Buku 93

Pemimpin kelompok yang marah itu tidak membiarkannya lari. Karena itu, ia pun kemudian mengejarnya sampai ke regol halaman.

Tetapi ketika ia melangkahi tlundak regol, langkahnya terhenti. Ia tidak melihat seorang pun di sepanjang jalan. Jalan yang menjelujur lurus ke kedua arah.

“Gila, di mana anak itu?” geram pemimpin kelompok itu. Tetapi ia sama sekali tidak melihat seorang pun. Padahal menurut penilaiannya, anak kecil itu tidak akan dapat meloncati dinding batu di sebelah-menyebelah jalan.

Namun adalah suatu kenyataan, anak itu hilang seperti asap.

Tiba-tiba saja pemimpin kelompok itu teringat kepada orang yang sedang dikejarnya. Orang yang telah memberikan beberapa macam barang yang sekedar ada karena tenungnya, bukan karena sebenarnya barang-barang itu ada.

Pemimpin kelompok itu menggeram. Dengan wajah yang merah membara ia berpaling. Dadanya rasa-rasanya menjadi retak ketika ia melihat pemilik rumah yang terlentang di halaman itu kini sudah berdiri bersandar pintu rumahnya, dilayani oleh isterinya. Sedang Ki Waskita yang menyebut dirinya bernama Kiai Jalawaja itu berdiri tegak di depannya dengan keris terhunus.

“He, gila. Apakah kerja kalian!” teriak pemimpin kelompok itu kepada ketiga orang kawannya. “Kau biarkan tukang tenung itu menolong orang yang mencoba melindunginya?”

Serentak mereka bertiga berpaling. Seperti bermimpi rasanya. Mereka seakan-akan terpukau oleh anak kecil yang tertawa di regol itu, sehingga mereka tidak melihat, apa yang telah terjadi di sampingnya.

“Anak itu pun adalah iblis yang dibuat oleh tukang tenung itu. Ia hilang di luar regol seperti barang-barang yang kalian bawa.”

Kemarahan telah membakar setiap dada keempat orang penyamun yang mengejar Ki Waskita itu. Mereka merasa, bahwa mereka telah menjadi korban permainan tenung dan sihir.

“Tukang sihir gila,” geram salah seorang dari mereka, “tetapi bagaimana pun juga kau harus menebus dengan nyawamu. Kau tidak akan sempat membuat ujud-ujud apa pun lagi di hadapan kami, karena kami sudah yakin, bahwa kami berhadapan dengan tukang sihir.”

Ki Waskita tidak beranjak dari tempatnya. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

“Baiklah,” berkata pemimpin kelompok itu, “agaknya orang gila yang berusaha menyembunyikan tukang tenung atau tukang sihir atau apa pun namanya itu, sempat memperpanjang umurnya dengan beberapa saat. Tetapi kematian yang akan dialaminya adalah kematian yang lebih parah, karena akan terjadi perlahan-lahan seperti tukang sihir itu sendiri.”

Ki Waskita memandang keempat orang itu berganti-ganti. Sekali-sekali ia berpaling. Pemilik rumah itu masih berdiri bersandar pintu dengan wajah yang pucat oleh ketakutan. Sedang darah yang meleleh di pipinya telah diusapnya dengan lengan bajunya.

“Menyerahlah, supaya kami mempunyai sedikit belas kasihan,” geram pemimpin kelompok itu.

“Apakah belas kasihanmu itu berarti bahwa pemilik rumah yang tidak bersalah ini akan tetap hidup?” bertanya Ki Waskita.

“Gila. Kalian semuanya akan mati. Tetapi jalan kematian itulah yang berbeda-beda. Bagi kalian semakin cepat tentu akan menjadi semakin baik. Tetapi jika kalian melawan, maka kalian akan mengalami masa yang berkepanjangan menjelang saat kematian itu.”

“Jika demikian,” jawab Ki Waskita yang menjadi marah pula, “aku pun menawarkan hal yang serupa. Jika kalian menyerah dan pasrah, maka aku akan menikam kalian seorang demi seorang dengan keris langsung ke jantung. Tetapi jika tidak, maka kalian masing-masing dan kuda itu akan aku lecut sepanjang bulak panjang.”

“Setan alas,” teriak pemimpin kelompok itu, “kau masih dapat mengigau, he, tukang sihir.”

“Namaku Kiai Jalawaja.”

“Tentu itu hanya leluconmu yang gila. Kau mungkin memang pernah mendengar nama Jalawaja. Tetapi tentu kau tidak bernama Jalawaja.”

Yang bertubuh kekar tidak sabar lagi. Dengan nada yang dalam, seolah-olah suaranya berputar di dalam perutnya ia menggeram, “Aku akan membunuhnya sekarang dengan tanganku. Aku akan mematahkan tangannya, kemudian kakinya, sebelum yang terakhir tulang punggungnya. Kemudian akan aku biarkan ia mati berlama-lama. Kita tinggalkan saja ia di sini. Dalam dua hari ia tentu akan mati.”

“Ia akan sempat menenung kita.”

“Menjelang ajal, ia tidak mempunyai kemampuan melakukannya,” jawab orang bertubuh kekar itu sambil melangkah mendekati Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita pun sudah bersiaga. Ia berdiri tegak dengan kaki renggang. Kedua tangannya bersilang di muka dadanya.

Sejenak kemudian ketiga orang penyamun yang lain pun segera mengambil tempatnya masing-masing. Pemimpinnya, yang jantungnya bagaikan terbakar oleh bara api tempurung itu mengambil tempat di tengah-tengah.

Ki Waskita tetap di tempatnya. Ia tidak bergeser maju, agar ia tetap dapat melindungi pemilik rumah yang masih bersandar pintu berpegangan isterinya yang menggigil ketakutan. Namun keduanya kemudian terduduk dengan lemahnya karena kaki mereka rasa-rasanya tidak mampu lagi membawa berat tubuhnya yang gemetar.

“Agaknya itu akan lebih baik,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

Sejenak kemudian, maka Ki Waskita pun harus sudah menempatkan diri di dalam lingkaran pertempuran. Ia sama sekali tidak ingin lagi membuat bentuk-bentuk semu, karena agaknya keempat orang itu tidak akan lagi dapat dikelabui. Mereka tentu tidak akan menghiraukan ujud apa pun lagi yang nampak di halaman itu, meskipun seandainya ada orang yang sebenarnya hadir.

Ki Waskita memandang keempat ujung senjata yang telah terarah kepadanya. Untuk melawan keempat ujung senjata itu ia tidak dapat mempergunakan tubuhnya yang masih belum dibalut oleh perisai ilmu kebal yang matang. Itulah sebabnya, maka ia pun kemudian membuka ikat kepalanya dan dibelitkannya di tangan kirinya.

Namun dengan demikian juga berarti bahwa kesabaran Ki Waskita sudah sampai ke batasnya melihat tingkah laku keempat penyamun yang memuakkan itu.

Sejenak kemudian, perkelahian sudah tidak dapat dicegah lagi. Ketika orang yang bertubuh tinggi itu meloncat menyerang maka Ki Waskita telah siap menangkis serangan ujung senjatanya dengan ikat kepalanya yang membelit lengannya.

Benturan itu benar-benar telah mengejutkan. Apalagi ketika Ki Waskita masih sempat berkata, “Aku sudah tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali membunuh kalian. Bukan karena aku ingin membunuh seperti kalian tetapi dengan demikian muka kalian tidak akan menjadi bibit keonaran di tlatah ini dan bahkan mungkin menimbulkan korban yang tidak terhitung jumlahnya.”

Rasa-rasanya jantung keempat orang itu tergetar. Namun kemudian pemimpin kelompok penyamun itu berteriak, “Kau jangan mencoba menakuti kami seperti anak-anak.”

“Jangan berteriak,” geram Ki Waskita, “kaulah yang menakut-nakuti tetangga di sebelah-menyebelah. Kini mereka tentu sudah membeku di dalam rumah mereka. Apalagi jika mereka mendengar suaramu yang menyakitkan hati itu.”

“Persetan,” jawab pemimpin kelompok itu.

“Tetapi jika suaramu didengar oleh para pengawal Tanah Perdikan Menoreh, maka kalian akan mengalami nasib lebih buruk lagi.”

“Aku akan membunuh siapa saja,” pemimpin kelompok itu masih berteriak. Namun suaranya seolah-olah terputus di kerongkongan karena serangan Ki Waskita yang tidak terduga-duga, seakan-akan menyusup di antara keempat ujung senjata mereka.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Ujung senjata yang terayun-ayun itu seolah-olah semakin lama menjadi semakin banyak. Tetapi Ki Waskita pun mampu bergerak semakin cepat.

Namun demikian, Ki Waskita tidak dapat bertempur dengan tata gerak yang leluasa. Ia tidak dapat berloncatan di halaman itu sesuai dengan keinginannya menghadapi keempat orang lawannya, karena ia masih harus melindungi dua orang suami-isteri yang ketakutan. Ki Waskita merasa wajib untuk melakukannya, karena ia merasa, bahwa ialah yang menyebabkan bahaya maut itu hampir saja menyentuh kedua suami-isteri itu. Bahkan apabila ia gagal, maka bahaya itu masih mungkin sekali menerkam mereka berdua bersama-sama.

Dalam pada itu, keempat orang penyamun yang merasa tidak segera dapat mengalahkan lawannya pun menjadi semakin marah. Mereka menyerang dari berbagai penjuru untuk membagi perhatian Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita agaknya memiliki kecepatan bergerak yang cukup. Ketika ujung-ujung senjata itu mematukinya, ia selalu saja sempat mengelak. Sekali ia menggeliat sambil berputar. Sementara ujung senjata yang lain hampir menusuk lambungnya, ia membungkukkan badannya sambil menangkis ujung senjata yang lain yang menyambar mendatar mengarah ke lehernya.

Bahkan, ketika keringat telah mulai membasahi punggungnya, tandang Ki Waskita rasa-rasanya menjadi semakin mantap, serangannya justru menjadi semakin ganas. Bukan saja tangannya yang menyambar-nyambar, tetapi juga kakinya.

Tetapi lawannya pun agaknya cukup berpengalaman. Mereka selalu berusaha menarik Ki Waskita semakin maju. Mereka menyerang dari samping namun kemudian menarik diri menjauh di depan Ki Waskita berseberangan arah dengan kedua orang suami isteri yang ketakutan.

Ki Waskita menyadari, bahwa ia tidak dapat menyerang terlalu bernafsu tanpa dikuasai oleh perhitungan yang baik. Jika ia meloncat terlalu jauh, maka yang akan mengalami kesulitan adalah suami-isteri itu.

Namun dalam peperangan yang semakin sengit, kadang-kadang perhatian Ki Waskita lebih tertuju kepada keempat lawannya. Kadang-kadang ia sejenak kehilangan pengamatan diri dan melupakan suami isteri yang ketakutan itu. Namun demikian ia menyadari keadaan, maka ia pun segera menempatkan diri di hadapan kedua orang itu.

Pemimpin kelompok penyamun itu seolah-olah telah kehilangan nalar. Ia didera oleh kemarahan yang tiada taranya. Berempat mereka sama sekali tidak segera dapat memenangkan perkelahian, bahkan kadang-kadang terasa mereka benar-benar terdesak surut.

Tetapi pemimpin kelompok itu masih mempunyai pertimbangan lain. Ketahanan tubuh dan nafas orang tua itu tentu tidak akan dapat bertahan terlalu lama. Jika ia terpaksa mengerahkan segenap tenaganya, maka ia pun akan segera menjadi lelah.

Demikianlah serangan dari keempat orang itu semakin lama menjadi semakin sengit. Mereka mempertinggi kecepatan gerak mereka dengan memeras segenap kemampuan. Senjata mereka terayun-ayun susul-menyusul, seperti ombak di lautan yang beruntun menghantam pantai.

Orang yang paling liar di antara mereka berempat ternyata benar-benar telah kehilangan akal. Karena itu, maka ia pun kemudian bagaikan orang kesurupan menyerang Ki Waskita dengan garangnya, meskipun dengan demikian, mula-mula ia menyulitkan kawan-kawannya sendiri. Namun kemudian kawan-kawannya pun berusaha untuk menyesuaikan diri, dan bahkan mereka pun mendesak semakin dahsyat.

Orang yang paling liar itu dengan membabi buta mengayunkan pedangnya mendatar ke kedua arah. Seolah-olah ia tidak menghiraukan lagi ketiga kawannya yang lain yang ada di sebelah-menyebelahnya.

Namun ketika dengan demikian Ki Waskita melangkah surut, seorang yang bertubuh agak pendek, dengan serta-merta meloncat menghunjamkan pedangnya ke arah lambung.

Ki Waskita harus secepatnya bergeser. Tetapi ia melihat sekilas gerak pemimpin kelompok itu, yang siap memotong geraknya menghindar.

Karena itu, Ki Waskita mengurungkannya dan segera merubah sikap. Ia sama sekali tidak menghindari tusukan pedang yang mengarah ke lambung itu. Tetapi dengan ikat kepalanya yang membelit di tangannya ia menebas pedang itu, sehingga arahnya segera berubah.

Tetapi orang itu tidak sempat menarik pedangnya. Sejenak kemudian yang terdengar adalah keluhan tertahan. Ternyata pergelangan tangannya bagaikan terasa patah, dan senjatanya hampir terlepas dari tangannya.

Namun kawannya yang paling ganas berhasil bertindak cepat. Ki Waskita tidak sempat mengulangi pukulan tangannya atas pergelangan lawannya. Orang yang paling ganas di antara sekelompok penyamun itu sempat menyerangnya, sehingga Ki Waskita harus bergeser setapak.

Dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin seru. Namun betapa kemarahan membakar dada Ki Waskita, namun ia tidak kehilangan pertimbangan nalarnya. Ia masih dapat melihat kepada dirinya sendiri. Bahkan sepercik keraguan masih menahannya untuk dengan serta-merta membunuh lawannya.

Karena itulah maka Ki Waskita masih bertempur terus tanpa menjatuhkan seorang korban pun di antara keempat lawannya. Bahkan lawannya yang hampir kehilangan pedangnya itu pun masih sempat mengurut tangannya dan mempergunakan senjata lagi meskipun tidak selincah seperti di saat ia mulai perkelahian itu.

Namun bagaimana pun juga Ki Waskita berusaha melindungi kedua suami isteri, pada suatu saat ia berhasil dipancing oleh lawannya. Segenap perhatiannya tercurah kepada ketiga lawannya yang bersama-sama menyerangnya. Beruntun dari arah yang berbeda-beda. Tetapi kerja sama yang mereka lalukan adalah sedemikian baiknya sehingga Ki Waskita benar-benar harus memperhitungkan setiap geraknya menghadapi senjata-senjata itu.

Pada saat itulah, maka pemimpin kelompok penyamun itu berusaha untuk mempengaruhi gairah perlawanan Ki Waskita. Pemimpin penyamun itu menyadari, bahwa Ki Waskita memang sedang berusaha melindungi kedua orang suami isteri itu. Karena itulah, maka dengan sengaja ia mengambil peluang itu untuk menyerang kedua orang yang ketakutan duduk bersandar pintu itu.

“Jika perhatian iblis ini terampas oleh kematian kedua orang sekarat yang bersandar pintu itu, maka ia pun akan mengalami nasib serupa,” berkata pemimpin kelompok itu di dalam hatinya.

Berdasarkan atas perhitungan itulah maka ia pun segera bertindak. Dengan tangkasnya ia meloncat berlari ke arah kedua orang yang ketakutan itu.

Ki Waskita yang memang sudah curiga akan sikap licik itu, masih juga terkejut melihat serangan yang tiba-tiba dari pemimpin kelompok itu. Namun dengan demikian, maka kemarahan di hatinya bagaikan meledak dan tidak terkendali lagi.

Ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat menyusul orang itu, betapa pun ia mampu meloncat jauh lebih panjang dari pemimpin kelompok itu. Apalagi ia masih harus menghindari tiga serangan beruntun yang datang seperti arus gelombang tanpa henti.

Tetapi sudah barang tentu bahwa ia tidak akan dapat membiarkan pembunuhan itu terjadi.

Dalam keadaan yang demikian itulah, Ki Waskita harus memilih tindakan yang paling tepat dapat dilakukan. Ketika ia bergeser selangkah, maka salah seorang dari ketiga penyamun itu berhasil memotong arah sambil mengacungkan senjatanya, sehingga Ki Waskita tertegun karenanya.

Tetapi Ki Waskita tidak dapat membiarkan dirinya tertegun-tegun tanpa berbuat sesuatu. Karena itulah maka tiba-tiba saja ia meloncat, justru menjauhi arah kedua orang suami isteri yang bersandar pintu itu.

Namun, pada saat ia meloncat, tangannya telah bergerak dengan cepatnya. Ia tidak mau terlambat. Kelambatan beberapa kejap saja, ia sudah gagal menolong kedua suami isteri yang mengalami bencana karena tingkahnya.

Sejenak kemudian, pada saat pemimpin kelompok itu meloncat sambil mengulurkan senjatanya, terdengarlah keluhan tertahan. Tetapi sekejap kemudian disusul oleh jerit seorang perempuan yang menggelepar memecah ketegangan di halaman itu.

Semua yang mendengar jeritan itu tertegun. Mereka tanpa sadar, telah berpaling memandang kearah perempuan yang masih mencoba bersandar pintu menjaga suaminya yang gemetar. Namun kemudian mereka telah terduduk semakin lemah.

Dari pundak perempuan itu ternyata telah menitik darah. Ujung pedang pemimpin kelompok itu sempat melukainya, meskipun tidak begitu dalam. Namun dengan demikian, pemimpin kelompok itu harus menebus dengan nyawanya. Ia terjatuh menggelepar di tanah dengan darah yang membasah di punggungnya. Sedang sebilah keris masih menancap dalam-dalam di punggung yang telah menjadi merah itu.

Ternyata Ki Waskita tidak dapat mempergunakan cara lain. Dengan kecepatan yang hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, ia mempergunakan kerisnya dan melemparkan langsung ke punggung pemimpn kelompok penyamun itu, sehingga ia terbunuh seketika.

Tetapi luka di pundak perempuan itu membuat Ki Waskita bagaikan wuru. Karena jarak yang memisahkannya dari perempuan itu, maka ia sama sekali tidak dapat melihat dengan pasti, apakah luka di pundak perempuan itu membahayakan jiwanya. Karena itulah, maka kemarahan yang membakar dadanya itu, seolah-olah telah tertumpah tanpa tertahankan lagi.

Itulah sebabnya, maka sebelum ketiga lawannya menyadari sepenuhnya apakah yang telah terjadi, Ki Waskita telah meloncat menyerang. Ia tidak lagi mengekang segenap kekuatan yang tersalur di tangannya. Karena itu maka ketika tangannya itu terayun adbmcadangan.wordpress.com menghantam salah seorang dari lawannya yang tidak sempat mengelak, maka tubuh itu bagaikan gemeretak, tulangnya berpatahan meskipun ada usahanya menggerakkan pedangnya, tetapi yang terjadi adalah kematian yang mendebarkan. Tubuh yang bagaikan tidak bertulang itu terlempar beberapa langkah dan jatuh membeku di tanah tanpa sempat mengeluh lagi.

Kematian kedua orang kawannya, ternyata telah menggoncangkan keberanian dan kekasaran kedua orang penyamun yang masih hidup. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa kali ini mereka telah menjumpai seseorang yang memiliki kemampuan tiada taranya.

Sekilas mereka teringat, bahwa orang itu telah menyebut dirinya Kiai Jalawaja. Karena itu maka, tiba-tiba saja mereka mempunyai pertimbangan lain atas nama itu. Orang yang sedang dihadapinya agaknya benar-benar telah bertemu dengan Kiai Jalawaja dan bahkan mungkin yang telah membunuhnya.

Tetapi bagaimana pun juga kedua orang itu harus mencoba mempertahankan hidupnya. Dengan demikian, betapa hatinya dicengkam oleh kecemasan, mereka masih bertahan terus. Bahkan mereka telah mencoba untuk mencari jalan keluar dari halaman itu.

“Jika kami mengetahuinya, maka kami tidak akan mengejarnya,” berkata salah seorang dari mereka di dalam hatinya.

Dalam pada itu, Ki Waskita masih saja dibakar oleh kemarahannya. Justru setelah ia melihat perempuan yang terluka itu menjadi lemah dan bahkan kemudian suaminyalah yang memeganginya agar tidak jatuh. Namun demikian, perempuan itu bersandar dengan mata tertutup di bahu suaminya yang duduk bersandar pintu.

Kemarahan Ki Waskita telah menghentakkannya sekali lagi. Ketika salah seorang dari kedua penyamun yang masih hidup itu berusaha melarikan diri, maka dengan serta-merta Ki Waskita meloncat menangkap lengannya. Dengan satu hentakkan orang itu terputar. Tetapi ternyata bahwa ia tidak menyerah begitu saja. Ketika tubuhnya berputar, maka tangannya pun telah mengayunkan pedangnya mendatar.

Ki Waskita bertindak cepat. Dengan kakinya ia menghantam siku orang itu. Demikian kerasnya, sehingga bukan saja senjata itu terlepas dan terdengar teriakan nyaring, tetapi siku orang itu pun telah terlepas pula sendinya.

Sebelum orang itu sempat berbuat apa pun juga, maka tangan Ki Waskita langsung melayang menghantam dagunya, sehingga kepala orang itu terangkat, namun kemudian tubuhnya bagaikan terlipat ketika tangan Ki Waskita yang lain menghantam perutnya.

Tak ada yang dapat menahannya lagi. Terhuyung-huyung ia jatuh tertelungkup. Namun belum lagi tubuhnya terbanting di tanah, sisi telapak tangan Ki Waskita telah menghantam tengkuknya. Hanya sekali orang itu sempat menggeliat. Kemudian ia pun mati menyusul kedua kawannya yang lain.

Tinggallah yang seorang dari antara keempat penyamun itu. Meskipun ia masih belum terluka dan bahkan seolah-olah sama sekali belum tersentuh tangan Ki Waskita, namun rasa-rasanya tulang-belulangnya telah remuk pula seperti kawan-kawannya yang terbaring mati.

Itulah sebabnya, ketika kemudian Ki Waskita mendekatinya, maka ia justru bagaikan telah lumpuh. Wajahnya yang garang menjadi pucat pasi.

Sebagai seorang penyamun yang justru telah berada di dalam lingkungan orang-orang yang merasa dirinya sedang memperjuangkan kejayaan masa Majapahit itu, ia sebenarnya bukanlah seorang pengecut. Ia pernah mengalami persoalan-persoalan yang menggetarkan jantung. Sentuhan maut telah sering terasa di tubuhnya.

Tetapi sekali ini ia benar-benar merasa gentar melihat orang yang menyebut dirinya Kiai Jalawaja itu. Meskipun kemudian ia tahu pasti bahwa nama itu tentu bukan yang sebenarnya.

Kematian sebenarnya bukanlah akhir yang menakutkan. Tetapi ada sesuatu yang tiba-tiba saja telah melumpuhkan keberaniannya untuk melawan. Orang yang mengaku bernama Kiai Jalawaja itu mula-mula telah menghindari perkelahian meskipun ia memiliki kemampuan yang ternyata tidak terlawan oleh keempat orang kawan-kawannya. Itulah yang sebenarnya mulai mempengaruhi pikiran orang itu. Bahwa sebenarnya orang yang mengaku bernama Kiai Jalawaja itu memiliki lebih banyak ketahanan rohaniah di samping ketahanan jasmaniah.

Meskipun tidak dengan sadar, tetapi penyamun yang masih hidup itu merasakan tanpa dapat menyebut bentuk dan ujud di dalam hatinya, bahwa tidak pantas baginya untuk melanjutkan perlawanan terhadap orang yang sebenarnya telah menghindari benturan kekerasan itu.

Karena itu, jika ia kemudian melemparkan senjatanya, bukanlah semata-mata karena ia dicengkam oleh ketakutan untuk mengalami kematian, tetapi juga karena pengaruh sikap dan tingkah laku Ki Waskita yang kurang dipahaminya, tetapi dapat menyentuh perasaannya itu.

Ki Waskita pun tertegun melihat lawannya melontarkan senjatanya, sehingga karena itu sejenak ia termangu-mangu.

“Kau menyerah?” bertanya Ki Waskita.

“Aku menyerah, Kiai,” suara orang itu gemetar.

“Kau tidak mau mati seperti kawan-kawanmu?”

Orang itu termangu-mangu sejenak, seolah-olah ia sedang berbincang dengan dirinya sendiri. Baru sejenak kemudian ia menjawab sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak, Kiai. Aku tidak takut mati seperti kawan-kawanku. Tetapi ada ketakutan yang lain yang aku tidak mengerti. Karena itu, jika Kiai ingin membunuhku, bunuhlah aku. Tetapi tanpa aku mengerti maknanya, aku memang ingin mati tanpa melakukan perlawanan, karena aku menyadari bahwa sejak semula Kiai sudah menghindari perkelahian.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Ia memandang wajah orang itu dengan tajamnya. Ia melihat kejujuran memancar di sorot matanya yang buram di wajahnya yang pucat.

Namun karena itu, rasa-rasanya memang ada yang menahan hatinya. Ia tidak dapat mengabaikan perasaan iba yang tiba-tiba telah melonjak di sela-sela kemarahan yang meluap-luap di dadanya.

Sejenak Ki Waskita termangu-mangu. Namun ia bagaikan terbangun dari tidurnya, ketika ia mendengar suara merintih.

Ketika ia berpaling, dilihatnya perempuan yang luka di pundaknya itu telah menjadi semakin lemah bersandar pada suaminya.

Sekilas Ki Waskita justru bagaikan membeku. Namun kemudian ia pun segera meloncat mendekati, karena ia sadar, bahwa suami perempuan itu pun telah menjadi lemah pula, karena agaknya para penjahat itu telah menyakitinya.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita kepada laki-laki yang gemetar itu, “marilah kita bawa saja isterimu ini masuk.”

Laki-laki itu tidak menjawab. Tertatih-tatih ia berdiri. Namun ia tidak dapat berbuat lain kecuali membiarkan saja Ki Waskita mengangkat tubuh isterinya yang terluka.

Perlahan-lahan Ki Waskita meletakkan perempuan itu di pembaringannya. Kemudian ia pun berusaha dengan kemampuan yang ada padanya untuk mengobati lukanya yang untung tidak terlampau parah. Namun bagi perempuan itu, agaknya telah cukup mencengkam seluruh syarafnya.

Dengan dedaunan yang dikenalnya, Ki Waskita mengobati luka itu, sehingga perasaan pedih yang menyengat kulit, rasa-rasanya berangsur-angsur berkurang meskipun tidak lenyap sama sekali.

“Apakah di padukuhan ini ada dukun yang cukup baik?” bertanya Ki Waskita.

Laki-laki yang tubuhnya lemah dan gemetar itu menganggukkan kepalanya. Jawabnya terbata-bata, “Ya, ya, Ki Sanak.”

“Apakah kau dapat menyuruh salah seorang pembantumu untuk memanggilnya.”

Orang itu mengangguk. Namun keragu-raguan nampak di wajahnya.

“Cepatlah, agar ia segera dapat mengobati luka isterimu dan engkau sendiri. Sementara itu, biarlah anak-anak muda padukuhan ini membantuku menyelenggarakan mayat para penyamun yang terbunuh itu.”

Laki-laki itu pun kemudian tertatih-tatih memanggil seorang pembantunya yang juga ketakutan di belakang. Kemudaan disuruhnya pembantunya itu memanggil dukun yang pandai.

“Panggil juga anak-anak muda. Kau dapat mengatakan apa yang telah terjadi. Penjahat-penjahat itu telah terbunuh di halaman rumah ini,” sambung Ki Waskita.

Orang itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun meninggalkan rumah itu. Ketika ia lewat di halaman, maka ia telah memalingkan wajahnya dan berlari melintas.

Ki Waskita yang kemudian teringat kepada seorang penyamun yang masih hidup, segera melangkah ke halaman pula. Namun ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat penyamun itu masih tetap berdiri di tempatnya.

Sejenak Ki Waskita termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kau tidak lari? Kudamu masih tertambat di tempatnya.”

Orang itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku tahu bahwa itu tidak akan berguna.”

“Kenapa?”

“Aku akan berputaran saja di bulak karena kekuatan tenungmu. Kemudian akan terdampar kembali di halaman ini.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Aku tidak menenungmu demikian. Kau dapat lari ke mana pun juga kau kehendaki. Tetapi jika demikian, mungkin aku memang akan mengejarmu dan membunuhmu di mana pun aku dapat menyusulmu.”

“Sudah aku katakan. Kematian tidak menakutkan lagi bagiku. Aku memang sudah kehilangan kesempatan itu tanpa belas kasihanmu.”

Ki Waskita tidak menjawab lagi. Namun ia masih termangu-mangu sejenak di tempatnya.

Baru beberapa saat kemudian ia berkata, “Minggirlah. Jangan menakut-nakuti orang yang akan datang ke halaman ini. Duduklah di pojok rumah itu dan jangan berbuat apa-apa.”

Orang itu bagaikan telah kehilangan kepribadiannya. Ia melangkah ke sudut rumah dan duduk di atas tangga tanpa menjawab sepatah kata pun.

Dalam pada itu, maka pembantu yang harus memanggil seorang dukun dan sekaligus anak-anak muda untuk membantu Ki Waskita menyelenggarakan tiga sosok mayat di halaman itu, dengan suara yang gagap mulai berbicara kepada beberapa orang anak muda yang berkerumun di kejauhan. Mula-mula anak-anak muda itu merasa segan untuk mendekat, karena mereka tidak tahu pasti apa yang telah terjadi. Tetapi pembantu itu meskipun kurang meyakinkan, namun memberikan sedikit gambaran dari peristiwa yang sebenarnya.

“Jadi orang itu benar-benar berhasil membunuh tiga orang sekaligus?” bertanya salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Ya. Tidak ada lagi yang dapat kalian cemaskan. Orang yang telah berhasil membunuh ketiga orang itu masih berada di sana. Jika timbul kesulitan, maka ia akan dapat menyelesaikannya.”

Anak-anak muda itu masih tetap ragu-ragu. Tetapi pembantu itu berkata, “Baiklah jika kalian ragu-ragu. Tunggulah aku di sini. Aku akan memanggil dukun di sudut padukuhan itu, untuk mengobati luka-luka. Kita nanti akan bersama-sama memasuki halaman itu.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Namun ke-udian salah seorang dari mereka berkata, “Baiklah. Aku menunggumu.”

Dengan tergesa-gesa orang itu pun kemudian pergi ke sudut padukuhan memanggil seorang dukun tua yang memiliki pengetahuan tentang berbagai macam obat-obatan. Ketika orang itu kembali bersama dukun tua itu, maka anak-anak muda itu pun mengikutinya pula.

Betapa pun keragu-raguan masih mencengkam hati tetangga-tetangga di sekeliling rumah yang menjadi ajang perkelahian itu, namun mereka pun kemudian berdatangan pula. Apalagi setelah mereka mengetahui bahwa orang yang telah berhasil membinasakan ketiga orang penjahat itu masih ada di halaman itu pula.

Beberapa orang di antara para tetangga itu sempat bertanya tentang beberapa hal kepada pemilik rumah yang masih lemah itu. Namun setelah minum beberapa teguk air dingin dan telur mentah bercampur madu lebah yang diberikan oleh dukun di padukuhan itu, rasa-rasanya badannya menjadi segar.

Ketika dukun itu sedang berusaha mengobati isteri pemilik rumah yang terluka dengan obat-obatan yang lebih baik, maka beberapa orang laki-laki telah membantu Ki Waskita membersihkan halaman dan menyingkirkan tiga sosok mayat yang sudah membeku.

“Ketiganya harus segera dikuburkan,” berkata Ki Waskita.

“Apakah kawan-kawan mereka akan datang di kesempatan lain?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi tidak ada di antara mereka yang dapat melaporkan kepada pimpinannya, bahwa ketiga orang kawannya terbunuh di sini. Seandainya mereka mendengar pula berita kematian itu, maka kalian dapat menyebut bahwa akulah yang telah membunuh mereka, dan aku adalah seorang prajurit dari Mataram.”

“O,” beberapa orang saling berpandangan.

“Kalian jangan cemas. Aku akan memberitahukan hal ini kepada Ki Gede Menoreh. Ki Gede tentu akan menaruh perhatian terhadap peristiwa ini. Bukankah Menoreh mempunyai pengawal yang kuat pada saat-saat lampau. Aku yakin, bahwa dari padukuhan ini, meskipun terletak di ujung Tanah Perdikan, tentu mempunyai beberapa orang anak-anak muda yang ikut menjadi pasukan pengawal.”

“Tetapi mereka berada di padukuhan induk,” jawab salah seorang dari mereka.

“Tentu masih ada anak-anak muda yang lain. Tetapi jika perlu aku dapat mengusulkan agar para pengawal, setidak-tidaknya yang berasal dari padukuhan ini, untuk beberapa hari diperkenankan pulang umuk menjaga kampung halamannya.”

Orang-orang yang mendengar keterangan Ki Waskita itu mengangguk-angguk. Jika benar-benar demikian, maka mereka akan menjadi lebih tenang, sementara anak-anak muda di padukuhan itu sendiri sempat mempersiapkan diri.

Dengan bantuan para tetangga dan anak-anak muda, maka semuanya pun segera dapat diselesaikan. Ketiga sosok mayat itu telah dibawa ke kuburan untuk dikubur sewajarnya. Sementara Ki Waskita telah mengambil dan menyarungkan kerisnya di wrangkanya.

“Jika Rudita melihat bekas darah di kerisku,” katanya di dalam hati. Namun dalam keadaan yang demikian, ia tidak dapat mengambil langkah yang lain. Ia sudah mencoba menghindari kekerasan. Tetapi dalam keadaan yang masih serba kalut di dalam pergeseran peradaban manusia, maka ternyata bahwa ia masih harus membasahi senjatanya dengan darah sesama. Sesama manusia.

Meskipun demikian, persoalan itu masih tetap bergejolak di dalam hati Ki Waskita, bahkan untuk waktu yang lama.

Dengan hati yang buram Ki Waskita pun kemudian merasa wajib untuk minta maaf kepada penghuni rumah itu suami isteri. Ia telah menimbulkan persoalan dan bahkan telah meneteskan darah.

“Aku sama sekali tidak menduga, bahwa orang-orang itu adalah orang yang buas dan sama sekali tidak mengenal perikemanasiaan,” berkata Ki Waskita.

“Sudahlah, Ki Sanak,” berkata penghuni rumah itu, “jangan menyalahkan diri sendiri. Tidak ada orang yang menduga, bahwa akan terjadi malapetaka seperti ini. Kita tentu tidak menduga pula, bahwa ada orang yang berkelakuan seperti itu.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan menyampaikan semuanya ini kepada Ki Gede Menoreh.”

“Apakah Ki Sanak akan pergi ke padukuhan induk dan singgah di rumah Ki Gede?”

“Ya. Aku memang akan pergi ke sana.”

Penghuni rumah itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan Ki Gede benar-benar akan mengijinkan beberapa orang anak muda dari padukuhan ini yang menjadi pengawal Tanah Perdikan Menoreh untuk pulang beberapa hari. Meskipun seperti yang Ki Sanak katakan, bahwa mungkin tidak akan ada seorang pun yang akan datang untuk menuntut balas, namun kehadiran mereka akan dapat memberikan ketenangan di hati kami.”

“Aku akan menyampaikannya kepada Ki Gede,” jawab Ki Waskita, “dan agaknya Ki Gede tidak akan berkeberatan.”

Penghuni rumah itu mengangguk-angguk. Namun wajahnya yang pucat sudah mulai dijalari warna merah. Dan bahkan ia pun sudah dapat membantu merawat isterinya yang luka.

Sejenak kemudian Ki Waskita pun segera minta diri untuk meneruskan perjalanan. Ia akan berjalan dengan seorang kawan. Tidak lagi seorang diri.

Seorang dari keempat penyamun yang masih hidup itu, telah menumbuhkan kebencian yang tidak ada taranya. Tetapi anak-anak muda di padukuhan itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, karena orang itu seolah-olah justru mendapat perlindungan dari Ki Waskita.

Namun sebelum Ki Waskita meninggalkan padukuhan itu, Ia pun berpesan, “Masih ada tiga ekor kuda di sini. Tiga ekor kuda itu akan dapat menumbuhkan persoalan jika ada seseorang yang mengenalinya. Karena itu, hadapkan tiga ekor kuda itu ke hutan rindang adbmcadangan.wordpress.com di kaki bukit. Kemudian lecutlah mereka, agar mereka berlari meninggalkan tempat ini. Mungkin mereka akan tersesat dan diketemukan oleh orang lain, tetapi di tempat yang jauh, sehingga tidak menjadi daerah jelajah orang-orang semacam keempat orang penyamun ini.”

Orang-orang padukuhan itu ternyata dapat mengerti maksud Ki Waskita. Mereka tidak mau terlibat persoalan di luar kemampuan mereka justru karena ketiga ekor kuda itu.

Karena itulah, maka ketiga ekor kuda itu pun kemudian dilepaskannya sambil mengejutkannya, agar mereka berlari ke arah yang tidak diketahui. Seperti yang dikatakan Ki Waskita, meskipun seandainya ketiga ekor kuda itu kemudian diketemukan oleh seseorang, namun jaraknya di tempat itu tidak akan disentuh oleh kawanan penyamun yang sedang mencari perbekalan untuk sebuah gerombolan yang besar, yang mempunyai cita-cita yang jauh lebih besar dari sekedar mengumpulkan harta benda itu saja.

Dalam pada itu Ki Waskita sendiri melanjutkan perjalanannya ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh bersama seorang di antara keempat penyamun itu.

Tetapi seperti yang telah diduga oleh Ki Waskita, orang itu pun tidak banyak mengetahui tentang usaha para pemimpinnya.

“Kami memang mengetahui bahwa Kiai Kalasa Sawit ada di lereng sebelah Timur Gunung Merapi. Bahkan kami pun sudah mendengar berita apa yang telah terjadi. Kiai Kalasa Sawit telah terdesak dari Tambak Wedi dan hilang di lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sedangkan Kiai Jalawaja telah terbunuh pula di pertempuran itu.”

“Menurut pendengaranmu, siapakah yang lebih penting. Kiai Kalasa Sawit atau Kiai Jalawaja?”

“Aku tidak dapat mengatakannya,” jawab penyamun itu, “tetapi keduanya mempunyai kedudukan tersendiri di dalam gerombolan masing-masing.”

“Dan kau? Siapa namamu dan siapa nama pemimpinmu? Maksudku, pemimpin gerombolanmu yang setingkat dengan Kiai Kalasa Sawit dan Kiai Jalawaja?”

Orang itu termangu-mangu.

“Siapa namamu?” desak Ki Waskita.

“Marta Beluk,” jawab orang itu.

Ki Waskita mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia mengulangi, “Marta Beluk. Kenapa kau disebut Beluk? Mungkin hidungmu yang bengkok seperti burung Gagabeluk itu.”

Orang itu mengangguk kecil. Jawabnya, “Mungkin begitu.”

“Tetapi kau belum menjawab. Siapakah nama pemimpinmu yang setingkat dengan Kiai Kalasa Sawit?”

Orang itu tidak segera menjawab.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “kau sudah berada di tanganku. Kau tentu tidak akan dapat ingkar lagi. Lebih baik berterus terang daripada kau harus mengalami perlakuan yang kurang baik. Mungkin di Tanah Perdikan Menoreh, mungkin di Mataram.”

“Apakah aku akan kau bawa ke Mataram?”

Ki Waskita memandang orang itu sejenak, lalu dengan nada yang dalam ia bertanya, “Apakah kau berkeberatan?”

Orang itu menundukkan kepalanya.

“Orang-orang Mataram bukannya orang yang buas seperti yang barangkali kau bayangkan. Mungkin mereka memerlukan keteranganmu. Mungkin juga satu dua orang pemimpin pengawal akan mencoba memaksamu berbicara. Karena itu, berbicaralah terus terang. Mereka akan memperlakukan kau dengan baik.”

Orang itu menarik nafas dalam-dalam.

“Apalagi jika kau mau mengatakan, siapakah pemimpinmu, dengan siapa pemimpinmu itu berhubungan.”

“Aku adalah pengikut yang paling rendah tingkatnya,” jawab orang itu, “yang paling aku kenal adalah pemimpinku yang tadi terbunuh. Pemimpin kelompokku yang setingkat dengan Kiai Kalasa Sawit adalah orang yang tidak banyak diketahui oleh orang-orang terendah seperti aku ini.”

“Tetapi kau mengetahui namanya.”

“Ya.”

“Siapa?”

“Ki Sanak. Apakah nama itu mempunyai arti yang penting bagimu dan bagi Mataram? Aku adalah orang yang paling bodoh. Tetapi aku menganggap bahwa nama seseorang dapat berganti sepuluh kali dalam satu hari. Atau seseorang dapat mempergunakan lima enam nama sekaligus. Di satu tempat ia mempergunakan nama yang satu, di lain tempat nama yang lain lagi.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 04:00  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-93/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tengkiu…………
    Ijin Kie…..
    Moga ga putus lg….

  2. Dengan senang hati bonusnya mohon ijin diunduh.
    terima kasih

  3. Benar ini hari baik, bonus sampun diunduh…

  4. Matur suwun Ki GeDe,,,walau baru absen dan belum sempat antri tapi sudah dapat kitab 93….matur suwun bener2 hari baik nich………

  5. Rudita…
    ada yg agak aneh ttg sikapnya eh jaln hidupnya..
    rasanya pada buku sebelumnya saat Rudita datang di Menoreh dan bersikap petantang petenteng thd para pemuda Perdikan Menoreh ada dia berucap menyombongkan nama Guru olah Kanuragan nya ya??… Kok di buku2 lanjut sama sekali ga disinggung mengenai kebisaan Rudita soal dasar2 olah kanuragan…..
    Mohon pencerahan di kala mendung ini…

  6. Saya setuju. Malem satu suro (saya lebih suka menyebut Malam 1 Muharam) atau Minggu 28, Desember 2008. Kebetulan saya off. Gimana kalau pilih kedai di kawasan Kalibata? Ngumpul di Stasiun atau Mal, baru pilih lokasi wedang serenya? Saya tunggu responsnya sampai Sabtu (27 Des 08) pukul 21.00 WIB. Tujuan utama: membantu babat alas supaya lebih cepat berdiri Kerajaan Mataram (kitab asli, scan).

  7. absen para kadang sedaya,sangsaya ndalu sangsaya nglangut……………..punapa kitab 93 saestu sampun saged dipun unduh?kok kula dereng kepanggih sandi nipun

    matur nuwun

    NB. Agung sedayu mau dgn sekar mirah karena memang cinta,dan dia sadar sepenuhnya bhw memang no bodi’s perfect,disamping kecantikan dan mimpi2 kemuliaan yg makantar kantar ada sisi lain yg memang menunjukan kelemahan seorang sekar mirah.Agung Sedayui pun menyadari kelemahan dirinya disamping kelebihannya.Akan tetapi,Agung Sedayu memiliki keyakinan bhw pd saatnya bisa membimbing sekar mirah mjd seorang isteri yg berbhakti………….demikian lanjutan ceritanya

  8. nyuwun pitulung para kadhang ingkang sampun saged ngasta kitab 93………..paringana kula ancer 2 lan tata caranipun ingkang kedah kula lampahi,punapa kedah siyam ,patigeni,ngrowot,mutih,punapa puasa ngidang?

    Ki Gede,nyuwun palilah lan pangandikan

  9. bonus hari baik sampun tuntas Ki GD, nenggo bonus 10 kitab kangge suroan.

  10. nuwun sewu Ki GD & para sesepuh..
    numpang ngantri kitab …

    matur sembah nuwun..

  11. Wah maturnuwun, mboten sah ribet sampun pikantuk.

  12. para cantrik sekalian….

    nyari rontal no 93 (versi djvu) dimana ya???? udah ngubek2 halaman depan, belakang, samping, kok gak ketemu. buat koleksi nih….

    mohon petunjuk. matur tengkyu

  13. kok ga’ ada ceritanya sih padahal mau dibaca lho
    ku sangat suka buku api di bukit menoreh

    S apanya yang tidak bisa dibaca mbakyu ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: