Buku 76

Namun dalam pada itu, Panembahan Agung sendiri tidak dapat mengingkari kenyataan. Pasukan lawan sedikit demi sedikit telah memasuki padepokannya, sehingga ia tidak akan dapat tinggal diam.

Karena itulah, maka telah terjadi sesuatu yang mengguncangkan keseimbangan pertempuran itu.

Di dalam cengkaman perang tanding yang dahsyat itu, Panembahan Alit masih sempat melihat bayangan raksasa di puncak bukit. Semakin lama bayangan itu menjadi semakin samar. Bayangan itu tidak hilang dengan tiba-tiba, tetapi perlahan-lahan, sehingga akhirnya hilang sama sekali.

Bukan saja Panembahan Alit, tetapi hampir setiap orang sempat melihat raksasa yang seakan-akan perlahan-lahan menjadi asap sehingga akhirnya.tidak lagi kasat mata.

Kepergian bayangan itu agaknya menimbulkan kesan tersendiri. Raksasa yang lain pun tiba-tiba telah lenyap pula dari atas bukit, meskipun dengan cara yang lain, tidak dengan perlahan-lahan.

Sumangkar yang membimbing Rudita melihat juga bahwa kedua raksasa itu telah hilang. Karena itu dengan bergegas ia berkata, “Rudita, ayahmu telah selesai dengan samadinya. Marilah, cepat.”

Keduanya merayap naik di antara batu-batu padas. Hanya beberapa langkah. Di balik sebuah gerumbul mereka melihat Ki Waskita masih duduk di atas sebuah batu yang tersembunyi.

Rudita menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi Sumangkar berbisik, “Itu benar-benar ayahmu, bukan bentuk semu.”

Rudita memandang Sumangkar sejenak, namun kemudian ia berteriak, “Ayah.”

Ki Waskita pun kemudian berdiri. Dipandanginya saja anaknya yang kemudian tertatih-tatih berlari mendapatkannya dan langsung memeluknya sambil menangis seperti kanak-kanak.

Ki Waskita membelai kepala anaknya yang telah hilang beberapa lamanya itu.

“Kau tidak apa-apa?” desis ayahnya.

“Kenapa tidak apa-apa,” sahut anaknya di sela-sela tangisnya, “aku telah diikat, disakiti dan dipaksa untuk berbicara yang aku sendiri tidak mengerti.”

Ki Waskita menjadi semakin iba kepada anaknya. Anak laki-lakinya yang sangat manja, yang tidak pernah mengalami persoalan yang dapat menggoncangkan hatinya. Tiba-tiba saja ia mengalami peristiwa yang memang sangat dahsyat, bahkan bagi mereka yang berhati tabah sekali pun.

“Baiklah, Rudita. Beristirahatlah di sini bersama pamanmu Sumangkar. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan ini.”

“Apakah Ayah akan pergi?”

“Ya. Aku harus bertemu dengan Panembahan Agung Agaknya ia menyingkir dari padepokannya.”

“Darimana Ayah tahu?”

“Bentuk semu yang diciptakannya ditinggalkan begitu saja sehingga perlahan-lahan menjadi kabur dan hilang. Ia tidak sempat menghapusnya lebih dahulu ketika ia meninggalkan tempatnya.”

“Tetapi biar sajalah ia pergi, Ayah?”

“Ia akan menjadi manusia yang paling berbahaya. Kegagalannya kali ini akan menumbuhkan dendam yang semakin dahsyat di dalam hatinya.”

“Tetapi Ayah jangan pergi.”

Ki Waskita seolah-olah tidak menghiraukan suara anaknya. Perlahan-lahan ia melepaskan pelukan anaknya sambil berkata kepada Ki Sumangkar, “Aku titip anakku. Bawalah kepada Ki Gede Menoreh jika ia sudah selesai. Aku harus mendapatkan Panembahan Agung, jika kita tidak ingin melihat ia mengguncang-guncang ketenteraman bumi ini dengan ilmu kebohongan itu.”

“Ayah,” Rudita berteriak.

“Jangan gelisah. Kau sudah aman di sini. Tidak ada apa-apa lagi.”

“Tetapi Ayah jangan pergi.”

Ki Waskita tidak menghiraukannya. Ia pun segera berlari menghambur dan hilang di balik gerumbul.

“Ayah, Ayah,” Rudita masih berteriak.

“Sudahlah, Rudita. Marilah kita pergi mendapatkan Ki Argapati.”

Rudita mencoba untuk meronta melepaskan dirinya dari tangan Sumangkar untuk menyusul ayahnya. Tetapi Sumangkar memeganginya semakin erat sambil membujuknya, “Rudita. Kau adalah seorang anak muda yang sudah dewasa. Kau bukan anak-anak lagi. Anak-anak muda sebayamu kini berada di medan dengan senjata di tangan. Kenapa kau masih saja menangis?”

Rudita memandang Sumangkar dengan tatapan mata yang basah. Namun anak muda itu mencoba juga untuk menahan tangisnya yang menyesak di dadanya.

“Sudahlah,” berkata Sumangkar kemudian, “ayahmu adalah seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain. Ia merasa mempunyai kuwajiban untuk berbuat kebajikan. Karena itu, jangan kau tahan agar usahanya untuk bertemu dengan Panembahan Agung dapat berhasil.”

Rudita tidak menyahut.

“Nah, marilah kita menemui Ki Argapati.”

Rudita tidak meronta lagi ketika Ki Sumangkar membimbingnya seperti membimbing anak-anak menuruni tebing dan mendekati arena yang sudah menjadi lengang.

Namun ternyata masih ada pertempuran yang sengit terjadi di lembah itu. Bahkan seperti ayam jantan yang sedang bersabung, maka beberapa orang telah melingkarinya menyaksikan perkelahian yang dahsyat itu.

Sampai saat terakhir tidak ada tanda-tanda, bahwa Kiai Gringsing akan berhasil. Panembahan Alit bagaikan menyimpan sarang angin di dalam dadanya. Betapa pun ia bergerak dan berloncatan, nafasnya rasa-rasanya sama sekali tidak terpengaruh. Bahkan seolah-olah tata geraknya semakin lama menjadi semakin mapan. Meskipun Panembahan Alit adalah seorang yang bertubuh wajar, namun ia selalu berhasil menyusup di antara lecutan-lecutan cambuk Kiai Gringsing yang meledak-ledak di seputarnya.

Tetapi di saat-saat terakhir, terjadilah perubahan itu. Ketika Panembahan Alit melihat bayangan raksasa di atas bukit yang lenyap dengan perlahan-lahan, maka seolah-olah ia mendapatkan isyarat, bahwa Panembahan Agung sudah tidak mampu lagi bertahan.

Bagi Panembahan Alit, maka Panembahan Agung adalah tumpuan perjuangannya. Ia bertempur mati-matian dan melakukan semua usaha selama ini untuk menggagalkan usaha membuka Alas Mentaok karena ia berharap bahwa pada suatu saat Panembahan Agung akan dapat menjadi Ratu Adil yang menguasai Tanah Jawa. Yang akan memerintah dengan kebesaran yang tiada taranya, yang akan disegani oleh kawan dan lawan, dihormati oleh bangsa-bangsa di permukaan bumi. Namun di dalam saat terakhir, pertahanan ini agaknya tidak lagi dapat diselamatkan. Panembahan Agung sendiri agaknya telah menjadi berputus asa, atau meninggalkan padepokan tanpa memberitahukan kepadanya lebih dahulu.

Perasaan kecewa, menyesal, dan cemas bercampur baur di dalam hatinya, sehingga tata geraknya pun menjadi terpengaruh olehnya.

Pada saat-saat yang demikian itulah maka cambuk Kiai Gringsing telah menyentuhnya tepat di lambung, sehingga Panembahan Alit itu pun terdorong beberapa langkah surut. Tetapi ternyata bahwa setiap mata menjadi terbelalak karenanya. Ujung cambuk Kiai Gringsing yang tiada taranya itu, sama sekali tidak berhasil melukai tubuh Panembahan Alit. Meskipun pakaian Panembahan Alit koyak karenanya, tetapi kulitnya sama sekali tidak tersobek, sehingga tidak setitik darah pun yang mengembun dari tubuhnya.

Bukan saja yang menyaksikan hal itu menjadi terheran-heran. Tetapi Kiai Gringsing sendiri menjadi heran pula. Hampir di luar sadarnya ia berdesis perlahan-lahan kepada diri sendiri, “Orang ini agaknya memiliki ilmu kebal.”

Ternyata bukan hanya sekali dua kali. Ujung cambuk Kiai Gringsing beberapa kali berhasil menyentuh lawannya. Tetapi sentuhan itu sama sekali tidak melukainya.

Dada Kiai Gringsing menjadi berdebar-debar. Sepanjang petualangan yang pernah dilakukan, jarang sekali ia menjumpai orang yang memiliki ilmu serupa ini. Ki Tambak Wedi yang menggetarkan itu pun tidak memiliki kekebalan. Ki Argapati justru pernah terluka, dan sudah barang tentu Sumangkar pun tidak. Namun Panembahan Alit yang juga menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama ini ternyata tidak dapat dilukai oleh ujung cambuknya.

Meskipun oleh pengaruh perasaan sendiri, tandang Panembahan Alit seakan-akan menjadi susut, dan bahkan beberapa kali lawannya berhasil mengenainya, namun tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menghentikan pertempuran itu, atau bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa Kiai Gringsing akan berhasil mengalahkannya. Karena itulah, maka setiap orang yang menyaksikan perkelahian itu pun menjadi sangat cemas. Mereka tidak dapat membayangkan apakah yang akan terjadi dengan pertempuran itu. Dengan kemampuannya Kiai Gringsing selalu berhasil menghindari serangan lawannya, sedang lawannya seakan-akan tidak dapat di lukai dengan senjata.

“Jika pertempuran berlangsung terus seperti ini, maka aku kira tidak akan dapat selesai tiga hari tiga malam,” berkata Raden Sutawijaya kepada diri sendiri.

Namun Raden Sutawijaya tidak dapat berbuat apa-apa. Jika ia turun ke gelanggang dan tidak memiliki kemampuan bergerak seperti Kiai Gringsing, maka ia tentu akan segera diterkam oleh bencana karena di dalam keadaan yang pahit itu, Panembahan Alit masih tetap seorang yang sangat berbahaya.

Dengan sepenuh tenaga Kiai Gringsing mencoba untuk mempergunakan saat-saat yang tidak menguntungkan bagi Panembahan Alit itu. Tetapi setiap kali ia gagal. Bahkan Kiai Gringsing pun menjadi cemas. Jika Panembahan Alit berhasil mengatasi persoalan di dalam dirinya, atau justru menjadi putus asa sama sekali dan bertempur membabi buta, maka akibatnya akan pahit pula baginya. Justru karena senjatanya seakan-akan tidak mampu menembus pertahanan kekebalan kulit Panembahan Alit itu.

Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi kian sengit. Kiai Gringsing berusaha sekuat tenaga untuk mencoba menembus kekebalan kulit Panembahan Alit. Tetapi usahanya tidak berhasil, karena kulit Panembahan Alit itu pun seakan-akan telah berlapis baja

Sejenak Kiai Gringsing menjadi termangu-mangu. Bahkan kadang-kadang ia harus meloncat surut. Namun ia tidak dapat ingkar dari kenyataan yang dihadapinya. Lawannya tidak dapat dilukai dengan senjatanya.

Karena itu, Kiai Gringsing tidak dapat berbuat lain, Meskipun seakan-akan ia telah menyimpan ilmunya yang jarang-jarang sekali dipergunakannya itu, karena ia hampir tidak pernah menjumpai lawan yang sekuat Panembahan Alit, namun akhirnya datang saatnya ia harus mempergunakannya lagi.

Dalam keadaan yang sangat terdesak, Kiai Gringsing menggeretakkan giginya. Matanya menjadi merah dan tiba-tiba saja orang-orang yang berdiri di sekeliling arena melihat perubahan pada wajah orang tua itu. Kiai Gringsing yang berwajah lunak dan sejuk itu, betapa pun ia dilibat oleh kesulitan di dalam pertempuran tiba-tiba menjadi seorang yang berwajah keras seperti batu-batu padas di tebing pegunungan. Matanya menjadi seakan-akan bersinar kemerah-merahan oleh goncangan di dalam dirinya.

Ternyata Kiai Gringsing sedang memusatkan segenap kemampuannya pada ilmunya yang selama ini tidak pernah dibangunkannya lagi, setelah ia meninggalkan lingkungannya pada masa Demak masih berkuasa. Meskipun saat itu ia masih muda, namun gurunya telah mempercayakan sebuah ilmu yang hampir tidak dapat dicarinya duanya.

Di dalam kesulitan itulah, maka Kiai Gringsing mencoba untuk membangunkan ilmunya. Ilmu yang masih sangat asing meskipun bagi murid-muridnya sendiri.

Dengan sebuah loncatan panjang Kiai Gringsing menjauhi lawannya. Kemudian dengan sepenuh kekuatan yang terpusat pada anggauta badan wadagnya, maka Kiai Gringsing mengangkat sebelah tangannya yang menggenggam cambuknya tinggi-tinggi menyilangkan tangan kiri di dadanya, dan sambil menggeram ia mematangkan dirinya pada pusat kekuatan yang ada padanya.

Pada saat itu, Ki Waskita yang sedang berusaha mengejar Panembanan Agung yang telah meninggalkan bentuk semunya begitu saja sehingga seperti asap lenyap perlahan-lahan, melihat dari kejauhan sikap Kiai Gringsing itu. Sejenak ia tertegun. Sebuah getaran telah mengguncang dadanya. Ilmu itu adalah ilmu yang dianggapnya telah tenggelam dilanda oleh arus waktu yang keras. Namun ternyata ia masih sempat melihat seseorang bersikap seperti yang pernah dilihatnya.

Namun Ki Waskita harus berusaha menenangkan debar jantungnya, karena ia harus mengejar Panembahan Agung. Dengan kemampuan mengenal isyarat di dalam dirinya, Ki Waskita dapat menduga ke mana arah yang dilalui oleh Panembahan Agung itu.

Demikianlah maka dengan segenap kemampuan yang ada padanya, Ki Waskita berlari menyusup semak-semak dan gerumbul-gerumbul perdu memotong arah Panembahan Agung. Ia yakin, bahwa pada suatu saat ia tentu akan dapat menyusulnya. Jika tidak dihari itu maka di malam hari ia akan berhasil. Dan jika tidak di malam hari, maka ia akan mengejarnya terus, meskipun ia harus berlari sampai tiga hari tiga malam.

Langkah Ki Waskita terhenti sejenak ketika kakinya menginjak jalan lurus yang meninggalkan padepokan induk di lembah terasing itu. Sejenak ia memusatkan perhatiannya kepada orang yang sedang dikejarnya. Dan tiba-tiba saja ia meloncat berlari di antara pohon-pohon perdu dan merayap tebing pegunungan. Di antara batu-batu padas, Ki Waskita pun kemudian mencoba memotong arah dan menyilang sebuah jalan sempit yang mendaki pegunungan itu.

Tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Ia sama sekali tidak melihat bekas-bekas kaki di jalan sempit yang kotor itu. Karena itu maka dicobanya untuk meraba buruannya dengan inderanya yang lain.

Terdengar Ki Waskita menggeram. Ternyata ia telah melampaui jalur jalan yang ditempuh oleh Panembahan Agung itu, sehingga ia terpaksa meluncur turun beberapa, langkah dengan tergesa-gesa.

Ternyata bahwa isyarat, yang dilihatnya dapat dipercayanya ketika ia juga melihat bekas kaki yang masih baru, menyelusuri sebuah jalan yang berbelok menyusur tebing.

Panembahan Agung ternyata menempuh jalan yang tidak diperhitungkannya dengan nalar. Tetapi alat perabanya yang lain berhasil menyentuh jejak orang yang sangat berbahaya itu.

“Ia tidak akan dapat menghindar dengan cepat,” berkata Ki Waskita kepada diri sendiri, “aku tentu mampu berlari lebih cepat daripadanya.”

Dengan demikian maka ia yakin bahwa Panembahan Agung semakin lama menjadi semakin dekat daripadanya, meskipun Ki Waskita belum melihatnya.

Sebenarnya Panembahan Agung pun telah memperhihitungkan, bahwa hal itu akan terjadi. Tetapi ia merasa tidak akan ada gunanya mengganggu Ki Waskita dengan bentuk-bentuk semu yang dapat dibuatnya di sepanjang jejaknya, meskipun kemudian akan hilang dengan perlahan-lahan. Panembahan Agung yakin, bahwa orang yang menyebut dirinya Jaka Raras itu akan dengan mudah mengatasi bentuk-bentuk semu yang dibuatnya. Sehingga bentuk-bentuk semu itu justru akan mempertegas jejaknya saja. Atau usaha untuk melindungi diri dari tangkapan isyarat pun ia tidak akan berhasil karena jarak yang sudah terlampau dakat.

Sekali-sekali Panembahan Agung memang mencoba untuk membuat Ki Waskita bingung. Bukan dengan menciptakan jurang yang luas atau api yang membakar bukit, tetapi justru bentuk-bentuk yang sederhana dan kecil. Bekas-bekas kaki yang berbelok di jalan yang sebenarnya tidak dilaluinya.

Beberapa kali Ki Waskita memang dapat dihambat dengan cara itu, karena semula Ki Waskita tidak menduga, bahwa Pembahan Agung sempat melakukannya. Tetapi, ketika sekali ia disesatkan oleh bentuk semu, yang kemudian berhasil dipunahkannya, maka untuk seterusnya ia menjadi sangat berhati-hati. Di setiap simpangan ia melihat bekas-bekas yang diikutinya itu dengan mata ilmunya.

Meskipun Ki Waskita selalu berhasil menemukan bekas kaki yang benar, tetapi usaha untuk mengetahui itu telah memerlukan waktu meskipun pendek. Dengan demikian maka Panembahan Agung mendapat kesempatan untuk memperpanjang jarak yang telah menjadi semakin pendek.

Tetapi akhirnya Panembahan Agung sadar, bahwa usahanya untuk melepaskan diri itu tidak akan berhasil, ia tahu pasti bahwa Jaka Raras mampu menyelusur jejaknya bukan saja dari jejak-jejak kaki, tetapi juga getaran isyarat pada dirinya. Meskipun di dalam usaha melepaskan diri Panembahan Agung sudah membatasi kemungkinan itu sekecil-kecilnya, dengan ilmu yang ada padanya, mengaburkan setiap getaran yang dapat dikenal oleh orang lain, namun di dalam keadaan yang sulit itu, usahanya tidak banyak membawa hasil.

Demikianlah maka Ki Waskita yang mengejarnya terus itu semakin lama menjadi semakin dekat. Sehingga pada akhirnya, ketika Ki Waskita telah sampai ke puncak bukit yang rendah, ia berhasil melihat di sela-sela semak belukar, Panembahan Agung yang sedang melarikan diri itu.

Dengan ilmunya Ki Waskita pun kemudian berkata dari jarak yang jauh, “Panembahan Agung, apakah kau masih akan berusaha untuk melarikan diri?”

Panembahan Agung mengerti bahwa suara itu bukan suara wajar Jaka Raras, seperti ia sendiri mampu melakukannya. Tetapi suara itu telah menggetarkan jantungnya pula.

Namun Panembahan Agung itu pun menjawab, “Jangan menakut-nakuti aku, Jaka Raras. Kau mempergunakan ilmumu. Tetapi sebenarnya kau belum melihat aku.”

Jaka Raras tertawa. Katanya, “Aku bukan anak kecil lagi Panembahan, seperti juga kau yang sudah berani menyebut dirimu panembahan, bahkan panembahan yang agung. Aku tahu bahwa kau memiliki ilmu serupa. Tetapi aku kali imi tidak sedang bermain-main. Aku telah melihatmu. Aku kini berada di puncak bukit kecil yang tebingnya baru kau turuni.”

Hampir di luar sadarnya, Panembahan Agung berpaling. Dan sebenarnyalah ia melihat seseorang berdiri di atas bukit padas itu. Bukan terbentuk seorang raksasa, tetapi seorang dalam ujudnya yang wajar. Kecil sekali di sela-sela batu-batu besar.

“Nah, bukankah kau sudah melihat aku? Aku yang sebenarnya. Kau tentu dapat membedakan, apakah yang kau lihat ini bentuk yang sebenarnya atau sekedar bentuk semu saja.”

Dada Panembahan Agung menjadi berdebar-debar. Ia tahu tenar, bahwa yang berdiri di atas bukit itu adalah Jaka Raras. Sebenarnya Jaka Raras, bukan bentuk semu yang diciptakannya.

Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menyahut. Dicobanya untuk mencari jalan, melepaskan diri dari kejaran Jaka Raras. Meskipun ia berpengawal saat itu sedang Jaka paras hanya seorang diri mengejarnya, tetapi ia merasa, bahwa terlampau berat agaknya untuk melawan Jaka Raras yang sedang didera oleh kemarahan karena anaknya, telah disembunyikannya.

“Panembahan Agung,” berkata Jaka Raras, “berhentilah. Dan marilah kita berbicara dengan baik. Aku dapat berbuat kasar, tetapi aku pun dapat berbuat lunak. Aku sekarang berdiri sendiri. Anakku yang telah aku ketemukan kembali, tidak ada bersamaku sekarang. Karena itu, jika perlu aku dapat berbuat liar atau buas. Kita memang bukan orang-orang yang berhati sutra adbmcadangan.wordpress.com. Kita telah ditempa oleh kehidupan yang keras, kasar dan bahkan liar dan buas. Jika selama ini aku menjadi seorang yang seolah-olah baik, lembut, dan lunak, semata-mata untuk kepentingan anakku, karena aku sadar bahwa hidup dengan cara kita, adalah hidup yang dipenuhi dengan kegelisahan dan kecemasan, sehingga karena itu, aku sama sekali tidak menghendaki anakku akan menempuh hidup seperti kehidupan yang pernah kita jalani. Namun agaknya aku salah hitung, ditambah dengan kasih yang berlebih-lebihan dari ibunya, maka anakku menjadi seorang laki-laki yang cengeng, bodoh, dan agak sombong. Aku sendiri sudah menyalurkan ilmu yang ada padaku pada bentuk yang bermanfaat bagi sesama. Melihat masa-masa yang dekat dan jauh di hadapan kita tanpa mendahului dan berusaha merubah takdir dan keharusan. Karena yang aku lihat adalah yang akan terjadi, bukan yang diinginkan terjadi. Namun aku harus mengakui betapa piciknya pengetahuan seseorang. Ternyata bahwa aku tidak mengerti, bahwa pada suatu saat anakku akan hilang, karena akulah yang menganjurkannya untuk ikut berburu supaya ia sedikit memiliki sifat seorang laki-laki.”

Panembahan Agung menjadi berdebar-debar mendengar kata-kata Jaka Raras. Ia sadar, bahwa Jaka Raras tidak hanya sekedar menggertaknya. Ia kenal orang itu di dalam perguruan. Jaka Raras memang dapat berbuat keras dan kasar, bahkan liar dan buas.

“Panembahan,” berkata Jaka Raras, “aku menunggu keputusanmu. Sekali lagi aku peringatkan, bahwa aku kini tidak bersama anakku, sehingga jika aku kambuh lagi kepada sifat-sifatku, maka anakku tidak akan menjadi kecewa karena ia tidak melihat bahwa ayahnya bukannya orang yang baik seperti yang dikenalnya. Nah, bersiaplah. Kita akan bertempur dengan cara kita. Kemudian jika aku berhasil mengatasi kekuatan batinmu, maka wadagmu akan hancur menjadi makanan burung gagak, karena aku dapat melampaui kebuasan binatang yang paling buas di hutan.”

Panembahan Agung masih tetap berdiam diri. Ia seakan-akan telah terjepit pada suatu keharusan untuk bertempur melawan Jaka Raras. Meskipun ia tidak seorang diri, tetapi agaknya beberapa pengawalnya itu tidak akan berarti apa-apa bagi Jaka Raras.

Tetapi sudah barang tentu bahwa Panembahan Agung bukan seorang pengecut yang menyerah untuk diikat dan dibawa ke Mataram sebagai seorang tawanan. Dengan demikian ia akan dapat menjadi tontonan orang di alun-alun di negeri yang sedang tumbuh itu. Karena itu, maka tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh kecuali bertempur sampai kemungkinan yang paling akhir.

“Panembahan Agung,” terdengar lagi suara Jaka Raras, “kenapa kau tidak menjawab? Apakah kau sedang memperhitungkan untung dan rugi dari tindakan yang akan kau ambil?”

Panembahan Agung menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jaka Raras, kau memang selalu menghina aku. Tetapi sampai saat ini, hinaan itu sudah cukup banyak. Aku tidak mau lagi mendengarnya. Sebaiknya kau tidak usah mendekati aku, karena itu akan berarti maut bagimu. Pergilah. Jika anakmu sudah kembali padamu, baiklah. Dan segera pergilah daripadaku, agar aku tidak terlanjur berbuat lebih banyak lagi atasmu.”

“Ah, kau aneh, Panembahan,” sahut Jaka Raras, lalu, “seakan-akan kita adalah orang-orang yang baru pertama kali ini bertemu. Bukankah kita sudah saling mengenal sejak di perguruan. Dan aku tahu pula seorang yang bernama Panembahan Cahyakusuma, yang kemudian menyebut dirinya bernama Panembahan Agung. Jangan mencoba menakut-nakuti, seperti aku juga tidak akan ada gunanya menakut-nakuti kau. Yang akan kita lakukan selanjutnya ada dua pilihan. Kau menyerah atau kita bertempur sampai mati. Mungkin kau tetapi mungkin juga aku. Tetapi itu adalah akibat yang sudah sama-sama kita ketahui sebelumnya.”

“Jika demikian, Jaka Raras,” berkata Panembahan Agung, “kenapa kau masih saja berbicara berkepanjangan tidak ada habis-habisnya. Berbuatlah sesuatu. Sikapku sudah jelas, bahwa aku tidak akan membiarkan diriku menjadi pangewan-ewan di Mataram. Aku tahu bahwa sekarang ini selain kau mencari anakmu, kau juga berada di pihak Mataram. Dan itulah kesalahanku yang pokok, karena aku tidak mengerti bahwa Radita adalah anakmu, sehingga kehadiranmu di pihak Mataram benar-benar membuat aku kehilangan kesempatan kali ini.”

“Kau sangka tanpa aku Mataram tidak dapat menggilasmu?” bertanya Ki Waskita. “Mungkin kehadiranku mempercepat saja penyelesaian yang berlangsung seperti sekarang ini. Tetapi tanpa aku pun kau tidak akan banyak berarti, karena di antara mereka terdapat orang-orang yang tidak akan menghiraukan bentuk-bentuk semu yang gila-gilaan itu.”

“Omong kosong,” geram Panembahan Agung, “mereka akan kebingungan dan kehilangan pegangan.”

“Jangan mimpi,” sahut Ki Waskita, “Kiai Gringsing akan mentertawakan ular nagamu, jurangmu, dan apimu. Ki Argapati akan menjadi acuh tidak acuh melihat raksasa yang berada di atas bukit-bukit padasnya. Dan bentuk-bentuk apa lagi yang akan terwujud tentu tidak akan menarik perhatian.” Jaka Raras itu berhenti sejenak, lalu, “Sudahlah Panembahan Agung. Jika kau memang memilih jalan kekerasan, kebuasan yang liar, baiklah, aku akan segera menyusulmu.”

Panembahan Agung menggeram. Katanya, “Datanglah. Aku akan menyambutmu.”

Jaka Raras tidak menyahut lagi. Ia pun kemudian menghambur menuruni tebing pegunungan mendekati Panembahan Agung yang sudah ada di lereng.

Dalam pada itu, maka Panembahan Agung pun kemudian berkata lantang kepada pengawalnya, “Tempatkan aku di atas jalan setapak menghadap arah ia akan datang.”

Sementara itu, Jaka Raras pun menjadi semakin dekat. Ia sadar bahwa lawannya adalah seorang yang memiliki kelebihan yang kadang-kadang tidak diduganya. Itulah sebabnya, maka ia pun menjadi sangat berhati-hati.

Di dalam keadaan yang tegang itu, Jaka Raras tidak kehilangan penguasaan atas perasaannya. Betapa pun ia marah dan dendam karena anaknya yang mendalami perlakuan yang sangat buruk itu. Namun ia tetap berhati-hati.

Tetapi seperti Panembahan Agung, ia tidak akan lagi mempergunakan bentuk-bentuk semu, karena ia tahu bahwa bentuk-bentuk yang demikian itu tidak akan ada gunanya lagi, karena keduanya benar-benar telah berada di puncak ilmunya.

Di balik sebuah batu padas, Ki Waskita terhenti sejenak. Ia menjadi ragu-ragu untuk melangkah maju. Karena itu, maka segera dilepasnya bajunya dan dilemparkannya dari balik batu padas itu.

Dugaannya ternyata, tidak salah. Begitu bajunya tersembul dari balik batu padas, sebuah anak panah yang besar telah menyambarnya.

“Hem,” Jaka Raras menarik nafas. Jika ia sendiri yang muncul, maka dadanya tentu akan tembus. Ia tahu benar, bahwa busur dan anak panah Panembahan Agung adalah busur dan anak panah yang khusus. Hampir tidak ada orang yang mampu menarik busurnya yang besar itu, selain mereka yang memiliki tenaga melampaui tenaga orang kebanyakan.

“Gila,” Panembahan Agung-lah yang berteriak kemudian ketika ia sadar, bahwa yang dikenainya sama sekalii bukan Jaka Raras, tetapi hanya selembar bajunya saja.

Dalam pada itu, Ki Waskita telah meloncat menyusup gerumbul perdu dan melingkari sebuah gundukan padas yang besar dan menjadi semakin dekat dari tempat Panembahan Agung. Tetapi ia harus hati-hati, bahwa setiap kali anak panah Panembahan itu akan dapat menyambar lehernya, sehingga ia tidak dapat menarik nafas sekali lagi.

Ternyata bahwa yang membingungkan Panembahan Agung kemudian sama sekali bukan bentuk-bentuk semu. Tetapi bentuk-bentuk wadag yang sebenarnya tidak mempunyai arti di dalam pertempuran itu. Baju Jaka Raras jauh lebih berarti daripada bentuk-bentuk apa pun yang mengerikan atau yang menggetarkan jantung. Ternyata Panembahan Agung yang tidak dapat dibingungkan dengan bentuk-bentuk semu itu menjadi bingung dan mengumpat-umpat tidak habis-habisnya karena selembar baju yang telah dikenainya dengan anak panahnya.

Kini Panembahan Agung memusatkan perhatiannya kepada keadaan di sekelilingnya. Ia sadar, bahwa setiap saat Jaka Raras akan muncul dan menerkamnya. Dicobanya untuk menangkap setiap gerak dan getar dari udara di sekelilingnya. Tetapi agaknya Jaka Raras berhasil membersihkan dirinya dari isyarat-isyarat yang akan dapat ditangkap oleh Panembahan Agung.

Tetapi Panembahan Agung tidak berdiri sendiri. Beberapa orang pengawal pilihannya pun segera menebar dan menjaga segala penjuru. Mereka pun sadar, bahwa lawan Panembahan Agung kali ini bukannya orang kebanyakan. Bahkan memiliki ilmu yang serupa dengan ilmu Panembahan Agung sendiri.

Karena itu, maka mereka pun telah menyiapkan senjata telanjang. Setiap saat Jaka Raras muncul, maka mereka akan beramai-ramai menyerangnya, sebelum Panembahan Agung akan mengakhiri nyawanya dengan anak panahnya yang luar biasa itu.

Dalam pada itu, Panembahan Agung yang dijalari oleh perasaan gelisah itu menjadi semakin tidak tenang lagi. Ketika ia melihat sesuatu bergerak di balik segunduk batu padas, maka tiba-tiba saja sebuah anak panah telah meluncur dengan cepatnya, seperti petir menyambar di langit. Batu padas itu seolah-olah meledak karena hantaman anak panah yang besar dan dengan kekuatan yang luar basa. Segumpal batu padas itu pecah dan berserakan menghambur di sekelilingnya.

Mereka yang melihat dan mendengar ledakan itu menahan nafas. Jika yang dikenalnya itu tubuh seseorang, maka tubuh ini tentu akan tembus oleh anak panah raksasa itu, dan tulang-tulangnya pun akan remuk menjadi debu.

Dalam pada itu, Ki Waskita pun menjadi berdebar-debar. Ia sadar akan kemampuan Panembahan Agung. Karena itu, maka ia pun harus berhati-hati.

Tetapi bagi Jaka Raras, tentu tidak mungkin melawan Panembahan Agung yang memiliki kesaktian tiada taranya itu hanya dengan tangannya. Karena itu, untuk beberapa saat ia menjadi ragu-ragu sambil berjongkok di balik sebuah batu besar. Sudah bertahun-tahun ia tidak mempergunakan senjatanya. Tetapi di dalam keadaan ini, ia tidak akan dapat berbuat lain.

Betapa pun ia dicengkam oleh keragu-raguan, namun akhirnya Ki Waskita itu pun melepaskan ikat pinggangnya yang besar, yang terbuat dari kulit berlapis baja pilahan. Kemudian diurainya sebuah rantai di bawah ikat pinggangnya dan sebuah cakram kecil bergerigi yang diambilnya dari kantong ikat pinggangnya. Dengan ragu-ragu Jaka Raras mengaitkan rantainya pada cakram bergerigi itu. Namun akhirnya ia berkata kepada diri sendiri, “Di dalam keadaan tanpa pilihan, adbmcadangan.wordpress.com aku tidak dapat berbuat lain. Aku masih belum ingin mati. Bukan saja karena aku masih harus membentuk anakku, tetapi jika aku mati maka akibatnya akan sangat luas. Panembahan Agung akan menjadi gila, dan orang orang Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh harus menyediakan banyak korban sebelum berhasil membiasakannya.

Karena itu, maka Jaka Raras pun kemudian menggeretakkan giginya, seakan-akan ingin mengusir keragu-raguan yang masih saja menggelitiknya.

Sambil menggeram maka Ki Waskita itu pun berkata kepada diri sendiri, “Bukan maksudku. Tetapi apa boleh buat.”

Namun sejenak Ki Waskita menundukkan kepalanya, bagaimana pun juga ia merasa bertanggung jawab atas perbuatannya. Bukan saja kepada orang lain, tetapi terutama kepada Penciptanya. Di dalam hatinya ia memohon agar jika perbuatannya itu sesat dari jalan yang telah dipilihnya selama ini, hendaklah diampuninya, karena yang dilakukannya itu semata-mata didorong oleh keinginannya menyelamatkan banyak orang dari kebuasan Panembahan Agung.

Sesaat kemudian, maka Ki Waskita itu pun membelitkan ikat pinggangnya yang berlapis baja dilengannya, ia dapat mempergunakan ikat pinggangnya itu sebagai perisai menghadapi anak panah Panembahan Agung.

“Tetapi anak panah itu bukan anak panah biasa,” katanya di dalam hati, “namun ikat pinggang ini pun bukan ikat pinggang biasa.”

Dengan demikian Ki Waskita kini sudah siap menghadapi lawannya yang paling berat. Setelah bertahun-tahun Ki Waskita menghindarkan diri dari tindakan kekerasan, sehingga anak laki-lakinya sama sekati tidak membayangkan bahwa ayahnya dapat melakukan hal serupa itu, kini terpaksa melakukannya.

“Mudah-mudahan hanya sekali saja lagi,” desisnya.

Menjelang Ki Waskita mengatur perasaannya dan memantapkan hatinya, maka Kiai Gringsing sudah sampai pada puncak pertempurannya.

Tangannya yang menggenggam cemeti itu seakan-akan telah dipenuhi dengan segenap kekuatan yang ada padanya, dan segenap kekuatan cadangan yang mampu dihimpunnya.

Pada saat terakhir Kiai Gringsing melihat lawannya, Panembahan Alit pun telah berada pada puncak kemampuannya dalam ilmu kebalnya, sehingga seakan-akan mereka berdua telah sampai pada saat yang menentukan, siepakah yang akan memenangkan pertempuran itu.

Rasa-rasanya setiap jantung dari mereka yang berada di seputar arena itu menjadi berhenti berdenyut melihat sikap kedua orang yang sudah sampai pada puncak ilmunya ini.

Beberapa saat keduanya masih melakukan gerakan-gerakan kecil, seakan-akan mencari kelemahan pada lawan masing-masing. Namun pada saatnya, keduanya sadar, bahwa pertempuran itu sudah mendekati akhirnya, siapa pun yang akan binasa.

Karena itu, ketika keduanya merasa bahwa mereka telah berada pada puncak kekuatannya, maka keduanya pun mulai mempersiapkan diri, untuk membenturkan ilmu masing-masing.

Ki Argapati yang memiliki kemampuan yang hampir sempurna itu pun menahan nafasnya. Seandainya kakinya tidak sedang cacat, maka ia akan dapat berbuat serupa, meskipun di dalam kenyataan terakhir, selagi Kiai Gringsing menghadapi puncak kesulitannya, ternyata mempunyai beberapa kelebihan yang menentukan.

Demikianlah lembah yang baru saja hiruk-pikuk oleh pertempuran yang sengit itu justru menjadi hening diam, namun betapa setiap hati dicengkam oleh ketegangan.

Sejenak kemudian perlahan-lahan tangan Kiai Gringsing mulai bergerak, sehingga ujung cambuknya mulai berjuntai perlahan-lahan. Ternyata gerakan itu telah menyentuh naluri Panembahan Alit, sehingga ia pun mulai melangkah ke samping. Tetapi ia tidak menunggu lebih lama lagi. Ia ingin perkelahian itu segera berakhir, siapa pun yang akan terkapar di tanah. Karena itu, maka ia pun segera mempersiapkan senjatanya. Sejenak ia memandang Kiai Gringsing sambil menggeram. Namun sejenak kemudian maka senjatanya itu pun mulai teracu.

Berhentilah segala tarikan malas dan detak jantung ketika tiba-tiba saja Panembahan Alit meloncat menyerang Kiai Gringsing dengan loncatan yang dilambari dengan puncak ilmunya, sehingga bagaikan loncatan petir di langit yang tidak mampu diikuti oleh mata telanjang.

Namun Kiai Grjngsing pun sudah mempersiapkan dirinya pula. Sekali cambuknya berputar, kemudian sebuah ayunan yang dahsyat telah menyongsong Panembahan Alit yang masih terapung di udara karena loncatannya.

Sebuah ledakan cambuk yang menggelegar rasa-rasanya telah mengguncangkan lembah itu. Orang-orang yang ada di sekitar arena itu sebelumnya telah mendengar cambuk itu meledak beberapa kali. Tetapi ledakan yang dilontarkan oleh puncak ilmunya itu rasa-rasanya telah memecahkan selaput telinga.

Panembahan Alit masih sempat menggeliat. Namun ia tidak dapat menghindari ujung cambuk Kiai Gringsing yang melecutnya jauh lebih cepat dari lecutan sewajarnya.

Terdengar Panembahan Alit menggeram. Tetapi ia masih sempat berdiri di atas kedua kakinya. Bahkan sebuah loncatan lagi yang tidak terduga telah mendorongnya mendekati Kiai Gringsing sambil mengacukan senjatanya.

Kiai Gringsing tidak sempat mengelak. Karena itulah maka ia tidak dapat berbuat lain daripada melindungi dadanya dengan lengannya. Betapa pun ia berusaha untuk memukul sisi pedang lawannya, namun Panembahan Alit sempat memutar pedangnya, sehingga lengan Kiai Gringsing tersobek karenanya.

Terdengar orang tua itu berdesis. Sekilas ia melihat darah mengalir dari luka itu.

Namun ternyata bahwa Panembahan Alit mampu bergerak terlalu cepat. Sekali lagi ia meloncat sambil, mematukkan senjatanya sehingga Kiai Gringsing kehilangan kesempatan untuk kedua kalinya. Meskipun Kiai Gringsing masih berusaha untuk mencondongkan tubuhnya, namun pedang itu telah tergores di pundaknya.

Kiai Gringsing sadar, bahwa ia tidak boleh kehilangan kesempatan berikutnya. Jika demikian maka ia akan kehilangan kesempatan untuk seterusnya. Karena itu, maka selagi Panembahan Alit menyiapkan serangan berikutnya, Kiai Gringsing sempat mendahuluinya. Sebuah ledakan cambuk yang dilambari oleh puncak ilmunya telah menggetarkan lembah itu. Tebing-tebing gunung bagaikan bergetar, dan dedaunan yang menguning satu-satu berguguran di tanah.

Tetapi rasa-rasanya setiap orang tidak mempercayai penglihatannya. Panembahan Alit masih tetap berdiri tegak dengan senjata di tangannya. Dua ledakan cambuk yang didorong oleh kekuatan yang tiada taranya, itu sama sekali tidak melukai kulitnya selagi Panembahan Alit berada di puncak ilmu kebalnya pula.

Sejenak Kiai Gringsing pun menjadi termangu-mangu. Namun ketika Panembahan Alit mulai bergerak, sekali lagi Kiai Gringsing mendahuluinya. Cambuknya meledak sekali lagi tanpa menghiraukan darahnya sendiri yang mengucur dari luka.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 November 2008 at 07:21  Comments (44)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-76/trackback/

RSS feed for comments on this post.

44 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saya tak ngantri duluan ya

  2. “Hmm… rupanya Panembahan Gajah Putih (Ki Maswal) blm mengetahui sisi alas ini” desis Panembahan Pandan Alas.

    “Baiknya segera aku SMS Ki GD utk segera mengolah alas 76 ini sebelum semuanya terlambat”

  3. numpang buka lapak disini juga aah…

  4. Absen kiai……lan sugeng riyadin idul fitri kagem poro cantrik dalah kulowargo sedoyo

  5. Absen kiai……lan sugeng riyadin idul Adha kagem poro cantrik dalah kulowargo sedoyo

  6. Ki Ageng Pemanahan,

    Ini ada tenaga tambahan untuk mbabat Alas Mentaok. Nangin kapling 76 sampai 90 dereng disiapaken. Mbok yo disempatake to. Mesakake para cantrik sing terus tingak-tinguk kados manuk keluwen atawa hop in lan hop out kados anoman.

  7. Ki GD, saya baru cek di jilid II buku 7 hal 8,78 dan 79 di buku yang saya pinjam ternyata ada. tp saya ga ada scanner, atau Ki Alphonse berkenan nyecan halaman tersebut ? nanti bahannya saya bawa sekalian.

  8. absen pagi2 menjelang siang………….

  9. E… ternyata ngantrinya disini, sempat bingung tadi. Absen dulu ah…. Ki GD, mat Idhul Adha ya…

  10. Ngantri di sini lewat jalan mana ya?

    Untung jalan pintas sudah dibuatkan oleh para cantrik yang telah mendahului antri.

    Ikut antri ah……

  11. wah…rupanya ki DD juga punya ilmu kesaktian serupa panembahan agung, sehingga mampu menyembunyikan kapling 76 dari pandangan mata…jangan-jangan beliau adalah muridnya…???

  12. Maaf….
    Antrian untuk Peron 76 disebelah mana ya?

  13. @Ki Ony
    Ok Ki Ony, dengan senang hati saya siap membantu.

  14. meski ke DD punya ilmu seperti panembahan agung tetapi saya tetep antri.

  15. O o …..
    Tahu sekarang caranya.

    Kapling 76 dan seterusnya masih sengaja disamarkan oleh Ki Gede agar para cantrik tidak berebut rangsum.
    Meskipun demikian, atas petunjuk Ki Waskita saya mulai dapat menyibak tabir yang menyelimuti padepokan ADBM.
    Ilmu yang dipelajari Ki Gede dari Panembahan Agung masih bisa ditebak.

    Tapi, ada benarnya kalau kapling tersebut tidak dibuka dulu. Karena Ki Gede rupanya mulai kuwalahan menghadapi “proofing” hasil “retype” para pengawal menoreh, sehingga rangsum versi teks segera dibagikan tanpa melalui “proofing”. Mulai jilid 64 yang dibagikan kalau tidak “unproof version” ya “uncorrected version”.

    Pasukan scanning sudah mulai bergerak, pasukan retype sudah ada, pasukan “proofing” rupanya perlu dibentuk. Bagaimana dengan Ki Hartono? atau yang lain? Kasihan Ki Gede.

  16. Ediann….wis okeh le podo ngantri…semoga tidak telat melihat pertarungan Ki Waskita dengan Penembahan Agunng.
    Absen Ki GeDe dan antri, menunggu dengan sabar jurus-jurus di kitab 76 untuk menghadapi ilmu Panembahan Agung yang ngedap2i, sekalian mengucapkan Met Idul Adha Kagen Ki GeDe dan para cantrik sekalian

  17. Nderek nenggo Girik 76 Ki Gede…

  18. sayang sekali Raden Sutawijaya memerlukan tenaga saya untuk menyelidiki siapa sebenarnya Tumenggung, Panji dan Ki Ajar Kleco sesungguhnya sehingga saya harus meninggalkan padepokan Gajah Putih langsung menuju Pajang tgl 10 Desember – 2 Januari ini…..
    sehingga saya pasti akan disibukkan urusan disana dan tidak bisa membantu membabat alas Mentaok.
    tapi setelah selesai urusan di Pajang dan kembali ke Padepokan Gajah Putih, maka saya bisa membantu babat alas Mentaok dari kejauhan…..

  19. Kok belum ada tanda 2x ya? Ikut Antri ah

  20. saya siap bantu ki gede. kasih tahu caranya saja.

  21. Ini mulai dirasakan oleh seluruh isi padepokan ADBM adanya serangan ilmu-ilmu gila dengan membuat apa yang akal pikirkan dan perasaan menjadi sesuatu yang bertentangan dan berlainan,…diharapkan segenap cantrik untuk lebih memusatkan daya nalar dan budinya…terasa getaran2 yang mengacaukan akal pikiran…kita. mudah2an ki Gede..dan para cantriknya tidak terlalu..terpengaruh dengan ilmu gila panembahan agung…

  22. BTW, kita para kawula juga kena imbasnya, menjadi gila…gila karena lama menunggu….tetapi apapun dan bagaimanapun bacanya tetap ADBM…. thanks to ki GD dan crew…

  23. KI arema (asli malang tenan tah), aku suah lama menyediakan diri untuk membantu yang aku bisa. kantorku di harmoni. ada scanner. aku juga punya cukup waktu (1-2 jam sehari) untuk ikut babat Alas Mentaok. Aku cuma butuh sipat kandel. tolong turunkan ilmu mengubah bentuk itu..

  24. Ha ha .., yang asli Arema anak saya. Saya sendiri orang kabur kanginan.

    Ki Hartono

    Tentang ilmu merubah bentuk, waduh …, ilmu saya belum sampe di situ. Saya baru bisa merubah bentuk dari jarak dekat, kalau merubah bentuk dari jauh, ya “kadit osi”. Sipat kandelnya tidak bisa dipakai untuk “remote”.

    Maksud saya menyebut nama Ki Hartono, supaya membantu “proofing” jilid-jilid yang versi teksnya sudah keluar tetapi belum di “proof”, misalnya sampai sekarang jilid 64 – 70 masih versi “unproof” atau “uncorrected”, supaya enak dibaca. Atau kerjasama dengan Ki Edy, Ki Pras, Jebeng dll.

    Alur: scan-djvu-convert docfile-retype-proof-reproof. Ki Hartono bisa mengambil yang mana? Petanya sekarang sudah jelas, meskipun kadang menghilang. Scan-djvu (Ki Warsono, Arema, mbokde dan tim Bogor), djvu-konvert (jebeng …, dimana sekarang), retype (Ki Edy, Pras, dll), proof (Ki Edy, dll) dan reproof (Ki Gede sendiri). Kalau Ki Hartono mau nge”proof” bisa kontak dengan pasukan retype spt Ki Edy, Pras, dll.

    Teknisnya bisa menghubungi Ki Gede.

    Dulu saya belajar nge”proof” sama Ki Gede, tetapi ditugasi menjadi pasukan “scanning”. Ki Hartono saya kira tidak perlu belajar lagi.

  25. baik ki arema. ki gede bisa kasih tugas kepada saya.

  26. Sajak-e Ki GD ki kesaren,… bethoro suryo sedelo maneh sumurup neng cokrowolo..nanging durung ono tondo-tinondo bakal mijil bayining kurowo kaping 76

  27. Ternyata ilmu Panembahan Agung kagak ade ape2nye, kena bunyi ledakan cambuk Kiai Gringsing lenyap seketika ilmu sihirnya. Ular belang ular kodot semue nyungsep seketika.
    Ki Truno Podang

  28. Absen dulu nih,
    KI ONy, KI Aulianda dan Ki Alphonse dan para cantrik di Bogor…, maaf bbrp hari hilang, internet lagi down katanya, kesamber petir dan ular naga kali…hehe.
    kalo saya mah gimana yg ngasih jatah aja.., Boleh aja sabtu siang ini ririungan di Alas BotanSkuere – buat meringankan beban Ki Gede…
    No HP saya udah ada di Ki Aulianda, bisa dikontak ntar..
    sekalian nebeng angkot jambu dua nomor 76…, kok belum lewat ya????

  29. kover-nya sudah ada tanda-tanda penampakan…
    semoga bukan hasil kerjaan panembahan agung….

  30. Ikut ngantri.
    Biarin dapat nomer paling buntut.

    Maturnuwun

  31. ikut absen

  32. Met id adha semuanya
    Absen ki Gede

  33. eeee sabar???

    ana sing dadi sate buntel ya???

    GD: Dangu mboten pinarak, Ki Rekso. Sami wilujeng to?

  34. Menebak-nebak jalannya pertempuran di 76.
    Ki Waskita lawannya Panembahan Agung;
    Kiai Gringsing lawannya Panembahan Alit;
    Ki Sumangkar lawannya Daksina (tetapi setelah Ki Sumangkar menyelamatkan Rudita terlebih dahulu);
    Raden Sutawijaya + Ki Branjangan lawannya Putut.
    Wah di pihak Menoreh masih banyak selebritis yang gak punya lawan tangguh seperti Agung Sedayu, Swandaru, Ki Argapati, Pandan Wangi, Prastawa dan Ki Demang SP.
    Hayo siapa yang gak setuju ngacunga?
    Ki Truno Podang

  35. Lha, Ki Truno Podang sendiri juga blom dapat lawan..

  36. maap ki truno podang.. lagi asyik ngudut 76 sampai tidak tau ki truno nulis apa 🙂
    ..
    makasih ki gedhe

  37. Ups….
    Hampir ketepu lg…

    tengkyu KI GEDE

  38. akhirnya…dapat juga ilmu untuk menghadapi Panembahan Agung.

    Terima kasih Ki GeDe…

  39. @Ki Arema,
    Saya masih memantau dengan rajin ADBM kok Ki. Berhubung para ADBMer sudah pada mumpuni dalam mengkonvert dan sudah mempunyai aji aji ABBYY Fine Reader masing masing sehingga sudah bisa meng konvert tanpa bantuan cambuk atau pun obat obatan dari Ki Tanu Metir, maka saat ini saya sedang tenggelam dalam satu kegiatan yang sedikit berbeda….

  40. Terima kasih ki GD

  41. test

  42. Maaf poro kadang kulo bade daptar dados cantrik
    Nopo mawon saratipun
    Matvr nuwun ki GEDE

  43. Ki Gede,mohon petunjuk abagaimana caranya agar saya bisa buka mulai jilid 97 sampai yang ada sekarang,matur nuwun ki gede

    $$ silahkan baca petunjuknya di Halaman Unduh, Ki Radjiman .. atau gunakan fungsi “search” yang ada di sisi kanan padepokan.

  44. aku ketinggalan inpo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: