Buku 92

Update :
rekor komen terpecahkan.
terimakasih atas bonus akhir tahun dari para cantrik.
membikin Ki Gede terharu

(menitikan air mata)

BERIKUT VERSI TEKS SEMENTARA

Ki Waskita tersenyum. Katanya, ”Itu memang lebih baik. Tetapi aku kira, aku akan dapat mendahuluinya, karena kebetulan aku mempunyai kepentingan yang lain.”
Swandaru memandang gurunya sekilas. Namun ia pun menya¬dari bahwa ia tidak akan dapat mencegahnya jika memang itu dike¬hendaki oleh Ki Waskita.
Dalam pada itu, maka Ki Waskita pun berkata, ”Karena itu, jika Kiai berdua dan murid-murid Kiai sependapat, aku akan minta diri pula kepada Ki Demang.”
“Tentu kami tidak akan dapat menahan Ki Waskita. Mudah-mudahan perjalanan Ki Waskita tidak menamui kesulitan apapun kelak. Dan aku kira, memang ada baiknya Ki Waskita singgah di Mataram. Jika Raden Sutayijaya masih belum kembali, Ki Lurah Branjangan dapat juga agaknya diberitahu tentang kemungkinan yang kita lihat di Tambak Wedi,” berkata Kiai Gringsing.
Ki Waskita mengangguk-angguk.
“Dan apakah Ki Waskita akan segera berangkat besok, atau pada hari-hari yang masih akan dipilih?”
“Aku akan berangkat besok pagi-pagi benar Kiai.”
“Untuk seterusnya kita akan bertemu di Tanah Perdikan Me¬noreh. Begitu Ki Waskita?” bertanya Ki Sumangkar.
“Ya begitulah. Kita akan berpisah untuk sementara. Mungkin tenagaku dapat dipergunakan di Tanah Perdikan Menoreh. Aku adalah orang yang paling cakap menganyam tarub dipadukuhanku,” jawab Ki Waskita.
“Ah, tentu tidak. Tidak ada orang yang berani minta Ki Was¬kita untuk menganyam tarup,” desis Ki Sumangkar.
“Kenapa? Aku memang senang menganyam tarub ditempat peralatan. Seandainya tidak ada orang yang minta sekalipun, aku akan melakukannya.”
Ki Sumangkar tersenyum. Katanya, ”Beruntunglah Pandan Wangi dan Swandaru. Yang menganyam tarub disaat-saat perkawin¬annya adalah Ki Waskita.”
Ki Waskita pun tertawa. Sementara Kiai Gringsing berkata, ”Mudah-mudahan merupakan pertanda baik bagi kedua pengantin.”
Swandaru hanya menundukkan kepalanya saja, sedang Agung Sedayu mulai dipengaruhi oleh bayangan tentang dirinya sendiri.
“Apakah saat-saat perkawinanku kelak akan mendapat perhatian dari orang-orang yang memiliki kelebihan seperti Ki Waskita, Ki Sumangkar dan Guru? Apakah menjelang saat-saat perkawinan itu kelak, Ki Demang Sangkal Putung juga mengadakan persiapan seperti sekarang ini, dan kemudian dihari yang kelima, sepasang pengantin itu akan dirayakan pula di Jati Anom?” pertanyaan-pertanyaan itu mulai bergejolak didalam hatinya.
Tetapi Agung Sedayu berusaha untuk melepaskan kesan itu dari wajahnya, sehingga tidak seorangpun yang sempat memperha¬tikannya.
Dalam pada itu, Ki Waskita pun kemudian berkata, ”Nanti malam aku akan minta diri kepada Ki Demang.”
“Baiklah Ki Waskita,” berkala Kiai Gringsing kemudian, ”kita akan berpisah sampai hari-hari perkawinan Swandaru. Tetapi mungkin setelah itu. Meskipun sebenarnya kepentingan terbesar ada¬lah Raden Sutawijaya. namun sudah tentu, kita yang sudah terlan¬jur terpercik dan menjadi basah pula karenanya, tidak akan dapat begitu saja melepaskan diri dari persoalan ini.“
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, ”Sudah tentu Kiai. Aku akan tetap menyediakan diri. Meskipun mungkin aku masih akan memerlukan beberapa waktu untuk tinggal dirumah, bertemu dengan sanak kadang. Tetapi jika sudah cukup aku lakukan sebelum hari-hari perkawinan, maka aku pun akan segera dapat membantu Mataram, menurut kemampuanku.”
“Tentu. Mataram akan berterima kasih. Mudah-mudahan se¬lama saat-saat menjelang hari perkawinan Swandaru tidak terjadi sesuatu yang dapat menunda apalagi membatalkan perkawinan itu,” desis Kiai Gringsing.
“Tentu tidak,” sahut Ki Waskita. Namun nampak sedikit perubahan diwajahnya.
Namun dalam pada itu, baik Kiai Gringsing maupun Ki Su¬mangkar sama sekali tidak bertanya lebih lanjut, justru karena mereka tidak ingin Swandaru mendengar kecemasan orang-orang tua tentang dirinya seperti yang dilihat oleh Ki Waskita sebagai wajah-wajah yang buram.
Demikianlah, dimalam harinya ketika mereka selesai makan bersama di pendapa dengan Ki Demang dan beberapa orang bebahu Kademangan yang hadir pula. Ki Waskita menyatakan maksud¬nya kepada Ki Demang Sangkal Putung, untuk pergi mendahului ke Menoreh.
“Sebenarnya, yang penting adalah kepentingan diri sendiri saja,” berkata Ki Waskita, ”tetapi supaya perjalananku ada juga gunanya, maka aku menawarkan diri untuk menjadi perintis jalan bagi mempelai yang akan segera berangkat pula ke Menoreh karena waktunya memang sudah menjadi semakin dekat.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Karena Ki Waskita menge-mukakan alasannya dengan berterus terang, maka Ki Demang pun tidak dapat mencegahnya.
“Ki Waskita,” berkata Ki Demang, ”tentu aku tidak dapat berusaha untuk menunda perjalanan itu. Bahkan aku mengucapkan banyak terima kasih karena Ki Waskita bersedia singgah di Tanah Perdikan Menoreh, untuk membawa pesan yang barangkali perlu aku sampaikan kepada Ki Argapati.”
“Ya. Demikianlah agaknya Ki Demang.”
Ki Demang pun mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berun¬ding dengan beberapa orang tua di Sangkal Putung. Namun mereka pun kemudian mengambil kesimpulan, bahwa tidak ada pesan-pesan bahwa semuanya akan berlangsung sesuai dengan rencana.
“Baiklah Ki Demang,” berkata Ki Waskita kemudian, ”aku akan menyampaikannya kepada Ki Gede Menoreh, bahwa semuanya di Sangkal Putung telah berjalan sesuai dengan rencana. Se¬dangkan Anakmas Swandaru akan datang di Menoreh bersama pe¬ngiringnya dalam pakaiannya sehari-hari, sehingga disepanjang jalan yang panjang ini perjalanannya tidak terganggu justru oleh pakaian pengantinnya. Demikian pula pada saat kedua pengantin itu kelak diboyong ke Sangkal Putung.”
“Pengantin laki-laki akan datang tiga hari sebelum hari perkawinan,” desis Ki Demang.
Tetapi seorang tua yang rambut dan janggutnya sudah memu¬tih bertanya, ”Tiga atau lima Ki Demang?”
“Bukankah kita bersepakat untuk berangkat lima hari sebelumnya dan kita akan sampai ke Tanah Perdikan Menoreh tiga hari sebelum hari perkawinan.“
“Tidak perlu disebut begitu, sebab kita tidak akan bermalam dua malam diperjalanan. Kita hanya akan bermalam satu malam saja di Mataram. Dihari berikutnya kita akan sampai di Tanah Perdikan Menoreh meskipun setelah matahari melampaui pusatnya ditengah hari.”
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah. Kita hanya mengatakan kepada Ki Ageng Menoreh, bahwa kita akan be¬rangkat lima hari sebelumnya dan akan bermalam satu malam diperjalanan.”
“Demikianlah,” berkata orang tua itu, ”apakah itu akan disebut empat hari sebelumnya atau tiga hari sebelumnya.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, ”Baiklah Ki De¬mang. Aku akan menyampaikan seperti apa yang Ki Demang pe¬sankan.”
“Tetapi sudah tentu sekaligus,” berkata Kiai Gringsing, ”Ki Waskita akan menjadi duta menghadap Ki Lurah Branjangan di Mataram. Bukankah dengan demikian, akan mengurangi kesibukan kami disini, karena pada suatu saat kami tentu akan mengirim orang ke Mataram untuk mohon diperkenankan bermalam satu malam meskipun Raden Sutawijaya tidak ada?”
Ki Demang tertawa. Katanya, ”Aku sebenarnya agak segan untuk berpesan terlalu banyak, karena dengan demikian aku akan membebani penjalanan Ki Waskita dengan persoalan-persoalan yang sebenarnya hanya akan mengganggu perjalanannya.”
“Ah, tentu tidak Ki Demang. Aku akan singgah di Mataram. Dan aku akan menyampaikannya kepada Ki Lurah Branjangan, ke¬inginan Ki Demang untuk mendapat kesempatan bagi pengantin dan pengiringnya, bermalam satu malam di Mataram.”
“Aku mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga Ki Waskita,” desis Ki Demang.
Ki Waskita pun kemudian mohon diri pula kepada para bebahu dan keluarga Ki Demang di Sangkal Putung, bahwa besok pada pagi-pagi benar ia akan meninggalkan Sangkal Putung bersama anaknya kembali pulang dan singgah di Mataram dan Menoreh untuk menyampaikan pesan Ki Demang Sangkal Putung.
Hampir semua orang telah berpesan kepada Ki Waskita, agar mereka berdua dengan anaknya berhati-hati disepanjang perjalanan.
“Masa ini adalah masa yang tidak dapat diperhitungkan sebaik-baiknya Ki Waskita,” berkata seorang yang berkumis lebat, tetapi sudah mulai ditumbuhi warna keputih-putihan, ”kadang-kadang kita tidak mengerti apa yang akan terjadi sebentar nanti. Apa¬lagi setelah Tambak Wedi dihancurkan. Mungkin ada sekelompok orang Tambak Wedi yang tercerai dari kawan-kawannya dan mela¬kukan perbuatan yang dapat menghambat setiap perjalanan. Ter¬masuk perjalanan Ki Waskita.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, ”Baik Kiai. Aku akan berhati-hati. Aku akan mencari kesempatan melintasi daerah-daerah sepi, di Tambak Baya misalnya, bersama beberapa orang yang sekarang telah mulai banyak melintas didaerah itu. Baik ia me¬nuju ke Mataram, Pliridan, Mangir, Menoreh, maupun sebaliknya menuju ke Pajang.”
“Dan jalan yang ramai itu akan dapat menjadi daerah jelajah yang subur bagi mereka yang kehilangan pegangan.”
Ki Waskita termenung sejenak. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, ”Memang mungkin. Tetapi semakin banyak orang yang lewat jalan itu, maka aku kira justru akan menjadi semakin aman, karena orang-orang yang bermaksud jahat harus mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat timbul dari antara mereka, yang berada dijalan itu.”
Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar mengangguk-angguk. Semen¬tara Ki Demang berkata, ”Ki Waskita, mungkin dapat juga disampaikan kepada Ki Gede Menoreh, bahwa kami akan datang dalam jumlah yang barangkali cukup banyak. Selain sanak kadang yang ingin melihat tlatah Tanah Perdikan Menoleh, juga untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi diperjalanan.”
“Baiklah Ki Demang. Apakah Ki Demang dapat menyebut berapakah kira-kira jumlah sesepuh Sangkal Putung dan pengiring yang lain itu?“
Diluar sadarnya Ki Demang memandang kearah Kiai Gringsing seolah-olah ingin mendapatkan pertimbangan.
Kiai Gringsing yang mengetahuinya, bahwa Ki Demang tidak dapat menjawab pertanyaan itu, mencoba untuk membantunya, ”Ki Waskita, aku kira hanya pengiring laki-laki sajalah yang akan ikut ke Tanah Perdikan Menoreh. Dua atau tiga orang sesepuh, dan yang lain adalah anak-anak muda kawan-kawan Swandaru. Bukan sekedar kawan bermain, tetapi juga kawan bertempur sejak daerah ini masih terancam berbagai macam bahaya.”
Ki Waskita mengerti maksud Kiai Gringsing. Namun ia masih bertanya, ”Jumlahnya?”
“Kira-kira dua puluh atau dua puluh lima. Bukankah begitu Ki Demang?”
Ki Demang mengangguk-angguk. Katanya, ”Ya Kiai. Kira-kira sebanyak itu.”
“Tidak terlalu banyak,” berkata Ki Waskita, ”dipadukuhanku pengantin laki-laki kadang-kadang diiringi oleh empat puluh orang beramai-ramai menuju kerumah pengantin perempuan.”
“Tetapi sudah dengan pakaian pengantin, membawa sepasang jodang berisi makanan dan kelengkapan sarana yang lain. Ber¬beda dengan perjalanan Swandaru. Semuanya masih dalam keadaan seperti sehari-hari. Kelengkapan pengantin akan dicari di Tanah Perdikan Menoreh. Juga jodang dan isinya.”
“Tidak apa-apa. Rumah Ki Gede Menoreh cukup luas. Gandoknya disebelah kanan dan kiri. Kemudian rumah samping dan ruang-ruang didalam rumahnya. Jika masih kurang, maka setiap rumah akan dapat dipergunakan untuk menginap berapapun jum¬lahnya. Apalagi hanya dua puluh lima orang,” desis Ki Waskita, ”juga perabotnya cukup, dan apalagi persediaan jamuan. Sudah¬lah, tidak akan ada yang mengecewakan. Namun demikian, aku akan mengatakannya juga. Bukan saja persediaan selengkapnya di padukuhan induk, namun juga dijalan-jalan. Dihari-hari panjang. Dari ujung Tanah Perdikan sampai ke padukuhan induk.”
Ki Demang tertawa. Katanya, ”Terima kasih. Jika Mataram juga berbuat demikian, maka aku akan berterima kasih sekali.”
“Apakah aku juga harus mengatakannya kepada Ki Lurah Branjangan?” bertanya Ki Waskita.
“Ah, tentu tidak. Apakah artinya perjalanan Swandaru itu bagi Mataram. Tentu kami tidak akan dapat berbuat deksura seperti itu.”
Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Tentu bukan suatu sikap deksura. Jika Swandaru dan Agung Sedayu bersama gurunya belum penuh berbuat sesuatu untuk Mataram, maka sudah barang tentu hal itu dapat dianggap suatu sikap deksura. Apalagi setelah Raden Sutawijaya mendapat gelar Senapati Ing Ngalaga.”
“Ah, sudahlah,” potong Kiai Gringsing, ”aku kira disepanjang jalan diwilayah Mataram, tidak akan terjadi sesuatu. Meskipun Tambak Baya masih berupa hutan belukar. Atas keyakinan itu pula maka aku berani melintasinya, meskipun harus menunggu iring-iringan yang lewat.”
“Ah,” Ki Demang berdesah, ”Ki Waskita terlampau merendahkan diri. Seisi hutan Tambak Baya akan merunduk jika mereka tahu siapakah yang lewat, yang mampu berbuat sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.”
“Ah, Ki Demang memuji,” Ki Waskita tertawa.
Demikianlah, maka mereka masih sempat berbicara dan berke¬lakar. Baru kemudian setelah jauh malam, Ki Waskita pun meninggalkan pendapa bersama Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar. Besok pagi-pagi benar Ki Waskita dan Rudita akan meninggalkan Sangkal Putung menuju ke Mataram, dan seterusnya ke Tanah Perdikan Menoreh.
Digandok, Ki Waskita pun segera merebahkan dirinya. Ia ingin beristirahat, setelah dalam beberapa hari ia disibukkan oleh hilang¬nya Rudita, dan kemudian disusul dengan peperangan yang meng¬getarkan lereng Gunung Merapi.
Tetapi ternyata Ki Waskita tidak dapat segera tidur. Ia mulai membayangkan gerakan pasukan Kiai Kalasa Sawit yang meninggalkan lereng sebelah Timur Gunung Merapi. Jika pasukan itu meling¬kar, kemudian menyusup hutan-hutan lebat dilembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, maka pasukan itu akan muncul disebelah Barat Gunung Merapi. Mereka dapat melanjutkan gerakan ke Barat atau ke Selatan.
Dada Ki Waskita berdesir. Ia teringat kepada beberapa orang yang melintasi Kali Praga lewat tlatah Tanah Perdikan Menoreh me¬nuju ke Barat
“Apakah mereka akan menuju ke Utara, dan pada suatu saat bertemu dengan pasukan Kiai Kalasa Sawit?” pertanyaan itu timbul di hati Ki Waskita. Lalu, ”Meskipun cara mereka berbeda, na¬mun ternyata bahwa kedua pusaka itu pada suatu saat akan diper¬temukan oleh orang-orang yang membawanya ke arah yang berlainan itu.”
Tiba-tiba dada Ki Waskita menjadi semakin berdebar-debar. Terbayang olehnya, beberapa orang yang memiliki kemampuan yang tinggi, setingkat dengan Kiai Kalasa Sawit dan Kiai Jalawaja, bahkan Panembahan Agung dan Panembahan Alit, pada suatu saat berkumpul untuk mempertemukan pusaka-pusaka yang hilang dari Mataram itu.
Dan tempat yang mereka pilih justru adalah Tanah Perdikan Menoleh.
Ki Waskta menarik nafas dalam-dalam. Kepada dirinya sendiri ia berkata, ”Tentu bukan Tanah Perdikan Menoreh. Daerah itu memiliki kemampuan yang akan dapat mengganggu pertemuan itu, jika benar akan diadakan pertemuan serupa itu.”
Tetapi Ki Waskita pun tidak dapat menjamin, bahwa mereka tidak akan memilih Tanah Perdikan Menoreh.
“Bagaimana dibekas Padepokan Panembahan Agung? Kiai Kalasa Sawit memilih Padepokan Tambak Wedi untuk singgah dan tinggal beberapa lamanya,” katanya didalam hati, ”sehingga ada kemungkinan mereka mempergunakan Padepokan Panembahan Agung sebagai tempat untuk mempertemukan kedua pusaka itu dengan pembicaraan-pembicaraan tentang hari depan mereka yang me¬rasa dirinya keturunan Majapahit dan mempunyai wewenang atas Kerajaan yang untuk beberapa saat berada ditangan Sultan di Pajang.”
Tetapi Ki Waskita sama sekali tidak menyatakan isi hatinya yang bergejolak itu. Ia masih saia tetap berbaring diam dipembaringan, betapapun hatinya bagaikan menerawang seisi bumi.
Namun ternyata kegelisahan serupa itu, ada juga dihati orang-orang lain yang mengetahuinya. Kiai Gringsing, kedua murid-muridnya dan Ki Sumangkar. Hanya Rudita sajalah yang sama sekali ti¬dak mengacuhkannya, dan karena itu, ia pun tidur dengan nye¬nyaknya.
Meskipun ada beberapa perbedaan, namun ada juga persama¬an dugaan antara orang-orang tua itu. Mereka pun membayangkan lembah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Dan mereka¬ pun membayangkan orang-orang yang menyeberangi Kali Praga telah bergeser ke Utara. Bahkan mereka pun seolah-olah telah menyentuh dengan angan-angan Padepokan Panembahan Agung di ujung pegunungan.
Tetapi ketika malam menjadi semakin dalam, justru setelah menjelang dini hari, orang-orang tua itu pun sempat juga tidur ba¬rang sejenak. Namun ketika fajar mulai menyingsing, mereka pun telah terbangun.
Ki Waskita segera mempersiapkan diri. Demikian pula Rudita. Meskipun agaknya Rudita merasa segan untuk pulang, karena ke-inginannya untuk merantau ketempat yang belum pernah dikunjungi masih saja menyala didadanya, namun ayahnya telah memintanya dengan sunggub-sungguh agar Rudita mengunjungi ibunya lebih dahulu.
Demikianlah, menjelang matahari naik keatas cakrawala, maka Ki Waskita dan Rudita pun minta diri sekali lagi kepada Ki Demang dan keluarganya, Kiai Gringsing dan murid-muridnya serta Ki Sumangkar, juga para bebahu yang sengaja ingin mengantarkan keberangkatan Ki Waskita.
Dengan berkendaraan masing-masing seekor kuda yang tegar, mereka pun kemudian meninggalkan Kademangan Sangkal Putung menuju ke Barat.
Semula terbcrsit pula keinginan Ki Waskita untuk melakukan petualangan dengan menempuh jalan yang berbahaya dilembah an¬tara Gunung Merapi dan Merbabu. Tetapi ketika ia teringat bahwa ia membawa pesan untuk Mataram, maka maksudnya itu pun diba¬talkannya. Apalagi ketika disadarinya bahwa kawannya kali ini adalan seorang yang aneh. Rudita tentu bersikap lain dengan sikap yang dikehendakinya apabila ia bertemu dengan bahaya diperjalanan.
Karena itulah, maka Ki Waskita memutuskan untuk menempuh jalan yang paling aman. Lewat jalan yang sudah menjadi semakin ramai, meskipun harus melintasi Alas Tambak Baya.
Orang-orang Sangkal Putung melepas Ki Waskita dan Rudita dengan hati yang berdebar-debar. Bukan saja karena daerah di le¬reng Merapi yang baru saja dilanda kekisruhan, yang memang mungkin sekali akan meluap ke Selatan, tetapi juga karena Ki Waakita membawa pesan-pesan bagi Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh dalam hubungannya dengan hari perkawinan Swandaru.
“Tetapi ia orang linuwih,” desis Ki Demang, ”ia tentu dapat mengatasi kesulitan apapun diperjalanan.”
Kiai Gringsing yang mendengar desis itu pun mengangguk kecil. Katanya, ”Apalagi jalan memang sudah menjadi bertambah ramai dan aman. Jika tidak ada sesuatu yang tiba-tiba saja meledak didaerah Tambak Baya atau diujung Tanah Mataram yang sudah menjadi tanah yang ramai, maka perjalanan Ki Waskita tidak akan menjumpai kesulitan apapun juga.”
“Mudah-mudahan. Dan mudah-mudahan hal itu berlaku pu¬la bagi iring-iringan pengantin beberapa hari lagi.”
“Beberapa hari lagi?” bertanya Kiai Gringsing.
“Ya. Tidak ada sebulan lagi.”
Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Hari-hari berlalu dengan cepatnya. Saat perkawinan itu memang sudah tidak ada se¬bulan lagi. Karena itu, maka segala persiapan memang harus sudah selesai. Pada waktunya tidak akan ada persoalan-persoalan lain yang akan dapat menghambat hari perkawinan itu. Apalagi jarak yang akan ditempuh adalah jarak yang cukup jauh bagi iring-iringan pengantin.
“Iring-iringan pengantin yang akan melalui daerah yang ber¬golak,” berkata Kiai Gringsing didalam hatinya.
Dalam pada itu, Ki Waskita dan Rudita pun berpacu semakin cepat. Ada kegembiraan dihati anak muda itu ketika mereka me¬lintasi bulak-bulak yang panjang, sawah yang subur dan hijau, dan angin pagi yang mengelus wajahnya yang jernih.
Dengan gembira ia melihat beberapa orang yang berada di tengan tengah sawahnya. Laki-laki dan perempuan. Bahkan anak-anak yang riang duduk diatas punggung kerbau.
“Itulah kehidupan yang wajar,” tiba-tiba saja ia berdesis
Ayahnya berpaling kepadanya. Sambil mengerutkan keningnya ia bertanya, ”Apa yang kau katakan Rudita?”
“Kehidupan yang wajar Ayah. Lihatlah, betapa damainya ha¬ti melihat anak-anak yang menggembalakan kerbaunya. Mereka du¬duk diatas punggung kerbau sambil bermain seruling. Yang lain me¬nyabit rumput sambil berdendang. Sedangkan orang tua mereka me¬ngerjakan sawahnya dengan tenang. Mencangkul, menanam padi dan menyianginya. Jika padi itu kelak berbuah, maka buahnya akan menjadi makanan bagi banyak orang.”
“Ya Rudita. Itulah kehidupan yang wajar, yang diinginkan oleh setiap orang, khususnya setiap petani.”
“Jika para petani dapat mengerjakan sawahnya dan hidup tenang, maka para pedagangpun akan terpengaruh pula Ayah. Mere¬ka dapat menjual dagangannya dengan baik. Juga para prajurit akan dapat menikmati hidup mereka dalam suasana yang damai. Para pe¬mimpin pemerintahan tidak menjadi pening oleh kesulitan hidup rakyatnya, lahir dan batinnya.”
“Ya, kau benar Rudita.”
Rudita merenung scejenak. Namun kemudian katanya dengan nada rendah, ”Tetapi Ayah, kenapa kadang-kadang kehidup¬an yang tenang damai itu harus dirusakkan?”
Ki Waskita sudah menduga, bahwa akhirnya pertanyaan yang demikian itu akan terlontar dari mulut anaknya. Karena itu, ia telah menyusun jawabnya, ”Alangkah jahatnya orang yang merusak kedamaian itu.”
“Dan Ayah pun kadang-kadang terlibat pula didalamnya?”
”Rudita,” berkata ayahnya yang sudah menduga pula akan datangnya pertanyaan itu, ”apakah kau dapat membedakan, orang yang merusak kedamaian itu dan orang yang ingin mempertahankan kedamaian itu?”
Rudita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Setiap kali aku selalu menjumpai sifat yang penuh curiga seperti itu. Ayah, kapan Ayah tidak lagi mencurigai sesama?”
Pertanyaan itulah yang tidak diduganya. Karena itu, untuk beberapa saat Ki Waskita tidak menjawabnya.
Dalam pada itu Rudita berkata selanjutnya, ”Dalam waswas dan curiga, seseorang mempersiapkan dirinya untuk melakukan ke¬kerasan. Ia bersiaga untuk melindungi kedamaian yang menurut dugaannya yang dibayangi oleh kecurigaan dan waswas itu selalu ter¬ancam. Tetapi kesiagaannya itu telah mengundang kecurigaan orang lain pula terhadapnya.”
“Rudita,” berkata ayahnya kemudian, ”aku ingin dapat berpikir, bertindak dan bertingkah laku seperti kau. Tetapi aku tidak mampu. Aku masih dipengaruhi oleh ketakutan, kecemasan, dan karena itu aku masih selalu dibayangi oleh kecurigaan, dan was¬was. Namun barangkali kau akan dapat mengembangkannya terus. Dan aku dapat mengerti. Jika saatnya nanti datang, sikapmu itu te¬lah menjadi sikap banyak orang, maka kita akan sampai pada suatu masa yang di rindukan oleh setiap manusia.”
Rudita mengerutkan keningnya. Namun kemudian kepalanya tertunduk dalam-dalam, seolah-olah ia sedang merenungi batu-batu kerikil yang bertebaran disepanjang jalan dibawah kaki kudanya.
“Ayah,” ia berdesis, ”apakah menurut perhitungan Ayah, atau katakanlah penglihatan isyarat Ayah, dunia ini akan mengalami suatu masa dimana orang tidak saling bercuriga, saling mengganggu, dan apalagi saling bermusuhan dengan bekal kekerasan dan den¬dam?”
Pertanyaan itu pun sama sekali tidak diduga oleh Ki Waskita. Namun ia menjawab juga, ”Aku tidak dapat memperhitungkan Rudita. Dan aku tidak dapat melihat dalam isyarat, apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Peradaban manusia semakin lama menjadi semakin maju. Orang akan menjadi semakin pandai dan menemukan berbagai macam alat yang belum pernah dikenal sebelum¬nya. Tetapi aku tidak tahu, apakah hati manusia juga menjadi se¬makin lembut atau justru sebaliknya. Rudita, jika semula manusia tidak mengenal bercocok tanam, dan kini kita sudah sampai pada suatu jaman di mana kita dapat mempergunakan cangkul dan bajak untuk mengerjakan sawah dengan hasil yang semakin berlipat, na¬mun itu tidak berarti bahwa kita menjadi semakin tenang dalam limpahan makan yang kecukupan.”
Rudita mengangguk-angguk.
“Perkembangan kemajuan berpikir manusia, melahirkan alat-alat yang dapat mempermudah tata hidupnya. Tetapi sejalan dengan itu, manusiapun melahirkan alat-alat untuk melakukan tindak kekerasan. Kini jenis senjata menjadi semakin banyak. Jika semula kita mem¬pergunakan batu yang kita lontarkan dalam ujudnya sejenis dengan bandil, sekarang kita mengenal busur dan anak panah. Mungkin dimasa mendatang manusia akan mengenal jenis-jenis alat pembunuh yang lebih dahsyat lagi.”
“Jika demikian, menurut Ayah, maka manusia tidak sedang berjalan menuju ke dalam kehidupan yang lebih tenang, tetapi seba¬liknya.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, ”Tidak seorangpun yang dapat mengatakannya Rudita. Tetapi tetaplah pada keyakinanmu, karena dalam kecemasan, curiga dan waswas, setiap manusia masih tetap merindukan perdamaian, ketenangan dan kehi¬dupan wajar seperti yang kita lihat secuwil dari seluruh wajah kehi¬dupan ini.”
Rudita mengangguk-angguk. Katanya, ”Ya, kita melihat satu sudut kehidupan. Tetapi jika kita melihat sudut yang lain, kita akan menjadi ngeri karenanya.”
Ki Waskita mengangguk-angguk. Ia mengerti, bahwa yang dikatakan oleh Rudita itu memang benar. Rudita adalah anak muda yang pernah mengalami perasaan takut yang hampir setiap saat mencengkamnya. Karena itulah maka ia dapat merasakan dengan sedalam-dalamnya perasaan takut yang menghantui orang-orang lain. Dan perabaan, takut adalah perasaan yang paling menyiksa da¬lam hidup seseorang.
Tetapi pada saat manusia sedang bergulat mempertahankan di¬rinya dari sesamanya yang sedang dicengkam oleh nafsu dan keta¬makan, maka sikap Rudita rasa-rasanya adalah sikap yang sulit un¬tuk dimengerti. Dengan demikian maka Rudita rasa-rasanya menja¬di orang asing diantara sesama manusia.
Karena ayahnya tidak menjawab, maka Rudita pun untuk bebe¬rapa lamanya berdiam diri pula. Kuda mereka masih berpacu meyelusuri jalan-jalan dibulak panjang.
“Jika kita tidak melihat warna kehidupan disudut lain, rasa-rasanya hidup didaerah ini memang menyenangkan sekali,” berka¬ta Rudita didalam hatinya. Tetapi jika ia mengenang pertempuran yang diceriterakan ayahnya dilereng Merapi tidak jauh dari tempat itu, maka bulu-bulunyapun meremang. Rudita tidak lagi menjadi ke¬takutan karena dirinya sendiri. Tetapi ia ngeri membayangkan beta¬pa perasaan takut itu mencengkam anak-anak dan perempuan di¬lereng Merapi itu.
“Dan tentu akan menjalar sampai ketempat yang jauh. Bahkan akan bercampur-baur dengan persoalan-persoalan lain yang da¬pat tumbuh di Mataram dan Pajang,” katanya kepada diri sendiri.
Tetapi ia masih tetap berdiam diri.
Sejenak kemudian, maka perjalanan mereka pun menjadi semalkin lambat. Dihadapan mereka terbentang hutan yang masih cukup lebat meskipun ditengah-tengah hutan itu telah berhasil dibuat se¬buah jalan yang cukup rata, menusuk langsung menembus hutan itu sampai ke telalah Alas Mentaok dan Mataram.
“Jalan ini nampaknya agak sepi,“ berkata Ki Waskita, ”kita belum bertemu atau mendahului seseorang.“
Rudita menggeleng. Jawabnya, ”Tidak Ayah. Jalan ini tentu tidak sepi. Seandainya jalan ia memang tidak sedang dilalui orang, namun jalan ini tidak akan menumbuhkan hambatan apapun atas perjalanan kita.”
“Kau yakin?”
“Jika jalan ini tidak aman Ayah, maka aku kira sawah-sawah di sebelah menyebelah jalan ini pun tidak akan digarap oleh pemi¬liknya. Tetapi sawah disebelah menyebelah jalan ini, bahkan sam¬pai ke hutan perdu dipinggir Alas Tambak Baya itu nampaknya di¬garap dengan baik.”
Ayahnya mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Rudita. Tetapi dalam keadaan yang lain, yang betapapun juga, Rudita memang selalu berprasangka baik. Ia sama sekali tidak menyesal meskipun dengan demikian akibatnya kadang-kadang tidak mengun¬tungkan baginya. Namun ia tetap pada sikapnya.
Demikianlah mereka berduapun berpacu terus mendekati Alas Tambak Baya. Namun seperti yang dikatakan oleh Rudita, jalan itu memang tidak terlalu sepi. Mereka melihat dua orang berkuda dari arah yang berlawanan. Keduanya muncul dari mulut lorong di Alas Tambak Baya yang masih nampak lebat dan besar
“Kita berhenti sejenak dimulut jalan yang memasuki hutan itu,” berkata Ki Waskita.
Rudita mengangguk-angguk. Katanya, ”Aku sebenarnya juga haus.”
“Dipinggir jalan sebelum hutan perdu itu terdapat sebuah warung. Jika tidak terjadi sesuatu, warung itu tentu masih ada.”
Rudita masih mengangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berta-nya, ”Apakah penjual diwarung itu tidak takut kepada binatang buas yang mungkin sekali-sekali keluar dari Alas Tambak Baya?”
“Mereka tentu sudah bersedia menghadapi kemungkinan itu. Apalagi jalan menjadi semakin ramai,” jawab ayahnya.
“Binatang hutan tidak memiliki perkembangan akal budi. Itu¬lah sebabnya maka ada kemungkinan yang buruk dapat terjadi ka¬rena tingkah lakunya.”
Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Hampir saja ia me¬ngatakan bahwa yang berbahaya justru orang-orang yang bermak¬sud buruk. Tetapi jika ia mengatakannya juga, maka Rudita tentu akan tersinggung.
Karena itu, maka Ki Waskita pun hanya mengangguk-angguk saja. la tidak mengucapkan kata-kata yang sudah hampir terloncat dari bibirnya itu.
Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka ternyata mereka masih menemukan warung itu ditempatnya. Ki Waskita pun kemudian mengajak Rudita untuk berhenti sejenak. Mereka masih sempat me¬neguk beberapa mangkuk dawet dan beberapa potong makanan sambil menunggu orang-orang lain yang akan lewat. Dengan demi¬kian maka mereka mempunyai kawan melintasi Alas Tambak Baya.
“Kenapa harus menunggu Ayah?” bertanya Rudita, ”nanti kita kemalaman dijalan.”
“Tidak apa-apa. Tetapi melintas Alas Tambak Baya lebih baik berkawan. Bukan karena takut. Tetapi rasa-rasanya sepi sekali.”
Rudita mengangguk-angguk lagi.
Ki Waskita menggigit bibirnya. Rasa-rasanya jawabannya sudah benar. Jika ia mempergunakan alasan-alasan lain, maka akan segera timbul persoalan lagi pada diri anaknya.
Bahkan Rudita pun kemudian berkata, ”Jalan ini memang seperti sebuah terowongan yang panjang. Menarik sekali. Tetapi se¬bentar lagi akan menjadi sangat gelap. Lebih gelap dari suasana diluar hutan.”
“Sudah tentu Rudita. Sinar matahari seolah-olah dibatasi oleh rimbunnya dedaunan hutan. Tetapi tidak apa. Kita masih mempunyai waktu yang cukup.”
Rudita mengangguk-angguk. Sekali-sekali ia memandang jalan yang panjang didepan warung itu. Jalan yang melintas ditengah-tengah sa¬wah dan kemudian menyusup ketengah-tengah hutan.
Ternyata kemudian beberapa orangpun telah singgah pula diwarung itu. Mereka juga menuju ke Barat, memasuki hutan Tambak Baya.
Namun nampak diwajah mereka, bahwa Tambak Baya bukan lagi hantu yang menakutkan,
Ki Waskita dan Rudita pun kemudian mempersiapkan diri untuk meneruskan perjalanannya bersama orang-orang itu. Tetapi Ki Waskita kemudian mengambil keputusan untuk tidak saling menegur dengan mereka. Setiap percakapan sesuai dengan pendapat dan sikap seseorang, tentu akan terasa asing bagi Rudita dan sebaliknya.
“Apakah kita akan pergi bersama mereka Ayah?” bertanya Rudita, ketika mereka sudah keluar dari warung itu.
”Ya.”
“Tetapi Ayah tidak menegur mereka dan bertanya, kemana mereka akan pergi.”
Ayahnya menarik nafas. Jawabnya, ”Tidak Rudita. Kadang-kadang memang timbul keinginan untuk saling menegur dengan orang lain. Tetapi kadang-kadang kita merasa bahwa kita tidak ingin diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang barangkali tidak kita me¬ngerti jawabnya.”
Rudita menarik nafas. Katanya, ”Jadi apakah untungnya kita menunggu kawan yang tidak kita kenal? Semula Ayah ingin meme¬cahkan kesepian diperjalanan.”
“Jika kita merasa bahwa perjalanan kita tidak sendiri, rasa-rasanya kita sudah menjadi tidak terlampau kesepian, meskipun kita tidak saling menegur.”
Ada sesuatu yang tersirat dimata Rudita. Tetapi Rudita tidak mengatakannya. Namun yang tidak dikatakannya itu seolah-olah dapat dibaca oleh Ki Waskita, ”Ayah telah dicengkam kecurigaan itu lagi. Apakah terkejut kepada kemungkinan hadirnya beberapa orang penyamun, atau kepada orang-orang yang bersama pergi ke Mataram atau ke arah lain yang melintasi Alas Tambak Baya.”
Ki Waskita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia ti¬dak mengambil sikap apapun juga. Ia tetap pada pendiriannya. Le¬bih baik Rudita menganggapnya bersalah daripada harus berbantah dengan orang lain yang sama sekali tidak memahami sikap dan ja¬lan pikiran anaknya, seperti juga anaknya tidak dapat memahami sikap dan jalan pikiran orang lain.
Dengan demikian, maka Ki Waskita dan Rudita pun hanya se¬kedar berkuda dibelakang iring-iringan yang menuju ke arah yang sama. Mereka berpacu secepat orang-orang lain yang berada dihadapan mereka.
Tetapi dengan demikian, beberapa orang berkuda yang menda¬hului kedua ayah dan anaknya itulah yang justru bertanya-tanya didalam hati mereka. Dua orang berkuda dibelakang mereka, se¬akan-akan tidak mau bergabung dengan mereka, dan bahkan meng¬ikuti iring-iringan yang melintasi Alas Tambak Baya itu.
Tetapi orang-orang itu pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Dua orang itu tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa atas me¬reka yang beriringan dalam jumlah yang lebih banyak.
Dengan demikian maka mereka pun kemudian melintasi Alas Tambak Baya tanpa mengalami gangguan apapun. Tambak Baya telah benar-benar menjadi aman. Mereka memasuki daerah diseberang hutan itu dengan hati yang lega. Tetapi, mereka masih tetap dalam iring-iringan menuju ke Alas Tambak Baya yang lebih lebat, tetapi yang sebagian sudah dibuka menjadi daerah tempat tinggal. Menjadi padukuhan dan padesan dengan tanah persawahan yang sudah dapat menghasilkan. Parit-parit yang menelusuri pematang, membuat tanah itu menjadi subur dan hijau disepanjang tahun, meskipun musimnya sedang kering.
“Kita sudah memasuki Tanah Mataram yang mulai ramai dan besar,” berkata Ki Waskita.
Rudita mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjawab.
Ki Waskita mengerutkan keningnya. Sekilas ia memandang wa¬jah anaknya yang berkerut merut. Namun kemudian ia pun kembali memandang ke depan. Ke jalan yang menjelujur dihadapan kaki kudanya. Seakan-akan dilihatnya langit yang sudah menjadi semakin suram.

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 22 Desember 2008 at 11:58  Comments (174)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-92/trackback/

RSS feed for comments on this post.

174 KomentarTinggalkan komentar

  1. tambah komen lagi…

    pesan Ki Waskita:
    biaralah para cantrik berusaha dan belajar sendiri mencari titik yang benar .. diantara puluhan atao ratusan titik yang ada 🙂

  2. Horee ….. tambah satu lagi …. maknyusss ….

  3. Ki FAst berdawuh:
    Ki sanak, untuk mendapatkan kitab 92, Ki sanak perlu melihat dibalik padepokan ADBM ini (View, Source) kemudian dengan penelusuran hati (Find) niatkan untuk -melihat kitab92-

    JADI :
    Klik kanan -Source nya – Find nya -kitab92-
    akan muncul dari balik lembah gunung dan bukit sekitar Merapi…,berupa bayang2..
    selanjutnya suruh ngger Swandaru buat donlot
    2,56 MB
    terima kasih KI FAST SAID….

  4. Find : kitab92
    Duh Ki Gede…, butuh elmu Ki Waskita buat cari kitab 92 nih…., untung ada Ki FAST yg memberi petunjuk…, mungkin masih kadang Ki gede juga yg ga tega liat para cantrik kebingungan… …

  5. Permisi….. Aku donlot ya….
    Makasih Kie….
    Haaaaaaa……..

  6. Weleh74788588x…, Ki GD le ndelikke kitab primpen tenan tujune para cantrik ana sing julig lan apik atine dadi aku isa donlot. tengkiu5434656x….

  7. Wah, bojoku wis arep ngamuk ki, tekan yah mene jih rung turu… Tapi demi ADBM aku tetep mbeguguk ngutha waton. Waton isa donlot he3423425x…. Matur nuwun sanget Ki GD…

  8. Walah … Titik Titik ….!! pancen ciamik tenan.

    Matur nuwun Ki Lurah Sastro.

  9. wah pancen elok tenan ontran2 iki.
    Pancen kudune sing ilmune setingkat “kyai gringsing” ya dampingi ana kene

  10. pancene pasisingan ki ana loro, dadi tambah satu,…nuwun

  11. jan seru tenan 🙂
    kulo cantrik enggal, nanging dadi krasan, la wong padepokan ADBM bener2 seru poooll..
    dados seneng kalih permainan Ki Gede, sing mekso tambah waskita.. hehehehe..
    untung kok cantrik2 sanesipun sae2, maringi pencerahan…hehehhe..
    siiippp dech Ki Gede.. jadi makin cinta ama ADBM 🙂

  12. saya punya jidat sdh mendidih mencari kitab 92 di hutan “view sours” dan juga cari “kitab 92 ada di komen ke 92”, ada yang bilang pasingsingan titik,mbok iyao ada cantrik yang bisa memberi pencerahan dengan jelas-terang lan terwoco.terima kasih ya…

  13. mungkin andika sabung sari belum benar-benar meneliti kata-kata dari ki pasingsingan satu demi satu.

    cobalah andika menelitinya tanpa terlewatkan satupun karena itulah petunjuk yang dapat dipergunakan untuk dapat menyempurnakan ilmu andika.

  14. rasa2 para cantrik sdh meloncat jauh dari kitab 92 ini, krn sdh pada selesai akhir tahun lalu, sementara sy masih terseok2 di sini, sy nyerah ki gede , mhn dibantu ki gede, atau mr.sukra utk cari kitab tsb dengan yang lebih transparan.nuwun

  15. Wees ketemu, matur nuwun sanget.

  16. Mohon ma’af semuanya,
    Saya penggemar buku, termasuk serial ADBM ini, bahkan saya mulai membaca nya sejak SD kelas V tahun 1970-an … sayang koleksi buku2nya hilang karena sering berpindah2 (biasalah kalo prajurit pindah2 tugas … rolling). Namun Sayang sekali untuk ngunduh perlu maen kucing2an tebak2an, kayak main games aja, … (emang dulu waktu kecil/remaja belon puas maen yang beginian? …. hehehehehe..) buat yang banyak waktu sih nggak apa2, tapi bagi yang sibuk cara2 download or reading files model ginian kurang nyaman rasanya, apa untuk ukuran orang seumuran saya yang udah EsTeWe … waktu habis terbuang, belon lagi koneksi jaringan yang jelek baru setengah jalan koneksi putus…
    Gitu Ki Uneg2nya…. Mohon dipertimbangkan juga cara donwload yang mudah buat penggemar seperti saya yang Gaptek dan nggak punya waktu banyak dan juga males mikir yang ruwet2 …

    Wassalam
    matur nuwun
    h3rm4n

  17. setelah topo 3 hari akhirnya dapat jg kita92

    Matur nuwun Ki GD

  18. Topo mlaku mundur, ketemu Titik byaar terawangan. Maturnuwun Ki.

  19. Maaf Ki Gede, gue mau kuras habis kitab ADBM, biar elmu gue lebih tinggi dari Agung Sedayu yang pengangguran, bahkan dari ki Pamungkas alias om Grinsing. Ibarat mobil balap, gue mau salib semuanya, awassss…..rem blong………………

  20. setiap permasalahan ternyata banyak sumber yang menyebabkan dan tidak pula gampang untuk dipecahkan…. hanya denga hati dan niat yang bersih serta wawasan luas kita dapat menyelesaikannya…… salut tuk Kyai Gringsing …………..!!!!!!!!!

  21. kog bisa di nma kan bukit menoleh ya kenapa

  22. aneh juga ada api di bukit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: