Buku 73

“Mudah-mudahan,” berkata ayah Rudita, “namun jika rabaanku benar, dan orang itu benar-benar Panembahan yang pernah menyebut dirinya bernama Panjer Bumi, kita memang harus berhati-hati. Ia mempelajari semacam ilmu dari daerah asing, sehingga ia memiliki kemampuan menciptakan barang-barang semu yang dapat membingungkan bagi mereka yang menjumpainya.”

Orang-orang yang mendengar keterangan ayah Rudita itu mengerutkan keningnya. Bahkan Pandan Wangi pun bertanya, “Apakah maksud dengan barang-barang semu itu?”

“Benda-benda yang sebenarnya tidak ada, tetapi ada pada mata kita. Ia mempengaruhi langsung pusat syaraf kita di seberang indera penglihatan kita dengan ilmunva, sehingga kadang-kadang indera penglihatan kita terganggu karenanya di dalam tangkapan pusat kedirian kita yang wadag.”

Prastawa pun mendesak maju sambil bertanya, “Jadi kita seakan-akan dapat melihat sesuatu bentuk yang sebenarnya tidak ada?”

“Ya.”

“Dan bagaimana dengan indera pendengar dan peraba?”

“Semuanya dapat terpengaruh seperti juga indera penglihatan kita. Getaran ilmunya akan langsung mempengaruhi kita di seberang rangsang pada indera kita, sehingga seakan-akan kita dapat melihat, mendengar dan meraba. Bahkan mencium bau dari benda-benda yang sebenarnya tidak ada. Tetapi tentu hal itu karena pengenalan kita. Seandainya yang terbentuk itu benda semu yang di dalam bentuknya yang benar kita belum pernah melihatnya, dan belum pernah mengenal dan mendengar tentang benda itu, maka yang langsung dapat dipengaruhi adalah sekedar indera penglihatan menurut rekaan khayali kita sendiri, yang barangkali tidak sama bagi setiap orang. Kemudian barulah berkembang pada indera kita yang lain yang seperti juga indera penglihatan maka tangkapan pusat syaraf dan kedirian kita akan berbeda.”

Prastawa mengerutkan keningnya. Ia masih belum dapat menangkap seutuhnya kata-kata ayah Rudita itu, sehingga ayah Rudita itu perlu menjelaskannya, “Misalnya. Aku ingin mempengaruhi kau untuk menciptakan bentuk sebuah binatang yang di sebut gajah. Sedangkan seandainya orang-orang yang ingin kita pengaruhi dengan ilmu kita itu belum pernah melihat gajah. Maka yang akan tercipta sebagai bentuk semu, yang satu dengan yang lain akan berbeda. Hanya bentuk dalam keseluruhan tentu saja mirip seperti yang dilontarkan oleh orang yang memiliki ilmu itu. Tetapi di dalam bagian-bagian kecilnya akan terdapat perbedaan. Jika kita bersama-sama meraba, maka yang seorang tidak mendapat kesan vang sama dengan orang yang lain. Yang seorang menganggap kulitnya licin seperti belut, yang lain agak kasar seperti seekor kerbau. Bahkan mungkin yang menganggap bulu-bulunya kasar seperti bulu landak.”

Mereka yang mendengarkannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka menyadari bahwa mereka akan berhadapan dengan orang yang aneh di dalam pandangan mereka.

“Karena itu,” berkata ayah Rudita, “kita harus bersiap menghadapi kemampuan yang dahsyat itu.”

“Mengagumkan. Jika benar demikian, kita akan menghadapi rintangan yang berat sekali. Apalagi aku. Tentu aku tidak akan dapat mengenal, manakah benda-benda yang asli dan manakah yang semu.”

“Memang sulit,” sahut ayah Rudita, “jika kau melihat sebuah rakit di tepi sungai yang sedang banjir. Sedang sebenarnya rakit itu adalah benda semu karena pengaruh seseorang pada pusat syarafmu, maka mungkin sekali kau akan tertipu. Kau akan turun ke dalam rakit itu. Untuk sekejap kau memang merasa berada di atas sebuah rakit. Tetapi kemudian kau akan menyadari bahwa kau telah hanyut di bawa banjir. Biasanya kesadaran yang demikian datang terlambat setelah kau tidak mampu berbuat sesuatu.”

“O,” beberapa orang menjadi berdebar-debar.

“Karena itu, pengamanan yang paling mudah bagi kalian adalah, tidak berbuat apa-apa. Jika kau dicengkam oleh suasana semu jangan berbuat apa-apa, meskipun dapat berakibat buruk bagi kalian, karena kediaman kalian itu akan memberi kesempatan bagi musuh-musuhmu untuk berbuat sesuatu.”

“Jadi bagaimana mengatasinya.”

“Sulit sekali. Yang paling mungkin adalah, memusatkan kehendak kita untuk tetap melihat bentuk yang sebenarnya dari yang kau hadapi. Jika di pinggir kali itu tidak ada rakit, maka meskipun rakit itu tampak padamu namun kau dapat membedakan tangkapan semu itu dan tangkapan indera penglihatanmu. Jika keduanya menjadi baur dan seakan-akan bertumpuk, kau memang harus memilih. Dan manakah yang paling mungkin ada disesuaikan dengan keadaan dan kemungkinan di sekitarmu.”

Yang mendengarkan penjelasan itu menjadi termangu-mangu. Namun ayah Rudita itu kemudian berkata, “Jangan menjadi ragu-ragu. Keragu-raguan adalah tanda-tanda kekalahan di dalam persoalan ini. Kalian harus cepat mengambil keputusan tanpa ragu-ragu. Namun itu sulit sekali, dan akibatnya dapat sangat berbahaya. Mudah-mudahan kalian berhasil di dalam taraf yang paling dangkal.”

“Baiklah,” tiba-tiba Prastawa menyahut, “aku akan mencoba. Aku akan mencoba melihat kebenaran indera penglihatanmu. Mudah-mudaan aku berhasil.”

Dalam pada itu, maka ayah Ruditapun berkata, “Jika demikian apakah kita akan berangkat terus?”

Ki Argapati menjadi ragu-ragu sejenak. Ia harus memikirkan setiap kemungkinan yang akan terjadi. Jika Panembahan Agung dan yang disebut oleh ayah Rudita itu bernama Panembahan Panjer Bumi itu benar-benar memiliki ilmu yang dahsyat itu, maka kedudukan pasukannya tentu akan menjadi sulit. Panembahan itu dapat mempengaruhi penglihatan dalam pengertian khayali pada pengawal-pengawalnya. Dan bahkan dapat membuat mereka saling tidak mengenal dan bahkan bertentangan satu sama lain, karena sebagian dari mereka akan berubah menjadi lawan-lawannya. Panembahan itu sama sekali tidak perlu mempunyai pasukan. Pasukan lawannyalah yang akan menjadi pasukannya, karena pengaruh ilmunya yang membuat orang lain menjadi bingung.

Ayah Rudita mengetahui keragu-raguan itu. Karena itu, maka ia pun berkata, “Ki Gede. Kita masih agak jauh dari padepokan itu. Menurut dugaanku, kita masih dapat maju lagi seperti yang kita rencanakan. Kita memberi tanda di tempat ini kepada Raden Sutawijaya agar jika mereka datang, mereka pun akan menyusul kita sampai ke ujung pegunungan itu.”

Ki Argapati mengerti, betapa kegelisahan mencengkam hati ayah dari anak yang hilang itu. Karena itu, maka ia pun kemudian menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Kita akan maju sampai tempat terakhir dari persetujuan kita dengan pasukan yang akan menyusul.”

Demikianlah, setelah memberikan tanda-tanda yang diperlukan seperti yang sudah mereka bicarakan dengan Raden Sutawijaya, maka mereka pun kemudian bergerak maju. Mereka melintasi lapangan terbuka yang menjadi ajang pertempuran antara para pengawal Mataram dengan anak buah Daksina. Dan ternyata, bahwa mayat orang-orang Daksina yang berserakan telah tidak ada lagi di tempatnya. Tidak ada bekasnya bahwa mayat itu menjadi mangsa binatang. Karena itu maka mereka pun menduga, bahwa mayat-mayat itu telah disingkirkan oleh kawan-kawan mereka.

Perlahan-lahan pasukan itu maju. Semakin lama semakin dekat dengan ujung pegunungan yang tidak begitu tinggi.

Namun dalam pada itu, maka langit pun menjadi kemerah-merahan oleh matahari yang semakin rendah. Tetapi mereka berusaha untuk sampai ke tujuan sebelum daerah itu menjadi gelap pekat.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya pun telah mendekati daerah hutan liar. Mereka dengan segera dapat mengenal bekas kaki-kaki kuda dari pasukan yang mendahului mereka. Tetapi ternyata kuda pasukan Mataram adalah kuda yang jauh lebih baik dari kuda yang dipergunakan oleh para pengawal Menoreh. Sebagian dari para pengawal itu mempergunakan kuda yang sebenarnya kurang tegar. Tetapi bagi perjalanan mereka agaknya sudah cukup memadai. Dan sudah barang tentu, bahwa para pemimpin Menoreh yang mempergunakan kuda yang lebih baik, menyesuaikan diri dengan para pengawalnya.

Dengan demikian maka jarak antara kedua pasukan itu menjadi semakin dekat. Meskipun perjalanan berikutnya adalah perjalanan yang agak sulit, tetapi kuda-kuda mereka dapat maju terus mengikuti jejak pasukan sebelumnya, melewati pinggiran hutan yang liar.

Tetapi ketika mereka sampai di sebelah arena perkelahian di tempat terbuka itu, matahari telah menjadi merah. Mereka masih sempat melihat tanda-tanda yang dibuat oleh pasukan sebelumnya, namun sejenak kemudian maka senja menjadi gelap.

“Kita terpaksa berhenti di sini,” berkata Sutawijaya perjalanan di malam hari tidak menguntungkan bagi kita. Selain kita membawa kuda dan perbekalan yang lain, maka kita harus memperhitungkan juga pasukan tersembunyi yang setiap saat dapat menyergap dan menghilang. Dalam perjalanan di malam hari kita akan menjadi sasaran yang menguntungkan mereka.”

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Raden Sutawijaya. Dan menurut dugaannya, maka pasukan yang dibawa oleh Ki Argapati tentu sudah tidak terlalu jauh lagi di hadanan mereka. Apalagi agaknya pasukan itu cukup lama berhenti di tempat itu untuk menyelidiki keadaan yang akan mereka hadapi.

Malam itu kedua pasukan dari Menoreh dan Mataram itu berhenti di tempat yang berbeda. Pasukan Mataram mengetahui, bahwa pasukan Menoreh berada tidak begitu jauh lagi dari mereka, tetapi sebaliknya pasukan Menoreh menjadi agak gelisah, bahwa mereka belum mendapat hubungan dengan Raden Sutawijaya.

“Apakah Mataram benar akan mengirimkan pasukannya?” bertanya Prastawa kepada Pandan Wangi.

“Aku kira demikian. Tetapi mereka memang memerlukan waktu.”

“Seandainya tidak, maka Kiai Gringsing, Ki Demang Sangkal Putung dan kedua anak-anak muda itu akan menyusul kita,” desis seorang pengawalnya.

Pandan Wangi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun di dalam hatinya ia berkata, “Seandainya mereka tidak datang sama sekali, kita harus tetap maju mencari anak itu. Mungkin kita akan menghadapi seorang panembahan yang sakti, tetapi betapa pun saktinya, ia tentu mempunyai kelemahan di dalam kesalahan yang pernah dilakukannya. Jika ia orang yang sempurna lahir dan batinnya, tentu ia tidak akan mempergunakan kesaktian yang ada padanya untuk tujuan-tujuan yang sekedar memanjakan nafsu diri dan ketamakan saja. Sedang perbuatan yang demikian bertentangan dengan kebenaran. Dan apalagi dengan pancaran kasih Penciptanya. Karena itu, seakan-akan ada suatu keyakinan di dalam hati, bahwa akan datang saatnya orang itu harus menyerah kepada hukum keadilan. Hukum yang tertinggi yang tidak dibuat oleh tangan manusia.”

Demikianlah, malam itu dilampaui dengan selamat. Tidak ada perapian, tidak ada pembicaraan. Mereka makan sekedar bekal yang mereka bawa. Dan di malam yang sepi itu ayah Rudita sempat mencoba menangkap keadaan anaknya.

Seperti yang pernah dilakukan, maka ternyata bahwa ternyata isyarat yang ditangkapnya, Rudita masih tetap selamat. Dan ia masih berharap, bahwa orang yang mengambil Rudita itu bukan orang yang pernah menyebut diri Panembahan Panjer Bumi. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Seandainya Panembahan Agung juga Panembahan Panjer Bumi, maka ia mengharap agar orang itu tidak mengetahui, bahwa Rudita adalah anaknya. Sebab dengan demikian, ia akan dapat menutup setiap usahanya untuk mengadakan sentuhan dengan anaknya itu di dalam getaran pribadinya.

Dalam pada itu, ketika fajar mulai mewarnai langit, Sutawijaya sudah mulai bersiap dengan seluruh pasukannya. Menjelang matahari terbit, maka pasukan berkuda itu pun mulai maju dan menyusuri daerah terbuka seperti yang dilalui oleh pasukan pengawal dari Menoreh.

Apalagi ketika kemudian matahari mulai terbit dan warna merah di langit pun seakan-akan mulai menyibak. Maka jejak kaki kuda yang mendahului pasukan pengawal dari Mataram itu menjadi tampak semakin jelas.

“Kita harus segera menyusul mereka, sebelum terjadi sesuatu,” desis Sutawilaya, “supaya kita sempat mengadakan pembicaraan lebih jauh.”

Ternyata bahwa Ki Argapati memang menunggunya. Karena itu, maka seperti yang direncanakan, kedua pasukan itu pun dapat bertemu.

Dengan singkat Ki Argapati mengatakan kepada Kiai Gringsing, bahwa usaha ayah Rudita untuk mengetahui serba sedikit tentang anaknya sudah berhasil. Tetapi sudah barang tentu apa yang berada di rentangan jarak antara ayah Rudita itu dengan anaknya tidak diketahuinya. Mungkin pasukan segelar sepapan. Mungkin tebing yang curam dan tinggi. Mungkin padang rumput yang penuh dengan ular berbisa, dan masih banyak lagi kemungkinan yang dapat terjadi.

“Apakah Rudita ada di sarang Daksina?” bertanya Raden Sutawijaya

“Masih belum aku ketahui, Raden,” jawab ayah Rudita, “aku hanya berhasil mengetahui bahwa Rudita masih hidup. Hanya itu. Dan sedikit petunjuk tentang arahnya. Selain itu gelap.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu, “Tetapi menurut perhitungan nalarku, bukan ilmu peraba seperti ilmu yang kau miliki itu. Daksina tentu tidak berada jauh dari tempat ini. Ia berani menjebak pasukanku di daerah terbuka itu. Tentu ia mempunyai suatu keyakinan tentang medan, selain pasukannya. Karena itu maka aku yakin, bahwa Daksina telah mengenal tempat ini dengan baik, dan itu berarti ia berada tidak jauh dari tempat ini. Kecuali jika ia sedang berada di Pajang.

“Perhitungan itu sesuai,” sahut Pandan Wangi, “aku juga berpendapat demikian.”

“Perhitungan nalarku pun dapat mengerti, bahwa kita sudah dekat dengan sarang orang-orang bersenjata itu,” sahut ayah Rudita, “bahkan kurang sesuai dengan sentuhan ilmuku. Menurut penglihatanku, Rudita masih berada di tempat yang agak jauh. Jika Rudita berada di sarang orang yang bernama Daksina itu, maka ia pun pasti berada di tempat yang tidak terlampau jauh. Sehingga dengan demikian maka ada dua kemungkinan. Kita salah hitung tentang sarang Daksina, atau Rudita memang tidak ada di sarang itu, tetapi di tempat yang lain.”

“Masih ada satu kemungkinan lagi,” berkata Sutawijaya.

“Apa Raden?”

“Dugaanmu tentang Rudita menurut sentuhan ilmumu itu keliru.”

Ayah Rudita mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-angguk. Katanya, “Itu pun mungkin sekali, Raden. Mungkin aku salah mengurai isyarat yang aku terima dari Rudita tanpa sesadarnya itu.”

“Nah, jika demikian, marilah kita segera menentukan sikap. Apakah yang sebaiknya kita lakukan?”

“Untuk sementara kita belum dapat berbuat apa-apa. Kita maju beberapa patok lagi. Kemudian kita akan menilai keadaan dan jika perlu mengirimkan pengawas untuk melihat-lihat suasana,” jawab Ki Gede Menoreh.

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Sebaiknya sejak kini dua orang pengawas akan mendahului kita. Kemudian dua lagi mengiringinya. Jika mereka melihat sesuatu yang mencurigakan maka mereka harus memberikan isyarat.”

Demikianlah, maka kedua pasukan nengawal itu menunjuk empat orang yang akan mendahului perjalanan mereka. Dua orang yang terdepan adalah seorang dari Mataram dan seorang dari Menoreh yang dianggap sedikit banyak mengetahui daerah yang terasing itu. Sedang kedua orang berikutnya pun terdiri dari pengawas Mataram dan Menoreh.

Keempat orang itu berjalan kaki mendahului pasukan mereka. Sedang kuda-kuda mereka berada di dalam iring-iringan pasukan pengawal di belakang mereka.

Setelah beberapa patok mereka maju, mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Daerah itu tampaknya sebagai suatu daerah yang tidak pernah disentuh kaki.

“Tetapi rasa-rasanya ada penghuni di daerah sekitar tempat ini,” desis pengawal dari Menoreh yang berjalan di paling depan.

“Kenapa?” bertanya yang lain.

“Sekedar firasat. Tetapi aku melihat jalur jalan di lereng bukit itu.”

“Ya. Tetapi tidak ke jurusan ini.”

“Memang sulit untuk sampai ke jalur jalan kecil itu. Tetapi kita harus mencapainya.”

“Tentu tidak mungkin bagi mereka yang berkuda.”

“Kita akan melihatnya.”

Kedua orang itu pun kemudian maju lebih jauh lagi diikuti oleh kedua yang lain. Ternyata bahwa jalan memang semakin lama semakin sulit, sehingga setiap kali mereka harus berhenti dan menilai, apakah jalan itu masih dapat dilalui kuda.

“Kuda-kuda itu memang harus ditinggalkan di sini,” berkata yang seorang.

“Tidak,” jawab yang lain, “biarlah pasukan itu berhenti di sini. Kita akan menyelidiki lebih jauh.”

Kawannya berpikir sejenak, lalu, “Baik. Itu pikiran yang baik. Biarlah kedua pengawas di belakang kita itu berhenti memberitahukan kepada Ki Argapati dan Raden Sutawijaya.”

“Biarlah keduanya pergi di belakang kita. Jika terjadi sesuatu atas kita, mereka dapat menyampaikan laporan. Sementara kita dapat memberikan tanda dan isyarat agar pasukan itu berhenti.”

Demikianlah maka, kedua orang pengawas di paling depan itu pun kemudian memberikan isyarat agar pasukan di belakang mereka itu pun berhenti. Tetapi kedua pengawas itu masih memerlukan kedua pengawas yang mengikuti mereka, sehingga sejenak mereka masih harus menunggu dan berbicara di antara mereka berempat.

“Kami membawa panah sendaren,” berkata pengawas dari Mataram.

“Kita mungkin memerlukannya jika perlu. Tetapi suara panah sendaren segera menarik perhatian. Dan isyarat dengan panah sendaren kadang-kadang langsung memberikan isyarat kepada lawan sekaligus.”

“Apa salahnya jika mereka memang sudah melihat kita. Kita dapat melontarkan panah sendaren ke arah yang tidak tepat, sehingga meskipun suaranya dapat ditangkap oleh kawan-kawan kita, tetapi arah panah itu tidak memberikan petunjuk kepada lawan di mana pasukan kita yang sebenarnya.”

“Ya. Kita akan mempergunakannya,” sahut yang lain, “yang penting, kita harus dapat mencapai jalur jalan yang menuju ke Utara di lereng sebelah itu. Aku menduga bahwa ada padukuhan yang berpenghuni.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Daerah ini benar-benar daerah terpisah dari Tanah Perdikan Menoreh, karena hubungan yang dilakukan oleh orang-orang di lereng pegunungan itu adalah dengan daerah di seberang pebukitan.

“Daerah itu dilingkari oleh hutan yang lebat, dibatasi oleh pegunungan dan sangat terpencil,” berkata salah seorang pengawas dari Mataram. “Aku tidak tahu kenapa seseorang membangun padukuhan atau padepokan di tempat yang sangat terasing ini.”

Yang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Namun ternyata yang seorang berdesis, “Memang sulit diduga. Tetapi aku kira, mereka sengaja mengasingkan diri untuk mematangkan ilmu mereka. Baru kemudian mereka akan turun dari padepokan ini untuk melakukan rencananya. Tentu sebuah rencana yang besar.”

“Memang mungkin. Tetapi sebaiknya kita melihatnya. Apakah padepokan itu sudah sudah cukup lama berada di tempat itu, atau sekedar sebagai tempat persembunyian, atau katakan sebagai alas perjuangan mereka.”

Demikianlah, maka para pengawas itu pun mulai maju lagi melalui jalan yang sulit. Tebing yang curam dan kadang-kadang rumpil.

“Kita tentu salah jalan,” berkata salah seorang pengawas itu, “jika Daksina dapat membawa pasukan lewat jalan ini, kita tentu akan dapat menemukan bekas kaki mereka.”

“O, alangkah bodohnya kita. Kenapa kita tidak mencari jejak mereka saja?”

“Dan kembali lagi sampai ke tempat terbuka itu?”

Kawannya terdiam. Namun kini mereka mulai tertarik kepada setiap kemungkinan untuk menemukan jejak kaki seseorang atau sekelompok orang.

Tetapi usaha itu tidak segera berhasil. Mereka tidak segera menemukan jejak kaki seseorang.

Namun tiba-tiba salah seorang dari kedua pengawas yang berada di paling depan itu tertegun sejenak. Diamatinya tebing yang ada di sampingnya. Lalu katanya, “Kau lihat batu-batu kerikil bercampur padas itu?”

“Ya, kenapa?”

“Seakan-akan meluncur dari atas tebing itu.”

“Ya.”

“Mungkin ada sentuhan kaki di atas batu-batu padas itu, sehingga batu-batu kerikil dan batu-batu padas itu meluncur turun meskipun tidak begitu banyak.”

“Mungkin angin, mungkin binatang liar. Tetapi kita dapat mencoba. Kita memanjat tebing itu dan melihat apakah ada jejak di atas.”

Keduanya pun kemudian memanjat tebing yang agak terjal, sehingga untuk beberapa saat mereka seolah-olah berada di tempat terbuka melekat pada lereng pegunungan. Kedua pengawas yang berada di belakang mereka dapat melihat keduanya dengan jelas.

“Kita tunggu sehingga keduanya hilang,” desis salah seorang pengawas yang berada di belakang mereka. “Barulah kemudian kita memanjat.”

Namun di luar pengetahuan mereka, sepasang mata tengah memandang kedua pengawas yang sedang memanjat itu. Ketika keduanya sudah berada hampir di bibir lereng itu, maka orang itu pun bergeser beberapa langkah. Kemudian ia meloncat berdiri sambil meraih anak panah dari endongnya dan melekatkannya pada tali busurnya.

Perlahan-lahan ia menarik tali busur itu. Pengawas yang sedang memanjat itu merupakan sasaran yang baik, meskipun keduanya selalu bergerak-gerak tidak menentu.

Sejenak orang itu masih membidik. Tetapi rasa-rasanya masih saja terganggu oleh dedaunan yang bergerak disentuh angin. Karena itu maka ia bergeser maju lagi. Ia tidak perlu lagi bersembunyi karena sasarannya sedang memanjat tebing, sehingga mereka tidak akan dapat memberikan perlawanan.

Tetapi sekali-sekali ia masih saja mengumpat, karena kedua orang itu seakan-akan tidak mau juga diam. Mereka merayap dan kadang-kadang bergeser ke samping.

Namun kemudian busur itu pun semakin merenggang. Dan sesaat kemudian sebuah anak panah telah meluncur dengan derasnya.

Yang terdengar kemudian adalah, sebuah keluh tertahan. Anak panah itu ternyata telah mengenai sasarannya, meskipun tidak tepat di punggung, karena justru ketika anak panah itu meluncur maka sasarannya telah bergerak ke samping. Meskipun demikian, anak panah itu ternyata telah menancap pada lengan tangan kanannya

Pengawas itu kehilangan keseimbangan. Sejenak ia masih bertahan. Namun kemudian perlahan-lahan ia meluncur turun.

Bahwa anak panah itu tidak tepat mengenai punggung dan langsung membunuhnya, orang yang melepaskannya itu pun menggeram. Tangannya sekali lagi mencabut anak panah dari endongnya dan sejenak kemudian anak panah itu pun sudah melekat di tali busurnya. Yang kemudian akan menjadi sasarannya adalah justru pengawas yang seorang lagi, yang karena kawannya telah meluncur turun, ia pun berusaha untuk meluncur pula, karena ia pun mengira bahwa orang yang melontarkan anak panah itu tentu sedang membidiknya pula.

Tetapi sementara itu, selagi kedua pengawas yang terdahulu dicengkam oleh kecemasan, maka kedua pengawas yang berada di belakang mereka, dan yang sedang mengamati bagaimana keduanya memanjat, tebing itu pun terkejut bukan buatan. Mereka juga melihat anak panah itu menancap di lengan kawannya. Dan mereka melihat kawannya itu kesakitan dan meluncur turun disusul oleh yang seorang lagi.

Naluri keprajuritan mereka segera menggerakkan mereka. Yang seorang memang membawa busur dan anak panah meskipun terutama akan dipergunakan untuk memberikan isyarat. Tetapi agaknya kini busur itu harus dipergunakan untuk kepentingan yang lain.

Dengan cepatnya tangannya meraih sebatang anak panah dan sejenak kemudian anak panah itu telah siap diluncurkan.

Demikianlah, maka mereka tidak terlampau sulit mencari sasarannya. Ternyata orang yang melepaskan anak panah itu kini berdiri tegak dengan tali busur yang renggang. Ia masih berusaha membidik kedua pengawas yang berusaha bersembunyi di balik dedaunan yang hanya beberapa lembar di lereng pegunungan.

“Tidak ada tempat untuk bersembunyi,” orang itu masih sempat menggeram. Kini tangannya menarik tali busurnya semakin renggang.

Kedua pengawas yang menjadi sasaran itu pun telah melihat lawannya yang berdiri di atas tebing di sebelah pepohonan. Tetapi mereka tidak mendapat tempat yang baik untuk bersembunyi. Yang ada hanya batang-batang perdu yang tipis. Apalagi mereka sudah tidak dapat meluncur lebih jauh lagi. Jika mereka berusaha untuk turun lagi, maka mereka akan berada di tempat yang terbuka sama sekali meskipun di bawah tebing itu mereka akan menemukan gerumbul-gerumbul yang agak rimbun.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa. Orang yang menarik busur itu membidik sambil berkata, “Kali ini aku akan mengenai lehermu. Bukan sekedar tanganmu. Aku terlalu tergesa-gesa, sehingga bidikanku yang pertama meleset. Dan itu tidak pernah terjadi.”

Pengawas yang seorang, yang tidak terluka oleh anak panah itu pun segera menarik pedangnya. Tidak ada cara lain daripada berusaha menangkis anak panah itu apabila mungkin.

“Jangan gila. Jangan mencoba menangkis anak panahku. Seandainya yang pertama kau berhasil, namun anak panahku kemudian akan datang beruntun seperti hujan. Dan kalian berdua tentu segera mati terbunuh.”

Kedua pengawas itu tidak menjawab. Yang seorang masih saja menyeringai menahan sakit, sedang yang lain bersiap untuk mencoba melakukan perlawanan.

Namun dalam pada itu, karena perhatian orang yang memegang busur itu tertuju kepada kedua pengawas yang seakan-akan sudah tidak akan dapat lari lagi dari maut itu, maka ia sama sekali tidak menduga, bahwa sebuah anak panah yang lain sedang dibidikkan ke arahnya.

Demikianlah, maka sejenak kemudian suasana dicengkam oleh ketegangan. Ketika orang yang berada di atas tebing di sebelah itu benar-benar ingin melepaskan anak panahnya, tiba-tiba saja terdengar ia memekik keras-keras. Tubuhnya menjadi gemetar, dan anak panah di tangannya pun lepas tanpa menyentuh sasarannya. Bahkan kemudian para pengawas yang merasa sudah tidak akan dapat melepaskan diri dari maut itu melihat sebuah anak panah menancap di dada orang itu.

“Curang, curang,” orang itu masih berteriak, “ada orang lain yang ikut campur.”

Sama sekali tidak ada jawaban. Tetapi keemnat pengawas itu melihat orang itu terhuyung-huyung dan kemudian jatuh terjerembab tepat di pinggir tebing pegunungan, sehingga tubuhnya itu pun kemudian meluncur turun beberapa langkah dan terhenti karena menyangkut pohon-pohon perdu di lereng pegunungan itu.

Barulah kemudian kedua pengawas yang hampir saja disentuh oleh maut itu menyadari, bahwa seorang kawannya tidak saja membawa busur dan anak panah sendaren. Tetapi di dalam endongnya terdapat juga anak panah yang lain, yang kemudian ternyata telah menyelamatkannya.

Sejenak mereka termangu-mangu. Namun sejenak kemudian mereka pun menyadari, bahwa agaknya mereka telah masuk ke dalam daerah pengawasan lawan.

Karena itu, maka yang pertama-tama mereka lakukan, bukannya melepaskan anak panah yang menancap di lengan. Tetapi orang yang kesakitan itu ternyata masih mampu berpikir bening, sehingga sambil menyeringai ia berkata, “Kita turun. Mungkin ada orang lain yang akan membidik kita di sini.”

Demikianlah keduanya pun kemudian meluncur turun. Untunglah bahwa mereka sempat mencapai tempat yang ditumbuhi oleh pepohonan yang rimbun, karena pada saat yang bersamaan, seorang yang mendengar orang yang memanah pengawas dari Mataram itu mengaduh, segera berlari mendekatinya.

Dari tempat yang tersembunyi, keempat orang yang mendahului pasukan dari Mataram dan Menoreh itu melihat seseorang yang agaknya sedang mencari kawannya. Sejenak ia termangu-mangu, namun sejenak kemudian ia mendengar kawannya itu menggeram di tebing pegunungan dan tersangkut pada pohon-pohon perdu.

“He, kenapa kau?” ia bertanya.

Tetapi tidak ada jawaban selain erang kesakitan.

“Apakah kau terjerumus?”

Masih tidak ada jawaban.

Namun agaknya orang itu pun kemudian melihat darah. Ketika orang yang terluka itu menggeliat, tampaklah di dadanya masih terbenam sebuah anak panah.

Orang itu terkejut bukan kepalang. Dengan wajah yang tegang ia berdiri memandang berkeliling. Namun dengan demikian ia menjadi sasaran yang pasti bagi pengawas dari Mataram itu.

Sesaat kemudian ketika orang itu mulai menyadari bahwa ia berada dalam bahaya dan bergerak surut, maka sekali lagi terdengar sebuah pekik kesakitan. Namun kini orang itu dengan sadar telah memberikan isyarat kepada kawannya. Bahkan ketika ia mulai terhuyung-huyuung dan menghilang di pepohonan, masih terdengar ia bersuit nyaring meskipun anak panah telah menembus dadanya.

“Sekarang, kitalah yang harus melarikan diri,” desis pengawal dari Mataram itu, “mereka akan segera berdatangan dan mengepung kita.”

“Marilah. Kita harus segera memberikan laporan.”

“Tetapi anak panah ini?”

Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian mereka pun berusaha mencabut anak panah itu.

Pengawal yang terluka itu mengatupkan giginya rapat-rapat untuk menahan sakit. Namun ia masih juga mengaduh tertahan. Rasa-rasanya sakit di lengannya itu menjalar sampai keubun-ubunnya.

Dengan dibalut ikat kepala, maka mereka pun kemudian berusaha menahan darah yang mengalir dari luka itu. Sementara itu maka mereka pun berusaha untuk menarik diri dan kembali kepada induk pasukan mereka.

Sambil menyeringai kesakitan, ditolong oleh kawan-kawannya, maka pengawas yang terluka itu menyingkir dari daerah yang berbahaya.

Dalam pada itu, ternyata isyarat yang dipekikkan oleh pengawas yang dadanya tertembus anak panah itu pun telah didengar oleh beberapa orang. Dengan tergesa-gesa mereka pun segera berlari-larian mendapatkannya.

Dengan nafas yang terengah-engah pengawas yang terluka itu masih sempat mengatakan apa yang terjadi dan apa yang dilihatnya di tebing, bahwa seorang kawannya terbaring dan terluka tersangkut pada pepohonan perdu.

“Siapakah yang telah melukaimu?” bertanya salah seorang dari mereka.

Pengawas yang terluka itu menggeleng. Suaranya menjadi semakin lambat, “Aku tidak tahu.”

Kawan-kawannya menjadi termangu-mangu sejenak. Lalu, “Cepat, bawa orang ini menghadap ke padepokan. Mudah-mudahan ia masih sempat diobati.”

“Tentu orang Mataram yang kita temui di tempat terbuka dan yang telah gagal kita jebak itu. Mereka tentu datang kembali dengan pasukan yang lebih besar seperti yang kita duga.”

“Kita sudah menyiapkan jebakan yang lebih baik. Cepat bawa orang ini ke padepokan sekaligus melaporkan apa yang terjadi. Kita akan mengambil kawan kita yang tersangkut di lereng itu.”

Dua orang di antara mereka telah membawa kawan mereka yang terluka itu, sedang yang lain pun kemudian pergi ke tebing sebelah.

“Lindungi kami,” desis salah seorang dari mereka, “kami akan mencoba mengambilnya.”

Demikianlah, beberapa orang berdiri berderet di atas tebing dengan anak panah yang siap pada tali busur, sementara dua orang yang lain dengan hati-hati menuruni tebing untuk mengambil kawannya yang tersangkut di pohon perdu.

Namun ketika mereka meraba orang itu, ternyata orang itu sudah tidak bernyawa lagi.

“Ia sudah mati,” desis salah seorang dari keduanya.

“Gila,” geram yang lain, “pembunuhan yang tidak dapat dimaafkan. Marilah kita bawa naik dan kita bawa kembali ke padepokan. Kita memang harus sudah siap menghadapi segala kemungkinan.”

Demikianlah, maka mayat itu pun segera dibawa kembali ke padepokan. Sementara itu, penjagaan di lereng pebukitan itu justru diperketat.

“Sudah kita duga, mereka akan menempuh jalan ini. Kita sudah siap menyambut mereka. Dan kita akan menghancurkan mereka sebelum mereka sampai di pintu padepokan.”

“Tetapi yang datang tentu bukan sekedar lima belas orang.”

“Mungkin tiga puluh. Bahkan lima puluh orang pun akan kami persilahkan.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Yang dikatakan itu agaknya memang tidak berlebih-lebihan. Beberapa orang yang tersebar di beberapa tempat untuk kepentingan yang sama, menahan perkembangan Mataram, telah ditarik. Apalagi di antara mereka terdapat beberapa orang yang datang dari Pajang. Orang-orang yang sependapat dengan Daksina. Bahkan ada di antara mereka adalah prajurit-prajurit seperti Daksina sendiri.

“Kita memang sudah siap,” desisnya kemudian, “prajurit-prajurit yang lepas dari kesatuannya itu pun merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan oleh orang-orang Mataram.”

Tetapi seorang yang bertubuh kecil kekurus-kurusan mencibirkan bibirnya sambil berkata, “Kita tidak memerlukan mereka sekarang. Bahkan mereka akan mendatangkan kesulitan saja pada kita. Lihat, apakah rencananya menjebak Sutawijaya itu berhasil? kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Kita telah kehilangan beberapa orang kawan kita.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Apalagi apabila prajurit-prajurit yang meninggalkan kesatuannya itu sempat menimbulkan kecurigaan di antara mereka sendiri. Maka Pajang pun tentu tidak hanya akan tinggal diam. Ia sudah kehilangan seorang perwira. Beberapa orang prajurit. Maka kecurigaan itu akan memaksa Pajang meneliti seorang demi seorang. Nah, kau tahu, bahwa hal itu sangat merugikan.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Lalu, “Tetapi tanpa mereka kita tidak cukup kuat. Apalagi jika benar-benar terjadi usaha yang besar itu.”

“Sst,” desis yang lain, “jangan didengar oleh anak-anak liar itu. Mereka tidak akan dapat menahan rahasia jika mereka terbentur pada kesulitan.”

Kawannya mangangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya beberapa orang pengawas yang ada di sekitarnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak banyak mengerti tentang dirinya. Kenapa mereka berada di dalam lingkungan yang tersembunyi itu. Mereka tidak menyadari, apakah sebenarnya yang sedang mereka lakukan. Yang mereka inginkan hanyalah kemungkinan yang jauh lebih baik bagi hari-hari depan mereka tanpa mengetahui alasan dan tindakan yang sekarang ini mereka perbuat.

“Tetapi,” berkata salah seorang dari mereka, “usaha untuk menyingkirkan kekuasaan Pajang sekarang ini memerlukan mereka. Memerlukan prajurit-prajurit dan perwira-perwira Pajang itu sendiri.”

“Tetapi tidak sekarang. Tidak dalam keadaan seperti ini. Dan bagi kita, mereka hanya kita perlukan untuk sementara.”

Kawannya tertawa kecil. Sambil memandang orang yang berkeliaran di sekitarnya ia berkata, “Bukan hanya kita berpendapat demikian. Orang terpenting di Pajang yang tentu ada, meskipun kita sendiri belum mengetahuinya, tentu berpendapat, bahwa kita pun hanya mereka perlukan untuk sementara. Dengan demikian, kita saling menyadari, bahwa pada saatnya kita akan menentukan, siapakah yang lebih besar pengaruhnya.”

Beberapa orang yang termasuk orang-orang penting di dalam lingkungan sebuah gerombolan yang besar, yang selalu membayangi perkembangan Mataram itu pun terdiam, ketika mereka melihat sekelompok orang mendekati mereka.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 6 Desember 2008 at 00:00  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-73/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. “hmmm.. tampaknya hutan ini masih benar-benar sepi. biarlah aku yang mulai terlebih dahulu. sehingga dapat memilih lokasi yang paling baik di antara lebatnya alas 73 ini,” kata Sukra.

    sejenak kemudian

    “ngaso dulu ah..”

  2. Lho….ingkang dumugi nembe Kang Sukra tho …?
    Wah bisa milih kapling yang cocok nich..habis tak bersihkan…nusul leyeh-leyeh, ngaso sama Kang Sukro.
    Ki GeDe kawula sampun bersihkan lahan dan pilih kapling di alas 73 dan absen no 2

  3. Kula absen no 3 Ki GD

  4. Ki KontosWedul kemudian datang juga di tempat yang masih banyak perdu2nya tersebut. Namun alangkah terkejutnya dia ketika melihat disana ternyata sudah ada 3 orang cantrik yang sudah datang terlebih dahulu.

    Akhirnya Ki KontosWedul yang mumpuni itupun ikut duduk bersama ketiga cantrik tersebut untuk menunggu regol di depan rumah ki Gede

    xixixi 😀

  5. numpang buka lapak disini juga Ki Gede…

  6. Absen Ki Gede

  7. Masih ada yang lebih pagi toh… Ikut antri ah…

  8. hmm…sungguh tak disangka-sangka, ternyata sudah banyak cantrik yg membantu ki DD membabat kapling 73…
    syukurlah akhirnya kapling yg wingit ini bisa dibuka juga…

  9. Lha ini baru mantep ..
    Aku ikut anrti Ki DD,lumayan dapet no 8.

    Maturnuwun

  10. antri juga ahhhhh

  11. “Wah Dimas Sukra tumben sudah sampai duluan, mengalahkan Ki Maswal dan Ki Pandanalas selaku kuncen lapak,.. hehehehe…”

  12. Selama ini aku ndak pernah absen, maaf ki

    salam
    Galib

  13. Ternyata racun itu tidak hanya bersarang di tubuh ki Gede, tapi telah menular kepada seluruh warga pedukuhan ini. Reaksi keras dari racun itu adalah sifat kecanduan setiap orang untuk ditambah dengan masukan2 baru dari jenis2 racun yang bernomor urut. Semakin tinggi nomor racun ternyata semakin tinggi kadar adictifnya.
    Hati2 ki sanak, yang belum kecanduan sebaiknya menghindarkan diri atau mencobanya sekalian.
    Ki Truno Podang

  14. Wah… jebulnya sdh bisa dibabat alas ini, minta ijin Ki GD… aku mbabat bagian wingit ini utk tanam jagung

  15. Wah,
    ada Ki Putut Nantang Nasi

  16. Ikutan absen Ki Gede

  17. ngantri girik ke Gede.
    sambil leyeh2

  18. “hooooooaaammmm….” (buka mulut lebar-lebar kayak kuda nil) maksude lagi angop…. “NGANTUK”… “numpang tidur aaahhh”

  19. Sepi… apakah para penyamun masih bersembunyi di sekitaran alas mentaok ? Ataukah orang-orang asing yang belum jelas sering menjegal para pendatang untuk meramaikan alas mentaok ini ???

    # mungkin URL nya harus seperti yang telah kita edit ya Ki Harry. 🙂

  20. Sambil ngantri, saya mau kasih komentar ama yang namanya Ki Kontos wedul. Gawe jeneng kok aneh-aneh.. he.. he..
    Ayo ki gede… udah nggak kukuh nih..

  21. aku ngikut ngambil jatah deh …

  22. MENYAMBUNG KOMENTAR CANTRIK ALPHONSE

    DITAWARKAN NAMA-NAMA cantik GRATISSSSS……

    Maaf tidak bermaksud………… stresssss nunggu ransum 73 kadit utem-utem. yok opo cak…….

  23. Den Ronggo… kok ngeres????

  24. Rudita mengendap-endap kesebuah rumah yang tampak terlihat ada kesibukan dimalam hari. Suasana nya begitu hingar bingar dan terang benderang. Ia mengamati suasana didalam rumah itu dari celah sebuah jendela yang tidak tertutup rapat. Terlihat ada kesibukan disana.

    “Kita harus segera menyelesaikannya malam ini” terdengar suara dari sebuah ruangan.

    “Tinggal tiga halaman terakhir Ki Gede” terdengar suara yang lainnya menjawab.

    “Jangan lupa diperiksa kembali formatnya agar pada saat upload tidak mengalami kendala seperti edisi 72 kemarin” jawab suara yang dipanggil sebagai Ki Gede itu.

    “Siap komandan” jawab suara yang lain menimpali.

    Rudita lalu bergeser kearah suara dimana Ki Gede sebagai komandan berada. Tanpa menimbulkan suara, ia merunduk dibawah jendela satu ke jendela lainnya.

    “Perlahan Kisanak ” tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya.

    Rudita kaget bukan kepalang. Keringat dingin bercucuran seiring airmata yang mulai mengambang di pelupuk matanya. Nyalinya seakan hilang begitu saja.

    “Jangan tergesa-gesa” bisik orang itu. “Kau lihat bayangan yang bergerak-gerak dibalik pagar itu” sambil menunjuk pada gerumbulan perdu diluar pagar. “Ada lebih 20 orang cantrik yang sedang menunggu selesainya proses scanning didalam rumah ini.

    “Lalu kau sendiri siapa?” tanya Rudita memberanikan diri berkata.

    “Aku Dimas Sukra yang menjaga rumah ini” jawab orang itu pula. “Tunggulah engkau disana. Aku kan memberikan tanda isyarat bila pekerjaan didalam rumah telah selesai” jawabnya sambil membuka pintu dan masuk kedalam rumah.

    GD: Gimana perkembangan pasukan bogor, Ki Aul?

  25. ketoke alas 73 iki jaluk disarati ….jaluk dibelehno wedus gibas sing sungune loro-lorone kudu di potong…nanti kontosnya harus ditanam dekat pohon mentaok yang paling gede..sarat lain wedus tersebut tidak boleh disunat nanti kalau disunat bukan kontos wedul lagi namanya…

  26. Sebenernya ini juga yang dikawatirkan. Dengan alasan apapun, jangan sampai nama seseorang dibahas di sini. Itu termasuk wilayah SARA.
    Bagi sebagian orang mungkin enak saja, gak ada masalah. Tapi bagi yang berkuping priyayi seperti saya (hehehe) .. ya agak gerah. Maap ya Ki ..
    … ah akhirnya .. datang juga.
    Makasih Ki Gedhe.

  27. wah.. kitab 73nya kok tersamar

    btw
    matur nuwun

  28. Cool….

    tengkyu KI GEDE….

  29. Dahsyat hampir terkecoh…
    Bravo tuk Ki Gede

  30. Lha dalah…..
    Ki DD sekarang sukanya main tebak2an.
    Setelah celingukan ,cari2 dimana gerangan kitab 73 di sembunyikan.
    Ternyata INI yang dimaksud.

    Maju terus ABDM.

  31. Lapor Komandan,..

    Kami masih menunggu khabar dari Ki Ony mengenai kepastian atas kitab-kitab yang telah didapatkannya.

    Untuk proses scanning nanti akan dibantu oleh Ki Dewo dan Ki Alphonse.

    Saat ini saya sedang berusaha mencari Kitab Jilid III yang konon berada di sebuah lapak di Bogor.

    Demikian Ki, sekilas info dari saya,

    Salam, Aulianda

    GD: tolong sekalian dicek apkh jilid 07 seri II genap. Koleksi Ki Prasidi hilang hal 7, 78, 79.

  32. Matahari benar-benar tidak mampu menembus gelapnya awan di atas kapling hutan 73, sementara di tlatah kapling 73 sendiri angin kencang disertai hujan lebat menhajar sebuah gubug yang menaungi seorang bocah yang menggigil kedinginan.
    ‘Duhai eyang panembahan, mohon ampun cucunda tidak mengindahkan kata-kata eyang, cucunda terlalu laju mengejar binatang buruan di hutan 73, padahal hasil buruan di hutan 71 dan 72 sudah didapat, sekarang cucunda hendak balik langkah dulu kembali ke hutan 71 – 72 sebagaimana saran eyang, nikmati apa yang sudah didapat, jangan ingin lebih, nanti yang didapat tidak terasa nikmatnya jar.’ ucap bocah kemaruk itu dalam hati.
    Tiba-tiba kilat menyambar, kencang memekakkan telinga, sehingga kuping bocah itu selanjutnya mudah mendengar suara yang bagaimanapun kecilnya, sebagaimana suara angin lembut di ujung dentuman kilat yang membisikkan ‘Engkau tidak salah cucuku, hanya belum pengalaman saja, pulanglah ke hutan 71 -72, nikmati yang telah kau peroleh, hingga saatnya nikmat itu habis, eyang akan berikan hasil buruan di hutan 73 ini.’
    Bocah itupun melangkah keluar dari gubug, tidak peduli hujan petir masih melanda di hutan 73 karena yakin atas nikmat yang segera diperoleh di hutan 71 – 72. Sambil tersaruk-saruk melangkah si bocah berbisik dalam hati ‘Bagaimanapun juga, akan tiba saatnya lontar 73 kudapat sebagaimana janji eyang melalui bisik angin’

  33. ASyik…………
    duet Ki Waskita dan Ki Sumangkar akan segera menggoyang ereng2 perbukitan Menoreh.
    Pengendange Raden Sutawijaya dan Swandaru.
    Lha Pandan Wangi njoGet pora ra….?????

    • hora melu njoget, ladi kedatangan mBULAN…..hiKss,

      • mBulan Zamilah….???????

      • mBULANe kira2 kayak APA yaaa…..!!??

        sampe2 Pandan Wangi, hora gelem mingket leh lungguh
        ning sebelah ki Gun…..hayo di TEBAK….. >>>>>….???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: