Buku 73

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia berpikir, lalu katanya, “Ki Gede, bagaimana jika kita membagi pasukan. Bagaimana jika Ki Gede berangkat dahulu. Dengan demikian, maka apabila ada kesempatan Ki Gede dapat segera bertindak, Tetapi jika keadaan tidak memungkinkan Ki Gede dapat menunggu kedatanganku bersama pasukanku. Aku berharap, bahwa hari ini mereka akan sampai. Mereka akan menuju ke induk tanah perdikan ini dengan tanda-tanda damai dari Mataram, agar tidak menimbulkan salah paham dengan para pengawal Menoreh, apabila mereka belum sempat mendengar berita tentang kedatangan pasukan pengawal dari Mataram itu, yang sebenarnya aku harap pagi ini dapat diberitahukan kepada pengawal di sepanjang Kali Praga.”

Pendapat Sutawijaya itu agaknya merupakan jalan tengah yang baik. Sejenak Ki Gede Menoreh memandang ayah Rudita yang kecemasan.

“Ki Gede,” berkata ayah Rudita, “pendapat Raden Sutawijaya itu adalah pendapat yang baik. Kita berangkat lebih dahulu. Sementara itu kita berjanji untuk bertemu di tempat yang kita tentukan.”

Ki Argapati ternyata sependapat. Katanya, “Baiklah. Kami akan berangkat lebih dahulu Raden. Kami akan mencoba mendekati tempat yang pernah Raden kunjungi bersama Pandan Wangi itu. Namun kami pun tidak akan dapat sampai sebelum kami mengirimkan satu dua orang untuk mengamati keadaan. Tetapi sementara itu, kami sudah berada di dekat tempat itu.”

“Baiklah. Biarlah kami segera menyusul,” Raden Sutawijaya berhenti sejenak, lalu, “tetapi jika diperkenankan, biarlah Agung Sedayu dan Swandaru pergi bersamaku, sementara Pandan Wangi dan Prastawa akan dapat menjadi penunjuk jalan bagi Ki Gede.”

Ki Gede Menoreh memandang kedua anak-anak muda Sangkal Putung itu sejenak, kemudian dipandanginya Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang Sangkal Putung.

“Biarlah ia pergi bersama Raden Sutawijaya,” berkata Kiai Gringsing, “tetapi untuk melepaskan anak-anak itu pergi tanpa pengawasan agaknya meragukan juga. Karena itu, kita yang tua-tua pun sebaiknya membagi tugas. Biarlah Adi Sumangkar pergi bersama Ki Gede, sedang aku dan Ki Demang akan menyusul bersama Raden Sutawijaya.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia pun sadar, bahwa yang akan mereka amati bukannya sekedar orang kebanyakan.

Dengan demikian maka mereka pun bersepakat untuk membagi pasukan mereka menjadi dua kelompok. Pasukan Mataram di bawah pimpinan Sutawijaya akan berangkat kemudian, bersama dengan Agung Sedayu dan Swandaru disertai oleh Kiai Gringsing dan Ki Demang Sangkal Putung yang tidak sampai hati melepaskan Swandaru pergi, meskipun sebenarnya bahaya yang akan dihadapi akan menjadi lebih besar bagi Ki Demang daripada Swandaru sendiri apabila mereka benar-benar berhasil, menemukan sarang orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung itu.

Dalam pada itu kelompok yang lain, yang terdiri dari pengawal terpilih Tanah Perdikan Menoreh mendahului di bawah pimpinan Ki Argapati sendiri yang kakinya masih belum pulih sama sekali. Dalam kelompok itu akan berangkat pula ayah Rudita, Ki Sumangkar dan Pandan Wangi serta Prastawa.

“Nah,” berkata Ki Argapati, “kita membagi kerja. Kita akan bertemu di kaki bukit padas itu. Kita sudah menentukan isyarat yang harus kita ketahui jika kita terlibat dalam pertentangan di malam hari.”

“Ya, Ki Gede. Kami akan segera menyusul demikian pasukan Raden Sutawijaya datang,” sahut Kiai Gringsing. “Sebenarnyalah bahwa kita harus berhati-hati. Selama ini aku sudah menjumpai beberapa orang yang pilih tanding. Pada masa Mataram dibayangi oleh hantu-hantuan, maka kami mengenal orang-orang yang bernama Kiai Damar dan Kiai Telapak Jalak. Kemudian kami mengenal orang-orang yang luar biasa menyerang para perwira Pajang di Jati Anom. Dan di perjalanan ke Menoreh kami bertemu dengan seseorang yang menyebut dirinya panembahan tidak bernama. Bahkan mungkin masih ada nama-nama lain yang berada di sudut yang lain dari Mataram dan Pajang, itulah sebabnya, maka tidak mustahil bahwa di dalam sarang mereka terdapat orang-orang semacam itu, ditambah dengan perwira-perwira Pajang yang mungkin terlibat.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ternyata persiapan mereka cukup lama. Tetapi sayang, bahwa mereka tidak dapat menyalurkan kemampuan sekian banyak orang untuk tujuan yang lebih baik dari pamrih pribadi.”

“Ya. Dan untunglah, bahwa mereka tidak dapat mengerahkan kemampuan mereka dalam saat yang tepat, atau barangkali mereka salah menilai lawan-lawannya, sehingga seorang demi seorang pemimpin-pemimpin mereka yang mumpuni itu terbunuh,” jawab Kiai Graigsing. “Namun mungkin juga ada pertentangan yang terpendam di antara mereka sendiri, sehingga kadang-kadang yang segolongan sengaja membiarkan golongan yang lain menjadi semakin lemah.”

“Kita masih diliputi oleh teka-teki. Baiklah, kita sekarang berpisah. Agaknya pasukan Menoreh telah benar-benar siap untuk berangkat.”

“Ki Gede,” potong Raden Sutawijaya, “aku berharap agar Ki Gede memberitahukan para pengawas, bahwa pasukan Mataram akan datang.”

“Baiklah, Raden. Pada saat kita berangkat, maka akan aku memerintahkan dua orang pengawal untuk menghubungi para pengawas.”

“Terima kasih, Ki Gede,” sahut Sutawijaya, “dengan demikian, maka agaknya kita sudah dapat melakukan tugas kita masing-masing sesuai dengan perjanjian.”

Demikianlah, maka Ki Gede memeriksa para pengawal itu untuk terakhir kalinya. Kemudian dipesankannya kepada para pengawal yang tinggal untuk mengawasi keadaan sebaik-baiknya. Mereka mendapat gambaran ke mana Ki Argapati akan pergi. Jika terjadi sesuatu di Tanah Perdikan itu, maka mereka akan dapat segera menghubungi Ki Argapati. Di beberapa tempat, Ki Gede akan memberikan isyarat dan tanda-tanda bagi orang-orang yang akan mencarinya. Sebaliknya, jika Ki Gede Menoreh memerlukan, maka pasukan cadangan harus sudah siap. Dalam keadaan mendesak, Ki Argapati akan mengirimkan penghubung berkuda, dan pasukan cadangan itu harus menyusul. Sebagian dari mereka adalah pasukan berkuda yang harus mencapai sasaran lebih cepat, sementara yang lain menyusul.

Ketika semuanya sudah siap, maka pasukan pengawal Menoreh itu mulai berangkat. Sesaat Ki Gede berpaling ke gandok. Dilihatnya ibu Rudita menangis tersedu-sedu berdiri di muka pintu memandang suaminya dengan sepenuh harap.

“Aku akan membawanya kembali,” berkata ayah Rudita yang sudah siap untuk berangkat.

Isterinya hanya menganggukkan kepalanya saja.

“Berdoalah. Semua peristiwa yang terjadi tergatung kepada keputusan Yang Maha Kuasa. Kini aku sedang berusaha sebagai suatu kenyataan permohonanku dan permohonanmu. Mudah-mudahan dikabulkan.”

Sekali lagi isterinya mengangguk.

KI Gege Menoreh menarik nafas dalam-dalam, sedang Pandan Wangi menundukkan kepalanya. Ia mengerti, betapa sedihnya hati perempuan itu.

Demikianlah, setelah semua perjanjian dan pesan dianggapnya sudah cukup, berangkatlah pasukan pengawal terpilih dari Tanah Perdikan Menoreh. Mereka mendapat keterangan dari orang-orang yang dianggap mengerti tentang daerah yang akan mereka datangi, ditambah dengan keterangan Prastawa dan Pandan Wangi.

Bersamaan dengan itu, maka dua orang pengawal berkuda telah pergi ke perbatasan di pinggir Kali Praga untuk memberitahukan, bahwa pasukan Mataram akan datang. Tetapi sama sekali tidak akan mengganggu Tanah Perdikan Menoreh, sebab mereka berniat untuk menemukan sarang orang-orang bersenjata yang sering mengganggu perkembangan Mataram dengan segala macam cara.

Sementara itu, Kiai Gringsing, kedua muridnya, Ki Demang Sangkal Putung, dan Raden Sutawijaya masih berada di induk Tanah Perdikan Menoreh. Ketika matahari memanjat semakin tinggi mereka menjadi gelisah, karena pasukan Mataram masih belum datang.

Tetapi mereka pun sadar, bahwa perjalanan dari Mataram ke Tanah Perdikan Menoreh memang memerlukan waktu. Seandainya orang-orang yang mengikuti Raden Sutawijaya itu selamat sampai ke Mataram dan menghadap Ayahanda Ki Gede Pemanahan, maka tentu diperlukan waktu untuk menyiapkan sepasukan pengawal pilihan. Pasukan yang terlatih baik untuk menghadapi segala macam medan. Menghadapi perang, dan menghadapi keragu-raguan rakyat di sepanjang daerah yang sedang dibuka.

Sementara itu, maka kedatangan para pengawal Mataram tanpa Raden Sutawujaya memang mengejutkan sekali. Apalagi mereka membawa beberapa sosok mayat dan orang-orang yang terluka.

Keterangan yang diberikan oleh para pengawal yang kembali ke Mataram telah menimbulkan kecemasan di hati Ki Gede Pemanahan. Ia sadar, bahwa yang dihadapi Sutawijaya tentu sekelompok orang-orang yang pilih tanding, sehingga dengan demikian maka wajarlah, apabila Sutawijaya memerlukan sepasukan pengawal yang kuat.

Sementara Ki Gede Pemanahan memerintahkan menyiapkan sepasukan pengawal yang kuat, maka ia sendiri telah dicengkam oleh kebimbangan yang tajam. Sebagai seorang ayah dan sebagai seorang pemimpin ia tidak akan dapat membiarkan Sutawijaya pergi sendiri. Tetapi untuk meninggalkan Mataram yang sedang berkembang dan sedang digoncang oleh berbagai macam keadaan itu. Ki Gede pun tidak sampai hati pula. Ada banyak persoalan yang dapat tumbuh dengan tiba-tiba di Mataram. Sikap Pajang yang meragukan dan mungkin justru goncangan dari dalam. Jika orang yang dengan sengaja ingin mengurungkan berdirinya Mataram, melihat bahwa Mataram sedang kosong, maka ada saja yang dapat terjadi. Apalagi pasukan-pasukan terpercaya juga sedang berada di luar.

Dalam kebimbangan itulah Ki Gede Pemanahan memerlukan berbicara dengan seorang tua yang selalu dekat dengan dirinya. Orang tua yang sangat bijaksana dan mempunyai berbagai macam ilmu yang mapan di dalam olah kajiwan dan kanuragan, yang kebetulan berada di Mataram.

“Ki Juru Martani, persoalan ini sangat meragukan. Aku ingin pergi, tetapi aku juga ingin tetap menunggui Mataram,” berkata Ki Gede Pemanahan.

“Siapa saja yang telah pergi?”

“Aku tidak tahu. Tetapi Sutawijaya memerlukan sepasukan prajurit terkuat. Di daerah Tanah Perdikan Menoreh ia bertemu dengan Daksina, yang ternyata telah berkhianat terhadap Pajang dan menghendaki Pajang dan Mataram hancur bersama-sama.”

“Daksina,” ulang Ki Juru Martani, “sikapnya memang tidak meyakinkan. Tetapi siapa saja yang ada di pihak Sutawijaya selain para pengawal Mataram? Apakah ia bekerja bersama dengan orang-orang Menoreh?”

“Hampir secara kebetulan. Bahkan hampir saja terjadi salah paham. Untunglah, bahwa akhirnya mereka bekerja bersama dengan baik. Namun ternyata bahwa menurut perhitungan Sutawijava, ia tidak akan mampu memasuki daerah orang-orang bersenjata itu tanpa kekuatan yang lebih besar. Ia masih menyangsikan, apakah Daksina itu tidak dibayangi oleh kekuatan yang jauh lebih besar lagi.”

“Apakah ia bertemu dengan Ki Gede Menoreh?”

“Waktu itu belum. Tetapi ia akan menemuinya. Yang ikut bersama Sutawijaya waktu itu adalah anak gadisnya. Pandan Wangi. Anak gadis yang aneh, yang mempunyai kemampuan seperti seorang anak muda vang terlatih baik. Di samping itu di antara mereka terdapat anak-anak muda bercambuk.”

“Siapakah mereka?”

“Murid dari seseorang yang menyebutnya Kiai Gringsing.”

“Nama itu memang pernah aku dengar. Apakah kau pernah bertemu dengan orang itu?”

“Ia selalu menghindar. Sejak kekalahan Tohpati ia sudah berada di antara pasukan Pajang pada waktu itu. Aku sendiri datang mengambil sisa-sisa pasukan Jipang yang menyerah. Tetapi orang itu tidak aku jumpai. Mungkin kita bertemu selintas, tetapi tidak dalam waktu yang cukup untuk mengenalnya.”

“Apakah ada sesuatu yang dirahasiakannya?”

“Aku tidak tahu. Tetapi Sutawijaya juga tidak percaya bahwa, Kiai Gringsing yang juga disebut Ki Tanu Metir itu benar-benar hanya seorang dukun padesan. Ia memiliki ilmu yang hampir sempurna.”

“Itu bukan pertanda.”

“Ya. Memang ada juga orang-orang yang hidup terpencil tetapi memiliki kemampuan keprajuritan yang tinggi. Tetapi ada alasan Sutawijaya untuk menganggapnya bahwa ia bukan orang kebanyakan.”

“Apakah orang itu ada di Menoreh?”

“Ya. Dan murid-muridnya sudah terlibat.”

“Jika demikian, kau dapat percaya kepadanya untuk sementara. Biarlah ia ikut pergi. Setidak-tidaknya ia akan mengamat-amati muridnya.”

“Sudah berulang kali ia berbuat sesuatu untuk kepentingan Mataram,” berkata Ki Gede Pemanahan. Kemudian diceriterakannya apa yang didengarnya dari laporan-laporan yang diterimanya tentang orang bercambuk itu.

“Jika demikian, kau tidak usah cemas lagi. Menurut perhitunganku, Ki Argapati dan Kiai Gringsing itu tentu akan melibatkan dirinya jika lawan anak-anak itu terlampau kuat. Bukan berarti kau dapat melepaskan tanggung jawabmu atas anakmu, tetapi Mataram memang tidak dapat kau tinggalkan. Untuk mengimbanginya, kau harus mengirimkan sepasukan prajurit yang benar-benar kuat. Jika orang-orang itu tidak ada di antara pasukan pengawal Mataram nanti, maka pasukan itu sendiri dapat dipercaya untuk menyelesaikan masalahnya, setidak-tidaknya melindungi diri sendiri.

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Ki Juru Martani itu sebenarnya memang sudah dipikirkannya. Namun dengan demikian, ia menjadi semakin yakin, bahwa ia memang harus tetap berada di Mataram. Bahayanya sangat besar bagi daerah yang sedang tumbuh ini apabila ia pergi meninggalkannya dalam keadaan yang belum mantap itu.

Demikianlah, maka Ki Gede Pemanahan pun segera mengirimkan sepasukan pengawal yang paling kuat. Agar mereka segera sampai ke tujuan, maka Ki Gede Pemanahan memerintahkan agar mereka pergi berkuda. Ki Gede juga mendengar laporan, bahwa di antara anak-anak muda dari Tanah Perdikan Menoreh ada yang telah hilang. Dan hilangnya Rudita itu memberikan gambaran kepada Ki Gede Pemanahan, bahwa lawan yang dihadapi memang bukan lawan yang ringan.

Di antara perwira yang pergi di dalam pasukan itu adalah Ki Lurah Branjangan. Ia adalah perwira yang berpengalaman. Dan Ki Lurah Branjangan telah mengenal dengan baik perwira Pajang yang berada di tlatah Tanah Perdikan Menoreh dan bernama Daksina itu. Di samping Ki Lurah Branjangan, Ki Gede Pemanahan juga mengirimkan pengawal-pengawal kepercayaannya.

“Jagalah anak itu baik-baik,” pesan Ki Gede Pemanahan kepada Ki Lurah Branjangan dan kawan-kawannya, “kalian akan masuk ke dalam sarang harimau. Dan kalian tidak tahu, ada berapa ekor harimau yang ada di dalam sarang itu. Aku berharap bahwa orang bercambuk itu dapat di bawa bekerja bersama. Setidak-tidaknya tidak menghalangi kalian.”

“Aku percaya kepadanya, Ki Gede,” berkata Ki Lurah Branjangan. “Aku pernah melihat pengabdiannya di Jati Anom. Benar-benar tanpa pamrih.”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hati-hatiah. Kalian merupakan pasukan berkuda terkuat yang pernah disusun oleh Mataram yang muda ini.”

“Mudah-mudahan Mataram tetap tidak goyah sepeninggal pasukan terkuat ini jika terjali sesuatu, Ki Gede.”

“Tentu tidak. Aku sudah mengatur keseimbangan kekuatan yang kita miliki.”

Demikianlah, maka pasukan berkuda itu pun segera berangkat meninggalkan Mataram. Mereka menyusur jalan yang langsung menuju ke induk Tanah Perdikan Menoreh.

Beberapa orang tukang perahu terkejut melihat pasukan itu. Bahkan ada yang menduga, bahwa terjadi perselisihan antara Mataram dan Menoreh.

“Tentu tidak. Pasukan itu terlalu kecil untuk mengatasi perselisihan dengan Menoreh,” berkata salah seorang tukang perahu itu. “Pasukan ini hanya terdiri oleh kira-kira tigapuluh atau tigapuluh lima orang.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengerti, bahwa pasukan itu memang terlalu kecil jika benar-benar terjadi perselisihan dengan Menoreh yang lebih tua dan cukup kuat itu.

Dengan beberapa buah perahu, maka pasukan pengawal itu menyeberangi sungai beserta kuda-kuda mereka. Di sebelah Barat Kali Praga, maka pasukan itu pun segera menyusun diri dan meneruskan perjalanan.

Namun, mereka terhenti ketika mereka bertemu dengan empat orang pengawal berkuda dari Tanah Perdikan Menoreh. Ki Lurah Branjangan yang memimpin pasukan kecil itu pun segera menemui para pengawal dari Menoreh itu.

Tetapi sebelum Ki Lurah Branjangan bertanya sesuatu, salah seorang pengawal itu berkata, “Kami sudah menerima perintah untuk menerima pasukan pengawal dari Mataram. Kami persilahkan pasukan ini lewat. Raden Sutawijaya sudah terlalu lama menunggu.

“Terima kasih, Ki Sanak.” jawab Ki Lurah Branjangan.

Demikianlah, maka pasukan berkuda itu pun segera berpacu menuju ke induk Tanah Perdikan. Di sepanjang jalan, derap kaki kuda itu menghambur-hamburkan debu di atas jalan berbatu-batu. Namun demikian, orang-orang Menoreh sudah banyak yang mendengar akan kedatangan pasukan pengawal dari Mataram dalam usahanya untuk menenteramkan Tanah yang sedang tumbuh itu dan bekerja bersama dengan Ki Argapati.

“Selain usaha itu tidak merugikan Menoreh, dan bahkan menguntungkan, Ki Argapati sudah dipaksa oleh hilangnya Rudita,” berkata seorang pengawal Tanah Perdikan Menoreh kepada kawan-kawannya.

Kawan-kawannya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Tetapi ia sependapat, bahwa orang-orang bersenjata yang berkeliaran itu memang harus dipagari. Jika mereka gagal mengganggu Mataram, maka mereka akan menjadi segerombol orang-orang bersenjata yang berbuat tanpa tujuan. Dan itu akan menjadi sangat berbahaya bagi Tanah Perdikan Menoreh. Selama ini gerakan gerombolan itu lebih di arahkan untuk menghancurkan Mataram. Tetapi arah itu dapat berkembang, bahkan juga dapat berkisar dari arah semula.

Dalam pada itu, pasukan pengawal berkuda itu pun menjadi semakin lama semakin dekat dengan induk Tanah Perdikan Menoreh. Dan mereka pun sadar, bahwa Raden Sutawijaya sedang menunggu dengan gelisah.

Sebenarnyalah, bahwa Sutawijaya sudah menjadi sangat gelisah. Bukan saja karena matahari sudah sampai ke puncak langit, tetapi ia juga menjadi cemas, bahwa orang-orangnya yang kembali ke Mataram itu tidak akan pernah mencapai tujuannya. Karena itu kunjungi adbmcadangan.wordpress.com maka dalam kegelisahannya ia berkata kepada Agung Sedayu dan Swandaru, “Jika perlu aku akan menjemput pasukan itu ke Mataram. Aku akan pergi dari Mataram langsung ke tempat itu, ke tempat yang sudah kita janjikan dengan Ki Gede Menoreh. Aku harus bertindak lebih cepat daripada menunggu saja.”

“Tetapi bagaimana jika kita berselisih jalan.”

Sutawijaya menarik nafas. Memang kemungkinan itu dapat saja terjadi. Dengan demikian, maka waktunya akan menjadi semakin panjang.

Tetapi jika ia menunggu saia, dan pasukan itu tidak kunjung datang, maka ia pun akan banyak sekali kehilangan waktu.

Namun demikian, menurut perhitungan Kiai Gringsing, pasukan pengawal yang dipimpin oleh Ki Argapati sendiri cukup kuat untuk mempertahankan diri apabila mereka bertemu dengan pasukan lawan di perjalanan. Tetapi untuk menembus masuk ke daerah yang kurang dikenal itu, mereka pasti memerlukan pasukan Mataram yang kuat sekali. Karena daerah itu hampir masih belum dikenal sama sekali.

Tetapi ternyata bahwa Raden Sutawijaya tidak usah menjadi semakin gelisah, karena sejenak kemudian dua orang Pengawal Tanah Perdikan Menoreh melaporkan, bahwa mereka sudah melihat pasukan Mataram datang.

“Bagus,” desis Raden Sutawijaya, “kita akan segera berangkat.”

“Biarlah mereka beristirahat dahulu,” berkata Kii Gringsing. “Mereka baru saja menempuh perjalanan yang jauh.”

“Mereka berkuda,” sahut pengawal Tanah Perdikan Menoreh yang melihat kehadiran para pengawal dari Mataram itu.

“Tetapi mereka tentu lelah dan haus. Biarlah mereka beristirahat sebentar untuk makan dan minum. Kita akan segera menyusul pasukan pengawal Tanah Perdikan ini.”

Demikianlah maka pasukan Pengawal Tanah Perdikan itu pun kemudian menyongsong pasukan berkuda yang baru datang. Mereka dibawa langsung ke rumah Ki Gede Menoreh yang ditunggui oleh bebeapa orang kepercayaan Ki Gede, karena Ki Gede sendiri justru sudah berangkat mendahului.

Seperti yang dikatakan Kiai Gringsing, maka mereka masih sempat untuk minum seteguk air dan makan sepotong makanan. Kemudian mereka sudah harus berkemas lagi.

“Sesudah kuda-kuda itu beristirahat sejenak, minum dan makan pula, kita akan berangkat,” berkata Sutawijaya. “Kita harus menyusul pasukan Ki Argapati yang sudah lebih dahulu berangkat. Secepat mungkin.”

Ki Lurah Branjangan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Kiai Gringsing sambil tersenyum. Katanya kemudian, “Baiklah, Raden. Kita akan berangkat. Apakah Kiai Gringsing itu juga akan ikut serta?”

“Ya. Kiai Gringsing dan kedua muridnya. Bahkan dengan Ki Demang Sangkal Putung pula.”

Ki Lurah Branjangan masih saja mengangguk-angguk. Katanya pula, “Setiap kali Kiai Gringsing tentu ada di antara kami. Wanakerti pernah berceritera tentang Kiai, dan di Jati Anom aku menyaksikan sendiri. Kemudian laporan dari para petugas tentang orang yang menyebut dirinya panembahan tanpa nama. Dan sekarang Kiai berada di antara kami pula.”

“Dan yang telah mendahului kita adalah Ki Gede Menoreh, puterinya Pandan Wangi, ayah dari anak yang hilang itu dan Ki Sumangkar.”

“O,” desis Ki Lurah Branjangan, “jadi Ki Sumangkar pergi juga?”

“Ya.”

“Sebenarnya kita sudah cukup lengkap. Mudah-mudahan Daksina tidak menyimpan sederetan nama orang-orang yang memiliki kemampuan seperti pemimpin-pemimpin di golongan mereka yang pernah dikalahkan oleh Kiai Gringsing.”

“Mudah-mudahan,” berkata Raden Sutawijaya, “meskipun seandainya demikian, kita akan berusaha melakukan tugas kita sebaik-baiknya.”

Dalam pada itu, maka beberapa orang yang memberikan, makan dan air kepada kuda-kuda itu pun telah selesai pula. Sejenak mereka masih menunggu. Kemudian Raden Sutawijaya pun berkata, “Aku kira kita tidak akan dapat berbuat banyak hari ini. Jika kita sampai di tempat tujuan, maka hari tentu sudah gelap. Apalagi kita masih mencari hubungan dan beberapa keterangan tentang daerah yang masih belum kita kenal itu.”

“Seakan-akan kita akan meloncat ke dalam gelap,” berkata Ki Lurah Branjangan.

“Tepat. Dan kita tidak tahu, apakah yang ada di balik kegelapan itu. Kengerian atau kegelapan yang pekat tanpa batas.”

“Atau kita akan mendapatkan apa yang kita cari.”

“Ada seribu kemungkinan. Tetapi kita harus menempuhnya.”

Demikianlah, maka selelah semuanya siap, maka Raden Sutawijaya pun minta diri kepada orang-orang yang diserahi pimpinan atas Tanah Perdikan Menoreh selama Ki Argapati tidak ada di tempat. Demikian juga Kiai Gringsing dan murid-muridnya serta Ki Demang Sangkal Putung. Kiai Gringsing masih sempat memperingatkan pesan-pesan yang diberikan oleh Ki Argapati. Pasukan pengawal cadangan harus selalu siap. Lebih-lebih pasukan berkuda yang meskipun jumlahnya tidak banyak, namun akan dapat membantu dengan cepat. Sedangkan apabila ada kesulitan, sebaiknya segera mencari hubungan dengan Ki Argapati di tempat-tempat yang sudah ditentukan atau tanda-tanda yang diketemukan.

Meskipun mereka sadar, bahwa hari itu mereka tidak akan dapat segera bertindak langsung, namun mereka pun berangkat juga, karena mereka mengerti bahwa Ki Gede Menoreh dan ayah Rudita tentu sudah menunggu. Apalagi apabila mereka sudah diketahui oleh beberapa orang pengawas yang dipasang oleh Daksina, karena Daksina pun pasti mempunyai perhitungan, bahwa akan datang beberapa orang yang akan mencarinya. Dan pasukan yang akan datang itu tentu lebih kuat dari pasukan Sutawijaya.

Sutawijaya yang ada di paling depan dari pasukan pegawalnya, sekali-sekali memandang langit yang menjadi kemerah-merahan. Awan yang putih keabu-abuan bergumpal di ujung cakrawala.

Hampir tidak ada seorang pun yang saling berbicara di dalam iring-iringan itu. Seakan-akan semuanya sedang dicengkam oleh angan-angan, tentang apakah kira-kira yang akan mereka jumpai di perjalanan.

Kiai Gringsing pun agaknya segan untuk mulai berbicara. Ia duduk sambil menunduk di atas punggung kudanya, sedang Agung Sedayu dan Swandaru hanya kadang-kadang saling berpandangan.

Berbeda dengan mereka, maka agaknya di dalam kegelisahannya, Ki Demang sempat memperhatikan air yang mengalir di parit-parit yang membujur lurus membelah tanah persawahan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata di dalam hatinya, “Menoreh memang maju di bidang pertanian. Parit-parit mengalir deras dan tersalur ke segenap bagian bulak yang luas itu. Tidak terlalu banyak pematang yang silang menyilang, dan cara bertanam padi yang cermat.”

Tetapi Ki Demang tidak dapat memperhatikan sawah itu terlampau lama. Setiap kali dadanya berdesir jika teringat olehnya, bahwa perjalanan itu akan menuju ke tempat yang tidak menentu untuk menyelamatkan Rudita.

“Ada seribu kemungkinan dapat terjadi,” katanya di dalam hati, “dan ada seribu kemungkinan pula yang dapat terjadi atas Swandaru dan Pandan Wangi.”

Tetapi Ki Demang berusaha untuk menyembunyikan kesan itu, sehingga karena itu, ia pun duduk saja sambil berdiam diri di atas kudanya.

Iring-iringan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Tetapi langit pun menjadi semakin suram.

“Kita akan bermalam di tempat yang sudah ditentukan. Kemudian kita mencari hubungan dengan pasukan Ki Argapati,” berkata Sutawijaya.

Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut sepatah kata pun.

Dalam pada itu, pasukan Ki Argapati yang mendahului pasukan dari Mataram itu pun menjadi semakin dekat dari sebuah tempat terbuka yang menjadi arena pertempuran antara Raden Sutawijaya dengan Daksina.

“Kita sudah hampir sampai,” berkata Pandan Wangi.

“Sampai di mana?”

“Arena pertempuran itu. Di pinggir arena itulah Rudita semula bersembunyi. Tetapi ia tidak dapat aku ketemukan kembali.”

Ki Argapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian mereka melihat sebuah tempat yang terbuka, yang dikatakan oleh Pandan Wangi, daerah yang menjadi ajang perkelahian antara pasukan pengawal Mataram dan Menoreh melawan Daksina dan anak buahnya.

“Kita berhenti di pinggir daerah terbuka itu,” Desis Ki Argapati.

“Ya. Kita sudah berjanji bertemu di tempat Rudita hilang.”

“Di tempat Rudita hilang, atau di ujumg pegunungan itu.”

Pandan Wangi memandang pegunungan di hadapannya. Masih beberapa ratus patok lagi.

“Kita berhenti di tempat Rudita itu hilang. Kita sempat berbicara untuk menentukan sikap, sementara kita dapat melihat tempat itu, barangkali kita menemukan sesuatu.”

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilecutnya kudanya, sehingga ia berada di paling depan. Sejenak ia berpaling memandang hutan liar di sebelah jalan yang dilaluinya. Hutan tempat mereka berburu seekor ular raksasa.

Tetapi kini mereka tidak memasuki hutan liar itu, tetapi menyelusur di sebelahnya dan langsung pergi ke tempat pertempuran itu terjadi.

Beberapa saat kemudian, mereka pun segera sampai di tempat yang mereka tentukan sebagai titik pertama pertemuan dengan pasukan pengawal Mataram.

Ketika Pandan Wangi meloncat dari punggung kudanya disusul oleh Prastawa, maka yang lain pun segera turun pula. Mereka mengikat kuda masing-masing pada pohon-pohon perdu di sekitarnya.

“Jangan di tempat Rudita itu terakhir kali kau lihat,” berkata Ki Argapati.

Pandan Wangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Maka dibawanya kudanya agak menjauh. Agaknya ayahnya masih akan mencoba menemukan jejak yang barangkali dapat dipergunakannya untuk menjadi petunjuk.

Sejenak kemudian Ki Argapati, Ki Sumangkar, dan ayah Rudita itu pun segera menyelidiki tempat Rudita yang terakhir kali diketahui oleh Pandan Wangi.

Tetapi seperti Pandan Wangi dan anak-anak muda sebelumnya, mereka tidak menemukan jejak apapun juga selain dugaan yang sama, bahwa Rudita sempat meronta dan tangannya menggapai dedaunan di sekitarnya. Setelah itu maka ia pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

“Kita hanya dapat mengetahui beberapa langkah dari jejak ini,” berkata Ki Argapati.

“Ya. Kita hanya mengetahui arah. Dan kita pun mengetahui, bahwa yang membawa Rudita adalah orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.”

Ki Argapati mengangguk-angguk. Dipandanginya saja tempat itu seakan-akan ia masih mencoba mencarinya.

Dalam pada itu, ayah Rudita pun segera maju ke depan. Dengan suara gemetar ia berkata, “Ki Gede, biarlah aku mencoba mengetahui, ke manakah Rudita itu dibawa. Kita memang mengetahui arahnya, tetapi hanya beberapa langkah. Dan mudah-mudahan aku menemukan arah yang sebenarnya.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian dibiarkannya ayah anak yang hilang itu memusatkan inderanya.

Sejenak orang-orang yang ada di sekitar ayah Rudita itu pun terdiam. Seakan-akan mereka ikut terhempas ke dalam suatu suasana yang asing. Mereka melihat ayah Rudita itu berdiri tegak sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Kepalanya tertunduk, sedang matanya menjadi redup setengah terpejam.

Ki Argapati dan Ki Sumangkar, yang memiliki pengalaman lahir dan batin yang luas, merasakan getar di dalam diri masing-masing, sehingga dengan demikian mereka mengerti sepenuhnya, bahwa ayah Rudita itu sedang mencari hubungan dengan anaknya dengan caranya. Tetapi menilik keadaan Rudita, maka sentuhan dengan getaran ayahnya itu tentu agak sulit. Anak itu terlampau ringan untuk ditemukan oleh getar indera karena justru keadaannya. Dan itulah anehnya kehidupan. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com Seorang anak tidak selalu berhasil dibentuk seperti kehendak orang tuanya karena berbagai sebab. Justru bagi Rudita adalah sebab yang ada di dalam keluarganya sendiri. Ibunya hampir tidak pernah mau mengerti, bahwa Rudita pun memerlukan perjuangan bagi hari depannya. Ia tidak akan dapat selalu bersandar kepada orang tuanya.

Tetapi ayahnya masih tetap berusaha. Dengan memusatkan segenap tenaga lahir dan batinnya, ia berusaha untuk mendapat sedikit petunjuk tentang anaknya yang hilang itu, meskipun pangkal bertolaknya pun terlampau kecil, sekedar arah dan kemungkinan saat-saat Rudita hilang.

Ki Argapati dan Ki Sumangkar pun menjadi semakin tegang. Apalagi Pandan Wangi, Prastawa, dan para pengiringnya ketika mereka melihat wajah ayah Rudita itu meniadi merah padam.

Tetapi ia masih tetap berdiri tegak sambil menyilangkan tangan di dadanya, serta kepalanya masih saja tertunduk dan matanya redup setengah terpejam.

Orang-orang yang ada di sekitarnya menjadi semakin berdebar-debar ketika mereka melihat tubuh itu menjadi gemetar, sesaat wajahnya menjadi seakan-akan kelam. Pekat, dan mata itu benar-benar telah terpejam.

Ayah Rudita sudah sampai pada puncak pencapaian dengan ilmunya. Seakan-akan tubuhnya itu telah dihisap oleh suasana yang tidak dapat diraba dari luar kediriannya.

Dan itulah yang terjadi padanya. Ayah Rudita seakan-akan telah terpisah dari wadagnya dan mencapai suatu keadaan tanpa bentuk, selain isyarat-isyarat yang lembut yang hanya dapat dikenal oleh ilmu yang khusus.

Namun itulah sebenarnya hakekat dari ilmunya. Pengenalan pada isyarat-isyarat yang dapat disentuh dengan perasaannya, yang sebenarnya ada pada diri setiap orang. Namun kebanyakan orang tidak menyediakan diri sampai ke pusat penangkapan inderanya serta tidak mempelajari bentuk, jenis dan makna isyarat-isyarat itu.

Sejenak kemudian, setiap gerak di dalam tubuh ayah Rudita itu pun berhenti selain, urat-urat yang tiada terkuasai oleh kehendak. Nafasnya pun seolah-olah terputus, dan matanya seakan-akan terpejam semakin rapat.

Namun dalam pada itu, Ki Argapati dan Ki Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Mereka mengerti, bahwa ayah Rudita itu sudah selesai dengan usahanya.

Dan sebenarnyalah, bahwa sejenak kemudian ayah Rudita itu membuka matanya. Wajahnya sudah menjadi seperti biasa, meskipun masih tampak keletihan membayang disorot mata itu.

Ayah Rudita itu pun menarik nafas dalam-dalam. Tidak hanya sekali, tetapi tiga kali.

Ki Gede Menoreh pun kemudian mendekatinya sambil bertanya, “Apakah kau menemukan isyarat.”

Laki-laki itu mengangguk lemah. Katanya, “Isyarat itu lemah sekali, Ki Gede. Tetapi aku mengharap bahwa Rudita masih selamat. Rasanya aku memang dapat menyentuhnya.”

“Apakah kau dapat mengatakan, bagaimana dengan arah yang kita tempuh dan keadaan Rudita sekarang?”

“Samar-samar aku dapat menemukan arah itu. Dan kita sudah berjalan di jalan yang benar. Aku akan mencoba merabanya lagi setelah kita ada di ujung pegunungan itu. Rasa-rasanya ia ada di sana.” Ayah Rudita itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi aku pun menemukan sesuatu yang mendebarkan jantung.”

“Apakah itu?”

“Isyarat seperti yang pernah aku sentuh beberapa tahun yang lalu. Bahkan di sekitar sepuluh tahun yang lalu? Saat Rudita masih kanak-kanak.”

“Apakah isyarat itu?”

“Sentuhan pertama saat aku mendengar nama Panembahan Agung, aku tergetar oleh nama yang pernah aku dengar, yaitu Panembahan yang menamakan dirinya Panjer Bumi. Kini tiba-tiba terasa, bahwa sentuhan itu seakan-akan memperkuat dugaan kita, bahwa di belakang semua persoalan yang tumbuh di Mataram ini berdiri Panembahan yang menyebut dirinya Panjer Bumi itu, meskipun ia dapat menyebut dirinya dengan seribu nama.”

“Bagaimana kau sampai pada dugaan itu?”

“Getaran dan isyarat yang tersentuh selagi aku mencari Rudita. Bahkan aku menduga, bahwa yang membawa Rudita itu adalah Panembahan Panjer Bumi atau orang-orangnya yang terpercaya. Namun agaknya Panembahan Panjer Bumi tidak mengetahui, bahwa Rudita itu adalah anakku. Jika ia mengetahui, maka ia akan memagarinya sehingga aku sama sekali tidak akan dapat menyentuhnya. Dengan demikian aku akan kehilangan segala arah untuk menemukannya dengan ilmuku. Tetapi ternyata bahwa Tuhan masih berkenan memberikan sedikit petunjuk, di manakah anak itu berada.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Sumangkar, dilihatnya orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita akan selalu berdoa,” berkata Ki Sumangkar, “mudah-mudahan kita berhasil menemukannya.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 6 Desember 2008 at 00:00  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-73/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. “hmmm.. tampaknya hutan ini masih benar-benar sepi. biarlah aku yang mulai terlebih dahulu. sehingga dapat memilih lokasi yang paling baik di antara lebatnya alas 73 ini,” kata Sukra.

    sejenak kemudian

    “ngaso dulu ah..”

  2. Lho….ingkang dumugi nembe Kang Sukra tho …?
    Wah bisa milih kapling yang cocok nich..habis tak bersihkan…nusul leyeh-leyeh, ngaso sama Kang Sukro.
    Ki GeDe kawula sampun bersihkan lahan dan pilih kapling di alas 73 dan absen no 2

  3. Kula absen no 3 Ki GD

  4. Ki KontosWedul kemudian datang juga di tempat yang masih banyak perdu2nya tersebut. Namun alangkah terkejutnya dia ketika melihat disana ternyata sudah ada 3 orang cantrik yang sudah datang terlebih dahulu.

    Akhirnya Ki KontosWedul yang mumpuni itupun ikut duduk bersama ketiga cantrik tersebut untuk menunggu regol di depan rumah ki Gede

    xixixi 😀

  5. numpang buka lapak disini juga Ki Gede…

  6. Absen Ki Gede

  7. Masih ada yang lebih pagi toh… Ikut antri ah…

  8. hmm…sungguh tak disangka-sangka, ternyata sudah banyak cantrik yg membantu ki DD membabat kapling 73…
    syukurlah akhirnya kapling yg wingit ini bisa dibuka juga…

  9. Lha ini baru mantep ..
    Aku ikut anrti Ki DD,lumayan dapet no 8.

    Maturnuwun

  10. antri juga ahhhhh

  11. “Wah Dimas Sukra tumben sudah sampai duluan, mengalahkan Ki Maswal dan Ki Pandanalas selaku kuncen lapak,.. hehehehe…”

  12. Selama ini aku ndak pernah absen, maaf ki

    salam
    Galib

  13. Ternyata racun itu tidak hanya bersarang di tubuh ki Gede, tapi telah menular kepada seluruh warga pedukuhan ini. Reaksi keras dari racun itu adalah sifat kecanduan setiap orang untuk ditambah dengan masukan2 baru dari jenis2 racun yang bernomor urut. Semakin tinggi nomor racun ternyata semakin tinggi kadar adictifnya.
    Hati2 ki sanak, yang belum kecanduan sebaiknya menghindarkan diri atau mencobanya sekalian.
    Ki Truno Podang

  14. Wah… jebulnya sdh bisa dibabat alas ini, minta ijin Ki GD… aku mbabat bagian wingit ini utk tanam jagung

  15. Wah,
    ada Ki Putut Nantang Nasi

  16. Ikutan absen Ki Gede

  17. ngantri girik ke Gede.
    sambil leyeh2

  18. “hooooooaaammmm….” (buka mulut lebar-lebar kayak kuda nil) maksude lagi angop…. “NGANTUK”… “numpang tidur aaahhh”

  19. Sepi… apakah para penyamun masih bersembunyi di sekitaran alas mentaok ? Ataukah orang-orang asing yang belum jelas sering menjegal para pendatang untuk meramaikan alas mentaok ini ???

    # mungkin URL nya harus seperti yang telah kita edit ya Ki Harry. 🙂

  20. Sambil ngantri, saya mau kasih komentar ama yang namanya Ki Kontos wedul. Gawe jeneng kok aneh-aneh.. he.. he..
    Ayo ki gede… udah nggak kukuh nih..

  21. aku ngikut ngambil jatah deh …

  22. MENYAMBUNG KOMENTAR CANTRIK ALPHONSE

    DITAWARKAN NAMA-NAMA cantik GRATISSSSS……

    Maaf tidak bermaksud………… stresssss nunggu ransum 73 kadit utem-utem. yok opo cak…….

  23. Den Ronggo… kok ngeres????

  24. Rudita mengendap-endap kesebuah rumah yang tampak terlihat ada kesibukan dimalam hari. Suasana nya begitu hingar bingar dan terang benderang. Ia mengamati suasana didalam rumah itu dari celah sebuah jendela yang tidak tertutup rapat. Terlihat ada kesibukan disana.

    “Kita harus segera menyelesaikannya malam ini” terdengar suara dari sebuah ruangan.

    “Tinggal tiga halaman terakhir Ki Gede” terdengar suara yang lainnya menjawab.

    “Jangan lupa diperiksa kembali formatnya agar pada saat upload tidak mengalami kendala seperti edisi 72 kemarin” jawab suara yang dipanggil sebagai Ki Gede itu.

    “Siap komandan” jawab suara yang lain menimpali.

    Rudita lalu bergeser kearah suara dimana Ki Gede sebagai komandan berada. Tanpa menimbulkan suara, ia merunduk dibawah jendela satu ke jendela lainnya.

    “Perlahan Kisanak ” tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya.

    Rudita kaget bukan kepalang. Keringat dingin bercucuran seiring airmata yang mulai mengambang di pelupuk matanya. Nyalinya seakan hilang begitu saja.

    “Jangan tergesa-gesa” bisik orang itu. “Kau lihat bayangan yang bergerak-gerak dibalik pagar itu” sambil menunjuk pada gerumbulan perdu diluar pagar. “Ada lebih 20 orang cantrik yang sedang menunggu selesainya proses scanning didalam rumah ini.

    “Lalu kau sendiri siapa?” tanya Rudita memberanikan diri berkata.

    “Aku Dimas Sukra yang menjaga rumah ini” jawab orang itu pula. “Tunggulah engkau disana. Aku kan memberikan tanda isyarat bila pekerjaan didalam rumah telah selesai” jawabnya sambil membuka pintu dan masuk kedalam rumah.

    GD: Gimana perkembangan pasukan bogor, Ki Aul?

  25. ketoke alas 73 iki jaluk disarati ….jaluk dibelehno wedus gibas sing sungune loro-lorone kudu di potong…nanti kontosnya harus ditanam dekat pohon mentaok yang paling gede..sarat lain wedus tersebut tidak boleh disunat nanti kalau disunat bukan kontos wedul lagi namanya…

  26. Sebenernya ini juga yang dikawatirkan. Dengan alasan apapun, jangan sampai nama seseorang dibahas di sini. Itu termasuk wilayah SARA.
    Bagi sebagian orang mungkin enak saja, gak ada masalah. Tapi bagi yang berkuping priyayi seperti saya (hehehe) .. ya agak gerah. Maap ya Ki ..
    … ah akhirnya .. datang juga.
    Makasih Ki Gedhe.

  27. wah.. kitab 73nya kok tersamar

    btw
    matur nuwun

  28. Cool….

    tengkyu KI GEDE….

  29. Dahsyat hampir terkecoh…
    Bravo tuk Ki Gede

  30. Lha dalah…..
    Ki DD sekarang sukanya main tebak2an.
    Setelah celingukan ,cari2 dimana gerangan kitab 73 di sembunyikan.
    Ternyata INI yang dimaksud.

    Maju terus ABDM.

  31. Lapor Komandan,..

    Kami masih menunggu khabar dari Ki Ony mengenai kepastian atas kitab-kitab yang telah didapatkannya.

    Untuk proses scanning nanti akan dibantu oleh Ki Dewo dan Ki Alphonse.

    Saat ini saya sedang berusaha mencari Kitab Jilid III yang konon berada di sebuah lapak di Bogor.

    Demikian Ki, sekilas info dari saya,

    Salam, Aulianda

    GD: tolong sekalian dicek apkh jilid 07 seri II genap. Koleksi Ki Prasidi hilang hal 7, 78, 79.

  32. Matahari benar-benar tidak mampu menembus gelapnya awan di atas kapling hutan 73, sementara di tlatah kapling 73 sendiri angin kencang disertai hujan lebat menhajar sebuah gubug yang menaungi seorang bocah yang menggigil kedinginan.
    ‘Duhai eyang panembahan, mohon ampun cucunda tidak mengindahkan kata-kata eyang, cucunda terlalu laju mengejar binatang buruan di hutan 73, padahal hasil buruan di hutan 71 dan 72 sudah didapat, sekarang cucunda hendak balik langkah dulu kembali ke hutan 71 – 72 sebagaimana saran eyang, nikmati apa yang sudah didapat, jangan ingin lebih, nanti yang didapat tidak terasa nikmatnya jar.’ ucap bocah kemaruk itu dalam hati.
    Tiba-tiba kilat menyambar, kencang memekakkan telinga, sehingga kuping bocah itu selanjutnya mudah mendengar suara yang bagaimanapun kecilnya, sebagaimana suara angin lembut di ujung dentuman kilat yang membisikkan ‘Engkau tidak salah cucuku, hanya belum pengalaman saja, pulanglah ke hutan 71 -72, nikmati yang telah kau peroleh, hingga saatnya nikmat itu habis, eyang akan berikan hasil buruan di hutan 73 ini.’
    Bocah itupun melangkah keluar dari gubug, tidak peduli hujan petir masih melanda di hutan 73 karena yakin atas nikmat yang segera diperoleh di hutan 71 – 72. Sambil tersaruk-saruk melangkah si bocah berbisik dalam hati ‘Bagaimanapun juga, akan tiba saatnya lontar 73 kudapat sebagaimana janji eyang melalui bisik angin’

  33. ASyik…………
    duet Ki Waskita dan Ki Sumangkar akan segera menggoyang ereng2 perbukitan Menoreh.
    Pengendange Raden Sutawijaya dan Swandaru.
    Lha Pandan Wangi njoGet pora ra….?????

    • hora melu njoget, ladi kedatangan mBULAN…..hiKss,

      • mBulan Zamilah….???????

      • mBULANe kira2 kayak APA yaaa…..!!??

        sampe2 Pandan Wangi, hora gelem mingket leh lungguh
        ning sebelah ki Gun…..hayo di TEBAK….. >>>>>….???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: