Buku 79

Dengan lincahnya Ki Gede masih selalu berhasil menghindarkan dirinya dari serangan kedua lawannya, meskipun setiap kali ia harus selalu menjauhi mereka. Untunglah bahwa kuda Ki Gede Pemanahan itu rasa-rasanya mengerti setiap isyarat yang diberikan oleh Ki Gede, sehingga dalam pertempuran itu kudanya terasa sangat membantunya.

Tetapi dalam pada itu Ki Gede menjadi berdebar-debar melihat Untara. Ternyata, seorang pengikut orang-orang dari kaki Gunung Lawu itu telah mendekati lingkaran pertempuran dan langsung membantu melawan Untara, sehingga dengan demikian Untara segera terlibat dalam kesulitan.

Ki Gede Pemanahan adalah seorang prajurit. Itulah sebabnya maka ia tidak dapat sekedar mementingkan keselamatannya sendiri. Apalagi ia tahu bahwa kedatangan Untara ke tepi Kali Opak ttu adalah sekedar menyelamatkan jiwanya seperti yang diperintahkan oleh Sultan Hadiwijaya.

Dengan demikian, maka perhatian Ki Gede Pemanahan pun mulai terbagi.

Sebenarnya kedua lawan Ki Gede Pemanahan itu cukup berbahaya baginya. Sedang yang seorang dari mereka, yang telah terluka, sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi, selalu bertahan untuk keselamatannya sendiri.

Demikianlah, pertempuran itu pun semakin nampak, bahwa Ki Gede Pemanahan dan Untara beserta para pengawalnya tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Apalagi Untara sendri semakin lama semakin terdesak oleh lawannya.

Bahkan kemudian Untara benar-benar berada dalam kesulitan ketika kedua lawannya sempat memisahkan diri dan berani sebelah-menyebelah kuda Untara. Keduanya pun telah siap mengayunkan senjatanya menyerang dari dua arah.

Untara masih akan dapat menangkis serangan itu. Tetapi tidak kedua-duanya dalam saat yang bersamaan dan dari arah yang berseberangan.

Meskipun kudanya berderap terus, namun kedua ujung senjata yang teracu dalam waktu yang bersamaan itu benar-benar sangat berbahaya baginya.

Tidak ada jalan lain bagi Untara selain memanfaatkan kudanya. Karena itulah, maka ia menarik kendali kudanya dan menderanya ke arah salah seorang dari kedua lawannya.

Ternyata Untara berhasil mengusir salah seorang dari mereka. Tetapi orang itu hanya sekedar meloncat selangkah. Ketika Untara sempat menangkis serangan yang seorang lagi, maka orang itu, salah seorang dari keempat saudara dari kaki Gunung Lawu itu, dengan sigapnya meloncat maju dan mengayunkan senjatanya mengarah ke lambung Untara.

Untara sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengelak atau menangkis serangan itu, selagi kudanya sedang berderap. Seandainya ia memaksa menarik kekang kudanya ke samping, maka kuda itu akan melonjak atau bahkan akan berguling jatuh.

Karena itu, tidak ada jalan lain bagi Untara kecuali mencoba mengelakkan serangan itu dengan menjatuhkan dirinya dari kudanya. Tepat ketika senjata itu mematuk lambungnya, Untara terpaksa melepaskan kendali kudanya dan menjatuhkan diri ke sebelah lain dari kuda itu.

Untara berhasil membebaskan diri dari ujung senjata itu. Beberapa kali ia berguling, dan dengan lincahnya ia meloncat berdiri. Tetapi pada saat itu, salah seorang dari empat bersaudara itu telah siap menerkamnya sebelum ia sempat memperiapkan dirinya.

Ternyata lawan Untara itu adalah orang yang memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan. Pada saat terakhir agaknya Untara memang sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Ujung senjata lawannya rasa-rasanya sudah siap menembus dadanya, sehingga Senapati Pajang di bagian Selatan itu akan tidak lagi dapat melakukan tugasnya, bukan karena sepasukan prajurit yang telah melawan Pajang, tetapi justru oleh sekelompok penjahat dari kaki Gunung Lawu.

Ki Gede Pemanahan, yang sempat melihat hal itu darahnya bagaikan berhenti mengalir. Tidak ada cara apa pun yang akan dapat dilakukan oleh Untara untuk menyelamatkan dirinya. Untara hanya dapat mencoba menangkis serangan itu. Tetapi itu hanya merupakan perpanjangan sekejap bagi umurnya, karena pada serangan berikutnya Untara yang belum siap sama sekali itu akan segera terdorong oleh sebuah tusukan di dadanya.

Pada saat yang mendebarkan itulah, ternyata Ki Gede Pemanahan yang harus melawan dua dari keempat bersaudara itu, tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Tetapi jarak Ki Gede Pemanahan tidak terlampau dekat dari Untara. Jika ia mendera kudanya meloncat maju, ia akan tertambat.

Karena itu, Ki Gede Pemanahan tidak berpikir lebih panjang lagi. Ia hanya memikirkan kemungkinan untuk menyelamatkan Untara. Karena itu, maka dengan serta-merta Ki Gede Pemanahan telah melontarkan kerisnya ke arah orang yang sudah mulai bergerak menyerang Untara itu.

Serentak terdengar teriakan kedua bersaudara yang sedang menghadapi Ki Gede Pemanahan. Mereka mencoba memperingatkan saudaranya dari sambaran keris Ki Gede Pemanahan. Namun ternyata setiap usaha dari orang itu sudah terlambat. Dengan derasnya keris itu telah menyambar punggung orang yang sudah siap menerkam Untara dengan senjatanya itu.

Terdengar sebuah keluhan tertahan. Orang itu terhuyung-huyung sejenak. Kemudian ia pun jatuh terjerembab di hadapan Untara.

Namun pada saat itu, Untara-lah yang berteriak nyaring. Ia melihat sebuah serangan yang tiba-tiba sekali dan hampir di luar kemampuan penglihatan mata wadag.

Tetapi ternyata Untara pun terlambat. Ki Gede yang sedang memusatkan perhatiannya kepada keselamatan Untara, tidak begitu memperhatikan serangan yang menyambarnya dari salah seorang lawannya yang dibakar oleh dendam yang menyala di hatinya. Bukan saja karena ia mendapat upah untuk membunuh Ki Gede Pemanahan, tetapi Ki Gede ternyata telah membunuh seorang dari mereka dan melukai seorang yang lain.

Ki Gede Pemanahan menyadari keadaannya ketika senjata lawannya sudah hampir menyentuh kulitnya. Dengan sigapnya ia mencoba memiringkan tubuhnya. Tetapi senjata lawannya itu tetap berhasil melukainya di pundak.

Ki Gede Pemanahan berdesis menahan pedih yang menyengat. Ujung senjata orang-orang dari kaki Gunung Lawu itu bukannya ujung senjata kebanyakan. Terasa betapa panas dan pedihnya.

Dalam pada itu, di luar sadarnya oleh gerak naluriah Ki Gede menghentakkan kakinya di perut kudanya. Dan kudanya yang tanggap atas isyarat itulah yang telah menolongnya kemudian, karena pada saat itu yang seorang dari kedua bersaudara yang melawan Ki Gede bersama-sama itu telah siap menyerangnya pula. Namun kuda Ki Gede masih sempat meloncat dan dengan cepat meninggalkan arena.

Beberapa langkah kemudian barulah Ki Gede menyadari keadaannya dan berusaha menghentikan kudanya. Ketika ia berpaling dilihatnya ketegangan yang luar biasa. Yang ada di arena itu adalah Untara dan para pengawal. Sedang di pihak lawan, masih ada dua orang bersaudara dari Gunung Lawu yang ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Di dalam pertempuran yang dilakukan berpasangan, mereka memiliki kemampuan yang saling mengisi sehingga seakan-akan kekuatan mereka telah terjalin dan luluh menjadi suatu kekuatan yang mengagumkan. Itulah sebabnya, salah seorang dari mereka berhasil melukai Ki Gede Pemanahan di pundaknya.

Sejenak Ki Gede Pemanahan termangu-mangu. Ia kini sudah tidak bersenjata lagi. Pusakanya sudah terlepas dari tangannya.

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Adalah pantang melepaskan pusaka. Tetapi ia tidak dapat membiarkan Untara mati di peperangan itu, justru pada saat senapati itu berusaha menyelamatkan jiwanya.

Ternyata Ki Gede Pemanahan masih tetap seorang prajurit. Meskipun darah sudah mengucur dari lukanya, namun ia tidak akan beranjak pergi. Ia tidak dapat membiarkan Untara dan para pengawalnya menjadi banten dan mati terkapar di tepi Kali Opak, karena Ki Gede yakin bahwa mereka tidak akan mampu melawan orang-orang dari Gunung Lawu itu.

Jika mereka dibiarkan saja bertempur, maka Untara dan para pengawal itu tentu akan tumpas.

Ki Gede Pemanahan merenung sejenak. Lukanya telah membuatnya sangat marah meskipun sebagai seorang yang sudah kenyang mengalami peristiwa yang dahsyat ia masih tetap dapat berpikir.

Tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan itu meloncat turun dari kudanya. Sejenak ia diam sambil menundukkan kepalanya. Kedua telapak tangannya digosok-gosokkannya yang satu dengan yang lain.

Dan sesaat kemudian, maka Ki Gede itu pun menengadahkan kepalanya. Sejenak ia berdiri mematung. Namun kemudian ia pun meloncat menggapai sebuah ranting pohon cangkring yang tumbuh di pinggir Kali Opak.

Ketika ranting yang besar itu berderak, maka orang yang masih sedang bertempur itu terkejut. Mereka melihat ranting itu patah.

Derak ranting yang patah itu bagaikan derak di setiap jantung. Ternyata dalam kemarahan yang memuncak, Ki Gede Pemanahan telah menunjukkan kekuatannya yang tersimpan di dalam dirinya. Kekuatan yang melampaui kekuatan orang kebanyakan sehingga ia mampu mematahkan ranting pohon cangkring yang cukup besar.

Dengan keheran-heranan orang-orang yang termangu-mangu itu melihat Ki Gede Pemanahan kemudian memotong kayu itu dengan tangannya pula, melemparkan ranting-ramting yang lebih kecil beserta daun-daunnya. Yang tinggal di tangannya kemudian adalah sepotong adbmcadangan.wordpress.com kayu cangkring dengan duri-durinya yang tajam meskipun hanya jarang-jarang. Namun tanpa duri-duri yang jarang itu pun kayu cangkring itu dapat memecahkan tulang kepala jika Ki Gede Pemanahan mengayunkannya sekuat tenaga, bukan sekedar tenaga jasmaniahnya sehari-hari.

Sejenak kemudian selangkah demi selangkah Ki Gede yang sudah terluka itu maju mendekati arena pertempuran.

Dandun, seorang adiknya dan seorang lagi yang telah terluka memandang Ki Gede dengan tanpa berkedip. Mereka adalah orang-orang yang pilih tanding. Namun melihat sikap dan tatapan mata Ki Gede Pemanahan, mereka menjadi berdebar-debar juga.

Namun demikian, Dandun dan adiknya berhasil menguasai perasaannya. Pengalamannya dalam petualangan yang bertahun-tahun membuat mereka berhasil mengendapkan keheranan mereka.

“Kita harus berhati-hati,” berkata Dandun, “tetapi Ki Gede tidak akan dapat melawan kita berdua. Yakinlah”

“Ya. Aku sudah dapat menimbang kemampuannya. Tidak terlampau jauh dari kau. Dengan demikian bersama aku, kita tentu akan menang.”

“Kita biarkan saja senapati itu untuk sementara. Biarlah orang-orang lain yang menyelesaikannya, atau setidak-tidaknya menahannya.”

Sejenak kemudian kedua bersaudara dari Gunung Lawu itu pun segera mempersiapkan diri. Seorang lagi dari mereka yang telah terluka, sama sekali sudah tidak berani lagi mendekati Ki Gede Pemanahan yang meskipun sudah terluka pula.

“Aku terpaksa melakukannya,” geram Ki Gede Pemanahan, “kalian telah mendahului, menitikkan darah dari tubuhku.”

Kata-kata itu tidak terlampau keras. Tetapi rasa-rasanya bahwa ancaman itu benar-benar akan terjadi.

Sejenak kemudian kedua bersaudara itu pun segera memencar. Keduanya ternyata telah matang pula dalam ilmunya. Itulah sebabnya, maka Ki Gede Pemanahan masih harus tetap berhati-hati. Dengan mempergunakan sebatang kayu cangkring yang besar Ki Gede Pemanahan menghadapi lawan-lawannya.

Sementara itu Untara sudah mulai sibuk lagi melawan orang-orang dari Gunung Lawu, sementara para pengawalnya pun telah bertempur dengan gigihnya pula.

Namun dalam pada itu, luka di pundak Ki Gede Pemanahan pun terasa pula pengaruhnya. Semakin banyak ia mengerahkan tenaganya, maka rasa-rasanya darahnya menjadi semakin banyak mengalir.

Tetapi Ki Gede sama sekali tidak menghiraukannya. Meskipun ia menyadari bahwa kedua lawannya itu adalah orang-orang yang memiliki kelebihan, namun ia harus melawannya.

Untara yang sudah kehilangan lawan tangguhnya, kini menjadi agak bebas bergerak. Meskipun demikian orang-orang dari Gunung Lawu yang lain telah melawannya dalam kelompok kecil yang kadang-kadang sangat membingungkannya. Sedang pengawal Untara yang hanya empat orang dan dua orang pengawal Ki Gede Pemanahan itu telah berkurang dengan seorang yang mengalami luka parah dan seorang lagi luka meskipun ringan.

Untara terkejut ketika ia mendengar sebuah jerit melengking. Agaknya Dandun telah mulai menyerang Ki Gede untuk menghadapi kayu cangkring dan agaknya dilambari dengan segenap ilmu yang ada pada Ki Gede Pemanahan, maka Dandun dan seorang adiknya itu pun sampai pada puncak ilmunya pula.

Dengan demikian, maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Ki Gede yang terluka itu masih mampu bertempur dengan garangnya. Bahkan rasa-rasanya Ki Gede telah berubah sama sekali. Ia bukan lagi seorang laki-laki yang sareh, tenang dan sabar. Tetapi ia adalah seekor banteng yang sudah terluka menghadapi lawan-lawannya dengan ilmunya yang dahsyat yang dipelajarinya temurun dari perguruan Sela.

Tetapi sebenarnyalah cukup berat bagi Ki Gede menghadapi kedua orang dari kaki Gunung Lawu itu. Keduanya ternyata mampu bergerak dengan cepat dibarengi dengan teriakan-teriakan yang melengking-lengking yang sengaja mereka lontarkan untuk membingungkan pemusatan perlawanan Ki Gede Pemanahan.

Sebenarnyalah bahwa perlawanan Ki Gede Pemanahan, Untara, dan anak buahnya masih terasa sangat berat meskipun dua orang dari keempat bersaudara dari kaki Gunung Lawu sudah dapat dilumpuhkan. Tetapi ternyata bahwa jumlah para pengawal Untara dan Ki Gede pun telah berkurang pula. Apalagi Untara yang mengerahkan segenap kemampuannya, seolah-olah telah melepaskan semua nafasnya sehingga nafasnya itu pun mulai mengalir semakin cepat, sedang darah di pundak Ki Gede Pemanahan pun menitik semakin deras pula.

Dalam puncak kesulitan itulah, Ki Gede Pemanahan melihat tiga orang muncul dari arah Kali Opak. Dengan ragu-ragu ketiga orang itu memperhatikan perkelahian itu dengan saksama.

Sejenak ketiganya termangu-mangu. Mereka maju beberapa langkah lagi untuk meyakinkan penglihatan mereka.

Ternyata bukan saja Ki Gede Pemanahan yang telah melihat mereka. Tetapi Dandun, adiknya, dan Untara pun telah melihat tiga orang dalam pakaian petani biasa sedang menonton perkelahian yang semakin dahsyat itu.

Semula mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Tetapi lambat laun kehadiran mereka itu memang sangat menarik perhatian.

Ketiga orang petani yang melihat pertempuran itu sama sekali tidak menjadi ketakutan atau menghindar. Mereka justru semakin lama merayap semakin dekat. Dan bahkan akhirnya agaknya setelah mereka yakin akan penglihatannya, segera berlari-lari mendekat.

Dandun menjadi heran melihat ketiganya. Seperti juga Ki Gede Pemanahan dan Untara berpendapat, bahwa mereka tentu bukan petani dari Prambanan yang pulang dari sawah dan mencuci badan mereka di Kali Opak.

Setelah ketiga orang itu menjadi semakin dekat, maka Ki Gede menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi ketika salah seorang dari mereka segera berteriak, “Ayahanda.”

Salah seorang dari mereka adalah seorang anak muda yang meskipun memakai pakaian petani yang kumal, namun segera dikenal sebagai pemimpin tertinggi di Mataram setelah Ki Gede Pemanahan.

Anak muda itu, Sutawijaya, segera berlari-lari mendekati arena pertempuran. Dengan isyarat ia memerintahkan seorang anak buahnya memanggil kawan-kawannya.

Terdengarlah sebuah suitan nyaring. Suitan itu ternyata telah disahut oleh suara yang lain. Meskipun lamat-lamat namun masih juga terdengar sambutan yang lain lagi.

Dandun menjadi tegang. Apalagi ketika Sutawijaya itu pun, dengan segera menyingsingkan kain panjangnya dan lengan bajunya. Kemudian ditariknya sebuah pedang pendek yang semula tersembunyi di balik bajunya.

“Aku tidak dapat membawa tombak pendekku dalam pakaian ini, Ayahanda. Tetapi dengan pedang aku akan mampu membantu Ayahanda.”

Sutawijaya tidak menunggu jawaban. Ia pun segera terjun ke arena pertempuran diikuti oleh pengawalnya. Namun ternyata bahwa masih berdatangan beberapa orang yang lain berlari-lari naik tebing Kali Opak yang landai.

Ketika Sutawljaya melihat Untara bertempur mati-matian maka ia pun berkata, “Orang-orangku akan segera datang membantumu, Untara.”

“Terima kasih, Raden. Aku juga sedang memanggil orang-orangku dari Prambanan.”

Sejenak kemudian arena itu menjadi semakin kisruh. Dan jumlah yang bertambah-tambah itu ternyata menjadi perhatian Dandun dan adiknya, yang mengumpat-umpat tidak habis-habisnya di dalam hati.

Sejenak pertempuran masih berlangsung terus. Tetapi keadaannya sudah jauh berubah. Apalagi dari kejauhan masih berdatangan satu dua orang pengawal Sutawijaya yang terpisah-pisah.

Tetapi ternyata Dandun cukup cepat berpikir. Ia sadar bahwa sebentar lagi keadaan medan itu akan menjadi berbeda sama sekali, bahkan akan berbalik pihaknyalah yang harus mengalami tekanan-tekanan yang sangat berat.

Karena itu, selagi masih belum terlampau banyak orang-orang yang datang, maka Dandun pun segera mengambil keputusan. Keputusan yang betapa pun liciknya, tetapi menguntungkan baginya. Ia tidak bertanggung jawab apa pun selain untuk mendapatkan upah. Karena itu, maka ia pun tidak bertanggung jawab pula seandainya usahanya membunuh Ki Gede Pemanahan itu gagal. Ia tidak bertanggung jawab seandainya Ki Gede mengusut usaha pembunuhan itu dan menemukan orang-orang yang berjanji akan mengupahnya.

Ia tidak peduli, bahwa orang itu kemudian akan dihukum atau akan mengalami apa pun juga. Ia sudah terlampau banyak berkorban. Dua orang adiknya.

Sejenak ia memandang adiknya yang terluka. Agaknya ia masih sempat berlari meninggalkan arena.

Karena itu, maka ia pun segera memberi isyarat kepada kedua adiknya dengan isyarat sandi. Isyarat yang hanya diketahui oleh mereka bertiga saja.

Sejenak kemudian adiknya yang terluka itu pun telah bersiap-siap. Mereka sudah memperhitungkan sejak semula, bahwa usaha melenyapkan diri yang paling baik adalah menyusup semak-semak yang lebat di tepian Kali Opak arah Selatan menyusur tebing. Meskipun tebing itu tidak begitu curam, tetapi sulit bagi penunggang kuda untuk menembus semak-semak di sela-sela batu karang pada tanah yang miring.

Dandun memang sudah memperhitungkan. Jika ada orang yang melihat perkelahian sehingga orang itu sempat memberitahukan kepada para pengawal yang mana pun juga, ia akan dapat segera menghilang setelah usaha mereka berhasil. Tetapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa membunuh Ki Gede Pemanahan adalah pekerjaan yang jauh lebih sulit dari yang mereka perhitungkan.

Demikianlah ketika Dandun memberikan isyarat sekali lagi maka mulailah mereka bergeser mendekati semak-semak. Mereka sama sekali tidak memperhitungkan orang-orangnya yang masih harus bertempur melawan para pengawal. Agaknya orang-orangnya masih belum mengalami banyak kesulitan karena mereka masih cukup. Tetapi satu dua orang pengawal Sutawijaya yang berdatangan akhirnya telah mendesak mereka semakin jauh.

Pada saat yang tepat, Dandun pun segera meloncat masuk ke dalam semak-semak bersama kedua adiknya. Yang seorang terpaksa harus dipapah oleh adiknya yang lain, sedang Dandun sendiri berusaha menahan Sutawijaya yang mendesaknya terus.

Ketika kemudian Dandun lenyap pula di dalam semak-semak, sedang Sutawijaya dengan beberapa pengiringnya akan mengejarnya terus, dan bahkan kemudian Untara pun telah meloncat mendekat pula, terdengar Ki Gede berteriak memanggil.

Sutawijaya tertegun sejenak. Demikian juga Untara dan pengawalnya yang mengiringinya.

“Jangan kau kejar mereka, Sutawijaya,” berkata Ki Gede dengan nada yang dalam.

Sutawijaya memandang ayahnya sejenak. Namun kemudian ia berlari mendekatinya sambil bertanya, “Ayah, bagaimana dengan luka Ayah?”

Untara pun terkejut melihat keadaan Ki Gede Pemanahan. Agaknya darah telah terlampau banyak keluar dari luka itu. Dengan demikian betapa pun tinggi ilmunya, namun kekuatan jasmaniahnya memang terbatas. Dan itu adalah ciri kelemahan manusia. Betapa pun ia memiliki bekal dan kekuatan diarena kekerasan jasmaniah, namun pada batasnya, ia tidak akan mampu melampauinya. Dan ternyata bahwa ilmu yang betapa pun juga tingginya, tidak akan mampu mengatasi kesulitan yang timbul akibat terlampau banyaknya darah yang mengalir dari luka.

Dengan dada yang berdebar-debar, Untara pun kemudian mendekatinya, sementara Ki Lurah Branjangan yang telah hadir pula di tempat itu segera mengambil pimpinan melawan orang-orang dari Gunung Lawu yang masih memberikan perlawanan.

“Sutawijaya,” berkata Ki Gede Pemanahan, “jangan kau kejar orang-orang itu,” suaranya terengah-engah.

“Ayahanda,” Sutawijaya menjadi cemas.

“Untara,” berkata Ki Gede pula, “mereka ternyata memiliki kemampuan yang jauh berada di atas kalian. Kalian tidak dapat mengejar dan berusaha menangkap mereka. Yang akan terjadi tentu akan sebaliknya. Sedang aku sendiri, dalam keadaan seperti ini, tentu tidak akan mungkin pula mengejar mereka.”

Untara dan Sutawijaya termangu-mangu sejenak. Kemudian mereka membantu Ki Gede yang dengan kaki gemetar mencoba duduk di atas sebuah batu.

“Tubuhku menjadi lemah oleh darah yang keluar.”

“Apakah Ayahanda tidak membawa obat untuk memampatkan darah itu?”

Ki Gede menggelengkan kepalanya.

“O, aku membawa Ki Gede,” tiba-tiba Untara berdesis.

Dari kantong ikat pinggang kulitnya, Untara mengambil sekantung kecil serbuk yang berwarna kehitam-hitaman. Serbuk yang dibuat dari sarang laba-laba hijau yang dikeringkan setelah dibasahi dengan getah batang pisang kapok, dicampur dengan sarang tawon telutur bersabuk putih.

Dengan tidak menghiraukan hiruk-pikuk pertempuran, maka Untara pun mencoba membersihkan luka Ki Gede Pemanahan dan mencoba mengobatinya.

Sementara itu, ternyata bahwa kekuatan orang-orang yang berusaha menyingkirkan Ki Gede Pemanahan itu, telah hampir kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri. Apalagi ketika mereka melihat bahwa pemimpin-pemimpin mereka yang masih hidup telah melarikan diri.

Dengan demikian, maka mereka masing-masing tidak menganggap perlu lagi untuk mempertaruhkan nyawa. Jika pemimpin-pemimpin mereka meninggalkan arena, maka mereka tidak lagi mempunyai kuwajiban untuk bertahan sampai mati.

Karena itulah, maka meskipun tidak ada di antara mereka yang kemudian memegang pimpinan, namun perasaan yang tumbuh itu rasa-rasanya tidak berbeda yang satu dengan yang lain.

Demikianlah ketika salah seorang dari mereka tidak tahan lagi menghadapi tekanan para pengawal, baik mereka yang datang dari Jati Anom, maupun dari Tanah Mataram, sehingga tanpa menghiraukan apa pun lagi berusaha untuk melarikan diri, maka ternyata yang lain pun tanpa mendapat perintah dari siapa pun juga, segera meloncat berlari meninggalkan arena.

Beberapa orang di antara mereka tidak sempat meloncat lebih dari sepuluh langkah, karena lawan yang mengejarnya berhasil menghunjamkan senjatanya di punggung. Tetapi ada juga di antara mereka yang berhasil melintasi gerumbul-gerumbul perdu dan mencoba melepaskan diri dari kejaran lawannya.

Namun tiba-tiba saja mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa ekor kuda yang menghambur datang ke arah mereka. Mereka yang berkuda itu adalah prajurit yang telah dihimpun dengan tergesa-gesa di Prambanan. Karena prajurit yang ditempatkan di Prambanan memang tidak begitu banyak, sehingga mereka memerlukan waktu untuk menghimpun diri.

Tujuh orang dari sepuluh prajurit yang ditempatkan di Prambanan berhasil dikumpulkan dan dengan tergesa-gesa menuju ke tepian Kali Opak. Tetapi agaknya mereka sedikit terlambat. Mereka hanya menemukan lawan yang sedang melarikan diri.

Namun ternyata nasib orang-orang yang melarikan diri itu memang terlampau jelek. Hampir tidak ada kesempatan sama sekali untuk tetap hidup, kecuali satu dua orang yang berhasil bersembunyi sebaik-baiknya di bawah semak-semak dan kemudian merayap semakin menjauhi tepian Kali Opak, yang ternyata telah menjadi neraka bagi mereka itu.

Sejenak kemudian para prajurit dan pengawal itu pun telah berkumpul mengerumuni Ki Gede Pemanahan yang terluka. Dalam kesempatan itu Untara masih sempat mengumpati prajurit-prajuritnya yang terlambat.

“Kalian tidak bersikap seperti prajurit. Kalian bukan perempuan yang akan mengunjungi perhelatan perkawinan, sehingga kalian harus berkemas dan menghias diri setengah hari penuh. Tetapi kalian adalah prajurit. Sekarang kalian melihat akibat kelambatan kalian.”

Para prajurit itu menundukkan kepalanya. Namun pengawal Untara yang berangkat dari Jati Anom dengan tergesa-gesa untuk berusaha menghentikan perjalanan Ki Gede Pemanahan itu pun mencoba menjelaskan, “Mereka bertebaran di beberapa tempat. Kami harus memanggil mereka seorang demi seorang.”

“Kenapa mereka bertebaran?”

“Mereka pada umumnya membantu para petani mengerjakan sawahnya, atau membantu kerja yang lain yang dapat mereka lakukan, karena di dalam keadaan yang rasa-rasanya sudah tenang, mereka tidak mempunyai tugas yang berat.”

“Kalian memang bodoh. Kenapa kalian harus menunggu sampai kalian berkumpul sejumlah tujuh orang? Kenapa kalian tidak pergi lebih dahulu meskipun hanya seorang atau dua orang. Demikian berturut-turut sehingga dengan demikian keadaan akan menjadi semakin baik?”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Jika kalian menghadapi pasukan segelar sepapan dalam gelar perang yang mapan, memang kalian tidak akan mungkin berangkat satu atau dua orang saling mendahului. Tetapi berhadapan dengan perampok-perampok yang apalagi kalian tahu bahwa sudah ada prajurit sebelum kalian yang mendahului, kalian harus cepat berpikir.”

Prajurit-prajurit itu hanya menundukkan kepalanya saja.

“Kedatanganmu sudah terlambat. Jauh terlambat,” geram Untara.

Sutawijaya yang berada di sisi Untara hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia pun akan membentak-bentak demikian jika ia menyaksikan kelambatan pengawal-pengawalnya.

Untara kemudian tidak menghiraukan mereka lagi. Kini ia mendekati Ki Gede Pemanahan. Sambil berjongkok di sebelahnya ia berkata, “Bagaimana dengan Ki Gede kemudian? Apakah Ki Gede ingin beristirahat dahulu di Prambanan?”

Ki Gede yang masih duduk di atas sebuah batu merenung sejenak, lalu sambil menggeleng ia menjawab, “Terima kasih, Untara. Tetapi aku tidak akan berhenti di perjalanan. Aku akan meneruskan perjalananku sampai ke Mataram. Bukankah Mataram sudah tidak jauh lagi?”

“Jaraknya memang sudah tidak begitu jauh Ki Gede. Tetapi Ki Gede masih harus melintasi hutan dan menyeberangi sungai.”

Tetapi Ki Gede tertawa. Katanya, “Aku tidak akan menyeberangi Kali Sore seperti Arya Penangsang.”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Ki Gede adalah prajurit yang keras hati. Karena itu, maka ia pun tidak dapat memaksa lagi. Apalagi ketika Sutawijaya berkata, “Jika sekiranya Ayahanda menghendaki, kami akan menjaga Ayahanda sebaik-baiknya di perjalanan. Tetapi seandainya Ayahanda ingin beristirahat barang sejenak di Prambanan, terserah kepada Ayahanda.”

Ki Gede Pemanahan memandang Sutawijaya dan Untara berganti-ganti. Keduanya adalah anak muda. Keduanya adalah prajurit-prajurit pilihan yang mempunyai harapan untuk menggantikan para senapati yang telah menjadi semakin tua seperti Ki Gede Pemanahan sendiri.

Namun terasa hati Ki Gede Pemanahan justru menjadi pedih seperti luka-lukanya yang menjadi agak pampat.

Kedua anak-anak muda itu rasa-rasanya berdiri di atas ujung yang berseberangan.

“Akulah yang telah memisahkan Mataram dari Pajang,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya.

Dan baru sejenak kemudian Ki Gede itu berkata, “Untara. Baiklah aku meneruskan perjalananku saja. Aku berterima kasih kepadamu, karena langsung atau tidak langsung kau telah menyelamatkan jiwaku. Alangkah sakitnya mati di antara para perampok yang ganas dan liar itu.”

“Ki Gede,” berkata Untara, “aku sekedar menjalankan tugasku. Tetapi Ki Gede Pemanahan pun telah menyelamatkan aku, dan bahkan karena itu Ki Gede telah terluka.”

Ki Gede tersenyum. Katanya, “Kita telah melakukan tugas kita masing-masing. Kemudian sampaikan ucapan terima kasihku kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya yang telah dengan susah payah mengirimkan utusan kepadamu dan memerintahkan kau dengan pengawal-pengawalmu melindungi perjalananku.”

“Akan aku sampaikan, Ki Gede,” jawab Untara.

“Nah, sekarang aku minta diri. Sutawijaya telah datang bersama beberapa orang pengawal sehingga aku tidak perlu cemas lagi di perjalanan seandainya orang-orang itu masih berusaha untuk melakukan tugas yang dibebankan kepadanya. Karena agaknya mereka akan mendapat upah yang cukup banyak dari orang-orang yang menugaskan itu.”

“Ya, Ki Gede, dan sudah barang tentu aku tidak perlu mencemaskan perjalanan Ki Gede lagi. Namun apabila Ki Gede perlu beristirahat itulah yang harus mendapat perhatian Ki Gede di sepanjang perjalanan. Sebaiknya Ki Gede memperhatikan keadaan Ki Gede yang rasa-rasanya menjadi kekurangan darah.”

“Ya, ya Untara. Aku akan memperhatikan tubuhku yang agaknya tidak mengalami banyak gangguan karena lukaku.

Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya kepada Sutawijaya, “Raden, perjalanan masih jauh. Tidak bagi para prajurit dan pengawal, tetapi bagi Ki Gede yang terluka, keadaannya tentu berbeda.”

“Aku akan selalu mengingatnya, Kakang Untara,” jawab Sutawijaya.

Demikianlah maka mereka pun segera berpisah. Ki Gede Pemanahan yang terluka bersama Sutawijaya dan para pengawalnya kembali ke Mataram. Sedang Untara masih harus mengurusi korban yang jatuh di dalam pertempuran itu dan membawa orang-orangnya yang terluka ke Prambanan.

Namun dalam pada itu Untara yang teringat lagi akan kelambatan prajurit-prajuritnya, kembali membentak-bentak dan mengumpat-umpat tidak habis-habisnya. Sedang para prajuritnya hanya dapat mendengarkannya dengan kepala tunduk.

Baru setelah mereka selesai dengan tugas mereka, para pengawal itu pun membawa kawan-kawannya yang menjadi korban dan yang terluka ke Prambanan.

Dalam pada itu perjalanan Ki Gede Pemanahan ke Mataram menjadi semakin lambat. Sutawijaya yang berangkat pagi-pagi benar dari Mataram tanpa membawa kuda-kuda mereka, karena mereka sudah memperhitungkan, bahwa apabila terjadi sesuatu atas Ki Gede, kemungkinan hal itu akan dilakukan oleh orang-orang yang berusaha menyingkirkan Ki Gede di sekitar Alas Tambak Baya atau bahkan di mulut Alas Mentaok. Tetapi mereka sudah berjalan agak lebih jauh, karena mereka telah sampai di daerah Prambanan.

Namun Sutawijaya bertekad, seandainya tidak dijumpainya Ki Gede di Prambanan, maka ia akan terus sampai ke gerbang kota Pajang dengan penyamarannya itu.

Tetapi ternyata Sutawijaya menjumpai ayahandanya di Tepi Kali Opak.

Di perjalanan kembali ke Mataram, Ki Gede yang naik di atas punggung kudanya yang berjalan perlahan-lahan, sempat menceriterakan bagaimana ia harus berhadapan dengan orang-orang yang agaknya telah menunggunya di pinggir Kali Opak.

“Siapakah sebenarnya mereka Ayahanda?” bertanya Sutawijaya.

“Mereka tidak penting bagi kita. Tetapi siapakah yang ada di belakang mereka itulah yang harus mendapat perhatian.”

“Satu dua orang dari mereka yang tertangkap hidup itu akan dapat memberikan keterangan.”

Ki Gede menggelengkan kepalanya. Katanya, “Pengalaman kita sudah cukup meyakinkan, bahwa orang-orang itu tidak tahu-menahu kecuali pemimpin-pemimpinnya.”

“Ayahanda melarang aku mengejar orang yang aku anggap sebagai pemimpin mereka.”

“Sudah aku katakan, mereka bukan lawanmu. Kaulah yang akan dijebaknya. Dan kau, meskipun bersama Untara sekali pun tidak akan dapat melawan mereka.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Jika ayahnya telah berkata demikian, maka ia tidak dapat membuat penilaian lain karena ayahandanya adalah orang yang memiliki pengamatan yang telah masak.

Namun dalam pada itu, perasaan Sutawijaya mulai diganggu oleh angan-angannya tentang sikap Sultan Hadiwijaya. Tetapi ia tidak berani bertanya kepada ayahnya yang sedang terluka itu, bagaimanakah hasil pembicaraannya saat ia menghadap ayahanda angkatnya untuk membicarakan gadis Kalinyamat itu.

Demikianlah, meskipun lambat, namun iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan Tanah Mataram. Mereka menyeberangi Alas Tambak Baya dan kemudian Alas Mentaok yang masih belum dibuka.

Di sepanjang perjalanan, iring-iringan itu sama sekali tidak menjumpai gangguan apa pun lagi. Dandun dan anak buahnya sama sekali tidak bermaksud melanjutkan usaha mereka untuk membunuh Ki Gede Pemanahan. Keadaan mereka sudah terlampau parah. Seorang dari keempat saudara itu sudah terbunuh. Yang seorang terluka, sehingga hampir kehabisan darah. Sedang orang-orang yang dibawanya sudah hampir habis musna. Satu dua orang yang berhasil melepaskan diri, berlari tanpa arah.

Karena itulah maka gangguan satu-satunya di perjalanan adalah luka Ki Gede Pemanahan. Meskipun luka itu sudah pampat, tetapi rasa-rasanya tubuh Ki Gede Pemanahan menjadi semakin lemah.

Namun, akhirnya mereka pun sampai juga dengan selamat. Ketika iring-iringan itu memasuki gerbang, maka para pengawal tercenung sejenak, melihat bahwa Ki Gede Pemanahan terluka di pundaknya.

“Siapakah yang berhasil melukai Ki Gede Pemanahan?” bertanya salah seorang di antara para pengawal.

“Anak dungu,” desis kawannya di sebelahnya.

“Siapa? Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Tidak seorang pun di antara kita yang mengerti,” jawab kawannya itu.

Pengawal yang mula-mula bertanya itu mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah jawaban kawannya itu telah memberikan kepuasan padanya.

Namun dalam pada itu, di antara para pengawal yang tidak mengerti apakah yang sebenarnya sudah terjadi, ternyata telah tumbuh berbagai tafsiran. Bahkan ada di antara mereka yang saling berbisik, “Apakah kemurkaan Sultan di Pajang sampai pada puncaknya, sehingga langsung dengan tangannya sendiri melukai Ki Gede Pemanahan?”

Kawannya mengerutkan, keningnya. Namun ia pun menyahut, “Kemarahan yang tidak terkendali memang dapat menumbuhkan sikap yang tidak seimbang. Mungkin sekali Kanjeng Sultan di Pajang tidak dapat mengekang diri. Tetapi jika demikian Ki Gede Pemanahan tentu tidak akan dibiarkan kembali ke Mataram”

“Dengan sengaja Ki Gede dilemparkan kembali ke Mataram agar Raden Sutawijaya melihat kedaannya.”

“Apakah ini berarti suatu permulaan dari pemisahan Mataram dari Pajang dan yang sudah barang tentu akan diikuti oleh tindakan-tindakan Pajang lebih lanjut atas Mataram?”

Kawannya menggelengkan kepalanya. Katanya, “Kita tidak mengetahuinya. Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi agaknya kita memang harus mempersiapkan diri. Ki Gede Pemanahan telah menjadi kurban, karena Raden Sutawijaya tidak dapat mengendalikan dirinya.”

Namun segala kesimpang-siuran itu pun segera berakhir. Para pengawal yang mengiringi Ki Gede, setelah Ki Gede Pemanahan memasuki halaman rumahnya, maka sebagian dari mereka pun tinggal di regol. Dari mulut merekalah kemudian tersebar ceritera tentang Ki Gede Pemanahan yang terluka itu.

“Jadi ada orang yang mampu melukai Ki Gede Pemanahan?” bertanya seorang prajurit hampir tidak percaya.

“Tidak hanya satu orang.”

“Berapa orang?”

“Mula-mula empat orang yang tiada tandingnya. Tetapi seorang dari mereka harus melawan Untara yang datang membantu Ki Gede. Tiga orang itulah.”

“Siapakah mereka bertiga? Tentu orang-orang sakti pula.”

“Ya. Ternyata mereka berhasil melukai Ki Gede Pemanahan,” dan pengawal itu pun menceriterakan apa yang dilihatnya dan apa yang didengarnya dari kedua pengawal Ki Gede yang mengikutinya sejak Ki Gede berangkat dari Mataram.

“Jadi luka itu bukan hukuman yang diberikan oleh Kanjeng Sultan.”

“Sama sekali bukan.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:35  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-79/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pertama ………… capek kelamaan naik kopaja 78, waktunya istirahat di kapling 79, semoga babat kapling 79 bisa lebih cepat di munculkan he..he…

  2. Nomor satu… 🙂

  3. Nomor dua deng… 😦

  4. ikut antri ah….
    dapat nomor gak ya

  5. sudah malem, tiduran disini dulu

  6. Number…empat…kok Ki Pandanalas dan Ki Maswal belum kelihatan…jangan2 ketinggalan KOPAJA 78.
    Hehehe berarti mereka masih di Menoreh.

  7. ….kerrrrr kerrrrrr kerrrrrrr
    loket peron udah buka belon ya??…
    jam berapa ntar??….
    tidur lagi ah…………..(gelar tiker..)

  8. Selamad pagi, sambil terdengar suara azan subuh saya ikut ngantri ki Gede

    maturnuwun,
    Ki KontosWedul

  9. Absen Ki GD, katiwasan jebulnya KOPAJA 79 sdh mli angkut penumpang…..

  10. absen juga ah…mumpung masih dapat seat depan….

    nuwun
    Ro_Man

  11. Ikuuutt….ikuuuuutt…

  12. Kitab 79 akan diberikan jika Sultan Hadiwijaya sudah memaafkan Sutawijaya…

    Maafin ya… please…

  13. wah, ngapunten ki gede dan sederek2, comment sy rodo keladuk.
    amargi nenggo kitab 78 suwi banget, dadi waringuten.

    lha sakmeniko, kulo nderek numpang KOPAJA 79, pareng to?
    Tp mbok yen saget, kendaraane ganti Bus AC, kersane radi sekeco.

    Btw kemaren liat2 groups ADBM di facebook,
    namanya ga nyambung dgn nick tmn2 disini, Cm tau mas Sukra sama Mas Wal saja..

  14. ki Gedhe lan sedherek2 sedaya,

    tumut absen…

  15. meski belum sempat nggandol kopaja 78 karena lewatnya malam dan sekarang lagi gawe, saya juga akan ikut ngantri untuk menunggu bus 79. nanti siang ba’da duhur langsung naik bus. boleh to?

  16. senengnya dapet ceweq kalinyamat, dimaafin lagi…..hehhehee….
    seperti biasa ikut antrian mumpung belum terlalu rame….

  17. Di trilogi Roro Mendut-nya Romo Mangun, nanti keturunan Sutawijaya juga mengalami kejadian serupa. Pelakunya Amangkurat (berapa..ya? lupa) yang penyelesaiannya kejam sekali. Perempuan simpanan yang masih belum dewasa benar itu akhirnya dihukum mati.

    Nderek ngantri, Ki Gedhe..

  18. yg di facebook ADBM kok malah banyak ceweknya, padahal yg nongol antri kitab kayaknya para lelaki semua…apa yg sering antri disini justru ga gabung di facebook ?
    hayo rame2 gabung kalo gitu

  19. Kakang Panji,…mungkin di dunia luar sana poro cantrik sdh mesu-rogo. Jadi gak dpt dipastikan apakah cantriknya cewek atau cowok……..who knows

  20. Jabang bayik…poro cantrik kok wis pating jenggeleng….

  21. “Kanjeng romo sultan, nanda mohon maaf atas kekhilafan nanda. Sebab sewaktu berdekatan, nanda tidak kuwat menahan gelora di dada ini. Selain itu situasi saat itu sangatlah mendukung untuk melakukan perbuatan nista tersebut. Nanda pasrah kepada paduka, apapun hukuman yang akan romo sultan jatuhkan, nanda akan menjalaninya.”
    “Ha ha ha ha, …………… Jebeeeeng, sudah, …. sudahlah. Kaca yang retak tidaklah bisa dipake bercermin lagi, rambut yang putus tidaklah bisa disambung lagi. Sudahlah, …………. lupakan saja kejadian itu. Yang penting saya sudah senang kamu sudah secara kesatria mengakui kesalahanmu. Itulah sesungguhnya yang menjadikan hatiku tenteram, karena ternyata Joko Tingkir tidak salah mengangkatmu sebagai puteraku. Aku justru bangga memiliki putera seperti kamu Jebeng, karena hanya orang seperti kamulah yang nantinya pantas menjadi pemimpin di Nuswantoro ini.”
    Ki Gede Pemanahan terperanjat mendengar titah Baginda yang memuji Sutawijaya. Kalau begitu pantas saja kalau Sri Sultan tidak keberatan dengan kegiatan pembukaan Alas Mentaok menjadi dukuh Mataram.
    “Tetapi”, Sultan Hadiwijaya melanjutkan “kelakuanmu itu harus berakhir sampai disini saja. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perbuatanmu melanggar pager ayu. Contohlah ayahmu ini, ….. walaupun aku memang senang dengan batuk klimis, tetapi semuanya saya lakukan dengan benar, dengan melamarnya dan kemudian mengawininya.”
    “Sendiko dawuh romo”. Sutawijaya serasa melayang ke langit sap pitu mendengar pengampunan yang disabdakan oleh ayahnya itu. Berhari-hari sudah Sutawijaya gelisah dan khawatir atas kemungkinan hukuman yang bakal diperolehnya. Namun ternyata kanjeng romonya telah memaafkannya.
    “Tetapi” Sekali lagi Srie Sultan melanjutkan sabdanya dengan kata ‘tetapi’ “Saya ingatkan kamu agar bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, dengan mengawini gadis Kalinyamat itu. Ubarampe perkawinan akan segera dipersiapkan, dan nanti aku yang akan melamarnya, bukan untuk diriku, tetapi untuk puteraku. Bersiap-siaplah untuk itu”.
    “Nun inggih sendiko kanjeng romo”
    “Paman Pemanahan, berhubung semuanya sudah selesai, maka kita cukupkan pertemuan kita untuk saat ini. Tolong bicarkan dengan Tumenggung Glagah Putih mengenai segala sesuatu tentang pernikahan si Jebeng.”
    “Baiklah angger Sultan, mudah2an semuanya berjalan lancar.”
    “Sendiko dawuh Baginda Sultan, hamba akan mengatur segala sesuatunya dengan teliti.” sembah Glagah Putih.
    Stelah satu per satu yang menghadap menghaturkan sembah dan meninggalkan sitinggil kraton Pajang, maka Srie Sultanpun kemudian lengser dari singgasananya.
    Lain ceritera di lain hari, Sutawijaya sedang memadu kasih dengan Putri Kalinyamat, di sebuah Sturbuck Cafe di kawasan Jati Anom.
    Aduuh maaf, komputerku hang,…………..

  22. Waaah,.. jadi dalam beberapa episode ini isine mung mantenan thok yoo? Piye iki Ki Truno,..?
    Blom nanti, mantenannya Swandaru, Agung Sedayu,. Bisa berapa Kopaja tuh undangan yang datang,..

    Berhubung Kopaja 79 jurusan Kalinyamat – Pajang – Mataram baru malam sampainya, silahkan dilanjutkan Ki Truno ceritanipun,..

  23. iya seperti biasanya kayaknya, kopaja datangnya malam, eh nih kopaja atau bis malam ya he..hee.. nuwun sewu Ki GD, tumut ngantri

  24. Ki Truno ceritanya di terusin dong

  25. Hari-hari gini kalau tidak ada Ki Truno Podang tidak asyik. Ada ada saja ceritanya.

    Yang saya jadi heran, lha wong komputernya “hang” kok masih bisa ngirim “comment”. Pake ilmu apa ya, jangan-jangan tulisan itu hanya “semu” saja hasil Ki Truno ngangsu kawruh kepada Ki Waskito.

  26. kayane skrg temanya bkn kopaja lg ni…,kira2 nanti mlm tulisan nyuwun pangapuntennya jd apa ya……..

  27. Yo wis Jebeng .. kowe siji aku siji

  28. halah malah dum duman….mbok’e (Ratu Kalinyamat) yang masih nganggur tuh

  29. matur sembah nuwun ki DD, kitab 79 sudah tak ambil. enak kalo kitabnya bisa jam segini terus soale bisa langsung diunduh untuk dibawa pulang ke rumah dan dinikmati di rumah. sekali lagi, terima kasih banyak ya ki DD

  30. Kakang Panji ngersakaken? monggo loh .. Ki Gede sudah mengendap2, selak kedhisikan

  31. Trimakasih Ki Gd.

    Tapi tidak libur kok. Kita piket di stasiun 80,81 ADBM

  32. ooooo… yyeeeeesssssss

  33. aku donlot dah 10 kali kitab 79 ne, gagal maning gagal maning son sooon, piwe jane? pa kompiku errors apa ya?

  34. Lapor Ki GD, jurus 71 – 72 dalem sampun lalui, nembe mawon mendhet lontar jurus 73 – 78. Suwun nggih.

  35. Matur suwun nggih sampun pikantuk antri maos ADBM ngantos nglontok

  36. Dandun lari sipat kuping
    melihat Ki Menggung, eh Raden Sutawijaya datang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: