Buku 79

matahari yang melayang di langit yang biru bersih. Seperti Sangkal Putung, maka Prambanan pun memiliki tanah yang subur. Bendungan yang menyekat kali, kemudian mengangkat air naik ke tanah persawahan di sebelah Timur Kali Opak.

Dari kejauhan Ki Gede Pemanahan memandang ujung candi yang bagaikan bercahaya ditimpa teriknya matahari.

“Candi yang manis,” berkata Ki Gede di dalam hatinya, “candi yang bagi rakyat di sekitarnya merupakan lambang keagungan cinta yang dapat melahirkan sebuah karya yang mengagumkan.”

Dengan tatapan mata yang memancarkan kekaguman Ki Gede memandang candi yang semakin lama menjadi semakin dekat. Candi yang terletak tidak terlampau jauh dari Kali Opak. Namun Ki Gede Pemanahan tidak menyangka sama sekali, bahwa sebentar lagi, jika ia lewat di depan candi itu dan menuruni tebing yang landai dari sebuah sungai yang lebar, ia akan berhadapan dengan bahaya yang akan memungut nyawanya.

Namun tiba-tiba saja Ki Gede terkejut ketika kudanya tiba-tiba saja menjadi sendat. Bahkan kemudian seakan-akan tidak mau maju lagi. Beberapa kali kudanya melingkar-lingkar bahkan, kemudian meringkik.

Kedua pengawalnya pun menjadi heran. Kuda itu adalah kuda yang sangat baik. Kuda tunggangan Ki Gede Pemanahan sejak ia berada di Pajang.

“Kenapa dengan kuda ini?” bertanya Ki Gede Pemanahan sambil menepuk leher kudanya supaya kuda itu menjadi tenang.

Kedua pengawalnya pun kemudian berhenti beberapa langkah daripadanya sambil memperhatikan kuda yang menjadi gelisah itu.

“Aneh,” desis yang seorang.

“Tentu firasatnya mengatakan sesuatu,” sahut yang lain.

Ki Gede Pemanahan sendiri masih menepuk beberapa kali leher kudanya sambil bedesis perlahan-lahan. Kemudian diusapnya dahi kuda itu dengan lembut sehingga akhirnya kudanya menjadi tenang. Tetapi rasa-rasanya kuda itu tidak mau lagi melangkah maju.

“Aku jadi heran,” berkata Ki Gede Pemanahan, “sebentar lagi kita akan menyeberang sungai Opak. Kenapa kuda ini tidak mau berjalan lagi? Apakah kali Opak sedang banjir?”

“Aku kira tidak, Ki Gede. Langit cerah. Demikian juga di sebelah Utara. Agaknya di kaki Gunung Merapi itu pun tidak turun hujan.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Tentu bukan karena telinganya sudah mendengar deru air banjir. Tetapi kenapa?”

“Mungkin sekedar sentuhan kecil. Karena itu biarlah kuda itu menjadi tenang sesaat.”

Ki Gede mengangguk. Ia pun kemudian turun dari kudanya dan membiarkan kudanya merenungi jalan yang akan dilaluinya. Sekali-sekali kuda itu menengadahkan kepalanya dan penciumannya seakan-akan menyentuh sesuatu yang membuatnya gelisah.

“Jika ada binatang buas, tentu kuda-kuda yang mana pun menjadi gelisah pula,” berkata seorang pengawalnya.

“Memang mungkin seekor binatang buas yang sedang minum di Kali Opak,” jawab yang lain.

Ki Gede menganggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin sekali. Sebentar lagi binatang buas itu akan pergi.”

Kedua pengawal Ki Gede yang sudah turun pula, mengikat kuda masing-masing pada sebarang pohon perdu. Keduanya pun kemudian ikut mengusap kuda Ki Gede Pemanahan yang gelisah. Seakan-akan keduanya ingin meyakinkan kepada kuda itu, bahwa tidak ada apa-apa di perjalanan. Seandainya ada binatang buas pun kuda itu tidak perlu cemas.

Agaknya kuda itu pun mengerti. Perlahan-lahan kuda itu menjadi tenang, sehingga dengan demikian maka Ki Gede Pemanahan pun siap melanjutkan perjalanannya.

“Kau dapat minum sampai kenyang nanti di Kali Opak,” berkata pengawal Ki Gede sambil mengusap leher kuda yang gelisah itu.

Sejenak kemudian kuda itu melanjutkan perjalanannya meskipun nampaknya masih ada keragu-raguan. Apalagi ketika mereka muncul di sebuah bulak di sebelah Timur Kali Opak.

“Apakah kau takut melihat candi yang menjulang sampai ke langit itu,” desis Ki Gede Pemanahan seolah-olah berbisik di telinga kudanya.

Tetapi rasa-rasanya kuda itu masih tetap gelisah meskipun perlahan-lahan ia maju terus. Sedang Ki Gede Pemanahan pun tidak mau memaksa kudanya lari lebih cepat.

Dalam pada itu kedua pengawal Ki Gede Pemanahan pun rasa-rasanya menjadi gelisah pula. Seekor kuda adalah binatang yang memiliki firasat yang tajam. Karena itu, tanpa sesadarnya keduanya telah menggeser keris di punggungnya, dan meraba hulu pedangnya. Sekilas mereka memandang Ki Gede yang ada di depannya. Ternyata Ki Gede Pemanahan tidak membawa senjata lain kecuali keris di punggungnya.

Namun demikian mereka berjalan terus. Hanya kadang-kadang mereka harus berhenti sejenak, jika kuda Ki Gede Mataram nampaknya menjadi semakin gelisah. Jika kuda itu menjadi agak tenang, maka mereka pun melanjutkan perjalanannya pula.

Tetapi ternyata bahwa kuda-kuda yang lain pun mulai menjadi gelisah pula, sehingga meskipun kedua pengawal Ki Gede itu tidak mengatakan sesuatu, namun mereka hampir memastikan di dalam hati, bahwa sesuatu akan terjadi.

Sebenarnyalah bahwa saat ketiga orang itu mendekati Kali Opak, maka orang-orang yang harus mengawasinya telah lebih dahulu melihat tiga orang berkuda mendekat. Karena itu maka mereka pun segera memberi isyarat kepada kawan-kawannya yang menunggu di tepi sungai.

“Mereka sudah datang,” desis Dandun.

Ketiga adiknya pun segera bersiap. Mereka sadar sepenuhnya bahwa melawan Ki Gede Pemanahan, adalah suatu perjuangan yang berat. Tetapi mereka berempat di dalam satu kelompok perkelahian merupakan suatu kekuatan yang tidak ada taranya.

Dandun pun kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap pula. Katanya, “Biarlah dua orang kita berada di belakang ketiga orang itu. Mereka harus dibiarkan melintas, tetapi kedua orang kita itu harus menutup jalan agar Ki Gede dan pengawalnya tidak berbalik dan melarikan diri. Mereka harus masuk ke dalam jebakan dan kita akan mencincang mereka sampai lumat. Mayat mereka kita lemparkan saja ke Kali Opak. Tetapi ingat, keris Ki Gede harus diambil sebagai bukti bahwa kita sudah berhasil.”

Pesan Dandun cukup gamblang. Karena itu maka orang-orangnya pun segera menebar.

“Kita berempat harus menyelesaikan Ki Gede Pemanahan lebih dahulu,” berkata Dandun, “biarlah orang-orang kita yang berjumlah sepuluh orang itu mengurusi kedua pengawalnya. Jika Ki Gede Pemanahan sudah terbunuh, maka ke dua orang itu bagaikan tikus saja di sarang kucing-kucing liar.”

Adik-adiknya tertawa. Namun wajah-wajah mereka pun kemudian menjadi tegang, ketika dari kejauhan mereka melihat tiga orang berkuda datang mendekat.

“Itulah mereka,” desis Dandun.

Demikianlah mereka yang mencegat perjalanan Ki Gede itu pun segera bersembunyi di balik batu-batu padas dan gerumbul-gerumbul liar di tepi Kali Opak. Mereka telah menyiapkan senjata mereka masing-masing. Setiap saat mereka dapat segera menyergap ketiga orang yang sesaat kemudian akan melintasi Kali Opak.

Tetapi rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi melihat ketiga ekor kuda yang tidak berlari cukup cepat. Bahkan kadang-kadang kuda Ki Gede justru berhenti dan meringkik. Baru kemudian kuda itu perlahan-lahan maju lagi beberapa langkah.

“Kuda itu malas sekali,” desis Dandun yang juga tidak sabar menunggu.

“Kita meloncat naik dan mengepungnya,” sahut adiknya.

“Masih terlampau jauh. Jika mereka terkejut, mereka dapat melarikan diri.”

“Kita harus bersabar sedikit,” desis yang lain.

Tetapi ketiga orang itu tidak segera maju mendekat. Bahkan seakan-akan mereka sengaja berhenti dan mengamati keadaan dengan saksama,

“Bagaimana?” bertanya salah seorang dari keempat bersaudara itu.

“Kita tunggu sebentar,” jawab Dandun, “jika mereka masih saja menunggu, kitalah yang menyergap naik ke atas tebing, kemudian kita dorong mereka turun, supaya tidak banyak orang yang dapat menyaksikan perkelahian ini dari jauh.”

“Aku sependapat,” adiknya yang bungsu bergumam. Dengan demikian, maka dengan gelisah dan menahan nafas orang-orang itu menunggu Ki Gede Pemanahan menjadi semakin dekat. Namun agaknya kesabaran mereka pun sudah sampai pada batasnya.

“Kuda-kuda itu agaknya menjadi gila,” berkata Dandun.

Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan sendiri tidak berusaha lagi untuk maju lagi. Firasatnya sebagai seorang prajurit yang mumpuni seakan-akan memberinya peringatan, bahwa di hadapannya sedang menunggu bahaya yang dapat merenggut nyawanya. Sehingga karena itu, maka Ki Gede itu pun justru mengekang kudanya dan berhenti sejenak.

“Apakah Ki Gede melihat sesuatu?” bertanya salah seorang pengawalnya.

“Jalan ini terlampau lengang,” jawab Ki Gede.

“Jalan ini memang jarang sekali dilalui orang,” sahut yang seorang.

“Ya. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu.”

“Benar, Ki Gede. Hatiku menjadi berdebar-debar.”

“Baiklah kita berhenti sejenak,” berkata Ki Gede Pemanahan, “mungkin kita sudah dibebani prasangka buruk. Mungkin kita dipengaruhi oleh sikap beberapa orang Pajang yang tidak menyenangkan. Tetapi mungkin pula perasaanku sedang dikacaukan oleh sikap Kanjeng Sultan yang sama sekali berbeda dengan gambaran-gambaran yang tersusun di angan-angan sejak aku berangkat dari Mataram. Tetapi yang terjadi adalah berbeda sekali, bahkan berlawanan. Kejutan itulah agaknya yang membuat aku kadang-kadang menjadi bingung seperti sekarang ini.”

Kedua pengawalnya tidak menyahut. Tetapi rasa-rasanya memang ada sesuatu. Bahkan salah seorang dari keduanya tiba-tiba berdesis, “Ki Gede, agaknya aku memang melihat sesuatu bergerak di kejauhan, di balik sebuah batu yang besar.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia pun telah melihat sesuatu bergerak seperti yang dilihat oleh pengawalnya. Namun ia masih mencoba meyakinkan, apakah yang telah dilihatnya itu.

Karena pengawalnya telah menyebutnya lebih dahulu, maka Ki Gede pun kemudian berkata, “Memang ada sesuatu yang bergerak di tepian. Tetapi banyak sekali kemungkinan yang dapat kita sebut. Mungkin seorang petani yang membersihkan alat-alatnya atau mungkin seorang yang lewat di jalan ini sedang beristirahat.”

“Memang, Ki Gede,” sahut pengawal-pengawalnya, “ada bermacam-macam kemungkinan. Namun agaknya aku mencurigainya.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk. Katanya, “Berhati-hatilah. Firasat seorang prajurit kadang-kadang tidak akan terlampau jauh dari kebenaran jika akan menjumpai bahaya.”

Kedua pengawalnya menjadi semakin berdebar-debar. Dengan demikian keduanya hampir tidak berkedip memandang ke tepian di hadapan mereka.

Tetapi Ki Gede Pemanahan dan kedua pengawalnya tidak segera maju lagi. Di dalam keadaan yang mendebarkan itu, barulah Ki Gede menyadari ketergesa-gesaannya. Ia sama sekali tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang dapat membahayakan jiwanya.

Kini ia baru menyadari bahwa di Pajang, terdapat banyak sekali orang yang tidak senang kepadanya. Yang iri, yang dengki dan yang mempunyai kepentingan-kepentingan lain. Dan kini firasatnya mengatakan kepadanya, bahwa di hadapannya memang ada bahaya yang sedang mengancam.

Sekilas Ki Gede terkenang akan sikap Sultan Pajang. Sepercik kecurigaan melonjak di hatinya.

“Apakah Sultan Pajang hanya berpura-pura, namun kemudian memerintahkan sekelompok Senapati terpilih untuk mencegat aku di tepian Kali Opak?” ia bertanya kepada diri sendiri. Namun kemudian dijawabnya, “Tentu tidak. Aku merasakan sikap Sultan yang ikhlas itu.”

Akhirnya Ki Gede Pemanahan pun jemu menunggu. Ketika kecurigaannya justru semakin tajam, ia berkata kepada kedua pengawalnya, “Kita tidak dapat berhenti di sini sampai sore. Apa pun yang akan kita hadapi kita akan maju.”

“Ki Gede,” berkata seorang pengawalnya, “mungkin aku memang sudah menjadi seorang pengecut. Tetapi sebaiknya Ki Gede tetap berada di sini. Biarlah aku berdua melihat, apakah yang ada di balik bebatuan dan gerumbul-gerumbul di tepian. Jika yang kami jumpai ternyata berbahaya bagi Ki Gede, sebaiknya Ki Gede menghindar. Bukan maksudku untuk memperkecil arti Ki Gede Pemanahan di dalam medan, justru kami tahu bahwa Ki Gede adalah seorang panglima perang. Tetapi adalah tidak seimbang bahwa Ki Gede harus melayani pengecut-pengecut itu.”

Ki Gedu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum pahit. Katanya, “Jika aku berhadapan dengan pengecut, bukan berarti aku sendiri harus menjadi pengecut.”

Kedua pengawalnya tahu benar, bahwa jawaban itu adalah sikap Ki Gede Pemanahan. Karena itu, maka keduanya tidak akan berani mengusulkan apa pun lagi.

“Marilah kita maju,” desis Ki Gede.

Namun sebelum mereka menggerakkan kendali kudanya, mereka terkejut mendengar derap kaki kuda yang semakin lama menjadi semakin dekat.

“Berhati-hatilah,” berkata Ki Gede, “mungkin kita memang sudah terkepung.”

Kedua pengawalnya segera bergeser. Karena Ki Gede Pemanahan kemudian memutar kudanya menghadap arah suara derap kaki kuda yang seolah-olah menyusulnya, maka kedua pengawalnya tetap memandang ke arah tepian. Karena di sana pun terdapat bahaya yang dapat menyergap dengan tiba-tiba. Hanya sekali-sekali saja mereka berpaling. Sekilas mereka melihat beberapa ekor kuda mendekatinya.

Ki Gede Pemanahan mengerutkan keningnya melihat seorang anak muda yang berpacu di paling depan. Sekali-sekali ia melihat anak muda itu melambaikan tangannya, memberikan isyarat. Tetapi Ki Gede tidak tahu pasti, apakah arti isyarat itu.

“He,” tiba-tiba Ki Gede berdesis, “kau kenal anak muda di paling depan itu?”

Kedua pengawalnya serentak berpaling. Mereka melihat lima ekor kuda. Dan yang paling depan berpakaian sebagai seorang Senapati Pajang.

“Untara,” desis Ki Gede Pemanahan, “bukankah ia Untara?”

“Ya, Ki Gede,” sahut kedua pengawalnya hampir berbareng.

Ki Gede yang sedang termangu-mangu itu menjadi semakin termangu-mangu. Sebelum ia jelas siapakah yang menunggunya di tepian Kali Opak, kini dilihatnya Untara berpacu menyusulnya dikawal oleh empat orang prajuritnya.

“Berhentilah, Ki Gede,” Untara itu berteriak di kejauhan.

Ki Gede tiba-tiba menjadi curiga. Kenapa Untara berteriak menghentikannya. Apakah memang sudah diatur, bahwa Untara akan menyergapnya, sedang di tepian beberapa orang lain sudah menunggunya.

Tetapi Untara sama sekali tidak menyentuh senjatanya. Bahkan ia masih saja mengangkat tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegang kendali kudanya.

Beberapa langkah daripadanya Untara itu pun menarik kekang kudanya, sehingga kudanya itu pun menghentikan derap kakinya. Segumpal debu meloncat ke udara dan hanyut didorong angin yang lembut.

“Hampir saja aku terlambat,” berkata Untara tiba-tiba.

Ki Gede mengerutkan keningnya, dan sebelum ia berkata sesuatu Untara mendahuluinya, “Jangan meneruskan perjalanan, Ki Gede.”

Ki Gede menjadi heran. Kenapa Untara menghentikan perjalanannya.

Kedua pengawalnya pun menjadi tegang. Kecurigaan mereka menjadi semakin tajam. Tetapi jika mereka menatap wajah Untara, terasa ada kesan yang lain pada wajah itu.

“Ki Gede,” berkata Untara kemudian, “aku akan mempersilahkan Ki Gede kembali. Maksudku, bukan kembali ke Pajang, tetapi menunda perjalanan kembali ke Mataram barang sehari.”

“Apa maksudmu, Untara. Aku sudah tidak mempunyai keperluan lagi. Aku tergesa-gesa kembali ke Mataram dan menyampaikan hasil kepergianku ke Pajang kepada Sutawijaya.”

“Ki Gede. Kapan pun Ki Gede akan kembali ke Mataram, aku tidak akan mencegahnya. Tetapi tidak sekarang. Dan sekarang aku ingin mempersilahkan Ki Gede kembali sejenak. Sampai saatnya kami dapat mengantarkan Ki Gede sampai ke batas Tanah Mataram.”

Ki Gede mengusap keningnya. Katanya, “Aku menjadi bingung, Untara. Katakanlah, apakah maksudmu yang sebenarnya.”

Untara mencoba menenangkan pernafasannya. Tetapi sejenak kemudian ia berdesis, “Terlambat. Kita harus terlibat dalam perkelahian.”

Ki Gede berpaling ke tepian. Sejenak ia termangu-mangu, namun kemudian ia bertanya, “Apakah yang akan terjadi, Untara?”

Untara memberi isyarat kepada pengawal-pengawalnya. Mereka pun segera bergeser sebelah-menyebelah.

“Ki Gede,” desis Untara, “aku mendapat perintah dari Kanjeng Sultan Pajang. Petugas sandi Pajang menangkap keterangan bahwa beberapa orang telah menghadang perjalanan Ki Gede di sekitar Kali Opak. Petugas sandi yang berhasil menyadap pembicaraan beberapa orang yang memang dengan sengaja ingin menjebak Ki Gede mengatakan bahwa kekuatan mereka yang disediakan untuk menyingkirkan Ki Gede adalah tidak tanggung-tanggung.

“Lalu apa maksudmu, Untara?”

“Aku mendapat perintah untuk menyelamatkan Ki Gede,” jawab Untara. “Bukan maksudku mengatakan bahwa aku memiliki kelebihan dari Ki Gede, tetapi aku adalah senapati yang bertanggung jawab di daerah ini dan aku mempunyai pengawal yang cukup. Karena itu, untuk menghindari kesan yang jelek terhadap Pajang, seakan-akan Pajang-lah yang telah menjebak Ki Gede adbmcadangan.wordpress.com, maka aku harus mencegat perjalanan Ki Gede. Tetapi agaknya aku terlambat. Aku mendapat keterangan dari beberapa orang yang bekerja di sawah, bahwa tiga orang berkuda telah lewat. Karena itu aku segera menyusul dengan pengawal yang ada. Aku memang memerintahkan seorang pengawalku untuk menyiapkan prajurit yang berada di daerah Prambanan yang dapat dihimpun untuk menyusul perjalananku sekarang ini, karena kita akan menghadapi kekuatan yang cukup besar.”

Ki Gede mengerutkan keningnya. Sekarang ia mengerti, siapakah yang bergerak-gerak di tepian. Di balik batu-batu besar dan gerumbul-gerumbul liar.

“Kapan kau mendapat keterangan itu, Untara?” bertanya Ki Gede.

“Baru pagi ini,” jawab Untara. “Demikian aku menerima perintah itu aku pun segara berangkat dengan tergesa-gesa. Tetapi aku terlambat. Dan aku berusaha menyusul Ki Gede. Agaknya Ki Gede tidak berpacu terlampau cepat, sehingga aku dapat bertemu Ki Gede di sini.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi siapakah yang telah berusaha menjebak aku?”

“Kami tidak mendapat keterangan itu. Tetapi petugas sandi berhasil mendengar atau mencuri keterangan tentang hal itu. Siapa pun yang telah memerintahkan penyergapan itu, namun Sultan menjadi sangat marah karenanya dan memerintahkan untuk mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan Ki Gede.”

Ki Gede masih mengangguk-angguk. Tetapi berbagai macam persoalan berdesakan di dalam dadanya. Memang ada sepercik kecurigaan. Tetapi kemudian goresan-goresan yang dalam di dinding jantungnya justru karena sikap Kanjeng Sultan yang sangat baik, dan bahkan telah memerintahkan untuk menyelamatkan nyawanya.

Dalam pada itu, Dandun dan adik-adiknya benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Apalagi karena mereka mendapat laporan bahwa lima orang prajurit telah datang untuk menahan Ki Gede Pemanahan.

“Gila,” teriak Dandun, “semakin lama prajurit-prajurit itu akan menjadi semakin banyak. Karena itu, kita selesaikan saja mereka sekarang. Yang terpenting adalah membinasakan Ki Gede Pemanahan itu dahulu.”

“Bagus,” desis adiknya, “kita tidak dapat menunggu lagi.”

Dandun pun kemudian menarik senjatanya sambil menggeram, “Kita bertiga menyelesaikan Ki Gede. Yang seorang, dari kita membayangi pemimpin prajurit itu, sedang yang lain harus membinasakan semua pengawal yang berjumlah enam orang itu.”

“Baik, Kakang”, jawab adiknya yang tertua, “aku akan membinasakan senapati itu.”

Demikianlah, maka mereka tidak menunggu lebih lama lagi. Mereka sadar bahwa prajurit-prajurit itu akan bertambah-tambah. Karena itu tugas mereka harus segera selesai sebelum mereka akan melarikan diri.

Karena itulah maka sejenak kemudian terdengar Untara berdesis, “Ki Gede, agaknya mereka sudah akan mulai.”

Ki Gede tidak sempat menjawab. Beberapa orang berloncatan dari balik gerumbul-gerumbul dan melingkari kelompok kecil yang memang sudah menyiapkan diri untuk melawan itu.

Ki Gede menyadari, bahwa orang-orang yang telah dikirim untuk mencegat perjalanannya itu tentu bukan orang-orang kebanyakan. Karena itulah maka ia pun segera menyiapkan dirinya sebaik-baiknya.

Sejenak Ki Gede memandang orang-orang yang berlari-larian melingkarinya. Dan di antara mereka terdapat empat orang yang meyakinkan. Dan mereka agaknya adalah pemimpin dari kelompok yang kini telah mengepungnya.

Untara yang melihat kepungan yang dalam waktu yang singkat telah menjadi rapat itu mendekati Ki Gede Pemanahan sambil berkata, “Menurut keterangan yang aku terima, Ki Gede, keempat orang itu datang dari kaki Gunung Lawu. Mereka khusus datang untuk menyambut Ki Gede di Kali Opak ini.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia bertanya, “Bagaimana mungkin kau menerima keterangan yang lengkap sekali tentang orang-orang itu?”

“Aku belum sempat menanyakannya kepada petugas sandi itu. Aku tergesa-gesa berangkat mencegat Ki Gede. Tetapi Ki Gede sudah lampau. Itulah sebabnya aku hanya membawa lima orang pengawal. Yang seorang dari mereka kini berhenti di Prambanan menghubungi pimpinan kelompok prajurit yang aku tempatkan di sana.

“Kenapa utusan dari Pajang itu tidak langsung menyusul aku? Jika ia harus pergi ke Jati Anom lebih dahulu, maka kau tentu akan terlambat.”

“Aku memiliki pasukan di daerah ini Ki Gede. Dan seperti yang aku katakan aku adalah senapati di daerah ini.”

Ki Gede mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Dipandanginya saja empat orang yang berjalan selangkah demi selangkah mendekatinya.

Wajah Ki Gede Pemanahan menjadi tegang. Demikian juga wajah Untara. Pengawalnya telah menebar menghadap ke segenap arah. Sedang kedua pengawal Ki Gede Pemanahan pun telah merenggang.

“Kita harus melawan mereka sejauh-jauh dapat kita lakukan Ki Gede. Sementara prajurit-prajurit dari Prambanan akan segera datang.”

Ki Gede tidak menyahut.

Dalam pada itu, Dandun dan ketiga adiknya sudah menjadi semakin dekat. Dengan kepala tengadah maka empat bersaudara dari Gunung Lawu itu kemudian berhenti beberapa langkah di hadapan Ki Gede Pemanahan dan Untara.

Sekilas Ki Gede teringat pada saat ia dihentikan oleh sekelompok pasukan yang dipimpin oleh Ki Tambak Wedi. Seorang yang memiliki kemampuan luar biasa. Tetapi Ki Tambak Wedi tidak mempunyai pasangan seperti orang-orang ini. Bahkan sampai empat orang.

Sejenak Ki Gede memandang wajah Dandun yang keras sekeras batu-batu padas di tepian Kali Opak. Kemudian wajah ketiga adik-adiknya berganti-ganti. Wajah mereka memang mirip seperti kebanyakan kakak beradik. Dan agaknya sifat-sifatnya pun tidak jauh berbeda yang satu dengan yang lain.

Dandun, yang tertua di antara mereka pun kemudian maju selangkah. Dipandanginya Ki Gede Pemanahan dan Untara berganti-ganti. Lalu katanya, “Kenapa kalian tidak mau maju lagi sampai ke tepian? Di tepian kita mempunyai tempat yang cukup luas untuk berkelahi. Siapa yang terbunuh di dalam perkelahian itu, dengan mudahnya kita lemparkan saja ke dalam air. Apakah kalian tidak sependapat, sebaiknya kita bertempur di pinggir sungai saja?”

Ki Gede memandang Dandun sejenak, lalu, “Siapakah kau sebenarnya, Ki Sanak. Dan apakah kepentinganmu dengan aku?”

Dandun tertawa. Jawabnya, “Apakah ada perlunya Ki Gede Pemanahan mengetahui? Eh, bukankah kau yang bernama Ki Gede Pemanahan?”

“Benar, Ki Sanak. Akulah yang bernama Pemanahan. Kau tentu sudah mendapat banyak keterangan tentang aku, ujudku. Tubuhku dan tentu kau mendapat pesan bahwa aku menempuh perjalanan ini bersama kedua orang sahabatku.”

“Ya,” sahut Dandun, “dan kau pun tentu sudah dapat menduga apakah keperluanku. Karena itu, sebaiknya kau turun saja dari kudamu dan menundukkan kepalamu dalam-dalam. Aku akan memenggal kepalamu dengan penuh hormat.”

“Tutup mulutmu,” Untara-lah yang membentak. Dengan mata yang merah menyala Untara berkata lantang, “Kau jangan menghina. Kau harus sadar, dengan siapa kau berhadapan.”

Dandun mengerutkan keningnya, lalu, “Sebenarnya kau siapa, Anak Muda. Kau agaknya seorang senapati. Apakah kau akan melindungi Ki Gede Pemanahan atau sebaiknya akan membantu aku mempercepat tugas ini.”

“Aku tahu bahwa kau mendapat tugas dari seseorang yang kebetulan juga seorang prajurit, atau seorang Senapati Pajang. Kau menjual tenagamu untuk melakukan perbuatan terkutuk ini. Tetapi ketahuilah aku mengemban tugas dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya langsung untuk melindungi Ki Gede Pemanahan dan mencari keterangan tentang orang-orang yang telah mengupahmu.”

Dandun tertawa semakin keras. Katanya, “Senapati Muda, kau memang berani. Tetapi jangan menyesal, bahwa karena keterlibatanmu dalam persoalan ini, maka kau pun akan mati terbunuh di tangan kami.”

“Baiklah,” berkata Untara, “jika kau yakin akan dapat membunuh aku, lakukanlah. Tetapi aku pun yakin akan dapat menangkap kalian. Aku ingin kalian tetap hidup, supaya kalian dapat diperas untuk menitikkan keterangan, siapakah yang telah memberimu upah.”

Dandun tertawa terus. Namun tiba-tiba suara tertawanya menurun, lalu, “O, hampir saja aku terpancing. Jika kau sempat memperpanjang pembicaraan, maka mungkin sekali kau akan dapat bantuan dari kawan-kawanmu yang barangkali akan menyusul,” Dandun berhenti, lalu dilambaikannya tangannya sebagai isyarat bagi anak buahnya untuk segera mulai.

Orang-orang yang telah mengepung Ki Gede Pemanahan, Untara, dan para pengawalnya itu mulai bergerak. Perlahan-lahan mereka maju selangkah demi selangkah dengan senjata telanjang di tangan.

Melihat orang-orang yang mengepungnya mulai bergerak, maka Ki Gede dan Untara pun bersiap. Demikian juga para pengawalnya. Namun dalam pada itu, kadang-kadang jauh di dasar hatinya, Ki Gede masih juga bertanya, “Apakah yang terjadi ini bukan sekedar sebuah permainan? Dan Untara adalah salah seorang dari para pemain yang dapat melakukan peranannya dengan baik sekali?”

Tetapi Ki Gede mencoba mengusir, prasangka di hatinya itu. Ia mencoba mempercayai Untara dan dengan demikian Ki Gede akan bekerja dengan senapati itu sepenuhnya.

Sementara itu, bukan saja orang-orang yang mengepung itu telah bergerak maju. Tetapi Dandun dan adik-adiknya pun telah mendekat pula, langsung menghadapi Ki Gede Pemanahan dan Untara.

Ki Gede pun sadar, bahwa ia adalah arah utama dari orang-orang yang telah menunggunya di tepian Kali Opak itu. Karena itu, ia telah menyiapkan dirinya menghadapi segala kemungkinan. Sebagai seorang prajurit yang pernah memegang jabatan tertinggi di Pajang, maka Ki Gede pun tidak merasa gentar sama sekali. Apa pun yang akan terjadi, akan dihadapinya dengan tabah. Apalagi setelah ia tahu pasti, bahwa Sultan Hadiwijaya tidak marah dan tidak mendendam kepada Sutawijaya. Maka rasa-rasanya semua yang harus dihadapinya adalah tugas-tugas yang tidak seberat saat ia berangkat pergi ke Pajang.

Demikian pula agaknya dangan Untara. Meskipun ia sadar, bahwa jumlah orang-orangnya jauh lebih sedikit dari lawan-lawannya, apalagi di antara mereka terdapat empat bersaudara dari kaki Gunung Lawu, namun ia pun bertekad untuk menghadapi mereka dengan tatag. Meskipun demikian ada juga sedikit penyesalan padanya, bahwa ia tidak membawa pengawal adbmcadangan.wordpress.com yang cukup. Demikian tergesa-gesa dan bahwa ia tidak menyangka akan berhadapan langsung dengan orang-orang yang mencegat Ki Gede karena ia hanya sekedar akan menghentikan perjalanannya, maka ia tidak membawa pengawal lebih dari lima orang.

Untara sama sekali tidak menjadi gentar karena dirinya sendiri, tetapi ia lebih memikirkan nasib Ki Gede Pemanahan. Pesan Sultan Hadiwijaya jelas baginya, bahwa Ki Gede harus dihentikan sebelum sampai ke tepian Kali Opak, agar sikap Sultan Hadiwijaya tentang hubungan antara Sutawijaya dan puteri dari Kalinyamat itu tidak dianggap sekedar sebuah jebakan.

Tetapi kini ia sudah berada di depan hidung empat bersaudara dari Gunung Lawu, sehingga ia tidak akan dapat berbuat lain daripada bertempur, sambil menunggu kedatangan prajurit yang dapat dihimpun di Prambanan.

Dengan tegang Untara menunggu. Dandun dan adik-adiknya beserta orang-orangnya semakin lama menjadi semakin dekat. Sebentar lagi ia harus mulai mengayunkan senjatanya dan bertempur sekuat tenaganya.

Namun Untara itu terkejut. Bahkan bukan saja Untara, tetapi setiap orang yang ada di tempat itu, termasuk keempat orang bersaudara dari Gunung Lawu itu, ketika mereka melihat tiba-tiba saja Ki Gede Pemanahan menghentakkan tali kekang kudanya sehingga kuda itu bagaikan meloncat dengan garangnya ke depan.

Dan ternyata bahwa Ki Gede Pemanahan-lah yang telah memulainya lebih dahulu. Dengan dahsyatnya kudanya menerjang keempat orang bersaudara dari Gunung Lawu itu dengan keris yang terhunus.

Serangan yang tidak terduga itulah yang telah menggoncangkan setiap dada. Dandun dan adik-adiknya pun bagaikan kehilangan pegangan, apakah yang akan dilakukan.

Ternyata perhitungan Ki Gede Pemanahan itu dapat dilakukan dengan tepat meskipun tidak berhasil seperti yang diharapkan. Ternyata keempat orang dari kaki Gunung Lawu itu benar-benar bukan orang kebanyakan. Meskipun mereka terkejut bukan buatan, namun mereka masih sempat berbuat sesuatu. Mereka sempat berloncatan menghindari senjata Ki Gede Pemanahan.

Tetapi tidak semuanya dari keempat orang itu dapat membebaskan, dirinya. Ternyata keris Ki Gede masih berhasil menggores punggung salah seorang dari mereka. Adik Dandun yang paling kecil.

Ketika keris itu menyentuh kulitnya, terdengar ia mengaduh. Kemudian sebuah dorongan yang kuat telah melemparkannya sehingga ia jatuh berguling di tanah.

Meskipun dalam waktu sekejap ia berhasil meloncat berdiri namun kemudian, terasa punggungnya sangat pedih. Kekuatannya semakin lama bagaikan dihisap oleh luka di punggungnya itu.

Tetapi ia tetap bertahan. Dengan wajah yang tegang dan gigi gemeretak ia siap menghadapi kemungkinan berikutnya.

Agaknya kedua pengawal Ki Gede menyadari, bahwa pertempuran yang sebenarnya, sudah dimulai. Karena itu mereka pun tidak menunggu lebih lama lagi. Kuda mereka pun segera berderap menyerang orang-orang yang mengepungnya.

Dalam pada itu, selagi kuda Ki Gede Pemanahan sedang melingkar, Untara tidak membiarkan keempat orang itu berhasil mempersiapkan diri dan menyergap Ki Gede. Karena itu, maka ia pun segera mendera kudanya dan menyerang dengan pedangnya sambil berkata, “Ki Gede, sebaiknya Ki Gede meninggalkan pertempuran ini. Serahkan semuanya kepadaku, mumpung Ki Gede kini berada di luar lingkaran.”

Sesaat Dandun dan anak buahnya menjadi agak gugup. Mereka benar-benar tidak menyangka, bahwa justru Ki Gede Pemanahan dan Untara-lah yang telah mulai dengan garangnya dalam waktu yang sangat cepat.

Tetapi Dandun adalah orang yang memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya, maka dalam waktu dekat ia berhasil menguasai dirinya dan anak buahnya.

Namun dalam waktu yang dekat itu, para pengawal Ki Gede Pemanahan dan Untara, telah berhasil mengurangi jumlah lawan mereka meskipun hampir tidak berarti dalam pertempuran yang kemudian berlangsung.

Dalam pada itu, Ki Gede yang mendengar teriakan Untara mengerutkan dahinya. Ia adalah seorang prajurit, bahkan seorang yang pernah menjadi panglima perang Pajang yang disegani.

Karena itulah, maka peringatan Untara itu sama sekali tidak dihiraukannya. Ia tidak akan dapat begitu saja menyelamatkan dirinya, sedang orang lain berada dalam kesulitan. Sehingga dengan demikian Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak menghindarkan diri. Meskipun usianya menjadi semakin tua, namun ia masih tetap seorang yang pilih tanding. Seorang yang tidak sekedar mementingkan dirinya sendiri. Apalagi dalam kesulitan selagi mereka bercanda dengan maut.

Dengan demikian, maka Ki Gede Pemanahan yang sudah berada di luar kepungan itu justru sudah siap menyerbu lawannya. Sejenak Ki Gede mempersiapkan diri dan memperhitungkan keadaan. Kemudian kudanya pun berderap dengan lajunya sementara beberapa orang lawannya sedang mempersiapkan dirinya melawan Untara.

Ki Gede yang memiliki pengalaman yang cukup, bahkan berlimpah itu melihat ujung-ujung senjata yang sudah siap menyambut Untara. Sebuah desir yang tajam telah menyentuh jantungnya. Meskipun Untara seorang senapati yang terpercaya, ternyata bahwa umurnya yang masih muda sangat mempengaruhi sikapnya di peperangan. Serangannya terhadap lawan-lawannya saat itu justru telah membahayakan dirinya. Namun Ki Gede pun menyadari bahwa Untara sengaja memancing perhatian lawan-lawannya agar mereka tidak terikat kepada Ki Gede Pemanahan saja.

“Tetapi perbuatan itu adalah perbuatan yang bodoh,” sekilas melintas di pikiran Ki Gede Pemanahan. “Ternyata Untara tidak menyadari, dengan siapa ia berhadapan.”

Itulah sebabnya Ki Gede tidak melepaskan saat yang sekejap. Pada saat Untara terperosok ke dalam bahaya di antara keempat bersaudara dari Kaki Gunung Lawu itu, Ki Pemanahan dengan garangnya telah menyerang mereka dengan kerisnya, sehingga dengan demikian, pemusatan serangan keempat orang itu menjadi pecah.

Namun keempat orang itu masih berhasil menghindari serangan yang menyambar mereka. Mereka sempat meloncat ke arah yang berlawanan sambil merendahkan diri.

Selagi kuda-kuda yang menyambar itu lewat, Dandun yang memiliki pengalaman terbanyak dibanding dengan adik-adiknya segera mengatur diri. Dengan lantang ia berkata kepada adiknya yang kedua, “Hadapi senapati dari Pajang itu, yang lain akan membantu aku membinasakan Ki Gede Pemanahan.”

Waktu yang singkat itu ternyata cukup bagi mereka untuk mempersiapkan diri. Keempatnya kemudian memisahkan diri sesuai dengan perintah yang telah diucapkan oleh Dandun.

Ki Gede Pemanahan yang mendengar perintah itu menjadi berdebar-debar. Bukan karena Ki Gede Pemanahan gentar menghadap tiga orang, sedang yang seorang sudah terluka, tetapi menilik tata gerak yang dilihatnya pada permulaan dari pertempuran itu, ia menganggap bahwa yang seorang itu pun akan menjadi sangat berbahaya bagi Untara. Apalagi jumlah pengawalnya masih belum sebanyak jumlah orang-orang yang mengepungnya.

Meskipun demikian. Ki Gede Pemanahan masih berpengharapan bahwa Untara akan dapat bertahan sampai orang-orangnya yang berada di Prambanan datang.

Demikianlah kemudian terjadi pertempuran yang sengit. Ki Gede Pemanahan yang masih berada di atas kudanya harus melawan tiga orang lawan, sedang Untara seorang diri melawan salah seorang dari keempat bersaudara dari Gunung Lawu itu.

Namun sejenak kemudian mulai nampak, bahwa orang lereng Gunung Lawu itu benar-benar mampu mendesak Untara. Sekali-sekali Untara harus menyingkirkan kudanya menjauhi lawannya yang dapat bergerak dengan cepat sekali.

Sementara itu, Ki Gede Pemanahan sendiri harus menghadapi tiga di antara mereka. Untunglah bahwa ia berhasil melukai yang seorang dari ketiganya, yang ternyata semakin lama menjadi semakin lemah, dan hampir tidak berdaya sama sekali.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:35  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-79/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pertama ………… capek kelamaan naik kopaja 78, waktunya istirahat di kapling 79, semoga babat kapling 79 bisa lebih cepat di munculkan he..he…

  2. Nomor satu… 🙂

  3. Nomor dua deng… 😦

  4. ikut antri ah….
    dapat nomor gak ya

  5. sudah malem, tiduran disini dulu

  6. Number…empat…kok Ki Pandanalas dan Ki Maswal belum kelihatan…jangan2 ketinggalan KOPAJA 78.
    Hehehe berarti mereka masih di Menoreh.

  7. ….kerrrrr kerrrrrr kerrrrrrr
    loket peron udah buka belon ya??…
    jam berapa ntar??….
    tidur lagi ah…………..(gelar tiker..)

  8. Selamad pagi, sambil terdengar suara azan subuh saya ikut ngantri ki Gede

    maturnuwun,
    Ki KontosWedul

  9. Absen Ki GD, katiwasan jebulnya KOPAJA 79 sdh mli angkut penumpang…..

  10. absen juga ah…mumpung masih dapat seat depan….

    nuwun
    Ro_Man

  11. Ikuuutt….ikuuuuutt…

  12. Kitab 79 akan diberikan jika Sultan Hadiwijaya sudah memaafkan Sutawijaya…

    Maafin ya… please…

  13. wah, ngapunten ki gede dan sederek2, comment sy rodo keladuk.
    amargi nenggo kitab 78 suwi banget, dadi waringuten.

    lha sakmeniko, kulo nderek numpang KOPAJA 79, pareng to?
    Tp mbok yen saget, kendaraane ganti Bus AC, kersane radi sekeco.

    Btw kemaren liat2 groups ADBM di facebook,
    namanya ga nyambung dgn nick tmn2 disini, Cm tau mas Sukra sama Mas Wal saja..

  14. ki Gedhe lan sedherek2 sedaya,

    tumut absen…

  15. meski belum sempat nggandol kopaja 78 karena lewatnya malam dan sekarang lagi gawe, saya juga akan ikut ngantri untuk menunggu bus 79. nanti siang ba’da duhur langsung naik bus. boleh to?

  16. senengnya dapet ceweq kalinyamat, dimaafin lagi…..hehhehee….
    seperti biasa ikut antrian mumpung belum terlalu rame….

  17. Di trilogi Roro Mendut-nya Romo Mangun, nanti keturunan Sutawijaya juga mengalami kejadian serupa. Pelakunya Amangkurat (berapa..ya? lupa) yang penyelesaiannya kejam sekali. Perempuan simpanan yang masih belum dewasa benar itu akhirnya dihukum mati.

    Nderek ngantri, Ki Gedhe..

  18. yg di facebook ADBM kok malah banyak ceweknya, padahal yg nongol antri kitab kayaknya para lelaki semua…apa yg sering antri disini justru ga gabung di facebook ?
    hayo rame2 gabung kalo gitu

  19. Kakang Panji,…mungkin di dunia luar sana poro cantrik sdh mesu-rogo. Jadi gak dpt dipastikan apakah cantriknya cewek atau cowok……..who knows

  20. Jabang bayik…poro cantrik kok wis pating jenggeleng….

  21. “Kanjeng romo sultan, nanda mohon maaf atas kekhilafan nanda. Sebab sewaktu berdekatan, nanda tidak kuwat menahan gelora di dada ini. Selain itu situasi saat itu sangatlah mendukung untuk melakukan perbuatan nista tersebut. Nanda pasrah kepada paduka, apapun hukuman yang akan romo sultan jatuhkan, nanda akan menjalaninya.”
    “Ha ha ha ha, …………… Jebeeeeng, sudah, …. sudahlah. Kaca yang retak tidaklah bisa dipake bercermin lagi, rambut yang putus tidaklah bisa disambung lagi. Sudahlah, …………. lupakan saja kejadian itu. Yang penting saya sudah senang kamu sudah secara kesatria mengakui kesalahanmu. Itulah sesungguhnya yang menjadikan hatiku tenteram, karena ternyata Joko Tingkir tidak salah mengangkatmu sebagai puteraku. Aku justru bangga memiliki putera seperti kamu Jebeng, karena hanya orang seperti kamulah yang nantinya pantas menjadi pemimpin di Nuswantoro ini.”
    Ki Gede Pemanahan terperanjat mendengar titah Baginda yang memuji Sutawijaya. Kalau begitu pantas saja kalau Sri Sultan tidak keberatan dengan kegiatan pembukaan Alas Mentaok menjadi dukuh Mataram.
    “Tetapi”, Sultan Hadiwijaya melanjutkan “kelakuanmu itu harus berakhir sampai disini saja. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perbuatanmu melanggar pager ayu. Contohlah ayahmu ini, ….. walaupun aku memang senang dengan batuk klimis, tetapi semuanya saya lakukan dengan benar, dengan melamarnya dan kemudian mengawininya.”
    “Sendiko dawuh romo”. Sutawijaya serasa melayang ke langit sap pitu mendengar pengampunan yang disabdakan oleh ayahnya itu. Berhari-hari sudah Sutawijaya gelisah dan khawatir atas kemungkinan hukuman yang bakal diperolehnya. Namun ternyata kanjeng romonya telah memaafkannya.
    “Tetapi” Sekali lagi Srie Sultan melanjutkan sabdanya dengan kata ‘tetapi’ “Saya ingatkan kamu agar bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, dengan mengawini gadis Kalinyamat itu. Ubarampe perkawinan akan segera dipersiapkan, dan nanti aku yang akan melamarnya, bukan untuk diriku, tetapi untuk puteraku. Bersiap-siaplah untuk itu”.
    “Nun inggih sendiko kanjeng romo”
    “Paman Pemanahan, berhubung semuanya sudah selesai, maka kita cukupkan pertemuan kita untuk saat ini. Tolong bicarkan dengan Tumenggung Glagah Putih mengenai segala sesuatu tentang pernikahan si Jebeng.”
    “Baiklah angger Sultan, mudah2an semuanya berjalan lancar.”
    “Sendiko dawuh Baginda Sultan, hamba akan mengatur segala sesuatunya dengan teliti.” sembah Glagah Putih.
    Stelah satu per satu yang menghadap menghaturkan sembah dan meninggalkan sitinggil kraton Pajang, maka Srie Sultanpun kemudian lengser dari singgasananya.
    Lain ceritera di lain hari, Sutawijaya sedang memadu kasih dengan Putri Kalinyamat, di sebuah Sturbuck Cafe di kawasan Jati Anom.
    Aduuh maaf, komputerku hang,…………..

  22. Waaah,.. jadi dalam beberapa episode ini isine mung mantenan thok yoo? Piye iki Ki Truno,..?
    Blom nanti, mantenannya Swandaru, Agung Sedayu,. Bisa berapa Kopaja tuh undangan yang datang,..

    Berhubung Kopaja 79 jurusan Kalinyamat – Pajang – Mataram baru malam sampainya, silahkan dilanjutkan Ki Truno ceritanipun,..

  23. iya seperti biasanya kayaknya, kopaja datangnya malam, eh nih kopaja atau bis malam ya he..hee.. nuwun sewu Ki GD, tumut ngantri

  24. Ki Truno ceritanya di terusin dong

  25. Hari-hari gini kalau tidak ada Ki Truno Podang tidak asyik. Ada ada saja ceritanya.

    Yang saya jadi heran, lha wong komputernya “hang” kok masih bisa ngirim “comment”. Pake ilmu apa ya, jangan-jangan tulisan itu hanya “semu” saja hasil Ki Truno ngangsu kawruh kepada Ki Waskito.

  26. kayane skrg temanya bkn kopaja lg ni…,kira2 nanti mlm tulisan nyuwun pangapuntennya jd apa ya……..

  27. Yo wis Jebeng .. kowe siji aku siji

  28. halah malah dum duman….mbok’e (Ratu Kalinyamat) yang masih nganggur tuh

  29. matur sembah nuwun ki DD, kitab 79 sudah tak ambil. enak kalo kitabnya bisa jam segini terus soale bisa langsung diunduh untuk dibawa pulang ke rumah dan dinikmati di rumah. sekali lagi, terima kasih banyak ya ki DD

  30. Kakang Panji ngersakaken? monggo loh .. Ki Gede sudah mengendap2, selak kedhisikan

  31. Trimakasih Ki Gd.

    Tapi tidak libur kok. Kita piket di stasiun 80,81 ADBM

  32. ooooo… yyeeeeesssssss

  33. aku donlot dah 10 kali kitab 79 ne, gagal maning gagal maning son sooon, piwe jane? pa kompiku errors apa ya?

  34. Lapor Ki GD, jurus 71 – 72 dalem sampun lalui, nembe mawon mendhet lontar jurus 73 – 78. Suwun nggih.

  35. Matur suwun nggih sampun pikantuk antri maos ADBM ngantos nglontok

  36. Dandun lari sipat kuping
    melihat Ki Menggung, eh Raden Sutawijaya datang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: