Buku 74

“Salah seorang dari kalian yang membawa perisai, perlihatkan dirimu. Mereka akan berbuat sesuatu, dan kita akan menjadi semakin yakin atas mereka,” perintah Ki Argapati. “Sedang yang lain siap untuk melontarkan anak panah kalian.”

Beberapa orang pun kemudian bergeser menepi. Seseorang yang membawa perisai pun kemudian melangkah maju, justru menampakkan diri di atas tebing.

Ternyata usaha Ki Argapati itu berhasil memancing perhatian lawan yang sedang bersembunyi. Ketka seseorang melihat seorang pengawal Menoreh itu berdiri di tebing, maka orang itu pun segera melaporkannya kepada Daksina.

“Siapakah orang itu?” bertanya Daksina.

“Kita tidak mengetahuinya, tetapi jelas bukan salah seorang dari kita.”

Daksina menjadi ragu-ragu sejenak. Namun selagi ia belum mengambil keputusan, dilihatnya sebatang anak panah yang meluncur jatuh di sela-sela dedaunan.

“He, anak panah siapakah itu?”

Salah seorang memungut anak panah itu. Dan dengan suara bergetar ia menyahut, “Bukan anak panah kita. Ujung bedornya pipih dan bulu keseimbangannya melingkar.”

“Anak panah itu berputar selagi meluncur,” desis Daksina, “tentu anak panah orang Menoreh.”

Sebenarnyalah bahwa Ki Argapati telah memerintahkan melepaskan anak panah. Meskipun mereka tidak melihat seseorang namun mereka melepaskan juga anak panah ke arah yang diperkirakan menjadi tempat persembunyian mereka.

Dalam pada itu Daksina menjadi termangu-mangu. Apalagi ketika sebuah anak panah yang lain meluncur pula jatuh di antara mereka.

“Tentu orang yang berdiri di tebing itu melihat kita.”

“Apakah yang dapat kita lakukan?”

“Apa boleh buat. Kita tunggu sejenak, jika anak panah itu masih meluncur, kita akan membalas meskipun dengan demikian kehadiran kita di sini akan diketahui oleh pasukan di hadapan kita. Bukankah jika sebagian dari mereka sudah melihat kita, maka tidak ada gunanya lagi kita bersembunyi? Tetapi selagi mungkin, kita akan menghindari.”

Namun dalam pada itu, bukan saja Daksina dan orang-orangnya yang melihat orang berperisai itu. Ternyata Putut Nantang Pati pun telah melihatnya pula.

“Gila,” geram Putut Nantang Pati, “ternyata pasukan yang menyelusur tebing inilah yang mengetahui lebih dahulu pasukan yang dipimpin Daksina, yang berusaha menyergap pasukan yang datang dan lembah. Jangan beri kesempatan. Kita harus menyerangnya lebih dahulu selagi perhatian mereka tertuju kepada orang-orang di lembah itu.”

Anak buah Putut Nantang Pati pun kemudian menyiapkan diri. Mereka tidak lagi menunggu. Tetapi kini mereka merayap maju menyerang kedudukan Ki Argapati yang sedang memancing perlawanan orang-orang yang ada di lembah.

Kedatangan Putut Nantang Pati telah mengejutkan pengawas yang dengan penuh kewaspadaan memperhatikan suasana di sekitarnya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia pun meneriakkan isyarat, bahwa sepasukan lawan telah mendekat.

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpikir, lalu, “Kita hadapi lawan yang datang. Tetapi biarlah dua tiga orang meneruskan pancingan mereka. Lemparkan anak panah yang lebih banyak. Tetapi hati-hati bagi mereka yang tidak menyandang perisai. Jangan menjadi arah bidikan yang mapan. Berusahalah tetap bersembunyi di balik pepohonan.” Lalu katanya kepada Pandan Wangi dan Prastawa, “Hati-hati1ah, kita menghadapi lawan yang belum kita ketahui kekuatannya.”

Demikianlah maka Ki Argapati telah mempersiapkan dirinya dengan tombak pendeknya. Dalam keadaan itu, terasa kakinya memang agak mengganggu. Jika saja kakinya tidak menjadi cacat meskipun berangsur pulih, maka ia akan dapat berbuat lebih banyak lagi, siapa pun yang dihadapinya.

Sejenak Pandan Wangi memandangi ayahnya, seolah-olah ia ingin mendapat penjelasan tentang keadaan ayahnya itu.

“Kakiku sudah baik Pandan Wangi,” tiba-tiba ayahnya berdesis seakan-akan ia mengetahui kegelisahan yang memancar dari tatapan mata anak gadisnya.

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam.

“Hati-hatilah,” desis ayahnya, “aku sudah mendengar suara pasukan itu mendekat.”

Pandan Wangi pun kemudian mempersiapkan dirinya. Kali ini ia membawa sepasang pedang. Disampingnya Prastawa pun telah mempersiapkan dirinya pula. Ia pun bersenjata pedang yang lebih besar dari pedang Pandan Wangi.

“Beberapa orang di antara kalian, naiklah lebih tinggi,” perintah Ki Argapati, “usahakan agar kalian dapat bergerak lebih leluasa. Kita harus menyadari, bahwa lawan-lawan kita akan mempergunakan cara yang sering mereka tempuh. Kasar dan sedikit liar. Karena itu, kalian harus mempunyai ruang yang agak luas untuk melawan mereka.”

Dengan demikian, maka sekelompok pengawal dari Menoreh yang terpilih itu pun segera memencar. Mereka telah bersiap dengan senjata masing-masing. Beberapa orang di dalam kelompok tersendiri bersenjatakan tombak pendek. Yang lain pedang dan seorang yang berbadan tinggi kekar membawa sepasang bindi yang besar. Sedang mereka yang memanjat tebing lebih tinggi lagi selain bersenjata pedang, mereka pun memiliki beberapa buah pisau-pisau kecil diikat pinggangnya. Mereka adalah pengawal yang telah terlatih mempergunakan lemparan-lemparan pisau belati kecil.

Dalam pada itu, beberapa orang di antara mereka masih saja melontarkan anak panah ke lembah. Mereka semakin pasti bahwa yang ada di lembah itu bukan pasukan Mataram.

Tetapi Daksina ternyata tidak mudah terpancing. Diperintahkannya anak buahnya untuk tetap berdiam diri.

“Jangan memberikan perlawanan. Musuh yang kita tunggu adalah mereka yang akan datang lewat lembah ini. Serahkan mereka yang di atas tebing kepada Putut Nantang Pati dan kelompoknya. Kita tetap menunggu di sini.”

Anak buahnya pun menyadari keadaan mereka, sehingga karena itu, mereka pun segera berusaha berlindung di balik pepohonan dan dedaunan yang rimbun. Namun demikian, anak panah yang diberi bulu-bulu keseimbangan membelit dan berbedor pipih itu, kadang-kadang dapat menembus rimbunnya dedaunan karena putaran anak panah itu.

Sejenak Ki Argapati menilai keadaan. Ia pun sadar, bahwa Daksina seorang perwira dari Pajang itu bukannya anak kecil. Apalagi kehadiran Ki Argapati telah benar-benar diketahui oleh lawannya, sehingga akhirnya ia berkata lantang, “Berikan isyarat panah sendaren. Pasukan di lembah agaknya sudah berada di hadapan pasukan yang bersembunyi untuk menjebak.”

Begitu perintah itu selesai, maka benturan sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Pasukan Putut Nantang Pati melanda para pengawal Menoreh bagaikan banjir. Tetapi pasukan pengawal dari Menoreh itu sudah bersiaga, sehingga mereka pun sudah siap menyambut kedatangan lawannya.

Ternyata bahwa usaha Ki Argapati mengurangi jumlah lawannya pada benturan pertama itu pun berhasil. Para pengawal yang berada di tebing yang agak lebih tinggi, menyambut kedatangan lawan mereka dengan lontaran pisau-pisau kecilnya, sehingga beberapa orang lawan pun terluka karenanya. Bahkan lemparan yang tepat mengenai pundak kanan, seakan-akan adbmcadangan.wordpress.com membuat lawan itu menjadi lumpuh dan tidak dapat menggerakkan senjatanya lagi. Kecuali mereka tidak biasa mempergunakan senjata di tangan kiri, juga agaknya darah yang mengalir telah merampas sebagian besar dari tenaganya. Apalagi mereka yang langsung terpotong nadi pundaknya.

Namun demikian, beberapa orang yang berada di belakang pertempuran itu masih sempat melemparkan isyarat. Tiga buah anak panah sendaren meluncur sambil bersiul.

Dalam pada itu, pasukan Sutawijaya memang sudah berada semakin dekat pada jebakan yang dipasang oleh Daksina. Dan agaknya suara panah sendaren itu memang menarik perhatian. Namun yang mula-mula terlintas di angan-angan Sutawijaya adalah isyarat bahwa pasukan Ki Argapati sudah terlibat di dalam pertempuran.

“Lihat,” berkata Sutawijaya yang dapat melihat dari jarak yang jauh pertempuran di atas tebing, “mereka sudah mulai. Tetapi kau lihat beberapa orang berdiri di tebing dengan busur dan anak panah itu?”

Beberapa orang pimpinan pengawalnya memandang ke arah tebing itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka harus memperhitungkan apakah yang sebenarnya sudah terjadi.

“Mereka melemparkan anak panah ke lembah di depan kita,” desis Ki Lurah Branjangan.

“Dan itu sangat menarik perhatian,” sahut Sutawijaya.

Tetapi orang-orang yang melemparkan anak panah itu pun segera menghilang. Mereka ternyata telah terlibat di dalam pertempuran.

Sejenak Sutawijaya menilai keadaan. Meskipun hanya sepintas, namun anak panah yang dilontarkan ke lembah itu harus diperhitungkan.

“Isyarat dan arah anak panah itu agaknya mempunyai maksud tertentu,” berkata Sutawijaya kemudian. “Apa salahnya kita berhati-hati sekali. Agaknya mereka memberi peringatan kepada kita, bahwa di lembah di hadapan kita ini pun, para pengawal padepokan ini telah menunggu.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Mungkin. Memang mungkin sekali. Agaknya mereka pun telah memecah pasukannya.”

“Pengalaman mereka atas kegagalan yang pernah terjadi membuat mereka semakin berhati-hati,” desis Sutawijaya.

“Jika demikian, marilah kita maju dengan waspada. Kita tidak dapat membuat gelar yang wajar karena keadaan medan. Tetapi kita akan bergerak maju dalam tiga deret. Yang tengah akan lewat dasar lembah. Yang dua melalui sisi sebelah-menyebelah. Di dalam keadaan yang belum kita ketahui, kita dapat merubah kedudukan. Tetapi ada baiknya jika pasukan yang menjadi sayap itu berjalan seiring meskipun mereka harus berjalan di tebing yang miring.”

“Sayap itu lebih baik sedikit maju,” sahut Ki Lurah Branjangan yang sudah memiliki pengalaman yang cukup, “justru induk pasukan agak mundur beberapa langkah. Kita mungkin akan jatuh dalam keadaan perang brubuh, atau sebelah-menyebelah dari sayap ini akan melanda lawan dalam gelar glatik neba. Tetapi jika lawan berpencar maka perang brubuh itulah yang paling mungkin terjadi.”

“Baiklah. Kita mempersiapkan diri menghadapi keadaan itu. Kita harus mengenal diri kita sebaik-baiknya. Di dalam perang brubuh kita masih harus tetap berada di dalam satu kesatuan.”

Demikianlah maka Lurah Branjangan segera mengatur pasukannya. Ia sendiri berada di sayap kanan, dan seorang senapati yang dipercaya berada di sayap kiri.

“Kita akan bertemu dengan Daksina,” desis Sutawijaya.

“Jangan dilawan seorang diri. Raden harus melihat kenyataan bahwa Daksina memiliki kelebihan. Jika aku yang menjumpainya, aku pun akan melawannya di dalam lingkaran perang brubuh, bukan seorang diri. Aku sudah mempersiapkan beberapa orang untuk menghadapinya. Sebaiknya sambil berjalan maju setiap barisan mempersiapkan dirinya.”

“Baiklah,” berkata Raden Sutawijaya, “aku akan bersiap menghadapinya. Sekelompok pengawal akan menyertaiku melawannya jika aku menjumpainya. Demikian juga seharusnya yang dilakukan oleh penjawat kiri dari gelar yang sederhana ini.”

Demikianlah maka perlahan-lahan pasukan itu maju. Kedua sayap pasukan berjalan mendahului beberapa langkah dan mereka berjalan menyelusuri tebing yang miring. Sedang di tengah-tengah Sutawijaya dan pengawal-pengawalnya berderap maju mendekati daerah yang seolah-olah terasa menjadi semakin rimbun.

Firasat keprajuritannya seakan-akan memberitahukan kepadanya bahwa beberapa langkah lagi, ia harus memperhatikan setiap lembar daun dan setiap batang ranting, karena seakan-akan Sutawijaya itu melihat bayangan yang bersembunyi dan sedang mengintip pasukannya.

Di hadapan mereka, Daksina menunggu dengan tegang. Dua orang pengawas terdepan hampir tidak sabar menunggu kedatangan lawan. Namun mereka pun terkejut ketika mereka melihat pasukan lawan itu mendatangi dalam barisan yang panjang di tebing yang miring. Bukan hanya di sebelah, tetapi sebelah-menyebelah.

“Gila,” desis pengawas itu, “kita menunggu mereka di tengah lembah.”

“Cepat kita laporkan, agar pasukan kita sempat merubah keadaan.”

Kedua pengawas itu pun kemudian berlari-lari meninggalkan tempatnya, melaporkan apa yang dilihatnya tentang pasukan lawannya itu.

“Gila,” geram Daksina, “cepat rubah keadaan ini. Kita akan menghadapi lawan yang berada di sisi sebelah-menyebelah. Tidak ada gunanya kalian menunggu di dahan-dahan dan belakang gerumbul. Mereka akan menusuk lambung. Jika mungkin mereka akan menerobos ke dalam pasukan kita. Dengan demikian, kita akan mengalami kesulitan menarik diri. Karena kita harus bertempur dalam medan yang dibatasi oleh garis tegas, maka kita harus menahan pasukan lawan.”

Demikianlah, maka pasukan Daksina itu pun segera merubah garis pertahanan mereka. Sebagian dari mereka justru berada di sisi tebing. Mereka harus menghentikan gerakan maju sehingga pasukan lawan tidak akan dapat menerobos masuk ke dalam garis pertahanan mereka.

Demikianlah, maka sejenak kemudian kedua pasukan sayap itu pun mendekati letak pasukan lawan. Pada jarak beberapa puluh langkah, mereka sudah saling menyadari, bahwa mereka kini telah benar-benar berhadapan. Karena itulah, maka setiap senjata sudah mulai merunduk dan setiap tangan mulai bergetar.

Kedua pimpinan pengawal yang menjadi penjawat kanan dan kiri dari pasukan Mataram segera meneriakkan aba-aba. Sejenak kemudian pasukannya maju sejauh-jauh dapat dijangkau sebelum lawannya menyongsong mereka dengan garis pertahanan yang rapat, karena mereka memang berkeinginan untuk menarik garis medan yang tegas.

Demikianlah, maka kedua pasukan itu mulai terlibat dalam pertempuran. Daksina, seorang perwira yang berpengalaman itu berhasil membendung pasukan lawannya, sehingga kedua sayap itu tidak dapat bergerak maju sama sekali. Bahkan mereka tidak dapat menghindarkan tekanan pasukan Daksina yang berat, sehingga pasukan yang berjajar surut itu mulai menebar.

Ki Lurah Branjangan yang ada di sayap kanan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar bahwa yang dihadapi adalah seorang perwira yang mumpuni. Karena itu, ketika ia melihat Daksna mengayun-ayunkan pedangnya ia berbisik kepada dua orang kepercayaannya, “Kawani aku mengikat perwira itu dalam pertempuran agar anak buahnya kehilangan bimbingan.”

“Tetapi ia bukan satu-satunya senapati.”

“Kau benar, tetapi tidak ada orang lain yang meliki kemampuan seperti Daksina.”

Demikianlah Ki Lurah Branjangan dengan dua orang pengawal kepercayaannya, menerobos riuhnya pertempuran, mendekati senapati lawan.

“Daksina,” panggil Ki Lurah Branjangan, “aku tidak mengira bahwa kita akan bertemu lagi.”

Daksina mengerutkan keningnya, lalu katanya, “He, kaukah itu pengkhianat. Ternyata kau berada di Mataram tanpa meninggalkan pesan apa pun bagi pasukanmu.”

Ki Lurah Branjangan tertawa. Katanya, “Jangan membual. Aku meninggalkan lingkungan keprajuritan Pajang setelah aku minta diri. Aku tidak lari seperti kau. He, apakah kau mendapat perintah dari Kanjeng Sultan Pajang untuk mengacaukan Mataram?”

Daksina berpikir sejenak, lalu, “Ya. Kau pandai menebak.”

Tetapi Ki Lurah Branjangan justru tertawa, “Jangan seperti kanak-kanak. Bukankah kau pernah berceritera kepada Raden Sutawijaya tentang rencanamu untuk mengadu dombakan Mataram dan Pajang.”

“Aku menjawab pertanyaan kanak-kanak dengan istilah kanak-kanak pula. Jika kau sudah tahu, apa gunanya kau bertanya?”

Ki Lurah Branjangan mengerutkan keningnya. Agaknya tidak ada kesempatan untuk banyak berbicara. Karena itu, maka ia pun segera melangkah maju dan mengulurkan pedangnya lurus ke depan. Dua orang pengawal kepercayaannya pun maju pula dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

“O, inikah cara orang Mataram bertempur? Sejak kapan kau kehilangan sifat jantanmu, Branjangan. Aku kira kau masih tetap seperti ketika kau berada di Pajang, pernyata kau tidak ubahnya Sutawijaya yang bertempur bersama beberapa orang sekaligus. He, di mana Sutawijaya? Apakah ia memimpin kelompok prajurit yang berjalan di atas tebing itu?”

“Daksina,” sahut Branjangan, “kita tidak sedang berperang tanding. Di dalam perang brubuh semacam ini, tidak akan sempat menghitung berapa jumlah prajurit kita masing-masing. Apakah jika kita harus bertempur seorang melawan seorang, jika ada kelebihan di satu pihak, prajurit itu harus duduk saja menonton? Jika seorang lawan mati maka seorang dari pihak yang lain harus keluar gelanggang.”

“Ah, kau sudah pandai membela diri. Baik. Jika kau akan berkelahi dengan kelompokmu. Aku berterima kasih karena dengan demikian kau mengakui, bahwa Daksina memang bukan lawanmu.”

“Di dalam peperangan semua orang adalah lawan semua orang.”

“Bagus. Bersiaplah untuk mati.”

Ki Lurah Branjangan tidak menyahut. Tetapi ia mempersiapkan dirinya dengan penuh kewaspadaan, karena sebenarnyalah ia mengerti, bahwa Daksina memiliki beberapa kelebihan dari prajurit-prajurit Pajang yang lain, sehingga karena itulah maka ia merayap dari pangkat yang satu ke pangkat di atasnya.

Sejenak kemudian mereka pun mulai terlibat di dalam pertempuran. Daksina harus berhadapan dengan Ki Lurah Branjangan dibantu oleh dua orang pengawalnya.

Namun ternyata bahwa Daksina benar-benar seorang yang tangguh. Ia mampu menghadapi ketiga lawannya dengan gigih. Sekali-sekali seorang dua orang pasukannya berusaha membantunya. Namun setiap kali pengawal Mataram yang lain telah memisahkan mereka dari lingkaran pertempuran itu.

Meskipun demikian, orang-orang Daksina adalah orang-orang yang terlatih baik. Di antara mereka terdapat bekas prajurit-prajurit Pajang seperti juga pasukan dari Mataram. Sehingga karena itu, maka amat sulitlah bagi Ki Lurah Branjangan untuk sepenuhnya bertempur bersama kedua pengawalnya yang terpercaya itu. Setiap kali mereka bertiga gagal melakukan tekanan serentak, karena orang-orang Daksina pun cukup cekatan menanggapi keadaan.

Ki Lurah Branjangan mengumpat di dalam hati. Daksina masih tetap seorang perwira yang cerdik di medan. Sayang, ia telah melakukan kesalahan menurut penilaiannya, karena ia terlibat dalam perbuatan yang bagi Lurah Branjangan, semata-mata memanjakan kepentingan dan pamrih sendiri.

Perkelahian di medan itu pun menjadi semakin riuh. Tetapi ternyata bahwa pasukan Daksina berhasil menahan arus pasukan Mataram. Di kedua sisi lembah itu telah terjadi pertempuran yang seru, sehingga selain terdengar gemerincing senjata, gemeretak gigi dan hentakan kaki, juga terdengar derak ranting-ranting patah dan dedaunan yang runtuh sebelum saatnya.

Di sayap yang lain pasukan Mataram pun sama sekali tidak dapat mendesak lawannya yang bertahan pada satu garis pertahanan yang tegas.

Dengan demikian maka usaha Daksina untuk menahan pasukan penyerang itu berhasil. Ia masih harus bertempur untuk beberapa saat. Ia ingin menjajagi kekuatan lawannya, yang menurut penilaiannya tidak sekuat yang disangkanya.

“Jika aku berhasil menghancurkannya di sini, apa salahnya,” berkata Daksina. “Pertempuran ini tidak perlu menyentuh padepokan Panembahan Agung.”

Namun Daksina itu masih juga dibayangi oleh keragu-raguan. Yang dihadapinya adalah Lurah Branjangan. Sehingga karena itu, maka ia pun masih menunggu seseorang yang tentu ada di antara lawan-lawannya, yaitu Sutawijaya.

Bahkan selagi bertempur melawan Ki Lurah Branjangan, Daksina yang curiga dan apalagi dilambari oleh firasatnya sebagai seorang prajurit, ia masih sempat memerintahkan dua orang anak buahnya untuk mencari Sutawijaya.

“Jika ia berpakaian seperti pengawal biasa, kalian pun tentu akan mengenalnya.”

Tetapi selagi kedua orang anak buah Daksina itu bergeser dari tempatnya, mereka terkejut bukan kepalang. Sekelompok pengawal ternyata telah menusuk daerah pertempuran itu langsung dipimpin oleh Sutawijaya sendiri.

Kedatangan pasukan itu memang mengejutkan Daksina yang segera mendapat laporan. Karena itu, maka ia pun kemudian memerintahkan beberapa orang untuk mengambil alih perlawanannya terhadap Ki Lurah Branjangan. Daksina sendiri kemudian bersama beberapa orang pengawal langsung menyongsong Sutawijaya.

Ternyata kedatangan Sutawijaya telah menggoncangkan pertempuran itu. Kekuatan pasukan Mataram telah bertambah besar, sehingga tidak ada harapan sama sekali bagi Daksina untuk menunjukkan kebesarannya dengan menghancurkan pasukan Mataram sebelum mereka mendekati padepokan Panembahahan Agung.

“Gila,” desis Daksina, “agaknya Mataram benar-benar ingin menyelesaikan pertikaiannya dengan Panembahan Agung.”

Namun dalam pada itu, Daksina masih dapat tersenyum sambil berkata di dalam hati, “Jika kalian tidak binasa di sini, kalian akan binasa dikubur di leher lembah itu. Dan jika masih ada juga yang lolos, maka kalian menjadi sasaran yang paling menyenangkan dalam pertahanan terakhir dari susunan pengawal padepokan Panembahan Agung.”

Ternyata bahwa yang terjadi kemudian benar-benar tidak tertahankan lagi oleh Daksina. Itulah sebabnya, maka ia mulai dengan susunan perlawanan seperti yang direncanakan. Sekedar bertahan menurut batas lurus sepanjang lebar lembah daerah pertempuran itu. Kemudian, mereka akan segera mengundurkan diri, yang ternyata harus dilakukan lebih cepat dari yang diperkirakan karena tekanan lawan yang cukup berat, dengan korban yang lebih banyak pula dari perhitungannya.

Sekali-sekali Daksina masih sempat mencoba melihat pertempuran diatas tebing. Sekilas ia masih melihat senjata berkilat. Kadang-kadang ia mendengar sorak yang gemuruh di atas tebing itu meskipun pertempuran tidak seriuh di dalam lembah. Tetapi agaknya anak buah Putut Nantang Pati berusaha menghalau lawannya seperti sedang mengejar tupai. Mengayunkan senjata sambil berteriak-teriak.

Tetapi Ki Argapati yang sudah menduga sebelumnya, sama sekali tidak terkejut menghadapi cara lawannya. Untuk meneguhkan hati anak buahnya, maka Ki Argapati pun kadang-kadang meneriakkan aba-aba yang keras. Di sebelah-menyebelahnya, Pandan Wangi dan Prastawa mendesak lawannya yang bertempur dengan kasar.

Dalam pada itu, ternyata bahwa Putut Nantang Pati benar-benar seorang yang pilih tanding. Dengan tangkasnya ia menghadapi Ki Argapati yang bersenjata tombak pendek. Kakinya yang kokoh itu berloncatan di atas tanah, berbatu padas. Sedang senjatanya berputar seperti baling-baling. Sebilah pedang besar yang bermata rangkap sebelah-menyebelah.

Namun Ki Argapati adalah seorang yang matang di dalam ilmunya, apalagi ia memiliki pengalaman yang cukup banyak di sepanjang hidupnya. Sehingga dengan demikian, ia dapat dengan tenang menghadapi Putut Nantang pati, murid terpercaya dari Panembahan Agung.
Tetapi ketika pertempuran itu berlangsung beberapa saat lamanya, terasa sesuatu agak mengganggu. Meskipun Ki Argapati semula berhasil sedikit demi sedikit mendesak lawannya, namun semakin lama terasa sesuatu yang tidak wajar pada kakinya yang cacat. Rasa-rasanya di dalam daging dipaha dan dilututnya terdapat duri yang tajam, yang mulai menusuk dagingnya.

“Ah,” Ki Argapati mengeluh di dalam hati, “apakah kakiku tiba-tiba saja akan kambuh lagi?”

Tetapi Ki Argapati berusaha untuk menahan rasa sakit yang semakin mengganggunya. Untuk beberapa saat ia masih mampu bertempur tanpa menunjukkan tanda-tanda kelemahan pada kakinya. Yang dilihat lawannya sejak mereka mulai terlibat di dalam pertempuran adalah, bahwa kaki Ki Argapati itu cacat dan timpang. Tetapi ternyata bahwa ketika mereka terlibat langsung, kemampuan Ki Argapati telah mengejutkan Putut Nantang Pati, sehingga perlahan-lahan Putut itu harus mengakui, bahwa lawannya memiliki kemampuan yang tidak akan dapat diatasinya.

Namun, Putut Nantang Pati juga tidak yakin bahwa ia akan dapat dikalahkan. Meskipun Ki Argapati memiliki ilmu yang dahsyat, namun kakinya itu telah menahannya untuk berbuat terlampau banyak. Dan kelemahan kaki ini merupakan peluang yang mungkin dapat dipergunakan oleh Putut Nantang Pati.

Ki Argapati menyadari perhitungan itu. Dan apalagi ketika kakinya merasa semakin lama semakin sakit. Gerakannya mulai terganggu oleh perasaan pedih yang menyengat-nyengat, sehingga Ki Argapati terpaksa memusatkan perlawanannya pada kecepatan ujung tombaknya saja.

Betapa pun Ki Argapati berusaha, namun lawannya yang memiliki kemampuan yang hampir mengimbanginya itu pun merasa, bahwa ada perubahan padanya. Beberapa kali Putut Nantang Pati meyakinkan, bahwa Ki Argapati tidak lagi mampu mempergunakan kakinya dengan wajar. Sekali-sekali Putut itu menyerang dengan garangnya, kemudian berkisar dengan cepat. Selangkah ia surut dengan menyilangkan senjata. Tetapi Ki Argapati tidak meloncat menyerangnya. Kepala Tanah Perdikan Menoreh itu hanya mencoba menjulurkan tombak pendeknya di sela-sela ayunan pedang Putut yang besar. Tetapi dengan mencondongkan tubuhnya, Putut Nantang Pati dengan mudah menghindarkan dirinya.

Beberapa saat kemudian, setelah Putut Nantang Pati itu yakin bahwa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya tiba-tiba saja ia tertawa berkepanjangan.

“Sayang,” katanya, “kedatanganmu kali ini hanya sekedar mengantarkan nyawamu. Aku tahu bahwa yang bersenjata tombak pendek dalam lambaran ilmu yang mapan ini adalah Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang tidak terkalahkan. Seseorang yang tidak saja mampu bertempur di darat tetapi juga dilautan. Tetapi aku pun tahu, bahwa agaknya Kepala Tanah Perdikan yang perkasa ini mengindap penyakit yang parah di kakinya.”

Mendengar kata-kata itu, Ki Argapati menjadi tegang. Ia sadar, bahwa Putut Nantang Pati telah mengetahui kelemahannya.

“Nah, Ki Gede Menoreh,” berkata Putut Nantang Pati, “jangan menyesal bahwa kau sudah melibatkan diri dengan persoalan yang sebenarnya tidak menjadi urusanmu.”

Ki Argapati sama sekali tidak menjawab. Bahkan selagi Putut Nantang Pati berteriak sambil tertawa berkepanjangan, Ki Argapati berdiri saja di tempatnya. Ia merasa mendapat kesempatan untuk beristirahat sejenak. Sekali-sekali ia sempat memijit kakinya yang terasa sakit.

“Ki Gede,” berkata Putut Nantang Pati kemudian, “cobalah menyadari kesalahanmu sebelum kau mati. Kenapa kau bersedia membantu orang-orang Mataram? Jika Mataram menjadi besar di bawah pimpinan Sutawijaya itu, maka Menoreh akan tertutup sama sekali oleh kekuasaannya, sehingga Menoreh tidak akan lebih besar dari sebuah pedukuhan yang tidak berarti. Jika Mataram tidak sempat berdiri dan pemerintahan masih tetap berada di Pajang, Menoreh mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya menjadi sebuah Tanah Perdikan yang besar dan luas.”

Ki Argapati masih tetap berdiam diri. Ia merasa bahwa kakinya yang sempat beristirahat itu menjadi agak baik. Karena itu ia mengharap agar Putut Nantang Pati itu berbicara saja berkepanjangan.

Tetapi ternyata bahwa Pandan Wangi yang bertempur dengan tangkasnya itu pun mendengar kata-kata Putut Nantang Pati tentang kaki ayahnya. Karena itu, maka ia pun menjadi berdebar-debar. Beberapa saat ia terdesak oleh dua orang lawannya sekaligus. Namun kemudian ia menjadi mapan kembali. Apalagi tiba-tiba saja Prastawa bagaikan seekor burung elang menyambar dengan pedangnya, sehingga kedua orang lawan Pandan Wangi itu terdesak surut.

“Prastawa,” desis Pandan Wangi, “jaga mereka agar tidak mengganggu aku. Kau dengar bahwa ayah mulai disengat oleh rasa sakit di kakinya?”

“Lepaskan mereka,” berkata Prastawa yang kemudian bertempur dengan garangnya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti kuku-kuku yang tajam dari seekor burung elang raksasa yang marah.

Di bagian lain dari pertempuran itu, pasukan pengawal Menoreh mulai mendesak lawannya dengan perlahan-lahan, berapa orang yang benar-benar terlatih berhasil bertahan dan bahkan kemudian menunjukkan bahwa mereka pun memiliki pengalaman bertempur yang dapat mengimbangi anak buah Putut Nantang Pati. Betapa pun kasarnya lawan mereka, tetapi karena sebelumnya mereka telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya, maka para pengawal itu tidak terkejut dan menjadi bingung.

Namun dalam pada itu, Ki Argapati sendirilah yang tidak berhasil mempertahankan desakan Putut Nantang Pati. Ketika Putut Nantang Pati selesai berbicara dan tertawa, maka mulailah ia memusatkan serangan-serangannya.

“Sekarang memang sudah waktunya kau menjalani hukuman atas kelancanganmu. Sebelum kau mencapai batas pertahanan Panembahan Agung, kau akan mati lebih dahulu. Sayang, kau tidak akan pernah melihat kesaktiannya yang tidak ada taranya. Jika kau tidak mempercayainya, maka sepanjang hidupmu, kau tidak akan pernah melihat buktinya.”

Ki Argapati masih tetap berdiam diri. Tetapi tangannya rasa-rasanya menjadi semakin mantap menggenggam tombaknya.

Sejenak kemudian serangan Putut Nantang Pati itu pun menjadi semakin dahsyat. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa kelemahan Ki Argapati ada pada kakinya. Itulah sebabnya maka ia berloncatan dengan lincahnya, menyerang lawannya dari segala arah.

Ternyata bahwa waktu yang hanya sejenak, yang seakan-akan memberi kesempatan kepada kakinya yang sakit untuk beristirahat, tidak berarti apa-apa sama sekali. Ketika ia mulai terlibat lagi dalam pertempuran melawan Putut Nantang Pati, maka perlahan-lahan perasaan sakitnya itu pun kambuh kembali.

Pandan Wangi yang berhasil mendekati ayahnya melihat kelemahan itu pula. Karena itu, maka ia pun segera menyerang Putut Nantang Pati dengan pedang rangkapnya.

Putut Nantang Pati terkejut sehingga ia melangkah surut. Namun ia pun tertawa sambil berkata, “He, agaknya kaulah yang bernama Pandan Wangi.”

“Wangi,” desis Ki Argapati kemudian, “menyingkirlah.”

“Aku akan menyingkirkan orang ini, Ayah.”

“Serahkan ia kepadaku, Wangi.”

Pandan Wangi yang menyadari keadaan ayahnya tidak segera meninggalkan Putut Nantang Pati. Ia justru menyerangnya semakin garang sehingga untuk beberapa saat lamanya Putut Nantang Pati harus berusaha menghindarkan serangan-serangan itu.

Betapa pun kemampuan Pandan Wangi yang berkembang dengan pesat, namun ia masih belum dapat mengimbangi Putut yang garang itu. Karena itulah, maka dalam waktu yang singkat Nantang Pati segera dapat menguasai keadaan.

Namun dalam pada itu, Ki Argapati telah menempatkan diri di dalam pertempuran melawan Putut itu pula, meskipun ia hanya dapat mempergunakan tangannya, sehingga dengan demikian Putut Nantang Pati harus bertempur melawan dua orang sekaligus.

Tetapi karena kaki Ki Argapati benar-benar tidak mampu lagi mengimbangi kemampuan ilmunya, maka geraknya pun menjadi sangat terbatas.

Dalam keadaan yang demikian itulah Ki Argapati sempat menyebut kebesaran nama Tuhan. Ia memang yakin bahwa kemampuan manusia sangat terbatas. Meskipun ia memiliki ilmu yang sempurna sekali pun, namun dibatasi oleh kemampuan jasmaniahnya, maka ilmu itu seakan-akan tidak banyak berguna lagi. Dan tidak seorang manusia pun yang dapat melawan susutnya kemampuan jasmaniah apabila umurnya sudah mencapai batas. Semakin tua seseorang memang akan menjadi semakin matang. Tetapi apabila kemampuan jasmaniah sudah mulai susut, maka kunjungi adbmcadangan.wordpress.com setiap orang harus mengakui pertanda ini. Dan terpujilah nama Tuhan yang Adil dan Maha Kuasa, yang dengan pertanda alam menunjukkan Kuasa-Nya yang tanpa batas.

Dan pertanda itu kini terasa oleh Ki Argapati. Betapa pun ilmu yang selama ini disempurnakan di dalam dirinya, namun ia tidak akan dapat melawan sakit di kakinya sendiri. Dan Ki Argapati menerima keadaannya meskipun bukan berarti bahwa ia harus berputus asa.

Sementara itu Pandan Wangi-lah yang mengambil alih serangan-serangan beruntun. Namun serangan-serangannya tidak merupakan bahaya yang sebenarnya bagi Putut Nantang Pati. Sekali-sekali ia menghindar, namun kemudian dengan ragu-ragu ia mendesak gadis Menoreh itu.

“Pandan Wangi,” berkata Putut Nantang Pati, “sebenarnya kau tidak pantas melawan aku. Aku ingin perang tanding di dalam arena ini melawan Ki Argapati. Sebaiknya kau tidak usah mengganggu. Setelah aku selesai dengan Ki Argapati, maka akan datang giliranmu. Tetapi aku tidak ingin membunuh seorang gadis yang cantik seperti kau.”

Pandan Wangi tidak menyahut, tetapi ia menyerang semakin garang.

Putut Nantang Pati akhirnya menjadi marah juga kepada Pandan Wangi. Bahkan ia pun kemudian ingin menyingkirkan gadis itu, atau menghentikan perlawanannya, meskipun ia tidak ingin membunuhnya agar gadis itu tidak mengganggu perkelahiannya dengan Ki Argapati.

Karena itulah, maka Putut Nantang Pati ingin memisahkan Pandan Wangi dari ayahnya. Selagi mereka masih tetap bertempur berpasangan, maka Pandan Wangi yang masih belum memiliki ilmu setinggi ayahnya itu, seakan-akan mampu mengisi kekurangan pada kaki Ki Argapati. Tetapi jika keduanya terpisah, maka Putut Nantang Pati akan dapat mengalahkannya.

Tetapi Pandan Wangi pun mampu berpikir dengan baik. Setiap kali Putut Nantang Pati memancingnya, maka Pandan Wangi sama sekali tidak menghiraukannya. Ia tetap berdiri saja di sisi ayahnya dengan pedang rangkapnya. Dibiarkannya Putut Nantang Pati yang meloncat menjauh yang seakan-akan membiarkan dirinya diserang oleh Pandan Wangi.

Akhirnya Putut Nantang Pati benar-benar menjadi marah. Karena itu ia tidak lagi mengekang diri. Karena ia merasa tidak akan dapat lagi memisahkan gadis itu dari ayahnya, tiba-tiba saja ia memberikan isyarat kepada anak buahnya, dan berteriak, “Pisahkan gadis itu dari ayahnya.”

Beberapa orang anak buahnya yang mendengar aba-aba itu pun segera mempersiapkan diri. Mereka mencoba melepaskan lawan-lawannya dan beberapa orang berusaha mendekati Pandan Wangi.

Tetapi ternyata bahwa aba-aba itu merupakan aba-aba juga bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh dan terutama bagi Prastawa. Itulah sebabnya, maka mereka pun memusatkan perlawanan mereka agar anak buah Putut Nantang Pati tidak sempat menyerang Pandan Wangi yang bertempur berpasangan dengan ayahnya Ki Argapati yang tidak lagi memiliki kemampuannya yang utuh.

Dengan demikian pertempuran itu pun berkisar di seputar Ki Argapati, sehingga dengan demikian maka ruang dari para pengawal di kedua belah pihak itu pun menjadi sangat sempit. Namun demikian keadaan itu justru menjadi berbahaya bagi para pengawal Tanah Perdikan Menoreh.

Dalam pada itu, beberapa orang anak buah Putut Nantang Pati yang berada di belakang garis pertempuran itu telah mempersiapkan diri mereka dengan kapak dan beberapa orang yang lain dengan anak panah. Jika pertempuran di lembah itu bergeser karena Daksina menarik diri, maka mereka harus menahan orang-orang Mataram dengan anak panah mereka. Kemudian, membiarkan mereka lewat apabila kedua pasukan itu telah terpisah, sementara itu orang-orang lain harus memotong tali-tali pengikat batang-batang kayu dengan kapak.

Sebenarnyalah banwa Daksina tidak berhasrat untuk bertempur lebih lama lagi. Korban telah berjatuhan, dan tidak ada kemungkinan sama sekali untuk bertahan. Karena itu, maka ia harus segera menarik diri melalui lembah yang sempit. Jika sebagian pasukan Mataram itu telah dibinasakan di lembah itu, maka sebagian yang lain akan dengan mudah dikalahkan.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 November 2008 at 21:52  Comments (64)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-74/trackback/

RSS feed for comments on this post.

64 KomentarTinggalkan komentar

  1. alas mentaok kapling 73 durung dibabat ki GD…
    terpaksa loncat ke kapling 74…

    nyuwun sewu sakderengipun…

  2. bakar menyan sik neng ngarepe Ki Dandang Wesi….sopo reti kebagian girik…

  3. Melu babat2 maswal wae. Mlumpati loket 73 sing ga ono.
    Kenter katut banjir kali progo.
    Nderek ngetem ki Gede..

  4. Girik 73 kayaknya msh disimpan Ayah Rudita

    GD: kalau mau ambil girik 73 bukan di loket 74.

  5. kapling 73 banyak dihuni oleh ular naga segede pohon kelapa berkepala tiga…
    sungguh tempat yang bisa membuat bulu kuduk berdiri.
    tak seorangpun yang berani mendekatinya…

    mudah-mudahan ki DD segera berhasil meminjam tombak Kyai Pleret kepada Raden Sutawijaya untuk membinasakan ular naga itu dan membuka kapling 73

  6. Nuwun sewu Ki Gede
    Mau absen sekaligus ngambil nomer antrian

  7. Ijek sepi, nderek antri ki GeDe

  8. Antri dengan semangat .
    Blok M -Rempoa lewat Kebayoran lama..
    Masih kosong.Masih banyak tempat duduk.

    Maturnuwun.

  9. h h h ternyata ada yg semangat kernet metromini juga..trus sesuk nek nomer 75 mesti Blok M – Ps Minggu lewat Buncit…

  10. Menunggu dengan sabar dan tertib petunjuk Ki GeDe untuk membuka kapling 74 di alas Mentaok…….
    Eh…sekalian absen Ki Gede…..

    Suwun…..

  11. Ikut absen sekalian minta ijin 2 hari, mau mudik, merayakan Idul Adha

    thanks
    Ki KontosWedul

  12. Ikut antri…

  13. Kepada para cantrik, panembahan dan kyai padepokan ADBM yang akan merayakan,
    Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1429H. Semoga apa yang kita lakukan bermanfaat kepada yang lain. Mohon ma’af apabila ada kalimat saya selama ini yang tidak berkenan.

    Wassallam WW – IS

  14. Ki GeDe….Ki GeDe…semua dalam keadaan tegang akan ngruduk Panembahan Agung dan dalam suasana Idul Adha kok masih guyon aja…..
    Marahi deg…deg…plas.
    Untuk para cantik Selamat Hari Raya Idul Adha 1429H bagi yang merayakan.

  15. Lapor Ki Gede

    Kulo sampun wangsul kampung. Nanging taksih sayah, dereng saged nerusakan “scanning”.
    Insyalallah, Selasa saged ngirim buku terusanipun.

    Sakmeniko kulo ngantri kemawon, sekalian mundut rapelan jilid 70-73.

    Nuwun

  16. Tentang halaman hilang di buku adbm2 jilid 07.

    Ki Gede

    Kalau yang hilang (tidak ada) hanya halaman 7, 78 dan 79 rasanya karena kesalahan percetakan.

    Soalnya halaman 7 itu baliknya halaman 8. Kalau halaman 8 ada 7 tidak ada kan lucu. Sedang halaman 79 biasanya dibaliknya halaman 80. halaman 78 dibaliknya halaman 77.

    Halaman 7/7 gandengannya kalau tidak salah halamn 73/74.

    Sayangnya, saya tidak punya koleksi kilid-jilid awal.

  17. Ki Ony, Ki Aulinda.. gimana nih dengan padepokan Bogor? Apa sudah dimulai rencana scaningnya?? Ki Gede sudah mengingatkan terus nih.. gak enak kalo ditunda-tunda terus.
    Ki Ony, yg punya kitab²nya, gimana nih pembagian kerjanya.. saya siap sendiko dawuh aja..
    Ngaturaken sugeng riyadi Idul Adha 1429 H.

  18. Di bilik 74, setiap kata “ini”, saya klik kok nggak bisa Ki Gede?
    Apa diganti menjadi “itu”
    Wah wah..semakin lama ilmunya semakin ngedap-edapi, sampai harus menyusup di setiap kata kata.

  19. @Ki alphonse

    Baiknya kita menunggu dulu informasi dari Ki Ony yaa,..

    Salam, Aulianda

  20. @Ki Aulinda
    Baik Ki, kita tunggu ki Ony pulang ke padepokan. Semoga sehat semuanya para cantrik di Bogor. Ki Dewo, sdh lama kok tdk nongol??

    Ki Gede, sdh pada nggak kukuh nih nungguin 74-nya, matur nuwun…

  21. hehehe…

  22. @Ki Alphonse
    Mohon maaf, baru sempet buka internet sekarang. Untuk Ki Alphonse, no HP saya sudah dikirim via email panjenengan. Saya sudah siapin jilid 4 tapi baru buku 1-50 dulu.
    @Ki Aulianda dan Ki Dewo
    Kira2 saya bisa bantu untuk bawa buku nomor berapa? paling sekali jalan saya cuman bisa bawa 100 buku (minus yang untuk ki Alphonse, maklum cuman pake motor)
    Kalau ngariungnya sabtu depan gimana?

    sekali lagi mohon maaf

  23. Sendiko dawuh Ki Ony, sy juga sudah respon dan kasih no HP saya via email panjenengan.
    Ok, Sabtu ini saya kosongkan..

  24. kitap 74 masih dibawa berburu kambing, mau di sembelih besok

  25. Duh, mesakke banget Raden Sutowijoyo dikrutugi watu gedhe2… Trus gek kepiye critane kuwi…???

  26. Halo Ki Ony, terimakasih banyak atas informasinya. Atas informasi tersebut, berarti Ki Gede untuk sementara sudah bisa memasukan nomor yang dimiliki Ki Ony kedalam cadangan hopernya.

    Jadi peta scaning bisa diupdate kembali.

    Untuk rencana riungannya, saya setuju Ki demi tercapainya kemajuan proyek ini. Bagaimana dengan Ki alphonse dan Ki Dewo??

    Salam, Aulianda

  27. kisanak semua.adakah kisanak semua yg punya konvertan kitab 73 & kitab 74,kl ada sudilah kiranya kisanak mengirimkannya ke email saya (ekonik3atgmaildotcom).matur nuwun semuanya & maaf merepotkan.

  28. kisanak semua, adakah yang punya convertan buku 73 dan buku 74?kl ada sudilah kiranya mengirimkannya ke email saya (ekonik3atgmaildotcom) soalnya dari kemaren libur dan cuma bisa absen tanpa bisa menekuni kitab (maklum tinggal di desa).matur nuwun sebelumnya

  29. makasih ki gedhe.

    @ Ki Warsono
    kapan saya bisa ke kalibata?

  30. Absen dulu nih,
    KI ONy, KI Aulianda dan Ki Alphonse dan para cantrik di Bogor…, maaf bbrp hari hilang, internet lagi down katanya, kesamber petir dan ular naga kali…hehe.
    kalo saya mah gimana yg ngasih jatah aja.., Boleh aja sabtu siang ini ririungan di Alas BotanSkuere – buat meringankan beban Ki Gede…
    No HP saya udah ada di Ki Aulianda, bisa dikontak ntar..
    salam

  31. Lapor Ki SENO kulo copas komen njenengan,

    Kulo sampun wangsul cangkulan. Nanging taksih sayah, dereng saged nulis dowo-dowo “kelelahen”.
    Insyalallah, Selasa saged ngirim komen tanpa copas lagi.

    Sakmeniko kulo leyeh2 kemawon, mboten saged melu uber2an
    kaliyan ki Karto, ki AS, ki Haryo teng gandok sebelah.

    • jejak telah cantrik tinggalkan….tanda gandok siNI pernah
      menjadi persinggahan dalem perjalanan,

      kagem Nyi SENO mohon sudilah tunjukkan jalan
      cantrik melompat ke gandok LANJUtan…..!!!

      sabar menunggu JAWABAN…..sampe kapan, sampe
      nyi SENO kasih cuBITAN.

      • ..ternyata jawabnya Nyi Seno hanya menyanyi……..cubit2an ! 😀

        • cubit-cubitan ohoy yang dicubit panjaitan….
          senggol-senggolan ohoy yang disenggol nainggolan….

          • genit2….cantrik sekarang 🙂

            • nunggu dicubit……rela, duduk sendirian 🙂

              cubit-cubitan ohoy cubit-cubitan
              senggol-senggolan ohoy senggol-senggolan

              • Sebul-sebulan yo ……

                Sebul-sebulan

                ben dho kempot ……………………..

                • sebul-setahun ki ….

                  • sakpenake mawon ………….

  32. Kempul tali tameng………………….

    • kendang kempul banyuwangen

      • Nolojoyo tumbak celeng ……

        • Tinimbang nggolek mendingan balen…

          • gethuk asal magelang, siap antar sampe tujuan
            kapankah Nyi SENO kadang bertandang, disini
            cantrik siap-kan tiKAR, tumpeng lan jajan pasar

            hikSS, undangan bancakan perkancanan…..!!???

            • Gethuk Lindri asli Blauran ………….

          • Theklek kecemplung kalen…..

            • hahahaaaa
              bayem rine sepatu pulukane ….

              • Hahahaaaa
                Ayem atine rek, keturutan penjalukan-e 😀

                • nggawa takir isi gule, ki kartu, mangan kupat lawuh babat.

                • Ojo mikir awake dewe, delengen Ki addus dientub…tomcat ! 😀

                • esuk nyuling sore nyuling, ki kartu, sulinge arék suroboyo,

                • esuk eling sore eling, sing di eling2 orang meduro..eh…rumongso ! 😀

              • walang abang menclok ning kara, ki kartu, walang biru lare putih

                • mbujango maneh Ki Addus ra ngluyuro, lha wong putune koq jare…..putrine 😀

                • hahahaaaa…hayoooo….Ki Addus kroso penak terus meneng wae ! 😀

                  • h
                    a
                    i
                    y
                    a
                    h

                    k
                    o
                    k

                    n
                    j
                    u
                    r

                    m
                    a
                    l
                    a
                    h

                    l
                    o
                    m
                    b
                    a

                    p
                    a
                    r
                    i
                    k
                    a
                    n

                    • h
                      u
                      y
                      u
                      u
                      u
                      u
                      h

                      m
                      e
                      l
                      u

                      t
                      o

                      k
                      i

                      m
                      b
                      l
                      e
                      h

                    • monggo ki lontong balapan ……………..

                    • s
                      u
                      g
                      e
                      n
                      g

                      d
                      a
                      l
                      u
                      .
                      .
                      .
                      s
                      e
                      d
                      a
                      y
                      a

                      k
                      a
                      d
                      a
                      n
                      g
                      .
                      .
                      .
                      a
                      d
                      b
                      m
                      e
                      r
                      s
                      .
                      .
                      .
                      m
                      e
                      l
                      e
                      k

                      a
                      n

                      n
                      o
                      n
                      t
                      o
                      n

                      b
                      o
                      l
                      a

                      y
                      u
                      u
                      u
                      k
                      k
                      k
                      .

                    • y
                      u
                      k

                      m
                      a
                      r
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e
                      e

  33. melek… merem , melek…….merem …… rem


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: