Buku 93

BERIKUT VERSI PROOF

KI WASKITA tidak dapat berbuat lain kecuali menarik kekang kudanya dan berhenti beberapa langkah di hadapan orang berkuda yang telah lebih dahulu berhenti itu.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi, Ki Sanak?” bertanya Ki Waskita kepada orang yang belum dikenalnya itu.

Orang itu memandang Ki Waskita dengan tajamnya. Kemudian katanya, “Tentu, Ki Sanak. Mungkin kita memang belum pernah bertemu. Tetapi perjuangan kami memerlukan bantuan siapa pun juga. Juga orang-orang yang belum aku kenal.”

Ki Waskita mengerutkan keningnya. Namun, dadanya serasa menjadi semakin bedebaran ketika ia mendengar langkah kaki kuda di belakangnya. Ketika ia berpaling, dilihatnya tiga orang berkuda yang baru saja berpapasan itu ternyata berpacu kembali menuju ke arahnya.

Ki Waskita mencoba menahan gejolak jantungnya. Dengan lirih ia bertanya, “Apakah mereka kawan-kawanmu, Ki Sanak.”

“Ya.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Jika demikian aku mengerti. Kalian ingin menjebak aku.”

“Tepat. Tetapi bukan maksud kami untuk berbuat jahat.”

“Katakanlah, apa maksudmu sebenarnya.”

Orang itu tidak segera menjawab. Tetapi ia menunggu sejenak sehingga kuda yang datang dari arah yang lain itu menjadi semakin dekat dan berhenti pula beberapa langkah di belakang Ki Waskita.

“Ki Sanak,” berkata orang yang berkuda seorang diri, “sudah aku katakan. Aku memerlukan bantuan siapa pun juga dalam perjuangan kami menegakkan kejayaan tanah kita yang tercinta ini.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Sekilas teringat olehnya beberapa orang yang telah menghentikannya di jalan antara Jati Anom dan Sangkal Putung. Orang-orang itu juga mengatakan, bahwa mereka memerlukan bantuan untuk perjuangan mereka.

“Apakah kau mengerti?” desak orang berkuda itu.

“Aku tidak mengerti, Ki Sanak,” berkata Ki Waskita, “apakah yang kau maksud dengan perjuangan untuk menegakkan kejayaan tanah kita ini?”

“Pajang tidak dapat lagi melakukan tugasnya sebagai sebuah kerajaan yang memiliki kekuasaan yang bulat di atas tanah ini.”

“Kenapa?”

“Karebet anak Tingkir itu sama sekali tidak memikirkan kepentingan pemerintahannya. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di daerah kekuasaan Pajang. Tetapi ia lebih suka mengumpulkan perempuan-perempuan cantik untuk kesenangannya sendiri meskipun umurnya bertambah tua.”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Lalu, “Bagaimana dengan puteranya, Pangeran Benawa?”

“Uh. Ia lebih lemah dari seorang perempuan. Meskipun ia sakti dan memiliki ilmu yang hampir setingkat dengan ayahnya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia lebih senang mengurung dirinya di dalam bilik dan barangkali bercermin di wajah air jambangan yang bening dan dengan asyiknya menghias wajahnya yang lebih mirip dengan wajah seorang perempuan yang cantik. Tetapi lebih condong dapat dikatakan, ia sangat malu dengan kelakuan ayahnya yang rakus terhadap perempuan.”

Ki Waskita termangu-mangu. Tetapi ia masih bertanya, “Tetapi aku mendengar bahwa puteranya yang lain, maksudku putera angkatnya, adalah seorang prajurit yang linuwih. Ia telah diwisuda menjadi Senopati Ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram. Bahkan ia telah menerima sepasang pusaka yang menjadi pertanda jabatannya.”

“Persetan,” geram orang itu, “bukankah yang kau maksudkan adalah Sutawijaya?”

“Mungkin. Maksudku adalah Senapati Ing Ngalaga di Mataram itu.”

“Ia adalah orang yang paling berbahaya bagi pulihnya kekuasaan yang sejati di atas Tanah ini. Karena itu Mataram harus dimusnahkan. Sesudah atau sebelum Pajang.”

“Jika demikian, apakah kalian akan memberontak terhadap kekuasaan Kanjeng Sultan, dan kekuasaan limpahannya kepada Senapati Ing Ngalaga di Mataram?”

“Tepat. Dan kami memerlukan bantuan bagi perjuangan kami. Karena perjuangan kami memerlukan apa saja.”

Dada Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena dengan demikian akan berarti kekerasan. Tetapi juga karena ia menduga, bahwa perbuatan semacam itu tidak hanya dilakukan atasnya saja dan tidak akan terjadi lagi. Tetapi perubahan semacam yang terjadi itu akan terjadi lagi atas siapa pun juga.

“Tanah Perdikan Menoreh ternyata telah mulai dijamah oleh kegelisahan lagi,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

“Kenapa kau termenung saja, Ki Sanak?”

Ki Waskita terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Aku sedang memikirkan,” jawab Ki Waskita.

“O, aku akan menunggu sejenak. Mungkin kau baru menghitung, berapa banyak kau akan membantu kami.”

Ki Waskita tidak segera menjawab. Kembali ia membayangkan perbuatan semacam itu yang mungkin terjadi di mana-mana. Bukan saja di daerah yang dekat dengan Mataram atau daerah yang akan menjadi ajang persiapan untuk mempertemukan kedua pusaka yang hilang dari Mataram, tetapi jaring-jaring yang mereka pasang tentu sudah menebar sampai ke tempat yang jauh. Bahkan mungkin ke daerah Pesisir Lor dan Bang Wetan sudah terjadi pula kerusuhan-kerusuhan semacam ini.

“Tetapi yang lebih gawat lagi, bahwa kali ini telah mulai terjadi di pinggir tlatah Menoreh, justru selagi Menoreh akan sibuk dengan perelatan perkawinan Pandan Wangi,” katanya di dalam hati pula.

“Ki Sanak,” berkata Ki Waskita kemudian, “aku masih belum begitu jelas, apakah yang sebenarnya kalian perjuangkan sehingga kalian telah berani mengangkat senjata dan memberontak terhadap Pajang? Jika sekiranya perjuangan kalian berlandaskan kebenaran, apakah kalian merasa cukup kuat untuk melawan Sultan Hadiwijaya yang tidak ada duanya di muka bumi ini?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Kau ternyata terlalu banyak bicara dan terlalu banyak yang ingin kau ketahui. Tetapi baiklah. Kau pantas untuk mengetahui bahwa kekuatan kami adalah kekuatan yang tidak akan terlawan oleh Pajang. Kami beralaskan kekuatan beberapa kadipaten yang segan menundukkan kepalanya di bawah kaki Sultan Hadiwijaya yang hanya mengagungkan kamuktennya sendiri. Dan kami pun tidak akan mau menyembah Sutawijaya yang tidak lebih dari anak Ki Gede Pemanahan, sedang kami sendiri mempunyai sesembahan yang langsung keturunan Majapahit.”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Apakah dengan demikian bukan berarti bahwa kalian akan menggetarkan sendi-sendi kehidupan yang tenang di atas Pajang dan Mataram sekarang ini dengan pemberontakan itu?”

Orang itu tertawa pula. Katanya, “Sebenarnya tidak seorang pun yang dapat menuduh kami melakukan pemberontakan. Tetapi pada suatu saat nanti, akan ternyata bahwa kamilah yang sebenarnya memang berhak atas kekuasaan di Tanah ini. Jika dalam masa-masa peralihan itu terjadi kegoncangan tata kehidupan, adalah wajar sekali. Goncangan yang demikian memang diperlukan sebagai suatu masa penyaringan. Siapakah yang tegak di belakang kami akan tetap berdiri, tetapi siapa yang menentang kami akan terbabat seperti batang ilalang.”

Namun, Ki Waskita kemudian menggelengkan kepalanya, “Aku tidak sependapat dengan kalian, Ki Sanak. Meskipun aku juga kecewa bahwa Sultan Hadiwijaya tidak lagi meneruskan naluri keperwiraan dan sifat-sifat kasatria yang sejati, namun itu bukan berarti bahwa Pajang tidak berhak lagi untuk tetap berdiri tegak. Memang mungkin perlu ada beberapa perbaikan. Tetapi itu akan dapat dilakukan dengan cara yang lebih baik dari cara-cara yang akan kalian tempuh.”

Orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Aku sudah menduga, bahwa kau akan sampai pada kesimpulan itu. Tetapi baiklah aku memperingatkan, bahwa aku tidak mempunyai pilihan lain pada saat-saat semacam ini. Menilik pakaianmu, maka kau tentu dapat memberikan banyak kepada kami. Pendok kerismu agaknya terbuat dari emas. Timang yang kau pakai bertatahkan permata dan cincin di jarimu itu tentu terbuat dari batu permata yang berharga pula.”

Ki Waskita ragu-ragu sejenak. Setiap kali membayang kericuhan yaug mulai menjalari Tanah yang sedang sibuk dengan persiapan hari perelatan perkawinan.

“Ki Sanak,” Ki Waskita pun bertanya, “aku adalah orang yang hampir setiap hari melalui jalur jalan ini. Tetapi baru kali ini aku bertemu dengan kalian di pinggir tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Apakah kalian sudah lama melakukan hal semacam ini di sini?”

“Untuk pertama kalinya kami mencari sumber dana perjuangan kami di tanah ini. Agaknya sebelumnya Tanah Perdikan Menoreh adalah tanah yang tenang dan tenteram. Tetapi sekarang menyesal sekali, bahwa aku telah menggoyahkan ketenteraman itu. Ketahuilah, bahwa aku tidak akan tetap berada di satu tempat. Tetapi aku dan beberapa kelompok kawan-kawanku yang lain, akan menyusuri semua daerah Pajang yang terbentang dari sisi Barat sampai ke sisi Timur.” Orang itu berhenti sejenak, lalu, “Agaknya sudah cukup sesorahku. Sekarang, aku minta maaf, bahwa kami akan meninggalkan kau setelah kau menyerahkan dana yang kami perlukan.”

“Apakah kau akan melakukan dengan kekerasan jika aku tidak memberikannya?” bertanya Ki Waskita.

Orang itu menjadi heran. Katanya, “Apakah mungkin kau tidak dapat memperhitungkan keadaan? Kami berempat dan kau hanyalah seorang diri meskipun nampaknya kau adalah orang tua yang berani.”

Ki Waskita memandang orang yang berada di hadapannya. Kemudian tiga orang berkuda yang semula berpapasan, tetapi kemudian telah menyusulnya kembali.

Agaknya mereka adalah orang-orang yang mendapat kepercayaan dari pimpinannya untuk melakukan tugasnya. Tiga di antara empat orang itu ternyata memelihara kumis, sedang yang seorang lagi berwajah bersih dan bermata tajam. Umurnya adalah yang paling muda dari keempat orang itu.

“Cepat,” berkata orang yang menghentikannya, “jika kami kehilangan kesabaran, maka kami akan mengambil sendiri dari padamu, Ki Sanak.”

Ki Waskita termangu-mangu. Menilik keadaan lahiriahnya, maka ia tidak dapat digetarkan oleh keempat orang itu. Jika ia mempergunakan segenap ilmunya, maka ia akan dapat membunuh keempatnya.

Tetapi dalam pada itu, sekilas terbayang wajah anaknya, Rudita. Setiap percakapan dengan anak itu, rasa-rasanya ia dihadapkan pada sebuah cermin yang menunjukkan kelemahan-kelemahannya sebagai seorang manusia yang berbakti kepada Yang Menciptakannya.

“Kekerasan memang bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persoalan,” katanya di dalam hati, “tetapi bagaimana jika kekerasan itu justru terarah kepadaku?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Jika pertanyaan itu tumbuh di hati anaknya, maka ia akan menjawab, “Biarlah orang lain melakukannya.”

Tetapi seperti yang diakuinya sendiri, bahwa tidak ada orang yang sempurna. Rudita pun memiliki kelemahan meskipun kadarnya lebih rendah dari ayahnya. Rudita berusaha untuk memahami ilmu yang dapat melindungi dirinya dari tindak kekerasan. Sedangkan Ki Waskita berbuat demikian pula. Tetapi Ki Waskira melindungi dirinya dari kekerasan dengan kekerasan pula. Itulah yang tidak diakukan oleh Rudita.

“He, kenapa kau membeku,” bentak orang yang berkuda di hadapannya.

Ki Waskita sekali lagi menarik nafas. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Baiklah, Ki Sanak. Aku akan menyerahkan apa yang aku punyai.”

Orang itu tertawa.

“Ternyata kau cukup bijaksana. Nah, turunlah dari kudamu dan serahkanlah kepada kawan-kawanku. Aku akan tetap berada di atas kudaku.”

“Kenapa aku harus turun?”

“Kau dengar perintahku. Turunlah dan serahkan semuanya yang kau punyai kepada orang-orangku.”

“Semuanya?”

“Ya.”

“Kau sudah berubah. Bukankah kau minta menurut keikhlasan dariku. Sekarang kau menuntut semuanya.”

“Yang berlaku adalah perintahku yang terakhir. Dan itu menyebutkan, bahwa semuanya akan kami ambil daripadamu.”

Ki Waskita tidak dapat membantah lagi. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia pun meloncat turun dari kudanya, diikuti oleh ketiga orang berkuda yang semula berpapasan di tengah bulak panjang itu.

“Ambillah kerismu, ikat pinggangmu lengkap dengan timangnya, dan kampil di pelana kudamu.”

Ki Waskita tidak menjawab. Namun sejenak ia menebalkan tatapan matanya ke sekitarnya. Ternyata bulak itu sepi. Tidak banyak orang yang berada di sawahnya. Jika ada satu dua orang, mereka berada jauh dari jalan yang lengang itu.

Dengan ragu-ragu Ki Waskita memberikan apa yang diminta oleh orang-orang yang mencegatnya itu. Ikat pinggang, keris dan wrangkanya, kampil berisi uang, dan bahkan cincinya sekali.

Orang yang masih tetap berada di punggung kudanya itu tertawa. Katanya, “Terima kasih. Kau adalah orang yang paling banyak memberikan sumbangan sampai hari ini. Di hari-hari yang lalu, aku hanya menerima sumbangan yang kurang berarti. Sekarang kau adbmcadangan.wordpress.com memberikan cukup banyak. Kami tidak akan melupakan kebaikan hatimu. Jika kelak kerajaan Majapahit telah berdiri seperti seharusnya, kau akan menerima bagianmu sesuai dengan sumbangan yang kau berikan.” Ia berhenti sejenak, lalu, “He, siapakah namamu dan dimana rumahmu?”

“Apakah itu perlu?”

“Tentu. Aku akan mencarimu kelak. Aku sendirilah yang akan menyerahkan bagianmu kelak. Bahkan mungkin kau akan diangkat menjadi demang, atau kepala Tanah Perdikan di Menoreh ini menggantikan Argapati yang tentu harus disingkirkan.”

“Namaku Ki Jalawaja.”

“He,” wajah orang itu menjadi merah padam, dengan nada yang bergetar ia berkata, “Kau bergurau.”

“Aku tidak bergurau.”

“Ki Jalawaja telah meninggal di lereng sebelah Timur Gunung Merapi.”

Dada Ki Waskita-lah yang kemudian berdesir. Ternyata berita kematian Ki Jalawaja telah tersebar di antara mereka. Bahkan mungkin telah diketahui oleh setiap orang di dalam lingkungan mereka.

“Apakah orang-orang yang berada di Padepokan Tambak Wedi itu sudah bertemu dan menyatukan diri dengan orang-orang yang membawa songsong menyeberangi Kali Praga?” bertanya Ki Waskita di dalam hatinya.

Tetapi ia tidak sempat memikirkannya karena sekali lagi ia mendengar orang berkuda itu membentak, “Jawab. Dari mana kau mengenal nama Ki Jalawaja?”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Dipandanginya wajah orang-orang berkuda yang garang itu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Kenapa kau bertanya dari mana aku mengenal nama itu? Namaku memang Jalawaja. Apakah aneh? Atau barangkali ada orang lain yang bernama sama tetapi sudah lama meninggal?”

Orang berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian menarik nafas panjang, “Apakah mungkin nama itu serupa?”

“Memang mungkin sekali,” sahut Ki Waskita, “aku sudah mengenal seorang yang namanya mirip namaku.”

“Sebutkan orang itu.”

“Tetapi masih selisih sedikit, karena namanya bukannya Jalawaja, tetapi Sisikwaja.”

Orang berkuda itu memandang Ki Waskita dengan tajamnya. Lalu katanya, “Baiklah. Untuk sementara aku percaya bahwa namamu Jalawaja. Nama yang sama dengan seorang pimpinanku yang memang sudah meninggal.”

“Kenapa ia menjnggal?” bertanya Ki Waskita.

“Jangan banyak cakap. Setiap orang akan meninggal. Juga Kiai Jalawaja itu meninggal. Kau pun akan meninggal pula pada suatu saat apa pun sebabnya.”

Ki Waskita mengangguk. Gumamnya, “Ya. Setiap orang akan kembali ke asalnya. Itulah sebabnya, maka selama hidup yang pendek ini kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu. Sebab jika kematian itu tiba, dan kita belum siap, maka semuanya akan terlambat. Padahal waktu mempersiapkan diri itu rasa-rasanya begitu pendeknya.”

“Diam,” tiba-tiba orang berkuda itu membentak, “kau mau berkhotbah tentang kematian?”

“Tidak. Tidak, Ki Sanak,” desis Ki Waskita, “aku hanya menirukan saja nasehat orang tuaku dahulu.”

“Tetapi kau tidak perlu mengucapkannya di sini. Aku muak mendengarnya.”

“Baik, baik, Ki Sanak. Nasehat semacam itu memang kadang-kadang seperti cermin yang dapat menunjukkan cacad di wajah kita.”

“Diam,” orang itu berteriak, “jika kau mengulanginya sekali lagi aku bunuh kau, meskipun kau sudah memberikan dana yang cukup kepada kami.”

Ki Waskita mengangguk dalam-dalam. Katanya tergagap, “Baik. Baik, Ki Sanak. Aku tidak akan mengatakannya lagi.”

“Sekarang pergilah. Kelak aku akan mencari seseorang yang bernama Ki Jalawaja. Mungkin kau beruntung mendapatkan imbalan dari dana yang kau berikan sekarang. Tetapi mungkin kau akan aku gantung kelak karena khotbahmu itu.”

Ki Waskita tidak menjawab lagi. Dengan ragu-ragu ia pun meloncat ke punggung kudanya. Dengan suara tertahan-tahan ia berkata, “Apakah aku boleh lewat?”

“Pergilah,” orang berkuda itu tiba-tiba saja tertawa, “ketika mula-mula kau bersikap seperti seorang kesatria, aku mengira kau adalah seorang tua yang berani. Tetapi ternyata kau tidak lebih dari seorang yang sangat sombong dan pengecut. Pergilah. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi.”

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menggerakkan kendali kudanya. Perlahan-lahan kudanya mulai bergerak dan meninggalkan tempat itu.

Demikian Ki Waskita melampaui orang berkuda di hadapannya, maka ia pun segera melecut kudanya dan berpacu secepat-cepatnya menyelusuri jalan di tengah bulak panjang itu.

Tiba-tiba saja orang-orang itu tertawa meledak. Mereka memandang debu yang berhamburan di belakang kuda Ki Waskita yang berlari kencang.

“Kita belum pernah mendapat hasil sebanyak ini dalam satu kali tepuk,” berkata orang berkuda yang agaknya pemimpin dari keempat orang itu.

“Ya, Ki Lurah,” sahut salah seorang yang masih belum berada di punggung kudanya, “menyenangkan sekali jika dalam usaha berikutnya kita akan bertemu dengan orang-orang kaya seperti Kiai Jalawaja ini.”

“Daerah ini memang memiliki banyak orang-orang yang cukup kaya, sehingga kita akan segera dapat mengumpulkan banyak sekali dana untuk perjuangan kita yang panjang.” Orang berkuda itu berhenti sejenak, lalu, “Marilah, kita kembali.”

Ketiga orang yang lain pun segera berloncatan ke atas punggung kuda masing-masing sambil membawa barang-barang rampasannya. Dengan wajah yang cerah, mereka pun segera melarikan kuda mereka ke arah yang berlawanan dengan Ki Waskita.
Sementara itu Ki Waskita sudah menjadi semakin jauh. Di luar sadarnya ia berpaling. Tetapi ia sudah tidak melihat lagi orang-orang yang telah menghentikannya.

“Aku memang tidak seikhlas Rudita,” ia berdesis, “dan ini adalah kekuranganku. Tetapi aku kira, aku belum siap untuk dapat berlaku seperti Rudita.”

Bersamaan dengan itu, maka orang-orang yang telah merampas barang-barang Ki Waskita itu pun telah memasuki hutan perdu di ujung daerah persawahan. Mereka mulai memperlambat derap kudanya, karena jalan menjadi agak sulit.

Dalam pada itu, Ki Waskita masih dicengkam oleh keragu-raguan atas sikapnya sendiri. Katanya di dalam hati, “Apakah sudah benar jika aku melepaskan keempat orang itu? Apakah itu bukan berarti benih persoalan di kesempatan lain?”

Sementara itu keempat orang yang memasuki hutan perdu itu mulai merasa terganggu. Rasa-rasanya barang-barang yang diperolehnya dari orang yang mengaku bernama Kiai Jalawaja itu tidak sewajarnya. Bahkan rasa-rasanya perlahan-lahan barang-barang itu menjadi kabur dan berubah menjadi asap. Hilang.

“Ki Lurah,” salah seorang dari mereka yang membawa kampil uang itu berteriak.

Hampir bersamaan meskipun tidak ada perintah, keempat orang itu menarik kekang kuda mereka, sehingga keempat ekor kuda itu berhenti dengan serta-merta. Bahkan ada di antaranya yang melonjak dan tegak di kedua kaki belakangnya.

“Apakah kita bermimpi,” pemimpin kelompok itu pun berteriak pula.

“Kampil uang itu lenyap begitu saja.”

“Ya. Keris itu pun hilang dengan sendirinya.”

“Kita sudah ditenungnya,” geram pemimpin kelompok itu dengan kemarahan yang bagaikan menyekat dada.

Wajah keempat orang itu menjadi tegang. Sejenak mereka bagaikan terpukau oleh peristiwa yang telah menggoncangkan hati itu.

“Orang itu tentu belum terlampau jauh,” tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak.

“Ya. Kita sudah ditipunya. Hanya kematiannyalah yang dapat menebus hinaan ini. Orang itu menyangka bahwa kami adalah orang-orang yang sangat dungu sehingga dengan mudah dapat ditipunya.”

“Ternyata ia tidak berhasil. Karena kita bukan orang kebanyakan itulah, maka barang-barang tipuan itu lenyap di tangan kita. Untunglah bahwa kita belum sampai ke induk pasukan dan menyerahkan barang-barang tipuan itu. Jika demikian kita tentu akan menjadi malu sekali, seolah-olah kita adalah orang-orang yang sangat dungu menghadapi tukang tenung yang licik itu.”

“Kita akan mengejarnya,” geram pemimpin kelompok itu, “orang itu harus merasakan akibat kebodohannya.”

Pemimpin kelompok itu tidak menunggu lebih lama lagi. Ia pun kemudian memutar kudanya dan memacunya seperti dikejar hantu.

Ketiga orang anak buahnya pun mengikutinya pula dengan kemarahan yang menyentak dada. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi meremas wajah orang yang telah menipunya.

Sejenak kemudian empat ekor kuda itu pun telah berpacu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Debu yang putih berhamburan disentuh angin yang tidak begitu kencang.

Sementara itu Ki Waskita masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Apakah ia akan tetap membiarkan keempat orang itu bertebaran dan membuat keonaran di saat-saat mendatang.

“Mudah-mudahan mereka tidak kembali lagi ke tlatah Menoreh,” gumamnya kemudian. Karena itulah maka ia tidak lagi menghiraukan keempat orang itu. Dipercepatnyalah derap lari kudanya agar ia segera sampai ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.

Namun demikian, terbersit juga keragu-raguan di hati Ki Waskita. Benda-benda semu yang dibuatnya tidak dapat bertahan terlalu lama, sehingga ia pun sadar, bahwa benda-benda itu akan segera lenyap apabila dilepaskan dari hubungan getaran ujud semu yang berpangkal pada ilmunya, yang menyentuh dan membuat getaran senada pada pusat syaraf orang lain yang tidak mampu menggeser rentangan getar di pusat syarafnya.

“Jika mereka menyadari bahwa barang-barang yang mereka bawa itu sebenarnya tidak ada, maka mereka tentu akan marah. Mungkin mereka akan berbalik dan mengejarku,” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

Ada sepercik niat untuk membinasakan saja keempatnya. Tetapi tiba-tiba saja melonjak sikapnya yang lain, “Biar sajalah mereka menjadi marah. Jika mereka tidak menemukan aku, maka mereka tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

Karena itulah, maka ketika di hadapannya nampak sebuah padukuhan kecil, Ki Waskita pun mempercepat lari kudanya agar ia sempat bersembunyi di padukuhan itu.

Seperti yang diduganya, demikian ia hilang di mulut lorong memasuki regol padukuhan kecil itu, empat ekor kuda berderap di tengah-tengah bulak, membelok di tikungan yang berpagar pohon-pohon jarak, sehingga membatasi pengamatan mereka. Ketika mereka memasuki jalan lurus yang panjang, mereka sudah tidak melihat lagi orang yang menyebut dirinya Kiai Jalawaja.

Namun dalam pada itu, dari dalam regol padukuhan kecil itu Ki Waskita masih melihat debu yang mengepul di tengah-tengah bulak yang panjang itu.

“Tentu mereka berusaha mengejar aku.”

Karena itulah maka Ki Waskita pun dengan tergesa-gesa memasuki sebuah halaman di pinggir padukuhan itu. Kepada penghuninya ia berterus terang, minta berlindung beberapa saat karena empat orang penjahat sedang mengejarnya.

“Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Ki Sanak memasuki padukuhan ini?”

“Mereka tentu menyangka bahwa aku berpacu terus.”

“Baiklah. Tetapi jika mereka menemukan Ki Sanak di sini, aku tidak akan dapat berbuat apa-apa.”

“Mereka tidak akan berhenti di sini.”

Ki Waskita pun kemudian menyembunyikan kudanya di belakang rumah itu, sedangkan ia sendiri berada pula di samping kandang.

Sejenak terasa pergolakan yang semakin melonjak di hatinya. Ia tidak pernah berbuat demikian. Bersembunyi seperti orang yang ketakutan. Dalam keadaan demikian, ia selalu tampil dengan dada tengadah. Jika ia merasa lawannya cukup kuat, maka ia melepaskan ikat kepalanya dan membelitkanya di lengannya dan dipergunakannya sebagai perisai yang melampaui kekuatan perisai baja.

Tetapi pengaruh hubungannya dengan sikap anaknya telah membuatnya bersikap lain. Seperti orang yang ketakutan ia bersembunyi di samping kandang yang baunya menusuk hidung untuk menghindari empat orang penyamun yang sedang mengejarnya.

Sejenak kemudian Ki Waskita menjadi berdebar-debar. Ia mendengar derap kuda yang menjadi semakin dekat.

Sejalan dengan itu, hatinya pun menjadi semakin bergejolak. Ada keinginannya untuk meloncat menghentikan orang-orang berkuda itu. Tetapi kemudian seolah-olah terdengar suara di hatinya, “Apa lagi gunanya berkelahi jika persoalannya adbmcadangan.wordpress.com dapat diselesaikan dengan cara lain?” Bahkan kemudian timbul pula pertimbangannya, “Bentrokan di saat seperti ini tidak menguntungkan Tanah Perdikan Menoreh yang sedang mempersiapkan diri menjelang hari perkawinan Angger Swandaru dengan Pandan Wangi. Lebih baik aku tetap di sini. Keempat orang itu tentu akan segera pergi.”

Namun terasa jantungnya berhenti berdenyut ketika suara derap kaki kuda itu tiba-tiba berhenti di muka rumah itu.

“Apakah mereka berhenti?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Sejenak Ki Waskita memperhatikan keadaan dengan saksama. Tetapi yang didengarnya adalah suara seseorang yang membentak, “He, di mana orang berkuda itu?”

Ki Waskita menjadi semakin berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia justru bergeser dari tempatnya dan berlari ke sudut rumah itu.

“Tetaplah bersembunyi,” desis seorang laki-laki tua yang agaknya salah seorang anggauta keluarga di rumah itu.

Ki Waskita menjadi ragu-ragu. Dan sebelum ia bergeser dari tempatnya, ia sudah mendengar suara seseorang membentak, “Cepat, tunjukkan di mana orang itu.”

“Ia tidak singgah kemari,” jawab pemilik rumah itu.

“Jangan membohongi kami. Jejak kaki kuda itu terputus di sini, dan lihat, jejak itu memasuki halaman rumahmu.”

Pemilik rumah itu tidak dapat menjawab. Ia sendiri kemudian menyadari bahwa ia tidak akan dapat berbohong lagi karena jejak itu benar-benar dapat dilihat dengan jelas, memasuki halaman rumah itu.

“Nah. sekarang katakan, di manakah orang itu. Tentu orang yang sedang kami cari.”

“Ki Sanak,” pemilik rumah itu masih mencoba mengelak, “akulah yang baru saja berkuda pulang dari bepergian. Jejak kuda itu adalah kudaku.”

Ki Waskita tidak mendengar jawaban. Tetapi dadanya bergetar ketika ia mendengar keluhan tertahan, disusul oleh jerit seorang perempuan.

“Kubunuh kau, jika kau masih ingkar,” terdengar suara kasar.

Ki Waskita menjadi semakin berdebar-debar. Ia tidak dapat tetap berada di tempatnya. Di luar sadarnya pula ia bergeser sepanjang dinding rumah itu.

“Tidak ada orang lain di sini, Ki Sanak.”

Suaranya terputus oleh hentakan sebuah pukulan yang keras disusul oleh jerit itu lagi. Semakin keras.

Ki Waskita sadar, bahwa pemilik rumah itu ada di dalam bahaya. Jika ia tidak mau mengatakan tentang dirinya, maka agaknya keempat orang itu tidak sekedar bermain-main. Tetapi mereka benar-benar akan membunuhnya dan bahkan mungkin isterinya.

Sekilas terbersit di angan-angan Ki Waskita, kematian yang sangat mengerikan tanpa melakukan kesalahan apa pun juga. Bahkan orang itu sedang berusaha untuk melindungi orang lain.

Ki Waskita temangu-mangu sejenak. Ia merasa tidak sepantasnya bersembunyi untuk menghindari benturan kekerasan, dan mungkin kematian, tetapi dapat berakibat kematian orang lain. Dengan demikian kematian itu tetap terjadi. Bahkan atas orang yang tidak bersalah sama sekali.

Karena itulah, ketika ia mendengar sebuah pukulan lagi dan keluhan yang panjang, serta pekik seorang perempuan yang semakin menyayat, ia tidak dapat tetap di tempatnya. Dengan wajah yang kemerah-merahan ia meloncat ke halaman dari samping rumah itu sambil menggeram, “Jangan gila. Aku di sini.”

Keempat orang itu serentak berpaling. Mereka melihat Ki Waskita berdiri tegak di tempatnya dengan sorot mata yang bagaikan menyala.

“Nah, tukang tenung gila itu benar-benar bersembunyi di sini.” Kemudian dengan kemarahan yang meluap-luap ia memandang pemilik rumah yang ternyata sudah terbaring di tanah dengan darah di mulutnya itu sambil berkata, “Kau benar-benar telah menipu kami. Karena itu, kau pun harus mati bersama tukang tenung gila itu.”

Perempuan yang ternyata isterinya, yang berjongkok di sisinya itu kemudian memeluk suaminya sambil berkata, “Jangan kau bunuh suamiku, ia tidak bersalah.”

“Mereka tidak akan membunuhnya, Nyai,” berkata Ki Waskita, “kecuali jika mereka adalah cucurut-cucurut kerdil yang tidak tahu diri. Akulah yang mereka cari. Karena itu, akulah yang akan menanggung segala akibatnya.”

“Orang ini berusaha menyelamatkan kau,” teriak salah seorang dari perampok itu.

“Tidak seorang pun yang perlu menyelamatkan aku. Tetapi sebaliknya, jika ia menahan kalian menemukan aku, karena semata-mata orang itu mencoba melindungi kalian berempat dari kematian.”

“Setan, anak tetekan. Kau sangka aku ini apa, he?”

“Nah, sekarang aku sudah kalian ketemukan. Apakah yang akan kalian lakukan?” geram Ki Waskita yang hatinya ternyata menjadi terbakar pula setelah ia melihat keadaan pemilik rumah yang tidak bersalah itu.

“Bunuhlah tukang tenung itu,” berkata pemimpin kelompok itu, “aku akan membunuh orang ini.”

Tiga orang di antara mereka pun kemudian berdiri tegak memandang Ki Waskita, sedangkan pemimpin mereka masih tetap berdiri di samping pemilik rumah yang masih terbaring di tanah.

Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Ternyata pemilik rumah itu berada dalam keadaan yang gawat. Jika pemimpin kelompok yang marah itu benar-benar membunuh pemilik rumah itu, maka akan jatuh korban jiwa karena keragu-raguannya, sehingga ia justru bersembunyi.

Sesaat kemudian Ki Waskita melihat tiga orang di antara mereka mendekatinya, sedang pemimpinnya justru telah meraba hulu senjatanya.

“Perutmu akan sobek dari lambung sampai ke lambung,” geramnya.

“Jangan, jangan,” teriak isterinya.

“Aku tidak peduli. Ia sudah menipu aku.”

Ki Waskita menjadi bingung sejenak. Jaraknya dengan pemilik rumah yang terbaring itu tidak terlampau dekat, sehingga sulit baginya untuk langsung menolongnya jika pemimpin kelompok yang menjadi sangat marah itu benar-benar mengayunkan senjatanya.

“Kaulah yang harus mati lebih dahulu dari tukang tenung yang kau sembunyikan itu.”

“Jangan, jangan,” pemilik rumah itu pun meminta, bersamaan dengan isterinya yang memeluk kaki penjahat yang, sudah menarik senjatanya.

Ki Waskita tidak mempunyai jalan lain. Tiba-iba saja ia mengerutkan keningnya. Sepercik getaran dari ilmunya tiba-tiba saja telah menyentuh rentang getar di pusat syaraf para penyamun itu.

Karena itulah, ketika pemimpin kelompok itu mengibaskan isteri pemilik rumah yang memeluk kakinya sehingga terlempar selangkah dan jatuh terlentang, terdengar suara tertawa nyaring di regol halaman.

Yang berada di halaman itu pun serentak berpaling. Mereka melihat seorang anak kecil tertawa terbahak-bahak sehingga perutnya terguncang-guncang.

Pemimpin kelompok yang marah itu menjadi semakin marah sehingga ia pun berteriak, “Tutup mulutmu, he?”

Tetapi anak kecil itu tertawa terus. Kedua tangannya sibuk mengusap air matanya yang meleleh di pipinya karena ia tidak mampu menahan tertawanya yang meledak-ledak itu.

“He, kenapa kau tertawa, Anak Gila?”

Anak itu masih tertawa terus. Di sela-sela suara tertawanya ia menjawab, “Lucu sekali.”

“Apa yang lucu, he?”

“Kau membuat orang-orang sepadukuhan ini ketakutan. He, apakah kau tidak tahu, orang-orang itu berlari-larian menengok halaman ini karena mereka mendengar hiruk-pikuk. Tetapi kemudian mereka berlari-larian kembali ke rumahnya dan menutup pintu rapat-rapat.”

“Diam, diam!” teriak salah seorang yang lain.

“Kenapa aku harus diam melihat kelucuan itu? Apalagi salah seorang dari penyamun yang garang itu sudah siap membunuh orang yang tidak bersalah dan tidak melawan sama sekali.”

Pemimpin kelompok penyamun itu benar-benar tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Tiba-tiba saja ia berteriak, “Kau pun akan aku bunuh, Anak Gila. Kaulah yang justru yang pertama-tama.”

“Aku?” anak itu terkejut. Tetapi ia pun tertawa pula, “Jika kau mampu mengejar aku, kau akan dapat membunuhku.”

“Setan alas. Kau sangka aku hanya bergurau?”

Anak itu tertawa semakin keras. Tetapi suara tertawanya tiba-tiba saja terputus karena pemimpin kelompok itu benar-benar tidak dapat menahan dirinya. Dengan serta-merta ia meloncat langsung menikam anak yang berdiri di regol itu. Tetapi agaknya anak itu benar-benar mampu berlari cepat. Demikian ia melihat pemimpin kelompok itu meloncat, ia pun telah berlari meninggalkan regol dan hilang di balik dinding batu.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 23 Desember 2008 at 04:00  Comments (65)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-93/trackback/

RSS feed for comments on this post.

65 KomentarTinggalkan komentar

  1. Tengkiu…………
    Ijin Kie…..
    Moga ga putus lg….

  2. Dengan senang hati bonusnya mohon ijin diunduh.
    terima kasih

  3. Benar ini hari baik, bonus sampun diunduh…

  4. Matur suwun Ki GeDe,,,walau baru absen dan belum sempat antri tapi sudah dapat kitab 93….matur suwun bener2 hari baik nich………

  5. Rudita…
    ada yg agak aneh ttg sikapnya eh jaln hidupnya..
    rasanya pada buku sebelumnya saat Rudita datang di Menoreh dan bersikap petantang petenteng thd para pemuda Perdikan Menoreh ada dia berucap menyombongkan nama Guru olah Kanuragan nya ya??… Kok di buku2 lanjut sama sekali ga disinggung mengenai kebisaan Rudita soal dasar2 olah kanuragan…..
    Mohon pencerahan di kala mendung ini…

  6. Saya setuju. Malem satu suro (saya lebih suka menyebut Malam 1 Muharam) atau Minggu 28, Desember 2008. Kebetulan saya off. Gimana kalau pilih kedai di kawasan Kalibata? Ngumpul di Stasiun atau Mal, baru pilih lokasi wedang serenya? Saya tunggu responsnya sampai Sabtu (27 Des 08) pukul 21.00 WIB. Tujuan utama: membantu babat alas supaya lebih cepat berdiri Kerajaan Mataram (kitab asli, scan).

  7. absen para kadang sedaya,sangsaya ndalu sangsaya nglangut……………..punapa kitab 93 saestu sampun saged dipun unduh?kok kula dereng kepanggih sandi nipun

    matur nuwun

    NB. Agung sedayu mau dgn sekar mirah karena memang cinta,dan dia sadar sepenuhnya bhw memang no bodi’s perfect,disamping kecantikan dan mimpi2 kemuliaan yg makantar kantar ada sisi lain yg memang menunjukan kelemahan seorang sekar mirah.Agung Sedayui pun menyadari kelemahan dirinya disamping kelebihannya.Akan tetapi,Agung Sedayu memiliki keyakinan bhw pd saatnya bisa membimbing sekar mirah mjd seorang isteri yg berbhakti………….demikian lanjutan ceritanya

  8. nyuwun pitulung para kadhang ingkang sampun saged ngasta kitab 93………..paringana kula ancer 2 lan tata caranipun ingkang kedah kula lampahi,punapa kedah siyam ,patigeni,ngrowot,mutih,punapa puasa ngidang?

    Ki Gede,nyuwun palilah lan pangandikan

  9. bonus hari baik sampun tuntas Ki GD, nenggo bonus 10 kitab kangge suroan.

  10. nuwun sewu Ki GD & para sesepuh..
    numpang ngantri kitab …

    matur sembah nuwun..

  11. Wah maturnuwun, mboten sah ribet sampun pikantuk.

  12. para cantrik sekalian….

    nyari rontal no 93 (versi djvu) dimana ya???? udah ngubek2 halaman depan, belakang, samping, kok gak ketemu. buat koleksi nih….

    mohon petunjuk. matur tengkyu

  13. kok ga’ ada ceritanya sih padahal mau dibaca lho
    ku sangat suka buku api di bukit menoreh

    S apanya yang tidak bisa dibaca mbakyu ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: