorang anak laki-laki, dan laki-laki yang lain yang telah melahirkan dirinya.

“O,” Pandan Wangi tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “alangkah hinanya. Agaknya hukuman dari Yang Maha Kuasa tidak saja mencengkamnya di saat ia memasuki kehidupan langgeng, tetapi di kehidupan yang wadag ini pun sudah mulai terasa, betapa hatinya tersiksa. Bahkan kedua anak yang lahir dari kedua laki-laki itu pun telah ditakdirkan saling membunuh.”

Terasa pelupuk mata Pandan Wangi menjadi semakin panas. Ia mencoba menghindarkan diri dari pengakuan, bahwa ada dua orang laki-laki pula yang sudah hadir di dalam hatinya.

“Tidak,” ia mencoba mengelak.

Seorang perempuan yang memasuki bilik Pandan Wangi terkejut melihat sikap gadis itu. Namun perempuan itu pun tersenyum sambil berkata, “Jangan cemas, Pandan Wangi. Jika sesuatu bergejolak di dalam hatimu, itu adalah wajar sekali.”

Pandan Wangi mengangkat wajahnya. Ia merasa bersyukur bahwa orang lain tidak menangkap perasaan yang sebenarnya bergejolak di dalam hatinya. Apalagi ketika perempuan berambut putih yang meriasnya masuk pula ke dalam bilik itu, maka hati Pandan Wangi mulai terhibur lagi dengan kelakarnya yang riang.

Di dalam pondoknya. Swandaru pun telah mengenakan pakaian yang khusus. Bahkan ia telah mengenakan perhiasan yang meskipun belum selengkap yang akan dipakainya di saat ia akan dipersandingkan. Untaian bunga melati yang dibawa oleh Agung Sedayu telah dikenakannya pula. Seuntai di hulu keris, seuntai yang panjang dikenakan di lehernya. Kemudian dua kuntum di atas telinganya sebelah-menyebelah.

Kawan-kawannya, para pengawal dari Sangkal Putung pun sempat pula mengganggunya, seperti gadis-gadis dan perempuan mengganggu Pandan Wangi. Namun Swandaru hanya sempat tertawa saja. Apalagi Swandaru sama sekali tidak diganggu oleh perasaan-perasaan lain seperti yang terjadi pada Pandan Wangi.

Selagi Swandaru dan para pengiringnya bergurau dengan riuhnya, Agung Sedayu yang gelisah berjalan sambil menundukkan kepalanya ke pakiwan. Ternyata berbagai macam perasaan telah bergejolak di dalam hatinya. Bukan saja usahanya menindas gambaran wajah Pandan Wangi yang bagaikan bercahaya, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada dirinya jika kelak pada suatu saat ia kawin dengan Sekar Mirah.

“Apa yang dapat aku lakukan jika saat perkawinan itu tiba. Tentu aku tidak akan mampu mematut diri seperti Swandaru, bahkan dengan segala macam persiapan perelatan di Sangkal Putung.”

Terbayang di angan-angan Agung Sedayu, kemampuan yang ada pada dirinya dan keluarganya. Saat kakaknya kawin, tidak ada perelatan sebesar yang diselenggarakan oleh Ki Gede Menoreh. Juga sudah tentu tidak sebesar nanti yang akan diselenggarakan di Sangkal Putung. Untara lebih senang hari-hari perkawinannya berlangsung dengan sederhana. Tetapi karena ia adalah seorang senapati besar, maka kesederhanaannya itu justru memberikan kewibawaan padanya. Bukan saja di dalam sorotan para prajurit dan rakyat di sekitarnya, namun sebenarnyalah bahwa Untara adalah seorang senapati yang persaja.

Meskipun demikian, dalam kesederhanaan itu nampak juga keagungan karena jabatannya. Para prajurit bersiaga dengan sepenuhnya. Di sepanjang perjalanan, mau pun di rumah kedua pengantin itu. Di rumah pengantin perempuan dan di rumah Untara sendiri.

Sekarang Swandaru kawin dengan segala macam kebesaran karena kedua orang tua sepasang pengantin itu cukup mempunyai beaya untuk menjadikan hari-hari perkawinan itu menjadi sangat meriah. Selain beaya yang memang sudah tersedia, keduanya adalah anak orang-orang terpenting di kedua tempat asal mereka. Swandaru anak seorang demang yang cukup di Sangkal Putung, sedang Pandan Wangi adalah anak kepala Tanah Perdikan di Menoreh.

“Jika kelak aku kawin,” berkata Agung Sedayu kepada diri sendiri, “tentu Kakang Untara tidak akan berniat sama sekali menyelenggarakan perelatan sebesar perelatan yang kini disiapkan di Sangkal Putung saat ngunduh pengantin. Tentu tidak akan diselenggarakan melampaui saat Kakang Untara sendiri kawin. Apalagi aku sudah tidak mempunyai orang tua, sehingga kemampuan yang dapat diberikan oleh Paman dan Bibi adalah kemampuan yang terbatas sekali.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Namun persoalan itu mengejarnya lagi. Katanya di dalam hati, “Aku sendiri sebenarnya tidak mempunyai keberatan apa pun juga, seandainya perkawinanku itu sama sekali tidak diramaikan dengan perelatan apa pun juga, apalagi bermacam-macam pertunjukan, aku pun sama sekali tidak menyesal. Tetapi apakah demikian pula Sekar Mirah?”

Kegelisahan itu justru semakin mencengkamnya sehingga jantung Agung Sedayu rasa-rasanya berdentang semakin cepat.

Namun tidak ada yang dapat memberinya petunjuk apa pun juga, karena Agung Sedayu menyimpan kegelisahan itu di dalam hatinya. Ia tidak dapat mengatakannya kepada siapa pun juga. Satu-satunya, keluarganya adalah kakaknya, Untara. Tetapi sudah tentu Untara tidak akan dapat mengerti perasaannya. Dengan tegas Untara akan berkata kepadanya, “Itu tergantung kepadamu. Jika kau memang menghendaki, jadilah. Jika calon isterimu itu berkeberatan, jangan kau hiraukan. Sejak saat perkawinanmu, kau dan isterimu harus saling memaklumi keadaan masing-masing. Jika Sekar Mirah seorang gadis yang baik, ia tidak akan terlampau banyak menuntut apa pun juga yang sulit kau laksanakan.”

Tetapi sekilas terbayang di angan-angan Agung Sedayu, sikap Sekar Mirah yang keras dan tinggi hati. Seperti Untara ia pun akan berkata dengan lantang, “Perkawinan kita harus diselenggarakan dengan meriah. Setidak-tidaknya seperti Kakang Swandaru. Baik saat perelatan di Tanah Perdikan Menoreh, mau pun di Sangkal Putung. Kita pun harus merayakan hari-hari perkawinan kita di Sangkal Putung dan di Jati Anom. Bukankah kakakmu seorang perwira muda yang terpandang? Seorang senapati besar yang mempunyai pengaruh yang luas?”

“O,” Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Angan-angan itu ternyata membuatnya menjadi sangat gelisah dan cemas.

Dalam pada itu, ketika ia sudah kembali dari pakiwan, dilihatnya Swandaru sedang mengenakan untaian bunga yang dibawanya dari bilik pengantin perempuan. Anak muda yang gemuk itu nampak cukup tampan pula. Sekali-sekali terdengar suara tertawanya jika kawan-kawannya yang mengiringinya mengganggunya.

“Kau pantas mendapat kehormatan yang tinggi Swandaru,” berkata seorang kawannya yang ikut serta mengawalnya, “kau pantas disebut seorang tumenggung dengan pakaianmu itu. Untaian bunga melati itu membuatmu semakin nampak berwibawa. Tidak seorang pun yang akan menduga, bahwa kau adalah anak Kademangan Sangkal Putung.”

Swandaru tertawa.

“Aku kira perkawinanmu melampaui perelatan perkawinan para pemimpin di Demak dan Mataram. Kau lihat, perkawinan Sutawijaya dengan gadis dari Kalinyamat itu? Tidak seorang pun melihat upacara semeriah ini.”

“Perkawinan itu berlangsung begitu saja. Bahkan dengan diam-diam,” sahut yang lain.

“Tidak. Kanjeng Sultan telah memberikan restunya. Seandainya perkawinan itu diselenggarakan dengan meriah, tidak akan ada kesulitan apa pun lagi,” sahut yang mula-mula.

“Kesulitan perasaan,” jawab yang lain.

Mereka masih saja berkelakar terus. Kawan-kawan ternyata mengagumi Swandaru dalam pakaian midadareni. Dalam gurau itu, Swandaru bahkan berkata, “Jika sekarang aku seperti seorang tumenggung, maka besok aku tentu seperti seorang pangeran.”

Suara tertawa telah meledak. Tetapi suara tertawa itu terputus ketika seorang tua memasuki biliknya sambil berkata, “Angger Swandaru. Jika kau sudah selesai berpakaian, marilah, duduklah di pendapa. Beberapa orang-orang tua dari Tanah Perdikan Menoreh yang belum pernah melihatmu, ingin bertemu barang sebentar. Sedangkan mereka yang telah mengenalmu saat api berkobar membakar ingin melihatmu dalam pakaian yang lain dari pakaian seorang yang hidup dalam asap api peperangan yang menyala di Menoreh ini.”

Swandaru mengangguk sambil menjawab, “Baik, Paman. Aku akan segera pergi ke pendapa.”

Ketika orang tua itu pergi, maka orang-orang tua dari Sangkal Putung yang melayaninya pun segera mempersiapkan Swandaru dan kemudian membawanya ke pendapa.

Ternyata di pendapa rumah yang disediakan bagi pengantin laki-laki itu sudah ada beberapa orang tua dari Menoreh yang duduk menunggu. Ketika mereka melihat Swandaru, maka mereka pun segera bergeser sambil memandanginya dengan penuh kekaguman.

“Inilah calon menantu Ki Gede,” berkata seorang tua yang pernah mengenal Swandaru sebelumnya. Kemudian dengan senyum di bibirnya ia mempersilahkan Swandaru duduk di sebelahnya.

“Hampir setiap orang dari Tanah Perdikan ini telah mengenalnya,” berkata orang tua itu, “meskipun ia seorang anak muda dari Sangkal Putung dan saat ini ia baru merupakan calon menantu Ki Gede, namun sebenarnyalah ia memiliki jasa yang barangkali lebih banyak dari anak-anak muda daerah ini sendiri atas Tanah Perdikan Menoreh.”

Setiap orang di pendapa itu mengangguk-angguk. Apalagi yang memang sudah mengenal Swandaru dalam peperangan yang pernah menyala di atas Tanah Perdikan ini. Sedangkan mereka yang belum mengenal dari dekat pun mengangguk-angguk sambil bergumam, “Jadi, inilah anak muda yang dikagumi oleh setiap orang dari Tanah Perdikan Menoreh.”

Di sudut lain dari pendapa itu, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar duduk berdekatan. Di belakangnya Agung Sedayu rasa-rasanya menjadi sangat gelisah oleh perasaan sendiri.

Tetapi ternyata bukan saja Agung Sedayu yang menjadi gelsah karena persoalannya sendiri, tetapi rasa-rasanya di hati Kiai Gringsing pun telan membayang sesuatu yang menggelisahkannya pula. Ia melihat sikap Swandaru yang mulai dibayangi oleh sifat dan wataknya yang sebenarnya. Di dalam asuhannya, Kiai Gringsing masih sempat mengendalikan sifat dan watak anak muda yang gemuk itu. Namun dalam saat-saat tertentu sifat itu masih juga muncul di luar sadar.

Dan kini Swandaru duduk dengan dada tengadah. Sambil mengangguk-angguk kecil ia tersenyum mendengarkan pujian orang-orang Menoreh atasnya. Bahkan seorang tua berkata, “Angger Swandaru tidak perlu merasa berada di tempat lain. Tanah Perdikan Menoreh adalah rumahmu sendiri. Pandan Wangi adalah satu-satunya anak Ki Gede. Jadi siapa lagi yang kelak akan mengendalikan Tanah Perdikan ini selain Angger Swandaru.”

Rasa-rasanya dada Swandaru menjadi penuh dengan kebanggaan. Tiba-tiba saja ia melihat orang-orang yang ada di sekitarnya itu pada suatu ketika akan tunduk di bawah perintahnya. Orang-orang tua dari Sangkal Putung tentu akan menghormatinya sebagai pewaris satu-satunya dari kademangan yang besar dan subur itu, sedangkan orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh menganggapnya sebagai orang yang paling berjasa dan bahkan yang kelak akan menggantikan kedudukan Ki Gede Menoreh. Sehingga dengan demikian, ketika terpandang olehnya dalam cahaya obor dedaunan yang hijau kehitam-hitaman di halaman, maka rasa-rasanya ia melihat Tanah Perdikan Menoreh yang terbentang di bawah bukit Menoreh yang membujur ke Utara itu sebagai tlatah yang sudah berada di bawah kekuasaannya.

Sanjungan orang-orang Menoreh terhadapnya, membuat dada Swandaru rasa-rasarya menjadi bertambah sesak oleh kebanggaan tentang dirinya, sehingga dalam saat yang demikian, ia tidak ingat lagi untuk memanggil Agung Sedayu agar duduk di sebelahnya mengawaninya seperti ketika ia kesepian di saat-saat menjelang hari perkawinannya di Sangkal Putung. Meskipun Swandaru melihat juga Agung Sedayu yang duduk di belakang gurunya dan Ki Sumangkar, namun ia sama sekali tidak memanggilnya, bahkan menegurnya.

Tetapi Agung Sedayu sama sekali tidak memperhatikan sikap Swandaru. Ia sedang digelisahkan oleh perasaannya sendiri. Karena itulah, maka meskipun ia duduk di pendapa, di antara beberapa orang lain yang sibuk membicarakan Swandaru, namun angan-angannya telah menerawang ke dunia angan-angan yang sangat jauh.

Berbeda dengan Agung Sedayu, maka Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mulai memperhatikan Swandaru pada saat-saat yang agak terlepas dari kebiasaan yang ditempakan oleh Kiai Gringsing terhadapnya. Di medan perang, di padang pengembaraan, dan di pematang yang berlumpur, Swandaru sempat mengendalikan diri. Tetapi di tengah-tengah orang-orang tua yang seolah-olah mengerumuninya untuk menyatakan kekaguman mereka, di antara puji dan sanjung, maka yang telah terdesak jauh ke bawah pengendalian diri, di luar sadar telah melonjak kembali. Sebagaimana sifat dan watak anak muda yang bertubuh gemuk itu, yang sejak masa kanak-kanaknya hidup dengan manja dan terpenuhi segala keinginannya.

Sementara itu, di rumah Ki Gede Menoreh, Pandan Wangi pun telah mulai dikerumuni oleh orang-orang perempuan yang ingin melihat wajahnya yang tentu menjadi berbeda dengan wajahnya sehari-hari. Hampir setiap orang menjadi kagum akan kecantikan gadis itu. Setiap orang yang sehari-hari mengenalnya sebagai seorang gadis yang lembut tetapi di saat-saat tertentu dapat berubah menjadi harimau betina itu, menjadi terheran-heran melihat wajah yang seakan memancarkan cahaya yang menyilaukan.

Namun perempuan-perempuan itu pun ikut serta menahan hati ketika mereka melihat, di mata gadis yang cantik itu telah mengembang air mata. Mereka menyadari, bahwa tentu ada sesuatu yang bergejolak di hati gadis itu. Adalah wajar sekali bahwa di saat menjelang hari perkawinan, tetapi tidak ditunggui oleh ibunya yang sudah mendahului menghadap Tuhannya, rasa-rasanya hati menjadi pedih.

Tetapi tidak seorang pun yang mengetahui, bahwa perasaan Pandan Wangi bukannya sekedar berhenti pada kesepian yang mencengkamnya di dalam keramaian itu. Bukan saja bahwa ia tidak ditunggui oleh ibunya. Namun gambaran ibunya itu telah dirangkapi oleh peristiwa-peristiwa yang telah melibatkan keluarganya ke dalam bencana.

Tiba-tiba saja terbayang saat-saat ibunya dikerumuni oleh perempuan-perempuan tua seperti dirinya saat itu. Namun ibunya sudah bukan seorang gadis lagi, karena kehadiran seorang laki-laki lain di samping ayahnya yang kemudian menjadi kepala Tanah Perdikan ini.

“O,” sebuah keluhan telah menggetarkan bibirnya. Tetapi Pandan Wangi kemudian sempat bersukur. Meskipun di hatinya juga terukir dua wajah laki-laki, namun ia telah memasuki jenjang perkawinan dengan kegadisannya yang utuh.

“Tetapi hatiku tidak utuh,” Pandan Wangi berteriak di dalam hati, “ini berarti aku sudah mulai berkhianat di hari permulaan.”

Rasa-rasanya hati Pandan Wangi menjadi semakin pedih. Bagaimana pun juga ia berusaha, namun air yang mengalir dari matanya menjadi semakin deras. Bahkan Pandan Wangi pun kemudian terisak-isak. Setiap kali lengannya mengusap air di matanya, maka rias di wajahnya pun menjadi tergores oleh usapan itu pula.

Perempuan tua yang meriasnya melihat Pandan Wangi menangis. Dengan sabar ia pun kemudian membisikinya, “Sudahlah, Pandan Wangi. Kau tidak perlu menangis di mata yang berbahagia ini. Apa pun yang menyebabkan kau menangis, sebaiknya kau sisihkan dari hatimu. Setiap orang yang datang di malam ini ingin melihat wajahmu yang cantik dan cerah. Jika wajahmu kau hiasi dengan air mata, maka pertemuan di malam midadareni ini akan menjadi suram.”

Pandan Wangi mengangguk.

“Marilah, aku perbaiki rias di wajahmu.”

Pandan Wangi tidak menyanggah. Dibiarkannya perempuan tua itu memperbaiki rias di wajahnya yang basah oleh air matanya. Dengan sekuat hati ia kemudian melawan tangis yang masih saja terasa menyekat lehernya.

Dalam pada itu, Sekar Mirah yang ikut menunggui Pandan Wangi telah tersentuh pula oleh perasaan iba. Gadis itu tidak beribu lagi. Itu sajalah yang berkesan di hatinya. Tidak lebih.

Untuk mengurangi perasaan pepat di hatinya, Sekar Mirah justru telah meninggalkan ruang itu dan turun ke halaman. Terasa angin malam yang sejuk telah menyentuh tubuhnya. Tubuhnya yang langsing sesuai dengan kemampuannya memegang pedang. Tetapi tubuh itu juga penuh berisi.

Dalam saat-saat seperti itu, seperti juga para pengiring yang lain, Sekar Mirah pun telah berpakaian dengan rapi. Ia pun mencoba merias dirinya sendiri, agar di dalam suasana yang cerah itu, ia tidak nampak terlampau suram jika pada suatu saat ia harus berada di samping Pandan Wangi.

Sejenak Sekar Mirah termangu-mangu. Dipandanginya beberapa orang yang nampak selalu sibuk kian kemari. Cahaya obor yang terang benderang di seluruh halaman dan rasa-rasanya Tanah Perdikan malam itu tidak akan tidur sama sekali. Di sudut padukuhan induk sekelompok anak-anak muda yang berjaga-jaga telah membuat suasana menjadi semakin ramai. Sedangkan di banjar, terdengar suara gamelan yang riuh. Di banjar itu ternyata sekelompok anak-anak muda sedang berlatih menari. Besok mereka akan meramaikan hari perkawinan Pandan Wangi yang meriah.

Pada saat Sekar Mirah termenung di bawah cahaya obor di halaman, seorang anak muda lewat dengan tergesa-gesa, melintas di hadapannya. Semula anak muda itu tidak menghiraukan Sekar Mirah yang juga tidak memperhatikannya. Namun tiba-tiba saja anak muda itu berhenti sejenak. Dipandangnya wajah gadis itu sesaat.

“Sekar Mirah,” sapa anak muda itu.

Sekar Mirah berpaling. Sambil mengerutkan keningnya ia mencoba mengamati wajah itu. Namun Sekar Mirah pun kemudian tersenyum sambil menyahut, “Kau nampak sibuk sekali, Prastawa.”

Prastawa pun tertawa. Jawabnya, “Tidak. Aku sekedar membantu. Apa saja yang dapat aku lakukan. Aku tidak dapat berbuat lebih banyak dari menyerahkan tenagaku. Apalagi aku agak terlambat datang.”

“Kenapa kau baru datang hari ini?”

“Aku berada di rumah ini. Tetapi tiga hari yang lalu, aku pulang untuk menunggui rumah, karena ayah dan ibuku ada di sini.”

“Ya. Aku sudah melihat ayah dan ibumu sore tadi. Tetapi bukankah sekarang rumahmu juga kau tinggalkan.”

“Terpaksa. Tetapi sudah aku serahkan kepada para penjaga.”

“Kau sudah bertemu dengan Kakang Swandaru dan Kakang Agung Sedayu?”

Prastawa menggeleng, “Belum. Aku terlalu sibuk. Aku harus pergi ke sana ke mari mencari perlengkapan yang kurang. Meskipun Paman Argapati sudah menyiapkan lama sebelumnya, tetapi ternyata masih ada juga yang kurang.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Katanya, “Itu wajar sekali. Di mana-mana pun terjadi serupa itu. Hal-hal di luar perhitungan kadang-kadang tumbuh di saat yang sudah terlalu dekat seperti sekarang ini.”

“Maaf, Sekar Mirah,” berkata anak muda itu, “aku harus menemui ibuku, karena aku sedang melakukan sesuatu untuknya.”

Sekar Mirah tersenyum. Jawabnya, “Silahkan.”

Prastawa pun tersenyum pula. Di luar sadarnya ia memandang wajah Sekar Mirah yang meskipun sederhana telah merias dirinya.

Terasa sesuatu tergerak di hati anak yang masih sangat muda itu. Sekar Mirah yang pernah dikenalnya sebagai seorang gadis bersenjata seperti Pandan Wangi itu, kini nampak benar-benar sebagai seorang gadis yang cantik. Wajahnya yang agak tengadah, dan dagunya yang terangkat, di mata Prastawa membuat Sekar Mirah nampak sebagai seorang gadis yang berwibawa dan penuh dengan gairah hidup yang menyala di dadanya.

Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun hampir di luar sadarnya sesuatu merambat di wajahnya yang cantik. Namun kemudian terasa wajah itu menjadi panas.

Ketika Sekar Mirah kemudian menundukkah wajahnya itu, dengan tergagap Prastawa berkata, “E, sudahlah. Aku minta maaf Sekar Mirah. Aku akan ke belakang.”

Sekar Mirah mengangguk kecil. Namun hampir di luar sadarnya, bibirnya terbersit sepercik senyum.

Dengan tergesa-gesa Prastawa meninggalkan gadis itu berdiri temangu-mangu. Namun tanpa dikehendakinya, Prastawa itu berpaling setelah beberapa langkah ia meninggalkan Sekar Mirah. Untunglah bahwa Sekar Mirah saat itu tidak sedang memperhatikannya karena seorang perempuan yang lewat sedang menyapanya.

“Sekar Mirah nampak cantik sekali,” desis Prastawa yang masih sangat muda itu. Namun kemudian ia berdesis, “Apa peduliku. Ia datang bersama Agung Sedayu. Sudah tentu setelah Swandaru, maka Sekar Mirah pun tentu akan kawin pula.”

Prastawa pun kemudian mengeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah ingin mengibaskan angan-angan itu dari kepalanya. Namun rasa-rasanya bayangan itu justru melekat di pelupuk matanya. Dan setiap kali ia bergumam di dalam hati, “Sekar Mirah memang cantik. Cantik sekali.”

Sementara itu. Sekar Mirah pun kemudian melangkahkan kakinya. Sejenak ia berdiri termangu-mangu di halaman. Namun kemudian ia pun pergi ke regol yang terang benderang.

Sekali lagi ia tertegun ketika ia bertemu dengan seorang anak muda yang menyapanya. Ketika Sekar Mirah memperhatikan wajah yang kemerah-merahan oleh cahaya obor itu, maka ia pun berdesis, “Rudita.”

Rudita tersenyum. Jawabnya, “Ya, Sekar Mirah. Kau masih ingat aku?”

Sekar Mirah tersenyum pula sambil bertanya, “Kau sudah bertemu dengan Kakang Swandaru dan Agung Sedayu?”

“Sudah. Aku juga baru saja dari pondok Swandaru. Ia sudah selesai berpakaian. Wajahnya nampak cerah sekali. Di sana ada Agung Sedayu dan orang-orang tua.”

Sekar Mirah mengangguk-angguk. Rasa-rasanya ia ingin sekali pergi melihat Swandaru. Tetapi ia merasa segan pula, karena di sana tentu banyak anak-anak muda bukan saja para pengiring dari Sangkal Putung, tetapi juga anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah kau akan pergi ke sana Sekar Mirah?” bertanya Rudita.

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun ia pun menggeleng sambil menjawab, “Tidak sekarang.”

“Dan kau akan pergi ke mana?”

“Aku hanya kepanasan di dalam.”

Rudita mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Aku akan pergi ke belakang sebentar.”

“Silahkan,” jawab Sekar Mirah.

Rudita pun kemudian melangkah meninggalkannya. Langkahnya lamban dan seolah-olah sama sekali tidak mempunyai kepentingan apa pun dengan kesibukan di seluruh halaman itu, bahkan di seluruh Tanah Perdikan Menoreh. Berbeda sekali dengan langkah Prastawa yang cepat dan nampak sibuk sekali.

“Anak malas,” desis Sekar Mirah, “seharusnya ia bersikap sebagai anak laki-laki yang cekatan dan tangkas. Prastawa adalah gambaran dari seorang anak muda yang mempunyai gairah hidup yang besar.”

Untuk beberapa saat Sekar Mirah masih memandangi langkah Rudita yang lambat menuju ke gandok.

Sejenak kemudian barulah Sekar Mirah melangkah. Tetapi ia pun tidak dapat berdiri berlama-lama di regol halaman itu, karena di gardu sebelah beberapa anak muda duduk sambil berbicara dan berkelakar. Beberapa orang pengawal yang bertugas justru tidak mendapat rempat untuk duduk di dalam gardu sehingga mereka berdiri saja di sisi regol yang terang benderang di bawah lampu obor yang berlipat dari jumlah lampu obor yang bisa terpasang.

Dengan mereka-reka tentang hari depannya sendiri Sekar Mirah melangkah kembali ke ruang dalam.

“Untunglah, bahwa Kakang Swandaru-lah yang mendahului kawin,” berkata Sekar Mirah di dalam hatinya, “dengan demikian Kakang Agung Sedayu dapat mengukur, saat kita kawin nanti, perelatannya harus lebih meriah dari yang diselenggarakan sekarang.”

“Aku akan minta Ayah untuk menyelenggarakan perelatan di Sangkal Putung lebih baik dari yang diselenggarakan di Tanah Perdikan Menoreh ini. Sedang Kakang Agung Sedayu akan dapat penghormatan yang meriah di Jati Anom karena ia adalah seorang adik dari Senapati Besar, Untara.” Namun kemudian wajah Sekar Mirah menjadi berkerut ketika teringat olehnya, bahwa saat Untara kawin, Jati Anom tidak menyelenggarakan sesuatu yang mengejutkan. Perkawinan itu berlangsung sederhana di Banyu Asri.

“Tetapi,” katanya kemudian, “kehadiran utusan dari Mataram dan Pajang membuat perelatan itu mempunyai wibawa yang agung meskipun tidak meriah.”

Sekar Mirah termangu-mangu sejenak. Namun ia berniat untuk membicarakannya dengan Agung Sedayu. Perkawinan mereka harus diselenggarakan dengan meriah sekali. Lebih meriah dari perkawinan kakaknya, Swandaru.

Hampir di luar sadarnya, maka Sekar Mirah pun masuk kembali ke dalam bilik Pandan Wangi. Ia melihat orang perempuan berambut putih itu sudah memperbaiki rias Pandan Wangi yang dirusakkannya karena air matanya yang meleleh di pipinya. Meskipun demikian, wajah Pandan Wangi masih dibayangi oleh kepedihan hatinya, meskipun tidak ada orang yang dapat menebak dengan tepat, apakah sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.

Di luar kesibukan yang sedang berlangsung di Tanah Perdikan Menoreh, dua orang melintas perlahan-lahan. Keduanya telah menitipkan kuda mereka kepada seseorang yang belum mereka kenal sama sekali. Tetapi dengan berbagai macam alasan, mereka berusaha untuk dapat meyakinkan kepada orang yang dititipinya, bahwa kehadirannya semata-mata didorong oleh keinginannya untuk melihat perkawinan puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

“Tetapi aku belum mengenal kalian,” desis orang itu.

Sejenak keduanya berpandangan. Salah seorang dari mereka pun kemudian mengambil sesuatu dari kantong ikat pinggang kulitnya.

“Aku mempunyai uang sedikit. Barangkali dapat kau pergunakan untuk mengupah anak-anak agar besok dapat mencari rumput buat kudaku.”

“Selama hari-hari perelatan sampai hari kelima. Kami akan ikut mengiringi pengantin itu ke Sangkal Putung.”

“Tetapi kenapa kau titipkan kudaku di sini?”

“Itu lebih baik daripada aku membawanya kian kemari.”

Orang itu masih bingung. Namun tiba-tiba saja ia mengangguk-angguk ketika salah seorang dari kedua orang itu melemparkan uang kepadanya. Terlalu banyak dari dugaan yang tumbuh di hatinya.

“Aku kira kau memerlukan uang itu,” desis orang itu.

Sejenak orang yang semula ragu-ragu itu memandangi kedua orang yang terlalu baik kepadanya itu, yang melemparkan uang terlalu banyak jika dinilai dengan sekedar menitipkan dua ekor kuda meskipun ia harus mencari rumput untuk memberi makan kuda-kuda itu.

“Apakah masih kurang?” bertanya salah seorang dari kedua penunggang kuda itu.

“Apakah kau akan menambah lagi?”

“Gila,” geram yang lain, “kau terlalu tamak.”

Namun sikap itu justru menumbuhkan sesuatu di dalam hati pemilik rumah yang terhitung seorang yang miskin itu. Ketamakan benar-benar telah mencengkamnya, sehingga ia pun kemudian berkata, “Sebaiknya kalian menambah sedikit lagi, agar aku dapat mencarikan rumput segar bagi kudamu selama lima hari.”

“Itu terlalu banyak.”

“Ki Sanak. Sebenarnya kalian berdua menimbulkan kecurigaan padaku. Karena itu, kuda kalian di halamanku ini akan dapat menimbulkan banyak kesulitan. Karena itu, berilah sedikit uang tambahan. Aku akan mempertanggung-jawabkan semuanya.”

“Gila. Itu sudah cukup.”

“Mungkin ada tetangga yang melihat kedua kudamu ini. Mereka pun menjadi curiga seperti aku, lalu mereka pergi melaporkannya kepada para pengawal. Nah, sebelum mereka melaporkan kuda-kudamu, aku dapat mencegahnya dengan memberikan sebagian dari pemberianmu itu.”

“Itu adalah kegilaan yang tidak pantas,” tiba-tiba salah seorang dari kedua orang berkuda itu menarik pisau belati dari bawah bajunya. Sambil melekatkan ujung pisau itu di leher pemilik rumah itu ia berkata, “Kau mencoba memeras kami. Tetapi kami bukan orang yang terlalu baik hati. Jika terjadi sesuatu dengan kami di sini, maka sumbernya pasti kau. Ketahuilah, kami berdua mempunyai seribu kawan yang berkeliaran di Tanah Perdikan Menoreh. Masing-masing mengetahui keadaan dan kemungkinan yang terjadi dengan kawan-kawannya. Jika aku tidak berkumpul pada saatnya, maka mereka mengetahuinya, siapakah yang harus ditangkap, diseret di belakang kaki kuda, dan kemudian dilemparkan ke dalam kedung di pusaran Kali Praga untuk dijadikan makanan buaya. Bukan hanya kau, tetapi aku tahu, kau mempunyai anak yang masih kecil-kecil. Nah, tulangnya tentu masih lunak, dan tentu menyenangkan sekali bagi buaya-buaya kerdil di kedung itu.”

Wajah orang itu tiba-tiba menjadi pucat. Ketika ujung pisau itu menyentuh kulitnya, ia mundur selangkah.

“Jangan, jangan.”

“Kau orang yang sangat tamak. Nah, katakan sekali lagi bahwa kau minta uang tambahan.”

“Tidak. Tidak. Itu sudah cukup.”

“Jangan mencoba melaporkan kehadiranku di sini, jika kau masih sayang kepada nyawamu, anak-anakmu yang masih kecil-kecil dan isterimu.”

“Tidak. Aku tidak akan melaporkannya.”

Kedua orang itu saling berpandangan sejenak, lalu, “Kami akan pergi. Setiap saat kami akan datang untuk mengambil kuda kami. Tetapi selama itu, orang-orang kami akan selalu mengawasimu. Ingat. Nyawamu, nyawa anak-anak dan isterimu. Aku masih baik karena aku tidak minta uang itu kembali.”

Kedua orang itu pun kemudian pergi. Tetapi sorot matanya penuh dengan ancaman, sehingga pemilik rumah itu menjadi semakin pucat. Namun ia benar-benar telah dicengkam oleh ketakutan, sehingga ia tidak berani berbuat apa pun juga. Meskipun sebenarnya memang ada kecurigaan di hatinya, tetapi ia tidak mempunyai keberanian untuk menyampaikan hal itu kepada para pengawal. Bahkan kemudian ia telah berusaha menyembunyikan kedua ekor kuda itu di longkangan belakang sehingga tidak seorang pun yang akan dapat melihat.

Kepada isterinya ia berpesan, agar tidak mengatakan apa pun juga tentang kedua ekor kuda itu kepada tetangga-tetangganya, dan bahkan anaknya yang masih kecil pun dipesannya juga, agar ia tidak berceritera kepada kawan-kawannya tentang kuda-kuda itu.

“Jika anak-anak menyebut tentang kuda-kuda hantu itu, maka lidahnya akan berkerut. Semakin lama menjadi semakin pendek, sehingga akhirnya lidah itu akan habis. Nah, jika lidahmu habis, kau tidak akan dapat berbicara lagi,” ayahnya mencoba menakut-nakuti anak-anaknya.

Anak-anak kecil itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka memang benar-benar menjadi ketakutan sehingga mereka sama sekali tidak berani menyebut tentang kedua ekor kuda yang berada di longkangan itu.

Dalam pada itu, kedua penunggang kuda itu pun dengan leluasa berada di Tanah Perdikan Menoreh. Di siang hari mereka akan bersembunyi di hutan-hutan kecil, sedang di malam hari mereka akan muncul untuk melihat perelatan yang meriah di Tanah Perdikan Menoreh.

“Kenapa kita harus berada di sini selama lima hari?” bertanya yang seorang.

“Kita akan mengikuti mereka ke Sangkal Putung. Bukankah tugas kita mengawasi hasil dari usaha Gandu Demung untuk merampas harta kekayaan yang ada pada sepasang pengantin itu bersama pengiringnya?”

“Tetapi menurut keterangan yang kami terima, hal itu akan dilakukannya di daerah Sangkal Putung.”

“Kita tidak tahu, tempat yang mereka pilih dengan tepat. Jika kehadiran kita terlihat oleh Gandu Demung, karena tiba-tiba saja kita telah terjerumus di tempat persembunyiannya, maka tugas kita akan gagal. Gandu Demung mengetahui bahwa tingkah lakunya selalu diawasi. Mungkin ia akan mengambil sikap yang tidak terduga-duga untuk melepaskan dirinya dari pengawasan yang tentu tidak akan disukainya.”

“Jadi, apakah kita akan berada di dalam iring-iringan pengantin?”’

“Kau memang bodoh. Kita akan mengikutinya dari kejauhan. Tetapi jika benturan itu memang benar-benar terjadi, kita akan melibatkan diri.”

“Aku mengerti. Tetapi kenapa kita harus mengikutinya dari tempat ini, itulah yang semula aku bingung. Tetapi keteranganmu memberikan sedikit gambaran yang jelas padaku.”

Kawannya mengangguk-angguk. Sambil menepuk bahunya ia berkata, “Jadi kau sudah mengerti alasannya kenapa kita lebih baik mengikuti pengantin itu daripada mendahuluinya dan mencari tempat Gandu Demung menghadang mereka?”

“Ya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi di sini rasa-rasanya aku tersiksa. Semua orang bersuka ria dengan hidangan yang cukup bahkan berlebihan, kita sama sekali tidak mendapatkan apa-apa.”

“Kita dapat mencari jauh lebih banyak, jika hanya sekedar untuk makan.”

“Tidak dapat. Itu menyalahi pesan Gandu Demung. Ia mengharap Tanah Perdikan Menoreh menjadi tenang dan tidak terganggu apa pun juga untuk melupakan kesiagaan orang-orang Menoreh.”

“Kau benar-benar bodoh. Kita dapat berpacu sejenak keluar dari Tanah Perdikan ini. Di kademangan-kademangan kecil kita akan mendapatkan sesuatu jika sekedar ingin makan sampai perutmu pecah. Daging ayam, telur, daging lembu, dan apa lagi yang lebah enak dari semuanya itu?”

Kawannya tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Dengan demikian, maka keduanya dengan leluasa dapat menjelajahi padukuhan-padukuhan di sekitar padukuhan induk tanpa dicurigai. Disiang hari mereka lewat seperti kebanyakan orang lewat di jalan-jalan raya. Di malam hari, dalam kelamnya malam mereka merayap mendekati padukuhan induk, dan hilang bercampur baur dengan orang-orang yang ingin melihat latihan di banjar, dan bahkan kemeriahan di tempat lain karena di padukuhan induk dan sekitarnya, beberapa anak-anak muda dengan sengaja berjalan-jalan dari padukuhan yang satu ke padukuhan yang lain. Selain sekedar untuk mengisi kemeriahan yang bergejolak di dalam hati, di antara mereka terdapat anak-anak muda yang termasuk para pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang sedang mengamati keadaan.

Tetapi seperti yang dikehendaki oleh Gandu Demung, Tanah Perdikan Menoreh benar-benar tidak terganggu oleh apa pun juga.

Karena itulah maka semua acara di Tanah Perdikan Menoreh itu dapat berjalan lancar tanpa gangguan suatu apa. Bahkan di antara beberapa orang pengawal Tanah Perdikan Menoreh sendiri, maka Gandu Demung memang sengaja menyebarkan beberapa orang yang ikut serta mengawasi keadaan dan mencegah segala macam kejahatan.

Ketenangan di Tanah Perdikan Menoreh itu benar-benar telah mempengaruhi kesiagaan para pengawal. Justru karena mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, maka semakin lama, mereka pun seakan-akan semakin tenggelam ke dalam kelengahan. Para pengawal yang berada di gardu-gardu, maupun yang bertugas melakukan pengawasan keliling, terseret oleh kegembiraan anak-anak muda, sehingga mereka tidak lagi bersikap sebagai pengawal dalam tugas sandi, namun mereka benar-benar telah berada dalam arus kemudaan mereka.

Meskipun demikian, memang tidak ada suatu pun yang terjadi. Tidak ada kerusuhan, dan tidak ada gangguan apa pun juga. Malam midadareni itu berlangsung dengan tenang. Setiap wajah nampak cerah dan gembira. Apalagi keluarga terdekat Pandan Wangi. Lewat tengah malam mereka beramai-ramai sesaji. Ingkung ayam jantan dengan segala macam kelengkapannya.

Tetapi di antara kemeriahan itu, terdapat beberapa kegelisahan yang tersembunyi. Pandan Wangi sendiri telah digelisahkan oleh kesadarannya tentang dirinya yang bernoda suram atas kesetiaannya kepada suaminya di saat permulaan, meskipun tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Tetapi ia tidak dapat berkata demikian kepada dirinya sendiri.

Yang lain, yang juga dicengkam oleh kegelisahan adalah Agung Sedayu. Bukan saja karena ia memandang wajah Pandan Wangi meskipun hanya sekilas, tetapi ia sudah mulai membayangkan, apa yang akan terjadi di saat perkawinannya nanti dengan Sekar Mirah.

“Ada sesuatu yang lain pada gadis itu dengan keinginanku,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa gadis itu telah menarik hatinya. Ia tidak dapat melupakan Sekar Mirah pada saat-saat ia berkenalan dengan gadis itu. Tetapi sifat dan tabiatnya ternyata menyimpang dari sifat dan watak seorang gadis yang diidamkan.

“Malam yang gelisah,” desis Agung Sedayu di dalam hatinya ketika dadanya terasa menjadi pepat.

Yang tidak kalah gelisah dari mereka adalah Ki Waskita. Ia selalu dihantui oleh isyarat yang selalu dilihatnya. Bahkan rasa-rasanya terlampau sering, karena Ki Waskita sendiri setiap kali tanpa dapat menghindarkan diri, selalu ingin melihatnya. Ia tahu, bahwa tidak dapat diharapkan perubahan yang tiba-tiba. Tetapi kadang-kadang ia kehilangan kepercayaan kepada dirinya sendiri.

“Apakah yang akan terjadi?” ia bertanya kepada diri sendiri. Setiap kali tidak henti-hentinya. Dan warna-warna buram itu membayang di wajah Swandaru dan Agung Sedayu.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:23  Comments (63)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-96/trackback/

RSS feed for comments on this post.

63 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur Nuwun Ki GD, jenang penganten sampun dicaplok – empuk tenan – kulo bade tanduk.

  2. terima kasih ke GD suguhanipun kagem sarapan ..

  3. Matur nuwun ki GD

  4. nuwun sewu ki GD
    opo sing versi text wis gak metu yo
    tak enten enteni kok yo gak njebul….
    karuan nek ancene wis gak metu
    yo wis aku gak ngenteni maneh

  5. kok sejek buku no 95 isi tidak lengkap,kenapa ya

  6. Nuwun sewu poro kadhang cantrik, khushushon Mas Semprul, kulo badhe nyuwun wejangan wonten pundhi panggenanipun ngubdhuh kitab 96 lan sak lajengipun. Matur suwun.

  7. ki gede kapan kitab 97 bakal diturunkan, wis ngebet kepengin mangerteni kepriye ketemune rombongan pengantin klawan begal di jalanan alas mentaok.

    salut banget kepada ki gede SH Mintarjo bisa mengharu biru pembaca dengan mengetengahkan perubahan sifat swandaru yang menjadi tokoh utama bersama agung sedayu, mungkinkah swandaru ditinggal dalam cerita berikutnya atau mulainya permasalahan dari perugahan sifat swandaru

  8. aku baru mau ikut gambung niki…

    saya baru baca buku dapet halaman 62 rasanya pengen baca trus sampai habis…

    mohon koleksi lanjutanya para sedulur kabeh

    S Monggo Ki Samber Nyowo..

  9. MAtur nuwun……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: