Buku 72

Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Hutan itu tentu masih selebat dan seliar, dan barangkali melampaui Alas Mentaok, karena Alas Mentaok sekarang sudah mulai digarap. Dan agaknya hutan itu bukannya hutan yang sempit menjelujur sepanjang Kali Praga. Menurut pengamatanku, kita sekarang sudah menjadi semakin jauh dari Kali Praga. Karena jalan yang kita tempuh bukannya sejajar dengan arus Kali Praga itu.”

“Raden benar,” sahut seorang pengawal Pandan Wangi, “kita memang menjadi semakin jauh dari Kali Praga. Dan pegunungan itu pun terletak semakin jauh pula.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Dipandanginya beberapa ujung pegunungan yang mencuat melebihi pumcak-puncak yang lain. Agaknya pegunungan itu pun benar-benar masih liar, meskipun merupakan jalur pegunungan yang tidak terlalu tinggi.

“Kita tidak akan sampai ke pegunungan itu,” berkata Raden Sutawijaya, “tetapi kita juga tidak akan segera kembali. Kita masih akan maju mengikuti jejak ini. Tetapi kita harus lebih berhati-hati.”

“Maksud Raden?” bertanya Swandaru.

“Kita tidak boleh terjebak. Karena itu, kita harus memecah iring-iringan ini menjadi dua atau tiga kelompok kecil. Jika salah satu dari kelompok ini masuk dalam jebakan, yang lain masih sempat berusaha menolongnya.”

Agung Sedayu yang mengerutkan keningnya menyahut, “Bagus sekali. Kita memang sedang memasuki daerah yang aku kira cukup berbahaya.”

“Nah, marilah kita membagi seluruh pasukan kecil kita,” berkata Raden Sutawijaya, “menjadi dua atau tiga?”

“Dua kelompok,” sahut Swandaru.

“Baiklah,” berkata Raden Sutawijaya, “yang sekelompok akan aku pimpin sendiri. Aku akan berjalan di depan. Sedang kelompok yang kedua?”

“Biarlah dipimpin oleh Pandan Wangi,” sahut Agung Sedayu.

“Kenapa aku?”

“Kaulah yang membawa beberapa orang pengiring bersamamu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Ia sadar, bahwa ia adalah puteri Kepala Tanah Perdikan Menoreh yang juga berkepentingan seperti Raden Sutawijaya. Karena itu, maka ia pun kemudian menyahut, “Baiklah. Aku akan berada di kelompok kedua.”

Namun tiba-tiba saja Rudita berkata, “Kau tidak usah turut campur Pandan Wangi. Bawalah pengiringmu kembali ke perkemahan. Bukankah kita sekedar akan pergi berburu?”

Semua orang memandang wajah Rudita yang pucat karena ketakutan. Anak muda itu tentu sudah membayangkan berbagai macam bahaya yang akan mereka hadapi.

Sebenarnya setiap orang di dalam pasukan kecil itu pun membayangkannya. Mereka sependapat, bahwa mereka akan masuk ke dalam suatu jebakan. Tetapi mereka pun akan berusaha untuk memecahkan jebakan itu dan mengetahui isinya.

“Pandan Wangi,” desis Rudita, “kenapa kau diam saja?”

Pandan Wangi menjadi termangu-mangu. Sebenarnyalah, bahwa Rudita baginya hanya akan menjadi beban saja. Di dalam perkelaian yang seru, tentu hampir tidak ada waktunya untuk mengurusi anak cengeng itu. Tetapi untuk menyuruhnya kembali, ia harus menyediakan dua atau tiga orang pengiring. Bahkan di jalan kembali itu pun Rudita dapat setiap saat diterkam oleh bahaya. Mungkin binatang buas, mungkin orang-orang yang justru melampaui binatang buas.

“Pandan Wangi,” Rudita mengulang. Bahkan ia pun melangkah mendekati Pandan Wangi dengan lutut gemetar dan merengek seperti kanak-kanak.

“Rudita,” berkata Pandan Wangi, “kau tidak mempunyai pilihan lagi. Kita akan pergi terus. Kau pun akan pergi terus bersama dengan kami. Jika sesuatu terjadi di perjalanan ini, sebaiknya kau tidak usah ikut campur. Kau tidak usah ikut berkelahi jika kita harus berkelahi. Tetapi kau juga jangan mengganggu kami jika kami sedang berkelahi.

“Apakah kau akan berkelahi?”

“Hanya satu kemungkinan. Lebih baik lagi jika kita tidak bertemu dengan siapa pun, meskipun dengan demikian berarti perjalanan ini sia-sia.”

Rudita tidak menyahut. Seperti kata Pandan Wangi, ia memang tidak mempunyai pilihan lagi. Ia harus berjalan terus, apa pun yang akan terjadi. Karena itu, maka hatinya pun menjadi semakin kecut. Bahkan kemudian setitik air matanya mengambang di pelupuknya. Perlahan-lahan terdengar ia berkata, “Aku sudah tersesat di antara orang-orang yang tidak saja berburu binatang, tetapi ternyata juga berburu manusia.”

“Nasibmu memang jelek, Rudita,” Prastawa yang tidak tahan lagi menjawab.

“Diam kau!” Rudita masih juga membentak.

“Kenapa kau tidak minta mayat lawan kita yang pertama sebagai hadiah buat Pandan Wangi,” sahut Prastawa kemudian.

Mendengar pertanyaan itu, terasa segenap bulu-bulu Rudita berdiri, sehingga ia tidak dapat menjawabnya. Namun Pandan Wangi-lah yang menyahut, “Sudahlah, Prastawa. Jika demikian, maka kau pun menjadi seorang yang dikuasai oleh perasaanmu saja tanpa pertimbangan nalar. Anak ini benar-benar sedang dicengkam ketakutan yang luar biasa.”

Prastawa tidak menjawab, meskipun ia berkata di dalam hatinya, “Kenapa ia masih juga dapat menyombongkan dirinya, seolah-olah ia adalah orang yang paling berkuasi di sini.” Namun ketika ia melihat wajah anak itu semakin pucat, ia pun berkata pula di dalam hatinya, “Sebenarnya kasihan juga Rudita itu.”

Demikianlah, maka kemudian mereka benar-benar telah membagi seluruh pasukan kecil itu menjadi dua kelompok.

Sekelompok dipimpin oleh Raden Sutawijaya sendiri dengan seluruh anak buahnya, sedang kelompok yang lain dipimpin oleh Pandan Wangi, dan terdiri atas Agung Sedayu, Swandaru, Prastawa, dan para pengiring yang dibawanya dari Menoreh. Sedangkan Rudita justru menjadi beban kelompok kedua, apabila mereka benar-benar terlibat di dalam pertempuran.

Yang sekelompok, yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya itu pun kemudian berjalan mendahului dengan meninggalkan cirri-ciri baru agar kelompok berikutnya tidak kehilangan jejak. Di samping jejak yang agaknya sengaja ditinggalkan oleh orang-orang yang sedang mereka ikuti, maka Raden Sutawijaya pun memberikan tanda yang sudah saling mereka setujui. Selain tanda-tanda itu, kunjungi adbmcadangan.wordpress.com, maka beberapa orang di dalam kelompok pertama akan memberikan tanda-tanda khusus, apabila mereka telah terlibat di dalam kesulitan.

“Kami membawa panah sendaren,” berkata Pandan Wangi ketika mereka berpisah, “adalah kebiasaan kami di dalam perburuan. Jika kami saling berpisah maka kami saling memberikan tanda dengan panah sendaren.”

“Baiklah,” jawab Sutawijaya, “kami akan membawa panahmu yang dapat bersiul itu. Mungkin kami memerlukannya.”

Maka kedua kelompok itu pun maju perlahan-lahan dalam jarak yang agak jauh, sehingga bagi orang lain tidak segera diketahui, bahwa di belakang kelompok yang dipimpin oleh Sutawijaya itu terdapat kelompok yang lain lagi.

Di sepanjang jalan sempit yang ditelusuri, Sutawijaja melihat tanda yang memang semakin jelas, sehingga ia pun yakin, bahwa ada kesengajaan dari orang-orang yang sedang dicarinya itu untuk memancing mereka.

Dengan demikian, maka Sutawijaya pun menjadi semakin berhati-hati. Apalagi ketika mereka sampai ke tempat yang terbuka.

“Kelompok di belakang kita itu pun tidak akan dapat menyembunyikan diri, apabila mereka melintasi tempat terbuka ini,” berkata Sutawijaya kepada pengiringnya, “sehingga dengan demikian, orang-orang yang akan menjebak kita itu pun segera akan melihat, bahwa kita terdiri dari dua kelompok.”

Pengiringnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun salah seorang daripada mereka pun berkata, “Kita dapat memberikan tanda, agar mereka berhenti di sini.”

“O,” Raden Sutawijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita pun akan berhenti pula di tempat yang terbuka itu. Jika benar mereka menjebak kita, mereka tidak akan telaten menunggu. Merekalah yang akan memasuki daerah terbuka ini menyerang kita, sedang kelompok orang-orang Menoreh itu tetap terlindung di sini.”

Sutawijaya mengangguk-angguk sambil memandangi medan di hadapannya. Sebuah tempat yang terbuka, meskipun tidak terlalu luas. Sedangkan tanda-tanda yang dapat dilihatnya adalah tapak-tapak kaki di atas rerumputan dan batang-batang ilalang yang berpatahan.

“Baiklah,” berkata Sutawiiaya, “berilah tanda agar kelompok orang-orang Menoreh dan Sangkal Putung itu berhenti di sini. Kita akan berjalan terus dan kita akan berusaha memancing mereka keluar dan menyerang kita di tempat yang terbuka. Sementara itu orang-orang Menoreh dapat memperhatikan pertempuran itu langsung dari tempat ini, jika kehadiran mereka tidak segera diketahui.”

Demikianlah, maka salah seorang dari pengiring Raden Sutawijaya itu pun segera memberikan tanda. Di jalur sempit itu diletakkannya sebuah ranting yang menyilang. Seperti yang sudah mereka setujui, tanda itu adalah suatu isyarat agar Pandan Wangi berhenti sejenak. Jika tidak ada isyarat lain, maka beberapa saat kemudian mereka dapat melanjutkan perjalanan.

Setelah tanda itu siap, maka Sutawijaya pun kemudian membawa orang-orangnya maju beberapa langkah lagi dengan hati-hati, sehingga mereka benar-benar sampai ke mulut lorong yang bermuara di tempat terbuka itu.

Namun sebelum mereka melanjutkan perjalanan yang dengan sengaja memasuki daerah terbuka itu, salah seorang yang memiliki ketajaman pengamatan terhadap jejak-jejak berbisik, “Raden. Tidak semua orang di dalam kelompok yang sedang kita ikuti itu pergi melalui tempat terbuka ini.”

“Darimana kau tahu?”

“Sebagian dari mereka telah memisahkan diri. Aku dapat melihat jejak mereka, meskipun mereka berusaha menyamarkannya. Sedang jejak di tempat terbuka itu sengaja mereka buat agar menjadi jelas.”

“Dugaan kita benar. Mereka telah menjebak kita.”

“Ya. Dan kita pun harus berusaha menjebak mereka.”

“Bersiaplah. Kita agaknya benar-benar harus bertempur. Orang itu memancing kita sampai ke tempat yang jauh. Tentu mereka mempunyai alas kekuatan di daerah ini.”

“Tetapi kenapa justru di daerah Menoreh?”

“Di sini, di daerah sulit yang terpencil. Tetapi mungkin juga dengan maksud, agar kita terjerumus ke dalam benturan senjata dengan para pengawal Menoreh. Jika itu tidak terjadi, mereka sudah menyiapkan jebakan buat kita.”

Para pengiringnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka pun menyadari, bahwa mereka akan segera sampai ke medan yang cukup berat. Sedang beberapa orang di antara mereka, masih belum mengetahui kemampuan orang-orang Menoreh dan anak-anak muda dari Sangkal Putung itu, sehingga sebagian dari mereka sama sekali tidak memperhitungkan kehadiran orang-orang Menoreh yang mereka anggap sebagai pengawal-pengawal Tanah Perdikan, yang dilakukan sekedar selingan dari kerja mereka di sawah dan ladang.

Sejenak kemudian, maka Raden Sutawijaya pun membawa para pengiringnya memasuki tempat terbuka itu. Namun mereka memusatkan perhatian mereka ke arah jejak yang lain, yang menyimpang dari jejak yang sengaja mereka tinggalkan. Jika benar orang-orang itu akan menjebak mereka, maka mereka tentu akan datang dari arah itu.

Demikianlah, dengan hati-hati pasukan kecil itu merayap maju. Dua orang yang berjalan di paling depan masih saja berpura-pura mencari jejak, meskipun sebenarnya jejak itu terlampau jelas untuk dilihat.

Namun tiba-tiba kedua, orang itu berhenti hampir di tengah-tengah tempat terbuka itu. Dengan kerut-merut dikeningnya salah seorang dari mereka berkata, “Kita benar-benar telah dijebak. Kini tentu bukan lagi sekedar dugaan. Karena itu, kita harus bersiap. Sebentar lagi kita akan terlibat di dalam perkelahian.”

Raden Sutawijaya mendekati orang itu sambil bertanya, “Apakah kau melihat suatu pertanda yang lebih pasti?”

“Jejak itu hilang di sini.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Katanya, “Bagaimana mungkin, jejak itu dapat hilang di tengah-tengah tempat terbuka ini? Jika mereka menepi, maka tentu ada jejak yang bagaimanapun juga mereka usahakan untuk dihilangkan.”

“Tidak ada jejak ke jurusan lain. Benar-benar tidak ada. Penyamaran tidak akan dapat dilakukan demikian sempurnanya.”

“Jadi bagaimana mungkin. Apakah mereka dapat terbang atau melenting sampai ke tepi tempat terbuka ini?”

“Tentu tidak, Raden.”

“Jadi?”

“Jalan satu-satunya adalah melangkah mundur.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian kepalanya itu pun terangguk-angguk. Bahkan sekilas senyum membayang di bibirnya. Katanya perlahan-lahan, “Aku memang bodoh sekali. Aku harus lebih banyak memperhatikan jejak-jejak yang kadang-kadang tampaknya mengandung rahasia, tetapi sebenarnya persoalannya terlalu sederhana.”

Para pengiringnya pun ikut tersenyum pula, meskipun mereka tidak kehilangan kewaspadaan.

“Baiklah,” berkata Sutawijaya kemudian, “kita harus menjadi bingung di sini beberapa lama. Sementara itu kita berharap agar orang-orang Menoreh yang dipimpin oleh Pandan Wangi itu telah berada di tempatnya dan dapat melihat kita di sini dari sela-sela dedaunan. Mudah-mudahan mereka mengerti, bahwa mereka harus berlindung dan tidak berdiri berderet-deret melihat kebingungan kita di pinggir tempat terbuka ini.”

“Mudah-mudahan mereka cukup cerdas,” berkata salah seorang pengiringnya, “tetapi karena mereka adalah pemburu-pemburu yang biasa berburu binatang, mungkin mereka mempunyai sikap yang lain.”

Sutawijaya memandang pengiringnya sejenak. Tetapi pendapat itu adalah wajar, karena pengiringnya itu sama sekali belum mengenal siapakah Pandan Wangi.

Namun demikian, ia berusaha untuk memberikan sedikit gambaran tentang orang-orang yang berada di dalam kelompok kedua itu. Katanya, “Mereka memang pemburu-pemburu di hutan liar. Tetapi mereka pun pemburu-pemburu orang-orang bersenjata yang tidak kita kenal, karena sudah beberapa lama Menoreh mengadakan pengawasan di sepanjang Kali Praga.”

“Tetapi mereka belum pernah menghasilkan apa-apa. Mereka belum pernah berhasil menangkap seorang pun.”

“Orang-orang bersenjata itu selalu berhasil melarikan diri. Tetapi pernah juga terjadi dua orang yang berusaha melarikan diri dengan menyeberang kembali ke Timur berhasil mereka kenai dengan anak panah dan keduanya tidak pernah berhasil mencapai tepi Kali Praga. Mayat mereka hanyut dalam arus sungai yang kebetulan sedang deras waktu itu.”

“Darimana Raden tahu?”

“Seorang tukang perahu melihat peristiwa itu, dan kemudian menceriterakan kepada para peronda dari Mataram.”

Para pengiringnya, mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan demikian, maka mereka mendapat sedikit gambaran, bahwa orang-orang Menoreh pun jika keadaan memaksa, dapat juga bertempur dengan caranya.

Sejenak kemudian kelompok kecil itu masih melingkar-lingkar di tempat terbuka itu. Meskipun nampaknya mereka sedang kebingungan, namun sebenarnya mereka sedang menunggui serangan yang setiap saat dapat datang.

Dalam pada itu, kelompok yang dipimpin oleh Pandan Wangi pun menjadi semakin dekat pula dengan tempat yang terbuka itu. Namun sebelum mereka mencapai tepi dari tempat yang terbuka, mereka menemukan suatu tanda, bahwa mereka harus berhenti.

“Sepotong ranting yang menyilang ini,” berkata Pandan Wangi, “memaksa kita untuk bersiaga.”

“Kita harus berhenti di sini,” gumam Prastawa.

“Tentu ada sesuatu yang penting. Jika tidak, kita tidak usah berhenti di sini.”

Prastawa tidak menyahut. Yang kemudian berbicara adalah Swandaru, “Di hadapan kita adalah suatu daerah yang terbuka.”

Agung Sedayu yang juga melihat tanda itu, merayap beberapa langkah maju. Namun tiba-tiba ia berdesis, “Mereka berada di sana. Di tempat yang terbuka itu.”

Pandan Wangi mengerutkan keningnya. Namun ia pun menyusup beberapa langkah maju bersama beberapa orang yang lain. Dan mereka pun melihat, bahwa Raden Sutawijaya masih berada di tengah-tengah tempat terbuka itu.

“Mereka tampaknya sedang kebingungan mencari sesuatu,” berkata Prastawa.

“Ya,” sahut Agung Sedayu, “tampaknya mereka kehilangan jejak.”

“Mustahil,” sahut Swandaru, “lihat, jejak itu jelas sekali. Kita dapat mengikutinya tanpa kesulitan apa pun di tempat terbuka itu. Batang ilalang yang patah-patah dan bekas-bekas kaki yang jelas.”

“Tetapi jejak itu agaknya hilang di tengah-tengah.”

Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi menilik sikap beberapa orang pengiring Sutawijaya dan Sutawijaya sendiri, mereka memang sedang mencari sesuatu. Dan agaknya mereka memang telah kehilangan jejak itu.

Ternyata bahwa anak-anak muda yang berada di dalam kelompok kedua itu cukup cerdas. Hampir berbareng Agung Sedayu dan Swandaru berkata, “Ternyata kita benar-benar berada di dalam jebakan.”

Dan Swandaru meneruskan, “Apa pun yang terjadi dengan jejak itu, kita benar-benar harus berhati-hati.”

“Ya,” sahut Pandan Wangi, “jejak itu dengan sengaja memancing Raden Sutawijaya ke tempat terbuka itu. Dengan demikian, maka jika benar tempat itu merupakan jebakan, akan datang serangan dari sekeliling tempat terbuka itu, termasuk dari tempat ini.”

“Kau benar,” berkata Agung Sedayu, “setidak-tidaknya dari beberapa arah. Dan kita harus berhati-hati menghadapi mereka. Bahkan mungkin kita akan bertempur lebih dahulu dari kelompok yang terjebak di tengah-tengah tempat terbuka itu.”

“Jika mereka mengambil arah ini, agaknya memang demikian. Tetapi mungkin mereka mengambil arah yang lain.”

Agung Sedayu tidak menyahut. Tetapi dari sela-sela dedaunan, ia memperhatikan apa yang dilakukan oleh Sutawijaya dan para pengiringnya.

Namun bagi Agung Sedayu dan kawan-kawannya, sikap Sutawijaya cukup mengherankan. Seharusnya mereka tidak menjadi kebingungan, karena sejak semula mereka menyadari, bahwa mereka sedang menelusuri jejak yang mereka duga sebagai suatu jehakan. Seharusnya mereka bersiaga menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang dari segala arah. Bahkan mereka sempat memberikan tanda kepada kelompok kedua ini, agar mereka berhenti sebelum sampai ke tempat terbuka itu.

Namun Agung Sedayu pun kemudian berkata, “Tentu mereka pun sedang berusaha memancing lawannya dengan sikap yang pura-pura itu. Meskipun mungkin mereka benar-benar menjadi bingung karena kehilangan jejak, tetapi mereka tentu tidak akan bingung menghadapi jebakan itu.”

Swandaru, Pandan Wangi, dan Prastawa pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka sadar, bahwa jika benar Raden Sutawijaya sudah terada di tengah-tengah jebakan, sebentar lagi tentu akan terjadi perkelahian.

Di luar sadarnya, Agung Sedayu pun berpaling ke arah Rudita yang menjadi semakin pucat seperti kapas.

Sebenarnyalah, bahwa Radita telah benar-benar menjadi ketakutan. Ia pun menyadari, bahwa pembicaraan Agung Sedayu dengan kawan-kawannya itu membayangkan bahaya yang dapat menerkam mereka. Jika jebakan itu benar-benar telah di persiapkan, maka apakah mereka dapat keluar dari jebakan itu?

Karena itu, sejenak kemudian dengan lutut gemetar ia mendekati Pandan Wangi sambil berkata, “Pandan Wangi. Bukankah kau yang akan memimpin kelompok ini? Sebaiknya kau mengambil keputusan untuk kembali saja.”

Pandan Wangi memandang Rudita sesaat. Ia memang merasa terganggu dengan kehadiran anak muda itu, karena Rudita itu adalah tamunya. Jika terjadi sesuatu, maka ialah yang pertama-tama akan dibebani dengan tanggung jawab. Tetapi di dalam keadaan serupa itu, sudah barang tentu bahwa mereka tidak akan dapat kembali, selagi kelompok yang dipimpin oleh Sutawijaya itu berada di dalam kesulitan.

“Pikirkan baik-baik, Pandan Wangi,” desak Rudita, “apakah gunanya kita ikut bersusah payah memburu orang yang tidak kita kenal itu?”

Pandan Wangi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Rudita. Sudah tentu kita pun berkepentingan. Daerah ini adalah daerah Tanah Perdikan Menoreh. Kita pun wajib membersihkan daerah ini dari orang-orang yang tidak kita kehendaki.”

“Tetapi sasaran mereka adalah Mataram. Sama sekali bukan Menoreh.”

“Dan Menoreh dijadikannya landasan mereka untuk mengganggu Mataram. Bukankah dengan demikian akan dapat timbul salah paham antara Menoreh dan Mataram. Apalagi jika saat ini kita lepaskan Raden Sutawijaya itu terjebak.”

“Tetapi kenapa kita harus mengorbankan diri sendiri?”

“Siapa yang mengorbankan diri sendiri?”

“Kita. Jika kita mati, tumpas, maka semua akan menyesal. Kau adalah anak satu-satunya. Jika kau mati, tidak ada lagi garis keturunan paman Argapati. Dan jika aku mati, maka ayah bundaku akan meratap sepanjang sisa umurnya.”

Tetapi Pandan Wangi menyahut, “Marilah kita tidak menyerah untuk mati. Meskipun hidup dan mati seseorang tidak tergantung pada diri kita masing-masing, tetapi kita wajib berusaha. Dan jika kita berusaha dengan bersungguh-sungguh, maka Yang Menciptakan kita pun akan menolong kita, selama kita berbuat dengan niat yang baik.”

“Apakah kau dapat mengatakan, yang baik bagimu apakah tentu baik bagi orang lain?”

“Ah,” jawab Pandan Wangi, “dalam keadaan ini, kita jangan berbantah tentang sikap dan pandangan hidup. Aku tahu, bahwa yang baik itu mempunyai artinya masing-masing.”

“Dan kau akan mencoba memilih sekedar baik bagimu.”

“Rudita,” Pandan Wangi menjadi jengkel, “sudahlah. Besok kita mempersoalkan batasan antara yang baik dan yang buruk. Kita sekarang menghadapi kenyataan ini. Jika kau takut, baiklah kau tetap bersembunyi di sini. Kita harus berbuat sesuatu. Kita semuanya sekarang harus bersembunyi di sini. Jika orang-orang yang menjebak itu datang menyerang, kita akan tetap menunggu. Sampai saatnya mereka memerlukan bantuan kita, kita akan meloncat ke luar dari tempat ini dan melibatkan diri di dalam pertempuran itu.”

Rudita mengerutkan keningnya. Namun kemudian matanya menjadi berkaca-kaca.”

“Kenapa kita bersembunyi?” tiba-tiba ia bertanya.

Pandan Wangi tidak mengerti maksud pertanyaan itu.

Sejenak ia memandang Rudita yang pucat. Kemudian jawabnya, “Kita merupakan tenaga cadangan. Setiap saat kita akan menyerang mereka tanpa diduga-duga.”

“Bagaimana jika oran-orang yang kita sangka menjebak Raden Sutawijaya itu mengetahui kehadiran kita di sini?”

“Usaha kita akan gagal. Mereka akan bersiap menghadapi kita juga. Mereka tidak akan dapat kita sergap.”

“Jika kita menyatakan kepada mereka, bahwa kita tidak ikut campur?”

“Ah, tentu tidak mungkin. Kita sudah melibatkan diri.”

Rudita merenung sejenak. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Aku sudah mengambil keputusan. Kita tidak usah turut campur. Akulah yang akan meneriakkan kepada orang-orang yang barangkali masih bersembunyi, bahwa kita tidak ikut campur. Karena itu, mereka jangan memusuhi kita.”

“Rudita,” kening Pandan Wangi Jadi berkerut-merut.

“Itu keputusanku.”

“Jangan berbuat bodoh sekali,” terdengar suara Agung Sedayu, “jika kau berteriak, maka rencana Raden Sutawijaya akan kacau.”

“Aku tidak peduli.”

“Dan kita akan berganti lawan,” desis Swandaru, “kita akan dianggap memusuhi Mataram, karena Raden Sutawijaya adalah pimpinan tertinggi Mataram.”

“Aku tidak peduli, tetapi aku tidak mau dibantai oleh orang yang tidak aku kenal di sini. Dan kalian sebaiknya mendengar keputusanku ini.”

“Gila,” Prastawa menggeram.

Namun di luar dugaan mereka, agaknya Rudita benar-benar ingin berteriak. Ia benar-benar tidak ingin terlibat di dalam perkelahian yang mungkin akan terjadi. Ia Ingin meneriakkan suatu pernyataan, bahwa ia tidak akan ikut campur di dalam persoalan antara Mataram dan orang-orang yang tidak di ketahui itu.

Sambil melingkarkan kedua telapak tangannya di mulutnya, Rudita berdiri tegak sambil menengadahkan kepalanya.

“Rudita, jangan gila,” cegah Pandan Wangi yang berdiri di sampingnya.

Meskipun suara Pandan Wangi tidak begitu keras, namun Rudita berpaling juga sejenak. Tetapi tidak ada tanda-tanda, bahwa ia akan mengurungkan niatnya. Ternyata sekali lagi ia menengadahkan kepalanya dan siap untuk berteriak.

Tetapi ketika suaranya hampir saja meloncat dari mulutnya, sekali lagi tertahan karena Pandan Wangi mengguncangnya sambil berdesis, “Jangan kau lakukan.”

“Jangan mencegah semua yang sudah aku putuskan untuk aku lakukan. Seperti kau sama sekali tidak mendengarkan pendapatku, aku pun berhak berbuat serupa.”

“Ada perbedaannya. Aku tidak bergantung kepadamu. Tetapi kau bergantung kepadaku di dalam keadaan ini. Bukan maksudku menyombongkan diri. Tetapi aku ingin kau menyadari kedudukan kita masing-masing di saat ini. Akulah pimpinan kelompok ini.”

“Aku sedang berusaha untuk tidak bergantung lagi kepadamu. Tetapi jika suaraku didengar oleh mereka, dan kita tidak akan mendapat kesulitan apa-apa, maka kaulah yang bergantung kepadaku nanti.”

“Jangan kau lakukan. Aku tidak mengijinkan kau berbuat gila itu.”

Rudita memandang Pandan Wangi sejenak. Tetapi tiba-tiba saja sekali lagi ia melingkarkan kedua telapak tangannya sambil menengadahkan kepalanya.

Ketika sekali lagi Pandan Wangi menggamitnya, maka ia pun mengibaskan tangan Pandan Wangi.

Tetapi ketika suaranya hampir saja meloncat dari mulutnya, Rudita itu terkejut bukan kepalang. Bahkan kemudian ia terdorong surut sambil menyeringai kesakitan. Ternyata di dalam keadaan ysng gawat itu, Pandan Wangi tidak dapat berbuat lain daripada memaksa Rudita untuk diam. Sebuah tamparan yang cukup keras telah terayun menyentuh pipi Rudita.

Dengan wajah yang tegang, Rudita kemudian memandangi Pandan Wangi dengan sorot mata yang aneh. Dari sela-sela bibirnya terdengar ia berdesis, “Kau memukul aku, Pandan Wangi.”

“Maaf, Rudita. Aku terpaksa melakukannya.”

Mata Rudita itu pun kemudian menjadi basah dan suaranya seakan-akan tersangkut di kerongkongan, “Kenapa kau melakukannya, Pandan Wangi?”

“Aku tidak ingin kita bersama-sama binasa di sini. Aku tahu, bahwa hatimu bersih dan damai. Kau menganggap orang lain bersikap seperti kau. Jika seseorang tidak memusuhinya, maka tidak akan timbul permusuhan. Tetapi kita tidak dapat bersikap seperti itu terhadap orang-orang yang sedang kita cari sekarang ini. Apa pun yang akan kita lakukan, maka sikap mereka akan cukup tegas. Membinasakan kita yang terperosok ke dalam perangkapnya. Termasuk kita.”

Setitik air mengambang di pelupuk mata anak muda itu. Katanya di sela-sela sedu-sedannva yang tidak dapat ditahankannya, “Ternyata hatimu tidak ada bedanya dengan orang-orang lain, Pandan Wangi. Berbeda dengan namamu, maka kau sama sekali bukan sehelai daun pandan yang wangi. Kau terlampau berprasangka dan bersikap bermusuhan, justru dengan orang-orang yang sama sekali tidak kau kenal. Kau sudah kehilangan kepercayaan kepada sesama, sehingga kau selalu menaruh curiga. Dengan demikian, maka hidupmu akan selalu dikotori dengan sikap bermusuhan dan tanpa kedamaian. Prasangka, curiga, dan kehilangan kepercayaan.”

Pandan Wangi memandang wajah Rudita yang merah. Air mata yang kemudian mengalir di pipinya. Dan wajah yang basah itu sama sekali tidak membayangkan wajah seorang laki-laki.

Tetapi Pandan Wangi tidak menyahut lagi karena tiba-tiba saja Prastawa menggamitnya. Katanya, “Pandan Wangi, lihat. Raden Sutawijaya sudah bersiaga sepenuhnya. Tentu ia sudah melihat sesuatu di sekitarnya.”

“Untunglah, bahwa orang-orang itu tidak menyerang dari jurusan ini. Jika demikian, maka kita akan berkelahi lebih dahulu daripada Raden Sutawijaya.” Pandan Wangi terdiam sejenak, lalu sambil berpaling kepada Rudita ia berkata, “Rudita. Kau tetap bersembunvi di sini. Jika kau muncul juga di arena jika kita nanti terlibat di dalam perkelahian, maka kau akan mengalami kesulitan. Ingat, kunjungi adbmcadangan.wordpress.com. jika kau masih ingin tetap hidup, bersembunyilah dan diamlah. Jika kau ribut, maka kau akan mati. Sebuah pedang akan menembus dadamu, dan kau akan menggeliat tanpa dapat berbuat sesuatu. Mayatmu kemudian akan terkapar dengan ujung pedang masih tetap menembus sampai ke jantung. Kau mengerti?”

Mengerikan sekali. Air mata Rudita semakin deras mengalir. Tetapi ia mengangguk ketakutan yang sangat telah memaksanya untuk tidak membantah lagi.

Ternyata seperti yang dikatakan oleh Prastawa, di tengah-tengah tempat yang terbuka itu. Raden Sutawijaya sudah menyiapkan diri. Tombak pendeknya sudah merunduk dan orang-orangnya sudah menghadap ke beberapa arah. Dengan demikian, maka kelompok Pandan Wangi pun segera mengetahui, dari arah manakah kira-kira lawan itu akan datang.

Sebenarnyalah Raden Sutawijaya telah melihat sesuatu yang bergerak-gerak di sekitar tempat yang terbuka itu. Penglihatannya yang tajam, dilengkapi dengan firasat yang menyentuh perasaannya, maka Raden Sutawijaya pun mengetahui dari arah manakah lawan-lawannya akan datang.

Agung Sedayu dan Swandaru pun menjadi tegang pula karenanya. Di dalam hati mereka berharap, agar orang-orang yang berusaha menjebak kelompok-kelompok itu tidak mengetahui bahwa sekelompok kecil masih tersembunyi di balik rimbunnya dedaunan.

Demikianlah, sejenak kemudian perhitungan Raden Sutawijaya itu pun ternyata benar. Beberapa orang bersenjata telah muncul dari balik gerumbul-gerumbul perdu yang rimbun.

Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di tengah-tengah tempat terbuka itu pun menempatkan diri mereka masing-masing untuk menyongsong orang-orang yang bermunculan dari balik dedaunan, semakin lama menjadi semakin banyak.

Raden Sutawijaya menjadi berdebar-debar melihat kehadiran orang-orang itu. Karena itu, maka ia pun telah bersiaga sepenuhnya menghadapi setiap kemungkinan.

“Nah,” tiba-tiba salah seorang dari orang-orang yang mengepung para pengawal dari Mataram itu berkata, “baru sekarang kita berhasil bertemu muka.”

Raden Sutawijaya mencari di antara orang-orang yang mengepungnya itu. Namun tiba-tiba dadanya berdesir, ketika ia melihat seseorang yang pernah dikenalnya. Sambil tertawa orang itu melangkah maju mendekatinya.

“Raden,” berkata orang itu, “di tempat ini terpaksa aku menunjukkan diri.”

“Paman Daksina?”

“Ya, Raden. Tentu Raden tidak lupa kepadaku.”

“Apa artinya ini, Paman?”

“Apakah Raden heran melihat kehadiran kami di sini?”

“Aku tidak mengerti.”

Terdengar suara tertawa orang yang disebut Daksina itu. Katanya, “Aku memang berada di antara orang-orang yang barangkali tidak kau senangi, Raden. Orang-orang yang kau anggap selama ini mengganggu Mataram.”

Raden Sutawijaya mengerutkan keningnya.

“Barangkali Raden memang tidak menyangka, bahwa aku ada di antara mereka. Tetapi inilah kenyataan itu. Aku adalah salah seorang dari mereka yang tidak senang melihat Mataram berkembang. Aku akui, bahwa di antara kami masih terdapat kepentingan yang berbeda. Namun kami telah berusaha menemukan sikap dan menyesuaikan diri kami masing-masing menghadapi Mataram. Tetapi satu hal yang bersama-sama kami sepakati tanpa ragu-ragu, yaitu menangkap Raden Sutawijaya hidup atau mati.”

Raden Sutawijaya menggeram. Katanya, “Pihak-pihak yang manakah yang kau sebut berbeda kepentingan di antara kalian?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah ada gunanya kau mengerti?”

“Mungkin ada.”

“Menjelang kematianmu?”

“Jika benar demikian, maka setidak-tidaknya sebelumi aku mati, aku sudah mengerti persoalan yang sebenarnya aku hadapi. Dan jika ada satu dua orang anak buahku yang hidup dan berhasil keluar dari tempat ini, maka akan datang saatnya Ayahanda Pemanahan yang mendengar laporannya, akan bertindak tepat.”

Orang yang disebut bernama Daksina itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Coba perhatikan di sekelilingmu, Raden. Aku mempunyai jumlah orang yang lebih banyak. Dan aku yakin, bahwa Raden tidak akan dapat menang melawan aku seorang lawan seorang meskipun aku belum sesakti ayahanda Raden, Ki Gede Pemanahan dan Ayahanda Sultan Pajang. Tetapi untuk kepentinganku kali ini mencukupilah kiranya.”

“Paman akan membunuh aku?”

“Jika mungkin, aku ingin menangkapmu hidup-hidup.”

“Buat apa sebenarnya Paman menangkap aku?”

“Pertanyaanmu aneh, Raden. Yang penting bukan untuk apa, tetapi yang penting bagi kami adalah Mataram tidak boleh berdiri seperti bentuknya sekarang.”

“Siapakah sebenarnya yang berkeberatan? Paman belum menyebut pihak-pihak yang kau katakan.”

“Baiklah, Raden. Sebelum Raden terbunuh di tempat yang memang sudah kami pilih ini, biarlah aku menyebutnya. Yang pertama adalah pihakku dan beberapa orang perwira prajurit Pajang. Sultan Pajang terlampau berbaik hati menyerahkan Mataram kepada Ki Gede Pemanahan yang sebenarnya dapat disebut meninggalkan tugasnya tanpa ijin sultan sendiri.”
(BERSAMBUNG)

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 27 November 2008 at 21:57  Comments (79)  

The URI to TrackBack this entry is: https://adbmcadangan.wordpress.com/buku-72/trackback/

RSS feed for comments on this post.

79 KomentarTinggalkan komentar

  1. “Ngger kitab ini sudah ada tanda-tanda dan isyarat yang kelihatan, seperti yang terlihat ini….

    Kitab 72: jilid72

    “Ki Waskita mendesis setelah melihat isyarat itu.

    “Tapi kelihatannya masih ada satu laku lagi yang harus kita lakukan biar dapat kita gayuh kitab ini. Ini kitab yang kelihatan tapi tak dapat kita sentuh.”

    Swanduru menyela, “Kenapa Ki?”

    “Mungkin Yang mbaurekso masih ingin menahannya sampai waktunya Ngger'” Jawab Ki Waskita

  2. Saya paling sreg dg uraian Ki IS

  3. Wah, kitab 72 ternyata mengandung ilmu Ada dan Tiada….

  4. Iya nie Ki Gede kitab 72 emang penuh dengan misteri sampai2 ga bisa segera di unduh…
    i’ll wait lah pokok e…

  5. Cara downloadnya:
    Tekan CTR + ALT + SHIFT + ; + —> + = klik kanan pilih refresh…… tunggu lagi sampai yang akan didownload memberikan tanda di mouse terus klik kanan baru save as djv

  6. Wach masih belum bisa nie Ki Gede…

  7. Hutan 72 masih diselimuti gelapnya malam walapun sdh nampak sesuatu ygbergerak2.
    Mudah2an Ki GD segera menemukan jalan terobosnya

  8. wah…kalau benar memang dari WP-nya udah gak bisa, harus dicari solusi jitu…
    apa tidak sebaiknya sementara menggunakan jasa online file sharing semacam rapidshare dkk…???

  9. Ki Gede, misale file nya di Zip or di pecah jg ga bisa?

  10. klo nama filenya aja gimana Ki Gede, jadi hanya link nya aja. semacam https://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/12/jilid71.doc
    terus kl mau download biar di copy paste ke address bar nya browser masing2

  11. klo nama filenya aja gimana Ki Gede, jadi hanya link nya aja. semacam hxxp://adbmcadangan.files.wordpress.com/2008/12/jilid71.doc
    terus kl mau download biar di copy paste ke address bar nya browser masing2

  12. Waduh keturun aku…gak ono le gugah….
    wah wis ditinggal konco2, jaga neng gardu 72.
    Ki GeDe…nyuwun tulung, pripun carane dumuki gardu 72.
    Sampun kula coba mencari-cari kok mboten saget2….
    Tulung Ki GeDe…tulung…pripuncarane……

  13. Nggih Ki Gede…
    Wordpress itu versi 2.7. Sebetulnya tidak terlalu banyak perubahan, dan semestinya teknik yang Ki Gede sebutkan bisa berhasil…

    Coba dioprek dulu deh 😉

    Kasihan, para cantrik udah mesen 15 wedang jahe lho.

  14. @atas:
    emang semua cantrik lom ada yg isa kok

    hiks

  15. “Waduuuh,…. Kalian jangan berdiam diri saja. Cobalah cari jalan keluar yang lain. Aku tidak mau bermalam dihutan. Sebab aku harus segera melaporkan kepada Ki Argapati masalah ular naga sepanjang 72 ini” ujar Rudita kepada para cantrik yang masih terpana dengan fenomena 72.

  16. “Wangi, kalau lelah biarlah engkau tinggalkan ayahmu yang baru bisa beristirahat setelah tubuhnya diforsir untuk melawan racun yang ke 72. Sebaiknya kau juga beristirahat walaupun hanya sekejap. Baringkan tubuhmu agar peredaran darahmu menjadi normal. Untuk sementara biarlah ayahmu aku yang menjaganya.
    Mudah2an tubuh ki Gede dan Obat yang aku berikan mampu mengeluarkan racun yang ke 72 itu.”
    “Kiai apakah racun itu dapat dikeluarkan malam ini juga?” Pandan Wangi bertanya setengah berbisik.
    “Sangat tergantung ngger, tergantung pada kekuatan tubuh Ki Gede. Sebab obat yang aku berikan fungsinya hanya untuk merangsang bekerjanya zat antibody yang ada di dalam tubuh Ki Gede sendiri.” jawab Ki Truno Podang berbisik pula “Dan jangan lupa berdoa kepada Yang Maha Kuasa ya Ngger, karena tanpa rahmat dan karunia-NYA segala upaya macam apapun tidak ada artinya”.
    “Baiklah kiai saya minta diri dulu”
    “Silahkan, …… silahkan Ngger, …….”

  17. Rame… rame… banyak yang menunggu terbitnya matahari di hari ke-72. Sabar, pasrah dan ikhlas tampak mewujud di wajah-wajah yang lelah walau bermalam-malam tidak tidur. Hilir mudik pasukan serta para senopati ADBM yang meronda di alas yang masih sangat wingit.
    Aku melewati loncatan waktu hanya untuk ikut melihat dan mengikuti perubahan zaman tanah jawa, hmm… cobaan sedang dihadapi para ADBM mania.

  18. Nih untungnya punya baby, sambil jagain bisa ngunduh kitab 72 pertama. Thx Ki GD

  19. Untung belum tertidur….bisa dapat petunjuk dari Ki GeDe jurus-jurusnyang rumit di kitab 72

    Matur suwun Ki GeDe….

  20. Pancen leres….. akhirnya dapat dihidangkan oleh Pandan Wangi sekaitan izin oleh Ki DD Menoreh. Hayoo sanak kadang… kita nikmati mumpung sego liwet masih anget… .
    Mohon diizinkan menikmatinya wahai para ADBM Mania, kami dari Pasukan SAGA BARONG ingin meneguk sedikit tetesan ilmu yang edap-edapi di tlatah JawaDwipa ini.

    # maap Ki Harry .. URL Anda kita hapus. Bukan begitu cara nulis URL.

    • Salam saga

  21. ada yg rumahnya Pajang nggak ya?
    kalo ada mo tanya neh…
    masjidnya ki ageng Ngenis itu sebelah mananya pasar Jongke ya

  22. Ayo…. maju tak gentar…., jurus 71 wis metu, meski durung kewaca lontare, sing penting ngunduh jurus 72 ne sisan, muaremm…. wis seminggu luwih posone je….

  23. Mantap… Panembahan agung mulai disebut-sebut, Siap-siap kyai Gringsing..

  24. mohon maap kalo OOT.
    mau nanya, yg pake nama Kiai Sogo Welang itu beneran mas Harry Panca yg ada di tipi itu ya?
    Saga Barong itu apa ya?
    terima kasih.

  25. Lha Cantrik padhepokan sing kagungan ngelmu kaya Panembahan Agung sapa ya…..?????
    Apa Ki Pandanalas, apa Ki Menggung, apa mas Risang….???

    • ke-3-nya masih berstatus “BAKAL CALON”……belom resmi
      menjadi peWARIS elmu,

      tunggu 15 taun lagi….hiiikSS,

      • wah Ki Gun tak uber, jebul mlayu mrene

        • njih Mbah_Man…..urun komen ben ANA jejak2 ning keNE,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: