Buku 94

Gandu Demung tahu pasti, serangan itu bukannya serangan yang sungguh-sungguh. Karena itu, maka ia pun tidak perlu meloncat menghindarinya. Gandu Demung yang memiliki pengalaman yang luas itu cukup mencondongan tubuhnya saja, sehingga serangan orang bertubuh jangkung itu tidak mengenainya.

Namun setelah itu, serangan yang lain pun segera menyusul. Bukan sekedar menggertak, tetapi langsung untuk membunuhnya dengan menikam jantung.

Gandu Demung yang bergelar Macan Hitam Berkuku Pedang itu pun mulai berloncatan. Semakin lama semakin cepat. Untuk melawan senjata ketiga orang yang mengepungnya itu pun, Gandu Demung telah menarik pedangnya.

Sejenak kemudian ternyata gelar yang dipergunakannya bukan sekedar gelar yang hampa. Pedang di tangan Gandu Demung itu pun tiba-tiba telah berputaran. Sejenak kemudian mematuk dan seolah-olah menerkam lawannya seperti kuku seekor harimau yang lapar.

Dalam benturan-benturan di permulaan perkelahian itu segera ternyata, bahwa kekuatan dan kemampuan Gandu Demung pantas disegani.

Tetapi lawannya merasa, bahwa mereka tidak bertempur seorang diri. Bertiga mereka menghadapi seorang saja yang bagaimana pun juga tangguhnya, namun mereka bertiga pun merasa memiliki bekal untuk melawannya.

Perkelahian di dalam gelapnya malam itu pun meniadi semakin sengit. Meskipun kadang-kadang mereka menjadi bingung, karena serangan yang gagal dan bahkan kemudian seolah-olah mereka telah bercampur baur sehingga sulit untuk membedakan lawan.

Tetapi justru Gandu Demung tidak pernah mengalami kebingungan serupa itu, karena ia justru seorang diri. Siapa pun yang bukan dirinya sendiri, tentulah salah seorang dari lawannya.

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun menjadi semakin sengit. Ketiga lawan Gandu Demung mencoba untuk mengambil jarak yang seorang dengan yang lain. Serangan mereka tidak lagi membuat mereka sendiri bingung, tetapi beruntun seperti ombak di pantai.

Gandu Demung terpaksa mengerahkan ilmunya untuk melawan ketiga lawannya yang menyerang berurutan, apalagi dari arah yang berbeda-beda. Senjata mereka satu demi satu menyambar dengan dahsyatnya.

Gandu Demung yang betapa pun dicengkam oleh kemarahan, namun ia tidak melupakan niatnya untuk membuat hubungan dengan gerombolan-gerombolan yang tersebar di sekitar Gunung Tidar, meskipun gerombolan yang satu ini adalah musuh bebuyutan dari gerombolannya sendiri, sebelum ia berhasil meningkatkan diri ke dalam gerombolan yang besar, yang dipimpin oleh seorang yang pilih tanding bernama Empu Pinang Aring.

Karena itu, maka sekali-sekali ia masih mencoba untuk menunjukkan bahwa ia tidak bermaksud bermusuhan.

Namun dengan demikian, akibatnya adalah sangat berbahaya bagi dirinya. Lawannya yang tidak mengerti keragu-raguan di hatinya merasa bahwa Gandu Demung tidak mampu melakukan perlawanan lebih dari mempertahankan diri.

Gandu Demung merasa tekanan lawannya semakin lama menjadi semakin berat. Namun ia masih mencoba memperingatkan. Katanya, “Apakah kalian sudah merasa cukup dan puas setelah kalian bertempur tanpa berhasil berbuat lebih dari berputar-putar?”

Tetapi jawaban yang didengar oleh Gandu Demung benar-benar di luar dugaannya. Salah seorang dari ketiga lawannya dari gerombolan Candramawa itu menggeram, “Kami merasa cukup dan puas setelah kami melompati mayatnya.”

“Jangan membuat aku kehilangan pengamatan diri,” desis Gandu Demung.

“Aku tidak peduli.”

“Aku dapat berbuat lebih banyak dari yang sudah aku lakukan.”

“Persetan,” yang jangkung menggeram, “jika kau dapat melakukan tentu sudah kau lakukan.”

Gandu Demung menggeretakkan giginya. Namun ia masih berkata, “Aku datang tidak dengan niat bermusuhan. Cobalah mengerti. Atau jika kalian bersedia membawa aku kepada pimpinanmu, Ki Bajang Garing.”

“Tutup mulutmu,” bentak yang jangkung sambil menyerang dengan dahsyatnya.

“Uh,” Gandu Demung meloncat surut sambil menarik kepalanya. Hampir saja senjata lawannya menyambar mulutnya.

Dengan demikian Gandu Demung merasa bahwa tidak ada gunanya lagi meyakinkan mereka. Tetapi sudah tentu dengan membunuh mereka bertiga, maka usahanya untuk menghubungi gerombolan-gerombolan di sekitar Gunung Tidar akan terganggu. Setidak-tidaknya gerombolan Candramawa dan sahabat-sahabatnya.

Tetapi selagi Gandu Demung itu diganggu oleh berbagai macam gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan hubungan yang sedang dirintisnya, lawannya justru menyerang semakin sengit, sehingga tiba-tiba saja terasa pundaknya telah disengat oleh perasaan pedih.

Gandu Demung meloncat surut beberapa langkah. Tangan kirinya telah bergerak di luar sadarnya, meraba pundak kanannya. Terasa cairan yang basah telah mengalir dari sebuah luka yang meskipun hanya segores kecil, namun cukup membakar jantung.

“Gila,” geram Gandu Demung, “kalian melukai aku. Melukai pundak kananku.”

Tetapi yang didengar adalah suara tertawa nyaring. Orang yang bertubuh jangkung menyahut di sela-sela suara tertawanya, “Kesalahanmu, Ki Sanak, kau menganggap bahwa daerah ini adalah daerah mati. Setelah kau pergi, kau mengira bahwa daerah ini tidak tumbuh dengan suburnya. Dan kini kau harus melihat, kekuatan-kekuatan baru yang tumbuh di tempat asalmu yang telah melampaui perkembangan ilmumu meskipun kau berada di lingkungan yang lebih memungkinkan.”

Kata-kata itu semakin membakar isi dadanya. Darahnya yang bagaikan mendidih telah bergolak sampai ke ujung ubun-ubun. Dengan suara yang datar Gandu Demung berkata, “Kalian memang orang-orang yang tidak dapat diajak berbicara. Kalian benar-benar tidak mempunyai otak, selain sedikit tenaga yang liar. Baiklah. Jika kalian benar-benar tidak mau mengerti dan melihat kenyataan yang kalian hadapi.”

Gandu Demung tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Lawannya telah menyerangnya bagaikan badai yang menghantam berurutan dari segenap arah.

Sekali lagi Gandu Demung terpaksa meloncat mundur. Tetapi kali ini Gandu Demung benar-benar telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dengan gigi gemeretak ia kemudian berkata, “Aku akan membunuh salah seorang dari kalian, kemudian mencoba untuk berbicara lagi.”

Namun Gandu Demung harus meloncat surut sekali lagi. Serangan lawannya menghantamnya sekali lagi dengan dahsyatnya.

“Memang tidak ada pilihan lain,” katanya di dalam hati. “Ketiga orang ini terlalu sombong.”

Kemarahan yang sudah tidak terkendalikan lagi, ternyata telah mencengkam jantung Gandu Demung. Itulah sebabnya maka kemudian ia telah mengerahkan kemampuannya untuk melawan ketiga orang yang sama sekali tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang dihadapi. Apalagi luka di pundak Gandu Demung, sama sekali tidak menguntungkan mereka, meskipun mereka merasa, bahwa luka itu adalah pertanda bahwa mereka bertiga akan segera dapat menguasai keadaan.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Gandu Demung telah mengerahkan ilmunya. Meskipun ia harus melawan tiga orang sekaligus, ternyata bahwa ia mampu mendesaknya, bahkan kemudian seolah-olah ketiga lawannya tidak lagi mendapat kesempatan sama sekali untuk mempertahankan dirinya.

“Gila,” teriak yang bertubuh jangkung yang mendapat tekanan terberat dari Gandu Demung, “panggillah kawan terdekat dengan isyarat. Orang ini agaknya telah menjadi gila.”

Ternyata perintah itu telah mendebarkan jantung Gandu Demung. Jika demikian, tentu berarti ia akan mendapat lawan semakin banyak.

Gandu Demung masih sempat melihat salah seorang dari ketiga lawannya mengambil sesuatu dari kantongnya. Sepotong carang pering apus, yang kemudian dilekatkan di mulutnya.

Gandu Demung mengerti bahwa sepotong carang itu tentu sebuah sempritan yang mampu berteriak nyaring, apalagi di malam hari yang sepi. Dengan suara sempritan itu menurut dugaannya, akan berdatangan beberapa orang yang akan mengepungnya.

Gandu Demung tidak mau mengalami kesulitan yang lebih parah lagi. Apalagi sebelum ia bertemu dengan sanak saudaranya dan mengutarakan maksudnya.

Karena itu, maka ketika orang yang meletakkan sempritan itu dimulutnya siap untuk ditiup, maka Gandu Demung telah mengerahkan segenap kemampuannya dan menyerang seperti badai sehingga karena itu maka orang yang membawa sempritan itu untuk selamanya tidak pernah sempat membunyikannya.

Yang terdengar justru sebuah keluhan yang tertahan ketika ujung pedang Gandu Demung sempat merobek dada orang itu dan mendorongnya jatuh terlentang.

“Gila, anak setan,” teriak orang bertubuh jangkung itu dengan kasarnya.

Tetapi Gandu Demung menjawab dengan suara yang geram, “Bukan salahku. Aku sudah berusaha mengajak kalian berbicara.”

“Kau akan dicincang sampai lumat oleh Ki Bajang Garing.”

“Jika ia ada, mungkin aku justru dapat berbicara dengan baik. Karena aku yakin, bahwa Ki Bajang Garing bukan orang sedungu kau.”

Lawannya yang semakin terdesak tidak sempat menjawab karena serangan Gandu Demung yang semakin dahsyat.

Namun dalam pada itu, mereka yang sedang bertempur itu terkejut ketika mereka mendengar suara tertawa yang berat. Suara yang telah menghentikan perkelahian itu untuk beberapa saat. Namun sementara itu Gandu Demung meloncat surut ke belakang dan bersiap menghadapi kemungkinan yang barangkali menjadi lebih buruk lagi baginya.

Dari dalam kegelapan Gandu Demung melihat sesosok tubuh yang pendek, lebih pendek dari dirinya sendiri, muncul diiringi olek seorang yang bertubuh kekar dan kuat.

“Kau luar biasa, Ki Sanak,” desis orang bertubuh pendek itu.

“Siapa kau?” bertanya Gandu Demung. Tetapi menilik ujudnya yang pernah dilihatnya sebelum ia meninggalkan tempat itu dan bergabung pada Empu Pinang Aring, maka ia yakin, bahwa orang bertubuh pendek itu adalah Ki Bajang Garing.

“Aku datang pada saat-saat terakhir dari perkelahian yang menarik ini. Namun aku masih mendengar kau berkata, bahwa jika kau bertemu dengan Ki Bajang Garing, maka kau akan mendapat kesempatan untuk berbicara.”

“Ya,” jawab Gandu Demung, “ketiga orang-orangmu yang dungu itu agaknya lebih senang mati daripada mendengarkan pendapatku.”

Ki Bajang Garing tertawa. Kemudian ia pun memberikan isyarat kepada kawan-kawannya untuk mundur dan menghentikan perkelahian.

“Baiklah, Ki Sanak. Supaya aku tidak juga kau sebut dungu, maka aku akan mendengarkan bicaramu. Mungkin kau punya usul atau punya pendapat yang baik dan menguntungkan meskipun kau sudah membunuh seorang anak buahku.”

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Sikap Ki Bajang Garing ternyata membuatnya justru lebih berhati-hati, karena nampaknya Ki Bajang Garing memiliki kepercayaan kepada diri sendiri yang besar.

“Tetapi aku ingin tahu, siapakah kau, Ki Sanak?”

“Aku sudah memperkenalkan diriku kepada orang-orangmu.”

“Sudah aku katakan, bahwa aku datang di saat-saat terakhir. Saat kau dengan kemampuan yang tinggi membunuh anak buahku.”

Gandu Demung termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berdesis, “Aku adalah Gandu Demung, anak Carangsoka.”

“He,” wajah Ki Bajang Garing menjadi tegang. Namun hanya sesaat karena kemudian ia pun tersenyum, “aku sudah mengenalmu. Anak muda yang pendek hampir seperti aku. Tetapi orang tua mudah lupa. Bukankah kau anak muda yang pernah menggemparkan daerah ini sebelum kau pergi untuk waktu yang lama?”

“Aku berada di lingkungan Empu Pinang Aring yang sekarang berada di kaki Gunung Tidar.”

“O, bukan main. Kau memang pantas berada di lingkungan yang lebih besar daripada sekumpulan tikus-tikus kecil yang dipimpin oleh ayahmu itu.”

“Ya. Aku menyadari. Karena itu aku pergi,” ia berhenti sejenak, lalu, “tetapi pada saat yang penting ini aku telah bertemu bukan saja tikus-tikus kecil, tetapi cecurut yang dungu. Nah, apa katamu tentang orangmu yang mati?”

“Tidak apa-apa. Bahkan aku mengagumimu. Apalagi kau sekarang berada di bawah perlindungan Empu Pinang Aring yang tentu mempunyai pengaruh pula. Untunglah bahwa kau belum menjadi cidera. Karena dengan demikian Empu Pinang Aring akan dapat terseret dalam tindakan yang keras dan kasar di daerah ini.”

“Bukan sekedar basa-basi. Hal itu memang dapat terjadi. Dan kau harus mengerti, bahwa bagi Empu Pinang Aring, maka hampir tidak pernah ada kesempatan hidup bagi lawan-lawanya meskipun ia menyerah.”

“Aku sudah mendengar. Ia adalah di seorang pembunuh yang baik. Tetapi tentu saja hanya orang-orang yang dapat diketemukannyalah yang akan dapat dibunuhnya. Orang yang sempat mengelak Empu Pinang Aring tidak akan dapat membunuhnya.”

“Aku tahu, bahwa itu adalah senjatamu satu-satunya, dan menjauhinya tanpa diketahui di mana ia bersembunyi,” sahut Gandu Demung. “Karena bagimu dan kelompokmu, tidak ada kesempatan lain daripada berbuat demikian. Seperti yang dilalukan oleh ayahku sendiri.”

Ki Bajang Garing mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa berkepanjangan.

Orang-orang yang mendengar suara tertawanya menjadi berdebar-debar. Agaknya ada sesuatu yang ditekan di dalam hati Ki Bajang Garing. Agaknya kenyataan hadirnya Empu Pinang Aring sangat menyakitkan hatinya. Tetapi ia ternyata tidak dapat berbuat apa-apa.

“Ki Bajang Garing,” berkata Gandu Demung, “kau memang harus menyadari keadaan itu. Ayahku pun menyadari dan pemimpin-pemimpin kelompok jadi semakin terbatas.”

“Baiklah, aku akan melihat kenyataan itu. Tetapi cepat katakan, apa yang penting aku ketahui sekarang?”

“Ki Bajang Garing,” berkata Gandu Demung kemudian, “aku telah mendapat kepercayaan khusus dari Empu Pinang Aring kali ini. Empu Pinang Aring yang sedang sibuk itu, ternyata tidak mempunyai waktu lagi untuk melakukan sesuatu yang sebenamya sangat bermanfaat bagi lingkungannya. Itulah sebabnya Empu Pinang Aring memerintahkan aku untuk melakukan menurut kebijaksanaan yang mana pun yang akan aku tempuh. Tegasnya, aku mendapat kekuasaan sepenuhnya untuk melakukannya.”

“Apakah yang akan kau lakukan?”

Gandu Demung pun kemudian menceriterakan tentang hari-hari perkawinan anak Demang dari Sangkal Putung dan anak Kepala Tanah Perdikan Menoreh, meskipun hanya pokok masalahnya. Ia tidak memberitahukan perkawinan itu secara terperinci.

Ki Bajang Garing tertawa kecil. Dengan nada suara yang datar ia bertanya, “Apakah kau mengetahui hal itu sebaik-baiknya?”

“Tentu, aku mempunyai bahan-bahannya.”

Tetapi Ki Bajang Garing berdesis, “Aku yakin, bahwa yang kau ketahui tidak selengkap yang aku ketahui. Aku tahu pasti hari-hari perkawinan itu. Dan aku tahu pasti kapan mereka akan diunduh ke Sangkal Putung.”

“Itu bukan hal yang mustahil. Aku tahu semuanya,” jawab Gandu Demung yang sebenarnya agak kecewa bahwa Ki Bajang Garing justru sudah mengetahui dengan lengkap.

“Lalu apa yang akan kau lakukan,” bertanya Ki Bajang Garing.

“Empu Pinang Aring tidak sempat menanganinya sendiri.”

“Sudah kau katakan.”

“Aku mendapat kekuasaan sepenuhnya. Dan aku mendapat hak untuk memilih, siapakah yang akan pergi bersamaku dari antara gerombolan-gerombolan yang ada di sekitar Gunung Tidar.”

“Gila,” geram Ki Bajang Garing, “hak apakah yang dapat diberikan oleh Empu Pinang Aring? Kami adalah orang-orang bebas yang tidak terikat perjanjian apa pun dengan Empu Pinang Aring. Hak semacam itu tidak dapat diberikan oleh siapa pun kepada siapa pun, seolah-olah kami berada di bawah pengaruhnya.”

“Apakah kau sudah mempertimbangkan jawaban itu masak-masak?”

Tiba-tiba saja Ki Bajang Garing menjadi ragu-ragu. Ia sadar sepenuhnya siapakah yang sedang dihadapinya. Namun ia tidak segera menjawab pertanyaan Gandu Demung itu.

Gandu Demung melihat keragu-raguan itu. Meskipun hanya samar-samar di dalam gelapnya malam. Justru karena itu maka ia pun mempergunakan kesempatan itu. Katanya, “Ki Bajang Garing. Jika Ki Bajang Garing memang menyakini kata-kata itu, ucapkanlah sekali lagi.”

“Kau jangan menantang, Gandu Demung. Ingat, kau seorang diri di sini. Sementara itu, dengan satu isyarat saja, maka beberapa orang anak buahku akan datang.”

Gandu Demung yang mengerti bahwa Ki Bajang Garing sedang mencari tumpuan kekuatan justru mengatakan, “Aku sadar, Ki Bajang Garing. Tetapi aku juga sadar, bahwa aku akan dapat melepaskan diri dari tanganmu. Setidak-tidaknya aku akan dapat lari, dan selamat kembali ke dalam lingkungan Empu Pinang Aring dengan sebuah ceritera yang menarik tentang gerombolanmu.”

Ki Bajang Garing menjadi tegang. Namun kemudian katanya, “Cepat katakan. Tawaran apakah yang sebenarnya kau bawa, apa pun istilah yang kau pergunakan tentang dirimu sendiri.”

“Baiklah,” berkata Gandu Demung, “gerombolanmu terpilih menjadi salah satu kelompok yang diperkenankan pergi bersamaku untuk mencegat iring-iringan itu.”

“Persetan.”

“Kita akan bersama-sama dengan beberapa kelompok yang lain. Apa yang kita dapatkan akan menjadi milik kita bersama. Separo akan menjadi dana perjuangan yang sedang ditempuh sekarang oleh Empu Pinang Aring, sedang yang separo akan dibagikan kepada tiga kelompok yang akan pergi bersamaku.”

Yang terdengar adalah geram Ki Bajang Garing yang marah. Tetapi ia harus menahan kemarahannya di dalam hati.

“Di antara yang akan pergi adalah kelompok Carangsoka.”

Ki Bajang Garing menggigit bibirnya menahan gejolak di dadanya. Jika tidak ada Empu Pinang Aring maka kesempatan itu akan terbuka bagi kelompoknya tanpa diganggu oleh kelompok-kelompak lain. Atau bahkan ia harus menghancurkan dahulu Carangsoka dan kelompok-kelompok lain yang ingin melakukannya. Tetapi sekarang Gandu Demung itu akan membawa tiga kelompok bersama-sama, dan yang akan didapatkannya hanyalah separo. Dan yang separo itu masih harus dibagi tiga.

Tiba-tiba Ki Bajang Garing berdesah, “Itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Kenapa harus tiga kelompok yang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh?”

“Kita akan menghadapi kekuatan yang besar. Sudah tentu sepasang pengantin itu akan membawa kekayaan yang tidak sedikit. Terlebih-lebih saat mereka dalam perjalanan ke Sangkal Putung sesudah sepasar. Karena itu, maka mereka akan membawa pengawal yang cukup kuat.”

“Aku tidak tahu, bagaimana cara Empu Pinang Aring berpikir. Jika demikian, kenapa ia tidak mengerahkan saja pasukannya untuk melakukannya, sehingga dengan demikian ia akan mendapatkan seluruh kekayaan yang ada? Kekuatan Empu Pinang Aring aku kira lebih dari jumlah kekuatan tiga kelompok yang akan kau hubungi itu.”

“Tentu. Tetapi tugas besar sedang dihadapinya, sehingga ia tidak sempat melakukannya. Bukankah aku sudah mengatakannya?”

Ki Bajang Garing menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian maka ia justru berdiri di tempat yang sulit, jika ia menolak maka kesulitannya akan bertambah-tambah. Tentu Empu Pinang Aring merasa sikapnya itu sebagai suatu tentangan, sehingga hubungan untuk selanjutnya akan bertambah buruk. Tetapi jika ia pergi juga memenuhinya, maka apakah yang didapatnya akan seimbang dengan tenaga yang akan diberikan untuk itu.

Sejenak Ki Bajang Garing merenungi tawaran itu. Ia pun mempertimbangkan, kenapa Empu Pinang Aring sendiri tidak mau melakukannya dengan kekuatan sendiri. Meskipun seandainya Empu Pinang Aring sendiri sedang sibuk, maka pimpinannya dapat saja diserahkannya kepada Gandu Demung atau orang lain yang dipercayanya.

Namun Ki Bajang Garing tidak sempat untuk berpikir terlalu lama. Gandu Demung segera mendesaknya, “Ki Bajang Garing, cobalah kau menjawab. Jika kau mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu, katakanlah. Mungkin justru akan berguna bagi pekerjaan yang berbahaya yang akan aku lakukan itu.”

“Gandu Demung,” berkata Ki Bajang Garing, “yang aku ketahui dari Tanah Perdikan Menoreh adalah kekuatan pengawalnya yang mirip dengan susunan keprajuritan. Kemampuan mereka seorang demi seorang pun tidak terpaut banyak dari kemampuan prajurit-prajurit Pajang. Itulah sebabnya maka untuk melakukan sesuatu atas orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh memang memerlukan perhitungan yang masak. Aku kira ayahmu pun mengetahuinya.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menemui ayah dan bertanya tentang kemungkinan-kemungkinan selanjutnya. Hubungan kita masih akan berkelanjutan, Ki Bajang Garing. Maaf bahwa aku terpaksa membunuh salah seorang anak buahmu karena ia tidak mau mendengarkan kata-kataku. Ia lebih senang berbicara dengan pedang daripada berbicara dengan mulut.”

Ki Bajang Garing menggeram. Tetapi ia tidak berbuat apa-apa. Justru karena ia mengetahui kemampuan Gandu Demung dan mengetahui kekuatan yang ada di belakangnya, Empu Pinang Aring. Betapa hatinya menjadi sakit namun dibiarkannya saja adbmcadangan.wordpress.com Gandu Demung kemudian melangkah meninggalkannya sambil minta diri, “Aku akan meneruskan perjalananku. Kita akan segera bertemu kembali. Aku akan kembali ke daerah ini bersama ayahku dengan maksud baik. Tanpa permusuhan. Justru untuk mulai dengan kehidupan baru di daerah ini. Hubungan yang baik yang satu dengan yang lain.”

Ki Bajang Garing tidak menjawab. Dibiarkannya Gandu Demung melangkah semakin lama semakin jauh.

Sementara itu, dua orang yang baru saja bertempur melawan Gandu Demung merenungi seorang kawannya yang terbunuh dengan tatapan mata yang tegang. Ketika Ki Bajang Garing berpaling kepadanya, salah seorang dari kedua orang itu berkata, “Kita tidak menuntut apa pun juga dari kematiannya?”

“Kenapa tidak kau lakukan sebelum aku mulai berbicara dengan Gandu Demung?”

Jawaban itu benar-benar sebagai suatu tamparan yang pedih. Dengan demikian Ki Bajang Garing seolah-olah telah menunjukkan ketidak-mampuannya berbuat apa-apa, setelah seorang kawannya terbunuh. Karena sebelumnya, selagi mereka masih bertiga, mereka tidak dapat mengalahkan Gandu Demung.

Namun kemudian Ki Bajang Garing berkata, “Jangan berkecil hati jika kau bertiga dapat dikalahkannya. Gandu Demung memang memiliki ilmu yang tiada taranya. Aku kira kebanyakan dari kalian tidak akan dapat mengalahkannya sampai batas lima orang.”

Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian berarti bahwa Ki Bajang Garing telah memaafkan mereka dan menganggap bahwa yang sudah terjadi itu tidak dapat mereka hindari lagi.

Dengan demikian, maka yang dapat mereka lakukan kemudian adalah merawat mayat itu sebaik-baiknya dan membawanya kembali ke dalam sarang mereka untuk besok dikuburkan.

Namun tawaran Gandu Demung itu merupakan sesuatu yang sangat membingungkan Ki Bajang Garing. Tetapi menilik kesungguhan Gandu Demung maka Ki Bajang Garing pun memperhitungkan, bahwa jumlah yang dihadapi memang cukup besar.

Beberapa orang yang dianggapnya mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang baik segera dipanggilnya untuk membicarakan persoalan yang dihadapinya itu.

“Kita tidak tahu imbangan kekuatan dari kita, tiga kelompok itu dengan para pengawal yang akan mengawal pengantin itu dari Tanah Perdikan Menoreh ke Sangkal Putung.”

“Ya. Dan kita pun masih belum tahu imbangan kekuatan dari setiap kelompok yang akan ikut serta,” sahut Ki Bajang Garing.

“Itu pun penting untuk diketahui. Jika tidak, maka kita akan dapat ditelan oleh kelompok yang lebih besar jika barang-barang rampasan itu sudah berada di tangan kita. Maksudku, di tangan ketiga kelompok yang akan dibawa oleh Gandu Demung itu,” desis yang lain.

“Kita akan membebankan tanggung jawab kepada Gandu Demung. Tetapi hal itu patut untuk diperhatikan pula. Kita memang hidup dalam dunia yang selalu diselimuti oleh kecurigaan dan kecemasan,” desis Ki Bajang Garing. “Tetapi hal ini dapat kita bicarakan sebelumnya dengan Gandu Demung. Sekali-sekali kita harus berbuat jujur. Juga dalam imbangan kekuatan yang akan kita pergunakan untuk mencegat pengantin dari Tanah Perdikan Menoreh itu.”

“Kita dapat bersikap jujur. Tetapi apakah orang lain juga bersikap demikian?”

“Terserah kepada pengamatan Gandu Demung. Tetapi tampaknya Gandu Demung sendiri dapat dipercaya. Jika kemudian ia sendiri berbuat curang dan mengerahkan kekuatan yang ada pada Empu Pinang Aring, maka itu adalah suatu kecelakaan yang tidak dapat kita hindari. Namun bahwa kita akan melawan sampai kesempatan terakhir tidak akan dapat diragukan lagi. Dan itu akan berarti jatuhnya korban pula di pihak mereka meskipun mereka berhasil menumpas kita.”

Beberapa orang yang mendengar penjelasan Ki Bajang Garing itu mengangguk-angguk. Mereka dapat mengerti maksud Ki Bajang Garing, dan nampaknya jalan pikirannya itu cukup hati-hati dan masuk akal.

“Daripada melawan tiga kelompok dari Gunung Tidar, tentu Empu Pinang Aring lebih baik melakukan perampokan itu sendiri,” berkata Ki Bajang Garing kemudian.

“Menurut perhitungan nalar agaknya memang demikian,” sahut seorang yang bertubuh tinggi.

Demikianlah, nampaknya Ki Bajang Garing terpaksa dapat menerima ajakan itu meskipun agak segan juga, karena keragu-raguan, apakah hasil yang akan diperoleh imbang dengan korban yang bakal jatuh. Namun karena sudah cukup lama ia tidak mendapat kesempatan, dan barang-barang simpanannya sudah menjadi semakin tipis, dan bahkan hampir habis jika tidak segera mendapatkan tambahan, maka ia pun berkata, “Jika benar sepasang pengantin itu membawa perhiasan, maka aku kira meskipun sedikit akan dapat memperpanjang persediaan kita sebelum kita menemukan daerah perburuan yang mantap meskipun mungkin agak jauh dari tempat ini.”

“Tanah Perdikan Menoreh itu sendiri,” berkata salah seorang anak buahnya.

“Tanah Perdikan Menoreh adalah daerah yang terlalu berat. Tetapi daerah pinggiran Tanah Perdikan itu dan kademangan di sekitarnya memang mungkin dapat dipertimbangkan,” jawab Ki Bajang Garing.

Sementara itu, perjalanan Gandu Demung menjadi semakin jauh. Ia pun yakin bahwa Ki Bajang Garing akan menerima tawarannya, seperti juga ayahnya dan sebuah kelompok lagi yang akan dihubunginya setelah ia bertemu dengan ayahnya.

“Tiga kelompok yang terbesar di daerah ini tentu sudah cukup kuat. Apalagi jika orang-orang Menoreh merasa daerahnya lebih aman kembali, dan menganggap apa yang telah terjadi itu bukannya kejahatan biasa, tetapi ada sangkut pautnya dendam perseorangan,” berkata Gandu Demung di dalam hatinya. Karena itulah maka ia pun akan berusaha mempertahankan keamanan Tanah Perdikan Menoreh sampai saatnya ia akan bertindak bersama ketiga kelompok itu.

“Jika barang-barang itu cukup banyak, maka aku tidak perlu mengkhianati ketiga kelompok itu. Tetapi jika yang kami peroleh terlalu sedikit, biarlah dengan terpaksa aku akan mengambil semuanya kecuali sekedarnya untuk ayah dan kelompoknya,” berkata Gandu Demung di dalam hatinya.

Pertemuan antara Gandu Demung dan ayah serta saudara-saudaranya merupakan pertemuan yang menggembirakan. Setelah beberapa saat lamanya ayahnya mengalami masa yang suram karena kehadiran Empu Pinang Aring, maka kehadiran anaknya yang diketahuinya berada di antara kelompok besar Empu Pinang Aring itu merupakan suatu harapan baginya.

Keterangan yang kemudian diberikan oleh Gandu Demung di-tanggapinya dengan ragu-ragu. Demikian saudara-saudara Gandu Demung yang menjadi sangat berhati-hati menghadapi perkembangan keadaan.

“Jangan ragu-ragu,” berkata Gandu Demung, “aku berada di dalam lingkungan Empu Pinang Aring. Dalam hal ini, akulah yang mendapat kekuasaan khusus untuk melakukannya. Tetapi karena semua kekuatan yang ada sedang dikerahkan bagi tujuan yang jauh lebih berharga dari pengambilan dana dari Tanah Perdikan Menoreh itu, maka ia telah menyerahkan kepadaku menurut cara dan pertimbanganku.”

“Kau jangan salah menilai Tanah Perdikan Menoreh,” desis saudaranya yang tertua.

“Aku mengerti. Dan aku pun telah menghubungi Ki Bajang Garing,” berkata Gandu Demung.

“He,” ayahnya terperanjat, “di mana kau dapat menemuinya, dan kenapa kau berhubungan dengan orang gila itu?”

“Dalam hal ini, kita harus mengkesampingkan kepentingan pribadi. Aku mengerti, Ayah tidak sejalan dengan Ki Bajang Garing, tetapi jika kita dapat bekerja bersama, setidak-tidaknya kali ini di bawah pengaruh kekuasaan Empu Pinang Aring, maka aku kira kita akan berhasil, karena kelompok kita dan kelompok Ki Bajang Garing termasuk kelompok yang terkuat yang ada di sekitar Guhung Tidar ini. Ditambah satu kelompok lagi yang akan kita tentukan kemudian, maka aku kira kita sudah cukup kuat untuk mencegat dan mengambil semua barang-barang sepasang pengantin itu.”

Ayah dan saudara-saudara Gandu Demung mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih saja ragu-ragu. Bahkan salah seorang saudaranya berkata, “Bajang Garing tidak akan dapat diajak bekerja bersama. Ia akan berkhianat dan bahkan akan menjerumuskan kita ke dalam kesulitan.”

“Aku sudah mempergunakan pengaruh kekuasaan Empu Pinang Aring, karena sebenarnya aku memang mendapat kekuasaan khusus untuk melakukannya kali ini.”

Saudara-saudaranya mengangguk-angguk, sementara Gandu Demung mulai menceriterakan rencananya yang akan dilakukan di Tanah Perdikan Menoreh, sejak ia akan memelihara keamanan daerah itu sampai saatnya hari perkawinan itu tiba. Kemudian memilih hari yang kelima saat pengantin itu meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh.

“Kita akan membicarakan, di mana sebaik-baiknya kita melakukannya,” berkata Gandu Demung kemudian, “di Tanah Perdikan Menoreh sendiri, di penyeberangan Kali Praga atau di tlatah Mataram yang masih jarang sekali dirambah oleh pengawal Tanah yang baru berkembang itu?” berkata Gandu Demung kemudian.

“Kita masih harus memikirkannya,” berkata ayahnya.

“Waktunya tinggal sedikit, Ayah,” jawab Gandu Demung, “namun demikian, aku tidak dapat memaksa Ayah mengambil kepastian sekarang. Sementara Ayah berpikir, aku akan beristirahat di sini. Mungkin kita akan menentukan suatu hari untuk melihat-lihat Tanah Perdikan Menoreh dan tempat yang paling baik untuk melakukannya. Mungkin pula kita harus mengetahui kira-kira berapa orang yang akan berada di dalam iring-iringan itu dengan melihat kedatangan pengantin laki-laki dari Sangkal Putung. Bahkan mungkin orang-orang tertentu dari kademangan yang pantas diperhitungkan itu.”

Dengan sungguh-sungguh Gandu Demung berusaha untuk meyakinkan, bahwa kesempatan yang didapatnya kali ini akan sangat besar artinya. Ia yakin bahwa yang akan mereka dapatkan dari sepasang pengantin itu tentu memadai dengan kerja yang mereka lakukan.

“Anak perempuan satu-satunya dari seorang Kepala Tanah Perdikan yang kaya seperti Tanah Perdikan Menoreh itu tentu dibekali dengan perhiasan yang cukup. Sementara itu, perhiasan yang dibawa oleh pengantin laki-laki pun tentu banyak pula. Dalam perelatan perkawinan itu, pengantin laki-laki tentu mempergunakan perhiasan adbmcadangan.wordpress.com yang paling berharga, bukan saja yang dipunyainya, mungkin bahkan meminjam dari sanak kadangnya. Demang Sangkal Putung tidak akan membiarkan anaknya menjadi suram di dalam hari perkawinan itu. Anak Demang Sangkal Putung itu tentu memakai ikat pinggang dengan kamus berlimang emas dan bermata berlian. Pendok emas dan sudah tentu cincin perhiasan-perhiasan lain. Terlebih-lebih lagi pengantin perempuannya.”

“Tetapi ingat. Tanah Perdikan Menoreh adalah Tanah Perdikan yang kuat,” sahut ayahnya.

“Apakah Ayah kira seluruh pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh akan ikut mengawalnya sampai ke tlatah Mataram? Bahkan jika dipandang perlu, kita akan mencegat mereka di tempat yang sama sekali tidak mereka duga.”

“Maksudmu?”

“Justru di ujung Kademangan Sangkal Putung sendiri, setelah mereka menyeberang Hutan Tambak Baya. Mereka tentu tidak akan mengira bahwa mereka akan mengalami serangan dengan tiba-tiba. Sedangkan yang kita lakukan itu tentu tidak akan menyinggung Tanah Perdikan Menoreh dan Mataram.”

“Betapa bodohnya kau,” jawab ayahnya, “kenapa kau tidak juga menjadi bertambah pandai? Jika kita mencelakai anak perempuan Kepala Tanah Perdikan Menoreh, apakah kita dapat menyebut diri kita tidak menyinggung Tanah Perdikan Menoreh?”

“Maksudku, jika ada pengawal yang dikirim oleh Ki Gede Menoreh sampai keterbatasan, maka mereka tentu sudah kembali. Bahkan seandainya Mataram mencoba melindungi mereka, maka pasukan pengawal Mataram tidak akan sampai memasuki Kademangan Sangkal Putung. Karena mereka tentu menganggap bahwa keadaan sudah aman.”

“Ah, itu adalah masalah pelaksanaan. Kita dapat membicarakan lebih mendalam. Tetapi yang penting bagi kita, apakah kita dapat mempercayai Empu Pinang Aring.”

“Empu Pinang Aring mempunyai cita-cita yang besar bagi negeri ini. Karena itu, ia tentu tidak akan melukai hati orang-orang yang akan dapat menjadi penduduknya. Terlebih-lebih aku sendiri yang sudah ada di dalamnya. Karena itu, dalam hal ini Empu Pinang Aring tentu dapat dipercaya.”

Ayah dan saudara-saudara Gandu Demung mengangguk-angguk. Untuk beberapa lama mereka masih memperbincangkan persoalan yang sedang mereka hadapi. Dengan sungguh-sungguh Gandu Demung berusaha untuk membersihkan gambaran tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Yang manis tetapi juga yang pahit.

“Sudahlah,” berkata ayahnya, “jika kau mau beristirahat di sini barang satu dua hari beristirahatlah. Bukankah kau katakan, bahwa aku tidak perlu mengambil kepastian sekarang.”

(***)

Kutipan dan penyiaran lesan/tertulis harus seijin penulis.

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Kiai Gaza
Proof: Ki Gede Menoreh
Date: 01-20-2008

Kunjungi: adbmcadangan.wordpress.com

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:20  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-94/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. met pagi para sedulur mau ikutan jdi cantrik nih

  2. Clingak – clinguk, garuk – garuk sirah, bingung …. lha enten nopo Ki GD …… kok dereng lahir2 kitab 94ipun, mugi – mugi tetap sehat … mboten kesayahen … lsn keparingan berkat dening gusti Allah. Amin.

  3. selamat pagi juga . juga baru mau ikutan jadi cantrik nich . jadi saya duduk di gardu dekat regol saja sambil berharap wedang sereh hangat jilid selanjutnya sampai
    gardu.

  4. pundi nggih kitab 94 ??? matur suwun

  5. Mas, mulai buku 94 ke atas saya tidak bisa download lagi krn power pointnya gak bisa dibuka, padahal udah dg yg 2007…begitu pula doc nya ,,,kenapa ya

    Mohon jawaban

    # baca lagi halaman unduh

  6. alhamdulillah, akhirnya kitab 94-nya ki Gede turun juga. matur suwun

  7. Tulungin ki sanak, cantrik baru belum bisa ngunduh kitab 93,94, di endhi yo

    • Yang sudah ada versi retypenya, versi djvunya tautan file sudah dihilangkan.
      Baca langsung dokumennya. Kalau mau diunduh yang tinggal diblok dan dicopy saja

  8. Selamat, ore ngertiya akeh banget ya sing pada gandrung aring critane Alm. SH. Mintaredja… Aku mulai maca critane SH. Mintaredja dong esih kelas 5 SD nang SD. Kristen (Bersubsidi) Purbalingga, Bapakku dines nang Kodim 0702 nek kondur kang kantor terus maos NSSI, aku kelingan banget wektu kuwe nganti Ibuku juga melu-melu maos…..

    Pancen critane asik, aku juga ndatuk banget karo NSSI, mulai cetakan lawas, nganti tekan sekitar taun 80-an terbit maning edisi anyare… mung ya sing paling asik anggere maca buku asline sing jumlahe 29 jilid.

    Kepriwe sedulur…. apa ana sing arep nerusaken nulis critane APDM sewise sedane Mbah SH. Mintaredja….? Sukur angger kaya kuwe…. akuy juga kepengin duwe bukune mengku anggere wis ana…

    Wis disit ya… ngesuk-ngember disambung maning….

    Klilannnnnn……..

    Bogie Dwi Alriyanto
    Setabelan – Purbalingga Wetan
    Telpune : 08128512678

  9. aku ingin mengajak ketempat istirahatnya kanjeng kyai grinsing sekalian kita berziarah bersama para penggermar ADBM… hayo siapa yang ingin menjadi sponsornya… ???

  10. Melu urun rembug

  11. terima kasih kepada ki GD dan para cantrik atas jerih payahnya menulis ulang kitab pusaka ADBM ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: