Buku 84

BERIKUT ADALAH VERSI YANG SUDAH DIKOREKSI

“GILA!” Sorohpati menggeram. Kemudian katanya di dalam hati, “Sesudah Kangjeng Kiai Pleret, kini Kangjeng Kiai Mendung. Apakah artinya ini semua? Apakah sebenarnya Kangjeng Sultan di Pajang sudah mengetahui bahwa kekuasaan Pajang akan berpindah ke Mataram?”

Sejenak Sorohpati berdiam diri. Kemudian seperti orang terbangun dari mimpinya, ia melihat dua orang lewat beberapa langkah di hadapannya.

“Pergilah!” tiba-tiba Sorohpati menggeram. “Sebentar lagi fajar akan menyingsing. Kau harus segera bersiap meninggalkan Mataram. Katakan kepada Ki Rambatan, bahwa pesannya sudah sampai padaku.”

“Baiklah, Ki Sorohpati.”

“Ingat, jangan membunuh diri dengan kebodohan dan kesalahan yang tidak perlu.”

Orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian sadar, bahwa ia sudah berada di dalam lingkungan yang kelam.

Semisal orang yang menyeberangi sungai, ia sudah terlanjur basah. Karena itu, ia tidak akan dapat ingkar lagi.

Prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba ia berkata kepada diri sendiri, “Aku adalah seorang prajurit. Sejak aku memasuki lingkungan ini, aku sudah mengerti, bahwa aku akan bermain-main dengan nyawaku. Jika permainanku kali ini dapat mendatangkan kesenangan, kenapa aku harus menepi dan bahkan lari ?”

Dengan demikian, prajurit itu tidak lagi menjadi gelisah. Ia sudah berdiri ditempatnya dengan tenang, bahkan kemudian dengan sepenuh hati.

Sejenak kemudian ia sudah meninggalkan Ki Sorohpati. Ia tidak menampakkan dirinya di daerah persinggahan prajurit-prajurit Pajang yang mengawal beberapa orang pemimpin, dan Senapati yang sedang melayat. Karena itu, ia dengan diam-diam berhasil meninggalkan halaman rumah Ki Gede Pemanahan dan berhasil meninggalkan Mataram apabila matahari telah naik.

Sementara itu, di halaman rumah Ki Gede Pemanahan nampak kesibukan mulai meningkat. Hari itu juga, jenazah Ki Gede akan dikebumikan dengar upacara, karena sebenarnyalah bahwa Ki Gede adalah orang yang cikal bakal tanah Mataram yang dibuka dengan menetas hutan yang lebat dan berbahaya, Alas Mentaok.

Karena itulah, maka seluruh tanah Mataram yang sedang dibuka itu pun diliputi perasaan duka cita. Mereka tidak menyangka, bahwa secepat itu Ki Gede Pemanahan harus meninggalkan mereka. Meninggalkan Alas Mentaok yang sudah mulai terbuka dan dikenal oleh Pajang dan daerah yang tersebar dari ujung Barat sampai ke ujung Timur.

Bukan saja dari Mataram dan Pajang. Tetapi ternyata berita meninggalnya Ki Gede pemanahan cepat tersebar. Sahabatnya dari padukuhan-padukuhan terpencil pun memerlukan datang menghormat jenazahnya.

Ketika matahari mulai merambat naik di atas cakrawala, maka Mataram benar-benar menjadi sibuk. Hampir setiap orang telah keluar dari rumahnya memenuhi jalan-jalan. Sebagian dari mereka berduyun-duyun mendekati rumah Ki Gede Pemanahan, yang lain menunggu di jalan-jalan yang akan dilalui oleh jenazah pemimpin Tanah Mataram itu.

Para pedagang dan perantau yang kebetulan berada di Mataram pun telah terhenti untuk ikut memberikan penghormatan terakhir. Mereka menunda perjalanan mereka barang setengah hari sambil menunggu jenazah diberangkatkan ke makam. Dan mereka lah yang kemudian telah menyebarkan berita tentang kematian Ki Gede Pemanahan ke segala penjuru.

Ketika saatnya telah tiba, maka jenazah pun telah disiapkan dalam keranda di pendapa. Para senapati dan pemimpin dari Pajang serta para keluarganya duduk melingkari keranda itu, sementara semua persiapan diselenggarakan.

Sejenak kemudian, maka para senapati dan pemimpin pemerintahan dari Pajang, para pemimpin di Mataram dan keluarga Ki Gede yang ada di Mataram dan yang datang dari Sela pun turun ke halaman. Para pengawal Tanah Mataram segera mengangkat keranda itu dan membawanya ke halaman pula.

Orang-orang yang ada di halaman itu pun menundukkan kepala, ketika mereka mendengar doa mengumandang di sela-sela isak tangis keluarga Ki Gede. Bau yang harum mengambar menusuk setiap hidung yang sedang menunduk. Namun bau yang harum itu telah menambah hati menjadi semakin sendu.

Dalam pada itu, seorang pengawal berdiri dengan kepala tunduk. Tanpa disadarinya, terasa titik air yang menghangat di pipinya.

Dengan lengan bajunya, pengawal itu mengusap matanya. Sementara itu, tangannya yang lain dengan gemetar menggenggam sebuah songsong berwarna kuning bergaris hijau.

Orang itu adalah Ki Lurah Branjangan. Ia merasa seperti kehilangan saudara tua sendiri. Bahkan Ki Gede Pemanahan bukan saja seperti kakak kandungnya, tetapi sekaligus gurunya. Meninggalnya Ki Gede telah benar-benar menggetarkan jantung Ki Lurah Branjangan, yang mulai melihat Mataram menjadi berkembang.

Di belakangnya, seorang anak muda berdiri tegak seperti patung. Dengan wajah yang beku ia memandang orang-orang yang sibuk mengatur persiapan keberangkatan jenazah itu. Tetapi rasa-rasanya anak muda, yang tidak lain adalah Sutawijaya itu, tidak dapat lagi menahan gejolak perasaannya. Ada semacam perasaan bersalah bergejolak di dadanya. Ia pada saat terakhir tetap tidak mau menurut perintah ayahandanya, sampai ayahandanya menghadap kembali kepada Tuhannya. Ia tetap tidak mau pergi ke Pajang menghadap Kangjeng Sultan Hadiwijaya.

Sutawijaya menggigit bibirnya ketika terasa matanya menjadi panas. Tetapi rasa-rasanya air matanya tidak dapat terbendung lagi.

Namun Sutawijaya tidak mau menunjukkan kelemahan hatinya. Karena itu, mumpung masih ada kesempatan, ia pun segera berlari masuk ke dalam untuk menghapus air mata, yang sudah mulai mengembun di matanya.

Tetapi ketika ia akan kembali ke halaman depan, ia tertegun. Lamat-lamat ia masih mendengar doa yang menggema di halaman, serasa menyusup sampai ke tulang. Namun ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba saja ia ingin masuk ke sentong tengah yang ditutup dengan sebuah tirai yang menggantung rapat.

Ia adalah penghuni rumah itu. Bahkan ia adalah pewaris rumah itu. Bukan saja rumah itu, tetapi Mataram dengan isinya. Namun rasa-rasanya saat itu bulunya meremang, ketika tangannya meraba tirai yang tergantung di muka pintu.

Perlahan-lahan ia membuka tirai itu. Dan dadanya pun bergejolak ketika terlihat olehnya, sebuah payung yang ditutup dengan selongsong putih,

“Payung inilah yang kemarin dibawa oleh Ki Juru Martani,” berkata Sutawijaya kepada diri sendiri.

Tiba-tiba saja Sutawijaya tidak dapat menahan nafasnya. Perlahan-lahan ia mendekati payung itu dengan dada yang berdebar-debar. Namun, ketika ia meraba selongsong payung itu, rasa-rasanya darahnya berhenti mengalir dan nafasnya menjadi sesak. Tangannya terasa gemetar dan menjadi lemah.

Perlahan-lahan Sutawijaya melangkah surut. Sesuatu terasa telah mengusik hati. Tetapi ia berkata di dalam hatinya, “Tentu tidak apa-apa. Keragu-raguan dan kecemasanku sendirilah yang telah menghentikan jantungku berdetak, sehingga rasa-rasanya aku kehilangan segenap kekuatan.”

Meskipun demikian, Sutawijaya ingin mempengaruhi perasaan sendiri agar kegelisahan dan debar dadanya tidak berulang. Perlahan-lahan ia maju lagi dan mengangkat tangannya, menyembah songsong yang masih tertutup itu.

Baru kemudian ia mendekat lagi. Kali ini ia berhasil menyentuh, bahkan menarik selongsong payung itu. Payung yang berwarna kuning seutuhnya.

“Kuning emas,” desisnya, “tentu songsong ini lebih bagus dari songsong yang dipakai untuk mengiringi jenazah ayahanda itu.”

Sejenak, Sutawijaya berdiri mematung. Tiba-tiba saja tumbuh keinginannya untuk mempergunakan payung itu. Payung yang menurut pendapatnya lebih bagus dari payung yang dipergunakan untuk memayungi jenazah ayahandanya.

Karena itu, Sutawjaya pun kemudian tidak berpikir panjang. Diambilnya payung itu dan dibawanya berlari keluar.

Pada saat itu, upacara pemberangkatan jenazah sudah selesai. Ki Juru Martani yang memimpin upacara itu pun kemudian mempersilahkan keluarga Ki Gede untuk melakukan upacara sumurup. Putera dan seluruh keluarganya berturut-turut menyusup di bawah jenazah, sebelum jenazah itu berangkat ke makam.

“Dimana Angger Sutawijaya?” bertanya KI Juru.

“Ya, dimana?”

Ki Lurah Branjangan berpaling. Raden Sutawijaya semula berdiri di belakangnya. Tetapi anak muda, itu sudah tidak ada.

“Panggil jebeng Sutawijaya,” berkata Ki Juru, “ia pun harus ikut dalam upacara sumurup ini.”

Tetapi sebelum orang yang disuruhnya mencari beranjak dari tempatnya, semua orang yang ada di halaman itu pun terkejut ketika mereka melihat Sutawijaya berlari-lari sambil membawa sebuah payung bertangkai panjang. Payung yang berwarna kuning emas seluruhnya.

Yang paling terkejut di antara mereka adalah Ki Juru Martani. Payung itu adalah payung yang dibawanya dari Pajang, yang diletakkannya di sentong tengah. Payung itu masih belum diserahkannya dengan resmi kepada Sutawijaya, dan ia pun masih belum mengatakan pesan dan perintah yang dikatakan oleh Kangjeng Sultan Pajang bagi anak muda itu.

Tetapi kini Sutawijaya membawa payung itu berlari-lari ke halaman. Payung yang mempunyai arti tersendiri, bukan sekedar payung yang mempunyai warna yang menarik.

“Angger Sutawijaya,” Ki Juru Martani menghentikannya.

Tetapi Sutawijaya seolah-olah tidak mendengarnya. Dengan serta merta payung berwarna kuning emas dan bertangkai panjang itu pun dibukanya.

Demikian payung itu terbuka, maka setiap Senapati dan prajurit serta para pemimpin Pajang, terkejut bukan buatan. Bahkan Ki Juru Martani pun rasa-rasanya membeku di tempatnya. Ternyata yang ada di tangan Raden Sutawijaya itu adalah benar-benar songsong kebesaran Demak, yang telah di bawa ke Pajang, Kiai Mendung.

Ki Juru Martani menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Payung itu telah terbuka.

Ketika ia membawa payung itu dari Pajang, ia sama sekali tidak mengerti, bahwa payung itu adalah Kiai Mendung. Baru kini setelah payung itu terbuka, dan nampak pada jari-jarinya gemerlapnya permata, yang didapatkannya dari pecahan batu yang jatuh dari langit yang terselut emas, serta rumbai-rumbai yang justru berwarna hitam, tidak pada tepi payung tetapi pada pangkal jari-jarinya.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing yang melihat pula payung itu pun menjadi berdebar-debar. Hampir di luar sadarnya ia menekan dadanya. Payung itu adalah payung kebesaran. Bagi Kiai Gringsing payung itu sudah dikenalnya sejak lama, seperti juga para pemimpin Pajang yang lain. Juga Ki Sumangkar sudah mengenal payung itu. Bahkan Ki Waskita yang belum pernah melihat Kiai Mendung seutuhnya, langsung dapat menyebut, bahwa payung itu adalah Kai Mendung.

Suasana di halaman rumah Ki Gede Pemanahan itu menjadi tegang. Setiap mata memandang payung yang telah terbuka itu, dan yang dengan langkah yang pasti dibawa oleh Sutawijaya mendekati jenazah ayahandanya.

“Guru,” bisik Agung Sedayu yang berdiri di samping Kiai Gringsing, “payung apakah itu?”

“Itu adalah songsong yang bernama, Kangjeng Kiai Mendung,” desis Kiai Gringsing.

Agung Sedayu tidak bertanya lebih lanjut. Ia mengerti bahwa payung itu tentu mempunyai arti tersendiri, sehingga setiap orang bagaikan mematung memperhatikannya.

Ki Juru Martani pun kemudian perlahan-lahan mendekati Sutawijaya yang berdiri termangu-mangu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Ki Juru menepuk bahu Raden Sutawijaya. Rasa-rasanya mulutnya terlampau sulit untuk mengatakan sesuatu.

Sutawijaya pun termangu-mangu sejenak. Ia tidak mengerti apakah sebenarnya yang telah terjadi. Sebagai seorang anak yang masih sangat muda, ia kurang mengerti arti dari payung yang berwarna kuning emas dan bernama Kangjeng Kiai Mendung itu. Ia memang pernah melihat songsong itu dimandikan pada bulan pertama disetiap tahun. Tetapi ia tidak terlampau banyak mengerti makna dari payung itu. Ayahandanya pun belum pernah menceriterakan serba sedikit tentang payung itu kepadanya.

“Pamanda Ki Juru Martani,” berkata Raden Sutawijaya, “bukankah songsong yang pamanda bawa dari Pajang ini jauh lebih baik dari songsong yang dipergunakan untuk memayungi jenazah ayahanda itu? Dan bukankah Jenazah ayahanda pantas mendapat penghormatan yang tertinggi pada hari ini? Jika Pamanda membawa songsong yang apabila tidak salah bernama Kangjeng Kiai Mendung ini dari Pajang, tentu Kangjeng Sultan sudah mengijinkannya apabila payung ini dipergunakan di Mataram.”

Perlahan-lahan Ki Juru Martani mengangguk. Baru setelah ia berusaha mengatur nafasnya, ia dapat menjawab, “Ya, ya, Sutawijaya. Ayahandamu memang berhak mempergunakan payung itu.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat membaca, gejolak hati Ki Juru yang berkata kepada dirinya sendiri, “Agaknya memang sudah pasti, bahwa Ki Gede Pemanahan akan menurunkan seorang yang akan menjadi seorang raja yang besar di tanah ini.”

Dengan demikian, maka Ki Lurah Branjangan pun kemudian menguncupkan songsong yang dibawanya. Kemudian menerima songsong yang dibawa oleh Sutawijaya setelah ia menyembahnya.

“Hati-hati, Ki Lurah,” berkata Ki Juru Martani, “kau pernah menjadi seorang prajurit di Pajang. Prajurit-prajurit sebayamu tentu lebih banyak mengetahui tentang Kangjeng Kiai Mendung daripada anak-anak muda.”

“Ya, Ki Juru,” berkata Lurah Branjangan.

“Kangjeng Kiai Mendung mempunyai arti tersendiri di dalam perkembangan kerajaan Pajang, sejak dipindahkannya pusat pemerintahan dari Demak.”

“Ya, Ki Juru.”

“Nah, hormatilah songsong itu. Dan lebih daripada itu, jagalah baik-baik. Kau dapat memerintahkan sejumlah pengawal untuk mengawal songsong itu.”

Demikianlah, maka empat orang pengawal terpilih telah berada di belakang Ki Lurah Branjangan, dengan senjata di lambung, untuk mengawal songsong Kangjeng Kiai Mendung yang pada saat pemakaman Ki Gede Pemanahan itu dipergunakan.

Adalah di luar kemampuan nalar untuk memperhitungkannya, bahwa tiba-tiba langit menjadi buram. Selapis awan telah menebar di langit, sehingga sengatan terik matahari tidak terasa lagi menggigit kulit.

Setiap orang yang ada di halaman itu mencoba menghubungkan awan yang menebar di langit itu dengan songsong Ki Gede Pemanahan. Songsong Kangjeng Kiai Mendung adalah sebuah payung yang mempunyai kekuatan yang ajaib, sehingga awan pun terpengaruh olehnya apabila songsong itu dibuka. Betapa cerahnya langit, dan betapa panasnya cahaya matahari, maka apabila payung yang berwarna kuning emas dengan batu permata yang jatuh dari langit di jari-jarinya dan rumbai-rumbai hitam di pangkal jari-jari dibuka, maka awan pun akan segera menebar. Seolah-olah begitu saja tumbuh di udara.

Di antara mereka yang menyaksikan payung yang berwarna kuning emas itu adalah Sorohpati. Dengan dada yang berdebar-debar, ia berkata kepada diri sendiri, “Sebenarnyalah payung itu adalah Kangjeng Kiai Mendung.”

Sorohpati menarik nafas dalam-dalam. Kecemasan yang sangat telah merayap di hatinya, seolah-olah ia dihadapkan pada suatu kepastian, bahwa pimpinan pemerintahan akan berpindah dari Pajang ke Mataram.

“Apakah Kakang Panji tidak akan berhasil?” Ia bertanya kepada diri sendiri. “Guru Kakang Panji adalah keturunan langsung dari Prabu Brawijaya di Majapahit. Ia berhak memiliki tahta kerajaan yang temurun dari Majapahit ke Demak, kemudian ke Pajang itu daripada Sutawijaya, anak Ki Gede Pemanahan itu.”

Tetapi kemudian katanya, “Mula-mula Kanjeng Kiai Pleret, kemudian Kangjeng Kiai Mendung. Apakah kemudian Kangjeng Kiai Crubuk juga akan diberikan kepada Raden Sutawijaya, bahkan Kangjeng Kiai Sangkelat dan Kangjeng Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten? Jika demikian, maka kekuasaan Pajang akan benar-benar kering dari kekuatan genggaman wahyu, sehingga kekuasaan itu benar-benar akan bergeser ke Mataram.”

Namun Sorohpati pun kemudian menggeram sambil bergumam di dalam hati, “Tetapi jika benar-benar demikian, maka harus ada sarana yang dilakukan sehingga wahyu itu jengkar dari Mataram. Benda-benda yang keramat itu merupakan tempat hinggapnya wahyu, seperti sarang bagi seekor burung yang terbang di langit. Jika benda-benda itu dapat di kuasai oleh Kakang Panji, maka ia tentu akan menjadi sarang bagi wahyu kerajaan, apalagi gurunya adalah memang berdarah Majapahit. Darah Maharaja yang pernah menguasai seluruh kepulauan di sekitar pulau Jawa.”

Selain angan-sangan yang membubung, Sorohpati pun mencoba untuk menilai kekuatan yang ada di Mataram. Menjelang jenazah Ki Gede Pemanahan diberangkatkan, maka Sorohpati dapat melihat, pimpinan pengawal dan pimpinan pemerintahan di Mataram. Ia melihat senapati-senapati yang masih muda dengan wajah yang tegang dan keras. Wajah yang dibentuk di dalam kerasnya perjuangan melawan kelebatan Alas Mentaok, binatang buas dan orang-orang yang menentang dengan kekerasan usaha membuka hutan yang lebat dan buas itu.

“Mereka tentu anak-anak muda yang berhati dan bertubuh sekeras baja,” berkata Sorohpati kepada diri sendiri, “tetapi mereka tentu anak-anak muda yang bodoh dan dungu. Yang mereka kenal tidak lebih dari alat-alat untuk menebang hutan. Barangkali mereka berlatih mempergunakan pedang. Tetapi mereka akan mempergunakan pedang seperti mereka menebas batang-batang raksasa di Alas Mentaok. Mereka tidak akan dapat memperhitungkan, bahwa dalam olah kanuragan mereka akan bertemu dengan batang-batang yang dapat bergerak dan melawan, bukan batang-batang mati seperti pohon tal yang tegak tinggi tetapi mati.”

Dengan cermat Sorohpati mencoba menilai mereka. Sepeninggal Ki Gede Pemanahan, yang ada hanyalah Ki Juru Martani.

“Jika Ki Juru Martani tidak ada, Sutawijaya akan menjadi seorang diri. Ia tidak akan mampu memecahkan persoalan-persoalan yang pelik dan rumit.”

Ketika terpandang olehnya orang-orang tua yang ada di halaman itu, maka Sorohpati pun tersenyum, “Orang-orang tua itu pun hanyalah karena terlampau banyak menyimpan umur. Mereka tentu berkepala kosong dan dungu.”

Namun Sorohpati menjadi berdebar-debar ketika teringat olehnya, bahwa pada suatu saat, Panembahan Agung telah berhasil dimusnahkan oleh Sutawijaya dan orang-orang yaug berpihak kepadanya.

“Gila!” Sorohpati menggeram di dalam hati.

Namun Sorohpati tidak dapat ingkar dari kenyataan itu. Ia pernah mendengar ceritera tentang orang-orang bercambuk yang membantu orang-orang Mataram. Bahkan sejak Ki Gede Pemanahan masih menjadi Panglima di Pajang, dengan menahan laskar yang dipimpin oleh Tohpati di Sangkal Putung.

“Aku tidak yakin bahwa mereka benar-benar orang yang tidak terkalahkan seperti ceritera yang aku dengar. Panembahan Agung memang orang yang pilih tanding. Tetapi ia tetap seorang manusia yang mempunyai kelemahan. Dan orang-orang bercambuk itu pun adalah manusia yang mempunyai kelemahan,” berkata Sorohpati di dalam dirinya.

Sorohpati menarik nafas dalam-dalam. Agaknya semua upacara sudah selesai. Dan sejenak kemudian, jenazah Ki Gede Pemanahan pun dilepaskan meninggalkan halaman rumahnya.

Tangis yang tertahan-tahan terdengar mengiringi jenazah itu sampai ke regol halaman. Kemudian jerit yang melengking memecah ketegangan. Putri-putri Ki Gede tidak dapat menahan perasaannya, melepaskan ayahandanya pergi untuk selamanya.

Sutawijaya hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berjalan terus mengikuti jenazah itu. Sudah ada orang- orang tua yang akan menyabarkan hati adik-adiknya yang ditinggalkannya di halaman. Orang-orang tua yang datand dari Sela, padukuhan asal orang tuanya.

Sejenak kemudian, maka sebuah iring-iringan yang panjang berjalan melalui jalan-jalan yang membelah kota Mataram. Jalan-jalan yang sudah nampak rata dan teratur dengan baik.

Perjalanan ke makam merupakan perjalanan yang cukup panjang. Namun seakan-akan memberi kesempatan kepada tamu-tamu yang datang dari luar Mataram untuk mengenal kota Mataram, yang sudah nampak menjadi besar dan ramai.

Sorohpati yang ada di antara para senapati dari Mataram itu pun menjadi heran. Sutawijaya kenar-benar seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Dalam waktu yang terhitung pendek, ia dapat merubah Alas Mentaok menjadi sebuah kota yang menarik.

“Tetapi Ki Gede sekarang sudah tidak ada. Semuanya tentu atas petunjuk dan bimbingan Ki Gede Pemanahan,” berkata Sorohpati di dalam hati.

Namun ia dihadapkan pada kenyataan pula, bahwa Mataram memang sudah menjadi besar.

Pada saat Ki Gede Pemanahan meninggalkan Pajang untuk mulai dengan kerjanya, membuka Alas Mentaok, tidak banyak orang yang percaya bahwa ia akan berhasil. Bahkan beberapa orang senapati muda saat itu mentertawakan Raden Sutawijaya, yang dengan penuh kesungguhan mengatakan bahwa Alas Mentaok akan menjadi sebuah kota yang ramai.

“Itu tidak mungkin,” desis seorang senapati pada waktu itu, yang ternyata dapat didengar oleh Raden Sutawijaya.

Betapa telinga Raden Sutawijaya menjadi panas bagaikan tersentuh api. Dengan lantang anak muda itu pun kemudian berkata sambil berdiri di atas tangga paseban di Pajang, “Aku tidak akan menginjakkan kakiku di atas tangga ini sebelum Mentaok menjadi kota yang ramai.”

Dan kini apa yang dikatakan oleh Raden Sutawijaya itu sebagian sudah terwujud. Kota Mataram di atas Alas Mentaok yang sudah menjadi ramai, meskipun Raden Sutawijaya sendiri masih belum puas.

“Apalagi di Mataram kini tersimpan tombak Kangjeng Kiai Pleret, Songsong Kangjeng Kiai Mendung.”

Sorohpati menarik nafas dalam-dalam. Mataram ternyata telah maju dengan pesatnya.

Yang kemudian menjadi pertimbangan Sorohpati terutama ditujukan pada pusaka-pusaka yang ada di Mataram. Bagaimana pusaka-pusaka itu dapat dikuasainya.

“Tanpa Kangjeng Kiai Pleret, tanpa Songsong Kangjeng Kiai Mendung, maka Sutawijaya tidak akan dapat mempertahankan wahyu kerajaan.” Sorohpati termenung sejenak. Namun kemudian ia menggeram sambil berkata di dalam hati, “Tidak! Desas-desus itu adalah desas-desus ngayawara. Tentu dengan sengaja disebarkan oleh Ki Gede Pemanahan bahwa ia mendapatkan adbmcadangan.wordpress.com sebuah kelapa muda di paga di dalam dapur rumah Kiai Ageng Giring. Dengan sengaja, Ki Gede membuat ceritera seolah-olah kelapa muda itu mempunyai kekuatan yang ajaib bagi siapa yang dapat meneguk airnya sampai habis.” Sorohpati mengigit bibirnya. Ia masih berjalan dalam iring-iringan para senapati dan pemimpin dari Pajang, mengikuti jenazah Ki Gede Pemanahan, dalam iring-iringan yang semakin lama menjadi semakin panjang.

“Begitu mudahnya untuk menurunkan raja-raja di pulau Jawa,” berkata Sorohpati di dalam hatinya pula, “hanya dengan minum air kelapa muda sampai habis.”

Tetapi Sorohpati masih tetap sadar, bahwa ia berada di antara para senapati, sehingga ia tetap menyembunyikan gejolak perasaan di dalam dadanya itu.

Sementara iring-iringan yang semakin panjang itu pun merayap terus. Hampir seluruh penghuni kota telah berdiri berderet-deret di tepi jalan yang akan dilalui jenazah Ki Gede Pemanahan, untuk memberikan penghormatan yang terakhir. Mereka menyadari bahwa Mataram yang telah di bentuk dari ujudnya yang lama, sebuah hutan yang lebat dan penuh dengan bermacam-macam bahaya yang mengerikan, menjadi sebuah kota yang ramai, adalah karena tekad yang semula menyala hanya di dalam hati Ki Gede Pemanahan dan puteranya, Raden Sutawijaya. Baru kemudian api itu menjalar, dan seolah-olah telah membakar Alas Mentaok, dan menjelmakannya menjadi kota yang sekarang.

Karena itulah, maka meninggalnya Ki Gede Pemanahan bagi rakyat Mataram tidak kurang daripada meninggalnya seorang ayah yang sangat mereka cintai.

Dan pada hari itu, mereka melepas ayah mereka yang mereka cintai itu untuk dimakamkan dengan upacara kebesaran.

Mataram benar-benar sedang berkabung. Langit nampak suram dilapisi oleh mendung yang tipis. Tetapi awan yang kelabu itu nampaknya bukan awan yang cukup basah untuk menjatuhkan hujan.

Seperti para senapati dan pemimpin dari Pajang dan sebagian besar orang-orang yang mengiringi jenazah itu, maka rakyat Mataram pun menghubungkan awan yang merata di langit itu dengan wafatnya Ki Gede Pemanahan dan songsong yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Kuning keemasan, dengan permata di jari-jarinya dan rumbai-rumbai yang berwarna hitam, yang letaknya agak lain dengan songsong yang pernah mereka lihat.

Demikianlah, maka Ki Gede Pemanahan dimakamkan pada hari itu dengan upacara yang mengesan. Pada saat terakhir nampak betapa Ki Gede Pemanahan benar-benar seorang yang besar, yang dihormati oleh kawan-kawannya dan disegani oleh lawan-lawannya. Meskipun Ki Gede Pemanahan sendiri selalu menghindarkan diri dari pertentangan, tetapi di dalam hidupnya ia tidak sepi dari kesalahan dan tidak luput pula dari pertentangan, yang dapat saja timbul karena seribu satu macam sebab.

Beberapa orang yang tidak dapat menahan perasaannya, dengan gelisah mengusap mata mereka yang basah. Bahkan bukan saja perempuan, tetapi ada juga beberapa orang laki-laki yang tidak dapat menahan hatinya menyaksikn upacara pemakaman Ki Gede Pemanahan itu.

Sementara itu, Sorohpati dapat menyaksikan bahwa sebenarnya Mataram sudah mulai menjadi kuat. Tetapi Mataram masih belum merupakan bahaya yang sebenarnya bagi Pajang, jika Kangjeng Sultan bertindak tegas. Tetapi sebaliknya, Kangjeng Sultan malahan memberi ciri-ciri kebesarannya kepada Sutawijaya, seakan-akan Kangjeng Sultan Pajang lah yang dengan sengaja ingin memindahkan pusat pemerintahan ke Mataram.

“Tetapi Kangjeng Sultan harus ingat, bahwa ia juga berputera seorang laki-laki. Pangeran Benawa-lah yang seharusnya menggantikan kedudukannya, karena Pangeran Benawa adalah puteranya yang sebenarnya. Sedang Raden Sutawijaya adalah sekedar anak angkatnya. Persetan dengan desas-desus bahwa Sultan telah mengadakan hubungan dengan Nyai Gede Pemanahan, sehingga melahirkan Sutaiwijaya itu,” namun tiba-tiba Sorohpati tersenyum, “Ceritera yang menarik untuk menjatuhkan martabat Sutawijaya sendiri. Bahkan mungkin dapat mengurangi kewibawaan Sultan Pajang.”

Sorohpati yang berada di antara para senapati itu tiba-tiba mengangguk-angguk di luar sadarnya, sehingga senapati yang duduk di sebelahnya menggamitnya sambil berbisik, “Kenapa kau, Kakang Sorohpati?”

“O,” Sorohpati tergagap. Juga tanpa disadarinya ia mengusap matanya. Namun kemudian dengan sengaja ia berkata, “Mengharukan sekali. Mataram baru nampak mulai berkembang, Ki Gede sudah mendahului meninggalkan usaha yang mulai nampak hasilnya, dan meninggalkan Raden Sutawijaya berjuang sendiri meneruskan usaha yang besar itu.”

Senapati yang ada di sebelahnya mengangguk-angguk. Tetapi senapati itu berkata, “Raden Sutawijaya tidak sendiri.”

“Siapa? Ki Juru Martani? Mungkin ia dapat membantu, tetapi Ki Juru Martani adalah orang yang lebih senang hidup menyendiri dan mempelajari olah kajiwan, daripada melihat kenyataan hidup dan berjuang untuk mengembangkannya.”

“Tetapi tentu ia dapat memberikan banyak petunjuk,” Jawab senapati itu, “selebihnya, tentu Kangjeng Sultan sendiri tidak akan membiarkannya.”

Terasa dada Sorohpati tergetar. Bahkan kemudian ia mengumpat di dalam hati, “O, senapati yang dungu. Sebentar lagi Pajang tentu akan digilas oleh ketamakan Sutawijaya.”

Namun kemudian Sorohpati itu pun berkata pula di dalam hati, “Memang keduanya harus dimusnahkan. Mataram, kemudian Pajang. Jika Kakang Panji dan gurunya berhasil membenturkan Pajang dan Mataram, maka separo dari tugas kami sudah selesai. Sedangkan Pangeran Benawa bagi kami tidak akan ada artinya apa-apa. Meskipun secara pribadi dan dalam olah kanuragan adbmcadangan.wordpress.com ia memiliki kelebihan seperti ayahandanya, tetapi jiwanya sangat lemah dan seolah-olah hidup baginya hanyalah sebuah perjalanan yang tanpa tujuan selain menuju ke lubang kubur. Dan itu sebagian terbesar adalah kesalahan Karebet, yang mabuk kamukten. Ia menghabiskan kesenangan dan kepuasan hidup bagi dirinya sendiri, sehingga anak laki-lakinya menjadi sangat prihatin menyaksikan cara hidupnya. Akhirnya Pangeran Benawa menjadi seorang pendiam yang sama sekali tidak bercita-cita.”

Namun dengan demikian, kedatangan Sorohpati ke Mataram ternyata mendapatkan banyak sekali bahan-bahan yang dapat diperbincangkan dengan orang yang disebutnya Kakang Panji. Ia tidak menghiraukan lagi tawanan yang tertangkap oleh Ki Juru Martani dan yang masih ditahan di Mataram.

“Persetan dengan orang itu,” gumamnya di dalam hati. “Ki Legawa sudah mati meskipun harus disertai oleh Ki Sanggabumi. Sayang, Ki Sanggabumi adalah seorang yang baik. Tetapi adalah tidak disangka-sangka bahwa ia harus mati sampyuh dengan Ki Legawa.”

Namun Ki Sorohpati tidak dapat menutup kenyataan bahwa hal itu sudah terjadi. Dan Ki Legawa bagi prajurit Pajang memang merupakan seorang perwira yang disegani, meskipun ia masih belum mencapai jenjang pangkat yang memadai.

“Mudah-mudahan Dadap Wereng tidak mati pula. Dan aku sempat berbuat sesuatu di hari mendatang. Keturunan Majapahit yang sebenarnya harus mendapatkan kembali kedudukannya,” namun kemudian, “Tetapi tidak hanya ada seorang keturunan Majapahit. Ada dua, tiga, dan bahkan mungkin berpuluh-puluh, yang tersebar di pulau Jawa dan Bali. Tetapi persetan.”

Sorohpati memang mengharap bahwa orang yang disebutnya Kakang Panji akan mendapatkan kemukten. Akan mendapatkan kedudukani yang tinggi, jika gurunya dapat menemukan kembali tahta Majapahit yang lenyap sejak berdirinya Demak.

“Memang nama Kakang Panji tidak akan dapat mengimbangi kebesaran nama Ki Gede Pemanahan dan putera angkat Sultan Pajang. Tetapi gurunya, keturunan langsung dari Majapahit,” berkata Sorohpati di dalam hatinya. Dan berkali-kali ia menyebut di dalam hatinya itu, bahwa keturunan Majapahit akan mendapatkan tempatnya kembali.

Demikianlah, maka jenazah Ki Gede pun telah dimakamkan dengan penghormatan yang besar, sesuai dengan perbuatan dan tindak-tanduknya semasa hidupnya. Meskipun ada pihak-pihak yang tidak senang melihat tumbuhnya Mataram, namun ternyata bahwa sahabat-sahabat Ki Gede masih tetap menghormatinya.

Setelah semua upacara pemakaman selesai seluruhnya, maka lautan manusia yang seolah-olah menenggelamkan seluruh makam itu pun mulai surut. Seperti saluran yang dibuka, maka mengalirlah orang-orang yang melayat itu ke segenap penjuru, meninggalkan makam Ki Gede Pemanahan. Makam yang ditandai dengan seonggok tanah merah dan dua buah kayu maejan. Setumpuk taburan bunga serta asap kemenyan, menumbuhkan bau yang semerbak namun mengharukan.

Beberapa orang tua, keluarga dan anak-anak muda yang dekat dengan Ki Gede Pemanahan, masih berdiri di sekitar makam yang baru itu. Ki Juru Martani memandang taburan bunga di seputar makam itu dengan wajah yang suram. Di sebelahnya, Raden Sutawijaya menggeretakkan giginya untuk menahan gejolak di dalam dadanya.

Di belakang mereka adalah Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, Ki Demang Sangkal Putung, Ki waskita dan Agung Sedayu serta Swandaru. Mereka sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya sekali-kali kedua anak-anak muda itu mengerling kepada songsong yang berwarna kuning emas, yang masih tetap terbuka di tangan Ki Lurah Branjangan.

“Marilah kita kembali,” berkata Ki Juru kemudian.

Raden Sutawijaya tidak menjawab. Sekilas ditatapnya wajah beberapa orang pengawal dan pengiring yang masih ada di sekitar makam itu. Kemudian di luar sadarnya, maka kepalanya pun menunduk dalam-dalam. Perlahan-lahan ia menggerakkan kakinya meninggalkan seonggok tanah yang masih merah dan ditaburi dengan setumpuk bunga itu.

Ki Juru Martani pun kemudian, menggamit Ki Lurah Branjangan yang tunduk. Matanya menjadi merah, dan kerongkongannya terasa panas.

“Payung itu harus ditutup,” berkata Ki Juru, “Pemakaman ini sudah selesai.”

Ki Lurah Branjangan tergagap. Kemudian perlahan-lahan ia menengadahkan wajahnya memandang jari-jari payung yang di bawanya. Jari-jari payung yang dihiasi dengan batu permata yang diketemukan jatuh dari langit.

Perlahan-lahan, terloncat kata-kata dari bibirnya, “Kangjeng Kiai Mendung. Ki Juru, apakah artinya bahwa Kangjeng Kiai Mendung berada di Mataram?”

Ki Juru menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita tidak dapat berbicara di sini. Marilah kita kembali. Aku akan mengatakan sesuatu kepadamu.”

Demikianlah, maka Ki Lurah Branjangan pun menutup songsong yang berwarna kuning emas itu. Kemudian dipandunya songsong itu seperti memandu sebatang tombak pusaka.

Hampir di luar sadar, beberapa orang bersama-sama menengadahkan wajahnya ke langit. Tepat pada saat upacara selesai, mendung bagaikan mengalir ke Utara. Langit menjadi jernih dan matahari mulai memancarkan panasnya serasa membakar kulit.

“Angin mulai bertiup,” desis seseorang, “dan mendung pun hanyut ke Utara.”

Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi matanya mengerling kepada payung yang sudah tertutup. Payung yang disebut Kangjeng Kiai Mendung.

Agaknya kawannya yang mula-mula berbicara, melihat tatapan mata kawannya itu. Maka katanya, “Apakah kau menganggap bahwa karena Kangjeng Kiai Mendung ditutup, maka langit pun menjadi cerah dan mendung ini hanyut ke Utara?”

Kawannya ragu-ragu. Tetapi akhirnya ia mengangguk kecil.

“Aku tidak menolak, tetapi juga tidak mempercayai sepenuhnya,” desis kawannya.

Yang diajak berbicara sama sekali tidak berani menjawab. Ia bahkan berjalan semakin cepat, menjauhi kawannya yang mempersoalkan songsong yang berwarna kuning keemasan itu.

Namun ternyata bukan saja orang-orang itu yang membicarakannya. Bahkan Swandaru pun bertanya seperti orang itu, “Apakah ada pengaruhnya? Setelah payung itu ditutup, maka langit menjadi cerah.”

Agung Sedayu tidak menjawab. Namun terdengar Ki Waskita berbisik, “Angger Swandaru. Apakah kau merasakan silirnya angin?”

Swandaru mengangguk.

“Angin inilah yang telah menyingkirkan mendung di langit. Mendung yang tipis, sehingga dengan mudahnya hanyut oleh angin yang semilir.”

“Dan songsong itu.”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Lihatlah. Di Utara mendung itu bagaikan tertimbun di lereng Gunung Merapi. Itu adalah mendung yang sebenarnya, karena dengan sedikit permainan aku dapat membuat mendung semu. Namun meskipun kita berada di bawah mendung yang tebal menggantung di langit, sengatan matahari tentu masih akan terasa menggigit tubuh kita.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti maksud Ki Waskita. Karena itu, maka ia pun tidak memberikan tanggapan apa pun juga.

Agaknya Ki Waskita menyadari bahwa keterangannya tidak begitu dapat dipahami oleh Swandaru. Maka katanya, “Swandaru. Kadang-kadang kita memang dihadapkan pada suatu peristiwa yang sulit kita mengerti. Permainan yang terjadi di luar nalar. Tetapi jika yang seakan-akan terjadi itu bukannya yang seharusnya terjadi, maka kita tidak dapat menganggap bahwa hal itu telah terjadi. Seperti permainan semuku itu pun bukannya sesuatu yang dapat dianggap ada, karena memang sebenarnya tidak ada.”

Swandaru masih belum mengerti. Tetapi ia tidak dapat bertanya karena rasa-rasanya malu juga untuk terlampau berterus terang atas kemampuan berpikirnya yang masih belum masak.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:38  Comments (84)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-84/trackback/

RSS feed for comments on this post.

84 KomentarTinggalkan komentar

  1. wah… kok pada ngaco sih..??
    yang benarkan udah jelas terpampang :
    Raja terakhir Majapahit = Brawidjaja PAMUNGKAS
    Nama asli Kiai Gringsing = Raden PAMUNGKAS
    nah jelaskan.?? darisana bisa diambil kesimpulan..
    walaupun tidak menutup kemungkinan yang dikatakan oleh tqmrk itu benar :Empu Windujati adalah Ki Kebo Kenanga. Berarti Empu Windujati bapaknya Karebet. Karena Kiai Gringsing cucunya Empu Windujati, berarti Kiai Gringsing keponakan Karebet.

    Regards.

    • Ngawur kau

  2. Hadiahnya udah done…lho(d).
    tengkyu Ki Gede.

  3. Jika kitab 84 ini menceritakan wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti kita menjelajahi waktu kembali ke tahun 1584 Masehi.

    Pada tahun yang sama nun jauh di sana di Belanda (yang kemudian menguasai negeri gemah ripah loh jinawi ini melalui VOC yang didirikan tahun 1602); William of Orange (William the Silent)dibunuh di rumahnya di Delft, Belanda oleh Balthasar Gérard. William ini bercita cita menyatukan Belanda dengan Spanyol dan hampir berhasil sebelum dibunuh.

  4. Cuplikan dari buku sejarah …..
    Banyak versi mengenai masa awal berdirinya kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran, ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan. Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582), raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.

    Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede. Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.

    Selama pemerintahannya boleh dikatakan terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram.

    Senapati digantikan oleh putranya, Mas Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.

    Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun 1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.

  5. Nuwun sewu Ki Sanak Ibnu Gurslung,
    Menurut hemat saya gak mungkin Ki Kebo Kenongo, ayahnya Mas Karebet, adiknya Kebo Kanigoro, adalah Ki Windujati. Bukankah Ki Kebo Kenongo sudah wafat sewaktu Mas Karebet masih kecil. Sedangkan ki Windujati hidup hingga menjelang berakhirnya kesultanan Demak.
    Regards,
    Ki Truno Podang

  6. Adimas J3b3ng
    Di kapling 83 crito sampeyan ttg pohon Cangkring dan pohon Nyamplung sangat bermanfaat, cuman klu ada mohon dng hormat disertakan foto atau gambarnya..? alangkah lengkapnya informasi itu.. Matur sembah nuwun Adimas..mugo2 Pengeran sing mbales!

    GD: Coba tengok di WISATA ADBM di bagian Miselinus. Wohe koyok duku, tapi mungkin gede2

  7. Kyai Truna,
    saya menyangka Empu Windujati sama dengan Pangeran Buntara. Meski muridnya sebenarnya tiga (di NSSI), tapi Umbaran menyeleweng dan akhirnya terbunuh sama dua murid yang lain, Radite dan Anggara.

    Cuma memang di NSSI tidak pernah disebut-sebut adanya adik P. Buntara, yang jadi guru Kiai Gringsing. Juga R. Pamungkas yang jadi cucu Empu Windujati. Akan tetapi, karena Kebo Kanigara juga menjadi putut di Tumaritis, maka guru Kiai Gringsing –entah siapa namanya– tidak mustahil bersahabat dengannya. Yang juga tidak pernah disebut di NSSI adalah adanya lambang cambuk dan cakra gerigi sepuluh, sebagai ciri Perguruan Windujati (=Karang Tumaritis).

    Begitu tebakan saya. Eee, ‘kali aja bener…

  8. Mohon maaf jika mengurangi indahnya roman ADBM besutan Ki SHM.

    Jika merunut sejarah, sepertinya ada hal yang mungkin terlewat oleh Ki SHM. Namun hal itu dapat dimaklumi karena pada jaman Ki SHM menuliskan kisah ini belum ada internet, apalagi wikipedia. Beliau kabarnya melakukan riset baik dalam membaca babad tanah Jawi, serta kitab kitab kuno sampai riset ke lapangan untuk menuliskan wilayah wilayah yang disebutkan dalam ADBM.

    Jika Ki SHM menceriterakan kisah menjelang wafatnya Ki Gede Pemanahan, berarti setting berada pada tahun 1584, sehingga alas mentaok telah dibuka selama 28 tahun, dari sejak diserahkan tahun 1556.

    Sementara sebelum tahun 1584 terdapat kejadian penting bagi Sutawijaya yaitu 1582, di mana dia memerangi Sultan Hadiwijaya. Namun seolah olah dalam ADBM tidak ada ceritera ini.

    Sultan HAdiwijaya menurut tulisan Kakang Panji wafat tahun 1582 (meninggal karena sakit setelah pulang perang).

    Namun di ADBM, Sultan Hadiwijaya dikabarkan masih sehat dalam menerima kedatangan Ki Gede Pemanahan.

    Terlepas dari itu semua, ADBM tetap kisah yang memukau….

    Suntingan dari Wikipedia:
    Ki Penjawi diangkat sebagai penguasa Pati sejak tahun 1549. Sedangkan Ki Ageng Pemanahan baru mendapatkan hadiahnya tahun 1556 berkat bantuan Sunan Kalijaga. Hal ini disebabkan karena Sultan Hadiwijaya mendengar ramalan Sunan Prapen bahwa di Mataram akan lahir kerajaan yang lebih besar dari pada Pajang.

    Ramalan tersebut menjadi kenyataan ketika Mataram dipimpin Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan sejak tahun 1575. Tokoh Sutawijaya inilah yang sebenarnya membunuh Arya Penangsang. Di bawah pimpinannya, daerah Mataram semakin hari semakin maju dan berkembang.

    Pada tahun 1582 meletus perang Pajang dan Mataram karena Sutawijaya membela adik iparnya, yaitu Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Sultan Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram meskipun pasukan Pajang jumlahnya lebih besar.

    Sepulang dari perang, Sultan Hadiwijaya jatuh sakit dan meninggal dunia. Terjadi persaingan antara putra dan menantunya, yaitu Pangeran Benawa dan Arya Pangiri sebagai raja selanjutnya. Arya Pangiri didukung Panembahan Kudus berhasil naik takhta tahun 1583.

    Pemerintahan Arya Pangiri hanya disibukkan dengan usaha balas dendam terhadap Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terabaikan. Hal itu membuat Pangeran Benawa yang sudah tersingkir ke Jipang, merasa prihatin.

    Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Meskipun pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Sultan Hadiwijaya, namun Pangeran Benawa tetap menganggapnya sebagai saudara tua.

    Perang antara Pajang melawan Mataram dan Jipang berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri asalnya yaitu Demak. Pangeran Benawa kemudian menjadi raja Pajang yang ketiga.

    Pemerintahan Pangeran Benawa berakhir tahun 1587. Tidak ada putra mahkota yang menggantikannya sehingga Pajang pun dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram. Yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya.

    Sutawijaya sendiri mendirikan Kesultanan Mataram di mana ia sebagai raja pertama bergelar Panembahan Senopati.
    http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang

  9. Agung Sedayu masih sibuk bolak-balik donlot file-file .ppt yang sudah disediakan oleh Ki GeDe, tetapi sampai sekarang masih bingung karena file tersebut juga tidak dapat dibaca dengan pusaka yang dia punya. Mohon petunjuk dari Ki GeDe atau cantrik-cantrik yang lain sekiranya dapat memberikan informasi bagaimana file-file tersebut dapat dibaca dengan baik.

  10. @J3b3ng
    Yeah…menurut Wikipedia memang demikian.
    Sedangkan menurut Ki SHM, Ki Gede Pemanahan meninggal terlebih dahulu di banding Sultan Hadiwijaya.
    Faktor yang cukup penting adalah berdasarkan urutan tahun di Wikipedia, Ki Gede Pemanahan meninggal SETELAH terjadinya peperangan antara Mataram yang dipimpin oleh Sutawijaya dengan Pajang yang dipimpin langsung oleh Sultan Hadiwijaya, sedangkan seperti kita baca di buku ke 81-84 ini, Ki Gede Pemanahan telah meninggal sementara perang Mataram – Pajang belum lagi terjadi.
    Tahun-tahun krusial Menurut Wikipedia adalah :

    1556 Ki Gede Pemanahan pindah ke Mataram
    1582 Meletus Perang Mataram – Pajang (Pajang kalah)
    1582 Sultan Hadiwijaya Mangkat (Meninggal Dunia)
    1584 Ki Gede Pemanahan Meninggal dunia

    Namun ada yang tidak konsisten dari tulisan di Wikipedia yaitu dalam entry berjudul KESULTANAN PAJANG – http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Pajang,
    Dituliskan bahwa Mataram semakin maju setelah Ki Gede Pemanahan digantikan oleh Puteranya yaitu Sutawijaya mulai tahun 1575.

    Sedangkan pada entry berjudul Ki Gede Pemanahan http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Gede_Pemanahan, disebutkan bahwa Sutawijaya menggantikan Ki Gede Pemanahan setelah ayahandanya tersebut meninggal dunia pada tahun 1584.

    Saya berpendapat bahwa sebagai orang yang menguasai sejarah Jawa dengan baik (seperti terlihat di tulisan tulisan beliau : NSSI, ADBM, Pelangi di Langit Singosari, Tanah Warisan dll), kecil kemungkinan bagi Ki SHM kecil untuk melakukan kesalahan yang menurut saya cukup fatal seperti urutan peristiwa meninggalnya Ki Gede Pemanahan dan Sultan Hadiwijaya seperti yang telah diuraikan oleh rekan j3b3ng.
    Saya berpendapat, Ki SHM memiliki catatan bahwa barangkali yang benar adalah Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575 dan kemudian Raden Sutawijaya tampil menggantikan kedudukan beliau. Nah, kalau memang demikian (Ki Gede Pemanahan meninggal pada tahun 1575), maka urutan peristiwa seperti yang tertulis di ADBM ini tidak ada yang salah.
    Nah…., saya mengajak Ki Sanak semua untuk besama-sama mencari data yang lebih akurat, sumonggo…..

  11. Pangeran Handayaningrat (Ki Ageng Pengging Sepuh) punya 2 orang anak: Kebo Kanigoro (ayahnya Endang Widuri) dan Kebo kenanga/Ki Ageng Pengging (ayahnya Karebet/Joko Tingkir/Putut Karang Tunggal). Keduanya jadi Muridnya, ada satu murid lagi yaitu Mahesa Jenar atau Rangga TohJaya, jadi total muridnya ada 3: Kanigoro, Kenanga, Mahesa Jenar.

    Pangeran Wirawardana/Empu Windujati punya 2 murid dan satu orang cucu (Kyai Gringsing/Pamungkas).

    Pangeran Buntara (Pasingsingan sepuh atau Panembahan Ismaya) punya 3 orang murid: Radite, Anggara, dan Umbaran. Beliau punya Padepokan Karang Tumaritis, beberapa orang yang pernah nyantrik di sana: Kebo Kanigara, Mahesa Jenar, Karebet (Jaka Tingkir), Arya Salaka (murid Mahesa Jenar), Endang Widuri(anak Kebo Kanigoro).

    Sultan Hadiwijaya/Karebet/Jaka Tingkir/Putut Karang Tunggal seperguruan dengan Ki gede Pemanahan (anak Ki Ageng Sela ?) dan Ki Penjawi (Mantan Pengawal Perdikan Banyubiru ?). Siapa guru mereka bertiga ?..nggak jelas…
    Tapi yang jelas gurunya Karebet konon ribuan orang…

    Murid Mahesa Jenar adalah Arya Salaka (Ki Ageng Banyubiru)…Arya Salaka adalah gurunya Ki waskita ?….

    Jadi Siapakah guru Kiai Gringsing alias Pamungkas ?… Guru tidak langsung yang pasti kakeknya: Empu Windujati atau Pangeran Wirawardana…tapi gurunya langsung adalah Sahabat sekaligus saudara seperguruan Kebo Kanigoro, siapakah dia ?…Kelihatannya memang Mahesa Jenar….apalagi di ADBM disebutkan bahwa jurus2 Gringsing & Ki Waskita memiliki jalur yang sama dengan perguruan Pengging… Tapi di NSSI sama sekali tidak disebutkan Murid Mahesa jenar selain Arya Salaka…Jadi kemungkinan Kiai Gringsing adalah saudara seperguruan Arya Salaka (Ki Ageng banyubiru anak Ki Ageng Gajah Sora)….mbuhlah…gak jelas…

  12. Saya sih setuju dengan mbah_man kalo ini cara mencocok-cocokan gaya SHM antara ADBM dan NSSI… Jadi ga usah dicari hubungannya terlalu dalam. Cuma kalo dilihat rasio “kebetulan”nya, Lebih tinggi NSSI dibanding ADBM.. coba perhatikan, kemunculan-kemunculan Tokoh tua NSSI, pasti tiba-tiba disaat Mahesa jenar sudah terdesak (masalah dulu baru tokoh muncul).. bandingkan dengan kemunculan sumangkar di alas mentaok maupun peranan ki waskita di pedepokan panembahan agung misalnya, disainnya sudah lebih jelas, ada tokoh baru masalah..

    peace man..

  13. dos pundi niki maos kitapipun 83 n 84? sampun angsal warisan tapi boten saged maos

  14. Saya sependapat dengan kesimpulan Anakmas Sutajia Said, sebagian besar emang benar, tapi mengenai Mahesa Jenar sebage guru Kiai Gringsing adalah kurang tepat karena seperti telah di sebutkan bahwa guru Kiai Gringsing adalah adik seperguruan Empu Windujati, sedangkan di NSSI disebutkan bahwa Ki Ageng Pengging Sepuh hanya memiliki tiga murid yaitu: Ki Kebo Kanigara, Ki Kebo Kenanga dan Majesa Jenar. Jadi kesimpulan nya bahwa guru Kiai Gringsing adalah masih merupakan teka-teki.

  15. Kelihatannya Guru Kyai Grinsing bukan Mahesa Jenar….tapi justru Panembahan Ismaya….(dalam hal ini setuju dengan komentar Pradabaru di 82)…

    Tambahan lagi bahwa Setting cerita saat pengepungan Sultan Trenggana berburu di Prawata oleh Pasukan Banyubiru, saat itu memang murid Panembahan Ismaya baru 3 (2 murid yang baek, 1 murid durhaka=Umbaran)..jadi sangat mungkin kalau setelah peristiwa itu Panembahan Ismaya mendapat murid lagi yaitu Kyai Gringsing…tapi kejadiannya setelah Mas Karebet ditarik untuk mengabdi lagi kepada Sultan Trenggana…

  16. joko tingkir dlm NS&SI sak pantaran sama arya salaka muride maheso jenar, sedangkan ki waskita saat ini kalo menilik sudah punya anak sepantaran agung sedayu berarti umurnya gak jauh dari jaka tingkir(hadiwijoyo)
    padahal kiwaskita mestine juga sak pantaran sama arya salaka , apa ya tumon murid’e sakpantaran ambek gurune , lha bingung lagi to? hehehehehe puniko namung cerita fiksi kok mbah, dados nggih sampun dipun damel waton hehehehehe monggo sami disimak kemawon

  17. kan udah dibilangin bukan muridnya Arya Salaka, tapi muridnya GajahSora (Ki Ageng Banyubiru sepuh)…

  18. meskipun sudah dibantai sidanti di padepokan tambak wedi, tetapi saya masih mengharapkan sekar mirah. saya ingin tahu bagaimana nasibnya. bisa memberi clue ki gede

  19. nuwun sewu, saya mau nanya bagaimana caranya ngedownload buku ADBM

    suwun

  20. Guru kiai Gringsing adalah Panembahan Ismaya, karena Kiai Gringsing sendiri bilang gurunya adalah adik dari kakeknya (empu Windujati a.k.a Pangeran Wirawardana) jadi otomatis gurunya juga seorang pangeran (R. Buntara a.k.a P. Ismaya), hal ini secara implisit juga diberikan oleh K Gringsing yg hanya tersenyum ketika ditanya siapakah P Ismaya tsb. Dan lagi diceritakan bahwa Kebo Kanigoro pernah menjadi Putut di padepokan P. Ismaya.

    Sementara sepenangkapan saya, Kebo Kanigoro bukan lah murid ki Ageng Pengging Sepuh, tapi justru saudara seperguruannya. Jadi meskipun Kebo Kanigoro merupakan anak dari Ki Ageng Pengging Sepuh, tapi dalam perguruan mereka adalah saudara seperguruan. Sehingga Kebo Kanigoro adalah paman guru dari Mahesa Jenar.

    salam.

  21. >>”Mahesa Jenar menundukkan wajahnya. Demikian pula Kebo Kanigara sebagai seorang bangsawan cucu dari salah seorang yang pernah merajai Majapahit, hatinya tersentuh pula. ”
    >>”Empu Windujati punya 2 orang murid dan 1 cucu (Pamungkas)”
    >>”Tidak saja murid,” sahut orang berjubah abu-abu itu, ”Tetapi ia adalah anak Pangeran Handayaningrat itu, dan bahkan adik seperguruannya.” (Kebo Kanigara)
    >>”KANIGARA kembali menarik alisnya. Ketika kemudian ia teringat sesuatu, hampir berteriak ia berkata, ”Raden Buntara, bukankah Raden Buntara itu adik Sultan Brawijaya Pamungkas dari seorang garwa ampeyan…?”
    >>”Tentu,” sahut orang tua itu. ”Ayahmu pasti pernah menyebut-nyebut namaku. Aku adalah pamannya yang paling dekat dengan ayahmu itu.”
    >>”Kalau demikian Tuan lah Eyang Buntara yang pernah aku dengar namanya,” kata Kanigara sambil membungkuk hormat. Hormat sekali. ”
    >>”Tetapi apa yang terjadi kali ini tak dapat aku (P.Ismaya) pikul lebih jauh lagi. Ketika aku menghadap Baginda Sultan Demak (Raden Patah), beliau berkata, juga dengan sabar dan perlahan-lahan. ”Paman, aku sudah mendapat laporan lengkap tentang Paman. Ayahanda Prabu telah mengirim utusan kemari sebelum paman datang. Beliau merasa menyesal bahwa segala sesuatu yang kurang pada tempatnya telah terjadi. Apalagi persoalan itu bersumber pada persoalan seorang istri, yang karena keadaan menjadi sedemikian buruknya. Paman tidak saja membunuh suaminya, tetapi karena Paman, maka terjadilah bentrokan antara sahabat-sahabat laki-laki itu dengan beberapa orang prajurit yang memihak kepada Paman. Karena itu Paman bukanlah seorang utusan seperti yang aku harapkan. Bahkan sebaliknya, Paman telah menjadikan Ayahanda Prabu semakin jauh daripadaku.”

    JAdi>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

    1. Prabu Brawijaya punya anak namanya Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat & Raden Patah.

    2. P.Ismaya / Buntara adalah adik Prabu Brawijaya dan Paman ayahnya Kebo kanigara (Ki Ageng Pengging Sepuh / Pangeran Handayaningrat) sekaligus paman raden patah.

    3. Ilmu Pengging adalah Ilmu Bangsawan Majapahit.

    4. Ki Ageng Pengging Sepuh adalah saudara/sepupu dari Raden Patah – Sultan Demak Pertama.

    5. Mas Karebet = Anak Ki Kenongo / cicit Prabu Brawijaya.

    6. Kiai Grinsing / Pamungkas = Cucu langsung Empu Windujati – Pangeran Majapahit dan murid sahabat kebo kanigoro.

    Kesimpulannya:

    1. Kiai Grinsing = Sepupu Karebet (sama2 keturunan majapahit)
    2. Empu Windujati = P. Ismaya
    3. Sahabat Kebo Kanigoro = ???EmJee??
    4. Ki Waskita adalah anak Arya Salaka yg berbeda paham dengan ayahnya dan melarikan diri dari banyubiru.

    >>>>JAdi Guru Kiai Grinsing adalah ???<<<<<<<

    Jawabnya – SH MIntardja….

  22. Songsong Kanjeng Ki Menggung,
    eh kleru,….. Kiai Mendung.

    • jan ki Gembleh keBANGETan tenan…..teGA nian menDHISIKi
      cantrik,

      Lha sudah TAU kalo cantrik baru nyampe gandOK-71 kok ya
      malah mblayu ngeBUT ning gandok-84….. 🙂 🙂

      • walah ki ndul ternyata yo melu kebut-kebut kwkwkwkkkk

        • ..sehingga terpaksa Ki addus ikutan ngebut-i…..lamuk ! 😀

          • yahmene nang nggembong wayae kebut-kebut doro ki kartu

            • ..dara….manis ? 😀

              • dara tista kwkwkkk

                • doro muluk ??????????

                  • d
                    o
                    r
                    o

                    n
                    g
                    .
                    .
                    .
                    .

                    • j
                      a
                      g
                      u
                      n
                      g

                      b
                      e
                      r
                      o
                      n
                      d
                      o
                      n
                      g

  23. kiai gringsing adalah murid dari mahesa jenar, jadi paling tidak dia kenal dengan sultan hadiwijaya

  24. Guruku adalah sahabat yang dekat dengan seorang yang menyebut dirinya Kebo Kanigara, putera dan sekaligus murid dari Ki Ageng Pengging Sepuh, kakak dari Ki Ageng Pengging yang juga bernama Kebo Kenanga. Yang menyingkir pula dari lingkungannya dengan alasan yang berbeda.”

    Tetapi di dalam ilmu kanuragan, keduanya bersumber pada guru yang sama. Ayah mereka sendiri, Kiai Ageng Pengging Sepuh.”

    Kiai Gringsing mengerutkan keningnya, lalu, “Memang mungkin sekali. Guruku memang sahabat Ki Kebo Kanigara. Meskipun umurnya terpaut sedikit. Dengan demikian, maka tidak mustahil jika ilmu keduanya saling mempengaruhi.”

    Dari kutipan diatas sebenernya sudah sangat jelas bahwa guru kiai gringsing adalah Mahesa Jenar, dan sepertinya mahesa jenar juga sempat kembali mengembara dan membawa kiai gringsing untuk turut serta

    “Aku berkesempatan mengikutinya meskipun tidak seluruh perjalanannya.”

    Dan Ki gede banyubiru adalah arya salaka jika mengacu pada kutipan berikut :

    “Ki Gede Banyubiru yang sekarang mempunyai ikatan yang rapat dengan Sultan di Pajang. Mereka pernah berada di satu padepokan. Pernah hidup dalam satu lingkungan. Dan ilmu mereka pun tidak terlampau jauh pula, meskipun Sultan Pajang memiliki seribu macam ilmu dari seribu macam perguruan.”

    ========

    memang mantab jalan ceritanya, seperti sebuah sejarah tapi abu2, tokoh2nya pun seperti nyata, karena memiliki keterkaitan dan masuk dalam alur cerita yang nyata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: