Buku 80

80-00

Iklan

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:36  Comments (50)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-80/trackback/

RSS feed for comments on this post.

50 KomentarTinggalkan komentar

  1. loketnya masih sepi

  2. tak kancani mbok .. awas copet..

  3. Aku meluuu……

  4. Aku yo……………!

  5. wah-wah….Kapan nih Pajang menyerbu Mataram ?…. menunggu adik ipar Sutawijaya ngintip di keputren Hadiwijaya ? entahlah

  6. ikut ngantri ki gede
    Radione SW1 karo SW2. gelombang 80,81 ra nyaut. kresek2 tok

  7. lagi2 ketinggalan aku,… memang anak2 muda sekarang ilmune jauh linuwih. Cundamanikku seolah2 gak da apa2nya

  8. Ikut antri ki Gede… semoga week end ini ki Gede sehat-sehat saja…

  9. Cupu Manik Astagina (CMA)
    Diwaktu kanak2 kita mendengar cerita tentang CMA tidak terfikirkan bahwa pada saatnya benda yang hanya dalam ceritera akan menjadi nyata.
    Sebuah benda kecil sebesar buah kenari, tetapi bila diamati akan menampilkan bermacam-macam gambar yang dikehendaki.
    CMA adalah benda hadiah dari Bathara Guru kepada Dewi Indradi, yang telah bersedia melayani keperluan Dewa Girinata itu dengan memuaskan.
    Dewi Indradi sendiri telah memiliki tiga orang anak dari perkawinannya dengan Resi Gotama, dua anak lelaki yaitu Guwarsa dan Guwarsi, serta seorang anak perempuan yaitu Dewi Anjani.
    Karena sayangnya Ibunda Dewi Indradi kepada Anjani, maka diberikannyalah CMA kepada putrinya itu, dengan pesan jangan sampai ada orang lain yang tau tentang benda itu, terlebih lagi Ayahanda Resi.
    Akan tetapi, yang namanya anak2 sangatlah sulit untuk dapat menyimpan rahasia terlalu rapat. Sedang asyik2nya Anjani menonton gambar taman surga, tiba2 Guwarsa dan Guwarsi melintas ditempat itu. Kemudian diserobotnyalah CMA oleh Guwarsa. Kemudian Guwarsa dan Guwarsi bersama-sama menonton gambar2 di CMA.
    Dewi Anjani berusaha merebut barang miliknya tetapi dipertahankan dengan sekuat tenaga oleh Guwarsa dan Guwarsi. Akhirnya keributan itu didengar oleh Resi Gotama, dan untuk melerai pertengkaran, kemudian sang Resi minta agar benda itu diserahkannya kepadanya. Sambil menerima CMA terucap dari mulut Sang Resi yang sakti kata2 : Kalian ini seperti Rewanda (kera)berebut pisang.
    Dewi Anjani kemudian merengek-rengek kepada ayahnya agar benda itu dikembalikan kepadanya.
    “Ooh jadi ini milikmu Anjani?” tanya sang Resi.
    “Betul ayah, itu milik hamba” jawab Anjani.
    “Dari mana kamu dapatkan benda ini Anjani, benda semacam ini sangatlah langka di Marcapada ini”
    Dewi Anjani ingat pesan bundanya untuk merahasiakan asal-usul benda itu, maka Dewi Anjanipun diam saja, bahkan sampai dibentak-bentak juga tetap membisu seribu kata.
    “Baiklah karena kau tetap membisu, maka demi keadilan benda ini akan saya lemparkan jauh-jauh. Siapa yang bisa mendapatkannya maka dialah yang memilikinya.” berkata Sang Resi.
    “Jangan ayah, itu milikku” sergah Dewi Anjani.
    “Kalau memang benda ini milikmu, cepat katakan dari siapa benda ini kamu dapatkan” tantang ayahnya.
    “Hamba nggak bisa mengatakannya ayah, karena hamba sudah berjanji untuk merahasiakannya”.
    “Kalau begitu baiklah, keputusanku sudah bulat. Maka kejarlah benda ini akan saya lemparkan.”
    Tidak diceriterakan berapa lama ketiga putera Resi Gautama mengejar CMA, akhirnya jatuhlah benda itu ditelaga nan bening kemilau yang bernama Telaga Madhirda. Tanpa berfikir panjang maka Guwarsa dan Guwarsi menceburkan diri ke telaga sekaligus menyelam ke arah CMA didasar telaga. Dewi Anjani yang merasa sebagai perempuan hanya bisa tertunduk lesu di tepi telaga. Tetapi melihat bening dan kemilaunya air di telaga maka iapun mencuci mukanya dengan air telaga itu.
    Guwarsa dan Guwarsi sudah sampai ke dasar kolam, tetapi aneh benda itu lenyap bigitu saja. Setelah lelah mencari, kemudian mereka berduapun naik ke daratan. Alangkah terkejutnya mereka ketika dihadapannya ada Kera. Demikian juga ketika mereka melihat Dewi Anjani, mukanya telah berubah menjadi kera. Dewi Anjanipun ketakutan melihat ada 2 ekor kera dihadapannya.
    Tak lama kemudian maka Resi Gautamapun muncul dan berkata : Guwarsa, Guwarsi, dan engkau juga Anjani, kemarilah. Barulah mereka menyadari bahwa mereka bertiga telah terkena kutukan menjadi kera, seperti yang dikatakan ayahnya.
    Kejadian ini sudah merupakan pepesten dari Yang Maha Kuasa, maka kalian tidak dapat mengingkarinya. Untuk kembali normal menjadi manusia maka kalian harus melakukan tapa brata. Dan untuk Guwarsa dan Guwarsi, untuk selanjutnya namamu diganti menjadi Subali dan Sugriwa.
    Wah ceriteranya masih panjang, nanti dimarahi Ki Gede.
    Singkatnya, di jaman Modern ini CMA bukanlah barang langka. Tiap orang bisa memilikinya. Dan semakin mutakhir cakupannya semakin luas yang tadinya hanya 1GB, maka kemudian keluar 2GB, 4GB, 8GB, dan terakhir aku dengan sudah ada Flash Disc yang kemampuannya 50GB.
    Ki Truno Podang

  10. absen dulu mumpung weekend….kok temen2 baru dikit yang antri ya? ayo donk buruan ngantri biar ki GD cepet ngeluarin aji2 ke 80nya

    Nuwun
    Ro_Man

  11. aku juga ikut jaga disini lho setelah semalam begadang menghabiskan dua buku

  12. @ Ki Truno Podang
    Kiranya Cupu Manik Astagina bukanlah Flashdisk, namun Handphone 3G 😀

  13. Ikut absen para kadang & sedulur.
    Ternyata padepokan ini telah semakin ramai & meriah suasananya.
    Terlebih lagi dengan hadirnya Ki Truno Podang, yang dengan sangat piawai mengeluarkan jurus jurus simpanannya.

    Maju terus ADBM..

  14. @Ki Truna,
    kalau menurut cerita versi lain, akhirnya ketahuan bahwa CMA itu milik Dewi Indradi, ibu ketiga anak tadi. Dewi Indradilah yang diam saja ketika ditanya Resi Gotama, karena hendak merahasiakan si pemberi, yakni Bathara Surya, yang memberikan kepadanya ketika ia masih sebagai bidadari di kayangan.

    Karena marahnya, maka terlepas kata-kata Resi Gotama:
    “Indradi, mengapa diam saja? Kau seperti patung ..!”
    Akibatnya, perempuan itu lalu menjadi patung besi.

    Patung ini kelak akan berubah kembali menjadi bidadari Dewi Indradi, ketika dipergunakan oleh Anoman -yakni cucu Indradi dari Anjani- untuk memukul mati Patih Prahasto (?), musuhnya dalam perang di Alengkadireja.

    Wah, jadi keasikan ngobrol, nih. Nuwun sewu Ki GD, ngobrol sambil ngantri. Mudah-mudahan nggak kemasuk dalam siarane FM 80,81 …

  15. absen..
    turut stay tune di 80,81 FM, nunggu kelanjutan sandiwara radio ADBM…

  16. 80,81 FM ?
    Ehm…Future Moving kah?
    Achik euy, dapat 2 jilid…

  17. Rara Wilis pun dengan lincahnya menggerakkan pedangnya dengan ilmu yang khusus. Ujung pedang yang tipis itu selalu bergerak-gerak dengan cepatnya. Kalau Jaka Soka dapat bertempur seperti Ular yang membelit, melingkar untuk kemudian meloncat, mematuk dengan ujung pedangnya, maka Rara Wilis berhasil melawannya seperti seekor sikatan yang dengan lincahnya menari-nari dengan sayap-sayapnya yang cepat cekatan. Demikian ia meloncat-loncat seperti anak-anak yang menari-nari riang namun ketika tiba-tiba seekor ular mematuknya, cepat-cepat ia meloncat melenting, untuk kemudian dengan lincahnya, ujung pedangnya menyambar lambung lawannya. Dengan demikian, maka keringat yang dingin segera mengalir membasahi pakaian Jaka Soka yang gemebyar karena tretes intan pada timang dan anak kancing bajunya. Tiba-tiba ia merasa malu. Seandainya gadis itu benar-benar dapat dibawanya ke Nusakambangan, bahkan seandainya gadis itu bersedia untuk menjadi isterinya, maka apabila pada suatu saat timbul perselisihan antara mereka, meskipun tidak terlalu tajam, maka apakah ia mampu untuk mengatasinya. Karena itu kemudian yang menjalar dalam hati Jaka Soka bukan lagi perasaan seorang laki-laki terhadap seorang gadis seperti beberapa saat yang lampau. Ketika jiwa Jaka Soka telah benar-benar terancam, maka yang ada di dada Jaka Soka kemudian adalah kemarahan yang menyala-nyala. Dengan setinggi gunung atas kematian gurunya, Nagapasa. Karena itu, ia harus membunuh siapa saja yang dapat dibunuhnya. Juga gadis yang garang ini harus dibinasakan.

    Demikianlah, kemudian Jaka Soka telah kehilangan kegairahannya. Ia sudah tidak lagi melihat seorang gadis cantik yang mempesona, tetapi yang tampak adalah seorang yang berbahaya bagi jiwanya. Namun ternyata seimbang dengan itu, Rara Wilis bertambah marah pula. Baginya pertempuran kali ini adalah pertempuran yang menentukan. Kalau ia terbunuh, biarlah ia mengorbankan dirinya, namun kalau ia berhasil membinasakan laki-laki itu, maka ia akan terbebas dari kecemasan dan kengerian yang mengejar-ngejarnya sepanjang umurnya. Tetapi berbeda dengan mereka berdua. Mantingan benar-benar dalam keadaan yang sulit. Meskipun ia telah melawan Lawa Ijo dalam puncak ilmu Pacar Wutah, namun Lawa Ijo benar-benar memiliki beberapa kelebihan daripadanya. Lawa Ijo itu dapat ilmu yang paling licik disamping ilmunya yang memang dahsyat dan bertempur dengan segala macam cara. Yang paling kasar, sampai yang menakutkan. Setapak demi setapak Mantingan terdesak terus. Hanya karena ketabahan dan kepercayaannya pada Kekuasaan Yang Tertinggi, ia masih mampu bertahan dalam ketenangan. Melihat keadaan itu, Widuri menjadi cemas. Ia telah kehilangan sifat kenak-kanakannya dalam keadaan bahaya yang benar-benar mengerikan seperti saat itu. Karena itu, dengan penuh tekad dan keberanian, mendidihlah darah Pengging Sepuh di dalam tubuhnya

  18. kok belum on air yach FM80,810nya, padahal aku wis ngenteni lho

  19. Selamad sore, saya ikud ngantri Ki Gede

    Tapi kok ini mencurigakan, kenapa ditulis 80,81FM?
    apakah akan diturunkan 2 kitab sekaligus?

    xixixi
    Ki KontosWedul

  20. Mencurigakan…dengan tulisan 80,81 FM ? Apa bener akan keluar 2 jurus sekaligus ? Apa para cantrik bisa menguasai dan sanggup ?
    Kita perlu bertanya pada Ki Waskita !

    Ki GeDe….saya absen.

  21. 80…81…apa ini salah satu upaya Ki GD agar jilid 1 rampung akhir thn ini…hmm…,smoga sj bs menjadi kenyataan…,dan smoga sj plsnya ckp untuk donlod 2 kitab…(harap2 cemas,,cemas2 tp tetep berharap).

  22. “Sepertinya Ki GD memang sdg mempersiapkan 2 jurus sekaligus, dan aku yakin jilid I ini akan selesai tahun ini dgn setengah juta cantrik” ………..

  23. “hmmm… malam semakin larut, tetapi blm nampak ada tanda2 kecuali covernya”

  24. resah dan gelisah….,stay tune disini…,disudut mataram tempat yg kau janjikan…,untuk segera dunlut kitab 80,,,syukur2 81 jg….

  25. Cleret tahun meliuk-liuk semakin membesar melibas segala jenis benda yang dijumpainya. Pohon beringin, kelapa, jati terabut hingga akarnya seakan ada kekuatan raksasa yang mencabutnya. Suara bersuitan terdengar sangat mengerikan. Gulungan hitam yang melanda seolah ibarat jari-jari raksasa yang sedang mengaduk jagat raya. Namun tiba-tiba saja pusaran angin itu membentur suatu benda kasat mata yang tidak nampak bentuk wujudnya. Seolah ada tembok raksasa yang menahannya.

    “Gila” desis Parameswara kaget setengah mati . “Ilmu apa ini..?”

    Ki Waskita memandang cleret tahun yang sangat mengerikan sambil bersedekap. Ia mulai menerapkan ilmunya hingga perlahan-lahan suara dan bentuk angin puting beliung itu menjadi hilang. Keadaan menjadi sangat porak poranda setelah reda. Batu-batu karang sebesar kerbau bergulingan dimana-mana.
    “Hai anak muda. Apakah yang kau inginkan atas mainan anak-anak seperti itu?” menggema suara Ki Waskita.

    “Ki Waskita..!!” desis Parameswara terbelalak memandang orang tua yang sedang bersedekap di atas sebuah bongkahan batu karang yang masih utuh.

    “Maaf Ki.. Aku tidak bermaksud membuat bencana di pedukuhan ini. Aku hanya ingin mencoba menarik pusaka jilid 80 dan 81 melalui cleret tahun ku ini” jawab Parameswara seperti tidak percaya atas penglihatan nya.

    “Harap diketahui ngger, tanpa cleret tahun itu pusaka jilid 80,81 pasti akan muncul. Jadi tidak perlu dipaksakan dengan cara menariknya melalui pusaran angin beliung seperti itu. Hal itu malah akan merusak lembar demi lembar halaman didalamnya” Ki Waskita berkata seraya menghelas napas panjang.

    “Perlu angger ketahui, doa para cantrik di padepokan ADBM lebih dasyat dari pada ilmu angger. Apalagi disana terdapat para sepuh seperti Ki Truno Podang, Ki Pandanalas dan Ki Maswal selaku kuncen. Juga beberapa pengamat lain seperti Ki Kontos dan para cantrik lainnya yang selalu hadir disetiap waktu. Segenap doa dan komentar selalu dipanjatkan. Dan hal itu dipercaya oleh Ki GD sebagai pendorong semangatnya untuk segera menurunkan kitab 80,81 beserta kitab lainnya sampai tuntas seluruhnya. Makanya sing sareh ngger…”

    Bukan begitu Ki GD ??

  26. Tak kiro Ki GD kesaren ki.

    “Ki Sukr@,… ndang digugahno, wis ditunggu poro cantrik”

  27. Alhamdulillah.

    Baru bisa ngantri dapat nomor 27, ternyata loket belum buka.

    Kapan ya loketnya dibuka.

  28. Wah,.. di Bogor untuk frekuensi 80.81 FM ngga ketangkep neh sinyalnya… Apa mungkin sudah malam atau memang blom on air yah?

  29. Masih lamakah???

    Ngaso dulu ah…..

  30. tambah rame menawi wonten kotak unen2x (online chat box) Ki Gedhe, online sareng2x kaliyan wedangan sere, jenang alot

  31. Ki Aulinda & Ki Dewo, hari ini saya dengan Ki Ony telah berhasil copy darat dengan sukses di Botani Square. Saya telah dibekali ADBM Jilid IV No.1-50 untuk discanning, apa bisa turut membantu?

    Makasih banyak Ki Ony, atas kepercayaannya. Baru sekali bertemu langsung mengamanahkan sekian banyak buku.

    GD: Yang seri II ada nggak?

  32. Wah,.. Selamat deh atas keberhasilannya. Tau begitu saya ikutan kopdar, hehehe.

    Rasanya sih bisa langsung di mulai tuh Ki Alphonse. Dengan demikian Ki GD sudah bisa menjadwal kembali proyek ambisius ini. Lumayan jadi tambah lengkap pustaka ADBM kita. Monggo Ki GD bisa berhubungan dengan Ki Alphonse untuk rencana selanjutnya.

    Sekali lagi terima kasih untuk Ki Ony atas kepercayaannya dan untuk Ki Alphonse atas dukungannya.

    Salam, Aulianda – salah satu cantrik bogor

  33. Ki Truno Podang lan Ki Truno Prenjak,..mbok ngoyo-woro maneh sinambi nunggu Ki GD mengudara neng 80,81 FM

  34. Wah channal 80,82 FM masih gemrungsung alias blm jelas ya siarannya…?

  35. KI Alfons
    Lha kopdar kok ga bilang2…., biar macet sumacet di bogor …, bisa lah kalo mampir ke BS sih…
    Ntar saya jemput bbrp jilid buat ujicoba sken…

  36. fu fu fu..,agaknya penyiarnya semalem ketiduran neh.., sehingga lupa menyiarkan sandiwara radio ADBMnya..,
    masih stay tune aja deh…,kali aja langsung menyiarkan 3 episode tanpa iklan..;D

  37. “Hmmm,… agaknya gerombolan Lowo Ijo masih berkeliaran di Mentaok shg Ki GD tidak dpt melanjutkan usahanya”

  38. hmmm..ternyata siarannya tertunda…..,smoga sj semata2 karna alasan teknis belaka…,

  39. wah virusnya jos gandos

    ampe kitap 80 hilang tak berbekas

  40. wuuuih, gada rujakpolo komentare ora mlebu! dadi godo rujak cingur ki

  41. Sambil menunggu Bus 80 kita nonton layar tancep dulu yuk!!!!
    Dongengan tentang Mas Karebet yang suka Wanita, dikisahkan dalam Babad Banyumas berikut ini.

    Tidak lama kemudian, Sultan Pajang meminta kepada seluruh adipati bawahannya agar mengirimkan seorang putri untuk dijadikan “pelara-lara”. Sang Adipati Wirasaba (Banyumas) mengirimkan putri bungsunya (bekas menantu Ki Demang Toyareka) kepada Sultan Pajang. Putra Demang Toyareka amat marah mendengar bekas istrinya diserahkan kepada Sultan Pajang. Oleh karena itu, ia bersama lima orang pengiringnya pergi ke Pajang untuk meminta keadilan Sultan Pajang. Kemudian orang-orang Toyareka berjemur di dekat pohon beringin kembar dan diperiksa oleh gandek. Putra Demang Toyareka menyatakan bahwa istrinya diserahkan kepada Sultan oleh Sang Adipati Wirasaba.

    Pengaduan itu kemudian dilaporkan kepada Sultan. Sultan sangat marah dan menjatuhkan hukuman mati bagi Adipati Wirasaba yang sedang dalam perjalanan pulang menuju Wirasaba setelahmenyerahkan putrinya. Sultan bagai keranjingan iblis tanpa memeriksa wanita yang bermasalah itu. Lalu, beliau mengirimkan tiga orang gandek untuk melaksanakan eksekusi terhadap Adipati Wirasaba dimanapun dapat ditemukan.

    Sultan pulang ke istana dan memeriksa putri Wirasaba. Ternyata pengaduan putra Demang Toyareka tidak benar. Sang Adipati Wirasaba tidak bersalah. Karena itu, Sultan mengirimkan kembali tiga orang gandek untuk mencegah hukuman mati yang ditimpakan kepada Adipati Wirasaba.

    Hari Naas Sabtu Paing

    Sementara itu Adipati Wirasaba dalam perjalanannya pulang mampir di rumah sahabatnya, yaitu Kiai Ageng Bener. Di situ, Sang Adipati disuguh nasi dengan lauk pindhang banyak dan duduk di bale bapang (bale malang). Ketika sedang menikmati hidangannya, Sang Adipati melihat ada tiga orang gandek menyusulnya. Sang Adipati menanyakan keperluan mereka. Namun, ketiga orang gandek itu mempersilahkan Sang Adipadi untuk menyelesaikan hidangannya.

    Pada saat itu, tiga orang gandek yang menyusul telah datang. Mereka melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan agar hukuman mati dibatalkan. Tetapi ketiga gandek yang sedang menunggu Sang Adipati tidak tahu isyarat itu. Bahkan isyarat itu dianggap sebagai tanda untuk segera melaksanakan perintah Sultan Pajang. Sudah menjadi takdir, Sang Adipati ditusuk dadanya dan luka parah. Di situ, kedua rombongan gandek bertengkar saling menyalahkan. Meskipun luka, Sang Adipati sempat menasehati mereka agar tidak bertengkar dan melaporkan kepada Sultan bahwa hukuman mati telah dilaksanakan tanpa dicegah oleh gandek yang datang kemudian. Sang Adipati juga menyatakan bahwa kesalahpahaman gendek dan perintah Sultan adalah sarana takdir atas kematiannya.

    Sebelum meninggal, Sang Adipati memberikan pamali kepada keturunannya :

    anak putu aja ana kang met mantu/

    wong ing Toyareka benjing/
    (Jangan mengambil menantu anak keturunannya Demang Toyareka).

    lan aja nganggo ing besuk/

    jaran wulu dhawuk abrit/
    (Dibelakang hari jangan memakai kuda abu2 sedikit kemerahan)

    poma ing wawekas ingong/
    (Jangan lupa pada pesan saya ini/ingong = inyong = saya)

    awan aja nganggo bale bapang besuk/
    (Juga jangan menggunakan ruang tamu yang melintang)

    lan aja ana kang mangan/

    iwak banyak wekas ingsun/
    (Juga jangan ada yang makan daging bebek, pesan saya)

    aja lungan dina pahing/
    (jangan bebergian di hari pasaran pahing)

    poma iku wekas ingong//

    Pamali Sakral

    Legenda hari pasaran pahing memang tidak terlepas dari keempat pamali lainnya, bahkan kelima pamali itu merupakan pamali sakral dan bukan pamali yang profan. Kelima pamali itu merupakan satu kesatuan yang saling berinterrelasi dan memunculkan makna yang utuh.
    Bagi yang meyakininya.
    Ki Truno Podang

  42. waduh saya doyan banget makan bebek goreng

  43. apa mas yayan jg keturunan adipati wirasaba…

  44. Terima kasih Ki Gede

  45. waduh bebek goreng di daerah Barata Jaya, maknyuss tenan.

  46. Ah.. Parameswara sang Beliung dari timur telah muncul.
    Agaknya Tokoh cerita dari Solopos itupun ingin memiliki
    kitab2 sakti dari padepokan ini juga..
    Hmm.. Berbahaya sekali klw Ken Arok pun juga muncul disini. Akan timbul perang besar..

  47. Wah..mantap sudah ada sampai nomor 80, meski belum dikoreksi. Ikutan nongkrong …… waiting…waiting …

  48. Amemelu ngantri maneh

  49. Kiai Gringsing……….
    buka dulu topengmu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: