Buku 74

“Mudah-mudahan Sutawijaya tetap hidup dan dapat kita tangkap hidup-hidup,” berkata Daksina di dalam hatinya.

Demikianlah maka Daksina pun akhirnya mengambil keputusan untuk dengan perlahan-lahan mundur. Pasukan Mataram itu harus mengikutinya sampai mereka masuk ke dalam lembah yang sempit.

“Sutawijaya tentu ada di ujung pasukannya,” berkata Daksina di dalam hatinya. “Jika pokok-pokok kayu dan batu-batu itu menimpa bagian tengah dan ekor pasukan Mataram, maka yang tersisa adalah bagian ujungnya bersama Sutawijaya.”

Seperti yang sudah dijanjikan, jika Daksina mulai menarik diri, maka ia akan memberikan isyarat kepada Putut Nantang Pati, karena Putut itu pun harus menarik diri pula setelah orang-orangnya selesai dengan tugasnya, meruntuhkan tebing dengan pokok-pokok kayu dan batu-batu padas. Orang-orang yang semula menunggui tali-temali dan mereka yang menyandang anak panah akan dapat membantunya menahan pasukan Ki Argapati. Apabila Ki Argapati mengejarnya terus, selewat lembah yang sempit, maka pasukan Daksina yang sudah kehilangan lawan itu akan membantunya menghancurkan pasukan Menoreh itu.

Sejenak kemudian maka terdengar suara tanda di lembah. Seseorang yang membawa kentongan kecil telah memukulnya dengan irama titir. Selain isyarat kepada Putut Nantang Pati, maka suara titir dari sebuah kentongan kecil itu pun merupakan perintah bagi setiap orang untuk bersiap di tugasnya masing-masing. Mereka yang berada di sebelah-menyebelah tebing harus siap dengan kapak-kapak dan busur mereka. Sedang pasukan yang ada di lembah itu harus menarik diri dengan hati-hati melalui jalan yang sudah ditentukan. Dan Putut Nantang Pati pun harus menyesuaikan dirinya.

Ketika isyarat itu berbunyi, maka pasukan Daksina pun mulai mengatur diri. Sambil melakukan perlawanan sejauh dapat mereka berikan, mereka pun mulai menarik dari. Ternyata Sutawijaya dan orang-orang terpenting di dalam pasukannya tidak dapat menerobos garis pertahanan yang sengaja dibuat oleh pasukan yang sedang menarik diri itu, karena Daksina adalah seorang yang memiliki ilmu melampaui siapa saja di dalam pasukan Mataram. Kelompok-kelompok di dalam pasukan pengawal Mataram tidak banyak berarti, karena Daksina pun telah menyusun kekuatan serupa. Karena itu yang dapat dilakukan oleh Sutawijaya adalah mendesak lawannya dan menjatuhkan korban sebanyak-banyaknya, meskipun hal itu pun terlampau sulit dilakukan. Apalagi ketika lembah semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin sempit.

Sejenak Sutawijaya memandang tebing dihadapannya. Rasa-rasanya tebing itu akan bertemu diujung lembah. Namun sebenarnyalah bahwa di antara kedua tebing itu terdapat sebuah lembah yang sempit. Dan di sebelah-menyebelah itulah beberapa orang lawan telah siap menunggu untuk menjebaknya.

Dalam pada itu, Putut Nantang Pati pun terpengaruh pula oleh suara isyarat itu. Meskipun pasukannya tidak akan dengan mudah didesak oleh pasukan Menoreh, apalagi setelah kelemahan kaki Ki Argapati menjadi semakin parah, namun ia harus menyesuaikan diri dengan seluruh gerakan dari pasukannya.

Karena itulah, maka pasukan Putut Nantang Pati itu pum kemudian mulai mengundurkan diri perlahan-lahan. Mereka tidak boleh melampaui anak buahnya yang akan menimbuni lembah dengan pokok-pokok kayu dan batu-batu, karena pasukannya harus melindungi mereka agar mereka dapat melakukan tugasnya dengan baik.

Ketika pasukan lawan itu menarik diri, maka Ki Argapati yang merasa dirinya terhimpit oleh kesulitan di kakinya itu menarik nafas dalam-dalam. Namun ia sadar bahwa yang terjadi itu sebenarnya baru permulaan saja dari pekerjaan mereka yang sulit. Meskipun demikian, bahwa pasukannya berhasil melampaui babak pertama dari keseluruhan perjuangan ini, membuatnya cukup berbesar hati.

“Ayah, isyarat itu meragukan,” desis Pandan Wangi kepada ayahnya ketika ia menolongnya maju mendekati pasukan lawan yang menarik diri.

“Ya, memang menimbulkan kecurigaan. Tetapi berhati-hatilah. Tahan agar Prastawa tidak mendesak pasukan lawan terlampau maju. Bahwa mereka mengundurkan itu perlu diperhitungkan.”

“Mungkin pasukan Raden Sutawijaya berhasil mendesak lawannya.”

“Mungkin. Dan kemungkinan yang lain pun dapat terjadi.”

Pandan Wangi menyadarinya. Karena itu, maka ia pun kemudian minta agar Prastawa mengendalikan pasukannya untuk tidak mendesak lawan terlampau rapat. Selain isyarat yang didengarnya itu dianggap meragukan, juga karena di antara mereka masih ada Putut Nantang Pati.

“Apakah kita biarkan mereka terlepas dari tangan kita?”

“Apa boleh buat. Kekuatan kita tidak cukup untuk menahan mereka. Jika kita memaksa diri, korban akan semakin banyak berjatuhan. Apalagi Ayah agaknya telah terganggu oleh perasaan sakit di kakinya.”

Putut Nantang Pati pun menyadari, bahwa lawannya yang terbatas itu tidak mendesaknya. Karena itulah maka ia merasa mempunyai peluang yang cukup untuk mengatur orang-orangnya yang akan memotong tali dan mengubur pasukan Mataram yang sedang ada di lembah.

Karena itu, maka Putut Nantang Pati pun tidak jadi terlampau tergesa-gesa. Ia sendiri kemudian meninggalkan pasukannya yang baru mundur setelah ia yakin bahwa Ki Argapati dan anaknya tidak mengejarnya terus.

“Kalian bertahan di sini,” perintahnya kepada anak buahnya, “jika pasukan Menoreh itu mendesakmu, kalian mundur saja perlahan-lahan. Sementara itu kita akan selesai dengan tugas yang harus diperhitungkan dengan tepat itu, jika kita terlalu cepat memotong tali, maka justru pasukan kitalah yang akan terkubur di lembah.”

Anak buah Putut itu pun mengerti, bahwa sebenarnyalah yang dikerjakan oleh orang-orang yang memegang kapak itu harus tepat. Karena itulah maka mereka pun menyadari, bahwa mereka harus melindunginya baik-baik.

Tetapi karena pasukan Menoreh yang seakan-akan kehilangan senopatinya itu tidak mengejarnya, maka mereka pun tidak harus berjuang mati-matian. Namun di dalam kesempatan itu mereka sempat menghitung kawan-kawannya yang menjadi korban dan terluka.

Dalam pada itu, Putut Nantang Pati sendiri sudah berada di antara mereka yang berada di lereng tebing di atas lembah yang sempit itu. Sambil berlindung di balik pepohonan Putut Nantang Pati memperhatikan setiap gerakan yang ada di lembah.

“Itulah mereka,” desisnya, “pasukan Daksina sudah mendekati lembah.”

Anak buahnya menjadi tegang.

“Biarlah mereka lewat. Mereka harus mundur sambil mempertahankan diri. Jika ujung pasukan Mataram sudah masuk, maka kalian harus melemparkan anak-anak panah sehingga pasukan yang mendesak itu tertahan sejenak di lembah. Biar sajalah jika sebagian ujung pasukan Mataram itu lolos termasuk Sutawijaya. Kekuatan mereka tidak akan berarti apa-apa, meskipun ditambah dengan orang-orang Menoreh yang dipimpin oleh Argapati sendiri itu.”

Anak buahnya tidak menjawab. Tetapi ketegangan telah mulai merayapi dadanya.

“Jika kalian mulai melepaskan anak panah, kalian harus memperhitungkan, apakah orang-orang kita di tebing sebelah juga melakukannya. Jika tidak, maka kita harus memberikan isyarat. Mungkin mereka tidak memperhatikan yang tepat atau barangkali mereka sedang lengah.”

Demikianlah setiap saat rasa-rasanya dada mereka semakin bergetar. Sebentar lagi mereka akan membuat sebuah kuburan raksasa di lembah ini. Mereka tidak akan sempat lari kemana pun, karena pokok kayu dan bebatuan itu yang pertama-tama akan runtuh adalah bagian ujung dan pangkal dari lembah yang sempit itu dari kedua belah pihak tebing di sebelah-menyebelah.

Dalam pada itu Daksina berhasil menarik pasukannya seperti yang direncanakan. Ia sendiri bertahan pada bagian terakhir dari pasukannya yang bergerak mundur bersama beberapa orang yang memang sudah ditentukan. Orang-yang memiliki kemampuan melampaui orang-orang lain sehingga mereka berhasil melawan Raden Sutawijaya dan para pemimpin dari Mataram yang lain.

Ketika pasukan mereka mendekati mulut lembah yang sempit, Sutawijaya sudah mulai diragukan oleh gerakan lawannya. Tetapi ia tidak mengetahui, apakah yang akan terjadi di lembah yang sempit itu.

Namun Sutawijaya tidak mempunyai banyak kesempatan untuk memperhitungkan keadaannya. Ia merasa bahwa pasukannya akan mampu menghancurkan lawannya apabila ada kesempatan. Kemungkinan yang terkilas di dalam hatinya adalah bahwa Daksina ingin bertahan di mulut lembah yang sempit agar pasukannya tidak terjebak dalam kepungan.

“Kita akan memanjat tebing meskipun agak curam,” desis Sutawijaya di dalam hatinya, karena menurut perhitungannya, tebing itu masih dapat dipanjat.

Daksina yang membawa pasukannya mundur itu pun menjadi berdebar-debar. Jika orang-orang di atas tebing itu salah membuat perhitungan, maka rencana itu akan gagal. Beberapa potong kayu yang membujur tidak akan dapat berguling dengan cepat. Mungkin beberapa bongkah batu yang sudah dipersiapkan, dengan satu dorongan akan dapat berguling dengan cepat dan meruntuhkan batu-batu padas dan mendorong pokok-pokok kayu untuk meluncur semakin cepat di atas batu-batu di tebing. Pohon-pohon perdu yang tumbuh di lereng itu tentu tidak akan dapat menahan meluncurnya kayu dan batu.

Perlahan-lahan Daksina pun kemudian memasuki lembah yang sempit. Sebagian dari pasukannya sudah mendahuluinya. Sedang Daksina sendiri bersama orang terpilih masih bertahan beberapa saat di mulut lembah itu.

Pada saat itulah, maka Putut Nantang Pati yang memperhatikan perkelahian itu dari atas tebing sambil berlindung di balik pepohonan mulai memperhatikan keadaan. Dengan tegang ia mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh Daksina. Selangkah demi selangkah Daksina dan beberapa orang terpilih itu mundur masuk ke dalam lembah sempit itu.

“Pisahkan pasukan Mataram itu dengan Daksina.”

“Perkelahian itu masih terjadi.”

“Jangan pada garis pertempuran. Biar saja Sutawijaya dan orang pentingnya mendesak. Tetapi pasukannya harus kalian hentikan agar ada sedikit jarak. Apabila mereka maju lagi dan pangkal pasukannya itu sudah berada di ujung lembah, maka tali yang pertama harus dipotong. Kayu yang besar dan melintang itu akan menggelinding, disusul oleh tali-tali yang lain dan batu-batu yang harus didorong.”

Pembantu Putut Nantang Pati itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapkan orang-orangmu yang membawa panah,” desis Putut Nantang Pati.

Demikianlah ketika Sutawijaya mendesak lebih jauh, sehingga sebagian besar dari pasukannya sudah berada di lembah yang sempit, Putut Nantang Pati pun menjatuhkan perintah, dan meluncurlah anak panah dari tebing itu.

Serangan itu mengejutkan anak buah Sutawijaya. Tetapi segera mereka menyesuaikan diri. Yang berperisai segera melindungi bukan saja dirinya sendiri, tetapi para pengawal di sebelah-menyebelahnya. Sedang yang tidak berperisai berusaha menangkis anak panah itu dengan senjata yang ada pada mereka. Dengan demikian maka kemajuan pasukan Mataram itu mulai terhambat. Beberapa orang yang lengah, tersentuh oleh ujung anak panah sehingga kulit mereka pun terluka.

Namun agaknya orang-orang yang berdiri di atas tebing itu tidak berani meluncurkan anak panahnya pada pasukan pengawal Mataram yang justru sedang bertempur. Karena dengan demikian anak panah itu akan dapat mengenai kawan mereka sendiri.

Para pengawal Mataram itu pun kemudian menjadi marah kepada orang-orang di tebing. Beberapa orang dari mereka yang membawa busur dan anak panah, segera mendapat perlindungan dari kawan-kawannya yang berperisai, dan melontarkan serangan balasan dengan anak panah pula. Serangan balasan itu berhasil mengurangi deras anak panah lawannya, karena orang-orang yang berdiri di tebing itu pun harus menyerang sambil berlindung pula.

Tetapi yang penting bagi Putut Nantang Pati adalah, bahwa orang-orangnya berhasil mengurangi laju desakan para pengawal Mataram. Bahkan dengan serangan itu mereka telah berhasil memisahkan bagian dari pasukan Mataram itu dengan pemimpin-pemimpinnya yang masih saja mendesak sambil bertempur.

“Apakah kita meluncurkan pokok-pokok kayu dan batu sekarang?” bertanya salah seorang anak buah Putut Nantang Pati.

“Biarlah mereka masuk ke dalam lembah seluruhnya,” jawab Putut Nantang Pati.

Namun demikian, agaknya ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ternyata anak buahnya yang ada di tebing seberang tidak melemparkan anak panah mereka ke dalam lembah itu seperti yang diharapkan.

“Kenapa hanya satu dua orang saja yang meluncurkan anak panah dari tebing seberang?” bertanya Putut Nantang Pati.

Orang yang ditanya itu menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu. Seharusnya mereka dapat meluncurkan anak panah lebih banyak lagi.”

Putut Nantang Pati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mungkin mereka merasa bahwa kita sudah cukup banyak melemparkan anak panah dan berhasil memisahkan ujung dan tubuh pasukan pengawal yang harus menyusuri jalan sempit dan agak sulit itu, sehingga sebagian dari mereka menyiapkan diri untuk memotong kayu melemparkan batu-batu padas itu.”

“Mungkin, memang mungkin sekali,” jawab yang diajak berbicara.

Putut Nantang Pati pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bahkan kemudian yakin bahwa memang demikianlah yang terjadi. Tali temali dan batu-batu itu sebaiknya memang harus diluncurkan serentak. Yang lebih cepat akan menimpa orang-orang Mataram itu adalah bebatuan. Baru kemudian pokok-pokok kayu yang malang melintang sehingga mereka tidak akan sempat melarikan diri kemana pun juga.

Sementara itu, pasukan pengawal Menoreh yang ada di atas tebing, terkejut pula melihat anak panah yang meluncur ke lembah memotong pasukan pengawal dari Mataram. Karena itu, maka Ki Argapati yang terganggu oleh kakinya itu pun menjadi tegang.

“Ayah,” berkata Pandan Wangi, “bagaimana dengan penyerang-penyerang itu?”

Ki Argapati termenung sejenak. Ia sadar, bahwa orang-orang yang bersenjata panah itu ada di belakang pasukan Putut Nantang Pati yang mengundurkan diri. Pasukan kecil itu tentu akan menutup jalan apabila pengawal Menoreh berusaha menghentikan serangan anak panah itu.

“Ayah, kita tidak akan dapat tinggal diam.”

“Ya. Kita tidak akan dapat tinggal diam,” sahut Prastawa.

“Benar. Tetapi kita harus menemukan jalan untuk menghentikannya. Adalah terlalu sulit untuk menembus orang-orang yang menahan kita di sini. Pimpinannya adalah orang yang cukup tangguh. Jika kita tidak berhati-hati, kita akan dapat terjerat pula karenanya.”

Prastawa termangu-mangu sejenak. Tatapan matanya merayap memanjat tebing. Tetapi tebing itu semakin tinggi menjadi semakin curam. Bahkan seakan-akan batu-batu padas di atas mereka merupakan sebuah dinding yang tegak.

“Kita tidak dapat menyerang dari tempat yang lebih tinggi,” berkata Prastawa.

“Ya,” desis Pandan Wangi, lalu, “bagaimana kalau kita maju terus, Ayah? Setidak-tidaknya kita dapat memecah perhatian mereka jika terjadi pertempuran.”

“Tetapi orang yang memimpin perlawanan itu berbahaya bagimu, Pandan Wangi.”

Pandan Wangi menjadi termangu-mangu. Tetapi ia tidak dapat membiarkan hal itu terjadi.

Tiba-tiba saja Prastawa yang melihat anak panah meluncur ke lembah itu berkata mengejut, “Aku tahu. Kita menyerang mereka dari tempat ini.”

“Maksudmu?”

“Kita mendekat sedikit. Kita menyerang mereka dengan anak panah pula. Yang ada pada kita saja, sekedar untuk mengurangi tekanan atas para pengawal Mataram itu.”

Pandan Wangi berpikir sejenak, lalu, “Tidak banyak gunanya. Tetapi ada baiknya juga.”

“Cobalah,” berkata Ki Argapati.

Prastawa pun segera menyiapkan beberapa orang yang membawa busur dan anak panah. Kemudian mereka melontarkan anak panah mereka melampaui para pengawal Padepokan Putut Nantang Pati yang melindungi orang-orangnya yang sudah siap dengan kapak.

Namun sementara itu, pasukan Sutawijaya sudah semakin dalam masuk kelembah yang sempit itu. Ternyata pengaruh anak panah yang dilontarkan oleh pengawal Menoreh tidak begitu terasa pengaruhnya oleh Putut Nantang Pati yang sudah siap menjatuhkan perintah memotong tali-tali pengikat kayu dan bebatuan.

Dalam pada itu, Sutawijaya yang tidak menduga sama sekali bahwa di atas tebing sebelah-menyebelah telah disiapkan batang-batang kayu dan bebatuan untuk mengubur pasukannya, masih selalu mendesak. Sutawijaya pun tahu bahwa sebagian pasukannya di bagian belakang telah tertahan. Tetapi ia tidak mau melepaskan Daksina, sehingga ia berusaha untuk mendesak terus. Menurut perhitungannya, jika mereka sudah lewat leher lembah yang sempit itu, maka ia akan mendapat kesempatan untuk bertempur bersama anak buahnya lagi seperti yang sudah terjadi.

Selagi Sutawijaya dan para pemimpin pasukan pengawal Mataram berhasil mendesak lawannya terus, maka bagian dari pasukannya yang ada di belakang benar-benar tertahan oleh anak panah yang meluncur dari tebing sebelah-menyebelah. Tetapi yang dari arah pasukan yang di pimpin oleh Argapati-lah serangan itu datang jauh lebih banyak. Dari tebing sebelah adbmcadangan.wordpress.com hanya ada beberapa anak panah sajalah yang meluncur, dan itu pun hampir tidak menyentuh sasaran sama sekali. Namun pasukan pengawal dari Mataram itu pun sama sekali tidak menduga bahwa ditebing itu pun pokok-pokok kayu dan bebatuan siap untuk meluncur menimpa tubuh mereka sampai hancur.

Demikianlah, ketika pasukan Mataram itu seluruhnya sudah masuk ke dalam lembah yang sempit itu, maka Putut Nantang Pati mulai mengangkat tangannya tanpa menghiraukan serangan anak panah dari anak buah Argapati. Meskipun anak panah itu akhirnya terasa mengganggu juga.

Berbareng dengan itu, orang-orangnya pun mulai mengangkat kapaknya pula, siap untuk memotong tali-temali.

“Bunyikan tanda itu, kita akan memotong tali. Mereka seluruhnya sudah masuk,” teriak Putut Nantang Pati.

Sejenak kemudian maka terdengar suara kentongan yang berteriak lima ganda. Suatu pertanda bahwa mereka, harus mulai memotong tali-tali.

Sesaat kemudian tangan Putut Nantang Pati itu pun terayun turun, sehingga beberapa orang yang memperhatikan tangan itu pun mengayunkan kapak mereka pula memotong tali-temali yang mengikat batang-batang kayu yang siap meluncur. Yang lain mendorong batu-batu padas sehingga batu-batu itu mulai bergeser setapak demi setapak dan ketika batu itu sudah sampai di bibir tebing, maka dengan suara gemuruh batu-batu itu berguling turun.

Namun pada saat yang bersamaan, terdengar suara cambuk meledak. Sesaat kemudian terdengar beberapa orang berteriak berbareng seperti diatur, “Naik ke tebing kiri. Cepat sebelum kalian terkubur di lembah.”

Sekali dua kali suara itu tidak segera dimengerti. Tetapi kemudian mereka pun mendengar suara gemuruh di tebing sebelah kanan. Beberapa pohon perdu di atas tebing itu tampak terguncang, dan debu berhamburan.

Dalam waktu yang singkat mereka menyadari apa yang sedang mereka hadapi. Tebing yang tinggi itu bagaikan runtuh menimpa mereka dan mengubur mereka di lembah yang sempit itu.

Tetapi dalam kecemasan itu mereka mendengar suara itu lagi, “Cepat naik ke tebing kiri.”

Suara cambuk itu agaknya menjadi jaminan, bahwa yang berteriak itu bukannya sekedar orang-orang yang dengan sengaja menjebak mereka, tetapi suara itu pasti datang dari Kiai Gringsing atau murid-muridnya.

Karena itu, maka mereka pun tidak berpikir panjang lagi. Selagi batu dan batang-batang kayu itu belum menimpa kepala mereka, maka mereka pun segera berloncatan memanjat tebing sebelah kiri secepat dapat mereka lakukan. Bukan saja orang-orang yang terpisah di belakang, tetapi juga orang-orang yang sedang bertempur di bagian depan, sehingga dengan demikian, maka seakan-akan Daksina telah ditinggalkan begitu saja oleh lawan-lawannya. Bagi pengawal Mataram, memang lebih baik bertempur melawan Daksina dan Panembahan Agung sekali pun daripada harus bertempur melawan tebing-tebing yang runtuh.

Daksina sejenak tercenung mendengar suara yang bergemuruh itu. Tetapi ia pun segera terkejut ketika mendengar teriakan dari tebing sebelah dengan pertanda ledakan cambuk, bahwa orang-orang Mataram itu supaya memanjat saja ke tebing kiri.

“Apakah sebenarnya yang sudah terjadi?” ia bertanya kepada diri sendiri.

Tetapi yang terjadi adalah sedemikian cepatnya. Begitu orang-orang Mataram itu mulai naik, maka batu-batu pun runtuh bersama batang-batang kayu. Bukan saja yang memang sudah dipersiapkan, tetapi batu-batu tebing yang tertimpa pun ikut runtuh pula.

Satu dua orang yang tidak sempat meloncat naik, hampir saja ditimpa oleh reruntuhan itu jika kawan-kawannya tidak cepat menyambar tangannya dan menyeretnya naik meskipun hanya selangkah dua langkah.

Namun reruntuhan itu bukannya tidak menelan korban. Dan itulah yang membakar hati Sutawijaya dan para pemimpin pasukan dari Mataram. Sutawijaya yang pula memanjat tebing, dapat menyaksikan dengan mata kepalanya bahwa ada di antara anak buahnya yang dengan teriakan nyaring ditelan oleh gumpalan batu padas.

Tetapi bahwa reruntuhan itu hanya datang dari tebing yang sebelah, telah mengejutkan Daksina dan anak buahnya. Juga Putut Nantang Pati yang berdiri di tebing. Ia tidak segera mengerti, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Usaha yang sudah dipersiapkan dengan sebaik-baiknya itu, ternyata tidak berhasil memusnakan sebagian besar prajurit Mataram. Bahwa ada juga korban di antara mereka, namun sama sekali tidak berarti. Kekuatan pasukan pengawal Mataram hampir tidak berkurang sama sekali. Kekuatan mereka ternyata masih tetap utuh.

Tetapi meskipun Daksina dicengkam oleh keheranan atas anak buahnya di tebing sebelah, bahkan dari tebing itu terdengar suara cambuk dan isyarat agar orang-orang Mataram naik ke tebing sebelah kiri, namun ia tetap melaksanakan rencananya. Mundur ke belakang leher lembah yang sempit.

Pasukan Mataram yang kemudian bertengger di lereng tebing tidak banyak dapat berbuat. Lembah itu masih di saput oleh debu yang tebal, dan sekali-sekali masih terdengar batu dan pokok-pokok kayu yang runtuh.

Ketika suara yang gemuruh di lembah itu sudah tenang, maka debu pun semakin lama menjadi semakin tipis. Orang-orang Mataram mulai dapat melihat, apa yang kini ada di lembah itu.

“Mengerikan sekali,” desis Ki Lurah Branjangan.

Sutawijaya memandang pokok-pokok kayu yang malang melintang dan batu-batu padas yang menimbuni lembah sempit itu dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan tiada terhingga. Dengan suara gemetar ia berkata, “Hampir saja kalian berkubur di lembah itu. Mungkin aku yang berada di garis pertempuran tidak akan tertimbun karena mereka tidak ingin menimbun orang-orang mereka sendiri. Tetapi sebagian besar dari kita tidak akan sempat dapat keluar dari lembah ini.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia mengedarkan tatapan matanya memandang para pengawal Mataram yang masih di tebing, tampaklah wajah mereka yang pucat dan perasaan yang bergejolak, betapa pun keberanian mendasari perjuangan mereka, tetapi yang disaksikannya adalah peristiwa yang mengerikan sekali. Dan mereka pun menyadari bahwa mereka tidak akan mungkin berperang melawan pokok-pokok kayu dan bebatuan yang runtuh itu. Sehingga dengan demikian maka sebagian dari mereka akan musna di bawah reruntuhan itu.

Di atas tebing, Ki Argapati dan anak buahnya menjadi termenung pula beberapa lamanya. Mereka melihat tebing yang bagaikan disapu oleh arus banjir bandang. Pohon perdu dan gerumbul-gerumbul di tebing telah larut oleh arus pokok-pokok kayu dan batu-batu padas yang sengaja digulingkan oleh orang-orang Putut Nantang Pati.

Demikian dahsyatnya reruntuhan di tebing itu, sehingga segenap perhatian seluruh pasukan Ki Argapati tertumpah pada debu putih dan suara gemuruh. Dengan demikian mereka tidak sempat memperhatikan, bahwa Putut Nantang Pati dan anak buahnya pun telah menarik diri pula.

“Apakah kita akan turun?” bertanya Pandan Wangi.

“Ya,” jawab ayahnya, “kita mencari jalan. Kita harus menemui Raden Sutawijaya.”

“Kita melingkari daerah yang runtuh itu,” berkata Prastawa.

“Tetapi bagaimana dengan kaki Ayah?”

“Kita turun perlahan-lahan,” jawab ayahnya.

Dengan dibantu oleh Pandan Wangi dan Prastawa maka Ki Argapati pun kemudian melingkari daerah yang runtuh itu turun ke lembah. Meskipun agak sulit, tetapi akhirnya ia sampai juga ke lembah yang sempit yang sudah ditimbuni oleh pokok-pokok kayu dan batu.

Sutawijaya yang melihat Ki Argapati itu pun turun pula. Dengan wajah yang tegang ia memandang reruntuhan itu sambil berdesis, “Lembah ini ternyata telah menjadi kuburan beberapa orang anak buahku.”

“O,” Ki Argapati mengangguk perlahan, “rasa-rasanya bukit ini akan runtuh. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa mereka telah menyiapkan jebakan. Aku kira mereka hanya akan menyerang dengan anak panah dari atas tebing, sehingga yang kami lakukan pun tidak berhasil mencegah tebing ini runtuh.”

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita memang tidak menyangka. Tetapi kita masih dilindungi oleh Maha Pencipta. Agaknya Kiai Gringsing menemukan cara untuk menyelamatkan kita.”

Ki Argapati mengangguk-angguk pula. Ketika ia memandang ke atas tebing, maka dilihatnya Kiai Gringsing dan beberapa orang anak buahnya bersama Agung Sedayu dan Swandaru menuruni tebing.

“Terima kasih atas peringatan yang Kiai berikan kepada kami sehingga kami sempat menghindarkan diri,” berkata Sutawijaya kepada Kiai Gringsing ketika orang tua itu telah berada di lembah itu pula.

“Tetapi lembah ini masih tetap berbahaya. Beberapa orang pengawal dari Menoreh tetap berada di atas tebing untuk mengawal daerah ini dan beberapa orang tawanan.”

“Maksud Kiai?”

“Bukankah Daksina menyiapkan orang-orangnya di sebelah-menyebelah tebing?”

“Ya. Kami mendapat serangan anak panah dari kedua tebing”

“Kamilah yang melemparkan anak panah itu agar Daksina dan orang-orangnya, apalagi yang ditebing seberang tidak curiga bahwa kami telah berhasil menguasai orang-orangnya. Meskipun anak panah kami tidak mengenai sasaran, tetapi mereka menganggap bahwa anak buah mereka masih tetap ada di tempatnya.”

Sutawijaya dan Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mulai mengerti, apa yang sudah dikerjakan oleh Kiai Gringsing. Namun mereka menjadi tegang karena Kiai Gringsing berkata kemudian, “Sebaiknya kita meninggalkan lembah ini. Aku ingin meruntuhkan batu-batu padas dan batang-batang kayu yang ada di tebing kiri.”

“Jadi ditebing itu juga ada batang-batang kayu dan batu-batu yang siap mereka luncurkan?”

“Ya. Jika rencana mereka berhasil, maka pasukan Mataram tidak akan dapat berbuat apa-apa. Dari dua tebing sebelah-menyebelah, batang-batang kayu dan batu-batu meluncur menimbuni lembah itu bersama seluruh pasukan pengawal dari Mataram. Dan tamatlah usaha kita untuk membebaskan Rudita.”

Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam. Dengan dada yang berdebar-debar ia memandang ke tebing di sebelah kiri. Tidak tampak sesuatu yang dapat memberikan kesan, bahwa di tebing itu masih bergayutan nafas-nafas maut yang sudah siap menerkam mereka.

“Marilah,” berkata Sutawijaya kemudian, “kita berjalan maju. Meskipun dengan demikian kita sudah terpisah dari Daksina dan anak buahnya, namun kita akan dapat menyelusur jejaknya. Kita akan menemukan persembunyiannya, dan barangkali juga Rudita.”

“Baiklah,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi kita sekarang mempunyai beban beberapa orang tawanan. Beberapa orang yang lain terpaksa dimusnakan, karena mereka melawan dan berusaha memberikan isyarat. Namun selain itu, aku berpendapat, bahwa batu dan batang-batang kayu itu sebaiknya diruntuhkan saja sama sekali agar tidak berbahaya bagi siapa pun juga kelak. Karena tali-tali itu semakin lama akan menjadi semakin rapuh, sehingga pada suatu ketika akan putus dengan sendirinya. Apabila pada saat itu ada orang di lembah ini, siapa pun juga, maka batu dan kayu itu akan berbahaya bagi mereka.”

Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Kiai. Marilah kita menyingkir. Biarlah batu dan kayu-kayu itu diruntuhkan sama sekali.”

Demikianlah maka mereka pun segera menyingkir. Beberapa orang kemudian memotong tali temali yang mengikat batang-batang kayu dan mendorong batu-batu yang memang sudah dipersiapkan.

Tebing pegunungan itu bagaikan diguncang oleh gempa. Sekali lagi debu mengepul di udara. Dan batu-batu padas pun hanyut menimbuni lembah yang sempit itu.

Sutawijaya adalah seorang anak muda yang hampir tidak mengenal takut. Tetapi ketika ia melihat batang-batang kayu dan batu-batu padas yang tertimbun itu, rasa-rasanya ia menjadi terlampau kecil. Terasa betapa perkasanya alam, dan siapa yang berhasil menjinakkannya dan mempergunakannya, maka ia akan mendapat kekuatan yang tidak terlawan. adbmcadangan.wordpress.com Bukan saja pasukan berkuda dari Mataram yang terpilih, tetapi pasukan yang mana pun juga dari permukaan bumi ini, tidak akan mampu melawan batu-batu padas dan batang-batang kayu yang meluncur itu selain keajaiban.

“Kita perlu beristirahat,” berkata Sutawijaya setelah getar di dadanya, “terutama agaknya Ki Gede Menoreh mulai diganggu oleh perasaan sakit di kakinya.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat ingkar lagi.

“Baiklah,” katanya, “kakiku memang mulai mengganggu.”

Kiai Gringsing pun kemudian mendekatinya. Perlahan-lahan dirabanya kakinya, dan katanya, “Ya. Kita memang perlu beristirahat.”

Untuk beberapa lamanya pasukan yang kemudian telah bergabung kembali itu pun beristirahat. Dalam kesempatan itu Kiai Gringsing mencoba mengurangi perasaan sakit pada kaki Ki Argapati dengan memberikan sejenis serbuk yang harus dicairkannya lebih dahulu.

Dengan air persediaan untuk minum yang dibawa oleh para pengawal yang bertugas untuk menyiapkan perbekalan, maka serbuk itu pun kemudian diaduk di dalam air dari digosokkan pada kaki yang sakit itu.

Terasa kaki itu menjadi panas. Namun kemudian perasaan sakit itu pun menjadi semakin berkurang, meskipun hanya untuk sementara.

“Kita masih harus menempuh jalan yang panjang,” berkata Sutawijaya kemudian.

“Ya. Kita akan menghadapi garis pertahanan yang tentu akan disusun oleh Daksina.”

“Ya, dan tetindih pasukan kecil yang menghentikan pasukan kami,” sahut Ki Gede Menoreh, “ternyata adalah orang yang memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Aku tidak dapat mengalahkannya.”

Mereka yang mendengar keterangan itu terkejut. Namun Pandan Wangi menjelaskan, “Tetapi Ayah tidak saja melawan orang itu, tetapi Ayah juga harus melawan perasaan sakit di kakinya.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi sebenarnyalah orang itu memiliki ilmu yang tinggi,” sahut Ki Argapati, “agaknya ia lebih baik atau setidak-tidaknya mempunyai ilmu yang setingkat dengan Daksina.”

“Ya,” sambung Pandan Wangi.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang dihadapi agaknya benar-benar suatu gerombolan yang sudah dipersiapkan.

Dalam pada itu, Ki Waskita dan Ki Sumangkar yang sedang menempuh perjalanan yang berat di lereng tebing-tebing yang terjal, tiba-tiba terhenti. Agaknya ada sesuatu yang mengganggu perasaan Ki Waskita sehingga untuk beberapa saat ia berdiri sambil memejamkan matanya.

Ki Sumangkar yang mengerti bahwa Ki Waskita sedang mencoba menghubungkan getaran di dalam dirinya dengan alam luas di sekitarnya, sama sekali tidak mengganggunya.

“Ki Sumangkar,” tiba-tiba Ki Waskita berdesis, “ada sesuatu yang perlu diperhatikan.”

“Apakah itu?”

“Aku tidak tahu. Tetapi pasukan Mataram memang perlu mendapat peringatan. Mungkin aku menangkap isyarat, bahwa mereka akan menghadapi rintangan yang berat. Aku kira aku hanya dicemaskan oleh kegelisahanku. Tetapi aku ternyata mendapatkan isyarat itu. Bahaya yang besar yang berlapis-lapis.” Ia berhenti sejenak. “O, isyarat itu menjadi kabur. Aku akan berhenti di sini sejenak untuk menemukannya kembali.”

Ki Sumangkar menganggukkan kepalanya. Ia pun menjadi berdebar-debar. Meskipun pasukan itu adalah pasukan yang cukup kuat, namun lawannya pun adalah lawan yang kuat pula.

Sejenak Ki Waskita berdiri diam. Kepalanya tunduk dan tangannya bersilang di dada.

“Mereka telah melepaskan diri dari bahaya yang besar, yang hampir saja memusnakan seluruh pasukan,” Ki Waskita seakan-akan bergumam untuk diri sendiri. Kepalanya masih tertunduk dan matanya masih terpejam. “Tetapi itu bukannya rintangan yang terakhir.”

Ki Sumangkar tidak menjawab. Tetapi wajahnya pun menjadi tegang pula.

Sejenak kemudian ayah Rudita itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata kepada Ki Sumangkar, “Jalan memang cukup berbahaya.”

Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Medan memang berat. Tetapi agaknya Daksina benar-benar menyiapkan dirinya untuk menyongsong pasukan pengawal dari Mataram itu.”

“Bukan saja Daksina. Di belakang bukit ini telah tersusun kekuatan yang luar biasa. Pertahanan yang berlapis-lapis. Senjata yang mencuat di segala sudut bagaikan batang ilalang. Dan lebih dari itu adalah kemampuan yang aneh dari orang yang disebut Panembahan Agung itu.”

Ki Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu ia pun bertanya, “Jadi menurut pertimbanganmu, apakah yang sebaiknya kita lakukan?”

“Kita mendekat. Aku masih tetap yakin, bahwa aku akan menemukan tempat anakku itu. Dan tujuan yang dicapai oleh Raden Sutawijaya adalah tujuan yang semu. Bukan pusat dari kekuatan lawan yang sebenarnya. Aku semakin yakin. Mungkin Raden Sutawijaya akan segera menemukan tempat yang dicarinya. Tetapi ia masih harus melanjutkan perjalanan.”

Ki Sumangkar masih mengangguk-angguk.

“Baiklah kita berjalan terus,” berkata Ki Waskita kemudian, “mudah-mudahan kita dapat melihat, apa yang ada di sekitar bukit sebelah.”

“Tetapi,” bertanya Sumangkar ragu-ragu, “jika benar Panembahan Agung memiliki indera yang lain dari indera wadagnya, apakah ia tidak akan mampu melihat kehadiran kita?”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 November 2008 at 21:52  Comments (64)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-74/trackback/

RSS feed for comments on this post.

64 KomentarTinggalkan komentar

  1. alas mentaok kapling 73 durung dibabat ki GD…
    terpaksa loncat ke kapling 74…

    nyuwun sewu sakderengipun…

  2. bakar menyan sik neng ngarepe Ki Dandang Wesi….sopo reti kebagian girik…

  3. Melu babat2 maswal wae. Mlumpati loket 73 sing ga ono.
    Kenter katut banjir kali progo.
    Nderek ngetem ki Gede..

  4. Girik 73 kayaknya msh disimpan Ayah Rudita

    GD: kalau mau ambil girik 73 bukan di loket 74.

  5. kapling 73 banyak dihuni oleh ular naga segede pohon kelapa berkepala tiga…
    sungguh tempat yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.
    tak seorangpun yang berani mendekatinya…

    mudah-mudahan ki DD segera berhasil meminjam tombak Kyai Pleret kepada Raden Sutawijaya untuk membinasakan ular naga itu dan membuka kapling 73

  6. Nuwun sewu Ki Gede
    Mau absen sekaligus ngambil nomer antrian

  7. Ijek sepi, nderek antri ki GeDe

  8. Antri dengan semangat .
    Blok M -Rempoa lewat Kebayoran lama..
    Masih kosong.Masih banyak tempat duduk.

    Maturnuwun.

  9. h h h ternyata ada yg semangat kernet metromini juga..trus sesuk nek nomer 75 mesti Blok M – Ps Minggu lewat Buncit…

  10. Menunggu dengan sabar dan tertib petunjuk Ki GeDe untuk membuka kapling 74 di alas Mentaok…….
    Eh…sekalian absen Ki Gede…..

    Suwun…..

  11. Ikut absen sekalian minta ijin 2 hari, mau mudik, merayakan Idul Adha

    thanks
    Ki KontosWedul

  12. Ikut antri…

  13. Kepada para cantrik, panembahan dan kyai padepokan ADBM yang akan merayakan,
    Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1429H. Semoga apa yang kita lakukan bermanfaat kepada yang lain. Mohon ma’af apabila ada kalimat saya selama ini yang tidak berkenan.

    Wassallam WW – IS

  14. Ki GeDe….Ki GeDe…semua dalam keadaan tegang akan ngruduk Panembahan Agung dan dalam suasana Idul Adha kok masih guyon aja…..
    Marahi deg…deg…plas.
    Untuk para cantik Selamat Hari Raya Idul Adha 1429H bagi yang merayakan.

  15. Lapor Ki Gede

    Kulo sampun wangsul kampung. Nanging taksih sayah, dereng saged nerusakan “scanning”.
    Insyalallah, Selasa saged ngirim buku terusanipun.

    Sakmeniko kulo ngantri kemawon, sekalian mundut rapelan jilid 70-73.

    Nuwun

  16. Tentang halaman hilang di buku adbm2 jilid 07.

    Ki Gede

    Kalau yang hilang (tidak ada) hanya halaman 7, 78 dan 79 rasanya karena kesalahan percetakan.

    Soalnya halaman 7 itu baliknya halaman 8. Kalau halaman 8 ada 7 tidak ada kan lucu. Sedang halaman 79 biasanya dibaliknya halaman 80. halaman 78 dibaliknya halaman 77.

    Halaman 7/7 gandengannya kalau tidak salah halamn 73/74.

    Sayangnya, saya tidak punya koleksi kilid-jilid awal.

  17. Ki Ony, Ki Aulinda.. gimana nih dengan padepokan Bogor? Apa sudah dimulai rencana scaningnya?? Ki Gede sudah mengingatkan terus nih.. gak enak kalo ditunda-tunda terus.
    Ki Ony, yg punya kitab²nya, gimana nih pembagian kerjanya.. saya siap sendiko dawuh aja..
    Ngaturaken sugeng riyadi Idul Adha 1429 H.

  18. Di bilik 74, setiap kata “ini”, saya klik kok nggak bisa Ki Gede?
    Apa diganti menjadi “itu”
    Wah wah..semakin lama ilmunya semakin ngedap-edapi, sampai harus menyusup di setiap kata kata.

  19. @Ki alphonse

    Baiknya kita menunggu dulu informasi dari Ki Ony yaa,..

    Salam, Aulianda

  20. @Ki Aulinda
    Baik Ki, kita tunggu ki Ony pulang ke padepokan. Semoga sehat semuanya para cantrik di Bogor. Ki Dewo, sdh lama kok tdk nongol??

    Ki Gede, sdh pada nggak kukuh nih nungguin 74-nya, matur nuwun…

  21. hehehe…

  22. @Ki Alphonse
    Mohon maaf, baru sempet buka internet sekarang. Untuk Ki Alphonse, no HP saya sudah dikirim via email panjenengan. Saya sudah siapin jilid 4 tapi baru buku 1-50 dulu.
    @Ki Aulianda dan Ki Dewo
    Kira2 saya bisa bantu untuk bawa buku nomor berapa? paling sekali jalan saya cuman bisa bawa 100 buku (minus yang untuk ki Alphonse, maklum cuman pake motor)
    Kalau ngariungnya sabtu depan gimana?

    sekali lagi mohon maaf

  23. Sendiko dawuh Ki Ony, sy juga sudah respon dan kasih no HP saya via email panjenengan.
    Ok, Sabtu ini saya kosongkan..

  24. kitap 74 masih dibawa berburu kambing, mau di sembelih besok

  25. Duh, mesakke banget Raden Sutowijoyo dikrutugi watu gedhe2… Trus gek kepiye critane kuwi…???

  26. Halo Ki Ony, terimakasih banyak atas informasinya. Atas informasi tersebut, berarti Ki Gede untuk sementara sudah bisa memasukan nomor yang dimiliki Ki Ony kedalam cadangan hopernya.

    Jadi peta scaning bisa diupdate kembali.

    Untuk rencana riungannya, saya setuju Ki demi tercapainya kemajuan proyek ini. Bagaimana dengan Ki alphonse dan Ki Dewo??

    Salam, Aulianda

  27. kisanak semua.adakah kisanak semua yg punya konvertan kitab 73 & kitab 74,kl ada sudilah kiranya kisanak mengirimkannya ke email saya (ekonik3atgmaildotcom).matur nuwun semuanya & maaf merepotkan.

  28. kisanak semua, adakah yang punya convertan buku 73 dan buku 74?kl ada sudilah kiranya mengirimkannya ke email saya (ekonik3atgmaildotcom) soalnya dari kemaren libur dan cuma bisa absen tanpa bisa menekuni kitab (maklum tinggal di desa).matur nuwun sebelumnya

  29. makasih ki gedhe.

    @ Ki Warsono
    kapan saya bisa ke kalibata?

  30. Absen dulu nih,
    KI ONy, KI Aulianda dan Ki Alphonse dan para cantrik di Bogor…, maaf bbrp hari hilang, internet lagi down katanya, kesamber petir dan ular naga kali…hehe.
    kalo saya mah gimana yg ngasih jatah aja.., Boleh aja sabtu siang ini ririungan di Alas BotanSkuere – buat meringankan beban Ki Gede…
    No HP saya udah ada di Ki Aulianda, bisa dikontak ntar..
    salam

  31. Lapor Ki SENO kulo copas komen njenengan,

    Kulo sampun wangsul cangkulan. Nanging taksih sayah, dereng saged nulis dowo-dowo “kelelahen”.
    Insyalallah, Selasa saged ngirim komen tanpa copas lagi.

    Sakmeniko kulo leyeh2 kemawon, mboten saged melu uber2an
    kaliyan ki Karto, ki AS, ki Haryo teng gandok sebelah.

    • jejak telah cantrik tinggalkan….tanda gandok siNI pernah
      menjadi persinggahan dalem perjalanan,

      kagem Nyi SENO mohon sudilah tunjukkan jalan
      cantrik melompat ke gandok LANJUtan…..!!!

      sabar menunggu JAWABAN…..sampe kapan, sampe
      nyi SENO kasih cuBITAN.

      • ..ternyata jawabnya Nyi Seno hanya menyanyi……..cubit2an ! 😀

        • cubit-cubitan ohoy yang dicubit panjaitan….
          senggol-senggolan ohoy yang disenggol nainggolan….

          • genit2….cantrik sekarang 🙂

            • nunggu dicubit……rela, duduk sendirian 🙂

              cubit-cubitan ohoy cubit-cubitan
              senggol-senggolan ohoy senggol-senggolan

              • Sebul-sebulan yo ……

                Sebul-sebulan

                ben dho kempot ……………………..

                • sebul-setahun ki ….

                  • sakpenake mawon ………….

  32. Kempul tali tameng………………….

    • kendang kempul banyuwangen

      • Nolojoyo tumbak celeng ……

        • Tinimbang nggolek mendingan balen…

          • gethuk asal magelang, siap antar sampe tujuan
            kapankah Nyi SENO kadang bertandang, disini
            cantrik siap-kan tiKAR, tumpeng lan jajan pasar

            hikSS, undangan bancakan perkancanan…..!!???

            • Gethuk Lindri asli Blauran ………….

          • Theklek kecemplung kalen…..

            • hahahaaaa
              bayem rine sepatu pulukane ….

              • Hahahaaaa
                Ayem atine rek, keturutan penjalukan-e 😀

                • nggawa takir isi gule, ki kartu, mangan kupat lawuh babat.

                • Ojo mikir awake dewe, delengen Ki addus dientub…tomcat ! 😀

                • esuk nyuling sore nyuling, ki kartu, sulinge arék suroboyo,

                • esuk eling sore eling, sing di eling2 orang meduro..eh…rumongso ! 😀

              • walang abang menclok ning kara, ki kartu, walang biru lare putih

                • mbujango maneh Ki Addus ra ngluyuro, lha wong putune koq jare…..putrine 😀

                • hahahaaaa…hayoooo….Ki Addus kroso penak terus meneng wae ! 😀

                  • h
                    a
                    i
                    y
                    a
                    h

                    k
                    o
                    k

                    n
                    j
                    u
                    r

                    m
                    a
                    l
                    a
                    h

                    l
                    o
                    m
                    b
                    a

                    p
                    a
                    r
                    i
                    k
                    a
                    n

                    • h
                      u
                      y
                      u
                      u
                      u
                      u
                      h

                      m
                      e
                      l
                      u

                      t
                      o

                      k
                      i

                      m
                      b
                      l
                      e
                      h

                    • monggo ki lontong balapan ……………..

                    • s
                      u
                      g
                      e
                      n
                      g

                      d
                      a
                      l
                      u
                      .
                      .
                      .
                      s
                      e
                      d
                      a
                      y
                      a

                      k
                      a
                      d
                      a
                      n
                      g
                      .
                      .
                      .
                      a
                      d
                      b
                      m
                      e
                      r
                      s
                      .
                      .
                      .
                      m
                      e
                      l
                      e
                      k

                      a
                      n

                      n
                      o
                      n
                      t
                      o
                      n

                      b
                      o
                      l
                      a

                      y
                      u
                      u
                      u
                      k
                      k
                      k
                      .

                    • y
                      u
                      k

                      m
                      a
                      r
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e

  33. melek… merem , melek…….merem …… rem


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: