Buku 94

94-00

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:20  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-94/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. Beres Pak Dhe GD,
    Diriku siap menemanimu, Bubak Lapak 94
    Anntreeee

  2. Ikut ngapleng 94 Ki Gede

  3. “Lah lijok…. meh wae aku ketinggalan gawe panggung organ tunggal nggo pestane Swandaru…”

  4. Senjata pusaka kyai gringsing apa ya ?…selain Cambuk tak bernama…

    • kalo nggak salah kangjeng kyai pistul

      • pisss ……

        tuulllll ………

  5. kyai gringsing tunggal guru dengan ayahnya ki gede banyu biru ( RANGKUMAN CERITA BUKU 82)

  6. ikut antri
    Mohon Petunjuk para sesepuh untuk kitab 93 dan 94.
    Matur nuwon

  7. “Mahesa Jenar,… dimana Pandan Wangi kau tinggalkan?”

    “Kitab-93/94 sdh dititipkan Ki GD pada Pandan Wangi…jangan sampai dia terlambat datang ke Menoreh”

  8. Ada apa didalam ADMB ditampilkan tokoh Rudita….?
    apa mungkin itu jlentrengke serat sabdodjati !

    ” resikno pikirmu, jujurna atimu ,tansah anggeloro kautaman, wohe ono swargo – tentrem. tepo tulodo……………
    mohon pencerahan kadang cantrik .

  9. Ki GD, kula nderek atri nggih…

  10. … Setelah semuanya siap, iring-iringan penganten dari Sangkal Putung itupun mulai berjalan meninggalkan pendopo kademangan, hampir seluruh warga kademangan hadir untuk melepaskan iring-iringan tersebut.
    Agung sedayu dengan ragu-ragu kembali bertanya kepada Kiai gringsing: Guru, apakah pusaka itu sudah diserahkan kepada para pembantu Ki Demang?

    Kiai Gringsing dengan sareh menjawab: Sudah, pada saatnya nanti Pusaka itu akan diberikan kepada para cantrik, marilah kita berangkat sekarang Sedayu.
    Mari guru, jawab Agung Sedayu.

    Kemudian Kiai Gringsing pun berjalan mengikuti iring-iringan itu sambil berkata dalam hati, mudah-mudahan para pembantu tidak lupa membagikan kitab pusaka yang berisi jurus ke 94 kepada para cantrik di kademangan

    xixixi,
    Ki KontosWedul

  11. Matur suwun Ki GeDe…atas hidangan ala kadarnya, jenang alot dan wedang sare….lumayan untuk teman antri menunggu kitab 94.
    Terima kasih…eh hampir kelupaan…absen Ki GeDe…hehehe…gara2 jenang alot hampir lupa absen…

  12. nɾlɐs uɐɾnɥ ıuɐɯǝʇ ıp’˙˙ɹɹɹɹɹq
    ˙˙˙nɾǝʞ ıʇoɹ uɐdɐɹɐs ıʇɐɯʞıuǝɯ
    nɾɐlǝɯ ƃuɐʎ 49 ʇoʞƃuɐ nƃƃunuǝɯ dɐıs

  13. Saya ikut mengiringi ki Gede ke Menoreh…

  14. Dalem nggih absen kiai …….. sugeng natal dumateng ingkang merayakan…..nuwun

  15. Saya ndak ikut ngantri lho Ki Gede. Lha wong saya bacanya baru sampe buku 82 je. Cuwa mo ngramein aja. Biar tambah semangat.

    Selamat untuk yg merayakan Natal

  16. wah siang ini terasa sepi ki GD , padahal banyak waktu luang nih…

  17. ILMU CAMBUK

    Saya dulu mbaca dari sisa2 warisan Nenek mulai dari episode II jilid 65 (perang pajang mataram), trus lanjut sampai saya beli sendiri sampai meninggalnya almarhum.

    Nah , yang saya bingung soal ilmu cambuk. Setahu saya, semakin meningkat level ilmu cambuk ini, mestinya suara yang ditimbulkan kan makin tidak terdengar oleh orang awam, tapi bisa dirasakan oleh orang2 yang berilmu tinggi. Bahkan pada puncak ilmunya bisa mengeluarkan petir putih kebiru2an.
    Sampai episode ini suara cambuk Kyai Gringsing masih meledak2, artinya masih belum apa2, tapi kenapa juga masih susah payah melawan Panembahan Alit. Rasanya ndak terlalu masuk akal juga kalau lawan2 Agung Sedayu atau Swandaru di masa depan jauh lebih sakti dari lawan2 kyai gringsing di masa2 sekarang.

    Piye ki sanak kadang?

  18. Betul Kisanak, akan tetapi sudah barang tentu orang-orang terdahulu tidak kalah sakti justru karena mereka kesaktian itu diturunkan kepada orang-orang sesudahnya.
    Bagi orang yang tidak senang berperang dan membunuh hanya karena suatu alasan mempertahankan hak akan banyak pertimbangan untuk tidak melukai lawannya terlampau parah dengan harapan dapat disadarkan kepada kebenaran.

    Dan disinilah letak pesan moral dari si penulis bahwa tidak ada orang yang paling sakti tanpa ada yang menandingi.

    Akan tetapi ini adalah kesan yang muncul dari saya yang justru kurang mengerti akan hal ini.

  19. Rahasia masa lalu Kiai Gringsing akan terus menjadi pertanyaan, mungkin sampai para cantrik selesai menekuni ilmu ABDM sampai tuntas, atau mungkin tidak akan bakal bisa ditemukan.

    Masalahnya adalah, bisa saja pengarang besar SHM sendiri juga bingung mencari tokoh sakti sezaman dengan Sultan Trenggono yang bisa menurunkan ilmu yang ngedap-edapi. Maka dibiarkan saja menjadi menjadi bahan khayalan bagi para cantrik sepanjang hidup.

    Kalau dicoba melakukan analisa, maka akan dimulai dari menghitung usia. Waktu Demak masih dipegang oleh Sultan Trenggana, Kebo Kanigoro yang masih terhitung sebagai pamannya belum berusia terlalu tua, sebab ia mempunyai anak yang lebih muda dari Karebet atau Arya Salaka.
    Sedangkan Mahesa Djenar, guru Arya Salaka, juga belum terlalu tua dan juga tidak muda lagi, sebab ia baru pacaran dan melangsungkan pernikahannya cengan cucu Ki Pandanalas. Katakanlah, kalau usia Karebet sekitar 20-25 tahun, maka usia Kebo Kanigara dan Mahesa Djenar sekitan 40-45 tahun.

    Jadi sekarang setelah Karebet jadi Sultan Pajang, Hadiwijaya, mungkin ia berusia 50 tahun, kalau ditilik dari usia Sutawijaya anak angkatnya yang kini masih relatif muda.

    Kalau begitu berapakah usia Kiai Gringsing, Sumangkar adik seperguruan Patih Mantahun ketika Sutawijaya mulai menebang alas Mentaok? Dilihat dari usia Ki Sumangkar yang adalah adik seperguruan Patih Mantaun, yang juga pernah mengabdi kepada Arya Penangsang, agaknya Ki Sumangkar maupun Kiai Gringsing masih lebih tua dari pada Sultan Hadiwidjaja. Dengan demikian, mungkinkah ia adalah murid dari Kebo Kanigoro atau Mahesa Jenar.

    Dalam dongeng Kiai Gringsing, ia menyebutkan bahwa bahwa gurunya adalah orang yang dekat dengan Kebo Kanigoro, sedangkan kakak seperguruan dari Guru Kiai Gringsing adalah Kakeknya sendiri, yang adalah sisa-sisa tokoh Majapahit.

    Kalau kakek Kiai Gringsing adalah Empu Windupati,atau Panembahan Ismaya, tokoh yang disegani Sultan Trengana atau pengeran Buntara atau Pasingsingan I, yang punya dua murid baik tapi pernah berbuat salah, bernama Radite Pasingsingan II) dan Anggara (?), lalu satu murid Murtad, Umbaran (Pasingsingan III), lalu siapakah kiranya adik seperguruan dari Pangeran Buntara (atau Empu Windujati), yang usianya tidak jauh berbeda dengan Kebo Kanigoro?

    Kemungkinan terdekat adalah Radite atau Anggara (murid Pasingsingan I), dengan catatan kalau Radite atau Anggara sekaligus adalah saudara seperguruan dengan Pasingsingan I. Sebagaimana Kebo Kanigara yang adalah anak dari Ki Pengging Sepuh dan sekaligus adik seperguruannya. Hubungan Radite dan Anggara dengan Kebo Kanigara cukup baik, karena anak perempuan Kebo Kanigara mendapatkan salah satu dari benda wasiat yang merupakan ciri dari Pasingsingan (Sementara yang satunya ditinggalkan kepada Arya Salaka).

    Kalau guru dari Kiai Gringsing adalah Gajah Sora – itu tidak mungkin sebab seperti pernah disebut, ilmunya tidak berapa tinggi dan mustahil ia adalah adik seperguruan dari Empu Windujati. Kalau yang dimaksud adalah Ki Gede Banyubiru tua (ayah Kebo Sora) – bagaimana mungkin usianya tidak terpaut jauh dari Kebo Kanigara?

    Jadi kesimpulannya adalah Guru Kiai Gringsing adalah adik seperguruan Empu Windujati yang usianya jauh lebih muda, seorang tokoh yang tidak pernah atau jarang muncul dalam kisah NSSI, tapi adalah sahabat Kebo Kanigara yang suka merantau, memantangkan ilmunya.

    Hee …. sambil nunggu jurus ABDM 94.

    • memang begitu, guru kyai gringsing yang sahabat ki kebo kanigoro adalah adik seperguruan empu windujati. yang kurang dikupas adalah perjalanan encarian ilmu mas karebet yang pada saat mudanya pernah nyantrik di karang tumaritis. tidak jelas ilmu apakah yang diperolehnya dari pangeran buntoro alias panembahan ismoyo alis pasingsingan tua. juga perjalanan perantauannya bersama ki pemanahan. waktu mudanya mas karebet pernah dalam asuhan kebo kanigoro karena ayahnya, kebo kenanga alias ki ageng pengging, guru mahesa jenar meninggal. Dalam kisah lain ki ageng pengging ini penganut paham manunggaling kawula gusti ajaran syech siti jenar. ki ageng pengging turut dihukum mati oleh sunan kudus.

  20. Soal ilmu Kia Gringsing, apalagi kemampuannya tak usahlah dibahas dulu. Malah nanti jadi spoiler, saya heran juga kenapa gak diedit sama Ki Gede.
    Toh nanti akan ketahuan juga kenapa ilmunya berubah menjadi lebih sakti.
    Jika kita baca lebih cermat jilid2 sebelum ini akan kelihatan bahwa Kiai Gringsing beberapa kali berkeluh apakah ilmu yang selama ini tersimpan rapat akan dipergunakannya kembali.

  21. Betul juga kisanak…kalau dicermati ilmu Kyai Gringsing di jilid 1 dan jilid 2 memang lain, jadi kesimpulammya kesaktian Kyai Gringsing di jilid 1 biasa saja walaupun sudah ngedap2i, jadi memang beliau menyimpan kesaktianya di jilid 1, mungkin di jilid 2 kesaktian musuh2nya semakin nggigirisi terpaksa beliau mengeluarkannya.

  22. 94 ….thanks >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

  23. lho emang kitab 94 sudah keluar ta ki?aku kok belum liat tanda2 sama sekali?

  24. “Ah..Ki Pallawa aya2 wae, bikin orang2 tua ini deg-deg-an sahaja….”

  25. Eeee… Ki Pallawa ini…
    untung ada Joko Tingkir n Pandan Alas, kalo tidak Ehmmmm….. mungkin udah uvek-ubek nih di bulak 94…
    He he he….(Ki Pallawa juga cukup sesat dan menyesatkan…!??)

  26. beneran neh,,,,,, kibab 94 udah siap unduh ne Ki..
    coba sabar Ki, untuk liat perawangannya….
    He he he….

  27. saat mahesa jenar di apgred ilmunya di suatu goa oleh ki kebo kanigara, dia melihat aryasalaka muridnya sedang berlatih tanding dengan karebet alias hadiwidjaya alias jaka tingkir??.., jaka tingkir saat itu masih muda, suka lelaku ke tiap padepokan katanya…
    jadi ga jauh2 amat dong ya jaman mahesa jenar dengan agung sedayu…, lho wong sultan hadiwidjaya juga masih tayang di adbm??…. maaf kalo salah…
    bagusnya kita tunggu juga ajian 94 nya…, sapa tau bisa ngalahkan ilmu bayang2 semu ngalindur Ki Pallawa….yg sudah bikin heboh jagat mataram…

  28. Ki Pallawa memang pintar bikin orang lain deg..deg..an.
    Semua cantrik sudah pingin mempelajari jurus 94, walau sebagian banyak jurus 93 belum selesai dipelajari.

    Hari ini libur, paling enak baca rontal sambil menunggu bonus dari Ki GD.

    Makasih… Ki Gede dan Ki Sukro yang bikin padepokan jadi dingin.

  29. Yang penting aku ikut antri..
    Suwun Ki GD..

  30. KUMPUL BARENG YUK
    Atas restu Ki Gede, saya mengundang kadang di seputar Jabotabek untuk ngumpul babat alas Mentaok pada Minggu (28/12) pukul 20.00 WIB. Kita kumpul dulu di Mal Kalibata, lobi depan. Jangan sungkan. Kaya miskin, tua-muda, sama saja. Saya cuma ingin membantu Ki Gede babad alas. Respons ditunggu sampai Sabtu (27/12) pukul 21.00.

  31. yang diluar jabotabek kok kagak diundang…??

  32. Boleh saja Ki. Undangan berlaku untuk semua kadang ADBM.

  33. Inyong yo melu ngantri de Nu2

  34. Ki Gede,…. kulo hadir —> antrii kitab 94.

    Ki Hartono,…. mhn maaf kulo ga iso ikut KUMPUL babat Alas Mentaok, terlalu jauh di seberang lautan, hehehe.

    Namun demikian, semoga KOPDAR cantriks ADBM di Mall Kalibata sukses adanya, n salam hormat utk semua.

    Wassalam

  35. Absen Ki Gede

    Saya tidak ikut ngantri, nggarai emosi. Hari baik, belajar sabar, kalau ikut ngantri bagaimana bisa sabar?

    Lagi pula, saya baru saja ngundhuh kitab 93. Malam ini masih ada teman tidur agak malam. Suwun Ki Gede

    Ngantri kitab 94 nya besok saja.

    Nuwun…..

  36. Kayaknya pada mutung Ya Wong 094-kitab nya sudah muncul kok mung diwolak walik wae, bikin bingung aja.
    Beberapa hari nggak OL ngunduh sebanyak-banyaknya.
    Matur Nuwun Ki GD.

  37. nuhun Ki Gede..
    masih anget 94 nya….

  38. numpang nyantap hidangan 94 buat makan malem Ki GD

  39. Eh….. (kaget….!!!)

    Ternyata, sebelum pulang ada yang bisiki kitab 94 sudah bisa diambil.

    Trima kasih Ki Gede, malam ini tidur berbekal dua kitab.

  40. hidangannya saya terima..

    maturnuwun Ki GD

  41. Ki GD, terima kasih atas ‘hidangan’ malamnya. Bukan main, di malam yang sepi dan dingin ini, ada hidangan yang hangat dari Ki GD. Namun ada kecenderungan yang aneh pada diri Ki Truno Podang. Dia tinggal kelas di kelas yang belajar 87, sementara rekan2nya telah melaju naik mempelajari jurus ke 94. Penyebabnya tak lain karena Ki Truno setiap buka ADBM-wordpress justru lebih menyukai membaca dan membuat ulasan2 di rubrik komentarnya. Semakin meningkat jurus yang diturunkan oleh Ki GD, Ki Truno semakin percaya diri untuk melakukan gerakan2 tanpa petunjuk buku dari Ki GD. Berbahayakah, seorang cantrik belajar dari suara hatinya, bukan dari petunjuk gurunya?
    Ki Hartono,I wish I can joint with you on December 28, but I have to go to Bandung for some reasons. So would you please give me apologizes for that ketidak bisaanku.
    Best regards,
    Ki Truno Podang

  42. Benar, hidangannya masih hangat,.. Terimakasih Ki

  43. Wow… tengkyu KI GEDE
    HIdangannya diterima….

  44. “tareng kyu Ki GD,… baru bisa unduh pagi ini…”
    “Ki Truno Podang sdh menggunakan bhs para lelembut”

  45. kyai pandan alas,trus yg 93 piye iki,durung nemu e…

  46. Sajak e Swandaru meh dadi nganten po.?

  47. Matur nuwun hidangannya

  48. masya Allah reeeeeeeeeeeeeeeek rek
    angele arep moco ae
    mas mas urip iku wis angel
    ojo ditambahi angel ae to maaaaaaaaaaaaaaaaaas mas

  49. Ki GD adbm 90 s/d 100 koq susah dibuka, piye to iki??

  50. Matur nuwun sanget Ki GD. Untung aja sekarang jaman dah serba komputer, coba kalo retype kitapnya masih pake rontal butuh waktu berapa puluh tahun buat ngerampungke kitap sing cantrik baca ini.
    Ngantri maleh, he he he.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: