Buku 73

VERSI CORRECTED PROOF

NAMUN ketika para peronda itu berusaha menghentikan iring-iringan kuda itu, maka mereka pun berloncatan minggir, karena mereka mendengar suara Pandan Wangi yang berkuda di paling depan, “Aku. Akulah yang akan lewat. Pandan Wangi.”

Seseorang sempat bertanya keras-keras, “Malam-malam begini?”

“Aku dari hutan perburuan,” sahut Pandan Wangi sambil berderap menjauh.

Para peronda itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan salah seorang dari mereka berdesis, “He, kau yakin bahwa suara itu suara Pandan Wangi.”

“He, apakah kau mengigau. Bukankah kita bersama melihat ia berada di punggung kudanya.”

“Aku tidak melihatnya begitu jelas. Obor itu tidak begitu terang.”

“Dan di belakangnya adalah Prastawa.”

“Ya, ya. Di belakangnya Prastawa. Di antara mereka terdapat kedua anak-anak muda itu, yang dahulu pernah berada di Tanah ini, ketika berkecamuk pertengkaran di antara kita.”

“Ya. Tetapi siapakah yang seorang lagi?”

“Tamu Pandan Wangi yang manja itu.”

“Rudita?” orang itu ragu-ragu. Lalu, “Bukan, tentu bukan Rudita.”

“Tetapi Rudita ikut di dalam perburuan itu.”

“Ya, tetapi anak muda itu bukan Rudita. Rudita tidak membawa sebatang tombak pendek.”

“Kau lihat kuda tanpa penunggang, sedangkan yang lain dibebani oleh dua orang?”

“Tetapi dimuati dengan beban yang cukup banyak. Meskipun agaknya tidak terlalu berat, tetapi cukup memenuhi seluruh punggungnya.”

Kawannya tidak menyahut. Tetapi hal itu ternyata telah menarik perhatiannya.

Namun agaknya orang-orang di gardu peronda itu tidak mengetahui, bahwa di punggung kuda yang tidak berpenumpang itu tersangkut sehelai kulit seekor ular naga yang besar, selain beberapa perlengkapan berburu yang lain. Karena itulah, maka kuda itu sengaja tidak dibebani oleh seorang pun, meskipun bebannya sebenarnya lebih berat dari seseorang.

Demikianlah, maka mereka pun kemudian memasuki padukuhan induk Tanah Perdikan Menoreh. Seperti setiap padukuhan yang lain, yang mereka lalui, maka derap kaki-kaki kuda itu pun telah mengejutkan mereka yang tinggal di sebelah-menyebelah jalan dan terutama para peronda di gardu-gardu. Namun para peronda itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam ketika mereka melihat Pandan Wangi dan kawan-kawannya lewat. Mereka mengerti, bahwa Pandan Wangi baru kembali dari hutan perburuan.

Demikian juga, ketika derap kaki-kaki kuda itu memasuki halaman rumah Ki Argapati. Para peronda di regol halaman itu pun terkejut, meskipun memang kadang-kadang terjadi Pandan Wangi pulang dari hutan perburuan di malam hari.

Derap kaki kuda yang memasuki halaman itu pun telah membangunkan Ki Argapati dan tamu-tamunya dari Sangkal Putung. Mereka hampir berbareng telah turun ke halaman, menyambut mereka yang baru datang dari daerah perburuan.

Namun kuda yang tidak berpenumpang itu memang menarik perhatian. Sehingga Ki Argapati pun segera bertanya, “Siapakah yang tidak ada di antara kalian?”

Pandan Wangi menjadi berdebar-debar. Sejenak ia memandang berkeliling. Tetapi karena ayah dan ibu Rudita belum nampak di antara mereka, maka ia pun segera berbisik kepada ayahnya, “Ada yang kosong Ayah, tetapi ada yang terpaksa membawa dua orang di satu punggung kuda.”

Ki Argapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Jadi sengaja kuda yang seekor itu kalian muati dengan barang-barang dan alat-alat berburu?”

“Sebagian benar,” sahut Pandan Wangi.

Ki Argapati tidak segera menangkap maksud anaknya. Ketika ia kemudian memandang berkeliling, semua penunggang kuda telah berloncatan turun.

“Kuda itu juga membawa sehelai kulit seekor naga raksasa.”

“He, naga raksasa. Di mana kau mendapatkannya?” Pandan Wangi tidak menjawab pertanyaan ayahnya, tetapi ia berkata, “Ada yang lebih menarik dari sehelai kulit naga raksasa itu.”

“Apa?”

“Rudita hilang, Ayah.”

“He,” kata-kata itu benar-benar telah mengejutkan Ki Argapati dan tamu-tamunya dari Sangkal Putung, sehingga dengan serta-merta Ki Gede Menoreh berkata, “Berkatalah yang benar.”

“Benar, Ayah. Dan di antara kami sekarang adalah Raden Sutawijaya.”

“He, apakah yang kau katakan itu. Kau belum memberi penjelasan tentang Rudita, sekarang kau menyebut nama Raden Sutawijaya.”

“Ia ada di antara kami.”

“Apakah kau mengigau?”

Pandan Wangi tidak menjawab. Ia memberi kesempatan seorang anak muda yang bersenjata tombak pendek melangkah maju mendekati Ki Gede Menoreh, “Ya, Paman. Aku datang bersama dengan Pandan Wangi dan pengiringnya.”

“Raden Sutawijaya?”

Beberapa orang melihat anak muda itu menyibak para pengiring Pandan Wangi dan seleret sinar obor jatuh di atas wajahnya.

Sambil tersenyum, Sutawijaya berkata selanjutnya, “Ternyata bahwa selama berburu di hutan liar itu, Pandan Wangi dan orang-orangnya banyak menjumpai ujian yang berat.”

Ki Argapati mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Tetapi marilah, Raden, kita naik ke pendapa. Aku belum mengucapkan selamat datang kepada Raden.”

“Baiklah, Paman. Tetapi sebaiknya Paman mendengarkan dahulu ceritera tentang anak muda yang disebut bernama Rudita itu.”

“O, bagaimana dengan Rudita? Apakah benar hilang?”

“Biarlah Pandan Wangi menceriterakannya.”

Ki Argapati memandang Pandan Wangi sejenak, ia pun bertanya, “Bagaimanakah sebenarnya yang terjadi?”

Maka Pandan Wangi pun segera menceriterakan tentang Rudita yang ditinggalkannya sendiri, karena semula ia mengkhawatirkan keselamatannya. Namun justru kemudian Rudita itu hilang tanpa jejak, selain hanya beberapa ciri yang memberikan sekedar tanda-tanda yang kurang jelas.”

“Hilang, jadi Rudita benar-benar hilang?” desis Ki Argapati.

“Ya, Ayah.”

Wajah Ki Gede Menoreh menjadi tegang. Namun kemudian ia pun menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Suatu cobaan yang berat bagi kita, Pandan Wangi.”

“Aku mengerti, Ayah,” Pandan Wangi menunduk wajahnya, “tetapi yang terjadi adalah di luar kemampuanku. Ia sangat manja dan apalagi penakut. Aku mengalami kesulitan membawanya serta di dalam perburuan.”

Ki Argapati pun kemudian berpaling memandang Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang yang berdiri di antara mereka. Mereka tidak sempat mengucapkan selamat datang kepada Raden Sutawijaya, karena Pandan Wangi tidak memberinya kesempatan. Namun Pandan Wangi tidak dapat lagi mengingat adat sopan-santun itu lagi, karena kegelisahan yang meluap di dalam hatinya.

“Kiai, kita kehilangan seorang tamu,” desis Argapati.

“Memang menyulitkan sekali,” sahut Kiai Gringsing. Lalu, “Apakah kau juga menyaksikan peristiwa itu Raden?” bertanya Kiai Gringsing kepada Raden Sutawijaya.

Barulah Raden Sutawijaya sadar, bahwa ia berhadapan dengan Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang Sangkal Putung.

“O, maaf, Kiai. Aku belum sempat mengucapkan selamat bertemu lagi.”

“Selamat, Ngger. Tetapi kedatangan Angger kali ini ternyata membawa berita yang sangat mengejutkan.”

“Nanti aku akan menceriterakan semua yang telah teriadi, Kiai, sehingga Kiai akan mendapat gambaran tentang peristiwa itu.”

Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang Sangkal Putung hanya mengangguk-anggukkan kepala saja.

Namun Ki Argapati-lah yang kemudian mempersilahkan tamunya, “Marilah, duduklah dahulu.”

Raden Sutawijaya itu pun kemudian duduk di pendapa bersama orang-orang Menoreh dan Sangkal Putung. Mereka memperbincangkan setiap kemungkinan yang dapat terjadi atas Rudita.

“Benar-benar kita dihadapkan pada suatu kesulitan.”

“Ayah,” pinta Pandan Wangi, “aku tidak sampai hati mengatakan hal ini kepada Paman dan Bibi. Rudita adalah anak satu-satunya bagi orang tuanya. Jika ia tidak dapat diketemukan dalam keadaan selamat, maka ayah dan ibunya akan mengalami kejutan yang sepanjang hidupnya tidak akan dapat dilupakan. Dan mereka pun akan menjadi sangat marah pula kepadaku.”

Ki Argapati tidak segera dapat menyahut.

“Ayah. Biarlah Ayah saja yang menyampaikan kepada ayah dan ibu Rudita, diikuti dengan permohonan maaf.”

Ki Argapati menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia memandang pintu gandok di seberang longkangan yang masih tertutup. Di gandok itulah, ayah dan ibu Rudita bermalam selama ia berada di Tanah Perdikan Menoreh.

“Baiklah,” berkata Ki Argapati kemudian, “aku akan mengatakannya, meskipun aku menyadari, bahwa hal ini akan sangat mengejutkan mereka, terutama ibunya. Rudita adalah satu-satunya anak mereka yang sangat mereka manjakan. Jika Rudita itu benar-benar hilang, maka aku dapat menggambarkan, betapa pedihnya hati mereka.”

“Tetapi Ayah dapat menjelaskan, bahwa kami akan mencarinya. Kami akan membawa pengawal lebih banyak lagi, karena ternyata di daerah ujung dari Tanah Perdikan kita, terdapat sebuah padepokan yang agaknya dipergunakan oleh seseorang yang menamakan dirinya Panembahan Agung itu.”

“Mungkin masih di batas telatah Menoreh, tetapi mungkin pula di seberang,” desis Sutawijaya menyela, “kau masih belum tahu pasti letak padepokan itu. Bahkan mungkin bukan sebuah padepokan, tetapi hanya sekedar sarang yang mereka pergunakan untuk sementara.”

“Mungkin, memang mungkin. Mencari Rudita bukannya pekerjaan yang mudah,” desis Ki Argapati, “namun bagaimanapun juga kita bertanggung jawab atas hilangnya anak itu. Anak yang sama sekali tidak pernah menyiapkan dirinya menghadapi kekerasan, meskipun ayahnya seorang yang memiliki banyak kelebihan. Bukan saja kanuragan, tetapi menurut pendengaranku, ia memiliki ilmu yang jarang dimiliki oleh seseorang. Selain pandangannya yang tajam dan jauh, yang mampu menembus batas waktu kini, yang sudah lampau dan yang akan datang, namun ia juga memiliki kemampuan-kemampuan lain yang bukan sekedar kasat mata.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Teringat olehnya pemomongnya di masa kanak-kanak yang kini seakan-akan telah hilang dari lingkungan Istana Pajang, Ki Gilingwesi, yang menurut pendengarannya terakhir bertapa di atas Gunung Merapi. Orang itu pun menurut pendengarannya memiliki ilmu yang gaib.

Dalam pada itu, Kiai Gringsing pun menarik nafas dalam-dalam. Sejenak dipandanginya Ki Argapati yang ikut berprihatin atas hilangnya Rudita. Tetapi pembicaraan mengenai ilmu yang gaib itu telah menyentuh perasaannya.

Sebenarnyalah balwa Kiai Gringsing pernah mempelajarinya. Tetapi ilmu itu disimpannya rapat-rapat di dalam dirinya. Ilmu yang seakan-akan memiliki kemampuan jauh di luar jangkauan akal itu sebenarnya tidak banyak berpengaruh. Namun di dalam saat-saat tertentu, ilmu semacam itu memang dapat dipergunakannya. Meskipun Kiai Gringsing sadar, bahwa ilmu yang gaib semacam itu, tidak hanya ada satu atau dua jenis, tetapi ada bermacam-macam, sehingga yang satu tidak sama dengan yang lain. Demikian juga ilmu yang pernah dipelajari oleh Kiai Gringsing itu jauh berbeda dengan ilmu yang dimiliki oleh ayah Rudita. Kiai Gringsing tidak sanggup untuk melihat menembus batas waktu, apalagi yang cukup jauh. Ia hanya dapat memperhitungkan berdasarkan pengalaman, kenyataan-kenyataan yang pernah terjadi dan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapinya. Perhitungan demikian memang tidak selamanya tepat, tetapi apabila ia yakin, maka dapat juga agaknya dijadikan pegangan.

Keyakinan itulah yang menjadi dasar ilmu Kiai Gringsing. Ia tidak dapat membakar hutan dengan tatapan matanya. Ia tidak dapat menjadikan dirinya kebal tanpa dapat dilukai senjata. Dan ia tidak dapat menciptakan bentuk-bentuk bayangan yang seakan-akan menjadi suatu kenyataan.

Namun Kiai Gringsing memiliki ilmu yang disebutnya sekedar sebuah perisai. Itulah yang memberikan kemantapan pada pribadinya. Selain perisai dalam bentuk olah kanuragan, namun ia memiliki kemampuan menyadari kediriannya, kepribadiannya. Dengan demikian, maka Kiai Gringsing tidak mudah ditembus oleh ilmu yang gaib dari orang lain. Ia tidak mudah dapat dipengaruhi dengan cara yang betapapun juga. Panca inderanyalah yang seakan-akan menjadi kebal dari pengaruh ilmu gaib itu. Dan ilmu itulah ilmu gaib yang dimiliki oleh Kiai Gringsing. Ilmu yang karena keyakinannya atas dirinya di dalam hubungannya dengan Penciptanya, dengan kemurnian indera dan angan-angan, sehingga ia dapat membebaskan dirinya dari pengaruh gaib yang lain.

“Tetapi agaknya ayah Rudita memiliki ilmu yang lain,” berkata Kiai Gringsing di dalam hatinya, “selain kemampuannya menembus waktu, agaknya ia mampu berbuat sesuatu. Tetapi ia orang baik. Dan itulah kelebihannya yang paling berharga.”

Demikianlah, maka pertemuan yang tiba-tiba itu agaknya telah menegangkan hati. Apalagi Ki Argapati, yang kakinya masih belum dapat pulih sama sekali, meskipun ia masih tetap seorang yang memiliki kelebihan dari orang lain.

“Besok aku akan mengatakannya,” desis Ki Argapati tiba-tiba.

“Tetapi apakah mereka tidak akan terbangun mendengar kita berbicara di pendapa ini?” bertanya Pandan Wangi.

“Ternyata mereka tidak juga keluar.”

“Terserah kepada Ayah. Sebentar lagi fajar akan segera menyingsing.”

“Sekarang, beristirahatlah. Aku akan berbicara dengan orang-orang tua.”

Pandan Wangi dan anak-anak muda yang lain pun segera meninggalkan pendapa itu. Yang tinggal hanyalah orang-orang tua yang masih tetap mencari jalan, bagaimana mereka akan berbuat untuk menyelamatkan Rudita.

Namun dalam pada itu, sebenarnyalah ayah Rudita sudah terbangun. Sebuah getaran yang dahsyat telah menggetarkan dadanya. Karena itulah, maka justru ia sedang mencoba mengetahui apakah maknanya.

Dengan daya penglihatan batinnya, ayah Rudita ingin mengetahui getaran apakah sebenarnya yang telah mengguncang jantungnya itu.

Perlahan-lahan ayah Rudita itu berhasil melihat di dalam isyarat yang gaib, peristiwa yang menimpa anaknya. Meskipun ia tidak melihat pasti, apakah yang sudah terjadi, tetapi ia melihat, bahwa anaknya sedang dicengkam oleh bahaya yang mengancam nyawanya.

Ayah Rudita itu pun menarik nafas dalam-dalam. Sebagai seorang ayah, ia menjadi sangat cemas. Namun di dalam penglihatannya, ia masih mempunyai harapan untuk menemukan anaknya, karena sampai saat itu, anaknya masih dianggapnya selamat.

“Tetapi apakah yang dapat aku lakukan?” berkata laki-laki itu di dalam hatinya. “Jika ibunya mengetahui, maka aku akan lebih banyak dicengkam oleh kebingungan, sehingga penglihatanku akan menjadi kabur. Namun bagaimanapun juga, adalah kuwajibanku untuk menemukannya.”

Tanpa membangunkan isterinya, laki-laki itu pun bangkit dari pembaringan dan melangkah keluar. Derit pintu gandok agaknya terdengar dari pendapa, sehingga orang-orang yang ada di pendapa itu pun berpaling kepadanya.

Terasa dada Ki Argapati menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa orang tua Rudita dapat menuntut pertanggungan jawab Pandan Wangi. Namun agaknya yang terjadi itu adalah di luar kemampuan anak gadisnya dan kawan-kawannya.

Perlahan-lahan ayah Rudita mendekati Ki Argapati. Sekilas ia tersenyum. Kemudian ia pun menyapanya, “Ki Gede masih juga berjaga-jaga di pendapa menjelang fajar?”

Ki Argapati pun masih mencoba tersenyum dan mempersilahkan laki-laki itu duduk.

Sejenak ia menjadi termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata dengan suara yang tertahan-tahan, “Pandan Wangi telah datang dari daerah perburuannya.”

“O,” laki-laki itu mengangguk-angguk. Dan ia pun mulai merasakan kebenaran getaran isyarat di dalam dirinya. Jika Pandan Wangi telah datang, dan Rudita tidak besertanya, maka ia benar-benar telah dicengkam oleh bahaya.

“Tetapi,” suara Ki Argapati menjadi bertambah dalam, “Rudita tidak datang bersamanya.”

Laki-laki itu menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Perlahan ia bertanya, “Di manakah anak itu?”

Ki Argapati pun kemudian menceriterakan apa yang sudah terjadi atas Rudita, betapapun beratnya.

“Tetapi Pandan Wangi bersedia untuk mencarinya. Ia akan segera menyiapkan pengawal yang lebih banyak. Dan sudah barang tentu, kami tidak akan membiarkan anak-anak itu berkeliaran tanpa pengawasan kami setelah peristiwa ini terjadi.”

Ayah Rudita itu termenung sejenak. Terbayang di rongga matanya, bagaimanakah terkejut isterinya jika ia mendengarnya. Namun ia pun sadar, bahwa ia tidak dapat mempersalahkan siapa pun juga. Yang terjadi adalah seolah-olah sebuah kecelakaan bagi Rudita, dan dalam persoalan itu, tidak akan dapat menyalahkan orang lain.

“Besok, jika pasukan pengawal terpilih sudah siap, ia akan segera berangkat. Tetapi kami pun harus berhati-hati, agar kami tidak terjebak, dan tidak sebagai serangga menjelang api. Karena sebenarnyalah kami tidak mengetahui, betapa besar pasukan orang-orang yang tidak kita kenali itu. Kita masih harus memperhitungkan, apakah Daksina, seorang perwira dari Pajang itu hanya seorang diri di daerah yang masih buas itu atau ia membawa sepasukan prajurit bawahannya dari Pajang.”

Ayah Rudita mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang semuanya harus diperhitungkan. Dan aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan Pandan Wangi mencari anak itu. Dan apalagi dengan orang-orang yang mendapat kepercayaan Ki Gede.”

“Aku sendiri akan pergi,” berkata Ki Gede.

“Tetapi……” sahut ayah Rudita.

“Kakiku sudah berangsur menjadi semakin baik. Meskipun perlahan-lahan sekali, namun semakin lama terasa kemajuannya, karena aku membiasakan mempergunakannya. Mungkin kakiku tidak bertambah baik. Tetapi akulah yang menjadi biasa dengan kaki yang cacat ini.”

“Tetapi sebaiknya Ki Argapati tetap di rumah. Biarlah aku mengikuti anak-anak itu mencari Rudita.”

“Tidak ada salahnya aku ikut. Aku ingin melihat padepokan orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung.”

“Panembahan Agung,” ayah Rudita mengerutkan keningnya. Lalu sambil mengangguk-angguk ia berdesis, “Aku pernah mendengar nama itu. Atau nama yang mirip dengan itu. Seorang yang menyebut dirinya Panembahan Panjer Bumi. Tetapi mungkin juga orangnya lain. Panembahan Panjer Bumi adalah seorang yang diliputi rahasia dan berkeliaran di sebelah Utara pegunungan kapur itu.”

“Memang ada banyak orang yang menyebut dirinya panembahan,” sahut Kiai Gringsing. “Aku juga pernah bertemu dengan seseorang yang menyebut dirinya panembahan tanpa nama.”

Ayah Rudita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia masih diterangi oleh sebuah harapan meskipun samar-samar. Tetapi sampai kapan harapan itu dapat dipegangnya. Jika saatnya terjadi atas Rudita, maka harapan itu pun akan segera padam.

“Memang tidak ada jalan lain kecuali segera mencarinya. Aku tidak kuasa untuk mencegah sesuatu yang mungkin terjadi atasnya dengan kemampuanku dari rumah ini,” katanya di dalam hati.

“Ki Argapati,” berkata ayah Rudita kemudian, “aku pun akan mempersiapkan diri. Barangkali sudah sepantasnya aku, ayahnya, ikut mencarinya. Mungkin ada suatu yang dapat aku lakukan untuk menyelamatkannya.”

Ki Argapati tidak akan dapat menolak. Tentu orang tua Rudita itu pun dicengkam oleh kegelisahan. Meskipun ia memiliki ilmu untuk menembus batas waktu dan tempat, namun ia tidak akan dapat berbuat sesuatu atas yang terjadi selain menangkap isyaratnya. Dan isyarat yang gelap akan membuat hatinya menjadi semakin gelap.

“Kadang-kadang beruntung juga rasanya, bahwa aku tidak mengetahui apa yang terjadi, meskipun hanya sekedar isyarat yang samar-samar. Dengan demikian usaha, dan ihtiar tidak akan dilemahkan oleh isyarat-isyarat itu, apalagi apabila kita salah mengurai arti dari isyarat itu,” berkata Ki Argapat di dalam hatinya, karena ia sadar bahwa yang terjadi itu akan tetap terjadi, ada atau tidak ada isyarat. “Tetapi,” ia melanjutkan, “kadang-kadang isyarat memang menjadi pendorong untuk berbuat sesuatu.”

Dalam pada itu, maka malam pun menjadi semakin lama semakin tipis. Cahaya kemerah-merahan mulai membayang di langit. Dan cahaya kemerah-merahan itu adalah isyarat akan datangnya fajar, disambut oleh kokok ayam jantan yang bersahut-sahutan.

“Baiklah aku berkemas,” berkata ayah Rudita, “bukankah kita akan segera berangkat mencari Rudita?”

“Memang semakin cepat semakin baik. Jejaknya mungkin masih membekas, dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita harapkan barangkali masih dapat dihindarkan,” sahut Ki Argapati. “Jika fajar menjadi semakin terang, aku akan memerintahkan para pengawal bersiap. Para pengawal pilihan, karena kita akan menjelang suatu daerah yang belum pernah kita jajagi.”

Demikianlah, maka ayah Rudita itu pun kemudian meninggalkan pendapa itu. Ia pun sebenarnya bukan saja dibingungkan oleh hilangnya Rudita, tetapi juga untuk menemukan cara mengatakan hal itu kepada isterinya.

Dalam pada itu, selagi Ki Argapati masih duduk di pendapa bersama Kiai Gringsing, Ki Sumangkar, dan Ki Demang Sangkal Putung, maka Pandan Wangi pun telah berada di dalam biliknya. Beberapa saat lamanya ia duduk merenung. Kadang-kadang hatinya menjadi kelam. Bagaimanapun juga ia sangat terpengaruh oleh hilangnya Rudita, seolah-olah segenap pertanggungan jawab ada di atas pundaknya.

Sementara itu, di gandok yang lain, Agung Sedayu dan Swandaru duduk bersama Raden Sutawijaya dan Prastawa. Mereka pun masih juga dibayangi oleh peristiwa yang baru saja terjadi.

“Jika kalian tidak bertemu dengan kami, maka anak itu tidak akan hilang,” desis Raden Sutawijaya.

“Kita tidak dapat mencari kesalahan pada diri kita masing-masing, Raden,” sahut Agung Sedayu. “Kita semuanya bersalah. Yang penting, bagaimana kita akan dapat menemukannya kembali.”

“Aku mengharap, hari ini pasukan yang lebih kuat akan datang langsung kemari. Orang-orangku yang membawa korban kawan-kawannya itu pasti sudah sampai di tlatah Mataram jika mereka tidak terjebak oleh Daksina. Dan mereka akan mengatakan semuanya kepada Ayahanda Ki Gede Pemanahan. Dan ayahanda akan mengetahui, apakah yang sebaiknya dilakukan buat aku dan terlebih-lebih buat Mataram.”

Agung Sedayu, Swandaru, dan Prastawa mengangguk-angguk. Sejenak mereka berdiam diri, namun tiba-tiba saja di luar dugaan Swandaru bertanya, “Tetapi Raden, barangkali pertanyaanku tidak menyenangkan. Namun karena aku sendiri sedang dipengaruhi oleh suasana yang serupa, maka agaknya aku ingin bertanya, apakah mungkin ancaman Daksina itu dapat dilakukannya, karena ia menyebut seorang gadis yang tersangkut di dalam persoalan antara Mataram dan Pajang?”

“Ah,” desis Raden Sutawijaya yang tiba-tiba menjadi tersipu-sipu.

Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi agaknya ia tertarik juga pada pertanyaan Swandaru itu. Meskipun demikian ia tidak mengatakan sesuatu. Bahkan Prastawa-lah yang seakan-akan tanpa disadari pula mendesak, “Ah, agaknya Raden memang sudah saatnya untuk kawin.”

Wajah Sutawijaya menjadi semakin merah. Meskipun demikian ia menjawab, “Tidak ada persoalan apa-apa. Agaknya aku memang sudah terlibat dalam hubungan dengai seorang gadis. Tetapi bukankah itu wajar? Jika Daksina mencoba memeras dengan ceriteranya yang bukan-bukan, itu sama sekali bukan kebenaran.”

“Tetapi apakah salahnya jika Raden Sutawijaya memang sebenarnya berhubungan dengan seorang gadis seperti juga Swandaru sekarang?” sahut Prastawa. “Ia datang untuk melamar Pandan Wangi. Bukankah itu wajar?”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi menilik sikapnya ada sesuatu yang sengaja dirahasiakannya. Karena itu maka katanya kemudian, “Sudahlah, kita berbicara tentang persoalan lain.”

Prastawa tersenyum. Katanya, “Baiklah, kita berbicara tentang soal lain. Tetapi jika pada saatnya Raden benar-benar menemukan seorang gadis, maka kami mengharap agar Raden bersedia menerima kedatangan kami, diundang atau tidak diundang.”

Raden Sutawijaya hanya tersenyum saja. Tetapi ia kemudian berkata, “Sebaiknya kita berbicara tentang Rudita. Begitu pasukanku tiba, kita akan berangkat. Pasukan yang aku minta adalah pasukan pengawal yang terpilih. Tidak hanya sepuluh sampai duapuluh orang. Tetapi adbmcadangan.wordpress.com paling sedikit aku harus membawa tigapuluh orang. Kita akan mengepung sarang gerombolan orang-orang yang telah mengambil Rudita itu. Dan barangkali di antara mereka terdapat prajurit-prajurit Pajang selain Daksina.”

“Tetapi Raden,” Agung Sedayu bertanya, “apakah Raden pasti bahwa yang mengambil Rudita itu termasuk golongan Daksina dan kawan-kawannya. Apakah tidak mungkin ada pihak lain yang melakukannya dengan tujuan yang tidak ada hubungannya dengan Daksina?”

“Itu memang mungkin terjadi,” berkata Sutawijaya, “tetapi di dalam keadaan itu, agaknya tentu orang-orang Daksina yang melakukannya dengan maksud-maksud tertentu.”

Yang mendengarkan keterangan Sutawijaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun berpendapat, bahwa yang mengambil Rudita tentu orang-orang di pihak Daksina, meskipun mereka kadang-kadang juga disentuh oleh pertanyaan, bahwa ada pihak lain yang mengambil keuntungan.

“Tetapi siapa?” pertanyaan lain menyusul, dan di susul pula oleh sebuah dugaan, “Barangkali ayah Rudita mempunyai lawan atau saling bersaing.”

Dalam pada itu, ternyata perintah Ki Gede Menoreh untuk mengumpulkan para pengawal terpilih telah berpencar ke segenap padukuhan yang termasuk tlatah Tanah Perdikan Menoreh. Setiap padukuhan wajib mengirimkan dua atau tiga orang yang paling baik di antara para pengawal yang ada di padukuhan itu.

Namun ternyata, bahwa para pengawal yang membawa perintah itu harus menjelaskan, bahwa yang diperlukan hanya dua atau tiga orang. Bukan sepuluh orang.

Beberapa orang pengawal menjadi kecewa, bahwa mereka tidak mendapat kesempatan kali itu. Namun mereka harus tunduk kepada setiap pemimpin kelompok yang menunjuk orang-orang terbaik di lingkungan mereka.

“Ada persoalan yang cukup gawat,” berkata utusan Ki Gede Menoreh itu kepada para pengawal. “Seorang tamu Ki Gede ternyata telah hilang. Kita bersama-sama wajib mencarinya.”

Para pengawal mengangguk-angguk.

“Selain yang pergi bersama kami, maka yang tinggal pun harus bersiaga di padukuhan masing-masing. Jika kalian melihat orang-orang yang mencurigakan, apalagi membawa tamu Ki Gede itu, kalian harus cepat bertindak. Mungkin orang yang membawa tamu itu seorang yang sakti. Tetapi jika kalian sempat membunyikan isyarat, maka pengawal dari padukuhan di sekitar kalian akan datang. Betapa saktinya seseorang, tetapi kemampuannya pasti terbatas. Jika jumlah kita cukup banyak, maka mereka pun tentu akan dapat kita kuasai.”

Demikianlah, maka para pengawal itu pun mulai berkumpul di halaman rumah Kepala Tanah Perdikan Menoreh.

Pada saat di halaman mulai berdatangan beberapa orang pengawal, maka ibu Rudita menangis di dalam biliknya. Anaknya yang sangat dikasihinya itu tiba-tiba telah hilang.

“Apakah sengaja, Pandan Wangi dan anak-anak muda dari Sangkal Putung itu meninggalkan Rudita di hutan?” desis ibu Rudita di antara isaknya.

“Tentu tidak. Yang datang malam tadi bukan saja Pandan Wangi dan anak-anak muda Sangkal Putung itu, tetapi juga Raden Sutawijaya, putera angkat Sultan Pajang, yang sebenarnya adalah anak laki-laki Ki Gede Pemanahan.”

“Tetapi nampaknya anak-anak Sangkal Putung itu iri melihat kehadiran Rudita di sini. Apalagi anak yang datang untuk melamar Pandan Wangi. Mungkin anak itu sudah dibakar oleh perasaan cemburu.”

Tetapi suaminya menggelengkan kepalanya, “Tentu tidak. Yang terjadi adalah sebuah kecelakaan.”

“Kau yakin?”

Laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Meskipun ia tidak dapat melihat sampai ke soal yang sekecil-kecilnya di dalam pandangan indera gaibnya, namun untuk meyakinkan isterinya ia berkata, “Ya. Aku dapat membedakan getar di dalam diriku. Sebenarnyalah aku sudah merasa, bahwa sesuatu terjadi atas Rudita. Dan aku merasa, bahwa yang terjadi adalah suatu kecelakaan.”

Isterinya tidak membantah lagi. Ia percaya kepada suaminya, bahwa ia memiliki kemampuan melihat. Namun demikian, sebenarnya ada kecurigaan juga padanya, bahwa suaminya tidak berkata sebenarnya seperti yang dilihatnya. Tetapi ibu Rudita itu tidak mendesaknya lagi.

Sementara itu, halaman rumah Ki Gede Menoreh semakin lama menjadi semakin sibuk. Para pengawal terpilih dari beberapa padukuhan telah datang dengan perlengkapan perang menurut kebiasaan masing-masing. Ada yang membawa tombak pendek, pedang, perisai dan ada pula yang membawa bindi bergerigi.

Sutawijaya dan anak-anak muda dari Sangkal Putung menyaksikan kesibukan itu dari serambi gandok. Sementara itu Prastawa telah sibuk menyiapkan semua kelengkapan yang diperlukan untuk melakukan perburuan yang lebih besar itu.

“Ki Demang,” berkata Ki Argapati kepada Ki Demang Sangkal Putung, “aku minta maaf, bahwa pembicaraan kita terpaksa diselingi dengan persiapan perang seperti ini. Aku terpaksa minta diri beberapa saat untuk menemukan tamu yang hilang itu. Jika tidak, maka akan dapat terjadi salah paham antara aku dan orang tua Rudita, terutama ibunya yang sangat mengasihinya. Biarlah Ki Demang tinggal di sini beberapa saat lamanya. Aku mengharap, bahwa kami tidak memerlukan waktu terlampau lama.”

“Tetapi menurut pendengaranku, Kiai Gringsing dan Ki Sumangkar akan ikut serta dengan pasukan pengawal ini.”

“Ya. Mereka akan pergi bersama kami, juga ayah Rudita akan pergi.”

“Anakku pun akan pergi. Karena itu, biarlah aku pergi juga.”

“Sebaiknya Ki Demang tetap tinggal di sini.”

“Biarlah aku pergi. Aku ingin melihat apa yang akan terjadi. Apalagi Swandaru pun akan ikut pula bersama Angger Pandan Wangi.”

“Ya. Pandan Wangi merasa bertanggung jawab.”

“Raden Sutawijaya merasa bertanggung jawab pula.”

“Ya. Kami akan pergi bersama-sama,” Ki Gede berhenti sejenak, lalu, “aku masih mengharap Ki Demang tinggal di rumah ini.”

“Terima kasih Ki Gede. Tetapi aku mohon diijinkan ikut serta.”

Gede menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak mencegahnya lagi.

Demikianlah, persiapan itu menjadi semakin lengkap. Karena itu, maka Ki Gede pun kemudian memanggil Raden Sutawijaya ke pendapa bersama tamu-tamunya. Termasuk ayah Rudita. “Kita sudah bersiaga,” berkata Ki Argapati, “kita akan segera berangkat mencari Rudita. Ternyata semuanya kita akan berangkat. Memang sebenarnya kita mengharap, bahwa adbmcadangan.wordpress.com ada yang tinggal. Ada yang mengharap aku tinggal, tetapi aku sendiri mengharap Ki Demang yang tinggal, yang lain mengharap orang lain lagi. Namun agaknya kita bersama-sama ingin mencari Rudita. Bagi Raden Sutawijaya dan bagi Menoreh, tentu ada juga alasan-alasan lain. Bukan saja mencari Rudita, tetapi ada sangkut pautnya juga dengan keamanan bagi Mataram dan Menoreh untuk selanjutnya.”

“Apakah kita akan segera berangkat?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya. Kita sudah siap. Aku akan memberikan beberapa petunjuk. Dan aku akan minta seseorang yang aku anggap sudah mengenal daerah di sekitar tempat kejadian itu untuk memberikan beberapa keterangan mengenai daerah yang masih dapat kita anggap asing itu.”

“Tetapi aku berharap agar keberangkatan ini dapat ditunda beberapa saat saja.”

“Kenapa?” tiba-tiba ayah Rudita memotong.

“Aku sudah mengirimkan orang-orangku kembali ke Mataram dengan pesan, agar Ayahanda Ki Gede Pemanahan memerintahkan beberapa puluh pengawal terpilih untuk mengikuti aku pergi ke sarang Daksina dan orang-orangnya. Kita tidak tahu, apakah di sana ada sepasukan prajurit Pajang yang berpihak kepada Daksina. Karena itu, maka kita harus berhati-hati. Pasukan kita harus pasukan yang kuat. Jika kita terpaksa menghadapi kekuatan yang besar. Kecuali jika kita sempat mengirimkan seseorang atau dua untuk menyelidiki daerah itu terlebih dahulu.”

“Tetapi itu akan memakan waktu Raden,” berkata ayah Rudita.

“Maksudmu, apakah kita tidak dapat menunggu pasukan pengawal dari Mataram?”

Ayah Rudita menjadi termangu-mangu, demikian juga Ki Gede Menoreh. Karena itu, maka untuk beberapa saat mereka tidak segera dapat mengambil keputusan.

“Ki Gede,” berkata Sutawijaya, “menilik kelengkapan orang-orang yang di bawa oleh Daksina, ada suatu kelompok yang teratur di bawah satu perintah. Menurut dugaanku, Daksina bukan orang tertinggi. Baik di dalam lingkungan orang-orang bersenjata itu, maupun perwira Pajang yang sengaja ingin melihat Pajang menjadi semakin lemah dan apabila mungkin hancur bersama Mataram. Karena itu, kita harus memperhitungkan kekuatan mereka baik-baik, agar bukan kitalah yang bagaikan serangga masuk ke dalam api.

Ki Gede Menoreh menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti apa yang dikatakan oleh Sutawijaya. Dan ia pun sudah berpikir seperti itu, Namun Ki Gede Menoreh dipengaruhi oleh tanggung jawabnya atas hilangnya Rudita, sehingga karena itu, maka ia menjawab, “Kami tidak berkeberatan menunggu pasukan pengawal dari Mataram. Semakin kuat kita, itu semakin baik. Tetapi kita tidak boleh terlambat, sebab yang ingin kita selamatkan adalah nyawa seseorang.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 6 Desember 2008 at 00:00  Comments (36)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-73/trackback/

RSS feed for comments on this post.

36 KomentarTinggalkan komentar

  1. “hmmm.. tampaknya hutan ini masih benar-benar sepi. biarlah aku yang mulai terlebih dahulu. sehingga dapat memilih lokasi yang paling baik di antara lebatnya alas 73 ini,” kata Sukra.

    sejenak kemudian

    “ngaso dulu ah..”

  2. Lho….ingkang dumugi nembe Kang Sukra tho …?
    Wah bisa milih kapling yang cocok nich..habis tak bersihkan…nusul leyeh-leyeh, ngaso sama Kang Sukro.
    Ki GeDe kawula sampun bersihkan lahan dan pilih kapling di alas 73 dan absen no 2

  3. Kula absen no 3 Ki GD

  4. Ki KontosWedul kemudian datang juga di tempat yang masih banyak perdu2nya tersebut. Namun alangkah terkejutnya dia ketika melihat disana ternyata sudah ada 3 orang cantrik yang sudah datang terlebih dahulu.

    Akhirnya Ki KontosWedul yang mumpuni itupun ikut duduk bersama ketiga cantrik tersebut untuk menunggu regol di depan rumah ki Gede

    xixixi 😀

  5. numpang buka lapak disini juga Ki Gede…

  6. Absen Ki Gede

  7. Masih ada yang lebih pagi toh… Ikut antri ah…

  8. hmm…sungguh tak disangka-sangka, ternyata sudah banyak cantrik yg membantu ki DD membabat kapling 73…
    syukurlah akhirnya kapling yg wingit ini bisa dibuka juga…

  9. Lha ini baru mantep ..
    Aku ikut anrti Ki DD,lumayan dapet no 8.

    Maturnuwun

  10. antri juga ahhhhh

  11. “Wah Dimas Sukra tumben sudah sampai duluan, mengalahkan Ki Maswal dan Ki Pandanalas selaku kuncen lapak,.. hehehehe…”

  12. Selama ini aku ndak pernah absen, maaf ki

    salam
    Galib

  13. Ternyata racun itu tidak hanya bersarang di tubuh ki Gede, tapi telah menular kepada seluruh warga pedukuhan ini. Reaksi keras dari racun itu adalah sifat kecanduan setiap orang untuk ditambah dengan masukan2 baru dari jenis2 racun yang bernomor urut. Semakin tinggi nomor racun ternyata semakin tinggi kadar adictifnya.
    Hati2 ki sanak, yang belum kecanduan sebaiknya menghindarkan diri atau mencobanya sekalian.
    Ki Truno Podang

  14. Wah… jebulnya sdh bisa dibabat alas ini, minta ijin Ki GD… aku mbabat bagian wingit ini utk tanam jagung

  15. Wah,
    ada Ki Putut Nantang Nasi

  16. Ikutan absen Ki Gede

  17. ngantri girik ke Gede.
    sambil leyeh2

  18. “hooooooaaammmm….” (buka mulut lebar-lebar kayak kuda nil) maksude lagi angop…. “NGANTUK”… “numpang tidur aaahhh”

  19. Sepi… apakah para penyamun masih bersembunyi di sekitaran alas mentaok ? Ataukah orang-orang asing yang belum jelas sering menjegal para pendatang untuk meramaikan alas mentaok ini ???

    # mungkin URL nya harus seperti yang telah kita edit ya Ki Harry. 🙂

  20. Sambil ngantri, saya mau kasih komentar ama yang namanya Ki Kontos wedul. Gawe jeneng kok aneh-aneh.. he.. he..
    Ayo ki gede… udah nggak kukuh nih..

  21. aku ngikut ngambil jatah deh …

  22. MENYAMBUNG KOMENTAR CANTRIK ALPHONSE

    DITAWARKAN NAMA-NAMA cantik GRATISSSSS……

    Maaf tidak bermaksud………… stresssss nunggu ransum 73 kadit utem-utem. yok opo cak…….

  23. Den Ronggo… kok ngeres????

  24. Rudita mengendap-endap kesebuah rumah yang tampak terlihat ada kesibukan dimalam hari. Suasana nya begitu hingar bingar dan terang benderang. Ia mengamati suasana didalam rumah itu dari celah sebuah jendela yang tidak tertutup rapat. Terlihat ada kesibukan disana.

    “Kita harus segera menyelesaikannya malam ini” terdengar suara dari sebuah ruangan.

    “Tinggal tiga halaman terakhir Ki Gede” terdengar suara yang lainnya menjawab.

    “Jangan lupa diperiksa kembali formatnya agar pada saat upload tidak mengalami kendala seperti edisi 72 kemarin” jawab suara yang dipanggil sebagai Ki Gede itu.

    “Siap komandan” jawab suara yang lain menimpali.

    Rudita lalu bergeser kearah suara dimana Ki Gede sebagai komandan berada. Tanpa menimbulkan suara, ia merunduk dibawah jendela satu ke jendela lainnya.

    “Perlahan Kisanak ” tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundaknya.

    Rudita kaget bukan kepalang. Keringat dingin bercucuran seiring airmata yang mulai mengambang di pelupuk matanya. Nyalinya seakan hilang begitu saja.

    “Jangan tergesa-gesa” bisik orang itu. “Kau lihat bayangan yang bergerak-gerak dibalik pagar itu” sambil menunjuk pada gerumbulan perdu diluar pagar. “Ada lebih 20 orang cantrik yang sedang menunggu selesainya proses scanning didalam rumah ini.

    “Lalu kau sendiri siapa?” tanya Rudita memberanikan diri berkata.

    “Aku Dimas Sukra yang menjaga rumah ini” jawab orang itu pula. “Tunggulah engkau disana. Aku kan memberikan tanda isyarat bila pekerjaan didalam rumah telah selesai” jawabnya sambil membuka pintu dan masuk kedalam rumah.

    GD: Gimana perkembangan pasukan bogor, Ki Aul?

  25. ketoke alas 73 iki jaluk disarati ….jaluk dibelehno wedus gibas sing sungune loro-lorone kudu di potong…nanti kontosnya harus ditanam dekat pohon mentaok yang paling gede..sarat lain wedus tersebut tidak boleh disunat nanti kalau disunat bukan kontos wedul lagi namanya…

  26. Sebenernya ini juga yang dikawatirkan. Dengan alasan apapun, jangan sampai nama seseorang dibahas di sini. Itu termasuk wilayah SARA.
    Bagi sebagian orang mungkin enak saja, gak ada masalah. Tapi bagi yang berkuping priyayi seperti saya (hehehe) .. ya agak gerah. Maap ya Ki ..
    … ah akhirnya .. datang juga.
    Makasih Ki Gedhe.

  27. wah.. kitab 73nya kok tersamar

    btw
    matur nuwun

  28. Cool….

    tengkyu KI GEDE….

  29. Dahsyat hampir terkecoh…
    Bravo tuk Ki Gede

  30. Lha dalah…..
    Ki DD sekarang sukanya main tebak2an.
    Setelah celingukan ,cari2 dimana gerangan kitab 73 di sembunyikan.
    Ternyata INI yang dimaksud.

    Maju terus ABDM.

  31. Lapor Komandan,..

    Kami masih menunggu khabar dari Ki Ony mengenai kepastian atas kitab-kitab yang telah didapatkannya.

    Untuk proses scanning nanti akan dibantu oleh Ki Dewo dan Ki Alphonse.

    Saat ini saya sedang berusaha mencari Kitab Jilid III yang konon berada di sebuah lapak di Bogor.

    Demikian Ki, sekilas info dari saya,

    Salam, Aulianda

    GD: tolong sekalian dicek apkh jilid 07 seri II genap. Koleksi Ki Prasidi hilang hal 7, 78, 79.

  32. Matahari benar-benar tidak mampu menembus gelapnya awan di atas kapling hutan 73, sementara di tlatah kapling 73 sendiri angin kencang disertai hujan lebat menhajar sebuah gubug yang menaungi seorang bocah yang menggigil kedinginan.
    ‘Duhai eyang panembahan, mohon ampun cucunda tidak mengindahkan kata-kata eyang, cucunda terlalu laju mengejar binatang buruan di hutan 73, padahal hasil buruan di hutan 71 dan 72 sudah didapat, sekarang cucunda hendak balik langkah dulu kembali ke hutan 71 – 72 sebagaimana saran eyang, nikmati apa yang sudah didapat, jangan ingin lebih, nanti yang didapat tidak terasa nikmatnya jar.’ ucap bocah kemaruk itu dalam hati.
    Tiba-tiba kilat menyambar, kencang memekakkan telinga, sehingga kuping bocah itu selanjutnya mudah mendengar suara yang bagaimanapun kecilnya, sebagaimana suara angin lembut di ujung dentuman kilat yang membisikkan ‘Engkau tidak salah cucuku, hanya belum pengalaman saja, pulanglah ke hutan 71 -72, nikmati yang telah kau peroleh, hingga saatnya nikmat itu habis, eyang akan berikan hasil buruan di hutan 73 ini.’
    Bocah itupun melangkah keluar dari gubug, tidak peduli hujan petir masih melanda di hutan 73 karena yakin atas nikmat yang segera diperoleh di hutan 71 – 72. Sambil tersaruk-saruk melangkah si bocah berbisik dalam hati ‘Bagaimanapun juga, akan tiba saatnya lontar 73 kudapat sebagaimana janji eyang melalui bisik angin’

  33. ASyik…………
    duet Ki Waskita dan Ki Sumangkar akan segera menggoyang ereng2 perbukitan Menoreh.
    Pengendange Raden Sutawijaya dan Swandaru.
    Lha Pandan Wangi njoGet pora ra….?????

    • hora melu njoget, ladi kedatangan mBULAN…..hiKss,

      • mBulan Zamilah….???????

      • mBULANe kira2 kayak APA yaaa…..!!??

        sampe2 Pandan Wangi, hora gelem mingket leh lungguh
        ning sebelah ki Gun…..hayo di TEBAK….. >>>>>….???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: