Buku 79

Para pengawal Mataram yang mendengar ceritera itu pun menjadi heran. Menurut pengawal yang dua itu, Kanjeng Sultan Pajang tidak berbuat apa-apa, meskipun mereka tidak tahu pasti keseluruhan persoalan.

Namun mereka pun menjadi panas mendengar bahwa ada orang yang telah mencegat Ki Gede dan melukainya. Ki Gede bagi mereka adalah pemimpin, orang tua dan Panglima yang tiada bandingnya.

Tetapi mereka telah dihadapkan pada suatu kenyataan. Dan mereka pun membayangkan bahwa orang-orang yang telah melukai Ki Gede itu pun adalah orang-orang yang luar biasa pula.

“Raden Sutawijaya dan Untara sama sekali tidak boleh mengejar mereka ketika mereka melarikan diri,” berkata pengawal yang telah ikut bertempur.

“Kenapa?”

“Justru karena keduanya tidak akan dapat mengimbangi kemampuan orang-orang itu.”

“Kenapa tidak seluruh pasukan?”

“Yang lain masih harus bertempur dengan pengawal-pengawal orang-orang yang telah melukai Ki Gede itu.”

Orang-orang yang mendengar ceritera itu pun mengangguk-anggukkan kepala mereka. Ternyata bahwa di luar Mataram masih ada juga orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Namun hampir di luar sadar mereka, mereka pun menilai para senapati yang masih ada di Pajang. Di Pajang tentu tidak hanya satu dua orang saja yang memiliki kemampuan seperti Ki Gede Pemanahan. Apalagi para bupati dan adipati yang masih tetap setia kepada Pajang sampai saat itu.

Para pengawal Mataram itu telah didorong untuk menilai keadaan mereka. Menilai kekuatan Mataram dibandingkan dengan Pajang.

“Seperti sebuah mentimun dibandingkan dengan sebuah durian,” berkata para pengawal itu di dalam hatinya

Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa Mataram memang sudah berdiri. Mataram semakin lama menjadi semakin ramai dan semakin besar.

“Mataram harus membina dirinya sendiri,” tekad itu agaknya telah bergetar di jantung para pengawal.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan langsung memasuki bagian dalam rumahnya. Sutawijaya yang cemas memapahnya dan membawanya ke dalam biliknya. Perlahan-lahan dilayaninya Ki Gede duduk di pembaringannya.

Dengan nafas yang terengah-engah Ki Gede berkata, “Ternyata aku masih sempat sampai ke bilik ini lagi.”

Sutawijaya yang kemudian duduk pula di sebuah dingklik kayu di sebelah Ki Lurah Branjangan pun bergeser mendekat. Katanya, “Sebaiknya Ayah beristirahat sepenuhnya. Ayahanda tidak usah memikirkan apa pun juga yang terjadi. Baik di Mataram maupun di Pajang.”

Ki Gede menganggukkan kepalanya. Namun jawabnya, “Aku tidak apa-apa Sutawijaya. Lukaku tidak begitu parah.”

“Tetapi Ayahanda kelihatan sangat letih.”

“Ya. Aku memang letih sekali.”

“Aku akan memanggil dukun yang paling baik yang ada di Mataram untuk mengobati luka Ayahanda.”

Ki Gede merenung sejenak, lalu, “Lukaku tidak apa-apa, Sutawijaya.”

“Meskipun demikian, tetapi luka itu harus diobati.”

Ki Gede Pemanahan tidak menyahut. Sambil menarik nafas dalam-dalam ia kemudian berdesis, “Aku akan berbaring.”

Sutawijaya kemudian membantu Ki Gede yang berbaring sambil berdesis. Lukanya tidak begitu terasa sakit. Tetapi karena darahnya yang terlampau banyak mengalir dari luka itu sebelum dipampatkan, maka rasa-rasanya tubuh Ki Gede menjadi lemah sekali.

“Aku akan tidur,” berkata Ki Gede.

“Para pelayan sedang menyiapkan minuman panas dan makan bagi Ki Gede,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Terima kasih,” Ki Gede berdesis, lalu, “aku memang haus sekali.”

Ki Lurah Branjangan pun segera pergi ke luar untuk memanggil pelayan yang tengah menyiapkan makan dan minum Ki Gede Pemanahan.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian membawa semangkuk minuman hangat ke dalam bilik dan dengan hati-hati membantu Ki Gede yang bangkit sejenak untuk menghirup minuman yang terasa menyegarkan tubuhnya.

“Apakah Ki Gede juga akan makan?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Suruhlah menyediakan, Ki Lurah,” sahut Ki Gede.

Ki Lurah Branjangan pun kemudian pergi ke luar bilik itu untuk menyediakan makan bagi Ki Gede pemanahan.

Sementara itu, tinggal Sutawijaya-lah yang masih ada di dalam bilik ayahnya yang sedang berbaring diam itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan itu perlahan-lahan, “apakah kau tidak ingin mendengar ceritera perjalananku pada saat aku menghadap Kanjeng Sultan Pajang?”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Ada keinginannya untuk mendengar sikap Sultan Pajang, tetapi ada juga keragu-raguan di dalam hatinya.

Namun demikian ia kemudian menjawab, “Tentu, Ayahanda.”

“Baiklah, Sutawijaya. Yang penting, bahwa sikap dan keputusan yang diambil oleh Kanjeng Sultan di Pajang itu jauh berbeda dengan angan-anganku pada saat aku berangkat. Namun justru karena itu, aku telah mengalami kejutan yang tiada taranya.”

Sutawijaya masih tetap menundukkan kepalanya. Ki Gede pun kemudian menceriterakan perjalanannya menghadap Sultan Pajang, dan sekaligus sikap dan keputusan yang diambil oleh Sultan Pajang itu.

“Jika aku dihukum, rasa-rasanya kesalahanku telah aku bayar lunas. Tetapi kini Sultan Pajang seolah-olah membiarkan aku selalu dikejar oleh perasaan bersalah dan berhutang budi,” berkata Ki Gede kemudian.

Sutawijaya masih tetap duduk diam di tempatnya.

Ki Gede pun kemudian mengisahkan perjalanannya kembali, dan diceriterakannya pula pertempuran yang terjadi di tepi Kali Opak itu sejak permulaan sampai Sutawijaya datang.

Dengan saksama Sutawijaya mendengarkan ceritera ayahandanya. Dicobanya untuk mengurai persoalan yang telah terjadi itu.

“Itulah sebabnya aku merasa bahwa hutangku kepada Sultan Pajang rasa-rasanya menjadi semakin bertimbun,” desis Ki Gede kemudian.

Tetapi ternyata Sutawijaya tidak menanggapinya. Bahkan keningnya nampak berkerut membayangkan ketegangan di dalam dadanya.

Ki Gede Pemanahan dapat menangkap sesuatu yang lain di dalam diri Sutawijaya sehingga ia pun kemudian bertanya, “Apakah kau mempunyai penilaian yang lain Sutawijaya?”

Sutawijaya menjadi ragu-ragu. Karena itu, ia tidak segera menyahut. Bahkan rasa-rasanya keringat dinginnya mulai mengalir di tubuhnya. Dengan susah payah ia berusaha untuk mengarahkan angan-angannya sendiri, sesuai dengan tanggapan Ki Gede Pemanahan. Namun setiap kali telah memercik tanggapan yang jauh berbeda.

Ki Gede Pemanahan menunggu sejenak. Namun terasa bahwa memang ada sesuatu yang lain pada anak laki-lakinya itu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede kemudian, “kenapa kau diam saja?”

“O,” Sutawijaya tergagap. Dengan serta-merta ia ber-desis, “begitulah, Ayahanda.”

“Kau tidak berkata sebenarnya,” tiba-tiba saja Ki Gede bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “ada sesuatu yang berbeda dengan penilaianmu.”

“Tidak. Tidak ada yang lain, Ayahanda.”

“Sutawijaya,” suara Ki Gede menjadi dalam, “aku orang tua, Sutawijaya. Aku dapat membedakan tanggapan seseorang. Jika yang aku katakan sesuai dengan perasaanmu, maka tanggapanmu tentu akan langsung terungkap di dalam kata-kata dan sikapmu. Tetapi agaknya bukan begitu. Sikapmu, kata-katamu dan bayangan wajahmu menunjukkan yang lain itu kepadaku.”

Sutawijaya tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk semakin dalam.

“Katakanlah sutawijaya. Aku tetap menganggapmu bahwa, kau sudah cukup dewasa untuk menentukan sikap. Mungkin sikap kita sekarang ada yang berbeda. Itu tentu wajar, karena aku dan kau adalah dua pribadi yang terpisah. Jika sampai saat ini di antara kau dan aku tidak ada perbedaan apa-apa, itu bukan karena setiap persoalan menimbulkan tanggapan yang sama di dalam hati kita, tetapi justru karena kau adalah anakku, yang di dalam beberapa hal tentu akan menurut saja pendapatku dan sikapku daripada bersikap atas pribadimu sendiri.”

Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Sutawijaya,” Ki Gede melanjutkan, “daripada sampai masa yang panjang hal ini akan tetap merupakan teka-teki bagiku, maka sebaiknya, katakanlah. Bagaimanakah sikapmu atas persoalan ini.”

Sutawijaya masih ragu-ragu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede pula, “bukankah kau sudah berani menyatakan perbedaan sikapmu pada saat aku pergi ke Pajang? Kau tetap pada pendirianmu, bahwa kau tidak akan bersedia pergi, dan kau tetap pada sikap itu ketika aku pergi seorang diri dengan dua orang pengawal. Meskipun ternyata kemudian firasatmu telah menuntun kau menyongsong aku pulang, dan menemukan aku dalam bahaya. Tetapi betapa pun juga kau tetap tidak mau menghadap ke Pajang.”

Sutawjaya mengangguk kecil.

“Nah, sekarang kau dapat menyatakan pendapatmu pula?”

“Ayahanda,” suara Sutawijaya dalam, “aku mohon maaf, Ayahanda, bahwa aku memang mempunyai tanggapan lain atas peristiwa yang baru saja terjadi.”

Ki Gede Pemanahan menarik keningnya, lalu katanya, “Bukankah hal itu wajar? Nah, katakanlah.”

“Ayahanda, apakah Ayahanda percaya bahwa Ayahanda Sultan di Pajang benar-benar tidak marah karena peristiwa itu?”

Ki Gede Pemanahan berpikir sejenak. Namun pengalamannya dan pengenalannya atas Sutawijaya segera membimbingnya pada suatu kesimpulan tentang sikap Sutawijaya. Karena itulah maka dadanya menjadi berdebar-debar.

“Apakah yang kau maksudkan sebenarnya, Sutawijaya? Apakah kau menganggap bahwa Sultan Hadiwijaya hanya sekedar berpura-pura saja?”

“Ayahanda. Jika Ayahanda Sultan Hadiwijaya benar-benar tidak marah dan tidak mengambil tindakan apa pun terhadap aku, itu pertanda bahwa Ayahanda Sultan Hadiwijaya tidak adil. Ia menandai pemerintahannya dengan kepentingan diri sendiri.”

“Kenapa mementingkan diri sendiri? Bukankah dengan demikian justru menunjukkan bahwa ia seorang Raja yang berjiwa lapang?”

“Tidak, Ayah. Ia hanya mementingkan diri sendiri. Mementingkan keluarganya sendiri, karena aku adalah anaknya, meskipun sekedar anak pungut. Apakah Sultan Hadiwijaya akan berbuat sama jika yang melakukan itu orang lain? Bukan keluarganya, bukan anak angkatnya?”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Kau tentu belum selesai, teruskan.”

Sutawijaya justru termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Ya, Ayah. Aku memang belum selisai.” Sutawijaya menelan ludahnya, lalu, “Seharusnya seorang raja yang adil menghukum siapa saja yang bersalah.”

“Kau juga minta dihukum?”

“Setidak-tidaknya ada keputusan bahwa aku harus dihukum. Mungkin aku akan melarikan diri atau mengambil sikap yang lain.”

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede, “tentu kau masih ingat, apa yang dilakukan olea Sultan Hadiwijaya semasa ia masih selalu dibayangi oleh perpecahan dan perang saudara. Arya Penangsang telah mengirimkan beberapa orang, bahkan dengan pertanda kebesaran Jipang, pusaka keris yang disebutnya Brongot Setan Kober. Orang-orang itu berhasil memasuki bilik tidur Sultan Hadiwijaya. Tetapi mereka gagal membunuh. Bahkan kemudian mereka dapat ditangkap. Kau ingat?”

“Ayahanda-lah yang menangkapnya.”

“Aku beserta beberapa orang prajurit,” sahut Ki Gede. “Namun ternyata orang-orang itu juga tidak dihukum. Orang-orang itu masing-masing menerima hadiah dari Kanjeng Sultan.”

“Tetapi nilai hadiah itu sangat berbeda dari ujudnya. Hadiah itu justru suatu alat untuk merendahkan Pamanda Arya Penangsang. Justru hadiah itu suatu hukuman yang paling berat bagi Pamanda”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Sutawijaya memang bukan anak-anak lagi. Ia memiliki pengamatan yang tajam. Hadiah bagi orang-orang yang akan membunuh Sultan Hadiwijaya itu memang salah satu cara yang dipergunakan oleh Sultan Hadiwijaya untuk membakar hati Arya Penangsang, yang memang seorang yang mudah sekali menjadi marah dan kehilangan pertimbangan yang bening.

“Karena itu, Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “apakah kita yang mengenal Ayahanda Sultan sejak lama dapat menganggap bahwa sikapnya itu sebagai suatu sikap yang jujur?”

Ki Gede termenung sejenak. Namun dengan hati yang suram ia berkata, “Kau benar, Sutawijaya. Memang saat itu Sultan Hadiwijaya sengaja melemparkan tantangan bagi Arya Penangsang karena kemarahannya, bahwa Arya Penangsang telah mencoba membunuhnya. Tetapi aku kira kali ini ia berbuat lain. Aku melihat pengampunan yang tulus memancar dari sorot matanya.”

“Adalah sangat sulit membedakan, yang manakah yang dinyatakan dengan tulus dan jujur, dan yang manakah yang sekedar untuk memancing pertengkaran seperti yang dilakukan terhadap pesuruh Arya Penangsang. Sureng yang mendapat tugas untuk membunuhnya itu memang tidak berharga sama sekali bagi Ayahanda Sultan sehingga mereka tidak perlu dibunuhnya, dan justru dipergunakan sebagai alat untuk memancing kemarahan Pamanda Arya Penangsang.”

“Sutawijaya,” suara Ki Gede menurun, “kau terlampau berprasangka terhadap ayahandamu. Bagi kita Sutawijaya, apakah keuntungan Sultan untuk berbuat dengan pura-pura. Pada masa pertentangan antara Pajang dan Jipang, keadaan belum meyakinkan seperti sekarang ini. Pajang belum terlampau kuat, dan Jipang masih nampak besar. Sikap para Adipati masih belum pasti, sehingga Sultan Hadiwijaya harus sangat berhati-hati menghadapi Jipang. Tetapi tidak dengan adbmcadangan.wordpress.com Mataram. Mataram tidak lebih dari sebuah ranti masak yang berada di sisi sebuah durian. Jika durian itu berguling, maka akan lumatlah buah ranti itu.”

“Tidak, Ayahanda. Di Mataram ada Ayahanda. Dan Ayahanda adalah orang yang sangat disegani di Pajang. Para Adipati mengakui kelebihan Ayahanda sebagai seorang panglima. Dan kini Ayahanda masih tetap merupakan hantu bagi mereka dan akhirnya juga bagi Pajang. Itulah sebabnya, maka Ayahanda-lah yang pertama-tama harus disingkirkan.”

“Maksudmu?”

“Ayahanda. Semua pihak berusaha untuk menarik Ayahanda. Orang-orang Panembahan Agung pun berusaha untuk memperalat Ayahanda. Mereka ingin menangkap aku hidup-hidup. Bukan karena aku mereka anggap orang penting, tetapi mereka ingin memeras Ayahanda dengan mempergunakan aku sebagai taruhan.”

Ki Gede Pemanahan tidak segera menyahut. Karena itu Sutawijaya berkata selanjutnya, “Ayahanda, maafkan aku, Ayahanda, bahwa aku mempunyai prasangka buruk terhadap sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya terhadap Ayahanda Pemanahan.”

Ki Gede masih merenung sejenak. Namun kemudian yang nampak pada sikap yang keras dari anak laki-lakinya itu adalah kesalahannya sendiri. Kesalahan Ki Gede Pemanahan sendiri. Pada saat perasaannya melonjak tidak terkendali, dan dengan diam-diam ia meninggalkan Pajang kembali ke Sela, maka pada saat itulah ia mulai meracuni hati Sutawijaya dengan ketidak-percayaan lagi kepada ayahanda angkatnya, Sultan Hadiwijaya.

Dengan demikian maka penyesalan itu terasa semakin pedih menusuk hatinya.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian, “aku sudah dapat membaca sikap dan tanggapanmu. Seperti yang dilakukan terhadap beberapa orang petugas yang dikirim oleh Arya Penangsang untuk membunuh Sultan itulah maka ia bersikap sekarang. Namun seandainya ia berhasil memancing kemarahanmu, apakah yang dimaksudkannya? Apakah ia mengharap kau marah, lalu dengan serta-merta mengangkat senjata untuk melawan Pajang, sehingga dengan demikian Sultan mempunyai alasan untuk menggilas Mataram yang sedang tumbuh ini?”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Ada sesuatu yang masih tersangkut di dalam dadanya. Tetapi ia ragu-ragu untuk mengucapkannya.

Ki Gede Pemanahan menangkap keragu-raguan itu. Karena itu maka katanya, “Sutawijaya, jika masih ada persoalan yang belum kau katakan, katakanlah sampai tuntas. Aku akan mencoba mengerti.”

Sutawijaya tidak segera menyahut. Namun nampak wajahnya menjadi tegang.

Untuk beberapa saat keduanya saling berdiam diri. Sutawijaya menjadi sangat gelisah. Ia ragu-ragu untuk menentukan sikap. Apakah ia akan mengatakan tanggapannya atas semua peristwa yang telah terjadi atau tidak.

Dalam pada itu, sebelum Sutawijaya mengatakan sesuatu. Ki Lurah Branjangan pun kemudian masuk ke dalam bilik itu sambil berkata, “Ki Gede. Makan telah tersedia. Apakah para pelayan harus membawarya masuk ke dalam bilik? Aku kira itu akan lebih baik bagi Ki Gede. Ki Gede tidak usah pergi ke ruang dalam, karena agaknya Ki Gede masih nampak terlampau letih.”

Ki Gede termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah, Ki Lurah. Suruhlah para pelayan membawa makanan itu masuk. Aku akan makan di dalam bilik ini.”

Ki Lurah Branjangan pun kemudian keluar untuk memanggil para pelayan. Sementara itu, Sutawijaya diam saja sambil menundukkan kepalanya. Ada sesuatu yang masih terasa menyangkut di dalam dadanya

Sejenak Ki Gede Pemanahan berdiam diri. Ia menunggu agar Sutawijaya mengatakan sesuatu yang masih tersisa dihatinya. Tetapi Sutawijaya tidak mengatakan sesuatu.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede, “masih ada waktu sebelum aku makan.”

Sutawijaya masih saja ragu-ragu sehingga nampaklah pada sikap dan wajahnya bahwa sesuatu memang masih tersangkut didadanya,

“Katakanlah, Sutawijaya,” desak Ki Gede.

“Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “memang masih ada sesuatu di hatiku. Tetapi aku ragu-ragu mengatakannya. Mungkin aku salah. Tetapi aku seakan-akan melihat, bagaimana hal itu sudah terjadi.”

Ki Gede Pemanahan memandang wajah anaknya sejenak, lalu, “Sebutlah.”

Sutawijaya memandang pintu sejenak seakan-akan ia tidak ingin ada orang yang yang mendengarnya, meskipun ia Ki Lurah Branjangan sekalipun.

Baru setelah ia yakin tidak ada seorang pun diluar pintu, maka ia pun berkata, “Ayahanda, seakan-akan aku melihat, bahwa yang terjadi di Prambanan itu adalah akibat dari sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

“Sutawijaya,” desis Ki Gede Pemanahan dengan wajah yang tegang. Bahkan di luar sadarnya ia berusaha bangkit. Namun kemudian ia terbaring lagi dengan lemahnya.

Sutawijaya bergeser maju. Sambil menahan lengan Ki Gede ia berkata, “Ayahanda. Sebaiknya Ayahanda tetap berbaring.”

“O,” Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian dengan nafas terengah-engah, seakan-akan ia baru saja selesai bertempur melawan orang-orang dari kaki Gunung Lawu, “katakan Sutawijaya.”

Sutawijaya menjadi semakin ragu-ragu. Namun ayahandanya mendesak, “Katakanlah, supaya aku tidak keliru menafsirkan dugaanmu itu.”

“Ayahanda,” berkata Sutawijaya, “memang pada bentuk lahiriahnya Ayahanda Sultan Hadiwijaya memaafkan segala kesalahanku. Tetapi mustahil bahwa Ayahanda demikian saja melupakan gadis dari Kalinyamat itu.”

“Jadi?”

“Ayahanda sudah mengatur semuanya. Juga orang yang berada di Kali Opak itu.”

Ki Gede Pemanahan diam bagaikan membeku. Hatinya serasa dibebani oleh berbagai macam persoalan yang hampir tidak dapat dipikulnya.

“Ayahanda, itulah sebabnya maka Untara hanya datang dengan pengawalnya yang sangat terbatas. Sedang pengawal-pengawalnya yang lain baru menyusul setelah terlambat.”

“O,” Ki Gede menekan dadanya.

“Maaf, Ayahanda. Aku tidak tahu, apakah aku benar. Tetapi seolah-olah aku yakin, bahwa sebenarnya Ayahanda Sultan sejak semula sudah tidak bersikap jujur terhadap kita.”

“Kenapa kau berpendirian begitu?”

“Ayahanda. Kenapa Ayahanda tidak segera memenuhi janjinya kepada kita. Hanya kepada kita, sedangkan janjinya yang lain sudah dipenuhi? Kenapa kitalah yang harus menerima daerah yang masih berupa hutan belukar dan apalagi Alas Mentaok. Kenapa bukan daerah yang sudah terbuka seperti Pati. Dan kenapa justru Pamanda Penjawi-lah yang menerima daerah itu lebih dahulu dari kita, itu pun jika Ayahanda Pemanahan tidak memaksa, daerah ini tidak akan diserahkannya.”

“Sutawijaya.”

“Dan kini, semuanya sudah sampai ke puncaknya. Memang aku merasa bersalah. Aku telah berhubungan dengan gadis yang sebenarnya telah disengker oleh Ayahanda Sultan. Tetapi, apakah seimbang, bahwa karena gadis itu Ayahanda Pemanahan harus dilenyapkan?”

“Kau salah Sutawijaya, kau salah,” suara Ki Gede agak mengeras. Namun kemudian suara menurun lagi, “Kau mempunyai tangkapan terlampau jauh atas sikap ayahandamu Sultan Pajang. Barangkali sudah pernah aku katakan kepadamu, bahwa aku menyesali perbuatanku yang tergesa-gesa pada waktu itu.”

“Maksud Ayahanda?”

“Sebenarnya buat apa Sultan mengingkari janjinya? Apalagi atas Alas Mentaok, sedangkan Pati yang ramai itu pun sudah diserahkannya kepada Adi Penjawi,” berkata Ki Gede. “Sutawijaya, barangkali sudah pernah aku katakan pula, bahwa sikap Sultan itu justru karena ia menganggap kau benar-benar sebagai anaknya. Bahwa bukan saja Alas Mentaok, tetapi mungkin sudah ada tempat yang diperuntukkan bagimu, bagi puteranya.”

“Tentu tidak, Ayahanda. Aku hanya sekedar anak angkatnya.”

“Tetapi kenapa kau berprasangka sampai sedemikian jauh, Sutawijaya.”

“Semuanya itu berdasarkan atas pengenalanku terhadap sifat dan sikap Ayahanda Sultan Hadiwijaya selama ini.”

“Tetapi kau salah sama sekali. Kali ini pun kau salah menilai keadaan seperti kesalahan yang pernah aku lakukan, sehingga aku meninggalkan Pajang. Untara adalah seorang prajurit jantan. Seandainya semuanya itu hanyalah permainan saja. Untara tidak akan sampai pada ujung nyawanya karena hampir saja ia terbunuh. Sehingga karena itulah maka pusakaku aku lepaskan dan mematuk salah seorang dari lawan Untara yang garang itu.”

Sutawijaya menundukkan kepalanya. Tetapi seakan-akan ia sama sekali tidak mempercayainya, ia tetap menganggap semuanya itu sebagai suatu permainan yang sempurna.

Itulah yang membuat Ki Gede Pemanahan sangat bersedih.

Ki Gede sudah dapat menangkap seluruh tanggapan Sutawijaya atas peristiwa yang terjadi itu. Sutawijaya menganggap bahwa sikap Sultan Hadiwijaya, yang seakan-akan memaafkan kesalahannya itu, sebagai sifat berpura-pura. Sementara itu, ia menyiapkan sekelompok orang yang harus membunuh Ki Gede Pemanahan. Untara harus berpura-pura menolongnya, tetapi prajuritnya mengalami kelambatan sehingga Ki Gede tidak dapat diselamatkan. Kemudian Sultan mengharap Sutawijaya menjadi marah dan dengan serta-merta mengangkat senjata melawan Pajang.

Dengan demikian, seandainya Sutawijaya dan Mataram yang baru berkembang itu hancur, maka persoalannya bukan semata-mata karena persoalan gadis yang seakan-akan telah dicuri oleh Sutawijaya itu.

Ki Gede Pemanahan berdesis tertahan. Bukan karena pedih lukanya, tetapi pedih di hatinya.

Sementara itu, maka Ki Lurah Branjangan pun memasuki ruangan itu bersama para pelayan yang telah menyediakan makan bagi Ki Gede Pemanahan.

Tetapi ternyata Ki Gede sama sekali tidak berminat untuk makan. Ketika dipaksanya dirinya bangkit perlahan-lahan dilayani oleh Ki Lurah Branjangan, dan menyuapi mulutnya dengan sesuap nasi, rasa-rasanya nasi itu tidak dapat lewat di kerongkongannya.

Sambil menggelengkan kepalanya Ki Gede berkata, “Aku belum ingin makan.”

“Ki Gede,” berkata Ki Lurak Branjangan, “sebaiknya Ki Gede makan meskipun hanya sedikit. Dengan demikian kekuatan tubuh Ki Gede akan menjadi bertambah baik.”

“Aku sudah mengerti, Branjangan. Aku juga sering menasehati demikian itu kepada orang lain yang sedang sakit. Tetapi ternyata mereka pun tidak dapat memaksa diri menyuapi mulut mereka.”

Ki Lurah Branjangan tidak dapat memaksa lagi. Karena itu ia pun kemudian duduk saja sambil merenungi Ki Gede yang sedang sakit.

Namun bagi Ki Lurah Branjangan, terasa bahwa sebenarnya Ki Gede tidak sedang menahan sakit di lukanya. Nampaknya Ki Gede justru tidak menghiraukan lukanya sama sekali.

“Tentu ada sesuatu yang mengganggu perasaannya,” berkata Ki Lurah Branjangan di dalam hati. “Agaknya perasaannya terasa lebih sakit dari lukanya itu sendiri.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan tidak berani menanyakannya kepada Ki Gede Pemanahan maupun kepada Raden Sutawijaya, karena ia tahu, bahwa persoalannya tentu berkisar kepada gadis Kalinyamat itu.

Setelah sejenak mereka saling berdiam diri, maka Ki Gede Pemanahan pun kemudian berkata, “Ki Lurah, suruhlah para pelayan menyingkirkan makanan itu. Tetapi biarlah mangkuk minuman itu tetap di situ.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain.

Setelah para pelayan menyingkirkan makanan yang seakan-akan tidak disentuh oleh Ki Gede, maka Ki Gede pun kemudian berkata, “Aku akan mencoba untuk beristirahat. Karena itu, tinggalkan aku sendiri.”

Ki Lurah Branjangan dan Raden Sutawijaya pun kemudian meninggalkan bilik itu. Dengan hati yang bimbang Sutawijaya berdiri sejenak di muka pintu. Namun kemudian ia pun melangkah pergi.

Sejenak anak muda itu merenungi dirinya sendiri. Ia pun menjadi heran, kenapa kepercayaannya kepada Ayahanda Sultan Hadiwijaya itu seolah-olah telah lenyap sama sekali. Sejak ayahandanya, Ki Gede Pemanahan memutuskan untuk meninggalkan Pajang, rasa-rasanya setiap tindakan, setiap keputusan dan kata-kata dari Sultan Hadiwijaya tidak lagi dapat dipercayainya.

Raden Sutawijaya terkejut ketika Ki Lurah Branjangan menggamitnya. Kemudian dengan ragu-ragu ia bertanya, “Apakah yang telah membuat Ki Gede nampaknya menjadi semakin murung?”

Raden Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Apakah aku tidak boleh mendengarnya?”

Sutawijaya masih ragu-ragu. Namun kemudian ia bertanya, “Ki Lurah. Apakah masih ada sisa kepercayaan kita kepada Ayahanda Sultan Hadiwijaya?”

Ki Lurah menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak mengerti maksud Raden.”

Raden Sutawijaya menarik nafas. Katanya, “Aku kira kau menggelengkan kepalamu karena kau sependapat dengan aku.”

“Aku masih belum mengerti.”

“Ki Lurah. Apakah kita masih dapat menganggap Sultan Hadiwijaya itu mengambil keputusan dengan jujur sejak kita meninggalkan Pajang dan membuka Alas Mentaok.”

“Kenapa tidak, Raden.”

“Jadi kenapa kau meninggalkan Pajang?”

“Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “Sultan Hadiwijaya bukannya tidak lagi dapat dipercaya. Tetapi menurut pendapatku. Sultan Hadiwijaya itu sudah berhenti. Batas kebesaran Pajang sudah tidak akan lagi berkembang. Maksudku, bukannya luas daerahnya, atau kekuasaannya atas rakyatnya. Tetapi Pajang tidak dapat membangun dirinya sendiri. Karena Sultan telah berhenti, maka gairah rakyatnya pun berhenti. Pajang tidak lagi berusaha membangun dirinya. Bendungan yang pecah tidak lagi mendapat perbaikan. Jalan yang terputus dibiarkannya. Penduduk yang berkembang tidak diimbangi dengan perkembangan tanah persawahan dan pategalan. Karena itulah, maka aku mencari adbmcadangan.wordpress.com tempat yang lebih hidup. Lebih banyak bergerak dan menggelegak. Dan aku menemukan tanah yang baru tumbuh ini. Tanah Mataram.”

Raden Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Dipandanginya Ki Lurah Branjangan dengan wajah yang tegang. Namun kemudian Raden Sutawijaya itu melontarkan tatapan matanya ke kejauhan.

“Paman,” berkata Raden Sutawijaya dengan nada datar, “ternyata aku mempunyai pendapat yang lain dengan Paman dan ayahanda. Tetapi aku tidak akan berpendapat bahwa pendapatkulah yang benar. Untuk sementara biarlah kita ada di dalam perbedaan itu. Mungkin di saat lain pendapat kita akan bertemu.”

“Maksud Raden?” bertanya Ki Lurah Branjangan.

“Aku meragukan kejujuran Ayahanda Sultan Hadiwijaya.”

“Itu wajar sekali, Raden,” berkata Ki Lurah Branjangan, “tetapi sebaiknya Raden memperhatikan perkembangannya lebih lanjut.” Ki Lurah Branjangan berhenti sejenak, lalu, “Maksud Raden tentang keputusan Ayahanda Sultan Hadiwijaya?”

Raden Sutawijaya tidak segera menjawab.

“Mungkin memang belum saatnya Raden mengatakannya kepadaku. Tetapi agaknya ada sesuatu yang kurang sesuai antara Raden dan Ayahanda Ki Gede Pemanahan.”

Raden Sutawijaya masih tetap berdiam diri.

“Baiklah, Raden menenangkan hati. Aku juga akan menghadap ayahanda dan mohon agar Ki Gede mencoba mengendapkan perasaannya. Ki Gede adalah seorang tua yang memiliki pengalaman lahir dan batin yang cukup luas.”

Raden Sutawijaya masih saja tidak menyahut.

“Sudahlah, Raden. Silahkan beristirahat. Raden pun tentu juga letih.”

Sutawijaya kemudian ditinggalkan oleh Ki Lurah Branjangan seorang diri. Hatinya yang memang sedang risau itu rasa-rasanya menjadi semakin risau. Ia diombang-ambingkan oleh gejolak perasaannya yang kadang-kadang tidak sejalan dengan nalarnya.

Tiba-tiba saja Raden Sutawijaya teringat kata-kata Ki Lurah Branjangan. Betapa pun juga, kelemahan ayahanda Sultan memang pada kelemahannya kini. Ia seakan-akan memang telah berhenti. Ia telah dijerat oleh kamukten yang membuatnya kehilangan gelora di masa mudanya.

Selagi masih muda, Sultan Hadiwijaya yang juga disebut Mas Karebet, dan juga dinamai Jaka Tingkir itu memiliki gelora yang bagaikan menyala-nyala di dalam dadanya. Seorang anak muda yang meledak-ledak dalam pencaharian dan pencapaian. Dan itulah yang telah menarik perhatian Sultan Trenggana dan mengangkatnya menjadi hamba yang sangat dekat padanya.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Seakan-akan ia telah mengulangi apa yang terjadi atas Sultan Hadiwijaya semasa mudanya. Dengan diam-diam Jaka Tingkir telah berhubungan dengan puteri Sultan Trenggana di Demak.

“Tetapi Sultan Trenggana mengusirnya dengan marah,” geram Raden Sutawijaya di dalam hatinya, “kenapa Sultan Hadiwijaya tidak mengusirku? Apalagi gadis itu bukan sekedar anaknya, tetapi justru akan diperisterikannya.”

Raden Sutawijaya menghentakkan tangannya. Dan ia pun berkata di dalam hatinya. “Jaka Tingkir yang juga disebut Mas Karebet itu dapat kembali ke istana karena ia berhasil menunjukkkan kemampuannya. Bukan sekedar karena belas kasihan. Apalagi belas kasihan yang tidak jujur dan sekedar merupakan perangkap.”

Tetapi Sutawijaya menjadi berdebar-debar. Ia mulai ragu-ragu atas prasangkanya sendiri, bahwa yang terjadi adalah perangkap semata-mata.

“Persetan,” Raden Sutawijaya menggeram, “apa pun yang terjadi, tetapi Mataram harus menjadi lanjutan dari gejolak dan gairah hidup yang pernah terpancar pada permulaan masa kekuasaan Sultan Hadiwijaya. Mataram tidak akan membiarkan Pajang berhenti. Seandainya Pajang akan berhenti, maka harus ada usaha agar perjuangannya dapat dilanjutkan, Mataram harus membangun dirinya menjadi negara besar. Lebih besar daripada Pajang tanpa menyerap kekuasaan yang ada di Pajang dengan paksa.”

Terasa jantung Raden Sutawijaya bergetar. Ia tidak lagi ingin dikungkung oleh perasaan kecewa dan gusar karena belas kasihan atau karena perangkap yang telah dipasang oleh Sultan Pajang. Yang penting baginya, seperti yang dikatakan oleh Ki Lurah Branjangan, adalah membangun Mataram di segala segi kehidupannya.

Tanpa sadar Raden Sutawijaya berdiri. Dipandanginya dedaunan hijau di halaman. Bayangan batang pepohonan yang bergerak-gerak disentuh angin.

“Di sinilah aku sudah mulai,” berkata Sutawijaya di dalam hatinya, “dan kerena itu, aku tidak boleh berkisar. Apa pun yang akan terjadi.”

Tekad itulah yang kemudian seakan-akan selalu memanasi darahnya. Darah mudanya yang menggelegak bagaikan mendidih.

“Darah ini tidak boleh membeku seperti darah Ayahanda Sultan Hadiwijaya betapa pun besar usahaku yang akan berhasil nanti. Mataram harus berkembang terus. Mataram harus membangun dirinya tanpa mengenal batas waktu.”

Dalam pada itu, peristiwa yang terjadi di tepi Kali Opak itu pun menjadi bahan pembicaraan di Jati Anom. Setelah Untara kembali bersama prajurit-prajuritnya, dan bahkan dengan beberapa orang korban, maka timbullah berbagai tanggapan atas kejadian itu.

Namun ada di antara mereka yang memang sengaja ingin mengeruhkan keadaan. Orang-orang itulah yang menyebarkan ceritera ngayawara. Ceritera yang sengaja untuk membakar hati orang-orang Pajang dan terlebih-lebih mereka tidak senang melihat Mataram mulai berkembang. Ceritera yang dianyam dan diramu menjadi sebuah ceritera yang menarik dalam susunan yang sempurna.

Untara sendiri terkejut ketika pada suatu saat seorang perwira bawahannya datang kepadanya dan bertanya, “Bagaimanakah yang sebenarnya terjadi di Kali Opak itu?”

Untara tidak segera menjawab. Tetapi karena wajah perwira itu nampak bersungguh-sungguh, maka ia pun kemudian menjawab, “Seperti yang pernah aku ceriterakan. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu dan kepada kawan-kawan kita semua.”

Perwira itu mengangguk-angguk. Namun ada sesuatu tersembunyi di balik tatapan matanya.

“Apakah ada sesuatu yang kurang mapan?” bertanya Untara.

“Kakang Untara,” berkata perwira itu, “di antara kita telah jatuh korban. Untunglah beberapa korban itu bukan Kakang Untara sendiri, meskipun Kakang Untara hampir menjadi korban pula.”

“Ya,” sahut Untara dengan ragu-ragu.

“Kakang. Bukan maksudku untuk mengaburkan ceritera Kakang Untara. Tetapi sementara orang mempunyai ceritera lain. Apalagi di Pajang. Bukankah Kakang tahu, bahwa aku baru saja datang dari Pajang.”

“Apa kata orang-orang yang ada di Pajang?”

“Seakan-akan mereka tidak percaya bahwa orang-orang yang berada di Kali Opak itu adalah penjahat yang berusaha membinasakan Ki Gede Pemanahan. Mereka berpendapat, bahwa orang-orang itu sebenarnyalah orang-orang Ki Gede Pemanahan sendiri.”

“Ah,” desis Untara, “tidak. Aku tahu pasti. Mereka adalah orang-orang yang menghendaki kematian Ki Gede Pemanahan.”

“Darimana kau tahu?”

“Aku mendapat perintah langsung untuk menyelamatkan Ki Gede.”

“Apakah itu bukan sekedar pancingan saja agar kau dengan tergesa-gesa datang ke Kali opak.”

“Maksudnya?”

“Kau adalah senapati yang disegani di daerah ini. Kau adalah seorang prajurit yang kini bertanggung jawab atas daerah Selatan. Dan daerah Selatan ini adalah jalur lurus antara Pajang dan Mataram.”

Untara mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeram, “Setan. Aku tahu maksudnya. Ceritera itu tentu mengatakan bahwa Ki Gede Pemanahan telah menyuruh seseorang memberitahukan kepadaku, seolah-olah perintah langsung dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Hal itu tidak sulit bagi Ki Gede, karena Ki Gede adalah bekas Panglima tertinggi di Pajang. Kemudian Ki Gede menyiapkan sekelompok orang-orang yang siap menunggu di pinggir Kali Opak. Dengan demikian, kematianku seakan-akan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ki Gede. Bahkan justru pada saat aku berusaha menyelamatkan Ki Gede.”

“Ya, begitulah kira-kira.”

(***)

Kutipan dan penyiaran lesan/tertulis harus seijin penulis.

From Kasdoelah’s Collection
Retype: Kiai Gaza
Proof: Ki Gede Menoreh
Date: 12-19-2008

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:35  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-79/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pertama ………… capek kelamaan naik kopaja 78, waktunya istirahat di kapling 79, semoga babat kapling 79 bisa lebih cepat di munculkan he..he…

  2. Nomor satu… 🙂

  3. Nomor dua deng… 😦

  4. ikut antri ah….
    dapat nomor gak ya

  5. sudah malem, tiduran disini dulu

  6. Number…empat…kok Ki Pandanalas dan Ki Maswal belum kelihatan…jangan2 ketinggalan KOPAJA 78.
    Hehehe berarti mereka masih di Menoreh.

  7. ….kerrrrr kerrrrrr kerrrrrrr
    loket peron udah buka belon ya??…
    jam berapa ntar??….
    tidur lagi ah…………..(gelar tiker..)

  8. Selamad pagi, sambil terdengar suara azan subuh saya ikut ngantri ki Gede

    maturnuwun,
    Ki KontosWedul

  9. Absen Ki GD, katiwasan jebulnya KOPAJA 79 sdh mli angkut penumpang…..

  10. absen juga ah…mumpung masih dapat seat depan….

    nuwun
    Ro_Man

  11. Ikuuutt….ikuuuuutt…

  12. Kitab 79 akan diberikan jika Sultan Hadiwijaya sudah memaafkan Sutawijaya…

    Maafin ya… please…

  13. wah, ngapunten ki gede dan sederek2, comment sy rodo keladuk.
    amargi nenggo kitab 78 suwi banget, dadi waringuten.

    lha sakmeniko, kulo nderek numpang KOPAJA 79, pareng to?
    Tp mbok yen saget, kendaraane ganti Bus AC, kersane radi sekeco.

    Btw kemaren liat2 groups ADBM di facebook,
    namanya ga nyambung dgn nick tmn2 disini, Cm tau mas Sukra sama Mas Wal saja..

  14. ki Gedhe lan sedherek2 sedaya,

    tumut absen…

  15. meski belum sempat nggandol kopaja 78 karena lewatnya malam dan sekarang lagi gawe, saya juga akan ikut ngantri untuk menunggu bus 79. nanti siang ba’da duhur langsung naik bus. boleh to?

  16. senengnya dapet ceweq kalinyamat, dimaafin lagi…..hehhehee….
    seperti biasa ikut antrian mumpung belum terlalu rame….

  17. Di trilogi Roro Mendut-nya Romo Mangun, nanti keturunan Sutawijaya juga mengalami kejadian serupa. Pelakunya Amangkurat (berapa..ya? lupa) yang penyelesaiannya kejam sekali. Perempuan simpanan yang masih belum dewasa benar itu akhirnya dihukum mati.

    Nderek ngantri, Ki Gedhe..

  18. yg di facebook ADBM kok malah banyak ceweknya, padahal yg nongol antri kitab kayaknya para lelaki semua…apa yg sering antri disini justru ga gabung di facebook ?
    hayo rame2 gabung kalo gitu

  19. Kakang Panji,…mungkin di dunia luar sana poro cantrik sdh mesu-rogo. Jadi gak dpt dipastikan apakah cantriknya cewek atau cowok……..who knows

  20. Jabang bayik…poro cantrik kok wis pating jenggeleng….

  21. “Kanjeng romo sultan, nanda mohon maaf atas kekhilafan nanda. Sebab sewaktu berdekatan, nanda tidak kuwat menahan gelora di dada ini. Selain itu situasi saat itu sangatlah mendukung untuk melakukan perbuatan nista tersebut. Nanda pasrah kepada paduka, apapun hukuman yang akan romo sultan jatuhkan, nanda akan menjalaninya.”
    “Ha ha ha ha, …………… Jebeeeeng, sudah, …. sudahlah. Kaca yang retak tidaklah bisa dipake bercermin lagi, rambut yang putus tidaklah bisa disambung lagi. Sudahlah, …………. lupakan saja kejadian itu. Yang penting saya sudah senang kamu sudah secara kesatria mengakui kesalahanmu. Itulah sesungguhnya yang menjadikan hatiku tenteram, karena ternyata Joko Tingkir tidak salah mengangkatmu sebagai puteraku. Aku justru bangga memiliki putera seperti kamu Jebeng, karena hanya orang seperti kamulah yang nantinya pantas menjadi pemimpin di Nuswantoro ini.”
    Ki Gede Pemanahan terperanjat mendengar titah Baginda yang memuji Sutawijaya. Kalau begitu pantas saja kalau Sri Sultan tidak keberatan dengan kegiatan pembukaan Alas Mentaok menjadi dukuh Mataram.
    “Tetapi”, Sultan Hadiwijaya melanjutkan “kelakuanmu itu harus berakhir sampai disini saja. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perbuatanmu melanggar pager ayu. Contohlah ayahmu ini, ….. walaupun aku memang senang dengan batuk klimis, tetapi semuanya saya lakukan dengan benar, dengan melamarnya dan kemudian mengawininya.”
    “Sendiko dawuh romo”. Sutawijaya serasa melayang ke langit sap pitu mendengar pengampunan yang disabdakan oleh ayahnya itu. Berhari-hari sudah Sutawijaya gelisah dan khawatir atas kemungkinan hukuman yang bakal diperolehnya. Namun ternyata kanjeng romonya telah memaafkannya.
    “Tetapi” Sekali lagi Srie Sultan melanjutkan sabdanya dengan kata ‘tetapi’ “Saya ingatkan kamu agar bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, dengan mengawini gadis Kalinyamat itu. Ubarampe perkawinan akan segera dipersiapkan, dan nanti aku yang akan melamarnya, bukan untuk diriku, tetapi untuk puteraku. Bersiap-siaplah untuk itu”.
    “Nun inggih sendiko kanjeng romo”
    “Paman Pemanahan, berhubung semuanya sudah selesai, maka kita cukupkan pertemuan kita untuk saat ini. Tolong bicarkan dengan Tumenggung Glagah Putih mengenai segala sesuatu tentang pernikahan si Jebeng.”
    “Baiklah angger Sultan, mudah2an semuanya berjalan lancar.”
    “Sendiko dawuh Baginda Sultan, hamba akan mengatur segala sesuatunya dengan teliti.” sembah Glagah Putih.
    Stelah satu per satu yang menghadap menghaturkan sembah dan meninggalkan sitinggil kraton Pajang, maka Srie Sultanpun kemudian lengser dari singgasananya.
    Lain ceritera di lain hari, Sutawijaya sedang memadu kasih dengan Putri Kalinyamat, di sebuah Sturbuck Cafe di kawasan Jati Anom.
    Aduuh maaf, komputerku hang,…………..

  22. Waaah,.. jadi dalam beberapa episode ini isine mung mantenan thok yoo? Piye iki Ki Truno,..?
    Blom nanti, mantenannya Swandaru, Agung Sedayu,. Bisa berapa Kopaja tuh undangan yang datang,..

    Berhubung Kopaja 79 jurusan Kalinyamat – Pajang – Mataram baru malam sampainya, silahkan dilanjutkan Ki Truno ceritanipun,..

  23. iya seperti biasanya kayaknya, kopaja datangnya malam, eh nih kopaja atau bis malam ya he..hee.. nuwun sewu Ki GD, tumut ngantri

  24. Ki Truno ceritanya di terusin dong

  25. Hari-hari gini kalau tidak ada Ki Truno Podang tidak asyik. Ada ada saja ceritanya.

    Yang saya jadi heran, lha wong komputernya “hang” kok masih bisa ngirim “comment”. Pake ilmu apa ya, jangan-jangan tulisan itu hanya “semu” saja hasil Ki Truno ngangsu kawruh kepada Ki Waskito.

  26. kayane skrg temanya bkn kopaja lg ni…,kira2 nanti mlm tulisan nyuwun pangapuntennya jd apa ya……..

  27. Yo wis Jebeng .. kowe siji aku siji

  28. halah malah dum duman….mbok’e (Ratu Kalinyamat) yang masih nganggur tuh

  29. matur sembah nuwun ki DD, kitab 79 sudah tak ambil. enak kalo kitabnya bisa jam segini terus soale bisa langsung diunduh untuk dibawa pulang ke rumah dan dinikmati di rumah. sekali lagi, terima kasih banyak ya ki DD

  30. Kakang Panji ngersakaken? monggo loh .. Ki Gede sudah mengendap2, selak kedhisikan

  31. Trimakasih Ki Gd.

    Tapi tidak libur kok. Kita piket di stasiun 80,81 ADBM

  32. ooooo… yyeeeeesssssss

  33. aku donlot dah 10 kali kitab 79 ne, gagal maning gagal maning son sooon, piwe jane? pa kompiku errors apa ya?

  34. Lapor Ki GD, jurus 71 – 72 dalem sampun lalui, nembe mawon mendhet lontar jurus 73 – 78. Suwun nggih.

  35. Matur suwun nggih sampun pikantuk antri maos ADBM ngantos nglontok

  36. Dandun lari sipat kuping
    melihat Ki Menggung, eh Raden Sutawijaya datang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: