Buku 72

“Hanya itu?”

“Tidak. Tetapi masih ada kelanjutan dari cita-cita kami yang besar. Bukan sekedar persoalan Alas Mentaok.”

“Katakan jika kau memang ingin digantung oleh Ayahanda Sultan atau Ayahanda Pemanahan.”

Jangan sombong. Tidak akan ada orangmu yang akan tetap hidup. Nah, dengarlah. Bagi kami, baik Mataram maupun Pajang, sekarang tidak ada gunanya lagi. Kami harus membentuk suatu pemerintahan baru yang lebih baik dari sekarang. Kami mencoba mengirimkan beberapa orang utusan kepada para adipati di pasisir Utara untuk mengetahui keinginan mereka yang sebenarnya.”

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukan kepalanya. Katanya, “Jadi inilah usaha kalian di Istana Pajang. Sebagian aku sependapat, bahwa Pajang harus dibersihkan. Dibersihkan dari orang-orang seperti Paman dan beberapa orang perwira yang Paman katakan, meskipun Paman belum menyebut namanya.”

“He?” Daksina mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tertawa. Katanya, “Kau akan kecewa. Untara yang ragu-ragu itu, justru ia memiliki kekuasaan tertinggi di daerah Selatan, sebentar lagi tidak akan menentang kehendak kami. Sampai saat ini ia masih tetap seorang prajurit. Prajurit yang bodoh, karena otaknya terpancang di ujung senjatanya. Tetapi sebentar lagi pasukannya akan menaikkan panji-panji, rontek, dan umbul-umbul di dalam gelar-gelar perang yang besar melanda Mataram yang sudah kehilangan Sutawijaya. Maka Mataram akan segera tenggelam dan hancur sama sekali sampai tumbuhnya Mataram yang lain dalam kesatuan negara baru yang lain. Karena itu, baik Pajang maupun Mataram tidak akan berarti apa-apa lagi bagi kami.”

“Begitu mudahnya?”

Daksina mengerutkan keningnya. Ternyata Sutawijaya masih tetap tenang meskipun ia sudah mengatakan beberapa persoalan tentang rencana dan angan-angannya.

Sebenarnyalah, bahwa setelah terkejut sejenak, maka Sutawijaya berhasil menguasai perasaannya kembali. Ia memang tidak menyangka, bahwa di tempat yang sepi itu ia akan bertemu dengan Daksina, salah seorang senapati di Pajang. Seorang yang pernah ikut membina Pajang bersama Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, dan beberapa orang lainnya. Ia adalah orang yang dekat dengan Ki Manca yang juga berkedudukan penting di Pajang. Namun nama Daksina tidak sebesar Ki Gede Pemanahan, Ki Penjawi, atau Ki Juru Martani.

Meskipun demikian, kehadiran Daksina di tempat yang sepi itu benar-benar telah menggetarkan dada Sutawijaya. Namun dalam kesulitan itu ia berhasil menguasai dirinya, sehingga nampaknya ia masih saja tetap tenang.

Tetapi Sutawijaya sadar, bahwa Daksina yakin akan dapat menjebak dan menangkapnya, hidup atau mati, sehingga ia tidak segan-segan menampilkan dirinya tanpa aling-aling. Dan apalagi dengan berterus terang mengatakan gambaran yang diinginkannya atas Pajang dan Mataram.

“Raden,” berkata Daksina kemudian, “kau memang berjiwa besar dan tabah menghadapi kesulitan. Tetapi bagaimanapun juga, kebesaran jiwa dan ketabahan tidak akan dapat menolong kesulitan yang memang melampaui batas kemampuan seseorang. Yang dapat kau lakukan hanyalah sekedar memberikan kekaguman kepada kami, bahwa sampai saat matinya Sutawijaya tidak mengenal takut dan menyerah. Hanya itu. Tetapi kau tetap akan berada di dalam kekuasaan kami, hidup atau mati.”

“Begitulah. Aku memang berharap, seandainya aku mati, maka orang yang terakhir mengagumiku hendaknya adalah musuh-musuhku. Tetapi katakan sama sekali, siapakah golongan kedua yang menghendaki Pajang dan Mataram hancur bersama-sama.”

Ki Daksina memandang anak buahnya sejenak. Kemudian katanya, “Aku kali ini yakin, bahwa kau tidak akan dapat lepas dari tangan kami. Sejauh-jauh dapat kau jangkau, tetapi ilmuku pasti masih berada di atas kemampuanmu membela diri, sedang anak buahku lebih banyak dari anak buahmu. Karena itu, baiklah, agar matimu agak lebih mudah karena tidak dibebani oleh teka-teki itu.” Daksina terhenti sejenak, lalu, “Golongan yang satu lagi adalah sekelompok orang di bawah pimpinan panembahan yang menyebut dirinya Panembahan Agung Cahyakusuma. Ingat, namanya memang agak berlebih-lebihan. Panembahan yang Agung.”

Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kenapa kau tidak senang kepada nama itu?”

“Siapa yang mengatakan bahwa aku tidak senang pada nama itu? Nama itu bagus sekali. Dan Panembahan Agung itu adalah pasangan yang setia di dalam rencana ini. Kami bersama-sama ingin menghancurkan Mataram dan Pajang.”

Namun tiba-tiba saja Raden Sutawijaya tertawa. Katanya, “Sekarang kau dapat berkata begitu. Tetapi tentu kalian kedua belah pihak sama-sama menyakini, bahwa apabila kalian telah berhasil, maka akan timbul pertengkaran baru di antara kalian. Baik kau, atau barangkali di belakangmu masih ada orang lain yang lebih tinggi kedudukannya, maupun Panembahan Agung itu, tentu ingin duduk di atas kedudukan yang paling tinggi. Kalian terpaksa saling bertempur dan saling membunuh.”

“Kau salah, Raden,” berkata Daksina, “kita sudah saling bersetuju, bahwa kami akan mendapat kedudukan kami masing-masing. Di antara kami tentu tidak akan ada pertengkaran sama sekali.”

“Jangan membohongi diri sendiri,” jawab Sutawijaya, lalu, “tetapi seandainya demikian, maka para adipati di pesisir tentu akan merupakan persoalan yang rumit bagi kalian. Siapakah yang sudi menyerahkan kepercayaan kepadamu atau kepada panembahan yang tidak dikenal itu? Padahal para adipati di pesisir memiliki kekuatan yang jauh melampaui pengaruh kalian. Kau sangka adipati-adipati itu sama sekali tidak mempunyai sikap terhadap pimpinan pemerintahan? Apakah kau sangka mereka akan menundukkan kepalanya dengan memejamkan matanya? Tentu tidak. Aku telah mengenal mereka seorang demi seorang. Dan mereka adalah prajurit-prajurit yang berpendirian.”

Daksina mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian katanya, “Baiklah, itu akan kami pikirkan kemudian. Mungkin aku memang harus menyerahkan persoalannya kepada orang yang memiliki pengaruh lebih besar daripadaku. Mungkin memang orang-orang yang namanya dikenal seperti Ki Juru Martani. Tetapi yang penting bagiku sekarang adalah membunuhmu?”

“Apakah tidak ada lagi yang akan kau katakan tentang dirimu, atau tentang nama-nama lain yang ada sangkut pautnya?”

“Tidak perlu.” Daksina berhenti sejenak, lalu, “Tetapi apakah kau ingin juga berpesan sesuatu kepada kami. Mungkin dapat kami sampaikan kepada keluargamu atau bahkan kepada ayahandamu, Sultan Pajang?”

“Tidak. Aku tidak ingin berpesan apa pun. Kecuali jika kau memang ingin digantung.”

Daksina tertawa. Lalu katanya, “Apakah kau tidak memberikan pesan terakhir kepada gadis itu?”

Wajah Sutawijaya menjadi semburat merah.

“Jangan kau sangka, bahwa tidak ada orang yang mengerti, bahwa kau sudah berhubungan dengan gadis itu? Dan ini akan menjadi salah satu alasan, bahwa Sultan Pajang tidak akan mencarimu, apalagi menuntut kematianmu, jika kau hilang dari Mataram.”

“Jangan mengigau, Paman,” suara Sutawijaya menjadi berat.

“Ha,” desis Daksina, “kau mulai menjadi pucat. Jangan menyesal.”

Terdengar Raden Sutawijaya menggeram. Lalu, “Persetan dengan igauanmu itu. Aku tidak peduli.”

Tetapi Daksina tertawa. Bahkan untuk beberapa lamanya ia melepaskan suara tertawanya, sehingga berkumandang memenuhi seluruh tempat yang terbuka itu.

Dalam pada itu, Agung Sedayu dan kawan-kawannya sampat mendengarkan pembicaraan yang tidak begitu jelas. Namun sepatah dua patah kata mereka dapat menangkap pembicaraan Sutawijaya dengan orang yang disebutnya Ki Daksina itu. Bahkan Agung Sedayu dan kawan-kawannya mendengar, bahwa Daksina telah menyebut tentang seorang gadis.

Sementara itu, di sela-sela suara tertawanya Daksina berkata, “Raden Sutawijaya, memang seorang gadis tentu akan memilih Raden daripada Sultan Pajang yang sudah menjelang saat-saat senja hari itu. Tetapi pada suatu saat, persoalan itu akan sangat menguntungkan bagi kami. Seandainya Sultan masih ingin memaafkan Raden di dalam persoalan Mataram, namun persoalan gadis dari Kalinyamat itu tentu akan membuka persoalan baru yang menentukan, yang meskipun mula-mula tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan usaha Ki Gede Pemanahan membuka Alas Mentaok, tetapi justru persoalan itulah yang akan menggagalkan semua impian bagi berdirinya suatu negeri yang di sebut Mataram.”

Wajah Raden Sutawijaya menjadi semakin tegang. Dan dengan suara yang bergetar oleh kemarahan yang menyesak di dadanya ia berkata, “Jangan banyak berbicara. Jika kau akan menangkap Sutawijaya hidup atau mati, lakukanlah. Kau tidak usah menyinggung persoalan-persoalan yang kau sendiri tidak mengetahuinya.”

“Baiklah. Jika Raden memang tidak ingin berpesan apa pun terhadap gadis itu. Tetapi Raden harus menyadari, sepeninggal Raden, Mataram akan segera terhapus. Sebuah benturan bersenjata akan segera terjadi antara Mataram dan Pajang. Kami menyadari, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah seorang prajurit. Sepeninggal Raden, Ki Gede Pemanahan tentu akan berbuat sesuatu. Kesaktiannya yang hampir sempurna seperti juga Sultan Pajang sendiri, akan membuat kedua kekuasaan itu hancur.”

“Cukup! Sekarang, marilah kita mulai. Jangan terburu-buru mimpi. Pada saatnya kau akan dicincang oleh para adipati dari daerah Pesisir dan Bang Wetan.”

Tetapi Daksina masih saja tertawa berkepanjangan.

Namun suara tertawanya itu tiba-tiba terputus ketika ujung tombak Raden Sutawijaya hampir saja menyentuh mulutnya, sehingga Daksina itu terkejut. Ternyata ia telah lengah, sehingga hampir saja ujung tombak pendek anak muda itu tergores di wajahnya.

Ternyata Sutawijaya tidak ingin menunda-nunda lagi. Ia pun segera memberikan perintah kepada orang-orangnya untuk segera menyerang.

Sejenak kemudian, di tengah-tengah tempat yang terbuka itu, telah terjadi pertempuran yang seru. Untuk beberapa saat pertempuran itu masih belum mapan. Beberapa orang masih berusaha mencari lawan masing-masing.

Namun dalam pada itu, ternyata bahwa anak buah Daksina memang lebih banyak dari anak buah Sutawijaya, sehingga dengan demikian, maka beberapa orang daripadanya harus melawan lebih dari seorang.

Hal itu agaknya disadari sepenuhnya oleh para pengawal dari Mataram. Karena itu, pada loncatan yang pertama mereka telah berusaha dengan tiba-tiba saja untuk mengurangi jumlah lawannya. Begitu mereka mulai, mereka telah langsung menusukkan senjata mereka ke dada lawan.

Satu dua orang dari mereka ternyata telah berhasil. Tetapi sebagian terbesar mengalami kegagalan, karena lawan-lawan mereka pun sudah bersiap pula menghadapi setiap kemungkinan.

Sejenak kemudian, barulah pertempuran itu menjadi lebih mapan pada pihak masing-masing. Di antara mereka adalah Sutawijaya yang bertempur melawan Daksina.

Ternyata pada benturan yang pertama, Daksina telah dikejutkan oleh kemampuan Raden Sutawijaya yang tidak terduga-duga. Daksina tahu sepenuhnya, bahwa Raden Sutawijaya-lah yang telah berhasil membunuh Arya Penangsang, Adipati Jipang. Tetapi kunjungi adbmcadangan.wordpress.com perkelahian itu adalah bukan perkelahian yang wajar. Sultan Pajang sendiri akan memerlukan waktu yang panjang untuk berperang tanding dan membinasakan Arya Penangsang. Kekalahan Arya Penangsang dari Sutawijaya juga disebabkan karena kudanya yang tiba-tiba saja menjadi binal dan tidak dapat dikuasainya, sehingga Sutawijaya mendapat kesempatan untuk menusukkan tombak pusaka Pajang ke lambung Arya Penangsang itu.

Tetapi menurut perhitungannya waktu itu, kemampuan Sutawijaya sendiri adalah jauh di bawah kesaktian Arya Penangsang yang memiliki keris pusaka yang dinamakannya Kiai Setan Kober.

Kini, ketika senjatanya membentur tombak Radan Sutawijaya, bahkan bukan tombak pusaka yang dipergunakannya untuk melukai lambung Arya Penangsang itu, ternyata terasa tangannya bergetar.

“Setan manakah yang telah manjing pada diri anak muda ini sehingga ia memiliki kekuatan yang begitu besar?” bertanya Daksina di dalam hatinya.

Meskipun demikian, ketika pertempuran itu sudah berjalan beberapa lamanya, ternyata bahwa kemampuan Raden Sutawijaya yang sudah meningkat dengan cepatnya itu, masih belum dapat mengimbangi kemampuan Daksina, seorang Senapati Pajang yang berpengalaman, meskipun belum sedahsyat Ki Gede Pemanahan.

“Raden,” berkata Daksina setelah mereka berkelahi beberapa lamanya, “apakah Raden tidak mempertimbangkan, bahwa sebaiknya Raden menyerah saja?”

“Paman adalah seorang prajurit,” jawab Sutawijaya, “Paman tentu tahu pendirian seorang prajurit di peperangan.”

Daksina mengerutkan keningnya. Ternyata jawaban Raden Sutawijaya itu adalah benar-benar jawaban seorang keturunan prajurit dan dibesarkan di dalam lingkungan keprajuritan.

Karena itu, maka katanya, “Baiklah, Raden. Jika demikian, maka kitalah yang akan berusaha. Menangkapmu hidup atau mati.”

“Kalian hanya dapat menyentuhku, apabila nyawaku telah terpisah dari badanku.”

“Jawaban jantan. Tetapi agaknya kami memerlukan kau hidup.”

“Dan kau akan mempergunakan aku untuk memeras Ayahanda Pemanahan agar langsung memusuhi Pajang. Dalam pertentangan antara Pajang dam Mataran itulah kalian akan mengail keuntungannya.”

“Kau memang cerdas,” desis Daksina yang tiba-tiba saja telah meneriakkan aba-aba, “bunuh semua anak buahnya dan tangkap Raden Sutawijaya hidup-hidup.”

Tetapi anak buah Sutawijaya pun bukan sekedar anak-anak cengeng. Meskipun mereka menyangka, bahwa jumlah mereka telah cukup banyak, dan ternyata perwira Pajang yang durhaka itu memiliki anak buah yang lebih banyak, namum mereka sama sekali tidak gentar.

Mereka telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan dirinya. Apalagi mereka tidak dapat mengharap bantuan dari siapa pun. Bagi mereka, anak-anak Menoreh dan Sangkal Putung yang belum begitu mereka kenal itu tidak akan banyak memberikan bantuan. Meskipun demikian, seandainya mereka berani hadir, tentu akan dapat setidak-tidaknya memecah perhatian anak buah Daksina.

Dalam pada itu, Raden Sutawijaya masih juga, mencoba bertahan dengan kemampuan sendiri, meskipun semakin lama semakin disadarinya kenyataan, bahwa ia dan anak buahnya telah terdesak ke dalam lingkaran yang lebih sempit.

Sementara itu, di pinggir tempat terbuka itu, Agung Sedayu dan kawan-kawannya menjadi semakin tegang. Mereka melihat keadaan Raden Sutawijaya dan anak buahnya menjadi semakin gawat. Namun demikian mereka tidak dapat mendahului isyarat yang akan diberikan oleh Sutawijaya itu. Jika mereka memberanikan diri mendahului isyarat itu, maka Sutawijaya yang berjiwa prajurit dan mempunyai harga diri yang besar itu akan merasa tersinggung karenanya.

Selagi dengan tegang mereka menyaksikan pertempuran yang semakin menyempit itu. Swandaru sempat bertanya, “He, kau tahu gadis manakah yang telah disebut-sebut oleh orang yang bernama Daksina, yang ternyata salah seorang perwira dari Pajang itu sendiri?”

“Aku tidak tahu. Tetapi rasa-rasanya aku mendengar seseorang menyebut Kalinyamat.”

“Gadis itu dari Kalinyamat?”

Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menjawab, “Aku tidak tahu. Apakah ada hubungannya antara Kalinyamat dan gadis itu.”

“Aku juga tidak begitu mendengarnya. Tetapi yang jelas, agaknya ada seorang gadis di dalam istana.

Agung Sedayu tidak menjawab lagi. Dipandanginya perkelahian itu dengan tegangnya, dan Sutawijaya menjadi semakin terdesak karenanya.

Dalam kesulitan itu, Sutawijaya tidak dapat berbuat lain. Seperti yang memang sudah direncanakan, bahwa pasukan kecilnya telah dipecah dua untuk menjawab jebakan yang mungkin dijumpai di perjalanannya. Dan kini ia benar-benar telah terjebak, sehingga kelompok kecil yang ditinggalkan di pinggir tempat terbuka ini harus diberi isyarat agar mereka segera dapat ikut terjun di dalam perkelahian ini.

Dengan sebuah suitan nyaring, Raden Sutawijaya berusaha memanggil kelompok kecil yang menurut perhitungannya pasti sudah berada di sekitar tempat terbuka itu. Karena itu, maka ia berharap bahwa Agung Sedayu atau salah seorang dari mereka akan dapat mendengar isyaratnya itu, tanpa panah sendaren.

“Raden Sutawijaya memanggil kita,” desis Prastawa.

“Ya. Aku sudah mendengar isyaratnya,” sahut Swandaru.

“Aku menunggu pemimpin kelompok,” berkata Agung Sedayu.

Pandan Wangi memandang pertempuran itu sejenak. Agaknya isyarat Raden Sutawijaya telah menumbuhkan pertanyaan pada setiap dada lawannya. Karena itu, mereka menjadi berdebar-debar sejenak. Namun firasat mereka telah mengatakan, bahwa mereka akan mendapatkan lawa-lawan yang baru.

Tetapi bagi beberapa orang pengawal Raden Sutawijaya, isyarat itu tidak banyak menumbuhkan harapan. Mereka tidak dapat mengharapkan banyak dari orang-orang Menoreh itu. Namun biarlah mereka ikut menambah jumlah mereka di medan yang semakin sesak itu.

Sejenak kemudian maka terdengar Pandan Wangi berkata, “Marilah. Mereka sudah menunggu kita.”

“Aku ikut bersamamu Pandan Wangi,” desis Rudita yang ketakutan.

“Bersembunyilah di sini,” sahut Pandan Wangi.

“Aku ikut bersamamu. Aku tidak berani kau tinggalkan sendiri di sini.”

“Jangan ganggu aku. Kau dapat terbunuh di peperangan itu.”

“Jangan tinggalkan aku.”

Pandan Wangi menjadi jengkel. Tiba-tiba saja pedangnya telah teracu di dada Rudita. Terdengar ia menggeram, “Jika kau ikuti aku selangkah saja, maka aku akan membunuhmu sendiri daripada kau dibunuh oleh orang-orang yang menjebak Raden Sutawijaya itu.”

Wajah Rudita yang pucat menjadi semakin pucat. Tubuhnya menjadi gemetar dan matanya yang berkaca-kaca bagaikan bendungan yang mulai retak. Titik air mata mengalir dari pelupuknya membasahi pipinya.

Sepercik perasaan iba mencengkam hati Pandan Wangi. Tetapi menurut perhitungan gadis itu, yang paling baik bagi Rudita di dalam saat yang gawat itu adalah bersembunyi saja di dalam semak-semak. Karena itu betapa pun hatinya bergejolak, namun ia masih tetap mengacukan pedang nya sambil berkata, “Kau tetap di sini, kau dengar?”

Rudita tidak tidak dapat menjawab. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk lemah.

Dalam pada itu, Pandan Wangi pun kemudian berkata kepada kawan-kawannya, “Marilah. Pertempuran itu menjadi semakin gawat.”

Dan Swandaru menyahut, “Beberapa orang telah terluka. Bahkan ada yang menjadi parah.”

“Bersiaplah. Kita segera memasuki arena.”

Demikianlah, maka sejenak kemudian Pandan Wangi telah meloncat keluar dari gerumbul-gerumbul perdu dengan pedang di tangan, diikuti oleh Swandaru, Agung Sedayu, Prastawa, dan para pengiring yang menyertainya.

Kehadiran mereka telah mengejutkan Daksina dan kawannya. Sejenak mereka memandang beberapa orang yang berlari-lari ke tengah-tengah tempat yang terbuka itu. Namun sejenak kemudian Daksina pun tertawa, “Ha, kau ternyata cakap juga bersiasat. Kau tinggalkan beberapa orang kawan-kawanmu di dalam gerumbul-gerumbul itu. Tetapi agaknya kau terlambat memberikan isyarat. Beberapa pengawalmu telah terluka, dan baru sekarang mereka muncul.”

Sutawijaya tidak menyahut. Tetapi ia berharap bahwa kehadiran kawan-kawannya itu akan dapat menyelesaikan pertempuran itu.

“Marilah,” berkata Daksina, “kalian tidak usah segan-segan lagi. Beberapa orang kawan-kawanmu telah menitikkan darah.”

Pandan Wangi tidak menyia-nyiakan waktu. Ia pun segera terjun ke dalam arena perkelahian yang bergeser karena hadirnya orang-orang baru.

“He,” berkata Daksina kemudian, yang masih saja bertempur seorang melawan seorang dengan Raden Sutawijaya, “ternyata ada seorang gadis yang luar biasa.” Daksina berhenti sejenak, lalu, “tidak ada duanya di daerah ini. Tentu kaulah yang disebut bernama Pandan Wangi, anak satu-satunya dari Ki Gede Menoreh. Yang pada beberapa saat yang lampau telah berhasil membunuh kakak kandungnya sendiri karena memberontak terhadap ayahnya.”

Pandan Wangi tidak menjawab. Tetapi ia segera melibatkan diri semakin sengit di dalam perkelahian itu.

Yang menjawab justru Prastawa yang sudah mulai bertempur pula, “Ya. Ia adalah Pandan Wangi. Atas nama Kepala Tanah Perdikan Menoreh, seharusnya kalian menyerah kepada kami.”

Daksina memandang Prastawa sejenak. Kemudian ia justru tertawa, “Kau menyenangkan sekali anak muda. Siapakah kau?”

“Tidak ada artinya bagimu.”

Daksina mengerutkan keningnya. Bahkan kemudian ia meloncat surut karena serangan Raden Sutawijaya tiba-tiba saja menjadi semakin dahsyat.

Karena itu, untuk beberapa saat kemudian, Daksina tidak sempat memperhatikan lawan-lawannya yang baru. Namun tiba-tiba saja ia telah dikejutkan oleh sebuah ledakan di dalam arena itu. Dan ketika ia menghindari lawannya sejenak dan mencoba melihat salah seorang lawan yang baru saja memasuki arena, ia terkejut karenanya. Ternyata di antara mereka terdapat dua orang yang bersenjata cambuk.

“Orang-orang bercambuk itu,” desisnya.

Dalam pada itu Agung Sedayu dan Swandaru telah terlibat di dalam perkelahian pula. Dengan cambuknya mereka mempertahankan diri dari serangan para pengikut Daksina.

Sejenak Daksina sempat merenungi cambuk yang meledak-ledak itu. Bahkan kemudian terbersit kata-katanya, “Jadi kalian ada di Menoreh?”

“Siapa?” bertanya Sutawijaya.

“Orang-orang bercambuk itu.”

“Apa salahnya. Apakah kau sudah mengenal mereka?”

Daksina tidak menjawab. Tetapi ia mendengar, bahwa orang-orang bercambuk itu memang sedang menuju ke Menoreh beberapa hari yang lampau, ketika orang-orang yang berada di bagian Timur dari Tanah Mataram itu menjumpainya. Bahkan orang yang paling dipercaya di dalam lingkungannya tidak berhasil mengalahkan orang-orang bercambuk itu.

“Tetapi tentu bukan anak-anak muda ini,” berkata Daksina di dalam hatinya. “Menurut pendengaranku, di antara mereka ada seorang yang sudah tua. Agaknya anak-anak muda ini adalah muridnya.” Namun kemudian tumbuh pertanyaan, “Tetapi kenapa mereka dapat bertemu dengan Sutawijaya yang sedang mengikuti jejak kami?”

Dalam kebimbangan itu, Daksina mulai melihat perubahan yang terjadi di dalam pertempuran itu. Orang-orangnya mulai mengerahkan segenap kemampuannya. Pedang Pandan Wangi, Prastawa, dan para pengiringnya ternyata merupakan tekanan yang berat bagi mereka. Apalagi di sela-sela dentang senjata itu, masih juga terdengar cambuk meledak-ledak.

“Gila,” berkata Daksina di dalam hatinya. Ia kini menyadari bahwa perhitungannya ternyata keliru. Selama ini dengan tekun orang-orangnya selalu mengamat-amati Sutawijaya di dalam tugasnya. Orang-orangnya sempat menghitung berapa orang pengawal Sutawijaya yang selalu dibawanya di dalam tugas-tugas pencahariannya terhadap orang-orang bersenjata yang telah mengganggu Tanah Mataram yang sedang tumbuh itu. Menurut perhitungannya, orang-orangnya kali ini sudah lebih dari cukup untuk menjebak Sutawijaya. Tetapi ternyata ada sesuatu di luar perhitungannya itu.

Sebuah penyesalan telah membersit di hati Daksina. Ia telah sedemikian yakinnya, bahwa ia akan dapat membinasakan Sutawijaya, sehingga ia sudah menyebut beberapa buah rencana yang sedang dipersiapkannya.

Namun Daksina itu mencoba untuk menenteramkan hatinya sendiri. “Keterangan-keterangan itu hanyalah sekedar keterangan-keterangan yang tidak penting. Tentu Sutawijaya sudah menduganya. Dan aku tidak menyebut nama-nama lain yang terlibat selain Panembahan Agung itu. Sedangkan Sutawijaya tentu tidak mengetahui siapakah sebenarnya orang yang menyebut dirinya Panembahan Agung itu.”

Dalam pada itu, perkelahian itu pun menjadi semakin seru. Para pengawal Raden Sutawijaya ternyata menjadi heran melihat orang-orang Menoreh itu berkelahi. Ternyata gadis puteri Ki Ageng Menoreh itu pun memiliki kemampuan yang luar biasa. Bahkan melampaui kemampuan para pengawal itu sendiri.

Semakin lama, maka semakin jelas bagi Daksina, bahwa ia telah gagal menjebak Raden Sutawijaya. Bahkan ialah yang agaknya telah terjebak. Dengan meninggalkan bekas jejak dari tempat penyeberangan terus sampai ke tempat ini, ia berharap dapat menangkap anak muda yang berani itu dan mempergunakannya untuk memeras Ki Gede Pemanahan. Tetapi ternyata, bahwa usahanya itu tidak akan dapat berhasil di dalam keadaan yang demikian. Daksina tidak dapat ingkar, bahwa orang-orang bercambuk itu memang memiliki banyak kelebihan.

“Apalagi gurunya,” berkata Daksina di dalam hatinya.

Dan memang ternyata kemudian, bahwa anak buah Daksina tidak lagi mampu untuk bertahan lebih lama lagi. Setiap kali terdengar keluhan tertahan jika ujung cambuk Agung Sedayu dan Swandaru mengenai lawannya. Apalagi apabila ujung-ujung pedanglah yang menusuk ke dalam tubuh seseorang. Prastawa, anak yang masih terlalu muda itu bertempur dengan garangnya. Sebagai seorang kemanakan Ki Argapati, maka Prastawa berhasil menunjukkan kemampuannya. Meskipun belum terlampau tinggi, tetapi ia memiliki bekal yang cukup di dalam pertempuran itu.

Kedatangan Pandan Wangi beserta kelompoknya, ternyata telah berhasil menentukan akhir dari pertempuran itu. Meskipun jumlah anak buah Daksina masih lebih banyak, namun mereka tidak berdaya menghadapi senjata anak-anak Menoreh dan ujung cambuk Agung Sedayu dan Swandaru.

Demikianlah, maka Daksina pun harus mengambil keputusan. Ia tidak akan dapat menyelesaikan rencananya. Tetapi ia tidak ingin bertempur benar-benar seperti seorang prajurit yang pantang meninggalkan arena.

“Jika aku mundur kali ini, bukan berarti bahwa aku kalah,” berkata Daksina di dalam hati. Meskipun ia sendiri berhasil selalu mendesak Raden Sutawijaya, tetapi anak buahnya semakin lama menjadi semakin susut. Dan Daksina pun sadar, bahwa pada suatu saat orang-orang yang bercambuk itu setelah mengalahkan lawan-lawan mereka, maka mereka pasti akan membantu Raden Sutawijaya.

“Gila,” Daksina mengumpat. Ialah yang justru terjebak oleh kekhilafannya. Ia dengan tidak berhati-hati telah mengatakan beberapa rahasia yang seharusnya hanya boleh diketahui oleh lingkungannya.

Sekali lagi ia menggeram di dalam dadanya, “Untunglah aku belum menyebut nama-nama lain.”

Demikianlah maka tidak ada pilihan lain bagi Daksina untuk menyingkir dari arena, sehingga dengan demikian, maka ia pun segera meneriakkan sebuah aba bagi anak buahnya untuk menghindar dari pertempuran itu.

Dengan demikian, ketika anak buahnya mendengar perintah yang meloncat dari mulut Daksina itu pun, mereka segera berloncatan mundur dari arena.

Ternyata mereka adalah orang-orang yang cukup terlatih. Meskipun mereka bukan semuanya prajurit-prajurit Pajang seperti Daksina, namun mereka mampu menempatkan diri mereka dalam ikatan seperti sekelompok prajurit. Mereka ternyata tidak berlari bercerai-berai. Tetapi mereka sempat mengatur pasukan sambil menarik diri.

Sudah barang tentu bahwa Sutawijaya tidak melepaskan mereka, terutama Daksina. Namun usaha untuk menangkapnya bukan usaha yang mudah, apalagi anak buahnya dengan sengaja telah melindunginya.

Meskipun di dalam gerakan surut itu beberapa orang di antara mereka telah jatuh, namun mereka sempat mencapai daerah hutan yang agak lebat. Demikian mereka mencapai daerah yang berpohon-pohon besar dan bergerumbul lebat, barulah mereka seakan-akan terpecah.

Beberapa langkah Sutawijaya masih berusaha mengejar Daksina. Tetapi ternyata medan menjadi sangat berbahaya, sehingga ia pun kemudian terpaksa menghentikan pengejaran itu dan memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk berkumpul.

Di dalam hutan perdu yang semakin dalam menjadi semakin lebat, bahkan kemudian berhubungan dengan hutan yang masih liar, akan sangat berbahaya bagi anak-buah Sutawijaya. Mereka masih belum mengenal medan, dan mereka tidak tahu, di manakah sebenarnya sarang lawan mereka.

“Jika sarang itu tidak begitu jauh lagi dari tempat ini, kitalah yang kemudian benar-benar terjebak,” berkata Raden Sutawijaya.

“Tentu,” desis Agung Sedayu, “orang itu tidak akan tinggal diam. Jika yang disebut Panembahan Agung itu adalah orang yang menyebut dirinya panembahan tidak bernama, maka kita benar-benar menghadapi bahaya.

“Atau bahkan orang lain yang lebih tinggi kedudukannya di dalam susunan mereka,” sahut Swandaru.

“Itu perlu kita pertimbangkan,” desis Raden Sutawijaya.

Untuk beberapa saat, anak-anak muda itu termangu-mangu. Juga Pandan Wangi tidak segera menyatakan pendapatnya. Ternyata mereka tidak sekedar menghadapi orang-orang yang tidak dikenal, tetapi di daerah yang terpencil itu justru menjadi jalur yang meskipun belum mereka ketahui dengan pasti. Tetapi agakmya mempunyai hubungan yang erat dengan sarang orang-orang yang tidak dikenal itu.

“Ada beberapa yang dapat kita tangkap dari perburuan ini,” berkata Sutawijaya. “Kita tahu pasti, bahwa memang ada orang di Istana Pajang yang dengan sengaja telah mengaburkan hubungan antara Pajang dan Mataram.”

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “kita sudah lama menduga. Tetapi kini kita sudah menemukan beberapa orang dari antara mereka. Bukankah yang bernama Daksina itu seorang perwira prajurit Pajang seperti juga kakang Untara dan mertuanya?”

“Ya,” jawab Raden Sutawijaya, “bahkan orang ini memiliki kelebihan dari Untara. Umurnya lebih tua dan kemampuannya pun agaknya tidak kalah dari Untara, karena pengalamannya. Tetapi ia mempunyai sifat yang kurang baik. Dan kini ternyata, bahwa ia telah berkhianat, karena tindakannya sama sekali sekedar untuk kepentingan sendiri. Berbeda dengan Untara. kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. Seandainya pada suatu saat ia datang ke Mataram dengan prajurit segelar sepapan, itu tentu karena ia seorang senapati yang sedang menjalankan tugas.”

Yang mendengarkan keterangan Sutawijaya itu saling berpandangan sejenak. Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa disadarinya. Jika terjadi demikian, maka ia akan menghadapi persoalan yang rumit. Untara adalah kakak kandungnya. Sedang ia tidak dapat ingkar, bahwa hatinya lebih condong untuk melihat Mataram yang berkembang daripada mempertahankan kehadiran Pajang.

“Baiklah,” berkata Sutawijaya kemudian, “kita masih mempunyai waktu untuk berbicara. Marilah kita kembali ke perkemahan itu. Kita beristirahat sejenak, dan pada saat itu mungkin kita dapat menemukan langkah-langkah yang sebaiknya kita lakukan.”

“Baiklah,” sahut Pandan Wangi, “kita memang memerlukan banyak pertimbangan bagi tindakan selanjutnya, yang mungkin tidak akan dapat kita lakukan sendiri. Aku harus melaporkan hal ini kepada ayah.”

“Ada baiknya. Tetapi jika aku masih dapat mengatasi persoalannya, aku akan melakukannya,” berkata Raden Sutawijaya.

“Tetapi daerah ini adalah daerah Tanah Perdikan Menoreh,” jawab Pandan Wangi. “Kita tidak tahu, di manakah sarang mereka. Namun yang terjadi ini adalah di tlatah Menoreh. Dan ayah adalah Kepala Tanah Perdikan Menoreh. Kamilah yang lebih berhak dan lebih dari itu, lebih berkewajiban untuk menyelesaikannya, kecuali jika mereka telah melarikan diri ke seberang Timur Kali Praga.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ya. Kau benar. Memang daerah ini adalah daerah Tanah Perdikan Menoreh. Tetapi bagi Pajang maka perburuan semacam ini sama sekali bukan suatu pelanggaran, selama dipandang perlu bagi pengamanan Pajang di dalam keseluruhan.”

“Jika Raden bertindak atas nama putera Sultan Pajang. Tetapi ternyata bahwa apa yang kita hadapi adalah berbeda. Mungkin Daksina itu dapat juga menyebut dirinya bertindak atas kepentingan Pajang di dalam keseluruhan, seandainya ia tidak terlanjur menyebut usaha perlawanannya dan bahkan permusuhan terhadap Pajang dan sekaligus Mataram,” sahut Pandan Wangi.

Terasa sesuatu bergejolak di dada Raden Sutawijaya. Ia merasakan sindiran yang tajam itu. Bahkan Agung Sedayu dan Swandaru pun menjadi berdebar-debar.

Tetapi Raden Sutawijaya tidak ingin membuat persoalan yang tidak dikehendakinya dengan tlatah Menoreh, yang akan bersentuhan batas dengan Mataram. Apalagi Mataram memang belum memiliki bentuknya yang pasti. Karena itu, maka katanya kemudian, “Baiklah. Memang seharusnya Ki Argapati mengetahuinya apa yang sudah terjadi dan apa yang berada di atas Tanah Perdikannya. Mudah-mudahan Tanah Perdikan Menoreh tidak selalu diganggu oleh pihak-pihak yang bersengketa seperti sekarang ini.”

“Tetapi usaha bersama seperti yang sedang kita lakukan adalah menguntungkan sekali,” potong Agung Sedayu. “Mungkin aku tidak berhak untuk berbicara tentang Tanah Perdikan Menoreh dan tentang Tanah Mataram yang baru tumbuh. Tetapi demikianlah agaknya.”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Ia pun tidak menghendaki pembicaraan itu menjadi semakin mendalam, dan yang bahkan mungkin dapat menumbuhkan salah paham. Karena itu maka katanya kemudian, “Baiklah, kita akan berbicara kemudian. Kita akan kembali ke perkemahan.

Demikianlah, kelompok-kelompok itu kembali sambil membawa kawan-kawan mereka yang terluka. Bahkan dengan wajah yang tunduk Raden Sutawijaya merenungi dua orang kawannya yang gugur, sedang beberapa orang terluka.

“Kita bawa mereka kembali ke Mataram. Sedang mayat orang-orang yang tidak dikenal itu, biarlah diurus oleh kawan-kawan mereka sendiri, yang tentu akan kembali lagi kemari.”

Maka dengan demikian, mereka pun segera meninggalkan tempat itu kembali ke perkemahan.

Namun sesuatu telah menggetarkan hati mereka. Rudita yang bersembunyi, ternyata tidak ada di tempatnya lagi.

“Rudita, Rudita,” Pandan Wangi memanggilnya dengan cemas.

“Rudita,” Prastawa mengulang lebih keras. Tetapi mereka tidak mendengar seseorang menyahut suaranya itu.

Sejenak orang-orang yang menjadi kebingungan itu berdiri termangu-mangu. Mereka mencoba untuk melihat, barangkali mereka menemukan jejak atau semacam petunjuk yang dapat dipergunakannya untuk mengetahui, setidak-tidaknya untuk menduga, ke manakah kiranya Rudita itu pergi.

Tetapi mereka tidak melihat sesuatu.

“Bagaimana dengan Rudita?” Pandan Wangi menjadi sangat cemas. “Akulah yang menyuruhnya bersembunyi di sini. Tetapi tiba-tiba anak itu hilang.”

“Apakah ia pergi ke perkemahan?” desis Swandaru

“Ia tidak akan berani pergi ke tempat itu sendiri.”

“Mungkin karena ia tidak tahan lagi disiksa oleh ketakutannya yang lain, ketika ia melihat perkelahian di tempat terbuka itu, apalagi ketika dilihatnya beberapa orang sudah terluka dan bahkan terbunuh.”

“Suatu kemungkinan,” sahut Prastawa. Namun dalam pada itu Agung Sedayu dan Raden Sutawijaya masih berusaha untuk menemukan jejak seseorang. Mereka berdua ternyata mempunyai dugaan yang kuat bahwa Rudita telah mengalami bencana sehingga mau tidak mau mereka harus ikut memikul tanggung jawab atas hilangnya anak itu. Apalagi mereka telah dipengaruhi pula oleh perasaan iba dan kasihan. Terlebih-lebih lagi Agung Sedayu yang pernah mengalami, betapa tersiksanya dicengkam oleh perasaan takut.

Keduanya tertegun ketika mereka melihat sesuatu. Mereka melihat beberapa helai daun yang bertebaran. Bukan helai-helai daun kuning, tetapi helai-helai daun yang masih hijau. Bahkan tangkai-tangkainya tampak betapa daun-daun itu telah direnggut dari batangnya.

“Kau mempunyai pendapat tentang daun-daun itu?” bertanya Sutawijaya.

“Tentu direnggut dengan paksa. Dan ini adalah satu-satunya jejak yang dapat kita lihat.”

“Maksudmu Rudita telah pergi karena ketakutan?”

“Bukan begitu. Tentu seseorang telah memaksanya, dan ia berpegangan apa saja yang dapat digenggam.”

“Satu kemungkinan. Tetapi tentu ada jejak yang lain.”

“Itulah yang membuat aku berdebar-debar. Tentu seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi yang dapat melakukannya seandainya begitu. Ia berhasil menghilangkan jejak, kecuali daun-daun yang bertebaran itu, yang barangkali tidak sempat diperhatikannya.”

“Ya, Rudita tentu meronta-ronta.”

“Tetapi kenapa tidak berteriak?”

“Mulutnya mungkin disumbat. Atau dengan cara-cara yang lain.”

Dalam keasyikan itu, mereka ternyata telah mengikuti jejak beberapa langkah masuk ke dalam gerumbul-gerumbul. Meskipun pendek, tetapi mereka dapat menduga ke arah mana Rudita itu dibawa. Agaknya untuk memudahkan orang itu, Rudita telah dibuatnya diam.
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 November 2008 at 21:57  Comments (79)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-72/trackback/

RSS feed for comments on this post.

79 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Ngger kitab ini sudah ada tanda-tanda dan isyarat yang kelihatan, seperti yang terlihat ini….

    Kitab 72: jilid72

    “Ki Waskita mendesis setelah melihat isyarat itu.

    “Tapi kelihatannya masih ada satu laku lagi yang harus kita lakukan biar dapat kita gayuh kitab ini. Ini kitab yang kelihatan tapi tak dapat kita sentuh.”

    Swanduru menyela, “Kenapa Ki?”

    “Mungkin Yang mbaurekso masih ingin menahannya sampai waktunya Ngger'” Jawab Ki Waskita

  2. Saya paling sreg dg uraian Ki IS

  3. Wah, kitab 72 ternyata mengandung ilmu Ada dan Tiada….

  4. Iya nie Ki Gede kitab 72 emang penuh dengan misteri sampai2 ga bisa segera di unduh…
    i’ll wait lah pokok e…

  5. Cara downloadnya:
    Tekan CTR + ALT + SHIFT + ; + —> + = klik kanan pilih refresh…… tunggu lagi sampai yang akan didownload memberikan tanda di mouse terus klik kanan baru save as djv

  6. Wach masih belum bisa nie Ki Gede…

  7. Hutan 72 masih diselimuti gelapnya malam walapun sdh nampak sesuatu ygbergerak2.
    Mudah2an Ki GD segera menemukan jalan terobosnya

  8. wah…kalau benar memang dari WP-nya udah gak bisa, harus dicari solusi jitu…
    apa tidak sebaiknya sementara menggunakan jasa online file sharing semacam rapidshare dkk…???

  9. Ki Gede, misale file nya di Zip or di pecah jg ga bisa?

  10. klo nama filenya aja gimana Ki Gede, jadi hanya link nya aja. semacam https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/12/jilid71.doc
    terus kl mau download biar di copy paste ke address bar nya browser masing2

  11. klo nama filenya aja gimana Ki Gede, jadi hanya link nya aja. semacam hxxp://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/12/jilid71.doc
    terus kl mau download biar di copy paste ke address bar nya browser masing2

  12. Waduh keturun aku…gak ono le gugah….
    wah wis ditinggal konco2, jaga neng gardu 72.
    Ki GeDe…nyuwun tulung, pripun carane dumuki gardu 72.
    Sampun kula coba mencari-cari kok mboten saget2….
    Tulung Ki GeDe…tulung…pripuncarane……

  13. Nggih Ki Gede…
    Wordpress itu versi 2.7. Sebetulnya tidak terlalu banyak perubahan, dan semestinya teknik yang Ki Gede sebutkan bisa berhasil…

    Coba dioprek dulu deh 😉

    Kasihan, para cantrik udah mesen 15 wedang jahe lho.

  14. @atas:
    emang semua cantrik lom ada yg isa kok

    hiks

  15. “Waduuuh,…. Kalian jangan berdiam diri saja. Cobalah cari jalan keluar yang lain. Aku tidak mau bermalam dihutan. Sebab aku harus segera melaporkan kepada Ki Argapati masalah ular naga sepanjang 72 ini” ujar Rudita kepada para cantrik yang masih terpana dengan fenomena 72.

  16. “Wangi, kalau lelah biarlah engkau tinggalkan ayahmu yang baru bisa beristirahat setelah tubuhnya diforsir untuk melawan racun yang ke 72. Sebaiknya kau juga beristirahat walaupun hanya sekejap. Baringkan tubuhmu agar peredaran darahmu menjadi normal. Untuk sementara biarlah ayahmu aku yang menjaganya.
    Mudah2an tubuh ki Gede dan Obat yang aku berikan mampu mengeluarkan racun yang ke 72 itu.”
    “Kiai apakah racun itu dapat dikeluarkan malam ini juga?” Pandan Wangi bertanya setengah berbisik.
    “Sangat tergantung ngger, tergantung pada kekuatan tubuh Ki Gede. Sebab obat yang aku berikan fungsinya hanya untuk merangsang bekerjanya zat antibody yang ada di dalam tubuh Ki Gede sendiri.” jawab Ki Truno Podang berbisik pula “Dan jangan lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa ya Ngger, karena tanpa rahmat dan karunia-NYA segala upaya macam apapun tidak ada artinya”.
    “Baiklah kiai saya minta diri dulu”
    “Silahkan, …… silahkan Ngger, …….”

  17. Rame… rame… banyak yang menunggu terbitnya matahari di hari ke-72. Sabar, pasrah dan ikhlas tampak mewujud di wajah-wajah yang lelah walau bermalam-malam tidak tidur. Hilir mudik pasukan serta para senopati ADBM yang meronda di alas yang masih sangat wingit.
    Aku melewati loncatan waktu hanya untuk ikut melihat dan mengikuti perubahan zaman tanah jawa, hmm… cobaan sedang dihadapi para ADBM mania.

  18. Nih untungnya punya baby, sambil jagain bisa ngunduh kitab 72 pertama. Thx Ki GD

  19. Untung belum tertidur….bisa dapat petunjuk dari Ki GeDe jurus-jurusnyang rumit di kitab 72

    Matur suwun Ki GeDe….

  20. Pancen leres….. akhirnya dapat dihidangkan oleh Pandan Wangi sekaitan izin oleh Ki DD Menoreh. Hayoo sanak kadang… kita nikmati mumpung sego liwet masih anget… .
    Mohon diizinkan menikmatinya wahai para ADBM Mania, kami dari Pasukan SAGA BARONG ingin meneguk sedikit tetesan ilmu yang edap-edapi di tlatah JawaDwipa ini.

    # maap Ki Harry .. URL Anda kita hapus. Bukan begitu cara nulis URL.

    • Salam saga

  21. ada yg rumahnya Pajang nggak ya?
    kalo ada mo tanya neh…
    masjidnya ki ageng Ngenis itu sebelah mananya pasar Jongke ya

  22. Ayo…. maju tak gentar…., jurus 71 wis metu, meski durung kewaca lontare, sing penting ngunduh jurus 72 ne sisan, muaremm…. wis seminggu luwih posone je….

  23. Mantap… Panembahan agung mulai disebut-sebut, Siap-siap kyai Gringsing..

  24. mohon maap kalo OOT.
    mau nanya, yg pake nama Kiai Sogo Welang itu beneran mas Harry Panca yg ada di tipi itu ya?
    Saga Barong itu apa ya?
    terima kasih.

  25. Lha Cantrik padhepokan sing kagungan ngelmu kaya Panembahan Agung sapa ya…..?????
    Apa Ki Pandanalas, apa Ki Menggung, apa mas Risang….???

    • ke-3-nya masih berstatus “BAKAL CALON”……belom resmi
      menjadi peWARIS elmu,

      tunggu 15 taun lagi….hiiikSS,

      • wah Ki Gun tak uber, jebul mlayu mrene

        • njih Mbah_Man…..urun komen ben ANA jejak2 ning keNE,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: