Buku 84

Namun sebelum Ki Waskita menjelaskan, Kiai Gringsing sudah mendahuluinya, “Swandaru, yang dikatakan oleh Ki Waskita adalah tanggapan perasaan kita. Memang perasaan kita kadang-kadang dapat melihat yang tidak nampak, bahkan tidak ada. Kita dapat menganggap ada meskipun tidak ada. Dan pengaruhnya pun hampir tidak ada bedanya dengan ada yang sebenarnya. Seperti bentuk-bentuk semu yang tidak ada, tetapi serasa ada itu. Bahkan bukan saja pengaruh getaran yang menyentuh pusat-pusat syaraf kita dari luar diri kita, tetapi kita sendiri kadang-kadang melihat ke dalam ketiadaan. Jika kita tidak mampu lagi mengendalikan perasaan yang demikian, maka kita tidak lagi dapat disebut sadar.”

Swandaru menarik nafas dalam-dalam. Samar-samar ia dapat mengerti maksud gurunya. Dan di luar sadarnya ia berpaling kepada Agung Sedayu. Agaknya Agung Sedayu pun memperhatikan pula keterangan Ki Waskita dan gurunya, sehingga dahinya masih nampak berkerut-merut.

Swandaru tidak bertanya lagi. Sekali lagi ia menengadahkan wajahnya. Langit memang sudah menjadi cerah. Dan sebuah pertanyaan timbul di dalam dirinya, “Apakah pada saat songsong Kiai Mendung dibuka aku tidak melihat awan yang sebenarnya di langit? Atau aku memang melihat awan yang kebetulan saja menebar dan perlahan-lahan, ditiup angin ke Utara?”

Seperti Swandaru, Agung Sedayu ternyata tertarik juga pada pembicaraan itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam hatinya, “Sudah tiga empat hari awan yang tipis berarak dan kemudian berkumpul di lereng Merapi seperti sekarang ini. Hampir bersamaan waktunya di setiap hari. Kemarin tanpa songsong Kiai Mendung, awan juga menebar tipis di langit seperti dua dan tiga hari yang lalu.”

Namun demikian, baik Agung Sedayu maupun Swandaru tidak dapat menghindarkan diri dari perasaan yang aneh terhadap songsong Kangjeng Kiai Mendung itu. Seolah-olah songsong itu memang memiliki pengaruh yang luas atas keadaan di seputarnya.

Meskipun demikian, keduanya tidak membicarakannya lagi. Mereka berjalan saja di dalam iring-iringan yang sudah menjadi semakin pendek. Beberapa langkah di hadapan mereka, Ki Lurah Branjangan berjalan bersama Raden Sutawijaya. Sedang Ki Juru Martani berjalan justru di belakangnya, seorang diri sambil menundukkan kepalanya. Seolah-olah ia memang sedang tidak ingin diganggu, karena angan-angannya yang sedang mengembara ke dunia yang asing.

Iring-iringan itu berjalan perlahan-lahan meninggalkan makam Ki Gede Pemanahan. Seakan-akan masing-masing berjalan menuruti langkah kakinya sambil menundukkan kepala. Seakan-akan yang satu tidak menghiraukan yang lain.

Beberapa langkah lagi di belakang Kiai Gringsing dan sekelompok kawan-kawannya dari Sangkal Putung dan Ki Waskita, beberapa orang pemimpin dan senapati dari Pajang berjalan pula dengan kepala tunduk. Mereka masing-masing seolah-olah sedang dihanyutkan oleh angan-angan mereka seperti juga Ki Juru Martani.

Namun tiba-tiba Ki Juru mengangkat wajahnya. Dipandanginya Raden Sutawijaya yang berjalan di hadapannya, diiringi oleh Ki Lurah Branjangan.

“Mumpung para senapati dan pemimpin dari Pajang ada di sini,” katanya kepada diri sendiri, “apa salahnya jika aku menyampaikan kepada mereka keputusan Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang. Mungkin satu dua orang pemimpin itu sudah tahu, bahkan sudah diajak memperbincangkan kemungkinan-kemungkinannya. Jika belum, biarlah mereka mengetahui keputusan Kangjeng Sultan bahwa Raden Sutawijaya telah diangkat menjadi Senapati Ing Ngalaga yang berkedudukan di Mataram.”

Ki Juru mengangguk-angguk. Ia sudah mendapat kepastian bahwa ia akan melakukannya. Tentu hal itu akan menimbulkan berbagai tanggapan. Tetapi lambat atau cepat, pengangkatan itu memang harus diumumkan.

Karena itulah maka Ki Juru tidak lagi berjalan dengan kepala tunduk. Ketika ia berpaling dan melihat Kiai Gringsing berjalan di belakangnya, maka ia pun memperlambat langkahnya.

“Kiai,” berkata Ki Juru ketika Kiai Gringsing sudah berjalan di sisinya, “Aku mempunyai pertimbangan khusus mengenai songsong Kangjeng Kiai Mendung dan pesan Kangjeng Sultan tentang Raden Sutawijaya.”

“Maksud, Ki Juru?”

“Aku akan memanfaatkan kehadiran para pemimpin dan senapati Pajang atas wisuda yang diberikan kepada Raden Sutawijaya, atas perkenan Kangjeng Sultan Pajang.”

“Wisuda yang manakah yang Ki Juru maksudkan?”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Beberapa kali ia berpaling. Agaknya hanya sekelompok kecil dari Sangkal Putung dan Ki Waskita sajalah, yang berjalan bersamanya. Maka katanya, “Tentu Ki Waskita sudah mengatakan tentang wisuda bagi Raden Sutawijaya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk. Ia memang sudah mendengar serba sedikit. Tetapi persoalannya tentu masih belum cukup jelas. Karena itu maka katanya, “Sebagian kecil dari persoalan itu memang sudah aku dengar.”

“Begini, Kiai,” berkata Ki Juru, “ternyata bahwa Kangjeng Sultan benar-benar mengasihi Raden Sutawijaya.”

Kiai Gringsing mengangguk-angguk.

Sementara itu, Ki Juru Martani menjelaskan rencananya kepada Kiai Gringsing, “Bukankah sudah pernah aku ceriterakan meskipun serba sedikit tentang Wisuda yang barangkali sudah dilengkapi oleh Ki Waskita? Songsong kuning yang ternyata Kangjeng Kiai Mendung itu, tentu mempunyai arti tersendiri.”

“Memang Ki Waskita pernah menceriterakan tentang wisuda yang tidak dihadiri oleh Raden Sutawijaya, menjadi Senapati Ing Ngalaga. Ki Waskita juga menceriterakan betapa tulus pengangkatan yang dikurniakan kepada Raden Sutawijaya itu, menilik sikap dan tekanan kata-kata Kangjeng Sultan pada waktu itu.”

“Ya,” sahut Ki Juru, “apalagi setelah ternyata bahwa songsong berwarna kuning itu adalah Kangjeng Kiai Mendung. Maka sudah pastilah kedudukan Raden Sutawijaya itu.”

“Jadi?”

“Aku akan mengumumkan di hadapan para senapati dan pimpinan pemerintahan Pajang yang hadir di sini.”

Kiai Gringsing mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Aku kira memang ada baiknya, Ki Juru. Tetapi apakah Ki Juru Martani sudah mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi? Tentu ada orang yang tidak senang mendengar keputusan itu.”

“Tetapi keputusan itu tentu akan diumumkan juga di Pajang, bahwa Raden Sutawijaya telah diangkat menjadi Senapati ing Ngalaga. Dan lebih daripada itu, Kangjeng Sultan telah menghadiahkan songsong Kangjeng Kiai Mendung kepada Raden Sutawijaya.”

Kiai Gringsing berpaling kepada Sumangkar. Sumangkar adalah seorang yang mempunyai kedudukan yang baik dimasa pemerintahan Adipati Arya Panangsang di Jipang.

“Kau mempunyai pendapat, adi?”

Sumangkar menarik nafas dalam dalam. Lalu, “Jika itu keputusan Kangjeng Sultan, maka tidak akan ada orang yang dapat menyanggah. Apalagi Raden Sutarcrijaya adalah putera angkat Kangjeng Sultan itu sendiri. “

Kiai Gringsing mengangguk-angguk pula. Katanya, “Demikianlah. Jika itu sudah keputusan Kangjeng Sultan, maka tidak akan ada orang yang mengganggu gugat. Senang atau tidak senang. Karena itu, maka aku kira tidak ada jeleknya hal itu dilakukan.”

Ki Juru memandang Kiai Gringsing sejenak. Kemudian memandang Raden Sutawijaya yang berjalan di depan dengan kepala tunduk.

“Baiklah. Aku akan melakukannya. Malam nanti tamu-tamu dari Pajang masih akan bermalam di Mataram. Aku akan mempergunakan kesempatan itu. Sekaligus mengumumkan kepada rakyat Mataram. Namun hal itu tentu akan mempengaruhi juga kedewasaan berpikir Raden Sutawijaya. Dengan demikian, ia merasa menjadi seorang yang benar-benar sudah dewasa dan bertanggung jawab atas suatu keadaan yang tidak dapat dianggap sambilan saja. Apalagi Raden Sutawijaya tidak lama lagi akan menjadi seorang ayah, karena puteri dari Kalinyamat itu sudah saatnya melahirkan.”

Kiai Gringsing masih saja mengangguk-angguk. Memang tidak ada sikap lain yang lebih baik dari mengiakan rencana Ki Juru Martani itu.

Demikianlah, maka agaknya Ki Juru sudah berniat bulat untuk mempergunakan kesempatan itu. Karena itu, maka pembicaraan yang dilakukan di sepanjang jalan itu, ternyata iustru telah melahirkan sikap yang penting bagi Mataram dan bagi Raden Sutawijaya pribadi, setelah ia ditinggalkan oleh ayahandanya, Ki Gede Pemanahan.

Ternyata Ki Juru Martani benar-benar melaksanakan maksudnya. Malam itu para tamu dari Pajang masih bermalam satu malam lagi di Mataram. Mereka masih ingin memberikan sedikit hiburan bagi keluarga Ki Gede yang ditinggalkan. Jika mereka langsung meninggalkan Mataram, maka rumah Ki Gede tentu akan terasa menjadi sangat sepi.

“Kiai Gringsing,” berkata Ki Juru kepada Kiai Gringsing yang berada di gandok bersama Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang Sangkal Putung dan Agung Sedayu serta Swandaru. “Aku persilahkan Kiai naik ke pendapa bersama para sesepuh ini. Aku akan mengumumkan wisuda itu sekarang.”

“Ki Juru, silahkanlah. Sebaiknya aku tidak menemui para pemimpin Pajang itu pada saat yang demikian. Aku akan berada di halaman, di bawah bayang-bayang yang suram, untuk mengetahui akibat dari pengumuman Ki Juru.”

“Ah, itu tidak perlu. Kiai adalah orang yang kami anggap telah ikut mengasuh Mataram sejak lahirnya.”

“Terima kasih, Ki Juru. Silahkan. Aku tidak tahu, kenapa aku ingin berbuat demikian.”

Ki Juru menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti bahwa Kiai Gringsing adalah orang yang tidak suka menampakkan diri. Bahkan ia lebih senang tidak dikenal sama sekali. Dan karena itulah maka, ia lebih senang tinggal di Dukuh Pakuwon daripada menyebut dirinya seorang yang berdarah Majapahit.

Karena itu, Ki Juru tidak memaksanya.

Dalam pada itu di pendapa, para tamu dari Pajang sedang duduk sambil berbicara di antara mereka. Berbicara tentang bermacam-macam hal, menurut perhatian mereka masing-masing.

Namun sebagian dari mereka telah membicarakan perkembangan Mataram yang sangat pesat menurut penilaian mereka.

“Aku belum pernah menginjakkan kakiku ke pusat Alas Mentaok setelah Ki Gede Pemanahan mulai membukanya,” berkata seorang senapati, “Ternyata kini yang aku jumpai adalah sebuah kota yang sedang tumbuh. Meskipun Mataram sekarang masih belum terlampau ramai, namun sebentar lagi tanah ini akan menjadi tanah harapan.”

Yang lain mengangguk-angguk. Meskipun ada di antara mereka yang diselipi oleh perasaan iri dan dengki. Namun pada umumnya mereka tidak ingkar dari kenyataan, bahwa Mataram berkembang dengan pesatnya.

Di antara para senapati itu terdapat Sorohpati. Setiap kali ia mengangguk-angguk. Bahkan kadang-kadang ia menyambung pembicaraan itu dan ikut memuji kemampuan Ki Gede Pemanahan dan Raden Sutawijaya. Namun ia berkata di dalam hati, “Mataram yang sekarang harus dilenyapkan. Demikian juga Pajang yang hanya mengagungkan kemukten itu. Harus tumbuh seorang Raja yang Maha Bijaksana dan Maha Adil,” namun kemudian, “Dan aku adalah seorang Panglima tertinggi di negara yang akan lahir itu.”

Dalam pada itu, selagi para pemimpin dan Senapati berbincang di antara mereka, Ki Juru Martani yang sudah naik ke atas pendapa pun kemudian berkata, “Maaf saudara-saudaraku. Para pemimpin pemerintahan, para senapati dan prajurit dari Pajang. Para pemimpin dan pengawal di Tanah Mataram. Aku ingin menyela di antara pembicaraan kalian sejenak.”

Pendapa itu menjadi hening. Setiap orang memandang Ki Juru dengan tajamnya. Namun sebagian dari mereka menyangka, bahwa Ki Juru Martani hanya akan sekedar menyampaikan ucapan terima kasih, bahwa mereka telah datang memberikan penghormatan terakhir.

Terapi ternyata bukan sekedar ucapan terima kasih. Ki Juru memang menyatakan terima kasihnya kepada para pemimpin dan senapati. Namun setelah ucapan terima kasih atas kehadiran mereka, maka Ki Juru berkata, “Selain pernyataan terima kasih yang tidak terhingga dari seluruh keluarga Ki Gede Pemanahan, maka ada sesuatu yang penting yang akan aku beritahukan kepada saudara-saudara yang hadir di pendapa ini.”

Semua orang terdiam karenanya.

“Seperti yang kalian lihat, bahwa songsong yang dipergunakan oleh Sutawijaya untuk memayungi jenazah ayahandanya adalah songsong kerajaan yang bernama, Kiai Mendung. Songsong itu memang sudah dikurniakan oleh Kangjeng Sultan kepada puteranya yang kini berada di Mataram. Bahkan sebagai pertanda wisuda bagi Raden Sutawijaya.”

Semua wajah menjadi tegang. Sorohpati bagaikan membeku di tempatnya.

Di dalam bayangan kegelapan, Kiai Gringsing berdiri berdua dengan Ki Waskita di halaman. Beberapa langkah daripadanya, di belakang sebatang pohon sawo, Ki Sumangkar berdiri pula berdua dengan Ki Demang Sangkal Putung. Sedang Agung Sedayu dan Swandaru berdiri agak jauh dari mereka.

Tetapi mereka sama sekali tidak menarik perhatian, karena di halaman itu memang berdiri beberapa orang pengawal dan orang-orang Mataram yang ikut mendengarkan penjelasan Ki Juru Martani. Bahkan ada pula di antara mereka yang duduk di tangga pendapa.

“Ki Sanak semuanya,” berkata Ki Juru pula, “adalah tidak salah jika pada saat ini aku menyatakan keputusan yang sangat bijaksana bagi Raden Sutawijaya. Sebagai putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang bertahta di Pajang, maka Raden Sutawijaya mendapat wisuda sebagai Senapati Ing Ngalaga di Mataram.”

Keterangan itu memang mengejutkan sekali. Bahkan Sutawijaya sendiri terkejut, meskipun Ki Juru Martani sudah mengatakan serba sedikit tentang pesan Kangjeng Sultan. Tetapi keterangan yang dinyatakan terbuka di hadapan para pemimpin dan senapati itu, telah membuat dadanya menjadi berdebar-debar.

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya melihat, berbagai tanggapan nampak pada wajah para senapati dan pemimpin pemerintahan yang hadir di pendapa. Terutama mereka yang datang dari Pajang.

Pemimpin dari Mataram, terutama Ki Lurah Branjangan, tidak dapat menyembunyikan kegembiraan hati atas pengakuan itu. Dalam sekejap semua prasangka dan keragu-raguan atas Kangjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang pun lenyap.

Namun bagi pemimpin-pemimpin dari Pajang, pernyataan itu telah mendapat penilaian khusus. Mereka tidak tergesa-gesa menanggapi dengan sikap dan pekataan. Tetapi dari sorot mata mereka dan perubahan wajah, nampak bahwa ada di antara mereka yang menyambut dengan besar hati, tetapi ada yang kecewa dan berhati-hati.

Tetapi tanggapan yang bermacam-macam itu memang sudah diduga oleh Ki Juru Martani. Karena itu ia tidak terkejut lagi. Bahkan ia berbicara seterusnya, “Ki Sanak. Sudah barang tentu kurnia derajat dan pangkat itu merupakan beban yang tidak ringan bagi Raden Sutawijaya. Namun sebagai putera Kangjeng Sultan, maka sudah sepantasnya ia menerima dengan penuh rasa tanggung jawab. Bukan sekedar sudi menerima derajatnya saja, tetapi juga harus menerima beban yang ada akibat derajat itu. Tegasnya, harus menerima hak dan sekaligus kuwajiban yang timbul karenanya.”

Para pemimpin dan senapati Pajang yang ada di pendapa itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka masih berhati-hati sekali menanggapi pernyataan Ki Juru Martani. Bukan karena mereka tidak percaya, karena pada umumnya mereka sudah mengenal Ki Juru Martani dengan baik, sebagai seorang yang pernah menjadi saudara seperguruan dengan Ki Gede Pemanahan, tetapi juga dengan Kangjeng Sultan di Pajang dan Ki Penjawi.

Serohpati yang mendengarkan pernyataan Ki Juru Martani itu dengan saksama, menjadi berdebar-debar pula. Dengan demikian berarti bahwa kedudukan Raden Sutawijaya telah diakui dan dinyatakan dengan resmi. Senapati Ing Ngalaga di Mataram.

“Agaknya Kangjeng Sultan menyadari sepenuhnya, bahwa ada orang yang dengan sengaja ingin membenturkan Pajang dan Mataram,” berkata Sorohpati di dalam hatinya, “Dan pengangkatan ini adalah jawaban langsung dari usaha tersebut.”

Mau tidak mau, Sorohpati harus mengakui ketajaman sikap Kanjeng Sultan menghadapi orang-orang yang menentang tumbuhnya Mataram. Bahkan Sorohpati berkata di dalam hati, “Apakah Kangjeng Sultan sudah mengetahui pula usaha Kakang Panji, bukan saja menghapus Mataram yang sedang tumbuh, tetapi juga Pajang?”

Tetapi Sorohpati tidak mau mengambil kesimpulan sendiri. Ia masih mempunyai beberapa orang kawan. Orang yang disebutnya Kakang Panji dan Dadap Wereng. Mereka lah yang harus menentukan sikap terakhir menghadapi perkembangan Mataram.

Pernyataan Ki Juru Martani itu tidak diperpanjang lagi. Ia mengakhiri keterangannya dengan ucapan terima kasih sekali lagi. Dan dengan rendah hati ia berkata, “Tentu Raden Sutawijaya akan memerlukan bantuan dari Ki Sanak sekalian. Baik yang ada di Mataram, maupun yang berada di luar Mataram.”

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya yang ada di luar pendapa, mencoba untuk menangkap kesan dari para pemimpin di Pajang. Tetapi mereka tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Wajah-wajah yang ada di pendapa tidak menunjukkan sikap tertentu, sehingga yang membayang adalah keterkejutan mereka saja. Selebihnya adalah sikap yang kabur.

Ketika malam telah lampau, dan para senapati serta pemimpin dari Pajang yang bermalam di Mataram sudah berada kembali di dalam bilik masing-masing, maka mereka masih saja memperbincangkan wisuda yang diterima oleh Raden Sutawijaya tanpa menghadap Kangjeng Sultan ke Pajang. Suatu peristiwa yang sepanjang pengetahuan mereka belum pernah terjadi di Pajang, bahkan Demak.

“Tetapi Raden Sutawijaya adalah putera terkasih,” berkata beberapa orang senapati di dalam hati.

Sutawijaya menanggapi pengangkatannya dengan hati yang buram. Sebagian dari perasaannya masih tercengkam oleh meninggalnya Ki Gede Pemanahan. Sebagian lagi oleh kebingungan. Justru karena Kangjeng Sultan telah mengurniakan pangkat yang cukup tinggi baginya.

“Apakah artinya semua ini?” desisnya. Tetapi yang pasti bagi senapati adalah keharusan senapati untuk mempertanggung- jawabkan jabatannya itu kepada Kangjeng Sultan pada saat-saat tertentu.

Dalam cengkaman kebimbangan. Raden Sutawijaya duduk di sudut gandok seorang diri. Dipandanginya malam yang gelap, yang menyelubungi seluruh wajah tanah Mataram yang sedang berkembang itu.

Raden Sutawijaya berpaling, ketika didengarnya langkah mendekat. Dilihatnya Ki Lurah Branjangan perlahan-lahan mendekatinya dengan kepala tunduk.

“Marilah, Paman,” berkata Sutawijaya sambil bergeser. Ki Lurah Branjangan duduk di sebelahnya. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Keterangan Ki Juru Martani membuat aku dan orang-orang lain yang mendengarnya sangat terkejut.”

“Ya,” jawab Sutawijaya.

“Aku tidak tahu, apakah maksud Ki Juru mengumumkannya di hadapan pemimpin-pemimpi di Pajang sendiri, dan justru pada saat kita baru saja memakamkan Ki Gede Pemanahan,” berkata Lurah Branjangan.

“Aku juga tidak tahu, Paman. Tetapi barangkali Ki Jruu hanya mengambil kesempatan, mumpung mereka berada di Mataram menghadiri pemakaman ayahanda.”

“Tetapi bukankah wisuda itu akan diumumkan di Pajang oleh Kangjeng Sultan sendiri? Dan bukankah wisuda itu tidak cukup dengan sebuah pernyataan seperti yang dikatkan oleh Ki Juru?”

Sutawijaya mengangguk-angguk.

“Raden. Pada saatnya Raden tentu akan hadir di pendapa agung istana Pajang. Raden akan duduk di sebelah kiri ayahanda Kangjeng Sultan dengan pakaian kebesaran, karena Angger adalah Senapati Ing Ngalaga di Mataram. Meskipun jabatan itu adalah jabatan keprajuritan, namun menurut pertimbangan Kangjeng Sultan, Mataram yang sedang tumbuh ini memang perlu mendapat penanganan yang khusus, dibanding dengan daerah-daerah yang lain.”

Raden Sutawijaya tidak menyahut.

“Raden,” berkata Ki Lurah selanjutnya, “Jika aku tidak mengingat bahwa di pendapa banyak tamu, aku sudah menangis mendengar kurnia Sultan di Pajang. Hanya aku tidak mengerti kenapa begitu saja wisdua itu sudah terjadi.”

Ia berhenti sejenak. Lalu, “Tetapi aku mempunyai dugaan bahwa Ki Juru baru mendengar rencana wisuda itu. Pelaksanaanya tentu akan dilakukan di Pajang.”

Tetapi Raden Sutawijaya menggelengkan kepalanya, “Tidak, Paman. Ayahanda Sultan tahu pasti, bahwa aku tidak akan datang ke Pajang. Aku tidak akan naik ke pendapa agung, sebelum usahaku menjadikan Mataram sebuah negeri yang ramai ini berhasil.”

“Tetapi Raden ….”

“Aku sudah berketetapan hati.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Namun di dalam hati ia bergumam, “Alangkah kerasnya hati anak muda ini.”

Dengan demikian, maka untuk beberapa saat lamanya keduanya hanya saling berdiam diri, Raden Sutawijaya memang sudah tidak dapat dilunakkan lagi hatinya. Ia tidak akan pergi ke Pajang sebelum Mataram menjadi ramai. Tetapi Ki Lurah Branjangan kemudian bertanya kepada adbmcadangan.wordpress.com diri sendiri, “Apakah batasan dari negeri yang ramai itu? Mataram sekarang sudah menjadi ramai dan besar di bandingkan dengan tempat-tempat yang lebih kecil. Tetapi memang masih kecil dan sepi dibandingkan dengan Pajang. Tetapi jika Raden Sutawijaya menunggu Mataram menjadi ramai seperti Pajang, maka untuk menghadap ayahanda angkatnya ia memerlukan waktu dua puluh atau dua puluh lima tahun lagi.”

Ki Lurah Branjangan terperanjat ketika ia mendengar Raden Sutawijaya berkata, “Paman. Aku menerima wisuda itu dengan sangat hati-hati.”

“Apakah Raden masih saja dibayangi kecurigaan?”

“Bukan kecurigaan. Tetapi sikap hati-hati.”

K. Lurah menarik nafas dalam dalam. Tetapi kepalanya terangguk-angguk lemah.

Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua masih duduk di tempatnya. Namun kemudian Ki Lurah Branjangan pun mempersilahkan Raden Sutawijaya untuk beristirahat, “Raden. Malam menjadi semakin larut.”

Raden Sutawijaya mengangguk.

“Tidurlah, Raden. Sebaiknya Raden bersikap wajar, agar keluarga Raden yang baru saja mengalami kesusahan tidak terpengaruh. Agaknya mereka kini menggantungkan diri kepada Raden Sutawijaya.”

Raden Sutawijaya mengangguk lagi, “Malam sudah larut,”

Raden Sutawijaya pun kemudian berdiri dan melangkah masuk ke ruang dalam. Dilihatnya beberapa orang keluarganya sudah tidur di dalam bilik masing-masing. Tetapi ada di antara mereka yang masih terbangun.

“Sebenarnyalah mereka sekarang memandang aku sebagai tiang induk. Jika aku lemah dan apalagi miring, maka hati mereka pun menjadi semakin kecut menghadapi gelombang kehidupan yang rumit ini.”

Sutawijaya pun kemudian duduk di antara adik-adiknya dan mencoba berbicara dengan mereka tentang persoalan-persoalan yang dapat membelokkan perhatian mereka terhadap kepedihan hati yang baru saja mereka alami.

Ketika matahari di esok paginya sudah hampir muncul di ujung pagi, barulah Sutawijaya itu lelap sejenak. Hanya sejenak, karena ia pun harus segera bangun. Tamu-tamunya yang datang dari Pajang telah berkemas untuk minta diri dan kembali ke Pajang.

Sutawijaya yang hanya sempat mencuci muka dan membenahi pakaiannya pun segera naik ke pendapa.

Ki Juru Martani dan orang-orang tua di Mataram tengah mengucapkan berbagai macam pernyataan terima kasihnya. Mereka mengharap agar para pemimpin dan Senapati di Pajang membantu agar suasana tetap selalu jernih.

“Kami tidak dapat menutup mata bahwa ada usaha untuk mengeruhkan suasana. Ternyata dengan peristiwa yang dialami oleh adi Pemanahan,” berkata Ki Juru.

“Kami berduka cita karenanya,” sahut seorang senapati yang dianggap tertua, “kami berjanji akan membantu usaha Mataram yang sedang berkembang. Lebih dari itu, membersihkan Pajang dari usaha-usaha yang dapat merugikan kedua belah pihak.”

“Terima kasih. Kini Ki Gede Pemanahan tidak ada lagi. Yang ada hanyalah seorang anak muda yang masih jauh dari kemampuan yang diperlukan untuk memimpin Mataram, yang sedang berkembang. Karena itu, Raden Sutawijaya memerlukan bantuan sejauh-jauhnya.”

“Hanya orang-orang yang dengki dan iri hati sajalah yang sampai saat ini berusaha untuk menggagalkan usaha Ki Gede Pemanahan,” berkata Sorohpati, “Apalagi ketika aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri perkembangan Mataram sampai saat ini.”

“Terima kasih,” sahut Ki Juru, “kesediaan Ki Sanak sekalian membuat hati kami menjadi teguh dan tidak gentar menghadapi apapun juga.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian para pemimpin dan senapati dari Pajang itu pun minta diri kepada Ki Juru, Raden Sutawijaya dan orang-orang tua di Mataram.

Kiai Gringsing dan kawan-kawannya sengaja tidak menampakkan dirinya di antara para orang-orang tua di Mataram. Apalagi Sumangkar, yang sudah banyak dikenal oleh senapati Pajang. Ia hanya hadir sejenak ketika para senapati itu justru sudah bergerak meninggalkan halaman rumah Raden Sutawijaya.

Namun demikian, kehadiran Sumangkar di Mataram, memang menjadi bahan pembicaraan juga oleh para senapati dan pemimpin dari pajang itu.

“Ia memang sepantasnya datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ki Gede Pemanahan,” berkata salah seorang senapati di perjalanan mereka kembali ke Pajang, “Ki Gede Pemanahan-lah yang telah mengampuni kesalahannya di saat pasukan Tohpati dapat digulung oleh Untara dan Widura.”

“Jika demikian, kehadirannya tidak menjadi soal. Tetapi jika ia masih mendendam atas kekalahan Jipang dari Pajang, maka ia akan dapat menghasut Raden Sutawijaya, agar Raden Sutawijaya dapat dijadikan alat untuk melepaskan dendamnya kepada Pajang.”

“Tetapi di Mataram kini ada Ki Juru Martani. Kita tahu orang tua itu adalah orang yang sangat cerdik.”

Senapati yang mempunyai sedikit prasangka terhadap Sumangkar itu mengangguk-angguk. Memang di Mataram ada Ki Juru yang akan menjaga agar Raden Sutawijaya tidak jatuh di bawah pengaruh Sumangkar.

“Tetapi berapa lama Ki Juru berada di Mataram?” bertanya Senapati itu tiba-tiba, hampir ditujukan kepada diri sendiri.

Kawannya berbicara, yang mendengar pertanyaan itu berkata, “Sumangkar pun tidak akan lama berada di Mataram.”

Pembicaraan itu pun kemudian terhenti. Sekilas nampak di hadapan mereka debu yang menghambur tinggi.

“Kuda yang sedang berpacu,” desis salah seorang senapati.

“Ya,” sahut yang lain.

Tetapi kuda itu berpacu menjauh. Semakin lama justru menjadi semakin jauh.

“Mungkin aku terlampau berprasangka. Tetapi kenapa kuda itu berpacu menjauh? Meskipun aku tidak melihat dengan jelas, namun aku mempunyai dugaan bahwa penunggangnya adalah orang yang tidak ingin berpapasan dengan kita. Bahkan aku mempunyai dugaan tidak baik terhadap orang itu,” berkata seorang Senapati.

“Apa kira-kira yang akan dilakukan terhadap sekian banyak orang?” bertanya yang lain.

“Tentu ia tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi seakan-akan orang itu sengaja mengawasi kita. Ketika ia melihat kita, maka ia pun segera memacu kudanya.”

Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi ia berkata, “Sebaiknya kita tdak menghiraukannya lagi.”

Kawannya memandang ke arah kuda yang telah menghilang itu. Namun ia pun tidak menjawab apa-apa.

Demikianlah, iring-ringan itu berjalan terus. Semakin lama semakin jauh dari Mataram.

Sorohpati yang juga melihat orang berkuda di kejauhan itu pun menjadi berdebar-debar pula. Ia mempunyai dugaan bahwa orang itu tentu petugas yang dipasang oleh Dadap Wereng, atau justru oleh orang yang disebutnya Kakang Panji itu sendiri, untuk melihat apakah para senapati dan pemimpin Pajang yang berada di Mataram sudah kembali.

Tetapi ketika orang itu kemudian ternyata telah menghilang, maka hatinya pun menjadi tenang.

Demikianlah, maka iring-iringan itu pun kemudian berjalan dengan tanpa gangguan sesuatu apa. Apalagi gangguan-gangguan kecil di perjalanan oleh orang-orang yang sekedar berniat ingin merampok harta kekayaan. Agaknya setiap orang dengan cepat mengetahui bahwa iring-iringan itu adalah iring-iringan senapati-senapati perang dari Pajang dan adbmcadangan.wordpress.com pemimpin-pemimpin pemerintahan, apalagi dengan sekedar pengawalan. Jika ada seseorang atau sekelompok penjahat yang berani menghentikan mereka, apalagi merampok, maka orang itu tentu akan segera menjadi makanan cacing tanah.

Di sepanjang sisa perjalanan mereka kembali ke Pajang, tidak banyak lagi yang mereka percakapkan. Selain matahari merayap menjadi semakin panas, maka rasa-rasanya mereka pun menjadi semakin malas bercakap-cakap yang satu dengan yang lain.

Ternyata di sepanjang pembicaraan mereka yang kembali ke Pajang, tidak banyak di antara mereka yang tertarik kepada kehadiran Kiai Gringsing. Banyak di antara mereka yang tidak mengenalnya. Apalagi Ki Waskita dan Ki Demang Sangkal Putung. Jika satu dua orang mengenalnya sebagai orang yang pernah berjasa kepada Mataram, maka pengenalan itu pun sangat terbatas sekali.

Dan memang itulah yang diharapkan oleh Kiai Gringsing. Ia sama sekali tidak ingin menjadi perhatian, apalagi bahan pembicaraan orang-orang yang datang dari Pajang. Dan agaknya demikian pulalah sikap Ki Waskita. Mereka merasa diri mereka lebih tenang tanpa pengenalan dari orang-orang yang berkedudukan penting di Pajang itu.

Dalam pada itu, sebenarnyalah sepeninggal para senapati dan pemimpin dari Pajang, Raden Sutawijaya merasa rumahnya menjadi sangat sepi. Meskipun di rumah itu masih ada Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Waskita, Ki Demang Sangkal Putung dan kedua anak-anak muda murid Kiai Gringsing itu.

Hilangnya seorang saja dari penghuni rumah itu, serasa sebagian hidupnya telah hilang pula, karena yang seorang itu adalah ayahandanya, Ki Gede Pemanahan.

Tetapi bahwa Ki Juru Martani akan tinggal untuk sementara di Mataram, membuat hatinya agak terhibur sedikit. Ki Juru adalah saudara seperguruan dengan ayahandanya. Namun hubungannya bagaikan saudara sekandung sendiri. Tidak ada lagi masalah yang membatasi antara keduanya. Seolah-olah persoalan Ki Gede Pemanahan adalah persoalan pula bagi Ki Juru Martani, dan demikian pula sebaliknya. Kekalahan Jipang dari Pajang, sebagian juga karena pertimbangan-pertimbangan dan perhitungan-perhitungan yang diberikan oleh Ki Juru Martani itu.

Namun sudah barang tentu bahwa waktu-waktu berikutnya tidak akan dapat menahan Kiai Gringsing dan kawan- kawannya lebih lama lagi. Mereka masih dapat menahan diri barang satu dua hari di Mataram. Namun mereka pun mempunyai kepentingan mereka sendiri. Apalagi apabila mereka mengingat, bahwa perjalanan mereka adalah perjalanan yang khusus. Mereka pergi dari Sangkal Putung untuk melamar seorang gadis dari Tanah Perdikan Menoreh.

Dan perjalanan mereka agaknya telah tertunda-tunda oleh beberapa sebab. Karena itu, maka datang pula saatnya mereka harus meninggalkan Mataram. Terlebih-lebih lagi Ki Demang Sangkal Putung yang gelisah. Ia sudah terlampau lama meninggalkan kademangannya, isteri dan anak gadisnya. Perjalanan yang demikian itu belum pernah dilakukannya sebelumnya. Bahkan ia masih saja merasa ngeri mengenang apa yang terjadi di mulut padepokan Panembahan Agung.

Jika saat itu ia dan Swandaru ikut tertimbun di bawah reruntuhan kekayuan dan batu-batu padas sebesar kerbau, maka apakah yang akan terjadi dengan Sangkal Putung dan Sekar Mirah? Apalagi jika Agung Sedayu ikut serta tertimbun di bawahnya?

Ki Demang Sangkal Putung menarik nafas panjang sambil bersyukur jika ia menyadari bahwa ia masih selamat segar bugar. Demikian juga anak laki-lakinya Swandaru dan Agung Sedayu, anak muda yang mempunyai hubungan batin dengan anak gadisnya itu.

Dengan demikian, maka Ki Demang Sangkal Putung pun kemudian minta kepada Kiai Gringsing, agar mereka melanjutkan perjalanan kembali ke Sangkal Putung, karena agaknya Sutawijaya telah berhasil mengatur perasaannya.

Tetapi sebelum mereka minta diri, Mataram dikejutkan oleh kehadiran seorang senapati muda yang memacu kudanya menyusur jalan-jalan kota yang terasa sepi, diiringi oleh beberapa orang pengawal.

Para penjaga pintu gerbang seakan-akan terpesona melihat kehadirannya yang tiba-tiba dan tergesa-gesa, sehingga mereka seakan-akan tidak sempat menyapanya. Apalagi para penjaga itu pun sebagian sudah mengenal bahwa yang datang itu adalah senapati yang bertanggung jawab atas daerah Pajang di bagian Selatan.

Sebenarnyalah yang datang adalah Untara. Dengan tanpa menghiraukan orang-orang yang memandanginya dengan heran, ia langsung menuju ke pusat kota, ke rumah Raden Sutawijaya.

Kedatangan Untara benar-benar mengejutkan. Para penjaga regol di rumah Raden Sutawijaya terperanjat pula. Namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, kuda Untara dan pengawalnya telah memasuki halaman.

Raden Sutawijaya yang mendengar derap kaki kuda berpacu memasuki halaman rumahnya itu pun segera turun ke halaman. Ketika dilihatnya Untara meloncat dari punggung kudanya, ia pun terkejut pula. Sekilas telah tumbuh berbagai macam tanggapan atas kehadiran senapati muda itu. Ia tidak nampak di antara para senapati Pajang yang datang melayat saat ayahandanya meninggal. Tetapi kini Untara itu datang tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.

Sebelum Sutawijaya menyadari apa yang dihadapinya, ia bagaikan tercengkam melihat sikap Untara. Tiba-tiba saja Untara itu berlari ke arahnya dan dengan serta-merta memeluknya, seperti memeluk anak-anak.

“Raden,” suaranya bagaikan sesak, “sebenarnyalah aku tidak mengerti bahwa Ki Gede Pemanahan telah wafat. Aku tidak tahu, apakah ada kesengajaan dari para senapati dan pemimpin di Pajang untuk tidak memberitahukan hal itu kepadaku. Aku mendengar setelah terlambat. Dan mula-mula aku memang tidak mempercayainya. Aku masih harus memerintahkan seseorang untuk mengetahui kebenaran berita itu, karena saat ini kita kadang-kadang dikisruhkan dengan kabar-kabar yang tidak menentu.”

Sejenak Sutawijaya tidak dapat menyahut. Terasa jantungnya bagaikan berhenti mengalir. Semula Raden Sutawijaya, betapa kecilnya, masih dipengaruhi oleh prasangka terhadap Untara. Namun kini ia merasa, bahwa Untara mengucapkan kata-katanya dengan jujur dan setulus hatinya.

Kiai Gringsing yang kemudian juga turun ke halaman mendekatinya dan berkata, “Kau datang terlambat, Angger.”

Untara melepaskan pelukannya. Dianggukkannya kepalanya sambil berkata, “Aku tidak tahu sebelumnya, Kiai.” Apalagi ketika Untara melihat Ki Juru Martani, maka ia pun berlari mendekatinya. Sambil membungkuk dalam-dalam ia berkata, “Maafkan aku, Ki Juru Martani. Memang hampir tidak masuk akal jika aku tidak mendengar, bahwa Ki Gede Pemanahan telah wafat. Tetapi sebenarnyalah demikian. Ketika kemudian aku mendengar, aku diliputi oleh keragu-raguan. Akhirnya aku yakin setelah terlambat beberapa saat.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:38  Comments (84)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-84/trackback/

RSS feed for comments on this post.

84 KomentarTinggalkan komentar

  1. wah… kok pada ngaco sih..??
    yang benarkan udah jelas terpampang :
    Raja terakhir Majapahit = Brawidjaja PAMUNGKAS
    Nama asli Kiai Gringsing = Raden PAMUNGKAS
    nah jelaskan.?? darisana bisa diambil kesimpulan..
    walaupun tidak menutup kemungkinan yang dikatakan oleh tqmrk itu benar :Empu Windujati adalah Ki Kebo Kenanga. Berarti Empu Windujati bapaknya Karebet. Karena Kiai Gringsing cucunya Empu Windujati, berarti Kiai Gringsing keponakan Karebet.

    Regards.

    • Ngawur kau

  2. Hadiahnya udah done…lho(d).
    tengkyu Ki Gede.

  3. Jika kitab 84 ini menceritakan wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti kita menjelajahi waktu kembali ke tahun 1584 Masehi.

    Pada tahun yang sama nun jauh di sana di Belanda (yang kemudian menguasai negeri gemah ripah loh jinawi ini melalui VOC yang didirikan tahun 1602); William of Orange (William the Silent)dibunuh di rumahnya di Delft, Belanda oleh Balthasar Gérard. William ini bercita cita menyatukan Belanda dengan Spanyol dan hampir berhasil sebelum dibunuh.

  4. Cuplikan dari buku sejarah …..
    Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.

    Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

    Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.

    Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

    Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

  5. Nuwun sewu Ki Sanak Ibnu Gurslung,
    Menurut hemat saya gak mungkin Ki Kebo Kenongo, ayahnya Mas Karebet, adiknya Kebo Kanigoro, adalah Ki Windujati. Bukankah Ki Kebo Kenongo sudah wafat sewaktu Mas Karebet masih kecil. Sedangkan ki Windujati hidup hingga menjelang berakhirnya kesultanan Demak.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  6. Adimas J3b3ng
    Di kapling 83 crito sampeyan ttg pohon Cangkring dan pohon Nyamplung sangat bermanfaat, cuman klu ada mohon dng hormat disertakan foto atau gambarnya..? alangkah lengkapnya informasi itu.. Matur sembah nuwun Adimas..mugo2 Pengeran sing mbales!

    GD: Coba tengok di WISATA ADBM di bagian Miselinus. Wohe koyok duku, tapi mungkin gede2

  7. Kyai Truna,
    saya menyangka Empu Windujati sama dengan Pangeran Buntara. Meski muridnya sebenarnya tiga (di NSSI), tapi Umbaran menyeleweng dan akhirnya terbunuh sama dua murid yang lain, Radite dan Anggara.

    Cuma memang di NSSI tidak pernah disebut-sebut adanya adik P. Buntara, yang jadi guru Kiai Gringsing. Juga R. Pamungkas yang jadi cucu Empu Windujati. Akan tetapi, karena Kebo Kanigara juga menjadi putut di Tumaritis, maka guru Kiai Gringsing –entah siapa namanya– tidak mustahil bersahabat dengannya. Yang juga tidak pernah disebut di NSSI adalah adanya lambang cambuk dan cakra gerigi sepuluh, sebagai ciri Perguruan Windujati (=Karang Tumaritis).

    Begitu tebakan saya. Eee, ‘kali aja bener…

  8. Mohon maaf jika mengurangi indahnya roman ADBM besutan Ki SHM.

    Jika merunut sejarah, sepertinya ada hal yang mungkin terlewat oleh Ki SHM. Namun hal itu dapat dimaklumi karena pada jaman Ki SHM menuliskan kisah ini belum ada internet, apalagi wikipedia. Beliau kabarnya melakukan riset baik dalam membaca babad tanah Jawi, serta kitab kitab kuno sampai riset ke lapangan untuk menuliskan wilayah wilayah yang disebutkan dalam ADBM.

    Jika Ki SHM menceriterakan kisah menjelang wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti setting berada pada tahun 1584, sehingga alas mentaok telah dibuka selama 28 tahun, dari sejak diserahkan tahun 1556.

    Sementara sebelum tahun 1584 terdapat kejadian penting bagi Sutawijaya yaitu 1582, di mana dia memerangi Sultan Hadiwijaya. Namun seolah olah dalam ADBM tidak ada ceritera ini.

    Sultan HAdiwijaya menurut tulisan Kakang Panji wafat tahun 1582 (meninggal karena sakit setelah pulang perang).

    Namun di ADBM, Sultan Hadiwijaya dikabarkan masih sehat dalam menerima kedatangan Ki Gede Pemanahan.

    Terlepas dari itu semua, ADBM tetap kisah yang memukau….

    Suntingan dari Wikipedia:
    Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

    Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang.

    Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar.

    Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

    Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

    Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

    Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

    Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.

    Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang

  9. Agung Sedayu masih sibuk bolak-balik donlot file-file .ppt yang sudah disediakan oleh Ki GeDe, tetapi sampai sekarang masih bingung karena file tersebut juga tidak dapat dibaca dengan pusaka yang dia punya. Mohon petunjuk dari Ki GeDe atau cantrik-cantrik yang lain sekiranya dapat memberikan informasi bagaimana file-file tersebut dapat dibaca dengan baik.

  10. @J3b3ng
    Yeah…menurut Wikipedia memang demikian.
    Sedangkan menurut Ki SHM, Ki Gede Pemanahan meninggal terlebih dahulu di banding Sultan Hadiwijaya.
    Faktor yang cukup penting adalah berdasarkan urutan tahun di Wikipedia, Ki Gede Pemanahan meninggal SETELAH terjadinya peperangan antara Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya dengan Pajang yang dipimpin langsung oleh Sultan Hadiwijaya, sedangkan seperti kita baca di buku ke 81-84 ini, Ki Gede Pemanahan telah meninggal sementara perang Mataram – Pajang belum lagi terjadi.
    Tahun-tahun krusial Menurut Wikipedia adalah :

    1556 Ki Gede Pemanahan pindah ke Mataram
    1582 Meletus Perang Mataram – Pajang (Pajang kalah)
    1582 Sultan Hadiwijaya Mangkat (Meninggal Dunia)
    1584 Ki Gede Pemanahan Meninggal dunia

    Namun ada yang tidak konsisten dari tulisan di Wikipedia yaitu dalam entry berjudul KESULTANAN PAJANG – http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang,
    Dituliskan bahwa Mataram semakin maju setelah Ki Gede Pemanahan digantikan oleh Puteranya yaitu Sutawijaya mulai tahun 1575.

    Sedangkan pada entry berjudul Ki Gede Pemanahan http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Gede_Pemanahan, disebutkan bahwa Sutawijaya menggantikan Ki Gede Pemanahan setelah ayahandanya tersebut meninggal dunia pada tahun 1584.

    Saya berpendapat bahwa sebagai orang yang menguasai sejarah Jawa dengan baik (seperti terlihat di tulisan tulisan beliau : NSSI, ADBM, Pelangi di Langit Singosari, Tanah Warisan dll), kecil kemungkinan bagi Ki SHM kecil untuk melakukan kesalahan yang menurut saya cukup fatal seperti urutan peristiwa meninggalnya Ki Gede Pemanahan dan Sultan Hadiwijaya seperti yang telah diuraikan oleh rekan j3b3ng.
    Saya berpendapat, Ki SHM memiliki catatan bahwa barangkali yang benar adalah Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575 dan kemudian Raden Sutawijaya tampil menggantikan kedudukan beliau. Nah, kalau memang demikian (Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575), maka urutan peristiwa seperti yang tertulis di ADBM ini tidak ada yang salah.
    Nah…., saya mengajak Ki Sanak semua untuk besama-sama mencari data yang lebih akurat, sumonggo…..

  11. Pangeran Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh) punya 2 orang anak: Kebo Kanigoro (ayahnya Endang Widuri) dan Kebo kenanga/Ki Ageng Pengging (ayahnya Karebet/Joko Tingkir/Putut Karang Tunggal). Keduanya jadi Muridnya, ada satu murid lagi yaitu Mahesa Jenar atau Rangga TohJaya, jadi total muridnya ada 3: Kanigoro, Kenanga, Mahesa Jenar.

    Pangeran Wirawardana/Empu Windujati punya 2 murid dan satu orang cucu (Kyai Gringsing/Pamungkas).

    Pangeran Buntara (Pasingsingan sepuh atau Panembahan Ismaya) punya 3 orang murid: Radite, Anggara, dan Umbaran. Beliau punya Padepokan Karang Tumaritis, beberapa orang yang pernah nyantrik di sana: Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Karebet (Jaka Tingkir), Arya Salaka (murid Mahesa Jenar), Endang Widuri(anak Kebo Kanigoro).

    Sultan Hadiwijaya/Karebet/Jaka Tingkir/Putut Karang Tunggal seperguruan dengan Ki gede Pemanahan (anak Ki Ageng Sela ?) dan Ki Penjawi (Mantan Pengawal Perdikan Banyubiru ?). Siapa guru mereka bertiga ?..nggak jelas…
    Tapi yang jelas gurunya Karebet konon ribuan orang…

    Murid Mahesa Jenar adalah Arya Salaka (Ki Ageng Banyubiru)…Arya Salaka adalah gurunya Ki waskita ?….

    Jadi Siapakah guru Kiai Gringsing alias Pamungkas ?… Guru tidak langsung yang pasti kakeknya: Empu Windujati atau Pangeran Wirawardana…tapi gurunya langsung adalah Sahabat sekaligus saudara seperguruan Kebo Kanigoro, siapakah dia ?…Kelihatannya memang Mahesa Jenar….apalagi di ADBM disebutkan bahwa jurus2 Gringsing & Ki Waskita memiliki jalur yang sama dengan perguruan Pengging… Tapi di NSSI sama sekali tidak disebutkan Murid Mahesa jenar selain Arya Salaka…Jadi kemungkinan Kiai Gringsing adalah saudara seperguruan Arya Salaka (Ki Ageng banyubiru anak Ki Ageng Gajah Sora)….mbuhlah…gak jelas…

  12. Saya sih setuju dengan mbah_man kalo ini cara mencocok-cocokan gaya SHM antara ADBM dan NSSI… Jadi ga usah dicari hubungannya terlalu dalam. Cuma kalo dilihat rasio “kebetulan”nya, Lebih tinggi NSSI dibanding ADBM.. coba perhatikan, kemunculan-kemunculan Tokoh tua NSSI, pasti tiba-tiba disaat Mahesa jenar sudah terdesak (masalah dulu baru tokoh muncul).. bandingkan dengan kemunculan sumangkar di alas mentaok maupun peranan ki waskita di pedepokan panembahan agung misalnya, disainnya sudah lebih jelas, ada tokoh baru masalah..

    peace man..

  13. dos pundi niki maos kitapipun 83 n 84? sampun angsal warisan tapi boten saged maos

  14. Saya sependapat dengan kesimpulan Anakmas Sutajia Said, sebagian besar emang benar, tapi mengenai Mahesa Jenar sebage guru Kiai Gringsing adalah kurang tepat karena seperti telah di sebutkan bahwa guru Kiai Gringsing adalah adik seperguruan Empu Windujati, sedangkan di NSSI disebutkan bahwa Ki Ageng Pengging Sepuh hanya memiliki tiga murid yaitu: Ki Kebo Kanigara, Ki Kebo Kenanga dan Majesa Jenar. Jadi kesimpulan nya bahwa guru Kiai Gringsing adalah masih merupakan teka-teki.

  15. Kelihatannya Guru Kyai Grinsing bukan Mahesa Jenar….tapi justru Panembahan Ismaya….(dalam hal ini setuju dengan komentar Pradabaru di 82)…

    Tambahan lagi bahwa Setting cerita saat pengepungan Sultan Trenggana berburu di Prawata oleh Pasukan Banyubiru, saat itu memang murid Panembahan Ismaya baru 3 (2 murid yang baek, 1 murid durhaka=Umbaran)..jadi sangat mungkin kalau setelah peristiwa itu Panembahan Ismaya mendapat murid lagi yaitu Kyai Gringsing…tapi kejadiannya setelah Mas Karebet ditarik untuk mengabdi lagi kepada Sultan Trenggana…

  16. joko tingkir dlm NS&SI sak pantaran sama arya salaka muride maheso jenar, sedangkan ki waskita saat ini kalo menilik sudah punya anak sepantaran agung sedayu berarti umurnya gak jauh dari jaka tingkir(hadiwijoyo)
    padahal kiwaskita mestine juga sak pantaran sama arya salaka , apa ya tumon murid’e sakpantaran ambek gurune , lha bingung lagi to? hehehehehe puniko namung cerita fiksi kok mbah, dados nggih sampun dipun damel waton hehehehehe monggo sami disimak kemawon

  17. kan udah dibilangin bukan muridnya Arya Salaka, tapi muridnya GajahSora (Ki Ageng Banyubiru sepuh)…

  18. meskipun sudah dibantai sidanti di padepokan tambak wedi, tetapi saya masih mengharapkan sekar mirah. saya ingin tahu bagaimana nasibnya. bisa memberi clue ki gede

  19. nuwun sewu, saya mau nanya bagaimana caranya ngedownload buku ADBM

    suwun

  20. Guru kiai Gringsing adalah Panembahan Ismaya, karena Kiai Gringsing sendiri bilang gurunya adalah adik dari kakeknya (empu Windujati a.k.a Pangeran Wirawardana) jadi otomatis gurunya juga seorang pangeran (R. Buntara a.k.a P. Ismaya), hal ini secara implisit juga diberikan oleh K Gringsing yg hanya tersenyum ketika ditanya siapakah P Ismaya tsb. Dan lagi diceritakan bahwa Kebo Kanigoro pernah menjadi Putut di padepokan P. Ismaya.

    Sementara sepenangkapan saya, Kebo Kanigoro bukan lah murid ki Ageng Pengging Sepuh, tapi justru saudara seperguruannya. Jadi meskipun Kebo Kanigoro merupakan anak dari Ki Ageng Pengging Sepuh, tapi dalam perguruan mereka adalah saudara seperguruan. Sehingga Kebo Kanigoro adalah paman guru dari Mahesa Jenar.

    salam.

  21. >>”Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Demikian pula Kebo Kanigara sebagai seorang bangsawan cucu dari salah seorang yang pernah merajai Majapahit, hatinya tersentuh pula. ”
    >>”Empu Windujati punya 2 orang murid dan 1 cucu (Pamungkas)”
    >>”Tidak saja murid,” sahut orang berjubah abu-abu itu, ”Tetapi ia adalah anak Pangeran Handayaningrat itu, dan bahkan adik seperguruannya.” (Kebo Kanigara)
    >>”KANIGARA kembali menarik alisnya. Ketika kemudian ia teringat sesuatu, hampir berteriak ia berkata, ”Raden Buntara, bukankah Raden Buntara itu adik Sultan Brawijaya Pamungkas dari seorang garwa ampeyan…?”
    >>”Tentu,” sahut orang tua itu. ”Ayahmu pasti pernah menyebut-nyebut namaku. Aku adalah pamannya yang paling dekat dengan ayahmu itu.”
    >>”Kalau demikian Tuan lah Eyang Buntara yang pernah aku dengar namanya,” kata Kanigara sambil membungkuk hormat. Hormat sekali. ”
    >>”Tetapi apa yang terjadi kali ini tak dapat aku (P.Ismaya) pikul lebih jauh lagi. Ketika aku menghadap Baginda Sultan Demak (Raden Patah), beliau berkata, juga dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Paman, aku sudah mendapat laporan lengkap tentang Paman. Ayahanda Prabu telah mengirim utusan kemari sebelum paman datang. Beliau merasa menyesal bahwa segala sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi. Apalagi persoalan itu bersumber pada persoalan seorang istri, yang karena keadaan menjadi sedemikian buruknya. Paman tidak saja membunuh suaminya, tetapi karena Paman, maka terjadilah bentrokan antara sahabat-sahabat laki-laki itu dengan beberapa orang prajurit yang memihak kepada Paman. Karena itu Paman bukanlah seorang utusan seperti yang aku harapkan. Bahkan sebaliknya, Paman telah menjadikan Ayahanda Prabu semakin jauh daripadaku.”

    JAdi>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

    1. Prabu Brawijaya punya anak namanya Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat & Raden Patah.

    2. P.Ismaya / Buntara adalah adik Prabu Brawijaya dan Paman ayahnya Kebo kanigara (Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat) sekaligus paman raden patah.

    3. Ilmu Pengging adalah Ilmu Bangsawan Majapahit.

    4. Ki Ageng Pengging Sepuh adalah saudara/sepupu dari Raden Patah – Sultan Demak Pertama.

    5. Mas Karebet = Anak Ki Kenongo / cicit Prabu Brawijaya.

    6. Kiai Grinsing / Pamungkas = Cucu langsung Empu Windujati – Pangeran Majapahit dan murid sahabat kebo kanigoro.

    Kesimpulannya:

    1. Kiai Grinsing = Sepupu Karebet (sama2 keturunan majapahit)
    2. Empu Windujati = P. Ismaya
    3. Sahabat Kebo Kanigoro = ???EmJee??
    4. Ki Waskita adalah anak Arya Salaka yg berbeda paham dengan ayahnya dan melarikan diri dari banyubiru.

    >>>>JAdi Guru Kiai Grinsing adalah ???<<<<<<<

    Jawabnya – SH MIntardja….

  22. Songsong Kanjeng Ki Menggung,
    eh kleru,….. Kiai Mendung.

    • jan ki Gembleh keBANGETan tenan…..teGA nian menDHISIKi
      cantrik,

      Lha sudah TAU kalo cantrik baru nyampe gandOK-71 kok ya
      malah mblayu ngeBUT ning gandok-84….. 🙂 🙂

      • walah ki ndul ternyata yo melu kebut-kebut kwkwkwkkkk

        • ..sehingga terpaksa Ki addus ikutan ngebut-i…..lamuk ! 😀

          • yahmene nang nggembong wayae kebut-kebut doro ki kartu

            • ..dara….manis ? 😀

              • dara tista kwkwkkk

                • doro muluk ??????????

                  • d
                    o
                    r
                    o

                    n
                    g
                    .
                    .
                    .
                    .

                    • j
                      a
                      g
                      u
                      n
                      g

                      b
                      e
                      r
                      o
                      n
                      d
                      o
                      n
                      g

  23. kiai gringsing adalah murid dari mahesa jenar, jadi paling tidak dia kenal dengan sultan hadiwijaya

  24. Guruku adalah sahabat yang dekat dengan seorang yang menyebut dirinya Kebo Kanigara, putera dan sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh, kakak dari Ki Ageng Pengging yang juga bernama Kebo Kenanga. Yang menyingkir pula dari lingkungannya dengan alasan yang berbeda.”

    Tetapi di dalam ilmu kanuragan, keduanya bersumber pada guru yang sama. Ayah mereka sendiri, Kiai Ageng Pengging Sepuh.”

    Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Memang mungkin sekali. Guruku memang sahabat Ki Kebo Kanigara. Meskipun umurnya terpaut sedikit. Dengan demikian, maka tidak mustahil jika ilmu keduanya saling mempengaruhi.”

    Dari kutipan diatas sebenernya sudah sangat jelas bahwa guru kiai gringsing adalah Mahesa Jenar, dan sepertinya mahesa jenar juga sempat kembali mengembara dan membawa kiai gringsing untuk turut serta

    “Aku berkesempatan mengikutinya meskipun tidak seluruh perjalanannya.”

    Dan Ki gede banyubiru adalah arya salaka jika mengacu pada kutipan berikut :

    “Ki Gede Banyubiru yang sekarang mempunyai ikatan yang rapat dengan Sultan di Pajang. Mereka pernah berada di satu padepokan. Pernah hidup dalam satu lingkungan. Dan ilmu mereka pun tidak terlampau jauh pula, meskipun Sultan Pajang memiliki seribu macam ilmu dari seribu macam perguruan.”

    ========

    memang mantab jalan ceritanya, seperti sebuah sejarah tapi abu2, tokoh2nya pun seperti nyata, karena memiliki keterkaitan dan masuk dalam alur cerita yang nyata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: