Buku 94

“Kita dapat memperhitungkan, Empu,” berkata Panganti, “berapa orang yang ada di dalam iring-iringan itu. Tentu tidak semua orang laki-laki dari Sangkal Putung akan ikut bersama mereka.”

“Bagaimana kita mengetahui jumlah mereka?” bertanya Empu Pinang Aring.

“Kita memasang orang yang harus mengawasi jalan yang menghubungkan kedua daerah itu. Perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh ke Sangkal Putung tentu lebih menguntungkan, karena di antara mereka terdapat pengantin perempuan.”

Empu Pinang Aring ternangu-mangu. Katanya kemudian, “Aku tidak mengenal daerah ini dengan baik meskipun aku sudah berada di sekitar tempat ini untuk waktu yang agak lama. Tetapi kalian bersama tentu sudah mengenalnya karena kalian berada di tempat ini lebih lama. Dan apalagi ada di antara kalian yang memang berasal dari daerah ini.”

“Untuk melakukah rencana itu harus dipertimbangkan berulang kali,” sahut Rimbag Wara. Lalu, “Apalagi menyangkut tlatah Tanah Perdikan Menoreh dan Sangkal Putung. Dua daerah yang memiliki nama tersendiri selama geseran antara Pajang dan Jipang terjadi, sehingga akhirnya kekuasaan Demak seolah-olah dengan mutlak berpindah ke Pajang.”

“Pertimbangan itu perlu,” berkata Empu Pinang Aring, “bukankah dengan demikian berarti bahwa iring-iringan itu akan terdiri dari orang-orang pilihan dari Sangkal Putung dan Tanah Perdikan Menoreh?”

Panganti mengangguk-angguk.

“Perhitungkan masak-masak.”

“Aku mengerti, Empu,” jawab Panganti, “tetapi bagaimana jika kita masih akan mencobanya dengan tenaga yang mungkin tidak banyak berarti dalam pasukan kita?”

“Itu akan membuang tenaga dan jiwa dengan sia-sia,” desis Rimbag Wara, “karena sebenarnyalah kekuatan kedua lingkungan yang terletak agak berjauhan itu perlu diperhitungkan. Panganti, kau tentu tidak dapat menutup mata tentang peristiwa Panembahan Agung. Kau tahu betapa besar kekuatannya. Tetapi ia akhirnya binasa.”

“Tentu karena kekuatan Mataram ada di dalam pasukan yang datang ke padepokannya,” sahut Panganti.

“Tetapi di antara mereka terdapat kekuatan Tanah Perdikan Menoreh.”

Panganti mengangguk-angguk. Ia tidak dapat ingkar, bahwa kekuatan Menoreh ikut menentukan di dalam pertempuran melawan Panembahan Agung. Bahkan menurut pendengaran Panganti dan beberapa orang kawannya, orang yang langsung menghadapi Panembahan Agung bukanlah senapati dari Mataram. Bukan Raden Sutawijaya dan bukan pula Ki Gede Pemanahan. Demikian pula yang telah membunuh Panembahan Alit. Bukan senapati dari Mataram pula. Tetapi orang yang terkenal dengan sebutan orang bercambuk.

Sejenak ruangan itu dicengkam oleh kesepian. Baru sejenak kemudian, setelah melihat gelagat dan hasil pembicaraan itu, Empu Pinang Aring berkata, “Sudahlah. Kita lepaskan saja keinginan kita untuk mendapatkan barang-barang yang mungkin memang sangat berharga dari sepasang penganten itu. Kita memerlukan orang-orang terkuat kita menghadapi masa yang mungkin menentukan. Siapakah yang akan mendapat kepercayaan dari pimpinan tertinggi, orang yang memegang keseluruhan perintah ini, yang selanjutnya akan ikut menentukan ujud dari kebangkitan kembali kekuasaan Majapahit itu.”

Panganti mengangguk-angguk. Dengan penuh pengertian ia berkata, “Baiklah, Empu. Yang kami katakan hanyalah bahan untuk dipertimbangkan. Jika pertimbangan ini menganggap hal itu tidak perlu dilakukan, maka sebaiknya memang tidak usah diingat lagi.”

Namun dalam pada itu, seorang yang masih muda bertubuh gemuk tetapi agak pendek bergeser setapak sambil berkata meskipun dengan ragu-ragu, “Empu, aku mohon maaf, bahwa barangkali aku mempunyai pendapat yang agak berbeda.”

Empu Pinang Arinjg mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Marilah kita membicarakan masalah-masalah yang barangkali lebih penting dari sekedar menyamun atau merampok perjalanan.”

“Baiklah. Baiklah, Empu. Tetapi ada sedikit pendapat yang barangkali dapat dipertimbangkan pula.”

Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Katakanlah. Tetapi kau sudah mendengar sendiri semua pertimbangan, bahwa melakukan perampokan atas orang-orang Menoreh dan Sangkal Putung yang bergabung itu tidak menguntungkan.”

“Jika kita sendiri yang melakukan, memang tidak menguntungkan. Tetapi sebagaimana Empu mengetahuinya, aku adalah orang Gunung Tidar sejak kecil. Karena itu, aku mengetahui seluk beluk daerah ini dan sekitarnya.”

“Maksudmu?”

“Sebelum Empu singgah di daerah ini untuk beberapa lama menjelang pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu, daerah ini adalah daerah rimba raya bagi dunia yang gelap itu. Di sini dan sekitarnya terdapat beberapa kelompok penyamun dan perampok yang ditakuti oleh orang-orang di sekitar daerah ini, bahkan sampai ke tempat yang jauh.”

“Ya, aku mengerti. Lalu apakah yang akan kita perbuat dengan mereka? Apakah kita harus menghimpun mereka dalam perjuangan ini?”

“O, tidak. Tidak Empu.”

“Mereka adalah orang-orang yang tidak aku kenal watak dan tabiatnya. Jika mereka ada di dalam tubuh kita, maka kemungkinan yang paling kuat terjadi adalah justru mereka akan mempersulit kedudukan kita. Pada akhirnya mereka hanya akan mementingkan diri mereka masing-masing.”

“Ya, ya Empu. Tetapi sementara ini mereka dapat kita pergunakan untuk kepentingan yang lain.”

“Maksudmu?”

“Sudah lama mereka tidak mendapat kesempatan untuk melakukan perampokan dan perampasan karena daerah jelajah mereka telah kita kuasai. Karena itu, maka biarlah kali ini kita memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukannya.”

“Ah, aku tidak peduli. Jika mereka akan melakukan, biarlah mereka melakukan tanpa menyinggung tubuh kita. Apalagi mempergunakan nama kita.”

“Tetapi dengan demikian kita tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun juga.”

“Jadi?”

“Jika Empu percaya kepadaku, biarlah aku sendiri melakukannya. Mungkin tenagaku diperlukan di sini, tetapi tugas ini pun aku kira cukup sepadan aku lakukan.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud orang bertubuh gemuk itu. Ia akan melakukan perampokan itu dengan mempergunakan beberapa kelompok yang semula memang sudah ada di sekitar Gunung Tidar ini. Namun demikian ia berkata, “Pikirkanlah baik-baik. Apakah dengan demikian kau tidak hanya sekedar mempertaruhkan diri tanpa mendapat keuntungan apa pun juga? Bahkan mungkin pada saatnya kau justru akan dibantai oleh orang-orang dalam kelompok-kelompok penyamun itu sendiri setelah kau berhasil?”

Orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak, Empu. Mereka tahu siapa aku. Mereka tidak akan berani melakukannya. Apalagi aku memang berada di dalam lingkungan Empu Pinang Aring.”

“Bagaimanakah anggapan mereka terhadapmu?”

“Ayahku memang salah seorang pimpinan kelompok yang semula tidak menguasai daerah perburuan yang luas, karena ayahku memang bukan orang yang pertama. Ada beberapa orang yang memiliki kemampuan seperti ayahku dan bahkan memiliki pengikut lebih bahyak. Tetapi setelah aku dewasa, dan aku datang ke dalam lingkungan ayahku dengan ilmu yang ada padaku, maka keadaan segera berubah. Dan Empu mengetahuinya, bahwa di daerah ini adbmcadangan.wordpress.com aku mendapat gelar Harimau Hitam Berkuku Pedang. Bukankah gelar itu telah menunjukkan kedudukan dan tempat yang khusus bagiku? Apalagi setelah aku meninggalkan tempat ini dan berada dalam lingkungan yang lebih baik seperti sekarang ini. Mereka tentu tidak akan berani berbuat sesuatu atasku. Mungkin bukan karena aku sendiri, tetapi justru karena kekuasaan Empu Pinang Aring di sini bersama pasukannya.”

Empu Pinang Aring merenungi keterangan orang yang bergelar Harimau Hitam Berkuku Pedang itu.

Sementara itu beberapa orang yang lain pun mulai mempertimbangkan pendapat orang yang bergelar Harimau Hitam Berkuku Pedang itu. Nampaknya keterangannya itu dapat dilaksanakannya tanpa mengorbankan kekuatan Empu Pinang Aring selain orang itu sendiri.

Tetapi ternyata bahwa Pinang Aring masih ragu-ragu. Dengan nada yang datar ia bertanya, “Apakah kau merasa bahwa kau cukup mempunyai pengaruh untuk menghimpun kekuatan yang berpencaran dan bahkan kadang-kadang saling bertentangan itu?”

“Aku akan mencoba Empu. Dengan landasan gelarku dan kedudukanku di sini, di dalam lingkungan pasukan Empu Pinang Aring.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Katanya, “Memang mungkin. Aku juga pernah mendengar, bahwa kau mempunyai gelar yang menggetarkan jantung itu, meskipun namamu sendiri terlalu sederhana. He, bukankah sebelum kau bergelar Harimau Hitam kau dikenal dengan namamu sendiri di lingkungan ini? Gandu? Bukankah Gandu itu memang namamu?”

“Ya, Empu. Tetapi di daerah ini di masa mudaku, aku lebih dikenal dengan nama panggilanku. Demung. Lengkapnya Gandu Demung.”

“Dan sekarang, Gandu Demung yang bergelar Harimau Hitam Berkuku Pedang,” Panganti berdesis sambil tertawa.

Gandu Demung memandangnya dengan sudut matanya. Sikap Panganti itu ternyata telah menyinggung perasaannya meskipun ia sama sekali tidak menunjukkan sikap apa pun. Apalagi ia sadar, bahwa Panganti mempunyai kedudukan yang lebih baik daripadanya di hadapan Empu Pinang Aring, karena ia memang lebih lama berada di dalam lingkungan itu.

Sejenak Empu Pinang Aring merenungi pendapat Gandu Demung itu. Agaknya memang menarik sekali. Meskipun mempunyai satu kemungkinan, seorang kepercayaannya tidak akan kembali lagi kepadanya.

“Gandu Demung,” berkata Empu Pinang Aring, “mungkin ada pertimbangan tersendiri. Agaknya aku menghargai kesediaanmu untuk mendapatkan bekal yang cukup banyak tanpa mengurangi kekuatan kita selain satu kemungkinan, pengorbananmu sendiri. Tetapi yang kami cemaskan adalah rahasia yang selama ini sudah kau ketahui. Kau tahu bahwa kami, mungkin satu atau dua orang akan memasuki bilik pembicaraan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, sementara seluruh kekuatan yang ada di segala pihak akan bersiaga sepenuhnya.”

“Maksud Empu, seandainya aku dapat ditangkap hidup-hidup oleh orang Menoreh atau orang Sangkal Putung.”

“Ya.”

Gandu Demung yang bergelar Harimau Hitam itu tertawa. Katanya, “Aku ingin menangkap penganten perempuan itu hidup-hidup, selain perhiasannya. Aku akan membunuh setiap orang di dalam iring-iringan itu.”

“Bagaimana dengan Ki Argapati?” bertanya Rimbag Wara.

Gandu mengerutkan keningnya. Namun kemudian jawabnya, “Tentu Ki Argapati tidak akan berada di dalam iring-iringan itu. Ia adalah ayah penganten perempuan.”

“Tetapi kemungkinan itu tentu ada. Setelah beberapa kematian menggoncangkan Tanah Perdikan Menoreh. Dan bagaimana pula orang yang selama ini menjadi pembicaraan yang kadang-kadang mendirikan bulu roma? Orang yang telah membunuh Panembahan Agung, Panembahan Alit dan orang-orang Maratam?”

Gandu Demung tertawa. Katanya, “Pengantin ini adalah anak seorang Demang dan seorang Kepala Tanah Perdikan. Sama sekali bukan seorang Panglima atau senapati. Aku juga sudah mendengar kegagalan sekelompok orang yang langsung digerakkan oleh para prajurit Pajang, saat Senapati Untara kawin. Mereka tidak berhasil membenturkan Mataram dan Pajang, justru karena orang bercambuk dan bahkan orang-orang Mataram sendiri ada di Jati Anom. Tetapi saat itu yang kawin adalah seorang senapati besar yang bernama Untara.”

“Dan kau tahu kebesaran nama Ki Argapati?”

Gandu masih tertawa. Katanya, “Aku akan mencoba. Sampai saat perkawinan itu berlangsung, aku sendiri akan mengawasi keamanan di Tanah Perdikan Menoreh, agar tidak terjadi sesuatu. Dengan demikian, maka pengamanan daerah itu akan mengendor. Di hari perkawinan itu pun tidak akan ada gangguan apa-apa, karena aku akan mengambil kesempatan saat kedua pengantin itu kembali ke Sangkal Putung.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Hati-hatilah. Kau harus melihat semua kemungkinan. Jika ada kekuatan yang tidak terlawan, kau jangan menjadi gila.”

“Baik, Empu. Aku berharap bahwa keputusan terakhir dari saat pertemuan itu benar-benar dapat dilakukan setelah hari-hari perkawinan anak Demang Sangkal Putung itu, sehingga persiapan kita menjadi semakin kuat menjelang hari yang penting itu.”

“Tetapi ingat. Jika rahasia yang kau ketahui itu merembes dari mulutmu, maka akibatnya akan parah sekali.”

“Aku akan memilih mati daripada mengkhianati perjuangan yang besar ini.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Lalu, “Terserahlah kepadamu. Tetapi aku tidak dapat memberikan orang-orangku seorang pun untuk membantumu karena aku tidak mau kehilangan lagi.”

“Baik, Empu. Aku akan menemui saudara-saudaraku yang masih ada di dalam lingkungan itu. Mereka tentu akan senang melakukannya dengan janji membagi setiap barang yang dapat kita rampas.”

Tetapi Gandu Demung tertawa. Katanya, “Mereka dapat dibungkam buat selama-lamanya setelah aku berhasil. Jangan sampai menimbulkan perselisihan yang dapat membahayakan rahasia kita.”

“He,” Empu Pinang Aring terkejut.

“Jika perlu. Biarlah kelompok yang dipimpin ayah dan saudara-saudaraku sajalah yang tetap ada. Yang lain dapat dibinasakan. Dengan cara apa pun juga, sehingga barang-barang itu tidak perlu dibagi, kecuali sekedar buat saudara-saudaraku saja. Tetapi itu tidak akan banyak.”

Empu Pinang Aring menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Terserahlah kepadamu. Kau adalah orang yahg dilahirkan di daerah ini. Kau tahu akibat dari semua perbuatanmu.”

Gandu Demung termenung sejenak. Ia ingin menemukan arti yang sebenarnya dari kata-kata Empu Pinang Aring itu. Namun kemudian ia tersenyum sambil berkata, “Baiklah, Empu. Aku akan memperhitungkan sebaik-baiknya. Aku tahu bahwa hasil dari usahaku ini diragukan. Dan aku tidak berkeberatan, karena aku pun tidak akan dapat mengatakan, bahwa aku akan berhasil. Tetapi aku akan mencoba.”

“Lakukanlah. Sekali lagi aku peringatkan, tidak seorang pun dari antara kita di sini yang akan pergi bersamamu.”

“Aku mengerti. Sekaligus aku minta diri. Jika aku gagal, maka yang akan menjadi korban, bukanlah tubuh kita.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Katanya, “Seterusnya terserah kepadamu. Dan untuk seterusnya aku tidak akan membicarakannya lagi. Kau boleh datang kepadaku dengan hasil yang kau peroleh. Tetapi tidak dengan pembicaraan apa pun lagi.”

“Baiklah, Empu. Aku mengerti. Aku langsung akan mohon diri. Waktuku tinggal beberapa hari menjelang hari perkawinan itu. Aku akan mengambil hari yang kelima, saat pengantin itu kembali ke Sangkal Putung. Jika selama saat-saat perkawinan mereka sama sekali tidak terjadi kerusuhan apa pun, maka mereka tentu akan lengah.”

“Sudah. Sudahlah. Aku tidak mau membicarakannya lagi. Kau tinggal datang kepadaku pada saatnya dengan membawa hasil rampasanmu.”

“Baiklah. Baiklah, Empu.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah aku dapat dibebaskan dari tugas-tugasku yang lain.”

“Ya. Kau akan dibebaskan dari tugasmu yang lain. Pergilah. Tetapi jika pertemuan di lembah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu akan berlangsung setelah hari-hari yang kau pilih itu lewat, maka kau pun tentu akan kembali kepada tugasmu. Kau akan pergi bersama kami ke lembah itu.”

“Aku mengerti, Empu.”

“Kau boleh pergi sekarang. Aku percaya kepadamu.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Sejenak ia memandang beberapa orang kawannya yang ada di sekitarnya. Tatapan matanya berhenti sejenak, ketika ia melihat sebuah senyum di bibir Panganti.

“Uh, ia menjadi iri hati,” desis Gandu Demung di dalam hatinya, “aku mendapat kepercayaan untuk melakukannya. Sebenarnya ia sendirilah yang ingin mendapat perintah serupa, sebab dengan demikian, ia akan mendapat kesempatan untuk menyembunyikan sebagian dari hasil rampasannya itu.”

Tetapi Gandu Demung tidak mengatakan apa pun juga. Panganti pun sama sekali tidak berbicara apa pun juga selain sebuah senyum yang tidak dapat dimengerti apakah artinya.

Gandu Demung pun kemudian meninggalkan pertemuan khusus itu. Beberapa orang pengawal terpercaya yang ada di luar pintu menjadi heran melihat seorang yang mendahului meninggalkan pertemuan, namun menilik wajahnya yang justru nampak cerah, maka para pengawal itu pun mengetahui, bahwa tidak terjadi perselisihan apa pun di dalam ruang yang tertutup itu.

“Kenapa Ki Gandu Demung mendahului?” bertanya seorang pengawal.

Gandu Demung tersenyum. Katanya, “Aku mendapat tugas khusus kali ini. Tidak ada orang lain yang boleh pergi bersamaku.”

Pengawal itu termangu-mangu. Namun mereka mengerti, bahwa orang bernama Gandu Demung yang bergelar Harimau Hitam Berkuku Pedang itu memiliki ilmu yang dapat memberikan bekal kepadanya untuk melakukan tugas khususnya.

Tetapi kepergian Gandu Demung dengan tugas yang tidak dimengerti oleh siapa pun juga itu memang menimbulkan berbagai pertanyaan di dalam lingkungan mereka. Beberapa orang yang telah melakukan tugasnya di Tanah Perdikan Menoreh pun bertanya-tanya di dalam hati, apakah persoalan yang dikemukakannya itu mendapat tanggapan sewajarnya dan ada sangkut pautnya dengan tugas Ki Gandu Demung?

Namun ternyata Ki Gandu Demung pun kemudian menemui mereka untuk mendapatkan bahan-bahan yang lebih banyak lagi.

“Apakah Ki Gandu Demung mendapat tugas itu?”

Gandu Demung menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak peduli ceritera tentang pengantin itu. Aku mendapat tugas khusus. Dan aku akan menjalankan tugasku sebaik-baiknya.”

“Tetapi kenapa Ki Gandu Demung memerlukan keterangan tentang hari-hari perkawinan anak Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu?”

Gandu Demung tertawa. Katanya, “Tugasmu adalah menjalankan perintah. Tanpa perintah apa pun juga, kau boleh tidur berhari-hari. Nah, sekarang tidur sajalah.”

Orang tertua di antara mereka mengerutkan keningnya. Dengan wajah yang tegang ia berbisik ke telinga kawannya, “Agaknya orang lainlah yang akan mendapat tugas itu.”

“Mungkin Ki Gandu Demung akan mengambil tenaga yang dianggapnya lebih baik.”

“Kau gila. Apakah ada orang yang lebih baik dari aku?”

Kawannya justru tertawa. Jawabnya, “Setidak-tidaknya lebih baik daripadaku.”

Orang tertua itu mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Kita tunggu saja. Siapakah yang akan pergi. Tetapi Ki Gandu Demung tidak akan mengambil kita. Mungkin ia mempunyai beberapa orang kepercayaan yang dapat diajaknya berlaku curang, sehingga kehadiran kita akan mengganggu rencananya itu.”

“Sst, jangan berkata begitu. Kau kenal Ki Gandu Demung, seperti kau mengenal Ki Panganti dari Ki Rimbag Wara. Apakah kau kira mereka mengerti, betapa mahalnya nyawa orang lain bagi orang itu?”

“Uh, bukankah aku tidak berkata apa-apa? Aku hanya mengatakan, bahwa Ki Gandu Demung adalah orang yang jauh lebih tepat daripada orang lain. Ia mengenali daerah ini, karena ia memang dilahirkan di sini. Di antara gerombolan-gerombolan liar di sekitar Gunung Tidar, ia mendapat gelar Harimau Hitam Berkuku Pedang.”

“Kukunya memang panjang-panjang,” desis seorang yang masih muda.

“Kau juga,” desis kawannya yang lain.

“He, aku tidak berkata apa-apa. Tetapi ia memang seorang yang matang dan memiliki banyak kelebihan dari orang lain.”

Orang-orang itu pun kemudian termangu-mangu sejenak. Mereka mengerti, bahwa agaknya Gandu Demung telah mendapat tugas khusus. Tetapi mereka tidak mengerti, kenapa nampaknya Ki Gandu Demung masih belum menunjuk siapa pun juga, terutama mereka yang pernah bertugas di Tanah Perdikan Menoreh.

Tetapi mereka memang hanya dapat menunggu. Karena justru ketika malam turun, mereka sudah tidak melihat Ki Gandu Demung di antara mereka.

“Ki Gandu Demung telah pergi,” desis salah seorang dari mereka yang ikut bertugas di Menoreh.

“Apakah ia sama sekali tidak memerlukan seorang penunjuk jalan untuk tugas yang barangkali ada hubungannya dengan pengantin itu?” gumam kawannya.

Tiba-tiba saja orang yang menyaksikan kematian kawannya di halaman belakang rumah Ki Gede berkata, “Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Tanah Perdikan Menoreh. Aku telah mendekati langsung ke rumah Kepala Tanah Perdikannya. Dan aku tahu betul apa yang ada di rumah itu.”

Seorang yang lebih tua daripadanya tertawa. Katanya, “Kau baru melihat permukaannya saja.”

“Itu lebih baik daripada tidak sama sekali.”

“Ki Gandu Demung pernah menyelam sampai ke dasarnya.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun sama sekali tidak menjawab lagi.

Dalam pada itu, Gandu Demung memang sudah meninggalkan perkemahan pasukan Empu Pinang Aring. Ia sudah bertekad untuk menunjukkan jasa yang tentu akan berbalas kepada pimpinannya yang dianggapnya akan ikut memegang peran terpenting jika perjuangan mereka berhasil. Bahkan Gandu Demung yakin, bahwa kekuatan mereka yang menolak kekuasaan Pajang dan berkeinginan memulihkan kewibawaan trah Majapahit pasti akan berhasil, karena Empu Pinang Aring mempunyai landasan kekuatan di daerah Pesisir Utara.

“Jika kekuatan yang akan mengadakan pembicaraan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu dapat mencapai kesepakatan, maka kekuatan yang akan tergabung itu tentu tidak akan dapat terbendung, baik oleh Pajang apalagi oleh Mataram, karena sebagian dari kekuatan pokok ada di dalam Istana Pajang itu sendiri, selain kekuatan dari Pesisir Utara dan daerah Timur yang kecewa,” berkata Gandu Demung kepada diri sendiri.

Demikianlah ia menyusuri daerah yang gelap dan sepi di tepi hutan yang melingkar di sebelah Gunung Tidar. Ia ingin mencoba menemui saudara-saudaranya yang berada di dalam lingkungan para perampok dan penyamun. Bahkan ayahnya yang menjadi semakin tua itu pun tentu masih mempunyai pengaruh yang kuat di antara mereka.

“Jika aku berhasil, maka aku adalah seorang pahlawan yang harus mendapat panghargaan,” gumam Gandu Demung kepada diri sendiri. “Ayah dan saudara-saudaraku pun tentu akan mendapat bagiannya. Mungkin Ayah akan mendapatkan Tanah Perdikan Menoreh, atau menjadi seorang demang di daerah yang subur di sekitar Gunung Merapi atau Gunung Merbabu. Terlebih-lebih lagi apabila Tanah Perdikan Banyu Biru termasuk Pamingit diserahkan kepadaku kelak.”

Gandu Demung tertawa serdiri. Sementara itu kakinya masih tetap melangkah di kegelapan. Meskipun ia tidak tahu pasti, di manakah ayahnya berada, tetapi ia dapat menduga tempat persembunyiannya. Tentu masih yang dahulu.

Ketika di kejauhan terdengar aum harimau lapar, Gandu Demung meraba hulu pedangnya. Sejenak ia menahan nafas, namun kemudian ia bergumam, “Jauh sekali. Arah angin pun tidak menuju ke suara itu.”

Tetapi seandainya tiba-tiba saja seekor harimau telah berdiri di tengah jalan sempit yang sedang dilaluinya Gandu Demung pun tidak akan berhenti, apalagi berbalik.

Setelah berjalan beberapa lama, maka Gandu Demung telah meninggalkan jalan yang menyusuri pinggir hutan. Ia mulai berjalan di jalan yang lebih lebar di sebuah padang ilalang. Dan ia pun mengenal dengan baik, bahwa jalan itu akan segera sampai ke daerah yang berpenghuni.

Tetapi ia tidak akan pergi ke padukuhan itu. Ia akan berbelok menghindar dan akan langsung pergi ke tempat yang jarang dikunjungi orang. Sebuah padesan kecil yang terpencil di celah-celah bukit-bukit kecil.

“Mudah-mulahan aku dapat bertemu dengan siapa pun di tempat itu,” desisnya.

Namun dalam pada itu, langkahnya tiba-tiba terhenti. Telinganya yang tajam telah mendengar desir di balik batang ilalang di sebelah. Bukan desir langkah seekor binatang. Tetapi langkah itu demikian lembutnya, sehingga Ki Gandu Demung yakin, bahwa beberapa orang telah mengintai perjalanannya.

“Asal mereka masih mempunyai mulut dan telinga,” berkata Gandu Demung di dalam hatinya, “tentu mereka masih dapat diajak bicara. Apalagi jika mereka mengenal siapa aku dan siapakah Empu Pinang Aring, tentu mereka tidak akan mengganggu.”

Meskipun Gandu Demung telah menyadari bahwa beberapa orang sedang mengikutinya, namun ia pun terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar salah seorang dari mereka membentaknya, “He, berhenti.”

Dalam kegelapan ia melihat tiga orang yang muncul dari balik batang ilalang dengan senjata terhunus. Salah seorang dari mereka melangkah maju sambil mengacungkan pedangnya.

“Siapakah kau?” bertanya orang itu.

Gandu Demung menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berhenti di tempat yang cukup lapang.

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengenali wajah orang itu, barangkali ia pernah melihat sebelumnya. Tetapi di dalam keremangan malam ia sama sekali tidak dapat melihat wajah itu dengan jelas.

“Jawab. Siapakah kau dan apakah maksudmu lewat jalan ini?”

Gandu Demung masih tetap tenang. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya hanyalah tiga orang saja.

Namun demikian Gandu Demung tidak segera menjawab. Ia ingin orang-orang itu menjadi lebih dekat lagi.

“He, apakah kau bisu atau tuli,” salah seorang dari ketiga orang itu membentak. Tetapi seperti yang diharapkan oleh Gandu Demung, maka mereka pun melangkah semakin dekat.

Meskipun demikian, Gandu Demung tetap tidak dapat mengenali mereka, sehingga karena itu, maka ia pun bertanya di luar sadarnya, “Siapakah kalian, he?”

“Gila,” salah seorang dari ketiga orang itu menggeram, “kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa kau?”

“O,” Gandu Demung sadar akan ketelanjurannya, “baiklah. Namaku Gandu Demung. Apakah kau pernah mendengar?”

Sejenak ketiga orang itu termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari ketiganya berdesis, “Aku tidak pernah mendengar nama itu.”

“Mungkin kau belum pernah mendengarnya. Agaknya kalian orang baru di sini. Orang baru yang harus sudah menyingkir karena kehadiran Empu Pinang Aring.”

“Persetan dengan iblis itu.”

“He,” Gandu Demung terkejut, “kau berani mengucapkan kata-kata itu?”

Ternyata orang itu pun menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia membentak untuk menyembunyikan keragu-raguannya, “Siapa kau, he? Siapa?”

“Sudah aku sebut namaku.”

“Nama yang tidak berarti sama sekali bagiku. Tetapi siapa kau dan dalam hubungan apakah kau berada di sini sekarang ini.”

Gandu Demung mengangguk-angguk. Jawabnya, “Baiklah. Agaknya kalian benar-benar orang baru di sini. Aku tidak tahu dari gerombolan yang manakah kalian sebenarnya. Tetapi barangkali kawan-kawanmu pernah menyebut sebuah gelar, Harimau Hitam Berkuku Pedang.”

“He,” ketiga orang itu terkejut. Beberapa saat mereka termangu-mangu. Baru kemudian salah seorang dari mereka menggeram, “Kau ingin menakut-nakuti kami?”

“Sama sekali tidak. Gelar itu memang gelar yang diberikan kepadaku oleh orang-orang yang justru tidak aku mengerti. Bahkan arti dari gelar itu pun tidak aku mengerti pula. Apakah yang sama dengan harimau hitam. Apalagi berkuku pedang, sedang aku hanya mempunyai sebilah pedang saja.”

“Persetan. Tetapi aku memang pernah mendengar gelar itu. Gelar dari seorang yang ditakuti di daerah ini. Tetapi sejak kehadiran Empu Pinang Aring, Harimau Hitam itu tidak pernah terdengar lagi. Ternyata ia pun tidak lebih dari seorang pengecut.”

“Kau salah, Ki Sanak. Harimau hitam itu tidak hilang pada saat Empu Pinang Aring datang kemari. Tetapi jauh sebelum itu, karena Harimau Hitam itu memang berada di dalam lingkungan pasukan Empu Pinang Aring sejak lama. Dan sekarang, kebetulan sekali Empu Pinang Aring dan orang-orangnya yang terpercaya berada di daerah ini termasuk aku, Harimau Hitam Berkuku Pedang.”

Ketiga orang itu termangu-mangu sejenak. Baru sejenak kemudian salah seorang dari mereka menggeram, “Meskipun kau benar-benar Harimau Hitam Berkuku Pedang seperti yang pernah aku dengar namanya, dan bahkan kau adalah salah seorang dari pasukan Empu Pinang Aring, namun aku ingin meyakinkan, bahwa kekuatan gerombolan Candramawa belum lenyap dari daerah ini. Bahkan semakin lama justru menjadi semakin kuat. Jika Empu Pinang Aring mengabaikan kekuatan gerombolan Candramawa, maka ia akan menyesal.”

Gandu Demung mengerutkan keningnya. Dengan suara yang dalam ia mengulang, “Candramawa. Aku pernah mendengar nama gerombolan Candramawa yang dipimpin oleh Ki Bajang Garing. He, apakah kau anak buah Ki Bajang Garing?”

Ketiga orang itu terkejut. Salah seorang dari mereka bertanya, “Kau kenal nama Ki Bajang Garing? Tetapi itu pun tidak mustahil karena nama Ki Bajang Garing di daerah ini tidak kurang dari nama Empu Pinang Aring.”

Gandu Demung tertawa. Katanya, “Kau benar-benar anak yang dungu. Kau sama sekali tidak mempunyai gambaran, betapa perbandingan yang sama sekali tidak seimbang antara gerombolan yang kau sebut Candramawa pimpinan Ki Bajang Garing itu.”

“Persetan. Sekarang sebut, apa maumu sebenarnya?”

“Ki Sanak,” berkata Gandu Demung, “sebenarnya aku tidak akan mencari persoalan. Aku datang dengan maksud baik. Aku ingin membuat hubungan dengan gerombolan-gerombolan yang semula ada di daerah sekitar Gunung Tidar ini, namun yang kemudian tercerai berai karena kehadiran Empu Pinang Aring.”

“Kami tidak tercerai berai.”

“Baiklah. Tetapi ketahuilah bahwa aku adalah Gandu Demung yang bergelar Harimau Hitam Berkuku Pedang. Jika kau masih belum jelas, maka kau tentu pernah mendengar nama orang tua yang tentu dikenal dengan baik oleh Ki Bajang Garing.”

“Siapakah orang tua itu?”

“Ki Carangsoka.”

“Persetan dengan Carangsoka. Tentu orang orang dari gerombolan Candramawa mengenal orang yang bernama Ki Carangsoka. Ia adalah musuh bebuyutan Ki Bajang Garing. Jika kau termasuk salah seorang anak buah Ki Carangsoka, maka kau memang pantas dibinasakan sebelum kau berhasil berbuat sesuatu yang dapat mencelakakan gerombolan Candramawa.”

“Kenapa mencelakakan?”

“Kau tentu akan dapat berceritera bahwa kami bertiga berada di daerah ini. Orang-orang dari Carangsoka tentu akan menelusuri daerah ini pula untuk membuat perkara dengan orang-orang dari gerombolan kami.”

“Kalian agaknya terlampau berprasangka. Sebenarnya kami ingin membuat hubungan menjadi lebih segar daripada permusuhan yang tidak ada artinya. Ketahuilah, aku bukan saja orang dari gerombolan Carangsoka, tetapi aku adalah anaknya laki-laki.”

Ketiga orang itu termangu-mangu. Namun salah seorang dari mereka segera menggeram, “Jika kau anak Ki Carangsoka, maka kau memang pantas dilumatkan di sini.”

Gandu Demung tersenyum. Jawabnya, “Kalian memang orang-orang baru di lingkungan gerombolan Candramawa. Tentu sesudah aku meninggalkan lingkungan ayah dan saudara-saudaraku, sehingga karena itu kalian belum mengenal aku. Tetapi sebaiknya aku memperingatkan sekali lagi, jangan kau ganggu aku. Aku justru ingin membuat hubungan yang lebih baik dari setiap lingkungan yang tersisih dari daerah ini karena kehadiran Empu Pinang Aring.”

“Memang,” sahut salah seorang dari mereka, “aku belum mengenalmu, meskipun namamu pernah aku dengar. Tetapi kau pun belum pernah mengenal kami. Kami hadir ke dalam lingkungan tikus-tikus kecil yang menyebut dirinya gerombolan Candramawa. Hanya ada seorang yang pantas disebut laki-laki. Yaitu Ki Bajang Garing. Baru kemudian adbmcadangan.wordpress.com setelah kami ada di dalam lingkungan mereka, setiap gerombolan mengakui, bahwa gerombolan Candramawa pantas mendapat tempat tertinggi. Dan orang yang bernama Carangsoka itu tidak akan berani menyentuh bayi sekali pun yang berada di dalam perlindungan kami.”

Wajah Gandu Demung menjadi tegang. Dengan suara yang datar ia berkata, “Jangan berkata begitu. Jangan membuat hatiku yang semula cair menjadi beku dan kehilangan sikap bersahabat.”

“Persetan. Kau akan mati, dan tidak seorang pun yang mengetahui dimana mayatmu. Empu Pinang Aring sebenarnya tidak menakutkan sama sekali. Tetapi karena jumlah anak buahnya yang tidak terhitung sajalah yang memaksa kami menyingkir untuk sementara.”

Gandu Demung mencoba menahan perasaannya. Namun terloncat juga dari mulutnya, “Kau jangan membuat aku semakin marah. Aku masih mencoba untuk mengekang diri karena aku mempunyai kepentingan yang perlu kalian dengar. Jika kalian dapat sedikit menahan hati dan mendengarkan keteranganku, mungkin kita tidak akan mudah terlibat dalam perselisihan.”

“Nah,” desis yang bertubuh jangkung, “kau sudah mulai gelisah dan mencari dalih untuk menyelamatkan diri.”

“Persetan,” Gandu Demung menggeram, “kau masih dapat berlagak. Baiklah. Jika kalian memang memaksakan perselisihan, aku tidak berkeberatan sama sekali. Tetapi jika salah seorang dari kalian terbunuh, itu bukan salahku.”

“Dan jika kau hilang tanpa diketahui ke manakah bujur lintangnya, maka nyawamu tidak usah menyesal. Empu Pinang Aring yang mempunyai pasukan sebanyak semut di ladang ini pun tidak akan dapat berbuat apa-apa karena ia tidak akan pernah mengetahui, ke mana kau pergi.”

Gandu Demung benar-benar menjadi marah. Karena itu maka ia pun kemudian berkata lantang, “Baiklah. Kita akan melihat, siapakah di antara kita yang hanya pandai membual. Meskipun kalian bertiga, tetapi anak Carangsoka tidak akan mengecewakan, apalagi ia adalah Harimau Hitam Berkuku Pedang yang mendapat kepercayaan khusus dari Empu Pinang Aring.”

Orang yang bertubuh jangkung itu tertawa, katanya, “Aku pun dapat menyebut diriku dengan gelar yang lebih menakutkan dari sekedar Harimau Berkuku Pedang. Mungkin aku dapat memberi gelar baru diriku sendiri Gajah Putih Berbelalai Pelangi, atau Serigala Bergigi Guntur.”

“Cukup,” bentak Gandu Demung, “sudah tiba waktunya untuk membungkam mulutmu selama-lamanya.”

Orang bertubuh jangkung itu masih akan tertawa. Tetapi tiba-tiba saja suaranya terputus, karena Gandu Demung meloncat selangkah maju dan siap untuk menyerang.

Ketiga orang itu pun kemudian berpencar. Mereka pun segera mempersiapkan diri. Ketiganya mengambil tempat yang berlawanan dan dengan serta-merta mengacukan senjata masing-masing.

“Hem,” Gandu Demung menggeram, “cukup cepat juga tata gerak kalian. Tetapi tentu kalian berkelahi seperti anak-anak yang baru mulai mempelajari ilmu kanuragan.”

Orang bertubuh jangkung itulah yang kemudian mulai menggerakkan senjatanya. Sejenak kemudian serangannya yang cepat pun segera mengarah ke tubuh Gandu Demung.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:20  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-94/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. met pagi para sedulur mau ikutan jdi cantrik nih

  2. Clingak – clinguk, garuk – garuk sirah, bingung …. lha enten nopo Ki GD …… kok dereng lahir2 kitab 94ipun, mugi – mugi tetap sehat … mboten kesayahen … lsn keparingan berkat dening gusti Allah. Amin.

  3. selamat pagi juga . juga baru mau ikutan jadi cantrik nich . jadi saya duduk di gardu dekat regol saja sambil berharap wedang sereh hangat jilid selanjutnya sampai
    gardu.

  4. pundi nggih kitab 94 ??? matur suwun

  5. Mas, mulai buku 94 ke atas saya tidak bisa download lagi krn power pointnya gak bisa dibuka, padahal udah dg yg 2007…begitu pula doc nya ,,,kenapa ya

    Mohon jawaban

    # baca lagi halaman unduh

  6. alhamdulillah, akhirnya kitab 94-nya ki Gede turun juga. matur suwun

  7. Tulungin ki sanak, cantrik baru belum bisa ngunduh kitab 93,94, di endhi yo

    • Yang sudah ada versi retypenya, versi djvunya tautan file sudah dihilangkan.
      Baca langsung dokumennya. Kalau mau diunduh yang tinggal diblok dan dicopy saja

  8. Selamat, ore ngertiya akeh banget ya sing pada gandrung aring critane Alm. SH. Mintaredja… Aku mulai maca critane SH. Mintaredja dong esih kelas 5 SD nang SD. Kristen (Bersubsidi) Purbalingga, Bapakku dines nang Kodim 0702 nek kondur kang kantor terus maos NSSI, aku kelingan banget wektu kuwe nganti Ibuku juga melu-melu maos…..

    Pancen critane asik, aku juga ndatuk banget karo NSSI, mulai cetakan lawas, nganti tekan sekitar taun 80-an terbit maning edisi anyare… mung ya sing paling asik anggere maca buku asline sing jumlahe 29 jilid.

    Kepriwe sedulur…. apa ana sing arep nerusaken nulis critane APDM sewise sedane Mbah SH. Mintaredja….? Sukur angger kaya kuwe…. akuy juga kepengin duwe bukune mengku anggere wis ana…

    Wis disit ya… ngesuk-ngember disambung maning….

    Klilannnnnn……..

    Bogie Dwi Alriyanto
    Setabelan – Purbalingga Wetan
    Telpune : 08128512678

  9. aku ingin mengajak ketempat istirahatnya kanjeng kyai grinsing sekalian kita berziarah bersama para penggermar ADBM… hayo siapa yang ingin menjadi sponsornya… ???

  10. Melu urun rembug

  11. terima kasih kepada ki GD dan para cantrik atas jerih payahnya menulis ulang kitab pusaka ADBM ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: