Buku 93

“Jika itu kau anggap baik?”

“Cara itu sebenarnya membuat hatiku sedih. Kau tahu, bahwa aku mendapat tugas mengamati tugas yang kau lakukan. Aku memang mendapat wewenang penuh untuk mengambil keputusan. Ternyata bahwa hal ini sudah terjadi.”

“Ambillah keputusan.”

“Apakah aku harus membunuhmu? Itu sama sekali tidak menyenangkan. Kau adalah kawanku. Kau dan aku pernah mengalami pahit getir di medan yang beraneka. Sekarang apakah aku akan sampai hati membunuhmu?”

“Aku pernah melakukannya juga. Ketika aku harus mengamati tugas sekelompok kawan kita di daerah Utara. Tiba-tiba saja mereka telah disergap oleh beberapa orang pengawal. Dua orang di antara kawan kita tertangkap hidup-hidup meskipun mereka luka parah. Akulah yang membunuh mereka di malam hari dengan paser beracun. Nah, sekarang lakukanlah tugasmu sebaik-baiknya.”

“Gila. Kau memang sudah gila. Tukang sihir itu sudah menyihir otakmu.”

“Mungkin kau benar. Aku merasa kehilangan sebagian dari kesadaranku. Aku tidak tahu pasti, apa yang sebaiknya aku lakukan. Kadang-kadang aku merasa muak berada di sini. Tetapi kadang-kadang aku merindukan hidup yang sewajarnya seperti orang-orang yang tinggal di padukuhan ini. Mereka rasa-rasanya hidup tenang dengan keluarga mereka seperti yang pernah aku alami sebelum aku berada di antara kalian.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi mungkin juga tukang tenung itu sudah membuat aku menjadi linglung seperti sekarang ini.”

“Marilah. Kau akan sembuh setelah tiga hari tiga malam kau tidak berada di bawah sorot matanya. Kau akan menyadari sepenuhnya keadaanmu.”

Orang itu menjadi semakin ragu-ragu. Namun kemudian kepalanya digelengkannya, “Aku tidak dapat.”

“Gila. Kau jangan memaksa aku untuk bertindak lebih jauh dari sikapku ini.”

Tetapi sekali lagi ia menggeleng. Katanya, “Lakukanlah yang harus kau lakukan. Aku tidak tahu, apakah aku masih akan dapat menguasai diriku sendiri dan dapat menguasai kehendakku. Aku merasa seolah-olah aku telah kehilangan diri sendiri.”

Karena orang itu saling berpandangan sejenak. Yang seorang berkata, “Tidak ada harapan lagi. Apa boleh buat.”

Yang lain menarik natas dalam-dalam. Katanya, “Sungguh suatu saat perpisahan yang tidak akan dapat aku lupakan.”

“Aku sudah siap,” berkata orang yang berada di dalam dinding.

“Baiklah. Barangkali kau benar-benar telah berputus asa. Kau agaknya telah diracun oleh sikap dan perbuatan yang selama ini tidak kau mengerti. Atau barangkali benar katamu, bahwa kau sudah disihirnya.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Aku akan membunuhmu dengan cara yang selalu kita lakukan.”

“Kau membawa paser beracun?”

“Ya. Tetapi aku minta kau membelakangi aku, agar aku tidak ragu-ragu.”

Orang yang berada di dalam halaman itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti yang dikatakannya sendiri, nalarnya bagaikan mengambang. Ia tidak lagi dapat meyakini apa yang sedang dilakukannya.

Namun dalam pada itu, selagi orang-orang itu dicengkam oleh keragu-raguan, tiba-tiba saja pintu butulan pada dinding penyekat yang agak tinggi terbuka. Seorang gadis yang muncul dengan tergesa-gesa tertegun melihat tiga orang yang berada di bawah rumpun bambu, meskipun yang dua orang dari mereka berada di luar dinding.

Sejenak gadis itu termangu-mangu. Dipandanginya ketiga orang itu dengan saksama.

“Siapa gadis itu?” desis salah seorang yang berada di luar dinding.

“Gadis itulah yang akan kawin beberapa hari mendatang,” jawab orang yang berada di dalam, “namanya Pandan Wangi.”

“O,” desis orang yang diluar, “kenapa tiba-tiba saja ia kemari?”

“Aku tidak tahu.”

Ternyata Pandan Wangi yang heran melihat ketiga orang itu justru mendekatinya. Ia mengenal yang seorang dari antara mereka. Orang yang datang bersma Ki Waskita. Namun sikapnya yang aneh telah menarik perhatiannya.

Melihat kehadirannya, ketiga orang itu menjadi semakin gelisah. Bahkan diluar sadarnya orang yang datang bersama Ki Waskita itu bertanya, “Apa yang kau cari di sini?”

“Sebenarnya aku akan mengambil daun sirih yang tumbuh di seputar sumur itu. Tetapi, apakah ada persoalan pada kalian bertiga.”

“Tidak. Tidak ada persoalan apa pun juga.”

Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Yang nampak olehnya hanyalah bagian atas dari kedua orang yang berada di luar dinding. Tetapi ia belum mengenal sama sekali keduanya.

Namun ternyata kedatangan Pandan Wangi telah sangat menggelisahkan kedua orang yang berada di luar kebun yang dibatasi oleh dinding batu yang tidak terlalu tinggi itu. Bahkan salah seorang dari mereka bertanya, “Kenapa kau mendekat ke mari?”

Pandan Wangi bukanlah gadis kebanyakan. Ia mempunyai ketajaman perasaan yang mengagumkan. Itulah sebabnya, maka pertanyaan orang itu terasa aneh baginya.

“Ki Sanak,” berkata Pandan Wangi kemudian, “jika kau mempunyai kepentingan dengan kami atau salah seorang keluarga kami, marilah, silahkan masuk.”

“O, tidak. Aku hanya ingin berbicara sedikit dengan seorang kawanku yang ternyata berada di sini.”

“Jika kalian ingin juga bertemu dengan Ki Waskita, tentu kalian dapat melakukannya. Atau barangkali aku harus memanggilnya?”

“Siapakah Ki Waskita itu?”

“O,” orang yang berada di dalam lingkaran dinding batu itu menyahut dengan tergesa-gesa, “kawan-kawanku ini tentu tidak mengenal Ki Waskita, karena mereka tidak mempunyai hubungan apa pun dengannya.”

Pandan Wangi mengangguk-angguk, “Aku kira kalian berasal dari satu padukuhan, juga dengan pamanku itu.”

“Tidak. Tidak,” salah seorang yang di luar menyahut.

Tetapi dengan demikian, Pandan Wangi melihat gelagat yang aneh pada mereka. Karena itulah maka ia pun justru mendekat sambil berkata, “Aku mengharap kalian masuk. Kalian tentu bukan orang dari padukuhan induk ini, ternyata aku belum pernah mengenal kalian. Karena itu, kedatangan kalian ke tempat ini tentu bukannya hanya kebetulan saja.”

Kedua orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Salah seorang dari keduanya berbisik, “Gadis ini akan mengganggu tugas kita.”

“Jangan hiraukan,” desis yang berada di dalam halaman.

“Ia pun harus dibungkam. Ia akan dapat menjerit dan merusakkan rencana kita.”

“Jangan,” sahut yang di dalam, “ia akan kawin beberapa hari lagi. Biarlah ia menikmati hari-hari bahagianya.”

“Itu bukan urusanku.”

“Kau dapat menunda rencanamu barang beberapa saat. Ia tidak akan lama berada di kebun ini.”

Meskipun mereka seakan-akan hanya saling berbisik, namun ketajaman perasaan Pandan Wangi dapat menangkap, bahwa sesuatu yang gawat akan terjadi. Karena itulah maka justru ia melangkah semakin dekat.

“Jangan mendekat,” tiba-tiba orang yang telah datang bersama Ki Waskita itu mencegah.

“Kenapa?” bertanya Pandan Wangi.

“Aku sedang menebangi batang-batang bambu. Kau akan terkena lugutnya, yang akan membuatmu menjadi gatal.”

Pandan Wangi tidak menghiraukannya. Ia melangkah semakin dekat sambil berkata, “Masuklah. Ayah dan Ki Waskita akan menerima kehadiran kalian dengan senang hati. Adalah lebih baik bagi kalian untuk berbicara sambil duduk di pendapa, daripada kalian harus berdiri di sudut kebun di bawah rumpun bambu.”

“Jangan mendekat,” kedua orang yang berada di luar kebun itu pun mencegah.

Pandan Wangi tertegun sejenak. Ia melihat wajah-wajah yang rasa-rasanya sangat asing. Bukan saja karena ia belum mengenalnya, tetapi iuga karena pancaran tatapan mata mereka yang tidak wajar.

“Apakah sebenarnya yang kalian lakukan di sini?” tiba-tiba saja suara Pandan Wangi menjadi berat. “Aku sudah mempersilahkan kalian masuk. Tetapi nampaknya ada sesuatu yang tersembunyi.”

“Gila,” geram salah seorang yang berada di luar halaman, “marilah kita pergi. Aku akan membunuhmu di tempat lain.”

Yang berada di dalam kebun masih ragu-ragu, sementara Pandan Wangi sudah melangkah selangkah lagi semakin dekat.

“Aku akan membungkamnya dengan paser itu pula.”

“Jangan,” desis yang ada di dalam halaman.

Tetapi Pandan Wangi segera memotong, “Aku tahu, ada keragu-raguan pada kalian. Meskipun aku tidak tahu pasti, apakah yang kalian maksud, namun kalian telah berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan pertanyaan. Hal ini harus diketahui oleh Paman. Karena Paman Waskita-lah yang telah membawa salah seorang dari kalian kemari.”

“Jangan, jangan panggil Ki Waskita.”

“Apakah keberatanmu?”

Sejenak mereka termangu-mangu. Dan Pandan Wangi berkata selanjutnya, “Aku dapat memanggil seorang pelayan dari tempatku ini. Dan ia akan dapat memanggil Ki Waskita untuk memecahkan teka-teki yang sedang kalian lakukan sekarang ini.”

“Tetapi, tetapi ..,” orang yang berada di dalam kebun itu menjadi bingung.

“Persetan,” tiba-tiba yang di luar halaman menggeram, “tidak ada pilihan lain. Jika yang disebutnya Ki Waskita itu adalah orang yang kau sebut tukang sihir itu, maka aku tidak akan mengambil langkah yang bodoh untuk menunggunya. Tetapi juga tidak membiarkan kau hidup.”

“Perempuan itu dapat menjerit-jerit,” desis yang lain.

“Kita bungkam perempuan itu lebih dahulu. Jika ia mendapatkan obat dari racun kita, itu adalah pertanda bahwa calon suaminya tidak akan menangisi mayatnya. Tetapi jika ia mati, itu adalah nasib buruk yang tidak terelakkan.”

“Kau gila,” geram yang ada di dalam halaman.

Tetapi kawannya tidak menghiraukannya lagi. Tiba-tiba saja tangannya telah menggenggam sebuah paser yang ujungnya mengadung racun yang tajam. Oleh kebingungan yang tidak terpecahkan, maka ia telah menentukan langkah yang dianggapnya paling aman tanpa menghiraukan akibat yang dapat timbul, meskipun ia sudah mengetahuinya bahwa perempuan yang berdiri termangu-mangu itu adalah gadis yang beberapa hari kemudian akan menginjak hari perkawinannya.

Dengan tanpa memikirkan akibat apa pun yang dapat timbul, maka orang yang kehilangan nalarnya itu pun dengan sekuat tenaganya telah melemparkan pasernya ke dada Pandan Wangi yang berdiri termangu-mangu.

Kawannya yang ada di dalam dinding batu terkejut. Ia tidak menduga, bahwa hal itu dapat dilakukan oleh kawannya. Ia sudah memberitahukan, bahwa gadis itu akan kawin beberapa hari lagi. Namun kawannya itu masih juga sampai hati melemparkan pasernya yang beracun ke arah gadis itu.

Dengan demikian, ia pun seolah-olah telah kehilangan nalar pula. Tiba-tiba saja parang di tangannya, yang dipergunakannya untuk menebang batang-batang bambu telah terayun dengan derasnya menghantam leher kawannya yang melemparkan paser itu.

Terdengar jerit ngeri mengumandang di kebun yang ditumbuhi runpun-rumpun bambu itu. Sepercik darah memancar dari leher orang yang semula bersandar dengan bertelekan pada kedua sikunya di dinding batu itu. Ternyata parang penebang batang bambu itu cukup tajam untuk melukai leher orang yang melemparkan paser itu.

Seorang yang lain, yang sejenak kebingungan, harus segera mengambil sikap. Seolah-olah di luar sadarnya ia pun, segera mengambil pasernya pula dan dengan serta-merta melemparkannya kepada kawannya yang memegang parang yang merah oleh darah itu.

Terasa ujung paser itu mematuk dadanya, sehingga ia pun tertegun diam. Ia hanya dapat melihat kawannya itu kemudian berlari sekencang-kencangnya menyusuri jalan padukuhan.

Racun yang ada di ujung paser itu memang sangat kuat. Sejenak kemudian ia mulai merasa tubuhnya menjadi lemas. Namun dalam pada itu, ia masih tetap teringat kepada Pandan Wangi.

Dengan sisa tenaganya ia memutar diri dan memandang gadis yang masih berdiri termangu-mangu.

“Racun,” desisnya, “paser itu beracun.”

Pandan Wangi mengangguk. Jawabnya, “Ya. Aku sudah menduga.”

“Usahakanlah agar lukamu diobati secepatnya. Kau akan kawin beberapa hari lagi.”

Pandan Wangi melangkah maju. Wajah orang itu menjadi samakin pucat.

“Bukankah kau terkena paser itu?” suaranya menjadi gemetar.

“Tidak,” Pandan Wangi menggeleng.

Nampak keheranan hinggap di wajah yang pucat itu.

“Aku sempat mengelak,” berkata Pandan Wangi kemudian, “tetapi aku tidak dapat mengejar orang itu. Aku berkain panjang dan tidak mengenakan pakaian khususku, sehingga jika aku mengejarnya, aku harus menyingsingkan kainku tinggi-tinggi. Dan itu tidak dapat aku lakukan sekarang ini justru menjelang hari perkawinanku.”

“O,” wajah orang itu menjadi merah sesaat, “jadi kau tidak terluka oleh paser itu.”

Pandan Wangi menggeleng.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, tubuhnya yang lemah itu pun tidak lagi dapat dipergunakannya untuk berdiri, sehingga ia pun terhuyung-huyung duduk.

Namun ternyata bahwa jerit orang yang terluka oleh ayunan parang itu terdengar oleh beberapa orang. Semula mereka ragu-ragu. Namun kemudian seorang yang berada di kebun belakang, di dalam dinding penyekat, berkata, “Pandan Wangi pergi ke luar lewat pintu butulan. Apakah ada hubungannya dengan suara itu?”

Seorang yang lain mengerutkan keningnya. Dalam kesibukan, jerit itu memang tidak begitu terdengar. Tetapi ia pun kemudian melangkah sambil berkata, “Kita akan melihatnya.”

Dua orang itu pun kemudian dengan tergesa-gesa pergi ke pintu butulan. Semula mereka menjadi agak ragu-ragu. Namun kemudian mereka telah memaksa diri untuk keluar dari pintu butulan itu.

Keduanya terkejut melihat Pandan Wangi berdiri termangu-mangu. Bahkan ketika gadis itu melihat kedua orang itu mendekat sambil berlari-lari, ia berkata, “Sampaikan kepada Ayah. Mohon obat untuk menawarkan racun.”

Ketika orang itu masih tetap termangu-mangu. Pandan Wangi membentaknya, “Cepat!”

Orang itu pun segera berlari kembali memasuki kebun yang berada di dalam dinding penyekat dan langsung berlari ke rumah Ki Gede di bagian depan.

Ki Gede dan Ki Waskita duduk di pendapa rumah itu sambil bercakap-cakap. Pendapa yang jauh menjorok ke depan, apalagi dalam suasana yang mulai sibuk dengan berbagai macam kerja menjelang hari perkawinan Pandan Wangi itu, ternyata telah menyekat suara nyaring jauh di kebun belakang di bawah rumpun bambu.

Ki Gede terkejut melihat seseorang dengan berlari-lari naik ke pendapa. Karena itu dengan serta-merta ia bertanya, “Ada apa kau berlari-lari?”

“Ki Gede,” orang itu terengah-engah, “Pandan Wangi mohon obat penawar racun dan bisa, agaknya sangat tergesa-gesa.”

“Kenapa dengan Pandan Wangi?” Ki Gede menjadi semakin tegang.

“Obat itu segera diperlukan.”

Ki Gede tidak bertanya lagi. Ia pun langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. Meskipun kakinya agak mengganggunya, tetapi desakan ketegangan di hatinya mendorongnya untuk berlari cepat sekali. Dalam pada itu, Ki Waskita tidak menunggu Ki Gede lagi. Ia pun memiliki obat penawar bisa, betapa pun tajamnya bisa itu. Tetapi ia tidak sempat mengatakannya.

Karena itulah, maka ia pun segera berlari pula turun ke halaman sambil bertanya, “Di manakah Pandan Wangi sekarang?”

“Di bawah rumpun bambu di belakang.”

Ki Waskita tidak menunggu lagi. Ia pun segera mendahului berlari ke kebun belakang.

Hatinya tergetar ketika ia melihat Pandan Wangi berjongkok di samping tubuh yang sudah terbaring diam.

Belum lagi Ki Waskita berbuat sesuatu, Ki Gede pun telah dengan tergesa-gesa mendekati gadis itu.

“Apa yang terjadi, Pandan Wangi?” bertanya ayahnya. “Apakah kau terkena racun?”

“Bukan aku, Ayah. Tetapi orang itu.”

“Kenapa dengan orang itu?” Ki Waskita memotong dengan serta-merta. “Apakah ia menyerangmu?”

“Jika Ayah membawa obat itu, obatilah dahulu. Nanti aku akan menceriterakan apa yang telah terjadi.”

Ternyata Ki Waskita tidak mendahuluinya. Karena Ki Gede pun ternyata telah membawa pula, maka dibiarkannya Ki Gede mencoba mengobati orang yang terbaring itu.

“Paser,” desis Ki Gede.

“Ya, Ayah.”

Ki Gede membuka baju orang itu dan mengamati lukanya setelah paser beracun itu dicabutnya.

Tampaklah wajah Ki Gede berkerut-merut. Sejenak dipandanginya wajah Ki Waskita yang tegang, agaknya keduanya mempunyai pendapat yang sama, bahwa racun yang terdapat di ujung paser itu sudah bekerja dengan cepatnya. Di sekitar luka yang sangat kecil itu nampak warna merah kehitam-hitaman. Sementara beberapa bintik merah telah tumbuh di bagian perut dan lehernya.

Tetapi keduanya tidak mau membiarkan korban ini mati tanpa berusaha apa pun juga. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa Ki Gede pun menaburkan obatnya pada luka itu.

Orang itu menyeringai menahan sengatan rasa panas pada luka itu. Namun kemudian ia pun menggeleng lemah, “Tidak ada gunanya, Ki Gede.”

“Obatku mulai bekerja. Kau merasakan panas itu?”

“Ya. Tetapi racun itu telah melumpuhkan segenap tubuhku. Aku tidak akan mampu disembuhkan lagi. Karena itu, biarlah aku minta diri. Kematian bukan lagi dapat menghantui aku.”

“Tenanglah. Dan cobalah membantu peredaran obatku menyusuri urat nadimu yang telah dijamah oleh bisa itu.”

Orang itu menggeleng lemah.

Ki Gede pun menarik nafas pula. Agaknya orang itu sendiri sudah tidak mempunyai minat untuk sembuh. Barangkali akhir yang demikian baginya adalah jauh lebih baik daripada menjadi seoran tawanan. Bukan karena dirinya dikurung dalam ruang yang gelap dan sempit, tetapi justru sikap Ki Waskita-lah yang seolah-olah telah menjeratnya sehingga ia tidak sempat untuk bergerak sama sekali. Apalagi kematian yang menerkamnya pun rasa-rasanya jauh lebih baik daripada harus membunuh diri sendiri.

Tetapi ternyata obat Ki Gede bekerja juga pada tubuhnya. Perlahan-lahan. Namun agaknya baik Ki Gede Menoreh maupun Ki Waskita menyadari bahwa obat itu hanyalah sekedar menunda kematian saja.

“Apakah kau tidak dapat mengatur pernafasanmu lebih baik?” bertanya Ki Waskita. “Cobalah bernafas dengan teratur. Tekanlah urat-urat darahmu, agar obat penawar racun ini dapat bekerja sebaik-baiknya.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Tidak ada gunanya.”

Ki Gede memandang Ki Waskita sejenak. Rasa-rasanya memang sulit untuk mengobati seseorang yang sudah tidak berkeinginan untuk hidup terus.

“Ki Sanak,” berkata Ki Gede, “kau masih mempunyai kesempatan.”

Orang itu mengerutkan keningnya. Lalu katanya dengan suara gemetar tertahan-tahan, “Aku sudah tidak kuat lagi. Aku akan mati. Dan dengarlah Ki Waskita.”

Ki Waskita bergeser mendekat.

“Aku tidak tahu pasti, apa yang kau kehendaki. Tetapi aku mengetahui sesuatu yang barangkali penting.”

“Sebutlah,” desis Ki Waskita.

“Beberapa orang terpenting akan mengadakan pertemuan di lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu.”

“He? Sebutlah. Siapakah mereka itu dan apakah tujuannya.”

Orang itu mencoba untuk bertahan agar ia tidak kehilangan segenap kekuatannya. Sejenak ia memandang wajah Ki Waskita, tetapi mata itu pun kemudian terpejam.

“Apakah kau dapat menyebut sesuatu yang lain?” desis Ki Waskita ditelinga orang itu.

Orang itu membuka matanya. Tetapi kepalanya tergeleng lemah sekali. Nampaknya ada sesuatu yang hendak dikatakannya, tetapi mulutnya yang bergerak-gerak itu sama sekali tidak melontarkan bunyi apa pun.

“Apakah kau dapat menyebutkan waktunya,” bisik Ki Waskita.

Kepala itu tergeleng lagi. Lemah sekali.

Ketika Ki Waskita akan membisikkan sesuatu lagi ditelinga orang itu, maka terdengar sebuah desah yang panjang. Desah napasnya yang penghabisan.

Ki Waskita pun menarik nafas dalam-dalam. Di luar sadarnya ia bergumam, “Ia meninggal setelah ia mencoba melepaskan himpitan yang memepatkan dadanya. Tetapi memang tidak banyak yang diketahuinya. Ia adalah orang yang berada di jenjang yang paling bawah. Namun yang disebutnya agaknya sesuatu yang sangat penting.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Tentu ada hubungannya dengan kedua pusaka yang terpisah itu.”

Ki Waskita pun mengangguk pula.

Namun kemudian Ki Gede pun berkata, “Marilah. Aku akan memanggil beberapa orang untuk menyelenggarakan mayat ini.”

“Di luar juga ada sesosok mayat,”desis Pandan Wangi.

Ki Gede mengerutkan keningnya, sementara Pandan Wangi menceriterakan dengan singkat apa yang telah dilihatnya.

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia berpaling, dilihatnya beberapa orang telah berdiri berkerumun beberapa langkah agak jauh karena mereka takut mendekat sebelum mendapat ijin dari Ki Gede Menoreh.

Ki Gede pun kemudian melambaikan tangannya memanggil orang-orang yang termangu-mangu. Katanya dengan samar-samar setelah orang-orang itu mendekat, “Selenggarakan mayat ini baik-baik. Demikian juga mayat di luar dinding itu. Mereka ternyata telah membawa dendam di dalam hati masing-masing. Ketika mereka bertemu di sini, maka pertengkaran tidak dapat dihindarkan lagi.”

Orang-orang itu mengangguk-angguk.

“Semua kebutuhan bagi penguburan kedua mayat itu akan aku cukupi,” berkata Ki Gede, “nah, lakukan secepatnya.”

Ki Gede dan Ki Waskita pun kemudian meninggalkan kebun itu kembali ke pendapa, sementara orang-orangnya sibuk menyelenggarakan kedua sosok mayat itu.

Pandan Wangi telah memusnakan paser beracun dengan membakarnya di sudut kebunnya dan menaburinya dengan penawarnya. Namun dalam pada itu terasa betapa tatapan mata orang-orang seisi rumahnya seakan-akan tertuju kepadanya.

Bahkan seolah-olah Pandan Wangi mendengar seseorang berbisik di telinganya, “Sayang Pandan Wangi. Menjelang hari-hari perkawinanmu, halaman rumah ini ditandai dengan kematian dan tetesan darah.”

Pandan Wangi tiba-tiba telah diraba oleh kecemasan. Meskipun demikian ia mencoba menghentakkan perasaannya sambil menggeram, “Tidak. Sama sekali tidak ada hubungan apa pun antara kematian itu dengan hari perkawinanku.”

Namun demikian, kadang-kadang terasa bulu-bulunya meremang. Bahkan kemudian Pandan Wangi telah memasuki biliknya dengan hati yang dibebani oleh beribu pertanyaan dan teka-teki.

Di pendapa Ki Waskita berdesis, “Maaf, Ki Gede. Bukan maksudku untuk membuat keributan di sini. Maksudku membawa orang itu semata-mata karena ada harapan bagiku untuk mengetahui serba sedikit tentang gerombolan yang menarik hati itu. Aku telah mencoba mengikatnya dengan sikap yang baik, bukan dengan kekerasan dan ancaman. Agaknya usahaku berhasil. Tetapi ternyata bahwa kawan-kawannya telah menyusulnya dan membunuhnya. Bahkan hampir saja Pandan Wangi menjadi korbannya pula. Seandainya Pandan Wangi adalah gadis biasa, maka aku kira persoalannya akan menjadi berkepanjangan karena ia tentu tidak akan berhasil mengelakkan diri dari patukan paser itu.”

“Sudahlah, Ki Waskita,” berkata Ki Gede, “tentu bukan maksud Ki Waskita untuk membuat kesan yang agak kurang baik menjelang hari-hari perkawinan.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi meskipun demikian, Ki Waskita, aku adalah orang tua yang terombang-ambing oleh sikap yang ragu-ragu. Ternyata aku masih harus bertanya kepada Ki Waskita, apakah peristiwa ini dapat menjadi suatu isyarat bagi masa depan Pandan Wangi?”

“O, tidak. Tentu tidak ada hubungannya sama sekali,” jawab Ki Waskita tegas. “Peristiwa ini sama sekali tidak akan berpengaruh buruk maupun baik atas masa depan Pandan Wangi. Tetapi yang jelas peristiwa ini berpengaruh buruk sekarang, karena menumbuhkan kengerian dan barangkali juga ketakutan di antara isi rumah dan bahkan padukuhan induk ini.”

Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk. Katanya, “Bagiku Ki Waskita adalah orang yang memiliki kelebihan. Bukan saja olah kanuragan, tetapi juga penglihatan bagi masa depan. Karena itulah aku mengharapkan sedikit bayangan bagi masa depan itu.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Jika ia melihat sesuatu yang buram pada hubungan yang sudah akan terikat oleh suatu perkawinan antara Pandan Wangi dan Swandaru, bukanlah karena peristiwa yang baru saja terjadi. Tetapi sejak beberapa saat yang lewat, ia sudah dipengaruhi oleh kecemasan itu. Namun ketika Ki Gede Menoreh bertanya kepadanya, maka ia tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya.

“Aku telah membohongi diriku sendiri dan menanam harapan yang salah,” berkata Ki Waskita. Namun ia tetap tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk berterus terang.

“Ki Gede,” berkata Ki Waskita, “tentu segala sesuatu mengalami pasang dan surut. Demikian juga masa-masa depan Pandan Wangi dan Swandaru. Nampaknya ada kalanya pasang, tetapi ada kalanya surut. Karena itu, hendaknya Ki Gede melengkapi bekal Pandan Wangi dengan mempersiapkan dirinya, bahwa kadang-kadang ia akan diselubungi oleh kabut yang suram, tetapi juga kadang-kadang oleh cerahnya sinar bulan. Dengan demikian Pandan Wangi tidak akan adbmcadangan.wordpress.com terkejut apabila ia pada suatu saat mengalami kesulitan di dalam rumah tangganya, seperti kesulitan yang ada di setiap rumah tangga yang lain. Karena bagiku, setiap orang tentu mempunyai persoalannya masing-masing. Tetapi juga dengan kemampuan masing-masing untuk mengatasinya, apalagi bagi mereka yang mempunyai tuntunan hidup dalam hubunganya dengan Yang Maha Pencipta.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia terdiam sejenak, justru sekilas terkenang kesulitan-kesulitan yang pernah dialaminya di dalam perjalanan hidup berumah tangga. Ia pun pernah mengalami sesuatu yang hampir membuatnya gila. Apalagi setelah Sidanti lahir.

Gelombang yang melanda keluarganya benar-benar akan menelan dan menenggelamkannya ke dasar lautan putus asa. Tetapi untunglah, bahwa permohonanya yang tidak henti-hentinya kepada Yang Maha Agung untuk mendapatkan petunjuk dan ketenangan, akhirnya dikabulkan-Nya.

Ki Waskita melihat kilasan kenangan di wajah Ki Gede. Terasa sesuatu berdesir di hatinya. Sebagai kadang yang meskipun bukan lagi kadang dekat, Ki Waskita pernah juga mengetahui apakah yang telah terjadi. Apalagi setelah Sidanti terbunuh dan hubungannya yang kemudian menjadi akrab dengan Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Maka pengetahuannya tentang Ki Gede menjadi semakin terang.

“Di usia dewasanya. Sidanti benar-benar telah membuat Ki Gede terancam bukan saja kedudukannya, tetapi juga nyawanya. Bahkan Ki Argajaya pun telah melibatkan dirinya pula,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. Lalu, “Apakah kepahitan hidup itu masih harus diwariskannya pula kepada Pandan Wangi?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berusaha mematahkan kenangan Ki Gede Menoreh yang terasa betapa pahitnya.

Untuk beberapa saat lamanya, Ki Gede benar-benar tenggelam dalam kenangan yang suram tentang dirinya sendiri, isterinya, dan laki-laki yang pernah hadir di dalam hati isterinya dan meninggalkan bekas yang kemudian justru merupakan api yang telah membakar Bukit Menoreh.

Namun akhirnya Ki Gede pun menyadari keadaannya. Ia tidak duduk seorang diri, sehingga seperti orang terbangun dari mimpi yang buruk ia tergagap sambil berkata, “Oh, maaf Ki Waskita. Agaknya aku telah hanyut di dalam arus kenangan yang keruh di masa lampau.”

Ki Waskita mengangguk. Katanya, “Aku mengerti, Ki Gede. Dan sudah barang tentu yang telah lampau pada Ki Gede itu tidak akan kembali pada anak keturunan Ki Gede. Apalagi anak-anak muda masa kini hatinya lebih terbuka. Mereka akan berkata terus-terang tentang diri mereka, juga dalam hubungan dengan rencana berkeluarga mereka.”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan tidak ada kesulitan seperti yang pernah terjadi padaku meskipun dalam bentuk yang lain sama sekali. Aku ingin anakku menemukan kebahagiaan di hari-hari mendatang.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku percaya, Ki Waskita, bahwa yang terjadi memang tidak ada hubungan apa pun dengan masa depan anakku yang menjelang hari perkawinannya beberapa hari mendatang.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam Ternyata di sela-sela nada kata-kata Ki Gede terselip juga kekhawatiran itu meskipun ditekannya dalam-dalam.

Demikianlah pada hari itu, keluarga Ki Gede yang sedang sibuk mempersiapkan hari-hari perkawinan Pandan Wangi itu telah diselingi dengan kesibukan yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Wajah-wajah yang sehari-hari nampak gembira meskipun mereka kelelahan, kini nampak menjadi tegang dan penuh dengan keragu-raguan. Bahkan wajah Pandan Wangi sendiri telah menjadi asing.

Kedua mayat itu tidak ditempatkan di pendapa, tetapi di gandok sebelah kiri. Pada saatnya maka kedua sosok mayat itu pun telah diusung ke tanah pekuburan, diiringi oleh beberapa orang keluarga Ki Gede dan tetangga dekat.

Namun demikian agaknya kematian dua orang itu benar-benar telah menggemparkan Tanah Perdikan Menoreh, karena sebagian dari penghuninya menjadi sangat terpengaruh karenanya, seolah-olah perkawinan Pandan Wangi telah didahului oleh sebuah pertanda yang buram.

Lebih dari itu, maka kematian itu adalah suatu pertanda bahwa keamanan di Tanah Perdikan Menoreh masih belum dapat dianggap jernih sepenuhnya. Masih ada debu yang kadang-kadang mengepul, mengotori udara seperti yang baru saja terjadi itu.

Namun agaknya Ki Gede pun telah bertindak dengan tangkas. Apalagi Ki Gede tahu dengan pasti, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Bahwa kedua orang yang mati itu adalah dua orang dari lingkungan kelompok yang mempunyai kekuatan yang harus diperhitungkan. Selain kedua orang itu, tiga orang yang lain telah terbunuh pula oleh Ki Waskita di ujung Tanah Perdikan Menoreh itu pula.

Demikian upacara penguburan itu selesai, maka di pendapa rumah itu telah berkumpul beberapa orang pemimpin Tanah Perdikan Menoreh.

Kepada beberapa orang penting itu, Ki Gede tidak dapat menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Bahkan ternyata di antara mereka terdapat Pandan Wangi.

“Bagimu, Pandan Wangi,” berkata Ki Gede, “adalah lebih baik mengetahui keadaan yang sebenarnya daripada kau harus mereka-reka hubungan antara peristiwa itu dengan hari-hari perkawinanmu. Bagi ketenangan hatimu menjelang hari-hari perkawinanmu, lebih baik kau mengerti bahwa Tanah Perdikan Menoreh telah dijamah oleh beberapa orang penjahat yang mempunyai lingkungan yang agak kuat daripada kau harus membayangkan, seolah-olah yang terjadi adalah pertanda buruk dari perkawinanmu.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata keterangan ayahnya itu dapat dimengertinya. Dan ia tidak perlu lagi berteka-teki atas peristiwa yang telah terjadi itu, yang sebenarnyalah telah dihubungkannya dengan hari-hari perkawinannya.

“Yang harus kita lakukan sekarang adalah meningkatkan pengawasan di seluruh Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Ki Gede, “bukan merenung dan membayangkan isyarat apakah yang telah terjadi itu.”

Yang mendengar keterangan Ki Gede itu mengangguk-angguk. Juga Pandan Wangi mengangguk-angguk. Namun justru Ki Waskita melihat, bahwa tatapan mata Ki Gede Menoreh sendiri tidak meyakinkan kata-katanya. Bahwa keragu-raguan serupa itu ternyata masih juga membayang di dalam hatinya. Namun bagaimana pun juga, keterangannya itu telah memberikan adbmcadangan.wordpress.com ketenangan bagi Pandan Wangi. Bagi gadis itu, maka yang nampak betapa pun berbahayanya, tidak terlampau mempengaruhi unsur kejiwaannya. Ia masih juga tetap menggantungkan pedang di biliknya, meskipun biliknya sudah mulai diwangikan dengan berbagai macam bunga menjelang hari perkawinannya. Apalagi Pandan Wangi masih tetap percaya kepada kemampuan para pengawal yang cukup berpengalaman.

“Apalagi selain ayah, di sini ada Ki Waskita,” desis Pandan Wangi di dalam hatinya.

Terhadap penganten laki-laki yang akan datang beberapa hari mendatang, Pandan Wangi pun tidak cemas sama sekali. Selain Swandaru sendiri yang tentu juga menyandang pedang, maka di dalam iring-iringan itu tentu ada Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan sudah tentu Agung Sedayu dan beberapa orang pengawal.

Tiba-tiba saja Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kekeruhan yang terjadi di Mataram itu telah melanda Tanah Perdikan Menoreh justru di saat menjelang hari perkawinannya.

Ki Gede pun kemudian mulai membicarakan kesiagaan yang lebih mantap di atas Tanah Perdikan Menoreh. Diperlihatkannya kepada para pemimnpin pengawal, untuk mengatur pengawasan yang terus-menerus.

“Terutama di padukuhan yang telah menjadi ajang perkelahian dan yang telah menumbangkan beberapa orang korban itu,” berkata Ki Gede.

“Mereka mengharap bahwa anak-anak padukuhan mereka yang bertugas sebagai pengawal dapat bertugas di kampung halaman,” sambung Ki Waskita.

Ki Gede mengangguk-angguk. Memang ada beberapa orang anak muda dari padukuhan itu yang termasuk dalam kesatuan pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang dapat dipercaya untuk mengawal padukuhan mereka sendiri.

Karena itulah maka Ki Gede pun kemudian menjawab, “Baiklah. Kita akan menempatkan pengawal khusus pada padukuhan itu. Terutama anak-anak dari padukuhan itu sendiri.”

Demikianlah, maka sejak saat itu pengawalan di Tanah Perdikan Menoreh nampak menjadi semakin meningkat meskipun tidak mengejutkan. Gelombang pengawasan keliling menjadi semakin sering dilakukan, dan gardu-gardu peronda menjadi semakin banyak ditunggui oleh anak-anak muda. Alat-alat yang dapat memberikan tanda-tanda bahaya disempurnakan. Setiap gardu tidak saja disediakan sebuah kentongan, tetapi juga panah-panah sendaren dan panah api di malam hari.

Selain kesiagaan para pengawal, maka anak-anak muda di setiap padukuhan seolah-olah telah dipersiapkan pula untuk menghadapi segala macam kemungkinan. Bahkan bukan saja yang bertugas ronda yang hadir di gardu perondan di malam hari, tetapi gardu-gardu itu seolah-olah telah menjadi tempat untuk saling bertemu, bergurau, dan kadang-kadang berbantah. Namun dengan demikian, padukuhan-padukuhan serasa menjadi semakin hidup di malam hari.

Di setiap mulut lorong yang memasuki setiap padukuhan, terdapat gardu-gardu di dalam regol. Gardu-gardu yang rusak telah diperbaharui, sedangkan yang memang belum ada gardunya, segera dibuat oleh anak-anak muda di sekilar regol padukuhan itu.

Para pengawal yang meronda di malam hari, tidak lagi merasa kesepian. Jika semula mereka menemui gardu-gardu yang sepi, karena tiga atau empat perondanya sedang nganglang atau bahkan tertidur, maka kini mereka mendapatkan setiap gardu hampir penuh dengan anak-anak muda. Tidak hanya empat atau lima. Tetapi kadang-kadang sepuluh dan bahkan lebih. Sebagian dari mereka tidak pulang semalam suntuk, dan tidur berdesakan di dalam gardu. Sedangkan mereka yang bertugas ronda, tidak mendapat tempat lagi di gardu mereka, sehingga mereka terpaksa duduk bersandar regol sambil memegangi senjata masing-masing,

Tetapi para peronda itu sama sekali tidak mengeluh. Mereka membiarkan saja gardu-gardu itu dipenuhi oleh anak-anak muda yang tidur silang-melintang. Meskipun mereka tertidur, tetapi jika ada persoalan yang tiba-tiba harus diselesaikan, maka mereka merupakan kawan yang tentu akan dapat meringankan segala macam tugas di malam hari.

Dalam pada itu, Ki Argapati dan Ki Waskita pun tidak hanya tinggal diam di padukuhan induk. Sekali-sekali mereka pun ingin melihat langsung kesiagaan rakyat Tanah Perdikan Menoreh menanggapi peristiwa yyang telah mengejutkan mereka, justru pada saat Pandan Wangi, satu-satunya anak Ki Argapati menjelang hari perkawinannya.

(***)

Kutipan dan penyiaran lesan/tertulis harus seijin penulis.

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Kiai Gaza
Proof: Ki Gede Menoreh
Date: 01-20-2008

Kunjungi: adbmcadangan.wordpress.com

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 04:00  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-93/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tengkiu…………
    Ijin Kie…..
    Moga ga putus lg….

  2. Dengan senang hati bonusnya mohon ijin diunduh.
    terima kasih

  3. Benar ini hari baik, bonus sampun diunduh…

  4. Matur suwun Ki GeDe,,,walau baru absen dan belum sempat antri tapi sudah dapat kitab 93….matur suwun bener2 hari baik nich………

  5. Rudita…
    ada yg agak aneh ttg sikapnya eh jaln hidupnya..
    rasanya pada buku sebelumnya saat Rudita datang di Menoreh dan bersikap petantang petenteng thd para pemuda Perdikan Menoreh ada dia berucap menyombongkan nama Guru olah Kanuragan nya ya??… Kok di buku2 lanjut sama sekali ga disinggung mengenai kebisaan Rudita soal dasar2 olah kanuragan…..
    Mohon pencerahan di kala mendung ini…

  6. Saya setuju. Malem satu suro (saya lebih suka menyebut Malam 1 Muharam) atau Minggu 28, Desember 2008. Kebetulan saya off. Gimana kalau pilih kedai di kawasan Kalibata? Ngumpul di Stasiun atau Mal, baru pilih lokasi wedang serenya? Saya tunggu responsnya sampai Sabtu (27 Des 08) pukul 21.00 WIB. Tujuan utama: membantu babat alas supaya lebih cepat berdiri Kerajaan Mataram (kitab asli, scan).

  7. absen para kadang sedaya,sangsaya ndalu sangsaya nglangut……………..punapa kitab 93 saestu sampun saged dipun unduh?kok kula dereng kepanggih sandi nipun

    matur nuwun

    NB. Agung sedayu mau dgn sekar mirah karena memang cinta,dan dia sadar sepenuhnya bhw memang no bodi’s perfect,disamping kecantikan dan mimpi2 kemuliaan yg makantar kantar ada sisi lain yg memang menunjukan kelemahan seorang sekar mirah.Agung Sedayui pun menyadari kelemahan dirinya disamping kelebihannya.Akan tetapi,Agung Sedayu memiliki keyakinan bhw pd saatnya bisa membimbing sekar mirah mjd seorang isteri yg berbhakti………….demikian lanjutan ceritanya

  8. nyuwun pitulung para kadhang ingkang sampun saged ngasta kitab 93………..paringana kula ancer 2 lan tata caranipun ingkang kedah kula lampahi,punapa kedah siyam ,patigeni,ngrowot,mutih,punapa puasa ngidang?

    Ki Gede,nyuwun palilah lan pangandikan

  9. bonus hari baik sampun tuntas Ki GD, nenggo bonus 10 kitab kangge suroan.

  10. nuwun sewu Ki GD & para sesepuh..
    numpang ngantri kitab …

    matur sembah nuwun..

  11. Wah maturnuwun, mboten sah ribet sampun pikantuk.

  12. para cantrik sekalian….

    nyari rontal no 93 (versi djvu) dimana ya???? udah ngubek2 halaman depan, belakang, samping, kok gak ketemu. buat koleksi nih….

    mohon petunjuk. matur tengkyu

  13. kok ga’ ada ceritanya sih padahal mau dibaca lho
    ku sangat suka buku api di bukit menoreh

    S apanya yang tidak bisa dibaca mbakyu ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: