Buku 84

“Marilah, Angger,” berkata Ki Juru, “silahkan naik ke pendapa. Bukan kau saja yang harus minta maaf. Tetapi kami pun harus minta maaf, bahwa kami tidak mengirimkan seorang penghubung yang khusus. Saat itu nalar kami bagaikan buntu.”

“Aku mengerti, Ki Juru. Dalam keadaan yang demikian, tentu tidak akan ada orang yang dapat menyalahkan. Banyak sekali yang harus dilakukan oleh Ki Juru, sehingga banyak pula yang terlupakan dan terlampaui. Tetapi itu adalah wajar sekali.”

Demikianlah, maka Untara dan beberapa orang pengawalnya pun diajak naik ke pendapa. Setelah Ki Juru dan Raden Sutawijaya menanyakan keselamatan mereka, maka mulailah mereka mempercakapkan saat-saat wafatnya Ki Gede Pemanahan.

“Seharusnya aku dapat mencegahnya,” desis Untara, “tetapi kebodohankulah yang menyebabkan kelambatan itu.”

“Jangan menyalahkan diri sendiri, Ngger,” berkata Ki Juru. “Luka Ki Gede tidak membahayakan jiwanya. Apalagi di sini ada Kiai Gringsing yang akan sanggup mengobatinya, jika luka itu sekedar luka senjata.”

“Jadi?”

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Sebelum ia mengatakan sesuatu, dilihatnya Raden Sutawijaya menundukkan kepalanya dalam-dalam, seolah-olah ia menyadari bahwa Ki Juru akan mengatakan bahwa karena sikap Sutawijaya yang keras itulah, yang telah mempercepat wafatnya Ki Gede Pemanahan.

Tetapi Ki Juru cukup bijaksana. Katanya, “Angger Untara. Sebenarnyalah bahwa kita adalah sekedar singgah untuk minum. Dan itu pun kita tidak dapat menentukan sendiri, kapan kita datang dan kapan kita harus pergi. Tetapi semuanya sudah ditentukan oleh batas yang tidak dapat bergeser lagi. Dan batas itu telah dilalui oleh Ki Gede Pemanahan tanpa dapat ingkar lagi, karena sebenarnyalah Maha Kekuasaan atas dirinya telah berlaku.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Demikianlah agaknya jika perjalanan sudah sampai ke batas.

Tiba-tiba saja Untara telah terlempar ke dalam dunia angan-angannya. Sebuah pertanyaan telah tersembul di dalam hatinya, “Apakah yang sudah aku lakukan sebelum batas itu sampai?”

Untara merenungi dirinya sejenak. Terbayang di dalam angan-angannya peperangan yang seolah-olah tiada akhir. Pertentangan dan pergulatan di antara sesama. Dan ia sendiri selalu ada di dalamnya.

Hampir di luar sadarnya, Untara memandang jari-jarinya. Dan pertanyaan itu tumbuh lagi, “Berapa orang yang sudah kau bunuh? Dan apakah kau dapat berbangga kelak di dunia langgeng menyebut jumlah itu?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Bahkan seakan-akan melihat apa yang akan terjadi atas dirinya kelak, apabila janji itu telah sampai.

Untara terkejut ketika ia mendengar suara Ki Juru, “Baiklah kita menyerahkan yang seharusnya berlaku kepada perjalanan yang harus ditempuh. Angger Untara tidak usah mempersoalkannya apakah sebabnya dan menyesali apa yang telah terjadi, karena tidak ada kekuasaan yang dapat mencegahnya.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya seolah-olah sekedar bergumam, “Ya, Ki Juru. Semuanya memang harus berlaku.”

“Sekarang Ki Gede Pemanahan. Besok mungkin orang lain. Dan pada suatu saat, tentu akan sampai kepada giliran kita masing-masing.”

Sekali lagi Untara mengangguk.

“Nah, karena itu, sebaiknya kita berbicara tentang hal yang lain. Tentang perjalanan Angger dari Jati Anom sampai ke Mataram. Perjalanan itu sebenarnya tidak terlampau jauh, tetapi barangkali banyak yang Angger lihat di perjalanan.”

Untara mengerutkan, keningnya. Tetapi ia menyadari bahwa Ki Juru memang sengaja mengalihkan pembicaraan.

Apalagi ketika kemudian ikut pula berbicara Swandaru dan Agung Sedayu, yang sudah lama tidak bertemu dengan kakaknya itu.

“Tidak ada perkembangan yang menarik di Jati Anom,” berkata Untara. “Semuanya berjalan seperti biasanya, yang justru seakan-akan telah berhenti. Setiap hari yang kita jumpai serupa saja dengan yang kita jumpai kemarin. Petani-petani yang bangun tidur, membersihkan halaman. Kemudian pergi ke sawah. Menjelang matahari sampai ke puncak langit, gadis-gadis membawa makan ke sawah dan anak-anak mulai berjalan sepanjang pematang sambil menjinjing keranjang untuk menyabit rumput, setelah mereka mengikat kambing-kambing mereka di dalam kandang.”

“Di kejauhan terdengar suara pandai besi menempa di depan perapian, dengan keringat yang bercucuran,” Swandaru melanjutkan, “dibarengi dengan tangis anak-anak yang haus minta disusui ibunya, yang masih menumbuk padi di depan kandang.”

Ki Juru Martani tersenyum. Katanya, “Kita Jarang menjumpainya di kota. Apalagi kota Pajang yang ramai, yang penuh dengan rumah-rumah yang besar, dilingkari dinding batu yang tinggi. Rumah-rumah pegawai istana dan pemimpin pemerintahan serta senapati perang.”

“Itulah yang sering menumbuhkan kerinduan,” berkata Kiai Gringsing, “Suasana padesan yang terasa sejuk dan damai. Suasana yang bening seperti air yang baru memancar dari mata airnya. Tetapi setelah melalui perjalanan yang panjang, melalui tanah yang gembur dan kotor, maka air itu menjadi keruh, sekeruh suasana di dalam kota. Apalagi kota-kota yang besar dan ramai.”

“Jika demikian, apakah kita tidak perlu membangun kota seperti Pajang, Jipang, Pati, dan kemudian Mataram yang sedang berkembang ini?” bertanya Ki Sumangkar.

Kiai Gringsing tersenyum. Katanya, “Tentu bukan begitu. Tetapi kita harus mempunyai saringan rangkap, agar suasana di kota dapat disaring sebaik-baiknya. Karena kota bagaikan waduk raksasa yang mengatur arus air yang mengalir dari sumbernya itu.”

Untara mengerutkan keningnya. Ia mendengarkan pembicaraan itu dengan saksama, pembicaraan yang baginya memang cukup menarik.

Demikianlah, maka pembicaraan itu pun kemudian bergeser dari satu masalah ke masalah yang lain. Namun kemudian, sebagian besar dari pembicaraan itu pun berkisar kepada perkembangan Mataram, yang nampaknya akan menjadi besar.

Untara sendiri tidak mempunyai sikap apa pun terhadap Mataram. Ia memandangnya dari segi kedudukannya sebagai seorang prajurit. Selama atasannya menganggap bahwa perkembangan Mataram harus ditanggapi dengan sewajarnya, ia tidak menentukan sikap apa pun selain berhati-hati dan waspada. Meskipun demikian, Untara tidak ingkar, bahwa beberapa orang prajurit, bahkan perwira-perwira di lingkungannya, ada yang bersikap tajam menghadapi perkembangan Mataram.

Namun demikian, ketika pembicaraan mereka sampai kepada kurnia yang tiada taranya dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya terhadap Raden Sutawijaya, justru saat meninggalnya Ki Gede Pemanahan, berupa pangkat Senapati Ing Ngalaga di Mataram dan songsong berwarna kuning, dan yang bernama Kiai Mendung, Untara terkejut karenanya. Untuk beberapa saat ia terdiam memandang Raden Sutawijaya dengan tegang. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Aku mengucapkan selamat, Raden. Keluhuran yang Raden terima adalah seimbang dengan kedudukan Raden sebagai putera Kanjeng Sultan di Pajang, yang dengan keringat sendiri telah membuka Alas Mentaok, yang kini menjadi sebuah negeri bernama Mataram.”

Raden Sutawijaya termenung sejenak. Ia melihat perubahan wajah Untara yang meskipun hanya sejenak. Tetapi ia tidak dapat membaca arti perubahan itu dengan pasti.

Namun dalam pada itu, setelah Untara mendengar wisuda dan songsong Kiai Mendung berada di Mataram, sikapnya menjadi agak lain. Ia menjadi semakin hormat terhadap Raden Sutawijaya, yang bergelar Senapati Ing Ngalaga.

“Raden,” bertanya Untara kemudian, “apakah masih akan ada wisuda resmi di hadapan Kanjeng Sultan di Pajang atas pengangkatan Raden itu?”

Raden Sutawijaya tidak segera dapat menjawab. Sekilas ia memandang Ki Juru Martani. Agaknya Ki Juru mengerti bahwa Raden Sutawijaya agak kebingungan. Maka jawabnya, “Angger Untara. Menurut dugaanku, Kanjeng Sultan tidak menghendaki wisuda itu dilakukan resmi di pendapa agung Istana Pajang. Jika demikian tentu songsong Kanjeng Kiai Mendung itu tidak akan dikirimkan ke Mataram langsung.”

Untara mengangguk-angguk. Katanya, “Sebenarnyalah Raden pantas menerima jabatan itu. Raden adalah putera yang sebenarnya dari seorang panglima yang besar di Pajang. Apalagi putera angkat Kanjeng Sultan sendiri. Aku yakin bahwa sebentar lagi Mataram akan menjadi besar. Kebesaran Mataram adalah benar-benar berkat kebesaran jiwa Raden dan ayahanda Raden yang baru saja meninggal.”

Sutawijaya hanya dapat mengangguk-angguk sambil menundukkan kepalanya saja. Namun dengan demikian kecurigaannya kepada Untara justru menjadi berkurang. Namun ia masih juga berkata kepada diri sendiri, “Tetapi Untara adalah seorang prajurit yang sangat baik. Yang dilakukan adalah sikap dan keputusan Pajang. Meskipun ia tidak mempunyai prasangka apa pun terhadap Mataram, tetapi jika Kanjeng Sultan atau panglima perang yang ada sekarang, memerintahkannya untuk menggilas negeri yang baru tumbuh itu, maka betapapun berat hatinya, perintah itu tentu akan dilakukannya, jika itu memang sikap Pajang.”

Untuk beberapa saat, Untara masih sempat bercakap-cakap. Minum dan makan beberapa potong makanan. Namun agaknya Untara memang tidak akan terlalu lama berada di Mataram. Karena itu, maka ia pun segera mohon diri.

Ki Juru terkejut mendengarnya. Katanya, “Aku kira, kau akan bermalam di sini, Untara?”

“Terima kasih, Ki Juru. Kami harus segera kembali. Meskipun tidak ada peristiwa yang gawat, tetapi sebaiknya aku berada di antara anak buahku.”

“Tentu tidak,” Swandaru-lah yang menyahut. “Bukan karena anak buah Kakang Untara.”

Untara mengerutkan keningnya. Dan ia pun bertanya, “Jika tidak, karena apa?”

“Coba Kakang Untara masih saja seperti Kakang Agung Sedayu. Kakang tentu tidak akan tergesa-gesa.”

Untara tersenyum. Ia pun dapat menanggapi gurau Swandaru. Jawabnya, “Sebentar lagi, Adi Swandaru pun tentu tidak akan betah pergi barang semalam.”

Semua yang mendengar gurau itu tertawa. Sutawijaya pun tertawa. Namun nampak pada wajahnya ada sesuatu yang tersembunyi di balik tertawanya itu. Dan Untara pun mengerti, bahwa Raden Sutawijaya tidak dapat bergurau seperti dirinya dan Swandaru, karena puteri dari Kalinyamat itu tidak dibawanya sebagai seorang istri yang sewajarnya. Meskipun Sutawijaya tidak ingkar, dan menyelesaikan persoalannya sebaik-baiknya, namun puteri itu sampai saat terakhir tidak berada di Mataram. Bahkan sampai saatnya anaknya akan lahir.

Demikianlah, maka sejenak kemudian Untara benar-benar minta diri. Ia tidak dapat terlampau lama meninggalkan anak buahnya, meskipun tidak ada peristiwa-peristiwa yang gawat.

“Sebenarnya aku ingin pergi bersama Angger Untara,” desis Ki Demang Sangkal Putung.

Kiai Gringsing tersenyum. Ia mengerti bahwa Ki Demang pun sebenarnya telah sangat merindukan keluarganya. Namun ia masih berkata, “Besok pagi kita akan kembali bersama-sama Ki Demang. Sangkal Putung kini tidak jauh lagi dari Mataram, setelah jalan menjadi baik dan aman.”

“Kenapa kita tidak pergi bersama Angger Untara?” bertanya Ki Demang.

Kiai Gringsing tertawa. Katanya, “Tidak apa-apa. Kita hanya tidak ingin menghambat perjalanan Angger Untara.”

Ki Demang tidak dapat memaksakan niatnya. Ia terpaksa menunggu Kiai Gringsing dan kawan-kawannya besok.

Untara pun minta diri pula kepada orang-orang tua yang ada di Mataram, dan berpesan kepada Agung Sedayu, supaya sekali-sekali ia datang ke Jati Anom.

“Agung Sedayu,” Untara berbisik ketika ia turun dari pendapa, “kau pada suatu saat akan menjadi seorang kepala keluarga. Apakah kau akan tetap saja dengan petualanganmu? Sudah pernah aku peringatkan, bahwa kedudukanmu lain dengan kedudukan adbmcadangan.wordpress.com Adi Swandaru. Setiap saat Adi Swandaru dapat menempatkan dirinya sebagai demang di Sangkal Putung, karena ia adalah satu-satunya anak laki-laki Ki Demang yang sekarang. Tetapi kau? Kau harus mempunyai pegangan, Agung Sedayu. Apalagi menurut pengamatanku, Sekar Mirah adalah seorang gadis yang memiliki selera dan gegayuhan yang tinggi. Jika kau benar-benar ingin mengambilnya sebagai seorang isteri, kau harus dapat menyesuaikan dirimu.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun menjawab dengan berbisik, “Aku akan memikirkannya, Kakang.”

“Sejak dahulu kau hanya akan memikirkannya saja, Agung Sedayu. Kau harus mengambil keputusan. Bukan hanya mempertimbangkan terus-menerus. Kau agaknya masih saja dipengaruhi sifat-sifatmu semasa kanak-kanak. Ragu-ragu, bimbang, dan pertimbangan-pertimbangan yang berkepanjangan. Pada suatu saat, kau harus cepat mengambil sikap. Apalagi saat-saat semacam yang kau hadapi sekarang.” Untara berhenti sejenak, lalu, “Nah, pikirkanlah. Kemudian kau katakan kepadaku kapan aku harus menghadap Ki Demang.”

Agung Sedayu menundukkan kepalanya. Ia berjalan saja di samping Untara tanpa dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dan Untara masih melanjutkan, “Tetapi sebelum aku berbicara dengan Ki Demang tentang Sekar Mirah, kau harus bukan lagi seorang petualang. Kau sudah harus mempunyai pegangan hidup yang mantap.”

Agung Sedayu masih tetap berdiam diri. Kepalanya masih saja tunduk, seolah-olah sedang menghitung ujung jari kakinya.

Sejenak kemudian, maka Untara pun telah berada di antara pengawalnya. Seorang dari pengawal-pengawalnya itu memberikan kudanya dan sambil memegang kendali kudanya, Untara sekali lagi minta diri kepada orang-orang yang hadir di halaman itu.

Sutawijaya kemudian mendekatinya sambil berkata, “Terima kasih atas kunjunganmu. Mudah-mudahan perjalananmu kembali tidak menjumpai apa pun juga.”

“Aku minta agar Raden sekali-sekali berkunjung ke Jati Anom. Bukan saja mengunjungi aku, tetapi barangkali ada baiknya Raden menghibur diri, menyelusuri lereng-lereng gunung melihat-lihat lembah yang hijau.”

Sutawijaya tersenyum. Katanya, “Baiklah. Pada suatu saat, aku tentu akan sampai ke Jati Anom. Kau tentu akan segera memanggil orang-orang tua di Jati Anom, jika saatnya membicarakan persoalan adikmu itu. Kini Swandaru telah selesai dibicarakan oleh orang-orang tua. Tentu sebentar lagi Agung Sedayu.”

“Ah,” Agung Sedayu berdesah, sedang Untara tersenyum. “Aku akan segera mengundang Raden dan para sesepuh di Mataram.”

Sutawijaya dan orang-orang yang mendengar jawaban itu tertawa. Hanya Agung Sedayu sajalah yang menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Demikianlah, maka Untara pun kemudian meninggalkan rumah Raden Sutawijaya, kembali ke Jati Anom. Ternyata yang dijumpainya di Mataram bukan saja Raden Sutawijaya yang berwajah sedih dan muram, tetapi juga Raden Sutawijaya yang kini telah memiliki songsong Kiai Mendung di samping pusaka yang pernah diterima lebih dahulu, Kanjeng Kiai Pleret.

Tetapi setiap kali Untara berusaha untuk melenyapkan pikiran-pikiran yang tumbuh selain daripada tugasnya sebagai seorang prajurit. Ia tidak boleh berpendirian sendiri. Terutama menghadapi berkembangnya Mataram.

“Tetapi pasti akan dapat menumbuhkan tanggapan-tanggapan yang bermacam-macam di antara para perwira di Jati Anom, apalagi di Pajang,” berkata Untara di dalam hatinya.

Sepeninggal Untara, para tamu yang masih ada di Mataram pun mulai berkemas. Mereka hanya tinggal akan bermalam satu malam saja lagi. Besok pagi-pagi benar, mereka akan meninggalkan Mataram menuju ke Sangkal Putung.

Sebenarnya para pemimpin di Mataram masih berusaha menahan mereka barang sepekan. Tetapi agaknya Ki Demang sudah tidak tahan lagi melawan kerinduannya, kepada kademangannya dan keluarganya.

“Apa kata orang jika aku terlampau lama pergi untuk keperluan keluargaku? Seolah-olah aku terlampau mementingkan diriku sendiri daripada Kademangan Sangkal Putung,” berkata Ki Demang ketika mereka bercakap-cakap di gandok dengan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Waskita.

“Tetapi Ki Demang tidak mementingkan diri sendiri. Di Tanah Perdikan Menoreh dan di sini, Ki Demang menjumpai persoalan yang harus mendapat bantuan pemecahan. Dan Ki Demang bersama-sama kami telah mencoba membantu sesuai dengan kemampuan kami masing-masing,” sahut Ki Sumangkar.

“Tetapi rakyat Sangkal Putung tidak mengetahuinya. Yang mereka ketahui, aku adalah pemimpin mereka. Dan aku pergi untuk waktu yang sangat lama menurut perhitungan mereka.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah, Ki Demang. Besok kita akan kembali ke Sangkal Putung.”

Seperti yang mereka rencanakan, maka mereka pun minta diri kepada Ki Juru Martani, bahwa besok pagi-pagi mereka benar-benar akan kembali ke Sangkal Putung.

Semula Ki Juru mencoba menahannya, tetapi agaknya, usahanya itu tidak akan berhasil. Karena itu maka katanya, “Ki Demang Sangkal Patung, Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, serta Ki Waskita, jika kami tidak dapat menahan lagi barang satu dua hari, maka yang dapat kami lakukan hanyalah mengucapkan terima kasih atas segalanya yang pernah terjadi di depan padepokan Panembahan Agung dan di Mataram. Kami tidak akan pernah dapat melupakannya. Apa lagi setelah kami mengetahui serba sedikit tentang dukun tua dari Dukuh Pakuwon.”

“Ah,” Kiai Gringsing berdesah. Sekilas ia melihat pertanyaan yang meloncat pada sorot mata Raden Sutawijaya, Agung Sedayu, dan Swandaru. Namun seakan-akan Kiai Gringsing tidak menghiraukannya, dan bahkan tidak mengetahuinya.

“Tetapi tentu malam ini bukan malam terakhir Kiai berada di Mataram,” berkata Ki Juru Martani, “demikian juga Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang, dan kedua anak-anak muda itu. Pada suatu saat kami akan tetap menunggu salah seorang dari kalian atau bersama-sama mengunjungi kami.”

“Tentu,” sahut Kiai Gringsing, “kami adalah petualang yang akan selalu berjalan mengelilingi padesan, menjelajahi padukuhan dari pintu ke pintu. Dan kami akan singgah di Mataram pada suatu saat yang baik.”

Demikianlah, maka pada malam terakhir itu, mereka berbicara seakan-akan tidak akan berhenti. Seakan-akan mereka akan menghabiskan semua masalah yang ada di dalam hati dalam waktu semalam.

Baru setelah lewat tengah malam, maka para tamu itu pun masuk ke dalam biliknya untuk beristirahat barang sejenak. Besok mereka akan kembali ke Sangkal Putung, setelah sekian lamanya mereka melakukan perjalanan.

Namun demikian, di dalam gandok, para tamu itu masih berbicara beberapa saat sebelum mereka kemudian membaringkan dirinya di atas amben bambu yang besar. Sedangkan Agung Sedayu dan Swandaru tidur di bilik tersendiri, yang dibatasi oleh dinding bambu.

Meskipun demikian, tetapi agaknya Kiai Gringsing tidak segera tertidur. Ada sesuatu yang seolah-olah mengganggunya. Bukan karena persoalan-persoalan yang sedang di hadapinya, karena masalahnya justru sudah menjadi terang. Baik persoalan yang menyangkut Raden Sutawijaya, maupun yang akan menyangkut Swandaru dan Agung Sedayu. Kedua anak-anak muda itu harus segera mendapat perhatian bagi kesejahteraan hidupnya, karena keduanya memang sudah sepantasnya untuk segera kawin.

Malam itu rasa-rasanya terlampau sepi bagi Kiai Gringsing. Ada sesuatu yang lain daripada malam-malam sebelumnya. Angin malam yang lembut berdesir di atas atap gandok rumah Raden Sutawijaya itu. Terdengar dedaunan yang bergoyang saling bersentuhan.

Suasana malam itu terasa lain.

Pcrlahan-lahain Kiai Gringsing bergeser dan duduk di bibir amben. Sekilas ia melihat orang-orang lain yang telah tertidur di ujung amben, Ki Demang Sangkal Putung tidur dengan nyenyaknya. Di sebelahnya, Ki Sumangkar berbaring menelentang dengan mata terpejam. Di sisi yang lain, Ki Waskita terbujur miring.

Namun sejenak kemudian, Kiai Gringsing sadar, bahwa sebenarnya baik Ki Sumangkar maupun Ki Waskita agaknya masih belum tidur. Hanya Ki Demang Sangkal Putung-lah, yang benar-benar telah tertidur dengan nyenyak.

Tetapi Kiai Gringsing tidak menyapa kedua orang yang berbaring itu. Ia memusatkan perhatiannya kepada suasana di luar gandok. Diperhatikannya silirnya angin malam dan sekali-sekali di kejauhan suara burung malam yang bagaikan desah yang lesu.

“Ada suatu yang terasa aneh,” Kiai Gringsing berkata kepada diri sendiri.

Tetapi Kiai Gringsing tidak mengerti, apakah yang sedang bergolak di dalam hati kedua orang yang meskipun matanya terpejam tetapi tidak tertidur itu.

Tidak ada di antara mereka yang berada di dalam gandok itu mulai berbuat sesuatu atau berkata apa pun juga. Mereka agaknya menunggu, apa yang akan terjadi di rumah Raden Sutawijaya itu.

Tetapi ternyata tidak ada sesuatu yang terjadi. Tidak ada peristiwa yang mengikuti gejala yang aneh di malam yang sepi itu.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Ia masih saja duduk untuk beberapa lamanya. Bahkan sampai menjelang fajar, Kiai Gringsing belum membaringkan diri kembali di pembaringan.

Perlahan-lahan Kiai Gringsing merasakan suasana mulai berubah. Angin malam masih berdesir dengan lembut. Dedaunan masih terdengar saling bersentuhan. Tetapi ada sesuatu yang lain.

Kiai Gringsing menarik nafas dalam-dalam. Seolah-olah yang mencemaskannya telah pergi, meskipun Kiai Gringsing tidak tahu pasti, apakah yang sebenarnya sedang dihadapi.

Yang bergejolak di dalam hatinya bukan isyarat seperti yang sengaja dilontarkan oleh Ki Waskita, saat ia berusaha menemuinya di tanah Mataram ini. Tetapi yang dirasanya memang suatu isyarat yang lain, yang belum diketahuinya dengan pasti.

Ketika udara rasa-rasanya telah bersih menurut tangkapan perasaan Kiai Gringsing, meskipun sebentar lagi fajar akan segera menyingsing, Kiai Gringsing pun membaringkan dirinya di sebelah Ki Waskita. Tetapi ia pun tersenyum ketika Ki Waskita itu kemudian berbisik, “Adakah sesuatu yang dapat Kiai tangkap dari isyarat itu?”

Kiai Gringsing menggeleng. Jawabnya, “Aku tidak dapat mengerti, apa yang sedang terjadi. Mungkin hanya perasaanku saja.”

“Perasaan kita bersama-sama telah terganggu oleh sesuatu yang tidak kita ketahui,” terdengar suara yang lain.

Kiai Gringsing dan Ki Waskita berpaling. Keduanya tersenyum ketika keduanya melihat Ki Sumangkar masih saja berbaring menelentang sambil memejamkan matanya. Tetapi hanya bibirnya sajalah yang bergerak.

“Ki Sumangkar seperti sedang menakuti anak-anak,” desis Ki Waskita.

Ki Surnangkar pun tersenyum sambil membuka matanya. Katanya, “Ternyata kita sama-sama diganggu oleh perasaan aneh. Apakah kita memang sudah tidak betah tinggal di Mataram?”

“Bukan itu. Justru Ki Demang tidur dengan nyenyaknya. Selain tubuhnya yang lelah, ia memang ingin bermimpi tentang anak laki-lakinya yang gemuk itu,” desis Kiai Gringsing.

“Nah, apakah menurut perhitungan Kiai?” bertanya Ki Waskita.

Kiai Gringsing menggeleng. Katanya, “Aku kurang mengerti. Namun agaknya memang mendebarkan jantung. Besok sepeninggal kita, apakah Mataram akan mengalami sesuatu yang dapat menggoncangkan kedudukan Raden Sutawijaya. Atau yang kita tangkap samar-samar itu akan mengikuti kita sampai ke Sangkal Putung?”

“Kita memang tidak tahu,” berkata Ki Sumangkar, “tangkapan perasaan kita ini ditujukan kepada kita atau kepada Mataram.”

“Di sini ada Ki Juru Martani. Mudah-mudahan tidak ada peristiwa apa pun yang akan mengganggu tanah yang sedang tumbuh ini, dan mengganggu rencana keberangkatan kita. Kasihan Ki Demang, dan Swandaru. Mereka telah terlalu lama pergi.”

Orang-orang tua itu pun kemudian terdiam ketika mereka mendengar derit amben di sebelah dinding. Agaknya kedua anak-anak muda, yang tidur di tempat itu, sudah terbangun pula.

“Kita akan menghubungi Ki Juru Martani, apakah ia merasakan hal yang serupa pula?” bisik Kiai Gringsing kemudian.

Yang lain hanya mengangguk-angguk saja, karena sebenarnyalah bahwa Agung Sedayu dan Swandaru memang sudah terbangun. Mereka pun kemudian turun dari pembaringannya dan keluar dari dalam bilik.

Sementara itu, Ki Demang pun telah menggeliat. Perlahan-lahan ia membuka matanya, dan dilihatnya Kiai Gringsing telah duduk di bibir amben. Ki Waskita dan Ki Sumangkar pun telah bangkit pula dan bergeser menepi.

Ki Demang kemudian duduk pula sambil menggosok matanya. Katanya, “Aku dapat tidur nyenyak sekali malam ini. Bahkan aku bermimpi seolah-olah aku sudah berada di Sangkal Putung.”

“Sebenarnya bukan jarak yang jauh, Ki Demang,” sahut Kiai Gringsing.

“Betapapun dekatnya jarak itu, tetapi jika tidak kita jalani, maka kita tidak akan sampai juga.”

Yang mendengar jawaban itu tertawa. Bahkan Agung Sedayu dan Swandaru pun tersenyum pula.

Demikianlah, maka tamu-tamu Raden Sutawijaya dari Sangkal Putung itu pun kemudian bersiap-siap untuk menempuh perjalanan kembali. Mereka merasa betapa rindunya kepada Kademangan Sangkal Patung itu. Terutama Ki Demang dan Swandaru. Mereka sudah terlampau lama meninggalkan sawah dan ladang yang hijau. Sungai yang jernih, dan parit-parit yang menyelusuri pematang dan pinggir-pinggir jalan. Di pagi hari, gunung Merapi nampak megah kebiru-biruan, dengan puncak yang bagaikan membara dibakar oleh cahaya matahari yang baru terbit.

“Kita akan segera kembali,” desis Swandaru di dalam hatinya. Ia pun sebenarnya sudah rindu kepada ibunya dan kepada adiknya Sekar Mirah, meskipun jika mereka berkumpul, hampir setiap hari mereka selalu bertengkar,

Setelah semuanya bersiap, maka mereka pun kemudian menemui Ki Juru Martani dan Raden Sutawijaya, yang disertai beberapa orang tetua dan pemimpin dari Tanah Mataram yang sedang berkembang itu.

“Jadi kalian semuanya benar-benar akan meninggalkan Mataram?” bertanya Ki Juru Martani.

“Apa boleh buat, Ki Juru,” jawab Ki Demang, “kami harus kembali cepat atau lambat. Dan agaknya kami sudah terlampau lambat pulang. Orang-orang di Sangkal Putung tentu sudah gelisah dan cemas, karena aku tidak segera berada di antara mereka.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Katanya, “Tidak ada yang dapat aku katakan selain ucapan terima kasih. Telah banyak sekali yang kalian lakukan bagi Tanah Mataram yang sedang tumbuh ini. Karena itu, maka apabila Ki Demang memerlukan kami, jika kami dapat melakukan, kami akan melakukannya dengan senang hati. Termasuk saat-saat Angger Swandaru menempuh jenjang kehidupan baru.”

“Terima kasih, Ki Juru. Terima kasih. Sudah tentu pada saatnya kami akan memberitahukan apakah yang ingin kami minta dari Tanah Mataram yang sedang berkembang ini,” sahut Ki Demang.

Demikianlah, maka Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang Sangkal Putung, dan kedua anak-anak muda seperguruan itu minta diri. Sementara itu, agaknya Ki Waskita pun telah bersepakat untuk ikut pergi mengawani perjalanan itu ke sangkal Putung.

Ki Juru Martani, Raden Sutawijaya dan para pemimpin Mataram tidak dapat menahan mereka lagi, sehingga mereka pun kemudian mengantarkan tamu-tamu mereka, yang akan meninggalkan Mataram sampai ke pintu gerbang halaman.

“Selamat jalan,” desis Ki Juru dari Raden Sutawijaya hampir bersamaan.

Ketika iring-iringan kecil berkuda itu mulai bergerak, maka terasa kesunyian seolah-olah semakin mencengkam hati Raden Sutawijaya, Agung Sedayu dan Swandaru yang hampir sebaya dengannya itu merupakan kawan berbicara yang rasa-rasanya paling sesuai. Tetapi ia tidak dapat menahannya lebih lama lagi.

Dalam pada itu, Ki Juru Martani pun bagaikan membeku memandang iring-iringan berkuda itu. Bukan saja karena hatinya merasa sepi seperti Sutawijaya karena kehilangan kawan berbicara dan berbincang, namun ia mendapat bisikan dari Kiai Gringsing sesaat sebelum pergi, “Apakah kau merasakan sesuatu semalam, Ki Juru?”

Ki Juru tidak menyahut. Saat itu ia hanya mengangguk kecil. Namun dengan demikian Ki Juru itu menjadi yakin, bahwa ia tidak sekadar diganggu oleh perasaannya saja ketika semalam terasa angin yang lembut berdesir di atas atap rumah itu.

“Memang ada sesuatu yang tidak sewajarnya,” berkata Ki Juru di dalam hatinya. Tetapi seperti juga Kiai Gringsing dan tamu-tamunya yang lain, Ki Juru juga tidak dapat menebak, apakah sebenarnya yang telah terjadi di Mataram. Namun bahwa Mataram harus berhati-hati, tidak lagi dapat dielakkan lagi.

Seperti juga tamu-tamunya yang baru saja meninggalkan Mataram, Ki Juru pun dapat menduga, bahwa sesuatu yang memiliki kelebihan telah mulai menyentuh Tanah yang sedang berkembang itu.

Tetapi Ki Juru Martani bukan anak kemarin sore. Ia adalah seseorang yang telah kenyang makan garamnya kehidupan yang serba rumit dan pelik.

Karena itu, sebelum semuanya terjadi, Ki Juru pun harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mungkin ada sesuatu yang dengan sengaja ingin mengganggu Mataram, seperti yang selalu terjadi sampai saat terakhir. Pada saat ia datang menghadap Sultan Pajang untuk memberitahukan bahwa Ki Gede Pemanahan telah wafat, ada juga orang-orang yang telah mencegatnya.

Dengan demikian, maka segala kemungkinan yang kurang baik masih dapat terjadi atas Mataram yang sedang tumbuh.

“Tetapi mungkin juga perasaan kami yang masih saja dipengaruhi oleh prasangka-prasangka buruk,” berkata Ki Juru di dalam hatinya.

Meskipun demikian, Ki Juru menyadari bahwa di Mataram ada dua buah pusaka yang memiliki nilai yang tinggi bagi pemegang pimpinan atas tanah ini. Kiai Pleret dan Kiai Mendung. Kedua pusaka itu akan membuat orang-orang yang tidak senang kepada Mataram semakin bernafsu untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tercela.

Tetapi Ki Juru Martani tidak tergesa-gesa memberitahukan hal itu kepada orang lain. Ia masih harus meyakinkan, apakah perasaannya itu tidak hanya sekedar diganggu oleh angin pancaroba dalam pergantian musim. Bahkan kepada Sutawijaya pun ia tidak mengutarakannya, karena ternyata Sutawijaya belum menangkap isyarat apa pun juga.

“Mungkin ia masih terlampau muda untuk dapat menyentuh getaran yang sangat halus itu,” berkata Ki Juru di dalam hatinya. Namun kemudian dilanjutkannya, “Atau aku memang sudah terlampau tua, untuk tidak berprasangka buruk terhadap persoalan yang sebenarnya tidak akan berakibat apa pun juga.”

Dengan demikan, maka Ki Juru masih ingin meyakinkan, apakah yang sebenarnya telah terjadi.

Sementara itu, Kiai Gringsing dan iring-iringannya menjadi semakin jauh dari Mataram. Ki Demang Sangkal Putung yang berada di paling depan, memacu kudanya semakin cepat, seakan-akan ia sudah tidak sabar lagi berada di perjalanan yang terasa menjemukan sekali. Ia ingin segera bertemu dengan keluarganya, dengan bebahu kademangannya dan dengan tetangga-tetangga yang baik di Sangkal Putung.

Kiai Gringsing sama sekali tidak menahannya. Bahkan, ia pun mengikuti kecepatan lari kuda Ki Demang, bersama kawan-kawannya yang lain.

Di paling belakang dari iring-iringan itu adalah Agung Sedayu dan Swandaru. Mereka hampir tidak bercakap-cakap sama sekali. Swandaru yang banyak berbicara itu pun agaknya lebih banyak berbicara di dalam angan-angannya tentang dirinya sendiri, tentang masa depan yang sudah menerawang di angan-angan.

Agung Sedayu pun ternyata telah diganggu pula oleh perasaannya sendiri. Masih terngiang kata-kata Untara di tangga pendapa rumah Raden Sutawijaya di Mataram.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan yang serupa itu telah menyentuh hatinya dan bahkan tumbuh pula dari dirinya sendiri, “Apakah aku akan tetap menjadi seorang petualang sampai hari tuaku? Jika pada suatu saat aku ingin hidup seperti lazimnya hidup berkeluarga, aku memang tidak akan dapat setiap hari hanya menyelusuri jalan-jalan dan padesan.”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Di luar sadarnya ia memperhatikan gurunya yang ada di depannya. Sebuah pertanyaan yang lain telah tumbuh pula, “Apakah guru memang hidup seorang diri sejak muda, tanpa pernah mengalami hidup kekeluargaan sebagaimana lazimnya?”

Di luar sadarnya, Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau menambah kepalanya menjadi pening memikirkan keadaan gurunya.

Bahkan kemudian di luar kehendaknya, Agung Sedayu mulai menilai keadaan Swandaru. Seperti yang dikatakan oleh Untara, Swandaru telah mempunyai pegangan hidup yang kuat, pegangan hidup lahiriah. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki Ki Demang Sangkal Putung. Ia dengan sendirinya akan mewarisi pangkat Demang itu, dan ia akan menjadi Ki Demang setiap saat ayahnya menyerahkan jabatan itu kepadanya, apabila ia menjadi semakin tua dan merasa tidak mampu lagi bekerja.

“Dan bakal isteri Swandaru adalah satu-satunya anak Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan Menoreh,” berkata Agung Sedayu di dalam hatinya. “Ia adalah satu-satunya orang yang berhak mewarisi Tanah Perdikan Menoreh. Dengan demikian maka baik Swandaru maupun Pandan Wangi akan menjadi pewaris-pewaris dari daerah yang luas dan subur, sehingga mereka tidak akan lagi dicemaskan oleh perjuangan hidup lahiriah,” sekali lagi Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Sebaliknya, apakah yang aku punyai di Jati Anom? Secuwil sawah adbmcadangan.wordpress.com yang harus dibagi dua dengan Kakang Untara. Rumah peninggalan ayah yang meskipun cukup besar dan baik, tetapi kini oleh Kakang Untara seakan-akan telah diserahkan bagi kepentingan prajurit Pajang, karena Kakang Untara sendiri adalah seorang perwira. Meskipun Kakang Untara kemudian tinggal di rumah itu bersama isterinya, namun rumah itu masih tetap menjadi ajang kegiatan keprajuritan.”

Di luar sadarnya, Agung Sedayu berpaling memandang wajah Swandaru. Wajah yang bulat itu nampak cerah dipanasnya matahari pagi.

Sepercik perasaan iri menyentuh hati Agung Sedayu. Perasaan yang melonjak dari dasar hati. Namun Agung Sedayu adalah seorang anak muda yang sudah lama belajar mengendalikan perasaan. Bahkan kadang-kadang terlampau kuat, sehingga ia mampu mendesak perasaan yang tumbuh dengan wajar itu dari hatinya.

Dengan penuh kesadaran ia menilai perasaannya itu. Dengan penuh kesadaran ia mencoba mengatasi perasaan iri di hatinya.

“Aku tidak boleh merasa iri hati atas keberuntungan Swandaru,” katanya di dalam hati, “Perasaan iri adalah pertanda desah dan ketidak-relaan menerima kasih yang sudah dilimpahkan oleh Yang Maha Pencipta, seolah-olah suatu tuntutan ketidak-adilan atas nasib yang disandangnya.”

Namun kemudian, “Tetapi yang Maha Pengasih pun tidak akan merubah nasib seseorang, jika orang itu sendiri tidak berbuat apa-apa. Dan berbuat apa-apa itu adalah suatu pertanda bahwa seseorang telah berusaha sebagai kenyataan permohonan yang dipanjatkan kehadapan-Nya.”

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sebuah pertanyaan pun kemudian melonjak di hatinya, “Dan apakah yang sudah aku lakukan menjelang hari depan?”

Sekali-sekali masih juga terngiang kata-kata kakaknya, bahwa sebaiknya ia menjadi seorang prajurit seperti kakaknya.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:38  Comments (84)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-84/trackback/

RSS feed for comments on this post.

84 KomentarTinggalkan komentar

  1. wah… kok pada ngaco sih..??
    yang benarkan udah jelas terpampang :
    Raja terakhir Majapahit = Brawidjaja PAMUNGKAS
    Nama asli Kiai Gringsing = Raden PAMUNGKAS
    nah jelaskan.?? darisana bisa diambil kesimpulan..
    walaupun tidak menutup kemungkinan yang dikatakan oleh tqmrk itu benar :Empu Windujati adalah Ki Kebo Kenanga. Berarti Empu Windujati bapaknya Karebet. Karena Kiai Gringsing cucunya Empu Windujati, berarti Kiai Gringsing keponakan Karebet.

    Regards.

    • Ngawur kau

  2. Hadiahnya udah done…lho(d).
    tengkyu Ki Gede.

  3. Jika kitab 84 ini menceritakan wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti kita menjelajahi waktu kembali ke tahun 1584 Masehi.

    Pada tahun yang sama nun jauh di sana di Belanda (yang kemudian menguasai negeri gemah ripah loh jinawi ini melalui VOC yang didirikan tahun 1602); William of Orange (William the Silent)dibunuh di rumahnya di Delft, Belanda oleh Balthasar Gérard. William ini bercita cita menyatukan Belanda dengan Spanyol dan hampir berhasil sebelum dibunuh.

  4. Cuplikan dari buku sejarah …..
    Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.

    Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

    Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.

    Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

    Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

  5. Nuwun sewu Ki Sanak Ibnu Gurslung,
    Menurut hemat saya gak mungkin Ki Kebo Kenongo, ayahnya Mas Karebet, adiknya Kebo Kanigoro, adalah Ki Windujati. Bukankah Ki Kebo Kenongo sudah wafat sewaktu Mas Karebet masih kecil. Sedangkan ki Windujati hidup hingga menjelang berakhirnya kesultanan Demak.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  6. Adimas J3b3ng
    Di kapling 83 crito sampeyan ttg pohon Cangkring dan pohon Nyamplung sangat bermanfaat, cuman klu ada mohon dng hormat disertakan foto atau gambarnya..? alangkah lengkapnya informasi itu.. Matur sembah nuwun Adimas..mugo2 Pengeran sing mbales!

    GD: Coba tengok di WISATA ADBM di bagian Miselinus. Wohe koyok duku, tapi mungkin gede2

  7. Kyai Truna,
    saya menyangka Empu Windujati sama dengan Pangeran Buntara. Meski muridnya sebenarnya tiga (di NSSI), tapi Umbaran menyeleweng dan akhirnya terbunuh sama dua murid yang lain, Radite dan Anggara.

    Cuma memang di NSSI tidak pernah disebut-sebut adanya adik P. Buntara, yang jadi guru Kiai Gringsing. Juga R. Pamungkas yang jadi cucu Empu Windujati. Akan tetapi, karena Kebo Kanigara juga menjadi putut di Tumaritis, maka guru Kiai Gringsing –entah siapa namanya– tidak mustahil bersahabat dengannya. Yang juga tidak pernah disebut di NSSI adalah adanya lambang cambuk dan cakra gerigi sepuluh, sebagai ciri Perguruan Windujati (=Karang Tumaritis).

    Begitu tebakan saya. Eee, ‘kali aja bener…

  8. Mohon maaf jika mengurangi indahnya roman ADBM besutan Ki SHM.

    Jika merunut sejarah, sepertinya ada hal yang mungkin terlewat oleh Ki SHM. Namun hal itu dapat dimaklumi karena pada jaman Ki SHM menuliskan kisah ini belum ada internet, apalagi wikipedia. Beliau kabarnya melakukan riset baik dalam membaca babad tanah Jawi, serta kitab kitab kuno sampai riset ke lapangan untuk menuliskan wilayah wilayah yang disebutkan dalam ADBM.

    Jika Ki SHM menceriterakan kisah menjelang wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti setting berada pada tahun 1584, sehingga alas mentaok telah dibuka selama 28 tahun, dari sejak diserahkan tahun 1556.

    Sementara sebelum tahun 1584 terdapat kejadian penting bagi Sutawijaya yaitu 1582, di mana dia memerangi Sultan Hadiwijaya. Namun seolah olah dalam ADBM tidak ada ceritera ini.

    Sultan HAdiwijaya menurut tulisan Kakang Panji wafat tahun 1582 (meninggal karena sakit setelah pulang perang).

    Namun di ADBM, Sultan Hadiwijaya dikabarkan masih sehat dalam menerima kedatangan Ki Gede Pemanahan.

    Terlepas dari itu semua, ADBM tetap kisah yang memukau….

    Suntingan dari Wikipedia:
    Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

    Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang.

    Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar.

    Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

    Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

    Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

    Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

    Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.

    Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang

  9. Agung Sedayu masih sibuk bolak-balik donlot file-file .ppt yang sudah disediakan oleh Ki GeDe, tetapi sampai sekarang masih bingung karena file tersebut juga tidak dapat dibaca dengan pusaka yang dia punya. Mohon petunjuk dari Ki GeDe atau cantrik-cantrik yang lain sekiranya dapat memberikan informasi bagaimana file-file tersebut dapat dibaca dengan baik.

  10. @J3b3ng
    Yeah…menurut Wikipedia memang demikian.
    Sedangkan menurut Ki SHM, Ki Gede Pemanahan meninggal terlebih dahulu di banding Sultan Hadiwijaya.
    Faktor yang cukup penting adalah berdasarkan urutan tahun di Wikipedia, Ki Gede Pemanahan meninggal SETELAH terjadinya peperangan antara Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya dengan Pajang yang dipimpin langsung oleh Sultan Hadiwijaya, sedangkan seperti kita baca di buku ke 81-84 ini, Ki Gede Pemanahan telah meninggal sementara perang Mataram – Pajang belum lagi terjadi.
    Tahun-tahun krusial Menurut Wikipedia adalah :

    1556 Ki Gede Pemanahan pindah ke Mataram
    1582 Meletus Perang Mataram – Pajang (Pajang kalah)
    1582 Sultan Hadiwijaya Mangkat (Meninggal Dunia)
    1584 Ki Gede Pemanahan Meninggal dunia

    Namun ada yang tidak konsisten dari tulisan di Wikipedia yaitu dalam entry berjudul KESULTANAN PAJANG – http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang,
    Dituliskan bahwa Mataram semakin maju setelah Ki Gede Pemanahan digantikan oleh Puteranya yaitu Sutawijaya mulai tahun 1575.

    Sedangkan pada entry berjudul Ki Gede Pemanahan http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Gede_Pemanahan, disebutkan bahwa Sutawijaya menggantikan Ki Gede Pemanahan setelah ayahandanya tersebut meninggal dunia pada tahun 1584.

    Saya berpendapat bahwa sebagai orang yang menguasai sejarah Jawa dengan baik (seperti terlihat di tulisan tulisan beliau : NSSI, ADBM, Pelangi di Langit Singosari, Tanah Warisan dll), kecil kemungkinan bagi Ki SHM kecil untuk melakukan kesalahan yang menurut saya cukup fatal seperti urutan peristiwa meninggalnya Ki Gede Pemanahan dan Sultan Hadiwijaya seperti yang telah diuraikan oleh rekan j3b3ng.
    Saya berpendapat, Ki SHM memiliki catatan bahwa barangkali yang benar adalah Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575 dan kemudian Raden Sutawijaya tampil menggantikan kedudukan beliau. Nah, kalau memang demikian (Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575), maka urutan peristiwa seperti yang tertulis di ADBM ini tidak ada yang salah.
    Nah…., saya mengajak Ki Sanak semua untuk besama-sama mencari data yang lebih akurat, sumonggo…..

  11. Pangeran Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh) punya 2 orang anak: Kebo Kanigoro (ayahnya Endang Widuri) dan Kebo kenanga/Ki Ageng Pengging (ayahnya Karebet/Joko Tingkir/Putut Karang Tunggal). Keduanya jadi Muridnya, ada satu murid lagi yaitu Mahesa Jenar atau Rangga TohJaya, jadi total muridnya ada 3: Kanigoro, Kenanga, Mahesa Jenar.

    Pangeran Wirawardana/Empu Windujati punya 2 murid dan satu orang cucu (Kyai Gringsing/Pamungkas).

    Pangeran Buntara (Pasingsingan sepuh atau Panembahan Ismaya) punya 3 orang murid: Radite, Anggara, dan Umbaran. Beliau punya Padepokan Karang Tumaritis, beberapa orang yang pernah nyantrik di sana: Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Karebet (Jaka Tingkir), Arya Salaka (murid Mahesa Jenar), Endang Widuri(anak Kebo Kanigoro).

    Sultan Hadiwijaya/Karebet/Jaka Tingkir/Putut Karang Tunggal seperguruan dengan Ki gede Pemanahan (anak Ki Ageng Sela ?) dan Ki Penjawi (Mantan Pengawal Perdikan Banyubiru ?). Siapa guru mereka bertiga ?..nggak jelas…
    Tapi yang jelas gurunya Karebet konon ribuan orang…

    Murid Mahesa Jenar adalah Arya Salaka (Ki Ageng Banyubiru)…Arya Salaka adalah gurunya Ki waskita ?….

    Jadi Siapakah guru Kiai Gringsing alias Pamungkas ?… Guru tidak langsung yang pasti kakeknya: Empu Windujati atau Pangeran Wirawardana…tapi gurunya langsung adalah Sahabat sekaligus saudara seperguruan Kebo Kanigoro, siapakah dia ?…Kelihatannya memang Mahesa Jenar….apalagi di ADBM disebutkan bahwa jurus2 Gringsing & Ki Waskita memiliki jalur yang sama dengan perguruan Pengging… Tapi di NSSI sama sekali tidak disebutkan Murid Mahesa jenar selain Arya Salaka…Jadi kemungkinan Kiai Gringsing adalah saudara seperguruan Arya Salaka (Ki Ageng banyubiru anak Ki Ageng Gajah Sora)….mbuhlah…gak jelas…

  12. Saya sih setuju dengan mbah_man kalo ini cara mencocok-cocokan gaya SHM antara ADBM dan NSSI… Jadi ga usah dicari hubungannya terlalu dalam. Cuma kalo dilihat rasio “kebetulan”nya, Lebih tinggi NSSI dibanding ADBM.. coba perhatikan, kemunculan-kemunculan Tokoh tua NSSI, pasti tiba-tiba disaat Mahesa jenar sudah terdesak (masalah dulu baru tokoh muncul).. bandingkan dengan kemunculan sumangkar di alas mentaok maupun peranan ki waskita di pedepokan panembahan agung misalnya, disainnya sudah lebih jelas, ada tokoh baru masalah..

    peace man..

  13. dos pundi niki maos kitapipun 83 n 84? sampun angsal warisan tapi boten saged maos

  14. Saya sependapat dengan kesimpulan Anakmas Sutajia Said, sebagian besar emang benar, tapi mengenai Mahesa Jenar sebage guru Kiai Gringsing adalah kurang tepat karena seperti telah di sebutkan bahwa guru Kiai Gringsing adalah adik seperguruan Empu Windujati, sedangkan di NSSI disebutkan bahwa Ki Ageng Pengging Sepuh hanya memiliki tiga murid yaitu: Ki Kebo Kanigara, Ki Kebo Kenanga dan Majesa Jenar. Jadi kesimpulan nya bahwa guru Kiai Gringsing adalah masih merupakan teka-teki.

  15. Kelihatannya Guru Kyai Grinsing bukan Mahesa Jenar….tapi justru Panembahan Ismaya….(dalam hal ini setuju dengan komentar Pradabaru di 82)…

    Tambahan lagi bahwa Setting cerita saat pengepungan Sultan Trenggana berburu di Prawata oleh Pasukan Banyubiru, saat itu memang murid Panembahan Ismaya baru 3 (2 murid yang baek, 1 murid durhaka=Umbaran)..jadi sangat mungkin kalau setelah peristiwa itu Panembahan Ismaya mendapat murid lagi yaitu Kyai Gringsing…tapi kejadiannya setelah Mas Karebet ditarik untuk mengabdi lagi kepada Sultan Trenggana…

  16. joko tingkir dlm NS&SI sak pantaran sama arya salaka muride maheso jenar, sedangkan ki waskita saat ini kalo menilik sudah punya anak sepantaran agung sedayu berarti umurnya gak jauh dari jaka tingkir(hadiwijoyo)
    padahal kiwaskita mestine juga sak pantaran sama arya salaka , apa ya tumon murid’e sakpantaran ambek gurune , lha bingung lagi to? hehehehehe puniko namung cerita fiksi kok mbah, dados nggih sampun dipun damel waton hehehehehe monggo sami disimak kemawon

  17. kan udah dibilangin bukan muridnya Arya Salaka, tapi muridnya GajahSora (Ki Ageng Banyubiru sepuh)…

  18. meskipun sudah dibantai sidanti di padepokan tambak wedi, tetapi saya masih mengharapkan sekar mirah. saya ingin tahu bagaimana nasibnya. bisa memberi clue ki gede

  19. nuwun sewu, saya mau nanya bagaimana caranya ngedownload buku ADBM

    suwun

  20. Guru kiai Gringsing adalah Panembahan Ismaya, karena Kiai Gringsing sendiri bilang gurunya adalah adik dari kakeknya (empu Windujati a.k.a Pangeran Wirawardana) jadi otomatis gurunya juga seorang pangeran (R. Buntara a.k.a P. Ismaya), hal ini secara implisit juga diberikan oleh K Gringsing yg hanya tersenyum ketika ditanya siapakah P Ismaya tsb. Dan lagi diceritakan bahwa Kebo Kanigoro pernah menjadi Putut di padepokan P. Ismaya.

    Sementara sepenangkapan saya, Kebo Kanigoro bukan lah murid ki Ageng Pengging Sepuh, tapi justru saudara seperguruannya. Jadi meskipun Kebo Kanigoro merupakan anak dari Ki Ageng Pengging Sepuh, tapi dalam perguruan mereka adalah saudara seperguruan. Sehingga Kebo Kanigoro adalah paman guru dari Mahesa Jenar.

    salam.

  21. >>”Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Demikian pula Kebo Kanigara sebagai seorang bangsawan cucu dari salah seorang yang pernah merajai Majapahit, hatinya tersentuh pula. ”
    >>”Empu Windujati punya 2 orang murid dan 1 cucu (Pamungkas)”
    >>”Tidak saja murid,” sahut orang berjubah abu-abu itu, ”Tetapi ia adalah anak Pangeran Handayaningrat itu, dan bahkan adik seperguruannya.” (Kebo Kanigara)
    >>”KANIGARA kembali menarik alisnya. Ketika kemudian ia teringat sesuatu, hampir berteriak ia berkata, ”Raden Buntara, bukankah Raden Buntara itu adik Sultan Brawijaya Pamungkas dari seorang garwa ampeyan…?”
    >>”Tentu,” sahut orang tua itu. ”Ayahmu pasti pernah menyebut-nyebut namaku. Aku adalah pamannya yang paling dekat dengan ayahmu itu.”
    >>”Kalau demikian Tuan lah Eyang Buntara yang pernah aku dengar namanya,” kata Kanigara sambil membungkuk hormat. Hormat sekali. ”
    >>”Tetapi apa yang terjadi kali ini tak dapat aku (P.Ismaya) pikul lebih jauh lagi. Ketika aku menghadap Baginda Sultan Demak (Raden Patah), beliau berkata, juga dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Paman, aku sudah mendapat laporan lengkap tentang Paman. Ayahanda Prabu telah mengirim utusan kemari sebelum paman datang. Beliau merasa menyesal bahwa segala sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi. Apalagi persoalan itu bersumber pada persoalan seorang istri, yang karena keadaan menjadi sedemikian buruknya. Paman tidak saja membunuh suaminya, tetapi karena Paman, maka terjadilah bentrokan antara sahabat-sahabat laki-laki itu dengan beberapa orang prajurit yang memihak kepada Paman. Karena itu Paman bukanlah seorang utusan seperti yang aku harapkan. Bahkan sebaliknya, Paman telah menjadikan Ayahanda Prabu semakin jauh daripadaku.”

    JAdi>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

    1. Prabu Brawijaya punya anak namanya Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat & Raden Patah.

    2. P.Ismaya / Buntara adalah adik Prabu Brawijaya dan Paman ayahnya Kebo kanigara (Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat) sekaligus paman raden patah.

    3. Ilmu Pengging adalah Ilmu Bangsawan Majapahit.

    4. Ki Ageng Pengging Sepuh adalah saudara/sepupu dari Raden Patah – Sultan Demak Pertama.

    5. Mas Karebet = Anak Ki Kenongo / cicit Prabu Brawijaya.

    6. Kiai Grinsing / Pamungkas = Cucu langsung Empu Windujati – Pangeran Majapahit dan murid sahabat kebo kanigoro.

    Kesimpulannya:

    1. Kiai Grinsing = Sepupu Karebet (sama2 keturunan majapahit)
    2. Empu Windujati = P. Ismaya
    3. Sahabat Kebo Kanigoro = ???EmJee??
    4. Ki Waskita adalah anak Arya Salaka yg berbeda paham dengan ayahnya dan melarikan diri dari banyubiru.

    >>>>JAdi Guru Kiai Grinsing adalah ???<<<<<<<

    Jawabnya – SH MIntardja….

  22. Songsong Kanjeng Ki Menggung,
    eh kleru,….. Kiai Mendung.

    • jan ki Gembleh keBANGETan tenan…..teGA nian menDHISIKi
      cantrik,

      Lha sudah TAU kalo cantrik baru nyampe gandOK-71 kok ya
      malah mblayu ngeBUT ning gandok-84….. 🙂 🙂

      • walah ki ndul ternyata yo melu kebut-kebut kwkwkwkkkk

        • ..sehingga terpaksa Ki addus ikutan ngebut-i…..lamuk ! 😀

          • yahmene nang nggembong wayae kebut-kebut doro ki kartu

            • ..dara….manis ? 😀

              • dara tista kwkwkkk

                • doro muluk ??????????

                  • d
                    o
                    r
                    o

                    n
                    g
                    .
                    .
                    .
                    .

                    • j
                      a
                      g
                      u
                      n
                      g

                      b
                      e
                      r
                      o
                      n
                      d
                      o
                      n
                      g

  23. kiai gringsing adalah murid dari mahesa jenar, jadi paling tidak dia kenal dengan sultan hadiwijaya

  24. Guruku adalah sahabat yang dekat dengan seorang yang menyebut dirinya Kebo Kanigara, putera dan sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh, kakak dari Ki Ageng Pengging yang juga bernama Kebo Kenanga. Yang menyingkir pula dari lingkungannya dengan alasan yang berbeda.”

    Tetapi di dalam ilmu kanuragan, keduanya bersumber pada guru yang sama. Ayah mereka sendiri, Kiai Ageng Pengging Sepuh.”

    Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Memang mungkin sekali. Guruku memang sahabat Ki Kebo Kanigara. Meskipun umurnya terpaut sedikit. Dengan demikian, maka tidak mustahil jika ilmu keduanya saling mempengaruhi.”

    Dari kutipan diatas sebenernya sudah sangat jelas bahwa guru kiai gringsing adalah Mahesa Jenar, dan sepertinya mahesa jenar juga sempat kembali mengembara dan membawa kiai gringsing untuk turut serta

    “Aku berkesempatan mengikutinya meskipun tidak seluruh perjalanannya.”

    Dan Ki gede banyubiru adalah arya salaka jika mengacu pada kutipan berikut :

    “Ki Gede Banyubiru yang sekarang mempunyai ikatan yang rapat dengan Sultan di Pajang. Mereka pernah berada di satu padepokan. Pernah hidup dalam satu lingkungan. Dan ilmu mereka pun tidak terlampau jauh pula, meskipun Sultan Pajang memiliki seribu macam ilmu dari seribu macam perguruan.”

    ========

    memang mantab jalan ceritanya, seperti sebuah sejarah tapi abu2, tokoh2nya pun seperti nyata, karena memiliki keterkaitan dan masuk dalam alur cerita yang nyata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: