Buku 92

”Rudita tentu sedang memikirkan perkembangan Mataram,” berkata Ki Waskita didalam hati.
Belum lagi Ki Waskita sampai pada suatu kesimpulan, ia sudah mendengar Rudita bertanya, ”Apakah usaha Raden Sutawijaya membuka Alas Mentaok itu bijaksana Ayah?”
Ki Waskita termenung sejenak. Namun ialah yang kemudian bertanya, ”Kenapa?”
“Apakah dengan demikian tidak akan timbul persoalan dengan Pajang?”
“Kenapa? Kanjeng Sultan sudah menyerahkan Alas Mentaok ini kepada Ki Gede Pemanahan, ayahanda Raden Sutawijaya. Adalah hak Raden Sutawijaya untuk membuka hutan ini. Bahkan kemudian ia menerima anugerah gelar Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.”
Rudita memandang ayahnya sekilas. Lalu, ”Mudah-mudahan memang tidak. Setiap pertentangan membuat hati menjadi sedih. Ceritera yang pernah aku dengar tentang Matarampun membuat aku cemas.”
“Rudita,” berkata ayahnya, ”kau menganggap aku selalu mencurigai orang lain. Tetapi apakah sikapmu itu justru bukan sikap mencurigai. Justru berlebih-lebihan? Kau selalu cemas dan sedih jika kau menghadapi kemungkinan timbulnya pertentangan. Apakah dengan demikian bukan justru dihatimu sendiri telah tumbuh per¬tentangan itu?”
Rudita termenung sejenak. Namun kemudian ia pun tersenyum. Dipandanginya ayahnya sejenak, lalu jawabnya, ”Ayah. Aku ada¬lah salah satu dari sekian banyak manusia yang lemah dan jauh da¬ripada sempurna. Jika Ayah sependapat, maka yang ada didaiam ha¬tiku bukanlah kecurigaan. Tetapi ketakutan dan kecemasan. Masih seperti dahulu. Hatiku selalu dibayangi oleh angan-angan yang me¬nyeramkan. Mungkin yang dapat Ayah lihat perbedaan yang ada pada diriku adalah semata-mata keadaan lahiriah. Aku kini memang tidak menakutkan dan mencemaskan diriku sendiri dalam arti yang terbatas sekali. Karena sebenarnyalah ketakutanku tentang diriku sendiri itu pun belum berubah. Ternyata dengan usahaku mempela¬jari ilmu yang terdapat didalam lontar Ayah, agar aku dapat melin¬dungi diriku sendiri, itu adalah kelemahanku yang paling nampak seperti yang pernah aku katakan. Tetapi lebih daripada itu, aku se¬karang justru dibebani pula oleh ketakutan dan kecemasan, bahwa setiap saat sifat manusia disekitarku selalu menumbuhkan persoalan persoalan diantara mereka sendiri. Persoalan-persoalan yang sama sekali tidak menumbuhkan perkembangan kepribadian, paradaban dan usaha-usaha yang dapat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan mereka. Tetapi justru sebaliknya. Persoalan-persoalan yang dapat menumbuhkan keributan, pertentangan dan bahkan pembunuhan. Persoalan yang akan dapat meruntuhkan pribadi mereka sebagai manusia dan juga peradaban yang bermanfaat bagi hidup kehidupan.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab la¬gi. Tetapi ia mencoba untuk mengerti dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dengan demikian maka mereka untuk seterusnya tidak lagi ba¬nyak berbicara. Ki Waskita yang mencoba mengerti jalan pikiran anaknya, masih saja dibayangi oleh berbagai macam masalah yang sulit dipecahkan. Namun dalam beberapa hal ia sudah dapat me¬nangkapnya.
Demikianlah maka perjalanan mereka pun semakin lama men¬jadi semakin mendekati padukuhan induk yang menjadi pusat peme¬rintahan di Mataram. Padukuhan yang menjadi semakin ramai dan sudah mekar menjadi sebuah kota yang diputari oleh dinding batu yang rapi, dengan empat buah regol diempat penjuru, ditambah lagi beberapa regol butulan yang lebih kecil.
Tetapi perkembangan kota itu ternyata menjadi jauh lebih pesat dari yang diduga semula. Diluar dliding batupun kemudian berkembang pula bagian-bagian kota yang cukup ramai pula, sehingga Mataram harus merencanakan membuat batasan kota yang lebih lu¬as lagi dengan regol-regol baru pula. Namun agaknya Mataram ma¬sih harus menunggu. Apalagi sejak Raden Sutawijaya yang bergelar Senapati Ing Ngalaga dan berkedudukan di Mataram itu sedang me¬lakukan sebuah pengembaraan untuk menempa dirinya.
Sebelum matahari lenyap dibalik cakrawala, Ki Waskita dan Rudita telah berada diujung jalan yang memasuki bagian luar dari Mataram. Sejenak mereka termangu-mangu. Wajah senja yang membayang dilangit membuat Mataram nampak suram.
“Kita akan langsung masuk ke dalam regol,” berkata Ki Waskita yang masih terhenti ditengah jalan.
Rudita mengangguk-angguk. Katanya, ”Kota ini akan semakin berkembang Ayah.”
“Ya. Mudah-mudahan tidak ada persoalan yang akan menghambanya.”
Ki Waskita menjadi berdebar-debar ketika ia melihat wajah anak-nya yang berkerut. Tetapi ternyata Rudita tidak mengatakan sesuatu.
“Marilah,” berkata Ki Waskita, ”kita memasuki kota.”
Keduanyapun kemudian melanjutkan perjalanan mereka yang sudah menjadi semakin pendek. Ketika mereka mendekati regol, maka beberapa orang sudah nampak menyalakan lampu minyak diregol halaman masing-masing. Sedangkan dari celah-celah dinding rumah-rumah itu pun cahaya lampu nampak berkeredipan disentuh angin senja.
Langitpun semakin lama menjadi semakin suram. Sementara lampupun rasa-rasanya menjadi semakin banyak menyala disepani jang jalan.
Regol kota Mataram masih tetap terbuka, dan bahkan selalu terbuka, sesuai dengan sifat kotanya yang memang terbuka. Meskipun demikian, diregol itu nampak beberapa orang pengawal yang berjaga-jaga. Disebuah gardu disebelah regol itu, beberapa orang penga¬wal duduk dan bercakap-cakap diantara mereka. Sedang dua orang diantara para pengawal itu siap berdiri dikedua sisi regol itu dengan tombak ditangan.
Tetapi para pengawai itu tidak pernah menegur dan menyapa orang-orang yang lalu lalang masuk keluar regol kecuali mereka yang memang dapat menumbuhkan kecurigaan.
Demikianlah Ki Waskita dan Rudita pun langsung menuju ke rumah Raden Sutawijaya, yang ditunggui oleh beberapa orang penga¬wal kepercayaan Senapati Ing Ngalaga, termasuk Ki Lurah Branjangan.
Kedatangan Ki Waskita diterima dengan senang hati oleh para pemimpin di Mataram. Kunjungan itu rasa-rasanya merupakan kun-jungan yang dapat sedikit memberikan suasana yang lain bagi para pemimpin di Mataram.
Setelah saling menyapa tentang keselamatan masing-masing maka Ki Waskita dan Rudita yang duduk dipendapa itu pun kemu¬dian dipersilakan meneguk minuman panas dan sekedar makanan yang telah dihidangkan.
“Aku hanya sekedar singgah,” berkata Ki Waskita, ”aku sedang dalam perjalanan pulang, mengantarkan anakku yang selama ini membingungkan hati ibunya.”
“O,” para pemimpin itu mengangguk-angguk. Namun kembali Ki Waskita menjadi berdebar-debar melihat sikap Rudita.
Tetapi ternyata Rudita tidak mengatakan sesuatu. Bahkan ia menundukkan wajahnya yang menjadi kemerah-merahan, karena setiap orang telah memandanginya.
“Jika Ki Waskita telah beristirahat sejenak, telah minum dan sekedar makanan, maka kami persilahkan Ki Waskita pergi ke pakiwan bersama dengan putera Ki Waskita. Kami persilahkan berdua mempergunakan gandok sebelah, apabila Ki Waskita akan berganti pakaian dan untuk beristirahat malam nanti. Sementara kami me¬nunggu Ki Waskita dan Angger Rudita untuk makan malam bersa¬ma,” berkata Ki Lurah Branjangan.
Ki Waskita tertawa. Katanya, ”Aku selalu membuat repot sa¬ja disini.”
Ki Lurah tertawa pula. Jawabnya, ”Kami biasa menyediakan makan dan minum untuk banyak orang. Jika Ki Waskita berdua de¬ngan Anakmas Rudita menambah jumlah itu dengan dua, maka aku kira tidak akan banyak berpengaruh.”
Demikianlah Ki Waskita dan Rudita segera diantar ke gandok. Mereka pun kemudian pergi ke pakiwan untuk membersihkan diri. Baru kemudian mereka berdua naik lagi ke pendapa. Dipendapa ter¬nyata sudah disediakan sederet hidangan makan malam. Bukan ha¬nya untuk Ki Waskita dan Rudita, tetapi juga untuk para pemimpin Mataram yang lain yang kebetulan ada dirumah itu bersama para pemimpin pengawal.
Sejenak kemudian, maka mereka pun segera makan bersama. Sambil berbicara serba sedikit tentang kemajuan Mataram sepening¬gal Raden Sutawijaya.
Tetapi Ki Waskita sendiri tidak banyak menanggapi pembica¬raan mereka, seolah-olah ia sedang menikmati hidangan yang ada dihadapanniya itu sebaik-baiknya.
Bahkan kemudian setelah mereka selesai makan malam, Ki Waskita pun berkata, ”Maaf Ki Lurah. Barangkali anakku masih terlalu lelah. Biarlah ia minta diri untuk segera beristirahat.”
“O, silahkan. Silahkan Ngger,” berkata Ki Lurah Branjangan.
Rudita, yang mendengar kata-kata ayahnya itu justru menjadi heran. Ia sama sekali tidak merasa lelah. Dan sebenarnya ia masih ingin duduk untuk mendengarkan pembicaraan tentang Tanah Ma¬taram yang sedang berkembang itu.
“Marilah Rudita,” berkata ayahnya, lalu katanya kepada Ki Lurah Branjangan, ”aku masih akan berbicara dengan Ki Lurah meskipun hanya sekedar bergurau.”
Rudita tidak menjawab. Ia pun kemudian mengikuti ayahnya pergi ke gandok.
“Aku sama sekali tidak lelah,” berkata Rudita ketika mereka sudah berada di gandok.
“Aku tahu Rudita. Kau sama sekali tidak lelah dan tidak mengantuk. Apalagi ingin beristirahat. Tetapi untuk sementara, sebaiknya kau beristirahat,” sahut ayahnya, ”aku minta maaf bahwa pembicaraan untuk selanjutnya tentu tidak akan sesuai dengan jalan pikiranmu. Karena itu, lebih baik kau tidak ikut mendengar¬nya seperti sikap yang pernah kau lakukan di Sangkal Putung,” ayahnya berhenti sejenak, lalu, ”itu agaknya memang lebih baik bagimu. Kau sama sekali tidak akah dibebani oleh perasaan bersa¬lah atau bahkan seperti yang kau sebutketakutan dan kecemasan.”
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia pun kemudian mengangguk sambil bergumam, ”Baiklah Ayah. Aku akan berba¬ring saja dipembaringan.”
Ayahnya menarik nafas. Tetapi agaknya itulah yang paling baik bagi anaknya.
Sejenak kemudian maka ditinggalkannya Rudita sendiri didalam gandok. Meskipun ia agak ragu-ragu, tetapi dipaksanya juga keputusannya untuk tidak membawa Rudita didalam pembicaraan tentang pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram itu.
Sementara Ki Waskita masuk kedaiam bilik, agaknya Ki Lurah Branjangan pun dapat menangkap pula maksud yang lain, yang ter¬sirat dari sikap itu. Agaknya Ki Waskita ingin berbicara tentang sesuatu tanpa didengar oleh banyak orang.
Karena itu, maka Ki Lurah pun mempersilahkan para pemim¬pin itu untuk kembali ke tugas masing masing, atau pulang untuk beristirahat.
Karena itulah, ketika Ki Waskita kembali ke pendapa, yang ada tinggallah beberapa orang yang memang sudah mengetahui bahwa kedua pusaka yang menjadi pertanda jabatan dan kekuasaan Mata¬ram telah hilang.
Dipendapa, maka Ki Waskita pun mulai menceriterakan apa yang telah terjadi di Jati Anom. Ia menceriterakan semua segi per¬soalan yang diketahuinya. Juga tentang sikap Untara, dan kemung¬kinan bahwa Pajang memang belum mendengar bahwa kedua pusa¬ka itu hilang dari Mataram.
“Tetapi pada suatu saat, orang-orang yang berhasil mengam¬bil itu sendirilah yang akan membuka rahasia hilangnya kedua pu¬saka itu,” berkata Ki Lurah Branjangan kemudian.
“Jika kita berhasil segera mendapatkannya kembali, maka mereka tidak akan dapat mengatakan apapun juga.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Peristiwa di Jati Anom itu sa¬ngat menarik perhatiannya.
“Sayang, Raden Sutawijaya masih belum kembali.”
“Dimanakah Raden Sutawijaya sekarang? Barangkali telah ada kabar dari Raden Sutawijaya berada di Pegunungan Sewu. Ka¬mi memang sudah membuat hubungan. Dan kami pun telah membe¬ritahukan, bahwa puteranya ingin sekali bertemu untuk melihat wa¬jahnya.”
“Puteranya?”
“Ya. Masih terlalu kecil. Puteranya dengan gadis Kalinyamat itu.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.
“Mereka ada disini sekarang, ibu dan puteranya.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berta¬nya lebih lanjut tentang puteri dari Kalinyamat dan puteranya itu.
Ki Lurah Branjangan pun agaknya tidak lagi ingin memperbin-cangkan puteri Kalinyamat itu. Karena itulah maka ia pun kemudian kembali pada pokok persoalannya. Katanya, ”jadi apakah menu¬rut Ki Waskita, pusaka itu sekarang masih ada disekitar Gunung Merapi?”
“Ya Ki Lurah.”
“Apakah kita dapat mengirimkan sepasukan pengawal Mata¬ram untuk menemukan mereka? Jika akibatnya kita harus ber¬tempur seperti prajurit Pajang, maka kita tidak akan undur. Pusaka itu sudah sepantasnya direbut dengan pengorbanan.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Untunglah bahwa Rudita tidak ikut berbicara diantara mereka.
“Ki Lurah,” berkata Ki Waskita, “kita sudah tertinggal beberapa hari. Dengan demikian, maka banyak kemungkinan dapat terjadi. Juga kemungkinan bahwa Kiai Kalasa Sawit telah me¬ninggalkan daerah Gunung Merapi sejauh-jauhnya. Namun katakan¬lah bahwa dugaanku benar, bahwa Kiai Kalasa Sawit masih berada disekitar Gunung Merapi. Maka usaha untuk menemukannyapun agaknya terlampau sulit.”
“Mungkin sangat sulit Ki Waskita. Tetapi tanpa usaha apapun juga, kita juga tidak akan berhasil.”
“Untuk melakukannya, agaknya kita harus memperhitungkan Pajang pula. Jika pasukan pengawal Mataram bertemu dengan prajurit-prajurit Pajang, maka persoalannya akan berubah.”
“Kita melakukan tugas kita masing-masing,” jawab Ki Lurah.
“Tetapi Pajang merasa berkuwajiban untuk menjaga dan melindungi seluruh wilayah Pajang. Panglima muda dibagian Selatah ini pun tentu berpendirian demikian pula.”
”Tetapi jangan lupa Ki Waskita,” berkata Ki Lurah Branjangan, ”Raden Sutawijaya adalah putera Kanjeng Sultan Pajang yang mendapat anugerah gelar dan jabatan Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian ber-tanya, ”Tetapi Ki Lurah. Apakah anugerah yang diterima oleh Raden Sutawijaya itu disertai dengan ketentuan lebih lanjut atas tugas dan daerah wewenangnya? Jika Kiai Kalasa Sawit katakanlah masih berada dilereng Gunung Merapi disisi manapun juga, apakah kekuasaan Senapati Ing Ngalaga mempunyai wewenang untuk me¬lakukan tindakan sesuatu atas mereka? Apa pula hubungannya de¬ngan kekuasaan prajurit Pajang didaerah itu yang masih belum di¬cabut wewenangnya?”
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya perlahan-lahan tertunduk. Dengan nada yang datar ia bergumam, ”Itulah yang masih kurang sekarang ini. Anugerah gelar dan jabatan atas Raden Sutawijaya yang tidak disertai kepastian tugas dan wewenang. Sedangkan yang disebut Mataram pun masih belum pasti. Yang dihadiahkan kepada Ki Gede Pemanahan adalah Alas Mantaok. Tetapi ternyata negeri yang menjadi ramai ini tidak hanya di¬batasi oleh dinding hutan yang sekarang sudah hampir seluruhnya ditebang.
“Dengan demikian Ki Lurah,” sahut Ki Waskita kemudian, “persoalan orang-orang yang berada dilereng Gunung Merapi itu pun masih harus dipertimbangkan masak-masak, sehingga satu sama lain tidak akan saling menyinggung.”
Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Katanya, ”Ki Was¬kita benar. Kita memang tidak dapat bertindak tergesa-gesa. Untara adalah seorang Panglima yang teguh pada sikap dan pendirian se¬orang prajurit. Tetapi jika Untara mendesaknya dari Timur meskipun seandainya Kiai Kalasa Sawit berada dicelah-celah antara Gu¬nung Merapi dan Merbabu, kemudian mereka terdorong ke Barat, maka atas persetujuan Untara, kami dapat bertindak atas mereka.”
“Agaknya hal itu dapat dilakukan. Sementara Untara tidak mengetahui bahwa Kiai Kalasa Sawit membawa sebuah pusaka yang sangat berharga bagi Mataram.”
“Kami akan mencoba menghubungi Untara. Mudah-mudahan Untara tidak salah paham.”
“Dalam hal ini agaknya peran Kiai Gringsing akan dapat membantu,” desis Ki Waskita.
“O, tentu. Kiai Gringsing masih mendapat kepercayaan dari semua pihak. Apalagi jika Untara mengenal tanda-tanda yang terpa¬hat pada tubuh Kiai Gringsing, khususnya dipergelangan tangannya.”
“Tetapi,” berkata Ki Waskita kemudian, ”saat ini Kiai Gringsing sedang disibukkan oleh rencana perkawinan muridnya. Swandaru. Agaknya kini ia menyisihkan waktunya untuk keperluan tersebut. Perkawinan itu hanya tinggal beberapa hari saja lagi. Tidak sampai sebulan.”
“O,” Ki Lurah Branjangan mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya meskipun agak ragu-ragu, ”Kiai Gringsing akan dapat memilih kesempatan. Persoalan yang dihadapi Mataram tentu merupakan persoalan bagi suatu lingkungan dan anak keturunannya. Kelangsungan hidup dan harga diri. Sedang perkawinan adalah ma¬salah pribadi semata-mata. Apalagi dalam keadaan suka.”
Ki Waskita mengerutkah keningnya. Kemudian ia pun berkata, “Ki Lurah benar. Tetapi jika kita menghitung seluruh tahun pada umur-umur Kiai Gringsing, berapa lama dalam perbandingan keseluruhan Kiai Gringsing mementingkan kepentingan pribadinya terma¬suk murid-muridnya?”
Ki Lurah Branjangan seolah-olah tersadar dari mimpinya. Dengan serta merta ia berkata, ”Maaf aku keliru Ki Waskita. Jika Kiai Gringsing ada, aku wajib minta maaf kepadanya.”
Ki Waskita tersenyum Katanya, ”Ia tidak mendengar. Karena itu Ki Lurah tidak perlu minta maaf kepadanya.”
Ki Lurah Branjangan tertawa. Namun nampak pada sorot ma¬tanya bahwa ia benar-benar telah menyesal.
“Ki Lurah,” berkata Ki Waskita kemudian, ”hendaknya yang kami beritahukan tentang pusaka itu dapat dijadikan bahan yang barangkali akan membantu mengungkapkan usaha penemuan¬nya. Selebihnya, kami masih belum dapat mengatakan apa-apa. Setelah perkawinan Angger Swandaru itu berlangsung, maka kami akan da¬pat menilai, apakah yang sebaiknya kami lakukan.”
Ki Lurah mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku mengucapkan terima kasih Ki Waskita. Dan aku pun benar-benar ingin minta maaf. Aku telah salah menilai bantuan dan jasa yang tidak ada taranya dari Ki Waskita, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Juga Ki Argapati di Menoreh. Terutama pada saat kita bersama-sama menghan¬curkan Panembahan Agung dan Panembahan Alit.”
“Kita saling membutuhkan bantuan,” jawab Ki Waskita.
“Disaat-saat mendatang, kami tentu masih banyak memerlu¬kan bantuan.”
“Sudah tentu kami tidak akan berkeberatan Ki Lurah. Tetapi dalam batas kemampuan kami.”
Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka saling berdiam. Seolah-olah mereka sedang me¬nilai semua peristiwa yang pernah terjadi.
Namun dalam pada itu, sejenak kemudian Ki Waskita berkata, ”Ki Lurah. Selain semua pesan yang sudah aku sampaikan ten¬tang pusaka itu, aku masih membawa pesan yang lain dari Ki Demang di Sangkal Putung.”
“O,” Ki Lurah mengerutkan dahinya. ”Apakah pesan itu juga menyinggung pusaka-pusaka yang hilang itu atau perkembangan Mataram selanjutnya?”
Ki Waskita menggelengkan kepalanya. Lalu katanya, ”Sama sekali tidak ada hubungannya dengan pusaka-pusaka itu Ki Lurah. Tetapi justru mengenai perkawinan Angger Swandaru.”
Ki Lurah memperhatikan kata-kata Ki Waskita dengan saksa¬ma.
Ki Waskita pun kemudian menyampaikan pesan Ki Demang, untuk mohon bermalam barang satu malam, pada saat Swandaru bersama pengiringnya pergi ke Tanah Perdikan Menoreh.
Ki Lurah yang mendengarkan pesan itu dengan tegang, akhir¬nya tertawa. Katanya, ”Aku sudah berdebar-debar. Tetapi pesan ini ternyata menggembirakan sekali. Tempat yang dipilih untuk sing¬gah pengantin, apalagi untuk bermalam, tentu akan mendapatkan kurnia yang sepadan,” ia berhenti sejenak, lalu, ”tentu kami sama sekali tidak berkeberatan. Apa yang dapat kami sediakan akan kami siapkan disini.”
“Ki Demang tentu akan sangat berterima kasih. Aku pun ber¬terima kasih pula, bahwa tugas yang dipesankan kepadaku ternyata berbasil dengan baik.”
“Bukankah Ki Waskita tidak pernah gagal menjalankan tusas apapun juga?”
Ki Waskita tertawa. Tetapi ia menyahut, ”Khususnya mengurus hari-hari perkawinan.”
Yang mendengarnya tertawa pula, sehingga pembicaraan itu pun kemudian dilanjutkan dengan gurau yang segar, meskipun ka¬dang-kadang menyentuh juga tentang pusaka-pusaka yang hilang.
Rudita yang berada didalam biliknya mencoba untuk dapat benar-benar beristirahat. Dicobanya untuk memejamkan matanya. Na¬mun ternyata bahwa ia masih saja selalu gelisah. Dan kegelisahan¬nya itu adalah pertanda, bahwa belum ada kedamaian didalam hati¬nya sendiri.
“Alangkah lemahnya hati manusia,” desisnya.
Sekali-sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Ketika terdengar suara tertawa dipendapa, Rudita mengerutkan keningnya. Diluar sa¬darnya ia pun tersenyum. Agaknya orang-orang yang berada dipen¬dapa itu tidak sedang dicengkam oleh ketegangan dalam pembicara¬an mengenai pusaka-pusaka yang hilang itu.
“Sukurlah jika mereka tidak sedang membicarakan sikap kekerasan,” katanya didalam hati.
Namun demikian, terasa sebuah desir yang tajam tergores dihatinya. Ia mulai merasa semakin terasing dari pergaulan sesamanya karena agaknya sikap dan pendiriannya masih belum dapat di¬mengerti oleh orang lain. Bahkan ayahnya sendiri telah membiarkannya berbaring seorang diri didalam bilik itu, sementara dipen¬dapa beberapa orang duduk dan saling mengutarakan pikiran dan pengalamannya yang agaknya langsung atau tidak langsung me¬nyangkut pusaka-pusaka yang hilang itu, sebelum mereka menemukan suasana yang terang.
Tetapi Rudita tidak menyesali sikapnya. Yang disesali adalah kekebalan hati sesama yang tidak dapat mengerti sikap dan pendi¬riannya.
Meskipun demikian Rudita berusaha untuk tetap mengerti bahwa,ia tidak akan dapat merombak wajah lingkungannya dengan cepat. Karena itu ia harus berbuat menurut keyakinannya tanpa me¬ngenal lelah dan jemu. Meskipun akibatnya akan dapat menjadi se¬makin parah. Mungkin ia akan terasing sama sekali. Namun pada suatu saat, manusia akan mengakui, bahwa kedamaian yang sejati, tidak terletak pada kekuatan yang berlimpah-limpah dan tidak ter¬kalahkan. Tetapi kedamaian yang sejati terletak didalam hati. Si¬kap, tingkah laku, kata-kata dan angan-angan yang memancarkan kedamaian dihati itu akan memberikan ketenteraman yang sejuk dan langgeng, karena dengan demikian tidak akan ada sikap, angan-angan dan kata-kata yang bersifat permusuhan, curiga dan memen¬tingkan diri sendiri.
”Aku masih harus menunggu lama sekali,” berkata Rudita di dalam hati, ”bahkan mungkin sepanjang umurku, atau bah¬kan sebaliknya, akan menjadi semakin jauh.“
Tetapi Rudita dengan sadar akan tetap berjalan diatas jalan yang telah dirintisnya. Apapun akibatnya. Keterasingan dan barangkali ia justru akan kehilangan arti sama sekali.
Ternyata Rudita masih tetap belum tertidur ketika ayahnya memasuki bilik itu setelah menjadi lelah berbicara dan berkelakar dengan para pemimpin Mataram, justru yang paling penting. Namun agaknya ada beberapa hal yang dapat dianggap sebagai keterangan yang penting bagi Mataram, yang pantas dilaporkan kepada Raden Sutawijaya dengan segera.
“Agaknya Raden Sutawijaya telah terlibat dalam persoalan yang sama seperti yang pernah terjadi atas gadis Kalinyamat itu,” bekata Ki Lurah Branjangan didalam hatinya.
Beberapa hari yang lewat seorang penghubung berhasil mene¬mui Raden Sutawijaya di Pegunungan Sewu. Penghubung itulah yang menceriterakan, bahwa agaknya persoalan yang telah pernah terjadi itu, terjadi sekali lagi.
Tetapi Ki Lurah yans masih belum tahu dengan pasti, apakah cerita itu benar, masih belum berani mengatakannya kepada siapa¬pun juga. Bahkan ia berpesan kepada penghubung itu, bahwa sebaik¬nya ia tidak mengatakannya kepada orang lain.
“Jika benar hal itu terjadi, maka alangkah sedihnya Semangkin yang pernah dinamakan Rara Pamikatsih oleh Ki Gede Pema¬nahan, karena gadis itu bersama adiknya Prihatin yang kemudian disebut Rara Pamilutsih berhasil menarik perhatian, dan bahkan meruntuhkan hati Sultan Pajang, sehingga dengan serta merta ia menyanggupkan diri untuk mengalahkan Jipang.” Ki Lurah Branjangan selalu dikejar oleh angan-angannya tentang Raden Sutawijaya dan tingkah lakunya menghadapi gadis-gadis.
Dalam pada itu, ternyata bahwa Rudita dan ayahnya tidak lagi banyak beibicara. Agaknya Ki Waskita telah dengan sengaja mem¬batasi setiap pembicaraan yang kadang-kadang dapat menumbuhkan persoalan dan justru salah paham.
Karena itulah, maka ia pun kemudian membaringkan diri dipembaringan sambil bergumam, ”Aku lelah sekali Rudita. Aku akan mencoba tidur senyenyaknya. Apakah kau tidak mengantuk?”
“Aku pun ingin tidur nyenyak Ayah. Tetapi agaknya aku me¬mang belum mengantuk. Tetapi jika Ayah ingin segera tidur, silahkanlah. Aku pun tentu akan tertidur pula nanti.”
Ayahnya tidak menjawab. Dipejamkannya matanya sambil menyilangkan tangan didadanya. Sejenak kemudian maka nafasnyapun beredar dengan teratur.
Rudita memperhatikan tarikan nafas ayahnya sejenak. Tetapi ia tersenyum sendiri. Ia tahu bahwa ayahnya tidak tidur. Meskipun demikian ia sama sekali tidak mau mengusiknya lagi.
Namun lambat laun, keduanya yang saling berdiam diri dipembaringan itu pun akhirnya tertidur juga. Meskipun tidak terlalu lama, karena mereka segera terbangun ketika mereka mendengar ayam berkokok dini hari.
Seperti yang direncanakan, maka pada pagi itu juga, Ki Was¬kita dan Rudita mohon diri untuk meneruskan perjalanan. Beberapa persoalan yang menyangkut pusaka-pusaka yang hilang itu masih disinggung sedikit oleh Ki Lurah. Namun kemudian mereka lebih banyak berbicara tentang rencana Ki Demang untuk singgah di Ma¬taram pada saat mereka membawa Swandaru ke Tanah Perdikan Menoreh.
Dengan diantar oleh Ki Lurah Branjangan dan beberapa orane pemimpin Menoreh sampai ke regol, maka Ki Waskita dan Rudita meninggalkan rumah Raden Sutawijaya yang menjadi pusat peme-rintahan di Mataram itu.
Ketika matahari kemudian naik semakin tinggi, maka kuda Ki Waskita dan Rudita meninggalkan kota Mataram yang berkembang dengan pesat. Mereka menempuh bulak yang panjang dan subur. Bulak yang baru beberapa kali menghasilkan padi dan palawija, se¬telah hutan diatas tanah itu ditebang.
“Mataram akan menjadi sangat subur,” berkata Ki Waskita seolah-olah kepada diri sendiri.
Rudita berpaling kepadanya. Kepalanya terangguk lemah. Ka-tanya, ”Ya. Mataram akan menjadi sangat subur.”
Sambil menatap batang-batang padi yang hijau maka kuda me¬reka itu pun berlari terus. Tidak terlampau kencang, karena mereka rasa-rasanya memang sedang menikmati angin pagi diatas Tanah Mataram.
Namun demikian perjalanan mereka itu pun semakin lama men¬jadi semakin dekat dengan Kali Praga. Kali yang cukup luas dengan airnya yang berwarna lumpur. Apalagi apabila hujan dilereng gunung menghanyutkan guguran tanah masuk kedalam arus air yang semakin deras.
Jalan yang menuju ke daerah penyeberangan di Kali Praga su¬dah menjadi semakin ramai. Jalan menuju ke Tanah Perdikan Me¬noreh, dan daerah yang lebih jauh lagi disebelah Barat, menjadi semakin ramai pula dilalui orang. Para pedagangpun hilir mudik de¬ngan dagangan masing-masing. Barang-barang yang dapat ditukar¬kan dengan hasil bumi maupun alat-alat pertanian yang dibuat di daerah yang lain.
Ki Waskita dan Rudita berpacu terus. Rasa-rasanya sinar ma¬tahari menjadi semakin panas dan menggigit kulit seperti gigitan se¬mut yang gatal.
Namun diperjalanan tidak banyak persoalan yang mereka te¬mui. Bersama-sama dengan beberapa orang lain yang lewat mereka menyeberang Kali Praga dengan perahu. Agaknya para tukang satang telah berani turun ke sungai, setelah beberapa lama tidak terjadi lagi bencana yang menimpa mereka dan kawan-kawan mereka disepanjang daerah penyeberangan itu.
Demikianlah, maka setelah beberapa kali beristirahat untuk memberi minum dan makan bagi kuda-kudanya, keduanyapun menjadi semakin dekat dengan padukuhan induk.
Ketika dua orang pengawal yang sedang nganglang mengawasi keamanan daerah Tanah Perdikan Menoreh melihatnya, dan yang kebetulan sudah mengenal Ki Waskita, maka mereka berduapun segera membawanya langsung menuju ke rumah Ki Argapati. Bahkan salah seorang dari keduanyapun mendahului untuk memberitahukan kehadiran Ki Waskita.
Ki Argapati menjadi berdebar-debar. Ki Waskita, menurut pe-ngertiannya, telah pergi ke Sangkal Putung bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar untuk mencari anaknya yang pergi dari rumahnya, sekaligus membawa pesan-pesannya mengenai persoalan hari-kari perkawinan Pandan Wangi.
“Ia hanya berdua dengan puteranya yang manja itu,” desis pengawal itu.
Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Jadi anak itu sudah dapat diketemukannya.”
Demikianlah, maka sejenak kemudian Ki Waskita dan Rudita pun memasuki halaman rumah kepala Tanah Perdikan Menoreh. Ki Argapati yang telah diberitahu akan kedatangannya telah siap menyambutnya dipendapa.
Dengan wajah yang terang Ki Argapati menyongsong tamunya. Ketika nampak olehnya Rudita bersama ayahnya, maka ia pun segera mendekatinya sambil memberikan salam.
“Akhirnya ayahmu berhasil menemukan kau Rudita,” berkata Ki Argapati.
Rudita menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia menjawab, ”Sebenarnya aku tidak sengaja membuat Ayah menjadi sibuk dan terpaksa menyusuri lereng-lereng Gunung Merapi mencari aku.”
Ki Argapati tertawa. Katanya, ”Itulah yang terbersit dihati anak-anak muda. Tetapi orang tua kadang-kadang menjadi cemas dan tidak dapat berdiam diri. Apalagi seorang ibu.”
Rudita tidak menjawab.
“Marilah,” Ki Argapati pun kemudian mempersilahkan Ki Waskita, ”aku ikut bergembira, bahwa Rudita telah diketemukan.
Ki Waskita tertawa. Katanya, ”Setelah aku membuat orang-orang Sangkal Putung dan terutama prajurit-prajurit Pajang di Jati Anom menjadi sibuk.”
Ki Argapati mengerutkan keningnya. Dan Ki Waskita pun berkata selanjutnya, ”Nanti aku ceriterakan, bagaimana lereng Me¬rapi itu terguncang.”
“Gempa Paman,” tiba-tiba saja Rudita memotong, ”mungkin terasa juga di Tanah Perdikan Menoreh. Bukan saja lereng Merapi yang terguncang.”
Ki Argapati termenung sejenak. Namun ia pun kemudian terta-wa, ”Ya. Memang pernah terjadi gempa. Meskipun tidak begitu kuat disini.”
“Tetapi karena sumber gempa itu adalah Gunung Merapi, ma¬ka yang paling terguncang adalah lereng Gunung Merapi.”
Ki Argapati tertawa. Katanya, ”Ya. Kau benar Rudita. Teta¬pi, marilah. Silahkan naik ke pendapa.”
Setelah mengikat kudanya pada batang perdu dihalaman, ser¬ta mencuci kaki dijambangan dibawah pohon soka, maka mereka pun segera naik ke pendapa.
Mula-mula, seperti kebiasaan yang lazim, maka mereka pun saling bertanya tentang keselamatan masing-masing. Juga keselamatan orang-orang yang ditinggalkannya di Sangkal Putung dan bahkan Jati Anom.
Ketika minuman dan makanain telah dihidangkan, maka mulai¬lah Ki Waskita berceritera tentang Rudita. Meskipun ia harus ber¬hati-hati dan menghindari persoalan-persoalan yang agaknya akan dapat menumbuhkan persoalan pada anaknya itu.
Pembicaraan yang menjadi ramai ketika Pandan Wangi ikut menemuinya pula. Bahkan kadang-kadangt ia masih dapat mengganggu Rudita yang beberapa saat yang lalu adalah seorang anak yang aneh. Seorang anak muda yang sama sekali tidak memdiki sifat-sifat seorang anak muda sewajarnya. Karena itulah maka ia tidak lebih dari seorang anak muda yang penakut, bahkan pengecut dan agak licik.
Tetapi sifat-sifat itu sama sekali telah berubah. Meskipun peru-bahan yang terjadipun membuat Rudita tetap seorang anak muda yang aneh dalam bentuknya yang lain.
Namun, seperti yang diduga oleh Rudita, bahwa ia harus di asingkan dari pembicaraan yang lebih bersungguh-sungguh, ternyata pula dimalam harinya. Ketika dipendapa sudah diterangi oleh lam¬pu minyak, dan setelah Rudita dan ayahnya mandi serta membe¬nahi pakaiannya, datanglah saatnya mereka dijamu makan ma¬lam. Namun setelah itu, maka Ki Waskita berkata kepada anaknya, ”Rudita, jika kau lelah, beristirahatlah. Aku masih akan menyam¬paikan pesan-pesan Ki Demang Sangkal Putung tentang hari-hari perkawinan Angger Swandaru dan Angger Pandan Wangi.”
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia memang merasa lebih baik tidak ikut dalam pembicaraan yang tidak dapat diikutinya dengan perasaannya.
Setelah minta diri untuk beristirahat kepada Ki Argapati dan bebabu Tanah Perdikan yang hadir menyambut kedatangannya ma¬ka Rudita pun kemudian pergi ke gandok yang disediakan baginya dan ayahnya.
Tetapi seperti di Mataram, ia pun tidak segera dapat tidur. Mes-kipun kemudian ia berbaring juga dipembaringan, namun rasa-rasanya ia masih mendengar pembicaraan yang riuh dipendapa. Sekali-sekali ia mendengar suara tertawa yang meledak. Agak berbeda de¬ngan saat pembicaraan di Mataram yang agak tegang meskipun kadang-kadang juga terdengar suara tertawa.
“Pembicaraan kali ini lebih banyak berkisar pada hari-hari perkawinan itu,” desis Rudita didalam hatinya, ”tetapi aku tetap tidak diperkenankan ikut serta.”
Sebenarnya yang sedang dibicarakan dipendapa adalah hari-hari yang sedang ditunggu-tunggu oleh segenap penghuni Tanah Perdikan Menoreh. Seakan-akan mereka tidak sabar lagi, bahkan rasa-rasanya hari tidak berjalan seperti biasanya.
Dalam pembicaraan itu, maka semua pesan Ki Demang Sang¬kal Putung telah disampaikannya pula. Persoalan-persoalan yang langsung dan tidak langsung menyangkut kedatangan Swandaru pun telah dibicarakannya. Tempat penginapan dan segala keperluannya. Kemudian menjelang sepasar dan akhirnya hari-hari keberangkatan kedua pengantin ke Sangkal Putung.
Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Meskipun belum ter¬jadi, tetapi rasa-rasanya Tanah Perdikan Menoreh telah menjadi sa¬ngat sepi. Rasa-rasanya Ki Argapati harus hidup sendiri dirumahnya yang besar itu.
Sudah agak lama Ki Argapati ditinggal oleh isterinya yang te¬lah mendahului menghadap Tuhannya kembali. Kesepian yang mu¬la-mula mencengkam, terasa mulai terisi sejak Pandan Wangi me¬ningkat dewasa. Rasa-rasanya Pandan Wangi dapat membuat ru¬mahnya seakan-akan terbangun setelah tidur untuk waktu yang lama.
Tetapi pada suatu saat, Pandan Wangi itu harus meninggalkan¬nya pergi bersama suaminya.
“Namun hai itu harus terjadi,” berkata Ki Argapati didalam hatinya, ”setiap gadis akan meninggalkan orang tuanya dan ikut bersama suaminya. Demikian juga harus terjadi pada Pandan Wangi. Aku tidak boleh mementingkan diriku sendiri dan membiar¬kan Pandan Wangi tetap tinggal dirumah ini sampai hari matiku.”

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 22 Desember 2008 at 11:58  Comments (174)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-92/trackback/

RSS feed for comments on this post.

174 KomentarTinggalkan komentar

  1. tambah komen lagi…

    pesan Ki Waskita:
    biaralah para cantrik berusaha dan belajar sendiri mencari titik yang benar .. diantara puluhan atao ratusan titik yang ada 🙂

  2. Horee ….. tambah satu lagi …. maknyusss ….

  3. Ki FAst berdawuh:
    Ki sanak, untuk mendapatkan kitab 92, Ki sanak perlu melihat dibalik padepokan ADBM ini (View, Source) kemudian dengan penelusuran hati (Find) niatkan untuk -melihat kitab92-

    JADI :
    Klik kanan -Source nya – Find nya -kitab92-
    akan muncul dari balik lembah gunung dan bukit sekitar Merapi…,berupa bayang2..
    selanjutnya suruh ngger Swandaru buat donlot
    2,56 MB
    terima kasih KI FAST SAID….

  4. Find : kitab92
    Duh Ki Gede…, butuh elmu Ki Waskita buat cari kitab 92 nih…., untung ada Ki FAST yg memberi petunjuk…, mungkin masih kadang Ki gede juga yg ga tega liat para cantrik kebingungan… …

  5. Permisi….. Aku donlot ya….
    Makasih Kie….
    Haaaaaaa……..

  6. Weleh74788588x…, Ki GD le ndelikke kitab primpen tenan tujune para cantrik ana sing julig lan apik atine dadi aku isa donlot. tengkiu5434656x….

  7. Wah, bojoku wis arep ngamuk ki, tekan yah mene jih rung turu… Tapi demi ADBM aku tetep mbeguguk ngutha waton. Waton isa donlot he3423425x…. Matur nuwun sanget Ki GD…

  8. Walah … Titik Titik ….!! pancen ciamik tenan.

    Matur nuwun Ki Lurah Sastro.

  9. wah pancen elok tenan ontran2 iki.
    Pancen kudune sing ilmune setingkat “kyai gringsing” ya dampingi ana kene

  10. pancene pasisingan ki ana loro, dadi tambah satu,…nuwun

  11. jan seru tenan 🙂
    kulo cantrik enggal, nanging dadi krasan, la wong padepokan ADBM bener2 seru poooll..
    dados seneng kalih permainan Ki Gede, sing mekso tambah waskita.. hehehehe..
    untung kok cantrik2 sanesipun sae2, maringi pencerahan…hehehhe..
    siiippp dech Ki Gede.. jadi makin cinta ama ADBM 🙂

  12. saya punya jidat sdh mendidih mencari kitab 92 di hutan “view sours” dan juga cari “kitab 92 ada di komen ke 92”, ada yang bilang pasingsingan titik,mbok iyao ada cantrik yang bisa memberi pencerahan dengan jelas-terang lan terwoco.terima kasih ya…

  13. mungkin andika sabung sari belum benar-benar meneliti kata-kata dari ki pasingsingan satu demi satu.

    cobalah andika menelitinya tanpa terlewatkan satupun karena itulah petunjuk yang dapat dipergunakan untuk dapat menyempurnakan ilmu andika.

  14. rasa2 para cantrik sdh meloncat jauh dari kitab 92 ini, krn sdh pada selesai akhir tahun lalu, sementara sy masih terseok2 di sini, sy nyerah ki gede , mhn dibantu ki gede, atau mr.sukra utk cari kitab tsb dengan yang lebih transparan.nuwun

  15. Wees ketemu, matur nuwun sanget.

  16. Mohon ma’af semuanya,
    Saya penggemar buku, termasuk serial ADBM ini, bahkan saya mulai membaca nya sejak SD kelas V tahun 1970-an … sayang koleksi buku2nya hilang karena sering berpindah2 (biasalah kalo prajurit pindah2 tugas … rolling). Namun Sayang sekali untuk ngunduh perlu maen kucing2an tebak2an, kayak main games aja, … (emang dulu waktu kecil/remaja belon puas maen yang beginian? …. hehehehehe..) buat yang banyak waktu sih nggak apa2, tapi bagi yang sibuk cara2 download or reading files model ginian kurang nyaman rasanya, apa untuk ukuran orang seumuran saya yang udah EsTeWe … waktu habis terbuang, belon lagi koneksi jaringan yang jelek baru setengah jalan koneksi putus…
    Gitu Ki Uneg2nya…. Mohon dipertimbangkan juga cara donwload yang mudah buat penggemar seperti saya yang Gaptek dan nggak punya waktu banyak dan juga males mikir yang ruwet2 …

    Wassalam
    matur nuwun
    h3rm4n

  17. setelah topo 3 hari akhirnya dapat jg kita92

    Matur nuwun Ki GD

  18. Topo mlaku mundur, ketemu Titik byaar terawangan. Maturnuwun Ki.

  19. Maaf Ki Gede, gue mau kuras habis kitab ADBM, biar elmu gue lebih tinggi dari Agung Sedayu yang pengangguran, bahkan dari ki Pamungkas alias om Grinsing. Ibarat mobil balap, gue mau salib semuanya, awassss…..rem blong………………

  20. setiap permasalahan ternyata banyak sumber yang menyebabkan dan tidak pula gampang untuk dipecahkan…. hanya denga hati dan niat yang bersih serta wawasan luas kita dapat menyelesaikannya…… salut tuk Kyai Gringsing …………..!!!!!!!!!

  21. kog bisa di nma kan bukit menoleh ya kenapa

  22. aneh juga ada api di bukit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: