Buku 94

BERIKUT VERSI TEKS YG SUDAH DIPROOF

SETIAP KALI mereka melihat gardu parondan, Ki Waskita mengangguk-angguk sambil bergumam, “Bukan main. Ini adalah gambaran dari kekuatan Tanah Perdikan Menoreh yang sebenarnya. Apalagi agaknya mereka bukan saja anak-anak muda yang hanya pandai menggenggam cangkul dan bajak. Tetapi juga anak-anak muda yang pandai memegang pedang.”

Ki Argapati mengangguk-angguk pula. Jawabnya, “Peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas Tanah Perdikan ini telah menempa anak-anak mudanya untuk menyiapkan diri menghadapi segala macam kemungkinan. Mereka ikut serta mengalami pahit getir selama api-api pertentangan berkobar membakar Tanah Perdikan ini. Terutama di saat-saat terakhir.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Ternyata bukan saja anak-anak muda Ki Gede. Setiap kali kita menjumpai beberapa orang laki-laki yang sudah tidak dapat disebut anak-anak muda lagi, duduk dalam lingkaran di simpang-simpang tiga atau empat di dalam padukuhan mereka di malam hari, di bawah lampu obor yang kemerah-merahan. Tentu mereka bukan hanya sekedar ingin duduk dan bercakap-cakap di antara mereka.”

“Mereka memberikan sentuhan kepada anak-anak mudanya, agar mereka berbuat lebih banyak dari yang tua-tua,” jawab Ki Argapati, “tetapi selebihnya, mereka pun merasa wajib pula untuk mengamati keadaan padukuhan masing-masing.”

“Dalam keadaan yang gawat, mereka tidak dapat diabaikan,” berkata Ki Waskita. “Justru mereka telah memiliki pengalaman yang lebih banyak dari anak-anak mudanya.”

Ki Gede Menoreh hanya mengangguk-angguk saja. Terbayang kembali pertentangan yang telah menyala di antara keluarga sendiri di atas Tanah Perdikah Menoreh, sehingga hampir saja membakar Tanah Perdikan ini menjadi hangus. Untunglah, bahwa akhirnya api itu dapat dipadamkan, meskipun harus ada korban-korban yang sangat berharga bagi Tanah Perdikan ini.

Demikianlah dalam keseluruhan, Tanah Perdikan Menoreh sudah siap menghadapi segala kemungkinan, sehingga tidak ada lagi yang perlu dicemaskan. Pandan Wangi yang menjelang hari-hari perkawinannya sama sekali tidak dapat ikut serta dalam kesiagaan itu, namun dari ayahnya dan dari para pemimpin pengawal ia mendengar, bahwa Tanah Perdikan Menoreh bagaikan menyiapkan diri untuk menghadapi peperangan yang gawat.

Dalam pada itu, selagi Menoreh mempersiapkan dirinya, di kaki bukit kecil, sekelompok orang-orang yang tegang sedang memperbincangkan hasil yang telah mereka peroleh di dalam tugas mereka. Pemimpin kelompok itu seorang yang berkumis lebat dan berambut terurai di bawah ikat kepala yang tidak dilingkarkan di kepalanya, tetapi hanya disangkutkannya saja melingkari tengkuknya, berjalan hilir-mudik dengan gelisahnya.

“Besok pagi-pagi, sebelum matahari sepenggalah, kami harus sudah berada di kaki Gunung Tidar. Di sana kami harus menghadap Empu Pinang Aring.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Apa katanya jika ia mengetahui bahwa beberapa orang kawan kita sudah mati terbunuh di Tanah Perdikan Menoreh?”

Seorang di antara mereka bergeser setapak, lalu katanya, “Tetapi itu adalah hal yang sangat wajar. Aku pun hampir mati pula di padukuhan induk.”

“Dan kau tinggalkan dua sosok mayat kawanmu di sana.”

Orang itu pun termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dengan nada yang tinggi ia berkata, “Tidak ada kesempatan untuk membawa mereka. He, apakah mungkin aku melakukannya dalam keadaan seperti itu? Juga aku tidak menemukan mayat kawan-kawan kita yang terdahulu mati.”

Pemimpin kelompok yang rambutnya terurai itu menggeram. Lalu katanya, “Kelompok ini adalah kelompok yang paling sial. Yang kita dapatkan tidak seberapa banyak, tetapi kita harus mengorbankan lima orang kawan. Itu sudah keterlaluan.”

“Kita belum bertemu dengan kelompok-kelompok lain. Kita tidak dapat mengatakan, bahwa hasil kitalah yang paling sedikit. Juga kita belum tahu, mungkin ada korban yang lebih banyak lagi.”

“Mudah-mudahan tidak. Mudah-mudahan kitalah yang telah membayar paling mahal. Jika ada lagi kelompok yang harus mengalami bencana seperti kelompok kita, maka kita akan menjadi lemah. Dan itu berarti kedudukan kita di dalam pembicaraan di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu itu pun akan lemah pula. Jika kekuatan kita tidak memadai, juga dana perjuangan yang kita dapatkan tidak cukup, maka kita akan dikesampingkan dari pembicaraan. Setidak-tidaknya suara kita sama sekali tidak akan berarti apa-apa.”

“Kedudukan pertemuan itu sudah berubah. Kematian Kiai Jalawaja akan mempengaruhi keadaan.”

“Mungkin ada orang lain yang menggantikannya,” jawab yang lain, “atau seandainya tidak ada orang sekuat Jalawaja, namun kelompoknya tentu akan tetap diperhitungkan, karena kelompok yang dipimpin oleh Kiai Jalawaja itu cukup kuat, di samping kelompok Kiai Kalasa Sawit.”

Yang lain mengangguk-angguk. Terbayang di dalam angan-angan mereka, pertemuan yang tegang di lembah antara Gunung Merbabu dan Merapi.

“Bukan pertemuan seperti yang akan berlangsung di Tanah Perdikan Manoreh,” gumam orang yang rambutnya terurai. “Dan kau hampir saja membuat Tanah Perdikan Menoreh berkabung, bersama Pandan Wangi itu, gadis yang akan kawin beberapa hari mendatang. Jika demikian maka Menoreh benar-benar akan kehilangan kegembiraannya. Tetapi dendamnya akan menyala sampai ke ujung bumi. Dan Ki Gede Menoreh bukan orang yang tidak diperhitungkan sekarang ini. Jika ia ikut campur bersama pasukan pengawalnya, maka kita akan semakin kehilangan kesempatan.”

“Untunglah bahwa gadis itu sempat mengelak.”

“Bukan hanya sempat mengelak. Jika dilepaskan di arena, maka kau berdua tidak akan dapat mengalahkannya.”

“He?”

“Kau memang dungu. Kau tidak mengetahui apa yang seharusnya kau ketahui. Gadis Menoreh itu lebih dahsyat dari seekor macan betina yang kelaparan. Aku lupa memberitahukan hal itu kepadamu, saat kau berdua mencari kawan-kawanmu yang hilang.”

“Tetapi ia tidak berbuat apa-apa kecuali mengelak.”

“Ia sudah siap untuk duduk bersanding sebagai pengantin. Karena itu ia tidak menerkammu.”

Orang yang berhasil melarikan diri dari pedukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk.

“Baiklah,” berkata pemimpin kelompok yang rambutnya terurai itu, “kita akan menghadap ke Gunung Tidar dengan keadaan seperti yang kita alami sekarang ini. Tidak lebih dan tidak kurang.”

“Mudah-mudahan kita kemudian datang ke lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu dengan kekuatan dan dana yang cukup, sehingga kita tidak akan sekedar tersisih. Empu Pinang Aring yang telah ikut serta mengambil bagian dalam perjuangan sekarang ini, harus diperhitungkan oleh orang-orang yang memakai ciri kelelawar itu. Mereka tidak akan cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa kekuatan-kekuatan yang lain.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk.

“Bersiaplah. Kita akan berangkat menjelang senja. Kita akan berada di perjalanan sepanjang malam hari. Mungkin waktu itulah yang terbaik bagi kita.”

“Terbaik dan teraman,” sahut yang lain, “meskipun kita akan menguap sepanjang jalan.”

Demikianlah maka sekelompok orang-orang itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka telah membenahi semua barang-barang dan uang yang mereka dapatkan selama mereka menjelajahi Tanah Perdikan Menoreh dan sekitarnya, meskipun mereka harus melepaskan beberapa orang kawan mereka.

Menjelang senja, maka kelompok kecil itu pun telah bersiap. Mereka akan menempuh perjalanan semalam suntuk dan di pagi hari menjelang matahari naik sepenggalah.

“Apakah kita sudah tidak mempunyai waktu lagi menjelang pertemuan di lembah antara kedua gunung itu?” bertanya seseorang dari antara mereka.

“Kita tidak tahu pasti, kapan pertemuan itu diadakan. Tetapi Empu Pinang Aring memberi batas waktu kepada kita sampai besok menjelang matahari naik sepenggalah. Mungkin pertemuan itu masih akan berlangsung beberapa hari lagi. Sementara Empu Pinang Aring masih sempat berbuat sesuatu jika ada kekurangan pada persiapan kita menjelang saat-saat pertemuan itu,” jawab orang yang rambutnya terurai, “karena dalam pertemuan itulah, akan diatur imbangan kekuatan dan tentu juga imbangan kekuasaan yang akan diperoleh kelak, selama perjuangan selanjutnya dan bahkan apabila kekuasaan Pajang benar-benar sudah kembali kepada garis keturunan Majapahit.”

“Dan orang berciri kelelawar itulah yang merasa dirinya keturunan langsung dari Majapahit.”

“Bukan hanya Kiai Kalasa Sawit. Juga Empu Pinang Aring adalah keturunan langsung dari Prabu Brawijaya Pamungkas. Dan bahkan masih banyak orang terlibat di dalamnya dan merasa dirinya keturunan langsung dari Majapahit. Dan patut kalian ketahui, orang pertama dari ciri kelelawar itu bukan Kiai Kalasa Sawit. Ia adalah orang yang berada pada tataran yang sama dengan Kiai Jalawaja, Empu Pinang Aring, dan beberapa orang yang lain.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka pun pernah mendengar tentang orang-orang yang tidak mereka kenal, namun yang memiliki kekuasaan lebih banyak dari pemimpm-pemimpin kelompok yang langsung terjun ke dalam gelanggang.

Namun mereka tidak terlalu banyak memikirkan orang-orang yang tidak mereka kenal itu. Itu adalah tugas pemimpin-pemimpin mereka. Yang penting mereka dapat menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka sebaik-baiknya, sehingga jika kelak perjuangan itu berhasil, mereka akan mendapat kedudukan yang baik. Sawah pelungguh yang luas dan kedudukan yang memadai di padukuhannya. Mungkin seorang demang atau bebahu yang lain. Jika ia terjun ke dalam lingkungan keprajuritan maka kelak akan mendapat kedudukan sebagai seorang lurah dengan seratus orang anak buah.

Ketika mereka meninggalkan bukit kecil, langit sudah mulai disentuh oleh warna senja. Bibir mega yang putih, nampak kemerah-merahan oleh sinar matahari yang sudah hampir terbenam.

“Kita tidak memintas lewat tengah-tengah hutan,” berkata pemimpin kelompok yang rambutnya terurai itu.

“Bukankah jalan itu lebih dekat?” bertanya seseorang di antara mereka.

“Tetapi kita akan justru lebih lama sampai, karena di malam hari jalan itu sulit ditembus. Kita akan menyusur di sepanjang jalan sempit di pinggir hutan dan sekali-sekali menembus padukuhaan-padukuhan itu tidak akan dapat menghambat perjalanan kami.”

“Tetapi Menoreh telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan,” memotong seorang yang bertubuh kecil.
“Kita berada di luar Tanah Perdikan Menoreh. Kademangan kecil di sebelah Tanah Perdikan itu tidak akan dapat banyak berbuat apa pun juga terhadap kita. Tetapi kita pun tidak akan mendapat apa pun juga di daerah yang gersang itu.”

“Daerah itu justru banyak tergantung kepada Tanah Perdikan Menoreh, terutama di musim paceklik.”

“Jika demikian, kita tidak perlu cemas.”

Meskipun demikian iring-iringan kecil itu tidak dapat meninggalkan kewaspadaan. Mereka sadar, bahwa orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh yang meronda akan sampai ke daerah itu juga meskipun jarang sekali. Daerah perbatasan ternyata telah mendapat perhatian yang meningkat setelah peristiwa yang mengguncang ketenangan Tanah Perdikan itu terjadi, justru menghadap hari-hari perkawinan anak perempuan Ki Gede Menoreh sendiri.

Semakin jauh irnig-iringan itu dari perbatasan Menoreh, maka mereka pun merasa semakin aman. Padukuhan-padukuhan kecil yang akan mereka lalui tidak akan dapat mengganggu perjalanan mereka menuju ke kaki Gunung Tidar. Apalagi di malam hari yang gelap. Maka tidak akan ada seorang pun yang akan dapat menghentikan mereka.

Seperti yang mereka perhitungkan, maka perjalanan itu sama sekali tidak mengalami gangguan. Setelah mereka meninggalkan daerah yang berhutan lebat, maka mereka pun sekali-sekali memasuki bulak-bulak persawahan yang gersang, meskipun nampak tanaman palawija yang berwarna kekuning-kuningan.

Berbeda dengan Tanah Perdikan Menoreh, meskipun daerah itu hanya dibatasi oleh ujung hutan dan bukit-bukit kecil, namun tata kehidupan di kademangan itu sudah jauh berbeda. Bukan saja karena kegairahan hidup yang berbeda, tetapi tanah dan alam di kademangan itu agak berbeda pula dengan Tanah Perdikan Menoreh, yang dipimpin oleh seseorang yang selalu berusaha menaklukkan dan memanfaatkan alam bagi kesejahteraan kampung halaman.

Kademangan kecil itu telah terlibat dalam sebuah putaran yang tidak berujung pangkal. Rakyatnya yang miskin tidak sempat untuk memikirkan usaha-usaha lain kecuali mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Namun dengan demikian, tanah yang rasa-rasanya menjadi semakin kering itu tidak dapat memberikan apa-apa kepada mereka. Dengan demikian hidup mereka menjadi semakin miskin, sehingga mereka semakin tidak sempat lagi untuk berbuat sesuatu.

Tidak ada orang yang berani mematahkan dinding lingkaran itu. Pernah Ki Gede Menoreh mencoba juga untuk memberikan beberapa petunjuk terhadap tetangganya itu. Tetapi tidak seorang pun yang berani mencobanya.

Demikianlah iring-iringan itu pun melalui padukuhan-padukuhan yang gelap dan seolah-olah tidak bernafas lagi. Lampu-lampu minyak hanya nampak dibeberapa rumah yang agak lebih baik dari rumah-rumah disekitarnya.

Namun dengan demikian, perjalanan mereka sama sekali tidak terganggu karenanya.

Sementara itu, di Tanah Perdikan Menoreh, anak-anak muda semakin banyak berada di gardu-gardu. Bahkan untuk mengisi waktu-waktu yang luang di ujung malam, beberapa orang dari mereka telah pergi keluar padukuhan dengan beberapa orang pengawal. Mereka mempergunakan kesempatan untuk melatih diri mempergunakan senjata sebaik-baiknya, agar jika terjadi sesuatu, mereka tidak menjadi bingung dan kehilangan akal.

“Mungkin, pada suatu saat, kita harus mempergunakannya,” berkata seorang pengawal yang masih muda.

Dan dengan penuh gairah anak-anak muda itu pun telah melatih dirinya dalam olah kanuragan.

Namun dalam pada itu, Ki Gede Menoreh masih juga memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi, apabila iring-iringan pengantin dari Sangkal Putung itu berada di perjalanan. Dalam iring-iringan itu tentu akan terdapat beberapa macam barang berharga. Sebagian besar dari mereka, tentu akan membawa pakaian dan kelengkapan yang pantas untuk menghadiri saat-saat perkawinan, meskipun belum mereka pakai di sepanjang jalan.

“Jika keberangkatan mereka itu tercium oleh orang-orang yang berdalih mengumpulkan dana itu, maka akan dapat terjadi kemungkinan yang kurang menguntungkan,” berkata Ki Argapati ketika ia duduk bersama Ki Waskita di pendapa.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Jawabnya, “Orang-orang yang disebut mencari dana perjuangan itu pada hakekatnya adalah penyamun-penyamun dan perampok-perampok. Tetapi mereka memiliki kekuatan yang tidak dapat diduga.”

Ki Argapati pun mengangguk-angguk pula. Ia sependapat dengan Ki Waskita, bahwa yang mereka hadapi sekarang bukanlah perampok-perampok dan penyamun-penyamun yang sewajarnya. Tetapi mereka adalah sekelompok orang-orang yang memiliki kekuatan yang bahkan merasa mampu untuk pada suatu saat bersiap melawan Pajang dan Mataram.

“Menurut mereka,” berkata Ki Waskita, “kekuatan mereka berakar sampai ke kadipaten-kadipaten di Pesisir Lor dan Bang Wetan. Dan itu sangat mencemaskan.”

Ki Argapati merenung sejenak. Seolah-olah ia sedang mempertimbangkan kebenaran keterangan itu. Namun kemudian ia menggeleng, “Aku kira tidak seperti yang dikatakannya itu. Mungkin benar, bahwa kekuatan mereka menjangkau daerah kadipaten di Pasisir Lor dan Bang Wetan, tetapi kekuatan itu tentu sekedar merupakan kekuatan tersembunyi seperti kekuatan mereka di daerah ini. Jika mungkin ada satu dua orang adipati yang mempunyai pikiran sejalan dengan mereka, maka mereka tentu tidak akan menempatkan dirinya di bawah perintah pemimpin gerombolan semacam itu.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Katanya, “Masih harus dipertimbangkan masak-masak, Ki Gede. Pemimpin gerombolan itu mempunyai kedudukan yang khusus. Ia dianggap memiliki hak atas tahta di atas Pulau Jawa karena ia dianggap keturunan yang sah dari Maharaja di Majapahit. Sedangkan Sultan Pajang adalah anak dari Pengging yang kemudian hidup di Tingkir.”

“Tetapi jika ditelusur dengan teliti, maka ia pun dapat menyebut dirinya berhak atas tahta di Pajang sekarang ini.”

“Itulah agaknya yang tidak diakui, Ki Gede. Karena itu, maka memang mungkin ada satu dua orang adipati yang meskipun tidak berterus terang, tetapi membantu usaha untuk menggulingkan pemerintahan Pajang.”

“Sekaligus merencanakan memusnahkan orang-orang yang berada di dalam gerombolan yang mengaku keturunan Majapahit itu, setelah mereka tidak diperlukan lagi.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi tidak dapat disangkal lagi, bahwa Pajang memang sudah goyah.”

“Apakah tidak ada tangan yang mampu menegakkan Pajang kembali seperti pada saat berdirinya, apalagi mengembangkan kekuatannya seperti masa-masa lampau?” bertanya Ki Argapati.

“Satu-satunya harapan adalah Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.”

Ki Argapati mengangguk-angguk. Tetapi desisnya, “Sayang, bahwa Raden Sutawijaya memilih jalan sendiri. Seakan-akan dengan hati yang terluka meninggalkan Istana Pajang. Bahkan seolah-olah luka itu tidak tersembuhkan sampai saatnya ayahandanya meninggal. Dan bahkan sampai sekarang, setelah menerima pusaka-pusaka yang tidak ternilai apalagi dipandang dari segi limpahan kekuasaan. Seolah-olah sudah ada perlambang, bahwa Sultan Hadiwijaya condong untuk menyerahkan tahta kepada Raden Sutawijaya daripada kepada puteranya sendiri, Pangeran Benawa.”

“Jarak antara Mataram dan Pajang masih belum dapat dirapatkan. Betapa pun Sultan di Pajang mencobanya,” berkata Ki Waskita. “Karena itu pulalah, betapa pedih hati Ki Gede Pemanahan. Ia merasa seolah-olah ialah yang bersalah membawa Sutawijaya meninggalkan istana dengan hati yang luka, sehingga beberapa orang telah mentertawakannya, bahwa adbmcadangan.wordpress.com Alas Mentaok yang lebat dan wingit itu akan dapat dijadikan sebuah negeri yang ramai. Darah muda Raden Sutawijaya telah menggelepar oleh cemoohan itu, dan di luar sadarnya ia bersumpah tidak akan menyentuh paseban di Istana Pajang, sebelum ia dapat menjadikan Alas Mentaok sebuah negeri yang ramai dan besar.”

“Dan sumpah itu seolah-olah telah mencengkamnya sampai sekarang. Meskipun Ki Gede Pemanahan telah tidak ada.”

“Ya.”

Ki Argapati mengangguk-angguk. Telah beberapa kali hal itu dibicarakan dengan bersungguh-sungguh atau sekedar sebagai bahan percakapan. Tetapi rasa-rasanya tidak ada habis-habisnya persoalan hubungan antara Pajang dan Mataram itu untuk dibicarakan

Namun dalam pada itu, pembicaraan mereka pun segera berkisar kembali kepada persoalan yang akan mereka hadapi. Jalur jalan antara Sangkal Putung, Mataram, dan Tanah Perdikan Menoreh.

“Apakah Ki Demang di Sangkal Putung perlu diberitahu, bahwa mereka harus berhati-hati di perjalanan mengingat perkembangan keadaan di Menoreh?” bertanya Ki Waskita.

Ki Gede termenung sejenak. Lalu, “Tetapi Ki Waskita tidak usah pergi ke Sangkal Putung. Mungkin ada perkembangan keadaan yang perlu dan gawat di Tanah Perdikan Menoreh, meskipun pemberitahuan semacam itu penting juga untuk dilakukan.”

“Jadi?”

“Biarlah dua atau tiga orang pergi ke Sangkal Putung membawa pesanku.”

“Bagaimana jika mereka mengalami bencana di perjalanan?”

“Aku akan mengirimkan mereka segera. Jika dalam waktu sepasar mereka tidak kembali, tentu ada persoalan yang gawat yang mereka hadapi di perjalanan. Dan itu berarti bahwa kita harus mengambil tindakan khusus, justru karena waktu menjadi semakin pendek.”

Ki Waskita merenung sejenak. Namun kemudian ia pun mengangguk sambil berkata, “Aku kira rencana itu baik juga, Ki Gede. Aku mengerti, bahwa keadaan dapat berkembang ke arah yang gawat di Tanah Perdikan ini. Meskipun tidak banyak artinya, aku pun merasa perlu untuk tetap berada di sini.”

Ki Gede tersenyum. Lalu, “Kita akan mempersiapkan pasukan untuk menjemput pengantin sampai ke tepi Sungai Praga. Siapa tahu, ada tukang-tukang satang seperti yang pernah terjadi atas Ki Waskita bertiga bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.”

“O. Jadi akan ada pacak baris di tepian Kali Praga?”

“Tidak, Ki Waskita. Kami akan menyusun baris pendem. Pasukan kami tidak akan nampak, karena mereka akan tersebar di padukuhan-padukuhan dan di tengah-tengah bulak. Di gubug-gubuk tempat anak-anak mengusir burung, dan di tempat-tempat yang lain. Namun mereka siap untuk melakukan sesuatu di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Swandaru dan pengiringnya.”

Ki Waskita merenungi kata-kata Ki Gede itu sejenak. Agaknya memang lebih baik demikian. Pasukan pengawal yang menyongsong Swandaru di seberang Kali Praga itu tidak semata-mata nampak sebagai suatu barisan yang akan mengawal iring-iringan penganten meskipun belum dalam pakaian kebesaran.

Demikianlah, maka Ki Gede pun kemudian mempersiapkan rencana pengawalan yang sebaik-baiknya dilakukan, tanpa mengganggu upacara yang akan berlangsung, agar dengan demikian tidak mengurangi kemeriahan suasana perkawinan anak perempuannya.

Di malam harinya Ki Gede memanggil tiga orang pengawal terpilih. Mereka harus pergi ke Sangkal Putung untuk menyampaikan pesan khusus dari Ki Gede mengenai keadaan di Tanah Perdikan Menoreh di saat-saat terakhir.

“Jalan yang selama ini aman, ternyata telah mulai dijamah oleh tangan-tangan yang bernoda darah. Mereka dapat berbuat apa saja dengan dalih apa pun juga. Karena itu, hati-hatilah di perjalanan. Jika terpaksa sekali, hindarkan diri dari kesulitan,” pesan Ki Argapati kemudian.

“Kami mengerti, Ki Gede,” jawab salah seorang dari mereka.

“Menurut Ki Waskita, yang berada di jalan-jalan dari antara para penyamun itu bukanlah orang-orang terpenting yang harus disegani. Tetapi kadang-kadang mereka berjumlah banyak, sehingga kalian harus memperhitungkan keadaan sebaik-baiknya jika kalian bertemu dengan mereka.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa perjalanan mereka bukannya perjalanan menjemput pengantin, tetapi perjalanan mereka adalah perjalanan yang berbahaya. Sama berbahaya dengan seorang prajurit yang berangkat ke medan perang.

“Bawalah senjata kepercayaan kalian. Sebaiknya kalian memilih jalan yang paling aman, melalui Mataram yang sudah menjadi ramai. Tentu kalian sudah mengenal orang-orang Mataram, terutama Ki Lurah Branjangan.”

“Kami mengenalnya, Ki Gede.”

“Jika kalian harus menjawab seribu satu macam pertanyaan di Mataram, kalian dapat langsung minta dipertemukan dengan Ki Lurah Branjangan atau orang-orang lain yang kau kenal.”

“Ya, Ki Gede.”

“Dan kalian pun telah mengenal pula Ki Demang Sangkal Putung yang pernah datang kemari.”

“Ya, Ki Gede.”

“Nah, besok kalian berangkat. Aku beri kalian waktu sepekan. Jika dalam waktu sepekan kalian tidak kembali, kami akan mengirimkan kekuatan yang lebih besar. Mungkin aku sendiri atau Ki Waskita akan pergi menyusul.”

“Baiklah, Ki Gede. Kami akan mencoba menepati waktu yang telah ditentukan. Jika tidak ada kesulitan di perjalanan, maka waktu itu sudah cukup panjang. Kami tidak perlu bermalam di Mataram. Jika kami berangkat besok pagi-pagi benar, kami akan dapat mencapai Sangkal Putung meskipun mungkin malam hari. Di Sangkal Putung kami tidak akan mengalami kesulitan jika kepada para peronda kami menyatakan maksud kami untuk bertemu degan Ki Demang di Sangkal Putung.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Katanya, “Tetapi itu akan merupakan perjalanan yang melelahkan.”

“Mungkin melelahkan, Ki Gede, tetapi kami akan segera dapat beristirahat.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Terserahlah kepadamu. Mudah-mudahan perjalananmu tidak terganggu sama sekali, sehingga kalian dapat kembali pada waktu yang diharapkan.”

“Kami mohon doa restu Ki Gede dan Ki Waskita.”

“Sekarang beristirahatlah. Besok kalian akan berangkat dini hari. Siapkanlah bekal dan sudah barang tentu senjata.”

Ketiga orang itu pun kemudian minta diri. Sekali lagi Ki Gede berpesan agar mereka berhati-hati di perjalanan.

“Besok kalian dapat berangkat langsung tanpa menunggu aku lagi,” berkata Ki Gede kemudian.

Sepeninggal ketiga orang itu, Ki Gede masih berbicara dengan beberapa orang pemimpin pengawal. Mereka mulai membicarakan persiapan pengawalan sandi pada saat Swandaru nanti memasuki Tanah Perdikan Menoreh.

“Pengawalan diberatkan pada kesiagaan di padukuhan-padukuhan yang akan dilalui oleh iring-iringan dari Kademangan Sangkal Putung,” berkata Ki Gede.

Para pemimpin pengawal mendengarkan semua penjelasan Ki Gede dengan saksama, sehingga mereka pun kemudian mempunyai gambaran yang jelas dari apa yang harus mereka kerjakan.

Ternyata Ki Gede condong menempatkan anak-anak muda yang berada di dalam lingkungan pasukan pengawal di padukuhan masing-masing untuk memimpin anak-anak muda di padukuhan itu. Bahkan di setiap padukuhan yang akan dilalui oleh iring-iringan dari Sangkal Putung itu akan diperkuat oleh beberapa orang pasukan pengawal yang akan dicairkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Bukan maksud kami menjebak segerombolan penyamum tetapi pada suatu saat tindakan serupa itu memang perlu. Kami tidak akan dapat membiarkan mereka berkeliaran di Tanah Perdikan Menoreh, meskipun kami tahu bahwa mereka memiliki kekuatan yang besar. Namun Menoreh pun percaya kepada kemampuan diri sendiri untuk mengamankan kampung halaman,” berkata Ki Gede kepada para pemimpin pengawal.

Para pemimpin pengawal itu masih saja mendengarkan dengan saksama. Mereka pun mulai membayangkan, bahwa kesibukan yang terselubung di setiap padukuhan. Yang penting dari usaha menyamarkan kesiagaan kekuatan itu adalah karena Menoreh akan tetap mengadakan perelatan perkawinan tanpa kecemasan.

“Jangan mengeruhkan suasana,” pesan Ki Gede, “jika kalian mengadakan kegiatan pengawalan dan latihan-latihan, usahakan seolah-olah hal itu berlangsung begitu saja tanpa kecemasan dan apalagi gambaran tentang peperangan dan kekacauan.”

“Kami mengerti, Ki Gede,” jawab salah seorang dari mereka.

“Aku percaya bahwa kalian akan dapat melakukan tugas yang sulit itu. Berjaga tetapi dengan kesan tenang dan damai. Bahkan kegembiraan yang tidak bercela di hari perkawinan anakku itu.”

Para pemimpin pengawal itu meninggalkan pendapa rumah Ki Gede dengan kerut di kening. Tugas itu memang sulit. Tetapi mereka harus dapat melaksanakan dengan tertib.

Dalam pada itu, ketiga orang yang pada pagi harinya harus berangkat ke Sangkal Putung tengah sibuk membenahi bekal yang akan mereka bawa. Sekedar makanan dan yang penting adalah senjata. Mereka dapat mengalami perlakuan yang berbahaya dari orang-orang yang mulai berkeliaran di tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan mungkin mereka harus bertempur mati-matian dan bahkan benar-benar mati. Namun mereka tidak akan ingkar terhadap tugas yang dibebankan kepada mereka.

Menjelang dini hari, mereka bertiga telah berkumpul. Meskipun mereka tidak perlu lagi minta diri kepada Ki Gede, namun mereka bersepakat untuk berkumpul dan berangkat dari rumah Ki Gede.

Para peronda yang melihat kehadiran mereka bertiga menyongsong sambil berkata, “Apakah kalian akan berangkat sekarang? Agaknya Ki Gede masih belum bangun.”

“Aku tidak usah minta diri. Aku hanya sekedar singgah, mungkin ada hal-hal yang perlu disampaikan kepadaku.”

“Rasa-rasanya tidak ada pesan apa pun juga,” sahut seorang peronda.

“Baiklah. Nanti sampaikan kepada Ki Gede, bahwa aku bertiga sudah berangkat ke Sangkal Putung.”

Para peronda itu mengangguk-angguk. Salah seorang menyahut, “Selamat jalan. Mudah-mudahan kalian tidak mengalami bencana apa pun juga di perjalanan yang panjang itu.”

Demikianlah ketiganya segera memacu kudanya, meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Langit masih nampak hitam pekat. Bintang gemintang masih nampak menyala. Namun cahaya kemerah-merahan sudah mulai membayang di ujung langit sebelah Timur.

“Sebentar lagi fajar akan menyingsing,” desis salah seorang dari ketiganya.

Kawan-kawannya menengadahkan wajahnya ke langit. Dan bersamaan mereka pun mengangguk-angguk sambil berdesis, “Ya.”

Namun kuda-kuda mereka berpacu terus. Angin pagi yang dingin rasa-rasanya menembus sampai ke tulang. Embun pagi telah membasahi tubuh dan pakaian mereka sehingga udara pagi terasa menjadi semakin sejuk.

Tetapi perjalanan di dini hari rasa-rasanya justru telah menyegarkan badan mereka. Dengan cepatnya kuda-kuda mereka menusuk kegelapan menyeberangi bulak-bulak panjang. Satu demi satu padukuhan-padukuhan telah mereka lalui, sehingga mereka pun menjadi semakin jauh dari padukuhan induk, dan menuju langsung ke tempat penyeberangan di Kali Praga.

Ketika kemudian langit dikuakkan oleh cahaya pagi yang kekuning-kuningan, kuda ketiga pengawal itu pun masih berpacu terus. Mereka menjadi semakin dekat dengan Kali Praga. Di perjalanan itu, mereka harus berhenti beberapa kali sebelum mereka sampai ke pinggir Kali Praga, karena sekelompok peronda telah menghentikan mereka. Tetapi mereka tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkepanjangan, karena mereka telah mengenal kelompok-kelompok peronda adbmcadangan.wordpress.com yang bertugas nganglang di tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan peronda-peronda di gardu-gardu yang penuh berisi anak-anak muda pun sama sekali tidak menghambat perjalanan mereka.

Ketika orang itu menyebrangi Kali Praga setelah matahari naik ke punggung bukit dan panasnya mulai terasa gatal di kulit. Kemudian mereka memacu kudanya langsung menuju ke Tanah Mataram yang menjadi semakin ramai.

Dalam pada itu, selagi ketiga orang itu berpacu terus, di Tanah Perdikan Menoreh yang sudah menjadi ramai, para pemimpin pengawal mulai merencanakan bagaimana mereka akan melakukan tugas mereka. Para pemimpin pengawal itu mulai membuat gambaran tentang padukuhan-padukuhan yang mungkin akan dilalui oleh Swandaru dan iring-iringannya. Mereka pun mulai memperhitungkan kemungkinan yang ada di padukuhan-padukuhan itu, kekuatan anak-anak mudanya dan pengawal-pengawal yang berasal dari padukuhan-padukuhan itu.

“Kita harus mulai menghubungi anak-anak muda itu,” berkata salah seorang dari para pemimpin pengawal itu.

“Ya. Tetapi mereka pun harus mengetahui, bahwa yang harus mereka lakukan, jangan sampai menimbulkan gangguan, khususnya gangguan batin bagi rakyat di sekitarnya.”

Dengan demikian, mereka pun segera membagi tugas. Mereka membagi diri dalam batas lingkungan masing-masing, sehingga mereka akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan cepat.

Ternyata bahwa mereka tidak mengalami kesulitan apa pun dalam tugas mereka. Anak-anak muda menyambut petunjuk-petunjuk mereka dengan senang hati. Bahkan sebagian dari mereka telah mulai melakukannya. Namun agaknya para pemimpin pengawal itu memberikan tekanan kesiagaan pada padukuhan-padukuhan yang ditembus jalan yang langsung menuju ke Tanah Mataram, selanjutnya ke Sangkal Putung.

Meskipun demikian tidak berarti bahwa padukuhan-padukuhan lain telah mengabaikan kesiagaan mereka, karena peristiwa yang telah terjadi di Tanah Perdikan Menoreh dan menumbuhkan korban itu, agaknya telah membangunkan mereka yang sedang tertidur dalam buaian ketenangan di Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, Ki Waskita masih saja selalu termangu-mangu dibayangi oleh isyarat yang buram. Bahkan setiap kali timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah semuanya ini merupakan arti dari isyarat itu? Bahwa dengan demikian perkawinan Swandaru akan mengalami gangguan yang dapat menyuramkan masa depannya?”

Ki Waskita menjadi ragu-ragu. Menurut uraiannya pada isyarat yang nampak, keburaman masa hidup Swandaru bukanlah pada saat perkawinannya, tetapi justru setelah perkawinan itu berlangsung.

“Mungkin aku telah kehilangan kemampuan pengamatan atas isyarat itu. Mungkin kesulitan yang terjadi di saat perkawinan ini akan memburamkan masa depannya yang panjang, bukan sebaliknya terjadi setelah masa perkawinannya berlalu,” berkata Ki Waskita kepada diri sendiri.

Keragu-raguan semacam itu hampir tidak pernah terjadi padanya selama ia mendapatkan kurnia ketajaman pandangan bagi masa depan. Tetapi justru hal itu terjadi atas Swandaru, dan karena hal itu tidak sejalan dengan keinginannya, maka isyarat itu telah membingungkannya. Dalam keadaan serupa itu, penglihatannya justru telah dikaburkan oleh keinginannya yang sama sekali berbeda.

“Aku menjadi bingung,” desisnya, “dan ini adalah kelemahan yang jarang terjadi padaku. Mudah-mudahan aku mendapat petunjuk, sehingga aku dapat membedakan antara isyarat yang aku lihat, dan keinginanku sendiri.”

Namun Ki Waskita tidak dapat mengatakannya kepada siapa pun. Ia mencoba mengendapkan persoalan itu di dalam dirinya meskipun rasa-rasanya akan menjadi beban yang cukup berat baginya.

Selain kegelisahan tentang isyarat itu, maka baik Ki Waskita maupun Ki Gede Menoreh masih juga digelisahkan oleh perjalanan ketiga orang pengawal yang pergi ke Kademangan Sangkal Putung. Meskipun tidak terucapkan, namun keduanya, bahkan beberapa orang pemimpin yang mengetahui perjalanan itu, selalu berdoa, mudah-mudahan perjalanan ketiga orang pengawal itu tidak mengalami gangguan apa pun juga di perjalanan.

Bahkan Pandan Wangi yang juga mengetahui keberangkatan ketiga pengawal itu tidak dapat menghindarkan diri dari kecemasan yang membuatnya selalu termangu-mangu.

“Kau cemaskan ketiga orang utusan itu, Wangi?” bertanya ayahnya.

Pandan Wangi mengangguk.

“Percayalah, bahwa mereka akan dapat menjalankan tugas mereka sebaik-baiknya. Selebihnya, serahkanlah semuanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka tidak sedang dalam perjalanan dengan maksud buruk. Karena itu, maka perjalanan mereka tentu akan mendapat perlindungan.”

Pandan Wangi mengangguk lemah, meskipun masih tetap nampak kegelisahan di wajahnya.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa ketiga orang yang pergi ke Sangkal Putung itu sama sekali tidak mengalami gangguan apa pun juga. Mereka melintasi Tanah Mataram tanpa singgah, karena mereka tidak mengalami kesulitan apa pun juga. Apalagi mereka berminat untuk segera mencapai Sangkal Putung dan kembali sebelum batas waktu yang ditetapkan.

Tetapi ternyata kedatangan mereka telah mengejutkan orang-orang Sangkal Putung. Apalagi Ki Demang. Ia menyangka bahwa sesuatu telah terjadi sehingga dapat menghambat hari-hari perkawinan anaknya.

Meskipun demikian, ia masih dapat mengendalikan dirinya, sehingga ia tidak tergesa-gesa bertanya tentang keperluan ketiga pengawal itu. Ki Demang masih dengan sabar mempersilahkan mereka duduk, bertanya tentang keselamatan perjalanan mereka dan mereka yang ditinggalkan di Tanah Pcrdikan Menoreh. Ia masih menunggu Sekar Mirah menghidangkan minuman hangat dan sekedar makanan.

Barulah kemudian ia berkata, “Maaf, Ki Sanak. Setelah Ki Sanak beristirahat sejenak, rasa-rasanya aku tidak sabar lagi untuk mendengar pesan yang barangkali kalian bawa dari Tanah Perdikan Menoreh. Biarlah kami mendengarnya.”

Ketiga orang itu mengangguk-angguk. Sejenak mereka memandang orang-orang yang duduk menemuinya di pendapa. Selain Ki Demang, nampak juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Bahkan Swandaru dan Agung Sedayu pun duduk bersama mereka pula.

Kemudian orang yang tertua di antara ketiga orang pengawal itu pun menyahut, “Ki Demang, mungkin kedatangan kami agak mengejutkan. Tetapi sebenarnya kami tidak membawa pesan yang mencemaskan.”

Ki Demang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia mendesaknya, “Sukurlah, Ki Sanak. Namun rasa-rasanya kami ingin segera mengetahuinya.”

Orang yang tertua itu tersenyum. Tetapi ia tidak ingin membuat suasana kian menegang. Karena itu, maka ia pun segera menceriterakan apa yang mereka ketahui tentang Tanah Perdikan Menoreh, seperti yang dipesankam oleh Ki Argapati. Bahkan, juga yang diketahuinya tentang para penyamun yang telah dibunuh oleh Ki Waskita di perjalanan, seperti yang juga didengarnya dari Ki Argapati.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 19:20  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-94/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. met pagi para sedulur mau ikutan jdi cantrik nih

  2. Clingak – clinguk, garuk – garuk sirah, bingung …. lha enten nopo Ki GD …… kok dereng lahir2 kitab 94ipun, mugi – mugi tetap sehat … mboten kesayahen … lsn keparingan berkat dening gusti Allah. Amin.

  3. selamat pagi juga . juga baru mau ikutan jadi cantrik nich . jadi saya duduk di gardu dekat regol saja sambil berharap wedang sereh hangat jilid selanjutnya sampai
    gardu.

  4. pundi nggih kitab 94 ??? matur suwun

  5. Mas, mulai buku 94 ke atas saya tidak bisa download lagi krn power pointnya gak bisa dibuka, padahal udah dg yg 2007…begitu pula doc nya ,,,kenapa ya

    Mohon jawaban

    # baca lagi halaman unduh

  6. alhamdulillah, akhirnya kitab 94-nya ki Gede turun juga. matur suwun

  7. Tulungin ki sanak, cantrik baru belum bisa ngunduh kitab 93,94, di endhi yo

    • Yang sudah ada versi retypenya, versi djvunya tautan file sudah dihilangkan.
      Baca langsung dokumennya. Kalau mau diunduh yang tinggal diblok dan dicopy saja

  8. Selamat, ore ngertiya akeh banget ya sing pada gandrung aring critane Alm. SH. Mintaredja… Aku mulai maca critane SH. Mintaredja dong esih kelas 5 SD nang SD. Kristen (Bersubsidi) Purbalingga, Bapakku dines nang Kodim 0702 nek kondur kang kantor terus maos NSSI, aku kelingan banget wektu kuwe nganti Ibuku juga melu-melu maos…..

    Pancen critane asik, aku juga ndatuk banget karo NSSI, mulai cetakan lawas, nganti tekan sekitar taun 80-an terbit maning edisi anyare… mung ya sing paling asik anggere maca buku asline sing jumlahe 29 jilid.

    Kepriwe sedulur…. apa ana sing arep nerusaken nulis critane APDM sewise sedane Mbah SH. Mintaredja….? Sukur angger kaya kuwe…. akuy juga kepengin duwe bukune mengku anggere wis ana…

    Wis disit ya… ngesuk-ngember disambung maning….

    Klilannnnnn……..

    Bogie Dwi Alriyanto
    Setabelan – Purbalingga Wetan
    Telpune : 08128512678

  9. aku ingin mengajak ketempat istirahatnya kanjeng kyai grinsing sekalian kita berziarah bersama para penggermar ADBM… hayo siapa yang ingin menjadi sponsornya… ???

  10. Melu urun rembug

  11. terima kasih kepada ki GD dan para cantrik atas jerih payahnya menulis ulang kitab pusaka ADBM ini…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: