Buku 92

Tetapi bagaimanapun juga, Ki Argapati berusaha untuk meng-hilangkan kesan itu dari wajahnya. Ia masih tetap tersenyum, terta¬wa dan bergurau dengan cerah betapapun kesepian yang akan da¬tang itu rasa-rasanya telah mulai membelit hatinya.
Dalam pada itu, Rudita masih saja berada didalam biliknya. Karena ia tidak dapat segera tertidur, maka ia pun kemudian bangkit dan duduk dibibir pembaringan. Namun kemudian ia keluar dari bilik tidurnya dan duduk diserambi depan.
Angin yang silir terasa mengusap tubuhnya. Ia melihat bebe¬rapa orang yang duduk digandok sambil berbicara dengan riuhnya. Namun seperti kehendak ayahnya, ia tidak sebaiknya ikut serta dalam pembicaraan itu.
Diserambi, Rudita memandang kegelapan yang rasa-rasanya menyelubungi seluruh permukaan bumi. Seperti gelapnya hati manusia yang semakin lama menjadi semakin pekat.
“Pada suatu saat mereka akan kehilangan kesadaran diri dan segenap kepribadiannya jika tidak ada perubahan arah dari perkem-bangan budi manusia,” desis Rudita dengan cemasnya.
Rudita bergeser ketika terasa seekor nyamuk menggigit tangan¬nya yang menjadi gatal.
Dalam keadaan yang demikian Rudita masih juga sempat me¬rasa betapa perasaan yang lain masih sempat menyentuh dirinya. Dalam keadaan tertentu ia mampu melepaskan diri dari perasaan sakit, pedih, lelah dan semacamnya. Namun pada keadaan yang wajar itu, perasaan gatal masih terasa olehnya.
Ketika nyamuk itu hinggap lagi disela-sela jari tangannya, ma¬ka perlahan-lahan ia mengangkat tangannya yang lain. Didalam cahahaya obor yang kemerah-merahan ia memandang nyamuk itu de¬ngan tatapan mata kejengkelan yang mendorongnya siap untuk melakukan pembunuhan.
Tetapi tiba-tiba saja ia menarik nafas. Ia tidak berusaha untuk menepuk nyamuk itu. Namun dengan jari-jarinya, dikejutkannya nyamuk itu dan dibiarkannya terbang.
Rudita mengerutkan keningnya, ketika kemudian didengarnya desir langkah halus mendekatinya. Hatinya menjadi berdebar-debar. Rasa-rasanya ia dapat mengenal langkah yang mendekatinya itu, meskipun ia belum melihat orangnya.
Rudita bangkit ketika seseorang muncul diserambi itu. Seperti yang diduganya, orang itu adalah Pandan Wangi.
“O,” suaranya agak gemetar. Tetapi beberapa saat kemudian, ia sudah dapat menguasai dirinya. Ia bukan lagi Rudita yang dahulu.
“Kau tidak tidur?” bertanya Pandan Wangi.
“Udara terlalu panas,” jawab Rudita.”Disini aku mera¬sa agak sejuk.”
“Kau tidak naik ke pendapa? Mereka berbicara panjang lebar.”
“Mereka berbicara tentang kau,” sahut Rudita.
Wajah Pandan Wangi menjadi merah. Tetapi Rudita tidak memperhatikannya.
“Duduklah,” Pandan Wangi mempersilahkan.
Tetapi Rudita menjadi bingung. Dimana ia akan duduk dan dimana Pandan Wangi akan duduk, karena diserambi itu hanya ada sebuah lincak meskipun agak panjang.
Tetapi ternyata Pandan Wangi tidak ragu-ragu. Ia pun kemu¬dian duduk dilincak itu dan menarik tangan Rudita untuk duduk pula.
Rudita pun kemudian duduk pula, meskipun rasa-rasanya hatinya menjadi berdebar-debar lagi.
Tetapi kemudian ia menyadari, bahwa sikap Pandan Wangi tentu masih belum berubah. Gadis itu masih menganggapnya sebagai kanak-kanak yang manja dan perlu dikasihani, seperti saat-saat ia ketakutan dihutan-hutan perburuan.
“Kenapa kau tidak ikut berbicara dipendapa?” bertanya Pandan Wangi sekali lagi, ”meskipun mereka berbicara tentang aku, apa salahnya kau ikut mendengarkannya?”
“Agaknya aku masih belum diperlukan untuk ikut dalam pembicaraan yang penting itu,” jawab Rudita.
Pandan Wangi menarik nafas. Sejenak ia merenungi malam yang menjadi semakin gelap.
Namun tiba-tiba saja ia bertanya, ”Kau baru datang dari Sangkal Putung?”
“Ya.” jawab Rudita.
Pandan Wangi memandang Rudita sejenak. Tetapi wajahnya pun kemudian tertunduk. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya, te¬tapi tertahan dikerongkongannya.
Rasa rasanya Rudita dapat mengetahui isi hati Pandan Wangi. Gadis itu ingin bertanya sesuatu tentang Swandaru, bakal suaminya. Tetapi agaknya perasaannya telah menahannya. Sebagai seorang ga¬dis ia tidak dapat langsung bertanya tentang seorang anak muda yang mempunyai ikatan yang khusus dengan dirinya.
Karena itu, maka Ruditalah yang berkata, ”Di Sangkal Putung aku sempat bertemu dengan Swandaru dan Agung Sedayu.”
Wajah Pandan Wangi menjadi kemerah-merahan. Tetapi ia sa¬ma sekali tidak menyahut.
Dan agaknya Rudita memang bukan Rudita yang dahulu. Ia berkata seterusnya, ”Mereka dalam keadaan selamat dan berpengharapan. Terutama Swandaru. Tetapi atas nasehat orang-orang tua di Sangkal Puting, ia harus berusaha untuk mengurangi bobot ba¬dannya menjelang hari perkawinannya.”
“Ah,” desis Pandan Wangi.
Rudita tertawa. Katanya lebih lanjut, ”Tetapi pada dasarnya, mereka merasa berbahagia dengan harapan didalam hati mereka. Setelah Swandaru, tentu akan datang saatnya, Agung Sedayu. Agaknya adik Swandaru yang bernama Sekar Mirah itu pun sudah cukup masak untuk mulai dengan taraf kehidupan baru.”
Terasa sesuatu berdesir dihati Pandan Wangi. Namun kemudi¬an, semuanya telah ditekannya dalam-dalam didasar lubuk hati. Bahkan ia pun kemudian berkata kepada dirinya sendiri didalam ha-tinya, ”Bukankah sudah seharusnya Agung Sedayu segera kawin dengan gadis pilihannya? Seperti aku juga kawin dengan anak muda pilihanku dan yang telah direstui oleh Ayah?”
Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Sepintas seakan-akan kedua anak muda dari Sangkal Putung itu lewat didepannya. Namun kemudian hilang didalam kegelapan.
Karena Pandan Wangi tidak menjawab, maka Rudita pun berbicara lagi, ”Bukankah kau sudah berkemas memasuki langkah baru dalam tata kehidupanmu?”
Pandan Wangi mengangguk.
“Tentu sudah. Dan sebentar lagi, semua yang kau nantikan itu akan terjadi. Tanah Perdikan Menoreh akan bergembira karenanya, seperti juga Sangkal Putung. Ikatan kekeluargaan ini benar sangat menarik. Karena kedua daerah yang akan terikat menjadi satu ikatan itu terletak disebelah Timur dan disebelah Barat Ma¬taram.”
Pandan Wangi berpaling. Dicobanya untuk memandang wajah Rudita dalam cahaya obor. Nampaknya Rudita mengatakannya tanpa maksud sesuatu, sehingga Pandan Wangi pun hanya menarik na¬fas tanpa memberikan jawaban.
Karena Rudita melanjutkannya, ”Tetapi lebih dari itu. perkawinan ini akan dapat mengikat dua daerah yang luas dan subur.”
“Ya,” desis Pandan Wangi kemudian, ”mudah-mudahan dapat memberikan kebahagiaan, bukan saja bagiku, tetapi juga bagi Tanah Perdikan Menoreh dan Sangkal Putung.”
“Kau dan Swandaru adalah orang-orang yang memiliki pengaruh atas kedua daerah itu. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan daerah itu. Mudah-mudahan kemudian kau berdua dapat memerin¬tah kedua daerah itu dengan hati yang damai dan menumbuhkan kedamaian dan ketenteraman pula dihati rakyat kalian.”
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Tetapi kepalanyapun terangguk-angguk. Bahkan ia mulai menyadari bahwa Rudita yang sekarang ini sudah jauh berbeda dengan Rudita yang dahulu. Rudita yang manja dan penakut. Rudita yang dahulu tidak akan dapat me¬ngatakan perasaannya dengan cara itu. Bahkan ketika tiba-tiba ia mengenang sikap dan tanggapan Rudita atas dirinya, ia menjadi segan untuk melanjutkan angan-angannya.
“Sudahlah,” berkata Pandan Wangi kemudian, ”sudah malam. Aku akan tidur.”
“Mudah-mudahan kau dapat tidur nyenyak dan mimpi yang indah. Aku berdoa, agai kelak kalian dapat menciptakan kedamaian yang sejati. Meskipun kau dan Swandaru memiliki kemampuan untuk bermain dengan pedang, tetapi aku berharap bahwa hulu pe¬dang itu tidak akan kalian sentuh lagi dengan maksud apapun juga kelak.”
Padan Wangi tidak begitu mengerti maksud Rudita. Tetapi ia mengangguk saja sambil menjawab, ”Baiklah Rudita. Aku akan mengingatnya.”
Dengan tergesa-gesa, Pandan Wangi pun meninggalkan anak mu¬da yang ternyata sudah berubah itu. Bahkan Pandan Wangi menjadi agak menyesal, bahwa ia sudah menjumpainya. Tetapi ia tidak dapat menahan sifat ingin tahunya tentang Sangkal Putung agak lebih ba¬nyak, sehingga sudah mendorongnya unluk menjumpai Ruaita yang diketahuinya baru datang dari Sangkal Putung.
Namun yang kemudian terjadi adalah diluar kehendak Pandan Wangi sendiri. Bayangan tentang kedua anak muda. murid orang bercambuk itu selalu membayang diwajahnya. Keduanya. Bukan hanya salah seorang saja diantara mereka.
Sekali-kali Pandan Wangi memejamkan matanya. Tetapi bayangan itu tidak juga beranjak daripadanya.
“Apakah artinya ini?” desisnya sambil menelungkupkan badannya dipembaringannya.
Namun demikian Pandan Wangi tidak dapat memadamkan angan-angan dihatinya itu. Angan-angan tentang dua orang anak muda yang pernah berada di Tanah Perdikan Menoreh bersama gurunya.
Sekali nampak bayangan Swandaru dalam pakaian pengantin. Meskipun ia masih juga gemuk, namun wajahnya yang cerah, serta sifat-sifatnya yang terbuka, membuat anak muda itu mempunyai ujudnya tersendiri. Kepribadiannya nampak bagaikan pintu yang terbuka lebar, sehingga Pandan Wangi seolah-olah dapat menjengukkan kepalanya kedalamnya dan melihat seluruh isinya. Baik atau buruk.
Dan itulah yang telah menarik perhatiannya, selain sikapnya yang ramah, serta tertawanya yang lepas tidak tertahan-tahan, dan guraunya yang jenaka.
Tetapi disamping Swandaru, kadang-kadang muncul juga ba¬yangan seorang anak muda yang meskipun tidak termasuk pendiam, tetapi hatinya agak tertutup. Ragu-ragu dan kurang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam-waktu yang dekat.
Tiba-tiba saja, diluar kehendaknya sendiri, terbayang pula ibunya yang sudah tidak ada lagi. Diikuti oleh wajah-wajah yang membuatnya meremang. Wajan dua orang laki-laki yang saling memancarkan dendam dari dasar hati.
“O,” Pandan Wangi mengeluh.
“Tidak, tidak,” Pandan Wangi menggeram. Tetapi rasa-rasanya kesalahan yang pernah terjadi pada ibunya itu, kini membayanginya pula. Dua orang laki-laki yang kemudian melahirkan Sidanti dan dirinya dari ibu yang sama.
Pandan Wangi menggeliat. Bahkan ia pun kemudian bangkit sambil menghentakkan kakinya.
“Kesalahan itu tidak boleh terulang lagi dalam bentuk yang manapun juga. Aku bukan Ibu. Dan Ibu tidak dapat melimpahkan dosa-dosanya kepadaku,” desisnya.
Namun yang terbayang kemudian adalah peran tandingg antara dua orang anak muda yang kemudian bernada Ki Tambak Wedi dan Ki Gede Menoreh dibawah sepasang pohon pucang.
“Gila, gila,” Pandan Wangi menggeram. ”Aku tidak bo¬leh gila pula seperti itu, sehingga aku menyeret orang-orang lain menjadi gila pula.”
Pandan Wangi tiba-tiba saja terkejut ketika ia mendengar pintu biliknya diketuk orang. Sejenak kemudian terdengar suara seorang perempuan memanggilnya, ”Pandan Wangi, Wangi.”
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian dibenahinya pakaianya dan diusapnya wajahnya yang menjadi basah. Selangkah demi selangkah ia mendekati pintu biliknya dengan ragu-ragu.
“Wangi.”
Perlahan -lahan Pandan Wangi membuka pintu biliknya. Dilihat¬nya dua orang pcmbantunya berdiri termangu-mangu.
“Apakah kau bermimpi buruk?” bertanya salah seorang dari kedua pembantunya itu.
Pandan Wangi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ja-wabnya, ”Yu, aku memang bermimpi buruk. Apakah kau mendengar sesuatu dari dalam bilik ini?”
“Aku mendengar kau mengeluh. Bahkan seperti seorang yang sedang bertengkar.”
Pandan Wangi memaksa bibirnya untuk tersenyum. Katanya, ”Terima kasih. Kau sudah membangunkan aku dari mimpi yang buruk. Untunglah Ayah tidak mendengarnya.”
“Ki Gede masih berada dipendapa bersama tamunya,” jawab salah seorang dari keduanya.
“Terima kasih. Baiklah aku akan tidur lagi.”
“Tetapi agaknya memang demikian. Seseorang yang mendekati hari-hari perkawinannya, kadang-kadang justru diganggu oleh mimpi buruk, itu pertanda bahwa kau sudah tidak sabar lagi menunggu hari-hari yang menjadi semakin pendek. Kurang dari sebulan.”
“Ah,” desis Pandan Wangi, “selamat malam.”
Pandan Wangi pun menutup pintunya kembali. Sementara dua orang itu masih termangu-manguvsejenak dimuka pintu bilik yang sudah tertutup itu. Namun sejenak kemudian merekapun segera meninggalkan tempat itu.
Didalam biliknya, Pandan Wangi menjadi semakin gelisah. Bu¬kan karena kedua pembantunya yang seolah-olah melihat mendung dalam hatinya. Tetapi kegelisahannya justru karena kesadarannya tentang dirinya dan perasaannya.
Dan dengan segenap kemampuan yang ada pada dirinya. Dilandasi oleh pertimbangan nalar yang seimbang, maka akhirnya ia da¬pat menguasai dirinya. Pengalaman yang pernah terjadi atas ibunya merupakan guru yang sangat berharga baginya dalam menghadapi gejolak perasaannya.
Pandan Wangi tidak dapat ingkar, bahwa yang pertama-tama menarik perhatiannya pada saat-saat ia bertemu dengan kedua anak muda itu adalah Agung Sedayu. Namun kemudian ia mengetahui, bahwa Agung Sedayu telah mempunyai pilihannya, justru adalah adik Swandaru.
Meskipun perlahan-lahan, namun kemudian Pandan Wangi melihat sesuatu yang menarik pada anak muda yang gemuk itu. Se¬suatu yang tidak dimiliki oleh anak-anak muda di Tanah Perdikan Menoreh. Bukan saja kecakapannya bermain pedang dan cambuk. Tetapi juga kelebihan-kelebihan yang lain.
“Apakah karena itu aku telah tertarik kepadanya?” pertanyaan itu melonjak didalam hatinya. Namun yang kemudian di¬jawabnya sendiri, ”Bukan waktunya lagi untuk bertanya. Kurang dari sebulan hari perkawinan itu sudah tiba. Yang harus aku laku¬kan adalah memupuk cinta yang ada didalam hati ini, agar dapat mekar dan bekembang. Aku harus menjadi seorang yang lebih baik dari ibuku menghadapi perasaan yang menyangkut tentang cinta dan mungkin nafsu tanpa meninggalkan pertimbangan nalar.”
Pandan Wangi kemudian berusaha untuk tidak memikirkannya lagi. Ia mencoba lari dari perasaan yang serasa selalu mengganggu hati.
Tetapi Pandan Wangi mempunyai pengalaman yang lain dari kebanyakan gadis-gadis. Ia sudah terlatih untuk mempergunakan pertimbangan nalarnya. Meskipun mula-mula didalam keadaan yang gawat menurut ujud benturan jasmaniah, namun didalam benturan perasaan, ia mampu pula mempergunakan keseimbangan nalarnya.
Pandan Wangi mencoba melupakan persoalannya dengan memikirkan masalah-masalah yang lain yang menyangkut Tanah Perdikan Menoreh. Hari depannya dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi diatas Tanah ini.
Dipendapa, ayahnya masih saja bercakap-cakap dengan Ki Waskita meskipun malam menjadi semakin larut. Bahkan kemudian dikejauhan terdengar suara kentongan dalam nada dara muluk.
“Sudah tengah malam,” desisnya. Tetapi Pandan Wangi masih belum dapat tidur.
Dipendapa beberapa orang bebahu dan orang-orang tua tetangga-tetangga Ki Gede Menoreh pun kemudian minta diri. Mereka su¬dah cukup lama duduk menanggapi segala macam pesan Ki Demang Sangkal Putung mengenai hari-hari perkawinan Swandaru dengan segala macam persoalannya. Bahkan rumah yang akan dipergunakan untuk menginap para pengiring dari Sangkal Putung telah ditentu¬kan pula.
Namun demikian, sepeninggal para tetangga dan bebahu Tanah Perdikan, Ki Waskita masih tetap duduk dipendapa dengan Ki Gede Menoreh sendiri.
“Masih ada yang akan aku katakan Ki Gede,” berkata Ki Waskita.
Ki Gede mengerutkan keningnya, lalu ia pun bertanya, “Apakah ada sesuatu yang agak menghambat kelancaran upacara per¬kawinan itu?“
“Bukan. Bukan masalah itu,” sahut Ki Waskita untuk menenteramkan hati Ki Argapati, ”soalnya lain sekali. Hampir tidak ada hubungannya.”
Ki Argapati termangu-mangu.
“Ki Argapati,” berkata Ki Waskita, ”mungkin ada baiknya Ki Argapati mengetahui serba sediikit tentang pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram.”
“O.”
“Yang sebuah sudah pernah kita ceritakan disini, bahwa Songsong itu telah menyeberangi Kali Praga. Dan justru melintasi Tanah Perdikan ini meskipun arahnya belum dapat kita ketahui dengan pasti.”
“Ya.”
“Dan sekarang, aku akan berceritera tentang pusaka yang satu lagi.”
“Kanjeng Kiai Pleret?”
”Ya. Kanjeng Kiai Pleret.”
Ki Gede Meoereh mengerutkan keningnya. Diluar sadarnya ia bergeser mendekat Ki Waskita, sementara Ki Waskita pun kemudian berceritera pula tentang pusaka yang diduga telah dibawa oleh Kiai Kalasa Sawit yang meninggalkan Padepokan Tambak Wedi dengan tergesa-gesa itu.
Ki Gede Menoreh mendengarkan ceritera itu dengan saksama. Sekaii-sekali ia mengangguk-angguk, namun kemudian wajahnya menjadi tegang.
“Jadi di Tambak Wedi telah terjadi pertempuran yang cukup keras bagi Pajang?” bertanya Ki Gede.
“Ya Ki Gede. Untunglah bahwa Untara mempunyai cara yang tepat untuk menguasai keadaan. Bukan saja Tambak Wedu tetapi sekaligus penjahat-penjahat kecil yang berkelompok di lereng Merapipun agaknya berhasil ditertibkan.”
“Apakah Angger Untara mengetahui tentang pusaka yang hilang itu pula?”
“Menurut dugaanku tidak. Tetapi aku tidak tahu dengan pasti, karena Angger Untara mempunyai sejuta mata dan sejuta telinga didaerah Selatan ini. Namun menilik sikap dan tanggapannya terha¬dap Tambak Wedi, agaknya Senapati Untara belum mempersoalkan pusaka yang hilang itu.”
Ki Argapati mengangguk-angguk.
“Tetapi baik Kiai Gringsing maupun Ki Sumangkar bersepa¬kat, bahwa diwaktu yang singkat ini, mereka tidak akan berbuat apa-apa lagi selain mempersiapkan hari-hari perkawinan Angger Swandaru dan Pandan Wangi. Baru setelah hari perkawinan itu lampau, mungkin mereka akan melakukan sesuatu untuk menemu¬kan pusaka-pusaka yang hilang itu.“
Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Hampir diluar sadarnya ia bergumam, ”Ternyata hari perkawinan anakku itu ber¬samaan waktunya dengan tugas yang sebenarnya sangat penting bagi kedua orang tua itu. Tugas yang langsung menyangkut kelangsungan hidup Mataram dan sudah barang tentu kekuasaan Raden Sutawijaya yang kemudian bergelar Senopati Ing Ngalaga.”
“Tetapi bukan berarti bahwa perkawinan itu merupakan ham¬batan bagi pecaharian kedua pusaka itu Ki Gede,” dengan serta merta Ki Waskita menyahut, ”tidak seorangpun yang mengetahui bahwa akan terjadi hal seperti yang dialami oleh Mataram, hi¬langnya kedua pusaka itu. Seandainya aku dengan sengaja memu¬satkan indera dalam pencaharian isyarat tentang Mataram sekali¬pun, aku kira aku tidak akan dapat menemukan kemungkinan se¬perti itu.”
Ki Argapati mengangguk-angguk. Katanya, ”Jika diperlukan, setelah hari-hari perkawinan ini lewat, aku akan membantu sesuai dengan kemampuan yang ada diatas Tanah Perdikan ini, karena yang jelas, songsong itu telah menyentuh Tanah ini dengan langsung.”
Ki Waskita mengangguk-angguk pula. Ia memang sudah mendu¬ga, bahwa Tanah Perdikan Menoreh tentu tidak akan berkeberatan jika diperlukan bantuan. Apalagi sesudah hari-hari perkawinan. Se¬andainya keadaan mendesak, dan saat itu pula Menoreh harus me¬nyiapkan sepasukan pengawal pilihan, maka Ki Gede Menoreh ten¬tu tidak akan menolak.
Tetapi agaknya Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar baru akan bergerak setelah hari-hari perkawinan Swandaru dengan Pandan Wa¬ngi, sehingga Ki Argapati pun harus menyesuaikan dirinya pula de¬ngan saat-saat yang sudah ditentukan itu.
“Kecuali jika Raden Sutawijaya mengambil sikap lain setelah ia menerima laporan yang dengan tergesa-gesa disampaikan oleh para pemimpin Mataram,” berkata Ki Waskita didalam hatinya pula. Namun agaknya Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga itu pun tidak akan bertindak tergesa-gesa menghadapi ke¬kuatan yamg tidak dapat diketahuinya dengan pasti itu.
Demikianlah ketika malam menjadi semakin larut, maka pem-bicaraan mereka pun terputus. Ki Waskita minta diri untuk beristi¬rahat. Dan sekaligus ia minta diri pula, bahwa besok pagi-pagi be¬nar ia akan meninggalkan Tanah Perdikan Menoreh.
“Begitu tergesa-gesa?” bertanya Ki Argapati.
“Aku akan menyerahkan Rudita kepada ibunya yang tentu sudah menunggunya dengan gelisah.”
“Sesudah itu, apakah tidak ada kemungkinan Rudita dengan diam-diam meninggalkan ibunya?”
“Memang mungkin Ki Gede. Tetapi aku akan mencoba menasehatinya, agar ia menunggui ibunya untuk beberapa lama. Kelak ia harus membawa ibunya kemari untuk ikut membantu memper¬siapkan hari perkawinan Pandan Wangi. Setelah itu aku masih mem¬punyai kepentingan sedikit, mungkin aku diperlukan untuk membantu menemukan pusaku-pusaka yang hilang itu. Baru kemudian, jika semuanya sudah tenang, aku akan kembali pulang. Barulah Rudita mempunyai banyak kesempatan untuk mengembara meskipun ibunya tentu tidak akan menyetujuinya pula.”
Ki Argapati mengangguk-angguk. Katanya, ”Siapapun ia, te¬tapi anak-anak muda memang mempunyai darah yang menggelegak. Pengembaraan akan merupakan suatu masa yang seolah-olah harus dialami oleh anak-anak muda. Agaknya Angger Rudita yang telah berubah itu pun telah dijalari pula oleh keinginan untuk mendapatkan pengalaman hidup bagi masa tuanya.”
Ki Waskita menggelengkan kepalanya. Katanya, ”Rudita mem-punyai tanggapan yang lain atas hidup dan kehidupan ini. Ia meng¬anggap bahwa manusia disekelilingnya telah diracuni oleh kecuri¬gaan, dendam dan kebencian, sehingga tidak ada lagi kedamaian di¬dalam hati. Jika ia kemudian ingin mengembara maka ia akan me¬neriakkan kepada segenap manusia yang dijumpainya, bahwa mereka harus menanggalkan semua tanggapan yang salah atas sesama¬nya. Kedamaian yang sejati tidak akan dapat dibumbui dengan ke¬curigaan, dendam dan kebencian dalam bentuk dan ujud apapun juga. Termasuk olah kanuragan.”
“Olah kanuragan?” bertanya Ki Gede.
“Ya. Hanya orang yang mencurigai sesamanya sajalah yang merasa perlu untuk memiliki ilmu dalam bentuk kekerasan.”
Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Desisnya, ”Alangkah mulianya. Jika kita bersama-sama dapat mengetrapkan dalam hidup kita sehari-hari, maka sebenarnyalah kita akan mendapatkan kedamaian yang sejati. Tetapi alangkah menyedihkan jika ke¬adaan yang demikian itu dimanfaatkan oleh beberapa orang yang justru seolah-olah menemukan penyerahan diri yang pasrah, sehing¬ga akan dapat membangunkan kekuasaan yang tidak tergoyahkan.
Ki Waskita tidak menyahut. Tetapi kepalanya terangguk-ang¬guk kecil.
“Ah, agaknya pembicaraan kita akan berkepanjangan pula,” berkata Ki Argapati kemudian, ”silahkanlah, jika Ki Waskita akan beristirahat, karena besok pagi-pagi benar Ki Waskita sudah akan menempuh perjalanan meskipun tidak terlampau panjang se¬perti jarak ke Sangkal Putung.”
Ki Waskita pun kemudian bergeser dari pendapa dan kembali ke gandok. Ketika ia masuk ke dalam biliknya, dilihatnya Rudita su¬dah berada didalam bilik itu pula.
“Kau belum tidur?” bertanya ayahnya.
“Baru saja aku masuk Ayah,” jawabnya.
“Darimana?”
“Udara sangat panas. Diluar angin malam terasa sejuk sekali.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, ”Udara memang terasa agak panas didalam bilik ini Rudita. Tetapi kita harus segera tidur. Malam sudah larut. Besok kita akan meninggalkan rumah ini pagi-pagi benar.”
Rudita pun kemudian berbaring dipembaringannya. Agaknya ia kemudian berhasil melepaskan semua angan-angannya, sehingga sejenak kemudian ia pun telah tertidur nyenyak.
Ki Waskitalah yang masih untuk beberapa lama duduk dibibir pembaringannya. Sekali-sekali angan-angannya masih juga meloncat-loncat dari satu soal ke soal yang lain. Saat-saat perkawinan Swandaru yang menjadi semakin dekat, namun masih saja nampak kabut hitam yang seolah-olah menyelubunginya. Kemudian seakan-akan nampak olehnya sepasukan yang merayap dilereng Gunung Me¬rapi, membelit lambung, kemudian berhenti di lembah antara Gu¬nung Merapi dan Gunung Merbabu.
Ki Waskita mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia me¬rasa bahwa ada isyarat padanya, bahwa dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu merupakan tempat yang perlu men¬dapat perhatian khusus.
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Menurut perhitungan nalarpun agaknya Kiai Kalasa Sawit akan membawa pasukannya ke lembah itu. Namun masih harus dipertimbangkan kemungkinan-ke-mungkinan lain antara pusaka yang dibawa oleh pasukan Kiai Kalasa Sawit dan pusaka yang menyeberangi Kali Praga.
“Pertemuan diantara mereka dapat terjadi dimana-mana,” desis Ki Waskita didalam hatinya, ”Kiai Kalasa Sawit dapat mem¬bawa pusaka beserta pasukannya melingkari Gunung Merapi lewat lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu, kemudian sesuai de¬ngan pembicaraan sebelumnya, bertemu dengan mereka yang mem¬bawa Songsong Kanjeng Kiai Mendung ditempat yang agak jauh dari Mataram, atau sebaliknya, Songsong Kiai Mendunglah yang kemudian dibawa ke lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu.”
Ki Waskita menjadi termangu-mangu. Namun baginya lembah antara Gunung Merapi dan Merbabu itu harus mendapat perhatian khusus dari Mataram.
Namun demikian masih harus dipertimbangkan hubungan an¬tara Pajang dan Mataram, karena Pajang tentu akan bertindak pula atas Kiai Kalasa Sawit meskipun lepas dari hubungan hilangnya ke¬dua pusaka dari Mataram.
“Memang masih banyak kemungkinan yang dapat terjadi,” gumamnya kemudian sambil melipat tangannya dan meletakkan kepalanya diatas kedua belah telapak tangannya itu. Dijelujurkannya kakinya lurus-lurus dipembaringannya sambil menatap rusuk-rusuk atap yang dipangkal dan ujungnya sempat diukir meskipun tidak terlalu halus.
Namun Ki Waskita pun kemudian memejamkan matanya pula dan sejenak kemudian ia pun telah tertidur.
Dalam pada itu, ketika Ki Gede Menoreh melangkah didepan pintu bilik anak gadisnya, ia tertegun. Ia mendengar desah nafas yang asing.
Karena itu, maka perlahan-lahan ia mendekati pintu bilik itu sambil memanggil, ”Wangi, apakah kau belum tidur?”
Pandan Wangi terkejut. Kegelisahan yang mendekapnya telah dibawanya ke ujung mimpi.
“Wangi,” ia mendengar suara itu lagi.
Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Suara itu adalah suara ayahnya yang berdiri dimuka pintu.
Perlahan-Iahan ia bangkit dan berjalan menuju ke pintu bilik¬nya sambil membenahi pakaiannya.
“Kau gelisah sekali Wangi,” desis ayahnya ketika Pandan Wangi membuka pintu biliknya, ”apakah kau belum tidur?”
“Aku baru saja mulai tertidur Ayah. Rasa-rasanya aku telah masuk ke dalam mimpi yang gelisah.”
Ayahnya tersenyum. Katanya, ”Kegelisahan yang wajar seka¬li Wangi. Tetapi kau tidak akan menunggu terlalu lama. Akan sege¬ra datang saatnya, kau terlepas dari kegelisahan semacam itu.”
Pandan Wangi menarik nafas panjang. Kepalanyapun kemudian tertunduk dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.
“Tidurlah. Mudah-mudahan kau tidak selalu dicengkam oleh kegelisahan yang dapat membuatmu resah terutama, dimalam hari. Percayalah kepada Yang Maha Kuasa bahwa semuanya akan dapat berlangsung dengan baik dan selamat.”
“Ya Ayah,” jawab Pandan Wangi.
“Tidurlah.”
Ki Argapati pun kemudian meninggalkan anaknya yang gelisah. Tetapi nampak sebuah senyum dibibirnya. Seolah-olah Ki Argapati justru menganggap bahwa kegelisahan itu adalah gejala yang wajar dari seorang gadis yang mendekati hari-hari perkawinannya.
Sepeninggal ayahnya. Pandan Wangi kembali ke pembaringannya setelah ia menutup pintu biliknya. Direbahkannya tubuhnya sambil berdesah.
Tetapi ia bertekad untuk mengendapkan semua gejolak didalam hatinya dan seperti pesan ayahnya, ia tidak ingin diresahkan oleh angan-angannya.
“Tetapi Ayah tidak mengetahui perasaanku,” tiba-tiba ia berdesis didalam hatinya.
Ki Argapati ternyata langsung pergi ke biliknya pula. Tetapi ia pun tidak segera dapat tidur. Ia masih juga membayangkan bahwa pada suatu saat anaknya yang seorang itu akan bertambah dengan seorang lagi. Tentu suami Pandan Wangi adalah sama dengan anak¬nya pula yang akan dapat membantunya kelak membina Tanah Perdikan Menoreh. Bahkan kelak, jika sampai saatnya ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi bagi Tanah Perdikan ini, ada orang lain yang akan melanjutkannya disamping anak perempuannya.
Namun tiba-tiba Ki Argapati mengerutkan keningnya. Swan¬daru adalah anak seorang Demang. Dan ia adalah anak laki-laki satu-satunya.
“Apkah Swandaru dapat diharapkan untuk melanjutkan pembinaannya atas Tanah Perdikan Menoreh? Apakah Swandaru akan dapat melepaskan kuwajibannya sebagai seorang anak laki-laki seorang Demang di Sangkal Putung yang mempunyai kuwajiban ter¬tentu pula atas daerah Kademangannya?” pertanyaan itu agak¬nya mulai merayapi hati Ki Gede Menoreh.
Tetapi Ki Gede Menoreh kemudian menarik nafas dalam-da¬lam sambil berdesah, ”Ki Demang Sangkal Putung mempunyai anak yang lain, meskipun ia seorang perempuan. Tetapi apabila benar, kelak adik perempuan Swandaru itu kawin dengan Agung Sedayu, maka dapat diharapkan Agung Sedayu akan dapat membantu memimpin Kademangan Sangkal Putung, yang menurut keterang¬an yang aku dengar betapa suburnya, namun tidak seluas Tanah Perdikan Menoreh.”
Namun demikian terbersit juga pengakuan didalam hatinya, ”Mungkin aku adalah orang yang mementingkan diri sendiri.”
Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk me-lupakan masalah-masalah yang masih merupakan kemungkinan-kemungkinan bagi masa mendatang itu.
“Aku tidak boleh dihantui oleh persoalan-persoalan yang masih jauh berada dihari mendatang,” katanya didalam hati.
Demikianlah maka akhirnya rumah Ki Gede Menoreh itu pun menjadi semakin sepi. Satu-satu mereka jatuh tertidur dengan kegelisahan yang berbeda-beda.
Menjelang fajar, maka halaman rumah itu telah mulai ramai kembali. Beberapa orang telah terbangun untuk membersihkan ha¬laman, dan mengisi jambaugan. Didapurpun telah nampak api yang menyala diperapian. Sedang gerit sapu lidi, rasa-rasanya telah mem¬bawakan irama tersendiri.
Ki Waskita dan Rudita pun telah terbangun pula. Setelah mem-bersihkan diri dan menunaikan kuwajiban mereka dalam perseku¬tuan mereka dengan Tuhannya, maka mereka pun segera turun ke halaman pula.
Betapa segarnya udara pagi hari di Tanah Perdikan Menoreh. Langit yang kelabu kemerah-merahan oleh sorot matahari yang ma¬sih belum naik ke cakrawala, semakin lama menjadi semakin cerah.
“Kita akan segera meneruskan perjalanan Rudita,” berkata ayahnya.
“Ya Ayah. Tetapi bukankah kita akan minta diri lebih dahulu kepada Ki Gede?”
“Tentu Rudita. Kita akan menunggu sampai Ki Gede bangun. Mungkin Ki Gede semalam tidak segera tidur, sehingga agak ter¬lambat bangun.”
Tetapi sebelum Rudita menjawab, ternyata Ki Gede Menoreh pun telah muncul dari pintu pringgitan. Sambil tersenyum ia berka-ta, ”Marilah Ki Waskita, silahkan naik ke pendapa bersama Rudita.”
Keduanyapun kemudian naik ke pendapa dan duduk diatas ti¬kar pandan putih bergaris-garis biru, yang sejenak kemudian men¬dapat hidangan minuman panas dan beberapa potong jadah yang telah dipanggang diatas api.
Setelah makan dan minum sekedarnya, maka Ki Waskita pun mengulanginya lagi, minta diri kepada Ki Argapati dan Pandan Wa¬ngi yang kemudian ikut duduk pula bersama mereka.
“Tetapi Ki Waskita kami harap segera kembali,” berkata Ki Argapati. Dan seperti yang diduganya, Ki Argapati kemudian berkata, ”sebenarnya aku merasa tersendiri disini. Memang ada orang-orang tua dan para bebahu. Tetapi kadang-kadang mereka, le¬bih condong kepada persoalan-persoalan yang terlampau rumit bagi saat-saat perkawinan itu sendiri. Meskipun satu dua ada juga yang dapat aku percaya untuk memperbincangkan masalah-masalah yang lebih luas dalam hubungannya dengan keadaan disekitar Tanah Perdikan ini, namun didalam persoalan yang lebih mendalam, aku masih harus mempertimbangkan banyak hal. Terutama jika aku ber¬bicara tentang pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram dan keten¬teraman Tanah Perdikan ini. Pada saat-saat yang lain aku dapat berbincang dengan Pandan Wangi. Tetapi saat ini Pandan Wangi su¬dah tidak dapat diajak berbicara tentang apapun lagi kecuali ten¬tang dirinya sendiri.”
“Ah,” wajah Pandan Wangi menjadi kemeran-merahan.
Dan sambil tersenyum Ki Argapati berkata, ”Tetapi bukankah itu wajar Ki Waskita?”
“Ya,” jawab Ki Waskita sambil tersenyum pula, “itu memang wajar sekali.”
Wajah Pandan Wangi yang tunduk menjadi semakin tunduk. Tetapi ia tidak menyahut.
“Ki Gede,” berkata Ki Waskita kemudian, ”mudah-mudahan aku akan dapat datang mendahului isteriku. Biarlah Rudita mengawani ibunya dirumah dan kelak menyusul aku kemari atau aku akan menjemputnya pada waktunya.”
“Terima kasih Ki Waskita. Kehadiran Ki Waskita disini akan dapat menambah hangatnya rumah ini. Karena menjelang hari-hari perkawinan aku tidak hanya akan berbicara tentang pengantin dan segala macam upacaranya, tetapi aku juga harus berbicara tentang keamanan diseluruh Tanah Perdikan ini. Jika kami semuanya teng¬gelam dalam kesibukan hari-hari perkawinan tanpa menghiraukan keadaan Tanah ini dalam keseluruhan, aku cemas, bahwa ada sego¬longan orang yang memanfaatkan keadaan ini untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak sewajarnya. Terlebih-lebih lagi seperti yang dikatakan oleh Ki Waskita, bahwa kedua pusaka yang hilang dari Mataram itu mungkin akan dipertemukan. Apakah itu dilembah antara Gunung Merapi dan Merbabu atau diatas Tanah Perdikan ini, masih belum jelas. Namun untuk menghadapi segala kemungkinan kita akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 22 Desember 2008 at 11:58  Comments (174)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-92/trackback/

RSS feed for comments on this post.

174 KomentarTinggalkan komentar

  1. tambah komen lagi…

    pesan Ki Waskita:
    biaralah para cantrik berusaha dan belajar sendiri mencari titik yang benar .. diantara puluhan atao ratusan titik yang ada 🙂

  2. Horee ….. tambah satu lagi …. maknyusss ….

  3. Ki FAst berdawuh:
    Ki sanak, untuk mendapatkan kitab 92, Ki sanak perlu melihat dibalik padepokan ADBM ini (View, Source) kemudian dengan penelusuran hati (Find) niatkan untuk -melihat kitab92-

    JADI :
    Klik kanan -Source nya – Find nya -kitab92-
    akan muncul dari balik lembah gunung dan bukit sekitar Merapi…,berupa bayang2..
    selanjutnya suruh ngger Swandaru buat donlot
    2,56 MB
    terima kasih KI FAST SAID….

  4. Find : kitab92
    Duh Ki Gede…, butuh elmu Ki Waskita buat cari kitab 92 nih…., untung ada Ki FAST yg memberi petunjuk…, mungkin masih kadang Ki gede juga yg ga tega liat para cantrik kebingungan… …

  5. Permisi….. Aku donlot ya….
    Makasih Kie….
    Haaaaaaa……..

  6. Weleh74788588x…, Ki GD le ndelikke kitab primpen tenan tujune para cantrik ana sing julig lan apik atine dadi aku isa donlot. tengkiu5434656x….

  7. Wah, bojoku wis arep ngamuk ki, tekan yah mene jih rung turu… Tapi demi ADBM aku tetep mbeguguk ngutha waton. Waton isa donlot he3423425x…. Matur nuwun sanget Ki GD…

  8. Walah … Titik Titik ….!! pancen ciamik tenan.

    Matur nuwun Ki Lurah Sastro.

  9. wah pancen elok tenan ontran2 iki.
    Pancen kudune sing ilmune setingkat “kyai gringsing” ya dampingi ana kene

  10. pancene pasisingan ki ana loro, dadi tambah satu,…nuwun

  11. jan seru tenan 🙂
    kulo cantrik enggal, nanging dadi krasan, la wong padepokan ADBM bener2 seru poooll..
    dados seneng kalih permainan Ki Gede, sing mekso tambah waskita.. hehehehe..
    untung kok cantrik2 sanesipun sae2, maringi pencerahan…hehehhe..
    siiippp dech Ki Gede.. jadi makin cinta ama ADBM 🙂

  12. saya punya jidat sdh mendidih mencari kitab 92 di hutan “view sours” dan juga cari “kitab 92 ada di komen ke 92”, ada yang bilang pasingsingan titik,mbok iyao ada cantrik yang bisa memberi pencerahan dengan jelas-terang lan terwoco.terima kasih ya…

  13. mungkin andika sabung sari belum benar-benar meneliti kata-kata dari ki pasingsingan satu demi satu.

    cobalah andika menelitinya tanpa terlewatkan satupun karena itulah petunjuk yang dapat dipergunakan untuk dapat menyempurnakan ilmu andika.

  14. rasa2 para cantrik sdh meloncat jauh dari kitab 92 ini, krn sdh pada selesai akhir tahun lalu, sementara sy masih terseok2 di sini, sy nyerah ki gede , mhn dibantu ki gede, atau mr.sukra utk cari kitab tsb dengan yang lebih transparan.nuwun

  15. Wees ketemu, matur nuwun sanget.

  16. Mohon ma’af semuanya,
    Saya penggemar buku, termasuk serial ADBM ini, bahkan saya mulai membaca nya sejak SD kelas V tahun 1970-an … sayang koleksi buku2nya hilang karena sering berpindah2 (biasalah kalo prajurit pindah2 tugas … rolling). Namun Sayang sekali untuk ngunduh perlu maen kucing2an tebak2an, kayak main games aja, … (emang dulu waktu kecil/remaja belon puas maen yang beginian? …. hehehehehe..) buat yang banyak waktu sih nggak apa2, tapi bagi yang sibuk cara2 download or reading files model ginian kurang nyaman rasanya, apa untuk ukuran orang seumuran saya yang udah EsTeWe … waktu habis terbuang, belon lagi koneksi jaringan yang jelek baru setengah jalan koneksi putus…
    Gitu Ki Uneg2nya…. Mohon dipertimbangkan juga cara donwload yang mudah buat penggemar seperti saya yang Gaptek dan nggak punya waktu banyak dan juga males mikir yang ruwet2 …

    Wassalam
    matur nuwun
    h3rm4n

  17. setelah topo 3 hari akhirnya dapat jg kita92

    Matur nuwun Ki GD

  18. Topo mlaku mundur, ketemu Titik byaar terawangan. Maturnuwun Ki.

  19. Maaf Ki Gede, gue mau kuras habis kitab ADBM, biar elmu gue lebih tinggi dari Agung Sedayu yang pengangguran, bahkan dari ki Pamungkas alias om Grinsing. Ibarat mobil balap, gue mau salib semuanya, awassss…..rem blong………………

  20. setiap permasalahan ternyata banyak sumber yang menyebabkan dan tidak pula gampang untuk dipecahkan…. hanya denga hati dan niat yang bersih serta wawasan luas kita dapat menyelesaikannya…… salut tuk Kyai Gringsing …………..!!!!!!!!!

  21. kog bisa di nma kan bukit menoleh ya kenapa

  22. aneh juga ada api di bukit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: