Buku 94

“Kami mendapat tugas khusus untuk memberitahukan hal itu, Ki Demang,” berkata orang itu, “agar Ki Demang dan para sesepuh di Sangkal Putung mengetahuinya. Hal itu agaknya dianggap penting oleh Ki Gede, karena beberapa hari lagi, iring-iringan pengantin laki-laki akan segera memasuki tlatah Menoreh. Jika Ki Demang tidak mengetahui perkembangan terakhir yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh, maka mungkin sekali akan terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki.”

Ki Demang menjadi tegang sesaat. Tanpa disadarinya ditatapnya wajah Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar berganti-ganti. Pada wajah-wajah itu pun nampaklah ketegangan yang mencengkam. Apalagi Swandaru dan Agung Sedayu.

“Ki Sanak,” berkata Ki Demang kemudian, “jika demikian, apakah itu berarti bahwa penganten yang akan memasuki tlatah Menoreh itu harus diiringi pengawal segelar sepapan?”

Pengawal itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ki Gede Menoreh sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengatasi apa saja yang mungkin akan dapat terjadi. Namun demikian, itu bukan berarti bahwa iring-iringan pengantin itu dapat mengabaikan kewaspadaan.”

“Apakah yang sudah dilakukan oleh Ki Gede khususnya karena perkembangan keadaan itu?” bertanya Ki Demang.

“Ki Gede sudah meningkatkan kesiagaan. Terutama pada padukuhan di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh penganten laki-laki saat mereka memasuki Tanah Perdikan Menoreh sampai ke padukuhan induk. Meskipun sesuai dengan pesan Ki Gede, kesiagaan itu jangan sampai nampak terlampau nyata, sehingga dapat menimbulkan kegelisahan dan mengurangi kegembiraan rakyat Menoreh di saat perkawinan itu berlangsung.”

“Apakah mereka sama sekali tidak mengerti, bahwa peristiwa itu telah terjadi? Maksudku peristiwa perampokan dan kematian para perampok itu?”

“Mereka mengetahuinya, karena berita itu segera tersebar di seluruh Tanah Perdikan. Namun kegelisahan yang nampak di kalangan para pengawal akan menambah kegelisahan rakyat Menoreh. Pengawalan yang akan dilakukan, adalah pengawalan yang tersamar. Tetapi justru di tempat peristiwa perampokan itu terjadi, di ujung yang berlawanan dengan arah yang akan dilalui penganten dari Sangkal Putung, pengawalan dilakukan sebaik-baiknya oleh para pengawal yang berasal dari padukuhan itu sendiri tanpa penyamaran. Tetapi padukuhan itu sama sekali tidak akan dilalui oleh iring-iringan dari Sangkal Putung. Namun justru pengawalan yang demikiainlah yang akan memberikan ketenangan kepada penduduknya yang mungkin merasa terancam oleh dendam para perampok yang terbunuh di padukuhan mereka. Sehingga bagi mereka keselamatan padukuhan mereka harus mendapat perhatian lebih besar dari kegembiraan di hari-hari perkawinan anak perempuan Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Demang Sangkal Putung dan mereka yang mendengar penjelasan itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari betapa gawatnya perjalanan ke tlatah Menoreh jika para perampok itu kemudian berusaha melepaskan dendam mereka kepada calon penganten kedua-duanya. Apalagi mereka tentu beranggapan bahwa penganten yang akan dipertemukan itu tentu telah dilengkapi dengan perhiasan yang mahal dan berharga.

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia berkata, “Kenapa semuanya itu terjadi justru pada saat Swandaru akan kawin?”

Namun Kiai Gringsing kemudian menyahut, “Bukan karena Swandaru akan kawin, Ki Demang. Tetapi agaknya pemerintahan Pajang memang benar-benar telah goyah. Di mana-mana telah timbul kerusuhan. Semuanya ini adalah akibat dari perkembangan di masa lalu. Sepeninggal Sultan Trenggana, maka timbullah berbagai persoalan yang telah menimbulkan perbedaan sikap dan pandangan terhadap kelangsungan tahta Demak. Permusuhan di antara saudara dan keluarga sendiri menjadi-jadi.” Kiai Gringsing berhenti sejenak, lalu, “Ternyata bahwa pertentangan itu masih belum berakhir. Seperti yang telah terjadi di sekitar kademangan ini, di saat Angger Macan Kepatihan masih mempunyai cukup kekuatan. Agaknya kekisruhan di daerah Pajang ini belum dapat dianggap selesai dengan tuntas. Dan sekarang, persoalan-persoalan itu telah tumbuh lagi dan bahkan berkembang dengan suburnya, seperti getumbul-gerumbul perdu yang justru beronak dan duri.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Tetapi bagaimana pun juga perjalanan ke Menoreh itu harus diperlengkapi dengan kekuatan untuk menghadapi setiap kemungkinan.”

“Ya, Ki Demang. Aku sependapat. Tetapi tidak berlebih-lebihan,” sahut Ki Sumangkar.

“Tetapi Ki Sumangkar jangan lupa. Kekuatan perampok yang ada di sekitar tlatah Menoreh itu tidak kalah dahsyatnya dengan kekuatan yang ada di Tambak Wedi. Bukankah prajurit Pajang segelar sepapan mengalami kesulitan melawan mereka? Nah, apakah yang akan terjadi jika ternyata iring-iringan penganten dari kademangan ini bertemu dengan pasukan perampok yang berkekuatan seperti kekuatan mereka yang ada di Tambak Wedi?”

Kecemasan Ki Demang memang dapat dimengerti. Namun dalam pada itu salah seorang pengawal itu pun menjawab, “Seperti yang sudah kami katakan, bahwa pengawal Tanah Perdikan Menoreh akan mengadakan baris pendem di padukuhan-padukuhan sebelah Kali Praga. Dengan satu isyarat, mereka akan segera dapat berkumpul dan melakukah tugas yang betapa pun beratnya.”

“Tetapi Ki Sanak tidak mengalami pertempuran yang dahsyat di lereng Gunung Merapi.”

“Ki Waskita yang kini berada di Tanah Perdikan Menoreh pernah menceriterakannya. Dan agaknya Ki Waskita pun mengalaminya, sehingga ia akan dapat memberikan beberapa pertimbangan kepada Ki Gede Menoreh.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Teringat sekilas saat perkawinan Untara yang tegang. Agaknya akan terjadi juga pada saat-saat perkawinan Swandaru, apalagi agaknya perlindungan bagi keduanya berbeda, karena Untara adalah justru seorang senapati perang.

Namun dalam pada itu Kiai Gringsing berkata, “Kita dapat memberitahukan persoalannya kepada Mataram. Agaknya Mataram juga berkepentingan dengan mereka, karena hubungan mereka dengan pusaka yang hilang itu agak lebih jelas dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi berurutan.”

“*************** Jika Mataram harus ikut menjadi sibuk hanya karena Swandaru anak seorang Demang di Sangkal Putung, akan melangsungkan perkawinan. Apalagi jika terjadi sesuatu, maka Mataram harus mempertaruhkan nyawa para pengawalnya.”

“Ki Demang,” berkata Kiai Gringsing, “persoalannya tidak terbatas pada perkawinan Swandaru. Tetapi bahwa telah terjadi banyak peristiwa yang gawat di Pajang, Mataram, dan sekitarnya adalah karena persoalan Pajang dan juga Mataram itu sendiri. Karena itulah maka Mataram pun tentu tidak akan ingkar jika mereka diminta untuk bersiaga.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Sedang Kiai Gringsing berkata selanjutnya, “Namun bagaimana pun juga, perkawinan itu harus berlangsung.”

Swandaru yang menjadi pusat persoalan sama sekali, tidak menyambung pembicaraan itu, meskipun dadanya bagaikan bergetar oleh kegelisahan dan bahkan kemarahan yang meluap-luap. Ia merasa terganggu oleh tingkah laku para perampok itu, justru menjelang hari-hari perkawinannya.

Pembicaraan itu masih berlangsung beberapa lama. Namun akhirnya Ki Demang tidak dapat menolak, bahwa pcrsoalan itu akan diceriterakan kepada Ki Lurah Branjangan di Mataram pada saat mereka singgah seperti yang sudah direncanakan dan menyampaikan kepada para pemimpin di Mataram.

Dalam pada itu, ketika Swandaru dan Agung Sedayu telah berada di halaman, mereka mulai membicarakan persoalan yang dihadapi di saat yang sangat penting bagi Swandaru itu. Namun sikap yang nampak pada Swandaru adalah sikap seorang anak muda yang darahnya masih mudah meluap.

“Kenapa Ayah nampaknya menjadi gentar,” desisnya. “Aku tidak akan takut menghadapi apa pun juga. Adalah wajar seandainya aku harus mempertaruhkan nyawa.”

Agung Sedayu mengangguk-angguk. Tetapi katanya dengan nada yang datar, “Tetapi sebaiknya perjalanan itu memang disiapkan sebaik-baiknya. Agaknya memang akan menjadi sebuah perjalanan yang gawat.”

Swandaru memandang Agung Sedayu sekilas. Lalu katanya, “Tidak usah dirisaukan lagi. Jika kita selalu ragu-ragu, maka perkawinan itu akan tertunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Dan aku akan menjadi semakin tua karenanya.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kata-kata Swandaru itu justru membuatnya merenungi diri sendiri. Sekali-sekali terngiang di telinganya kata-kata Swandaru, “Aku akan menjadi semakin tua.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pandangannya kini justru tertuju kepada diri sendiri yang seperti juga yang dicemaskan oleh Swandaru itu, menjadi semakin tua. Dan dalam usianya yang merambat terus itu, ia masih tetap seorang petualang yang tidak mempunyai pegangan bagi masa depannya.

“Sekar Mirah adalah seorang perempuan yang memiliki ilmu kanuragan,” katanya di dalam hati, “apa salahnya jika kita berdua justru menjadi sepasang pengembara yang menjelajahi padukuhan diseluruh Pajaing?” Namun kemudian, “Tetapi keluarga yang demikian bukanlah keluarga yang manis. Apalagi jika kemudian lahir anak-anak yang mungil.”

Agung Sedayu justru menjadi gelisah karena persoalannya sendiri.

Namun demikiah, ia tidak ingin menambah suasana menjadi sulit. Diendapkannya persoalan dirinya sendiri itu di dalam hati. Ia tidak ingin membawa orang lain ikut dalam kegelisahan itu, meskipun ia gurunya, karena gurunya pun tentu sedang disibukkan oleh persoalan saudara seperguruannya, Swandaru.

Para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh masih mempunyai waktu yang lapang untuk beristirahat. Mereka akan tinggal satu hari di Sangkal Putung. Dengan demikian setelah bermalam dua malam, mereka akan kembali ke Tanah Perdikan Menoreh.

“Bukankah kalian masih mempunyai cukup waktu seandainya kalian tinggal di sini semalam lagi?” bertanya Ki Demang.

“Sepasar adalah batas waktu. Lebih cepat agaknya akan menjadi lebih baik, karena dengan demikian aku akan mengurangi ketegangan perasaan Ki Gede dan Ki Waskita di Menoreh.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menahan lagi ketiga orang itu minta diri di keesokan harinya. Menjelang fajar mereka akan meninggalkan Sangkal Putung, agar mereka tidak terlalu malam sampai di Tanah Perdikan Menoreh yang ternyata di saat terakhir agak dirisaukan oleh kerusuhan yang datang dari luar Tanah Perdikan.

Demikianlah, menjelang fajar di pagi hari berikutnya para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh itu pun benar-benar meninggalkan Sangkal Putung. Jika di perjalanan kembali mereka tidak mengalami gangguan apa pun juga, maka tugas mereka dapat mereka selesaikan dengan baik sehingga dengan demikian telah mengurangi kemungkinan buruk bagi iring-iringan penganten dari Sangkal Putung beberapa saat mendatang.

Sepeninggal para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh, maka Ki Demang Sangkal Putung, Kiai Griagsing, dan Ki Sumangkar pun segera mengadakan pembicaraan khusus. Namun tidak ada yang dapat mereka sepakati selain memperkuat pengawalan.

“Memang hanya itu,” berkata Kiai Gringsing, “tidak ada cara lain. Tetapi apa salahnya jika kita menyampaikan persoalan ini juga kepada Ki Lurah Branjangan meskipun tidak semata-mata untuk minta bantuan pengawalan selama kita berada di tlatah Mataram menjelang daerah penyeberangan di Kali Praga karena di sebelah penyeberangan itu, para pengawal Menoreh sudah siap dalam baris pendem.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Memang menegangkan sekali. Seolah-olah mereka sedang mempersiapkan sebuah perjalanan perang yang gawat, menyusup ke daerah musuh.

Karena itulah, maka Ki Demang pun segera mulai membicarakan dengan para pemimpin kademangan, siapakah yang akan mereka bawa ke Tanah Perdikan Menoreh dalam keadaan yang gawat itu.

“Kau tinggal menunggu kademangan, Ki Jagabaya,” berkata Ki Demang kepada Ki Jagabaya, “karena ketenangan kademangan ini tidak kalah pentingnya dengan pengamanan perjalanan Swandaru. Pada saat Swahdaru kembali sambil membawa isterinya, kademangan ini harus dapat menerimanya sebaik-baiknya. Jika kademangan ini ternyata menjadi tidak tenang karena gangguan yang sama seperti yang telah terjadi di Menoreh, maka usaha Ki Gede untuk tetap memelihara suasana yang gembira akan sia-sia.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa kerusuhan yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh ternyata mempunyai jalur hubungan dengan kerusuhan di lereng Gunung Merapi.

“Jika mereka kecewa di Tanah Perdikan Menoreh karena mereka gagal merampok iring-iringan penganten, maka mereka akan dapat mengirimkan orang-orangnya ke mari dan melepaskan dendamnya di sini karena setiap orang mengetahui bahwa penganten laki-laki di Tanah Perdikan Menoreh itu berasal dari Sangkal Putung,” berkata Ki Demang kemudian.

“Kami mengerti, Ki Demang,” sahut Ki Jagabaya, “dengan demikian kita harus membagi kekuatan. Tetapi mereka yang menempuh perjalananlah yang agaknya lebih penting. Jumlah mereka tentu lebih terbatas, sedang di kademangan ini, aku dapat mengerahkan para pengawal dan semua anak-anak muda. Bahkan semua laki-laki.”

Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat, Ki Jagabaya. Tetapi meskipun demikian, kita semuanya harus selalu berhati-hati. Terserahlah kepada Ki Jagabaya, siapakah yang akan pergi bersamaku ke Tanah Perdikan Menoreh.”

Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Waktu yang pendek itu harus dipergunakan sebaik-baiknya. Karena itulah, maka Ki Jagabaya bermaksud untuk menyiapkan sekelompok pengawal yang paling dapat dipercaya. Bahkan mereka masih memerlukan latihan-latihan khusus untuk mengatasi setiap kesulitan di perjalanan. Mereka harus mampu mempergunakan kuda sebaik-baiknya dan mereka harus mampu bertempur di atas punggung kuda.

Dalam pada itu, selagi Sangkal Putung dan Menoreh sibuk dengan persiapan masing-masing, dan selagi para pengawal dari Tanah Perdikan Menoreh berpacu kembali, maka di kaki Gunung Tidar, beberapa orang sedang berkumpul untuk membicarakan rencana mereka yang paling menarik.

“Kita akan menghadapi serombongan pengiring penganten,” berkata salah seorang dari mereka, “tentu empu akan menyetujui rencana kita.”

Yang lain mengangguk-angguk. Salah seorang berkata, “Kita harus dapat memberikan keterangan sejelas-jelasnya secara terperinci. Kita harus tahu pasti jalan yang kira-kira akan dilaluinya, sehingga kita dapat menempatkan diri sebaik-baiknya.”

“Kau sajalah yang menyampaikan kepadanya.”

“Kita bersama-sama,” jawab yang lain.

Sejenak mereka berdiam diri. Namun mereka tengah sibuk dengan angan-angan mereka. Iring-iringan penganten itu tentu membawa banyak harta dan benda. Bukan saja sebagai barang-barang yang akan dipergunakan dalam upacara serah terima, tetapi juga perhiasan mereka yang tentu akan mereka pergunakan pada saat perkawinan itu berlangsung, juga para pengiringnya.

“Tetapi mereka tentu membawa pengawal yang kuat,” berkata salah seorang dari mereka.

“Sebut, berapa orang. Sepuluh, dua puluh?”

“Seandainya sekian.”

“Kami dapat mempersiapkan orang sejumlah itu. Bahkan lipat dua. Mereka adalah orang-orang kademangan yang tidak banyak berarti. Kecuali jika mereka dikawal oleh sepasukan prajurit Mataram.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Lalu, “Sebentar lagi kita mendapat kesempatan untuk menghadap. Kita akan menyampaikannya. Setelah kesempatan ini tertunda dua hari.”

Yang lain masih saja mengangguk-angguk. Namun rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi menunggu kesempatan untuk menghadap Empu Pinang Aring yang memerintahkan kepada mereka untuk datang ke Gunung Tidar, justru saat yang ditentukan telah lewat.

Dalam kegelisahan itu, mereka berkali-kali telah mendesak kepada pengawal terdekat untuk segera mendapat kesempatan melaporkan apa yang telah mereka lakukan di Tanah Perdikan Menoreh.

“Empu Pinang Aring sedang terganggu kesehatannya,” berkata pengawal terdekatnya.

“Kenapa?” bertanya salah seorang dari mereka yang ingin menghadap itu.

“Tentu aku tidak tahu kenapa Empu Pinang Aring menjadi sakit, bahkan Empu Pinang Aring sendiri pun tidak tahu pula sebabnya. Mungkin kita dapat menduga, bahwa Empu Pinang Aring terlalu letih, karena perjalanannya yang tergesa-gesa ke lembah Gunung Merapi. Karena itulah maka kesempatanmu menghadap menjadi tertunda. Tetapi itu pun tidak dapat kita anggap dugaan yang tepat, karena Empu Pinang Aring tidak pernah mengenal lelah. Tiga hari tiga malam ia bertempur tanpa berhenti sama sekali, tidak mempengaruhi kesehatannya, tanpa makan tanpa minum. Apalagi sekedar perjalanan betapa pun tergesa-gesanya. Karena itu, mungkin pula ada sebab lain yang tidak kita mengerti.”

“Apakah sekarang masih juga belum dapat menerima kami?”

“Aku tidak tahu. Tetapi hanya orang-orang terpenting sajalah yang dapat menemuinya. Laporanmu mungkin akan diterima bukan oleh Empu Pinang Aring sendiri. Mungkin Kakang Rimbag Wara atau mungkin Kakang Panganti. Tetapi laporanmu akan diterima hari ini siapa pun yang akan mewakili Empu Pinang Aring.”

“Tetapi laporanku penting sekali.”

“Katakan kepada siapa pun yang akan berkewajiban menerimanya.”

Orang-orang yang sudah menunggu terlampau lama itu menjadi kecewa. Tetapi sudah barang tentu mereka tidak akan memaksa seandainya Empu Pinang Aring sendiri tidak dapat menerima mereka.

“Aneh,” mereka masih saja menjadi heran, “mana mungkin Empu Pinang Aring menjadi sakit. Aku tidak pernah mendengar sebelumnya. Dan aku tidak dapat membayangkan bahwa hal itu telah terjadi.”

Tetapi nampaknya Pinang Aring benar-benar telah menutup diri bagi mereka yang tidak termasuk orang-orang yang paling dipercaya.

Seperti yang dikatakan oleh pengawal itu, maka ternyata beberapa orang yang telah pergi ke Menoreh itu pun telah dipanggil untuk memasuki sebuah rumah induk dari perkemahan mereka. Tetapi yang menerima mereka memang bukan Empu Pinang Aring sendiri meskipun agaknya Empu Pinang Aring juga berada di rumah itu.

“Seorang pengawal telah mendesak agar kalian dapat diterima hari ini,” berkata seorang yang bertubuh kecil, berkulit kuning dengan kumis yang kecil menyilang di atas bibirnya.

“Ya, Kakang Panganti,” jawab salah seorang yang tertua dari mereka, “sudah terlalu lama kami menunggu.”

“Apa salahnya? Kalian tidak akan mendapat tugas baru lagi untuk beberapa lama sampai saat terpenting itu tiba.”

“Apa bekal kita sudah cukup?”

“Empu Pinang Aring tidak peduli lagi. Ada sesuatu yang lebih penting dari semuanya itu. Dan kini yang jauh lebih berharga itu telah ada di sini.”

“Apakah yang jauh lebih berharga itu?”

“Kelak kalian akan mengetahuinya. Sekarang jika kalian memang ingin segera menyampaikan pesan atau laporan tentang tugas-tugasmu, katakanlah. Pada saatnya aku akan menyampaikan kepada Empu Pinang Aring.”

“Apakah saat-saat ini sama sekali tidak ada kesempatan untuk menghadap empu betapa pun pentingnya.”

“Tidak pada waktu dekat ini.”

“Apakah sakitnya cukup parah?”

Panganti termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Empu sebenarnya tidak sakit. Tetapi ia hanya sekedar ingin beristirahat tanpa diganggu oleh siapa pun untuk kira-kira sepekan. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Jauh lebih penting dari tugas kalian selama ini.”

“Tetapi ada bahan yang barangkali dapat dipertimbangkan.”

“Katakanlah. Tetapi jika hal itu hanyalah sekedar masalah pengumpulan dana dan barangkali sumber-sumber yang kalian anggap baik, sebaiknya lupakan saja dalam saat-saat seperti ini.”

Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Salah seorang dari mereka bertanya, “Kenapa?”

“Sudah aku katakan. Masalahnya ada yang lebih penting daripada itu. Pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu memerlukan perhatian sepenuhnya.”

“Apakah ada sesuatu yang kurang wajar telah terjadi?”

“Kematian Kiai Jalawaja memerlukan perhatian.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk. Lalu salah seorang bertanya, “Kapankah hal itu sebenarnya akan terjadi?”

“Hanya Empu Pinang Aring sajalah yang mengetahuinya. Kita tidak perlu. Kapan pun hal itu terjadi sama saja akibatnya bagi kita. Bersiaga, menghadapi setiap kemungkinan.”

Orang-orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu yang tertua di antara mereka berkata, “Baiklah. Aku akan mengatakannya apa pun tanggapan atas laporanku itu.”

“Katakanlah.”

Orang itu pun segera melaporkan apa yang telah terjadi. Beberapa kelompok-kelompok kecil orangnya berhasil mendapatkan dana meskipun tidak banyak. Korban telah jatuh. Dan mereka mendapat keterangan, bahwa Ki Gede Menoreh akan mengadakan perelatan perkawinan putera puteri satu-satunya.

Panganti mengangguk-angguk kosong. Seperti ia mendengarkan laporan yang lain. Tanpa perhatian, apalagi tertarik atas sesuatu yang telah terjadi.

“Ya,” sahutnya kemudian, “terima kasih. Yang telah menjadi korban, sudahlah. Itu adalah peristiwa yang wajar bagi suatu perjuangan.”

“Tetapi, apakah perkawinan itu tidak menarik perhatian?”

“Di daerah manakah selama ini kau melakukan kegiatan.”

“He?” orang itu menarik nafas. Ia sadar, bahwa laporannya hanyalah sekedar didengar tanpa perhatian sama sekali.

Panganti mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang yang telah memberikan laporan kepadanya itu. Dengan heran ia bertanya pula, “Di manakah selama ini kau melakukan kegiatan? Apakah pertanyaan ini mengherankan kalian?”

“Aku sudah melaporkan semuanya dengan teliti. Tiba-tiba saja aku ditanya, di manakah aku melakukan kegiatan.”

“O,” Panganti tersenyum, “kau kecewa mendengar pertanyaanku? Baiklah. Aku minta maaf. Tetapi cobalah ulangi, di manakah kau melakukan kegiatan?”

“Seandainya aku belum melaporkannya, tentu sudah diketahui, di manakah aku ditugaskan.”

Panganti masih tersenyum. Katanya, “Jangan merajuk. Kau tahu, bahwa bukan akulah yang mengatur tugas setiap anggauta kita di sini. Kali ini aku diwajibkan menerima laporanmu, karena Empu Pinang Aring berhalangan. Aku kira kau cukup tua untuk mengerti.”

Orang itu menelan ludahnya. Ia tidak berani merajuk lagi, karenanya ia tiba-tiba saja sadar, dengan siapa ia berhadapan. Panganti adalah seorang yang mudah tersenyum dan tertawa. Sikapnya baik dan kadang-kadang lemah lembut. Kata-katanya sedap dan menyenangkan.

Namun dengan sikap yang sama, dengan senyum dan tertawa, dengan lemah lembut dan kata-kata yang sedap dan menyenangkan, ia membunuh orang-orang yang tidak disukainya. Dengan seakan-akan bergurau saja ia menukikkan keris ke jantung seseorang yang dikehendaki. Bahkan sambil menganggukkan kepalanya dalam-dalam ia tiba-tiba saja menghantam wajah seseorang sehingga giginya rontok dan bahkan kadang-kadang mematikan. Dengan tersenyum pula ia kemudian berkata, “Maaf, aku tidak sengaja membunuhnya.”

Orang tertua dari kelompok yang bertugas di Menoreh itu pun kemudian berkata, “Ki Panganti. Kami bertugas di Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya.”

“O, di daerah hantu itu,” desis Panganti.

Orang itu mengerutkan keningnya. Di luar sadarnya ia berta-nya, “Kenapa daerah hantu?”

“Ki Argapati adalah seorang yang teguh timbul. Orang yang jarang ada bandingannya di muka bumi ini.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Apakah yang kau maksudkan adalah perkawinan anak gadisnya itu?”

“Ya. Pandan Wangi akan kawin dengan Swandaru. Anak seorang Demang dari tlatah Sangkal Pulung. Kademangan yang subur dan kaya raya.”

Panganti mengangguk-angguk. Katanya, “Memang menarik sekali. Tetapi apakah kau ingin mengusulkan agar kami membunuh diri di induk Tanah Perdikan di saat hari perkawinan itu?”

Orang yang tertua dari kelompok yang bertugas di Menoreh itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Bukan begitu. Aku sudah mendapat keterangan yang lebih jelas dari orang-orang Menoreh. Di saat-saat kami menyamar dan berada di pasar, kami mendengar, kapan pengantin laki-laki bakal tiba dari Sangkal Putung, dan kapan akan kembali ke Sangkal Putung membawa pengantin perempuan.”

“Memang ceriteramu mulai menarik. Dan kau berhasil mengetahui hari dan waktunya?”

“Kami mendengarnya dari orang-orang Menoreh. Mereka tahu pasti kapan mereka harus merayakan hari-hari perkawinan itu. Pandan Wangi adalah anak satu-satunya dari Kepala Tanah Perdikan Menoreh.”

Panganti mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kau membayangkan bahwa pengantin laki-laki itu pun tentu membawa perhiasan yang cukup banyak. Perhiasan pengantin laki-laki itu sendiri dan perhiasan para pengiringnya. Bahkan mungkin harta kekayaan bagi calon isterinya. Begitu?”

“Ya.”

“Dan kau membayangkan, bahwa jika kami bergerak untuk mendapatkan dana dari mereka itu, kita akan melakukannya di luar tlatah Menoreh, karena Menoreh tentu sudah mempersiapkan diri karena peristiwa yang terjadi di ujung Tanah Perdikan dan bahkan di halaman belakang rumah Kepala Tanah Perdikannya itu.”

“Ya.”

“Baiklah. Keterangan ini akan aku sampaikan kepada Empu Pinang Aring. Mungkin dapat menarik perhatiannya. Meskipun ia sama sekali tidak berminat lagi mencari sumber dana yang baru, namun agaknya pengantin ini sangat menarik sekali. Meskipun kalian harus tahu, bahwa Sangkal Putung adalah kademangan yang kuat. Tentu Sangkal Putung mempunyai pengawal-pengawal yang kuat pula. Barangkali Empu Pinang Aring telah mendapat bahan yang cukup selama ia berada di lembah Gunung Merapi menjelang pertemuan puncak antara beberapa pemimpin kelompok yang mendukung perjuangan tegaknya kembali kekuasaan Majapahit di Pulau Jawa.”

Pemimpin kelompok yang bertugas di Tanah Perdikan Menoreh itu mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepada Ki Panganti. Kami sekedar memberikan bahan pertimbangan. Pengantin itu tentu akan melalui jalan yang paling baik menuju ke adbmcadangan.wordpress.com Tanah Perdikan Menoreh. Dan jalan yang paling baik itu adalah jalan terbaru yang dibuka oleh Mataram. Tetapi menjelang tepian Kali Praga, mereka akan melalui sebuah lapangan perdu dan rawa-rawa meskipun tidak begitu luas. Apakah yang dapat kita lakukan di tempat itu, tentu akan menguntungkan sekali. Kita dapat bergerak cepat dan kemudian menghilang sebelum yang kita lakukan itu didengar oleh para pengawal Tanah Mataram yang kuat, atau mungkin di tempat lain yang lebih baik.”

Panganti tertawa. Katanya, “Pengetahuanmu tentang daerah ini memang picik sekali. Kau kira orang-orang Sangkal Putung itu akan kebingungan dan tidak dapat berbuat apa-apa? Tetapi baiklah. Aku akan menyampaikannya kepada Empu Pinang Aring. Jika tebusannya sepadan menurut perhitungan, maka agaknya Empu Pinang Aring sendiri tidak akan keberatan untuk hadir. Tetapi setidak-tidaknya ia akan memerintahkan orang yang dapat dipercaya untuk melakukannya.”

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Namun kemudian ia menjadi kecewa ketika Panganti menepuk bahunya sambil berdiri, “Aku terima laporanmu. Sangat menarik.”

Ketika pemimpin kelompok itu tertegun, Panganti tertawa. Sambil melangkah pergi ia berdesis, “Tunggulah. Mungkin ada kabar baik.”

Beberapa orang yang baru datang dari tlatah Perdikan Menoreh itu pun termangu-mangu. Ternyata Panganti sama sekali tidak memperhatikan laporan mereka. Panganti tidak bertanya apa pun yang cukup penting, baik mengenai laporannya maupun mengenai keterangannya tentang perkawinan itu.

“Ia tidak bertanya, apakah yang dapat kita lakukan, perincian dari usaha kita dan yang lain-lain, terutama mengenai pengantin itu.”

Seorang yang berwajah keras seperti padas menarik nafas sambil mengumpat, “Apakah kerja itu sama sekali tidak berarti?”

“Jangan berputus asa,” sahut pemimpin kelompok itu, “mungkin para pemimpin memang sedang sibuk. Kematian Kiai Jalawaja agaknya memang mempunyai pengaruh yang luas.”

“Mungkin ada pertimbangan-pertimbangan lain,” sahut kawannya yang bertubuh tinggi. “Agaknya Ki Panganti banyak mengetahui mengenai Sangkal Putung dan sekitarnya. Karena itu, mungkin ada pertimbangan-pertimbangan lain yang belum kita ketahui.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun mereka sama sekali tidak puas atas penerimaan para pemimpin mereka, setelah mereka menjalankan tugas di daerah Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya. Bahkan dengan mengorbankan beberapa orang kawan mereka. Tetapi mereka tidak dapat menuntut perhatian lebih banyak lagi meskipun dengan berdebar-debar mereka telah menunggu untuk waktu yang cukup lama.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah para pemimpin kelompok yang berada di kaki Gunung Tidar itu sedang membuat pertimbangan-pertimbangan tertentu menghadapi perkembangan keadaan. Seperti orang-orang yang berada di Tambak Wedi, maka Empu Pinang Aring juga hanya untuk sementara saja berada di kaki Gunung Tidar. Namun agaknya kehadiran kelompok yang cukup besar itu telah menyingkirkan beberapa kelompok kecil penyamun dan perampok yang sebelumnya telah berada di sekitar Gunung Tidar.

Ternyata bahwa kematian Kiai Jalawaja telah merubah keseimbangan kekuatan di dalam kelompok-kelompok yang merasa dirinya berkepentingan untuk memulihkan kembali kekuasaan Majapahit. Kelompok-kelompok yang dipimpin oleh orang-orang yang merasa dirinya keturunan langsung dari kekuasaan yang berhak untuk berkelanjutan.

Agaknya hal itu telah mencengkam para pemimpin kelompok yang sebelumnya memang sengaja berpencaran, untuk mengaburkan jejak hilangnya pusaka-pusaka dari Mataram.

Di kaki Gunung Tidar itulah Empu Pinang Aring sedang berbincang dengan mendalam mengenai kemungkinan yang sedang dihadapinya menjelang pertemuan di lembah antara Gunung Merbabu dan Gunung Merapi itu.

“Apakah artinya kekuatan Kalasa Sawit sekarang ini tanpa dukungan Kiai Jalawaja atau sebaliknya,” berkata Empu Pinang Aring dalam ruangan tertutup yang hanya dihadiri oleh empat orang kepercayaannya termasuk Ki Panganti.

“Tetapi pengaruh Kiai Kalasa Sawit cukup besar bagi para pemimpin yang ada di dalam lingkungan pemerintah dan keprajuritan di Pajang. Suaranya banyak didengar dan rencananya hampir seluruhnya disetujui,” desis seorang yang bertubuh besar, berkumis lebat, dan bermata tajam. Di keningnya terdapat segores bekas luka yang menyilang.

“Kau benar Rimbag Wara,” jawab Empu Pinang Aring, “tetapi itu adalah karena pengaruh hadirnya kekuatan Kiai Jalawaja dan pengiringnya.”

“Tetapi kenapa bukan Kiai Jalawaja sendiri yang mempunyai pengaruh langsung kepada para pemimpin di Pajang itu, Empu?” bertanya Ki Panganti.

“Kiai Kalasa Sawit mempunyai suatu kelebihan. Ia dapat membuktikan bahwa saluran keturunannya jauh lebih dekat dari Kiai Jalawaja. Selebihnya Kiai Kalasa Sawit masih mempunyai hubungan langsung dengan pemimpin tertinggi yang ada di dalam tubuh keprajuritan Pajang. Karena itu, maka pengaruh Kiai Jalawaja atas Pajang harus disalurkannya lewat Kiai Kalasa Sawit.”

Ki Panganti mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian, “Apakah Empu Pinang Aring tidak membuktikan bahwa keturunan Empu lebih dekat jika ditelusur lewat Prabu Brawijaya Pamungkas?”

“Aku sedang berusaha mendapatkan bukti-bukti yang meyakinkan tentang diriku. Tetapi itu memerlukan waktu yang lama. Sementara ini semua rencana yang sudah disusun bersama harus dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.”

“Tetapi apakah dalam pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu sudah akan mempersatukan kedua pusaka yang kita ambil dari Mataram?”

“Seharusnya memang demikian. Tetapi aku akan mencegahnya. Songsong itu tidak akan aku bawa ke lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu dengan alasan apa pun juga.”

“Apakah hal itu tidak akan menimbulkan pertentangan?”

“Betapa pun juga, tetapi tidak akan ada sekelompok pun yang berani memaksakan perselisihan sebelum kedua pusaka itu bergabung. Bahkan tentu ada usaha untuk tetap memelihara kerja sama dengan membagi kekuasaan dan daerah pengaruh atas seluruh wilayah Pajang.” Empu Pinang Aring berhenti sejenak, lalu, “Sebenarnya aku lebih senang menempatkan pusaka-pusaka itu sejauh-jauhnya dari Pajang dan Mataram. Mungkin di Pesisir Utara, mungkin di daerah Bang Wetan. Dengan demikian tidak akan ada kecemasan bahwa kekuasaan Mataram atau Pajang akan dapat menjangkau kita.”

“Belum tentu, Empu,” sahut seorang yang bertubuh gemuk. “Para Adipati masih mengakui kekuasaan Pajang. Mereka akan dapat digerakkan setiap saat di bawah pimpinan Senapati Pajang yang ditugaskan. Karena itu, tidak akan banyak bedanya dengan daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan Pajang dan Mataram. Selebihnya, kita tidak akan dapat berhubungan langsung dengan adbmcadangan.wordpress.com para pemimpin dan prajurit Pajang, sekaligus di Pajang kita akan dapat menghubungi orang-orang yang tengah menyiapkan benturan antara Pajang dan Mataram.”

Empu Pinang Aring mengangguk-angguk. Meskipun demikian ia mulai membayangkan beberapa orang adipati yang akan dapat dipengaruhinya sebagai pewaris kekuasaan Majapahit. Apalagi oleh ketidak puasan mereka terhadap pimpinan Pajang yang sedang kehilangan nafas gerak kepemimpinannya.

Namun dalam pada itu sejenak kemudian Empu Pinang Aring itu pun berkata, “Baiklah. Aku akan menunggu. Mungkin pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu akan dapat menentukan, apakah yang sebaiknya aku lakukan.”

“Mungkin suatu gerak maju yang serasi antara kekuatan-kekuatan yang ada di pihak kita sekarang,” berkata Panganti, “tetapi tidak mustahil bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Jika pimpinan yang selama ini kita anggap sebagai orang yang paling berpengaruh, dan memiliki kekuasaan resmi di dalam pemerintahan Pajang yang sekarang kurang berhasil mengendalikan keadaan, maka yang terjadi justru perselisihan dan benturan antara kekuatan yang selama ini merasa diikat oleh kepentingan yang sama.”

“Karena itu kita tidak boleh lengah. Sepeninggal Kiai Jalawaja tentu telah timbul perubahan di dalam tubuh pasukan yang dipimpin oleh Kiai Kalasa Sawit. Mungkin sebagian besar pasukan Kiai Jalawaja akan bergabung dengan kekuatan Ki Kalasa Sawit.”

“Tetapi tergantung kepada pimpinan tertinggi. Mungkin ia masih akan tetap berpegang pada keseimbangan yang benar. Namun perkembangan terakhir dari setiap kelompok yang ada tentu akan mempengaruhinya pula. Karena itulah, maka semua kekuatan yang ada, menjelang hari pertemuan itu harus sudah berada di kaki Gunung Tidar ini. Kita akan memasuki lembah itu dengan kekuatan sepenuhnya. Kekuatan senjata dan kemungkinan untuk bertahan di dalam segala pengaruh keadaan, termasuk dana yang ada pada kita.”

Yang lain mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja Panganti berdesis, “Empu. Ada sesuatu yang barangkali dapat dipertimbangkan sehubungan dengan dana yang dapat kita bawa dalam pertemuan yang akan diadakan di lembah itu.”

“Sudah aku katakan,” berkata Empn Pinang Aring, “meskipun hal itu ikut menentukan seperti yang kau katakan, tetapi yang terpenting bagi kita adalah pengumpulan kekuatan. Kita tidak akan dapat membiarkan orang-orang kita menjadi korban usaha pengumpulan dana itu lagi. Kita akan lebih menghargai tenaga manusia daripada jumlah uang yang lebih banyak lagi. Pengumpulan harta benda aku anggap sudah cukup banyak.”

“Tetapi Empu,” desak Panganti, “ada suatu cara yang mudah sekali untuk menambah jumlah itu.”

Empu Pinang Aring mengerutkan keningnya.

“Beberapa saat lagi, sebuah iring-iringan pengantin akau menempuh perjalanan yang jauh. Mereka akan menempuh perjalanan dari Sangkal Putung ke Tanah Perdikan Menoreh dan sebaliknya.”

Namun agaknya Empu Pinang Aring tidak tertarik lagi. Bahkan katanya, “Dalam benturan yang demikian, maka tentu akan jatuh korban dari kedua belah pihak. Iring-iringan itu tentu bukan hanya satu atau dua orang saja. Setiap kematian di antara kawan-kawan kita tentu akan mengurangi kekuatan yang telah ada.”

“Tetapi apakah dalam hal ini tidak dapat diperhitungkan dengan kemungkinan yang akan kita dapatkan dari mereka? Pengantin dari dua keluarga yang cukup kaya tentu memiliki perhiasan yang cukup. Dipakai atau tidak dipakai di saat mereka menempuh perjalanan. Tetapi perhiasan itu tentu ada pada mereka. Terlebih-lebih lagi, iring-iringan sepasang pengantin itu pada saat mereka dibawa ke Sangkal Putung di hari yang kelima.”

Empu Pinang Aring termangu-mangu.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:20  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-94/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. met pagi para sedulur mau ikutan jdi cantrik nih

  2. Clingak – clinguk, garuk – garuk sirah, bingung …. lha enten nopo Ki GD …… kok dereng lahir2 kitab 94ipun, mugi – mugi tetap sehat … mboten kesayahen … lsn keparingan berkat dening gusti Allah. Amin.

  3. selamat pagi juga . juga baru mau ikutan jadi cantrik nich . jadi saya duduk di gardu dekat regol saja sambil berharap wedang sereh hangat jilid selanjutnya sampai
    gardu.

  4. pundi nggih kitab 94 ??? matur suwun

  5. Mas, mulai buku 94 ke atas saya tidak bisa download lagi krn power pointnya gak bisa dibuka, padahal udah dg yg 2007…begitu pula doc nya ,,,kenapa ya

    Mohon jawaban

    # baca lagi halaman unduh

  6. alhamdulillah, akhirnya kitab 94-nya ki Gede turun juga. matur suwun

  7. Tulungin ki sanak, cantrik baru belum bisa ngunduh kitab 93,94, di endhi yo

    • Yang sudah ada versi retypenya, versi djvunya tautan file sudah dihilangkan.
      Baca langsung dokumennya. Kalau mau diunduh yang tinggal diblok dan dicopy saja

  8. Selamat, ore ngertiya akeh banget ya sing pada gandrung aring critane Alm. SH. Mintaredja… Aku mulai maca critane SH. Mintaredja dong esih kelas 5 SD nang SD. Kristen (Bersubsidi) Purbalingga, Bapakku dines nang Kodim 0702 nek kondur kang kantor terus maos NSSI, aku kelingan banget wektu kuwe nganti Ibuku juga melu-melu maos…..

    Pancen critane asik, aku juga ndatuk banget karo NSSI, mulai cetakan lawas, nganti tekan sekitar taun 80-an terbit maning edisi anyare… mung ya sing paling asik anggere maca buku asline sing jumlahe 29 jilid.

    Kepriwe sedulur…. apa ana sing arep nerusaken nulis critane APDM sewise sedane Mbah SH. Mintaredja….? Sukur angger kaya kuwe…. akuy juga kepengin duwe bukune mengku anggere wis ana…

    Wis disit ya… ngesuk-ngember disambung maning….

    Klilannnnnn……..

    Bogie Dwi Alriyanto
    Setabelan – Purbalingga Wetan
    Telpune : 08128512678

  9. aku ingin mengajak ketempat istirahatnya kanjeng kyai grinsing sekalian kita berziarah bersama para penggermar ADBM… hayo siapa yang ingin menjadi sponsornya… ???

  10. Melu urun rembug

  11. terima kasih kepada ki GD dan para cantrik atas jerih payahnya menulis ulang kitab pusaka ADBM ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: