Buku 79

VERSI YANG SUDAH DIKOREKSI

DADA KI GEDE Pemanahan menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia mulai condong kepada pendapat bahwa agaknya Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui apa yang terjadi atas putera angkatnya Raden Sutawijaya.

Jika demikian, maka selama ini yang dihadapi adalah sikap yang pura-pura saja dari Sultan. Sebenarnya Sultan Pajang itu telah menyimpan kemarahan yang membara di dadanya. Namun agaknya dengan sengaja Sultan telah menyembunyikannya dan pada saatnya menumpahkannya sampai tuntas.

“Apakah Sultan Hadiwijaya sengaja menunggu Sutawijaya?” Ki Gede Pemanahan bertanya kepada diri sendiri

“Kakang,” berkata Sultan Hadiwijaya kemudian, “jika Kakang Pemanahan datang ke Pajang tanpa memberitahukan lebih dahulu, dan datang sendirian tanpa Danang Sutawijaya, tentu Kakang membawa masalah yang cukup penting. Mungkin masalah Alas Mentaok yang semakin lama menjadi semakin ramai. Mungkin hubungan antara Mentaok yang sekarang disebut Mataram dengan daerah di sekitarnya. Mangir, Menoreh atau barangkali dengan senapati di daerah Selatan ini, Untara, atau persoalan-persoalan yang lain. Tetapi mungkin persoalan yang lebih bersifat pribadi seperti yang sudah aku katakan. Nah, Kakang Pemanahan, sebaiknya Kakang segera mengatakannya. Kakang tidak usah segan. Anggaplah aku masih seperti dahulu. Kakang bagiku adalah saudara tua yang banyak berjasa bukan saja kepadaku, tetapi juga kepada Pajang. Tanpa Kakang Pemanahan, maka persoalan yang terjadi di Kudus akan berakhir jauh lebih buruk dari yang telah terjadi. Mungkin aku sudah tidak dapat melihat terbitnya matahari lagi.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Ia semakin tersiksa oleh sikap Sultan Hadiwijaya. Ia lebih senang jika Sultan Hadwijaya itu bersikap garang. Marah dan membentak-bentak. Atau bahkan dengan lantang menjatuhkan hukuman atasnya.

Tetapi kini Sultan Hadiwijaya tetap tersenyum dan dengan ramah bertanya kepadanya, apakah yang akan dikatakannya.

Sekilas teringat oleh Ki Gede Pemanahan atas apa yang pernah dilakukan oleh Sultan Pajang pada saat Adipati Jipang mulai menebarkan kekuasaannya yang ternyata kemudian gagal. Setelah Sunan Prawata terbunuh, kemudian disusul oleh Sunan Hadiri, terjadilah peristiwa itu. Dua orang utusan Adipati Jipang berhasil memasuki istana Pajang. Namun atas kesigapan Panglima Wira Tamtama yang saat itu dipegang oleh Ki Gede Pemanahan sendiri bersama Ki Penjawi, maka kedua orang itu tertangkap. Ternyata keduanya mendapat perintah untuk membunuh Sultan Hadiwijaya.

Tetapi kemudian apa yang terjadi? Sultan Hadiwijaya dengan sengaja memberi hadiah kepada kedua orang itu dan disuruhnya kembali ke Jipang. Ternyata bahwa hukuman yang sebenarnya diterima oleh orang-orang itu datang dari Arya Penangsang sendiri yang merasa terhina karena keduanya telah menerima hadiah dari Sultan Hadiwijaya.

Karena itu, Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bimbang melihat sikap Sultan Hadiwijaya itu.

Namun akhirnya Ki Gede Pemanahan pun kemudian memaksa dirinya untuk mengatakan keperluannya kepada Sultan Hadiwijaya apa pun yang akan dihadapinya. Katanya, “Ampun Kanjeng Sultan. Sebenarnyalah bahwa kedatangan hamba mempunyai suatu kepentingan yang bersifat sangat pribadi. Jika Kanjeng Sultan berkenan, hamba ingin menyebutkannya, apakah sebenarnya kepentingan hamba datang ke Pajang saat ini.”

“Tentu, Kakang, tentu. Bukankah sejak tadi aku sudah mempersilahkan Kakang untuk mengatakan keperluan Kakang?”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas. Kemudian katanya, “Kanjeng Sultan, sebenarnyalah hamba membawa persoalan yang sangat rumit bagi hamba. Sebelum hamba mengatakannya biarlah hamba menyerahkan diri, pasrah hidup mati hamba ke hadapan Kanjeng Sultan.”

“Kakang Pemanahan, apakah sebenarnya yang akan Kakang katakan? Kenapa Kakang pasrah hidup mati Kakang kepadaku seakan-akan Kakang pernah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan?”

“Ampun Kanjeng Sultan. Sebenarnyalah demikian. Hamba memang sudah melakukan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan atas kekhilafan hamba mengawasi Danang Sutawijaya, sehingga Sutawijaya telah melakukan perbuatan yang tercela.”

Sultan Hadiwijaya mengerutkan keningnya. Ditatapnya Ki Gede Pemanahan sejenak. Lalu dengan nada datar ia berkata, “Katakan.”

“Ampunkan hamba. Bahwa hal itu telah terjadi.”

“Hal yang manakah yang kau maksudkan?”

“Kanjeng Sultan. Adalah di luar kemampuan hamba untuk mencegahnya bahwa Danang Sutawijaya, putera angkat terkasih dari Kanjeng Sultan sendiri telah melanggar pagar ayu.”

“Katakan, katakan,” suara Sultan Hadiwijaya mulai berubah.

“Danang Sutawijaya dengan diam-diam telah melakukan hubungan dengan salah seorang gadis Kalinyamat, puteri dari Kanjeng Sunan Prawata yang sedianya diperuntukkan bagi Kanjeng Sultan. Bukankah kedua puteri itu hadiah Kanjeng Ratu Kalinyamat kepada siapa pun juga yang berhasil membinasakan Arya Penangsang, dan bukankah Kanjeng Sultan-lah yang saat itu menyanggupinya dan sebenarnyalah Arya Penangsang telah terbunuh. Dengan demikian maka Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak akan dapat ingkar dan menyerahkan kedua gadis itu kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya.”

Sultan Hadiwijaya memejamkan matanya. Sejenak ia diam mematung.

Terasa jantung Ki Gede Pemanahan berdetak semakin keras. Dengan menahan nafas ia menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Sultan Hadiwijaya tentang Sutawijaya. Menilik sikapnya maka agaknya Sultan Hadiwijaya sedang menahan gejolak perasaan yang melanda dinding jantungnya.

Namun demikian Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak dapat meraba, apakah yang akan dikatakan oleh Sultan Hadiwijaya itu kepadanya, dan apakah yang sebenarnya sedang bergejolak di dalam hatinya.

Sejenak Sultan Hadiwijaya masih berdiam diri, sedangkan jantung Ki Gede Pemanahan seakan-akan semakin berdentangan.

Ki Gede menahan nafasnya ketika ia kemudian melihat Sultan Hadiwijaya membuka matanya. Tanpa berkedip Ki Gede memandang wajah Sultan Hadiwijaya sambil menunggu setiap patah kata yang akan diucapkan.

Namun terasa darah Ki Gede Pemanahan itu berhenti mengalir ketika justru ia melihat Sultan Hadiwijaya itu tersenyum. Senyum yang itu juga, seperti senyumnya sebelum Ki Gede meninggalkan Pajang.

“Ki Gede Pemanahan,” berkata Sultan Pajang, “aku kagum atas kejujuran dan kesetianmu. Kau datang sendiri dengan tergesa-gesa, ternyata kau tidak sempat memberitahukan lebih dahulu, untuk menyampaikan laporan tentang kesalahan yang dilakukan oleh anakmu yang sudah aku angkat menjadi anakku. Jarang orang yang berbuat seperti itu, yang dengan dada tengadah menyatakan kesalahan diri.” Kanjeng Sultan berhenti sejenak, lalu, “Itu adalah ciri watakmu, Kakang. Sejak kita bersama-sama menegakkan Pajang, kau memang seorang yang pantas dikagumi. Kau adalah seorang panglima yang berani dan terlebih-lebih lagi adalah seorang panglima yang jujur. Dan kini sifat itu masih ada padamu. Itulah yang sebenarnya telah memukau hatiku. Bukan karena aku mendengar pengakuanmu bahwa gadis Kalinyamat itu sudah berhubungan diam-diam dengan anak angkatku sendiri. Dan bahkan jika kau belum tahu aku ingin memberitahukan bahwa gadis itu sekarang sudah mengandung.”

Rasa-rasanya telinga Ki Gede Pemanahan itu berdesing. Ternyata Sultan Hadiwijaya sudah mengetahui semuanya. Bahkan mengetahui pula bahwa gadis itu sudah mengandung.

“Ampun Kanjeng Sultan,” Ki Gede Pemanahan menyembah, “kini aku pasrah diri. Hukuman apakah yang akan dilimpahkan kepada hamba dan anak hamba Sutawijaya. Yang terjadi adalah cela yang tidak termaafkan. Apalagi Danang Sutawijaya telah banyak sekali menerima sih dan kanugrahan dari Kanjeng Sultan sendiri.”

Tetapi Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bingung ketika ia mendengar Sultan Hadiwijaya itu tertawa perlahan. Dengan sareh ia pun kemudian berkata, “Kakang Pemanahan. Apakah sudah sepantasnya aku menjatuhkan hukuman atasmu dan Sutawijaya.”

“Tentu Kanjeng Sultan. Jika anak hamba telah melakukan kesalahan yang demikian besarnya, maka sudah sepantasnya bahwa hamba pun menerima hukumannya pula.”

Tetapi Sultan Hadiwijaya tertawa pula, sehingga Ki Gede Pemanahan menjadi semakin bingung.

“Kakang,” berkata Sultan Hadiwijaya, “Semangkin dan Prihatin, kedua gadis dari Kalinyamat itu memang telah disediakan bagi orang yang berhasil membunuh Arya Penangsang. Bukankah yang telah berhasi1 membunuh Arya Penangsang adalah Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi seperti yang dikatakan oleh Kakang Juru Mertani? Tetapi sebenarnya aku pun mengetahui bahwa adbmcadangan.wordpress.com yang telah membenamkan tombak Kiai Pleret ke lambung Arya Penangsang adalah Danang Sutawijaya. Karena itu, bukankah sudah sewajarnya jika Sutawijaya menerima hadiah yang dijanjikan oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat itu?”

“O,” Ki Gede Pemanahan justru menjadi bertambah bingung, sehingga ia hanya dapat menunggu Sultan Hadiwijaya meneruskan, “Kakang Pemanahan. Karena itu, agaknya sudah tertulis di jalur jalan kehidupan Semangkin bahwa ia memang akan menjadi sisihan orang yang berhasil membalaskan dendam ayahandanya dan bibinya, kematian pamandanya Arya Penangsang.”

“Jadi?” Ki Gede Pemanahan tergagap.

“Jadi, tidak ada apa-apa, Kakang Pemanahan. Sutawijaya memang sudah dewasa. Sudah sepantasnya ia mencintai dan dicintai oleh seorang gadis. Dan gadis itu adalah Semangkin.”

“Ampun, Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Sebenarnyalah hamba menjadi bingung. Hamba sama sekali tidak mengerti sikap Kanjeng Sultan. Seharusnya paduka menjatuhkan hukuman atas hamba berdua. Tetapi paduka sama sekali tidak menyebut hukuman apakah yang harus hamba jalani.”

Sultan Hadiwijaya menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak senantasnya aku menjatuhkan hukuman kepada Sutawijaya. Ia sudah berjalan menurut kodrat manusiawi. Yang dapat aku berikan hanyalah sekedar pesan, bahwa sebaiknya Sutawijaya tidak melakukannya terhadap setiap gadis atau perempuan yang dikehendakinya.”

Terasa tubuh Ki Gede Pemanahan menjadi gemetar. Dan ia mendengar Sultan Hadiwijaya berkata seterusnya, “Dan permintaanku, hubungan yang sudah menumbuhkan buah di tubuh Semangkin itu janganlan disia-siakan. Tentu aku akan menganggapnya sebagai menantuku juga. Namun hendaknya Sutawijaya bertindak sebagai seorang laki-laki di dalam hal ini. Anak yang bakal lahir adalah anaknya. Belahan jiwanya sendiri. Karena itu, selanjutnya hubungan antara Sutawijaya dan Semangkin supaya dapat berlangsung wajar. Aku restui hubungan itu, dan keduanya memang sudah cukup dewasa.”

“Kanjeng Sultan Hadiwijaya,” sembah Ki Gede Pemanahan, “benarkah yang telah hamba dengar, bahwa paduka sama sekali tidak menjatuhkan hukuman apa pun kepada hamba, bahkan justru sebaliknya.”

Sultan Hadiwijaya tertawa. Dipandanginya Ki Gede Pemanahan yang membungkukkan kepalanya sehingga hampir menyentuh lantai.

“Sudahlah, Kakang Pemanahan. Jangan menanggapi keputusanku itu dengan berlebihan. Bukankah aku bersikap wajar pula dan tidak berlebihan. Kau bagiku adalah seorang saudara tua yang pantas aku hormati. Sutawijaya adalah anakku yang aku kasihi. Apalagi? Apakah artinya seorang gadis bagiku? Maksudku bukan karena aku menyiapkannya, karena ia adalah hadiah Kakanda Ratu Kalinyamat. Dan aku harus mengartikan lain dari hadiah itu, karena keduanya adalah kemanakanku sendiri, meskipun hubungan darah dari Adinda Permaisuri.”

Ki Gede Pemanahan untuk beberapa saat justru tidak, dapat berbicara sepatah kata pun.

“Kakang, sebenarnya aku tidak dapat berpura-pura bersih di dalam hal ini. Apalagi terhadap Kakang Pemanahan yang mengetahui Karebet ini seutuhnya. Luar dan dalam. Karena itu, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa aku bersih dari nafsu. Bahkan mungkin Kakang Pemanahan menganggap aku sebagai seorang tua yang tidak tahu diri. Dan aku pun tidak ingkar, bahwa kelemahanku adalah pada seorang perempuan. Tetapi tentu tidak untuk menjatuhkan hukuman kepada Sutawijaya karena ia mencintai seorang gadis. Tentu tidak. Karena hal itu adalah wajar sekali. Dan betapa ganasnya seekor harimau, tetapi ia tidak akan menelan anaknya sendiri.”

Ki Gede Pemanahan tiba-tiba saja bergeser maju. Didekapnya kaki Sultan Hadiwijaya sambil berkata, “Kanjeng Sultan adalah seorang yang berhati selapang lautan.”

Sambil menepuk bahu Ki Gede Pemanahan, Sultan Hadiwijaya berkata, “Sekali lagi, Kakang, jangan menanggapi sikapku berlebihan.”

Ki Gede Pemanahan mundur setapak. Sambil menyembah ia berkata, “Hamba mengucapkan terima kasih yang sebesarnya. Hamba tidak tahu, bagaimana hamba akan membalas kebaikan budi Kanjeng Sultan.”

“Tidak ada yang harus dibalas. Jika kita berbicara tentang hutang budi, maka hutangku kepada Kakang Pemanahan jauh lebih banyak dari yang pernah aku berikan. Karena itu, sudahlah. Kita lupakan apa yang sudah terjadi. Tetapi jangan dilupakan pesanku kepada Sutawijaya.”

“Semua pesan Paduka akan hamba sampaikan.”

“Terima kasih, Kakang. Dan pesanku yang lain, aku sudah rindu kepadanya. Aku mengharap ia datang ke Pajang.”

Terasa sesuatu berdesir di dada Ki Gede Pemanahan. Anaknya adalah anak muda yang keras hati. Dan ia telah mengajarinya untuk berbuat seperti yang dilakukannya sekarang.

Kembali dada Ki Gede Pemanahan telah ditusuk oleh penyesalan yang tajam. Namun semuanya itu telah terjadi, dan ia tidak akan dapat menghapus ketergesa-gesaan yang pernah dilakukannya itu.

“Nah, Kakang,” berkata Sultan Pajang kemudian, “apakah masih ada persoalan lain yang akan Kakang katakan?”

“Tidak, Kanjeng Sultan. Hamba datang untuk menyampaikan penyesalan dan pasrah diri. Tetapi Paduka telah melimpahkan keluhuran budi yang tiada taranya. Karena itu hamba hanya dapat mengucapkan beribu-ribu terima kasih.”

“Jika demikian, baiklah Kakang. Aku kira aku sudah cukup lama menerima Kakang. Sekarang Kakang dapat beristirahat. Pada saatnya, Kakang Pemanahan akan pulang ke Mataram, aku hanya dapat mengucapkan selamat jalan.”

“Terima kasih,” sembah Ki Gede Pemanahan, “hamba mohon diri, Paduka.”

Demikianlah maka Ki Gede Pemanahan mengundurkan diri dengan hati yang bergejolak dengan dahsyat. Gambaran yang pernah bermain di angan-angannya sama sekali tidak terjadi. Ia menyangka bahwa ia akan digantung di alun-alun, atau dihukum picis di simpang empat karena selain kesalahan Sutawijaya, tentu Sultan sebenarnya menjadi sangat marah pada saat ia meninggalkan Pajang tanpa pamit dan dengan demikian memaksa Sultan Pajang untuk menyerahkan Alas Mentaok yang sudah dijanjikannya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Atas desakan beberapa orang sahabatnya, maka Ki Gede Pemanahan masih diminta untuk tinggal semalam lagi di Pajang. Beberapa orang di antara mereka masih ingin berbicara dan berceritera tentang banyak hal yang menyangkut Alas Mentaok.

Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan kurang berhati-hati menghadapi para pemimpin dan Senapati Pajang yang nampaknya sangat ramah dan baik hati. Berbeda dengan Sultan Hadiwijaya yang dengan jujur menanggapi sikap Ki Gede Pemanahan yang jujur itu pula, maka beberapa orang pemimpin dan senapati di Pajang ingin memancing keterangan dari Ki Gede Pemanahan.

Bahkan ketika salah seorang dari mereka dengan terus terang bertanya tentang hubungan antara Sutawijaya dengan gadis Kalinyamat itu, maka Ki Gede Pemanahan pun mengatakan bahwa hal itu sudah diserahkan kepada Sultan Pajang

“Apakah keputusan Sultan?” bertanya seorang perwira yang sudah setengah umur.

Ki Gede Pemanahan ragu-ragu. Namun akhirnya ia berkata, “Kami menunggu perintah Kanjeng Sultan kapan saja perintah itu datang.”

“Apakah Kanjeng Sultan menjadi marah?”

“Aku tidak dapat membedakan, apakah Sultan sedang marah atau justru sedang berkenan di hati,” jawab Ki Gede Pemanahan, “dan hal seperti itu selalu aku alami sejak aku masih menjadi Panglima Tamtama di Pajang.”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah bahwa Ki Gede Pemanahan pernah menjabat sebagai panglima di Pajang.

Selain persoalan Sutawijaya, masih banyak lagi yang mereka perbincangkan. Kadang-kadang Ki Gede Pemanahan menganggap bahwa tidak sepantasnya ia berprasangka terhadap para perwira di Pajang. Mereka adalah orang-orang yang baik dan ramah.

“Selama ini, kami terlampau berprasangka,” berkata Ki Gede di dalam hatinya, “terhadap Sultan dan para perwiranya. Ternyata mereka adalah orang yang baik dan bukan pendendam. Untunglah setiap usaha untuk melibatkan Pajang di dalam pertentangan dengan Mataram selalu gagal.”

Dan terbayang di angan-angan Ki Gede wajah seorang senapati yang bernama Daksina. Lalu katanya di dalam hati, “Tetapi terbukti ada juga senapati yang telah berusaha merusak sama sekali rencana kami untuk membuka Tanah Mataram.”

Meskipun demikian Ki Gede Pemanahan telah tenggelam ke dalam sikap yang baik dan ramah dari para perwira sehingga ia menjadi agak lengah dan kadang-kadang memberikan keterangan tentang Mataram agak terlampau banyak.

Memang ada di antara para perwira yang benar-benar dengan jujur mengagumi perkembangan yang telah dicapai oleh Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya. Namun ada pula di antara mereka yang dengan saksama mencari kelemahan-kelemahan yang ada pada Ki Gede.

Namun kemudian ketika pembicaraan telah hilir-mudik tidak menentu salah seorang senapati bertanya, “Kapan Ki Gede akan kembali ke Mataram?”

“Sebenarnya segera. Tetapi baiklah besok saja aku kembali ke Mataram. Besok pagi-pagi jika matahari terbit di Timur.”

Senapati itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanpa menanggapinya.

Malam itu Ki Gede Pemanahan tidur di tempat seseorang yang baik sekali kepadanya. Seorang sahabat sejak Ki Gede masih berada di Pajang.

“Kau harus berhati-hati Ki Gede,” berkata orang itu, “di Pajang banyak orang yang tidak senang melihat perkembangan Mataram.”

“Kenapa?”

“Iri hati dan dengki.”

“Ah, ternyata mereka sangat baik dan sama sekali tidak perlu berprasangka. Aku telah berbicara dengan mereka sehari-harian.”

Tetapi orang itu menggeleng. Katanya, “Kau hanya melihat kulit luarnya saja. Dalamilah apa yang mereka katakan dan renungilah setiap pertanyaannya.”

Ki Gede tidak menyahut. Namun baginya sama sekali tidak ada alasan untuk mencurigai siapa pun.

“Kau terlampau bersih, sehingga kau pun menganggap orang lain tidak bercela.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba menilai kembali isi pembicaraannya dan sikap para perwira Pajang kepadanya. Tetapi bagi Ki Gede Pemanahan tidak ada persoalan yang dapat menumbuhkan kecurigaan apa pun.

Meskipun demikian Ki Gede Pemanahan tidak dapat mengabaikan sama sekali pendapat sahabatnya itu, karena Ki Gede Pemanahan pun menyadari bahwa sahabatnya itu tentu bermaksud baik dan tidak sekedar mengada-ada.

Demikianlah ketika fajar di pagi berikutnya mulai memerah di langit, Ki Gede Pemanahan dan kedua pengawalnya pun mulai berkemas. Mereka ingin berangkat pagi-pagi benar selagi matahari belum mulai membakar kulit.

“Berhati-hatilah, Ki Gede Mataram,” pesan sahabatnya sambil menepuk bahu Ki Gede, “Mataram benar-benar suatu Tanah Harapan bagi rakyat Pajang. Bukan saja karena di Mataram akan dapat tumbuh persoalan-persoalan baru dan usaha-usaha baru, melainkan juga karena Mataram menyebarkan cita-cita baru bagi hari depan kita semuanya.”

“Ah, kau terlampau memuji,” sahut Ki Gede Pemanahan, “tetapi, yang tampak, Mataram adalah tanah garapan baru bagi para petani. Itu saja. Di atas tanah yang baru dibuka itu para petani akan dapat mengembangkan usahanya dan beberapa percobaan yang baru di bidangnya.”

Sahabat Ki Gede Pemanahan tersenyum. Namun ketika ia melepas Ki Gede dan kedua orang pengawalnya, sekali lagi ia berkata, “Hati-hatilah, Ki Gede. Kau adalah seorang panglima yang berani di peperangan. Dan sekarang kau masih menunjukkan keberanian itu. Kau bertiga akan menyeberangi jarak yang cukup panjang antara Pajang dan Mataram. Namun selain panjang jarak, itu pun menyimpan berbagai bahaya bagimu.”

“Aku tidak akan berbuat buruk. Tentu perjalananku pun akan lancar dan tidak ada gangguan apa pun di perjalanan.”

“Mudah-mudahan.”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Ia pun kemudian minta diri dan dengan lajunya bersama kedua pengawalnya Ki Gede meninggalkan gerbang kota Pajang.

Namun dalam pada itu, di luar pengetahuan Ki Gede Pemanahan beberapa pasang mata mengawasinya dari kejauhan. Demikian Ki Gede Pemanahan meninggalkan gerbang, maka mereka pun menarik nafas dalam-dalam. Salah seorang dari mereka berkata, “Kita tentu akan berhasil. Selama ini usaha kita bersama Panembahan Agung selalu gagal. Seakan-akan Mataram benar-benar telah dilindungi oleh Yang Maha Kuasa. Sutawijaya selalu luput dari maut. Tetapi kini kita justru mulai dari Ki Gede Pemanahan sendiri.”

“Ya. Ia pasti tidak akan pernah sampai ke daerah yang dibukanya.”

Orang-orang itu saling berpandangan sejenak. Di bibir mereka nampak membayang senyum yang penuh arti. Seakan-akan mereka pasti, bahwa Ki Gede Pemanahan memang tidak akan dapat sampai ke Mataram kembali.

“Orang-orang itu tentu akan dapat menyelesaikan tugas mereka dengan baik. Meskipun Ki Gede Pemanahan dapat menangkap angin sekalipun, ia tidak akan dapat melawan ke empat bersaudara itu,” berkata yang lain lagi.

Orang yang tertua di antara mereka berkata sambil melangkah, “Marilah kita kembali. Pemanahan bukan orang yang bernyawa rangkap. Pada saatnya ia akan kehilangan nyawanya itu.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mungkin saat itu sekarang sudah datang,” orang itu melanjutkan, “dan aku yakin bahwa Pemanahan akan mati. Keempat bersaudara itu memang memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan. Aku sudah mencoba kemampuan mereka. Dan aku tahu pasti, bahwa Pemanahan tidak dapat melawan mereka karena aku sendiri pun agaknya tidak. Dan kemampuan Pemanahan tidak akan lebih tinggi dari kemampuanku. Bagiku sebenarnya Pemanahan bukan orang yang menakutkan. Tetapi kedudukankulah yang tidak memungkinkan aku bertindak sendiri. Usahaku untuk bekerja bersama Panembahan Agung pun ternyata gagal karena Panembahan Agung justru terbunuh. Dan bagiku Panembahan Agung pun bukan orang yang ajaib. Ia hanya dapat membuat mainan kanak-kanak yang kebingungan. Selebihnya, ia adalah seorang cengeng yang manja.”

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

“Karena itu aku bersedia bekerja bersamanya. Aku tahu bahwa kelak ia akan menyingkirkan kita jika kerja ini sudah selesai. Tetapi kita pun akan berbuat serupa seandainya ia tidak mati di peperangan. Aku tidak gentar menghadapinya meskipun aku tahu bahwa ia memiliki aji Pangangen-angen yang kadang-kadang membingungkan bagi anak-anak.”

“Nah, kita akan kembali. Besok kita akan mendengar kabar bahwa Ki Gede Pemanahan terbunuh oleh sekelompok penyamun. Empat orang bersaudara dari lereng Gunung Lawu itu akan membawa beberapa orang kawan karena mereka harus melakukan kerja ini sampai selesai. Mungkin kedua orang pengawal Pemanahan itu memiliki kelebihan pula dari kebanyakan orang.”

Yang lain masih saja mengangguk-angguk. Tetapi dari wajah mereka memancar harapan, bahwa Ki Gede Pemanahan akan terbunuh di perjalanan. Selanjutnya, mereka harus berhasil menyingkirkan Sutawijaya. Mereka tidak mempunyai harapan lagi untuk dapat memanfaatkan kedua orang itu. Seandainya Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya yang keras hati itu dapat mereka tangkap hidup-hidup, maka dengan ancaman apa pun juga mereka tidak akan bersedia bekerja bersama sehingga akhirnya keduanya tidak lagi diperlukan.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan sendiri, yang sedang berpacu kembali ke Mataram, hampir tidak pernah berbicara sama sekali. Angan-angannya sedang dipenuhi oleh kegelisahan yang pepat. Sikap Sultan Hadiwijaya benar-benar telah menyiksanya justru karena semua kesalahan yang telah dilakukan oleh Sutawijaya itu sama sekali tidak mendapat hukuman apa pun juga,

“Kebaikan hatinya benar-benar membuat aku semakin merasa bersalah,” berkata Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. “Dan sikap Sutawijaya yang keras membuat aku semakin menyesali kesalahan yang pernah aku lakukan.”

Terasa sesuatu bergejolak di dada Ki Gede Pemanahan. Ia menjadi sangat perihatin akan kekerasan hati Sutawijaya yang benar-benar tidak mau datang menghadap ke Pajang.

“Aku adalah sumber kesalahan ini. Aku tidak dapat mengajari anakku mengenal kebaikan budi Sultan Pajang. Dan aku tidak dapat mengajari anakku berbuat sebagai seorang kesatria yang berwatak, karena ia sudah melakukan perbuatan tercela. Siapa pun gadis itu, namun perbuatan itu bukannya perbuatan yang terpuji,” keluh Ki Gede Pemanahan di dalam hatinya. Lalu, “Apalagi ia adalah gadis yang sebenarnya akan diperuntukkan bagi Sultan Hadiwijaya sendiri.”

Namun sebuah kejanggalan telah melonjak pula di hatinya. Kedua gadis itu masih terlalu muda. Sedang Sultan Hadiwijaya sudah melalui masa-masa pertengahan umur seseorang.

Sehingga karena itu, sepercik kekecewaan telah membersit di hatinya. Tetapi Ki Gede Pemanahan cepat-cepat menyingkirkannya. Katanya di dalam hatinya, “Ia adalah seorang raja. Apa pun yang dikehendaki akan terjadi.”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Di hatinya telah bergejolak perasaan yang bercampur baur. Namun bagaimana pun juga, sikap Sultan Hadiwijaya telah membuatnya merasa terlalu kecil.

Ketiga ekor kuda yang meninggalkan Pajang itu berderap semakin cepat. Penunggangnya sama sekali tidak menghiraukan lagi keadaan di sekelilingnya. Apalagi Ki Gede Pemanahan. Meskipun ia menatap lurus-lurus ke depan, namun agaknya tidak satu pun yang dilihatnya. Ia sama sekali pasrah pada derap kaki kudanya. Hanya sekali-sekali ia terkejut dan memberikan arah dengan menggerakkan kendali.

Dalam pada itu, sekelompok orang-orang yang garang telah menunggu dengan tegang. Mereka adalah empat bersaudara dari lereng Gunung Lawu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Apalagi apabila mereka berempat berada di dalam satu pasangan. Apalagi mereka telah membawa beberapa orang kawan yang terpilih. Mereka menyadari bahwa orang yang kali ini harus diselesaikan adalah Ki Gede Pemanahan. Seorang yang pilih tanding.

Keempat saudara dari lereng Gunung Lawu itu tahu benar, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah bekas Panglima Wira Tamtama di Pajang. Dan mereka pun tahu benar, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah seorang putera dari Sela, dari daerah yang terkenal keturunan seseorang yang menurut berita mampu menangkap petir.

“Kali ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri,” berkata orang tertua dari keempat saudara dari lereng Gunung Lawu.

“Ya, Kakang Dandun,” jawab adiknya yang kedua, “kita semua sudah mengetahui siapakah yang kali ini kita hadapi. Karena itu, kita tidak boleh lengah.”

“Ki Gede Pemanahan dengan dua orang pengawal,” sahut yang lain, “betapa pun tinggi ilmu mereka, tetapi mereka tidak akan dapat berbuat banyak. Mungkin aku seorang diri dapat dikalahkan oleh Ki Gede Pemanahan. Tetapi ukurannya adalah paling banyak dua dari kita. Selebihnya adalah tenaga cadangan yang meyakinkan.”

“Ditambah dengan orang-orang kita,” berkata yang lain lagi sambil memandang beberapa orang yang bertebaran duduk di atas rerumputan.

“Kita masih mempunyai waktu,” berkata Dandun, “tetapi baiklah dua orang di antara orang-orang yang malas itu mengamat-amati jalan. Jika Ki Gede Pemanahan sudah tampak, kita harus benar-benar bersiap.”

Demikianlah dua orang di antara mereka harus berada di ujung bulak untuk mengawasi jalan. Jika mereka melihat tiga ekor kuda berpacu menuju ke arah mereka, dari Pajang maka ketiganya adalah Ki Gede Pemanahan dengan dua orang pengawalnya.

“Kita sudah memilih tempat yang paling tepat. Jika kita berhasil, kita ceburkan saja mayat mereka ke Kali Opak.”

“Ya. Dan kita akan menerima upah kita dan kelak, jika orang-orang tamak itu berhasil, kita akan mendapat kedudukan yang baik pula.”

Dandun menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian berbaring di atas rerumputan di bawah sebatang pohon yang rimbun.

“Jalan ini jarang dilalui orang,” desisnya. Lalu, “Karena itu kita tidak usah takut diketahui orang. Seandainya ada orang lewat pun, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika mereka mencoba mencampurinya, kita akan menyelesaikannya sama sekali.”

Adik-adiknya mengangguk-anggukkan kepalanya. Jalan itu nampaknya memang sepi. Meskipun demikian ada juga beberapa orang yang lewat di dalam kelompok-kelompok kecil. Sudah sejak beberapa lama jalan itu menjadi tenang dan tidak ada lagi gangguan-gangguan yang berarti. Apalagi sejak jalan ke sebelah Barat seakan-akan terbuka sama sekali, maka jalan adbmcadangan.wordpress.com itu rasa-rasanya menjadi benar-benar telah aman meskipun masih belum banyak orang yang melaluinya, karena mereka masih dibayangi oleh kenangan masa yang mendebarkan karena orang-orang yang menyamun di sepanjang jalan itu dan dengan sengaja menakut-nakuti orang-orang yang lewat, terutama yang menuju ke Barat.

Semakin tinggi matahari merayap di langit, rasa-rasanya mereka menjadi semakin gelisah. Kadang-kadang mereka tidak telaten lagi menunggu.

“Mungkin Ki Gede Pemanahan belum akan lewat hari ini,” berkata salah seorang dari keempat orang dari Lereng Gunung Lawu itu.

“Orang-orang Pajang sudah memberi tanda. Mereka tahu pasti bahwa hari ini Ki Gede Pemanahan akan kembali ke Mataram. Tetapi mungkin ia tidak berangkat pagi-pagi benar,” jawab Dandun.

Adiknya tidak menyahut lagi. Seperti kakaknya, ia pun kemudian berbaring di bawah pohon yang rindang pula.

Dalam pada itu, beberapa kelompok orang yang lewat menjadi heran melihat beberapa, orang duduk-duduk di pinggir jalan menuju ke daerah Mataram. Tetapi mereka tidak bertanya sesuatu karena orang-orang itu sama sekali tidak mengganggu mereka. Bahkan mereka kemudian beranggapan bahwa mereka adalah sekelompok orang lewat yang sedang beristirahat seperti mereka.

Sementara itu, Ki Gede Pemanahan tidak lagi berpacu dengan tergesa-gesa. Semakin lama dibiarkannya kudanya berlari semakin lambat, sementara itu angan-angannya masih saja dibayangi oleh sikap Sultan Hadiwijaya. Betapa hatinya merasa terbanting di atas batu pualam yang keras oleh sikap yang sangat baik dari Sultan Hadiwijaya itu.

Namun dalam pada itu, Ki Gede sama sekali tidak menyangka bahwa beberapa orang telah diupah untuk mencegatnya di perjalanan. Ia tidak menyangka bahwa orang-orang Pajang benar-benar telah menginginkan kematiannya. Apalagi mereka yang mendengar bahwa sikap Sultan terlampau baik kepadanya.

Ternyata orang-orang Pajang itu sudah mengambil sikap pasti, membunuh Ki Gede Pemanahan.

Karena ia tidak menyangka sama sekali, maka ia tidak mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan itu. Ki Gede Pemanahan tidak membawa senjata lain kecuali keris di punggungnya. Ki Gede menganggap bahwa jalan dari Pajang ke Mataram kini seakan-akan sudah terbuka luas dan tidak ada gangguan lagi. Jika ada penyamun-penyamun kecil, maka penyamun-penyamun itu tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa menghadapi Ki Gede Pemanahan beserta kedua pengawalnya itu.

Dengan demikian maka perjalanan Ki Gede Pemanahan itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan Kali Opak di Prambanan. Dan dengan demikian perjalanannya menjadi semakin lama semakin dekat dengan bahaya yang sebenarnya bagi keselamatannya.

Sekali-sekali Ki Gede Pemanahan masih harus menyusup hutan yang meskipun tidak lebat, tetapi cukup menghambat perjalanannya. Bahkan kadang-kadang kudanya sama sekali tidak dapat berlari. Ki Gede Pemanahan harus menyusup di bawah sulur pohon kayu yang rimbun atau meloncati batang pepohonan yang melintang di jalan. Namun pada dasarnya kudanya dapat maju terus meskipun perlahan-lahan.

Ki Gede Pemanahan tertegun sejenak ketika ia kemudian sampai ke tlatah Sangkal Putung. Masih juga tersangkut sebuah kenangan pada saat ia masih menjadi seorang panglima. Ia pernah datang ke Sangkal Putung khusus untuk menerima penyerahan sisa-sisa dari laskar Jipang, namun yang karena kekhilafan senapati muda di daerah ini, hampir saja ia terbunuh oleh Ki Tambak Wedi yang mencegatnya di perjalanan justru setelah mendekati Sangkal Putung. Untunglah Untara cukup cekatan, sehingga akhirnya ia selamat. Meskipun Ki Gede Pemanahan sendiri adalah lawan yang seimbang dengan Ki Tambak Wedi, namun saat itu Ki Tambak Wedi berhasil mengerahkan anak buahnya lebih banyak dari anak buahnya sendiri.

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Kini Sangkal Putung menjadi daerah yang semakin subur. Tidak ada lagi gangguan yang berarti sepeninggal sisa-sisa pasukan Jipang. Dengan demikian maka orang-orang Sangkal Putung dapat memusatkan kerjanya di sawah dan ladang. Jika matahari memanjat ujung pepohonan, terdengar hampir di setiap padesan suara pande besi menempa alat-alat pertanian. Lembu yang melenguh dan perempuan-perempuan menumbuk padi. Kadang-kadang di seling oleh suara anak-anak melengking minta air susu ibunya. Sedang di tepian, gembala meniup serulingnya menyusup suara desau angin ladang yang lembut.

“Daerah yang semakin segar,” desis Ki Gede Pemanahan.

“Apa, Ki Gede?” bertanya seorang pengawalnya.

“Sangkal Putung ini,” jawab Ki Gede, “sekarang menjadi daerah yang hijau segar. Nampaknya tidak ada lagi kekacauan yang sering terjadi seperti pada saat pasukan Jipang yang sudah terpecah belah berada di daerah ini. Pengaruh orang-orang yang dengan sengaja menutup daerah Mataram pun agaknya tidak begitu terasa di daerah Sangkal Putung ini.”

“Ya, Ki Gede,” sahut pengawalnya, “daerah ini merupakan daerah yang sudah teratur. Tetapi agaknya daerah ini tidak berkembang pesat di bidang pemerintahan.”

“Maksudmu?” bertanya Ki Gede Pemanahan. “Daerah ini adalah daerah Kademangan yang luas. Dengan demikian daerah ini sudah mempunyai bentuknya yang pasti, seperti Menoreh yang telah mendapat pelimpahan kekuasaan sebagai sebuah Tanah Perdikan. Meskipun berbeda bentuk wewenang dan kewajibannya, namun kedua-duanya sudah mempunyai bentuk yang pasti. Jadi bagaimana maksudmu dengan perkembangan pemerintahan?”

“Maksudku, bahwa bentuk kademangan itu tidak meningkat lagi menjadi bentuk yang lebih mantap.”

Ki Gede Pemanahan menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kademangan adalah bentuk yang sudah mantap. Untuk menjadi Tanah Perdikan diperlukan syarat-syarat tertentu. Ki Argapati, Kepala Tanah Perdikan di Menoreh mempunyai jasa yang besar sehingga daerahnya pantas diangkat menjadi daerah Tanah Perdikan.”

“Bukankah Sangkal Putung merupakan benteng yang kuat menghadapi Tohpati saat kekuatan Jipang masih terkumpul di bawah pimpinan Macan Kepatihan itu?”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Memang dapat dipertimbangkan. Tetapi daerah ini belum tentu mendapatkan kedudukan yang lebih mantap sebagai Tanah Perdikan, karena Sangkal Putung tidak seluas Tanah Perdikan Menoreh.”

Pengawal Ki Gede itu pun kemudian terdiam. Namun ia mulai membayangkan, bentuk apakah kira-kira yang akan didapat oleh Tanah Mataram nanti jika Tanah itu sudah menjadi ramai. Apakah sekedar sebuah Kademangan atau Tanah Perdikan? Ki Gede Pemanahan pernah menjabat sebagai seorang Panglima yang diakui memiliki kelebihan dari senapati yang lain. Apakah pada saat ia berhasil membuka Alas Mentaok, ia hanya akan mendapatkan kedudukan sebagai seorang Demang? Dan untuk waktu yang jauh sekali, sejauh yang pernah dialami Sangkal Putung, Mataram hanya tetap sebuah Kademangan?

Meskipun hal itu tidak dikatakan, tetapi rasa-rasanya Ki Gede Pemanahan dapat mengerti. Maka katanya, “Bagi Mataram, bentuk tidak penting. Wewenang dan kekuasaan pun akan menyusul dengan sendirinya apabila Mataram berhasil menyusun dirinya. Sultan Hadiwijaya adalah orang yang baik. Dan aku harus bersujud di hadapannya karena kebaikan hatinya.”

Kedua pengwalnya tidak menyahut. Mereka mengerti bahwa Ki Gede sedang dihimpit oleh perasaan yang aneh. Sesudah ia merasa bersalah, khawatir, cemas, dan bayangan yang kelam bahwa ia akan mendapatkan hukuman karena Sutawijaya telah melakukan pelanggaran yang berat, namun tiba-tiba yang terjadi bukan apa-apa. Sultan Hadiwijaya tidak menghukumnya, tidak marah dan bahkan merestui hubungan antara Raden Sutawijaya dengan gadis Kalinyamat itu.

Ternyata Ki Gede Pemanahan telah terlempar kembali ke dalam kediamannya. Matanya kembali menatap ke kejauhan.

Sementara itu, orang-orang sangkal Putung yang sedang bekerja di sawah sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka memang sering melihat beberapa orang berkuda lewat. Tetapi kali ini yang lewat adalah Ki Gede Pemanahan. Namun orang-orang Sangkal Putung tidak menyangkanya, karena Ki Gede Pemanahan sama sekali tidak mengenakan tanda-tanda kebesarannya. Ia mengenakan pakaian seorang petani. Dan sebagai orang kebanyakan maka ia sama sekali tidak menimbulkan kesan apa pun bagi mereka yang melihatnya, bahkan berpapasan sekalipun.

Demikianlah maka Ki Gede Pemanahan menjadi semakin dekat dengan Kali Opak. Setelah Sangkal Putung ditinggalkannya, maka untuk beberapa saat lamanya Ki Gede menyusuri hutan yang tidak begitu lebat. Tetapi hutan itu adalah hutan yang sudah terlampau sering dilalui, sehingga seakan-akan hutan itu adalah hutan tamasya saja. Binatang-binatang yang masih ada justru menjauhi jalan yang membelah tengah-tengah hutan itu.

Tetapi hutan itu ternyata tidak begitu luas, sehingga beberapa saat kemudian Ki Gede telah berada di bulak persawahan lagi. Namun dengan demikian terasa panas matahari seakan-akan menyengat kulit punggung meskipun dilambari oleh selembar baju yang tebal.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 11 Desember 2008 at 21:35  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-79/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. Pertama ………… capek kelamaan naik kopaja 78, waktunya istirahat di kapling 79, semoga babat kapling 79 bisa lebih cepat di munculkan he..he…

  2. Nomor satu… 🙂

  3. Nomor dua deng… 😦

  4. ikut antri ah….
    dapat nomor gak ya

  5. sudah malem, tiduran disini dulu

  6. Number…empat…kok Ki Pandanalas dan Ki Maswal belum kelihatan…jangan2 ketinggalan KOPAJA 78.
    Hehehe berarti mereka masih di Menoreh.

  7. ….kerrrrr kerrrrrr kerrrrrrr
    loket peron udah buka belon ya??…
    jam berapa ntar??….
    tidur lagi ah…………..(gelar tiker..)

  8. Selamad pagi, sambil terdengar suara azan subuh saya ikut ngantri ki Gede

    maturnuwun,
    Ki KontosWedul

  9. Absen Ki GD, katiwasan jebulnya KOPAJA 79 sdh mli angkut penumpang…..

  10. absen juga ah…mumpung masih dapat seat depan….

    nuwun
    Ro_Man

  11. Ikuuutt….ikuuuuutt…

  12. Kitab 79 akan diberikan jika Sultan Hadiwijaya sudah memaafkan Sutawijaya…

    Maafin ya… please…

  13. wah, ngapunten ki gede dan sederek2, comment sy rodo keladuk.
    amargi nenggo kitab 78 suwi banget, dadi waringuten.

    lha sakmeniko, kulo nderek numpang KOPAJA 79, pareng to?
    Tp mbok yen saget, kendaraane ganti Bus AC, kersane radi sekeco.

    Btw kemaren liat2 groups ADBM di facebook,
    namanya ga nyambung dgn nick tmn2 disini, Cm tau mas Sukra sama Mas Wal saja..

  14. ki Gedhe lan sedherek2 sedaya,

    tumut absen…

  15. meski belum sempat nggandol kopaja 78 karena lewatnya malam dan sekarang lagi gawe, saya juga akan ikut ngantri untuk menunggu bus 79. nanti siang ba’da duhur langsung naik bus. boleh to?

  16. senengnya dapet ceweq kalinyamat, dimaafin lagi…..hehhehee….
    seperti biasa ikut antrian mumpung belum terlalu rame….

  17. Di trilogi Roro Mendut-nya Romo Mangun, nanti keturunan Sutawijaya juga mengalami kejadian serupa. Pelakunya Amangkurat (berapa..ya? lupa) yang penyelesaiannya kejam sekali. Perempuan simpanan yang masih belum dewasa benar itu akhirnya dihukum mati.

    Nderek ngantri, Ki Gedhe..

  18. yg di facebook ADBM kok malah banyak ceweknya, padahal yg nongol antri kitab kayaknya para lelaki semua…apa yg sering antri disini justru ga gabung di facebook ?
    hayo rame2 gabung kalo gitu

  19. Kakang Panji,…mungkin di dunia luar sana poro cantrik sdh mesu-rogo. Jadi gak dpt dipastikan apakah cantriknya cewek atau cowok……..who knows

  20. Jabang bayik…poro cantrik kok wis pating jenggeleng….

  21. “Kanjeng romo sultan, nanda mohon maaf atas kekhilafan nanda. Sebab sewaktu berdekatan, nanda tidak kuwat menahan gelora di dada ini. Selain itu situasi saat itu sangatlah mendukung untuk melakukan perbuatan nista tersebut. Nanda pasrah kepada paduka, apapun hukuman yang akan romo sultan jatuhkan, nanda akan menjalaninya.”
    “Ha ha ha ha, …………… Jebeeeeng, sudah, …. sudahlah. Kaca yang retak tidaklah bisa dipake bercermin lagi, rambut yang putus tidaklah bisa disambung lagi. Sudahlah, …………. lupakan saja kejadian itu. Yang penting saya sudah senang kamu sudah secara kesatria mengakui kesalahanmu. Itulah sesungguhnya yang menjadikan hatiku tenteram, karena ternyata Joko Tingkir tidak salah mengangkatmu sebagai puteraku. Aku justru bangga memiliki putera seperti kamu Jebeng, karena hanya orang seperti kamulah yang nantinya pantas menjadi pemimpin di Nuswantoro ini.”
    Ki Gede Pemanahan terperanjat mendengar titah Baginda yang memuji Sutawijaya. Kalau begitu pantas saja kalau Sri Sultan tidak keberatan dengan kegiatan pembukaan Alas Mentaok menjadi dukuh Mataram.
    “Tetapi”, Sultan Hadiwijaya melanjutkan “kelakuanmu itu harus berakhir sampai disini saja. Jangan sekali-kali kamu mengulangi perbuatanmu melanggar pager ayu. Contohlah ayahmu ini, ….. walaupun aku memang senang dengan batuk klimis, tetapi semuanya saya lakukan dengan benar, dengan melamarnya dan kemudian mengawininya.”
    “Sendiko dawuh romo”. Sutawijaya serasa melayang ke langit sap pitu mendengar pengampunan yang disabdakan oleh ayahnya itu. Berhari-hari sudah Sutawijaya gelisah dan khawatir atas kemungkinan hukuman yang bakal diperolehnya. Namun ternyata kanjeng romonya telah memaafkannya.
    “Tetapi” Sekali lagi Srie Sultan melanjutkan sabdanya dengan kata ‘tetapi’ “Saya ingatkan kamu agar bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, dengan mengawini gadis Kalinyamat itu. Ubarampe perkawinan akan segera dipersiapkan, dan nanti aku yang akan melamarnya, bukan untuk diriku, tetapi untuk puteraku. Bersiap-siaplah untuk itu”.
    “Nun inggih sendiko kanjeng romo”
    “Paman Pemanahan, berhubung semuanya sudah selesai, maka kita cukupkan pertemuan kita untuk saat ini. Tolong bicarkan dengan Tumenggung Glagah Putih mengenai segala sesuatu tentang pernikahan si Jebeng.”
    “Baiklah angger Sultan, mudah2an semuanya berjalan lancar.”
    “Sendiko dawuh Baginda Sultan, hamba akan mengatur segala sesuatunya dengan teliti.” sembah Glagah Putih.
    Stelah satu per satu yang menghadap menghaturkan sembah dan meninggalkan sitinggil kraton Pajang, maka Srie Sultanpun kemudian lengser dari singgasananya.
    Lain ceritera di lain hari, Sutawijaya sedang memadu kasih dengan Putri Kalinyamat, di sebuah Sturbuck Cafe di kawasan Jati Anom.
    Aduuh maaf, komputerku hang,…………..

  22. Waaah,.. jadi dalam beberapa episode ini isine mung mantenan thok yoo? Piye iki Ki Truno,..?
    Blom nanti, mantenannya Swandaru, Agung Sedayu,. Bisa berapa Kopaja tuh undangan yang datang,..

    Berhubung Kopaja 79 jurusan Kalinyamat – Pajang – Mataram baru malam sampainya, silahkan dilanjutkan Ki Truno ceritanipun,..

  23. iya seperti biasanya kayaknya, kopaja datangnya malam, eh nih kopaja atau bis malam ya he..hee.. nuwun sewu Ki GD, tumut ngantri

  24. Ki Truno ceritanya di terusin dong

  25. Hari-hari gini kalau tidak ada Ki Truno Podang tidak asyik. Ada ada saja ceritanya.

    Yang saya jadi heran, lha wong komputernya “hang” kok masih bisa ngirim “comment”. Pake ilmu apa ya, jangan-jangan tulisan itu hanya “semu” saja hasil Ki Truno ngangsu kawruh kepada Ki Waskito.

  26. kayane skrg temanya bkn kopaja lg ni…,kira2 nanti mlm tulisan nyuwun pangapuntennya jd apa ya……..

  27. Yo wis Jebeng .. kowe siji aku siji

  28. halah malah dum duman….mbok’e (Ratu Kalinyamat) yang masih nganggur tuh

  29. matur sembah nuwun ki DD, kitab 79 sudah tak ambil. enak kalo kitabnya bisa jam segini terus soale bisa langsung diunduh untuk dibawa pulang ke rumah dan dinikmati di rumah. sekali lagi, terima kasih banyak ya ki DD

  30. Kakang Panji ngersakaken? monggo loh .. Ki Gede sudah mengendap2, selak kedhisikan

  31. Trimakasih Ki Gd.

    Tapi tidak libur kok. Kita piket di stasiun 80,81 ADBM

  32. ooooo… yyeeeeesssssss

  33. aku donlot dah 10 kali kitab 79 ne, gagal maning gagal maning son sooon, piwe jane? pa kompiku errors apa ya?

  34. Lapor Ki GD, jurus 71 – 72 dalem sampun lalui, nembe mawon mendhet lontar jurus 73 – 78. Suwun nggih.

  35. Matur suwun nggih sampun pikantuk antri maos ADBM ngantos nglontok

  36. Dandun lari sipat kuping
    melihat Ki Menggung, eh Raden Sutawijaya datang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: