Buku 76

BERIKUT ADALAH VERSI YANG SUDAH DIKOREKSI

DENGAN demikian maka bersama di dalam satu kelompok dengan Ki Lurah Branjangan, Raden Sutawijaya berusaha untuk menahan Daksina. Meskipun Raden Sutawijaya sadar, bahwa Daksina memiliki kemampuan yang lebih baik daripada dirinya sendiri, tetapi seperti yang pernah di lakukan, Raden Sutawijaya tidak berdiri sendiri.

Di pihak yang lain, Senapati pangapit Panembahan Alit tertahan oleh Ki Argapati yang kini dirangkapi oleh anak gadisnya, Pandan Wangi, karena Pandan Wangi sadar, bahwa gangguan pada kaki ayahnya tentu akan segera kambuh lagi jika ia harus bertempur dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Itulah sebabnya maka ia merasa wajib selalu berada di sampingnya.

Di bagian lain, para pemimpin Mataram harus menahan serangan lambung yang berusaha memecah perhatian para pemimpin pasukan Mataram dan Menoreh. Namun ternyata bahwa kekuatan serangan pada lambung itu sama sekali tidak mampu mengatasi ketangkasan para pengawal dari Mataram.

Demikian juga di lambung yang lain. Ketika Agung Sedayu dan Swandaru mulai melecutkan cambuknya, maka ternyata bahwa lawan mereka tidak banyak berarti bagi gelar yang kurang sempurna itu, sehingga serangan lambung di belahan yang terdiri dari orang-orang dari Tanah Perdikan Menoreh itu pun tidak banyak memberikan gangguan.

Sementara itu, pasukan yang berada di bagian belakang dari gelar yang tidak sempurna itu sama sekali tidak mendapat gangguan apa pun. Ki Demang yang berada di bagian belakang, benar-benar merupakan tenaga cadangan yang setiap saat dapat dipergunakan sebaik-baiknya.

Sejenak setelah kedua pasukan itu berbenturan, Panembahan Alit sudah merasa tekanan yang berat dari lawannya. Namun demikian ia masih tetap merasa cukup kuat untuk melawan pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh itu, meskipun ia segera dapat juga mengenal orang bercambuk yang kini menahannya di ujung medan.

“Kita bertemu lagi Panembahan,” berkata Kiai Gringsing setelah keduanya terlibat di dalam peperangan.

“Kenapa kau turut campur?” bertanya Panembahan Alit. “Aku kira kau mendendam ketika aku menahanmu di Alas Tambak Baya.”

“Bukan sekedar itu,” sahut Kiai Gringsing, “tetapi aku memang sependapat dengan Raden Sutawijaya bahwa alas tempat gerombolanmu berpijak ini harus dihancurkan. Sudah sekian lamanya Mataram harus mengalami gangguan-gangguan yang gila dari Panembahan Agung dan Panembahan Alit. Hantu-hantuan, racun, dan seakan-akan kalian telah memagari Mataram dengan kekerasan.”

“Persetan. Tetapi kali ini kalian benar-benar telah terjerumus ke dalam sarang serigala. Kau akan mati dan hancur disayat-sayat oleh ujung senjata kami.”

Kiai Gringsing tidak menyahut. Yang terdengar adalah ledakan cambuknya sehingga Panembahan Alit terkejut dan meloncat menghindar dengan tangkasnya.

Selagi pertempuran itu berlangsung, maka masih terdengar suara Panembahan Agung, “Cepat, tahanlah pasukan Raden Sutawijaya. Kau dapat mempergunakan pengaruhmu. Kemudian aku akan menyerahkan anakmu itu.”

“Sayang, Panembahan,” sahut Ki Waskita, “aku tidak dapat melakukannya. Aku akan membebaskan anakku, tetapi tidak untuk menjerumuskan orang lain ke dalam tanganmu.”

Terdengar raksasa itu menggeram. Dengan nada tinggi ia kemudian berkata, “Jadi kau relakan anakmu mati dengan cara yang mengerikan itu?”

“Kenapa mengerikan?”

“Sudah aku katakan. Aku akan mengikat kakinya dan menjerat lehernya dengan tali yang terikat pada seekor kuda.”

“Jika kau mengerti bahwa hal itu mengerikan, kenapa kau lakukan?”

“Sengaja, agar kau tahu, bahwa kau terlampau sombong dengan membiarkan anakmu mati dengan cara itu. Mungkin kau lebih menghargai hadiah dari Raden Sutawijaya atas bantuanmu saat ini. Mungkin dijanjikan bahwa kau kelak akan diangkat menjadi seorang pemimpin di Mataram sehingga kau bersedia mengorbankan anakmu.”

“Aku sama sekali tidak bermaksud mengorbankan anakku yang manja itu. Aku akan membebaskan dengan caraku.”

“Persetan. Ia akan mati. Jika aku tidak melihat kau berusaha mempengaruhi Raden Sutawijaya dalam hitungan ke sepuluh, aku akan melepaskan isyarat.”

Waskita termangu-mangu sejenak. Tetapi ia sengaja memperpanjang waktu dengan berkata, “Tunggu dulu. Aku sedang berpikir. Jangan mulai dengan hitungan itu.”

“Kau menunggu pasukanku hancur?”

“Bukan itu, tetapi sekedar jaminan bahwa anakku akan selamat. Apakah kau dapat menunjukkan di mana anakku sekarang?”

“Ada padaku. Bukan aku sendirilah yang menemukannya. Tetapi orang-orang kepercayaanku. Kami mengira bahwa anak itu dapat kita pergunakan sebagai umpan antuk memancing kalian. Tetapi kami sudah gagal menghancurkan kalian di mulut lembah yang sempit. Kemudian pemainanku telah kau ganggu. Dan sekarang, satu-satunya kesempatan adalah mempergunakan kau dan anakmu itu.”

“Aku minta jaminanmu.”

Panembahan Agung menggeram. Ia masih belum mulai menghitung, karena Waskita sengaja memperpanjang pembicaraan.

Dalam pada itu, Waskita memang menunggu agar usahanya untuk melepaskan anaknya dapat terlaksana lebih dahulu sebelum Panembahan Agung menentukan sikap dan melepaskan isyarat untuk membunuh anaknya.

Dengan petunjuk dari Ki Waskita atas dasar isyarat yang ditangkapnya, maka Sumangkar merayap semakin dekat dengan padepokan Panembahan Agung yang seakan-akan telah menjadi kosong. Para penjaga dan pengawal telah dikerahkan ke medan untuk menahan arus pasukan Mataram dan Tanah Perdikan Menoreh. Yang tinggal di padepokan itu hanyalah beberapa orang yang bertugas mengawasi keadaan dan dua orang untuk menjaga Rudita yang terikat pada tiang di ruang belakang padepokan itu. Panembahan Agung ternyata telah kecewa menahan anak cengeng yang semula disangkanya tidak akan mempunyai arti apa-apa, yang ternyata meleset dari perhitungannya.

Dengan demikian maka nilai Rudita bagi Panembahan Agung itu telah mengalami beberapa kali perubahan. Semula ketika ia menerima anak itu ia mendapat laporan, bahwa anak itu agaknya termasuk orang yang penting, sehingga ia tidak ikut di dalam pertempuran yang sedang berlangsung. Tetapi kemudian Panembahan Agung berpendapat, bahwa anak itu adalah anak yang dianggapnya tidak bernilai. Cengeng dan sama sekali tidak mengetahui apa pun juga tentang Mataram. adbmcadangan.wordpress.com Namun ketika anak itu akan dibunuhnya, tanpa disadari, anak itu telah berceritera tentang Tanah Perdikan Menoreh, sehingga Panembahan Agung berpendapat bahwa dari anak itu akan dapat diperas beberapa keterangan mengenai Menoreh. Yang terakhir ternyata, Panembahan Agung mengetahui bahwa anak itu adalah anak Jaka Raras, orang yang paling diseganinya karena orang itu juga memiliki ilmu seperti ilmunya sendiri. Ilmu yang dapat menjelmakan kebohongan yang paling besar yang dapat dilakukan oleh seseorang.

Tetapi ternyata bahwa di saat yang paling genting bagi Panembahan Agung, ayah anak cengeng itu sama sekali tidak berniat untuk menebus anaknya, karena ia tidak mau berkhianat kepada Raden Sutawijaya. Dengan demikian maka anak itu benar-benar tidak berarti lagi baginya, sehingga agaknya lebih baik anak itu dibunuhnya saja.

Pada saat itu Sumangkar telah berada di dalam padepokan yang sepi. Menurut Ki Waskita, anaknya ada di bagian belakang dari padepokan itu, sehingga dengan hati-hati, ia berkisar dari balik gerumbul ke balik gerumbul yang lain mendekati ruangan yang paling mungkin dipergunakan untuk menahan Rudita.

Dalam pada itu, Sumangkar menyadari, bahwa Rudita akan dapat dijadikan barang penting untuk memeras Ki Waskita. Karena itu, maka ia pun berusaha dengan secepat-cepatnya untuk melepaskannya.

Sumangkar menjadi berdebar-debar ketika dilihatnya masih ada beberapa orang yang hilir-mudik di halaman rumah induk padepokan itu. Dengan demikian, maka ia berpendapat, bahwa pada suatu saat, jika perlu, ia memang harus mempergunakan kekerasan.

Tetapi Sumangnar maju terus mendekati tempat yang diduganya dipergunakan untuk menyembunyikan Rudita. Ketika ia mendapat kesempatan, maka Sumangkar pun berlari dari balik gerumbul ke sudut rumah induk itu.

Namun, ternyata tanpa disengaja seseorang telah melihatnya. Tetapi karena orang itu tidak begitu jelas, siapakah yang dilihatnya itu, maka ia pun mendekatinya dengan senjata teracu.

Dalam keadaan itu, Sumangkar tidak dapat bersembunyi lagi. Bahkan ia pun kemudian berjongkok di sudut rumah itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Siapa kau, he?” bertanya orang yang mendekatinya.

Tetapi orang itu tidak dapat bertanya untuk kedua kalinya, ketika tiba-tiba saja ia terhuyung-huyung.

Dengan mata terbelalak orang itu masih melihat Sumangkar berdiri. Namun kemudian matanya menjadi berkunang-kunang. Dadanya serasa sesak.

Agaknya Sumangkar telah meloncat dan memukul dada orang itu, sehingga akhirnya orang itu pun terjatuh menelentang di tanah. Pingsan.

Dengan tergesa-gesa Sumangkar masih sempat menarik orang itu dan menyembunyikannya di balik pintu yang terbuka. Kemudian dengan hati-hati ia bergeser menuju ke tempat yang paling sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh Ki Waskita menurut rabaan isyaratnya.

Sekali-sekali Sumangkar masih harus berhenti dan berlindung di balik sudut-sudut rumah atau gerumbul-gerumbul yang rimbun.

Ia masih berusaha untuk menghindari kekerasan sejauh dapat dilakukan, karena ia tidak mengetahui dengan pasti, ada berapa orang yang masih tinggal di padepokan ini.

Ketika Sumangkar mendekati rumah yang diduga sebagai tempat untuk menyembunyikan Rudita, maka ia terpaksa bersembunyi melekat dinding ketika ia melihat seseorang justru berjalan ke arahnya. Namun ia tidak menbiarkan orang itu memberikan isyarat kepada kawan-kawannya. Demikian orang itu sampai di sudut rumah, maka ia tidak sempat berbuat apa pun juga. Sebuah tangan yang kuat telah mencengkam mulutnya dan sebuah pukulan yang keras terasa mengenai tengkuknya. Setelah itu, maka ia pun jatuh pingsan pula.

Seperti orang yang pertama, maka orang itu pun kemudian disembunykan di balik dinding. Agaknya rumah-rumah gubug yang bertebaran di padepokan itu sudah dikosongkan, karena orang-orangnya berada di medan di hadapan padepokan yang terpencil dan tersembunyi itu.

Dengan hati yang berdebar-debar Sumangkar melanjutkan langkahnya. Setiap kali ia berhenti dan mendengarkan setiap bunyi yang mencurigakan.

Akhirnya Sumangkar berhasil mendekati tempat yang dicarinya. Lamat-lamat ia mendengar seseorang menangis meskipun tertahan-tahan.

“Hanya Rudita-lah yang menangis dengan cara itu,” desis Sumangkar kepada diri sendiri.

Perlahan-lahan ia berusaha mendekati gubug itu. Ternyata gubug itu sepi. Meskipun demikian Sumangkar yakin, bahwa tentu ada satu atau dua orang yang menjaganya.

Selagi ia termangu-mangu, tiba-tiba ia mendengar suara yang menggelegar dari medan. Ketika ia berpaling, dilihatnya sesuatu telah berbenturan di langit. Sejenak Sumangkar termangu-mangu, namun kemudian ia tidak menghiraukan sama sekali. Ia sadar, bahwa yang dilihat dan didengarnya sama sekali bukannya bentuk yang sebenarnya, seperti dua raksasa yang berdiri di puncak bukit itu. Meskipun ia melihat juga bayangan raksasa di sela-sela dedaunan, tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya, karena raksasa-raksasa itu tidak akan dapat berbuat apa-apa atasnya.

Tetapi ketika ia melangkah semakin dekat, dan berdiri di ujung dinding di belakang gubug itu, ia mendengar bunyi yang berdesing di udara. Seperti bunyi sawangan yang kadang-kadang dipasang pada burung merpati.

Mula-mula Sumangkar tidak menghiraukannya. Namun kemudian ia mulai tertarik ketika ia mendengar suara seseorang di dalam gubug itu, “Kau mendengar bunyi sawangan?”

“Ya,” jawab yang lain.

“Apakah itu suatu isyarat?”

Sejenak mereka terdiam. Namun kemudian salah seorang berkata, “Ya. Itu tentu suatu isyarat. Bukankah Panembahan Agung sudah berpesan, bahwa jika terdengar isyarat yang akan akan dilontarkannya lewat bunyi, maka anak ini dapat dibunuh.”

Rudita yang agaknya mendengar pembicaraan itu pun tiba-tiba berteriak, “Jangan, Jangan bunuh aku.”

“Diam anak gila. Semakin keras kau berteriak, nasibmu akan menjadi semakin jelek. Aku kira Panembahan Agung akan sependapat jika kita memilih cara yang paling baik untuk membunuhnya.”

“Jangan, jangan,” teriak anak itu.

“Kita tunggu sejenak,” terdengar suara dari dalam gubug itu pula, “mungkin ada isyarat lain yang lebih jelas.”

Gubug itu menjadi sepi sejenak. Yang terdengar hanyalah tangis Rudita yang semakin keras.

“Tutup mulutmu, tutup mulutmu,” bentak salah seorang dari penjaganya.

Sumangkar tergeser setapak ketika ia mendengar sebuah pukulan diikuti jerit tertahan.

“Ampun, ampun. Aku tidak bersalah.”

“Jika kau tidak mau diam, aku remukkan mulutmu.”

Suara tangis itu pun menurun. Tetapi terdengar isak yang sesak. Agaknya Rudita mencoba menahan tangisnya sekuat-kuatnya.

Sumangkar terkejut ketika ia mendengar langkah seseorang berlari-lari. Karena itu, ia pun mencoba bergeser dan berlindung di sudut gubug itu, di sisi yang lain dari arah suara yang didengarnya.

Ternyata suara langkah, orang itu telah memasuki gubug tempat Rudita ditahan.

“Aku mendapat perintah langsung dari Panembahan Agung,” desis orang itu.

“Bagaimana mungkin. Panembahan Agung masih berada dipuncak bukit.”

“Gila, seakan-akan kau tidak mengenal ilmunya. Dengar, aku diperintahkan, bersama kalian membawa anak ini ke medan. Cepat.”

“Untuk apa?”

“Untuk memaksa ayahnya menghentikan perlawanan.”

Sejenak bilik di dalam gubug itu menjadi sepi. Tetapi kemudian tangis Rudita seakan-akan meledak lagi. Agaknya, ia menyadari apa yang akan terjadi atas dirinya jika ia dibawa ke medan.

“Jangan, jangan,” Rudita berteriak lagi. Tetapi sekali lagi suaranya terputus ketika terdengar sebuah pukulan mengenai pipinya.

“Jika kau berteriak lagi, aku remukkan mulutmu.”

“Tetapi jangan bawa aku ke medan.”

“Kau tidak mempunyai pilihan. Kau harus pergi ke medan dengan diikat pada lehermu. Setiap kali ayahmu menolak perintah Panembahan Agung, maka tali di lehermu akan menjadi semakin mencekik leher itu. Perlahan-lahan tali itu akan ditarik ke atas dan digantungkan pada sebatang pohon. Jika ayahmu tetap menolak maka kau terayun-ayun di atas jurang yang paling dalam. adbmcadangan.wordpress.com Tetapi tentu tidak akan lama, karena tali itu akan segera diputuskan dan kau akan terlempar jatuh ke dalamnya. Kau tahu berapa dalam jurang itu? Tidak kurang dari tiga puluh depa.”

“Tidak, tidak,” Rudita menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis. Tangannya masih terikat sehingga ia tidak dapat berbuat lain.

Orang-orang yang menjagainya tidak menghiraukan tangisnya lagi. Yang terdengar adalah, “Cepat. Lepaskan talinya.”

Sumangkar menahan nafasnya sejenak. Didekatkannya telinganya pada dinding gubug itu. Yang terdengar kemudian adalah desir tali yang sedang dilepaskan dan tangis Rudita yang tertahan-tahan.

Namun, Sumangkar terkejut ketika ia mendengar langkah mendekatinya. Agaknya perhatiannya terlampau tertuju kepada peristiwa di dalam gubug itu, sehingga ia tidak mendengar langkah mendekati. Baru ketika orang itu sudah terlampau dekat, Sumangkar dapat mendengar desir langkahnya dan desah nafasnya yang justru tertahan-tahan.

Tepat pada saatnya Sumangkar berpaling. Agaknya orang itu memang sedang merunduknya. Tanpa bertanya sesuatu, tombaknya langsung meluncur menyerang lambung.

Tetapi Sumangkar sempat melihat mata tombak itu. Karena itu, maka ia masih sempat mengelak sehngga ujung tombak itu langsung menubruk dinding gubug itu.

Ternyata dinding gubug itu bukannya dinding yang kuat. Ketika ujung tombak itu membentur dinding, maka dinding itu pun tembus dan bahkan oleh dorongan yang kuat, maka tali pengkat dinding itu pun terputus, dan dinding itu seakan-akan telah terbuka di sudut.

Orang-orang yang berada di dalam bilik di gubug kecil itu terkejut. Mereka melihat ujung tombak yang menerobos masuk, kemudian seseorang melanggar dinding sehingga dinding itu hampir roboh.

Selagi orang-orang itu termangu-mangu, maka Sumangkar menyadari keadaannya. Ia tidak dapat menyembunyikan diri lagi. Karena itu, maka ia harus mengambil tindakan yang cepat.

Sejenak kemudian, maka Sumangkar pun mulai bertindak. Selagi orang yang membentur dinding itu berusaha untuk bangkit, maka sebuah pukulan telah mengenai tengkuknya, sehingga sekali lagi ia jatuh terjerembab. Dan bahkan kesadarannya pun seakan-akan telah direnggut sama sekali daripadanya. Dan ia pun jatuh pingsan karenanya.

Untuk beberapa saat Sumangkar masih berdiri di tempatnya. Ia ragu-ragu untuk meloncat masuk. Karena itu, maka ia masih saja berdiri di luar dinding yang hampir roboh itu.

“Jika aku masuk, maka akan dapat mendorong orang-orang itu mempergunakan Rudita untuk memaksakan kehendaknya,” berkata Sumangkar kepada diri sendiri, sehingga dengan demikian, ia masih tetap berada di luar.

Ia berharap bahwa orang-orang yang ada di dalam bilik itulah yang justru keluar dan meninggalkan Rudita. Setidak-tidaknya, sebagian dari mereka.

Ternyata perhitungannya itu benar. Dua orang telah meloncat keluar dengan senjata terhunus, sedang yang seorang lagi justru sedang mengikat kembali tangan Rudita yang sudah hampir terlepas.

“Siapa kau?” bertanya salah seorang dari mereka.

Sumangkar tidak segera menyahut. Bahkan ia melangkah surut sambil memandang berkeliling. Jika ada orang lain lagi yang melihatnya, maka keadaannya akan menjadi gawat. Tetapi rupa-rupanya padepokan itu memang sudah sepi.

“Jangan lari,” bentak salah seorang dari orang-orang yang menunggui Rudita.

Sumangkar tidak menyahut. Ia melangkah lagi surut. Dan seperti yang dikehendakinya, maka kedua orang itu mengikutinya semakin jauh dari bilik Rudita.

“Siapa kau he?” bentak orang itu lagi.

Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ia mengharap agar yang masih ada di dalam bilik itu tidak mempergunakan Rudita.

Agaknya kedua orang itu pun tidak sabar lagi. Karena Sumangkar tidak juga menjawab, maka salah seorang dari mereka menggeram, “Baik Jika kau tetap membisu, maka kau akan mati tanpa dikenal namamu.”

Kedua orang itu pun langsung menyerang Sumangkar dengan dahsyatnya. Senjata mereka berputar dan mematuk dengan cepatnya. Agaknya untuk menjaga Rudita, Panembahan Agung telah menempatkan orang-orangnya yang paling terpercaya.

Dengan demikian, maka perkelahian itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Sumangkar ternyata selalu meloncat surut meskipun hanya berputar-putar di tempat itu.

Tampaknya sulit bagi Sumangkar untuk melawan kedua orang yang menyerangnya dengan garang meskipun ia sudah mempergunakan senjatanya.

Tetapi ia masih sempat untuk berusaha menghindarkan diri dari setiap sentuhan senjata, meskipun ia harus selalu berloncatan dan bergeser surut.

“Kau tidak akan dapat lari,” bentak orang-orang itu.

Sumangkar tidak menyahut. Ia masih melawan dengan gigih sambil terdesak terus-menerus.

“Menyerahlah, dan katakan apa yang kau kehendaki,” berkata salah seorang dari lawannya sambil menyerangnya terus.

Sumangkar tidak menjawab.

“ Gila, apakah kau memang bisu?”

“Tidak,” jawab Sumangkar.

“Jadi bagaimana? Kenapa kau tidak dapat mengatakan, untuk apa kau datang kemari? Jika kau tidak mempunyai niat jelek, kami dapat mengampunimu.”

Sumangkar tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih berusaha melawan terus.

Sejenak kemudian terdengar salah seorang dari lawannya tertawa. Katanya, “Kau tentu akan melepaskan anak manja yang bernama Rudita itu. Apakah kau ayahnya? Tentu tidak. Jika kau ayahnya, kau tentu sudah dibinasakan oleh Panembahan Agung, karena ayahnya selalu mengganggunya di medan yang berat itu. Aku mendapat perintah dari Panembahan Agung untuk membawa anak itu ke medan.”

Sumangkar sama sekali tidak menjawab. Ia masih saja bertempur dengan gigihnya meskipun ia masih selalu terdesak surut.

Kedua orang lawannya menjadi semakin marah karenanya. Karena itu, maka salah seorang berkata, “Cepat, kita selesaikan saja orang ini. Kita harus segera membawa anak cengeng itu sebelum pasukan kita menjadi semakin terdesak. Ayah anak itu akan dapat mempengaruhi medan, jika anaknya kita ikat pada sebatang pohon di atas jurang itu.”

Dengan demikian maka kedua orang itu bertempur semakin sengit, dan Sumangkar pun menjadi semakin terdesak karenanya. Ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindari serangan-serangan lawannya. Dengan senjatanya ia berusaha menahan desakan kedua lawannya itu.

Tetapi meskipun Sumangkar hampir tidak mampu berbuat apa-apa selain berloncatan, bahkan berlari-lari surut dan melingkar-lingkar, namun ia masih berhasil membebaskan diri dari senjata-senjata lawannya yang mematuk berganti-ganti.

Akhirnya lawan-lawannya itu tidak sabar lagi. Salah seorang dari mereka pun berteriak, “Cepat. He, kemarilah, jagalah agar orang ini tidak berlari-larian saja. Kita bunuh saja meskipun kita tidak mengenal namanya. Apa boleh buat. Ia terlalu keras kepala.”

Kawannya yang dipanggil, yang sedang menunggu Rudita, menjadi termangu-mangu. Namun ia pun melihat cara Sumangkar berkelahi. Agaknya jika seorang lagi terjun ke arena perkelahian itu, dan berusaha menahan agar Sumangkar tidak berlari-lari dan menghindar melingkar-lingkar, maka usaha mereka akan cepat berhasil.

Tetapi ia masih tetap ragu-ragu. Jika selain Sumangkar masih ada orang lain yang akan dapat mengambil anak cengeng itu, maka Panembahan Agung tentu akan marah sekali.

Karena itu maka orang itu pun tidak segera beranjak dari tempatnya.

“Cepat, kau kemarilah. Kita selesaikan saja orang tua ini,” teriak salah seorang lawan Sumangkar.

Tetapi orang yang menjagai Rudita itu menjawab, “Tetapi apakah anak ini akan ditinggalkan?”

“Ia tidak akan dapat melepaskan dirinya.”

“Bagaimana jika ada orang lain?”

Kedua lawan Sumangkar itu terdiam. Memang mungkin sekali ada orang lain yang dapat mengambil anak itu selagi mereka bertempur melawan Sumangkar yang meskipun tidak menggetarkan dada mereka, namun terlampau licin sehingga mereka masih belum dapat membunuhnya.

Untuk beberapa saat kemudian, kedua lawannya itu mencoba berusaha tanpa orang ke tiga yang menunggui Rudita. Tetapi Sumangkar memang terlampau licin, sehingga keduanya pun kemudian mengambil cara lain.

Keduanya menyerang Sumangkar dari arah yang berlawanan. Dengan demikian mereka berharap bahwa Sumangkar tidak dapat menghindarkan dirinya lagi dengan berloncatan surut.

Sumangkar memang tampaknya mendapat kesulitan. Tetapi ia masih saja dapat menghindar dengan loncatan-loncatan panjang dari antara kedua orang yang menyerangnya.

“Anak setan. Kau tidak akan berhasil melarikan diri,” teriak salah seorang lawannya yang jengkel, “menyerahlah. Kami tidak akan membunuhmu.”

Sumangkar sama sekali tidak menjawab.

“Apakah ia memiliki aji welut putih,” desis yang lain.

“Persetan. Tetapi ia harus mati. Tentu ia tidak memiliki aji apa pun. Welut putih hanya sekedar untuk melepaskan diri dari tangkapan tangan. Tetapi ia akan mati jika tersentuh senjata.”

Tetapi meskipun dengan banyak kesulitan, namun Sumangkar benar-benar tidak mau pergi apalagi menyerah, sehingga salah seorang dari lawannya berteriak lagi kepada kawannya yang menjaga Rudita, “Selarak pintu depan. Kau lewat dinding yang terbuka itu membantu kami. Dari tiga arah, maka orang ini akan segera mati terbunuh. Kita harus segera menghadap Panembahan Agung.”

Orang yang menjaga Rudita termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian menyelarak pintu depan, dan dengan senjata terhunus terjun ke medan yang menjengkelkan itu.

Sumangkar melihat orang itu berlari-lari mendekati arena. Kemudian bertiga mereka mengepungnya. Dengan penuh ketegangan mereka merundukkan senjata-senjata mereka mengarah ke dada Sumangkar.

“Sekarang kau akan mati,” desis salah seorang dari mereka, “jika kau tidak berkeberatan, sebut namamu. Kelak akan ada orang yang dapat mengatakan jika seseorang mencarimu.”

Sumangkar berdiri diam. Dengan tegang pula ia bersiaga untuk mempertahankan dirinya dari sergapan ketiga orang yang sedang marah itu.

“Baiklah. Jika kau tidak mau menyebut namamu, maka kau akan mati tanpa meninggalkan bekas apa pun.”

Sumangkar masih tetap diam. Dan orang-orang itu tidak membuang waktu lebih banyak lagi. Sejenak kemudian mereka pun segera berloncatan menyerang.

Saat yang demikianlah yang sebenarnya ditunggu oleh Sumangkar. Jika ia memberikan perlawanan dan berusaha menentukan akhir dari perkelahian itu, tidak ada orang lagi yang dapat mengancam Rudita dan memaksakan kehendaknya. Karena itu, maka Sumangkar pun tidak mau memperpanjang permainannya lagi.

Demikian ketiga orang itu menyerang, maka Sumangkar pun memutar senjatanya. Sebuah trisula yang kecil terikat pada ujung rantai, dan trisula yang lain di tangan kirinya.

Tetapi orang-orang yang mengepungnya pun memang bukan orang-orang kebanyakan. Untuk beberapa saat mereka masih tetap bertahan dan berusaha untuk mengalahkan orang tua yang bersenjata aneh itu.

Namun usaha mereka sama sekali tidak berhasil. Kini Sumangkar justru tidak berloncatan mundur lagi. Ia tetap berdiri di tempatnya sambil memutar senjatanya. Bahkan rantai itu kadang-kadang dapat digerakkan ke arah yang tidak terduga-duga.

Akhirnya ketiga orang itu menyadari, bahwa sebenarnya Sumangkar bukan orang yang disangkanya hanya mampu berlari-lari. Mereka pun mulai sadar, bahwa ternyata Sumangkar telah memancing mereka bertiga untuk keluar dari bilik itu. Karena itu, maka selagi masih sempat, tiba-tiba saja salah seorang dari mereka bersuit nyaring. Kemudian berteriak, “Ambil anak itu. Kita paksa orang ini berhenti dengan anak itu pula.”

Dada Sumangkar tergetar karenanya. Namun ia tidak mau terlambat. Karena itu, maka ketika orang itu berhenti berteriak, Sumangkar mempergunakan saat yang tepat.

Hampir tidak dapat ditangkap dengan indera wadag ketika begitu mulut orang itu terkatub, maka ia pun terdorong surut dan jatuh terlentang di tanah. Dadanya memancarkan darah yang merah dari lukanya. Tiga buah lubang yang meskipun tidak begitu besar, tetapi ternyata cukup parah dan berbahaya.

Dua kawannya yang lain terkejut melihat peristiwa itu. Tetapi mereka tidak sempat meninggalkan arena, dan apalagi mengancam Rudita. Dalam keragu-raguan itu, keduanya dikejutkan oleh sambaran senjata Sumangkar. Salah seorang dari mereka mengaduh tertahan. Sesaat ia masih berdiri terhuyung-huyung, namun kemudian ia pun jatuh terbanting di tanah.

Kawannya yang seorang menyadari keadaannya. Karena itu ia sama sekali tidak berusaha melawan. Dengan cepatnya ia meloncat berlari ke bilik tempat mereka mengikat Rudita. Namun nasibnya tidak berbeda dengan kedua kawannya. Ketika ia sedang merunduk masuk lewat dinding yang terbuka, maka terasa jari-jari yang kuat mencengkam pundaknya. Ia tidak dapat bertahan ketika ia seakan-akan terseret keluar lagi dari bilik itu.

Ketika ia mencoba berpaling maka ia masih sempat melihat wajah Sumangkar yang garang. Kemudian sebuah pukulan mengenai tengkuknya.

Semuanya menjadi gelap. Dan orang itu pun kemudian pingsan.

Ketika Sumangkar mencoba dengan tergesa-gesa memasuki ruangan itu, ia masih melihat dua orang berlari-lari ke arahnya. Agaknya keduanya telah mendengar suitan kawannya yang dadanya telah berlubang. Karena itu maka ia pun harus segera mengambil sikap agar ia tidak kehilangan kesempatan menyelamatkan Rudita yang terikat di dalam bilik.

Sejenak Sumangkar menimbang-nimbang. Jika ia melepaskan Rudita, mungkin ia justru akan mendapat kesulitan dari Rudita itu sendiri, karena ia sadar, bahwa Rudita adalah seorang yang sangat dipengaruhi oleh perasaan takut dan cemas.

Karena itu, Sumangkar tidak segera memasuki bilik itu ia justru meloncat dan berdiri beberapa langkah dari lubang dinding yang terbuka itu.

Kedua orang yang berlari-lari itu sempat melihat beberapa orang kawannya yang terbaring. Karena itu, maka ia pun langsung mengerti, bahwa orang yang berdiri di belakang gubug itu tentu bukan orang dari pihak mereka atau bukan prajurit Pajang yang berada di dalam lingkungan mereka bersama Daksina. Karena itulah maka mereka berdua pun langsung menyerang dengan garangnya.

Tetapi Sumangkar yang tergesa-gesa itu tidak memberikan banyak kesempatan kepada mereka, karena sejenak kemudian, keduanya pun telah terbaring di tanah.

Sesaat kemudian Sumangkar pun telah berada di dalam bilik itu. Dengan tergesa-gesa ia membuka ikatan Rudita sambil berdesis, “Jangan berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirimu sendiri. Aku akan berusaha menyelamatkan kau.”

“Tetapi, tetapi apa yang akan kau lakukan?”

“Bersembunyi. Hanya bersembunyi.”

“Apakah orang-orang itu tidak akan mencari kita?”

“Kita mencari jalan untuk menemui ayahmu. Aku sudah berjanji membawamu ke tempat yang sudah kami setujui bersama. Karena itu, kau harus menurut petunjukku. Jika tidak, dan kau tertangkap lagi, maka kau akan dicincang. Mengerti?”

Mengerikan sekali. Karena itu, maka Rudita pun menjadi gemetar dan berkata terbata-bata, “Baiklah, Kiai. Kita bersembunyi saja. Orang-orang di Tanah Perdikan Menoreh ternyata bukan orang-orang yang baik.”

“Tidak semuanya.”

“Ya. Semuanya. Mereka senang sekali berkelahi satu sama lain. Jika Pandan Wangi dan kawan-kawannya tidak sengaja memburu orang-orang yang tidak dikenalnya untuk saling berkelahi, maka aku tidak akan sampai ke tempat ini.”

“Sudahlah. Sekarang, ikuti aku.”

Rudita tidak menyahut lagi. Dengan kaki gemetar ia mencoba mengikuti langkah Sumangkar, yang dengan sangat hati-hati keluar dari bilik itu lewat celah-celah dinding yang terbuka.

Ketika tanpa disadari kaki Rudita menyentuh orang yang terbaring, tiba-tiba saja ia memekik. Dengan serta-merta ia berlari memeluk lambung Sumangkar sambil berkata dengan gemetar, “Siapa yang mati itu, Kiai, siapa?”

“Yang dua orang itu tidak mati. Mereka hanya pingsan. Tetapi yang lain, entahlah. Mungkin mereka terbunuh oleh senjataku. Tetapi aku tidak sengaja membunuh mereka.”

Rudita melepaskan pelukannya sambil melangkah surut, “Kiai membunuh orang-orang itu?”

“Ya.”

“Kenapa Kiai membunuh?”

“Supaya kau tidak mati terbunuh oleh mereka.”

Darah Rudita serasa berhenti mengalir. Tetapi ia pun sadar bahwa sebenarnya hal itu memang dapat terjadi atasnya. Bahkan mungkin seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang akan membawanya kepada Panembahan Agung, bahwa ia akan digantung di atas jurang yang dalam.

Rasa-rasanya Rudita tidak lagi memiliki kekuatan. Tubuhnya bagaikan sudah tidak bertulang lagi. Ketakutan yang amat sangat telah mencengkam hatinya. Apalagi ketika ia melihat tidak hanya seorang yang terbaring diam. Tetapi beberapa orang.

Dalam keadaan yang demikian Sumangkar berkata, “Jangan kehilangan akal. Jika kau tidak mampu lagi berbuat sesuatu, dan kau akan tetap berada di sini maka kau benar-benar akan digantung atau dicincang. Nah, cepat, bukankah kau tidak ingin diperlakukan demikian?”

Rudita mengangguk lemah. Tetapi ia mengikuti ketika Sumangkar kemudian melangkah meninggalkan tempat itu dan menerobos masuk ke dalam semak-semak.

Dengan susah payah Sumangkar membawa Rudita meninggalkan padepokan itu dan menuju ke tempat ayahnya menunggu. Mereka menghindari daerah peperangan yang semakin bergeser mendekati padepokan. Namun agaknya pertempuran itu masih berjalan dengan sengit dan memerlukan waktu yang cukup panjang.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 November 2008 at 07:21  Comments (44)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-76/trackback/

RSS feed for comments on this post.

44 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saya tak ngantri duluan ya

  2. “Hmm… rupanya Panembahan Gajah Putih (Ki Maswal) blm mengetahui sisi alas ini” desis Panembahan Pandan Alas.

    “Baiknya segera aku SMS Ki GD utk segera mengolah alas 76 ini sebelum semuanya terlambat”

  3. numpang buka lapak disini juga aah…

  4. Absen kiai……lan sugeng riyadin idul fitri kagem poro cantrik dalah kulowargo sedoyo

  5. Absen kiai……lan sugeng riyadin idul Adha kagem poro cantrik dalah kulowargo sedoyo

  6. Ki Ageng Pemanahan,

    Ini ada tenaga tambahan untuk mbabat Alas Mentaok. Nangin kapling 76 sampai 90 dereng disiapaken. Mbok yo disempatake to. Mesakake para cantrik sing terus tingak-tinguk kados manuk keluwen atawa hop in lan hop out kados anoman.

  7. Ki GD, saya baru cek di jilid II buku 7 hal 8,78 dan 79 di buku yang saya pinjam ternyata ada. tp saya ga ada scanner, atau Ki Alphonse berkenan nyecan halaman tersebut ? nanti bahannya saya bawa sekalian.

  8. absen pagi2 menjelang siang………….

  9. E… ternyata ngantrinya disini, sempat bingung tadi. Absen dulu ah…. Ki GD, mat Idhul Adha ya…

  10. Ngantri di sini lewat jalan mana ya?

    Untung jalan pintas sudah dibuatkan oleh para cantrik yang telah mendahului antri.

    Ikut antri ah……

  11. wah…rupanya ki DD juga punya ilmu kesaktian serupa panembahan agung, sehingga mampu menyembunyikan kapling 76 dari pandangan mata…jangan-jangan beliau adalah muridnya…???

  12. Maaf….
    Antrian untuk Peron 76 disebelah mana ya?

  13. @Ki Ony
    Ok Ki Ony, dengan senang hati saya siap membantu.

  14. meski ke DD punya ilmu seperti panembahan agung tetapi saya tetep antri.

  15. O o …..
    Tahu sekarang caranya.

    Kapling 76 dan seterusnya masih sengaja disamarkan oleh Ki Gede agar para cantrik tidak berebut rangsum.
    Meskipun demikian, atas petunjuk Ki Waskita saya mulai dapat menyibak tabir yang menyelimuti padepokan ADBM.
    Ilmu yang dipelajari Ki Gede dari Panembahan Agung masih bisa ditebak.

    Tapi, ada benarnya kalau kapling tersebut tidak dibuka dulu. Karena Ki Gede rupanya mulai kuwalahan menghadapi “proofing” hasil “retype” para pengawal menoreh, sehingga rangsum versi teks segera dibagikan tanpa melalui “proofing”. Mulai jilid 64 yang dibagikan kalau tidak “unproof version” ya “uncorrected version”.

    Pasukan scanning sudah mulai bergerak, pasukan retype sudah ada, pasukan “proofing” rupanya perlu dibentuk. Bagaimana dengan Ki Hartono? atau yang lain? Kasihan Ki Gede.

  16. Ediann….wis okeh le podo ngantri…semoga tidak telat melihat pertarungan Ki Waskita dengan Penembahan Agunng.
    Absen Ki GeDe dan antri, menunggu dengan sabar jurus-jurus di kitab 76 untuk menghadapi ilmu Panembahan Agung yang ngedap2i, sekalian mengucapkan Met Idul Adha Kagen Ki GeDe dan para cantrik sekalian

  17. Nderek nenggo Girik 76 Ki Gede…

  18. sayang sekali Raden Sutawijaya memerlukan tenaga saya untuk menyelidiki siapa sebenarnya Tumenggung, Panji dan Ki Ajar Kleco sesungguhnya sehingga saya harus meninggalkan padepokan Gajah Putih langsung menuju Pajang tgl 10 Desember – 2 Januari ini…..
    sehingga saya pasti akan disibukkan urusan disana dan tidak bisa membantu membabat alas Mentaok.
    tapi setelah selesai urusan di Pajang dan kembali ke Padepokan Gajah Putih, maka saya bisa membantu babat alas Mentaok dari kejauhan…..

  19. Kok belum ada tanda 2x ya? Ikut Antri ah

  20. saya siap bantu ki gede. kasih tahu caranya saja.

  21. Ini mulai dirasakan oleh seluruh isi padepokan ADBM adanya serangan ilmu-ilmu gila dengan membuat apa yang akal pikirkan dan perasaan menjadi sesuatu yang bertentangan dan berlainan,…diharapkan segenap cantrik untuk lebih memusatkan daya nalar dan budinya…terasa getaran2 yang mengacaukan akal pikiran…kita. mudah2an ki Gede..dan para cantriknya tidak terlalu..terpengaruh dengan ilmu gila panembahan agung…

  22. BTW, kita para kawula juga kena imbasnya, menjadi gila…gila karena lama menunggu….tetapi apapun dan bagaimanapun bacanya tetap ADBM…. thanks to ki GD dan crew…

  23. KI arema (asli malang tenan tah), aku suah lama menyediakan diri untuk membantu yang aku bisa. kantorku di harmoni. ada scanner. aku juga punya cukup waktu (1-2 jam sehari) untuk ikut babat Alas Mentaok. Aku cuma butuh sipat kandel. tolong turunkan ilmu mengubah bentuk itu..

  24. Ha ha .., yang asli Arema anak saya. Saya sendiri orang kabur kanginan.

    Ki Hartono

    Tentang ilmu merubah bentuk, waduh …, ilmu saya belum sampe di situ. Saya baru bisa merubah bentuk dari jarak dekat, kalau merubah bentuk dari jauh, ya “kadit osi”. Sipat kandelnya tidak bisa dipakai untuk “remote”.

    Maksud saya menyebut nama Ki Hartono, supaya membantu “proofing” jilid-jilid yang versi teksnya sudah keluar tetapi belum di “proof”, misalnya sampai sekarang jilid 64 – 70 masih versi “unproof” atau “uncorrected”, supaya enak dibaca. Atau kerjasama dengan Ki Edy, Ki Pras, Jebeng dll.

    Alur: scan-djvu-convert docfile-retype-proof-reproof. Ki Hartono bisa mengambil yang mana? Petanya sekarang sudah jelas, meskipun kadang menghilang. Scan-djvu (Ki Warsono, Arema, mbokde dan tim Bogor), djvu-konvert (jebeng …, dimana sekarang), retype (Ki Edy, Pras, dll), proof (Ki Edy, dll) dan reproof (Ki Gede sendiri). Kalau Ki Hartono mau nge”proof” bisa kontak dengan pasukan retype spt Ki Edy, Pras, dll.

    Teknisnya bisa menghubungi Ki Gede.

    Dulu saya belajar nge”proof” sama Ki Gede, tetapi ditugasi menjadi pasukan “scanning”. Ki Hartono saya kira tidak perlu belajar lagi.

  25. baik ki arema. ki gede bisa kasih tugas kepada saya.

  26. Sajak-e Ki GD ki kesaren,… bethoro suryo sedelo maneh sumurup neng cokrowolo..nanging durung ono tondo-tinondo bakal mijil bayining kurowo kaping 76

  27. Ternyata ilmu Panembahan Agung kagak ade ape2nye, kena bunyi ledakan cambuk Kiai Gringsing lenyap seketika ilmu sihirnya. Ular belang ular kodot semue nyungsep seketika.
    Ki Truno Podang

  28. Absen dulu nih,
    KI ONy, KI Aulianda dan Ki Alphonse dan para cantrik di Bogor…, maaf bbrp hari hilang, internet lagi down katanya, kesamber petir dan ular naga kali…hehe.
    kalo saya mah gimana yg ngasih jatah aja.., Boleh aja sabtu siang ini ririungan di Alas BotanSkuere – buat meringankan beban Ki Gede…
    No HP saya udah ada di Ki Aulianda, bisa dikontak ntar..
    sekalian nebeng angkot jambu dua nomor 76…, kok belum lewat ya????

  29. kover-nya sudah ada tanda-tanda penampakan…
    semoga bukan hasil kerjaan panembahan agung….

  30. Ikut ngantri.
    Biarin dapat nomer paling buntut.

    Maturnuwun

  31. ikut absen

  32. Met id adha semuanya
    Absen ki Gede

  33. eeee sabar???

    ana sing dadi sate buntel ya???

    GD: Dangu mboten pinarak, Ki Rekso. Sami wilujeng to?

  34. Menebak-nebak jalannya pertempuran di 76.
    Ki Waskita lawannya Panembahan Agung;
    Kiai Gringsing lawannya Panembahan Alit;
    Ki Sumangkar lawannya Daksina (tetapi setelah Ki Sumangkar menyelamatkan Rudita terlebih dahulu);
    Raden Sutawijaya + Ki Branjangan lawannya Putut.
    Wah di pihak Menoreh masih banyak selebritis yang gak punya lawan tangguh seperti Agung Sedayu, Swandaru, Ki Argapati, Pandan Wangi, Prastawa dan Ki Demang SP.
    Hayo siapa yang gak setuju ngacunga?
    Ki Truno Podang

  35. Lha, Ki Truno Podang sendiri juga blom dapat lawan..

  36. maap ki truno podang.. lagi asyik ngudut 76 sampai tidak tau ki truno nulis apa 🙂
    ..
    makasih ki gedhe

  37. Ups….
    Hampir ketepu lg…

    tengkyu KI GEDE

  38. akhirnya…dapat juga ilmu untuk menghadapi Panembahan Agung.

    Terima kasih Ki GeDe…

  39. @Ki Arema,
    Saya masih memantau dengan rajin ADBM kok Ki. Berhubung para ADBMer sudah pada mumpuni dalam mengkonvert dan sudah mempunyai aji aji ABBYY Fine Reader masing masing sehingga sudah bisa meng konvert tanpa bantuan cambuk atau pun obat obatan dari Ki Tanu Metir, maka saat ini saya sedang tenggelam dalam satu kegiatan yang sedikit berbeda….

  40. Terima kasih ki GD

  41. test

  42. Maaf poro kadang kulo bade daptar dados cantrik
    Nopo mawon saratipun
    Matvr nuwun ki GEDE

  43. Ki Gede,mohon petunjuk abagaimana caranya agar saya bisa buka mulai jilid 97 sampai yang ada sekarang,matur nuwun ki gede

    $$ silahkan baca petunjuknya di Halaman Unduh, Ki Radjiman .. atau gunakan fungsi “search” yang ada di sisi kanan padepokan.

  44. aku ketinggalan inpo


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: