Buku 92

“Tetapi pusat perhatian Ki Gede memang harus tertuju kepada hari-hari perkawinan Pandan Wangi,” berkata Ki Waskita. Sekilas ia melihat Rudita sudah beringsut. Karena itu ia harus men¬dahuluinya agar anak itu tidak terlanjur membuat persoalan dengan Ki Argapati, ”mudah-mudahan semuanya dapat berlangsung dengan lancar. Aku berjanji, jika tidak ada aral melintang, untuk segera kembali setelah menyerahkan Rudita kepada ibunya.”
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Sedangkan Ki Argapati menjawab, ”Terima kasih Ki Waskita. Aku sangat mengharap kehadiran Ki Waskita. Di Sangkal Putung agaknya sudah ada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar yang mendampingi Ki Demang. Dan Ki Waskitalah yang aku harapkan sekali membantu aku disini.”
“Aku akan berusaha Ki Gede, meskipun agaknya aku hanya akan menambah jumlah penghuni saja disini.”
Ki Argapati tertawa. Sekilas ia berpaling kepada Pandan Wangi yang masih menundukkan kepalanya. Lalu katanya, ”Teruna ka¬sih. Penghuni rumah ini agaknya memang harus bertambah.”
Demikianlah Ki Waskita pun segera minta diri dan meninggal¬kan rumah itu bersama Rudita. Ki Argapati, Pandan Wangi dan be¬berapa orang yang lain melepaskan mereka sampai ke regol halaman.
Rudita yang sudah ada dipunggung kudanya masih juga dapat berkelakar, ”Pandan Wangi, aku sekarang tidak akan dapat me¬ngajakmu berburu lagi.”
Pandan Wangi tersenyum.
“Tetapi aku sekarang menjadi semakin ketakutan melihat binatang-binatang buruan. Bukan saat-saat ia masih berlari-larian di hutan. Tetapi justru pada saat-saat anak panah para pemburu me¬nusuk tubuhnya. Bukankah setelah hari perkawinanmu kau juga tidak akan berburu lagi?”
Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab sambil tersenyum pula, ”Ya Rudita. Aku tidak akan berburu lagi.”
“Disegala medan?”
Pandan Wangi kurang mengerti maksudnya. Tetapi ia mengang-guk, ”Ya, disegala medan.”
Rudita tertawa. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam sam¬bil minta diri kepada Ki Gede, ”Aku mohon diri Paman.”
Ki Argapati tertawa pula. Ia melihat sesuatu yang jauh berbe¬da pada pancaran sinar mata Rudita. Ia bukan lagi seorang penakut. Ia adalah seorang yang justru telah menemukan dasar pandangan hidup yang kokoh dan telah diperjuangkannya dengan berani.
Kedua orang ayah beranak itu pun kemudian meninggalkan padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Mereka menyelusuri bu¬lak-bulak panjang diantara sawah yang hijau subur. Dikejauhan nampak pegunungan yang kebiru-biruan dicerahnya sinar matahari pagi, bagaikan dinding yang memanjang membujur ke Utara.
“Ayah,” tiba-tiba saja Rudita berkata, ”sebenarnya aku ingin menahan hati. Tetapi rasa-rasanya dadaku menjadi semakin penuh. Aku tahu, bahwa jalan pikiranku tidak sesuai. Tetapi aku ber¬harap bahwa Ayah dapat mengerti dan menganggap yang aku kata¬kan ini tidak pernah terucapkan.”
“Ah,” Ki Waskita berdesah, ”aku tidak menganggap demikian Rudita. Yang aku katakan adalah pandangan tata kehidupan yang paling baik.”
“Tetapi Ayah selalu memisahkan aku dari orang-orang yang mungkin dapat aku ajak berbicara tentang hal itu.”
“Bukan maksudku demikian Rudita. Aku hanya ingin kau dapat menyesuaikan dirimu. Kau harus dapat memperhitungkan waktu dan tempat yang paling tepat untuk menyatakan sikapmu ter¬hadap tata kehidupan dan peradaban masa kini.”
“Waktu yang paling tepat adalah saat-saat seseorang menya¬takan sikapnya yang keliru itu Ayah.”
“Tetapi pada saat-saat demikian, biasanya mereka tidak mau mendengarkan pendapat orang lain. Mereka lebih banyak mende¬ngar kata hati mereka sendiri.”
Rudita mangangguk-angguk. Namun kemudian, ”Ayah, apakah sudah seharusnya Ki Argapati menjadi demikian ketakutan menghadapi saat-saat perkawinan anaknya? Itulah gambaran se¬seorang yang memiliki prasangka yang tidak terkendali. Dan dima¬na-mana aku menjumpai orang semacam itu. Di Cangkring, di Jati Anom, di Sangkal Putung dan di Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan pada Ayah sendiri. Prasangka dan curiga itulah sebenarnya pangkal dari kesulitan yang mereka alami. Perasaan mereka tidak pernah menjadi sejuk dan tenang. Setiap saat mereka menganggap dirinya dimusuhi oleh sesamanya.”
Ki Waskita tidak membantah, itu adalah sikap dan pandangan hidup Rudita. Bahkan ia berkata, ”Agaknya kau benar Rudita.”
“Sebenarnya orang-orang seperti Ki Argapati, Ki Demang Sangkal Putung, apalagi Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar, akan da¬pat menjadi lantaran yang baik sekali untuk melenyapkan segala prasangka. Kata-kata mereka dipercaya dan hampir tidak pernah mendapat pengamatan apapun juga dalam penerimaan dihati orang itu. Hampir setiap kata-kata mereka dianggap benar dan harus di¬turut. Tetapi sayang, bahwa mereka justru telah menyebarkan pera¬saan saling mencurigai dan prasangka,” ia berhenti sejenak, lalu, ”dan bagaimana dengan Ayah sendiri.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.
“Ayah mempunyai kelebihan dari orang lain. Sejak aku masih kanak-kanak, aku selalu melihat beberapa orang datang kepada Ayah untuk bertanya tentang masa depan mereka. Dapatkah Ayah mengatakan kepada mereka, bahwa masa depan yang paling baik adalah ketenangan dan kedamaian dihati?”
Ki Waskita mengangguk. Katanya, ”Tentu saja aku dapat Rudita. Tetapi aku tidak dapat membohongi mereka jika aku melihat isyarat tertentu. Aku tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan dari susunan peradaban manusia sekarang ini, dimana kekerasan masih terjadi disegala sudut Tanah ini.”
“Kitalah yang membuat kenyataan bagi kita sendiri,” jawab Rudita.
Ki Waskita memandang anaknya sejenak, ia melihat sorot ma¬ta yang bagaikan menyala diwajah anaknya.
“Ia sudah meyakininya,” berkata Ki Waskita didalam hatinya. ”Tetapi ia justru akan selalu kecewa dan bahkan mungkin akan terasing dari pergaulan hidup sesama. Tetapi dunia didalam angan-angannya adalah dunia yang paling baik yang dapat digam¬barkan oleh manusia.”
Dengan demikian Ki Waskita justru menjadi diam. Bahkan seakan-akan ia melihat, betapa Rudita seolah-olah berjalan sendiri ke arah yang berlawanan dengan arus manusia yang tidak terbendung.
“Tetapi kebenaran yang sejati dalam sikap hidup bukannya yang paling banyak dianut,” berkata Ki Waskita didalam hatinya. Sekilas teringat olehnya, kata-kata yang pernah didengarnya, bahwa jalan kebaikan itu terlalu lengang karena rumpil dan sempit, sedangkan jalan kemaksiatan itu menjadi ramai dan cerah karena nampak licin dan rata. Tetapi ujung jalan itu akan menentukan apakah se¬seorang akan menyesal atau bersyukur atas pilihantnya. Sedangkan siapa yang telah sampai diujung jalan, tidak akan ada kesempatan untuk kembali dan berubah arah.
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Yang melonjak didalam hatinya itu bukannya pengertian yang baru kemarin didengarnya. Tetapi sudah lama, dan bukan hanya satu dua orang sajalah yang pernah mengatakan. Tetapi banyak orang. Namun meskipun seseorang mengerti maksud dari ceritera itu, jarang sekali orang yang dapat memaksa dirinya untuk memilih jalan kebaikan yang sejati, karena justru kelemahan hati manusia yang mendambakan sifat lahiriah semata-mata.
Ki Waskita terkejut ketika ia mendengar seorang anak yang berteriak mengusir burung disawah. Ketika ia berpaling dan memandang bulir-bulir padi yang menguning, nampak sekelompok bu¬rung gelatik yang terbang berputaran. Namun kemudian tersentak oleh teriakan anak itu, dan terbang berarak ke arah yang lain.
Tetapi disetiap pematang dan disetiap gardu, anak-anak berlari-larian dengan goprak ditangannya dan tali-tali penarik hantu-hantu¬an disawah, sehingga burung-burung yang mengawan diudara itu bagaikan hanyut dibawa oleh arus angin yang berputar melingkar-lingkar dan kadang-kadang hilang ke arah yang jauh.
Demikianlah maka keduanyapun kemudian melanjutkan perja¬lanan dengan lebih banyak berbicara dengan dirinya sendiri dari pa¬da yang satu dengan yang lain. Hanya kadang-kadang saja Rudita menyebut sesuatu yang dilihatnya dan Ki Waskita menganggukkan kepala sambil mengiakannya. Namun kemudian keduanyapun kem¬bali berdiam diri.
Setiap saat Rudita merasa bahwa seolah-olah jarak antara di¬rinya dengan ayahnya itu menjadi semakin jauh. Banyak persoalan yang tidak sesuai dalam pembicaraan.
Namun sebenarnyalah Rudita pun merasa, bahwa ia menjadi semakin jauh bukan saja dari ayahnya, tetapi juga dari orang-orang yang pernah dikenalnya dengan akrab. Seolah-olah orang-orang itu pun hanyut seorang demi seorang ke dalam arus air banjir dan ti¬dak dapat dicegahnya lagi.
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba saja hatinya men¬jadi iba terhadap sesamanya. Ia menjadi semakin kasihan melihat tingkah laku manusia yang cenderung untuk merusak lingkungan diri sendiri dengan cara yang paling mengerikan. Jauh lebih menge¬rikan dari sikap dan perbuatan seekor binatang yang paling buas. Tidak seekor binatangpun yang dengan sadar dan sengaja menya¬kiti dan menyiksa sesamanya. Tetapi manusia telah melakukannya. Justru kadang-kadang diri mereka sendiri telah mereka siksa dengan berbagai macam keinginan yang ketamakan.
Perjalanan keduanya tidak mengalami gangguan apapun diperjalanan. Tidak ada penyamun dan perampok. Mereka menempuh perjalanan di bulak-bulak panjang yang pernah menjadi daerah jelajah perampok-perampok dan penyamun-penyamun kecil. Tetapi mereka juga melalui hutan-hutan yang masih agak lebat, yang men¬jadi daerah perburuan dari perampok-perampok yang menakutkan karena namanya yang telah dikenal oleh hampir setiap orang.
Meskipun demikian, Ki Waskita kadang-kadang menjadi ber¬debar-debar juga. Jika sekiranya mereka berdua bertemu dengan orang-orang jahat yang manapun juga, maka Rudita tentu akan ber¬sikap lain dari kebiasaan orang lain. Bukan karena Ki Waskita ti¬dak sanggup lagi bertempur melawan mereka, tetapi tentu Rudita akan menghalanginya dan seperti sikapnya pada saat-saat mereka bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar bertemu dengan orang-orang Kiai Kalasa Sawit diperjalanan dari Jali Anom ke Sangkal Putung.
“Saat itu ada Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Tanpa mereka maka aku akan bertengkar sendiri dengan Rudita,” berkata Ki Waskita didalam hatinya.
Tetapi perjalanan mereka ternyata selamat tanpa kesulitan apa¬pun. Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan rumah mereka.
Terasa titik-titik kerinduan mengembun dihati Rudita. Bagai-manapun juga ia merasa telah meninggalkan ibunya untuk waktu yang lama dengan sikap dan perbuatan yang barangkali telah mem¬buat ibunya cemas selama ini.
Ketika mereka memasuki padukuhannya, maka Rudita menarik nafas dalam-dalam, saolah-olah ia ingin menghirup udara padu¬kuhannya sebanyak-banyaknya. Udara yang serasa lebih segar dari udara disepanjang perjalanannya, apalagi dilereng Gunung Merapi yang telah memberikan pengalaman-pengalaman baru didalam hi¬dupnya.
Ketika kuda-kuda mereka telah melintas disepanjang jalan yang langsung menuju ke regol halamannya, maka rasa-rasanya Rudita ingin berpacu lebih cepat lagi, agar ia segera dapat sampai dirumahnya dan bertemu dengan ibunya yang telah menunggunya sedemikian lama.
Seperti yang diduga oleh Ki Waskita, maka kegelisahan isterinya hampir tidak tertahankan lagi. Kepergian Ki Waskita yang sudah cukup lama itu rasa-rasanya telah menghilangkan harapannya
Karena itu, ketika Ki Waskita pulang membawa anaknya, jantung Nyi Waskita serasa akan pecah oleh kegembiraan yang me¬ledak. Anaknya yang sudah disangkanya hilang itu tiba-tiba kini kembali kepadanya.
Ketika Nyi Waskita mendengar derap kuda memasuki halaman rumahnya, dengan tergesa-gesa ia berlari-lari keluar. Seolah-olah ada firasat padanya, bahwa yang datang itu adalah anaknya yang hilang.
Ternyata firasat itu benar. Yang datang adalah Ki Waskita yang membawa Rudita.
Dengan berlari-lari ia menyongsong anaknya. Demikian Rudita meloncat turun dari kuda, maka anak laki-laki yang sudah menjadi dewasa itu dipeluknya dengan air mata yang meleleh dipipinya yang mulai dibayangi oleh garis-garis umur.
Rasa-rasanya mata Rudita pun menjadi panas. Tetapi ia justru mencoba tersenyum sambil berkata, ”Maaf Ibu. Barangkali aku telah membuat Ibu gelisah.”
“Aku hampir mati karena hatiku yang pedih Rudita,” berkata ibunya.
“Seharusnya Ibu tidak usah terlalu memikirkan aku.”
“Itu adalah pikiran anak-anak. Tetapi tidak dapat terjadi pada seorang ibu. Seorang yang telah melahirkanmu dengan mempertaruhkan nyawanya. He, kau tahu bahwa seorang ibu melahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya? Seseorang yang,bertempur dimedan perang dianggap sebagai pejuang-pejuang yang pantas mendapat kehormatan tertinggi karena ia telah berjuang dengan mem¬pertaruhkan nyawanya. Nah, apa katamu tentang seorang ibu?”
Rudita memandang ibunya sejenak. Lalu sambil tersenyum ia berkata, ”Seorang ibu adalah seorang pahlawan yang menjadi pe¬rantara hadirnya seseorang dimuka bumi Ibu. Dan Ibu adalah salah seorang dari pahlawan itu.”
“O,” Nyi Waskita memeluk anaknya semakin erat.
“Tetapi seharusnya Ibu tidak usah mencemaskan aku. Aku akan berusaha dangan sungguh-sungguh untuk pada suatu saat kembali lagi kepada Ibu.”
“Tetapi jika kau gagal?” desis ibunya.
Rudita tersenyum. Sambil memandang ayahnya ia berkata, “Ada yang kurang Ibu pahami. Yang akan berlaku tetap akan berla¬ku. Apapun yang kita usahakan, namun keputusan terakhir tidak ada pada kekuasaan kita. Apalagi tentang nasib seseorang, Ibu. Ke¬selamatan kita masing-masing ada ditangan Yang Maha Kuasa. Kepada¬nya kita harus pasrah diri.”
“O,” perlahan-lahan anaknya itu dilepaskan. Sambil menatap wajahnya yang dimata ibunya masih tetap kekanak-kanakan ia berkala perlahan-lahan, ”Anakku. Aku tidak dapat melepaskan diri dari perasaan cemas itu. Seandainya aku dapat memahami kata-kata¬mu tentang nasib yang tergores sepanjang keharusan akan terjadi dalam jalur hidupmu, namun aku ingin kau tetap berada didekatku. Kau adalah milikku yang paling berharga.”
Rudita masih akan menjawab. Tetapi ayahnya telah mendahuluinya, ”Nyai, biarlah kami membasuh kaki, naik ke rumah dan minum minuman hangat.”
“O,” desis Nyi Waskita, ”silahkanlah Kakang.”
Ki Waskita pun kemudian pergi ke jambangan disudut rumah¬nya untuk membasuh kakinya. Kemudian Rudita pun berbuat serupa sebelum ia mengikuti ayahnya masuk ke dalam rumahnya.
Nyi Waskita nampak menjadi lebih cerah, betapapun juga ia kurang memahami jalan pikiran anaknya. Ia memang melihat kelainan pada anaknya itu, sejak ia belum meninggalkan rumahnya. Dan agaknya ia masih belum dapat mengerti, perubahan apakah yang telah terjadi didalam diri anaknya itu.
Tetapi menghadapi ibunya, ternyata Rudita bersikap lain. Ia masih selalu menahan diri jika rasa-rasanya ada sesuatu yang sudah tergerak dihatinya. Agaknya ia masih berusaha untuk tidak mem¬berikan kesan yang kurang baik pada pertemuannya dengan ibunya setelah beberapa lama berpisah, dan bahkan seolah-olah ibunya te¬lah merasa kehilangan.
“Aku sudah menyiapkan beberapa orang untuk mencarimu,” berkata ibunya, ”aku menjadi semakin cemas karena justru ayah¬mu tidak segera kembali bersamamu.”
“Beberapa orang?” bertanya Rudita.
“Ya. Aku menyewa orang-orang yang paling disegani di padukuhan ini. Aku menyanggupi untuk memberikan upah yang sepa¬dan jika mereka berhasil menemukan kau dalam keadaan apapun juga. Aku menyuruh mereka bersiap-siap. Jika akhir bulan ini, mendekati saat pekawinan Swandaru tiba kau masih belum diketemukan, maka mereka akan berangkat mencarimu.”
Rudita menarik nafas panjang. Tetapi sebelum ia menjawab ayahnyalah yang mendahuluinya, justru sambil tersenyum, ”Siapa sajakah yang akan kau upah untuk mencari Rudita?”
“Jliteng dan empat orang yang akan ditunjuknya.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera menja¬wab. Sejenak ia membayangkan seorang laki-laki yang kulitnya ke¬hitam-hitaman, berkumis tebal dan berdahi sempit. Dipudukuhan itu, ia memang mempunyai kelebihan dari kawan-kawannya. Tetapi Jika ada suatu saat ia bertemu dengan orang-orang yang berada di Tambak Wedi, atau sebut saja Ki Raga Tunggal, maka Jliteng akan menyesal bahwa ia telah menerima tawaran itu.
“Untunglah bahwa semuanya belum terlanjur,” berkata Ki Waskita didalam hatinya.
Sementara itu didapur, pembantu-pembantu Nyai Waskita sibuk menyiapkan minuman dan makan bagi Ki Waskita dan Rudita.
Namun dalam pada itu, mereka pun tidak habis-habisnya mem-perbincangkan kehadiran anak satu-satunya Ki dan Nyai Waskita yang sudah sekian lama meninggalkan rumahnya.
Setelah minum seteguk minuman panas, Ki Waskita pun segera pergi ke biliknya untuk melepaskan baju dan ikat kepalanya. Rasa¬nya badannya menjadi tebal oleh debu yang melekat. Karena itu maka ia pun kemudian segera pergi ke pakiwan untuk mandi.
Demikianlah suasana rumah itu pun rasa-rasanya telah menjadi hidup kembali. Nyai Waskita menjadi sibuk untuk menyediakan apa saja yang dapat menyenangkan hati anaknya, sementara anaknyapun kemudian mandi pula setelah Ki Waskita.
“Nyai,” berkata Ki Waskita kemudian kepada isterinya, “sekarang kau harus bersikap lain terhadap Rudita. Ia kini telah benar-benar menjadi dewasa. Ia tidak perlu kau layani seperti pada masa kanak-kanaknya.”
Nyai Waskita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bertanya, ”Apa maksudmu Kakang?”
“Berlakulah seperti kau memperlakukan seorang anak muda yang sudah dewasa.”
“Aku tidak mengerti. Aku bersikap seperti biasa terhadap anakku.”
”Nyai,” suara Ki Waskita menjadi datar, ”aku tahu dan mengerti bahwa Rudita adalah satu-satunya anak kita. Karena itu aku dan terlebih-lebih kau, ibunya, sering memanjakannya. Kita se¬olah-olah masih saja melayani seorang anak yang baru tumbuh menjadi remaja.”
“Apa salahnya Kakang. Ia adalah satu-satunya anak kita,” jawab Nyi Waskita, ”dan bukankah sudah sewajarnya jika aku ibunya, sekali-sekali menunggui ia makan. Menyenduk nasi ke dalam mangkuknya dan menyelimutinya jika ia tidur.”
“Memang Nyai. Itu adalah wajar sekali. Tetapi Rudita sekarang tidak menghendakinya lagi.Kau harus mengerti, bahwa ada perubahan didalam dirinya. Jika dahulu ia merajuk jika kau tidak menungguinya makan dan kadang-kadang kau masih harus me¬nungguinya dipembaringannya sambil memijit kakinya, maka seka¬rang ia minta diperlakukan lain.”
“Aku sungguh-sungguh tidak mengerti.”
“Sekarang kau harus membiarkannya berbuat sesuatu dengan keinginannya. Kau memang seharusnya menungguinya makan, te¬tapi biarkan ia menentukan sendiri, apakah yang akan dimakannya diantara segala macam yang kau hidangkan. Biarlah ia dimalam ha¬ri masuk sendiri ke dalam biliknya dan menutup pintu dari dalam.”
”Aku tidak sampai hati membiarkan ia berbuat semuanya untuk dirinya sendiri.”
“Bahkan biarlah ia menimba air dan mengisi jambangan. Mencuci pakaiannya sendiri jika itu dikehendaki. Ia benar-benar ingin menjadi dewasa, lahir dan batin.”
Nyai Waskita menjadi bingung. Ia tidak mengerti maksud suaminya. Sejak dahulu ia sering menunjukkan sifat-sifat yang anen. Kadang-kadang Ki Waskita menghendaki Rudita berbuat jauh lebih banyak dari yang dikehendakinya. Ki Waskita sering melarangnya berbuat sesuatu untuk anaknya. Bahkan kadang-kadang menunjuk¬kan sikap yang keras.
Dan kini, baru saja anak itu kembali, Ki Waskita sudah bersikap asing atas anaknya.
“Kakang,” berkata Nyai Waskita kemudian, ”agaknya kau masih marah kepada anakmu. Tetapi sebaiknya kau tidak bersikap terlalu keras terhadapnya. Ia tentu akan lari lagi dari rumah ini jika ia melihat wajahmu yang buram menghadapinya dan apalagi jika ia tahu, bahwa kau melarang aku berbuat sesuatu untuknya, ia akan bertambah kecewa. Bukankah kita masih harus membujuknya agar ia tidak lagi ingin pergi dari rumah ini?”
“Pendapatmu keliru Nyai. Ia menjadi jemu dengan keadaannya sendiri. Di beberapa tempat yang lain, ketika ia mulai bergaul dan melihat-lihat suasana yang lain dari rumah ini, ia mulai me¬ngerti bahwa cara hidupnya adalah aneh. Sampai ia menginjak usia remaja, ia tidak pernah mengerti, apakah yang harus dilakukan oleh seorang laki-laki. Baru kemudian ia mengenal dirinya sendiri setelah ia melihat beberapa perbandingan. Dirumah ini ia selalu dimanja¬kan. Semua keinginannya tidak pernah gagal. Semua perintahnya dilakukan dengan tertib. Jika kau melarangnya berbuat sesuatu, ia tinggal mempergunakan senjata pamungkasnya, merengek,” ia berhenti sejenak, lalu, ”tetapi agaknya ia kini telah berubah. Ia adalah seorang laki-laki. Bahkan seorang laki-laki yang memiliki kelebihan sifat rohaniah dari laki-laki yang manapun juga yang pernah kita kenal.”
“Kau menghendaki terlampau banyak dari anak kita,” berkata Nyai Waskita, ”biarlah ia berbuat sesuai dengan kemampuan dan kemauannya.”
“Ia pergi karena ia tidak menemukan yang dicarinya dirumah ini. Ia ingin orang lain menganggapnya sudah dewasa dan memper¬lakukannya demikian. Jika kau masih tetap memperlakukannya se¬perti kanak-kanak, maka ia akan mencari kesempatan ditempat lain untuk mengalami masa menjelang usia dewasanya. Ia lebih senang mendapatkan tantangan rohaniah dan jasmaniah sesuai dengan per¬kembangan kedewasaannya. Jika kau dapat berbuat demikian, maka ia akan kerasan tinggal dirumah.”
Nyai Waskita menjadi semakin bingung. Namun ketika kemu¬dian terdengar derit pintu dan Rudita melangkah masuk dari pakiwan setelah mandi, maka Ki Waskita pun berkata, ”Berpakaianlah. Kita akan makan lebih dahulu.”
“Baik Ayah,” jawab Rudita yang kemudian masuk ke dalam biliknya.
Kedua orang tuanya menarik nafas. Rasa-rasanya Nyai Waski¬ta memang melihat hal yang lain pada anaknya. Tetapi kelainan itu lebih banyak dicari artinya pada unsur jasmaniahnya.
Ibu Rudila menduga, bahwa karena Rudita telah mengembara menyusuri daerah yang sulit bagi hidupnya, maka ia telah menjadi bertambah kurus dan kehitam-hitaman. Karena kesan perjalanannya yang sulit itu agaknya telah membuatnya agak pendiam.
“Nyai,” tetapi Ki Waskita berkata kemudian, ”lihatlah. Tatapan matanya menunjukkan betapa jiwanya menjadi semakin masak. Ciri kedewasaannya nampak pada sikapnya yang ingin berdiri sendiri. Ingin menentukan baik dan buruk dan memilih dengan penuh tanggung jawab. Dan agaknya dari segi rohaniah ia memang sudah menentukan pilihan sikap dan batasan-batasan tentang hidup kejiwaan seseorang. Meskipun sukar dimengerti, tetapi ia telah me¬nemukan yang paling baik dengan penuh tanggung jawab.”
“Tetapi aku adalah seorang ibu,” berkata Nyai Waskita, “aku memandikannya sejak ia masih merah. Menyusui dan menyu¬apinya setiap saat. Apakah setelah ia disebut dewasa, aku telah ke¬hilangan segala hakku atasnya?”
“Bukan begitu Nyai. Kau masih tetap ibunya. Tetapi cobalah menganggapnya sebagai suatu pribadi yang dewasa dengan segala ciri-cirinya.”
Nyai Waskita menggelengkan kepalanya, ”Aku tidak menger¬ti. Apakah ia lebih senang hidup dalam kesulitan, memelihara diri sendiri, mengambil air, mencuci pakaian dan sebagainya daripada hidup seperti yang pernah dialaminya dirumah ini.”
“Ternyata ia telah meninggalkan rumah ini Nyai.”
“Aku mempunyai dugaan lain. Meskipun aku yakin, tentu kau berbeda pendapat. Itulah sebabnya aku tidak pernah mengatakannya.”
“Katakanlah. Mungkin kau benar.”
“Ia menjadi sangat kecewa bahwa Pandan Wangi benar-benar akan segera kawin dengan orang lain. Dengan anak Demang dari Sangkal Putung itu. Apalagi Kakang, ayahnya sendiri, agaknya justru telah membantu pelaksanaan perkawinan itu sebaik-baiknya.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi sulit me-nanggapinya. Jika ia mengatakan sesuai dengan pengertiannya ten¬tang hal itu, maka isterinya akan berkata, ”Sejak semula aku sudah tahu, bahwa kau akan menolak pikairanku itu. Tetapi agaknya seorang ayah benar-benar tidak dapat menyelami perasaan anak¬nya sendiri.”
Karena itulah maka Ki Waskita sejenak termangu-mangu. Ba¬ru kemudian ia berkata, ”Aku telah mencoba menyelami tanggapan Rudita atas perkawinan itu. Bahkan ia sempat bertemu baik dengan Swandaru maupun dengan Pandan Wangi. Sama sekali tidak terkesan kekecewaan itu padanya menurut pengamatanku.”
Istrinya tidak menyahut. Tetapi dengan wajah yang buram ia pun kemudian melangkah sambil berkata, ”Aku memang terlam¬pau bodon untuk mengerti. Tetapi baiklah, jika aku memang harus melepaskan segala ujud kecintaanku kepada anakku, dan bahkan te¬lah dianggap menyebabkan kepergiannya dari rumah ini.”
“Kau salah mengerti Nyai.”
“Aku tidak akan melarangnya lagi. Juga apabila ia akan meninggalkan aku”
“Tidak, ia tidak akan pergi lagi dari rumah ini.”
Nyai Waskita pun kemudian meninggalkan ruang itu masuk ke dalam biliknya Setitik air mata telah meleleh dipipinya. Dengan ujung kembennya ia mengusapnya saat ia duduk dibibir pemba¬ringannya.
Rasa-rasanya hatinya menjadi pepat. Ia tidak mengerti, kenapa hidup kekeluargaannya berkembang tanpa dapat dimengertinya. Satu-satunya anaknya telah menumbuhkan persoalan yang paling ru¬mit didalam hatinya. Malah nampaknya ia tidak akan mampu lagi mengendalikannya.
Pada hari yang pertama, ibunya memang telah melihat perbe¬daan sikap dan tingkah laku pada Rudita. Tetapi pembicaraannya dengan suaminya telah mempersiapkan tanggapan hatinya tanpa di¬sadarinya.
Dengan heran ia melihat Rudita mengatur ruang tidurnya me¬nurut seleranya setelah sekian lamanya tidak pernah dipergunakannya. Tanpa seorangpun yang menyuruhnya, ia ikut melakukan pe¬kerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan oleh para pembantu rumah¬nya. Bahkan sekali-sekali ia sudah bertanya tentang sawah dan ting¬kat pekerjaan yang sedang dikerjakan disawah saat itu.
“Besok aku akan melihat sawah kita Ibu,” berkata Rudita, ”alangkah segarnya menghirup udara terbuka diantara hijaunya dedaunan. Sudah lama aku terpisah dari sawah dan ladang kita itu.”
Ibunya mengangguk. Namun ia masih mencoba berkata, ”Ke¬napa kau memerlukan pergi ke sawah? Jika kau sekedar akan me¬lihat-lihat saja, pergilah. Tetapi kau tidak perlu berbuat apapun ju¬ga, karena sudah banyak orang yang akan mengerjakannya.”
Rudita tertawa. Katanya, ”Apakah bedanya aku dengan mereka Ibu?”
“Kau adalah anakku.”
“Jadi?”
Ibunya termangu-mangu. Tetapi yang dapat dilakukannya hanyalah sekedar menarik nafas dalam-dalam.
“Biarlah aku mencoba berbuat sesuatu Ibu, sehingga rumah ini dapat memberikan gairah hidup kapadaku meskipun hanya sekedarnya.”
Ibunya tidak menyahut. Tetapi agaknya ia mulai menilai kete¬rangan Ki Waskita. Apa yang dikatakan oleh suaminya sedikit demi sedikit mulai membayang.
“Agaknya memang ada sesuatu yang ingin dilakukan oleh anak itu,” seolah-olah mulai terdengar bisikan didalam hati Nyai Waskita.
Karena itulah, maka Nyai Waskita mencoba menahan hatinya. Dibiarkannya anaknya melakukan apa saja yang dikehendakinya. Meskipun kadang-kadang perasaannya hampir tidak dapat dikenda-likannya lagi, namun kesadarannya yang timbul setelah ia mencoba mengenal anaknya sekali lagi, telah melepaskan anaknya itu untuk berbuat lebih banyak.
Dihari-hari berikutnya. Nyai Waskita hanya dapat mengusap dadanya jika ia melihat Rudita pulang dari sawah dengan cangkul dipundaknya dan tubuh yang kotor oleh lumpur. Tetapi pada tubuh yang kotor itu ia melihat cahaya wajah Rudita yang bersih dan ce¬rah, seolah-olah ia telah menemukan tata kehidupan yang baru.
Pada saat ia belum meninggalkan rumah itu, sebenarnya ia pun telah mulai dengan kerja seperti itu. Tetapi ibunya selalu melarang¬nya. Menasehatinya sepanjang sore bahkan sampai malam hari, agar ia menempuh tata kehidupan yang baik karena ia adalah anak dari keluarga yang berada.
“Tetapi tata kehidupan yang bagaimanakah yang dapat disebut baik?” pertanyaan itulah yang kadang-kadang tidak dapat disingkirkan dari hatinya.
Namun agaknya kini ibunya telah berubah sikap, seperti peru¬buhan yang tumbuh didalam diri Rudita sendiri. Sehingga karena itulah agaknya Rudita mulai tersentuh oleh perasaan tenang dikam¬pung halamannya sendiri.
Apalagi jika matahari telah turun, dan para petani sudah mandi dan melepaskan lelah diujung padukuhan, duduk sambil berkelakar ditemaramnya senja, rasa-rasanya damai yang sejati mulai memba¬yang dalam tata kehidupan yang justru terpisah dari peradaban yang semakin maju di kota-kota.
“Mereka tidak banyak mempunyai persoalan,” berkata Rudita didalam hatinya, ”dan agaknya perasaan mereka pun terbuka untuk mengerti, bahwa dengan saling mengasihi, maka hidup akan menjadi tenteram dan damai.”
Namun kadang-kadang Rudita masih harus bersedih hati jika pada suatu saat ia melihat dua orang tetangganya bertengkar. Mere¬ka kadang-kadang masih diusik oleh persoalan-persoalan kecil tanpa dapat saling memaafkan. Soal ayam yang mengais-ngais tanam¬an tetangganya. Soal kucing yang memecahkan genting ketika sedang mengejar tikus dirumah orang lain.
Rudita kadang-kadang terpaksa merenung didalam biliknya. Jika persoalan-persoalan kecil itu dapat menumbuhkan permusuhan dan tanpa dapat saling memaafkan, maka pantaslah bahwa dunia ini se¬lalu diganggu oleh pertengkaran dan usaha penyelesaian persoalan dengan kekerasan.
Namun dengan demikian, maka kerinduannya terhadap hidup yang tenang dan kedamaian yang sejati justru serasa semakin mem¬bara didadanya.
Setelah beberapa hari berada dirumah, Ki Waskita agaknya da¬pat melibat kegelisahan yang mulai nampak lagi pada anaknya. Ka¬rena itu, sebelum terlanjur, Ki Waskita mencoba untuk memberikan arah kepadanya, agar ia tidak dicengkam lagi oleh suatu keinginan untuk meninggalkan rumahnya.
“Dimanapun kau dapat mengutarakan sikapmu Rudita, dan kepada siapapun. Tentu saja harus dengan bijaksana, agar tidak timbul persoalan yang justru sebaliknya yang justru dapat menim¬bulkan kebencian.”
“Maksud Ayah, dirumah inipun aku dapat menyatakan sikap hidupku.”
“Ya. Dan kau mulailah dengan menyusun tata kehidupan dikampung halaman ini seperti yang kau bayangkan. Tata kehidupan yang tenang dan damai. Jika kau berhasil, maka dengan sendirinya, tata kehidupan yang demikian tentu akan berkembang.”
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, ”Aku mengerti Ayah, meskipun tekanan dari sikap Ayah itu bukan semata-mata susunan tata kehidupanya dikampung halam¬an ini. Tetapi semata-mata agar aku tidak meninggalkan Ibu apabila pada suatu ketika Ayah ke Tanah Perdikan Menoreh menjelang per¬kawinan Pandan Wangi.”
“Kau memang cerdas sekali Rudita.”
“Tetapi aku bersedia Ayah. Aku berjanji bahwa aku tidak akan pergi lagi dari rumah ini. Meskipun tekanan dari maksud Ayah adalah agar aku tetap dirumah, namun aku akan mencobanya juga untuk mulai dengan lingkungan kecil ini. Jika lingkungan kecil ini menelok, maka aku tidak dapat membayangkan, apa yang akan ter¬jadi dengan Pajang, Mataram, dan Pati.”
Ki Waskita terdiam sejenak. Ternyata anaknya dapat melihat mak-sudnya yang sebenarnya. Meskipun demikian, ia dapat berlega hati, bahwa Rudita sudah menyanggupkan diri, bahkan berjanji untuk tidak meninggalkan rumahnya. Ia akan mencoba menyusun tata ke¬hidupan didalam lingkungan kecil itu untuk mewujudkan ketenang¬an yang diidamkan. Meskipun ia tahu, bahwa tidak ada lingkungan yang terpisah dari sekitarnya. Betapapun juga, keadaan disekitarnya akan langsung mempengaruhi tata kehidupan, dilingkungan kecil itu.
Tetapi Rudita sudah bertekad. Apalagi dilingkungan kecil bah¬kan seandainya ia harus berdiri seorang diripun, ia akan tetap berpe¬gangan pada dasar sikapnya itu.
“Ayah,” berkata Rudita kemudian, ”jika Ayah ingin segera kembali ke Tanah Perdikan Menoreh, maka sebaiknya Ayah tidak ragu-ragu meninggalkan Ibu dirumah.”
Ayahnya merenung sejenak. Namun kemudian ia menarik na¬fas dalam-dalam sambil berkata, ”Kau benar-benar sudah dewasa Rudita. Aku berterima kasih kepadamu, bahwa kau telah berusaha untuk mengerti persoalan yang sama-sama kita hadapi,” ia berhen¬ti sejenak, lalu, ”baiklah. Aku sekarang tidak ragu-ragu lagi meninggalkan rumah ini. Aku memang ingin mendahului pergi ke Ta¬nah Perdikan Menoreh.”
“Apakah kelak, aku dan Ibu harus menyusul?”
“Jika aku sempat, aku akan menjemput ibumu. Kira-kira lima atau enam hari sebelum hari-hari perkawinan itu.”
Rudita mengangguk-angguk.
“Kita masih bersangkut paut keluarga, sehingga kurang pan¬tas rasanya jika kita hadir langsung pada saat perkawinan itu.”
“Baiklah Ayah.”
“Biarlah aku sendiri akan mengatakannya kepada ibumu.”
Rudita mengangguk. Katanya, ”Ibu tentu perlu mempersiap¬kan sumbangan yang akan kita bawa ke Tanah Perdikan Menoreh.”
“Ya. Tetapi agaknya ibumu memang sudah mulai memikirkan.”
“.Mudah-mudahan Ibu dapat melupakan kekecewaannya,” desis Rudita kemudian.
“Kenapa ibumu kecewa?”
“Akulah yang menyebabkannya. Disaat-saat hatiku masih diliputi oleh kegelapan, maka rasa-rasanya aku memang ingin men¬dapatkan sesuatu dari Pandan Wangi. Ternyata Ibu menganggap bah¬wa hal itu adalah wajar sekali, dan bahkan Ibu sependapat apabila hal itu terjadi.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa Rudita mengetahui pula akan hal itu. Untunglah bahwa kemudian Rudita menemukan kepribadiannya yang masak, sehingga ia akan dapat menguasai dirinya sendiri.
“Baiklah Rudita. Aku akan mengatakannya kepada ibumu. Biarlah yang sudah berlalu itu kita lupakan. Mudah-mudahan ibumu tidak keras hati seperti saat-saat lampau menghadapi persoalanmu, karena kau adalah satu-satunya anak yang menurut pendapatnya perlu dimanjakannya.”
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Sekilas terbayang masa. lampaunya yang kini terasa aneh bagi dirinya sendiri.
Dalam pada itu, maka Ki Waskita pun kemudian menemui iste¬rinya dan menyatakan maksudnya.
“Kau akan pergi mendahului kami?” bertanya isterinya.
“Aku sudah berjanji untuk membantunya. Mungkin Ki Gede memerlukan pertimbangan-pertimbangan bagi hari-hari perkawinan anaknya itu.”
“Bukankah di[Tanah Perdikan Menoreh sudah banyak orang-orang tua yang akan dapat membantunya membuat perhitungan saat dan waktu?”
”Ya. Tetapi mungkin. Ki Gede memerlukan orang lain. Dan orang lain itu adalah aku.”
Isterinya mulai berpikir.
“Sementara itu, kau dapat menyiapkan sumbangan apakah yang akan kita bawa ke Tanah Perdikan Menoreh. Kau harus dapat memilih, karena aku kira Tanah Perdikan Menoreh telah penuh de¬ngan berbagai macam bahan yang diperlukan. Justru aku kira sudah berlebih-Iebihan.”
Nyai Waskita menarik nafas. Memang masih membayang ke-kecewaan itu disorot matanya. Ia masih juga membayangkan, betapa senangnya mempunyai menantu seorang gadis seperti Pandan Wangi. Seorang gadis yang mempunyai sifat dan kemampuan yang melampaui gadis-gadis kebanyakan. Ia pandai berburu, tetapi ja ju¬ga seorang pengatur rumah tangga yang baik. Sejak kecil ia sudah belajar mengatur isi rumahnya dan melayani keluarganya. Apalagi ia sudah tidak beribu lagi, sehingga semua tanggung jawab rumah tangganya seolah-olah dibebankan kepadanya seluruhnya.
Tetapi Pandan Wangi itu akan menjadi menantu orang lain. Dan kini yang dapat dilakukannya hanyalah melihat saat-saat perkawinan itu berlangsung dan membawa sumbangan bagi peralatan perkawinan itu.
Meskipun demikian, ia pun kemudian menjawab, ”Baiklah Kakang. Selama Kakang pergi menjelang hari perkawinan Angger Pandan Wangi, aku akan mempersiapkan sumbangan yang barangkali bermanfaat bagi pengantin itu.”
“Aku akan berusaha untuk menjemputmu dan Rudita sepekan sebelum perkawinan itu berlangsung.”
“Baiklah. Kami akan menunggu,” jawab Nyai Waskita, ”tetapi jika sepekan sebelum hari perkawinan itu kau tidak datang, keesokan harinya aku akan berangkat bersama Rudita dan barang¬kali satu dua orang pelayan.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, ”Tetapi aku akan berusaha. Justru mendekati hari-hari perkawinan kesibukan akan berpindah ke dapur. Dan aku akan mempunyai waktu terluang,” ia tertegun sejenak, lalu, ”ah, itu pun kalau aku memang diperlukan di Minoreh.”
Demikianlah Ki Waskita pun kemudian mempersiapkan dirinya. Keesokan harinya, di dini hari ia akan berangkat seorang diri ke Tanah Perdikan Menoreh.
Namun dalam pada itu, ia tidak dapat melupakan kemungkinan yang dapat terjadi sementara Tanah Perdikan Menoreh sibuk dengan persiapan perkawinan Swandaru dengan Pandan Wangi. Masih saja terbayang sepasukan yang kuat melingkari Gunung Merapi seperti seekor ular naga yang merayap dilambung bukit itu, sementara dari arah lain, sekelompok orang-orang sakti dengan mengendap-endap dan bersembunyi membawa jenis pusaka yang lain untuk dipersatukan disuatu tempat.
“Suatu tempat yang harus/diketemukan,” desis Ki Waskita.
Namun ia masih mencoba untuk menggeser persoalan itu be¬tapapun menggelisahkannya menghadapi hari perkawinan Pandan Wangi.
Ketika matahari mulai membayang di Timur dikeesokan hari¬nya, Ki Waskita sudah mempersiapkan kudanya. Ia masih sempat makan pagi sebelum ia memanggil Rudita dan isterinya.
”Hati-hatilah dirumah,” berkata Ki Waskita kepada anak laki-lakinya, ”kau jangan menggelisahkan hati orang tuamu lagi.”
“Baik Ayah. Bukankah aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan pergi lagi.”
“Dan selama ini Nyai dapat mempersiapkan sumbangan yang akan kita bawa bersama ke Tanah. Perdikan Menoreh seperti yang Nyai katakan,” berkata Ki Waskita kepada isterinya.
“Baiklah Kakang.”
“Sudah waktunya aku berangkat. Hari perkawinan itu menjadi semakin sibuk.”
“Apakah Ki Gede masih juga curiga terhadap adiknya, Ki Argajaya?” bertanya Nyai Waskita.
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Aku tidak tahu. Tetapi agaknya Ki Gede Menoreh bukan seorang pendendam. Meskipun demikian, agaknya retak yang pernah terjadi itu tidak akan dapat pulih seperti sediakala.”
Isterinya mengangguk angguk. Ia pun mengetahui bahwa pernah terjadi persoalan yang gawat antara kakak beradik pewaris Tanah Perdikan Menoreh itu. Bahkan seakan-akan Tanah Perdikan Me¬noreh seolah-olah terbakar oleh api benturan yang dahsyat antara kedua kakak beradik. Kehadiran Sidanti di kampung halamannya bersama gurunya, Ki Tambak Wedi, membuat api di atas Tanah Perdikan itu menjadi bagaikan neraka.
“Tetapi agaknya Ki Argajaya telah benar-benar menyadari kekeliruannya,” berkata Ki Waskita kemudian, ”dan agaknya Ki Gede pun telah memaafkannya. Didalam saat perkawinan Pandan Wangi, sudah tentu Ki Argajaya akan menjadi sibuk pula sebagai¬mana seorang Paman yang ikut menyelenggarakan hari-hari perka¬winan kemanakannya.”
Ketika matahari mulai menjenguk diatas cakrawala maka Ki Waskita pun kemudian minta diri untuk mendahului pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.
Rudita dan Nyai Waskita melepaskannya sampai ke regol ha¬laman. Mereka masih saja berdiri mengawasi keberangkalan Ki Waskita, sampai ia hilang ditikungan.
Dalam pada itu, kuda Ki Waskita berderap semakin cepat. Ia sama sekali tidak mencemaskan lagi anak laki-lakinya. Ia percaya bahwa Rudita akan memegang janjinya, tidak lagi meninggalkan ibunya.
Sementara itu, jalan yang menjelujur dihadapannya masih nampak basah oleh embun. Rerumputan yang hijau nampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari yang jatuh pada titik-titik embun yang bertengger.
Ki Waskita menarik nafas. Udara pagi rasa-rasanya membuat tubuhnya menjadi semakin segar. Angin yang sejuk mengalir per¬lahan-lahan. Tetapi karena derap kudanya, maka rasa-rasanya wa¬jahnya menjadi semakin dingin disapu deh angin pagi itu.
Tidak ada yang dicemaskan diperjalanan. Tanah Perdikan Me¬noreh rasa-rasanya tidak lagi pernah diganggu oleh kerusuhan. Na¬mun, jika teringat oleh Ki Waskita, orang-orang yang sedang me¬nyingkirkan pusaka-pusaka yang mereka curi dari Mataram itu, rasa-rasa¬nya dadanya berdesir juga.
“Tetapi sementara ini tentu tidak akan timbul persoalan di atas Tanah Perdikan Menoreh,” katanya didalam hati. Tetapi kemudian, ”Mudah-mudahan.”
Kudanya masih berpacu dibulak-bulak panjang. Ia justru me¬rasa perjalanan itu menyenangkan, meskipun hanya seorang diri. Udara yang segar, padi yang hijau dan cahaya matahari pagi yang mulai terasa hangat dikulit.
Namun Ki Waskita itu pun kemudian mengerutkan keningnya ketika ia melihat dikejauhan debu yang mengepul, ia melihat beberapa ekor kuda yang berlari berlawanan arah, sehingga semakin lama justru menjadi semakin dekat.
“Siapakah mereka?” desis Ki Waskita.
Tetapi Ki Waskita tidak merubah kecepatan kudanya. Ia ber¬pacu terus, seolah-olah tidak melihat sesuatu dihadapannya.
Namun demikian, semakin dekat kuda-kuda itu, rasa-rasanya menjadi semakin berdebar-debar juga.
“Tiga ekor kuda,” desisnya.
Mereka pun kemudian berpapasan ditengah bulak. Seolah-olah masing-masing tidak saling menghiraukan. Ketiga orang itu hanya berpaling sejenak, memandang wajah Ki Waskita yang kosong. Se¬dang Ki Waskita berpalingpun tidak. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia sempat menangkap kesan diwajah ketiga orang berkuda itu meski¬pun hanya sekedar dugaan, bahwa ketiganya tergesa-gesa.
“Tidak ada yang menarik,” desis Ki Waskita sambil memperlambat derap kudanya. Hampir diluar sadarnya ia pun berpaling.
Namun terasa jantungnya berdegup semakin cepat, ketika jus¬tru pada saat yang bersamaan ketiga orang itu pun berpaling pula.
“Mereka berpaling seperti aku juga berpaling,” desis Ki Waskita.
Ki Waskita mencoba menghilangkan semua kesan yang timbul dihatinya. Kecemasan yang memang sudah ada didalam dadanya tentang orang-orang yang berada di Tambak Wedi, dan orang-orang yang mengaku dirinya tukang satang yang dengan demikian mereka harus mempertaruhkan nyawanya, membuatnya mulai mereka-re¬ka hubungan antara orang-orang itu dengan mereka yang telah men¬curi pusaka-pusaka dari Mataram.
“Ah, aku terlampau cengeng,” Ki Waskita kemudian.
Dengan demikian Ki Waskita pun mencoba menghilangkan semua dugaan tentang orang-orang berkuda itu. Adalah wajar sekali. Tidak ada yang aneh. Tiga orang yang sedang bepergian melalui jalan ini.”
Ki Waskita pun berpacu terus menuju ke padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh.
Namun tiba-tiba saja Ki Waskita menjadi berdebar-debar pula. Ia melihat lagi orang berkuda dihadapannya. Semakin lama menjadi semakin dekat.
“Siapa lagi mereka itu?”desisnya. Namun kemudian, ”Hanya seorang saja.”
Seperti yang baru saja dilakukannya, ia mencoba mengusir se¬gala macam kegelisahannya mengenai orang berkuda itu. Seperti yang baru saja dilakukannya ia memaksa dirinya berkata didalam hati, ”Adalah wajar sekali. Tidak ada yang aneh.”
Tetapi terasa debar jantungnya menjadi semakin cepat ketika ia melihat kuda dihadapannya itu menjadi semakin lambat dan ke¬mudian berhenti.
“Ah, apalagi yang akan terjadi?” desisnya.
Seperti yang telah diduga, maka orang berkuda itu pun melam-baikan tangannya, memberi isyarat kepadanya untuk berhenti.

Kutipan dan penyiaran lesan/tertulis harus seijin penulis.

From Kasdoelah’s Collection
Retype Kiai Gaza

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 22 Desember 2008 at 11:58  Comments (174)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-92/trackback/

RSS feed for comments on this post.

174 KomentarTinggalkan komentar

  1. tambah komen lagi…

    pesan Ki Waskita:
    biaralah para cantrik berusaha dan belajar sendiri mencari titik yang benar .. diantara puluhan atao ratusan titik yang ada 🙂

  2. Horee ….. tambah satu lagi …. maknyusss ….

  3. Ki FAst berdawuh:
    Ki sanak, untuk mendapatkan kitab 92, Ki sanak perlu melihat dibalik padepokan ADBM ini (View, Source) kemudian dengan penelusuran hati (Find) niatkan untuk -melihat kitab92-

    JADI :
    Klik kanan -Source nya – Find nya -kitab92-
    akan muncul dari balik lembah gunung dan bukit sekitar Merapi…,berupa bayang2..
    selanjutnya suruh ngger Swandaru buat donlot
    2,56 MB
    terima kasih KI FAST SAID….

  4. Find : kitab92
    Duh Ki Gede…, butuh elmu Ki Waskita buat cari kitab 92 nih…., untung ada Ki FAST yg memberi petunjuk…, mungkin masih kadang Ki gede juga yg ga tega liat para cantrik kebingungan… …

  5. Permisi….. Aku donlot ya….
    Makasih Kie….
    Haaaaaaa……..

  6. Weleh74788588x…, Ki GD le ndelikke kitab primpen tenan tujune para cantrik ana sing julig lan apik atine dadi aku isa donlot. tengkiu5434656x….

  7. Wah, bojoku wis arep ngamuk ki, tekan yah mene jih rung turu… Tapi demi ADBM aku tetep mbeguguk ngutha waton. Waton isa donlot he3423425x…. Matur nuwun sanget Ki GD…

  8. Walah … Titik Titik ….!! pancen ciamik tenan.

    Matur nuwun Ki Lurah Sastro.

  9. wah pancen elok tenan ontran2 iki.
    Pancen kudune sing ilmune setingkat “kyai gringsing” ya dampingi ana kene

  10. pancene pasisingan ki ana loro, dadi tambah satu,…nuwun

  11. jan seru tenan 🙂
    kulo cantrik enggal, nanging dadi krasan, la wong padepokan ADBM bener2 seru poooll..
    dados seneng kalih permainan Ki Gede, sing mekso tambah waskita.. hehehehe..
    untung kok cantrik2 sanesipun sae2, maringi pencerahan…hehehhe..
    siiippp dech Ki Gede.. jadi makin cinta ama ADBM 🙂

  12. saya punya jidat sdh mendidih mencari kitab 92 di hutan “view sours” dan juga cari “kitab 92 ada di komen ke 92”, ada yang bilang pasingsingan titik,mbok iyao ada cantrik yang bisa memberi pencerahan dengan jelas-terang lan terwoco.terima kasih ya…

  13. mungkin andika sabung sari belum benar-benar meneliti kata-kata dari ki pasingsingan satu demi satu.

    cobalah andika menelitinya tanpa terlewatkan satupun karena itulah petunjuk yang dapat dipergunakan untuk dapat menyempurnakan ilmu andika.

  14. rasa2 para cantrik sdh meloncat jauh dari kitab 92 ini, krn sdh pada selesai akhir tahun lalu, sementara sy masih terseok2 di sini, sy nyerah ki gede , mhn dibantu ki gede, atau mr.sukra utk cari kitab tsb dengan yang lebih transparan.nuwun

  15. Wees ketemu, matur nuwun sanget.

  16. Mohon ma’af semuanya,
    Saya penggemar buku, termasuk serial ADBM ini, bahkan saya mulai membaca nya sejak SD kelas V tahun 1970-an … sayang koleksi buku2nya hilang karena sering berpindah2 (biasalah kalo prajurit pindah2 tugas … rolling). Namun Sayang sekali untuk ngunduh perlu maen kucing2an tebak2an, kayak main games aja, … (emang dulu waktu kecil/remaja belon puas maen yang beginian? …. hehehehehe..) buat yang banyak waktu sih nggak apa2, tapi bagi yang sibuk cara2 download or reading files model ginian kurang nyaman rasanya, apa untuk ukuran orang seumuran saya yang udah EsTeWe … waktu habis terbuang, belon lagi koneksi jaringan yang jelek baru setengah jalan koneksi putus…
    Gitu Ki Uneg2nya…. Mohon dipertimbangkan juga cara donwload yang mudah buat penggemar seperti saya yang Gaptek dan nggak punya waktu banyak dan juga males mikir yang ruwet2 …

    Wassalam
    matur nuwun
    h3rm4n

  17. setelah topo 3 hari akhirnya dapat jg kita92

    Matur nuwun Ki GD

  18. Topo mlaku mundur, ketemu Titik byaar terawangan. Maturnuwun Ki.

  19. Maaf Ki Gede, gue mau kuras habis kitab ADBM, biar elmu gue lebih tinggi dari Agung Sedayu yang pengangguran, bahkan dari ki Pamungkas alias om Grinsing. Ibarat mobil balap, gue mau salib semuanya, awassss…..rem blong………………

  20. setiap permasalahan ternyata banyak sumber yang menyebabkan dan tidak pula gampang untuk dipecahkan…. hanya denga hati dan niat yang bersih serta wawasan luas kita dapat menyelesaikannya…… salut tuk Kyai Gringsing …………..!!!!!!!!!

  21. kog bisa di nma kan bukit menoleh ya kenapa

  22. aneh juga ada api di bukit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: