Buku 76

Dalam pada itu, ternyata Panembahan Agung masih tetap dalam bentuknya. Seorang raksasa yang berdiri di puncak bukit sambil menggeram dengan marahnya, sedang di puncak yang lain Jaka Raras sekedar melayaninya, dalam sikap yang tenang.

“Itulah ayahmu,” berkata Sumangkar sambil menunjuk kepada raksasa itu.

“He,” ternyata Rudita terkejut bukan kepalang. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa di hadapannya seorang raksasa yang besar berdiri di atas bukit. Selama itu ia hanya memperhatikan semak-semak dan duri di sepanjang jalannya. Tetapi ketika ia menengadahkan wajahnya, maka dilihatnya bentuk yang mengerikan itu.

“Jadi raksasa itu sebenarnya ada?” ia bertanya kepada Sumangkar. “Selama ini aku hanya menyangka bahwa raksasa itu hanya terdapat di dalam ceritera-ceritera saja.”

“Memang tidak ada,” berkata Sumangkar.

“Jadi apakah yang tampak di puncak bukit itu?”

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Ki Waskita benar-benar seorang yang rendah hati. Ia sama sekali tidak menampakkan ilmunya yang aneh itu. Kepada anaknya pun tidak. Ia tidak mau memberikan kesan kepada anaknya bahwa ayahnya adalah seorang pembohong besar, yang dengan ilmunya dapat mengelabuhi banyak orang sehingga mereka dapat kehilangan pegangan.

Tetapi dalam keadaan yang memaksa, maka Ki Waskita telah melawan setiap bentuk semu dengan bentuk semu pula, sehingga pasukan pengawal Menoreh dan Mataram tidak terjebak karenanya.

“Kiai,” Rudita mendesak, “jadi apakah yang tampak itu jika keduanya bukan raksasa?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Yang kita lihat itu?”

“Sebuah gambaran di dalam angan-angan kita setelah kita dipengaruhi oleh ilmu kedua orang itu. Ilmu Panembahan Agung dan ilmu ayahmu sendiri. Pengaruh ilmunya telah menyesatkan kita. Apalagi pengaruh ilmu Panembahan Agung yang dengan sengaja menyesatkan kita dengan tujuan yang jahat.”

“Aku tidak mengerti,” sahut Rudita, “Kiai menyebut nama ayahku?”

“Sudahlah. Marilah kita mendekati bukit itu. Aku sudah berjanji akan membawamu ke tempat itu.”

Namun langkah mereka segera tertegun, ketika tiba saja raksasa yang berdiri di atas bukit itu tiba-tiba tertawa sambil berkata, “Nah, apakah kau tetap pada pendirianmu Jaka Raras. Lihatlah, aku sudah benar-benar bermaksud membunuh anakmu.”

Dan ketika mereka yang mendengar suara itu berpaling memandang ke atas bukit, dilihatnya raksasa itu memegangi seorang anak muda. Anak muda itu adalah Rudita.

Sejenak mereka terpaku di tempat masing-masing. Bahkan mereka yang sedang bertempur, yang melihat Rudita di tangan raksasa itu pun menjadi ragu-ragu. Tetapi mereka tidak dapat membiarkan diri mereka terbunuh di peperangan, sehingga karena lawan-lawannya masih saja menyerang, maka pasukan Mataram dan Menoreh itu pun bertempur terus betapa mereka diganggu oleh kegelisahan yang sangat melihat Rudita di tangan raksasa yang telah diujudkan oleh Panembahan Agung itu.

“Jaka Raras,” berkata Panembahan Agung dalam bentuknya yang mengerikan itu, “apakah kau melihat anakmu?”

Ki Waskita termenung sejenak. Dipandanginya anak muda yang meronta-ronta di tangan Panembahan Agung.

“Hentikan perlawanan orang-orang Mataram dan Menoreh. Jika tidak anakmu akan aku lemparkan ke dalam jurang yang dalam itu. Kepalanya akan membentur batu-batu padas dan akan remuk sama sekali. Otaknya berhamburan dan tulang-tulangnya akan patah.”

“Kau licik Panembahan,” geram Ki Waskita.

Panembahan Agung tertawa. Lalu, “Terserah kepadamu. Aku sudah kehilangan cara lain yang lebih sopan daripada cara ini. Karena itu, terserah kepadamu. Aku memberi waktu kau beberapa saat. Tetapi aku akan segera menentukan sikap.”

Jaka Raras yang juga bernama Ki Waskita itu berdiam diri sejenak. Dipandanginya anaknya dengan wajah yang tegang.

Dalam pada itu Rudita sendiri memandang orang yang di dalam genggaman raksasa itu dengan tegangnya pula. Sejenak ia berdiri membeku. Namun kemudian tubuhnya menjadi gemetar.

“Kiai, bagaimana aku dapat melihat diriku sendiri di tangan raksasa itu?”

“Yang manakah yang kau sadari saat ini tentang dirimu. Apakah kau merasa berdiri di sini bersama aku, atau kau merasa dirimu digenggam oleh raksasa itu.”

“Aku merasa di sini. Tetapi bagaimana dengan aku yang itu, Kiai?”

“Kau hanya satu. Tidak ada kau yang lain. Kesadaranmu tentang dirimu itulah yang benar. Yang kau lihat itu adalah kau di luar dirimu. Dan apa pun dapat berujud seperti dirimu di luar dirimu, tetapi tanpa dapat kau kuasai dan tanpa hubungan rohani sama sekali. Itulah yang kau lihat sekarang. Dan bentuk yang menyerupai dirimu sendiri itu adalah kesatuan bentuk semu dari Panembahan Agung.”

Rudita menjadi bingung. Dengan sosok mata penuh pertanyaan ia memandang sumangkar. Dan Sumangkar pun kemudian berkata, “Baiklah. Jika kau kurang mengerti, jangan hiraukan. Marilah kita cepat menemui ayahmu, agar ayahmu tidak terpengaruh oleh ujudmu itu. Ayahmu adalah seorang yang memiliki ilmu yang seimbang dengan Panembahan Agung. Tetapi kejutan dan kegelisahannya melihat ujud anaknya, barangkali membuat pandangannya menjadi buram. Padahal di dalam pertarungan ilmu, ayahmu memerlukan hati yang bening. Demikian juga agaknya penglihatannya atas ujudmu itu. Goncangan perasaannya telah membuatnya agak bingung dan gelisah, sehingga ia tidak sempat memandang lawannya dengan cermat dengan mata hatinya.”

Rudita masih juga tidak mengerti. Tetapi ia tidak sempat bertanya karena Sumangkar segera menarik tangannya dan melangkah dengan tergesa-gesa di sela-sela gerumbul-gerumbul liar.

“Kakiku sakit, Kiai.”

Tetapi Sumangkar tidak menghiraukannya. Ia menarik anak muda itu semakin cepat.

“Kakiku sakit,” Rudita mengulangi.

Dan Sumangkar menjawab, “Lebih sakit lagi jika kau benar-benar dilemparkan ke dalam jurang itu.”

Rudita tidak menjawab lagi. Ia berusaha untuk mempercepat langkahnya betapa kakinya digigit oleh perasaan nyeri. Tetapi ketakutannya telah membuatnya menahan rasa sakit yang menggigit kakinya.

Namun sekali lagi orang-orang di lembah itu dikejutkan oleh suara tertawa. Kali ini Ki Waskita-lah yang tertawa sambil berkata, “Panembahan Agung. Ternyata kau berhasil mengejutkan aku sehingga aku kehilangan ketajaman penglihatanku untuk beberapa saat. Hampir saja aku menangis melihat anakku yang kau genggam itu, Panembahan. Tetapi akhirnya aku menyadari, bahwa kebohonganmu yang mantap itu hampir menelan aku dan tentu anakku juga. Tetapi Panembahan, sekarang aku sempat melihat apa yang terjadi dengan ilmuku. Dan kau tidak usah ingkar, bahwa bentuk semu yang kau ciptakan itu tentu tidak akan dapat menguasai bentuk yang sebenarnya jika benar anakkulah yang kau pegang dengan bentuk semumu itu. Nah, kau mengerti bahwa aku tidak kehilangan akal? Karena itu, terserahlah kepadamu, apakah kau akan melemparkan bentuk yang menyerupai ujud anakku itu ke dalam jurang, atau akan kau telan sama sekali.”

“Persetan,” teriak Panembahan Agung yang marah. Tetapi ia tidak dapat ingkar, bahwa ia telah gagal lagi. Karena itu maka diputarnya ujud Rudita yang ada ditangannya itu kemudian dilemparkannya membentur lereng bukit. Sebuah ledakan yang dahsyat telah terjadi, disusul dengan api yang melonjak tinggi menelan ujud Rudita yang terdengar berteriak-teriak sekuat-kuat tenaganya.

“Kiai, Kiai,” Rudita yang sebenarnya pun hampir berteriak. Tetapi Sumangkar sempat menutup mulutnya sambil berkata, “Diam saja kau. Jika terdengar oleh orang-orang Panembahan Agung, dan mereka telah mendapat laporan bahwa kau hilang, maka mereka akan mencarimu dan menangkapmu.”

Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi rasa-rasanya ia tidak lagi mengerti, apakah yang harus dilakukan dan bahkan keadaan yang sebenarnya sedang dialaminya.

Ia tidak dapat mempertimbangkan apa pun lagi ketika kemudian Sumangkar menariknya terus menyusup gerumbul-gerumbul perdu.

Dalam pada itu, pertempuran yang terjadi di lembah itu pun menjadi semakin seru. Orang-orang Mataram dan Menoreh pun kemudian menyadari, bahwa yang kemudian hancur menjadi abu itu sama sekali bukan Rudita yang sebenarnya. Kebohongan Panembahan Agung hampir saja berhasil mengguncangkan pemusatan ilmu lawannya, Ki Waskita.

Panembahan Agung yang masih menunggu kedatangan anak buahnya yang disuruhnya mengambil Rudita, menjadi tidak sabar lagi. Apalagi setelah usahanya mengguncangkan ketabahan hati Ki Waskita tidak berhasil.

Dengan demikian, maka ia harus menilai pertempuran yang sedang terjadi itu dengan perhitungan dan pertimbangan wajar. Ia tidak lagi dapat mempergunakan perang urat syaraf yang seakan-akan tidak berpengaruh lagi atas orang-orang Mataram dan Menoreh.

Dengan dada yang berdebar-debar Panembahan Agung harus melihat kenyataan. Pasukannya semakin terdesak terus. Pemimpin-pemimpinnya sama sekali tidak berhasil menguasai lawannya. Meskipun Panembahan Alit mampu mengimbangi kemampuan Kiai Gringsing, tetapi di bagian lain, pasukannya tidak berhasil menahan arus tekanan para pengawal dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh.

Dengan tombak pendeknya Sutawijaya berusaha mendesak lawannya dilengkapi oleh kemampuan menggerakkan senjata Ki Lurah Branjangan. Di bagian lain Ki Argapati dan Pandan Wangi masih tetap merupakan kekuatan yang tidak dapat ditembus oleh lawannya.

Namun semakin lama terasa kaki Ki Argapati mulai dijalari oleh perasaan nyeri. Namun ia tidak mengeluh. Dan ia tidak ingin membuat Pandan Wangi berkecil hati. Sehingga karena itu, maka ia pun masih juga tetap bertempur dengan gigihnya.

Meskipun demikian, Pandan Wangi yang bertempur bersamanya merasakan, tekanan yang semakin berat padanya dengan demikian ia menyadari, bahwa tenaga ayahnya menjadi semakin susut karenanya.

Dengan demikian, maka Pandan Wangi pun bertempur semakin sengit. Ia ingin memaksa lawannya kehilangan kemampuan perlawanannya sebelum ayahnya menjadi lumpuh. Jika ayahnya tidak dapat melakukan perlawanan yang wajar, maka pertempuran itu akan menjadi sangat berbahaya baginya.

Apalagi Putut Nantang Pati yang harus melihat kenyataan yang dihadapinya itu menjadi sangat marah. Ia tahu bahwa usaha Panembahan Agung telah gagal karena tanpa mereka duga, dipihak Mataram dan Menoreh ada seorang yang memiliki ilmu yang serupa dengan ilmu Panembahan Agung, sehingga orang itu berhasil mengacaukan semua usahanya.

Dengan segala kemampuan yang ada, Pandan Wangi mengisi kelemahan ayahnya melawan Putut Nantang Pati. Agaknya Putut Nantang Pati sudah mengetahui kelemahan Ki Argapati, sehingga ia berusaha untuk berkelahi dalam lingkaran yang luas, untuk memaksa Ki Argapati berloncatan. Tetapi Pandan Wangi-lah yang kemudian berusaha mengisi jarak yang panjang itu.

Namun Putut Nantang Pati, seperti yang sudah pernah terjadi tidak berhasil memancing Pandan Wangi menjauhi ayahnya dan menghancurkannya tanpa perlindungan ayahnya. Tetapi sebaliknya Putut Nantang Pati juga tidak pernah berhasil menyerang Ki Argapati yang sudah semakin lemah itu tanpa bantuan anak gadisnya.

Dalam pada itu, di bagian lain, di lambung gelar yang tidak sempurna itu, beberapa orang pemimpin Mataram di satu sisi, dan di sisi yang lain, Agung Sedayu, Swandaru, dan Prastawa, sudah berhasil menghancurkan, usaha lawannya untuk menyergap gelar itu dari lambung. Pasukan Panembahan Agung yang berada di lereng perbukitan, sama sekali tidak berhasil mengganggu gelar itu dari sebelah-menyebelah. Bahkan tanpa mereka duga-duga mereka telah membentur kekuatan yang tiada dapat mereka lawan sama sekali.

Pasukan yang menyerang lambung di belahan pasukan Menoreh terkejut ketika tiba-tiba saja mereka telah dilanda oleh ujung-ujung cambuk Agung Sedayu dan Swandaru. Sedang di sisi yang lain, para pemimpin pengawal Mataram pun dengan cepat berhasil menghancurkan mereka.

Putut Nantang Pati tidak dapat mengabaikan semua yang telah terjadi itu. Kemarahan yang menggelegak sampai keubun-ubunnya serasa akan meledakkan kepalanya.

Tetapi ia tidak dapat terbuat banyak karena ia masih harus menghadapi Ki Argapati meskipun ia mulai terganggu oleh kakinya beserta anak gadisnya.

Di bagian lain tumpuan dari pertempuran itu, Panembahan Alit pun berusaha sekuat-kuat tenaganya untuk segera mengalahkan Kiai Gringsing. Namun seperti yang pernah terjadi di Alas Tambak Baya, panembahan yang juga menyebut dirinya Tak Bernama itu tidak mampu segera mengatasi lawannya. Bahkan semakin lama rasa-rasanya rambuk Kiai Gringsing meledak semakin dekat dengan telinganya.

Tetapi Panembahan Alit adalah orang yang mumpuni di dalam olah kanuragan seperti Kiai Gringsing sendiri. Karena itulah maka pertempuran di antara keduanya adalah pertempuran yang sangat sengit. Di dalam puncak ilmu masing-masing, maka keduanya telah membuat arena yang seakan-akan terpisah dari keseluruhan pertempuran.

Tenaga mereka bagaikan berkembang sejalan dengan kemarahan yang berkembang di hati masing-masing. Bahkan ranting-ranting dan batang-batang perdu di sekitar mereka telah berpatahan dan daun-daun berguguran di tanah.

Agaknya keduanya sadar, bahwa kali ini mereka harus bertempur mati-matian. Mereka tidak dapat membiarkan pertempuran itu selesai tanpa akhir dalam keadaan serupa itu. Beberapa puluh langkah di belakang Panembahan Alit adalah padukuhan induk yang dihuni oleh Panembahan Agung sendiri. Jika pasukan Mataram dan Menoreh sampai ke pusat padepokan itu, maka habislah alat pertahanan mereka yang selama ini mereka susun.

Dengan demikian, maka tinggal ada dua pilihan bagi Panembahan Alit. Mempertahankan padepokan itu atau mati sama sekali. Itulah sebabnya, maka ia pun bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya.

Ternyata bahwa kemampuan Panembahan Alit tidak berada di bawah kemampuan Kiai Gringsing. Bahkan agaknya Panembahan Alit mempunyai sedikit kelebihan dari Kiai Gringsing. Panembahan Alit di dalam keadaan yang paling sulit itu, tidak lagi menghiraukan sopan santun di dalam perkelahian. Ia tidak lagi memikirkan bahwa apa yang dilakukan adalah tata gerak yang kasar dan bahkan hampir liar. Namun satu hal yang dipegangnya, bertahan sampai kemungkinan yang lain merenggutnya, mati.

Agaknya sikapnya itu sangat berpengaruh kepada anak buahnya. Nantang Pati pun sama sekali tidak berniat untuk mundur setapak. Apalagi karena menurut penilaiannya Argapati tidak akan dapat lagi mendesaknya. Ia lebih banyak bertahan bersama anak gadisnya. Titik berat gerak Ki Argapati kini berada di tangannya. Namun demikian, tangannya tetap merupakan tangan seorang yang mumpuni di dalam olah kanuragan.

Di bagian lain, Daksina mulai terdesak oleh Raden Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan para pemimpin pengawal yang telah kehilangan lawannya di lambung. Mereka melepaskan diri dari kelompoknya dan membantu Raden Sutawijaya yang sebenarnya masih belum dapat disejajarkan dengan kemampuan Daksina. Tetapi Daksima tidak dapat melawan beberapa orang sekaligus di dalam kepungan orang-orang Mataram dan Menoreh. Pengawal-pengawalnya seorang demi seorang telah berguguran dan terdesak menjauhinya tanpa dikehendakinya.

Dalam pada itu, Rudita yang dibimbing oleh Sumangkar, yang bahkan seakan-akan diseretnya saja di sela-sela gerumbul-gerumbul perdu itu pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan ayahnya. Namun ketika ia berada di lereng gunung alas berdiri raksasa yang berujud seperti ayahnya, Rudita menjadi ragu-ragu.

“Ayahku bukan sebesar itu,” katanya.

“Marilah,” berkata Sumangkar, “jangan ragu-ragu, akulah yang akan membawamu kembali kepada ayahmu.”

“Tetapi di manakah ayah sebenarnya jika raksasa itu hanya sekedar bentuk semu?”

“Aku mengetahui tempatnya. Karena itu, cepatlah sedikit, agar ayahmu segera dapat mengambil tindakan jika ia yakin bahwa kau sudah selamat.”

Meskipun dengan ragu-ragu, namun Rudita mengikuti saja dibimbing oleh Sumangkar merayap mendekati bukit. Sedang di bukit yang lain tampak Panembahan Agung masih berdiri dengan wajah yang merah membara.

Sejalan dengan kemenangan demi kemenangan yang dicapai oleh pasukan Mataram dan Menoreh, maka Panembahan Agung yang tidak dapat ingkar dari kenyataan itu pun semakin menjadi cemas. Ia sadar bahwa ia tidak dapat mempengaruhi pasukan Mataram dan Menoreh itu dengan kebohongan-kebohongan lain, karena kegagalannya pada bagian pertama dari pertempuran ini, telah membuat lawannya menjadi kebal. Mereka tahu pasti, bahwa apa yang akan diujudkan dalam bentuknya yang semu itu benar-benar tidak akan berpengaruh atas mereka.

Sementara itu Kiai Gringsing masih bertempur dengan gigihnya. Bahkan dengan mengerahkan segenap kemampuannya, perlahan-lahan Kiai Grngsing dapat membatasi kekasaran dan keliaran Panembahan Alit.

Ki Argapati yang bertempur tidak terlampau jauh dari Kiai Gringsing, melihat betapa Kiai Gringsing telah berjuang dengan sepenuh kemampuannya. Bahkan kadang-kadang tampak sesuatu yang mendebarkan jantung Ki Argapati. Tetapi ia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikannya terlalu lama, karena Pulut Nantang Pati yang mendekati kegoyahan sikap itu masih saja menyerangnya dengan garang. Bahkan kemudian yang tampak pada sikap Putut itu adalah keputus-asaan atas segala kegagalan Panembahan Agung yang selama ini dianggapnya sebagai manusia yang tidak ada tandingnya di muka bumi. Manusia yang seakan-akan dapat mengubah alam menurut keinginannya dan mengacaukan bentuk yang sebenarnya dengan bentuk-bentuk semu yang tidak dapat dibedakan dengan kenyataan di dalam ujud yang terbayang oleh pengaruh getaran ilmu yang langsung mempengaruhi pusat syaraf.

Dalam pada itu, Agung Sedayu, Swandaru, dan Prastawa tidak lagi harus bertempur mati-matian. Ia kini berada di antara para pengawal. Cambuknya masih meledak-ledak, tetapi mereka tidak lagi harus memeras segenap kemampuan. Apalagi Agung Sedayu yang menganggap lawan mereka tinggal para pengawal yang tidak banyak mengetahui apa yang harus dilakukan itu. Ia bertempur untuk sekedar menahan mereka. Sekali-sekali ia terpaksa melukai, tetapi ia sama sekali tidak ingin membunuh lagi, setelah dengan berat hati ia terpaksa mematahkan serangan lawan-lawannya dengan sungguh-sungguh, dan bahkan menimbulkan kematian.

Dalam keadaan yang demikian, sekali-sekali ia sempat melihat gurunya bertempur. Ada sesuatu yang sangat menarik perhatiannya. Di dalam penempuran yang sangat dahsyat melawan orang yang sudah mencapai puncak ilmunya, ternyata Kiai Gringsing memiliki sesuatu yang masih agak asing bagi kedua muridnya. Meskipun pada dasarnya murid-muridnya sudah memiliki ilmu itu, tetapi ada yang masih mendebarkan jantung mereka.

Agung Sedayu pernah melihat gurunya bertempur melawan orang-orang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Gurunya pernah bertempur melawan Ki Tambak Wedi. Melawan hantu-hantu di Alas Mentaok. Melawan banyak lagi orang-orang yang tidak terduga-duga. Bahkan Kiai Gringsing pernah terluka di Jati Anom. Namun kali ini perkelahian di antara kedua orang itu benar-benar merupakan perkelahian yang luar biasa.

“Agaknya Panembahan Alit bukan saja mempergunakan ilmu olah kanuragan secara wajar,” perasaan itu tumbuh di dalam hati kedua murid-murid Kiai Gringsing itu.

Sebenarnyalah mereka melihat, bahwa pertempuran itu rasa-rasanya seperti tidak sewajarnya. Kadang-kadang mereka bergerak terlampau cepat. Namun kadang-kadang mereka berdiri saja dengan tegang sambil menggenggam senjata masing-masing.

Dalam pada itu Panembahan Alit merasa, bahwa kali ini ia benar-benar menemukan lawan yang tidak dapat dikalahkannya dengan segenap ilmu yang ada padanya. Seakan-akan Kiai Gringsing dapat melakukan apa saja yang dilakukannya.

Di lingkaran perkelahian yang lain, Putut Nantang Pati benar-benar telah dicengkam oleh perasaan putus asa. Anak buahnya telah terdesak semakin mundur. Sedangkan ia masih belum berhasil menga1ahkan Ki Argapati dan anak gadisnya, meskipun tampaknya Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu menjadi semakin parah.

Namun dalam pada itu, tiba-tiba seorang anak muda telah terjun ke dalam arena itu pula. Prastawa, yang agaknya sudah kehilangan lawan-lawannya di lambung, tidak mau membiarkan Pandan Wangi semakin sulit mengalami tekanan Putut Nantang Pati justru karena Ki Argapati menjadi semakin lemah.

Kehadiran Prastawa membuat Putut Nantang Pati menjadi semakin marah. Dengan segenap kemampuan dilambari oleh perasaan putus asa ia mencoba memecahkan perlawanan ketiga orang itu. Tetapi ternyata usahanya sia-sia saja. Meskipun Prastawa tidak sekuat Pandan Wangi, namun kehadirannya benar-benar telah membuat Putut Nantang Pati kehilangan harapan untuk memenangkan perkelahian itu. Bahkan ia telah kehilangan harapan atas keseluruhan dari pertempuran itu.

Dan itulah sebabnya, maka ia pun seakan-akan menjadi kehilangan akal. Dengan membabi buta ia berusaha untuk, memecahkan kerja sama ketiga lawannya. Tetapi Putut Nantang Pati pun merasa bahwa usaha itu tidak akan berhasil.

Dalam keadaan itu, Ki Argapati merasa bahwa tugasnya pun menjadi semakin ringan. Prastawa dapat mengambil sebagian dari tugasnya mengatasi serangan-serangan Putut Nantang Pati yang menjadi semakin kasar dan liar.

Namun dalam kesempatan itu, kadang-kadang ia masih sempat memperhitungkan Kiai Gringsing yang bertempur melawan Panembahan Alit. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang hampir sempurna, Ki Argapati dapat menilai pertempuran yang sedang berlangsung antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit. Meskipun Ki Argapati pada saat itu tidak akan lagi mampu melawan Panembahan Alit karena cacatnya, namun Ki Argapati masih mampu melihat, apakah sebenarnya yang terjadi di arena kedua orang yang pilih tanding itu.

Ki Argapati melihat bahwa keduanya telah sampai kepada inti ilmu masing-masing. Bahkan kadang-kadang mereka telah sampai pada puncak tenaga cadangan yang ada di dalam dirinya, sehingga nampaknya, tenaga yang terlontar dari kedua orang itu memiliki kekuatan yang luar biasa.

Tetapi selain dari kekaguman Ki Argapati atas kemampuan Kiai Gringsing dan Panembahan Alit yang masih tetap utuh, meskipun umur mereka menjadi semakin tua bahkan seakan-akan justru menjadi semakin masak dan sempurna, Ki Argapati juga menjadi heran, bahwa Kiai Gringsing selama ini telah melakukan suatu usaha yang dapat membahayakan jiwanya. Sejak pertama kali ia melihat adbmcadangan.wordpress.com kehadiran orang itu di Menoreh pada saat pertentangan berkobar di Tanah Perdikan ini, dan yang ternyata telah didahului oleh peristiwa-peristiwa yang penting yang terjadi di Sangkal Putung, saat Tohpati masih memiliki kekuatan, telah menimbulkan beberapa pertanyaan di hatinya.

“Apakah yang telah mendorong orang tua itu untuk menyabung nyawa di setiap peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di sekitar Mataram? Jika ia sekedar seorang yang memiliki kelebihan di dalam olah kanuragan, kemudian mengambil kedua anak muda itu menjadi muridnya, maka ia tidak akan mempertaruhkan nyawanya bagi Mataram.” Namun kemudaan, “Apakah hanya secara kebetulan saja semuanya itu terjadi?”

Namun Ki Argapati masih tetap menganggap bahwa ada sesuatu yang lain yang mendorong Kiai Gringsng itu berbuat banyak bagi Mataram,

“Bukan hanya bagi Mataram,” Ki Argapati melengkapi pendapatnya sendiri di dalam hati, “ia telah membantu menegakkan Pajang di saat pasukan Jipang masih tersisa. Dan ia telah membantu memadamkan api yang berkobar di atas Tanah Perdikan Menoreh, dan kini ia berbuat banyak sekali bagi Mataram yang sedang tumbuh itu.”

Tetapi Ki Argapati terpaksa menghentikan angan-angannya. Ia melihat Pandan Wangi dan Prastawa menjadi semakin sulit melawan Putut Nantang Pati yang benar-benar telah berputus asa, meskipun beberapa orang pemimpin pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang telah kehilangan lawan-lawannya datang membantu, sehingga Putut Nantang Pati itu seakan-akan telah dikepung oleh empat orang sekaligus, selain darinya sendiri, dan seorang di antaranya adalah seorang anak muda bertubuh gemuk dan bersenjata sebuah cambuk.

Sejenak Ki Argapati mengamati pertempuran itu. Putut Nantang Pati memang seorang yang memiliki perhitungan yang baik. Di dalam keputusasaan itu, hampir di luar sadarnya, ia masih mampu melakukan gerak-gerak yang mengejutkan. Di dalam saat ia tidak lagi dapat berpikir dengan baik, ia masih mampu menemukan sikap yang tidak disangka-sangka oleh lawannya.

“Di dalam segala keadaan, agaknya Putut Nantang Pati benar-benar sudah mapan dan menguasai ilmunya dengan baik,” berkata Ki Gede Menoreh di dalam hatinya. Dan itulah sebabnya, maka ia harus berada di tengah-tengah pertempuran itu meskipun ia hanya sekedar menentukan keadaan, karena untuk langsung bertempur menghadapi Putut Nantang Pati, kakinya menjadi semakin sakit dan lemah.

Kehadiran Swandaru di dalam arena itu telah menggetarkan hati Putut Nantang Pati. Bunyi cambuknya itu bagaikan suara hantu yang memanggilnya dari lubang kubur. Apalagi ketika mulai terasa ujung cambuk menyentuh tubuhnya.

Memang tidak ada jalan untuk keluar dari pertempuran itu. Pasukannya sudah terdesak, dan ia sendiri seakan-akan telah dipisahkan dari pasukannya. Di sekitarnya melingkar orang-orang Menoreh yang bersenjata telanjang teracu kepadanya.

Akhirnya, tidak ada pilihan lain daripada Putut Nantang Pati selain mati. Dan ternyata bahwa ia tidak lagi segan untuk melakukannya.

Demikian juga agaknya Daksina. Sutawijaya, Ki Lurah Branjangan, dan beberapa orang pengawal pilihan telah mengepungnya dan mendesaknya sampai ke tepi padas yang tegak pada kaki pebukitan.

“Kau tidak akan dapat lari lagi,” desis Sutawijaya, “menyerahlah. Mungkin aku masih dapat berbicara dengan mulutku, tidak dengan senjataku, karena aku tahu Paman adalah seorang Senapati Pajang. Di saat Pajang mulai tegak, Paman telah berjasa bagi Pajang. Barangkali jasa Paman itu dapat mengurangi kemurkaan Ayahanda Sultan Pajang dan Ayahanda Pemanahan.”

“Aku tidak akan memohon belas kasihan kepada siapa pun juga. Kepada kedua ayahmu itu pun tidak,” Daksina justru berteriak.

Sutawijaya mengerutkan keningnya, lalu, “Bukan belas kasihan, tetapi Pajang dan Mataram tidak akan melupakan jasa seseorang. Karena itu menyerahlah. Paman tidak akan mengalami nasib yang buruk.”

“Bohong. Aku tentu akan kau perah seperti cucian hingga darahku kering. Kau dan ayahmu Pemanahan tentu ingin tahu, siapa saja yang berada di pihakku.”

“Kau berprasangka. Kami telah bersama-sama berjuang menegakkan Pajang. Karena itu, marilah. Jangan kehilangan akal.”

Tetapi Daksina tidak menghiraukannya. Ia masih tetap bertempur dengan gigihnya.

Para pengawal dari Mataram itu pun masih mencoba melunakkan hati Daksina. Mereka memang berkepentingan untuk dapat menangkap Daksina hidup. Tetapi agaknya Daksina sendiri tidak lagi berminat untuk tetap hidup.

“Daksina,” berkata Ki Lurah Branjangan, “kau tentu mengenal aku dan beberapa orang prajurit Pajang yang ada di sini seperti aku mengenal kau dan beberapa orang kawanmu. Kenapa kau berkeras untuk berkelahi sampai mati jika kita dapat mencari cara penyelesaian yang lain?”

“Persetan!” bentak Daksina. “Jangan banyak bicara Branjangan, kau atau aku yang akan mati.”

Ki Lurah Branjangan menarik nafas dalam-dalam. Daksina bagaikan orang mengamuk.

“Kita tangkap hidup-hidup,” desis Sutawijaya kepada Branjangan.

Tetapi agaknya Daksina mendengarnya sehingga dengan penuh kemarahan ia berteriak, “Sombong. Ayo tangkap aku hidup-hidup jika kau mampu.”

Dalam pada itu, Agung Sedayu yang sudah tidak mempunyai lawan lagi berdiri termangu-mangu. Dilihatnya pasukan Panembahan Agung yang semakin jauh terdesak, sehingga mereka sudah hampir memasuki padepokan induk. Sejenak ia termangu-mangu karena di sekitarnya masih ada beberapa lingkaran perkelahian. Kiai Gringsing yang bertempur melawan Panembahan Alit benar-benar merupakan arena pertempuran yang tidak ada bandingnya. adbmcadangan.wordpress.com Pertempuran itu tentu lebih dahsyat dari saat-saat Kiai Gringsing harus bertempur melawan Ki Tambak Wedi. Sekilas terbayang perang tanding yang pernah dilakukan oleh Ki Argapati melawan Ki Tambak Wedi. Tentu merupakan pertempuran yang sangat dahsyat pula. Namun kini di samping kemampuan olah kanuragan dan pengungkapan tenaga cadangan, di dalam pertempuran itu terasa sesuatu telah membakar keduanya. Kemarahan dan puncak dari ilmu mereka.

Setiap kali Agung Sedayu masih mendengar cambuk Kiai Gringsing meledak-ledak. Demikian juga cambuk Swandaru. Karena itu, maka Agung Sedayu mulai tertarik untuk membantu salah seorang dari mereka. Tetapi ia pasti, bahwa ia tidak akan dapat banyak berbuat di arena pertempuran melawan Panembahan Alit.

Karena itu, perlahan-lahan Agung Sedayu mendekati arena pertempuran melawan Putut Nantang Pati. Ia masih melihat senjata terayun. Tetapi ketika ia mendekat, terdengar seseorang mengaduh perlahan-lahan. Dan sekali lagi cambuk Swandaru meledak, maka suara itu pun terulang lagi.

Agung Sedayu tertegun ketika ia melihat darah ditubuh Putut Nantang Pati. Ternyata senjata Pandan Wangi telah menyentuhnya, disusul oleh senjata Swandaru, sehingga dari luka di tubuh Putut Nantang Pati itu pun meleleh darah dan menitik ke atas tanah di lembah yang terasing itu.

Putut Nantang Pati menggeram. Tetapi ia sudah bertekad, bahwa lembah terasing ini adalah lembah yang harus dipertahankan dengan mempertaruhkan nyawa. Karena itu, maka ia sama sekali tidak berusaha untuk menghindari maut yang sudah mulai menyentuhnya.

Serangan-serangan berikutnya adalah serangan-serangan yang lebih dahsyat lagi. Dan Putut Nantang Pati yang menjadi semakin lemah, sama sekali tidak mampu lagi untuk menghindarkan diri dari kematian.

Tetapi sebelum saat terakhir datang, maka terdengar suara Ki Argapati, “Cukup. Tidak bijaksana membunuh lawan yang sudah tidak berdaya.”

“Persetan,” tiba-tiba Pulut Nantang Pati berteriak dengan sisa tenaganya, “aku tidak akan mengharap belas kasihan seperti itu. Aku adalah Putut Nantang Pati, murid terpercaya dari Panembahan Agung. Jika kalian ingin membunuh aku, bunuhlah.”

“Ki Sanak,” berkata Ki Argapati, “kematian bukan tujuan kami. Kau harus dapat mengerti, bahwa yang kami perangi bukan kau sebagai manusia wadag. Tetapi adalah sikap dan perbuatan. Jika wadagmu tidak mampu lagi mendukung sikap dan keinginanmu yang salah, maka kami tidak akan berbuat banyak lagi atas wadagmu itu.”

Mata Putut Nantang Pati justru menjadi semakin membara. Sejenak ia memandang Ki Argapati. Namun agaknya ia benar-benar tersinggung oleh kata-kata Ki Argapati itu, sehingga ia pun kemudian berteriak, “Kau menghina aku. Kau menghina kejantananku.”

Hampir di luar dugaan siapa pun juga, Putut Nantang Pati yang lemah itu, didorong oleh kemarahan yang meluap-luap, tiba-tiba saja meloncat secepat tatit di udara, menyerang Ki Argapati, tanpa menghiraukan lawan-lawannya yang lain.

Namun sudah menjadi tekadnya, ketika ujung pedang Pandan Wangi, ujung cambuk Swandaru dan serangan mendatar Prastawa berbareng mengenainya. Bahkan Ki Argapati sendiri yang terkejut, tidak mampu lagi untuk menghindar. Apalagi kakinya benar-benar terasa sangat mengganggunya. Karena itu, yang dapat dilakukannya adalah mengacungkan tombak pendeknya ke arah lawannya.

Demikianlah beberapa ujung senjata, bersama-sama telah mengenai tubuh Putut Nantang Pati. Ia masih dapat menggeram dan menggeliat. Tetapi kemudian ia menghembuskan nafasnya yang penghabisan, menelungkup di atas tanah yang dipertahankannya sampai ujung hidupnya.

Agung Sedayu yang juga melihat tubuh Putut Nantang Pati yang arang kranjang itu memalingkan wajahnya. Meskipun ia berada di medan, tetapi ia tidak sampai hati melihat luka dan darah yang bagaikan membalut tubuh yang terbaring itu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Ia pernah mendengar ceritera tentang Kiai Ageng Sela yang mengikuti pencalonan senapati. Di dalam pendadaran, Kiai Ageng Sela harus bertempur melawan seekor harimau lapar di alun-alun. Dengan menaiki seekor kuda, Kiai Ageng Sela memasuki arena, diringi oleh sorak sorai prajurit yang menjadi pagar arena dengan tombak di tangan.

Ketika sampai saatnya ia berhasil menusuk harimau itu tepat di punggungnya, dan ketika darah yang merah seakan-akan memancar dari luka itu. Kiai Ageng Sela memalingkan wajahnya. Ia tidak sampai hati melihat harimau itu mengaum dan mandi darah.

Namun dengan demikian, ternyata ada orang yang lain melampauinya di dalam pendadaran itu. Bukan kemampuannya olah senjata sambil mengendalikan seekor kuda. Tetapi orang itu tanpa mengedipkan matanya memandang harimau korbannya yang berguling-guling kesakitan dan kemudian mati terkapar di alun-alun diiringi sorak sorai yang rasa-rasanya akan merobohkan langit.

Kiai Ageng Sela tidak berhasil menjadi seorang senapati. Tetapi Kiai Ageng Sela sama sekali tidak menyesal, bahkan ia masih berasa bersukur bahwa ia tidak berhasil, karena di medan perang, yang dibunuhnya itu tentu bukanya sekedar seekor harimau.

Agung Sedayu sekali lagi menarik nafas dalam-dalam. Dan ia menjadi semakin yakin akan dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan dapat menjadi seorang prajurit yang baik.

Selagi merenungi keadaannya sendiri, maka Agung Sedayu pun terkejut pula ketika ia mendengar orang-orang Mataram bersorak. Ternyata beberapa orang yang juga berasal dari Pajang, termasuk Raden Sutawijaya dan Ki Lurah Branjangan, telah berhasil mengakhiri pertempuran itu. Seperti Putut Nantang Pati maka Daksina pun tidak mau menyerah. Ia sadar, bahwa ia akan mengalami banyak kesulitan di Mataram, jika ia tertangkap hidup-hidup. Ia akan mengalami perlakuan yang parah untuk diperas keterangan dari mulutnya tentang orang-orang Pajang.

Dalam pada itu, yang masih saja bertempur dengan gigihnya adalah Panembahan Alit. Kiai Gringsing benar-benar mengalami kesulitan, bahkan hampir tidak mungkin untuk mengalahkannya. Panembahan Alit memilki ilmu yang sulit diatasi. Kecepatannya bergerak merupakan senjata yang dibanggakannya. Karena itu, maka ujung cambuk Kiai Gringsing hampir tidak pernah berhasil menyentuhnya.

“Ilmu apa sajakah yang sedang bertarung di arena itu,” Raden Sutawijaya pun menjadi heran. Hampir saja ia memerintahkan pasukannya untuk bersama-sama membinasakan Panembahan Alit. Namun Kiai Gringsing sempat berterak, “Biarkan Panembahan Alit bermain-main dengan aku sendiri.”

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun berlangsung dengan sangat sengitnya, sementara pasukan Panembahan Agung yang lain telah terdorong memasuki padepokannya.

Panembahan Alit pun mengetahui, bahwa pasukannya telah terdesak dan bahkan terpisah dari padanya. Dan ia pun mengetahui bahwa kedua senapati pengapitnya telah mati di peperangan itu. Namun ia tidak ingin lari, tidak berbuat seperti di Alas Tambak Baya. Kali ini ia bertempur mati-matian mengerahkan segenap ilmu yang ada padanya.

Ternyata bahwa Panembahan Alit yang juga menyebut dirinya Panembahan Tidak Bernama itu berhasil mengimbangi kemampuan Kiai Gringsing. Bahkan sekali-sekali Panembahan Alit mampu mendesak Kiai Gringsing beberapa langkah surut.

Kiai Gringsing pun sadar, bahwa ia tidak akan dapat memenangkan perkelahian itu begitu saja. Ia kagum akan kecepatan bergerak lawannya, yang kadang-kadang dapat melampaui kecepatan ujung cambuknya.

Dengan demikian, maka beberapa orang pemimpin dari Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh kemudian berdiri melingkari arena pertempuran antara Kiai Gringsing dan Panembahan Alit yang semakin lama justru menjadi semakin seru. Bahkan mereka sudah bertekad untuk bertempur sehari semalam, dan jika perlu lebih panjang lagi dari waktu yang sehari semalam itu.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 November 2008 at 07:21  Comments (44)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-76/trackback/

RSS feed for comments on this post.

44 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saya tak ngantri duluan ya

  2. “Hmm… rupanya Panembahan Gajah Putih (Ki Maswal) blm mengetahui sisi alas ini” desis Panembahan Pandan Alas.

    “Baiknya segera aku SMS Ki GD utk segera mengolah alas 76 ini sebelum semuanya terlambat”

  3. numpang buka lapak disini juga aah…

  4. Absen kiai……lan sugeng riyadin idul fitri kagem poro cantrik dalah kulowargo sedoyo

  5. Absen kiai……lan sugeng riyadin idul Adha kagem poro cantrik dalah kulowargo sedoyo

  6. Ki Ageng Pemanahan,

    Ini ada tenaga tambahan untuk mbabat Alas Mentaok. Nangin kapling 76 sampai 90 dereng disiapaken. Mbok yo disempatake to. Mesakake para cantrik sing terus tingak-tinguk kados manuk keluwen atawa hop in lan hop out kados anoman.

  7. Ki GD, saya baru cek di jilid II buku 7 hal 8,78 dan 79 di buku yang saya pinjam ternyata ada. tp saya ga ada scanner, atau Ki Alphonse berkenan nyecan halaman tersebut ? nanti bahannya saya bawa sekalian.

  8. absen pagi2 menjelang siang………….

  9. E… ternyata ngantrinya disini, sempat bingung tadi. Absen dulu ah…. Ki GD, mat Idhul Adha ya…

  10. Ngantri di sini lewat jalan mana ya?

    Untung jalan pintas sudah dibuatkan oleh para cantrik yang telah mendahului antri.

    Ikut antri ah……

  11. wah…rupanya ki DD juga punya ilmu kesaktian serupa panembahan agung, sehingga mampu menyembunyikan kapling 76 dari pandangan mata…jangan-jangan beliau adalah muridnya…???

  12. Maaf….
    Antrian untuk Peron 76 disebelah mana ya?

  13. @Ki Ony
    Ok Ki Ony, dengan senang hati saya siap membantu.

  14. meski ke DD punya ilmu seperti panembahan agung tetapi saya tetep antri.

  15. O o …..
    Tahu sekarang caranya.

    Kapling 76 dan seterusnya masih sengaja disamarkan oleh Ki Gede agar para cantrik tidak berebut rangsum.
    Meskipun demikian, atas petunjuk Ki Waskita saya mulai dapat menyibak tabir yang menyelimuti padepokan ADBM.
    Ilmu yang dipelajari Ki Gede dari Panembahan Agung masih bisa ditebak.

    Tapi, ada benarnya kalau kapling tersebut tidak dibuka dulu. Karena Ki Gede rupanya mulai kuwalahan menghadapi “proofing” hasil “retype” para pengawal menoreh, sehingga rangsum versi teks segera dibagikan tanpa melalui “proofing”. Mulai jilid 64 yang dibagikan kalau tidak “unproof version” ya “uncorrected version”.

    Pasukan scanning sudah mulai bergerak, pasukan retype sudah ada, pasukan “proofing” rupanya perlu dibentuk. Bagaimana dengan Ki Hartono? atau yang lain? Kasihan Ki Gede.

  16. Ediann….wis okeh le podo ngantri…semoga tidak telat melihat pertarungan Ki Waskita dengan Penembahan Agunng.
    Absen Ki GeDe dan antri, menunggu dengan sabar jurus-jurus di kitab 76 untuk menghadapi ilmu Panembahan Agung yang ngedap2i, sekalian mengucapkan Met Idul Adha Kagen Ki GeDe dan para cantrik sekalian

  17. Nderek nenggo Girik 76 Ki Gede…

  18. sayang sekali Raden Sutawijaya memerlukan tenaga saya untuk menyelidiki siapa sebenarnya Tumenggung, Panji dan Ki Ajar Kleco sesungguhnya sehingga saya harus meninggalkan padepokan Gajah Putih langsung menuju Pajang tgl 10 Desember – 2 Januari ini…..
    sehingga saya pasti akan disibukkan urusan disana dan tidak bisa membantu membabat alas Mentaok.
    tapi setelah selesai urusan di Pajang dan kembali ke Padepokan Gajah Putih, maka saya bisa membantu babat alas Mentaok dari kejauhan…..

  19. Kok belum ada tanda 2x ya? Ikut Antri ah

  20. saya siap bantu ki gede. kasih tahu caranya saja.

  21. Ini mulai dirasakan oleh seluruh isi padepokan ADBM adanya serangan ilmu-ilmu gila dengan membuat apa yang akal pikirkan dan perasaan menjadi sesuatu yang bertentangan dan berlainan,…diharapkan segenap cantrik untuk lebih memusatkan daya nalar dan budinya…terasa getaran2 yang mengacaukan akal pikiran…kita. mudah2an ki Gede..dan para cantriknya tidak terlalu..terpengaruh dengan ilmu gila panembahan agung…

  22. BTW, kita para kawula juga kena imbasnya, menjadi gila…gila karena lama menunggu….tetapi apapun dan bagaimanapun bacanya tetap ADBM…. thanks to ki GD dan crew…

  23. KI arema (asli malang tenan tah), aku suah lama menyediakan diri untuk membantu yang aku bisa. kantorku di harmoni. ada scanner. aku juga punya cukup waktu (1-2 jam sehari) untuk ikut babat Alas Mentaok. Aku cuma butuh sipat kandel. tolong turunkan ilmu mengubah bentuk itu..

  24. Ha ha .., yang asli Arema anak saya. Saya sendiri orang kabur kanginan.

    Ki Hartono

    Tentang ilmu merubah bentuk, waduh …, ilmu saya belum sampe di situ. Saya baru bisa merubah bentuk dari jarak dekat, kalau merubah bentuk dari jauh, ya “kadit osi”. Sipat kandelnya tidak bisa dipakai untuk “remote”.

    Maksud saya menyebut nama Ki Hartono, supaya membantu “proofing” jilid-jilid yang versi teksnya sudah keluar tetapi belum di “proof”, misalnya sampai sekarang jilid 64 – 70 masih versi “unproof” atau “uncorrected”, supaya enak dibaca. Atau kerjasama dengan Ki Edy, Ki Pras, Jebeng dll.

    Alur: scan-djvu-convert docfile-retype-proof-reproof. Ki Hartono bisa mengambil yang mana? Petanya sekarang sudah jelas, meskipun kadang menghilang. Scan-djvu (Ki Warsono, Arema, mbokde dan tim Bogor), djvu-konvert (jebeng …, dimana sekarang), retype (Ki Edy, Pras, dll), proof (Ki Edy, dll) dan reproof (Ki Gede sendiri). Kalau Ki Hartono mau nge”proof” bisa kontak dengan pasukan retype spt Ki Edy, Pras, dll.

    Teknisnya bisa menghubungi Ki Gede.

    Dulu saya belajar nge”proof” sama Ki Gede, tetapi ditugasi menjadi pasukan “scanning”. Ki Hartono saya kira tidak perlu belajar lagi.

  25. baik ki arema. ki gede bisa kasih tugas kepada saya.

  26. Sajak-e Ki GD ki kesaren,… bethoro suryo sedelo maneh sumurup neng cokrowolo..nanging durung ono tondo-tinondo bakal mijil bayining kurowo kaping 76

  27. Ternyata ilmu Panembahan Agung kagak ade ape2nye, kena bunyi ledakan cambuk Kiai Gringsing lenyap seketika ilmu sihirnya. Ular belang ular kodot semue nyungsep seketika.
    Ki Truno Podang

  28. Absen dulu nih,
    KI ONy, KI Aulianda dan Ki Alphonse dan para cantrik di Bogor…, maaf bbrp hari hilang, internet lagi down katanya, kesamber petir dan ular naga kali…hehe.
    kalo saya mah gimana yg ngasih jatah aja.., Boleh aja sabtu siang ini ririungan di Alas BotanSkuere – buat meringankan beban Ki Gede…
    No HP saya udah ada di Ki Aulianda, bisa dikontak ntar..
    sekalian nebeng angkot jambu dua nomor 76…, kok belum lewat ya????

  29. kover-nya sudah ada tanda-tanda penampakan…
    semoga bukan hasil kerjaan panembahan agung….

  30. Ikut ngantri.
    Biarin dapat nomer paling buntut.

    Maturnuwun

  31. ikut absen

  32. Met id adha semuanya
    Absen ki Gede

  33. eeee sabar???

    ana sing dadi sate buntel ya???

    GD: Dangu mboten pinarak, Ki Rekso. Sami wilujeng to?

  34. Menebak-nebak jalannya pertempuran di 76.
    Ki Waskita lawannya Panembahan Agung;
    Kiai Gringsing lawannya Panembahan Alit;
    Ki Sumangkar lawannya Daksina (tetapi setelah Ki Sumangkar menyelamatkan Rudita terlebih dahulu);
    Raden Sutawijaya + Ki Branjangan lawannya Putut.
    Wah di pihak Menoreh masih banyak selebritis yang gak punya lawan tangguh seperti Agung Sedayu, Swandaru, Ki Argapati, Pandan Wangi, Prastawa dan Ki Demang SP.
    Hayo siapa yang gak setuju ngacunga?
    Ki Truno Podang

  35. Lha, Ki Truno Podang sendiri juga blom dapat lawan..

  36. maap ki truno podang.. lagi asyik ngudut 76 sampai tidak tau ki truno nulis apa 🙂
    ..
    makasih ki gedhe

  37. Ups….
    Hampir ketepu lg…

    tengkyu KI GEDE

  38. akhirnya…dapat juga ilmu untuk menghadapi Panembahan Agung.

    Terima kasih Ki GeDe…

  39. @Ki Arema,
    Saya masih memantau dengan rajin ADBM kok Ki. Berhubung para ADBMer sudah pada mumpuni dalam mengkonvert dan sudah mempunyai aji aji ABBYY Fine Reader masing masing sehingga sudah bisa meng konvert tanpa bantuan cambuk atau pun obat obatan dari Ki Tanu Metir, maka saat ini saya sedang tenggelam dalam satu kegiatan yang sedikit berbeda….

  40. Terima kasih ki GD

  41. test

  42. Maaf poro kadang kulo bade daptar dados cantrik
    Nopo mawon saratipun
    Matvr nuwun ki GEDE

  43. Ki Gede,mohon petunjuk abagaimana caranya agar saya bisa buka mulai jilid 97 sampai yang ada sekarang,matur nuwun ki gede

    $$ silahkan baca petunjuknya di Halaman Unduh, Ki Radjiman .. atau gunakan fungsi “search” yang ada di sisi kanan padepokan.

  44. aku ketinggalan inpo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: