Buku 93

93-00

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 04:00  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-93/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. Para cantrik mari berkumpul, sebentar lagi ada pembagian kitab baru.

  2. Halah..,
    iku gambaré opo maneh? Agung Sedayu kélangan cambuk, lantas pinjam pedang Swandaru?

    • sanes, niku ki kartu sedang latihan

      • Latihan nopo melih ????????

  3. Ada Cover ada scan-nan, sing penting kuwi wae
    Suwun Pak Dhe GD

  4. Di ADBM ini disinggung nggak ya tentang Perdikan Banyubiru ? Siapa isteri Ki Gede Banyu Biru ? Tetep jadian sama Endang Widuri anaknya Kebo kanigoro nggak ya ?…Kalau emang nyambung versi NSSI mestinya tetep jadian.. 🙂

  5. mas sutajia, dari ungkapan rahasia kyai gringsing (buku 82 —-saya mentok di buku 82, buku 83 belum bisa saya buka –kasihan), ada disinggung tentang ki gede banyubiru yang merupakan perguruan dari kyai waskitadan panembahan agung, apakah mas sutajia juga menyimpulkan bahwa kyai gringsing adalah anak dari ki gede banyu biru —- pak DD, ini semua ada di buku 82 jadi bukan menerawang lhooo
    jadi kyai gringsing tunggal guru dengan ayahnya

  6. Ki Ronggolawe….di kitab 80an pernah disimpulkan kalau Ki Gede Banyubiru tua (Ki Ageng Gajah Sora) itulah yg menjadi guru Ki Waskita & Panembahan Agung…jadi masuk group perguruan Pangrantunan…sedangkan anaknya yg bernama Arya Salaka atau Ki Gede Banyubiru (yg sekarang) adalah murid Mahesa Jenar jadi masuk group perguruan Pengging, jadi jelas Arya Salaka bukan Kyai Gringsing karena dikitab tersebut sempat disebutkan kalau Kyai Gringsing bukan murid keturunan Pengging, hanya karena gurunya sahabat Ki Kebo Kanigara sedikit banyak jadi terpengaruh, seperti sikap “tertentu” ditunjukan saat melawan Panembahan Alit yg membuat Ki Waskita tertegun karena “merasa kenal” itu bisa disimpulkan saat itu Kyai Gringsing sedang menggunakan ajian Sasra Birawa ciri khas Pengging
    Gitu Ki….

  7. Oh gitu ya…jadi gurunya Ki Waskita itu justru ayahnya Arya Salaka..Ki Ageng Gajahsora (Ki Ageng Banyubiru Sepuh)….

    Tapi ilmu Pengangen-angen nya dapat dari mana ya ?…soalnya di NSSI, Gajahsora ilmunya (pada akhirnya) jauh di bawah Mahesa Jenar dan Kebo Kanigoro…artinya Gajahsora ilmunya masih cukup ecek-ecek… ilmu pamungkasnya Cunda manik…itu murni tenaga dalam…nggak ada ilmu sulapnya…

    Jadi kayaknya ilmu Pengangen-angen Waskita ini bukan didapat dari Gajahsora..tapi dari guru yang lain…

  8. @ semua
    kita kan bacanya cuman sampe banyubiru nyerang pesanggrahan dari sultan trenggono karena joko tingkir, tapi kita gak tau cerita sesudahnya, anggap aja Ki Gajah Sora mendapat ilmu yang lain, untuk jaga-jaga kalo nanti muncul lagi peristiwa perang dengan kejahatan, mungkin saja kan anak buah dari semua golongan hitam bisa bangkit lagi. jadi ya bisa diteruskan ke Ki Waskita dan Panembahan Agung.

  9. Ritual tapa mbisu mubeng beteng.
    Biasanya untuk menyambut Tahun Baru Jawa 1 Syuro, tepat pukul 00.00 WIB warga Yogya punya acara berupa kegiatan jalan kaki dengan membisu berkeliling beteng kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
    Bagaimana tahun ini ya … ??

  10. “Ayo ndang dirubung komen-e,.. ben cepet dadi 93.”

  11. “Ki GD,…menurut primbon “jawa-haral anehru” petungan hari baik minggu ki pas dino kemis-jum’at-sabtu-minggu-senin..kuwi dino2 poro cantrik lagi ora ono jadwal mato pelajaran..”

    “Piye Ki GD…?” (tapi iki mung usul lho)

  12. Kakang Panji Said…
    bisa jelaskan…
    kenapa di ADBM tidak seheboh seperti cerita NSSI??..
    Maksudnya kok di ADBM sepi dengan segala ilmu dan ajian yg aneh2.. seperti sasra birawa dan lembu sekilan.??…di NSSI rasanya tiap tokoh selalu pamer ajian pamungkasnya….., gampang bgt maen gaplok… , salah dikit gampar…, hehehe., atau mungkin di jilid2 selanjutnya ilmu2 itu akan makin ramai??…Kan para tokoh ADBM juga kalo di urut2 yg berguru pada mereka2 yg ada di NSSS??.. maaf kalo salah…, siapa kira2 yg ngewarisi ilmu2 pamungkas yg ada di NSSI ada di para tokoh ADBM??…
    atau SH Mintardja nya udah bermetamorfosa??…
    Mungkin Ki teruno Podang sudi ngasih penjelasan???

  13. Menurut saya, Ki SHM tampaknya sengaja membuat agar tokoh ADBM tidak gampang mengeluarkan ajian pamungkasnya (disimpen). Dengan demikian kemungkinan mengembangkan cerita jadi lebih besar. Terbukti betapa panjangnya lakon ADBM ini.

    Apalagi ditambah dengan kemisteriusan Kiai Gringsing. Walaupun jatidirinya br saja terungkap, tp sampai saat ini blm diketahui siapa gurunya. Kedekatan hub gurunya dg Kebo Kanigoro sangat memungkinkan adanya diciptakannya ilmu baru. Dan semuanya msh disimpan sampai saat ini. Bahkan ilmu tertinggi perguruan Windujatipun blm juga diungkap

  14. Tlg dikoreksi jk sy salah. Sebab sy br baca sampai buku 82

  15. Sungguh asyik sekali membaca para cantrik menelusuri jalur perguruan (dan ilmu} tokoh-tokoh utama ADBM sampai ke NSII. Saya sudah membaca nyaris semua karya Empu SHM, dan memang, tidak bisa menghilangkan kesan bahwa kedua karya linuwih itu berhubungan. Sayang sekali kita harus menerima kenyataan bahwa ADBM bukanlah sekuel NSII. Di sinilah hebatnya Empu SHM. Beliau mampu membuat kita [pembaca] tidak saja hanyut dalam cerita tetapi juga menyeret kita untuk menghubung-hubungkan ADBM dengan NSII, bahkan serial Pelangi Di Langit Singasari.

    Saya lebih tertarik pada unsur religi dan psikologi dalam ADBM. Empu SHM tidak secara langsung menyatakan agama apa yang dihayati tokoh-tokoh utama ADBM, tetapi pada episode-episode awal jelas sekali Empu SHM merujuk pada agama Islam. Hal itu terlihat dari kata ganti Tuhan yang sering kali dipakai, yaitu: Yang Maha Agung, Yang Maha Esa, Yang Maha Pengampun, dll. Cerdiknya, karena (mungkin) Empu SHM tidak mempunyai data tentang bagaimana penghayatan ritual Islam di masa-masa awal Mataram, tidak pernah kita temukan deskripsi ritual keagamaan mereka. Istilah yang paling sering digunakan hanya ‘sesuci’ ketika Kyai Gringsing Cs. bangun di pagi hari dalam keadaan normal.

    Mengenai ketertarikan saya pada unsur psikologi lain kali saja, takutnya ini pun sudah membosankan.
    Ini mungkin lebih cocok di ruang diskusi, tapi sepertinya di ruang tunggu ini lebih ramai, Ki Gedhe. Mohon maaf jika tidak berkenan.

  16. Ki GeDe setelah menerima kitab 92, walaupun belum menguasai semua isinya kawula absen dulu…..antrinya nanti saja.

    Suwun.

  17. Benar Ki Jayaraga. Sekarang ini, membaca komen para cantrik sama menariknya dengar ceritanya itu sendiri.

    Salah satu yg saya sukai adalah penggambaran sifat tokoh2nya. Sebagian orang suka jagoan yg perfect. Tp saya tdk. Saya lebih suka jagoan yg mendekati kenyataan sifat orang2 yg kita temui sehari2.
    Contohnya Agung Sedayu yg pengecut diawal cerita shg walaupun kemudian tlh menemukan jatidirinya shg tdk ada lagi yg ditakutinya tetapi sifat ragu-ragunya tetap tdk bs dihilangkan bahkan sampai masa dewasanya. Dia masih selalu butuh pendapat orang lain. Barangkali akan beda jika dia menjadi orang yg tegas dan cepat dlm memutuskan sikap. Tp menurut saya jadi tdk menarik lagi

  18. Ki Gede, saya turut antri…

  19. ki gede = eyang panembahan, ilmunya tinggi buanget
    aku belum bisa menemukan rahasia kitab 91 nya tolong pencerahannya !!!!!!!

  20. setuju…ADBM kisahnya lebih manusiawi…. aji-aji pamungkasnya juga tidak begitu ditonjolkan…cuma kemampuan olah kanuragan saja yang diungkit2… semua serba fisik dan nalar… yang agak2 mistis cuma ilmu pengangen-angen ini saja…
    Beda jauh dengan NSSI yang serba ajian…sedikit2 keluar Sasrabirawa, terus muncul Cunda manik, Pacar Wutah, Alas Kobar…dll…
    Siapakah penerus SH Mintardja ?…sayang sekali kalau karya sastra ADBM ini terpengal dan tidak tuntas…
    NSSI happy ending…dan selesai…
    Bagaimana dengan ADBM ?

  21. Nuwun sewu Ki GD, nembe sowan,
    sebelumnya saya merasa sebagai seekor cacing yang lagi mendengar cerita dari seorang pertapa sakti,
    sebenarnya yang patut kita telaah dari cerita2 NSSI & ADBM dari SHM adalah bagaimana proses kemunduran yang dialami negara kita, setelah mencapai masa puncak di jaman mojopahit. disini terlihat bahwa keserakahan, dan pementingan diri pribadi adalah penyebab semuanya. yang harus kita teladani adalah proses dari senopati ing ngalogo yang berusaha mencapai puncak itu lagi, kemunduran ini juga bisa kita lihat dari kemunduran ilmu kesaktian tokoh2 kerajaan pada masa itu. bagaimana dengan kesaktian tokoh kerajaan masa sekarang?

  22. ABSEN KI GEDE

  23. Mohon maaf Ki Dewo, pengetahuan saya tentang Ki SHM tidaklah terlalu mendalam. Memang saya akui bahwa saya telah membaca habis NSSI, tapi saya belum membaca karya yang lainnya. Kalau Pelangi di Langit Singosari memang pernah saya membacanya,tetapi itu duluuuuuu sekali, ketika saya masih kanak2, sehingga nada ceriteranyapun sudah lupa sama sekali. Yang saya ingat bahwa dahulu saya menyukainya sangat.
    Oh ya catatan penting buat karya SHM lainnya di ADBM mungkin perlu juga dikaji di sini yaitu tentang betapa menonjolnya peranan tokoh2 tua dalam setiap persoalan. Semua tokoh2 muda nampaknya hanya sebagai pelengkap, karena ilmunya yang belum terlalu tinggi. Beda dengan NSSI, justru tokoh2 muda seperti Mahesa Jenar dan Kebo Kanigoro, kemudian Mas Karebet, sangatlah mengagumkan. Di usia muda mereka telah menguasai ilmu yang sangat tinggi sehingga dapat mengalahkan tokoh2 tua. Demikian juga jika kita membaca ceritera2 silat pengarang lain. Tokoh muda yang menjadi sentral ceritera biasanya secara menakjubkan dapat meningkatkan kemampuannya dalam waktu singkat sehingga mampu berhadapan dengan tokoh2 tua yang sakti. Realita jaman sekarang, banyak anak2 muda yang justru lebih menguasai ilmu dan teknologi dibanding yang tua.
    Kemudian mengenai wanita dalam kisah2 SHM. Sepertinya kok semua wanita yang ditampilkan SHM adalah wanita2 penuntut terhadap laki2. Sekar Mirah, mudah merajuk. Nyai Demang Sangkal Putung, kenapa tiba2 begitu teliti mengenai kondisi Agung Sedayu yang belum memiliki pekerjaan. Padahal sebelumnya tersirat bahwa Nyai Demang adalah seorang penurut bagaimana kata suami. Satu lagi, Nyai Waskito, sebegitu telaten mendebat suaminya tentang bagaimana bersikap yang benar terhadap anaknya. Rasa2nya bagi saya pribadi, sangat sulit memiliki pasangan hidup seperti yang digambarkan oleh SHM dalam 3 tokoh wanita tersebut. Saya bukan orang yang otoriter ataupun egoistis sama sekali. Akan tetapi menghadapi keceriwisan seperti itu sepertinya tidak bisa.
    Oh ya bukankah tipikal wanita Jowo jaman dahulu itu penurut terhadap suami? Wanita mulai membantah suami bukankah sejak diperjuangkan oleh RA Kartini?
    Ada yang bisa bikin pencerahan, barangkali dari latar belakang kehidupan beliau sendiri, bagaimana istrinya, dls?
    Di ADBM juga banyak laki2 kesepian :
    – Ki Gede Menoreh menduda sejak Pandan Wangi masih kecil.
    – Ki Gede Pemanahan, tidak diceriterakan kapan istrinya wafatnya, dan berapa jumlah anaknya. Dan kenapa anak2nya yang lain tidak ikut serta di Mataram, cuma diceriterakan selintas disaat kematian Ki Gede Pemanahan.
    – Kiai Gringsing, keluarganya misterius.
    – Ki Sumangkar, Ki Tambak Wedi, Tohpati, semuanya mendudakah?
    Ki Truno Podang

  24. Di NSSI yang tidak saya sukai, Mahesa Jenar diupgrade ilmunya secara instan ……jadinya tidak seru ……tiba2 saja jadi se-level tokoh2 senior setelah diupgrade ..:)

  25. Wah, ada bedah buku mendalam di antrian depan regol padukuhan 93.

    Ki Truno Podang, di ADBM bukankah beberapa kitab lagi juga akan terjadi tokoh muda menguasai ilmu tinggi dan mengalahkan tokoh tua?

    Kiai Jayaraga, saya juga tertarik akan hal yang sama. Kenapa ada perubahan? Di NSSI dan awal ADBM, tadinya terlihat mengarah ke agama Islam, tetapi sesudahnya menjadi netral. Apakah disesuaikan dengan perubahan jaman? Dari jaman Demak yang disokong Wali Songo menjadi jaman Mataram yang diwarnai sistem kepercayaan lokal (kejawen)?

  26. Betlull sekali Ki Upasara Wulung. Itu sangat terlihat dari uraian Ki SHM mengenai betapa para pangeran ataupun yang merasa berdarah Majapahit bertengkar berebut kekuasaan, yang menjadi korban dan menderita adalah masyarakat kecil. Ia ceriterakan dengan lugas bermula dari Demak, kemudian menjadi Pajang, dan akhirnya ke Mataram. Bukankah hal itu tidak beda dengan jaman sekarang?. Semuanya ingin jadi presiden, semuanya pengin jadi Gubernur, atau Walikota atau Bupati, dengan saling sikut, saling membunuh karakter, saling pamer kekayaan. Sementara bagi rakyat kecil, uang 10ribu itu bermakna besar, di lain pihak uang 2milyar yang rencananya buat kampanye dicuri orang tidak masalah. (Maaf bukan bermaksud berpolitik).
    Simpelnya, kalau memang berdemokrasi dari hati nurani ingin negaranya maju, kalau azasnya sama saja mengapa harus banyak partai? (Sebahagian besar partai yang ikut Pemilu 2009 azasnya Pancasila).
    Nuwun,
    Ki Truno Podang

  27. NSSSI dan ADBM dan PDS adalah triloginya SHM..pada dasarnya cerita ini diilhami oleh kondisi lingkungan dan budaya jawa dalam konteks penyajian yg menungkapkan kritik sosial yang sangat halus. Terutama lagi diilhami oleh mitos-mitos pemimpin dalam budaya jawa. Sedemikian halus pergerakan ceritannya hingga mampu membawa pembaca ke alam visual masing2 …artinya masing2 pembaca menjadi sutradara atas interpretasi cerita terhadap pemikiran masing2 visual yang ada dalam kebatinan masing2.

    Inilah kekuatan SHM sehingga kita tidak merasa bosan untuk membaca berulang2 karena visualisasi kita akan berbeda setiap saat…ITULAH YANG MEMBUAT KITA PADA TINGKAT LEVEL 3,4 DERIVATIVENYA SAJA KITA MASIH KENA PENGARUH ILMU TERSEBUT….SEHINGGA TIDAK TERASA KITA SUDAH MEMBUAT REKOR:
    – REKOR KLIK
    – REKOR ANTRI
    – REKOR NUNGGU
    – REKOR MELEK
    – REKOR..KOR…KOR

  28. Kiai gringsing Tokoh Misterius……?
    Jika peng-angen-angen-ku tidak salah, Kiai Gringsing
    itu masih “Trahing Kusumo Rembesing Madu” dari kerajaan Majapahit.
    Yang sebagai salah satu Pangeran Majapahit,beliau telah “Biso Rumongso” bahwa dia tidak dapat mengingkari keadaan Zaman perkembangan Demak,Pajang, Mataram.
    Oleh karena itu beliau tidak suka dengan kelompok yang menginginkan kembalinya kejayaan Majapahit dengan alasan apapun.
    Sosok Kiai Gringsing adalah orang yang :

    – Jujur.
    – Andap asor (sopan tidak sombong),
    – Berpegang pada Komitmen,
    – Loyal,
    – Lembah manah (bijaksana),
    – Cerdik,Tangkas,Cerdas,Tanggap,
    Pintar (ibarat sekarang dia itu
    seorang Dokter yang jadi tentara
    lewat garis komando/AMN/Akabri).

    Maaf, tulisan diatas hanya pang-angen-angen…..?

  29. Namun sebagai manusia biasa?normal kiai gringsing juga ada kekerngannya yaitu dia tidak punya anak istri.

  30. Ki Truno Podang,
    ketertarikan saya pada unsur psikologi di ADBM ternyata tidak jauh-jauh amat dengan kepenasaran nJenengan. Banyak tokoh kesepian yang justru tokoh-tokoh penting di ADBM, selain Nyai Demang Sangkal Putung dan Pandan Wangi, kita tidak menemukan karakter wanita yang keibuan. Dan seperti di dunia persilatan pada empu-empu yang lain, laki-laki lah sentral cerita.

    Pada dasarnya saya mendapat kesan kuat bahwa Empu SHM sangat sadar psikologi, terutama dalam memberi watak dan latar belakang yang tepat pada setiap tokoh cerita. Kita bisa menerima dengan baik kesamaan dan perbedaan Agung Sedayu dengan Rudita.
    Rudita adalah jenis pribadi yang platonis dan utopis, oleh karena itu kesempurnaan sikapnya justru tidak umum dan melawan mainstream sifat-sifat manusia pada umumnya. Watak Rudita mewakili kesabaran ekstrim yang justru tidak terbatas.
    Agung Sedayu adalah tokoh ideal yang nyata (meskipun sangat jarang). Perawakan ideal, rendah hati, sering ragu-ragu, penuh pertimbangan, bersamaan itu dia juga tak terkalahkan ..kelak.., bijak seperti gurunya, dan penuh pengertian terhadap sesama.
    Kedua karakter itu berasal dari latar belakang yang sama: manja, penakut yang cenderung pengecut akibat dimanjakan oleh ibunda mereka.

    Nah, untuk memahami pandangan sebenarnya Empu SHM terhadap sosok perempuan, orang-orang dekat beliau mungkin bisa menelusurinya.
    Jujur.. saya banyak terinspirasi oleh karakter-karakter ADBM. Idola saya? Kyai Gringsing, Agung Sedayu dan Glagah Putih. Tampaknya Empu SHM menitipkan seluruh konsep watak yang baik dari golongan Tua, Dewasa, dan Anak-anak pada ketiga tokoh itu.

  31. Sayang……

    Seperti halnya Ki Gede, saya dibatasi oleh jarak yang cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan ngopi sambil makan jenang alot di tempat Ki Hartono.

    Tetapi, bagi saya lebih baik begini sajalah. Saya lebih bebas membayangkan wujud semu dari Ki Gede, Ki Warsono, Ki Edy, Gaza, Sukro, Ki Pandan Alas, Ki Kontos Wedul, Ki Hartono, dan pasukan/cantrik lain di padepokan ADBM ini.

    Kalau kelihatan wujud aslinya bisa jadi malah tidak enak, dikira muda ternyata tua, dikira laki-laki ternyata perempuan, dll. Contohnya, dulu Ki Gede menyebut saya anakmas Arema, sekarang jadi Ki Arema. Jadi, tidak bebas lagi.

  32. … kemudian Ki KontosWedul pun mengangguk-anggukkan kepalanya, pandangan matanya menerawang jauh keluar dari padepokannya, kemudian berkata: begitulah kiai, keadaan sekarang ini memang sedang suram, kedua pusaka itu seperti hilang ditelan bumi, namun ada 1 pusaka lagi yang akan muncul hari ini(atau besok), yaitu pusaka kitab yang berisi jurus ke 93

    xixixi,
    Ki KontosWedul

    # kata siapa kitab 93 gak muncul hari ini ?

  33. Wah …. sembari jamasi pusoko Kanjeng Kyai Ngenteni, jopo-montro dari rontal adbm-93. Biar tambah wingit menggunakan ramuan warangan dari rontal yang sama pula.

  34. suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti

    siap antri 93…
    maturnuwun

  35. absen kiai, sinambi midangetaken pencerahan saking poro kadhang sedoyo…..wah tambah josss tenan…. nuwun

  36. tutwuri handayani, tumut antri kiai, benar-benar tok cer,jan tok cer tenan

  37. Tambahan soal NSSI:

    Memang beberapa hal instan, dan sedikit maksa. Misalnya, Lowo Ijo yang ngedap-edapi justru rapuh batinnya karena Endang Widuri. Semata-mata ia punya anak yang mestinya seuisa Widuri jika tidak terbunuh…

    Tapi, begitulah cerita silat murni dengan latar jengkarnya dua keris sakti di Demak.

  38. Ki Gede mohon petunjuk kitab 93 Nya

  39. On 24 Desember 2008 at 11:01 yana Said:
    ki gede = eyang panembahan, ilmunya tinggi buanget
    aku belum bisa menemukan rahasia kitab 91 nya tolong pencerahannya !!!!!!!

    On 23 Desember 2008 at 08:52 sukra Said:
    @ Ki Ronggolawe
    Silakan jalan-jalan ke halaman lain yang “terselubung Kain Gringsing.” Ada banyak kejutan disana, selain ilmu untuk membaca kitab.
    Monggo.

    “Untuk cantrik Ni/Ki Yana, kitab-91 dibungkus dengan kain Gringsing yg dipakai Ki Sukra (wahyu turun ke Ki Ronggolawe)”

  40. Engkau harus melihat tanpa mata.
    Engkau harus mendengar tanpa telinga.
    Engkau harus berjalan tanpa kaki
    Engkau harus bekeja dan berbicara..
    ……………………………………………
    engkau harus membaca ADMB sampai selesaiiiiiiiiiiiiii

  41. Bahwa jalan kebaikan itu terlalu lengang karena rumpil dan sempit, sedangkan jalan kemaksiatan itu menjadi ramai dan cerah karena nampak licin dan rata. Tetapi ujung jalan itu akan menentukan apakah seseorang akan menyesal atau bersyukur atas pilihannya. Sedangkan siapa yang telah sampai diujung jalan, tidak akan ada kesempatan untuk kembali dan berubah arah.(KI Waskita, ADBM92.60)

  42. Sampai pukul 21.30 baru 40 pengantri. Berarti masih menunggu 53 peserta agar jurus ke 93 dapat diturunkan. Apakah gara2 para cantrik sedang memenuhi undangan Ki Hartono dengan kopi dan jenang alotnyanya, sehingga antrian di rumah Ki GD jadi sepi.
    Atau Ki GD juga ikut hadir di rumah Ki Hartono?.

    Tumengo sepi, tumungkul sepi.
    Sepi ing pamrih rame ing gawe.
    Salam,
    Ki Truno Podang

  43. Telik sandi dari Bang Wetan siap menyadap isi Kitab 93…siapa tahu berguna untuk melawan Mataram kelak..hmm…

  44. Blm diturunkan kah kitab 93?

  45. Ki Truno Podang…
    Terima kasih atas ulasan dan pencerahannya. Begitu hidup ADBM kita dengan ulasan Ki Truno Podang dan para cantrik ttg tokoh dalam ADBM.
    Memang saya sendiri merasa- angkatan saya – yg notabene angkatan tua -suka melihat dgn menyipitkan mata thdp keilmuan para Agung Sedayu. Mungkin Ki SHM masih ingin memaparkan bahwa seumuran Ki SHM masih mumpuni, masih pegang peran, yg seringkali yg muda2 disuruh menyingkir.Atau beliau sedang berolok olok saja, karena Mahesa Jenarpun dibuatnya sejajar keilmuan olah kanuragan dengan yg para sepuh. Ga tau juga ya??…

    Yg jelas nih andai saya jadi …
    @Agung Sedayu…. saya mah mikir dulu buat kawin ama Sekar Mirah…., walah berat di ongkos kata anak muda jaman sekarang sih…

    @Jadi KI Gringsing…., saya nasehatin angger Sedayu buat mikir dulu…,

    @jadi Bapaknya agung Sedayu….-….
    ntar dulu ye… punya menantu Sekar mirah… hehe.

    Kok Pandan Wangi di mata saya jadi begitu elok dan sempurna ya????… padahal ada darah sidanti yg kita benci di sana… emang pinter SHM bikin cerita….

    Terima kasih….

  46. Menurut yang saya baca dari kira-kira buku 80 sampai 82 ada diterangkan bahwa guru kyai gringsing ada dua yaitu pertama yang mengajarkan ilmu cambuk (Empu Windujati) dan kedua yang mengajarkan dasar ilmu kanuragan yang adalah ternyata sahabat dekat dari Kebo Kanigara. Apa mungkin guru kyai gringsing yang kedua itu adalah Mahesa Jenar, ya?
    Jangan-jangan itu yang dimaksud rahasia besarnya Kyai Gringsing ….

    oh ya, sebelumnya matur nuwun Ki Gede, atas kitab-kitab pusaka yang dibagikan, soalnya saya dulu sempat kelangan lacak tentang huru-hara Kyai tambak Wedi itu sampai ke menoreh. Sempat saya cari di toko-toko buku bekas, tapi hanya dua jilid yang ketemu. Malah ketemu semua disini. Sekali lagi saya namung bisa ucap matur nuwun.
    dan untuk seluruh sedulur warga perdikan kulo matur salam kenal.

  47. Suara ledakan cambuk agung Sedayu menggelegar membelah keheningan malam bersalju yang aneh itu. Daun-daun randu alas berkerosakan terkena getaran suara cambuk itu.

    Ajar Talpitu menggeram, digenggamnya erat-erat trisulanya yang seakan-akan telah membara merah itu
    “Ternyata kau adalah salah satu dari orang-orang bercambuk itu.”

    “Kalau benar begitu adanya kau pasti tahu di mana kitab itu disembunyikan, atau bahkan kau sendiri yang membawa kitab itu.”

    Agung sedayu segera tidak menjawab.

    “Apa maksudmu dengan kitab, kyai ?”

    “Jangan bohong anak muda.” Ajar Talpitu nyaris berteriak.
    “Kitab itu pasti ada padamu!”

    “Aku tidak berbohong, kyai.” potong Agung Sedayu
    “Kyai harus punya bukti sebelum menuduhku berbohong.”

    “Sudah cukup bukti anak muda.” Jawab Ajar Talpitu tak sabaran.
    “Pangeram-eram seperti salju yang turun sekarang ini tidak akan bisa dilakukan kalau kau tidak memiliki kitab no. 93 itu !”

    Agung Sedayu menggeleng-gelengkan kepala …
    “Tokoh yang baru muncul ini tiba-tiba saja menjadi kumat karena ikut-ikutan antre kitab.” gumamnya dalam hati.

    NB: Nuwun sewu Ki Gede, sekali lagi kulo hanya bisa turut antre.

  48. Ki Gd Saya baru dateng dan bisa menjamah sinyal gprs di daerah gn sindur, geser sedikit ke BSD dapet sinyal 3G, terus masuk tol dan bablas ke arah luar kota balik lagi ke gprs, sampe etungan volume base ku nambah terus ra popo, akan tetapi kalau nggak keluar juga kitab 93 sampe nggak dapet lagi sinyal untuk masuk ke Padepokan virtual ini. Aku akan sedih sekali…..Ki Gd, Please……

    By the way busway matur nuwun Ki Gede…..

    Juga Ki Slamet Matur sembah nuwun kitab 78 & 79-nya….

  49. matur nuwun Ki Gede… bonus Kitab 93
    sudah di ambil

  50. matur nuwun sanget ki gd sampun nampi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: