Buku 93

“Aku mengerti. Tetapi kau dapat menyebut sebuah nama. Siapa pun. Bahkan seandainya kau berbohong sekalipun, dengan menyebut nama siapa saja yang barangkali tidak ada hubungan sama sekali dengan gerombolanmu, aku pun tidak akan mengetahui kebenarannya”

Orang itu mengerutkan keningnya.

“Seperti juga nama yang kau sebut sebagai namamu.”

Orang itu masih tetap berdiam diri.

“Aku tahu, sebenarnya kau bukan seorang pengecut. Aku tahu, bahwa sebenarnya lebih baik mati itu menerkammu daripada kau menyerah dan dibawa ke Mataram atau Pajang, karena dengan demikian rahasia yang kau simpan akan mungkin dengan cara apa pun juga harus mengalir keluar dari mulutmu.”

“Ya, Ki Sanak,” ia berhenti sejenak, lalu, “eh, barangkali aku dapat menyebut sebuah nama bagimu?”

“Kiai Jalawaja. Aku sudah memakai nama itu. Bukankah seseorang dapat merubah namanya sepuluh kali dalam satu hari?”

“O, ya, ya Kiai,” jawab orang itu, “aku memang tidak pernah bermimpi untuk menyerah. Menyerah bagi seseorang seperti aku ini, berarti siksaan yangt tidak tertanggungkan. Tetapi aku melihat kelainan padamu, sehingga karena itu, aku pun melakukan yang tidak mungkin pernah aku lakukan kepada orang lain.”

Ki Waskita merenung sejenak. Tetapi agaknya memang sulit baginya untuk mengetahui, apakah sebenarnya orang yang dibawa itu seperti yang dikatakannya, tidak tahu-menahu terhadap atasannya.

Sejenak mereka pun kemudian saling berdiam diri untuk beberapa saat. Ki Waskita pun mencoba untuk mempertimbangkan, apakah yang sebaiknya dilakukan atas orang itu. Jika ia membawa ke Menoreh, dan menahan orang itu di rumah Ki Argapati, maka mungkin akan dapat menimbulkan beberapa kesulitan. Dalam kesibukan perelatan, ia akan dapat melupakan orang itu dan jika ada sebuah kesempatan ia akan dapat lari.

“Jika ia akan lari, tentu ia sudah melakukannya,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya. “Ternyata ia tetap berada di tempatnya selagi aku sibuk membantu mengurus isteri pemilik rumah itu.”

Namun kemudian dijawabnya sendiri, “Saat itu ia tidak mempunyai kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan. Tetapi setelah ia sempat memandang ke dirinya sendiri dan kemungkinan yang dapat terjadi jika ia berada di Menoreh atau di Mataram, ia akan dapat mengambil sikap yang lain. Bahkan mungkin watak yang sebenarnya akan tumbuh kembali, dan sentuhan sesaat atas nuraninya itu pun akan segera larut. Ia dapat lari dan justru memberikan banyak keterangan kepada kawan-kawannya dan pemimpinnya tentang tanah perdikan Menoreh.”

Akhirnya Ki Waskita tidak melihat kemungkinan lain kecuali menyerahkan orang itu ke Mataram.

“Terserahlah orang-orang Mataram. Tentu Ki Gede Menoreh tidak akan berkeberatan. Tentu ia pun tidak akan sempat mengurus orang itu di saat-saat ia sibuk dengan perelatannya.”

Dalam pada itu, orang yang dibawa oleh Ki Waskita itu memang sebenarnya sedang mencoba menilai keadaannya. Ia merasa bahwa ia memang tidak akan dapat melepaskan diri dari tangan Ki Waskita. Ia menyangka bahwa Ki Waskita benar-benar seorang tukang tenung yang akan dapat menenungnya. Seandainya ia lari, maka tukang tenung itu akan dapat membuatnya bingung dan setelah berputar-putar maka ia akan kembali lagi kepadanya. Atau lebih dari itu, tukang tenung itu akan dapat menenungnya menjadi seekor binatang.

“Ia dapat mengadakan yang tidak ada. Apalagi sekedar berubah bentuk. Aku mungkin dapat dijadikannya kera, atau bahkan anjing, atau kerbau. Alangkah mengerikan jika setiap hari aku harus menarik bajak di sawah berlumpur,” katanya di dalam hati.

Semakin dekat mereka dengan induk tanah Perdikan Menoreh, maka orang itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Ada penyesalan di dalam hatinya, bahwa ia telah menyerah. Tetapi ia memang tidak mempunyai pilihan lain.

“Kenapa aku tidak mati saja seperti kawan-kawanku itu,” tiba-tiba saja ia berdesah di dalam hatinya.

Tetapi semuanya sudah lewat. Tentu tidak akan mungkin baginya untuk menuntut agar dirinya dibunuh saja oleh orang yang membawanya itu.

“Nampaknya ia tidak senang melakukan kekerasan jika tidak terpaksa,” katanya di dalam hati.

Namun dalam pada itu, Ki Waskita pun mulai menilai dirinya sendiri. Apakah yang dilakukannya itu sudah tepat? Namun yang ditemukan adalah suatu sikap yang goyah pada dirinya. Sikap yang kadang-kadang masih dibumbui oleh kepura-puraan yang seolah-olah dilandasi oleh alasan yang kuat. Yang disusunnya baik-baik untuk mendukung langkahnya.

Tetapi Ki Waskita bukannya orang yang takut melihat ke dalam dirinya. Betapapun pahitnya, ia dengan tengadah melihat hatinya yang penuh cacat.

Sebuah desah yang panjang lewat di kedua lubang hidungnya. Katanya, “Aku masih akan tetap terombang-ambing oleh kelemahanku sendiri. Mudah-mudahan aku segera mendapat keseimbangan. Pengaruh sikap Rudita tidak dapat aku abaikan. Namun aku masih merasa tetap berdiri di atas kenyataan hidup seperti ini.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Di hadapannya telah nampak padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

“Kita akan sampai setelah kita melalui bulak panjang ini,” berkata Ki Waskita kepada orang yang dibawanya itu.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah yang akan terjadi atasku di ujung bulak itu?”

“Kau sebaiknya dibawa ke Mataram. Mataram akan dapat menentukan, apakah yang sebaiknya dilakukan atasmu. Mungkin kau dapat memberikan keterangan, meskipun hanya sepotong kecil. Tetapi mungkin keteranganmu itu bermanfaat bagi mereka.”

“Kenapa aku harus dibawa ke Mataram?” jawabnya. “Ki Sanak. Jika kau masih tetap ragu-ragu, apakah tidak sebaiknya aku kau bunuh saja di sini daripada aku harus menjadi pangewan-ewan di Mataram.”

“Seorang prajurit yang mana pun juga, tidak akan membunuh lawannya yang sudah menyerah. Selebihnya, mayatmu akan membuat aku menjadi bingung, bagaimana aku harus menyelenggarakannya di tengah-tengah bulak ini.”

“Jika kau memang menghendaki, biarlah aku membuat kuburku sendiri. Aku akan menggali lubang yang dalam di tempat yang sepi. Bunuhlah aku dan kau tinggal menimbuni mayatku saja.”

“Kau memang aneh. Rasa-rasanya aku tidak dapat mengerti sifat-sifatmu.”

“Aku menyesal bahwa kau tidak membunuhku seperti ketiga kawan-kawanku. Dan aku menyesal bahwa aku telah menyerah. Jika aku tidak menyerah, mungkin kau sudah membunuhku. Itu agaknya lebih baik daripada menjadi tawanan di Mataram.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia dapat mengerti, betapa seorang yang sudah menempatkan diri dalam lingkungan seperti orang itu, harus menyerah dan menjadi tawanan.

Tetapi dalam pada itu Ki Waskita berkata, “Ki Sanak. Sebenarnya kau tidak sendiri. Nasib yang serupa banyak menimpa anak buah Kiai Kalasa Sawit, Tetapi mereka tidak berada di Mataram karena yang menangkap mereka adalah prajurit-prajurit Pajang. Sedangkan kau akan berada di tangan para pengawal di Mataram.”

Orang itu memandang Ki Waskita sejenak. Lalu, “Memang antara Pajang dan Mataram tidak akan banyak bedanya. Setiap tawanan akan mengalami perlakuan yang tidak diinginkannya. Karena itu, aku sama sekali tidak ingin menjadi tawanan.”

“Tetapi kau sudah menjadi tawanan.”

“Masih ada satu cara. Mati. Dan kematian itu akan menghapus bukan saja penderitaan tetapi juga penyesalan.”

“Kau mempunyai kesempatan untuk melarikan diri di perjalanan. Apakah kau tidak ingin mencobanya.”

“Sudah aku katakan, tidak ada gunanya. Kau dapat menenungku. Membuat diriku menjadi apa saja.”

Ki Waskita terdiam. Orang itu sangat terpengaruh oleh bentuk-bentuk semu yang sudah dibuatnya. Bahkan agak berlebih-lebihan.

Sejenak kemudian, mereka pun telah berada di mulut lorong di induk padukuhan Tanah Perdikan Menoreh. Ketika mereka melintasi dua orang anak-anak muda yang berada di luar regol, Ki Waskita mengangguk sambil bertanya, “Apakah kalian sudah mengenal aku?”

“Sudah, Kiai. Kami sudah mengenalnya. Silahkan Kiai berjalan terus.”

Ki Waskita dan tawanannya yang sama sekali tidak menunjukkan ciri-cirinya sebagai tawanan itu pun berjalan terus menuju ke rumah kepala Tanah Perdikan Menoreh.

“Aku akan menjadi gila,” desis tawanan itu, “apakah aku akan disimpan di Menoreh dahulu, sebelumnya aku dibawa ke Pajang?”

“Ya. Kau akan berada di Tanah Perdikan Menoreh untuk satu dua hari. Akulah tentu yang akan membawamu ke Mataram.”

“Persetan,” ia menggeram, “Kiai, bunuhlah aku sekarang jika kau memang laki-laki.”

“Aku tidak mau.”

“Ternyata kau tidak berbeda dengan orang lain. Kau sudah membunuh tiga orang kawanku. Tetapi kau merasa berdosa untuk melakukan yang ke empat. Apakah itu adil? Kenapa kau bunuh juga ketiga anak-anak itu jika sebenarnya kau tidak ingin membunuh.”

“Kelakuan mereka sudah terlampau melangkahi batas. Jika saja mereka berkelakuan sedikit terkendali, mungkin aku tidak akan membunuh mereka. Tingkah laku mereka dan luka di badan isteri pemilik rumah itu membuat aku kehilangan pengamatan diri.”

“Apa bedanya dengan kelakuanku?”

“Penyerahan yang kau lakukan adalah pertaubatan yang telah menyelamatkan nyawamu. Itulah sebabnya aku merasa bersalah jika aku masih juga membunuhmu.”

“Aku sekarang akan melawanmu.”

“Itu justru karena ketakutanmu menghadapi kenyataan yang akan terjadi menurut angan-anganmu.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

Demikianlah mereka tidak banyak berbicara lagi. Mereka menjadi semakin dekat dengan regol rumah Ki Gede Menoreh yang nampak semakin ramai menjelang hari perkawinan Pandan Wangi.

“Kita akan mengunjungi sebuah rumah yang siap mengadakan perelatan,” desis Ki Waskita.

“Aku akan lari jika ada kesempatan. Atau kau membunuh aku sebelum aku melakukannya.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Pertentangan di dalam dirimu adalah suatu pertanda yang baik. Jangan cemas menatap hati sendiri. Keragu-raguanmu dapat kau manfaatkan untuk memperbaiki semua tingkah lakumu. He, bukankah kau tidak takut mati? Kenapa kau takut melihat perubahan yang terjadi di dalam dirimu sendiri? Jika pada suatu saat kau berada di Mataram, kau tidak akan lagi merahasiakan sesuatu. Kau akan menjadi terbuka karena penyesalan dan niatmu menebus semua kesalahan yang pernah kau lakukan.”

Orang itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi semakin tunduk. Apalagi ketika mereka sudah sampai di muka pendapa.

“Di sini kau bukannya tawananku. Kau adalah seorang pembantuku yang ikut bersamaku mengunjungi dan membantu perelatan ini.”

Orang itu menarik nafas. Tetapi ia tidak sempat berpikir. Namun demikian ia masih bertanya, “Tetapi siapakah namamu?”

Ki Waskita tertawa. Katanya, “Panggil aku Waskita. Ki Waskita.”

Keduanya tidak sempat berbicara lagi. Beberapa orang telah menyongsong mereka dan mempersilahkan mereka masuk.

“Aku tidak seorang diri,” berkata Ki Waskita, “aku datang bersama seorang pembantuku.”

Beberapa orang mengerutkan keningnya. Mereka sejenak termangu-mangu melihat orang yang disebut pembantu Ki Waskita itu. Meskipun tatap matanya tidak lagi nampak liar, tetapi masih ada kesan, betapa orang itu berwajah sekeras batu padas di pegunungan.

Ki Waskita menyadari pula. Cara berpakaian orang itu pun agak berbeda. Tetapi sekali lagi ia tekankan, “Ia adalah pembantuku yang paling dungu. Tetapi ia mempunyai kecakapan untuk membuat tarub dan hiasan-hiasan janur yang lain.”

Orang itu hanya menarik nafas saja. Dipandanginya setiap orang di regol itu dengan sudut matanya. Rasa-rasanya ia tidak berani menatap wajah-wajah yang memandanginya dengan penuh pertanyaan di dalam dada.

Kedatangan mereka berdua segera disambut dengan wajah-wajah yang cerah dari keluarga Ki Gede Menoreh yang kecil, seperti kehadiran keluarga-keluarganya yang lain. Bahkan lebih dari itu karena Ki Waskita mempunyai beberapa kelebihan dari saudara-saudara yang lain itu.

“Aku membawa seorang kawan,” berkata Ki Waskita, “biarlah ia berada di belakang. Ia dapat membantu membuat tarub atau kerja kasar yang lain.”

“O,” Ki Gede Menoreh mengangguk-angguk, “di sini sudah banyak tenaga yang dapat membantu sanak kadang yang menyiapkan tarub dan uba rampe. Biarlah kawan Ki Waskita itu beristirahat lebih dahulu. Mungkin ada kerja yang sesuai dengannya nanti.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berkata, “Mungkin mengambil air, mengisi jambangan didapur atau pakiwan.”

“Biarlah ia beristirahat dahulu, Ki Waskita,” sahut Ki Gede. Namun demikian, Ki Gede tidak dapat menyembunyikan pertanyaan yang membersit di hatinya tentang orang itu.

Tatapan mata yang aneh itu rasa-rasanya semakin menyiksa orang yang datang bersama Ki Waskita itu. Rasa-rasanya bukan saja di Mataram ia akan dijadikan pengewan-ewan. Tetapi di Tanah Perdikan Menoreh, ia sudah mulai menjadi tontonan yang aneh.

“Gila,” ia menggeram, “kenapa aku tidak dibunuhnya saja?”

Tetapi ia sadar, bahwa Ki Waskita memang bukan seorang pembunuh.

Setelah duduk sejenak dan saling menceriterakan keadaan masing-masing dan keluarganya, maka Ki Waskita pun kemudian dipersilahkan beristirahat di gandok bersama orang yang dibawanya itu.

“Kau dapat beristirahat di sini. Nanti kau akan mendapat kerja yang sesuai dengan kemampuanmu,” berkata Ki Waskita.

“Aku tidak dapat membuat tarub,” sahut orang itu.

“He, lalu apa yang dapat kau lakukan?”

“Aku tidak pernah berbuat apa-apa. Aku juga tidak pernah mengambil air dan apalagi kerja kasar yang lain.”

Ki Waskita menarik nafas. Katanya, “Kau terlalu biasa mendapatkan nafkah dengan cara yang paling buruk, meskipun dengan dalih apa pun juga. Dengan dalih perjuangan untuk menempatkan trah Majapahit kembali atau alasan apa pun. Tetapi cara itu harus berubah. Kau tidak akan dapat melakukannya sepanjang umurmu. Karena itu, belajarlah hidup sewajarnya adbmcadangan.wordpress.com seperti kebanyakan orang. Bekerja keras dan bahkan mungkin bekerja keras tanpa mengenal lelah. Dengan demikian maka kau akan menemukan kehidupan yang wajar, meskipun melelahkan, tetapi kau akan mendapat ketenangan, dan ketenteraman hati.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Sekarang beristirahatlah. Aku akan membersihkan diri dan barangkali aku masih akan membicarakan masalan perkawinan anak Ki Gede sejenak di pendapa. Tinggal sajalah di sini. Jika aku atau Ki Gede memerlukanmu, kau akan aku panggil.”

Orang itu tidak menjawab. Dipandanginya wajah Ki Waskita sejenak. Namun wajah itu pun segera tertunduk.

Namun ketika Ki Waskita melangkah ke luar dari bilik itu, orang itu pun berdesis, “Kenapa kau bersikap aneh?”

“Apakah yang aneh?”

“Kau biarkan aku sendiri di sini. Padahal kau tahu bahwa aku akan segera melarikan diri.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Aku menyerahkannya kepadamu. Jika kau ingin lari, larilah. Mungkin kau akan kembali ke dalam kehidupan yang telah kau hayati beberapa lamanya. Tetapi jika kau ingin mengenyam hidup baru, kau dapat melakukannya. Karena hidup yang lama tidak akan memberikan apa-apa lagi kepadamu, selain kebencian, dendam, dan kemaksiatan yang akan menyeretmu ke dalam kebinasaan yang kekal.”

Orang itu memandang Ki Waskita sekilas. Namun kepalanya pun segera tertunduk kembali.

Ki Waskita tidak menghiraukannya lagi. Ia pun segera pergi ke pendapa untuk menjumpai Ki Gede Menoreh setelah berganti pakaian yang kotor oleh debu dan noda-noda darah yang untungnya sudah mengering, sehingga tidak banyak menarik perhatian. Agaknya perempuan yang luka itulah yang telah menodai pakaiannya dengan percikan darahnya, ketika ia membantu menolongnya.

Ternyata bahwa Ki Waskita tidak berbohong kepada Ki Gede Menoreh. Dalam satu kesempatan, tanpa didengar oleh orang lain, juga Pandan Wangi, Ki Waskita pun segera menceriterakan apa yang sudah terjadi atas dirinya di perjalanan, dan siapakah sebenarnya orang yang dibawanya itu.

Ki Gede mengerutkan keningnya. Dengan wajah yang tegang ia bertanya, “Dan apakah Ki Waskita membiarkannya tanpa pengawasan?”

“Ia tidak akan lari,” jawab Ki Waskita.

Di luar sadarnya Ki Gede pun memandang ke pintu gandok sebelah. Ia melihat orang itu berdiri termangu-mangu di sisi pintu sambil memandang Ki Waskita, seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.

Agaknya Ki Waskita pun menyadari bahwa Ki Gede masih tetap ragu-ragu. Namun demikian Ki Waskita juga melihat, bahwa agaknya ada sesuatu yang akan dikatakan oleh orang itu kepadanya.

“Ki Gede,” berkata Ki Waskita, “aku akan bertanya kepadanya. Mungkin ia ingin mengatakan sesuatu.”

“Aku juga melihat kegelisahan itu,” sahut Ki Gede.

“Ia memang gelisah sejak ia mengikuti aku. Ia ingin mati saja daripada menjadi tawanan orang Mataram.”

“Dan ia minta Ki Waskita membunuhnya?”

“Ya. Tetapi aku berkeberatan. Dan karena sentuhan perasaan itulah maka aku yakin ia tidak akan lari. Ia merasa berhutang sesuatu kepadaku. Betapa pun jahatnya, orang ini agaknya masih mempunyai perasaan juga. Tetapi mungkin juga karena hatinya memang terlalu lemah sehingga ia tidak dapat menolak ketika ia terdorong ke dalam lingkungan yang hitam.”

Ki Gede menangguk-angguk. Rasa-rasanya ia pun sependapat, bahwa kadang-kadang seseorang tidak memiliki ketetapan hati. Bahkan tidak dapat berdiri teguh pada sikapnya meskipun ia mengerti, bahwa ia sedang menuju ke dalam kesakitan.

Ki Waskita pun kemudian meninggalkan tempatnya mendekati tawanannya yang berdiri termangu-mangu di depan pintu gandok.

“Apakah ada sesuatu yang akan kau katakan?” bertanya Ki Waskita.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku merasa diriku seperti berada di dalam tungku api.”

“Kenapa?”

“Setiap orang memandangku seperti memandang hantu. Rasa-rasanya setiap bibir mencibir kepadaku dan jika aku melihat dua orang atau lebih bercakap-cakap, rasa-rasanya mereka sedang mempercakapkan aku.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

“Kiai,” berkata orang itu kemudian, “apakah tidak ada cara yang lebih baik untuk menghukumku daripada cara yang Kiai tempuh ini?”

“Aku tidak menghukummu,” jawab Ki Waskita.

“Tetapi rasa-rasanya aku tersiksa lebih parah dari dilecut dengan penjalin.”

“Lalu, apakah pendapatmu?”

“Jika Kiai mengijinkan, apakah aku dapat Kiai serahkan saja kepada seseorang untuk melakukan kerja apa saja yang diperintahkannya seperti yang Kiai katakan kepada Ki Gede, tetapi yang terpisah dari orang-orang lain?”

“Ah,” desis Ki Waskita, “coba katakan, kerja apakah yang kau maksud.”

Orang itu termenung sejenak. Lalu, “Misalnya membuat tali tutus. Bukankah dalam kerja ini diperlukan banyak tali tutus bambu apus. Aku dapat ditempatkan di sudut belakang kebun ini. Aku akan membuat tali sebanyak-banyaknya. Meskipun aku tidak biasa melakukannya, tetapi aku dapat.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Lucu sekali. Kau datang sebagai pembantuku ke rumah ini, hanya untuk membuat tutus.”

“Itu di hari pertama. Bukankah kita akan berada di sini lebih dari satu hari?”

Ki Waskita termangu-mangu.

“Apakah Kiai takut bahwa aku akan lari?”

“Aku tidak peduli, apakah kau akan lari atau tidak. Jika kau memang akan lari, aku banyak memberi kesempatan itu. Tetapi aku tidak menghendaki kau lari, karena aku akan membawamu ke Mataram.”

“Itu adalah siksaan yang tidak ada taranya. Sudah aku katakan bahwa lebih baik aku kau bunuh saja.”

“Kau selalu mengulang-ulang. Aku menjadi jemu karenanya. Lebih baik kau berkata sesuatu yang bermanfaat.”

“Beri aku pekerjaan itu, yang tidak selalu menjadi tontonan orang.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Aku akan mengatakan kepada Ki Gede.”

Seperti yang dikatakannya, maka Ki Waskita pun kemudian menyampaikannya pula kepada Ki Gede yang masih berada di pendapa.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah, Ki Waskita. Biarlah aku membawanya ke kebun belakang. Tetapi sebenarnyalah nanti jika kita mulai memasang tarub dan tratag, kita memerlukan banyak tali tutus. Tetapi sebenarnya tidak perlu seseorang yang khusus membuatnya.”

“Ia dalam kebingungan.”

“Baiklah. Aku akan menyetujui jika Ki Waskita sendiri tidak berkeberatan atas permintaan itu.”

Demikianlah maka Ki Gede pun membawa orang itu bersama Ki Waskita ke kebun agak jauh di belakang, ke dekat serumpun bambu apus yang nampak subur dan rimbun.

“Terima kasih,” berkata orang itu, “di sini aku akan merasa tenang. Tidak banyak orang yang memperhatikan aku.”

“Di sana ada sumur,” berkata Ki Waskita.

“Hanya satu dua orang saja yang pergi ke sumur. Namun agaknya mereka tidak akan memperhatikan aku.”

“Terserahlah kepadamu,” sahut Ki Waskita kemudian, “membuatlah tutus sebanyak-banyaknya. Kau dapat menebang batang bambu apus itu dan membuatnya. Memang saatnya nanti, tutus akan banyak diperlukan.”

Namun dalam pada itu, ketika orang itu ditinggalkan di kebun belakang seorang diri, tanpa disangka-sangka telah hadir pula orang yang sama sekali tidak dikehendaki, baik oleh Ki Waskita mau pun oleh orang itu sendiri.

Di luar dugaan orang yang sedang sibuk menebang batang-batang bambu apus itu, dua orang telah mengamatinya dari kejauhan.

“Apakah kita akan mendekat?” bertanya salah seorang dari keduanya.

Yang lain ragu-ragu. Tetapi kemudian berdesis, “Bagaimana mungkin ia ditinggalkan seorang diri di kebun itu?”

“Memang aneh. Tetapi baiklah kita mencoba mendapat keterangan daripadanya.”

Kedua orang itu pun kemudian melangkah mendekat. Mereka menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya orang yang sedang menebang batang-batang bambu itu. Kemudian diedarkan tatapan mata kedua orang itu berkeliling.

“Apakah ini sekedar pancingan, sehingga apabila seseorang mendekatinya, akan ditangkap pula?”

“Pintu butulan dinding penyekat halaman itu tertutup,” desis yang lain.

Keduanya memandang pintu butulan pada dinding penyekat yang tinggi, yang membatasi kebun belakang itu dengan bagian belakang halaman rumah Ki Gede Menoreh. Sedangkan kebun yang luas, hanyalah dikelilingi oleh dinding batu yang tidak melampaui pundak. Karena itulah, maka dari balik rimbunnya pohon-pohon perdu di kebun yang lain, kedua orang itu dapat melihat tawanan yang sedang menebang batang bambu itu.

“Jika ini sebuah jebakan, apa boleh buat.”

Keduanya pun segera berusaha mendekat. Dengan hati-hati mereka menjenguk dinding batu yang tidak begitu tinggi itu.

“Sst, sst,” desis salah seorang dari keduanya.

Orang yang sedang menebang batang bambu itu berpaling. Namun ia pun menjadi terkejut melihat dua orang yang menjenguk dinding batu itu.

“Kau,” desisnya.

“Kemarilah. Apakah kau dalam pengawasan.”

“Tidak,” jawab orang itu. Tetapi ia melangkah mendekati dua orang di luar dinding itu.

“Bagaimana kau dapat mengetahui bahwa aku ada di sini?”

“Kami hanya mendapat petunjuk ke arah mana kau pergi.”

“Dan kau menemukan aku di sini?”

“Ketika aku melalui jalan di depan rumah Ki Gede Menoreh, secara kebetulan aku melihatmu. Aku tidak tahu, apakah yang kau lakukan di sana. Kami kemudian menyingkirkan kuda kami di luar padukuhan dan kembali ke mari. Dari jalan sebelah aku melihat kau berada di sini, sehingga aku berusaha untuk mendekat.”

“Dari siapa kau mengetahui tentang aku?”

“Kami menyelusuri jalan yang kau tempuh sampai ke padukuhan yang menjadi ajang pembantaian ketiga kawan-kawan kita. Setiap orang mengetahuinya apa yang telah terjadi di sana. Di sebuah warung aku mendengar peristiwa itu. Sebelum jejak kudamu hilang, aku telah mencoba mengikutinya sampai ke padukuhan induk ini.”

“Dan kau yakin bahwa ceritera yang kau dengar di warung itu benar-benar telah terjadi atas kami berempat?”

“Meyakinkan sekali. Dan aku benar-benar menemukan kau seorang diri di sini.”

Orang yang sedang menebang batang-batang bambu itu termangu-mangu. Demikian cepatnya peristiwa itu dapat didengar oleh kawan-kawannya. Meskipun orang-orang padukuhan itu berusaha menyembunyikan jejak dengan melepaskan kuda-kuda kawannya yang terbunuh, namun ceritera dari mulut ke mulut yang menjalar, telah memungkinkan kawan-kawannya yang lain mengetahui apa yang telah terjadi. Dan kini dua orang dari mereka telah rnenyusulnya.

Sejenak terkilas di dalam ingatannya, bahwa sudah menjadi kebiasaan di dalam lingkungannya untuk saling mencurigai dan saling mengawasi. Pemimpinnya, yang telah memerintahkannya menyamun sepanjang jalan, agaknya telah mengirimkan dua orang untuk meyakinkan apa yang telah dilakukannya. Dan agaknya dua orang itu dengan segera dapat mengetahui bahwa tiga dari antara mereka yang diperintahkan untuk mencari apa yang mereka sebut dana bagi perjuangan yang agung itu telah mati terbunuh. Sedang yang seorang telah ditawan.

“He,” desis kawannya yang berada di luar dinding, “jangan termangu-mangu saja. Marilah kita pergi. Kau mendapat banyak kesempatan sekarang.”

Orang yang sedang menebang batang-batang bambu itu ragu-ragu. Tiba-tiba saja terbersit suatu keinginan untuk menempuh suatu cara hidup yang baru meskipun ia belum mengetahui bentuknya.

“Cepat. Kenapa kau menjadi linglung?”

“Aku sedang berpikir,” jawab orang yang berada di dalam dinding itu.

“Apa yang kau pikirkan? Kau mendapat kesempatan untuk lari. Marilah. Marilah. Di luar padukuhan ini ada seekor kuda. Seekor dari keduanya dapat kita pergunakan berdua.”

Orang itu masih saja ragu-ragu. Katanya kemudian, “Ada sesuatu yang telah menyentuh hatiku. Aku memang mendapat banyak kesempatan untuk lari sejak semula. Tetapi aku tidak berani melakukannya. Orang yang menangkapku adalah seorang tukang tenung.”

“Tukang tenung?”

“Ya. Atau mungkin tukang sihir. Ia dapat membuat apa saja yang dikehendaki. Ketiga orang kawan kita yang mati itu tentu ditenungnya pula.”

“Dan kau?”

“Aku terpaksa menyerah. Bukan karena takut mati. Tetapi aku takut ditenungnya atau disihirnya menjadi kerbau atau lembu, atau bahkan kuda.”

“Kita lari di luar pengetahuannya.”

“Aku tidak yakin bahwa aku dapat melakukannya. Mungkin di luar sadarku aku akan kembali lagi kepadanya dan disihir menjadi binatang melata, atau apa pun juga.”

Kedua kawannya yang berada di luar dinding mengerutkan keningnya. Sejenak mereka termangu-mangu. Namun kemudian salah seorang dari keduanya berkata, “Kau dipengaruhi oleh kecemasanmu sendiri. Tidak mungkin seseorang dapat melakukannya.”

“Kami melihat dan mengalami bagaimana barang-barang yang sebenarnya tidak ada, rasa-rasanya ada di tangan kami. Kemudian hadir seorang anak-anak yang aneh yang ternyata tidak ada sama sekali.”

Kawannya yang lain pun berkata, “Orang itu mungkin dapat menimbulkan bentuk-bentuk yang nampaknya ada tetapi sebenarnya tidak ada. Tetapi sudah tentu tidak akan dapat merubah bentuk yang memang sudah ada, karena sebenarnya ujud yang nampak, yang sebenarnya tidak ada itu hanyalah sekedar pengaruh kemampuan ilmu yang langsung mempengaruhi syaraf kita.”

“Kau mungkin tidak percaya.”

“Barangkali demikian. Tetapi marilah. Selagi orang itu tidak ada. Seandainya ia dapat menenung, maka itu hanya dapat dilakukan di bawah matanya.”

Orang yang berada di dalam dinding batu ragu-ragu. Namun kemudian katanya, “Tetapi sebenarnya bukan hanya sekedar sentuhan ketakutan, tetapi ada sentuhan yang lain.”

“Apa?”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Orang itu adalah orang yang luar biasa. Ia dapat membunuh tiga orang kawanku dalam perkelahian yang dahsyat, tetapi ia sama sekali tidak berpijak kepada kemampuan ilmu yang luar biasa itu. Ilmu olah kanuragan dan sekaligus ilmu tenung entah sihir atau jenis ilmu apa pun.”

“Apa maksudmu?”

“Ketika kami mula-mula merampoknya, ia menyerahkan barang-barang yang sebenarnya tidak ada. Bukan karena ketakutan, tetapi kemudian aku tahu, bahwa sebenarnya ia menghindari perselisihan. Hal ini semakin aku yakini, ketika kami menyusulnya. Ia mencoba bersembunyi di dalam sebuah rumah. Juga sekedar untuk menghindari perkelahian, bukan karena adbmcadangan.wordpress.com ketakutan. Tetapi ketika perasaan keadilannya tersinggung, karena pemimpin kami menyakiti orang yang telah menyembunyikannya, maka tiba-tiba ia kehilangan kesabaran dan mulai mempergunakan kekerasan yang sebenarnya sudah dihindarinya.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang seorang kemudian bertanya, “Lalu apa maumu sebenarnya?”

“Sikapnya sangat menarik perhatian. Sebenarnya aku ingin mempelajari tata kehidupan yang lain dari tata kehidupan yang pernah aku tempuh. Aku jadi teringat kepada kehidupan di kampung halaman sebelum aku ikut dalam pengembaraan.”

Kedua kawannya menjadi tegang.

“Jadi kau mencoba untuk memisahkan diri?”

“Aku tidak tahu apakah yang sebaiknya aku lakukan?”

“Marilah, jangan terpengaruh oleh hal-hal yang tidak masuk akal seperti itu.”

“Tiba-tiba saja aku telah dicengkam oleh kerinduan kepada hidup yang sewajarnya, tidak selalu diburu oleh sikap kekerasan dan kebencian. Orang yang memiliki kemampuan jauh di atas kemampuanku masih mencoba menghindarkan diri dan perkelahian yang pasti akan dapat dimenangkannya. Bukankah dengan demikian kekerasan memang harus dihindari.”

“Hatimu miyur seperti daun ilalang.”

“Mungkin.”

“Tetapi kau tidak dapat berkhianat kepada pimpinan kita yang telah bertekad untuk memenangkan perjuangan ini. Kau harus menyadari, bahwa perjuangan memang memerlukan pengorbanan.”

Orang itu termenung sejenak. Lalu tiba-tiba saja ia bertanya, “Sebenarnya apakah yang harus kita perjuangkan?”

“Gila,” geram yang lain, “kau memang ingin berkhianat.”

“Tidak. Aku tidak akan berkhianat. Aku akan tetap diam. Bahkan aku sedang berpikir, jika aku benar-benar akan diserahkan kepada prajurit-prajurit Mataram, aku akan membunuh diri. Tetapi jika aku dibiarkannya hidup seperti sekarang ini mungkin aku akan tertahan untuk hidup terus tanpa mengkhianati kalian.”

Kedua orang itu tiba-tiba saja saling berpandangan dengan sorot mata yang aneh. Bahkan yang seorang dari mereka pun kemudian berkata, “Aku memperingatkan kau sekali lagi. Tinggalkan tempat ini. Kau dapat dikirim ke Mataram atau Pajang. Di tangan orang-orang Mataram dan Pajang, kau tidak akan dapat mengelak lagi. Kau akan diperas sampai darahmu kering jika kau tidak mau mengatakan apa pun juga yang kau ketahui tentang kami.”

“Aku akan dapat bertahan. Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa sama sekali.”

“Karena kau belum mengalami tekanan badaniah yang keras. Nah, sekarang aku minta untuk yang terakhir kalinya. Selagi belum ada orang lain yang mengetahuinya, marilah kita pergi.”

Keragu-raguan yang sangat, nampak pada wajah orang itu. Dipandanginya dua orang kawannya itu berganti-gartti. Namun, di luar dugaan kedua orang kawannya itu, ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Sudahlah. Tinggalkan aku di sini. Aku ingin mencari jalan yang barangkali tepat bagiku. Mungkin aku akan kembali, tetapi mungkin aku akan memilih jalan lain. Tetapi aku sama sekali tidak akan berkhianat, karena masih ada jalan yang mungkin aku tempuh. Membunuh diri.”

“Kau benar-benar sudah gila. Jika kau memang ingin membunuh diri, lakukanlah sekarang, supaya aku yakin bahwa kau sudah mati. Dengan demikian maka tidak ada kemungkinan bagimu untuk berkhianat lagi.”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Keragu-raguan yang makin tajam telah menghunjam ke pusat jantung.

Dalam pada itu, kedua kawannya yang masih ada di luar dinding yang tidak terlalu tinggi itu nampak menjadi semakin gelisah. Satu dua orang yang lewat memperhatikan mereka sejenak, namun mereka tidak menghiraukannya lagi.

“Cepatlah mengambil keputusan. Ikut bersama kami atau membunuh diri.”

“Bagaimana jika kedua-duanya tidak dapat aku lakukan sekarang?”

Kedua kawannya saling berpandangan sejenak. Yang seorang kemudian berkata, “Jangan memaksa kami mengambil jalan ketiga.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 04:00  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-93/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tengkiu…………
    Ijin Kie…..
    Moga ga putus lg….

  2. Dengan senang hati bonusnya mohon ijin diunduh.
    terima kasih

  3. Benar ini hari baik, bonus sampun diunduh…

  4. Matur suwun Ki GeDe,,,walau baru absen dan belum sempat antri tapi sudah dapat kitab 93….matur suwun bener2 hari baik nich………

  5. Rudita…
    ada yg agak aneh ttg sikapnya eh jaln hidupnya..
    rasanya pada buku sebelumnya saat Rudita datang di Menoreh dan bersikap petantang petenteng thd para pemuda Perdikan Menoreh ada dia berucap menyombongkan nama Guru olah Kanuragan nya ya??… Kok di buku2 lanjut sama sekali ga disinggung mengenai kebisaan Rudita soal dasar2 olah kanuragan…..
    Mohon pencerahan di kala mendung ini…

  6. Saya setuju. Malem satu suro (saya lebih suka menyebut Malam 1 Muharam) atau Minggu 28, Desember 2008. Kebetulan saya off. Gimana kalau pilih kedai di kawasan Kalibata? Ngumpul di Stasiun atau Mal, baru pilih lokasi wedang serenya? Saya tunggu responsnya sampai Sabtu (27 Des 08) pukul 21.00 WIB. Tujuan utama: membantu babat alas supaya lebih cepat berdiri Kerajaan Mataram (kitab asli, scan).

  7. absen para kadang sedaya,sangsaya ndalu sangsaya nglangut……………..punapa kitab 93 saestu sampun saged dipun unduh?kok kula dereng kepanggih sandi nipun

    matur nuwun

    NB. Agung sedayu mau dgn sekar mirah karena memang cinta,dan dia sadar sepenuhnya bhw memang no bodi’s perfect,disamping kecantikan dan mimpi2 kemuliaan yg makantar kantar ada sisi lain yg memang menunjukan kelemahan seorang sekar mirah.Agung Sedayui pun menyadari kelemahan dirinya disamping kelebihannya.Akan tetapi,Agung Sedayu memiliki keyakinan bhw pd saatnya bisa membimbing sekar mirah mjd seorang isteri yg berbhakti………….demikian lanjutan ceritanya

  8. nyuwun pitulung para kadhang ingkang sampun saged ngasta kitab 93………..paringana kula ancer 2 lan tata caranipun ingkang kedah kula lampahi,punapa kedah siyam ,patigeni,ngrowot,mutih,punapa puasa ngidang?

    Ki Gede,nyuwun palilah lan pangandikan

  9. bonus hari baik sampun tuntas Ki GD, nenggo bonus 10 kitab kangge suroan.

  10. nuwun sewu Ki GD & para sesepuh..
    numpang ngantri kitab …

    matur sembah nuwun..

  11. Wah maturnuwun, mboten sah ribet sampun pikantuk.

  12. para cantrik sekalian….

    nyari rontal no 93 (versi djvu) dimana ya???? udah ngubek2 halaman depan, belakang, samping, kok gak ketemu. buat koleksi nih….

    mohon petunjuk. matur tengkyu

  13. kok ga’ ada ceritanya sih padahal mau dibaca lho
    ku sangat suka buku api di bukit menoreh

    S apanya yang tidak bisa dibaca mbakyu ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: