Buku 84

“Kau memiliki bekal yang cukup,” berkata Untara. Tetapi Agung Sedayu selalu ragu-ragu. Dan bahkan ia berkata di dalam hati, “Aku bukan seorang prajurit yang baik. Setiap kali tanganku menjadi gemetar, jika aku mengayunkan senjata di peperangan. Apalagi jika sepercik darah telah menyembur dari luka akibat tanganku. Dan itu bukan sifat seorang prajurit yang baik.”

Meskipun demikian, Agung Sedayu tidak dapat ingkar, bahwa tangannya bukan saja sekedar mencabut sebuah nyawa, tetapi telah beberapa kali ia membunuh di peperangan.

Tanpa disengaja, Agung Sedayu memandang tangannya, jari-jarinya dan telapak tangannya.

Sekali lagi ia menarik nafas dalam-dalam.

Sementara itu kudanya berlari terus, meskipun tidak terlalu kencang. Beberapa kali mereka harus memperlambat derap kaki-kaki kuda, karena jalan yang masih belum sempurna sama sekali. Namun kemudian kudanya dapat berlari lagi semakin cepat.

Ki Demang Sangkal Putung masih tetap berada di paling depan. Rasa-rasanya ia tidak sabar lagi mengikuti derap kaki kudanya yang malas dan lamban.

Tidak ada peristiwa apa pun yang terjadi di sepanjang jalan. Tidak ada orang yang mencoba mencegat perjalanan mereka. Penjahat tidak, dan orang-orang yang mempunyai kepentingan yang lain pun tidak. Mereka dapat menempuh perjalanan dengan aman dan lancar. Sekali-sekali mereka berhenti sejenak, memberi kesempatan kuda mereka minum air di parit yang mengalir di tepi jalan. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menyusuri jalan yang semakin lama terasa semakin baik.

Iring-iringan itu melintasi alas Tambak Baya yang sudah tidak dihantui lagi oleh para penjahat, meskipun kadang-kadang masih ada perampok-perampok kecil yang mencoba bermain-main dengan nasib.

Meskipun sebenarnya jarak antara Mataram dan Sangkal Putung tidak terlampau jauh, namun rasa-rasanya perjalanan mereka terlampau lama.

Di saat-saat matahari condong ke Barat, mereka berhenti sejenak oleh terik matahari yang rasa-rasanya membakar punggung. Kuda mereka pun menjadi haus. Iring-iringan kecil itu pun kemudian berhenti di sebuah sungai yang menyilang jalan dan membiarkan kuda mereka minum dan makan rerumputan di tepian. Sementara itu, penunggang-penunggangnya pun duduk sebentar melepaskan lelah dan berlindung dari teriknya matahari.

“Alangkah sejuknya mandi,” desis Swandaru.

“Kita tentu tidak terlalu lama berhenti. Kecuali jika kau ingin ditinggalkan sendiri di sini,” sahut Agung Sedayu.

“Di sebelah ada pedesan. Kita sudah tidak terlampau jauh lagi dari Sangkal Putung,” berkata Swandaru. “He, bukankah daerah ini termasuk daerah jelajah pasukan Tohpati? Kau ingat hutan rindang di sebelah itu?”

“Ya,”

Swandaru akan berbicara lagi. Tetapi ia menggelengkan kepalanya.

“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.

“Tidak apa-apa.”

“Kau akan mengatakan sesuatu, tetapi kau urungkan.”

“Ya. Hampir saja aku mengatakan, bahwa aku ingin melihat daerah itu. Gubug-gubug liar dan barangkali masih ada satu dua orang yang tertinggal.”

“Kau memang sedang bermimpi.”

“He, siapa tahu di hutan yang tidak terlampau lebat itu terdapat sesuatu,” Swandaru tiba-tiba berbisik.

“Sesuatu apa?”

“Mungkin Tohpati pernah menyembunyikan harta benda atau apa pun yang dibawanya dari Jipang, dari Kepatihan.”

Agung Sedayu tersenyum sambil memandang Sumangkar yang duduk sambil merenung, bersandar sebuah batu besar. “Ada orang tua itu, jika Tohpati menyimpan harta karun di sana, Ki Sumangkar tentu mengetahuinya.”

“Mungkin ia mengetahui, tetapi ia tidak berkata kepada siapa pun.”

“Sudahlah. Mimpimu berbahaya.”

Swandaru pun tertawa kecil. Namun tiba-tiba ia berdesah, “Ayah memang aneh. Nampaknya ia tergesa-gesa. Tetapi setelah Sangkal Putung menjadi semakin dekat, justru kita harus berhenti dan beristirahat.”

“Bukan kita yang lelah. Tetapi kuda-kuda kita,” Jawab Agung Sedayu. “Selebihnya, Ki Demarg sedang mengatur perasaannya, mengarang jawaban yang tentu akan tertumpah dari Nyai Demang. Perjalanan dari Tanah Perdikan Menoreh yang dapat ditempuh dalam waktu sepekan itu, ternyata telah menjadi panjang sekali.”

Swandaru mengangguk-angguk. Namun kemudian sambil tersenyum ia menjawab, “Aku dapat membantu ayah memberikan jawaban.”

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian duduk bersandar sebatang pohon di pinggir sungai, sambil memandangi kuda-kuda yang sedang makan rerumputan segar.

Demikianlah, setelah mereka beristirahat beberapa saat, maka mereka pun segera melanjutkan perjalanan. Tidak terlampau jauh lagi di hadapan mereka berdiri sebuah tiang, sebagai pertanda bahwa mereka akan segera memasuki daerah Kademangan Sangkal Putung.

Ketika mereka melampaui tiang kayu itu, maka Ki Demang merasa seolah-olah telah sampai di rumah. Udara rasa-rasanya bertambah segar dan angin semakin sejuk. Sambil menarik nafas dalam-dalam, ia berkata, “Akhirnya aku sampai juga di Sangkal Putung.”

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Apakah selama ini Ki Demang cemas, bahwa ada kemungkinan Ki Demang tidak akan sampai di rumah?”

“Mula-mula tidak, Kiai. Tetapi jika terkenang batang-batang kayu dan batu-batu besar yang runtuh di tebing, di hadapan mulut padepokan Panembahan Agung, rasa-rasanya bulu-bulu tengkuk ini tegak berdiri.”

Yang mendengar jawaban itu tertawa. Ki Waskita-lah yang kemudian menyahut, “Menurut pendengaranku, di tlatah Sangkal Putung pernah juga terjadi pertempuran yang gawat. Benturan antara pasukan Jipang yang telah terpecah-pecah, dengan prajurit-prajurit Pajang di bantu oleh anak-anak muda Sangkal Putung. Apakah saat itu Ki Demang adbmcadangan.wordpress.com tidak cemas mendengar nama Macan Kepatihan atau lebih-lebih lagi paman gurunya, yang mempunyai juga tongkat yang berkepala tengkorak berwarna kuning, dan bergelar Ki Sumangkar?”

Ki Demang pun tertawa. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak cemas sama sekali. Di Kademangan Sangkal Putung ada seorang dukun yang bernama Ki Tanu Metir. Tentu Ki Tanu Metir dapat mamasang guna-guna, agar Ki Sumangkar menjadi jinak.”

Ki Sumangkar pun tertawa pula. Meskipun terkilas perasaan perih di hatinya. Kenangan itu ingin dilupakannya sama sekali. Tetapi agaknya ia masih harus mendengarkannya, gurau Ki Demang tentang kehancuran laskar Jipang, yang terakhir di bawah pimpinan Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan.

Sekilas terbayang orang-orang yang saat itu menjadi kebanggaan Jipang. Pande Besi dari Sendang Gabus. Alap-Alap Jalatunda, seorang anak muda yang sebenarnya menyimpan harapan di masa depannya, Plasa Ireng, dan masih banyak lagi yang harus mengorbankan nyawanya untuk tujuan yang sebenarnya sudah sangat kabur. Bahkan kemudian masih disusul peristiwa yang pahit. Sidanti yang lepas dari pengaruh Widura dan bahkan kemudian bergabung dengan sisa-sisa pasukan Tohpati, sepeninggal Tohpati itu sendiri.

Api yang menyala di padepokan Tambak Wedi di lereng Gunung Merapi itulah yang kemudian merembet sampai ke Tanah Perdikan Menoreh. Sidanti, salah seorang anak muda yang dilahirkan di Tanah Perdikan Menoreh, dengan persoalan yang sudah dibawanya sejak lahir bukan atas kehendaknya sendiri.

Ki Waskita pun pernah mendengar ceritera itu selama ia bergaul dengan orang-orang dari Sangkal Putung itu. Di saat-saat mereka duduk sambil minum minuman panas, mereka pun kadang-kadang berbincang tentang api yang pernah membakar Tanah Perdikan Menoreh. Perang di antara saudara sendiri, dan bahkan Sidanti yang terbunuh di luar sadar oleh Pandan Wangi, adiknya sendiri.

Tidak seorang pun yang membayangkan, bahwa api akan berkobar lagi di atas Tanah Perdikan Menoreh itu. Peristiwa Panembahan Agung bukannya persoalan Tanah Perdikan itu sendiri meskipun terjadi di atas pebukitan, di tlatah Menoreh.

Namun kadang-kadang di dalam saat-saat merenung, Ki Waskita di kejutkan oleh isyarat-isyarat yang mencemaskan, yang dapat terjadi di atas Tanah Perdikan Menoreh.

Bahkan kadang-kadang Ki Waskita bertanya di dalam hati, “Apakah isyarat ini ada hubungannya dengan isyarat yang buram dari perkawinan yang bakal terjadi antara Swandaru dan Pandan Wangi, anak satu-satunya Kepala Tanah Perdikan Menoreh?”

Ki Waskita setiap kali hanya menggelengkan kepalanya saja, seolah-olah ia ingin mengusir isyarat yang dilihatnya dengan mata batinnya yang tajam itu. Bahkan kadang-kadang ia ingin mengingkari tangkapan isyarat itu dan mencoba mencari jawaban yang lain dari tanggapan yang sebenarnya harus diberikan.

“Tidak. Api itu sudah padam. Tidak akan ada nyala api lagi di atas Tanah Perdikan Menoreh,” katanya kepada diri sendiri.

Tetapi kebohongan yang betapa pun besarnya, tidak akan dapat membohongi dirinya sendiri. Ia sudah melihat isyarat itu. Dan ia tidak akan dapat menghapuskannya. Yang dapat dilakukan adalah ingkar, hanya itu. Tetapi yang telah dilihatnya itu adalah suatu isyarat yang sudah nampak. Dan Ki Waskita tidak kuasa menghapusnya lagi.

Ki Waskita terkejut ketika tiba-tiba saja Ki Sumangkar menggamitnya dan bertanya, “Ki Waskita. Kenapa diam saja? Apakah Ki Waskita juga sudah mulai merindukan kampung halaman dan anak istri?”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Sudah tentu, Ki Sumangkar. Apalagi Rudita yang sudah mulai mengenal dirinya sendiri. Perkembangannya benar-benar menakjubkan. Dan apakah sebaiknya aku membatalkan niatku untuk pergi ke Sangkal Putung?”

Ki Demang tertawa. Katanya, “Ki Waskita sudah menginjak tanah Kademangan Sangkal Putung. Sebaiknya Ki Waskita mencicipi hasil tanahnya. Airnya tentu lebih segar, dan buah-buahan akan terasa lebih manis dari daerah lain.”

Ki Waskita tertawa, katanya di antara suara tertawanya yang tertahan, “Baru sekarang Ki Demang sempat tertawa. Sebenarnya tertawa, bukan sekedar tertawa kecut. Setelah Ki Demang berada di daerah Sangkal Putung, dan setelah ternyata padi mulai menguning di bentangan sawah yang luas. Tentu Ki Demang merasa betapa sejuknya angin yang membelai butir-butir padi yang sudah merunduk.”

Ki Demang masih saja tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Kepalanya yang terangkat memandang jauh ke depan, mendahului derap kaki kudanya yang terasa terlampau lamban.

Ketika seorang petani yang duduk di tanggul parit di pinggir jalan melihatnya, tiba-tiba saja ia berdiri ternganga. Ada sesuatu yang akan dikatakannya, tetapi kerongkongannya seolah-olah tersumbat.

“He, kau, Kerta,” Justru Ki Demang-lah yang menyapanya lebih dahulu, sambil memperlambat kudanya.

“Ki Demang, Ki Demang,” suara Kerta tergagap.

“Ya,” sahut Ki Demang sambil tersenyum.

Orang yang kemudian berdiri itu masih termangu-mangu, ketika kuda Ki Demang menjadi semakin jauh. Baru kemudian ia menyadari sepenuhnya, bahwa Ki Demang yang sudah beberapa saat tidak ada di kademangannya itu pulang, bersama anak laki-lakinya yang gemuk dan beberapa orang tamu yang sudah dikenalnya, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan saudara seperguruan Swandaru. Tetapi yang satu masih belum pernah dilihatnya.

Karena itulah, maka petani itu pun dengan tergesa-gesa mendatangi kawan-kawannya yang sedang bekerja di sawah sambil berkata, “Ki Demang sudah pulang.”

“Dari mana kau tahu?”

“Aku melihat iring-iringan di tengah bulak. Bersama dukun tua dan saudara seperguruan Swandaru, Ki Sumangkar, dan seorang lagi.”

“Dan, Swandaru?”

“Ya. Bersama Swandaru.”

“Berita kedatangan Ki Demang itu pun kemudian segera tersebar di seluruh kademangan. Setiap orang tahu, bahwa Ki Demang pergi ke Tanah Perdikan Menoreh untuk melamar seorang gadis yang akan dijadikan isteri Swandaru yang gemuk itu. Karena itu, mereka pun ingin juga segera mengetahui hasil perjalanan yang menurut ukuran mereka justru terlampau lama itu.

“Wajah-wajah mereka nampak cerah,” berkata Kerta bersungguh-sungguh.

“Jika demikian, mereka tentu berhasil.”

“Tentu,” sahut yang lain, “yang membuka pembicaraan adalah justru anak-anak itu sendiri. Orang-orang tua hanya sekedar dengan resmi membicarakan penyelesaiannya saja.”

Seorang berambut putih menarik nafas. Katanya, “Itulah sekarang kerja orang-orang tua. Kita tidak lagi dapat berbuat banyak atas anak-anak muda. Tetapi anak-anak muda kadang-kadang tidak menanggung akibatnya. Jika mereka kawin atas kehendak sendiri, mereka tidak mau membiayai diri sendiri. Mereka masih memaksa orang tua mengeluarkan uang buat membiayai perhelatan perkawinan mereka.”

“Ah, bukankah itu sudah menjadi kuwajiban orang tua?” sahut yang lain.

Yang mendengarkan percakapan itu tertawa. Orang berambut putih itu pun tertawa pula. Katanya, “Mestinya tidak begitu, jika mereka menyerahkan jodoh mereka kepada orang-orang tua, maka orang-orang tualah yang harus rnembiayai perhelatan perkawinan itu. Tetapi jika mereka memilih jodoh mereka sendiri, maka biarlah mereka membiayai perhelatan mereka.”

“Dan kau akan cuci tangan?”

Orang berambut putih itu tertawa semakin keras. Katanya di sela-sela derai tertawanya, “Tidak, tentu bukan begitu.”

Sementara itu, perjalanan Ki Demang sudah semakin mendekati padukuhan Induk di Kademangan Sangkal Putung. Semakin dekat mereka dengan rumah kademangan, hati Ki Demang pun menjadi semakin berdebar-debar. Demikian juga Swandaru dan bahkan Agung Sedayu. Karena di rumah itu tinggal seorang gadis cantik yang bernama Sekar Mirah. Meskipun agak keras hati, namun gadis itu memiliki tatapan mata yang bagaikan mengikat.

Terngiang sekilas di telinga Agung Sedayu kata-kata Untara, “Nah, kapan aku harus datang ke Sangkal Putung?” kemudian, “Tetapi kau harus mempunyai pegangan lebih dahulu.”

Agung Sedayu menarik nafas. Sekali lagi terbayang kemungkinan yang dapat terjadi atasnya dan atas Swandaru.

Swandaru tentu akan mempunyai pegangan yang mapan. Sedang apakah yang akan dapat diberikan kepada Sekar Mirah? Padahal menurut sikap lahiriahnya, Sekar Mirah bukan seorang gadis yang dengan rela menerima kesederhanaan tata cara hidup, seperti juga Swandaru.

“Ia mempunyai harga diri yang kadang-kadang agak berlebih-lebihan,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. Teringat olehnya bagaimana Sekar Mirah menjadi kurang senang pada saat mereka mengunjungi perhelatan perkawin Untara, hanya karena tempat duduk dan tegur sapa yang kurang berkenan di hatinya.

Tetapi bagaimanapun juga, gadis itu telah memikat hatinya di dalam keseluruhan. Ia tidak akan dapat memisahkan sifat-sifat baiknya dari sifat-sifat yang kurang baik. Dan ia tidak akan dapat menerima Sekar Mirah dari segi yang baik saja dan menolak segi yang lain. Jika ia menerima gadis itu, maka itulah Sekar Mirah seutuhnya.

Dengan demikian, maka justru Agung Sedayu-lah yang kemudian menjadi sangat gelisah. Bukan sekedar menghadapi kehadiran mereka di rumah Ki Demang Sangkal Putung dan berbagai pertanyaan yang bakal tertumpah, tetapi justru menghadapi masa depannya. Masa depan yang panjang.

Setiap kali terngiang kata-kata Untara di telinganya. Namun setiap kali ia selalu bertanya pula kepada diri sendiri, “Jika aku menghentikan petualangan ini, apakah yang akan aku kerjakan? Aku tidak pantas menjadi seorang prajurit. Tetapi aku tidak dapat pula mendapatkan pekerjaan lain. Untuk menjadi petani biasa, maka semuanya akan menjadi serba kekurangan bagi Sekar Mirah, karena sawah peninggalan ayah yang tidak begitu luas masih harus dibagi dengan Kakang Untara.”

Kadang-kadang terbayang hutan yang lebat dan luas di Mataram. Jika ia ikut membuka hutan itu dengan sebenarnya, bukan sekedar mengejar hantu-hantuan atau orang-orang lain yang dengan sengaja menghalangi pembukaan hutan itu, maka ia akan mendapatkan adbmcadangan.wordpress.com tanah yang cukup luas. Mungkin ia akan mendapat hak khusus untuk membuka dua atau tiga bagian tanah lebih banyak dari orang-orang lain. Tetapi membuka hutan membutuhkan waktu dan perkembangan. Apalagi sampai saat itu Agung Sedayu masih belum mulai sama sekali.

Tiba-tiba angan-angan Agung Sedayu pun pecah, ketika ia mendengar beberapa orang anak-anak muda berteriak, “Ki Demang, Ki Demang sudah datang.”

Agung Sedayu mengangkat wajahnya. Dilihatnya beberapa orang anak muda berdiri di sudut desa. Mereka berlari-larian menyongsong demangnya yang datang dari bepergian jauh, dan untuk waktu yang cukup lama.

Namun ternyata, ketika iring-iringan Ki Demang menjadi semakin dekat, yang menjadi pusat perhatian mereka adalah Swandaru. Seorang anak muda dengan melambaikan tangannya berkata, “Kami sudah membuat tandu untuk pengantinmu, Swandaru.”

Anak-anak muda itu tertawa. Swandaru pun tertawa pula. Katanya, “Terima kasih. Tetapi kau harus membuat bambu usungannya rangkap. Aku menjadi semakin gemuk sekarang. Karena itu, kalian harus hati-hati menyediakan tandu buatku.”

“Tidak untukmu,” sahut yang lain, “tetapi untuk pengantinmu. Seperti seorang kesatria di dalam dongeng, isterinya naik tandu dan suaminya naik kuda, diiring dengan sebuah pengawal pasukan berkuda.”

Swandaru tertawa. Tetapi ia masih mendengar seorang kawannya berkata, “Kuda lumping. Tepat sekali bagi Swandaru. Pengantinnya pun harus naik kuda lumping pula.”

Anak-anak muda itu tertawa. Swandaru pun tertawa pula. Bahkan Ki Demang pun tertawa seperti anak-anak muda itu juga.

Ki Waskita yang baru pertama kalinya datang ke Sangkal Putung, melihat betapa akrabnya hubungan anak-anak muda di Sangkal Putung. Agaknya hal itu terbentuk sejak saat mereka bersama-sama menghadapi bahaya yang mengancam kademangan mereka, ketika Tohpati ada di depan hidung Kademangan Sangkal Putung, dengan tongkat berkepala tengkorak kuningnya.

Tetapi Swandaru tidak berhenti dan iring-iringan itu pun tidak berhenti pula. Anak-anak muda itu menyambut dengan caranya sendiri di pojok desa.

Sejenak kemudian, maka iring-iringan itu pun telah memasuki induk kademangan. Mereka menyusuri jalan yang langsung menuju ke rumah Ki Demang Sangkal Putung.

Kabar tentang kedatangan Ki Demang itu pun segera tersebar ke seluruh kademangan. Dan mereka pun segera mencari arti dari senyum dan gurau Swandaru.

“Agaknya lamaran mereka tidak menjumpai kesulitan apa pun,” berkata orang-orang Sangkal Putung. Dan mereka pun ikut bergembira, karena dengan demikian, maka sebentar lagi Sangkal Putung akan segera merayakan hari perkawinan Swandaru. Swandaru Geni, anak laki-laki satu-satunya dari Ki Demang, dan yang kelak, pada suatu saat akan menggantikan kedudukan ayahnya, apabila ayahnya sudah tidak dapat menjalankan tugasnya lagi.

Demikianlah, ketika iring-iringan itu mendekati regol kademangan, beberapa orang yang kebetulan berada di depan regol segera memberitahukan kehadiran Ki Demang itu kepada seisi rumah.

Nyai Demang dan Sekar Mirah memang sudah lama sekali menanti Ki Demang. Karena itu, mereka pun segera berlari-larian turun ke halaman, menyongsong kedatangan iring-iringan itu.

Kedatangan Ki Demang dan Swandaru bersama segenap orang dalam iring-iringan itu, telah membuat halaman kademangan menjadi riuh. Swandaru pun dengan serta-merta mendapatkan ibunya. Dan seperti terhadap Swandaru di saat masih kanak-kanak, ibunya pun memeluknya sambil berkata, “Kau selamat, anakku. Bukankah perjalananmu tidak menjumpai kesulitan? Kalian, pergi terlampau lama sehingga hatiku menjadi sangat cemas.”

“Tidak apa-apa, Ibu. Aku selamat seperti yang Ibu lihat sekarang.”

Dalam pada itu, Sekar Mirah pun mulai memuntahkan pertanyaan-pertanyaannya kepada ayahnya. Kenapa mereka terlalu lama pergi, kenapa tidak segera kembali, apakah ada sesuatu di perjalanan, atau hambatan apa pun yang dijumpainya.

“Nantilah, Sekar Mirah,” berkata ibunya. “Marilah, marilah. Silahkan naik ke pendapa.”

Ki Demang dan kawan-kawannya seperjalanan itu pun segera mencuci kakinya dengan air di jembangan, di bawah sebatang pohon kemuning di halaman. Kemudian mereka pun segera naik ke pendapa, duduk melingkar di atas sehelai tikar pandan yang putih.

Hanya Ki Demang sajalah yang langsung masuk ke dalam rumah diikuti oleh isterinya dan Sekar Mirah.

“Nanti aku akan menceriterakan kisah perjalananku yang sangat menarik,” berkata Ki Demang, “sekarang aku sudah selamat sampai di rumah ini kembali.”

“Tetapi Ayah terlalu lama. Aku sudah memutuskan, jika dalam pekan ini Ayah tidak pulang, aku akan menyusul,” berkata Sekar Mirah.

Ki Demang tertawa. Ditepuknya bahu anak gadisnya yang manja itu.

Tetapi Sekar Mirah berkata, “Ayah dapat tertawa. Tetapi kami di sini tidak. Mungkin selama ini Ayah dan Kakang Swandaru selalu tertawa di perjalanan. Tetapi selama ini kami di sini selalu berdebar-debar menunggu Ayah pulang.”

“Jangan kau sangka perjalananku menyenangkan seluruhnya, Sekar Mirah. Kami sudah terlibat dalam persoalan Mataram tanpa kami sadari.”

“Apakah Ayah singgah di Mataram?”

“Untuk beberapa hari.”

“Apalagi untuk beberapa hari. Mataram hanya berada sejengkal dari Sangkal Putung. Kenapa Ayah tidak pulang dahulu, dan apabila persoalannya memang belum selesai, Ayah dapat kembali ke Mataram setiap saat. Begitu Ayah bangun tidur dan menggeliat, Ayah sudah sampai di Mataram.”

“Nanti sajalah, Sekar Mirah,” cegah ibunya. “Biarlah ayahmu beristirahat saja dahulu.”

“Nah, begitulah,” berkata Ki Demang.

Dan Nyai Demang menyahut pula, “Silahkan, Kakang Demang. Mungkin Kakang Demang akan berganti pakaian atau akan menyimpan pusaka dan senjata, setelah pergi untuk waktu yang lama, tanpa mengirimkan kabar.”

“Aku tidak menduga bahwa perjalanan ini akan terlalu lama.”

“Tetapi selama di Tanah Perdikan Menoreh atau di Mataram, Ki Demang dapat mengirimkan seorang atau dua orang yang memberikan kabar keselamatan Ki Demang dan Swandaru.”

“Siapa orang-orang itu?”

“Bukankah di Mataram atau Tanah Perdikan Menoreh banyak orang yang dapat diutus kemari?”

Sekar Mirah-lah yang kemudian memotong pembicaraan itu, “Nanti sajalah, Ibu. Biarlah ayah beristirahat saja dahulu.”

“He,” ibunya termangu-mangu. Namun ia pun kemudian tersenyum.

Ki Demang pun kemudian masuk ke dalam biliknya untuk menyimpan pusakanya. Tetapi ia tidak berganti pakaian karena ia pun segera pergi ke pendapa menemui tamu-tamunya.

Sejenak kemudian, maka dapurlah yang menjadi sibuk. Nyai Demang dan pembantu-pembantunya dengan tergesa-gesa menyiapkan minum dan makanan bagi mereka yang baru saja datang dari perjalanan yang terasa sangat lama itu.

Ketika kemudian minuman hangat dan makanan telah dihidangkan, maka Nyai Demang dan Sekar Mirah pun ikut pula duduk di pendapa kademangan. Beberapa orang bebahu kademangan pun telah datang pula, setelah mereka mendengar bahwa Ki Demang telah datang.

Dari mereka, Ki Demang mendengar bahwa selama ini Kademangan Sangkal Putung tidak diganggu oleh kerusuhan-kerusuhan macam apa pun. Sekali-sekali masih juga ada kejahatan-kejahatan kecil. Tetapi tidak berpengaruh sama sekali atas keseluruhan keseimbangan keamanan di Sangkal Putung.

Akhirnya datang giliran Ki Demang harus berceritera tentang perjalanan mereka. Kenapa mereka harus begitu lama baru kembali.

Sekar Mirah-lah yang selalu mendesak, seolah-olah ia tidak sabar lagi mendengar alasan ayahnya, kenapa ayahnya pergi terlampau lama.

“Tentu bukan ayah, yang sebenarnya kau tunggu dengan gelisah,” berkata Swandaru.

“Jadi siapa?” bertanya Sekar Mirah dengan lantang. “Kau kira aku menunggu kau dengan gelisah? Tentu tidak. Buat apa kau tergesa-gesa pulang? Tempatmu di Tanah Perdikan Menoreh.”

“Tentu juga bukan aku. Kau lebih senang jika aku tidak segera pulang, supaya jika ibu menyembelih ayam, kau mendapat berutunya.”

“Jadi siapa?”

Swandaru tidak menjawab. Tetapi dengan sebuah senyum yang dibuat-buat, ia menunjuk Agung Sedayu dengan ujung ibu jarinya.

“Bohong, bohong,” Sekar Mirah sudah bergeser dari tempatnya. Tetapi Swandaru pun dengan cepatnya merangkak dan berpindah di belakang Agung Sedayu, sehingga Sekar Mirah tidak mengejarnya lagi, justru karena Swandaru berada di belakang Agung Sedayu itu.

Tetapi dengan wajah kemerah-merahan gadis itu berkata, “Awas kau, Kakang. Jika aku sempat menangkapmu, aku pilin kupingmu,”

“He. Tidak boleh. Bukankah aku saudara tuamu?”

“Tetapi kau nakal sekali.”

“Sudahlah, Mirah,” potong ibunya, “kita semua menunggu ceritera ayahmu. Dan barangkali juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.”

“Juga tamu kita yang satu itu,” berkata Ki Demang yang sudah memperkenalkan Ki Waskita kepada keluarganya dan kepada para bebahu di Sangkal Putung.

Ki Waskita hanya tersenyum saja seperti juga Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar.

Sejenak kemudian, Ki Demang pun mulai berceritera. Diceriterakannya apa yang terjadi sepanjang perjalanannya dengan singkat. Tetapi Ki Demang belum menceriterakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di perjalanannya sampai bagian yang sekecil-kecilnya. Ia masih belum menceriterakan bahwa Ki Waskita memiliki ilmu yang aneh. Juga belum diceriterakannya mengenai perkembangan Mataram yang terakhir. Tetapi ia sudah mengatakan bahwa Ki Gede Pemanahan telah wafat.

“Berita itu sudah sampai di kademangan ini,” berkata seorang bebahu, “dan kami sudah mengira, bahwa Ki Demang tentu berada di Mataram saat itu.”

Ki Demang Sangkal Putung pun menganguk-angguk. Berita tentang wafatnya Ki Gede Pemanahan tentu sudah tersebar di seluruh Pajang, karena Ki Gede pernah menjabat pangkat tertinggi di kalangan keprajuritan Pajang.

Namun dalam pada itu, Sekar Mirah menyela, “Nah, apakah sulitnya Ayah pulang sebentar pada saat menjelang pemakaman Ki Gede Pemanahan? Bukankah Ki Juru Martani sempat juga pergi ke Pajang? Padahal jalan ke Pajang lewat di sebelah Kademangan ini.”

“Tentu tidak mungkin, Mirah,” jawab ayahnya. “Aku tidak akan dapat pergi selagi Mataram sibuk menyelenggarakan jenazah Ki Gede Pemanahan.”

“Tetapi Ki Juru Martani pergi juga.”

“Itu pun termasuk dalam rangkaian penyelenggaraan jenazah Ki Gede. Saat itu Ki Juru pergi menghadap Kanjeng Sultan Pajang.”

“Tetapi sebenarnya Ayah dapat berpesan kepada Ki Juru untuk singgah sebentar di Sangkal Putung dan memberitahukan kepada kami, bahwa Ayah masih berada di Mataram. Dengan demikian, kami tidak terlampau gelisah menunggui Ayah pulang.”

“Ah, tentu tidak mungkin, Mirah. Ki Juru adalah seorang tua yang dihormati oleh seluruh rakyat Mataram, dan bahkan Pajang. Adalah tidak sopan, jika aku mohon agar Ki Juru bersedia singgah sebentar di Sangkal Putung.”

Sekar Mirah memandang ayahnya dengan heran. Kemudian katanya, “Apakah orang-orang terhormat tidak bersedia menolong orang lain?”

“Bukan begitu. Tetapi waktu itu, Ki Juru pun sangat tergesa-gesa.”

Sambil menarik nafas dalam-dalam, Sekar Mirah berkata, “Nah, alasan yang kedua ini agak lebih baik kedengarannya.”

Agung Sedayu yang mendengarkan saja pembicaraan itu menjadi berdebar-debar. Ia menjadi heran mendengar tanggapan Sekar Mirah atas orang-orang yang dianggap terhormat. Kenapa ia bersikap demikian datar terhadap Ki Juru Martani dan bahkan sama sekali tidak mau mengerti, kenapa Ki Demang tidak berani berpesan kepadanya agar singgah di Sangkal Putung.

“Mungkin Sekar Mirah yang sepanjang hidupnya berada di kademangan yang cukup jauh dari kota tidak mengerti, bagaimana ia harus bersikap terhadap orang-orang yang dianggap penting di Pajang, atau barangkali sikap tinggi hatinyalah yang justru mendorongnya dengan sengaja menunjukkan sikap yang demikian, seolah-olah derajatnya tidak harus lebih rendah dari orang yang bernama Ki Juru Martani itu,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya.

Namun demikian, Agung Sedayu masih juga mencoba mencari jalan keluar dari sifat-sifat Sekar Mirah itu. “Kelak aku akan dapat menuntunnya, meskipun barangkali akan terasa sulit sekali.”

Demikianlah, setelah pembicaraan itu berjalan beberapa lamanya, maka makan pun telah siap. Ki Demang dan tamu- tamunya segera membenahi dirinya dan mandi di pakiwan sementara nasi dihidangkan di pendapa.

Ketika kemudian Sangkal Putung menjadi gelap, dan para bebahu kademangan sudah meninggalkan pendapa untuk memberi kesempatan Ki Demang dan tamu-tamunya beristirahat, setelah menempuh perjalanan meskipun tidak begitu jauh, maka mulailah Ki Demang berbicara dengan isterinya. Agaknya Nyai Demang tidak sabar menunggu sampai besok pagi atau saat-saat yang lain.

Sementara itu, tamu-tamu Ki Demang sudah dipersilahkan beristirahat di gandok. Agaknya mereka sudah terlampau biasa berada di rumah itu, selain Ki Waskita. Kiai Gringsing sudah berada di rumah itu untuk beberapa lamanya, apalagi Ki Sumangkar yang telah menempa Sekar Mirah menjadi seorang gadis yang lain dari gadis-gadis sebayanya.

Di ruang dalam, Ki Demang duduk berdua dengan isterinya. Mereka sibuk membicarakan masalah Swandaru yang memang sudah sepantasnya untuk kawin.

Nyai Demang merasa gembira sekali bahwa tidak ada kesulitan apa pun di dalam pembicaraan mengenai anak laki-lakinya. Apalagi setelah ia mendapat gambaran serba sedikit tentang keadaan Tanah Perdikan Menoreh.

“Tanah itu subur sekali, terutama di bagian Timur,” berkata Ki Demang.

“Tetapi, bukankah Menoreh merupakan sebuah pebukitan batu padas yang keras dan tandus?” bertanya isterinya.

“Tentu saja Tanah Perdikan Menoreh bukan sekedar gunung berbatu-batu. Tetapi lembahnya hijau, terbentang dari kaki bukit sampai ke pinggir Kali Praga.”

“Begitu luasnya?”

“Ya, begitu luasnya,” tetapi Ki Demang pun kemudian bertanya, “Apakah kau dapat menduga, berapa luasnya Tanah Perdikan itu?”

Nyai Demang menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak.”

“Jauh lebih luas dari kademangan ini. Tetapi ada sesuatu yang membuat aku lebih berbangga terhadap kademangan ini daripada Tanah Perdikan Menoreh.”

“Apa?”

“Sela-sela bukit batu itu merupakan tempat persembunyian beberapa orang penjahat. Memang tempatnya memungkinkan sekali. Dan seperti yang kau duga, sebagian dari tanah yang luas itu adalah bukit-bukit tandus. Meskipun demikian, Tanah Perdikan Menoreh mempunyai cukup tanah persawahan, untuk memberikan makan kepada seluruh rakyatnya.”

Nyai Demang mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba membayangkan betapa cantiknya Tanah Perdikan Menoreh.

(***)

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Ki Prastawa
Reproof: Ki Gede Menoreh
Date: 12-22-2008

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:38  Comments (84)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-84/trackback/

RSS feed for comments on this post.

84 KomentarTinggalkan komentar

  1. wah… kok pada ngaco sih..??
    yang benarkan udah jelas terpampang :
    Raja terakhir Majapahit = Brawidjaja PAMUNGKAS
    Nama asli Kiai Gringsing = Raden PAMUNGKAS
    nah jelaskan.?? darisana bisa diambil kesimpulan..
    walaupun tidak menutup kemungkinan yang dikatakan oleh tqmrk itu benar :Empu Windujati adalah Ki Kebo Kenanga. Berarti Empu Windujati bapaknya Karebet. Karena Kiai Gringsing cucunya Empu Windujati, berarti Kiai Gringsing keponakan Karebet.

    Regards.

    • Ngawur kau

  2. Hadiahnya udah done…lho(d).
    tengkyu Ki Gede.

  3. Jika kitab 84 ini menceritakan wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti kita menjelajahi waktu kembali ke tahun 1584 Masehi.

    Pada tahun yang sama nun jauh di sana di Belanda (yang kemudian menguasai negeri gemah ripah loh jinawi ini melalui VOC yang didirikan tahun 1602); William of Orange (William the Silent)dibunuh di rumahnya di Delft, Belanda oleh Balthasar Gérard. William ini bercita cita menyatukan Belanda dengan Spanyol dan hampir berhasil sebelum dibunuh.

  4. Cuplikan dari buku sejarah …..
    Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.

    Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

    Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.

    Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

    Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

  5. Nuwun sewu Ki Sanak Ibnu Gurslung,
    Menurut hemat saya gak mungkin Ki Kebo Kenongo, ayahnya Mas Karebet, adiknya Kebo Kanigoro, adalah Ki Windujati. Bukankah Ki Kebo Kenongo sudah wafat sewaktu Mas Karebet masih kecil. Sedangkan ki Windujati hidup hingga menjelang berakhirnya kesultanan Demak.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  6. Adimas J3b3ng
    Di kapling 83 crito sampeyan ttg pohon Cangkring dan pohon Nyamplung sangat bermanfaat, cuman klu ada mohon dng hormat disertakan foto atau gambarnya..? alangkah lengkapnya informasi itu.. Matur sembah nuwun Adimas..mugo2 Pengeran sing mbales!

    GD: Coba tengok di WISATA ADBM di bagian Miselinus. Wohe koyok duku, tapi mungkin gede2

  7. Kyai Truna,
    saya menyangka Empu Windujati sama dengan Pangeran Buntara. Meski muridnya sebenarnya tiga (di NSSI), tapi Umbaran menyeleweng dan akhirnya terbunuh sama dua murid yang lain, Radite dan Anggara.

    Cuma memang di NSSI tidak pernah disebut-sebut adanya adik P. Buntara, yang jadi guru Kiai Gringsing. Juga R. Pamungkas yang jadi cucu Empu Windujati. Akan tetapi, karena Kebo Kanigara juga menjadi putut di Tumaritis, maka guru Kiai Gringsing –entah siapa namanya– tidak mustahil bersahabat dengannya. Yang juga tidak pernah disebut di NSSI adalah adanya lambang cambuk dan cakra gerigi sepuluh, sebagai ciri Perguruan Windujati (=Karang Tumaritis).

    Begitu tebakan saya. Eee, ‘kali aja bener…

  8. Mohon maaf jika mengurangi indahnya roman ADBM besutan Ki SHM.

    Jika merunut sejarah, sepertinya ada hal yang mungkin terlewat oleh Ki SHM. Namun hal itu dapat dimaklumi karena pada jaman Ki SHM menuliskan kisah ini belum ada internet, apalagi wikipedia. Beliau kabarnya melakukan riset baik dalam membaca babad tanah Jawi, serta kitab kitab kuno sampai riset ke lapangan untuk menuliskan wilayah wilayah yang disebutkan dalam ADBM.

    Jika Ki SHM menceriterakan kisah menjelang wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti setting berada pada tahun 1584, sehingga alas mentaok telah dibuka selama 28 tahun, dari sejak diserahkan tahun 1556.

    Sementara sebelum tahun 1584 terdapat kejadian penting bagi Sutawijaya yaitu 1582, di mana dia memerangi Sultan Hadiwijaya. Namun seolah olah dalam ADBM tidak ada ceritera ini.

    Sultan HAdiwijaya menurut tulisan Kakang Panji wafat tahun 1582 (meninggal karena sakit setelah pulang perang).

    Namun di ADBM, Sultan Hadiwijaya dikabarkan masih sehat dalam menerima kedatangan Ki Gede Pemanahan.

    Terlepas dari itu semua, ADBM tetap kisah yang memukau….

    Suntingan dari Wikipedia:
    Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

    Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang.

    Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar.

    Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

    Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

    Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

    Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

    Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.

    Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang

  9. Agung Sedayu masih sibuk bolak-balik donlot file-file .ppt yang sudah disediakan oleh Ki GeDe, tetapi sampai sekarang masih bingung karena file tersebut juga tidak dapat dibaca dengan pusaka yang dia punya. Mohon petunjuk dari Ki GeDe atau cantrik-cantrik yang lain sekiranya dapat memberikan informasi bagaimana file-file tersebut dapat dibaca dengan baik.

  10. @J3b3ng
    Yeah…menurut Wikipedia memang demikian.
    Sedangkan menurut Ki SHM, Ki Gede Pemanahan meninggal terlebih dahulu di banding Sultan Hadiwijaya.
    Faktor yang cukup penting adalah berdasarkan urutan tahun di Wikipedia, Ki Gede Pemanahan meninggal SETELAH terjadinya peperangan antara Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya dengan Pajang yang dipimpin langsung oleh Sultan Hadiwijaya, sedangkan seperti kita baca di buku ke 81-84 ini, Ki Gede Pemanahan telah meninggal sementara perang Mataram – Pajang belum lagi terjadi.
    Tahun-tahun krusial Menurut Wikipedia adalah :

    1556 Ki Gede Pemanahan pindah ke Mataram
    1582 Meletus Perang Mataram – Pajang (Pajang kalah)
    1582 Sultan Hadiwijaya Mangkat (Meninggal Dunia)
    1584 Ki Gede Pemanahan Meninggal dunia

    Namun ada yang tidak konsisten dari tulisan di Wikipedia yaitu dalam entry berjudul KESULTANAN PAJANG – http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang,
    Dituliskan bahwa Mataram semakin maju setelah Ki Gede Pemanahan digantikan oleh Puteranya yaitu Sutawijaya mulai tahun 1575.

    Sedangkan pada entry berjudul Ki Gede Pemanahan http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Gede_Pemanahan, disebutkan bahwa Sutawijaya menggantikan Ki Gede Pemanahan setelah ayahandanya tersebut meninggal dunia pada tahun 1584.

    Saya berpendapat bahwa sebagai orang yang menguasai sejarah Jawa dengan baik (seperti terlihat di tulisan tulisan beliau : NSSI, ADBM, Pelangi di Langit Singosari, Tanah Warisan dll), kecil kemungkinan bagi Ki SHM kecil untuk melakukan kesalahan yang menurut saya cukup fatal seperti urutan peristiwa meninggalnya Ki Gede Pemanahan dan Sultan Hadiwijaya seperti yang telah diuraikan oleh rekan j3b3ng.
    Saya berpendapat, Ki SHM memiliki catatan bahwa barangkali yang benar adalah Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575 dan kemudian Raden Sutawijaya tampil menggantikan kedudukan beliau. Nah, kalau memang demikian (Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575), maka urutan peristiwa seperti yang tertulis di ADBM ini tidak ada yang salah.
    Nah…., saya mengajak Ki Sanak semua untuk besama-sama mencari data yang lebih akurat, sumonggo…..

  11. Pangeran Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh) punya 2 orang anak: Kebo Kanigoro (ayahnya Endang Widuri) dan Kebo kenanga/Ki Ageng Pengging (ayahnya Karebet/Joko Tingkir/Putut Karang Tunggal). Keduanya jadi Muridnya, ada satu murid lagi yaitu Mahesa Jenar atau Rangga TohJaya, jadi total muridnya ada 3: Kanigoro, Kenanga, Mahesa Jenar.

    Pangeran Wirawardana/Empu Windujati punya 2 murid dan satu orang cucu (Kyai Gringsing/Pamungkas).

    Pangeran Buntara (Pasingsingan sepuh atau Panembahan Ismaya) punya 3 orang murid: Radite, Anggara, dan Umbaran. Beliau punya Padepokan Karang Tumaritis, beberapa orang yang pernah nyantrik di sana: Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Karebet (Jaka Tingkir), Arya Salaka (murid Mahesa Jenar), Endang Widuri(anak Kebo Kanigoro).

    Sultan Hadiwijaya/Karebet/Jaka Tingkir/Putut Karang Tunggal seperguruan dengan Ki gede Pemanahan (anak Ki Ageng Sela ?) dan Ki Penjawi (Mantan Pengawal Perdikan Banyubiru ?). Siapa guru mereka bertiga ?..nggak jelas…
    Tapi yang jelas gurunya Karebet konon ribuan orang…

    Murid Mahesa Jenar adalah Arya Salaka (Ki Ageng Banyubiru)…Arya Salaka adalah gurunya Ki waskita ?….

    Jadi Siapakah guru Kiai Gringsing alias Pamungkas ?… Guru tidak langsung yang pasti kakeknya: Empu Windujati atau Pangeran Wirawardana…tapi gurunya langsung adalah Sahabat sekaligus saudara seperguruan Kebo Kanigoro, siapakah dia ?…Kelihatannya memang Mahesa Jenar….apalagi di ADBM disebutkan bahwa jurus2 Gringsing & Ki Waskita memiliki jalur yang sama dengan perguruan Pengging… Tapi di NSSI sama sekali tidak disebutkan Murid Mahesa jenar selain Arya Salaka…Jadi kemungkinan Kiai Gringsing adalah saudara seperguruan Arya Salaka (Ki Ageng banyubiru anak Ki Ageng Gajah Sora)….mbuhlah…gak jelas…

  12. Saya sih setuju dengan mbah_man kalo ini cara mencocok-cocokan gaya SHM antara ADBM dan NSSI… Jadi ga usah dicari hubungannya terlalu dalam. Cuma kalo dilihat rasio “kebetulan”nya, Lebih tinggi NSSI dibanding ADBM.. coba perhatikan, kemunculan-kemunculan Tokoh tua NSSI, pasti tiba-tiba disaat Mahesa jenar sudah terdesak (masalah dulu baru tokoh muncul).. bandingkan dengan kemunculan sumangkar di alas mentaok maupun peranan ki waskita di pedepokan panembahan agung misalnya, disainnya sudah lebih jelas, ada tokoh baru masalah..

    peace man..

  13. dos pundi niki maos kitapipun 83 n 84? sampun angsal warisan tapi boten saged maos

  14. Saya sependapat dengan kesimpulan Anakmas Sutajia Said, sebagian besar emang benar, tapi mengenai Mahesa Jenar sebage guru Kiai Gringsing adalah kurang tepat karena seperti telah di sebutkan bahwa guru Kiai Gringsing adalah adik seperguruan Empu Windujati, sedangkan di NSSI disebutkan bahwa Ki Ageng Pengging Sepuh hanya memiliki tiga murid yaitu: Ki Kebo Kanigara, Ki Kebo Kenanga dan Majesa Jenar. Jadi kesimpulan nya bahwa guru Kiai Gringsing adalah masih merupakan teka-teki.

  15. Kelihatannya Guru Kyai Grinsing bukan Mahesa Jenar….tapi justru Panembahan Ismaya….(dalam hal ini setuju dengan komentar Pradabaru di 82)…

    Tambahan lagi bahwa Setting cerita saat pengepungan Sultan Trenggana berburu di Prawata oleh Pasukan Banyubiru, saat itu memang murid Panembahan Ismaya baru 3 (2 murid yang baek, 1 murid durhaka=Umbaran)..jadi sangat mungkin kalau setelah peristiwa itu Panembahan Ismaya mendapat murid lagi yaitu Kyai Gringsing…tapi kejadiannya setelah Mas Karebet ditarik untuk mengabdi lagi kepada Sultan Trenggana…

  16. joko tingkir dlm NS&SI sak pantaran sama arya salaka muride maheso jenar, sedangkan ki waskita saat ini kalo menilik sudah punya anak sepantaran agung sedayu berarti umurnya gak jauh dari jaka tingkir(hadiwijoyo)
    padahal kiwaskita mestine juga sak pantaran sama arya salaka , apa ya tumon murid’e sakpantaran ambek gurune , lha bingung lagi to? hehehehehe puniko namung cerita fiksi kok mbah, dados nggih sampun dipun damel waton hehehehehe monggo sami disimak kemawon

  17. kan udah dibilangin bukan muridnya Arya Salaka, tapi muridnya GajahSora (Ki Ageng Banyubiru sepuh)…

  18. meskipun sudah dibantai sidanti di padepokan tambak wedi, tetapi saya masih mengharapkan sekar mirah. saya ingin tahu bagaimana nasibnya. bisa memberi clue ki gede

  19. nuwun sewu, saya mau nanya bagaimana caranya ngedownload buku ADBM

    suwun

  20. Guru kiai Gringsing adalah Panembahan Ismaya, karena Kiai Gringsing sendiri bilang gurunya adalah adik dari kakeknya (empu Windujati a.k.a Pangeran Wirawardana) jadi otomatis gurunya juga seorang pangeran (R. Buntara a.k.a P. Ismaya), hal ini secara implisit juga diberikan oleh K Gringsing yg hanya tersenyum ketika ditanya siapakah P Ismaya tsb. Dan lagi diceritakan bahwa Kebo Kanigoro pernah menjadi Putut di padepokan P. Ismaya.

    Sementara sepenangkapan saya, Kebo Kanigoro bukan lah murid ki Ageng Pengging Sepuh, tapi justru saudara seperguruannya. Jadi meskipun Kebo Kanigoro merupakan anak dari Ki Ageng Pengging Sepuh, tapi dalam perguruan mereka adalah saudara seperguruan. Sehingga Kebo Kanigoro adalah paman guru dari Mahesa Jenar.

    salam.

  21. >>”Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Demikian pula Kebo Kanigara sebagai seorang bangsawan cucu dari salah seorang yang pernah merajai Majapahit, hatinya tersentuh pula. ”
    >>”Empu Windujati punya 2 orang murid dan 1 cucu (Pamungkas)”
    >>”Tidak saja murid,” sahut orang berjubah abu-abu itu, ”Tetapi ia adalah anak Pangeran Handayaningrat itu, dan bahkan adik seperguruannya.” (Kebo Kanigara)
    >>”KANIGARA kembali menarik alisnya. Ketika kemudian ia teringat sesuatu, hampir berteriak ia berkata, ”Raden Buntara, bukankah Raden Buntara itu adik Sultan Brawijaya Pamungkas dari seorang garwa ampeyan…?”
    >>”Tentu,” sahut orang tua itu. ”Ayahmu pasti pernah menyebut-nyebut namaku. Aku adalah pamannya yang paling dekat dengan ayahmu itu.”
    >>”Kalau demikian Tuan lah Eyang Buntara yang pernah aku dengar namanya,” kata Kanigara sambil membungkuk hormat. Hormat sekali. ”
    >>”Tetapi apa yang terjadi kali ini tak dapat aku (P.Ismaya) pikul lebih jauh lagi. Ketika aku menghadap Baginda Sultan Demak (Raden Patah), beliau berkata, juga dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Paman, aku sudah mendapat laporan lengkap tentang Paman. Ayahanda Prabu telah mengirim utusan kemari sebelum paman datang. Beliau merasa menyesal bahwa segala sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi. Apalagi persoalan itu bersumber pada persoalan seorang istri, yang karena keadaan menjadi sedemikian buruknya. Paman tidak saja membunuh suaminya, tetapi karena Paman, maka terjadilah bentrokan antara sahabat-sahabat laki-laki itu dengan beberapa orang prajurit yang memihak kepada Paman. Karena itu Paman bukanlah seorang utusan seperti yang aku harapkan. Bahkan sebaliknya, Paman telah menjadikan Ayahanda Prabu semakin jauh daripadaku.”

    JAdi>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

    1. Prabu Brawijaya punya anak namanya Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat & Raden Patah.

    2. P.Ismaya / Buntara adalah adik Prabu Brawijaya dan Paman ayahnya Kebo kanigara (Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat) sekaligus paman raden patah.

    3. Ilmu Pengging adalah Ilmu Bangsawan Majapahit.

    4. Ki Ageng Pengging Sepuh adalah saudara/sepupu dari Raden Patah – Sultan Demak Pertama.

    5. Mas Karebet = Anak Ki Kenongo / cicit Prabu Brawijaya.

    6. Kiai Grinsing / Pamungkas = Cucu langsung Empu Windujati – Pangeran Majapahit dan murid sahabat kebo kanigoro.

    Kesimpulannya:

    1. Kiai Grinsing = Sepupu Karebet (sama2 keturunan majapahit)
    2. Empu Windujati = P. Ismaya
    3. Sahabat Kebo Kanigoro = ???EmJee??
    4. Ki Waskita adalah anak Arya Salaka yg berbeda paham dengan ayahnya dan melarikan diri dari banyubiru.

    >>>>JAdi Guru Kiai Grinsing adalah ???<<<<<<<

    Jawabnya – SH MIntardja….

  22. Songsong Kanjeng Ki Menggung,
    eh kleru,….. Kiai Mendung.

    • jan ki Gembleh keBANGETan tenan…..teGA nian menDHISIKi
      cantrik,

      Lha sudah TAU kalo cantrik baru nyampe gandOK-71 kok ya
      malah mblayu ngeBUT ning gandok-84….. 🙂 🙂

      • walah ki ndul ternyata yo melu kebut-kebut kwkwkwkkkk

        • ..sehingga terpaksa Ki addus ikutan ngebut-i…..lamuk ! 😀

          • yahmene nang nggembong wayae kebut-kebut doro ki kartu

            • ..dara….manis ? 😀

              • dara tista kwkwkkk

                • doro muluk ??????????

                  • d
                    o
                    r
                    o

                    n
                    g
                    .
                    .
                    .
                    .

                    • j
                      a
                      g
                      u
                      n
                      g

                      b
                      e
                      r
                      o
                      n
                      d
                      o
                      n
                      g

  23. kiai gringsing adalah murid dari mahesa jenar, jadi paling tidak dia kenal dengan sultan hadiwijaya

  24. Guruku adalah sahabat yang dekat dengan seorang yang menyebut dirinya Kebo Kanigara, putera dan sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh, kakak dari Ki Ageng Pengging yang juga bernama Kebo Kenanga. Yang menyingkir pula dari lingkungannya dengan alasan yang berbeda.”

    Tetapi di dalam ilmu kanuragan, keduanya bersumber pada guru yang sama. Ayah mereka sendiri, Kiai Ageng Pengging Sepuh.”

    Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Memang mungkin sekali. Guruku memang sahabat Ki Kebo Kanigara. Meskipun umurnya terpaut sedikit. Dengan demikian, maka tidak mustahil jika ilmu keduanya saling mempengaruhi.”

    Dari kutipan diatas sebenernya sudah sangat jelas bahwa guru kiai gringsing adalah Mahesa Jenar, dan sepertinya mahesa jenar juga sempat kembali mengembara dan membawa kiai gringsing untuk turut serta

    “Aku berkesempatan mengikutinya meskipun tidak seluruh perjalanannya.”

    Dan Ki gede banyubiru adalah arya salaka jika mengacu pada kutipan berikut :

    “Ki Gede Banyubiru yang sekarang mempunyai ikatan yang rapat dengan Sultan di Pajang. Mereka pernah berada di satu padepokan. Pernah hidup dalam satu lingkungan. Dan ilmu mereka pun tidak terlampau jauh pula, meskipun Sultan Pajang memiliki seribu macam ilmu dari seribu macam perguruan.”

    ========

    memang mantab jalan ceritanya, seperti sebuah sejarah tapi abu2, tokoh2nya pun seperti nyata, karena memiliki keterkaitan dan masuk dalam alur cerita yang nyata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: